Anda di halaman 1dari 28

1

BAB I
PENDAHULUAN
Tujuan
Mempelajari proses pengerjaan logam melalui pemotongan dengan menggunakan
mesin perkakas yaitu mesin bubut. Dalam kenyataannya banyak perkakas yang dibuat
menggunakan mesin bubut. Biasanya bahan yang digunakan adalah bahan dalam bentuk
silinder, sehingga memudahkan dalam proses pembubutan. Mesin bubut merupakan salah
satu mesin perkakas yang tertua yang pernah dibuat manusia dan merupakan mesin yang
paling handal dan paling umum digunakan. Disebabkan karena persentase dari meterial yang
dikerjakan dalam proses permesinan adalah berbentuk silinder. Beberapa operasi penting
yang dilakukan dengan mesin bubut adaIah: facing, taper turning, paralel turning, thread
cutting, knurIing, boring, drilling dan reaming.
Mesin bubut umumnya digunakan untuk mengerjakan bagian tersendiri, disesuaikan
dengan spesifikasi yang telah ditentukan. Mesin bubut juga digunakan ketika sejumlah kecil
bagian yang mempunyai kesamaan bentuk diinginkan (in-short-production runs) . Hal ini
merupakan tulang punggung dari suatu bengkel permesinan, karena itu pengetahuan yang
mendalam sangat dibutuhkan untuk semua ahli perrnesinan.
Tujuan praktikum ini adalah :
1. Mengidentifikasi dan mengetahui fungsi dari bagian-bagian utama mesin bubut.
2. Mengidentifikasi dan memahami teknik dasar pengoperasian mesin bubut.
3. Menguji mengetahui parameter-paremeter yang digunakan dalam proses pembubutan
kecepatan potong (v), pemakanan (f), kecepatan putaran (n), sehingga dapat
mengaturya dalam meningkatkan optimasi proses pemotongan.
4. Memahami jenis-jenis pahat potong (tools), pengasahan pahat dan parameter-
parameternya serta dapat mengatur kedalaman potong (t) sesuai kebutuhan.
5. Dapat menghitung dan mengeset secara benar kecepatan potong benda kerja.
6. Dapat menggeser kecepatan makan untuk setiap operasi.
7. Dapat menentukan waktu yang dibutuhkan dan dalam memotong benda kerja.
8. Memahami proses terbentuknya geram (chips formation), ketebalan geram
(underformed and deformed chips), rasio geram (chips ratio) dan bentuk geram.
2

BAB II
TEORI DASAR
MESIN BUBUT
Mesin bubut mencakup segala mesin perkakas yang memproduksi bentuk silindris.
Jenis yang paling tua dan paling umum adalah pembubut (lathe) yang melepas bahan
dengan memutar benda kerja terhadap pemotong mata tunggal. Suku cadang di mesin
harus dapat dipegang diantara kedua pusatnya, dipasangkan pada plat muka didukung
pada pencekam rahang atau dipegang pada pencekam yang ditarik ke dalam atau leher
collet.
Meskipun mesin ini terutama disesuaikan dengan pengerjaan silindris, namun dapat
juga dipakai untuk beberapa kepentingan lain. Permukaan rata dapat dicapai dengan
menyangga benda kerja pada plat muka atau ke dalam pencekam. Benda kerja yang
dipegang dengan cara ini dapat juga diberi pusat, digurdi, dibor atau dilebarkan
lubangnya. Sebagai tambahan, pembubut dapat digunakan untuk membuat kenob,
memotong ulir atau membuat tirus. Pembubut berkepala roda gigi mendapatkan dayanya
pada kepala tetap melalui sabuk V banyak yang dipasang pada motor di bawah. Untuk itu
hanya perlu menggerakkan tuas yang menjulur pada kotak roda gigi. Rakitan kereta
luncur mencakup perletakan majemuk. sadel pahat dan apron. Oleh karena mendukung
dan memandu pahat pemotong, maka harus kaku dan dirancang dengan kecepatan tinggi.
Tersedia dua hantaran tangan untuk memandu pahat pada gerakan arah menyilang. Roda
tangan yang atas atau engkol tangan. mengendalikan gerakan dari perlengkapan majemuk
dan karena perletakannya dilengkapi dengan busur derajat penyetel putaran, maka dapat
ditempatkan dalam berbagai kedudukan sudut untuk membubut tirus pendek. Roda
tangan yang ketiga digunakan untuk menggerakkan kereta luncur di sepanjang landasan,
biasanya untuk menarik kembali ke kedudukan semula setelah ulir pengarah
membawanya sepanjang pemotongan.
Bagian dari kereta luncur yang menjulur di depan dari pembubut disebut apron, yaitu
merupakan dinding ganda dicor yang berisi kendali, roda gigi dan mekanisme lain untuk
menghantar kereta luncur dan peluncur menyilang dengan tangan atau daya. Pada
permukaan apron dipasangkan berbagai tuas kendali dan roda. Pembubutan dilakukan
untuk menghasilkan bagian-bagian yang bundar, benda kerja diputar pada sumbunya di
3

mesin bubut ke arah sudut potong dari pahat potong sehingga akan dihasilkan geram.
Proses ini disebut dengan Turning Operation. Semua benda kerja hasil pembubutan
merupakan bagian-bagian mesin, jig dan fixture, dan cekam. Benda-benda tersebut dibuat
dari bahan yang berbeda-beda tergantung dari kebutuhannya, dan dapat memiliki kualitas
yang tidak sama satu sama lain.
A. Pengelompokan Mesin Bubut
Pembagian mesin bubut berdasarkan kemampuan pegerjaan dikelompokkan menjadi lima
kelompok besar yaitu:
a. Mesin Bubut Ringan
Mesin ini bentuknya kecil dan sederhana, digunakan untuk mengerjakan benda-benda
yang kecil pula. Biasanya diletakkan di meja kerja
Contoh : Mesin Bubut Simonet
b. Mesin Bubut Revolver
Mesin ini khusus untuk memproduksi benda kerja yang ukurannya sama dan dalam
jumlah yang banyak atau untuk pengerjaan awal.
Contoh : Mesin Bubut Kapstan
c. Mesin Bubut Sedang
Konstruksi mesin bubut ini lebih cermat dan dilengkapi dengan penggabungan
perlengkapan yang khusus. Mesin ini digunakan untuk pengerjaan yang
membutuhkan ketelitian tinggi.
d. Mesin Bubut Standart
Mesin ini mempunyai power yang lebih besar dan digunakan untuk pengerjaan
pembubutan yang memerlukan ketelitian tinggi dengan benda kerja yang cukup besar.
Contoh: Cholcester Master dan Kerry.
e. Mesin Bubut Beralas Panjang
Mesin bubut ini termasuk mesin bubut industri berat yang banyak digunakan pada
benda kerja yang besar dan panjang. Misalnya poros-poros kapal dan poros transmisi.

B. Gerakan-Gerakan Dalam Membubut
Dalam pengerjaan mesin bubut dikenal beberapa prinsip gerakan yaitu:
4

a. Gerakan berputar benda kerja pada sumbunya disebut "cutting motion, main motion",
artinya putaran utama. Dan cutting speed atau kecepatan potong mempakan gerakan
untuk mengurangi benda kerja dengan pahat.
b. Pahat yang bergerak maju secara teratur, akan menghasilkan "chip" (geram, serpih,
tatal). Gerakan tadi disebut "feed motion".
c. Bila pahat dipasang dengan dalam pemotongan ("depth of cutting"), pahat dimajukan
ke arah melintang sampai kedalaman pemotongan yang dikehendaki. Gerakan ini
disebut "adjusting motion".

C. Peralatan Dan Mesin Yang Digunakan
Bagian-bagian mesin bubut :
a. Kepala tetap (head stock)
digunakan untuk kedudukan cekam, bisa juga untuk perlengkapan-perlengkapan lain
misalnya centre tetap (dead centre), face plate, colet dan lain-lain.
b. Kepala lepas (tail stock)
digunakan untuk menempatkan centre jalan (live centre), untuk menyangga benda
kerja yang panjang, untuk kedudukan chuck bor (drill chuck), untuk kedudukan
reamer, bisa juga untuk proses pembuatan tirus.
c. Eretan atas
digunakan untuk kedudukan "tool holder", bisa juga untuk proses pembuatan tirus.
d. Eretan lintang (cross slide)
berfungsi untuk proses pemotongan melintang, baik untuk pernotongan benda kerja
maupun proses facing (transfersal turning).
e. Eretan memanjang
berfungsi untuk penyayatan memanjang (longitudinal turning).
f. Bed mesin
berfungsi untuk tempat kedudukan pembawa (carried).
g. Sumbu pengatur jarak kisar (lead screw)
berfungsi untuk proses pembuatan ulir (threading turning).
h. Sumbu pengatur gerak maju pemotongan (feed shaft)
berfungsi untuk menggerakan pahat secara otomatis baik memanjang maupun
melintang.

5

Pahat bubut digunakan untuk mengurangi benda kerja. Pahat ini terbuat dari
unalloyed tool steel, alloy tool steel, cemented carbide, diamond tips, ceramic cutting
material. Umumnya tergantung dari jenis bahan dasar pahat, bentuk sisi potong, dan
pengasahannya.
a. Sifat-sifat dasar pahat bubut
(1) Keras
(2) Ulet
(3) Tahan Panas
(4) Tahan Lama
b. Macam macam pahat bubut
Untuk setiap jenis pengerjaan diperlukan pahat yang tepat. Oleh sebab itu harus
dipilih pahat roughing, finishing, boring, thread cutting, dan sebagainya. Kebanyakan
pahat bubut sudah distandarisasikan.
(1) Pahat roughing (roughing tool)
Selama pengerjaan kasar, pahat harus memotong benda dalam waktu sesingkat
mungkin. Oleh sebab itu pahat ini harus dibuat kuat. Bentuknya dapat lurus atau
bengkok.
(2) Pahat finishing (finishing tool)
Permukaan yang halus dari benda kerja akan diperoleh jika menggunakan pahat
finishing. Untuk keperluan ini dipergunakan pahat finishing titik dengan sisi
potong bulat dan pahat finishing datar dengan sisi potong rata. Setelah digerinda,
sisi potong pahat finishing harus digosok dengan oil stone secara hati-hati, kalau
tidak permukaan benda kerja tidak akan halus.
c. Perawatan pahat bubut
Pahat bubut harus disimpan sedemikian rupa sehingga sisi potongnya tidak mudah
rusak. Sisi potong yang tumpul menyebabkan getaran yang besar, sehingga
menyebabkan panas dan permukaan yang kasar. Oleh sebab itu janganlah menunggu
sampai sisi potong tumpul.
d. Cara memasang pahat bubut
Selama pengerjaan, pahat ditekan oleh tenaga potong (cutting force). Besarnya
tenaga ini tergantung dari besarnya benda kerja dan ukuran penampang chip. Dengan
memasang pahat pada baut pengunci (clamping bolt), terjadilah getaran yang kuat di
antara permukaan penyangga pahat dengan penjepit pahat. Getaran tersebut
menyebabkan pahat bergerak. Untuk menghindari bergesernya pahat selama
6

pengerjaan, pahat harus dipegang dengan kuat dan aman. Untuk pemasangan pahat
dapat digunakan pelat-pelat tipis sebagai "ganjal".
Alat ukur digunakan untuk mengukur benda kerja yang akan dikerjakan. Alat ukur
yang tersedia antata lain:
(1) Vernier Caliper
(2) Mikrometer
(3) Rollmeter

D. Kecepatan Potong
Untuk menentukan kecepatan potong, hal-hal berikut ini harus diperhatikan:
a. Bahan dasar dari benda kerja
b. Bahan dan pahat
c. Penampang dari chip
d. Pendingin
e. Macam mesin bubut
Benda kerja yang besar biasanya sukar dipegang, maka harus digunakan kecepatan
potong yang sesuai. Jenis pengerjaannya pun harus dipertimbangkan.
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal yang maksimal dalam proses pengerjaan benda
kerja ada beberapa hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan pengoperasiannya.
Yang harus diperhatiakan adalah mencari kecepatan potong trelebih dahulu. Disesuaikan
sesuai dengan jenis material yang digunakan yaitu dengan cara :
V = D N (m/mnt)
Keterangan;
V = Kecepatan potong bahan ( m/ mnt)
N = Putaran benda kerja ( rpm)
D = Dimensi benda kerja ( mm )
N = V . 1000 ( rpm ) .D
mencari waktu proses ;
Tm = L ( menit ) S . N
Keterangan :
Tm = waktu proses
L = panjang benda kerja
S = gerak kerja
N = putaran
7

E. Alat dan Bahan
a. Stopwach
b. Kaliper
c. Center drill
d. Kunci pahat
e. Kacamata
f. Sikat
g. Snei
h. kuas

F. Cara Kerja
a. Menyiapkan lembar kerja
b. Mengukur diameter awal benda kerja dengan menggunakan kaliper
c. Membubut ulir
Pada waktu membubut ulir, pahat digerakkan dari kanan ke kiri dan sebaliknya. Pada
waktu bergerak ke kiri pahat meakukan pemotongan, sedangkan pada saat kembali
tidak melakukan pemotongan
d. Membubut profit
Dipergunakan pahat khusus untuk membuat profile dengan gerakan pahat tegak lurus
sumbu putar dari benda kerja

G. Peralatan dan Mesin yang Digunakan
Bagian-bagian mesin bubut :
a. Kepala tetap (head stock)
Digunakan untuk kedudukan cekam, bisa juga untuk pedengkapan-pedengkapan lain
misa1nya centre tetap (dead centre),face plate, coletdan lain-lain
b. Kepala lepas (tail stock)
Digunakan untuk menempatkan centre jalan (live centre), untuk menyangga benda
kerja yang panjang, untuk kedudukan chuck bor (drill chuck), untuk kedudukan
reamer, bisa juga untuk proses pembuatan tirus
c. Eretan atas
Digunakan untuk kedudukan "tool holder", bisa juga untuk proses pembuatan tirus
d. Eretan lintang (cross slide)
8

Berfungsi untuk proses pemotongan melintang, baik untuk pemotongan benda kerja
maupun proses facing (transfersal turning)
e. Eretan memanjang
Berfungsi untuk penyayatan memanjang (longitudinal turning)
f. Bed mesin
Berfungsi untuk tempat kedudukan pembawa (carried)
g. Sumbu pengatur jarak kisar (lead screw)
Berfungsi untuk proses pembuatan ulir (threading turning).
h. Sumbu pengatur gerak maju pemotongan (feed shaft)
Berfungsi untuk menggerakan pahat secara otomatis baik memanjang maupun
melintang
Pahat bubut digunakan untuk mengurangi benda kerja. Pahat ini terbuat dari
unalloyed tool steel, alloy tool steel, cemented carbide, diamond tips, ceramic cutting
material. Umumya tergantung dari jenis bahan dasar pahat, bentuk sisi potong, dan
pengasahannya.

9

MESIN MILLING

Pengerjaan logam dalam dunia manufacturing ada beberapa macam, mulai dari
pengerjaan panas, pengerjaan dingin hingga pengerjaan logam secara mekanis.
Pengerjaan mekanis logam biasanya digunakan untuk pengerjaan lanjutan maupun
pengerjaan finishing, sehingga dalam pengerjaan mekanis dikenal beberapa prinsip
pengerjaan, salah satunya adalah pengerjaan perataan permukaan dengan menggunakan
mesin Frais atau biasa juga disebut mesin milling. Mesin milling adalah mesin yang
paling mampu melakukan banyak tugas bila dibandingkan dengan mesin perkakas yang
lain. Hal ini disebabkan karena selain mampu meratakan permukaan datar maupun
berlekuk dengan penyelesaian dan ketelitian istimewa, juga berguna untuk menghaluskan
atau meratakan benda kerja sesuai dengan dimensi yang dikehendaki.
Mesin milling dapat menghasilkan permukaan bidang rata yang cukup halus, tetapi
proses ini membutuhkan pelumas berupa oli yang berguna untuk pendingin mata milling
agar tidak cepat aus.
Proses milling adalah proses yang menghasilkan chips (geram). Milling menghasilkan
pennukaan yang datar atau berbentuk profit pada ukuran yang ditentukan dan kehalusan
atau kualitas permukaan yang ditentukan.

A. Prinsip Kerja Mesin Milling
Tenaga untuk pemotongan berasal dari energi listrik yang diubah menjadi gerak
utama oleh sebuah motor listrik, selanjutnya gerakan utama tersebut akan diteruskan
melalui suatu transmisi untuk menghasilkan gerakan putar pada spindel mesin milling.
Spindel mesin milling adalah bagian dari sistem utama mesin milling yang bertugas
untuk memegang dan memutar cutter hingga menghasilkan putaran atau gerakan
pemotongan.
Gerakan pemotongan pada cutter jika dikenakan pada benda kerja yang telah dicekam
maka akan terjadi gesekan / tabrakan sehingga akan menghasilkan pemotongan pada
bagian benda kerja, hal ini dapat terjadi karena material penyusun cutter mempunyai
kekerasan diatas kekerasan benda kerja.

B. Jenis-Jenis Mesin Milling
10

Pengggolongan mesin milling menurut jenis penamaanya disesuaikan dengan posisi
spindle utamanya dan fungsi pembuatan produknya, ada beberapa jenis mesin milling
dalam dunia manufacturing antara lain :
1. Mesin Milling Horizontal
Mesin milling jenis ini mempunyai pemasangan spindel dengan arah horizontal dan
digunakan untuk melakukan pemotongan benda kerja dengan arah mendatar
2. Mesin Milling Vertikal
Kebalikan dengan mesin milling horizontal, pada mesin milling ini pemasangan
spindelnya pada kepala mesin adalah vertical, pada mesin milling jenis ini ada
beberapa macam menurut tipe kepalanya, ada tipe kepala tetap, tipe kepala yang
dapat dimiringkan dan tipe kepala bergerak. Kornbinasi dari dua tipe kepala ini dapat
digunakan untuk membuat variasi pengerjaan pengefraisan dengan sudut tertentu.
3. Mesin Milling Universal
Mesin milling ini mempunyai fungsi bermacam-macam sesuai dengan prinsipnya,
seperti :
a. Frais rnuka
b. Frais spiral
c. Frais datar
d. Pemotongan roda gigi
e. Pengeboran
f. Reaming
g. Boring
h. Pembuatan celah
4. Plano Milling
Untuk benda kerja yang besar dan berat
5. Surface Milling
Untuk produksi massal, kepala spindel dan cutter dinaik turunkan
6. Tread Milling
Untuk pembuatan ulir
7. Gear Milling
Untuk pembuatan roda gigi
8. Copy Milling
Untuk pembuatan benda kerja yang mempunyai bentuk tidak beraturan

11

C. Gerakan Dalam Mesin Milling
Pekerjaan dengan mesin milling harus selalu mempunyai 3 gerakan kerja.
1. Gerakan Pemotongan
Sisi potong cutter yang dibuat berbentuk bulat dan berputar dengan pusat sumbu
utama.
2. Gerakan Pemakanan
Benda kerja digerakkan sepanjang ukuran yang akan dipotong dan digerakkan
mendatar searah gerakan yang dipunyai oleh alas.
3. Gerakan Penyetelan
Gerakan untuk mengatur posisi pemakanan, kedalaman pemakanan, dan
pengembalian, untuk memungkinkan benda kerja masuk ke dalam sisi potong cutter,
gerakan ini dapat juga disebut gerakan pengikatan

D. Bagian Utama Mesin Milling
Bagian utama mesin milling meliputi beberapa bagian seperti di belakang
Cutter
Type Cutter
Cutter pada mesin milling mempunyai bentuk silindris, berputar pada sumbunya dan
dilengkapi dengan gigi melingkar yang melingkar. Keuntungan cutter dibanding
dengan pahat bubut dan pahat ketam adalah setiap sisi potong dari plsau frais
mengenai benda kerja dalam waktu yang pendek pada proses pemotongan selama l
putaran pisau frais dan pendinginnya pada waktu sisi potong mengenai benda kerja,
maka hasilnya cutter frais akan tahan lebih lama. Cutter biasanya terbuat HSS
maupun Carbide Tripped. Gigi cutter ada yang lurus maupun ada yang mempunyai
sudut, untuk yang bersudut (helix angle) dapat mengarah ke kanan dan ke kiri.
Ada beberapa jenis cutter seperti misalnya :
a. Plain Mill Cutter
Digunakan untuk pengefraisan horizontal dari permukaan datar
b. Shell End Mill Cutter
Pemotongan dengan menggunakan sisi muka, digunakan untuk pengefraisan dua
permukaan yang tegak lurus. Pada cutter ini panjangnya lebih besar dari diametemya
dan hal yang harns diingat adalah tidak boleh memasang cutter ini terbalik.
c. Face Mill Cutter
12

Digunakan untuk pengefraisan ringan (pemakanan kecil). Pisau ini pendek dan
mempunyai sisi potong pada bagian yang melingkar dan bagian sisi mukanya, seperti
shell mill cutter. Dalam jenis ini ada yang disebut Carbide Tipped. Face mill cutter,
keistimewaan pisau ini adalah tentang kemudahan penggantian sisi potongnya.
d. End Mill Cutter

E. Pengerjaan Pada Mesin Milling
(1) Pengefraisan Sisi, adalah pengefraisan dimana pisau sejajar dengan permukaan
benda kerja
(2) Pegefraisan Muka, adalah pengefraisan dimana sumbu pisau tegak lurus dengan
permukaan benda kerja

F. Metode Pengefraisan
a. Climb Mill
Merupakan cara pengefraisan dimana putaran cutter searah dengan gerakan benda
kerja. Gaya potong menarik benda kerja ke dalam cutter sehingga faktor
kerusakan pahat akan lebih besar. Hanya mesin yang mempunyai alat pengukur
keregangan diperbolehkan memakai metode pemotongan ini.
b. Conventional Milling
Merupakan pengefraisan dimana putaran cutter rberlawanan arah dengan gerakan
benda kerja, pemotongan ini dimulai dengan geram yang tipis dan metode ini
digunakan untuk semua jenis mesin frais

G. Alat dan Bahan
a. Milling machine (mesin frais)
b. Jangka sorong / caliper
c. Pahat alas
d. Kuas
e. Coolant (pendingin)
f. Palu plastik
g. Stopwatch
h. Mistar siku
i. Kikir
j. Kunci tanggem
13

H. Cara Kerja
1. Mempersiapkan semua peralatan yang dibutuhkan dan benda kerja .
2. Menggukur benda kerja dengan menggunakan kaliper dan menghaluskan sedikit
permukaan dengan menggunakan kikir
3. Mengatur putaran spindel yang sesuai untuk jenis benda kerja
4. Menempatkan benda kerja yang akan di frais pada meja kerja
5. Mencari titik permukaan / titik nol dan kemudian pemakanan untuk masing-
masing sisi. Saat pemakanan dilakukan, mata pahat dan benda kerja diberi
pendingin, sehingga benda kerja tidak mengeluarkan asap (benda kerja panas)
6. Mengatur ketebalan pemakanan
7. Mencatat waktu yang diperlukan untuk satu kali pemakanan
8. Mencatat keadaan akhir benda kerja
14

BAB III
METODE PRAKTIKUM
MATERIAL
Untuk praktikum kali ini material yang digunakan adalah jenis besi biasa yang sering
disebut juga SS400. Dengan ukuran awal 120 mm dan diameter 25 mm





Diameter = 25 mm
Panjang = 120 mm



15

GAMBAR RENCANA KERJA

16

Proses pembuatan yang harus dilalui untuk benda kerja ini adalah dengan menggunakan dua
mesin yang berbeda. Yaitu proses pertama dilakukan dengan menggunakan mesin bubut
dimana pada mesin bubut ini menyelesaikan beberapa tahapan yaitu:
1. Pemotongan panjang dari 120 mm menjadi 110.5 mm
2. Pengikisan dimensi diameter dari 25 mm menjadi 20 mm sepanjang 52.5 mm
3. Pengikisan dimensi diameter dari 25 mm menjadi 14 mm sepanjang 58 mm
4. Pembuatan tirus luar dengan diameter 15 mm dan tirus dalam
5. Pembuatan ulir M16 x 2 pada diameter 14 sepanjang 58 mm
6. Proses yang dilakukan pada mesin miling adalah pembuatan hexagon (segi enam)
selebar 17 mm

MESIN BUBUT
1. Atur mata pahat yang akan digunakan mata titik tengah, atur sehingga mata pahat
benar-benar berada di tengah benda kerja
2. Putar mesin berlawan arah jarum jam
3. Atur spindle dibagian belakang mesin bubut dan sesuaikan putaran RPM-nya
4. Gunakan spindle otomatis sampai batas panjang yang diinginkan
5. Untuk pengukuran otomatis gunakan spindle otomatis. Dan pahat akan berjalan
otomatis sesuai dengan setting yang telah dilakukan
6. setiap berapa kali proses pemakanan harus dilakukan pengecekan dengan
menggunakan sigmat atau caliper
7. Setelah yang didapat yaitu panjang= 58 mm dan diameter 14 mm balik posisi benda
kerja keujung yang lain untuk mendapatkan benda tirus
8. Untuk membuat benda tirus harus menggunakan rumus
tg =



keterangan ;
D = Diameter besar
d = diameter kecil
L = panjang benda kerja yang akan dibuat tirus


17


MESIN MILLING
Gunakan mesin milling atau frais pada pada proses selanjutnya yaitu pembuatan Hexagon
dimana cara yang dilakukan adalah:
1. Mulai melakukan proses pemakanan
2. setelah satu sesi selesai lalu lakukan sesi selanjutnya
3. lakukan seperti pada tahapan no 1
4. lakukan proses pemakanan sepanjang pisau potong atau sekitar 17 mm

18

BAB IV
HASIL PEMBUATAN DAN PEMBAHASAN
1. BUAT SILINDER
Dari hasil yang diperoleh melalui praktikum didapat ukuran yang bervariasi disetiap
titiknya yaitu:
DIAMETER TITIK UKURAN (mm) Rata-Rata (mm)
A 20
B 20.1
C 20.15
A 15
B 15.2
C 15.15
20 mm
15 mm
20.08333333
15.11666667
Panjang total dari hasil silinder adalah 110.5 mm

2. BUBUT TIRUS
Dari perhitungan yang didapat yaitu dengan menggunakan rumus tg =



Setelah dilakukan proses pemakaman didapat data sebagai berikut
Diameter kecil yang didapat adalah sebesar:
TITIK UKURAN (mm) Rata-Rata (mm)
A 15
B 15.2
C 15.15
D 15.1
15.1125








19

Pembuatan HEXAGON
Pada proses pembuatan hexagon gunakan mesin frais atau mesin rnilling, sebelum
menyalakan mesin setting terlebih dahulu kepala pembagi dan dari hasil yang didapat
adalah beberapa ukuran yang tidak simetris. Kemungkinan terjadi karena beberapa faktor
diantaranya adalah :
1. mesin yang tidak standar lagi
2. kelalaian operator
3. Benda kerja yang goyang
4. Benda kerja yang memang karena pemotongan awal menjadi oval karena panas dan
lain-Iainnya
Hasil pengukuran didapat sebagai berikut:
TITIK UKURAN p x l x t (mm)
1 17 x 6.80 x 1.45
2 17 x 5.75 x 1.20
3 17 x 4.50 x 0.85
4 17 x 3.20 x 0.30
5 17 x 3.25 x 0.10
6 17 x 2.30 x 0.00


20

ANALISA

Pada saat penulis melaksanakan praktikum mesin bubut banyak terdapat kesulitan dan
kesalahan yang penulis alami diantaranya :
1. Benda kerja yang dibubut sering tidak rata.
2. Pada saat benda kerja berputar pada pencekam benda kerja mengalami putaran yang
tidak senter
3. Pada saat pembuatan tirus hasil permukaan benda kerja yang dihasilkan kasar dan
tidak rata
4. Ujung benda kerja dengan ujung benda kerja yang lain sering mengalami perbedaan
diameter pada saat melakukan pembubutan dengan menggunakan eretan atas

Untuk mengatasi permasalahan di atas dapat diatasi dengan cara :
1. Pada ujung pahat ternyata masih runcing, dan penulis membuat radius pada ujung
pahat tersebut
2. Ketiga pengunci cekam harus dikunci kuat dengan menggunakan kunci chuck.
3. Untuk pembuatan tirus mata pahat yang digunakan harus berbentuk radius sesuai
dengan ukuran radius mata pahat.dan sudut eretan atas adalah 6 derajat.
4. Untuk menjalankan eretan atas, sudutnya haruslah dalam keadaan nol derajat
21

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Las listrik adalah salah satu cara menyambung logam dengan jalan menggunakan
nyala busur listrik yang diarahkan ke permukaan logam yang akan disambung. Pada
bagian yang terkena busur listrik tersebut akan mencair, demikian juga elektroda yang
menghasilkan busur listrik akan mencair pada ujungnya dan merambat terus sampai
habis.

Tujuan
Tujuan praktek las listrik adalah:
1. Memenuhi salah satu tugas laporan pabrikasi logam
2. Siswa dapat mengetahui cara menggunakan las listrik secara benar
3. Siswa dapat mengetahui keselamatan kerjanya
4. Mengetahui teknik dasar bagaimana mengelas dengan baik
5. Menyambung besi dengan menggunakan las listrik
22

BAB II
DASAR TEORI
LAS
Definisi Las
Definisi las adalah suatu proses penyambungan plat atau logam menjadi satu akibat panas
dengan atau tanpa tekanan. Yaitu dengan cara logam yang akan disambung dipanaskan
terlebih dahulu hinga meleleh, kemudian baru disambung dengan bantuan perekat (filler).
Selain itu las juga bisa didefinisikan sebagai ikatan metalurgi yang timbul akibat adanya gaya
tarik antara atom. Bedasarkan pelaksanaannya las dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
Pengelasan Cair
Dimana logam induk dan bahan tambahan dipanaskan hingga mencair, kemudian
membiarkan keduanya membeku sehingga membentuk sambungan.
Pengelasan Tekan
yaitu dimana kedua logam yang disambung, dipanaskan hingga meleleh, lalu keduanya
ditekan hingga menyambung adapun pengelasan tekan itu sendiri dibagi menjadi :
Pengelasan tempa merupakan proses pengelasan yang diawali dengan proses pemanasan pada
logam yang diteruskan dengan penempaan (tekan) sehingga terjadi penyambungan logam.
Jenis logam yang cocok pada proses ini adalah baja karbon rendah dan besi, karena memiliki
daerah suhu pengelasan yang besar.
Pengelasan tahanan Proses ini meliputi : Las proyeksi Merupakan proses pengelasan yang
hasil pengelasannya sangat dipengaruhi oleh distribusi arus dan tekanan yang tepat.
Prosesnya yaitu pelat yang akan disambung dijepit.

23

BAB III
METODE PRAKTIKUM
MEMBUAT TEMPAT POT BUNGA

24

MATERIAL
A. Material yang digunakan adalah besi yang di potong menjadi beberapa bagian.
1. Panjang 150 cm sebanyak 1 buah untuk tiang
2. Panjang 30 cm sebanyak 6 buah untuk kaki
3. Panjang 94.2 cm sebanyak 4 buah untuk lingkaran
4. Panjang 30 cm sebanyak 4 buah untuk penyangga lingkaran
B. Benda yang harus diselesaikan adalah :
1. Bentuk lingkaran : Besi dengan panjang 94.2 cm di lengkungkan menggunakan
palu besi dan di jepit oleh ragum hingga berbentuk lingkaran dan berdiameter 15
cm sebanyak 4 buah.
2. Tiang dengan kaki menggunakan besi sepanjang 150 cm sebagai tiang dan besi
sepanjang 30 cm sebanyak 6 buah sebagai kaki penyangganya di bentuk segitiga
sama sisi dengan sudut yang sama.
C. Mesin dan alat-alat yang di gunakan
1. Las Listrik : Top 160 Melzer Italy dengan menggunakan 140 Ampere
2. Electroda RD 26
3. Palu besi
4. Ragum
5. Water pas
6. Gerinda
D. Alat Pengaman dalam mengelas
1. Sarung Tangan
2. Kacamata / Topeng

25

LANGKAH KERJA
1. Siapkan peralatan las.
2. Catat data mengenai pengelasan.
3. Siapkan elektroda dan bahan yang akan di las.
4. Penyalaan busur listrik
5. Gunakan semua peralatan keselamatan kerja
6. Pasanglah elektroda pada pemegang elektroda (holder).
7. Hidupkan mesin las dengan pemutar saklar ke angka voltage yang diinginkan.
8. Lihat berapa besar arus pada jarum penunjuk arus. Putar ke kiri jika ingin
memperkecilkan arus dan putar ke kanan jika ingin memeperbesar arus.
9. Lakukaniah percobaan mengelas. Lihat gambar rencana kerja.
10. Bila ada kesulitan, bertanyalah pada asisten atau instruktur.
11. Bila lampu indikator pada mesin las menyala, hentikan mengelas. Hal ini menyatakan
bahwa mesin las sudah terlampau panas.
12. Jika iampu indikator sudah tidak menyala (padam), proses pengelasan
13. Jika berhenti mengelas, pindahkan saklar ke posisi nol atau netral

DATA PENGELASAN
Pengelasan yang di gunakan menggunakan las. listrik. Dengan elektroda welding berkode
RD-26 ukuran 2,6 x 350 digunakan daya sebesar 20A -160A. Dengan rata-rata las plot 120A.
Las listrik ini menggunakan arus AC berkekuatan 220V

ANALISA
Las listrik adalah las yang sangat bergantung dengan arus listrik yang besar. Jika arus yang di
gunakan lebih rendah maka hasil akan tidak maksimal, begitu juga jika terlalu tinggi maka
hasil las tidak bisa maksimal. Oleh karena itu las listrik harus di atur daya yang akan
digunakan yaitu menggunakan daya sebesar 20A-160A.


26

GAMBAR RENCANA KERJA
27

BAB IV
KESIMPULAN
Dari hasil praktikum proses produksi mesin bubut dan mesin frais didapat data
sebagai berikut:
1. ukuran yang proses silinder didapat berbagai macam variasi disetiap titik
2. Panjang total yang diperoleh 110.5 mm
3. Hasil diameter kecil yang diperoleh ukuran rata-rata sebesar 15mm
4. Proses pembuatan Hexagon mempunyai nilai yang bervariasi
5. Penyetelan mata pahat dengan sudut yang benar akan memperlama tumpuan
pahat atau mata pisau potong
6. Proses pemakanan pembuatan ulir dilakukan dan menempatkan ulir dengan sudut
30 derajat
7. Mengetahui jenis-jenis mesin frais yang banyak digunakan dalam industry dan
penggunaannya
8. Mengetahui bagian utama dari mesin frais horizontal secara umum
9. Mengetahui maksud dan kegunaan dan bagian-bagian operasional dari mesin frais
10. Mengetahui maksud dan kegunaan dari berbagai macam alat tambah yang
digunakan dalam mesin frais
11. Mengetahui teknik dasar pengoperasian mesin frais
12. Mengetahui penyetelan dan penentuan variabel pemotongan seperti kecepatan
potong, pemakanan, kecepatan putaran, kedalaman potong, jenis dan jumlah
geram yang dihasilkan
Dari hasil praktikum proses produksi las listrik didapat data sebagai berikut:
Las listrik adalah las yang sangat bergantung dengan arus listrik yang besar. Jika arus yang di
gunakan lebih rendah maka hasil akan tidak maksimal, begitu juga jika terlalu tinggi maka
hasil las tidak bisa maksimal. Oleh karena itu las listrik harus di atur daya yang akan
digunakan yaitu menggunakan daya sebesar 20A-160A.

28

KUMPULAN FOTO - FOTO
MESIN BUBUT

MESIN FRAIS LAS LISTRIK