Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

PBL BLOK 28
TULI AKIBAT KERJA






Disusun Oleh:

Suhendri
10-2006-116



FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
2011
Kata Pengantar


Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya penulis
dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul Tuli Akibat Kerja sebagai tugas hasil belajar
mandiri Problem Based Learning Blok 28 di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida
Wacana Jakarta.
Dengan ketulusan hati, penulis juga ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh
pihak yang telah membantu terselesaikannya makalah ini. Penulis menyadari bahwa makalah
ini tentu tidak terlepas dari kekurangan karena keterbatasan waktu, tenaga, dan pengetahuan
penulis. Maka sangat diperlukan masukan dan saran yang membangun. Semoga makalah ini
dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Terima kasih


Jakarta, 27 Oktober 2011
Penulis
























PENDAHULUAN
Terdapat peningkatan bising yang bermakna ditempat kerja dengan adanya industrialisasi.
Gangguan pendengaran, terutama Noise Induced Hearing Loss atau gangguan pendengaran
akibat bising , telah menjadi masalah umum di sejumlah tempat kerja. Tempat kerja yang
miliki masalah kebisingan memiliki sifat yang berbeda-beda. Besarnya prevalensi kasus
NIHL juga akan dibahas.

















ISI
Anamnesis
Dalam mendiagnosis Noise-Induced Hearing Loss ( NIHL ) perlu ditanyakan apakah pernah
atau sedang bekerja di lingkungan bising dalam jangka waktu yang cukup lama biasanya 5
tahun atau lebih. Selain itu apakah OS sedang dalam menjalani suatu terapi pengobatan atau
mengkonsumi obat-obatan terutama obat ototoksik seperti streptomisin, apakah pernah
menderita sakit telinga sebelumnya.
Riwayat pekerjaan OS pun perlu diperhatikan seperti sudah berapa lama bekerja
dilingkungan bising dan semua pekerjaan sebelumnya, dibagian apakah OS berkerja, alat-alat
yang digunakan, Waktu kerja, APD yang digunakan, hobbie yang sering dilakukan.

Pemeriksaan Fisik
Inspeksi dan palpasi. Perhatikan posisi telinga dikepala. Pangkal heliks harus berada pada
garis horizontal dengan sudut mata. Telinga yang terletak rendah sering menyertai kelainan
kongenital ditempat lain. Perhatikan juga prosesus mastoideus.
Dengan menggunakan otoskop dapat dilihat kulit kanalis auditorius eksternus dan membrana
timpani. Dilihat apakah ada eritem, debris, benda asing, sekret, dan keutuhannya. membrana
timpani yang normal terlihat berwarna abu-abu seperti mutiara dengan cekung. Pantulan
cahaya terang berbentuk segitiga timbul dengan apeks menuju ke bagian tengah membrana
timpani dan basisnya menuju ke arah rahang.
Dalam pemeriksaan diatas harus menyingkirkan kemungkinan adanya serumen, infeksi, dan
perforasi membrane timpani. NIHL tidak disebabkan oleh hal tersebut melainkan karena
gangguan sensorineural yang disebabkan oleh karena ada gangguan pada organ corti hingga
otak untuk itu perlu dilakukan pemeriksaan garpu tala atau tes penala.

Pemeriksaan Penunjang
Tes Penala
Tes penala seperti tes Rinne, tes Weber, dan Swabach dilakukan untuk membedakan antara
tuli konduktif dengan tuli sensori neural.
Tes Rinne akan mendeteksi tuli konduktif. Pada keadaan normal hantaran suara melalui udara
lebih baik daripada hantaran suara melalui tulang. Jika penyakit menghalangi hantaran
gelombang suara yang normal ,maka hantaran oleh tulang akan mengatasi ini.
Tes Weber dapat memastikan adanya tuli konduktif atau menunjukan adanya tuli
sensorineural. Getarkan lah garpu tala dan pasangkan pada puncak kepala. Jika ada tuli
konduktif pada satu telinga, suara akan terdengar lebih keras pada telinga itu. Alasannya
karena efek peredam yang berasal dari suara gaduh normal dilatar belakang menjadi
berkurang pada telinga tersebut. Pada tuli sensorineural suara akan terdengar lebih baik pada
telinga yang normal karena pada telinga yang normal tidak mengalami gangguan hantaran
bunyi.
Tes Schwabach memastikan adanya tuli sensori neural dengan membandingkan pendengaran
pasien dengan pemeriksa yang dianggap normal. Getarkan lah penala dan tempelkan pada
mastoid pasien kalau suara tersebut telah dirasa pasien telah hilang segera pindahkan garpu
ke mastoid pemeriksa sendiri. Jika pemeriksa masih mendengar suara tersebut , ini berarti
bahwa pasien menderita gangguan sensorineural.
Oleh karena NIHL termasuk gangguan sensorineural maka akan didapatkan tes Rinne positif,
tes Weber didapatkan lateralisaasi ke telinga yang lebih baik, dan tes swabach akan
didapatkan memendek.

Pure Tone AudioMetry
PTA sangat penting untuk mendiagnosis NIHL. Biasanya PTA dilakukan saat pertama kali
kerja untuk menilai tingkat pendengaran seseorang dan sebagai nilai rujukan perbandingan
hasil tes dikemudian hari.
Pada pemeriksaan PTA perlu dipahami hal-hal seperti ini, nada murni, bising narrow band (
NB ) dan white noise ( WN ), frekuensi, intensitas bunyi, ambang dengar, nilai nol
audiometrik, standar ISO dan ASA, notasi pada audiogram, jenis dan derajat ketulian serta
gab dan masking.Nada murni merupakaan bunyi yang hanya mempunyai satu frekuensi ,
dinyatakan dalam jumlah getaran per detik. Bising merupakan bunyi yang mempunyai
banyak frekuensi, terdiri dari NB yaitu spektrum terbatas dan WN spektrum luas. Frekuensi
iala nada murni yang dihasilkan oleh getaran suatu benda yang sifatnya harmonis sederhana.
Jumlah getaran per detik dinyatakan dengan Hertz. Intensitas bunyi dinyatakan dengan
decibell ( dB ). Ambang dengar ialah bunyi nada murni terlemah pada frekuensi tertentu yang
masih dapat terdengar oleh telinga seseorang. Nilai nol audiometrik yaitu intensitas nada
murni terkecil pada suatu frekuensi tertentu yang masih dapat didengar oelh telinga rata-rata
orang dewasa muda yang normal.

Pemeriksaan Tempat Kerja
Di tempat kerja pun perlu dilakukan pemeriksaan terutama yang berkaitan dengan bising,
untuk itu diperlukan Sound Level Meter. Alat ini berfungsi untuk mengukur kebisingan yang
berada dalam kisaran 30 sampai 130 desibel (dB) dengan frekuensi antara 20 hingga 20kHz.
Untuk menganalisis frekuensi suatu kebisingan dapat digunakan alat Octave Band Analyzer
jika ingin menganalisis lebih lanjut dapat dipakai narrow band analyzers.

Diagnosa Kerja
Noise Induced Hearing Loss atau Gangguan Pendengaran Akibat Bising ialah gangguan
pendengaran yang disebabkan akibat terpajan oleh bising yang cukup keras dalam jangka
waktu yang cukup lama dan biasanya diakibatkan oleh bising di lingkungan kerja. Sifat
ketuliannya ialah tuli sensorineural koklea dan umumya terjadi pada kedua telinga.
Bising yang intensitasnya 85 dB atau lebih dapat mengakibatkan kerusakan pada reseptor
pendengaran Corti di telinga dalam. Yang sering mengalami kerusakan adalah alat Corti
untuk reseptor 3kHz hingga 6kHz dan yang terberat ialah kerusakan alat korti untuk reseptor
bunyi yang berfrekuensi 4kHz.
Banyak hal yang dapat mempermudah seseorang mengalami gangguan pendengaran akibat
terpajan bising, antara lain intensitas bising yang lebih tinggi, berfrekuensi lebih tinggi,
waktu paparan, dan obat-obatan yang bersifat ototoxic.
Secara klinis pajanan bising pada organ pendengaran dapat menimbulkan reaksi adaptasi,
peningkatan ambang dengar sementara ( temporary threshold shift ) dan peningkatan ambang
dengar menetap ( permanent threshold shift ). Reaksi adaptasi merupakan respons kelelahan
akibat rangsangan oleh bunyi dengan intensitas 70 dB SPL atau kurang, keadaan ini
merupakan fenomena fisiologis pada saraf telinga yang terpajan bising. Peningkatan ambang
dengar sementara, merupakan keadaan terdapatnya peningkatan ambang dengar akibat
pajanan bising dengan intensitas yang cukup tinggi. Pemulihan dapat terjadi dalam beberapa
menit atau jam. Jarang terjadi pemulihan hingga berhari-hari. Peningkatan ambang dengar
menetap, merupakan keadaan dimana terjadi peningkatan ambang dengar menetap akibat
pajanan bising dengan intensitas sangat tinggi berlangsung singkat atau berlangsung lama
yang menyebabkan kerusakan pada berbagai struktur koklea.
Pajanan suara bising yang sama umumnya dianggap menyebabkan tuli simetris. Namun,
perbedaan sisi pajanan tidak selalu menyebabkan perbedaan kehilangan pendengaran antara
kedua telinga. Penggergaji sirap secara khas terpajan bising dari sisi kiri tapi mengalami
ketulian simetris. Angka kejadia NIHL asimetris pada kelompok ini kecil sehingga memberi
kesan bahwa bila timbul asimetris pada kelompok ini kecil sehingga memberi kesan bahwa
bila timbul gangguan pendengaran asimteri yang bermakna, faktor penyebab lain perlu dicari.
Selain pada pendengaran bising dapat menyebabkan gangguan lain. Pada berbagai
penyelidikan ditemukan bahwa pemaparan bunyi terutama yang mendadak menimbulkan
reaksi fisiologis seperti: denyut nadi, tekanan darah, metabolisme, gangguan tidur dan
penyempitan pembuluh darah. Reaksi ini terutama terjadi pada permulaan pemaparan
terhadap bunyi kemudian akan kembali pada keadaan semula. Bila terus menerus terpapar
maka akan terjadi adaptasi sehingga perubahan itu tidak tampak lagi.
Kebisingan dapat mempengaruhi stabilitas mental dan reaksi psikologis, seperti rasa
khawatir, jengkel, takut dan sebagainya. Stabilitas mental adalah kemampuan seseorang
untuk berfungsi atau bertindak normal. Suara yang tidak dikehendaki memang tidak
menimbulkan mental illness akan tetapi dapat memperberat problem mental dan perilaku
yang sudah ada.
Reaksi terhadap gangguan ini sering menimbulkan keluhan terhadap kebisingan yang berasal
dari pabrik, lapangan udara dan lalu lintas. Umumnya kebisingan pada lingkungan melebihi
50 55 dB pada siang hari dan 45 55 dB akan mengganggu kebanyakan orang. Apabila
kenyaringan kebisingan meningkat, maka dampak terhadap psikologis juga akan meningkat.
Kebisingan dikatakan mengganggu, apabila pemaparannya menyebabkan orang tersebut
berusaha untuk mengurangi, menolak suara tersebut atau meninggalkan tempat yang bisa
menimbulkan suara yang tidak dikehendakinya.

Diagnosa Banding
Gangguan Pendengaran Akibat Ototoksisitas
Mekanisme dari tuli akibat ototoksik masih belum begitu jelas. Patologinya meliputi
hilangnya sel rambut luar yang lebih apical, yang diikuti oleh sel rambut dalam. Hal ini
permulaannya menyebabkan gangguan pendengaranf rekuensi tinggi yang dapat berlanjut ke
frekuensi rendah. Pasien-pasien tertentutidak mengetahui adanya gangguan pendengaran
hingga defisit mencapai derajatringan sedang ( >30 dB hearing level ) pada frekuensi
percakapan.Kebanyakan poin yang terbukti saat ini adalah terdapat pengikatan obat dengan
glikosaminoglikan stria vaskularis, yangmenyebabkan perubahan strial dan perubahan
sekunder sel-sel rambut.Antibiotik ototoksik menyebabkan hilangnya pendengaran
denganmengubah proses-proses biokimia yang penting yang menyebabkan penyimpangan
metabolik dari sel rambut dan bisa menyebabkan kematian selsecara tiba-tiba.
Efek utama dari obat-obat ototoksik terhadap telinga adalah hilangnya sel-sel rambut yang
dimulai dari basal koklea, kerusakan seluler pada stria vaskularis,limbus spiralis dan sel-sel
rambut koklea dan vestibuler.Kerusakan vestibuler juga merupakan efek yang merugikandari
antibiotik aminoglikosida dan awalnya menunjukkan nistagmus posisional. Pada keadaan
berat, kerusakan vestibuler dapat menyebabkanketidakseimbangan dan osilopsia. Osilopsia,
yang disebabkan oleh kerusakansistem vestibuler bilateral, adalah ketidakmampuan sistem
okuler untuk menjagahorizon yang stabil menyebabkan.
Presbycusis
Presbycusis adalah gangguan pendengaran yang terjadi pada hampir setiap individu saat
mereka tua. Gangguan ini dihubungkan dengan proses penuaan. Hampir 30-35 % dari orang
dewasa berumur 65 -75 mengalami hal ini dan diperkirakan 40-50% dari dewasa berumur 75
tahun atau lebih mengalaminya.

Etiologi
Penyebab NIHL ialah bising. Bising adalah hal yang tidak disukai, tidak dibutuhkan, dan
sering kali suara merusak yang tidak memberikan informasi apa pun dan dengan intensitas
kuat bervariasi pada waktu yang acak. Suara bising tidak disukai orang yang mendengarkan
dan mempengaruhi suara yang ingin didengarkan.
Bising yang paling penting ialah yang berada pada frekuensi antara 31,5 Hz hingga 8.000 Hz
karena efeknya terhadap pendengaran. Sedangkan pada frekuensi 300 Hz sampai 3000 Hz
dapat mengganggu percakapan harian.
Terdapat empat macam bising:
1. Bising Stabil adalah bising yang yang memiliki mutu dan intensitas konstan dalam
jangka waktu tertentu. Memiliki variasi bising yang kurang dari 3dB.Contoh sumber
bising yang stabil ialah generator, mesin cetak, dan mesin pemintal.
2. Bising berfluktuasi adalah bising yang terjadi terus-menerus dengan intensitas bising
yang bervariasi lebih dari 3dB.
3. Bising terputus-putus adalah bising yang dengan intensitas yang turun hingga tingkat
batas beberapa kali. Turunnya intensitas ini terjadi dalam jangka waktu satu detik atau
lebih. Contohnya sumber bising yang terputus-putus ialah pemotong kayu gelondongan.
4. Bising impuls adalah bising dengan perubahan intensitas mendadak setidaknya sebesar
40dB dan berjangka waktu pendek, umumnya hanya 0.5 detik. Contohnya ialah suara
tembakan dan mesin pembuat lubang

Oleh karena itu bising bisa disebabkan oleh banyak hal tidak hanya oleh karena bekerja
dipabrik tersebut. Untuk menyingkirkan kemungkinan disebabkan oleh bising ditempat lain
maka perlu dilakukan pemeriksaan yang teliti dari anamnesis pasien selain itu juga lebih baik
jika dilakukan pengukuran bising ditempat kerja.

Epidemiologi
Bising lingkungan kerja merupakan masalah utama pada kesehatan kerja diberbagai negara.
Di Amerika dan Eropa sedikitnya terdapat 7 juta orang pekerja industri terpajan bising 85 dB
atau lebih. NIHL dalam industri menempati urutan pertama dalam daftar penyakit akibat
kerja di Amerika dan Eropa.
Di Amerika sendiri lebih dari 5,1 juta pekerja terpaja bising dengan intensitas 85dB atau
lebih. Barss melaporkan pada 246 orang tenaga kerja yang memeriksakan telinga untuk
keperlua ganti rugi asuransi, ditemukan 85% menderita tuli syaraf dan dari jumlah tersebut
37% didapatkan gambaran takik pada frekuensi 4000Hz dan 600Hz.
Di Indonesia penelitian tentang gangguan pendengaran akibat bising telah banyak dilakukan
sejak lama. Survei yang dilakukan oleh Hendarmin dalam tahun yang sma pada
Manufacturing Plant Pertamina dan dua pabrik es di Jakarta mendapatkan hasil terdapat
gangguan pendengaran pada 50% jumlah karyawan disertai peningkatan ambang dengar
sementara sebesar 5-10 dB pada karyawan yang telah bekerja terus-menerus selama 5-10
tahun. Penelitian yang dilakukan Hendarmin dan Hadjar tahun 1971, mendapatkan hasil
bising jalan raya ( Jl.Mh.Thamrin Jakarta) sebesar 95 dB lebih pada jam sibuk.
Sundari pada penelitian di pabrik peleburan besi baja diJakarta, mendapatkan 31,55% pekerja
menderita NIHL, dengan intensitas bising antar 85-105 dB, dengan masa kerja rata-rata 8,99
tahun.
Lusianawaty mendapatkan 7 dari 22 pekerja ( 31,8 % ) diperusahaan kayu lapis Jawa Barat
mengalami tuli akibat bising, dengan intensitas bising lingkungan antara 84,9-108,2 dB.
Purnama pada penelitian dampak pajanan bising bajaj pada pengemudinya mendapatkan 26
dari 32 pengemudi mengalami tuli akibat bising, 14 pengemudi mengalami NIHL tahap awal
dan 12 pengemudi mengalami NIHL tahap lanjut. Rata-rata intensitas bising bajaj pada
kelompok kasus tersebut ialah 101,42 dB dengan lama pajanan kerja 12,37 tahun.

Patofisiologi
Mekanisme yang mendasari NIHL diduga berupa adanya stress mekanis dan metabolik pada
organ sensorik auditorik bersamaan dengan kerusakaan sel sensorik atau bahkan kerusakaan
total organ Corti di dalam koklea ( Lim,1979 ). Kehilangan sel sensorik pada daerah yang
sesuai dengan frekuensi yang terlibat adalah penyebab NIHL yang paling penting. Kepekaan
terhadap stress pada sel rambut luar ini berada dalam kisaran 0-50dB, sedangkan untuk sel
rambut dalam diatas 50dB.


Berbagai proses mekanis yang menyebabkan kerusakaan sel rambut akibat pajanan terhadap
bising meliputi:
1. Aliran cairan yang cukup kuat pada sekat koklea dapat menyebabkan robeknya membran
reissner sehingga cairan dalam endolimfe dan perilimfe bercampur yang mengakibatkan
kerusakaan sel rambut.
2. Gerakan membran basilar yan gkuat dapat menyebabkan gangguan organ Corti dengan
pencampuran endolimfe dan kortilimfe yang mengakibatkan kerusakaan sel rambut.
3. Aliran cairan yang kuat pada sekat koklea dapat langsung merusak sel rambut dengan
melepaskan organ Corti atau merobek membran basilar
Proses di atas biasanya dapat dilihat pada pajanan terhadap bising dengan intensitas tinggi
dan NIHL terjadi dengan cepat.
Proses metabolik yang dapat merusak sel rambut akibat pajanan meliputi:
1. Pembentukan vesikel dan vakuol di dalam retikulum endoplasma sel rambut serta
pembengkakan mitokondria dapat berlanjut menjadi robeknya membran sel dan
hilangnya sel rambut.
2. Kehilangan sel rambut mungkin disebabkan kelelahan metabolik akibat gangguan sistem
enzim yang esensial untuk produksi energi, biosintesis protein, dan pengangkutan ion.
3. Cedera stria vaskularis menyebabkan gangguan kadar Na, K, dan ATP hal ini
menyebabkan hambatan proses transpor aktif dan pemakaian energi oleh sel sensorik.
Kerusakaan sel sensorik menimbulkan lesi kecil pada membran retikular bersamaan
dengan percampuran cairan endolimfe dan kortilimfe serta perluasaan kerusakaan sel
sensorik lain.
4. Sel rambut luar lebih mudah terangsan suara dan membutuhkan energi yang lebih besar
sehingga menjadi lebih rentan terhadap cedera akibat iskemia.
5. Mungkin terdapat interaksi sinergis antara bisisng dengan pengaruh lain yang merusak
telinga
Banyak teori yang berusaha menjelaskan mengapa daerah organ Corti sekitar 8 hingga 10
mm dari ujung basal ( sesuai dengan daerah 4 kHz pada audiogram ) dianggap sebagai daerah
yang secara khas rentan terhadap bising. Ada yang mengatakan bahwa cekungan 4kHz
disebabkan oleh karena resonansi saluran telinga ( Caiazzo,1977 ). Ada pula yang
mengatakan karena daerah 4kHz lebih rentan karena insufisiensi vaskular akibat bentuk
anatomis yang tidak biasa dan amplitudo pemindahan di dalam saluran koklea mulai
terbentuk di daerah 4kHz saat kecepatan perambatan gelombang yang berjalan masih cukup
tinggi dan struktur anatomi koklea menyebabkan pergeseran cairan pada daerah 4kHz (
Limz, 1979)
Selain itu kebisingan dapat menyebabkan terjadinya gangguan lain pada pendengaran seperti
tinitus dan vertigo. Tinitus biasanya timbul segera setelah terpajan bising yang amat kuat dan
dapat menetap jika pajanan terus berlangsung. Vertigo hanya timbul jika pajanan sangat kuat
tidak pada bising industri biasa.

Penatalaksanaan
Pada masa kini pengobatan NIHL masi terbatas dengan alat bantu dengar dan konseling.
Walaupun dengan kemajuan teknologi, alat bantu dengar masih belum dapat memperbaiki
gangguan sepenuhnya. Selain itu juga dapat dilakukan konseling berupa latihan pendengaran
atau lip reading untuk memaksimalkan penggunaan alat bantu dengar.
Disamping itu karena pasien mendengar suara sendiri sangat lemah, rehabilitasi suara
diperlukan agar dapat mengendalikan volume, nada dan irama percakapan.

Pencegahan
Program Konservasi Pendengaran
Program pencegahan yang dapat dilakukan meliputi hal-hal berikut (NIOSH, 1996):
1. Monitoring paparan bising
2. Kontrol engineering dan administrasi
3. Evaluasi audiometer
4. Penggunaan Alat Pelindung Diri (PPE)
5. Pendidikan dan Motivasi
6. Evaluasi Program
7. Audit Program

Dalam menyusun program konservasi pendengaran ini perlu diperhatikan beberapa hal,
antara lain:
1. Berpedoman bahwa pekerja tetap sehat dalam lingkungan bising.
2. Dilaksanakan oleh semua jajaran, dari pimpinan tertinggi sampai pekerja pelaksana.
3. Komitmen pimpinan dan pekerja sangat penting.
Mengurangi dosis paparan kebisingan dengan memperhatikan tiga unsur :
Sumber: mengurangi intensitas kebisingan (disain akustik, menggunakan mesin/alat
yang kurang bising dan mengubah metode proses).
Media: mengurangi transmisi kebisingan (menjauhkan sumber bising dari pekerja,
mengaborsi dan me-ngurangi pantulan kebisingan secara akustik pada dinding,
langit-langit dan lantai, menutup sumber kebisingan dengan barrier.
Tenaga kerja: mengurangi penerimaan bising (penggunaan alat pelindung diri, ruang
isolasi. rotasi kerja, jadwal kerja , dan lain-lain).
4. Mempertimbangkan kelayakan teknis dan ekonomis.
5. Utamakan pencegahan bukan pengobatan, proaktif bukan reaktif, kesejahteraan bukan
santunan.
6. NAB bukanlah garis pemisah antara sakit dan sehat, namun merupakan pedoman.
Penilaian dilakukan dengan memantau kebisingan lingkungan dan kesehatan
pendengaran.
7. Tenaga kerja (IDKI, 1994).
8. Program selengkapnya adalah sebagai berikut :

1. Monitoring paparan bising
Tujuan monitoring paparan bising, yang sering juga disebut survei bising, bertujuan untuk :
1. Memperoleh informasi spesifik tentang tingkat kebisingan yang ada pada setiap tempat
kerja.
2. Menetapkan tempat-tempat yang akan diharuskan menggunakan APD.
3. Menetapkan pekerja yang harus (compulsory) menjalani pemeriksaan audiometri secara
periodik.
4. Menetapkan kontrol bising (baik administratif maupun teknis).
5. Menilai apakah perusahaan telah memenuhi persyaratan UU yang berlaku.

Prinsip monitoring paparan bising :
Pengukuran dilakukan oleh pegawai yang mempunyai kualifikasi sebagai berikut :
1. SOP pengukuran harus ada dan jelas.
2. Hasil dikomunikasikan pada manajemen dan pegawai,
paling lama dalam waktu 2 minggu
untuk Jamsostek di Indonesia : 2 x 24 jam

Ada 2 macam monitoring paparan bising :
1. Monitoring pendahuluan
Pengukuran bising pendahuluan untuk menentukan masalah yang potensial berbahaya
untuk pendengaran, berdasarkan lokasi tempat kerja. Survei ini dilaksanakan jika
terdapat kesulitan dalam berkomunikasi, adanya keluhan pekerja bahwa telinga
berdengung setelah bekerja.
2. Monitoring bising terperinci
Dilakukan berdasarkan hasil monitoring bising pendahuluan, dengan menetapkan lokasi
khusus yang memerlukan penelitian lebih lanjut. Pemeriksaan dilakukan secara terperinci
di setiap lokasi. Monitoring bising terperinci dilakukan dalam tiga tahap :
a. Pengukuran lingkungan kerja slow response dengan skala A (dB). Buat gambar peta
bising (luas < = 93 meter). Bila hasil lebih dari 80 dB maka lingkungan tersebut
cukup aman untuk bekerja, sedangkan bila antara 80 - 92 dB perlu pengukuran dan
tindakan lebih lanjut (skala b).
b. Pengukuran di tempat kerja (<85 dB). Dilakukan dengan skala B (intensitas bunyi) ,
pengukuran dengan peta, ukur tempat dan ruang kerja, ukur maximun dan
minimumnya., bila lebih dari 85 dB, lakukan tahap selanjutnya c. Lamanya paparan
(jumlah jam terpapar).
c. Buat logbook untuk setiap orang berdasarkan job classification, catat lamanya
terpapar (sekarang digunakan audiometer).

2. Kontrol engineering dan administrasi
Kontrol engineering ditujukan pada sumber bising dan sebaran bising; contohnya :
1. Pemeliharaan mesin (maintenance) yaitu mengganti, mengencangkan bagian mesin yang
longgar, memberi pelumas secara teratur, dan lain-lain.
2. Mengganti mesin bising tinggi ke yang bisingnya kurang.
3. Mengurangi vibrasi atau getaran dengan cara mengurangi tenaga mesin, kecepatan
putaran atau isolasi.
4. Mengubah proses kerja misal kompresi diganti dengan pukulan.
5. Mengurangi transmisi bising yang dihasilkan benda padat dengan menggunakan lantai
berpegas, menyerap suara pada dinding dan langit-langit kerja.
6. Mengurangi turbulensi udara dan mengurangi tekanan udara.
7. Melakukan isolasi operator dalam ruang yang relatif kedap suara.

Pengendalian administratif dilakukan dengan cara :
1. Mengatur jadwal produksi
2. Rotasi tenaga kerja
3. Penjadualan pengoperasian mesin
4. Transfer pekerja dengan keluhan pendengaran
5. Mengikuti peraturan

3. Evaluasi audiometer
Pengukuran audiometrik sebaiknya dilakukan pada :
Pre-employment
Penempatan ke tempat bising
Setiap tahun, bila bising > 85 dB
Saat pindah tugas keluar dari tempat bising
Saat pensiun/purna tugas

4. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
Beberapa faktor yang mempengaruhi penggunaan alat pelindung telinga :
Kecocokan; alat pelindung telinga tidak akan memberikan perlindungan bila tidak dapat
menutupi liang telinga rapat-rapat.
Nyaman dipakai; tenaga kerja tidak akan menggunakan APD ini bila tidak nyaman
dipakai.
Penyuluhan khusus, terutama tentang cara memakai dan merawat APD tersebut.

Jenis-jenis alat pelindung telinga :
1. Sumbat telinga (earplugs/insert device/aural insert protector)
Dimasukkan ke dalam liang telinga sampai menutup rapat sehingga suara tidak mencapai
membran timpani. Beberapa tipe sumbat telinga :
a. formable type
b. custom-molded type
c. premolded type
Sumbat telinga bisa mengurangi bising s/d 30 dB lebih.
2. Tutup telinga (earmuff/protective caps/circumaural protectors)
Menutupi seluruh telinga eksternal dan dipergunakan untuk mengurangi bising s/d 40- 50
dB frekuensi 100 - 8000 Hz.
3. Helmet/ enclosure
Menutupi seluruh kepala dan digunakan untuk mengurangi maksimum 35 dBA pada 250
Hz sampai 50 dpada frekuensi tinggi.

Pemilihan alat pelindung telinga :
Earplug bila bising antara 85 - 200 dBA
Earmuff bila di atas 100 dBA
Kemudahan pemakaian, biaya, kemudahan membersihkan dan kenyamanan

Pedoman yang sering digunakan adalah sebagai berikut :
TWA/dBA Pemakaian APD Pemilihan APD
<85 tidak wajib/perlu bebas memilih
85 89 Optional bebas memilih
90 94 Wajib bebas memilih
95 99 Wajib pilihan terbatas
>100 Wajib pilihan sangat terbatas
APD ini harus tersedia di tempat kerja tanpa harus membebani pekerja dari segi biaya,
perusahaan harus menyediakan APD ini. Cara terbaik sebenarnya bukan penggunaan APD
tetapi pengendalian secara teknis pada sumber suara.

5. Pendidikan dan Motivasi
Program pendidikan dan motivasi menekankan bahwa program konservasi pendengaran
sangat bermanfaat untuk melindungi pendengaran tenaga kerja, dan mendeteksi perubahan
ambang pendengaran akibat paparan bising. Tujuan pendidikan adalah untuk menekankan
keuntungan tenaga kerja jika mereka memelihara pendengaran dan kualitas hidupnya. Lebih
lanjut penyuluhan tentang hasil audiogram mereka, sehingga tenaga kerja termotivasi untuk
berpartisipasi melindungi pendengarannya sendiri. Juga melalui penyuluhan diharapkan
tenaga kerja mengetahui alasan melindungi telinga serta cara penggunaan alat pelindung
telinga.

Mengingat program pendidikan ini sangat penting, maka harus direncanakan dengan baik dan
mencakup hal-hal yang relevan, yang perlu dijelaskan adalah sebagai berikut:
Standar penanganan dampak kebisingan akibat kerja yang rasional dan jelas.
Dampak kebisingan terhadap pendengaran.
Policy perusahaan dengan pengontrolan yang baik yang telah dilaksanakan maupun
rencana kedepan.
Audiometri yaitu menjelaskan bagaimana peranan audiometri dalam mencegah
hilangnya pendengaran akibat kebisingan, bagaimana melakukan test itu sendiri,
interprestasinya serta implikasi yang timbul dari hasil test.
Tanggung jawab individual, dengan diskusi mengenai sumber kebisingan, bagaimana
mengontrolnya serta usaha mencegahnya agar tidak mengganggu kesehatan dikemudian
hari.

6. Evaluasi Program
Evaluasi program ditujukan untuk mengevaluasi hasil program-program konservasi, dengan
sasaran :
Review program dari sisi pelaksanaan serta kualitasnya, misalnya pelatihan dan
penyuluhan, kesertaan supervisor dalam program, pemeriksaan masing-masing area
untuk meyakinkan apakah semua komponen program telah dilaksanakan.
Hasil pengukuran kebisingan, identifikasikan apakah ada daerah lain yang perlu
dikontrol lebih lanjut.
Kontrol engineering dan administratif.
Hasil pemantauan audiometrik dan pencatatannya; bandingkan data audiogram dengan
baseline untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan program.
APD yang digunakan.

7. Audit Program
Audit Eksternal, dapat dilakukan program audit oleh pihak luar untuk mengetahui cost-
effectiveness dan cost-benefit dari program konservasi pendengaran.
QQ program (Quality Qontrol Program) dilakukan secara internal, terus menerus untuk
menilai efektivitas program konservasi pendengaran.

Prognosis
Dubia karena jenis ketulian NIHL ialah sensorineural dan tidak dapat diobati dan bersifat
menetap.
Pembahasan Kasus
KASUS
Seorang laki-laki berumur 45 tahun datang ke klinik perusahaan mengeluh kedua telinga
berdenging sehabis bekerja sejak 3 bulan yang lalu. Ia bekerja di bagian pembangkit listrik
(turbin), dengan sistem shift 2-2-2-libur dan menggunakan ear muff yang telah usang. Ia
tidak sedang minum obat paru atau minum obat lainnya. Riwayat merokok 1 bungkus kretek
setiap hari dan tidak punya kebiasaan menggunakan earphone untuk mendengarkan musik.

7 Langkah Diagnosa Okupasi
1. Diagnosis Klinis
a. Anamnesis
Riwayat Penyakit
- RPS: Laki-laki berumur 45 tahun dengan kedua telinga berdenging sehabis
bekerja seja 3 bulan yang lalu
- RPD: Perlu ditanyakan kembali riwayat penyakit pasien terdahulu terutama
yang berkaitan dengan telinga
- RPK : Tidak diketahui tentang Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat Pekerjaan
Bekerja di pembangkit listrik ( turbin ), dengan sistem shift 2-2-2 libur, APD
yang digunakan ialah earmuff yang telah using

b. Pemeriksaan Fisik
Belum dilakukan pemeriksaan fisik. Untuk menegakan NIHL harus didapatkan
pemeriksaan otoskopik yang normal.

c. Pemeriksaan Penunjang
Belum dilakukan pemeriksaan penunjang seperti tes Penala dan Pure Tone
Audiometry. Pada NIHL harus ditemukan tuli sensorineural, simetris dan adanya
takik pada frekuensi 4000Hz.
d. Pemeriksaan Tempat Kerja
Belum dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan Sound Level Meter.
Diagnosis Klinis : Noise Induced Hearing Loss

2. Pajanan yang Dialami
Pajanan yang didapatkan dari anamnesis, diperkirakan oleh karena Bising Stabil dari
tempat kerja yaitu pembangkit listrik ( turbin ). Yang diperkirakan melebihi dari pada
100 dB. Namun masih membutuhkan informasi tambahan dari pemeriksaan Sound Level
Meter pada tempat kerja.


3. Hubungan Pajanan dengan Penyakit
Menurut teori yang diajukan Lim (1979) dan Caiazzo (1977) bising yang berlebihan
dapat mengakibatkan kerusakan sel sensorik ataupun organ Corti walaupun kedua teori
tersebut berbeda dalam mekanisme terjadinya kerusakan organ.

4. Pajanan Cukup Besar?
Walaupun belum dilakukan pemeriksaan pada tempat kerja, dari data yang didapat
kemungkinan pajanan yang diterima OS melebihi 85 dBA/8jam/hari. Hal ini didukung
pula oleh APD yang digunakan oleh OS telah usang dan tidak berfungsi dengan baik
lagi.

5. Faktor Individu
Dari anamnesis OS diduga kurang memperhatikan kesehatan dilihat dari kebiasan pasien
yang merokok. Kebiasaan lain dari OS perlu juga diteliti lebih dalam seperti apakah OS
selalu menggunakan APDnya dengan baik.

6. Faktor Lain di Luar Pekerjaan
Tidak diketahui apakah OS memiliki Hobie, tempat tinggal, atau pekerjaan sambilan
yang juga mungkin memiliki pajanan bising melebihi NAB. Namun riwayat
menggunakan earphone disangkal.

7. Diagnosis Okupasi
Berdasarkan teori dan data yang didapatkan dari kasus dan literatur. Saya mengambil
kesimpulan bahwa kasus diatas adalah belum dapat ditegakan dan masih
membutuhkan informasi tambahan sebab belum didapatkan data mengenai bising
ditempat kerja dan faktor individu dan faktor lain diluar pekerjaan.














DAFTAR PUSTAKA

1. DEPKES RI. Indonesia termasuk 4 negara di Asia Tenggara dengan Prevalensi
Ketulian4,6%.http://www.depkes.go.id/index.php?option=articles&task=viewarticle&art
id=61&Itemid=3
2. Irwandi R. Penyakit Akibat Kerja dan Penyakit Terkait Kerja.
Http://library.usu.ac.id/download/ft/07002746.pdf
3. Balai K3 Bandung. Langkah-Langkah Diagnosis Penyakit Akibat Kerja.
Http://hiperkes.wordpress.com/2008/04/04/langkah-diagnosis-penyakit-akibat-kerja
4. Panitia Pembina Kesehatan dan Keselamatan kerja . Penyakit Akibat Kerja.
Http://safety4abipraya.wordpress.com/2008/03/19/penyakit-akibat-kerja
5. Sampurna B. Aspek Medikolegal dan Kompensasi Penyakit Akibat Kerja.
Http://www.freewebs.com/penyakitakibatkerja/penyakitakibatkerja.htm
6. Pusat Kesehatan Kerja. Prinsip Dasar Kesehatan Kerja.
Http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=700&Itemid=2
7. Rambe A. Gangguan Pendengaran Akibat Bising.
Http://library.usu.ac.id/download/fk/tht-andrina1.pdf
8. Kartika H. Gangguan Pendengaran Akibat Bising.
Http://hennykartika.wordpress.com/page/2
9. Reksoprodjo H. Rencana Pemeliharaan Pendengaran dalam Lingkungan Industri di
Indonesia. Cermin Dunia.