Anda di halaman 1dari 5

Tuesday, 03 July 2007

PERINGATAN TERAKHIR (DENGAN FIRMANNYA: IDZA JAAA AMRUNA WA FAARATTANUURU = APABILA DATANG
PERINTAH KAMI DAN DAPUR TELAH MEMANCAR AIR).

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, Al-Hakim dan Al-Dzahabi Rasulullah bersabda bahwa mitsluka wa mitslu al-
aimmati min waladika badi mitslu safinati Nuuhin, man rakibaha najaa waman takhallaqa anhu ghariqa.......
Artinya kamu (Ali) dan para Imam (yang gilir gumantinya tidak akan pernah terputus sama sekali sampai kiyamat nanti, yaitu putra-
putraku) yang datang dari sulbimu sesudahku persis bagaikan perahu (nabi) Nuh, siapa yang naik di atasnya selamat dan siapa
yang menolak, tenggelam.
Kini Imam yang dikehendaki Ilaahi yang tetap tegak dengan ajaran Allah tentang Al-Kitab, Al-Hikmah dan An-Nubuwah untuk
mengembalikan Hak MutlakNya Allah dan hak-hak Junjngan Nabi Muhammad SAW pada tempatnya semula, di akhir zaman ini,
oleh Junjungan Nabi Muhammad SAW diberi sebutan (Imam) Al-Qaim Al-Mahdi.
Tegak dengan senjata Nubuwah Syamsiyah yang dilambangkan dengan sebutan Asy-syiatun (sama sekali bukan Syiah), yang
padanannya Dhiyausysysamsi. Yakni Cahaya Matahari.
Memancarkan Cahaya Ilmu Nubuwah: kepada hamba Allah yang dikehendaki dengan hidayahNya ke dalam dada supaya dapat
mencahaya dengan Nur Muhammad (dengan Cahaya TerpujiNya Dzat Yang Mutlak WujudNya)
Dengan ini menyampaikan perintah terakhir.
Setelah membaca tanda-tanda yang diberikan Allah sebagaimana tanda-tanda yang telah diberikan Allah kepada Nabi Nuh dengan
firmanNya.



(Q.S Huud 40)
Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami perintahkan: "Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari
masing-masing binatang sepasang, dan keluargamu kecuali orang yang dahulunya telah ditetapkan terhadapnya (tetap dalam
keadaan kekufuran dan mendustakan) dan muatkanlah pula orang-orang yang beriman." Dan tidak beriman bersamanya kecuali
sedikit.
Perahu di zaman Nabi Nuh benar-benar berbentuk perahu dari papan dan paku. Perahu di zaman al-Qaim Al-Mahdi adalah
Gerakan Jamaah Lil-Muqorrobin. Paku yang memperkokoh tegak berdirinya iman dan taqwanya adalah : Laa biwushulin ilaihi illa
bi waasithatin.
Papannya adalah tempat-tempat berjamaahnya para warga Gerakan Jamaah lil-Muqorrobin yang dengan setia dan seia sekata
memenuhi sumpahnya dan janjinya.
AKIBAT SAMA SEKALI TIDAK MEMPAN DIPERINGATKAN OLEH YANG BERHAK DAN SAH MEMBERI PERINGATAN.
(Q.S. Al-Mukminuun, ayat 23)
Artinya: Wahai kaumku, sembahlah Allah; sebab sesungguhnya sekali-kali tidak ada ilah selain HUW (yang tersimpan di dalam rasa
hati mengenai Ada dan WujudNya Dia Dzat Al-Ghayb Yang Mutlak WujudNya). Mengapa kamu tidak bertaqwa?.
Berimannya orang-orang yang bertaqwa kepada Allah adalah marifatun wa tashdiqun.
Marifatun adalah alladziina yuminuuna bi Al-Ghaybi.
Seyakinnya mengenal dan mengetahui di dalam rasa hati Ada dan Wujud DiriNya Dzat Al-Ghayb Yang jelas wajib wujudNya dan
jelas mudah diingat-ingat dan dihayati.
Wa tashdiqun, sama sekali tidak pernah bimbang dan sama sekali tidak pernah ragu terhadap mengadanya hamba yang diutus
Allah memberi petunjuk dengan methode tunjuk mengenai Ada dan Wujud DiriNya Ilaahi Yang Al-Ghayb itu supaya dapat dengan
mudah di marifati (diingat-ingat dan dihayati di dalam rasa hati dan dijadikan tujuan tempat kembali dengan bimbingan sang
petunjuk).
Memenuhi petunjuk Allah:

(Q.S. Taqwir 24)
Bahwa dia (Muhammad hakekatnya Nur Muhammad, oleh karena itu mengadanya abadi) tidak akan pernah bakhil memberi
petunjuk (dengan methode tunjuk mengenai Ada dan WujudNya) Al-Ghayb.
Al-Ghayb itu sama sekali bukan al-ghuyyub (yang dibangsakan gaib karena sama-sama tidak bisa dilihat oleh mata kepala tetapi
sama sekali bukan DiriNya Zat Ilaahi Yang Al-Ghayb).
Mengenal dan mengetahui dari yang berhak dan sah menunjuki DiriNya Ilaahi Zat Al-Ghayb Yang Mutlak WujudNya sama artinya
dengan seyakinnya mengenal dan mengetahui fitrahnya jati diri (benih sucinya sendiri) yang dicipta oleh Allah dari FitrahNya
(=kesucian DiriNya Zat Yang Maha Suci), yang disimpan Allah di dalam rasa.
Karena itu sekaligus menjadi pintunya mati yang selamat pulang kembali kepada asalnya. Kembali kepada DiriNya Ilaahi dengan
rasa bahagia selama-lamanya.
Dan oleh karena itu meminta petunjuk ilmu yang satu ini hukumnya lebih wajib bagi yang ngakunya Islam (agamanya) dan yang
dikehendaki Allah dengan hidayahNya.
Lebih wajib meskipun dibandingkan dengan kewajiban shalat. Supaya shalatnya dijadikan bisa memenuhi amanat Allah dan
perintahnya; Wa aqimishshalaata lidzikri .

Peringatan dari yang berhak dan sah memberi peringatan seperti itu, ditolak. Sebagaimana menolaknya para pemuka pada zaman
Nuh di utus.





(Q.S. Al-Mukminuun 24)
Artinya. Maka pemuka-pemuka orang-orang yang tidak percaya di antara kaumnya menjawab: "Orang ini tidak lain hanyalah
manusia seperti kamu, yang berkehendak supaya menjadi seorang yang lebih diutamakan daripada kamu. Dan kalau Allah
menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa malaikat. Belum pernah kami mendengar seruan yang seperti ini pada masa bapak-
bapak kami (dan dari orang-orang yang kami tuakan) sejak dahulu.


(Q.S. Al-Mukminuun 25)
Ia tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang berpenyakit gila, maka tunggulah terhadapnya sampai suatu waktu (Kami binasakan
dengan azabKu)."
Menghadapi seperti itu maka Nabi Nuh dan kini aku, mohon kehadiratNya

(Q.S. Al-Mukminuun 26)
Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka mendustakanku.
Pertolongan Allah itu berupa turunnya Azab dan bencana yang membinasakan sehabis-habisnya terhadap mereka yang
mendustakan Hak MutlakNya Allah dan hak-hak Junjungan Nabi Muhammad SAW yang seharusnya selalu berada di tempatnya.
Nubuwah Syamsiyah yang diperlambangi dengan sebutan Asy-syiatun = Dhiyausyamsi yang artinya Cahaya Matahari adalah
Shiratal-Mustaqim yang Dhahiruhu syariat wa batinuhu hakekat, sebagaimana diteladankan oleh Junjungan Nabi Muhammad SAW
agar dicontoh dengan benar dan ikhlas. Sebagaimana sabdanya:Ana shiratullahi al mustaqiimu alladzi amarakum biitbaihi.
Tsumma Ali min badi. Tsumma wuldi min sulbihi aimmah (ila al yaumi al-qiyamah) yahduuna ilaa Al-Haq wa bihi yadiluuna.
Oleh karena itu adalah perintahnya Guru (yang hakekat Guru (Washitah) ini adalah Nur-Muhammad).
Perintah yang dapat dilihat mata kepala dan dapat dikerjakan seluruh anggota jasad. Sebab syareat adalah asal kata dari Syaraa
yang artinya mempola jalan menuju kepada sumber. Sumber segala adalah DiriNya Ilaahi (Hakekat).
Dan bahwa Guru (Washitah) hakekatnya Nur-Muhammad sebagaimana sabda Junjungan Nabi SAW: An Nuuru minallahi Azza wa
Jalla fiyya maslukun tsumma fii aliyyin tsumma fi an nasli minhu ilaa al-Qaaimi al mahdiyyi alladzi yakhudzu bihaqqillahi wa bi kulli
haqqin huwa lana, liannallaha Azza wa Jalla qad jaalna hujjatun ala al muqashshiriina wa al muaaniidiina wa al mukhaalifi ina wa
al khaainiina wa al atsimiina wa al dzalimiina min jamiii al aalamiina.
Cahaya Terpujinya Dzatullah Azza wa Jalla senantiasa mencahaya (dan terus-menerus mengalir ) di dalam diriku, kemudian
kepada Ali setelahku dan berikutnya ke dalam diri zuriat keturunannya sehinggalah kedalam diri (Imam) Al Qaim Al Mahdi yang
akan mengembalikan Hak Allah dan seluruh hak-hak kami ke tempatnya semula. Sebab Allah Azza wa Jalla telah menjadikan kami
sebagai hujjah dan bukti-Nya terhadap orang-orang yang ingkar, penentang, pembangkang, pengkhianat, pendosa dan penzalim
dari seluruh mahluk di jagat raya ini.

JAMINAN ALLAH TERHADAP ORANG-ORANG YANG BERIMAN BERTAQWANYA BENAR DAN DIBENARKAN OLEH-NYA.
Sebagaimana telah sangat sering dijelaskan bahwa iman yang benar dihadapan Allah adalah marifatun wa tashdiqun.
Seyakinnya mengenal dan mengetahui diriNya Zat Ilaahi Zat Yang Al-Ghaib di dalam rasa hati lalu hanya ini yang selalu ditetapkan
dengan cara senantiasa diingat-ingat dan dihayati dan dijadikan tujuan tempat kembali (makna kalimah itsbat Illallah). Sebab semua
dan apa saja termasuk wujud jiwaraga manusia sebenarnya adalah hijab yang harus diperjuangkan untuk dinafikan (makna kalimah
nafi: Laailaaha). Kullu syaiin halikun illa wajhahu. Dzaalika bi annallaha huwa Al Haqqu wa anna maa yaduuna min duunihi al
baathil. (QS. Lukman 30). Artinya, yang demikian itu karena sesungguhnya Allah itu Huwa Al-haqqu, dan sesungguhnya apa saja
yang diseru, disembah, diingat-ingat, dituju selain DiriNya Zat Yang Huwa Al-Haqqu (WangsitNya Guru), batal.
Watashdiqun, sebab beriman yang secara benar dihadapan Allah harus membenarkan mengadanya seorang rasul yang
keberadaannya ditengah-tengah umat yang dibimbingnya menjadi hak mutlaknya Junjungan Nabi Muhammad SAW Rasulullah.
Sebagaimana maksud firmanNya: wamaa huwa ala Al-Ghaibi bidhanin (QS : Takwir 24). Alimu Al-Ghaybi falaa yudzhiru ala
ghaybihi ahadan illa manirtadhaa min rasuulin.(QS. Al-Jin 26) dan 27).
Menduga-duga saja mengenai DiriNya Ilaahi Zat Al-Ghayb yang sangat dekat sekali didalam rasa hati oleh Allah benar-benar
dianggap kufur.


(QS. Saba 53).
Resikonya sangat mengerikan sebagaimana firmannya :


(QS. Saba 51).
Dan (alangkah hebatnya) jikalau kamu melihat ketika mereka (orang-orang yang hanya menduga-duga saja DiriNya Ilaahi Yang Al-
Ghayb dari tempat yang jauh) terperanjat ketakutan saat mati yang hanya sekali saja ditemui dan dirasakan) ; maka mereka tidak
dapat melepaskan diri dan mereka ditangkap dari tempat yang dekat (oleh wadya balanya iblis ke tempat sesat mereka). Dan di
waktu itu mereka berteriak : kami beriman kepadaNya, bagaimanakah mereka dapat mencapai (benarnya beriman) dari tempat
yang jauh ? Maka mengalami nasib yang hina sebagaimana para jin. An lau kaanu yalamuuna Al-Ghayba maa labitsuu fii
aladzaabi al muhiini. (QS. Saba 14). Artinya sekiranya mereka mengetahui (DiriNya Ilaahi Yang) Al-Ghayb tentulah mereka tidak
tetap dalam siksa yang menghinakan.
Berimannya orang yang benar (marifatun wa tashdiqun) adalah sebagaimana difirmankan Allah dalam QS. Ali Imran ayat 164 :




Artinya : Sungguh Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang yang beriman (nya secara benar telah marifatun wa
tashdiqun) ketika Allah mengutus dari kalangan mereka sendiri seorang rasul dari fitrah jati diri mereka sendiri (= Nur Muhammad)
yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka al-kitab dan al-hikmah.
Dan sesungguhnya sebelum kedatangan rasul itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
Bertaqwanya orang-orang yang berimannya secara benar telah marifatun wa tashdiqun di hadapan Allah; mujtahidun fii ibadatihi bi
shidqin wa ikhlasin.
Yaitu bersungguh-sungguh menjalani ibadahnya kepada Allah dengan benar dan ikhlas. Ibadah yang benar : Itba. Wattabi sabiila
man anaaba ilaiyya. (QS. Luqman 15). Itba. kepada rasul yang tugas pokoknya sebagai Wasithah. Dan ikhlas oleh karena Allah
dijadikan paham dan mengerti ajaran GuruNya (Wasithah) bahwa : Al ikhlashu sirri min sirri, istaudatuhu qalba man uhibbu min
ibaadi. Ikhlas itu adalah rahasia rasa dari pada rahasia rasa yang merasakan indahnya mengingat-ingat dan menghayati Ada dan
Wujud Diri-Ku Yang Al-Ghayb itu didalam rasanya. Yang demikian itu hanya Aku letakkan di dalam hatinya orang yang Aku cintai
dari antara hamba-hambaKu. (Firman Allah dengan susunan kalimat oleh Junjungan Nabi Muhammad SAW.)
Kemudian untuk menjadi hamba yang dicintai olehNya maka harus berusaha keras dan sungguh-sungguh mencintai
Allah (sangat ditentang oleh nafsu manusia yang wujudnya nafsu adalah jiwaraganya).
Untuk mencintai Allah dan dicintai olehNya maka harus dengan sungguh-sungguh memahami firman Allah dalam QS. Ali Imran 31.
Qul, adalah fiil amar. Perintah Allah kepada hamba yang di utus, sekarang ini juga. Untuk percaya hal ini sungguh ditentang oleh
nafsu dan watak akunya manusia. Inkuntum tuhibbunallah fattabiuuni yuhbikumullah wa yaghfirlakum dzunuubakum. Wallahu
ghafuurun rahiimun.
Jika kamu benar-benar mencintai Allah, maka itbalah kepadaku. Adalah fiil amar. Perintah yang berlaku sekarang ini juga.
Yuhbibkumullah wayaghfirlakum dzuunubakum. Yuhbibkumullah adalah fiil mudhare berlaku sekarang ini dan seterusnya, Allah
akan selalu mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosamu.
Beriman dan bertaqwa sebagaimana diataslah yang dijamin Allah pasti dibukakan berkah dari langit dan dari bumi. (Q.S. Al Araf;
96) tetapi apabila benarnya beriman dan bertaqwa itu didustakan, maka yang diturunkan Allah adalah azab di sebabkan apa yang
selalu mereka kerjakan (memenuhi perintah nafsu dan watak akunya yang melebihi batas, memandang dirinya serba cukup.
Karena itu abaa wastakbaraa. Dicipta Allah dari setetes mani akan tetapi ternyata hanya menjadi penentang yang terang-terangan
terhadap seruan Allah dan rasulNya).
Imam Al-Qaim Al Mahdi yang diajarkan adalah petunjuk Allah tentang Al-kitab, Al-Hikmah dan An-Nubuwah. Senjatanya : Al Quran,
Nubuwah dan Jamaah. Semua itu demi untuk mengembalikan Hak mutlakNya Allah Swt. Dan hak-hak Junjungan Nabi Muhammad
SAW. Dan para penerusnya yang haq dan sah mewakili tugas dan kewajibannya sebagai Rasulullah pada tempatnya semula

Tanjung, 19 Juni 2007
IMAM
GERAKAN JAMAAH LIL-MUQORROBIEN




KH. MUHAMMAD MUNAWWAR AFANDI