Anda di halaman 1dari 13

Inversi Magnetotellurik 2D untuk Penentuan Zona Reservoar, Cap Rock, Basement dan Heat Sourcedi

Lapangan Panas Bumi AAA Sulawesi Utara - Indonesia



Affandi Anugrah Adiatmoko, Dr. Ir. H. Suharsono. MT, Prof. Dr. Ir. Sutanto, DEA
(
Prodi Teknik Geofisika, UPN Veteran Yogyakarta Jln SWK Ring Road Utara Condong Catur 55283,
email : affandianugrah@yahoo.com)


ABSTRAK

Telah dilakukan survey magnetotelluric dengan frekuensi 10
4
10
-4
Hz di lapangan panas bumi AAA,
Sulawesi Utara, Indonesia sebanyak 105 titik sounding dengan line pengukuran N 60
o
E. Kemudian dilakukan
pengolahan nilai impedansi sampai didapatkan penampang resistivitas semu dengan metode inversi 2D. Berdasarkan
hasil inversi matlab pada lintasan Synyster, Rev, dan Shadow maka variasi nilai resistivitas semu (rho)
dikelompokkan menjadi tiga zona utama yaitu zona konduktif yang memiliki nilai rho sekitar 1 6 Ohm.m pada
elevasi 325 m apl - 500 m bpl (dangkal) dan 500 meter apl sampai 1000 meter bpl (dalam) diinterpretasi sebagai cap
rock, kemudian zona semi konduktif 7 70 Ohm.m pada elevasi 500 meter apl 1500 meter bpl (dangkal) dan 100
2500 meter bpl (dalam) diinterpretasi sebagai reservoar, dan terakhir adalah zona resistif 80 200 Ohm.m pada
500 m sampai >2500 meter bpl yang diinterpretasikan sebagai batuan andesit kompak yang merupakan produk dari
gunung api tua berumur Tersier, namun belum merupakan zona basement. Untuk basement dan heat source tidak
terinterpretasi pada hasil inversi karena kedalamannya terlalu besar ( > 4 km bpl). Dari penampang juga diketahui
bahwa cap rock dan reservoir dangkal relatif lebih tipis dari cap rock dan reservoar dalam.

Kata Kunci : Panas bumi, Magnetotellurik, Impedansi, Resistivitas semu, Reservoar, Cap Rock, Basement,
Heat Source, Inversi 2D

ABSTRACT

Magnetotelluric survey has been carried out with a frequency of 10
4
- 10
-4
Hz at AAA geothermal field,
North Sulawesi, Indonesia as many as 105 sounding stations, with the direction of measurement line N 60
o
E.
Processing of impedance value was conducted using 2D inversion method to obtain the apparent resistivity section.
From pseudodepthsection of matlab inversion in line Synyster, Rev, and Shadow, the variation of apparent
resistivity (rho) are grouped into three main zones which are conductive zone with a value of rho approximately 1-6
Ohm.m at 325 m amsl - 500 m bmsl (shallow) and 500 m amsl - 1000 m bmsl (deep) interpreted as cap rock, the
second zone is semi-conductive zone 7-70 Ohm.m at 500 m amsl - 1500 m bmsl (shallow) and 100 2500 m bmsl
(deep) interpreted as reservoir rock, and the last is resistive zone 80-200 ohm.m at 500 - > 2500 m bmsl interpreted
as compact andesitic rock which is product of Tertiary old volcano, and not deep enough to be a part of basement.
Both basement and heat source is not detected on inverison result, because its to deep ( > 4 km bmsl). From the
apparent resistivy section also we know that the shallow cap rock and reservoir are thinner than the deeper one.

Keywords: Geothermal, Magnetotelluric, Impedance, Apparent resistivity (rho), Reservoir, Cap Rock, Basement,
Heat Source, 2D Inversion

I. PENDAHULUAN
I. PENDAHULUAN
Salah satu energi alternatif yang sustainable dan
ramah lingkungan dan saat ini sedang dikembangkan
secara internasional adalah energi panas bumi atau
geothermal. Di Indonesia sendiri sangatlah prospek
untuk energi panas bumi atau geothermal ini,
dikarenakan Indonesia dilewati rangkaian gunungapi
yang disebut ring of fire yang terbentang dari pulau
Sumatera sampai dengan Nusa Tenggara yang
kemudian dilanjutkan ke Sulawesi. Seperti yang kita

ketahui dari banyaknya rangkaian gunungapi tersebut
sangat berpotensi terbentuk sumber daya panas bumi.
Dari hasil survey geologi, Indonesia merupakan
negara dengan potensi paling besar di dunia yakni
mencapai 27.000 Mega Watt (MW) atau setara
dengan 40 % cadangan dunia. Dari potensi sebesar
itu, baru 1194 MW yang termanfaatkan. Andaikata
potensi tersebut benar-benar dimaksimalkan dalam
30 tahun, bahan bakar fosil yang bisa dihemat
mencapai 465 juta barel (Kompasiana.com, posting:
7 Juli 2012).
Geofisika merupakan salah satu ilmu geoscience
yang mendasari kegiatan eksplorasi geothermal.
Derajat keberhasilan penggunaan metode-metode
geofisika untuk eksplorasi panas bumi tergantung
pada kontras sifat fisis batuan di sekitarnya atau
sistem panas buminya yang mampu memberikan
kenampakan anomali geofisika. Penelitian ini lebih
menekankan pada proses memvisualisasikan anomali
yang diakibatkan oleh fluida panas bumi yang panas
dan efek alterasi sehingga menyebabkan anomali
geofisika berupa kontras resistivitas semu (rho) pada
batuan.
Lapangan panas bumi yang akan diteliti adalah
lapangan AAA di Sulawesi Utara yang merupakan
bagian dari Ring of Fire di Indonesia dan telah
dilakukan produksi energi panas bumi oleh PT.
Pertamina Geothermal Energy pada daerah tersebut.
Metode geofisika yang akan digunakan adalah
magnetotellurik dengan memanfaatkan medan
magnet alamiah berfrekuensi sangat rendah antara 10
-
4
10
4
Hz sehingga anomali target bisa tercapai
dengan resolusi yang bagus meskipun berada sangat
dalam di subsurface dan pada akhirnya bisa
dilakukan pendekatan untuk menentukan persebaran
serta kedalaman zona reservoar berdasarkan hasil
pengolahan dan inversi data magnetotellurik tersebut.

II. MAKSUD DAN TUJUAN
Dalam tugas akhir ini peneliti bermaksud
mengolah data tensor impedansi magnetotellurik
yang diakuisisi pada suatu lapangan panas bumi.
Pengolahan dilakukan dengan menghilangkan atau
meminimalkan noise dan pemilihan frekuensi sinyal
yang tepat untuk kemudian dijadikan model inversi
2D dan diinterpretasi secara kasar. Dan tujuan
akhirnya adalah :
1. Mengetahui nilai resistivitas semu dari cap rock,
heat source, dan reservoar.
2. Mengetahui kedalaman serta persebaran reservoar
panas bumi sebagai target eksplorasi.

III. TINJAUAN GEOLOGI
Lapangan AAA merupakan bagian timur dari
lembar geologi Kotamobagu, Sulawesi Utara dan
berbatasan dengan lembar geologi Manado. Berikut
adalah indeks lokasinya berdasarkan peta yang
diterbitkan Pusat Penelitian dan Pengembangan
Geologi (1997).







Gambar 1. Indeks lokasi lapangan AAA pada
lembar geologi Kotamobagu, Sulawesi
Utara (Apandi dan Bachri, 1997)

Daerah penelitian terletak di lengan utara
Sulawesi, yang merupakan busur gunungapi yang
terbentuk karena adanya tunjaman (subduksi) ganda,
yaitu lajur tunjaman Sulawesi Utara di sebelah utara
lengan utara Sulawesi dan lajur tunjaman Sangihe
Timur di sebelah timur dan selatan lengan utara
(Simandjutak, 1986).


Gambar 2.Tatanan tektonik Sulawesi (Simandjutak,
1986)
Penunjaman ganda tersebut mengakibatkan
terjadinya kegiatan magmatisma dan kegunungapian
yang menghasilkan batuan plutonik dan gunungapi
yang tersebar luas. Di lembar Kotamobagu ini
tunjaman Sulawesi Utara diduga aktif sejak awal
tersier dan menghasilkan busur gunungapi tersier
yang terbentang dari sekitar Tolitoli sampai dekat
Manado. Sedangkan tunjaman Sangihe Timur diduga
aktif sejak awal Kuarter dan menghasilkan lajur
gunungapi Kuarter di bagian timur lengan utara
Sulawesi dan menerus ke arah barat daya hingga
daerah gunung Una-una (Simandjutak, 1986).
Struktur geologi yang dapat diamati di lapangan
pada citra penginderaan jauh antara lain berupa sesar
dan lipatan. Sesar normal arahnya kurang beraturan,
namun di bagian barat lembar geologi Kotamobagu
cenderung berarah kurang lebih timur-barat.


Gambar 3.Struktur geologi lembar Kotamobagu,
Sulawesi Utara (Apandi dan Bachri,
1997)

Sesar mendatar berpasangan dengan arah NNW
SSE (sesar menganan) dan NNE SSW (sesar
mengiri). Sesar mendatar terbesar adalah sesar
Gorontalo yang berdasarkan analisis kekar
penyertanya menunjukkan arah pergeseran
menganan. Beberapa zona sesar naik bersudut sekitar
30
o
. dapat diamati di beberapa tempat, khususnya
pada batuan gunungapi Bilungala (Villeneuve dkk,
1990). Struktur patahan tersebut mengontrol
pemunculan mata air panas dan fumarola. Dan
terdapat struktur grabben memotong kaldera tua
Ambang membentuk dataran Pinasungkulan
Makaroyen. (PGE, 2006)
Lapangan panas bumi AAA merupakan sistem
panas bumi vulkanik hidrotermal, karena berada
pada busur vulkanik dengan gunungapi berumur
Kuarter serta ketersediaan fluida alamiah yang
berupa air magmatik dan meteorik sebagai media
transfer panasnya. Selain itu kecocokan model
geothermal sistem vulkanik hidrotermal ini juga
didukung oleh penelitian terdahulu mengenai sistem
hidrotermal dan geokimia di lapangan AAA, dan
menghasilkan model konseptual lapangan panas bumi
sebagai berikut.


Gambar 4.Model konseptual lapangan panas bumi
AAA (Riogilang dkk, 2009)

Pada gambar di atas fluida geotermal bersuhu
tinggi berupa Cl-SO
4
mengalir keatas (upflow) tepat
dibawah gunung Muayat dan mengalami boiling di
dalam, sehingga melepaskan gas H
2
S yang kemudian
bercampur dengan air permukaan yang kaya oksigen
dan membentuk steam heated waters di dekat
fumarol. Fluida yang berada lebih dalam juga
mengalir lebih jauh secara lateral ke arah selatan
menuju elevasi yang lebih rendah dan keluar ke
permukaan (discharges) dalam bentuk air karbonatan
(HCO
3
) melalui sistem patahan (Riogilang dkk,
2009).
Geotermal sistem seperti yang telah dibahas
sebelumnya terdiri dari heat source, fluida, reservoar,
dan cap rock. Pada lapangan AAA ini heat source
merupakan tubuh magma yang mengintrusi basement
dan lapisan batuan di atasnya. Kedalaman heat
source biasanya mencapai kedalaman lebih dari 5 km
dan suhu > 600
o
C. Heat source ini kemudian akan
memanaskan basement rock sebagai medium
perambatan panas secara konduktif. Basement pada
lapangan AAA adalah batuan sedimen berumur
tersier yang termetamorf karena panas dan tekan
yang tinggi.
Reservoarnya kemungkinan adalah batuan
vulkanik dengan permeabilitas sekunder karena
adanya efek intrusi magma dan tektonik aktif, yang
menyebabkan terbentuknya zona-zona rekahan, dan
air meteorik masuk ke dalamnya dari permukaan
melewati patahan yang dalam. Karena batuan yang
memiliki porositas primer seperti batupasir dan
gamping hanya terdapat di basement yang notabene
sudah mengalami metamorfisme.


Gambar 5.Andesit terbreksiasi sebagai reservoar
berporositas sekunder
(www.sciencedirect.com/science/article/
pii/S0377027303001975)

Untuk cap rock tentunya merupakan batuan
impermeable. Pada lapangan AAA ini kemungkinan
cap rock nya adalah batu lempung yang terbentuk
karena alterasi tufa batuapung oleh fluida hidrotermal
yang tertransport karena adanya zona-zona rekahan.
Alterasi ini jika terjadi terus menerus akan
menyebabkan terbentuknya mineral lempung, serta
penambahan unsur-unsur sulfida yang berasal dari air
magmatik. Peristiwa ini biasa dikenal dengan istilah
self sealing, dan umumnya dijumpai pada lapangan
panas bumi bertipe vulkanik-hidrotermal (M.P.
Hochstein & P.R.L. Browne, 2000).
Interpretasi lithologi dari sistem geotermal
lapangan panas bumi AAA tersebut didukung oleh
penampang geologi hasil penelitian terdahulu
(Riogilang dkk, 2010) yang menyayat lapangan panas
bumi AAA dengan arah SW NE memotong gunung
Muayat. Model geologi tersebut juga mendukung
model konseptual lapangan panas bumi AAA yang
bertipe vulkanik hidrotermal.


Gambar 6.Model geologi lapangan panas bumi AAA
(Riogilang dkk, 2010)

IV. TEORI DASAR MAGNETOTELLURIK
Gelombang Magnetotellurik (MT) adalah
gelombang elektromagnetik, yaitu gelombang yang
dapat merambat tanpa melalui medium. Gelombang
ini merupakan kombinasi antara medan listrik dan
medan magnetik yang berosilasi dan membawa
energi dari satu tempat ke tempat lainnya.


Gambar 7.Ilustrasi Perambatan Gelombang
Elektromagnetik (Unsworth, 1999)

Seorang ilmuwan bernama James Clerk
Maxwell (1873) mengajukan sebuah hipotesis
mengenai perambatan gelombang elektromagnetik.
Hipotesis tersebut yaitu, Jika perubahan fluks
magnet dapat menimbulkan medan listrik maka
perubahan fluks listrik juga harus dapat menimbulkan
medan magnetik. Hipotesis ini dikenal sebagai sifat
simetri medan listrik dengan medan magnetik.
Seandainya hipotesis Maxwell ini benar berarti
perubahan medan listrik akan menghasilkan
perubahan medan magnetik juga, begitupun
sebaliknya dan keadaan ini akan terus berulang.
Beberapa hukum-hukum fisika seperti hukum
Faraday, hukum Ampere, dan konsep mengenai
displacement current telah disusun oleh Maxwell
secara sistematik menjadi apa yang kita kenal
sekarang yaitu persamaaan Maxwell. Persamaan
persamaan Maxwell tersebut antara lain :



dimana E adalah medan listrik (V/m), B adalah
induksi magnetik (T), H adalah intensitas magnet
(A/m), D adalah displacement current (C/m
2
), j
f

adalah densitas arus listrik (A/m
2
),
f
adalah densitas
muatan listrik (C/m
3
).
Hukum Faraday menjelaskan bahwa perubahan
induksi medan magnetik terhadap waktu akan
menyebabkan timbulnya perubahan medan listrik.
Hukum Ampere menjelaskan bahwa adanya sumber
arus listrik dan perubahan medan listrik terhadap
waktu akan menyebabkan terbentuknya medan
magnetik. Hukum Gauss menyatakan bahwa fluks
elektrik pada suatu ruang sebanding dengan muatan
total yang ada dalam ruang tersebut. Sedangkan
persamaan terakhir yang identik dengan persamaan
Gauss berlaku untuk medan magnet,namun dalam hal
ini tidak ada monopol magnetik (Vozoff, 1991).
Secara singkat proses terjadinya medan listrik
dan medan magnetik di permukaan Bumi adalah
sebagai berikut :


Gambar 8.Prinsip Dasar Metode Magnetotellurik
(Unsworth, 2000)

Dari gambar di atas dapat dijelaskan pada saat
arus dialirkan dari transmitter (TX) akan timbul
medan magnetik primer maka terjadilah medan
elektromagnetik (EM) primer di permukaan Bumi.
Arus di sini dapat dibuat sendiri ataupun secara
alami. Untuk sumber arus yang alami digunakan pada
metode Magnetotellurik. Apabila arus dimatikan
kemudian dinyalakan kembali secara berulang,
medan magnetik tersebut akan mengalami perubahan.
Perubahan medan magnetik ini dikenal sebagai fluks
magnet.
Jika terdapat benda konduktor atau ore body di
bawah permukaan bumi, medan magnetik primer ini
akan menghasilkan arus listrik akibat adanya induksi
arus listrik. Arus listrik yang dihasilkan dinamakan
arus Eddy. Arus Eddy ini akan menimbulkan medan
magnetik sekunder maka terjadilah medan
elektromagnetik sekunder. Medan listrik (E) dan
medan magnetik (B) sekunder inilah yang diukur di
receiver (RX) (Unsworth, 2000).
Metode magnetotellurik merupakan metode
pasif artinya metode ini menggunakan sumber alami.
Sumber-sumbernya berupa solar wind dan lightning
activity. Solar wind adalah partikel bermuatan yang
bergerak dan dipancarkan dari matahari. Partikel ini
memiliki frekuensi kurang dari 1 Hz, sedangkan
lightning activity merupakan fenomena terjadinya
petir yang memiliki frekuensi lebih dari 1 Hz.




Gambar 9.Fenomena Solar Wind (atas) dan Ligtning
Activity (bawah) (Daud, 2010)

Metode MT ini dapat mendeteksi keadaan
bawah permukaan dari kedalaman 100 m sampai 100
km karena pada metode ini menggunakan frekuensi
10
-4
-10
4
Hz. Pada metode magnetotellurik ini, depth
penetration dari gelombang EM dapat dicari dengan
persamaan,


Dengan adalah depth penetration (m),
a

adalah resistivitas semu (m), dan f adalah frekuensi
gelombang EM (Hz). Ini disebut juga skin depth,
yang didefinisikan sebagai kedalaman pada suatu
medium homogen dimana amplitudo gelombang EM
telah ter-reduksi menjadi 1/e dari amplitudonya di
permukaan bumi (ln e = 1atau e = 2.718 ...).
Parameter-parameter yang diukur di lapangan
pada metode MT ini adalah medan listrik, medan
magnetik, dan time series, sedangkan parameter yang
dianalisis adalah resistivitas semu dan fase. Pada
pengukuran medan listrik ini, terdapat empat buah
elektroda non polarisasi yaitu dua elektroda sumbu X
(Ex) dan dua elektroda di sumbu Y (Ey) kemudian
diukur tegangan antara elektroda tersebut.
Pada pengukuran medan magnetik terdapat tiga
komponen sensor magnetik. Saat frekuensinya di atas
0,01 Hz maka dapat digunakan induksi coil. Coil ini
berbentuk silinder dengan jutaan lilitan kawat
tembaga. Perubahan dalam medan magnetik
sepanjang poros coil akan menginduksi tegangan
pada coil. Coil ini biasanya ditanam untuk
meminimalisasi pergeseran. Untuk frekuensi rendah
digunakan tiga komponen dari flux gate
magnetometer. Ini akan memberikan pengukuran
yang sebenarnya dari medan magnetik dengan presisi
sampai 0,01 nT (Unsworth, 2008).
Dari data medan listrik dan medan magnet
tersebut kemudian didapatkan nilai impedansi.
Impedansi merupakan perbandingan antara
komponen medan listrik dan medan magnetik yang
saling tegak lurus. Pada metode magnetotellurik
(MT), salah satu variabel yang dicari yaitu tensor
impedansi Z (). Secara umum, hubungan linier
antara medan listrik, medan magnetik, dan impedansi
dapat dirumuskan dengan persamaan berikut :


atau



dimana Z merepresentasikan tensor impedansi. Pada
persamaan diatas, H
x
(), H
y
(), E
x
(), E
y
() adalah
transformasi Fourier dari perubahan medan magnetik
(H) dan medan listrik (E). Sesuai definisi sebelumnya
maka nilai impedansi dapat diperoleh dengan
persamaan :



Berdasarkan persamaan di atas, impedansi bumi
homogen adalah suatu bilangan skalar kompleks
yang merupakan fungsi dari tahanan jenis medium
(), konstanta permeabilitas magnetik (
0
=4.10
-7

H/m), dan frekuensi gelombang EM (). Dalam hal
ini impedansi yang diperoleh berasal dari dua
pasangan komponen medan listrik dan medan magnet
yang berbeda (E
x
/H
y
dan E
y
/H
x
) secara numerik
berharga sama mengingat simetri radial medium
homogen atau medium 1D. Untuk selanjutnya
impedansi bumi homogen disebut impedansi intrinsik
(Z
I
= Z
xy
= - Z
yx
).
Impedansi kompleks dapat pula dinyatakan
sebagai besaran amplitudo dan fasa. Dalam praktek
besaran tersebut lebih sering dinyatakan dalam
bentuk tahanan jenis dan fasa sebagai berikut,



tampak bahwa fasa untuk bumi homogen adalah
konstan, yaitu 45
o
yang merupakan beda fasa antara
medan listrik dan medan magnet. Perbedaan fasa
tersebut dapat berupa bilangan positif atau negatif
bergantung pada pemilihan fungsi variasi terhadap
waktu.
Dengan demikian, impedansi sebagai fungsi
dari frekuensi jika dikombinasikan dengan persamaan
skin depth memberikan informasi mengenai tahanan
jenis medium sebagai fungsi dari kedalaman.
Berdasarkan hal tersebut metode sounding MT
dilakukan dengan merekam data berupa variasi
medan listrik dan medan magnet pada beberapa
periode tertentu (T=f
-1
).
Dari elemen-elemen pada tensor Z dapat
diketahui informasi tentang dimensi dan arah. Untuk
Bumi sebagai objek 1D, dimana konduktivitas hanya
bervariasi terhadap kedalaman, maka elemen
diagonal pada tensor impedansi yaitu Z
xx
dan Z
yy

(komponen medan listrik dan medan magnet yang
sejajar) akan bernilai nol. Sedangkan elemen off-
diagonal yaitu Z
xy
dan Z
yx
(komponen medan listrik
dan medan magnet yang tegak lurus) memiliki
magnitudo yang sama besarnya namun berlawanan
arah (Simpson & Bahr, 2005:35).

Zxx = Zyy = 0
Zxy = - Zyx

Untuk Bumi sebagai objek 2D, dimana
konduktivitas bervariasi secara lateral (horizontal)
maupun terhadap kedalaman (vertikal), maka Z
xx
dan
Z
yy
memiliki magnitudo yang sama besarnya namun
berlawanan arah. Sedangkan Z
xy
dan Z
yx
memiliki
nilai yang berbeda (Simpson & Bahr, 2005:35).

Zxx = - Zyy
Zxy = - Zyx

Tetapi ketika sumbu-x dan sumbu-y dari Bumi
2D mengikuti arah strike elektromagnetik maka nilai
Z
xx
dan Z
yy
menjadi nol. Artinya secara matematis
Bumi 1D anisotropik ekuivalen dengan Bumi 2D
(Simpson & Bahr, 2005:35).
Pada kasus 2D yang ideal, hubungan antara
medan magnetik dan medan listrik selalu orthogonal,
artinya medan listrik yang sejajar strike hanya akan
menginduksi medan magnet yang tegak lurus strike
dan melewati bidang vertikal. Dan sebaliknya, medan
magnet yang sejajar strike hanya akan menginduksi
medan listrik yang tegak lurus strike dan melewati
bidang vertikal (Simpson & Bahr, 2005:28).


Gambar 10.Model sederhana Bumi 2D (Simpson &
Bahr, 2005:28)

Pada gambar diatas menunjukkan adanya dua
modus pengukuran yang dapat dipilih untuk
memperoleh nilai variasi apparent resistivity (
app
)
pada model 2D. Modus pertama adalah E-
polarisation atau sering disebut sebagai Transverse
Electric (TE mode) dimana arus listrik mengalir
sejajar strike (searah sumbu-x pada Gambar 10),
dengan komponen elektromagnetik yang diukur
adalah E
x
, H
y
, H
z
(Simpson & Bahr, 2005:29).
Kemudian modus kedua adalah B-Polarisation
atau sering disebut Transverse Magnetic (TM mode)
dimana arus listrik mengalir tegak lurus strike (searah
sumbu-y pada Gambar 10), dengan komponen
electromagnetik yang diukur adalah H
x
, E
y
, E
z
(Simpson & Bahr, 2005:29).




Gambar 11.Kurva rho vs T untuk jarak 0,3 - 19,3
km di sebelah kiri batas kontak (atas) &
Kurva rho vs T untuk jarak 0,3 - 19,3
km di sebelah kanan batas kontak
(bawah) (Simpson & Bahr, 2005:30)

Dari dua gambar diatas menunjukkkan bahwa
TM mode lebih bagus untuk mengidentifikasi variasi
lateral daripada TE mode. Meskipun demikian, TE
mode memiliki komponen medan magnet vertikal
yang dihasilkan oleh gradien atau batas konduktivitas
lateral, maka dari itu TE mode dapat menggunakan
variasi spasial dari H
z
/H
y
untuk menganalisa kontras
konduktivitas lateral.



1D
2D
V. METODOLOGI PENELITIAN
Berikut ini adalah diagram alir proses
pengolahan hingga inversi data MT.


Gambar 12.Diagram alir penelitian

Berikut adalah data yang diperlukan untuk
pengolahan data MT:

1. EDI file
Peneliti tidak melakukan pengolahan dari
RAW data, melainkan RAW data yang telah
melalui beberapa tahap pre-processing seperti,
time window selection, Fourier transform, dan
kalibrasi. Sehingga data yang diperoleh sudah
berupa data tensor impedansi dalam domain
frekuensi, apparent resistivity, frekuensi, fasa,
dan azimuth pengukuran, yang semuanya
disimpan dalam bentuk file dengan ekstensi *.edi
atau sering disebut EDI file.

2. Fault Direction
Informasi arah struktur geologi (sesar utama)
di daerah penelitian, karena akan berpengaruh
terhadap nilai impedansi yang terukur.

3. Tabel Resistivitas Batuan
Karena tidak ada informasi log resistivity di
daerah penelitian maka peneliti memerlukan tabel
resistivitas batuan yang ditampilkan pada
lampiran. Ini digunakan untuk membantu
penentuan zona cap rock, reservoar, basement dan
heat source pada saat interpretasi penampang
resistivitas semu hasil inversi 2D.
Interpretasi dikontrol dengan informasi
geologi serta hasil penelitian terdahulu seperti
survey magnetotellurik yang dilakukan Pertamina
Geothermal Energy di lapangan panas bumi
Lahendong, Sulawesi Utara yang kebetulan
berdekatan serta memiliki kemiripan sistem
geotermal dengan lapangan panas bumi AAA.
(ditampilkan di lampiran).

Dari semua EDI file yang tersedia. tentukan
stasiun MT mana saja yang akan digabungkan dalam
satu lintasan untuk kemudian digunakan sebagai
parameter awal model inversi 2D. Pada penelitian ini
akan digunakan 30 EDI file (30 stasiun pengukuran
MT) yang terbagi dalam tiga lintasan yaitu :
1. Lintasan Synyster, yang terdiri dari yang
terdiri dari 8 stasiun pengukuran yaitu
MT03, MT08, MT13, MT18, MT23, MT28,
MT33, dan MT37.
2. Lintasan Rev, yang terdiri dari 12 stasiun
pengukuran yaitu MT55 - MT66.
3. Lintasan Shadow, yang terdiri dari 10
stasiun pengukuran yaitu MT90-MT99.

Stasiun-stasiun MT yang telah dijadikan dalam
satu subset (lintasan) kemudian dirotasikan tegak
lurus struktur utama di lapangan (main fault).
Maksudnya adalah untuk mendapatkan nilai Z
xx
dan
Z
yy
(komponen tensor diagonal) bernilai nol atau
minimum, dengan kata lain nilai Z
xy
dan Z
yx

(komponen tensor off-diagonal) akan maksimum.
Karena itu dibutuhkan data informasi geologi
mengenai arah struktur utama.
Sesuai teori, model bumi 2D yang ideal adalah
ketika hubungan antara medan magnetik dan medan
listrik selalu orthogonal, artinya medan listrik yang
sejajar strike hanya akan menginduksi medan magnet
yang tegak lurus strike dan melewati bidang vertikal.
Dan sebaliknya, medan magnet yang sejajar strike
hanya akan menginduksi medan listrik yang tegak
lurus strike dan melewati bidang vertikal.
Ketika merotasi, secara otomatis akan
menggeser kurva rho TE dan rho TM ke atas atau ke
bawah dari posisinya semula (shifting) karena nilai
tensor impedansi akan berubah sesuai respon
elektromagnetik medium dengan heterogenitas
permukaan, vertical contact, dan topografi yang
berbeda dari arah tensor sebelumnya. Kecuali untuk
medium 1D maka nilai rho TE dan rho TM bisa jadi
tetap, karena tidak ada variasi nilai resistivitas
(kontak resistivitas). Shifting sendiri sebenarnya telah
dikoreksi atau diminimalisir pada saat pre-processing
sebelum data disimpan dalam bentuk EDI file.
Proses pemilihan lintasan dilakukan dengan
MATLAB dan rotasinya dilakukan dengan rotate.exe
(script dan program dibuat oleh Imam B. Raharjo,
Manajer Geofisika PT. Pertamina Geothermal
Energy).
Setelah tensor impedansi dirotasi sesuai mode
yang dipilih dan nilai impedansinya didapatkan,
kemudian dilakukan pengeplotan nilai apparent
resistivity (rho) pada kurva rho vs periode atau bisa
juga rho vs frekuensi. Kurva rho yang diplot
merupakan milik subset data TE, data TM, serta
komponen impedansi diagonal yaitu Z
xx
dan Z
yy
.
Sehingga terdapat empat kurva yaitu rho xy (TE), rho
yx (TM), rho xx dan rho yy. Nilai sudut fasa juga
diplotkan dalam kurva fasa. Dari kurva inilah bisa
dilihat perbandingan sebelum dan sesudah tensor
dirotasi, salah satunya adalah fenomena shifting.
Selain itu juga sebagai dasar untuk melakukan
filtering pada tahap selanjutnya.

Ada dua tahap yang dilakukan saat filtering,
yaitu:
1. Frequency Window Selection.
Yaitu pemilihan frekuensi yang tepat sebagai
parameter inversi 2D. Seperti yang dijelaskan
pada dasar teori, bahwa Bumi 1D anisotropik
sama halnya dengan Bumi 2D isotropik. Sehingga
kita harus memilih respon medium 1D untuk
kemudian dijadikan parameter inversi 2D.
Untuk itulah pentingnya dilakukan plotting
parameter. Telah dijelaskan pada bab
sebelumnya, bahwa untuk Bumi 1D nilai Z
xy
dan
Z
yx
adalah sama,, hanya arahnya yang
berlawanan. Sedangkan Z
xx
dan Z
yy
(elemen
tensor impedansi diagonal) haruslah bernilai nol.
Artinya secara tak langsung nilai
xx
dan
yy
juga
harus bernilai nol. Berdasarkan teori tersebut
maka bisa ditentukan batas frekuensi untuk
medium 1D pada kurva rho vs periode yang
dihasilkan dari tahap sebelumnya.

2. Excluding Data Error.
Terkadang dalam beberapa stasiun
pengukuran terdapat satu atau beberapa nilai rho
yang melenceng jauh dari trend kurva, dan dapat
terjadi pada semua frekuensi, sehingga perlu
dihilangkan atau dikeluarkan (exclude) dari data
secara manual. Namun di sini yang diperlukan
adalah menghilangkan data error hanya pada
window yang telah dipilih, karena akan berimbas
pada hasil inversi bila tidak dihilangkan. Dan
perlu diingat yang dihilangkan adalah data
xy

karena peneliti memakai TE mode.
Setelah beberapa data di exclude karena
dianggap error, tentu akan terjadi
ketidakseragaman jumlah data pada tiap stasiun,
alias ada data rho yang hilang pada frekuensi
tertentu. Akibatnya inversi tidak bisa dilakukan
karena parameter pada salah satu frekuensi tidak
lengkap. Maka dari itu program filter.exe
menghilangkan indeks data yang sama pada
semua stasiun MT dalam satu lintasan, meskipun
data yang dihilangkan tersebut bukanlah error.
Tujuannya semata-mata adalah untuk
menyeragamkan jumlah data. Lalu bagaimana
mengganti semua data non-error yang hilang
pada frekuensi tersebut ? Disinalah peran binning.

Metode binning ini pada dasarnya berupaya
mendekatkan nilai rho sebelum dan sesudah indeks
data yang dihilangkan, dengan suatu metode statistika
tertentu yang ada dalam program binfreq.exe. Pada
tahap ini parameter yang telah diproses dapat
langsung diinversi, namun sebelumnya perlu
disiapkan terlebih dahulu mesh 2D sebagai media
untuk membuat model inversi.
Mesh 2D yang disiapkan dalam penelitian ini
berukuran 128 x 25 dengan lintasan maksimum yang
dapat dimodelkan sepanjang 250 km. Nantinya hasil
inversi MT diplotkan ke model dengan finite element
method. Setelah media pemodelan dan parameter
lengkap maka dilakukan inversi dengan metode
conjugate gradient dengan jumlah iterasi maksimal
adalah 10 untuk mendapatkan nilai RMS error yang
paling kecil.

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN
Di bawah ini adalah penampang subsurface di
lintasan Rev sebagai contoh hasil inversi.

Gambar 13.Zonasi reservoar, cap rock, dan
basement rock pada lintasan Rev

Nilai RMS error inversi lintasan Rev pada
iterasi kesepuluh adalah sebesar 3,3 dan tergolong
error yang lumayan tinggi karena masih belum
mendekati nol. Penyebabnya yaitu terdapat artifact
pada elevasi +325 m sampai +750 m. Yaitu nilai rho
tinggi (biru) di atas batas permukaan topografi, yang
kenyataannya adalah medium udara yang tidak
diukur nilai rho nya (tidak terdapat data).
Pada lintasan Rev diinterpretasikan terdapat
reservoar dangkal antara elevasi 100 meter apl
sampai 250 meter bpl, terletak pada jarak 13 17 km.
Reservoar dalam ditemukan pada kedalaman 500
1250 meter bpl, pada jarak 3 7 km. Nilai rho nya
adalah 10 30 Ohm.m (warna kuning). Reservoarnya
kemungkinan adalah batuan vulkanik dengan
permeabilitas sekunder (Gambar 5) karena adanya
efek intrusi magma dan tektonik aktif, yang
menyebabkan terbentuknya zona-zona rekahan, dan
air meteorik masuk ke dalamnya dari permukaan
melewati patahan yang dalam.
Kemudian untuk cap rock reservoar dangkal
berada antara elevasi 325 meter apl sampai mean sea
level (0 meter), pada jarak 13 17 km. Cap rock
milik reservoar dalam berada di elevasi 250 meter apl
hingga kedalaman 500 meter bpl, pada jarak 37 km.
Dengan nilai rho 1-5 Ohm.m (warna merah).
Kemungkinan cap rock nya adalah batu lempung
yang terbentuk karena alterasi tufa batuapung oleh
fluida hidrotermal yang tertransport karena adanya
zona-zona rekahan. Alterasi ini jika terjadi terus
menerus akan menyebabkan terbentuknya mineral
lempung, serta penambahan unsur-unsur sulfida yang
berasal dari air magmatik.
Lokasi basement berada di kedalaman 1-3 km
bpl dan terlihat pada jarak 0 - 4 km dan 13 17 km.
Dengan nilai rho antara 80120 Ohm.m (biru muda).
Basement pada lapangan AAA adalah batuan
sedimen dan vulkanik kompak berumur tersier yang
termetamorf karena panas dan tekan yang tinggi.
Untuk heat source (> 120 Ohm.m) tidak terdeteksi,
besar kemungkinan ia berada di kedalaman > 3 km.

VII. KESIMPULAN
Dari penelitian ini dapat diambil kesimpulan
bahwa :
1. Hasil inversi 2D vertikal pada data
magnetotellurik di lapangan AAA dapat
menzonasi reservoar, cap rock, dan basement
berdasarkan variasi nilai resistivitas semu, dan
data geologi. Untuk heat source tidak dapat
teridentifikasi karena terlalu dalam letaknya.

2. Zona cap rock di lapangan AAA ditandai
dengan warna merah dengan nilai rho 1-5
Ohm.m. Lithologinya kemungkinan besar
adalah andesit teralterasi. Untuk posisi cap rock
dangkal berada antara elevasi 325 meter apl
sampai mean sea level (msl), sedangkan yang
dalam berada antara msl hingga 500 meter bpl.
3. Zona reservoar di lapangan AAA ditandai
dengan warna kuning dengan nilai rho 30 70
Ohm.m. Lithologinya kemungkinan besar
adalah lava terbreksiasi yang memiliki porositas
sekunder yang tinggi sebagai ruang untuk
menampung fluida. Reservoar dangkal berada
antara kedalaman 100 meter apl 500 meter bpl
dan reservoar dalam berada antara 500 1500
meter bpl.

4. Zona basement di lapangan AAA ditandai
dengan warna biru muda dengan nilai rho 80
120 Ohm.m. Lithologinya kemungkinan besar
adalah batuan sedimen dan vulkanik Tersier
yang termetamorf akibat panas dan tekanan
sangat tinggi. Basement berada pada kedalaman
1-3 km bpl.

5. Cap rock dan reservoar dangkal relatif lebih
tipis dari cap rock dan reservoar dalam.

6. Karena keterbatasan teknik inversi maka
kedalaman heat source dengan frekuensi sangat
rendah (3D medium) tidak didapatkan pada
penampang.


PUSTAKA

Apandi, T.& Bachri, S.1997.Peta Geologi Lembar
Kotamobagu, Sulawesi.PPPG:Bandung.

Daud, Y.2010.Bahan Mata Kuliah Metode
Elektromagnetik.Universitas Indonesia:Depok.

Hochstein, M.P., and Browne, P.R.L.2000.Surface
manifestations of geothermal systems with
volcanic heat sources, in Encyclopedia of
Volcanoes, edited by H.Sigurdson, pp. 835-
865.Academic Press: San Diego

Pertamina Geothermal Energy Co.2006.Feasibility
Studies Kotamobagu-North Sulawesi-June
2006.Unpublished Report.

Raharjo, I.B., Wannamaker, P.E., Timisela, D.P., dan
Arumsari, A.F.2008.3D inversion of
magnetotellurik, study of the Lahendong
geothermal field. Progress Research, 33th HAGI
Annual Meeting, Indonesia.

Riogilang, H., Itoi, R., dan Taguchi, S.2010.Recharge
elevation of hot spring study in the Mt.Muayat at
the Kotamobagu geothermal field, North
Sulawesi, Indonesia using the stable isotope O
18

and H
2
. Proceedings, 36
th
Workshop on
Geothermal Reservoir Engineering Stanford
University, Stanford, California.

Riogilang, H., Itoi, R., dan Taguchi, S., Yamashiro,
R.,Yamashita, S., dan Masloman,
H.2009.Geochemical study on hot spring water in
Kotamobagu geothermal field, North Sulawesi,
Indonesia. Proceedings, 36
th
Workshop on
Geothermal Reservoir Engineering Stanford
University, Stanford, California.

Simandjuntak, T., O.1986.Struktur duplek (dwi
unsur) sesar sungkup sesar jurus mendatar di
lengan timur Sulawesi. PIT XV IAGI.

Simpson, F. and Bahr, K.2005.Practical
Magnetotelluric.Cambridge University
Press:United Kingdom.

Todd, D., K.1976.Groundwater Hydrology 2
nd

edition.New York: Jhon Wiley & Sons

Unsworth, M.1999.Magnetotellurics, in McGraw-
Hill 2000 Yeaarbook of Science and
Technology.McGraw-Hill: New York

Unsworth, M.2000.CSAMT exploration at Sellafield:
characterization of a potential radioactive waste
disposal site, 65, 1070-1079, Geophysics.

Villeneuve, M., S.Bachri, C., Rangin, &
H.Bellon.1990.Structural Geology of North
Sulawesi (abstract): paper presented at seminar
on the first progress report of the cooperation
program in the field of geodynamics, mineral and
energy.

Sumber Website:

http://teknologi.kompasiana.com/terapan/2012/07/07/
potensi-geothermal-indonesia-dan-pemanfaatannya-
469720.html
Diunduh: 25 Feburari 2013, jam 23.59

www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0377027
303001975
Diuduh: 11 April 2013, jam 21.05
































LAMPIRAN


Nilai resistivitas semu berbagai material. (Todd, 1976)



Nilai resistivitas batuan yang umum ditemui (After Palacky, 1987)




m
Tabel resistivitas batuan yang umum ditemui
Jenis Batuan/Tanah/Air Tingkat Resistivitas (m)
Clay/lempung 1-100
Silt/lanau 10-200
Marls/batulumpur 3-70
Kuarsa 10-2x10
8

Sandstone/BatuPasir 50-500
Limestone/Batukapur 100-500
lava 100-5x10
4

Air tanah 0,5-300
Air laut 0,2
Breksi 75-200
andesit 100-200
Tufa vulkanik 20-100
konglomerat 2x10
3
-10
4

(Telford, 1990; Astier; 1971, Mori, 1993)




Penampang resistivitas semu hasil pengukuran MT di lapangan panas bumi Lahendong
(Raharjo dkk, 2008)