Anda di halaman 1dari 32

POLIP NASAL

Koass THT
18 November 2011

Polip nasal adalah lesi
abnormal yang berasal dari
mukosa nasal maupun sinus
paranasal
Polip paling sering
adalah lesi nasal semi
transparan yang jinak
yang berasal dari
mukosa cavum nasal
atau dari sinus paranasal
dan biasanya pada
saluran keluar sinus
Polip disebabkan oleh
berbagai proses penyakit
dalam cavum nasal


Polip multiple bisa
terjadi pada anak-
anak dengan
sinusitis kronik,
rhinitis alergi,
fibrosis kistik
Polip individual bisa
merupakan suatu
polip antral-koanal,
polip besar yang
jinak atau tumor
ganas maupun
jinak
Setiap anak dengan
multiple polip nasal
yang jinak harus
dievaluasi untuk
fibrosis kistik dan
asthma
EPIDEMIOLOGI

MORTALITAS
Tidak ada mortalitas yang berhubungan langsung dengan polip nasal.
MORBIDITAS
Morbiditas berhubungan dengan perubahan kualitas hidup, obstruksi
nasal, anosmia, sinusitis kronik, sakit kepala dan mendengakur
(snoring)
Pada situasi tertentu, polip nasal bisa mengubah tulang kranio-fasial
karena polip ini bisa bertumbuh ke arah intrakranial.


Penderita polip nasal pada anak-anak
adalah 0,1%
Pasien anak-anak dengan CF 6-48%
Pada dewasa 1-4%

USIA

Polip nasal multiple jinak biasanya terjadi pada
pasien di atas 20 tahun dan lebih sering pada
pasien di atas 40 tahun.
Polip nasal jarang terjadi pada anak < 10 tahun.


20-50% pada pasien dengan polip Asthma bronkial
polip dalam 6-48% pasien dengan CF Fibrosis kistik

Rhinosinusitis
kronis
polip dalam 85% pasien AFS
Sinusitis alergi karena
jamur
polip nasal dalam 20% pasien dengan
NARES
NARES-Non Allergic
Rhinitis Eosinofilia
Syndrome
Kondisi-kondisi berikut berhubungan dengan polip multiple yang jinak
PATOFISIOLOGI
Patogenesis untuk polip nasal tidak diketahui,
tetapi dihubungkan dengan inflamasi kronik,
disfungsi sistem saraf otonom dan pengaruh
genetik.
Tetapi teori yang paling banyak dipakai adalah
inflamasi kronik.


Kebanyakan studi mengatakan bahwa polip nasal terjadi lebih banyak pada
pasien non-alergi dibanding dengan pasien dengan penyakit alergi.
Secara statistik, pasien polip nasal sering terjadi pada pasien dengan asthma
non-alergi (13%) dibanding asma alergi (5%)

1. Menurut teori Bernstain, perubahan inflamatori pertama terjadi di dinding
nasal bagian lateral atau mukosa sinus yang disebabkan oleh reaksi viral-
bakterial atau sekunder terhadap turbulensi aliran udara terutama akibat
penyempitan lubang hidung karena inflamasi mukosa.
Ulserasi atau prolaps dari submukosa dapat terjadi dengan re-epitalisasi
dan pembentukan kelenjar baru. Selama proses ini, polip dapat terbentuk
dari mukosa karena proses inflamasi yang tinggi dari sel epitel, sel vaskular
endotel dan fibroblas mempengaruhi integritas bioelektrik dari natrium
channel pada permukaal luminal sel epitel saluran napas pada mukosa
nasal. Proses ini meningkatkan absorbsi natrium yang selanjutnya
menimbulkan retensi air dan pembentukan polip.

2. Teori lain berhubungan dengan Teori
ketidakseimbangan vasomotor. Ini disebabkan
karena peningkatan permeabilitas vaskular dan
regulasi vaskular yang terganggu yang
menyebabkan detoksifikasi produk sel mast
contohnya histamin. Efek jangka panjang dari
produk ini dalam stroma polip akan
menyebabkan edema yang diperberat oleh
obstruksi saluran vena.

3. Teori ruptur epitel
Teori ini mengatakan ruptur pada epitel mukosa
nasal disebabkan peningkatan turgor jaringan pada
penyakit (alergi atau infeksi) ruptur ini
menyebabkan prolaps dari lamina propria dari
mukosa yang mengakibatkan terjadinya polip. Defek
ini disebabkan oleh efek gravitasi atau obstruksi
saluran vena yang menyebabkan polip.
MANIFESTASI KLINIS

Manifestasi polip nasal berhubungan dengan ukurannya.
Polip kecil tidak menimbulkan gejala dan diketahui pada
pemeriksaan rutin bila terdapat pada bagian anterior.
Polip yang terletak posterior biasanya tidak terdeteksi pada
rhinoskopi anterior.
Polip kecil di tempat seperti meatus medial bisa
mengakibatkan gejala dan menghalangi saluran keluar sinus
mengakibatkan sinusitis kronik ataupun sinusitis akut
rekuren.
Polip yang menimbulkan gejala bisa menyebabkan obstruksi
aliran udara hidung, post nasal drip, sakit kepala,
mendengkur, dan rinorea.
Hiposmia ataupun anosmia yang terjadi bisa menjadi petunjuk
adanya polip selain dari sinusitis kronik.

Poliposis masif atau polip tunggal yang besar
yang menyumbat cavum nasal atau nasofaring
bisa menyebabkan gejala obstruksi saat tidur
dan pernapasan melalui mulut yang kronis.




PEMERIKSAAN FISIK
Pertama sekali dilakukan rhinoskopi anterior.





Untuk anak kecil, otoskop dan spekulum otologi biasanya
digunakan. Otoskop diletakkan di kavum nasal akan
meperlihatkan konka inferior, septum anterior dan bagian
kavum nasal hingga konka medius dan septum media.
Meatus media bisa dilihat dengan menggunakan rhinoskopi
anterior jika anak koperatif dan tidak terdapat edema atau
sekresi mukosal yang signifikan di bagian kavum nasal.
Untuk polip nasal yang jinak biasanya terdapat pada meatus
medial.

Pemeriksaan endoskopi fleksibel ataupun rigid
(kaku) merupakan metode yang terbaik untuk
pemeriksaan kavum nasal dan nasofaring untuk
mengetahui anatomi nasal dan
mengidentifikasikan lokasi dan sejauh mana
polip nasal.


Untuk anak kecil, nasofaringoskop fiber optik yang fleksibel
sering digunakan karena kurang traumatik.
Pada pasien yang lebih dewasa dan koperatif, digunakan
endoskopi rigid karena bisa mengidentifikasikan meatus
medial dan rhesesus spheno-ethmoid.
Dekongestan dan anestesi dilakukan pada kavum nasi
sebelum prosedur endoskopi pada pasien berusia > 6
bulan.
Untuk anak-anak, evaluasi dinding posterior dari kavitas oral
bisa mengindikasi simptomatologi polip. Contohnya post
nasal drip.
Polip yang besar atau lesi pada kavum nasi bisa protrusi
sampai ke orofaring posterior yang menyebabkan lesi di
belakang palatum dan uvula atau menekan palatum ke
arah inferior dan aterior.


Lakukan pemeriksaan otoskopik karena polip
yang sangat besar bisa menyebabkan
disfungsi tuba Eustachius dan
menyebabkan cairan dan infeksi di ruang
telinga tengah.
Pemeriksaan harus dilakukan untuk nervus
kranial dan struktur kraniofasial untuk
mengidentifikasi lesi nasal yang telah
meluas ke struktur vital di sekitarnya.
PENYEBAB
contohnya ensefalocele, glioma, hemangioma,
papiloma, angiofibroma nasofaring juvenile,
rhabdomyosarcoma, lymphoma,
neuroblastoma, ca nasofaring, sarcoma, dan
chordoma





ensefalocele papiloma
Diagnosis Banding
Asthma Cystic Fibrosis Neuroblastoma
Rhabdomyosarcoma Neurofibromatosis
Sinusitis
Pemeriksaan Laboratorium
Anak-anak dengan rhinitis alergi harus
dievaluasi alerginya meliputi pemeriksaan
serologi RAST (Radio Allergosorbent test) atau
semacam skin test.
Pemeriksaan sweat chloride test/genetic
testing penyakit fibrosis kistik pada anak-anak
dengan tumor jinak pada hidung
Pemeriksaan swab pada nasal dapat
membedakan alergi dan non-alergi sinusitis
dan mengindikasikan apakah anak-anak dapat
responsif dengan pengobatan glukokortikoid.
Adanya neutrofil pada pemeriksaan swab
mengindikasikan sinusitis kronik
Pencitraan
Kriteria standar untuk mengevaluasi adanya lesi pada
nasal, khususnya nasal poliposis/sinusitis

CT Scan (1-3 mm) di area maxillofacial
MRI untuk adanya keterlibatan intrakranial atau
perluasan dari polip nasal

CT Scan dan MRI dapat membantu diagnosa dari polip
dan perluasan ke dalam cavum nasal, sinus, dan
membantu penegakkan diagnosis atau menyingkirkan
diagnosis banding.

Pemeriksaan Histologis
Karakteristik :
Penebalan pada membrana basalis
Banyak nerve endings
Pseudostratified ciliated columnar epitelium
Stromanya edematosus
Vaskularisasi buruk dan tidak memiliki
persarafan, kecuali bagian basal dari polip

Eosinofil adalah sel inflamasi yang paling
banyak ditemukan, 80-90% ditemukan pada
polip. Biasanya ditemukan pada pasien
polip dengan asthma bronchial dan alergi.
Neutrofil 7% dari polip. Pada polip dengan
neutrofil tidak sensitif atau tidak responsi
terhadap kortikosteroid karena kekurangan
kortikosteroid-sensitif eosinofil. Terdapat
pula degranulasi dari sel mast.

Terapi
Medikamentosa
Kortikosteroid
oral
Kortikosteroid
nasal
Bedah
Polipektomi
ESS
Microdebrider
Microdebrider
Terima Kasih...