Anda di halaman 1dari 30

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Swt. yang telah mana atas Rahmat
dan Hidayah-Nya penulis bisa menyelesaikan Paper yang berjudul Peranan Koperasi dalam
Membangun Pertanian
Adapun tujuan penulis menyusun paper ini yakni untuk memenuhi syarat penilaian
tugas pada Mata Kuliah Management Agribisnis.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah memberikan
kontribusinya dalam penyusunan paper ini, terutama kepada :
1. Bapak H. Briljan Sudjana, Ir.M.S,M.B.A, Sebagai dosen Mata Kuliah Management
Agribisnis.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan paper ini masih banyak kekurangan, baik
dalam referensi dan bahan materi yang belum maksimal mencarinya. Maka dari itu besar
harapan penulis kepada pembimbing untuk memberikan kritik dan saran yang membangun
guna melengkapi paper ini.
Mudah-mudahan paper ini bermanfaat bagi semuanya.


Karawang, 20 Maret 2014


Penulis




Koperasi dan Pengembangan Agribisnis
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Mengkaji kisah sukses dari berbagai koperasi, terutama koperasi di Indonesia, kiranya
dapat disarikan beberapa faktor kunci dalam pengembangan dan pemberdayaan koperasi.
yaitu antara lain : Pemahaman pengurus dan anggota akan jati diri koperasi (co-operative
identity) yang antara lain dicitrakan oleh pengetahuan mereka terhadap tiga serangkai
koperasi, yaitu pengertian koperasi, nilai-nilai koperasi dan prinsip-prinsip gerakan koperasi
(International Co-operative Information Centre, 1996). Pemahaman akan jati diri koperasi
merupakan poin penting dalam mengimplementasikan jati diri tersebut pada segala aktifitas
koperasi. Aparatur pemerintah terutama departemen yang membidangi masalah koperasi
perlu pula untuk memahami secara utuh dan mendalam mengenai perkoperasian. Badan
usaha baik yang berbentuk perusahaan maupun koperasi ada kemungkinan memiliki sifat dan
pola kerja sama, namun tidak dapat menamakan dirinya koperasi. Karena banyak model
pendekatan kerja sama atau usaha bersama yang tidak sesuai dengan prinsip dasar koperasi
dan bahkan melanggar ketentuan perundangan yang berlaku. Koperasi sejati harus mampu
menggalang semangat kerja sama yang dilandasi oleh prinsip-prinsip dasar koperasi sebagai
instrumen untuk mewujudkan tujuan bersama.
Dalam praktiknya memang prinsip dasar koperasi selalu berinteraksi dengan lingkungan baik
fisik, politik, ekonomi, maupun sosial di mana koperasi yang bersangkutan berada. Namun
proses penyesuaian terhadap lingkungan tersebut tidak harus mengorbankan jati diri koperasi.
Karena prinsip-prinsip dasar perkoperasian merupakan esensi dari dasar koperasi sebagai
badan usaha dan merupakan ciri khas dan jati diri koperasi yang membedakannya dari badan
usaha atau organisasi lainnya.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini antara lain :
1. Mahasiswa mampu memahami lebih lanjut tentang jatidiri koperasi : definisi, nilai,
dan prinsip-prinsip koperasi.
2. Mahasiswa mampu mengidentifikasi dan menjelaskan permasalahan koperasi dengan
kaitan jatidiri koperasi.
3. Mahasiswa mampu menjelaskan dan memahami keunggulan koperasi bila
dibandingkan dengan organisasi ekonomi lainnya.

1.3 Manfaat
Setelah membaca tulisan ini, pembaca akan semakin memahami semuan tentang
koperasi. Selain itu, pembaca akan dapat mengetahui definisi, nilai, dan prinsip-prinsip
koperasi dalam perekonomian bangsa. Dan akhirnya akan didapat solusi untuk mengatasi
masalah internal koperasi dengan anggota dan dengan organisasi ekonomi lain.

II. PEMBAHASAN

2.1 Jatidiri Koperasi
2.1.a Pengertian koperasi
(1). Dalam ILO recommendation nomor 127 pasal 12 (1) dirumuskan
bahwa koperasi adalah suatu kumpulan orang-orang yang berkumpul secara
sukarela untuk berusaha bersama mencapai tujuan bersama melalui organisasi yang
dikontrol secara demokratis, bersama-sama berkontribusi sejumlah uang dalam
membentuk modal yang diperlukan untuk mencapai tujuan bersama tersebut dan
bersedia turut bertanggung jawab menanggung resiko dari kegiatan tersebut, turut
menikmati manfaat usaha bersama tersebut, sesuai dengan kontribusi permodalan
yang diberikan orang-orang tersebut, kemudian orang-orang tersebut secara
bersama-sama dan langsung turut memanfaatkan organisasi tadi.
(2). Menurut Internasional Cooperative Allience (ICA) Koperasi adalah
perkumpulan dari orang-orang yang bersatu secara sukarela untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan dan aspirasi-aspirasi ekonomi, sosial dan budaya bersama,
melalui perusahaan yang mereka milik bersama dan mereka kendalikan secara
demokratis,
(3). Menurut Undang-Undang nomor 25 tahun 1992 (Pasal 1 ayat 1) koperasi
adalah Badan usaha yang beranggotaan orang-orang yang berkumpul secara
sukarela (pasal 5 ayat I a.) untuk mencapai kesejahteraaan (pasal 3) memodali
bersama (pasal 4.1) dikontrol secara demokratis (pasal 5 ayat b) orang-orang itu
disebut pemilik danpangguna jasa koperasi yang bersangkutan (pasal 17 ayat 1)
(4). Dari berbagai pengertian koperasi Ibnu Soedjono (2000), salah seorang
pakar koperasi yang pemikiran-pemikirannya perlu dipahami mendefinisikan koperasi
sebagai: koperasi adalah perkumpulan otonom dari orang-orang yang bersatu secara
sukarela untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan aspirasiaspirasi ekonomi, sosial
dan budaya bersama melalui perusahaan yang mereka miliki bersama dan mereka
kendalikan secara demokratis.
2). Nilai- Nilai koperasi
Nilai-nilai dalam koperasi merupakan salah satu aspek penting yang
membedakan koperasi dengan badan usaha ekonomi lainnya, karena dalam nilai-nilai
koperasi terkandung unsur moral dan etika yang tidak semua dimiliki oleh badan
usaha ekonomi lainnya, Dalam hal ini Ibnu Soedjono berpendapat bahwa, koperasi-
Koperasi berdasarkan nilainilai menolong diri sendiri, tanggung jawab sendiri,
demokrasi, persaingan, keadilan dan kesetiakawanan. Mengikuti tradisi para
pendirinya, anggota koperasi percaya pada nilai-nilai etis, dari kejujuran,
keterbukaan, tanggung jawab sosial serta kepedulian terhadap orang lain. Prinsip
menolong diri sendiri (sel-help) percaya pada diri sendiri (self-reliance) dan
kebersamaam (cooperation) Dalam lembaga koperasi akan dapat melahirkan efek
sinergis. Efek ini akan menjadi suatu kekuatan yang sangat ampuh bagi koperasi
untuk mampu bersaing dengan lembaga ekonomi lainnya, apabila para anggota
koperasi mengoptimalkan partisipasinya, baik partisipasi sebagai pemilik maupun
partisipasi sebagai pemakai.
3). Prinsip-prinsip koperasi
ICA (1999) merumuskan prinsip-prinsip koperasi adalah :
Pertama : Koperasi adalah perkumpulan sukarela, terbuka bagi semua orang
yang mampu menggunakan jasa-jasa perkumpulan dan bersedia menerima tanggung
jawab keanggotaan tanpa diskriminasi gender, sosial, rasial, politik dan agama.
Kedua : koperasi adalah perkumpulan demokratis, dikendalikan oleh para
anggotanya yang secara akfif berpartisipasi dalam penetapan kebijakan-kebijakan
perkumpulan dan mengambil keputusan-keputusan
Ketiga : Anggota koperasi menyumbang secara adil dan mengendalikan secara
demokratis, modal dari koperasi mereka
Keempat : Koperasi bersifat otonom, merupakan perkumpulan yang menolong
diri sendiri dan dikendalikan oleh anggota-anggotanya
Kelima : Koperasi menyelenggarakan pendidikan bagi anggotanya, para wakil
yang dipilih, manajer dan karyawan, agar mereka dapat memberikan sumbangan yang
efektif bagi perkembangan koperasi
Keenam : Koperasi dapat memberikan pelayanan paling efektif kepada para
ngggotanya dan memperkuat gerakan koperasi dengan cara kerjasama melalui
struktur lokal, nasional, regional, dan internasional
Ketujuh : Koperasi bekerja bagi pembangunan yang berkesinambungan dari
komunitas mereka melalui kebijakan yang disetujui anggotanya.
4). Keanggotaan koperasi
Berdasarkan pengertian koperasi yang dikemukakan oleh ICA di atas maka
: "Anggota koperasi adalah orang-orang yang berkumpul, bersatu secara sukarela
untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan aspirasi-aspirasi ekonomi, sosial dan
budaya bersama, melalui perusahaan yang mereka miliki bersama dan mereka
kendalikan secara demokratis.
Tabel Perbandingan UU No. 25 Tahun 1992 dan UU No. 12 Tahun 1967
UU No. 25 Tahun 1992 UU No. 12 Tahun 1967
Definisi Koperasi adalah badan usaha
yang beranggotakan orang-
seorang atau badan hukum
Koperasi dengan
melandaskan kegiatannya
berdasarkan prinsip Koperasi
Koperasi Indonesia adalah
organisasi ekonomi rakyat yang
berwatak sosial beranggotakan
orang-orang atau badan-badan
hukum Koperasi yang merupakan
tata-susunan ekonomi sebagai usaha
sekaligus sebagai gerakan
ekonomi rakyat yang
berdasar atas asas
kekeluargaan
bersama berdasar atas azas
kekeluargaan.
Prinsip-prinsip koperasi a. keanggotaan bersifat
sukarela dan terbuka;
b. pengelolaan dilakukan
secara demokratis;
c. pembagian sisa hasil usaha
dilakukan secara adil
sebanding dengan
besarnya jasa usaha
masing-masing anggota;
d. pemberian balas jasa yang
terbatas terhadap modal;
e. kemandirian.
f. pendidikan perkoperasian;
g. kerja sama antarkoperasi.
a. sifat keanggotaannya sukarela
dan terbuka untuk setiap warga
negara Indonesia,
b. rapat anggota merupakan
kekuasaan tertinggi, sebagai
pencerminan demokrasi dalam
Kopersi,
c. pembagian sisa hasil usaha diatur
menurut jasa masing-masing
anggota,
d. adanya pembatasan bunga atas
modal,
e. mengembangkan kesejahteraan
anggota khususnya dan
masyarakat pada umumnya,
f. usaha dan ketata-laksanaannya
bersifat terbuka,
g. Swadaya, swakerta dan
swasembada sebagai
pencerminan dari pada prinsip
dasar : percaya pada diri sendiri.

2.1.b. Faktor-faktor yang Membedakan UU No.25 Tahun 1992 dengan ICA 1995
Koperasi dari sejak kelahirannya disadari sebagai suatu upaya untuk menolong
diri sendiri secara bersama-sama. Oleh karena itu antara selfhelp-
cooperation atau individualitet-solidaritet (Moh Hatta) selalu disebut bersamaan
untuk menggambarkan dasar pendirian koperasi adalah kebersamaan bersendikan
kemandirian. Dengan cara pandang ini koperasi dapat dilihat sebagai kerjasama pasar
dari sebagian pelaku ekonomi dalam melawan ketidak adilan pasar yang terjadi.
Sementara kerjasama yang melibatkan lebih dari satu orang yang menempatkan
kebersamaan sebagai dasarnya maka tidak dapat terlepas dari dimensi sosial. Oleh
karena itu koperasi juga sering ditempatkan sebagai bentuk member base economic
organisation fiz a fiz capital base economic organisation. Gambaran inilah yang
menjadikan koperasi selalu menjadi pilihan untuk mengatur ekonomi orang banyak
yang lemah dalam menghadapi persaingan pasar. Namun karena sejarah pengenalan
koperasi yang berbeda, maka pemikiran koperasipun juga berkembang dengan
madzab yang berbeda-beda, bahkan kaitan antara dimensi ekonomi murni dengan
masalah politik dan sosial banyak campur aduk, terutama di negara sedang
berkembang termasuk Indonesia .
Hingga tahun 1961 praktis kita belum pernah menemukan definisi koperasi yang
didokumentasikan secara formal dan diakui oleh dunia internasional, meskipun
koperasi telah hadir sejak abad 18. Koperasi diberikan pengertian yang diterima
internasional pada awalnya oleh organisasi bukan milik gerakan koperasi, tetapi justru
oleh lembaga internasional yang menangani masalah perburuhan yakni ILO. ILO
lebih menekankan pada peran koperasi sebagai instrumen untuk memperbaiki
kesejahteraan para pekerja, oleh karena itu yang menonjol adalah persyaratan
seseorang untuk menjadi anggota koperasi dan lebih ditekankan pada kemampuan
untuk memanfaatkan jasa koperasi. Pada tahun 1990an ditengah arus globalisasi dan
liberalisasi perdagangan, koperasi dunia juga mempertanyakan kelangsungannya
ditengah arus swastanisasi dan persaingan yang semakin tajam sebagaimana terlihat
dalam kongres Tokyo 1992 (Svend Akheberg, 1992).
Namun pada tahun 1995 gerakan koperasi dunia melalui kongresnya di
Manchester Inggris menjawab dengan dua tema pokok kembali kepada nilai dan
jatidiri koperasi dan menempatkan koperasi sebagai badan usaha atau
perusahaan(enterprise) dengan pengelolaan demokratis dan pengawasan bersama atas
keanggotaan yang terbuka dan sukarela. Gerakan koperasi kembali menyatakan
keharusan bagi koperasi untuk menjunjung tinggi nilai etika (ethical values)yaitu:
kejujuran, keterbukaan, tanggung jawab sosial dan kepedulian kepada pihak
lain (honesty, openness, social responsibility and caring for others) (ICA, 1995),
International Cooperative Alliance ; Conclusion And Recommendation, 6 th
Cooperatives Minister Conference, Kathmandu , Nepal 2002. Sejak itu gerakan
koperasi dunia memiliki definisi secara formal dan tertulis untuk menjadi kesepakatan
gerakan koperasi dunia.
Negara mengatur dalam rangka menjaga aturan main yang jelas dan memberikan
perlindungan publik terhadap masyarakat baik yang berkoperasi maupun yang berada
di luar koperasi. Dengan demikian peran pengaturan dijaga tidak menjadi intervensi
yang menimbulkan ketergantungan. Di banyak negara para pendukung gerakan
koperasi selalu menempatkan prinsip: kerja keras dan berusaha dengan keras sebagai
posisi utama yang diajarkan kepada masyarakat. Jika gagal datang ke pemerintah, jika
pemerintah tidak mampu memecahkan, bekerjasamalah dalam koperasi dan bersama
koperasi lain (CCA). Semangat ini masih mungkin perlu ditanamkan kembali dan
ketergantungan dapat dihindari apabila ada "institusi perantara" yang merupakan
representasi kepentingan koperasi dan pemerintah serta stakeholder lainnya. Dalam
kurun waktu menuju 2009 ini boleh dikatakan perekonomian Indonesia telah kembali
dari krisis, tetapi sisa beban bunga hutang pemerintah akibat krisis perbankan masih
akan terus dipikul rakyat entah berapa lama lagi. Secara konstitusional UUD 1945
setelah perubahan memberikan garis baru berupa prinsip penyelenggaraan ekonomi
sebagaimana tertuang dalam ayat 4 pasal 33. Perekonomian diselenggarakan atas
prinsip kebersamaan, berwawasan lingkungan, efisiensi, demokratis dan
berkelanjutan.
Pada ayat 5 pasal 33 UUD setelah pembahas pengaturan pelaksanaannya diatur
dengan Undang-Undang, oleh karena itu pengertian ayat ini harus jelas mengenai
lingkup UU. Apakah melalui UU payung yang mengatur Perekonomian Nasional atau
menyesuaikan dengan UU yang ada. Sebagai contoh landasan keberadaan dan posisi
koperasi memang menjadi perlu diatur dalam UU Koperasi. Jika pandangan ini
diterima maka cara pandang UU No. 25 dan rencana perubahannya harus ditinjau
kembali, karena tidak mengkaitkan dengan pengaturan sistem perekonomian
sebagaimana jiwa UU No. 12/1967 tentang Pokok-Pokok Perkoperasian dahulu.
Demikian juga terhadap UU Usaha Kecil No. 9/1995. Oleh karena itu berbagai
konsekuensi ini menuntut cara dasar pengaturan yang berbeda. Ketiadaan pengaturan
ini akan menyebabkan kita kehilangan arah dalam mendudukkan jalannya
perekonomian kita. Maka salah satu agenda besar dalam mencari format baru itu
adalah terselesaikannya UU yang diamanatkan oleh ayat 5 pasal 33 UUD 1945.
Nilai nilai dan prinsip dasar koperasi sebagaimana tersebut, merupakan suatu
konsepsi yang harus dihayati guna memberikan arah pada sikap, keyakinan dan
perilaku serta pedoman dalam rangka mencapai tujuan koperasi. Definisi koperasi
menurut Kongres International Cooperative Aliance (ICA) di Manchester Inggris
tanggal 23 September 1995 adalah : Koperasi adalah perkumpulan otonom dari
orang-orang yang besatu secara sukarela untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan
aspirasi-aspirasi ekonomi, sosial dan budaya bersama melalui perusahaan yang
mereka miliki bersama dan mereka kendalikan secara demokratis.
Seiring dengan definisi tersebut, tujuan koperasi menurut Bab 1 pasal 3 Undang-
undang Republik Indonesia No.25 tahun 1992 tentang Perkoperasian, yaitu :
Koperasi bertujuan mewujudkan kesejahteraan anggota pada khususnya dan
masyarakat pada umumnya serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional
dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan makmur bedasarkan
Pancasila dan UUD 1945.
Konsep koperasi adalah konsep umum di dunia. Di berbagai negara, koperasi ini
dijadikan sebagai salah satu bentuk dari suatu badan usaha yang dimiliki oleh banyak
orang dengan prinsip satu orang satu suara. Malahan ide koperasi sesungguhnya
berasal dari negara Eropa. Tetapi ketika konsep koperasi ingin diterapkan di Indonesia
yang digagas oleh Bung Hatta, ada perbedaan yang paling mendasar mengenai konsep
koperasi Indonesia.
Faktor-faktor yang membedakan antara prinsip koperasi ICA dengan UU No. 25
tahun 1992, antara lain:
1. Di Indonesia koperasi diberi peran utama sebagai bagian dari
pembangunan dalam rangka mengentaskan kemiskinan.
Peran tersebut membuat beban Koperasi Indonesia jauh lebih berat dengan
koperasi-koperasi di negara lain, karena Koperasi Indonesia mengemban misi
kesejahteraan suatu negara, bukan hanya menjadi bentuk suatu badan usaha
semata.
2. Koperasi mempunyai peran agar jiwa dan semangatnya juga
berkembang di perusahaan swasta dan negara.
Perbedaan peran koperasi Indonesia dan di negara lain ini terjadi karena
koperasi di Indonesia dilatarbelakangi oleh kondisi kemiskinan struktural yang
saat ini semakin diperparah dengan berlakunya pasar bebas.
3. Perbedaan prinsip koperasi yang mendasar.
Prinsip-prinsip koperasi merupakan hasil Kongres 100 tahun ICA di
Manchester tahun 1995 yang sedikit beda dengan prinsip koperasi yang telah
ditetapkan dalam pasal 5 UU 25/92. Dalam UU 25/92 secara eksplisit masih
menegaskan adanya prinsip pembagian sisa hasil usaha masing-masing
anggota secara adil dan sebanding dengan besarnya jasa usaha masing-masing
anggota serta prinsip pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal.
Sementara itu hasil Kongres 100 tahun ICA tersebut lebih menekankan pada
pentingnya prinsip partisipasi anggota dalam kegiatan ekonomi serta prinsip
kepedulian terhadap masyarakat.
2.2.a Jati Diri Koperasi menjadi Sebuah Kekuatan/Keunggulan bagi Gerakan Koperasi
Koperasi sebagai organisasi sosial ekonomi dapat dilihat dari jati dirinya. Jati diri
koperasi tidak muncul dengan tiba-tiba, akan tetapi mengalami proses yang panjang secara
berkesinambungan selama satu setengah abad. Bapak koperasi Indonesia, Bung Hatta
menyatakan bahwa koperasi kuat karena cita-citanya dan cita-cita koperasi menjadi makin
kuat karena praktek-prakteknya. Demikian pula dengan jati diri koperasi ini yang makin kaya
dan utuh karena praktek-praktek perkoperasian selama ini dan koperasi makin kokoh karena
jati dirinya. Karena jati dirinya koperasi menjadi berbeda dari badan usaha lain dan
perbedaan itu harus diakui dan diterima. Jati diri Koperasi adalah kesatuan dari definisi, nilai-
nilai dan prinsip-prinsip koperasi yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Secara berkala jati diri
koperasi dikaji dan dirumus ulang oleh International Cooperative Alliance (ICA). Pada waktu
ICA didirikan pada tahun 1895 di London prinsip-prinsip koperasi yang dianut adalah
prinsip-prinsip koperasi Rochdale yang didirikan pada tahun 1844 sebagai koperasi
konsumen oertama yang berhasil d dunia dan prinsip tersebut disempurnakan dalam kongres
ICA di Paris tahun 1937, di Wina tahun 1966, dan Manchester tahun 1995. Perumusan jati
diri koperasi oleh ICA di Manchester secara formal diberlakukan bagi seluruh koperasi
seluruh dunia.
2.a.1 Definisi Koperasi
International Co-operative Alliance, 1995 : Koperasi adalah perkumpulan otonom dari
orang-orang yang bergabung secara sukarela untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan
dan aspirasi ekonomi, sosial, dan budaya bersama melalui perusahaan yang dimiliki
bersama dan dikendalikan secara demokratis.
Definisi ini dimaksudkan sebagai pernyataan minimal, tidak dimaksudkan
sebagai deskripsi dari koperasi yang sempurna. Secara sengaja ruang lingkupnya dibuat
luas, mengakui bahwa anggota dari koperasi yang jenisnya beragam akan dilibatkan
secara berbeda dan anggota-anggota harus memiliki kebebasan tertentu bagaimana
mereka mengorganisir kepentingan-kepentingan bersama. Definisi ini menekankan
karakteristik sebagai berikut yang menjadi kekuatan bagi gerakan koperasi.
a) Koperasi adalah otonom, artinya sejauh mungkin bebas dari pemerintah dan
perusahaan swasta.
b) Koperasi adalah perkumpulan orang-orang. Ini berarti behwa koperasi memiliki
kebebasan untuk mendefinisikan orangorang sesuai dengan ketentuan hukum
yang dipilihnya. Banyak koperasi primer di dunia memilih hanya menerima orang
secara individual sebagai anggota. Banyak juga koperasi primer lain menerima
badan hukum yang meliputi perusahaan dengan memberikan kepada mereka hak-
hak yang sama seperti halnya anggota lain. Sifat dari praktek koperasi adalah
maslah yang harus diputus oleh keanggotaan mereka sendiri.
c) Orang-orang bersatu secara sukarela. Keanggotaan dalam koperasi tidak boleh
merupakan keharusan. Anggota harus bebas, dalam batas tujuan dan sumber daya
koperasi untuk bergabung atau menanggulanginya.
d) Anggota koperasi memenuhi kebutuhan ekonomi, sosial, dan budaya bersama
mereka. hal ini menekankan bahwa koperasi diorganisir oleh anggota untuk
kemanfaatan bagi diri sendiri dan bagi mereka bersama. Normalnya, koperasi
berfungsi dlam pasar dan dengan demikian harus dioperasikan secara efisien dan
hati-hati. Sebagian besar dari koperasi didirikan terutama untuk memenuhi tujuan
ekonomi, akan tetapi mereka mempunyai tujuan sosial dan budaya pula. Dengan
sosial dimaksudkan pemenuhan tujuan-tujuan sosial, seperti penyediaan jasa
kesehatan atau penitipan anak. Kegiatan seperti itu harus dilakukan secara
ekonomi, hingga jasa-jasa yang diberikan adalah yang memberikan kemanfaatan
bagi anggota. Koperasi dapat pula memiliki tujuan budaya yang merupakan
kepedulian dan kehendak anggota, seperti membantu mamajukan budaya nasional,
memajukan perdamaian, mensponsori olahraga, dan kegiatan kebudayaan lainnya
yang dapat meningkatkan hubungan dalam komunitas. Sesungguhnya untuk masa
depan hal ini membantu penyiapan jalan hidup lebih baik, cultural, intelektual, dan
spiritual koperasi dapat memberikan kemanfaatan bagi anggota-anggotanya dan
menyumbang bagi komunitas mereka.
e) Koperasi adlah perusahaan yang dimiliki bersama dan dikendalikan secara
demokratis. Hal ini menekankan bahwa dalam koperasi pengendalian oraganisasi
atas dasar demokrasi. Sifat rangkap dari kepemilikan dan pengemdalian secara
demokratis adalah sangat penting dalam membedakan koperasi dengan bagian
perusahaan yang lain, seperti perusahaan yang dikendalikan oleh modal dan oleh
pemerintah. Setiap koperasi adlah sebuah perusahaan dan dalam arti bahwa
koperasi merupakan suatu kenyataa yang normalnya berfungsi dalam pasar dan
karenanya koperasi harus bekerja dengan sungguh-sungguh untuk melayani
anggota-anggota secara efisien dan efektif.
2.a.2Nilai-nilai Koperasi
Koperasi melandaskan nilai-nilai menolong diri sendiri(swadaya), bertanggung
jawab kepada diri sendiri, demokrasi,kebersamaan, keadilan dan
solidaritas/kesetiakawanan. Berdasarkan tradisi para pendirinya, para anggota koperasi
percaya pada nilai-nilai etis, yaitu kejujuran, keterbukaan, tanggung jawab sosial, dan
peduli pada orang lain.
Nilai-nilai koperasi ini diharapkan akan menuntun dan diaplikasikan oleh para
anggota koperasi dalam menjalankan koperasi. Setiap nilai dalam nilai-nilai koperasi
memiliki makna khusus yang menjadi kekuatan gerakan koperasi yang menjadikan
koperasi berbeda dengan badan usaha lainnya.nilai-nilai tersebut diantaranya :
a) Swadaya (self-help) didasarkan pada kepercayaan bahwa semua orang dapat dan
seharusnya berupaya keras mengandalikan nasibnya sendiri. Koeprasiwan percaya
bahwa pengembangan diri secara penuh dapat terjadi hanya dnegan bergabung
bersama yang lain. Sebagai individu, seseorang dibatasi oleh apa yang dapat dicoba
untuk diperbuat dan apa yang dapat dicapai. Melalui kegiatan yang digabungkan
dan tanggung jawab bersama, seseorang dapat mencapai lebih banyak, terutama
dengan meningkatkan pengaruhnya secara koleftif di pasar dan hadapan
pemerintah (kolektif action).
b) Bertanggung jawab kepada diri sendiri bararti bahwa anggota menerima tanggung
jawab bagi koperasi mereka, bagi berdirinya, dan kelanjutan vitalitasnya.
Selanjutnya anggota memiliki tanggung jawab dalam memajukan koperasi mereka
di kalangan keluarga, kawan-kawan, dan kenalan mereka. akhirnya swa-tanggung
jawab berarti bahwa naggota bertanggung jawab guna pemastian bahwa koperasi
mereka tetap independen dari oraganisasi lain, public, maupun swasta.
c) Koperasi berasaskan kebersamaan/persamaan. Kesatuan dasar koperasi adalah
anggota yang merupakan manusia atau pengelompokan manusia. Dasar
kepribadian manusia adalah salah satu ciri utama yang membedakan koperasi dan
perusahaan yang dikendalikan henya untuk kepentingan modal. Anggota
mempunyai hak untuk berpartisipasi, hak untuk memperoleh informasi, hak untuk
didengar, dan hak untuk dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Anggota harus
terhimpun dengan cara yang sejauh mungkin sama (one man, one vote).
d) Keadilan berdasar pada bagaimana anggota diperlakukan dalam koperasi. Mereka
harus diperlakukan secara adil bagaimana mereka memperoleh imbalan bagi
partisipasi mereka dalam koperasi, biasanya melalui pembagian sisa hasil usaha
berdasarkan transaksi mereka, alokasi pencadangan modal atas nama mereka, atau
melalui potngan-potongan biaya.
e) Solidaritas (kesetiakawanan) mempunyai sejarah yang panjang dan dimuliakan
dalam gerakan koperasi internasional. Nilai ini menjamin bahwa kegiatan koperasi
bukan sekedar bentuk terselubung dari kepentingan pribadi yang dibatasi. Sebuah
koperasi adalah lebih dari sebuah perkumpulan anggota-anggota, anggota koperasi
adalah sebuah kolektivitas. Setiap anggota mempunyai tangung jawab untuk
memastikan bahwa semua anggota diperlakukan seadil mungkin, bahwa
kepentingan umum selalu memperoleh perhatian, setiap anggota koperasi bekerja
sama dalam setiap cara yangpraktis utnuk menyediakan begi anggota barang-
barang dan jasa dengan mutu terbaik dengan harga yang terendah. Intinya bahwa
solidaritas adalah sebab dan akibat yang benar dari self help dan tolong menolong,
dua dari konsep mendasar dalam jantung falsafah perkoperasian.
Kalimat kedua pada nilai-nilai koperasi pun memiliki makna. Mengikuti tradisi
dari pendirinya bahwa semua gerakan yang besar memiliki pendiri-pendiri yang
berpikiran besar seperti pelopor-pelopor Rochdale, Frederich Raiffeisen, Herman
Schultze Delitzsch, Phillipe Buchez, Bishop Grundzvig dan Alphonse Desjardins.
Sumbangan-sumbangan mereka lebih dari sekedar praktis, sama pentingnya dengan
pragmatism mereka, adalah etika dan moral.
Nilai-nilai etis yang merupakan aspirasi gerakan koperasi ternyata telah
mempengaruhi kegiatan sementara oraganisasi yang dikendalikan modal dan
organisasi milik pemerintah. Bagaimanapun juaga nilai-nilai etis merupakan bagian
dari perkembangan koperasi, karena pengaruh-pengaruh yang ditimbulkan menduduki
tempat khusus dalam tradisi koperasi.
Banyak dari koperasi yang pertama dalam abad ke-19 teruutama tampak pada
pelopor Rochdale yang memiliki komitmenkhusus mengenai kejujuran. Sesungguhnya
upaya-upaya mereka erkenal dalam pasar untuk sebagian karena mereka menghendaki
dengan sungguh-sungguh adanya ukuran-ukuran yang jujur, mutu tinggi dan harga
yang jujur. Koperasi-koperasi pekerja, sepanjang sejarahnya menjadi terkenal akan
upaya mereka untuk menciptakan sistem manajemen terbuka yang jujur. Koperasi di
bidang keuangan memperoleh reputasi yang bagus sekali di seluruh dunia karena cara-
cara yang jujur dalam melaksanakan bisnis mereka, khususnya dalam perhitungan
pembayaran tingkat bunga. Selama dasawarsa koperasi pertanian telah berkembang
subur karena komitmen mereka terhadap mutu tinggi, produk dengan label yang jujur.
Lepas dari tradisi kejujuran yang khusus, koperasi-koperasi memiliki aspirasi
untuk berhubungan secara jujur dengan anggotanya yang menurut gilirannya
menuntunnya ke hubungan jujur dengan bukan anggota. Untuk alasan yang sama,
koperasi mendukung kepada keterbukaan. Koperasi adlah organisasi public yang
secara teratur membuka informasi yang berharga mengenai kegiatan-kegiatan mereka
kepada anggota-anggota mereka, umum dan pemerintah.
Koperasi memiliki komitmen untuk membantu anggotanya dalam menolong
dirinya sendiri. koperasi telah mewarisi tradisi-tradisi yang selalu peduli akan
kesehatan individu dalam komunitas. Karenanya koperasi memiliki kewajiban utnuk
memenuhi tanggung jawab sosial melalui semua kegiatannya. Dalam kapasitasnya
banyak koperasi telah menunjukan kemampuannya untuk membantu pihak lain,
diantaranya telah meberi sumbangan yang berarti bagi sumber daya manusia dan
keuangan komunitasnya.
2.a.3 Prinsip Koperasi
Prinsip-prinsip yang merupakan jantung dari koperasi adalah titik independen yang satu
dengan yang lain. Mereka saling terkait secara halus, bilamana yang satu diabaikan
keseluruhannya menjadi berkurang. Koperasi seharusnya tidak dapat dinilai secara
eksklusif berdasarkan salah satu diantara prinsip-prinsip, akan tetapi harus dinilai
seberapa jauh koperasi secara benar mentaati prinsip-prinsip tersebut sebagai satu
keseluruhan. Terdapat tujh prinsip dalam koperasi. Tiga prinsip pertama secara esensial
dikaitkan pada dinamika internal, tipikal bagi setiap koperasi. Empat yang terakhir
menyangkut operasi internal maupun hubungan eksternal oleh koperasi.
Prinsip Pertama : Keanggotaan Sukarela dan Terbuka
Koperasi-koperasi adalah perkumpulan-perkumpulan sukarela, terbuka bagi semua
orang yang mampu menggunakan jasa-jasa perkumpulan dan bersedia menerima
tanggung jawab keanggotaan, tanpa diskriminasi gender, sosial, rasial, politik, atau
agama.
Prinsip Kedua : Pengendalian oleh Anggota secara Demokratis
Koperasi-koperasi adalah perkumpulan-perkumpulan demokratis dikendalikan oleh
para naggota yang secara aktif berpartisipasi dalam penetapan kebijakan perkumpulan
dan mengambil keputusankeputusan. Pria dan wanita mengabdi sebagai wakil-wakil
yang dipilih, bertanggung jawab kepada naggota. Dalam koperasi rimer anggota-
anggota mempunyai hak-hak suara yang sama (one man, one vote) dan koperasi-
koperasi pada tingkatan-tingkatan lain juga diatur secara demokratis.
Prinsip Ketiga : Partisipasi Ekonomi Anggota
Anggota-anggota menyumbang secara adil bagi, dan mengendalikan secara demokratis
modal dari koperasi mereka. Sekurang-kurangnya sebagian dari modal tersebut
biasanya merupakan milik bersama dari koperasi. Anggota-anggota biasanya menerima
kompensasi yang terbatas atas modal yang disyaratka untuk menjadi anggota. Anggota-
anggota mengalokasikan sisa hasil usaha untuk beberapa tau semua dari tujuan berikut :
pengembangan koperasi mereka, kemungkinan dengan membentuk sebagian dari
padanya tidak dapat dibagi-bagi, pemberian manfaat kepada anggota-anggota
sebanding dengan transaksi-transaksi mereka dengan koperasi, dan mendukung
kegiatan-kegiatan yang disetujui oleh para anggota.
Prinsip Keempat : Otonomi dan Kebebasan
Koperasi-koperasi bersifat otonom, menolong diri sendiri serta diawasi oleh angota-
anggotanya. Apabila koperasi mengadakan perjanjian dengan organisasi lain termasuk
pemerintah atau memupuk modal dari sumber luar, koperasi melakukannya
berdasarkan persyaratan yang menjamin adanya penawasan demokratis anggota-
anggota serta dipertahankannya otonomi koperasi.
Prinsip Kelima : Pendidikan, Pelatihan, dan Informasi
Koperasi-koperasi memberikan pendidikan dan pelatihan bagi anggotanya, para wakil
yang dipilih oleh rapat anggota, manajer, dan karyawan agar mereka dapat melakukan
tugasnya lebbih efektif bagi pengembangan koperasinya. Mereka memberikan
informasi (penerangan) kepada masyarakat umu -khususnya orang-orang muda dan
pemimpin opini masyarakat- mengenai hakekat perkoperasian dan manfaat berkoperasi.
Prinsip Keenam : Kerjasama antar Koperasi
Koperasi melayani para anggota secara efektif dan memperkuat gerakan koperasi
dengan bekerjasama melalui organisasi koperasi tingkat lokal, nasional, regional, dan
internasional.
Prinsip Ketujuh : Kepedulian terhadap Masyarakat
Koperasi melakukan kegiatan untuk pengembangan masyarakat sekitarnya secara
berkelanjutan, melalui kebijakan-kebijakan yang diputuskan oleh rapat anggota.
2.2.b Praktek Jatidiri Koperasi pada perusahaan swasta maupun BUMN
JATIDIRI KOPERASI
(INTERNATIONAL CO-OPERATIVE IDENTITY STATEMENT)
Manchester, 23 September 1995
Definisi :
Koperasi adalah perkumpulan otonom dari orang-orang yang bersatu secara sukarela
untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan aspirasi-aspirasi ekonomi, sosial, dan budaya
bersama melalui perusahaan yang mereka miliki bersama dan mereka kendalikan secara
demokratis
Nilai-nilai :
Koperasi berdasarkan pada nilai-nilai menolong diri sendiri, tanggungjawab sendiri,
demokrasi, persamaan, keadilan, dan kesetiakawanan. Mengikuti tradisi para pendirinya,
anggota-anggota koperasi percaya pada nilai-nilai ethis kejujuran, keterbukaan,
tanggungjawab sosial, serta peduli terhadap orang lain.
Prinsip-Prinsip :
Prinsip-prinsip koperasi sebagai garis penuntun untuk melaksanakan nilai-nilai dalam praktek
adalah:
Keanggotaan sukarela dan terbuka
Pengendalian oleh anggota secara demokratis
Partisipasi ekonomi anggota
Otonomi dan Kebebasan
Pendidikan, pelatihan dan informasi
Kerjasama antar koperasi
Kepedulian terhadap komunitas
UUD 1945 pasal 33 memandang koperasi sebagai sokoguru perekonomian nasional,
yang kemudian semakin dipertegas dalam pasal 4 UU No. 25 tahun 1992
tentang perkoperasian. Menurut M. Hatta sebagai pelopor pasal 33 UUD 1945 tersebut,
koperasi dijadikan sebagai sokoguru perekonomian nasional karena:
1. Koperasi mendidik sikap self-helping.
2. Koperasi mempunyai sifat kemasyarakatan, di mana kepentingan masyarakat harus
lebih diutamakan daripada kepentingan dri atau golongan sendiri.
3. Koperasi digali dan dikembangkan dari budaya asli bangsa Indonesia.
4. Koperasi menentang segala paham yang berbau individualisme dan kapitalisme.
Ada 9 asas pembangunan nasional yang harus diperhatikan dalam setiap pelaksanaan
pembangunan (GBHN, 1988) yaitu:
1. Asas Keimanan dan Ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, bahwa segala usaha
dan kegiatan pembangunan nasional dijiwai, digerakkan dan dikendalikan oleh
keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai nilai luhur yang
menjadi landasan spiritual, moral dan etika dalam rangka pembangunan nasional
sebagai pengamalan pancasila.
2. Asas Manfaat, bahwa segala usaha dan kegiatan pembangunan nasional memberikan
manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemanusiaan, bagi peningkatan kesejahteraan
rakyat dan pengembangan pribadi warga negara serta mengutamakan kelestarian
nilai-nilai luhur budaya bangsa dan elestarian fungsi lingkungan hidup dalam rangka
pembangunan yangberkesinambungan dan berkelanjutan.
3. Asas Demokrasi Pancasila, bahwa upaya mencapai tujuan pembangunan nasional yang
meliputi seluruh kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dilakukan
dengan semangat kekeluargaan yang bercirikan kebersamaan,gotong-royong,
persatuan dan kesatuan melalui musyawarah untuk mencapai mufakat.
4. Asas Adil dan Merata, bahwa pembangunan nasional yang diselenggarakan sebagai
usaha bersama harus merata di semua lapisan masyarakat dan di seluruh wilayah
tanah air.
5. Asas Keseimbangan, Keserasian, dan Keselarasan dalam Perikehidupan, bahwa dalam
pembangunan nasional harus ada keseimbangan antara berbagai kepentingan, yaitu
keseimbangan, keserasian, keselarasan antara kepentingan dunia dan akhirat, jiwa dan
raga, individu, masyarakat dana negara, dan lain- lain.
6. Asas Kesadaran Hukum, bahwa dalam pembangunan nasional setiap warga negara dan
penyelenggara negara harus taat pada hukum yang berintikan keadilan dan kebenaran,
serta negara diwajibkan untuk menegakkan dan menjamin kepastian hukum.
7. Asas Kemandirian, bahwa dalam pembangunan nasional harus
berlandaskan pada kepercayaan akan kemampuan dan kekuatan sendiri serta
bersendikan kepada kepribadian bangsa.
8. Asas Kejuangan, bahwa dalam penyelenggaraan pembangunan
nasional, penyelenggaraan negara dan masyarakat harus memiliki mental, tekad,
jiwa dan semangat pengabdian serta ketaatan dan disiplin yang tinggi dengan
lebihmengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi/golongan.
9. Asas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, dalam pembangunan nasional
dapat memberikan kesejahteraan lahir batin yang setinggi-
tingginya, penyelenggaraannya perlu menerapakan nilai-nilai ilmu pengetahuan
dan tekonologi secara seksam dan bertanggung jawab dengan memperhatikan nilai-
nilai agama dan nilai-nilai luhur budaya bangsa.
Literatur
Merger Koperasi Raksasa dari Tiga Negara Inilah koperasi konsumen hasil merger tiga
koperasi koperasi konsumen di tiga negara Skandinavia, sebagai langkah strategis
menghadapi globalisasi. Era koperasi transnasional, sudah dimulai. Peristiwa bersejarah
dalam peta perkoperasian dunia itu terjadi pada 1 Januari 2002. Tiga koperasi konsumen di
tiga negara kawasan Skandinavia, melakukan merger dalam bisnis ritel fast moving consumer
goods (FMCG), melahirkan Coop Nordic. Padahal, ketiga koperasi tersebut sudah mencapai
skala ekonomi raksasa di negaranya masing-masing, yaitu Norges Kooperative
Landsforening (NKL) di Norwegia, The Swedish Co-operative Union atau Kooperativa
Frbundet (KF) di Swedia dan The Danish Consumers Co-operative Society atau
Fllesforeningen for Danmarks Brugsforeninger (FDB) di Denmark. Komposisi saham
dalam Coop Nordic, 42 persen dimiliki KF, 38 persen oleh FDB dan 20 persen milik NKL.
Di Norwegia, koperasi konsumen menggenggam pangsa pasar 24,1 persen bisnis ritel, dan
tampil dalam deretan empat besar perusahaan ritel raksasa. Sedangkan di Swedia, penguasaan
pangsa pasar oleh koperasi konsumen sebesar 21,6 persen. Bahkan di Denmark, pangsa pasar
bisnis ritel yang dikuasai koperasi konsumen mencapai 36,5 persen. Dengan mengoperasikan
sejumlah supermarket dan grosir, koperasi konsumen di negeri Hamlet itu bertengger dalam
urutan tiga besar perusahaan ritel.
Lantas, mengapa mereka merasa harus melakukan merger? Di negara-negara Eropa,
khususnya Skandinavia yang tradisi koperasinya sangat kuat, fenomena merger sebetulnya
bukan langkah yang asing. NKL, KF dan FDB sendiri, merupakan hasil merger dari koperasi
konsumen di negaranya masing-masing. Jadi, tidak aneh kalau jumlah koperasi di sana
mengalami tren makin sedikit dan, sebaliknya, dengan skala usaha yang makin meraksasa.
Yang menjadi konsen para pegiat koperasi di negara-negara Skandinavia, tampaknya, bukan
bagaimana mempertahankan keberadaan koperasinya sendiri, tetapi lebih pada bagaimana
menghadapi lingkungan bisnis yang terus berubah dan semakin mengglobal. Perusahaan-
perusahaan swasta, yang sudah lama mengonsolidasikan diri dengan membentuk
multinational corporation (MNC), makin agresif melakukan ekspansi bisnisnya, hingga
menciptakan kekuatan yang makin sulit ditandingi.

Maka, ketika fenomena globalisasi makin mengental dan kekuatan MNC kian menjadi, ketiga
koperasi konsumen di tiga negara itu pun, merasa perlu untuk melakukan langkah radikal,
dengan melakukan merger. Coop Nordic, koperasi konsumen hasil merger itu, bisa dikatakan
sebagai koperasi transnasional yang pertama kali lahir di dunia.
Tentu saja, langkah merger tersebut dilakukan dengan perhitungan yang cukup rumit. Karena
itu, kendati sudah diwacanakan sejak lama, baru terwujud setelah lahir kebijakan Satu
Eropa di bidang ekonomi. Hasilnya, Coop Nordic mampu bekerja secara lebih efisien,
dengan skala usaha terbesar di seluruh kawasan Skandinavia, bahkan menjadi pemain ritel
makanan dan minuman terbesar di seantero Eropa.
Di samping soal ketatnya persaingan yang menuntut pengelolaan efisien agar menghasilkan
harga bersaing, langkah merger juga didorong oleh tuntutan konsumen di Eropa, yang makin
complicated. Mereka bukan hanya sensitif dengan harga, tetapi juga tidak bisa kompromi
dengan kualitas produk, bahkan unsur lain seperti kesehatan, etika bisnis dan lingkungan
hidup. Jika, misalnya, sebuah produk yang penggunaan atau proses produksinya
membahayakan kesehatan bahkan lingkungan hidup, niscaya akan dijauhi meskipun harganya
murah.
Secara keseluruhan, Coop Nordic menghimpun sekitar 7 juta anggota perorangan. Melalui
koperasinya masing-masing, anggota koperasi di tiga negara itu menempatkan pengurus di
Coop Nordic, yang berjumlah 13 orang.
Kehadiran Coop Nordic terbukti mampu memacu peningkatan pangsa pasar ritel FMCG di
setiap negara, dan menambah jumlah outlet supermarket. Sebagian produk yang dipasarkan,
sudah diberi label milik koperasi. Keunggulan koperasi konsumen di Skandinavia dibanding
perusahaan ritel swasta, antara lain terletak pada keberadaannya yang nge-link ke koperasi
produsen, terutama pertanian dan peternakan, yang produk olahannya menguasai pasar di
negaranya masing-masing.
Coop Nordic mempekerjakan 28.290 karyawan yang tersebar di tiga negara, dan
mengoperasikan 3.000 outlet. Dari seluruh outlet yang dioperasikan, koperasi mencetak
volume usaha sekitar SEK 90 miliar per tahun (SEK 1 sekitar Rp 1.521,4). Setiap outlet,
dikelola secara otonom oleh koperasi di masing-masing negara, agar bisa lebih menyesuaikan
dengan kebutuhan anggota koperasi atau konsumen setempat. Setiap koperasi di masing-
masing negara, mempunyai tanggung jawab penuh dalam mengelola outlet, ujar Nina
Jarback, salah seorang pengurus Coop Nordic yang juga pengurus KF.
DEKOPIN
1. Arti Dekopin
Dewan koperasi Indonesia yang selanjutnya dalam Anggaran Dasar di singkat
DEKOPIN adalah badan hukum yang didirikan berdasarkan landasan idiil Pancasila landasan
strukturil UUD 1945 Pasal 2 dan Pasal 33 ayat (1) beserta penjelasannya, serta landasan
operasional UU No. 12 Tahun 1967 Jo UU No. 25 tahun 1992 tentang pokok-pokok
perkoperasian.
Dekopin berasaskan kekeluargaan dan k3gotong-royongan. D3kopin merupakan partner
pemerintah dalam rangka mewujudkan cita-cita nasional untuk meningkatkan kesejahteraan
rakyat.
2. Tujuan Dekopin
memperjuangkan tercapainya cita-cita, tujuan dan kepentingan bersama koperasi
Indonesia, yaitu terwujudnya masyarakat adil dan makmur atas dasar Ketuhanan
Yang Maha Esa, melalui data ekonomi Indonesia yang berpijak kepada demokrasi
ekonomi berdasarkan pancasila sesuai dengan UUD 1945 pasal 33 ayat (1) beserta
penjelasannya.
Memeperjuangkan agar koperasi Indonesia menjadi soko guru dalam tatanan ekonomi
bangsa Indonesia.
3. Fungsi Dekopin
Tugas dan kewjiban Dekopin
Dekopin bertugas dan berkewajiban :
1. Mengembangkan kerja sama antar koperasi Indonesia dan memupuk kerja sama natara
koperasi dengan lembaga-lembaga lain baik didalam maupun diluar negeri.
2. memperjuangkan agar produk-produk yang menghambat perkembangan koperasi dapat
diperbaiki dan disesuaikan dengan kepentingan gerakan koperasi.
3. Menumbihkan dan meningkatkan kesadaran dean semangat berkoperasi setia kawan
dikalangan masyarakat dengan menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan, penyuluhan dan
keperluan.
4. menyelenggarakan bimbingan dan pengawasan dalam bidang perkoperasian baik dalam
segi idiil, organisasi, manajemen maupun usaha.
5. Memupuk kerja sama antar koperasi dengan perusahaan negara, dan perusahaan swasta
atas dasar hubungan kerja sama yang sehat dan saling mengisi.
6. Memupuk kerja sama dengan golongan-golongan yang potensial dalam masyarakat sperti :
tani, nelayan, buruh, wanita, pemuda, cendikiawan, dan pengusaha.
7. Memperjuangkan duduknya wakil gerakan koperasi di Indonesia di MPR, DPR, DPRD,
dan lembaga-lembaga lainnya yang dibentuk baik oleh pemerintah maupun non pemerintah.
8. kegiatan dan usaha lain-lain yang dapat menunjang kemajuan dan perkembangan koperasi
di Indonesia.
Bank milik koperasi merupakan bank yang kepemilikan sahamnya dimiliki oleh perusahaan
yang berbadan hukum koperasi, Contoh : Bank Bukopin
Artikel
Kapanlagi.com - Dewan Koperasi Indonesia menggandeng salah satu raksasa media Korea
Selatan JoongAng Ilbo New Media untuk membangun sistem online koperasi yang nantinya
akan menjadi satu sistem online yang tidak saja diterapkan di Indonesia tapi juga di Asia
Tenggara.
Sekjen Dekopin Yusri Suhud ketika dihubungi di Jakarta, Minggu, mengatakan, kerja sama
itu akan terealisasi bersama setelah para pihak melakukan penandatanganan MoU pada 6
Februari.
Proses kerja sama itu sendiri sudah dirintis sejak pertengahan tahun lalu, dan baru akan
direalisasikan pada pekan ini.
Perusahaan Korea yang akan menjadi mitra Dekopin tersebut merupakan salah satu
perusahaan media yang cukup ternama di Korea. Perusahaan tersebut menerbitkan koran
dalam bahasa Inggris dan juga beberapa koran asing seperti International Herald Tribun
(IHT) di Korea.
Mereka juga mempunyai jaringan TV kabel serta situs berita online Joins.com. Pada awalnya
perusahaan ini mempunyai hubungan erat dengan Samsung, namun karena regulasi di Korea
akhir mereka memisahkan diri dengan Samsung pada tahun 1993.
Presiden JoongAng Ilbo New Media, Jin Ki Kim juga mengadakan pertemuan dengan Ketua
Umum Dekopin Adi Sasono beberapa waktu lalu di Jakarta.
Pertemuan itu merupakan pertama antara kedua pucuk pimpinan menjelang penandatanganan
kerja sama. Dalam pertemuan itu keduanya lebih banyak bercerita soal potensi ekonomi
negara masing-masing.
Adi Sasono menekankan bahwa kerja sama antar keduanya itu nantinya antara lain untuk
mendukung sistem Koperasi Simpan Pinjam online yang sudah berjalan saat ini.
Selain itu perusahaan Korea tersebut akan membantu Dekopin dalam pengembangan pusat
data, smartcard dan sistem IT Dekopin yang akan memungkinkan lembaga ini untuk online
secara nasional.
JoongAng Ilbo akan menyediakan perangkat keras dan lunak dan diharapkan dari kerja sama
ini bisa meningkatkan efisiensi transaksi ekonomi di antara para anggota Dekopin, dan
pembelajaran jarak jauh serta pemutakhiran data.
Sistem yang dikembangkan Dekopin ini akan diintegrasikan dalam sistem di Asia Tenggara.
Indonesia sebagai ketua Asean Cooperative Organization (ACO) akan memaksimalkan
sistem online itu sehingga dapat diterapkan di Asia Tenggara. (*/lin)
JAWABAN
Trilogi pembangunan yaitu menciptakan pemerataan pembangunan dan hasil-
hasilnya, pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, serta stabilitas nasional yang dinamis dan
strategis yang kemudian juga dijadikan sebagai misi yang melekat pada masing-masing
pelaku ekonomi, baik negara, swasta, maupun koperasi di dalam sistem ekonomi nasional
yang kita bangun.
Rumusan kedudukan, peranan, dan hubungan antara pelaku ekonomi dapat
digambarkan sebagai berikut:
1. BUMN, koperasi, dan swasta hendaknya ditempatkan pada posisi dan kedudukan yang
setara. Hal ini berarti, setiap pelaku ekonomi baik secara normatif maupun
operasional memiliki hak hidup yang sama, sesuai dengan misi yang diembannya.
2. BUMN, koperasi, dan swasta hendaknya melakukan peranan masing-masing dengan
memanfaatkan keunggulan komparatif (Comparative advantage) yang
dimilikinya.Keunggulan koperasi yang dimaksud di sini ialah bahwa masing-masing
pelaku ekonomi mempunyai suatu kelebihan di satu bidang jika dibandingkan dengan
pelaku ekonomi lainnya.
Keunggulan komparatif tersebut dapat dilihat dari cita-cita organisasi masing-masing
pelaku ekonomi tersebut. BUMN dimiliki dan dikelola oleh pemerintah. BUMN bukan
merupakan suatu perusahaan yang mengejar keuntungan sebagai prioritas utama, akan tetapi
merupakan alat pemerintah yang efektif dalam melaksanakan pembangunan nasional. Dengan
demikian, BUMN mengemban tugas melayani kepentingan umum untuk memenuhi hajat
orang banyak.
Berbeda dengan sektor swasta yang dimiliki dan dikelola secara perseorangan,
keluarga, dan atau sekelompok kecil orang yang memiliki modal untuk mencapai tujuan
memberi keuntungan yang semaksimal mungkin.
Lain halnya sektor koperasi yang merupakan wadah ekonomi rakyat yang berwatak
sosial, beranggotakan orang-orang, dimiliki dan dikelola oleh anggota untuk kepentingan
anggota serta masyarakat secara kekeluargaan.
Bertitik tolak dari ciri-ciri pelaku ekonomi tersebut diatas, maka keunggulan
komparatif yang khas yang berkaitan dengan trilogi pembangunan nasional adaah sebagai
berikut:
1. BUMN cenderung untuk melakukan peran utama sebagai stabilisator dan perintis
perekonomian nasional
2. Swasta cenderung mengarah untuk melakukan peran utama di bidang pertumbuhan
ekonomi nasional.
3. Koperasi mengemban peran utama di bidang pemerataan pembangunan dan hasil-
hasilnya.
Keunggulan pelaku ekonomi BUMN lebih terfokus dalam bidang stabilitas,
sedangkan BUMS lebih diarahkan untuk mencapi pertumbuhan ekonomi. Badan usaha
koperasi, ditinjau dari aspek prinsip-prinsip organisasinya, lebih menitikberatkan pada asas
pemerataan. Seiring dengan perubahan ruang, waktu, dan nilai dalam perjalanannya, koperasi
juga berperan dalam pencapaian pertumbuhan dan stabilitas ekonomi nasional.
Membangun sokoguru perekonomian nasional berarti membangun badan usaha
koperasi yang tangguh, menumbuhkan badan usaha swasta yang kuat dan mengembangkan
BUMN yang
mantap secara simultan dan terpadu dengan bertumpu pada Trilogi Pembangunan untuk
mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat banyak. Karena pemahaman dan
pemikiran terhadap koperasi dalam arti yang luas dan mendasar seperti dimaksudkan.
Dalam hal efisiensi internal, koperasi sudah harus mencapai tingkat maksimal. Karena
itu diperlukan pengembangan organisasi yang berorientasi ke luar agar dapat
mengembangkan lebih lanjut efisiensi yang dimaksud. Untuk itu diperlukan proses
keterkaitan yang integratif dalam bentuk kerjasama, baik antar-koperasi sendiri maupun
dengan BUMN dan swasta, secara vertikal maupun horisontal.
Sehubungan dengan hal tersebut integrasi antar-koperasi dapat dilakukan dengan
pembentukan koperasi sekunder yang harus dilandasi kepentingan tingkat ekonomi tanpa
harus mensyaratkan kesamaan jenis koperasi tingkat dan wilayah. Dengan demikian usaha
integrasi vertikal dapat memenuhi kebutuhan peningkatan upaya komersial yang tinggi. Di
samping usaha integrasi vertikal, dapat juga dilakukan integrasi horisontal, yang dilakukan
antar- koperasi primer agar dapat mengembangkan kegiatan bersama di bidang pemasaran,
produksi maupun permodalan. Selanjutnya integrasi vertikal dan horisontal juga dapat
dilaksanakan melalui kerjasama koperasi dengan usaha milik Negara dan swasta sepanjang
tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar koperasi. Dalam hubungan itu maka
kerjasama tersebut harus diwarnai dengan etika bisnis dan kaidah-kaidah asas kekeluargaan;
kaidah mana bertujuan untuk menjaga kerjasama agar memberikan kesempatan kepada
semua pihak yang terlibat untuk dapat berusaha secara komprehensif, saling mendidik dan
memperkuat serta memberikan keuntungan tanpa mematikan satu sama lainnya. Hal itulah
motif kerjasama dikembangkan untuk mewujudkan efisiensi usaha bersama bagi ketiga
wadah pelaku ekonomi tersebut.
Bentuk pertama, dapat berupa kerjasama komplementer, dimana apabila terdapat
kegiatan usaha koperasi yang tidak layak dikerjakan sendiri, maka koperasi dapat
mengadakan kerjasama operasional [KSO] dengan pihak usaha milik negara maupun swasta
yang kegiatan usahanya lebih layak untuk melaksanakan kegiatan tersebut, demikian pula
sebaliknya. Sebagai contoh dari kerjasama ini diantaranya adalah pengadaan pangan untuk
stock nasional yang dilakukan oleh KUD dengan BULOG, penyaluran pupuk oleh KUD
dengan PT. Pusri, pemasokan susu dari KUD kepada industry pengolahan susu.
Bentuk kedua, kerjasama substitutif yang merupakan kerjasama manajemen dan
kepemilikan dengan titik beratnya adalah apabila koperasi karena satu dan lain hal belum
mampu memilki dan melaksanakan manajemennya secara layak, maka untuk sementara
waktu manajemennya digantikan oleh swasta atau BUMN. Selanjutnya apabila kondisi
koperasi telah memungkinkan maka pihak swasta atau BUMN secara bertahap menyerahkan
kembali seluruhnya atau sebagian kepemilikan dan manajemennya kepada koperasi. Pola PIR
dan modal ventura adalah salah satu bentuk kerjasama seperti diuraikan di atas.
Bentuk ketiga, adalah kerjasama secara kompetisi yang konstruktif. Yaitu,
kesepakatan antara koperasi dengan swasta dan BUMN untuk bersaing secara sehat dengan
mengembangkan seluas-luasnya prestasi dan produktivitasnya untuk mencapai kelayakan
kegiatan usaha masing-masing. Bentuk kerjasama tersebut secara spesifik dapat berupa
kerjasama dua pihak [koperasi dengan swasta dan BUMN] dan tiga pihak [menyangkut
ketiga pelaku secara bersama-sama].
Adapun ruang lingkup kerjasama dapat dilakukan di bidang pemasaran, produksi dan
permodalan di mana dalam perkembangannya proses kerjasama itu selanjutnya koperasi
dapat memilki saham dari swasta dan BUMN atau membentuk P.T. baru bersama dengan
swasta dan BUMN. Koperasi Unit Desa Sebagai Pusat Kegiatan Ekonomi Pedesaan
Sebagaimana amanat dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara 1993 bahwa tujuan
pembangunan yang ingin dicapai adalah untuk mewujudkan bangsa Indonesia yang maju dan
mandiri serta adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Pencapaian tujuan pembangunan tersebut dilakukan dengan menitik beratkan pada
pembangunan bidang ekonomi. Sasarannya adalah tercipta perekonomian yang mandiri dan
handal sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan. Sasaran pembangunan
bidang ekonomi ini diarahkan untuk mampu meningkatkan kemakmuran rakyat yang lebih
merata, pertumbuhan yang cukup tinggi dan stabilitas nasional yang semakin mantap.
Pembangunan bidang ekonomi tersebut diantaranya dicirikan oleh industri yang kuat
dan maju, pertanian yang tangguh serta koperasi yang sehat dan kuat. UUD 1945
menempatkan koperasi pada kedudukan yang amat penting yaitu sebagai sokoguru
perekonomian nasional. Selanjutnya, dalam GBHN 1993 ditegaskan pula bahwa hakekat
pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila adalah pembangunan manusia
Indonesia seutuhnya dan seluruhnya. Hal ini sesuai dengan salah satu fungsi dan peran
koperasi, yaitu mempertinggi kwalitas kehidupan masyarakat. Labih lanjut GBHN 1993
menyatakan bahwa
pembangunan nasional adalah pembangunan dari, oleh dan untuk rakyat. Amanat ini secara
jelas dianut oleh koperasi. Koperasi susuai dengan watak sosialnya adalah wadah ekonomi
yang paling ampuh untuk menanggulangi kemiskinan dan keterbelakangan dalam upaya
untuk menciptakan pembangunan yang berkeadilan. Koperasi juga merupakan organisasi
yang paling
banyak melibatkan peran serta rakyat. Oleh karena itu, koperasi sebagai gerakan ekonomi
rakyat perlu lebih banyak diikutsertakan alam upaya pembangunan yang lebih merata,
tumbuh dari bawah, berakar di masyarakat dan mendapat dukungan luas dari rakyat.
2.2.c Kelemahan Jatidiri Koperasi pada Kondisi Bangsa Indonesia
Esensi jati diri koperasi adalah bahwa koperasi merupakan perkumpulan otonom dari
orang-orang yang bersatu secara sukarela atau perkumpulan orang-orang, yaitu orang-orang
yang menjadi anggota koperasi. Anggota koperasi adalah pemilik, dan berpartisipasi dalam
menggunakan jasa perkumpulan dan menerima tanggungjawab keanggotaan, baik dalam
menyumbang permodalan secara adil dan melakukan transaksi ekonomi dengan koperasinya
sebagai pengguna jasa atau pelanggan. Semua itu dilakukan untuk mencapai tujuannya, yaitu
memenuhi kebutuhan dan aspirasi ekonomi dan social para anggotanya. Dengan demikian
anggota adalah pemilik dan sekaligus pelanggan, atau dengan kata lain pemilik dan
pelanggan adalah orang-orang yang sama. Paradigma pada hakikatnya tercemin dalam skema
pemilik-pelanggan. Meminjam istlah literature koperasi AS (David Cobia; 1989) koperasi
adalah user oriented firm. Berlawanan dengan perusahaan swasta yang disebut investor
oriented firm.
Esensi lainnya adalah bahwa koperasi merupakan organisasi perkumpulan orang-orang
yang menolong diri sendiri, dan karenanya otonomi dan kebebasan merupakan prinsip yang
sangat diutamakan. Koperasi bebas mengadakan kesepakatan dengan perkumpulan lain
termasuk pemerintah atau memperoleh modal dari sumber-sumber luar. Upaya pemerintah
membantu mengembangkan koperasi dan modal yang diperoleh dari sumber-sumber luar
dilakukan dengan persyaratan-persyaratan yang menjamin adanya pengadilan anggota serta
tidak menggangu otonomi koperasi.
Rumusan Pasal 33 dan penjelasannya (UUD 1945) sebenarnya merupakan system
perekonomian nasional yang ideal, dimana koperasi sebagai bangun perusahaan yang sesuai
mempunyai peluang untuk memainkan peran dalam menyusun perekonomian usaha bersama
berdasar atas asas kekeluargaan. Namun, rumusan tersebut lebih diartikan sebagai alasan
pembenar bahwa pemerintah mempunyai kewajiban konstitusional membangun koperasi,
penyediaan anggaran belanja Negara, dan bahkan sampai mensponsori pembentukan
koperasi. Peran pemerintah dalam pembangunan koperasi sangat dominan, sehingga pasang
naik dan pasag surut perkembangan koperasi diwarnai dan sejalan dengan upaya pemerintah
membangun koperasi. Upaya koperasi untuk membangun dirinya sendiri nyaris tidak
terdengar. Hal ini lah yang merupakan lemahnya peran jati diri koperasi itu sendiri.
Akibat dari lemahnya jati diri koperasi, maka kuatnya peran dan fasilitas pemerintah
dalam pembangunan koperasi, menyebabkan ketergantungan koperasi kepada pemerintah
kelihatanya merupakan kenikmatan tersendiri, sehingga koperasi enggan besusah payah
berswadaya. Akibatnya koperasi kehilangan otonomi keswadayaannya.
Upaya pemerintah membangun koperasi didorong oleh keinginan segera memajukan
koperasi, pemerintah menjadikan koperasi sebagai instrumen untuk melaksanakan program
pemerintah, yang sering kali mengabaikan nilai-nilai dan prinsip-prinsip koperasi. Program
pemerintah yang dilaksanakan oleh koperasi pada umunya tidak hanya ditujukan untuk
kepentingan anggota, tetapi untuk seluruh masyarakat yang bersangkutan. Membuat
pembedaan perlakuan antara anggota dengan bukan anggota tidak diperbolehkan. Penyaluran
barang konsumsi tidak hanya untuk anggota koperasi, tetapi untuk seluruh penduduk.
Penyaluran pupuk dan kredit usahatani, serta pengadaan pangan dan cengkeh yang
dilaksanakan oleh KUD tidak hanya ditujukan kepada anggota tetapi untuk seluruh petani
yang bersangkutan. Kenyataan ini ikut mempengaruhi perubahan pandangan bahwa koperasi
tidak hanya bekerja untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi ekonomi dan social anggota,
tetapi untuk seluruh masyarakat. Bukan anggota dilayani sama dengan anggota, sehingga
tidak ada gunanya menjadi anggota koperasi. Jika koperasi bekerja hanya untuk memenuhi
kebutuhan dan aspirasi anggota tidak akan bisa menjadi besar, dan tidak ada manfaat bagi
masyarakat. Paradigma koperasi sebagai perusahaan yang berorientasi kepada anggota,
berubah menjadi berorientasi untuk kepentingan masyarakat.
Karena itu dapat dipahami, munculnya koperasi bias paradigma dengan membatasi
jumlah anggota sekedar memenuhi syarat perundang-undangan (20 orang) dan beroperasi
dengan mengksploitir masyarakat luas sebagai pelanggan bukan anggota yang dikemas
sebagai calon anggota yang bersifat permanen. Para pendiri koperasi ini bisa disebut sebagai
pengusaha koperasi, yang sering bertindak sebagai investor dengan mendirikan koperasi atau
mungkin membeli badan hukum koperasi. Koperasi simpan pinjam tampaknya berpeluang
untuk dioperasikan oleh para pengusaha koperasi.
Adanya keinginan untuk menggunakan koperasi sebagai sapu jagat, dengan anggapan bahwa
koperasi dapat digunakan untuk menangani semua kegiatan ekonomi. Padahal, adanya
prinsip-prinsip koperasi akan bersifat membatasi, yaitu kegiatan ekonomi yang tidak dapat
dikelola dengan skema pemilik-pelanggan dengan sendirinya tidak bisa dioperasikan. Kalau
dipaksakan akan melahirkan koperasi palsu yang tidak mungkin menjalankan kegiatannya
berdasar prinsip-prinsip koperasi. Adanya kegemaran memilih bentuk koperasi serba usaha
atau koperasi primer tingkat nasional yang tidak jelas anggotanya adalah akibat dari
pandangan ini. Apalagi jika tujuanya tidak untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi ekonomi
dan social para anggota, tetapi semata-mata untuk meraih fasilitas pemerintah. Karena itu,
sangat diperlukan identifikasi lapangan kegiatan ekonomi yang dapat dikelola dengan skema
pemilik-pelanggan atau dapat dikoperasikan. Tidak lain maksudnya adalah untuk melahirkan
koperasi sejati yang mampu memenuhi kebutuhan dan aspirasi ekonomi dan social para
anggota dan berperan dalam kehidupan perekonomian masyarakat.
3. Upaya agar gerakan Koperasi di Indonesia terutama di pedesaan dapat tumbuh dan
berkembang sesuai dengan jati dirinya.
Menurut definisi identitas koperasi, koperasi adalah perkumpulan otonom dari orang-
orang yang bergabung secara sukarela untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi ekonomi,
sosial, dan budaya mereka yang sama melalui perusahaan yang dimiliki dan diawasi secara
demokratis. Koperasi juga memiliki nilai-nilai dan prinsipi-prinsip yang mulia namun dalam
kenyataannya, banyak koperasi yang memiliki citra yang buruk di benak para petani di
pedesaan akibat dari sejarahnya di masa lampau. Selain itu, sebagian masyarakat dan petani
di pedesaan merasa alergi dengan kata Koperasi, hal tersebut dikarenakan kurangnya atau
ketidakpercayaan masyarakat terhadap kinerja koperasi sebagai badan usaha yang memiliki
struktur kelembagaan (struktur organisasi, struktur kekuasaan, dan struktur insentif) serta
kurang memasyarakatnya informasi tentang praktek-praktek berkoperasi yang benar.
Hal yang paling mendasar untuk mengatasi beberapa permasalahan di atas maka upaya
agar gerakan koperasi di Indonesia, khususnya di wilayah pedesaan dapat tumbuh dan
berkembang sesuai dengan jati dirinya, yaitu perlu adanya upaya untuk menjernihkan
kembali citra koperasi yang selama ini telah buruk di mata masyarakat. Hal ini dapat
dilakukan dengan gerakan kampanye kembali ke koperasi sebagai suatu gerakan yang dapat
mensejahterakan anggotanya dengan melakukan kegiatan-kegiatan ekonomi, seperti kegiatan
untuk memenuhi kepentingan ekonomi para anggotanya pada tingkat usaha yang efektif dan
efisien. Disamping itu, perlu dilakukan audit terhadap koperasi di sektor pertanian yang saat
ini dikategorikan bermasalah. Audit ini sekaligus merupakan proses penyaringan sehingga
nantinya koperasi ini dapat berkelanjutan dan diperoleh koperasi yang bersih dari
pelanggaran.
Pengembangan koperasi di pedesaan perlu disesuaikan dengan tingkat kemampuan
Sumber Daya Manusia (SDM) dan ketersediaan sumberdaya yang ada di sekitarnya. Untuk
meningkatkan kemampuan sumber daya manusia di pedesaan maka harus adanya upaya
pemberdayaan anggotanya. Pemberdayaan anggota mencakup
pemberdayaan capital (bantuan modal) dan pemberdayaan knowledge, yang meliputi
peningkatan kemampuan manajemen, skill, dan pemahaman yang benar mengenai prinsip-
prinsip koperasi melalui pendidikan dan pelatihan. Pemberdayaan ini akan memberikan
dampak peningkatan partisipasi anggota. Dalam pemberdayaan ini dibutuhkan peran dari
pemerintah daerah dalam pendidikan diklat bagi para anggota, Pemerintah Pusat bersama-
sama dengan Pemerintah Daerah dan Dewan Koperasi Indonesia memiliki tugas secara
bertahap dan simultan memberdayakan serta mengkoordinir potensi lembaga-lembaga dan
pelatihan perkoperasian, dll. Selain itu dibutuhkan pula peran dari lembaga-lembaga dan
pelatihan perkoperasian yang dimiliki Negara (antar departemen), Gerakan Koperasi
(LAPENKOP), perguruan tinggi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan lembaga-lembag
pendidikan swasta pelaksana pendidikan koperasi dalam memberikan pelatihan dan
penyuluhan tentang koperasi bagi para anggota koperasi di pedesaan. Setelah itu, perlu
adanya evaluasi yang menyeluruh mengenai dampak dari diklat terhadap kinerja koperasi,
evaluasi ini dilakukan oleh pemerintah pusat.
Agar koperasi di wilayah pedesaan dapat tumbuh dan berkembang maka diadakannya
program pengembangan koperasi single commodity. Pengembangan koperasi single
commodity dapat dikaitkan dengan strategi fokus pengembangan pedesaan berbasis komoditi
unggulan (one village one product). Pengembangan koperasi single commodity ini perlu
diikuti dengan pembentukan koperasi sekunder di tingkat nasional dengan pendekatan
subsidiritas. Selain itu, untuk mendistribusikan hasil produknya dapat bekerjasama dengan
koperasi yang lain sehingga selain koperasi melayani para anggotanya secara efektif, koperasi
tersebut juga dapat memperkuat gerakan koperasinya dengan bekerjasama melalui organisasi
koperasi tingkat local, nasional, regional, bahkan sampai internasional.
Disamping itu, juga perlu adanya program peningkatan kualitas kelembagaan koperasi di
wilayah pedesaan. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas kelembagaan dan
organisasi koperasi agar koperasi mampu tumbuh dan berkembang secara sehat sesuai
dengan jati dirinya menjadi wadah kepentingan bersama bagi anggotanya untuk memperoleh
efisiensi kolektif. Dengan demikian, diharapkan gerakan koperasi di pedesaan akan tertata
dan berfungsi dengan baik, infrastruktur pendukung pengembangan koperasi semakin
lengkap dan berkualitas, lembaga gerakan koperasi semakin berfungsi efektif dan mandiri,
dan praktek berkoperasi yang baik semakin berkembang di kalangan masyarakat pedesaan.
III. KESIMPULAN dan SARAN
Kesimpulan
Konsep koperasi adalah konsep umum di dunia. Di berbagai negara, koperasi ini
dijadikan sebagai salah satu bentuk dari suatu badan usaha yang dimiliki oleh banyak orang
dengan prinsip satu orang satu suara. Ide koperasi sesungguhnya berasal dari negara Eropa.
Tetapi ketika konsep koperasi ingin diterapkan di Indonesia yang digagas oleh Bung Hatta,
ada perbedaan yang paling mendasar mengenai konsep koperasi Indonesia. Diantaranya
adalah di Indonesia koperasi diberi peran utama sebagai bagian dari pembangunan dalam
rangka mengentaskan kemiskinan, koperasi mempunyai peran agar jiwa dan semangatnya
juga berkembang di perusahaan swasta dan Negara, serta perbedaan prinsip Koperasi yang
mendasar. Jati diri Koperasi adalah kesatuan dari definisi, nilai-nilai dan prinsip-prinsip
koperasi yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Perlu adanya penjenihan kembali citra koperasi
di mata masyarakat pedesaan agar gerakan koperasi dapat diterima kembali oleh masyarakat
pedesaan. Pemberdayaan masyarakat sekitar juga sangat diperlukan dalam upaya
pengembangan gerakan koperasi di pedesaan, seperti pemberdayaan capital dan
pemberdayaan knowledge. Serta adanya peningkatan kualitas kelembagaan koperasi di
wilayah pedesaan juga sangat membantu dalam upaya pengembangan gerakan koperasi.
Peran dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Dewan Koperasi Indonesia, dan lembaga-
lembaga dan pelatihan perkoperasian yang dimiliki oleh Negara juga sangat mempengaruhi
tumbuh dan berkembangnya gerakan koperasi di wilayah pedesaan.
Saran
Perbedaan yang ada pada prinsip koperasi antara hasil Kongres ICA pada tahun
1995 dengan UU No. 25 Tahun 1992 jangan dijadikan perdebatan tetapi
sebagai bahan pengawasan untuk membangun koperasi Indonesia menjadi
lebih baik lagi.
Diperlukan pemahaman kembali secara mendalam mengenai jati diri koperasi
dan aplikasinya secara menyeluruh untuk memperbaiki kinerja koperasi di
Indonesia sehingga kepentingan dan kesejahteraan anggotanya sebagai tujuan
dari koperasi dapat tercapai.
IV. DAFTAR PUSTAKA
http://mediaindo.co.id/mediaanda/default.asp?page=36 diakses tanggal 14 Maret 2009 pukul
19.41
webmaster@ekonomirakyat.org diakses tanggal 14 Maret 2009 pukul 19.54
Osa, stefanus. 2006. Koperasi Berperilaku Rentenir. http//:www.kompas.com. [diakses
pada 14 Maret 2009]
Mustofa. 2005. Dunia Koperasi 2005 di Titik Nol. http//:www.KapanLagi.com. [diakses pada
14 Maret 2009]

KOPERASI AGRIBISNIS
PERANAN KOPERASI DALAM PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS
Dewasa ini globalisasi telah merubah masyarakat petani menjadi masyarakat industri.
Perubahan ini sedikit banyak menyebabkan pertanian Indonesia cenderung terpinggirkan.
Koperasi sebagai lembaga yang menjunjung nilai-nilai keadilan dan kebersamaan, akan
memegang peran kritis terutama dalam membentuk dan menggerakkan perubahan-perubahan
dalam globalisasi, serta dapat berjalan beriringan dengan pelaku ekonomi masyarakat lainnya
sehingga koperasi memegang peran kunci dalam beberapa hal terutama untuk menciptakan
era globalisasi yang berkeadilan.
Agribisnis diartikan sebagai sebuah sistem yang terdiri dari unsur-unsur kegiatan: (1)
pra-panen, (2) panen, (3) pasca-panen dan (4) pemasaran. Sebagai suatu sistem, kegiatan
agribisnis tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya, saling menyatu dan saling terkait.
Terputusnya salah satu bagian akan menyebabkan timpangnya sistem tersebut.Agribisnis
merupakan konsep yang memandang secara holistik kaitan antara berbagai subsistem,
yaitu on-farm agribusiness dan off-farm agribusiness yang meliputi up-stream
agribusiness dan down-stream agribusiness. On-farm agribusiness meliputi semua aktivitas
yang berhubungan dengan subsistem produksi, sedangkan up-stream agribusiness berkaitan
dengan aktivitas subsistem sarana produksi. Sementara down stream
agribusiness menyangkut sistem pengolahan dan pemasaran. Keseluruhannya ini disokong
oleh subsistem penunjang, seperti R and D dan finansial.
Sejauh ini, sebagai pelaku on-farm agribusiness posisi petani sangat lemah. Dengan
kepemilikan lahan yang sempit, keterampilan yang kurang, adopsi teknologi yang rendah,
penguasaan pasar dan informasi pasar serta akses ke lembaga keuangan yang lemah,
membuat petani selalu menjadi bulan-bulanan pengusaha penyedia sarana produksi dan para
tengkulak. Padahal, dari hasil penelitian sudah jelas jika penghasilan dari on-farm
agribusinesssangat rendah. Karena lemahnya penanganan pascapanen, value added (50-70%)
usaha pertanian jadi dinikmati oleh pihak lain, dan bukan petani.
Dalam pemilihan varietas/ benih misalnya, akibat varietas/ benih yang ditanam
berbeda-beda, membuat waktu pemupukan maupun pengendalian hama/ penyakit yang
berbeda di antara petakan-petakan petani. Dengan penyatuan areal, pengendalian hama/
penyakit akan jauh lebih efektif jika dilakukan serempak dalam satu hamparan. Pengendalian
individual petak-sepetak sawah tidak akan banyak berhasil karena cuma mengusir hama/
penyakit dari satu petak ke petak lain. Dengan penyatuan sawah menjadi sebuah hamparan
akan memungkinkan dilaksanakannya prinsip-prinsip manajemen input terpadu yang
berintikan pola just in time mulai dari turunnya modal, tanam, pemupukan, panen hingga
pemasaran. Kecil sekali peluang harga jatuh ketika panen. Peluang semacam ini tidak terjadi
jika pemilihan varietas dikoordinasi/ disatukan.
Dalam pengadaan sarana produksi, koperasi bisa menjadi titik distribusi dari
perusahaan/ BUMN pemasok sarana produksi. Misalnya, benih dari PT Sang Hyang Seri,
pupuk langsung dari gudang Pusri, pestisida langsung dari produsen/ formulator. Harganya
pasti lebih murah. Ini sangat mungkin karena skala ekonomi dapat terpenuhi. Dari satu
hamparan 1.000 hektar setidaknya dibutuhkan benih 25 ton dan pupuk urea 400 ton.
Manajemen input terpadu oleh koperasi juga bisa berperan menangani pergudangan
dan pengeringan yang diperlukan. Dengan cara ini, lewat koperasi petani akan punya opsi
kapan harus menjual produknya dengan harga yang paling menguntungkan. Dengan
manajemen ini kecil kemungkinan terbukanya peluang petani dipermainkan tengkulak.
Ada beberapa hal yang bisa disarankan dalam rangka upaya pengembangan usaha
agribisnis yang dapat diterapkan sebagai alternatif peningkatan kualitas koperasi, yaitu
sebagai berikut :
Melakukan pemberdayaan masyarakat pelaku agribisnis agar mampu meningkatkan produksi,
produktivitas komoditi pertanian serta produk-produk olahan pertanian, yang dilakukan
dengan pengembangan sistem dan usaha agribisnis yang efisien.
Penguatan kelembagaan petani.
Pengembangan kelembagaan sistem agribisnis (penyedia agroinput, pengelolaan hasil,
pemasaran dan penyedia jasa).
Pengembangan kelembagaan penyuluhan pembangunan terpadu.
Pengembangan iklim yang kondusif bagi usaha dan investasi.
Melakukan kegiatan pembinaan dan pengembangan koperasi agribisnis.
Penulis :
Ninik Yuliana, SE
Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur, Indonesia

Oleh :
Drs.H.Sudradjat Laksana,M.Ikom[1]

Dalam arti yang sempit pertanian adalah usaha atau kegiatan bercocok tanam. Sedangkan
dalam arti luas pertanian adalah segala kegiatan manusia yang meliputi kegiatan bercocok
tanam, perikanan, peternakan dan kehutanan. cocok tanam perikanan
Terkait dengan pertanian, maka dikenal istilah petani (farmer) dan usaha
tani (farming). Petani adalah sebutan bagi mereka yang menyelenggarakan usaha tani,
sebagai contoh petani tembakau atau petani ikan. Usaha Tani (farming) adalah
sekumpulan kegiatan yang dilakukan dalam budi daya (tumbuhan maupun hewan). Cakupan
obyek pertanian yang dianut di Indonesia meliputi budidaya tanaman (termasuk tanaman
pangan, hortikultura, dan perkebunan), kehutanan, peternakan, dan perikanan.
Ruang Lingkup Pertanian
Ada beberapa jenis pertanian berdasarkan perkembangannya yaitu:
a. Pertanian ekstraktif, yaitu pertanian yang dilakukan dengan hanya mengambil atau
mengumpulkan hasil alam tanpa upaya reproduksi. Pertanian semacam ini meliputi
sektor perikanan dan ekstraksi hasil hutan.
b. Pertanian generatif yaitu corak pertanian yang memerlukan usaha pembibitan atau
pembenihan, pengolahan, pemeliharaan dan tindakan agronomis lainnya. Berdasarkan
tahapan perkembangannya pertanian generatif dibedakan menjadi dua kelompok yaitu:
1. Perladangan berpindah (shifting cultivation),
2. Pertanian menetap (settled agricultured)
Selanjutnya berdasarkan ciri ekonomis yang lekat pada masing-masing corak pertanian
dikenal dua kategori pertanian yakni pertanian subsisten dan pertanian komersial. Pertanian
subsisten ditandai oleh ketiadaan akses terhadap pasar. Dengan kata lain produk pertanian
yang dihasilkan hanya untuk memenuhi konsumsi keluarga, tidak dijual. Pertanian komersial
berada pada sisi dikotomis pertanian subsisten. Umumnya pertanian komersial menjadi
karakter perusahaan pertanian (farm) di mana pengelola usahatani telah berorientasi pasar.
Dengan demikian seluruh output pertanian yang dihasilkan seluruhnya dijual dan tidak
dikonsumsi sendiri.
Pertanian Sebagai Kegiatan Ekonomi
Sebagai kegiatan ekonomi, pertanian dapat dipandang sebagai suatu sistem yang dinamakan
agribisnis.Agribisnis adalah bisnis berbasis usaha pertanian atau bidang lain yang
mendukungnya, baik di sektor hulu maupun di hilir. Penyebutan "hulu" dan "hilir" mengacu
pada pandangan pokok bahwa agribisnis bekerja pada rantai sektor pangan (food supply
chain). Dalam kerangka berpikir sistem ini, pengelolaan tempat usaha pembibitan,penyediaan
input produksi,dan sarana produksi, biasa diistilahkan sebagai aspek hulu. Sementara
kegiatan pasca panen seperti ; distribusi, pengolahan, dan pemasaran dimasukkan dalam
aspek hilir. Sedangkan Budidaya dan pengumpulan hasil merupakan bagian dari aspek
proses produksi.
Agribisnis, dengan perkataan lain, adalah cara pandang ekonomi bagi usaha penyediaan
pangan. Sebagai subjek akademik, agribisnis mempelajari strategi memperoleh keuntungan
dengan mengelola aspek budidaya, penyediaan bahan baku, pascapanen, proses pengolahan,
hingga tahap pemasaran.
Agribisnis itu adalah suatu sistem yang utuh mulai sub-sistem penyediaan sarana produksi
dan peralatan pertanian; sub-sistem usahatani; sub-sistem pengolahan atau agroindustri dan
sub-sistem pemasaran. Agar sub-sistem ini bekerja dengan baik maka diperlukan dukungan
sub-sistem kelembagaan sarana dan prasarana serta sub-sistem penunjang dan pembinaan.
Agribisnis sebagai suatu sistem
Agribisnis sebagai suatu sistem adalah agribisnis merupakan seperangkat unsur yang secara
teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas. Disini dapat diartikan bahwa
agribisnis terdiri dari dari berbagai sub sistem yang tergabung dalam rangkaian interaksi dan
interpedensi secara reguler, serta terorganisir sebagai suatu totalitas.
Adapun kelima mata rantai atau subsistem tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Subsistem Penyediaan Sarana Produksi
Sub sistem penyediaan sarana produksi menyangkut kegiatan pengadaan dan penyaluran.
Kegiatan ini mencakup Perencanaan, pengelolaan dari sarana produksi, teknologi dan
sumberdaya agar penyediaan sarana produksi atau input usahatani memenuhi kriteria tepat
waktu, tepat jumlah, tepat jenis, tepat mutu dan tepat produk.

2. Subsistem Usahatani atau proses produksi
Sub sistem ini mencakup kegiatan pembinaan dan pengembangan usahatani dalam rangka
meningkatkan produksi primer pertanian. Termasuk kedalam kegiatan ini adalah perencanaan
pemilihan lokasi, komoditas, teknologi, dan pola usahatani dalam rangka meningkatkan
produksi primer. Disini ditekankan pada usahatani yang intensif dan sustainable (lestari),
artinya meningkatkan produktivitas lahan semaksimal mungkin dengan cara intensifikasi
tanpa meninggalkan kaidah-kaidah pelestarian sumber daya alam yaitu tanah dan air.
Disamping itu juga ditekankan usahatani yang berbentuk komersial bukan usahatani yang
subsistem, artinya produksi primer yang akan dihasilkan diarahkan untuk memenuhi
kebutuhan pasar dalam artian ekonomi terbuka

3. Subsistem Agroindustri/pengolahan hasil
Lingkup kegiatan ini tidak hanya aktivitas pengolahan sederhana di tingkat petani, tetapi
menyangkut keseluruhan kegiatan mulai dari penanganan pasca panen produk pertanian
sampai pada tingkat pengolahan lanjutan dengan maksud untuk menambah value added
(nilai tambah) dari produksi primer tersebut. Dengan demikian proses pengupasan,
pembersihan, pengekstraksian, penggilingan, pembekuan, pengeringan, dan peningkatan
mutu.

4. Subsistem Pemasaran
Sub sistem pemasaran mencakup pemasaran hasil-hasil usahatani dan agroindustri baik
untuk pasar domestik maupun ekspor. Kegiatan utama subsistem ini adalah pemantauan dan
pengembangan informasi pasar dan market intelligence pada pasar domestik dan pasar luar
negeri.

5. Subsistem Penunjang
Subsistem ini merupakan penunjang kegiatan pra panen dan pasca panen yang
meliputi:
a. Sarana Tataniaga
b. Perbankan/perkreditan
c. Penyuluhan Agribisnis
d. Kelompok tani
e. Infrastruktur agribisnis
f. Koperasi Agribisnis
g. BUMN
h. Swasta
i. Penelitian dan Pengembangan
j. Pendidikan dan Pelatihan
k. Transportasi
l. Kebijakan Pemerintah
Strategi Pengembangan Agribisnis
Ada beberapa aspek yang dapat ditempuh dalam upaya mengembangkan kegiatan agribisnis
diantaranya :
1. Pembangunan Agribisnis merupakan pembangunan industri dan pertanian serta
jasa yang dilakukan sekaligus, dilakukan secara simultan dan harmonis.
Yang sering kita dapatkan selama ini adalah industri pengolahan (Agroindustri)
berkembang di Indonesia, tapi bahan bakunya dari impor. Dipihak lain, peningkatan
produksi pertanian tidak diikuti oleh perkembangan industri pengolahan ( Membangun
industri berbasis sumberdaya domestik/lokal). Sehingga perlu pengembangan
Agribisnis Vertikal.
1. Membangun Agribisnis adalah membangun keunggulan bersaing diatas
keunggulan komparatif
Dalam arti bahwa membangun daya saing produk agribisnis melalui transformasi
keunggulan komparatif menjadi keunggulan bersaing, yaitu dengan cara:
Mengembangkan subsistem hulu (pembibitan, agro-otomotif, agro-kimia) dan pengembangan
subsistem hilir yaitu pendalaman industri pengolahan ke lebih hilir dan membangun jaringan
pemasaran secara internasional, sehingga pada tahap ini produk akhir yang dihasilkan sistem
agribisnis didominasi oleh produk-produk lanjutan atau bersifat capital and skill labor
intensive.
Pembangunan sistem agribisnis yang digerakkan oleh kekuatan inovasi. Dengan demikian
produk utama dari sistem agribisnis pada tahap ini merupakan produk bersifat Technology
intensive and knowledge based.
Perlu orientasi baru dalam pengelolaan sistem agribisnis yang selama ini hanya pada
peningkatan produksi harus diubah pada peningkatan nilai tambah sesuai dengan permintaan
pasar serta harus selalu mampu merespon perubahan selera konsumen secara efisien..
3.Menggerakkan kelima subsistem agribisnis secara simultan, serentak dan
harmonis.
Untuk menggerakkan Sistem agribisnis perlu dukungan semua pihak yang berkaitan
dengan agribisnis/ pelaku-pelaku agribisnis mulai dari Petani, Koperasi, BUMN dan
swasta serta perlu seorang Dirigent yang mengkoordinasi keharmonisan Sistem
Agribisnis.
4.Menjadikan Agroindustri sebagai A Leading Sector.
Agroindustri adalah industri yang memiliki keterkaitan ekonomi (baik langsung
maupun tidak langsung) yang kuat dengan komoditas pertanian. Keterkaitan langsung
mencakup hubungan komoditas pertanian sebagai bahan baku (input) bagi kegiatan
agroindustri maupun kegiatan pemasaran dan perdagangan yang memasarkan produk
akhir agroindustri. Sedangkan keterkaitan tidak langsung berupa kegiatan ekonomi lain
yang menyediakan bahan baku(input) lain diluar komoditas pertanian, seperti bahan
kimia, bahan kemasan, dll. Dalam mengembangkan agroindustri, tidak akan berhasil
tanpa didukung oleh agroindustri penunjang lain seperti industri pupuk, industri
pestisida, industri bibit/benih, industri pengadaan alat-alat produksi pertanian dan
pengolahan agroindustri seperti industri mesin perontok dan industri mesin pengolah
lain.
5.Membangun Sistem agribisnis melaluiIndustri Perbenihan
Industri Perbenihan merupakan mata rantai terpenting dalam pembentukan atribut
produk agribisnis secara keseluruhan. Atribut dasar dari produk agribisnis seperti atribut
nutrisi (kandungan zat-zat nutrisi) dan atribut nilai (ukuran, penampakan, rasa, aroma
dan sebagainya) serta atribut keamanan dari produk bahan pangan seperti kandungan
logam berat, residu pestisida, kandungan racun juga ditentukan pada industri
perbenihan. Oleh karena itu Pemda perlu mengembangkan usaha perbenihan (benih
komersial) berdasar komoditas unggulan masing-masing daerah, yang selanjutnya dapat
dikembangkan menjadi industri perbenihan modern.
6.Dukungan Industri Agro-otomotif dalam pengembangan sistem agribisnis.
Perlu adanya rental Agro-otomotif yang dilakukan oleh Koperasi Petani atau
perusahaan agro-otomotif itu sendiri.
7.Dukungan Industri Pupuk dalam pengembangan sistem agribisnis.
Pada waktu yang akan datang industri pupuk perlu mengembangkan sistem Networking
baik vertikal (dari hulu ke hilir) maupun Horisontal (sesama perusahaan pupuk), yaitu
dengan cara penghapusan penggabungan perusahaan pupuk menjadi satu dimana yang
sekarang terjadi adalah perusahaan terpusat pada satu perusahaan pupuk pemerintah.
Oleh karena perusahaan-perusahaan pupuk harus dibiarkan secara mandiri sesuai
dengan bisnis intinya dan bersaing satu sama lain dalam mengembangkan usahanya.
Sehingga terjadi harmonisasi integrasi dalam sistem agribisnis. Serta perlu
dikembangkan pupuk majemuk, bukan pupuk tunggal yang selama ini dikembangkan.
8.Pengembangan Sistem Agribisnis melalui Reposisi Koperasi Agribisnis.
Koperasi perlu mereformasi diri agar lebih fokus pada kegiatan usahanya terutama
menjadi koperasi pertanian dan mengembangkan kegiatan usahanya sebagai koperasi
agribisnis. Untuk memperoleh citra positif layaknya sebuah koperasi usaha misalnya:
Koperasi Agribisnis atau Koperasi Agroindustri atau Koperasi Agroniaga yang
menangani kegiatan usaha mulai dari hulu sampai ke hilir.
9.Pengembangan Sistem Agribisnis melalui pengembangan sistem informasi
agribisnis.
Dalam membangun sistem informasi agribisnis, ada beberapa aspek yang perlu
diperhatikan adalah informasi produksi, informasi proses, distribusi, dan informasi
pengolahan serta informasi pasar.
10.Membumikan pembangunan sistem Agribisnis dalam otonomi daerah
Pembangunan Ekonomi Desentralistis-Bottom-up, yang mengandalkan industri berbasis
Sumberdaya lokal. Pembangunan ekonomi nasional akan terjadi di setiap daerah.
11.Dukungan perbankan dalam pengembangan sistem agribisnis di daerah.
Untuk membangun agribisnis di daerah, peranan perbankan sebagai lembaga
pembiayaan memegang peranan penting. Ketersediaan skim pembiayaan dari perbankan
akan sangat menentukan maju mundurnya agribisnis daerah. Selama ini yang terjadi
adalah sangat kecilnya alokasi kredit perbankan pada agribisnis daerah, khususnya pada
on farm agribisnis.
12.Pengembangan strategi pemasaran
Pengembangan strategi pemasaran menjadi sangat penting peranannya terutama
menghadapi masa depan, dimana preferensi konsumen terus mengalami perubahan,
keadaan pasar heterogen. Dari hal tersebut, sekarang sudah mulai mengubah paradigma
pemasaran menjadi menjual apa yang diinginkan oleh pasar (konsumen).
13.Pengembangan sumberdaya agribisnis.
Dalam pengembangan sektor agribisnis agar dapat menyesuaikan diri terhadap
perubahan pasar, diperlukan pengembangan sumberdaya agribisnis, khususnya
pemanfaatan dan pengembangan teknologi serta pembangunan kemampuan
Sumberdaya Manusia (SDM) Agribisnis sebagai aktor pengembangan agribisnis.
14.Pengembangan Pusat Pertumbuhan Sektor Agribisnis.
Perlu pengembangan pusat-pusat pertumbuhan sektor agribisnis komoditas unggulan
yang didasarkan pada peta perkembangan komoditas agribisnis, potensi perkembangan
dan kawasan kerjasama ekonomi.
15.Pengembangan Infrastruktur Agribisnis.
Dalam pengembangan pusat pertumbuhan Agribisnis, perlu dukungan pengembangan
Infrastruktur seperti jaringan jalan dan transportasi (laut, darat, sungai dan udara),
jaringan listrik, air, pelabuhan domestik dan pelabuhan ekspor dan lain-lain.

16.Kebijaksanaan terpadu pengembangan
Ada beberapa bentuk kebijaksanaan terpadu dalam pengembangan agribisnis.
a. Kebijaksanaan pengembangan produksi dan produktivitas ditingkat perusahaan.
b. Kebijaksanaan tingkat sektoral untuk mengembangkan seluruh kegiatan usaha
sejenis.
c. Kebijaksanaan pada tingkat sistem agribisnis yang mengatur keterkaitan antara
beberapa sektor.
d. Kebijaksanaan ekonomi makro yang mengatur seluruh kegiatan perekonomian yang
berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap agribisnis.
17.Pengembangan agribisnis berskala kecil.
Ada 3 kebijaksanaan yang harus dilakukan adalah:
a. Farming Reorganization
Reorganisasi jenis kegiatan usaha yang produktif dan diversifikasi usaha yang
menyertakan komoditas yang bernilai tinggi serta reorganisasi manajemen
usahatani. Dalam hal ini disebabkan karena keterbatasan lahan yang rata-rata
kepemilikan hanya 0,1 Ha.
b. Small-scale Industrial Modernization
Modernisasi teknologi, modernisasi sistem, organisasi dan manajemen, serta
modernisasi dalam pola hubungan dan orientasi pasar.
c. Services Rasionalization
Pengembangan layanan agribisnis dengan rasionalisasi lembaga penunjang
kegiatan agribisnis untuk menuju pada efisiensi dan daya saing lembaga tersebut.
Terutama adalah lembaga keuangan pedesaan, lembaga litbang khususnya
penyuluhan.


18.Pembinaan Sumberdaya Manusia untuk mendukung pengembangan
agribisnis dan ekonomi
Dalam era Agribisnis, aktor utama pembangunan agribisnis dan aktor pendukung
pembangunan agribisnis perlu ada pembinaan kemampuan aspek bisnis, manajerial dan
berorganisasi bisnis petani serta peningkatan wawasan agribisnis. Dalam hal ini perlu
reorientasi peran penyuluhan pertanian yang merupakan lembaga pembinaan SDM
petani. Oleh karena itu perlu peningkatan pendidikan penyuluh baik melalui pendidikan
formal, kursus singkat, studi banding. Serta perlu perubahan fungsi BPP yang selama
ini sebagai lembaga penyuluhan agro-teknis, menjadi KLI NI K KONSULTASI
AGRI BI SNI S

Referensi Bacaan :
Agribisnis: Teori dan Aplikasinya. Artikel online dari http://id.shvoong.com/internet-
and-technologies/business-economy/1854032-agribisnis-teori-dan-aplikasinya-
agribusiness/#ixzz1f1WmTS1w.
R.Hermawan, SP,MP.Membangun Sistem Agribisnis. Artikel online. Makalah Seminar
Mahasiswa.tgl.20 Desember 2006. Faperta UGM Yogyakarta.
Wikipedia.com.Pengertian Agribisnis.