Anda di halaman 1dari 39

1

OPERASI RISET 1.

METODE SIMPLEKS
DUA FASE










Disusun Oleh
KELOMPOK 2
1. OKTAPINA GURUSINGA (4113230020)
2. ROSARI CHRISDAYANTI HASUGIAN (4113230023)
3. ROSLIN MEISA PASARIBU (4113230024 )

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2014


2


Kata Pengantar

Dengan mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas berkat-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Operasi Riset 1
ini yaitu sebuah makalah yang berjudul Metode Simpleks Dua Fase. Dalam
penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi.
Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak
lain berkat bantuan, dorongan dan bimbingan dari Dosen Operasi Riset, sehingga
kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi. Oleh karena itu penulis
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak terutama kepada Dosen
pembimbing, khususnya mata kuliah Operasi Riset 1 yang telah memberikan
tugas dan petunjuk kepada penulis sehingga penulis termotivasi dalam
menyelesaikan tugas ini. Penulis juga berterima kasih kepada orang tua dan
teman-teman yang telah turut membantu, membimbing, dan mengatasi berbagai
kesulitan sehingga tugas ini selesai.
Penulis mohon maaf jika dalam penyajian dan penyampaian makalah ini,
banyak hal-hal yang kurang berkenan atau kurang bermutu atau berkualitas karena
keterbatasan sarana buku-buku yang bisa mendukung terciptanya makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua orang. Demi kesempurnaan
makalah ini, penulis dengan tangan terbuka selalu menerima saran-saran yang
bersifat membangun dan membantu perbaikan-perbaikan dalam makalah ini.

Medan, Februari 2014



Penulis

3


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................... ii
BAB I.
PENDAHULUAN ........................................................................... 4
BAB II.
ISI
FASE 1 .............................................................................................. 5
FASE 2 .............................................................................................. 7
CONTOH SOAL ............................................................................... 8
BAB III.
SIMPULAN ..................................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................... 19
SOAL LATIHAN ........................................................................... 20









4

BAB I
PENDAHULUAN

Metode simpleks dua fase merupakan suatu modifikasi dari metode M
Charmes. Kalau dengan metode M Charmes koefisien variabel tiruan (buatan,
semu) mendapatkan harga (-M) untuk persoalan memaksimumkan atau (M) untuk
persoalan meminimumkan dengan M adalah bilangan positif besar.
Kenyataannya penggunaan M tersebut menghambat sekali jika algoritma
simpleks harus dikerjakan dengan komputer, dan M harus diisi nilai numeris yang
dipilih jauh lebih besar dari koefisien variabel tiruan yang lain. Namun banyaknya
angka untuk bilangan yang dikerjakan komputer sudah ditentukan maka bilangan
yang besar tadi akan mengurangi ketepatan perhitungan atau mungkin mala
menghasilkan jawaban yang salah. Selanjutnya akan dicari metode alternatif
untuk mengatasi masalah di atas yang disebut metode simpleks dua fase (two
phase simpleks method). Metode dua fase digunakan jika variabel basis awal
terdiri dari variabel buatan. yang intinya adalah penyelesaian dibagi menjadi dua
tahap yang masing-masing dikerjakan dengan algoritma simpleks.
Tahap I merupakan proses optimasi variabel buatan yang dilakukan untuk
menentukan apakah soal asli mempunyai penyelesaian layak. Jika penyelesaian
layak ini ada maka tahap I akan menghasilkan penyelesaian layak basis (plb).
Karena variabel buatan sebenarnya tidak ada (hanya ada di atas kertas), maka
tahap I dilakukan untuk memaksa variabel buatan bernilai 0. Proses optimasi
variabel keputusan dilakukan pada tahap II dimana tabel awal tahap II yang sudah
tak memuat peubah semu yang tak positif lagi, selanjutnya tahap II akan
menyelesaikan penyelesaian optimum bagi soal aslinya.
Metode simpleks dua fase harga (konstanta) variabel tiruan pada fungsi
tujuan diberi (-1) bila masalah memaksimumkan atau (+1) bila masalah PL
meminimumkan.

5

BAB II
ISI
Prosedur analisis fase I maupun fase II menggunakan tabel simpleks baku
dengan modifikasi tertentu.
Fase I
Tahap awal; menyajikan data PL ke dalam bentuk baku kemudian masukan ke
dalam tabel simpleks baku dengan catatan koefisien harga fungsi tujuan untuk
variabel pokok dan variabel penambah/ pengurang (Sa) adalah nol sedangkan
koefisien harga variabel tiruan (Tr) diberi nilai (-1) kalau persoalan PL adalah
memaksimumkan.
Tahapan analisis simpleks (tabel 1 dan seterusnya).
Tentukan variabel basis
Tentukan variabel pengganti variabel dengan bantuan operasi baris
elementer, vektor kolom generator T dan elemen pivot.
Tahap kahir fase I.
Meneliti elemen baris Zj Cj untuk menentukan apakah fase II sudah bisa
dimulai atau tidak perlu dilanjutkan dengan fase II.
Beberapa persyaratan yang harus diperhatikan dalam fase I.
Modifikasi yang dilakukan dalam metode dua fase sehingga membedakannya
dengan metode MCharnes adalah
Fungsi tujuan dalam analisis fase I
- Koefisien harga variabel Cj = 0 ; j = 1,...,k
- Koefisien harga variabel slack/ surplus Cj = 0; j = (k+1), (k+2),...,r
- Koefisien haraga variabel tiruan (semu, buatan, artifisial) Cj = -1 (untuk
persoalan memaksimumkan) j = (r+1), (r+2),...,N
Jadi dalam fase I kita berusaha untuk memaksimumkan Z* bukan
memaksimumkan Z.
6

Perhatikan : Fungsi tujuan asli


Karena Cj = 0 maka Cj . Xj = 0 sehingga Z = 0
Sementara itu

()


J adalah matriks baris (1,1,1,...,1) dan

adalah matriks kolom yang berisikan variabel tiruan (buatan, semu, artifisial).

dengan catatan semua variabel tiruan bernilai nol


negatif.
Karena sasaran fase I adalah membuat variabel tiruan menjadi nonbasis
maka diantara tiga situasi berikut ini akan tampak ; (1) semua variabel artifisial
menjadi non dasar (non basis), (2) satu atau lebih variabel artifisial non degenerasi
dan tak dapat dibuat menjadi non dasar, dan (3) satu atau lebih artifisial
degenerasi tak dapat dibuat menjadi non basis, sementara itu nilai Z* = 0 yang
menunujukan analisis fase I selesai (berhenti).
Fase I berakhir dalam kondisi Z* = 0 maka simpulan untuk meneruskan ke
fase II dengan memperhatikan tiga kemungkinan di atas atau dinyatakan sebagai,
1. Z* maks < 0 dimana satu atau lebih variabel buatan berada dalam basis
pada tingkat nilai yang positif. Masalah PL yang asli tidak mempunyai
penyelesaian yang layak (fisibel).
2. Z* maks = 0 dengan kenyataan tidak ada variabel buatan terletak dalam
basis. Ini berati telah diperoleh penyelesaian layak dasar dari persoalan PL
yang asli.
3. Z* maks = 0 dengan kenyataan satu atau lebih variabel buatan terletak
dalam basis pada tingkat nol (degenerasi). Kenyataan ini menunjukkan
juga telah diperoleh penyelesaian yang layak dasar dari masalah PL yang
asli.
7

Fase II
Membuat tabel simpleks tanpa mengikutsertakan kolom variabel semu
(tiruan) sedangkan pembatas baru pembatas dari data tabel akhir tabel I;
fungsi tujuan dengan konstanta variabel pokok seperti pada rumusan mula-
mula.
Melakukan analisis simpleks bila terdapat satu atau beberapa variabel
penambah/ pengurang (slack/ surplus) masih merupakan variabel basis
sementara dari baris Zj Cj memberi petunjuk nilai Z bisa meningkat.
Menganalisis fase II tidak perlu dilanjutkan bila pada baris Zj Cj
(keadaan fase II) menunujukan nilai Z optimal sudah dicapai.

Beberapa persyaratan untuk memulai perhitungan fase II
Perhitungan fase II merupakan lanjutan fase I apabila akhir fase I menunjukan
kemungkinan (2) atau (3). Tabel awal fase II adalah fase akhir fase II dengan
modifikasi sebagai berikut (a) koefisien harga fungsi tujuan yang asli, atau nilai
koefisien variabel pokok pada fase I yaitu nol hatus diganti dengan koefisien asli.
(b) elemen pada baris Zj Cj dihitung kembali dengan rumus

.
Kalau ternyata

untuk semua j dan untuk i yang sesuai dengan kolom


baris yang mengandung variabel (vektor) buatan maka baris semua

dapat
dihilangkan (dicoret) dan menghapus vektor buatan tersebut. Demikian pula
apabila ada satu atau lebih variabel buatan yang muncul pada tingkat nol dan
paling tidak terdapat satu baris yang sesuai dengan suatu kolom variabel buatan,
dimana

maka variabel buatan itu tetap mempunyai nilai nol (tidak


mempengaruhi nilai Z).
Kriteria yang digunakan dalam fase II untuk menentukan elemen pivot dan
menyingkirkan suatu variabel dari basis menjadi non basis adalah sama dengan
kriteria analisis simpleks baku.
8

Uraian di atas akan menjadi jelas bila kita kerjakan contoh soal berikut.
Contoh 1. Diketahui masalah PL
Minimumkan


Dengan syarat


Penyelesaian,
Bentuk baku


Dengan syarat


Diselesaikan dengan prosedur memaksimumkan fungsi tujuan.


Dengan syarat

non negatif;

dan

variabel pengurang

variabel buatan.




9

Tabel awal (fase I)
c
j
0 0 0 0 -1 -1
bi

R
VB c
B


-1
-1
-4
3
1
-4
-1
0
0
-1
1
0
0
1
2
5


Zj 1 3 1 1 -1 -1 -7

1 3 1 1 0 0

Karena semua elemen kolom

sudah non negatif, maka fase I berakhir dengan

untuk kolom bi (harga basis).


Simpulan persoalan PL ini tidak mempunyai penyelesaian layak pada akhir fase I
karena semua variabel buatan pada soal di atas tetap berada dalam basis pada
tingkat nilai yang positif dengan Z* negatif.
DENGAN LINGO

10



Contoh 2
Seorang pengusaha tekstil akan membuat dus jenis kain dengan perbandingan
campurang sutra dan wol sebagai berikut:
Jenis Kain Jenis benang
Sutra wol
Kain A 10 50
Kain B 10 60
11

Kedua jenis benang tersebut diolah menjadi kain dengan komposisi paling banyak
25 gulungan sutra dan paling sedikit 140 gulungan wol. Harga kain jenis A $14
per potong dan jenis B $18 per potong. Berapa banyak dari tiap jenis benang yang
harus dicampur agar diperoleh biaya minimum?
Penyelesaian:
Minimumkan


Dengan syarat


Bentuk baku:


Dengan syarat



Diselesaikan dengan prosedur memaksimumkan fungsi tujuan
Bentuk baku


Dengan syarat











12

Fase I
Tabel 1


0 0 0 -1 -1
HB
R
VB


0
-1
1
5
1


1
0
0
-1
0
1
25
140
25

-5 -6 0 1 -1 -140

-5 -6 0 2 0

menjadi basis menggantikan




Tabel 2


0 0 0 0 -1
HB R
VB


0
0


0
1
1
0

0 0 0 0 0 0


0 0 0 0 0

Ternyata data Tabel 2 menunjukkan fase I berakhir.


13

Fase II.

Tabel 3 (Awal Fase II)


-14 -18 0 0
HB R
VB


0
-18



0
1
1
0



10
28

-15 -18 0 3 -420

-1
0 0 3

x
1
masuk menjadi variabel basis dan x
3
menjadi non basis


Tabel 4 (Fase II)


-14 -18 0 0
HB R
VB


-14
-18
1
0
0
1
6
-5
1
-1
10
15

-14 -18 6 4 -410


0 6 4

Simpulan Z* = -410 atau nilai minimum Z = 410 dicapai oleh x
1
= 10 dan x
2
= 15.

14

DENGAN LINGO




Contoh 3.
Seorang penjahit memiliki persediaan kain polos kurang dari 132 m dan kain
bergaris lebih dari 100 m. Ia hendak membuat dua jenis pakaian. Pakaian model I
memerlukan 2 m kain polos dan 5 m kain bergaris. Pakaian model II memerlukan
3 m kain polos dan 2 m kain bergaris. Pakaian model I dijual dengan harga $3 per
potong dan pakaian model II dijual dengan harga dengan harga $5. Tentukan
pendapatan maksimum yang dapat diperoleh penjahit tersebut.
15

Penyelesaian :
Maksimumkan:


Dengan syarat


Bentuk baku:


Dengan syarat


Diselesaikan dengan prosedur meminimumkan fungsi tujuan
Bentuk baku


Dengan syarat



Tabel awal Fase I
c
j
0 0 0 0 1
HB

R
VB c
B


0
0


5
2
1
0
0
-1
0
1
132
100
66
100/3

3 2 0 -1 0 100


16

Tabel 2 Fase I
c
j
0 0 0 0 1
HB

R
VB c
B


0
0

1
11/3
2/3
1
0
2/3
-1/3
-2/3
1/3
196/3
100/3

0 0 0 0 -1
Karena

untuk setiap j dan

, maka prosedurnya dapat


dilanjutkan ke fase II.
Tabel awal Fase II
c
j
-3 -5 0 0
HB

R
VB c
B


0
-3

1

0
3/11
-2/11
2/11
-5/11
196/11
108/33
98
165

0 3 0 1 -100

Tabel 2 Fase II
c
j
-3 -5 0 0
HB

R
VB c
B


0
-3

1
11/2
5/2
3/2
1/2
1
0
98
66

0 0 -5/2 3/2 -198


Karena

untuk setiap j maka tabel 2 fase II berakhir dan diperoleh


nilai
17

maka dapat diperoleh nilai


Maka pendapatan maksimum yang dapat diperoleh penjahit tersebut, yaitu $198.
DENGAN LINGO









18

SIMPULAN
1. Metode dua fase merupakan modifikasi dari metode M Charnes digunakan
untuk memecahkan masalah yang memerlukan masukan variabel artifisial.
Perbedaan dengan metode dua fase terletak pada pemberian konstanta
variabel artifisial.
2. Kalau metode M Charnes konstanta variabel artifisial diberi (-M) bila
memaksimumkan dan (M) bila meminimumkan. Sedangkan pada metode dua
fase konstanta variabel artifisial pada fungsi tujuan adalah (-1) bila
memaksimumkan dan (1) bila meminimumkan.
3. Analisis simpleks dilakukan dalam dua fase. Di dalam fase I, konstanta
variabel pokok diberi nilai nol sedangkan konstanta variabel artifisial diberi
nilai (-1) bila memaksimumkan. Prosedur analisis sama dengan analisis
simpleks baku. Akhir fase I ditetapkan berdasar nilai elemen

.
4. Kalau (1)

berarti fase I berakhir dengan catatan (a) semua variabel


buatan tidak berada dalam basis berarti semua variabel buatan (artifisial)
sudah bisa dihilangkan dalam analisis (tidak berfungsi lagi). (b) terdapat satu
atau beberapavariabel buatan masih berada dalam basis tingkat nol berarti
kita telah memperoleh pemecahan layak dasar dari masalah Pl yang asli.
Kalau (2) ternyata

dimana satu atau lebih variabel buatan dalam basis


pada tingkat positif maka kesimpulannya masalah PL tidak mempunyai
pemecahan layak.
5. Pada awal fase I, dimana

, semua konstanta variabel pokok kita


masukkan dari bentuk baku, sedangkan variabel buatan dibuang/ tidak ikut
dalam analisis. Dengan demikian tabel akhir fase I merupakan tabel awal fase
II dengan menggantikan konstanta variabel pokok fungsi tujuan dari nol
menjadi nilai yang diambil dari bentuk baku awal, baris

dihitung
kembali dengan aturan yang digunakan dalam analisis simpleks baku

.

19

DAFTAR PUSTAKA

Jabar, Abdul. 2011. Program Linier. Banjarmasin : STKIP PGRI
Soemartojojo. 1999. Program Linier. Jakarta : Universitas Terbuka
Sudradjat. 2008. Pendahuluan Penelitian Operasional. Bandung : Universitas
Padjajaran.
Syahputra, Edi. 2013. Program Linier. Medan : FMIPA UNIMED
















20



SOAL LATIHAN
1. Seorang pedangang (pengusaha kecil) telah menerima dua jenis kembang
gula dari seorang pengusaha. Dalam tiap jenis kembang gula memuat coklat
dan karamel dengan perbandingan
Jenis Kembang
Gula
Jenis Bahan
Coklat Karamel
Jenis A (%) 20 20
Jenia B (%) 20 40
Kedia jenis ini dicampur dan kemudian dimasak lagi untuk dijadikan kembang
gula lagi dengan label sendiri; dengan perhitungan kenbang gula dengan label
baru akan lebih laku jika memuat paling sedikit 8 kg coklat dan paling sedikit 12
kg karamel. Harga jenis A adalah $30/kg dan jenis B $40/kg. Berapa banyak dari
tiap jenis harus dicampur supaya biaya ptoduksi yang diperlukan serendah-
rendahnya?
Penyelesaian:
Minimumkan


Dengan syarat


Dengan syarat

dan

variabel pengurang;

dan

variabel buatan.
21




Fase I.
Tabel 1

0 0 0 0 -1 -1
HB

R
VB


-1
-1
1
1
1
2*
-1
0
0
-1
1
0
0
1
40
60
40
30

-2 -3 1 1 0 0 -100

menjadi basis menggantikan



Tabel 2

0 0 0 0 -1 -1
HB R
VB


-1


0


0


1
-1


0


1


0


10


30
20


60


0 1


-10






22

Tabel 3


0 0 0 0 -1 -1
HB R
VB


0 1 0 -2 1 2 0 20


0 0 1 1 -1 -2 -1 20

0 0 0 0 1 1 0
Ternyata data Tabel 3 menunjukkan fase I berakhir.
Tabel 4 (Awal Fase II)


-30 -40 0 0
HB R
VB


-30 1 0 -2 1 20


-40 0 1 1 -1 20

0 0 20 10 -1400

Karena semua kolom

sudah non negatif (

), maka nilai

(fase II) berakhir atau

.
DENGAN LINGO

23



2. Dua produk diproses secara berurutan pada dua mesin. Waktu pemrosesan
dalam jam per unit produk pada kedua mesinditunjukkan pada tabel dibawah
ini:

Mesin

Waktu per unit (jam)
Produk 1 Produk 2
1
2
2
1
1
1
Biaya total untuk memproduksi setiap unit produk didasarkan secara langsung
pada jam mesin. Asumsikan biaya operasional perjam mesin 1 dan mesin 2
berturut-turut adalah $5 dan $3. Waktu yang diperlukan untuk memproduksi
produk 1 adalah paling sedikit 3 jam dan waktuyang diperlukan untuk
memproduksi produk 2 adalah paling sedikit 2 jam. Berapa banyak biaya
operasional yang dikeluarkan agar dicapai optimum pada proses produksi
tersebut?

24

Penyelesaian:
Minimumkan Z = 5x
1
+ 3x
2

Dengan syarat 2x
1
+ x
2
3 (1)
x
1
+ x
2
2 (2)
x
1
dan x
2
non negatif
Masukan variabel pengurang

dan

serta variabel buatan

dan

yang non
negatif akan diperoleh bentuk baku


Dengan syarat:


Tabel 1 (awal fase I)
c
j
0 0 0 0 -1 -1
HB

R
VB c
B


-1
-1


1
1
1
-1
0
0
-1
1
0
0
1
3
2
1,5
2

-3 -2 1 1 1 1 -5

Tabel 2 (fase I)
c
j
0 0 0 0 -1 -1
HB

R
VB c
B


0
-1
1
0
0,5


-0,5
-1,5
0
-0,5
0,5
-0,5
0
1
1,5
0,5

0 -0,5 1,5 0,5 1,5 0 -0,5



25

Tabel 3 (akhir fase I)
c
j
0 0 0 0 -1 -1
HB

R
VB c
B


0
0
1
0
0
1
-2
3
0,5
-1
1
-1
-1
2
1
1

0 0 0 0 1 1 0

Tabel 4 (awal fase II)
c
j
-5 -3 0 0
HB
VB c
B


-5
-3
1
0
0
1
-2
3
0,5
-1
1
1

0 0 0 0 -8

Kesimpulan

. Maksimum sehingga adalah nilai minimum yang


dicapai oleh

dan


DENGAN LINGO

26


3. Seorang peternak memiliki 1000 ayam yang mengkonsumsi 480 kg pakan
khusus setiap harinya. Pakan tersebut disiapkan menggunakan campurang
jagung dan dedak dengan komposisi sebagai berikut:
Bahan
Kandungan Bahan (gr)
Biaya (Rp/kg)
Kalsium Protein Serat
Jagung 3 4 1 4000
Dedak 1 3 2 1000
Kebutuhan pakan ayam setiap harinya adalah 0,625% kalsium, paling sedikit
1,25% protein, dan paling banyak 0,625% serat. Berapa banyak biaya yang
dikeluarkan agar dicapai optimum pada pembelian pakan ayam?
Penyelesaian:
Minimumkan


Dengan syarat:


27

non negatif
1. Rumuskan persoalan ini dalam bentuk baku dengan memasukkan variabel
penambah

, pengurang

dan


2. Rumuskan kembali bentuk baku persoalan pada (a) dengan memaksimum
fungsi tujuan, tambahkan variabel tiruan (semu, buatan) serta berikan
koefisien (-1) untuk variabel tiruan pada fungsi tujuan.
3. Carilah penyelesaian masalah sampai akhir fase I.
4. Kalau nilai fase I berakhir, buatlah tabel awal fase II.
5. Selesaikan fase II kemudian dirumuskan simpulan tentangnilai minimum
fungsi tujuan.
Masukkan variabel penambah

ke pembatas (3), variabel buatan

ke pembatas
(1), variabel pengurang

dan tiruan

ke pembatas (2)
Tabel awal fase I
c
j
0 0 0 0 -1 -1
HB

R
VB c
B


-1
-1
0


4
1
1
3
2
0
0
1
0
-1
0
1
0
0
0
1
0
3
6
3
3
6
3

-7 -4 0 1 0 0 -9

masuk menjadi basis menggantikan

; karena

)




28

Tabel 2 (fase I)
cj 0 0 0 0 -1 -1
HB

R
VB cB


0
-1
0
1
0
0
1/3


5/3
0
0
1
0
-1
0
1/3
-4/3
-1/3
0
1
0
1
2
2
3
1,2

0 -5/3 0 0 7/3 0 -2

masuk menjadi basis menggantikan

.
Tabel 3 (akhir fase I)
cj 0 0 0 0 -1 -1
HB

R
VB cB


0
0
0
1
0
0
0
1
0
0
0
1
1/5
-3/5
1
8/15
-4/5
17/15
-1/5
3/5
-1
3/5
6/5
2

0 0 0 0 1 1 0

Tabel 4 (awal fase II)
cj -4000 -1000 0 0
HB
VB cB


-4000
-1000
0
1
0
0
0
1
0
0
0
..
1/5
-3/5
1
0,6
1,2
3,6

0 0 0 -1/5 -3600

29

Kesimpulan Z* = - 3600 maksimum sehingga Z = 3600 adalah nilai minimum
yang dicapai oleh x
1
= 0,6, x
2
= 1,2
Tabel 4 menjadi tabel awal fase II sekaligus sebagai akhir fase II, biarpun kolom

pada baris

bernilai negatif. Hal ini disebabkan oleh

pada tingkat nol


sehingga fungsi tujuan tidak akan berubah. Disisni terlihat pembatas ke-3 tidak
berfungsi atau dapat dibuang dalam pemecahan masalah.
DENGAN LINGO




30

4. Kebutuhan maksimum lemak protein dan karbohidrat seseorang setiap
minggunya berturut-turut kurang dari 4 unit, kurang dari 12 unit dan 18 unit.
Makanan jenis A per kg mengandung 1 unit protein dan 3 unit karbohidrat.
Sedangkan makanan jenis B per kg mengandung 2 unit protein dan 2 unit
karbohidrat. Jika harga makanan jenis A $3 per kg dan harga makanan jenis B
$5 per kg, maka tentukan biaya maksimal yang harus dikeluarkan agar
kebutuhan lemak, protein dan karbohidrat terpenuhi.
Penyelesaian :
Lemak Protein Karbohidrat Biaya
Jenis A 1 - 3 $3
Jenis B - 2 2 $5

Maksimumkan:


Dengan syarat:


Bentuk baku:


Dengan syarat:


Diselesaikan dengan prosedur meminimumkan fungsi tujuan
Bentuk baku



31

Minimumkan : a = A
1
atau a = 18 3x
1
2x
2

Berdasarkan pembatas
:


Tabel awal Fase I
c
j
0 0 0 0 1
HB

R
VB c
B


0
0
1


0
3
0
2
2
1
0
0
0
1
0
0
0
1
4
12
18
4
-
6

3 2 0 0 0 18

Tabel 2 Fase I
c
j
0 0 0 0 1
HB

R
VB c
B


0
0
1

0
0
0
2


1
0
-3
0
1
0
0
0
1
4
12
6
-
6
3

0 2 -3 0 0 18




32

Tabel 3 Fase I
c
j
0 0 0 0 1
HB

R
VB c
B


0
0
0

0
0
0
0
1
1
3
-3/2
0
1
0
0
-1
1/2
4
6
3

0 0 0 0 -1 0

Karena

untuk setiap j dan

, maka prosedurnya dapat


dilanjutkan ke fase II.
Tabel awal Fase II
c
j
-3 -5 0 0 1
HB

R
VB c
B


-3
0
-5

0
0
0
0
1
1


-3/2
0
1
0
0
-1
1/2
4
6
3
4
2
-

0 0 9/2 0 -5/2 -27



Tabel 2 Fase II
c
j
-3 -5 0 0
HB

R
VB c
B


-3
0
-5

0
0
0
0
1
0
1
0
-1/3
1/3
1/2
2
2
6

-3 -5 0 -3/2 -36
33

Karena

untuk setiap j maka tabel 2 fase II berakhir dan diperoleh


nilai

, maka dapat diperoleh nilai

.
DENGAN LINGO


5. Minimumkan


Dengan syarat:


34

Penyelesaian:
Diselesaikan dengan prosedur memaksimumkan fungsi tujuan


Dengan syarat:


Dengan

dan

variabel pengurang; dan

dan

variabel buatan.
Fase I
Tabel 1
c
j
0 0 0 0 0 -1 -1
HB R
VB c
B


-1
-1
0


1
-1
0
1
1
1
-1
0
0
0
-1
0
0
0
1
1
0
0
0
1
0
2
1
3
2
1
3
Z
j
- c
j
0 -2 1 1 0 0 0 -3

Tabel 2
c
j
0 0 0 0 0 -1 -1
HB R
VB c
B


-1
0
0


2
-1
1
0
1
0
-1
0
0
1
-1
-1
0
0
1
1
0
0
-1
1
-1
1
1
2
1/2
-1
2
Z
j
- c
j
-2 -0 1 -1 0 0 2 -1


35

Tabel 3
c
j
0 0 0 0 0 -1 -1
HB R
VB c
B


0
0
0


1/2
-1/2
1/2
0
1
0
-1/2
-1/2
1/2
1/2
-1/2
1/2
0
0
1
1/2
1/2
-1/2
-1/2
1/2
-1/2
1/2
3/2
3/2

Z
j
- c
j
0 0 0 -1 0 1 1
Ternyata tabel 3 sudah menunjukkan akhir Fase I
Tabel 4 (awal fase II)
c
j
-1 -2 0 0 0
HB R
VB c
B


-1
-2
0


1/2
-1/2
1/2
0
1
0
-1/2
-1/2
1/2
1/2
-1/2
1/2
0
0
1
1/2
3/2
3/2
1
-
1/3
Z
j
- c
j
3/2 0 3/2 -1/2 0 -7/2

Kesimpulan Z* = - 7/2 = -3,5 maksimum, sehingga Z = 7/2 = 3,5 adalah nilai
minimum.
DENGAN LINGO

36


6. Minimumkan


Dengan syarat:


Penyelesaian:
Minimumkan


Dengan syarat:


Dengan

variabel pengurang, dan

variabel buatan



37

Fase I. Tabel 1
c
j
0 0 0 0 0 -1 -1 -1
HB R
VB
C
B


-1
-1
-1


1
3
3
3
4
1
-1
0
0
0
-1
0
0
0
-1
1
0
0
0
1
0
0
0
1
8
19
17
8/3
19/4
17
Z
j
- c
j
-7 -8 1 1 1 0 0 0 -44
Tabel 2
c
j
0 0 0 0 0 -1 -1 -1
HB R
VB
C
B


0
-1
-1


1/3
5/3
8/3
1
0
0
-1/3
4/3
1/3
0
-1
0
0
0
-1
1/3
-4/3
-1/3
0
1
0
0
0
1
8/3
25/3
43/3
8
5
43/8
Z
j
- c
j


0 -5/3 1 1 8/3 0 0



Tabel 3
c
j
0 0 0 0 0 -1 -1 -1
HB R
VB
C
B


0
0
-1


0
1
0
1
0
0
-3/5
4/5
-9/5
1/5
-3/5
8/5
0
0
-1
3/5
-4/5
9/5
1/5
3/5
-8/5
0
0
1
1
5
1
5


5/8
Z
j
- c
j
0 0 9/5 -8/5 1 -4/5


0
38

Tabel 4
c
j
0 0 0 0 0 -1 -1 -1
HB R
VB
C
B


0
0
0


0
1
0
1
0
0
-3/8
1/8
-9/8
0
0
1
1/8
-3/8
-5/8


-9/8
2/5
0
-1
0
0
1
-1/8
-3/8
5/8

Z
j
- c
j
0 0 0 0 0 1 1 1
Tabel 4 sudah menunjukkan akhir fase I
Fase II
Tabel 5(awal fase II)
c
j
-50 -25 0 0 0
HB R
VB
C
B


-25
-50
0


0
1
0
1
0
0
-3/8
1/8
-9/8
0
0
1
1/8
-3/8
-5/8
-5,375
-0,875
5/8

Z
j
- c
j
0 0 25/8 0 125/8



Karena semua kolom

sudah non negatif maka nilai Z* maksimium =


Berakhir atau Z
min
=





39

DENGAN LINGO