Anda di halaman 1dari 12

Lilis Hasibuan

Lilis Fransiska Hasibuan


Skip to content
mambuat larutan standard kimia dasar
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Judul Percobaan : Membuat Larutan Standar
1.2 Tanggal Praktikum : 04 Mei 2013
1.3 Tujuan Percobaan : Untuk membuat larutan standar dengan konsentrasi Normalitas














BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian
Larutan adalah campuran homogen. Disebut campuran karena susunannya dapat diubah-
ubah, dan disebut homogen karena komponen-komponen penyusunnya telah kehilangan sifat
fisiknya dan susunannya sangat seragam sehinnga tidak dapat diamati bagian-bagian
penyusunnya dengan mikroskop sekalipun. Didalam suatu campuran terdapat molekul-molekul,
atom-atom atau ion-ion dari dua zat atau lebih. (Benny karyadi 1994).
Larutan baku ( Larutan standar ) adalah larutan yang konsentrasinya sudah diketahui.
Larutan baku biasanya berfungsi sebagai titran sehingga ditempatkan dalam buret, yang
sekaligus berfungsi sebagai alat ukur volume larutan baku. Adapun larutan baku dibagi menjadi :
1. Larutan Baku Primer
Larutan yang mengandung zat padat murni yang konsentrasinya diketahui secara cepat melalui
metode Gravimetri ( Perhitungan Massa). Dapat digunakan untuk menetapkan konsentrasi
larutan lain yang belum diketahui. Nilai konsentrasi dihitung melalui perumusan sederhana,
setelah dilakukan dalam volume tertentu.
Syarat-syarat larutan baku primer :
Zat harus mudah diperoleh, dimurnikan, dikeringkan ( jika mungkin pada suhu 110-120
C ) dan disimpan dalam keadaan murni.
Zat harus tidak berubah berat dalam penimbangan diudara ; kondisi ini menunnjukkan
bahwa zat tidak boleh higroskopik. Tak pula dioksidasi oleh udara atau dipengaruhi
karbondioksida.
Zat tersebut dapat diuji pengotornya dengan uji-uji kualitatif dan kepekaan tertentu.
Zat tersebut sedapat mungkin mempunyai massa relatif dan massa ekuivalen yang besar.
Zat tersebut harus mudah larut dalam pelarut yang dipilih.
Reaksi yang berlangsung dengan pereaksi harus bersifat stoikiometrik dan langsung.

1. Larutan Baku Sekunder
Larutan suatu zat yang konsentrasinya tidak dapat diketahui dengan tepat karena berasal dari zat
yang tidak pernah murni. Konsentrasi larutan ini ditentukan dengan pembakuan menggunakan
larutan baku primer, biasanya melalui metode titrimetri.
Syarat-syarat larutan baku sekunder :
Derajat kemurnian lebih rendah darpiada larutan baku primer.
Mempunyai berat ekivalen yang tinggi untuk memperkecil kesalahan penimbangan.
Larutannya relatif stabil dalam penyimpanan.
2.2 Komponen larutan
Ada dua komponen yang penting dalam suatu larutan yaitu pelarut dan zat yang
dilarutkan dalam pelarut tersebut. Zat yang dialrutkan itu disebut zat terlarut. Apbila dua atau
lebih komponen dicampurkan dan membentuk campuran homogen, larutan yang dihasilkan
dapat berfasa gas, cair, atau padat. Karena itu biasa disebut larutan gas, larutan cair, dan larutan.
Larutan ada yang jenuh, tidak jenuh, dan lewat jenuh. Larutan disebut jenuh pada
temperatur tertentu, bila larutan tidak dapat melarutkan lebih banyak zat terlarut. Bila jumlah zat
terlarut kurang dari ini, disebut larutan tidak jenuh dan bila lebih disebut lewat jenuh. Zat yang
dapat membentuk larutan lewat jenuh, misalnya Natrium Tiosulfat. ( Sukardjo 1997 ).

2.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi daya larut
Daya larut suatu zat dalam zat lain, dipengaruhi oleh :
Jenis zat pelarut
Jenis zat terlarut
Temperatur dan,
Tekanan
Zat-zat dengan struktur kimia yang mirip, umumnya dapat saling bercampur baik, sedang yang
tidak biasanya sukar bercampur ( Like Disolves Like ). Air dan alkohol bercampur sempurna (
completely miscible ), air dan eter bercampur sebagian ( partially miscible ), sedang air dan
minyak sama sekali tidak bercampur ( completely immiscible ).
Pengaruh temperatur tergantung dari panas pelarutan. Bila panas pelarutan ( H ) negatif, daya
larut turun dengan naiknya temperatur.
Bila panas pelarutan (H ) positif daya larut naik dengan naiknya temperatur. Tekanan tidak
begitu berpengaruh terhadap daya larut zat padat dan cair, tetapi berpengaruh pada daya larut
gas.
2.4 Konsentrasi Larutan
Konsentrasi larutan menyatakan banyaknya zat terlarut dalam suatu larutan. Apabila zat terlarut
banyak sekali sedangkan pelarutnya sedikit maka dikatakan bahwa larutan itu pekat atau
konsentrasinya sangat tinggi. Sebaliknya, apbila pelarutnya sangat banyak, maka dikatakan
bahwa larutan itu encer atau konsentrasinya sangat rendah.
Konsentrasi larutan dapat dinyatakan dengan beberapa cara yaitu :

Persen volume
Menyatakan jumlah liter zat terlarut dalam 100 liter larutan. Misalnya : alkohol 76 %. Berarti
dalam 100 liter larutan alkohol terdapat 76 liter alkohol murni.
Pesen berat / Persen Massa
Persen massa menyatakan jumlah gram zat terlarut dalam 100 gram larutan.Misalnya : sirop
merupakan larutan gula 80%. Artinya dalam 100 gram sirop terdapat 80 gram gula.
Molaritas
Molaritas disingkat dengan M menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam ! liter larutan. Misalnya
: NaCl 0.1 M, berarti dalam 1 liter larutan terdapat 0.1 mol NaCl atau 5.85 gram NaCl.
Dalam pengenceran suatu larutan, jumlah mol zat terlarut tetap. Prinsip ini perlu selalu dipegang
dalam pengenceran suatu larutan. Bila volume ( V ) suatu larutan dikalikan dengan molaritasnya,
akan diperoleh jumlah mol zat terlarut.
V M = liter larutan = mol zat terlarut
Mengingat prinsip diatas dan hasil perkalian volume dengan molaritas, maka hasil perkalian
volume dan molaritas larutan semula ( V
1
M
1
) sama dengan hasil perkalian volume dan molaritas
larutan setelah pengenceran ( V
2
M
2
) :
V
1
M
1
= V
2
M
2

Dimana :
V
1
: volume awal
V
2
: volume setelah pengenceran
M
1
: molaritas semula
M
2
: molaritas setelah pengenceran
Normalitas
Normalitas disingkat dengan huruf N menyatakan jumlah ekivalen zat terlarut dalam 1 liter
larutan.
Molalitas
Molalitas atau disingkat m menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam 1000 gram pelarut.
Fraksi mol ( N
A
)
Adalah jumlah mol dibagi atau jumlah mol terlarut dibagi jumlah mol larutan.
Konsentrasi diatas tidak tergantung temperatur dan berdasarkan atas berat a, c, d, g, h,
Seperti halnya dengan molalitas, fraksi mol banyak digunakan untuk mempelajari sifat-sifat
koligatif larutan.
2.5 Sifat-sifat koligatif larutan
Larutan mempunyai sifat-sifat yang berbeda dengan pelarutnya. Sifat-sifat larutan seperti
rasa, warna, pH, dan kekentalan, bergantung pada jenis dan konsentrasi zat terlarut. Empat sifat
penting larutan yaitu penuruna tekanan uap, kenaikan titik didih, penurunan titik beku, dan
tekanan osmotik. Sifat-sifat larutan yang tidak bergantung pada jenis zat terlarut tetapi hanya
pada konsentrasi partikelnya disebut sifat kolgatif larutan.




BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Alat-alat dan Bahan
3.1.1 Alat-alat
Neraca digital
Labu ukur
Kaca arloji
Spatula
3.1.2 Bahan-bahan
KI
CH
3
COOH
Aquadest
3.2 Prosedur Kerja
1. Dihitung zat murni ( gram ) yang ingin dibuat larutan standard dengan konsentrasi x
Normalitas
2. Zat murni yang telah ditimbang, dimasukkan kedalam labu ukur
3. Kemudian aquadest ditambahkan kedalam labu ukur sampai volume tepat mencapai batas
kalibrasi
4. Kocok larutan sampai bercampur semua.





BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Dari perhitungan dan percobaan yang telah dilakukan diatas, maka didapatkan hasil :
Pada perhitungan pertama yaitu untuk KI 0,5 N, didapatkan hasil sebanyak atau sebesar 0,41
gram untuk membuat larutan sebanyak 50 ml. Sedangkan untuk membuat larutan 100 ml
konsentrasi 0,2 M dibutuhkan KI sebanya 0,32 gram.
Untuk CH
3
COOH 0,5 M, dibutuhkan 0,43 ml untuk membuat 50 ml larutan dan 0,175 ml untuk
membuat 100 ml larutan CH
3
COOH dengan konsentrasi 0,1 N.
4.2 Pembahasan
Pada percobaan ini, yaitu untuk membuat larutan standard dengan konsentrasi Normalitas dan
Molaritas. Hal pertama yang dilakukan adalah dengan melakukan perhitungan terlebih dahulu.,
karena zat dengan konsentrasi yang diminta tidak ada dalam persediaan. Setelah jumlah yang kan
ditimbang diketahui, kemudian dilakukan penimbangan.
Untuk zat pertama yang kaan dibuat larutan bakunya adalah KI dengan konsentrasi 0,5 N,
ditimbang KI sebanyak 0,41 untuk membuat larutan KI dengan volme 50 ml.
Pada saat pencampuran, kedua zat ini ( KI + air ), KI akan langsung terlarut dalam air, karena KI
merupakan senyawa yang bersifat garam dan mudah larut dalam air, juga memiliki tekstur
seperti kristal, sehingga memungkinkan KI untuk mudak larut dalam air. Juga dalam percobaan
ini, KI yang digunakan hanya dalam jumlah sedikit, sehingga akan dengan mudah untuk
dilarutkan. Setelah pencampuran kedua zat ini, didapatkan hasil larutan yang jernih. Kemudian
hal yang sama dilakukan untuk membuat larutan KI dengan konsentrasi 0,2 M dengan volume
100 ml, jumlah KI yang dibutuhkan yaitu 0,32 gram. Kemudian dimasukkan dalam labu ukur, KI
dialarutkan dengan cara menggoyangkan labu ukur, setelah itu, cukupkan volume sampai batas
kalibrasi labu ukur.
Untuk zat kedua, yaitu CH
3
COOH ( asam Asetat ). Zat ini merupakan caitan yang memiliki
konsentrasi murni ( purity ) 99,8 %. Terlebih dahulu dilakukan pengukuran untuk CH
3
COOH,
karena zat ini tersedia dalam bentuk cairan. Untuk membuat CH
3
COOH 0,5 M volume 50 ml
dibutuhkan 0,43 ml. Dan 0,175 ml untu membuat 100 ml larutan dengan konsentrasi 0,1 N.
Karena CH
3
COOH merupakan senyawa asam yang bebentuk cair, sehinnga pada saat akan
membuat larutan tersebut, cairan diambil menggunakan pipet ukur dan karet penghisap.
Kemudian dimasukkan kedalam labu ukur, lalu kedalam labu ukur ditambahkan aquadest,
kemudian kedua larutan dihomogenkan.
Dari pencampuran kedua larutan ini didapatkan larutan jernih CH
3
COOH, mengapa demikian?
Karena CH
3
COOH merupakan senyawa yang bersifat asam, juga berbentuk cairan sehingga
mudah larut dalam air. Juga asam asetat cair adalah pelarut protik hidrofilik ( polar ), mirip
seperti air, sehingga memungkinkan keduanya untuk dapat bercampur homogen..
Perbedaan antara zat cair dengan zat padat :
Zat cair bentuknya tidak tetap, tergantung dari wadah yang ditempatinya, memiliki density, dan
partikel partikelnya dapat bergerak dengan sangat cepat. Sedangkan zat padat mempunyai bentuk
dan volume tertentu, jarak antar partikelnya tidak dapat bergerak bebas, tidak menempati ruang,
dan tidak terdapat massa jenis. Massa jenis hanya dimiliki oleh zat yang berwujud cair.
Dirumuskan dengan:

= = massa jenis air ; m = massa ( kg ) ; v = volume ( ml )
BAB V
KESIMPULAN
Dari percobaan diatas dapat disimpulkan bahwa :
1. Dalam membuat Larutan Standar ( Larutan Baku ) dengan konsentrasi Normalitas
maupun Molaritas, harus dilakukan perhitungan terlebih dahulu untuk mendpatkan
jumlah yang sesuai dengan yang diinginkan.
2. Semakin sedikit jumlah KI yang ditimbang, maka akan semakin mudah larut dalam air.
3. Pembuatan larutan standard harus mengacu pada konsentrasi jenis apa yang diminta.
4. Untuk menghitung nilai ( ml ) untuk suatu cairan digunakan :
Zat murni ( ml ) =
1. Untuk menghitung nilai ( gram ) suatu zat padat digunakan rumus :
Zat murni ( gram ) = x Normalitas volume











DAFTAR PUSTAKA
1. Basset, J., 1994. KIMIA ANALISIS KUANTITATIF ANORGANIK. Ed. IV. Jakarta :
EGC
2. Karyadi, Benny. 1994. KIMIA SMU 2. Jakarta : Pusat perbukuan DepdikBud.
3. Purba, Michael. 2004. KIMIA untuk SMA kelas XII. Jakarta : Erlangga
4. Prof. Dr. Sukardjo. 1994. KIMIA FISIKA. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
















LAMPIRAN I
PERHITUNGAN
Zat murni ( gram ) = x Normalitas volume
1. KI 0,5 N
Diketahui :
KI : 0,5 N
BM KI : 166
Purity : 99,5 %
Volume : 50 ml = 0,05 L
Ditanya : gram KI ?
Jawab :
Zat murni ( gram KI ) = 0,5 0,05 L
= 0,41 gram
1. CH
3
COOH 0,1 N
Diketahui :
N CH
3
COOH : 0,1 N
BM CH
3
COOH : 60,05
Massa : 1,05 kg
Purity : 99,8 %
Volume : 0,1 L
Ditanya : ml CH
3
COOH ?
Jawab :
Zat murni ( ml CH
3
COOH ) = 0,1 L = 0,175 ml
LAMPIRAN II
TUGAS
1. Buat perhitungan larutan standar dengan konsentrasi dalam molal dan molaritas.
2. Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan.
Jawaban
1. Berapakah kemolalan suatu larutan glukosa yang mengandung 12 % massa glukosa ( Mr
: 180 ) dalam 100 ml larutan ?
Jawab :
m =
glukosa 12 % = 100 gram = 12 gram
dan air ( pelarut ) = ( 100 12 ) = 88 gram
mol glukosa = = 0,067 mol
massa pelarut = 88 gram = 0,088 kg
m = = 0,76 kg/mol







Berapa molaritas suatu larutan yang dibuat dengan melarutkan 50 gam NaOH dalam air yang
cukup untuk membuat 500 ml larutan ?
Jawab :
M =
n = = = 1,25 mol
M = = 2,5 NaOH = 2,5 M
1. Kelarutan dipengaruhi oleh :
Jenis zat pelarut
Temperatur
Tekanan
Pengaruh komplek.









LAMPIRAN III
GAMBAR
No. Nama/gambar alat fungsi
1. Labu ukur

Menampung dan mencampur larutan kimia.

2. Kaca arloji

1. Sebagai penutup saat melakukan pemanasan
terhadap suatu bahan kimia
2. Untuk menimbang bahan-bahan kimia
3. Untuk mengeringkan suatu bahan dalam
desikator.

3. Spatula

Untuk mengambil bahan-bahan kimia dalam
bentuk padatan, misalnya dalam bentuk kristal.
4. Neraca digital

Mengukur jumlah zat yang diperlukan