Anda di halaman 1dari 31

1

BAB I
PENDAHULUAN

ILEUS OBSTRUKTIF

I.1 Definisi
Ileus obstruktif adalah suatu penyumbatan mekanis pada usus di mana merupakan
penyumbatan yang sama sekali menutup atau menganggu jalannya isi usus, yaitu oleh
karena kelainan dalam lumen usus, dinding usus atau luar usus yang menekan.
Hambatan pada jalan isi usus akan menyebabkan isi usus terhalang dan tertimbun di
bagian proksimal dari sumbatan, sehingga pada daerah proksimal tersebut akan
terjadi distensi atau dilatasi usus. Dapat terjadi pada usus halus maupun usus besar.
1

Pada ileus obstruksi dapat dibedakan lagi menjadi obstruksi sederhana dan
obstruksi strangulasi. Obstruksi sederhana ialah obstruksi yang tidak disertai
terjepitnya pembuluh darah. Pada strangulasi ada pembuluh darah terjepit sehingga
terjadi iskemia yang akan berakhir dengan nekrosis atau gangren yang ditandai
dengan gejala umum berat yang disebabkan oleh toksin dari jaringan gangren. Jadi
strangulasi memperlihatkan kombinasi gejala obstruksi dan gejala sistemik akibat
adanya toksin dan sepsis. Obstruksi usus yang disebabkan oleh hernia, invaginasi,
adhesi, dan volvulus mungkin sekali disertai strangulasi, sedangkan obstruksi oleh
tumor atau askaris adalah obstruksi sederhana yang jarang menyebabkan strangulasi.
1

I.2 Anatomi Usus
Usus halus merupakan tabung yang kompleks, berlipat-lipat yang
membentang dari pilorus sampai katup ileosekal. Pada orang hidup panjang usus
halus sekitar 12 kaki (22 kaki pada kadaver akibat relaksasi). Usus ini mengisi bagian
tengah dan bawah abdomen. Ujung proksimalnya bergaris tengah sekitar 3,8 cm,
tetapi semakin ke bawah lambat laun garis tengahnya berkurang sampai menjadi
sekitar 2,5 cm.
6

2

Usus halus dibagi menjadi duodenum, jejenum, dan ileum. Pembagian ini
agak tidak tepat dan didasarkan pada sedikit perubahan struktur, dan yang relatif
lebih penting berdasarkan perbedaan fungsi. Duodenum panjangnya sekitar 25 cm,
mulai dari pilorus sampai kepada jejenum. Pemisahan duodenum dan jejenum
ditandai oleh ligamentum treitz, suatu pita muskulofibrosa yang berorigo pada krus
dekstra diafragma dekat hiatus esofagus dan berinsersio pada perbatasan duodenum
dan jejenum. Ligamentum ini berperan sebagai ligamentum suspensorium
(penggantung). Kira-kira duaperlima dari sisa usus halus adalah jejenum, dan tiga
perlima terminalnya adalah ileum. Jejenum terletak di regio abdominalis media
sebelah kiri, sedangkan ileum cenderung terletak di region abdominalis bawah kanan.
Jejunum mulai pada juncture denojejunalis dan ileum berakhir pada junctura
ileocaecalis.
6,7

Lekukan-lekukan jejenum dan ileum melekat pada dinding posterior abdomen
dengan perantaraan lipatan peritoneum yang berbentuk kipas yang dikenal sebagai
messenterium usus halus. Pangkal lipatan yang pendek melanjutkan diri sebagai
peritoneum parietal pada dinding posterior abdomen sepanjang garis berjalan ke
bawah dan ke kanan dari kiri vertebra lumbalis kedua ke daerah articulatio sacroiliaca
kanan. Akar mesenterium memungkinkan keluar dan masuknya cabang-cabang arteri
vena mesenterica superior antara kedua lapisan peritoneum yang membentuk
messenterium.
6,8

Usus besar merupakan tabung muskular berongga dengan panjang sekitar 5
kaki (sekitar 1,5 m) yang terbentang dari sekum sampai kanalis ani. Diameter usus
besar sudah pasti lebih besar daripada usus kecil. Rata-rata sekitar 2,5 inci (sekitar 6,5
cm), tetapi makin dekat anus semakin kecil.
7,8

3


Gambar 1. Sistem saluran pencernaan manusia.
9


Usus besar dibagi menjadi sekum, kolon dan rektum. Pada sekum terdapat
katup ileocaecaal dan apendiks yang melekat pada ujung sekum. Sekum menempati
dekitar dua atau tiga inci pertama dari usus besar. Katup ileocaecaal mengontrol
aliran kimus dari ileum ke sekum. Kolon dibagi lagi menjadi kolon asendens,
transversum, desendens dan sigmoid. Kolon ascendens berjalan ke atas dari sekum ke
permukaan inferior lobus kanan hati, menduduki regio iliaca dan lumbalis kanan.
Setelah mencapai hati, kolon ascendens membelok ke kiri membentuk fleksura koli
dekstra (fleksura hepatik). Kolon transversum menyilang abdomen pada regio
umbilikalis dari fleksura koli dekstra sampai fleksura koli sinistra.
Kolon transversum, waktu mencapai daerah limpa, membengkok ke bawah,
membentuk fleksura kolisinistra (fleksura lienalis) untuk kemudian menjadi kolon
descendens. Kolon sigmoid mulai pada pintu atas panggul. Kolon sigmoid merupakan
lanjutan kolon descendens. Ia tergantung kebawah dalam rongga pelvis dalam bentuk
lengkungan. Kolon sigmoid bersatu dengan rektum di depan sakrum. Rektum
menduduki bagian posterior rongga pelvis. Rektum ke atas dilanjutkan oleh kolon
4

sigmoid dan berjalan turun di depan sekum, meninggalkan pelvis dengan menembus
dasar pelvis. Disisni rektum melanjutkan diri sebagai anus dalam perineum.
6,7,8
I.3 Fisiologi Usus
Usus halus mempunyai dua fungsi utama : pencernaan dan absorpsi bahan-
bahan nutrisi dan air. Proses pencernaan dimulai dalam mulut dan lambung oleh kerja
ptialin, asam klorida, dan pepsin terhadap makanan masuk. Proses dilanjutkan di
dalam duodenum terutama oleh kerja enzim-enzim pankreas yang menghidrolisis
karbohidrat, lemak, dan protein menjad izat-zat yang lebih sederhana. Adanya
bikarbonat dalam sekret pankreas membantu menetralkan asam dan memberikan pH
optimal untuk kerja enzim-enzim. Sekresi empedu dari hati membantu proses
pencernaan dengan mengemulsikan lemak sehingga memberikan permukaan lebih
luas bagi kerja lipase pankreas. Proses pencernaan disempurnakan oleh sejumlah
enzim dalam getah usus (sukus enterikus). Banyak di antara enzim-enzim ini terdapat
pada brush border vili dan mencernakan zat-zat makanan sambil diabsorpsi. Isi usus
digerakkan oleh peristalsis yang terdiri atas dua jenis gerakan, yaitu segmental dan
peristaltik yang diatur oleh sistem saraf autonom dan hormon. Pergerakan segmental
usus halus mencampur zat-zat yang dimakan dengan sekret pankreas, hepatobiliar,
dan sekresi usus,dan pergerakan peristaltik mendorong isi dari salah satu ujung ke
ujung lain dengan kecepatan yang sesuai untuk absorpsi optimal dan suplai kontinu
isi lambung.
6

Usus besar mempunyai berbagai fungsi yang semuanya berkaitan dengan
proses akhir isi usus. Fungsi usus besar yang paling penting adalah mengabsorpsi air
dan elektrolit, yang sudah hampir lengkap pada kolon bagian kanan. Kolon sigmoid
berfungsi sebagai reservoir yang menampung massa feses yang sudah dehidrasi
sampai defekasi berlangsung.
6,9

Kolon mengabsorpsi air, natrium, khlorida, dan asam lemak rantai pendek
serta mengeluarkan kalium dan bikarbonat. Hal tersebut membantu menjaga
keseimbangan air dan elektrolit dan mencegah dehidrasi. Menerima 900-1500
5

ml/hari, semua, kecuali 100-200 ml diabsorpsi, paling banyak di proksimal. Kapasitas
sekitar 5 l/hari.
6

Gerakan retrograd dari kolon memper lambat transit materi dari kolon kanan,
meningkatkan absorpsi. Kontraksi segmental merupakan pola yang paling umum,
mengisolasi segmen pendek dari kolon, kontraksi ini menurun oleh antikolinergik,
meningkat oleh makanan, kolinergik. Gerakan massa merupakan pola yang kurang
umum, pendorong antegrad melibatkan segmen panjang 0,5-1,0 cm/detik, 20-30 detik
panjang, tekanan 100-200 mmHg, tiga sampai empat.
6,7

I.4 Epidemiologi
Hernia strangulata adalah salah satu keadaan darurat yang sering dijumpai
oleh dokter bedah dan merupakan penyebab obstruksi usus terbanyak. Sekitar 44%
dari obstruksi mekanik usus disebabkan oleh hernia eksterna yang mengalami
strangulasi.

Penyebab tersering obstruksi usus di Indonesia, adalah hernia, baik
sebagai penyebab obstruksi sederhana (51%) maupun obstruksi usus strangulasi
(63%).
7,8

Adhesi pasca operasi timbul setelah terjadi cedera pada permukaan jaringan,
sebagai akibat insisi, kauterisasi, jahitan atau mekanisme trauma lainnya. Dari
laporan terakhir pasien yang telah menjalani sedikitnya sekali operasi intra abdomen,
akan berkembang adhesi satu hingga lebih dari sepuluh kali. Obstruksi usus
merupakan salah satu konsekuensi klinik yang penting. Di negara maju, adhesi
intraabdomen merupakan penyebab terbanyak terjadinya obstruksi usus. Pada pasien
digestif yang memerlukan tindakan reoperasi, 30-41% disebabkan obstruksi usus
akibat adhesi. Untuk obstruksi usus halus, proporsi ini meningkat hingga 65-75%.
7,8



6

I.5 Etiologi Ileus Obstruktif
Tabel 1. Etiologi Ileus Obstruktif
Ekstraluminal Intramural Intraluminer
Adhesi Hematoma intramural Batu empedu
Hernia inkarserata Penyakit Crohn Bolus ascaris
Obs. duodenum Kongenital (atresia doudenal) Stibala
Abses, hematoma Neoplasma Benda asing
Volvulus mesenterial
Invaginasi

Ileus obstruktif dapat disebabkan oleh:
1

1. Adhesi (perlekatan usus halus) merupakan penyebab tersering ileus obstruktif,
sekitar 50-70% dari semua kasus. Adhesi bisa disebabkan oleh riwayat operasi
intraabdominal sebelumnya atau proses inflamasi intraabdominal. Obstruksi yang
disebabkan oleh adhesi berkembang sekitar 5% dari pasien yang mengalami
operasi abdomen dalam hidupnya. Perlengketan kongenital juga dapat
menimbulkan ileus obstruktif di dalam masa anak-anak.
2. Hernia inkarserata eksternal (inguinal, femoral, umbilikal, insisional, atau
parastomal) merupakan yang terbanyak kedua sebagai penyebab ileus obstruktif,
dan merupakan penyebab tersering pada pasien yang tidak mempunyai riwayat
operasi abdomen. Hernia interna (paraduodenal, kecacatan mesentericus, dan
hernia foramen Winslow) juga bisa menyebabkan hernia.
3. Neoplasma. Tumor primer usus halus dapat menyebabkan obstruksi intralumen,
sedangkan tumor metastase atau tumor intraabdominal dapat menyebabkan
obstruksi melalui kompresi eksternal.
4. Penekanan eksternal oleh tumor, abses, hematoma, intususepsi, atau penumpukan
cairan.
5. Penyakit Crohn dapat menyebabkan obstruksi sekunder sampai inflamasi akut
selama masa infeksi atau karena striktur yang kronik.
7

6. Volvulus sering disebabkan oleh adhesi atau kelainan kongenital, seperti
malrotasi usus. Volvulus lebih sering sebagai penyebab obstruksi usus besar.
7. Divertikulum Meckel yang bisa menyebabkan volvulus, intususepsi, atau hernia
Littre.
8. Batu empedu yang masuk ke ileus. Inflamasi yang berat dari kantong empedu
menyebabkan fistul dari saluran empedu ke duodenum atau usus halus yang
menyebabkan batu empedu masuk ke traktus gastrointestinal. Batu empedu yang
besar dapat terjepit di usus halus, umumnya pada bagian ileum terminal atau
katup ileocaecal yang menyebabkan obstruksi.
9. Striktur yang sekunder yang berhubungan dengan iskhemia, inflamasi, terapi
radiasi, atau trauma operasi.
Hernia Oklusi mesentrial Volvulus

Adhesi Tumor Invaginasi
Gambar 2. Etiologi obstruksi usus
1.6 Patofisiologi
Penyumbatan intestinal mekanik yang terjadi karena adanya daya mekanik yang
bekerja atau mempengaruhi dinding usus sehingga menyebabkan penyempitan atau
penyumbatan lumen usus. Hal tersebut menyebabkan pasase lumen usus terganggu.
Sehingga terjadi pengumpulan isi lumen usus yang berupa gas dan cairan pada bagian
8

proksimal tempat penyumbatan yang menyebabkan pelebaran dinding usus (distensi).
Sumbatan usus dan distensi usus menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan
intraluminal sehingga terjadi hipersekresi kelenjar pencernaan. Dengan demikian
akumulasi cairan dan gas semakin bertambah sehingga menyebabkan distensi usus
sebelah proksimal sumbatan. Selain hipersekresi meningkat, kemampuan absorbsi
usus pun menurun, sehingga terjadi kehilangan volume sistemik yang besar dan
progresif. Hal ini dapat menyebabkan tejadinya syok hipovolemik.
6,7

Awalnya, peristaltik pada bagian proksimal usus meningkat sebagai
kompensasi adanya sumbatan atau hambatan. Bila obstruksi terus berlanjut dan
terjadi peningkatan tekanan intraluminal, maka bagian proksimal dari usus tidak akan
berkontraksi dengan baik dan bising usus menjadi tidak teratur dan hilang.
Peningkatan tekanan intraluminal dan adanya distensi menyebabkan gangguan
vaskuler terutama stasis vena. Dinding usus menjadi udem dan terjadi translokasi
bakteri ke pembuluh darah. Produksi toksin yang disebabkan oleh adanya translokasi
bakteri menyebabkan timbulnya gejala sistemik. Efek lokal peregangan usus adalah
iskemik akibat nekrosis disertai absorbsi toksin-toksin bakteri ke dalam rongga
peritoneum dan sirkulasi sistemik. Hal ini biasanya terjadi pada obstruksi usus
dengan strangulasi. Bahaya umum dari keadaan ini adalah sepsis.
6,7

Pada obstruksi mekanik sederhana, hambatan pasase muncul tanpa disertai
gangguan vaskuler dan neurologik. Makanan dan cairan yang tertelan, sekresi usus
dan udara akan berkumpul dalam jumlah yang banyak jika obstruksinya komplit.
Bagian proksimal dari usus mengalami distensi dan bagian distalnya kolaps. Fungsi
sekresi dan absorbsi membran mukosa usus menurun dan dinding usus menjadi
edema dan kongesti. Distensi intestinal yang berat dengan sendirinya secara terus
menerus dan progresif akan mengacaukan peristaltik dan fungsi sekresi mukosa serta
meningkatkan risiko terjadinya dehidrasi, iskemik, nekrosis, perforasi, peritonitis dan
kematian.
6,7


9



Obstruksi Usus
Akumulasi gas dan cairan intralumen di
sebelah proximal dari letak obstruksi
Distensi
Kehilangan H
2
O dan
Elektrolit
Tekanan Intralumen
dipertahankan
Volume ECF
Syok Hipovolemik
Iskemia dinding usus
Kehilangan cairan menuju
ruang peritoneum
Pelepasan bakteri dan toksin
dari usus yang nekrotik ke
dalam peritoneum dan
sirkulasi sistemik

Peritonitis Septikemia
Proliferasi Bakteri yang
berlangsung cepat
Bagan 1. Patofisiologi Obstruksi Usus.
10
10

I.7 Klasifikasi
Berdasarkan lokasi obstruksinya, ileus obstrukif atau ileus mekanik dibedakan
menjadi,antara lain
7,8,9
:
1) Ileus obstruktif letak tinggi : obstruksi mengenai usus halus (dari gaster
sampai ileum terminal).
2) Ileus obstruktif letak rendah : obstruksi mengenai usus besar (dari ileum
terminal sampai rektum).
Selain itu, ileus obstruktif dapat dibedakan menjadi 3 berdasarkan stadiumnya,
antara lain :
1) Obstruksi sebagian (partial obstruction): obstruksi terjadi sebagian sehingga
makanan masih bisa sedikit lewat, dapat flatus dan defekasi sedikit.
2) Obst ruksi sederhana (simple obstruction): obstruksi/sumbatan yang tidak
disertai terjepitnya pembuluh darah (tidak disertai gangguan aliran darah).
3) Obstruksi strangulasi (strangulated obstruction): obstruksi disertai dengan
terjepitnya pembuluh darah sehingga terjadi iskemia yang akan berakhir
dengan nekrosis atau gangren.

I.8 Manifestasi Klinik
1) Obstruksi sederhana
Obstruksi usus halus merupakan obstruksi saluran cerna tinggi, artinya
disertai dengan pengeluaran banyak cairan dan elektrolit baik di dalam lumen
11

usus bagian oral dari obstruksi,maupun oleh muntah. Gejala penyumbatan
usus meliputi nyeri kram pada perut, disertai kembung. Pada obstruksi usus
halus proksimal akan timbul gejala muntah yang banyak, yang jarang menjadi
muntah fekal walaupun obstruksi berlangsung lama. Nyeri bisa berat dan
menetap. Nyeri abdomen sering dirasakan sebagai perasaan tidak enak di
perut bagian atas. Semakin distal sumbatan, maka muntah yang dihasilkan
semakin fekulen.
9,10

Tanda vital normal pada tahap awal, namun akan berlanjut dengan
dehidrasi akibat kehilangan cairan dan elektrolit. Suhu tubuh bisa normal
sampai demam. Distensi abdomendapat dapat minimal atau tidak ada pada
obstruksi proksimal dan semakin jelas pada sumbatan di daerah distal. Bising
usus yang meningkat dan metallic sound dapat didengar sesuai dengan
timbulnya nyeri pada obstruksi di daerah distal.
9,10

2) Obstruksi disertai proses strangulasi
Gejalanya seperti obstruksi sederhana tetapi lebih nyata dan disertai dengan
nyeri hebat. Hal yang perlu diperhatikan adalah adanya skar bekas operasi
atau hernia. Bila dijumpai tanda-tanda strangulasi berupa nyeri iskemik
dimana nyeri yang sangat hebat, menetap dan tidak menyurut, maka dilakukan
tindakan operasi segera untuk mencegah terjadinya nekrosis usus.
9,10

3) Obstruksi mekanis di kolon
Obstruksi mekanis di kolon timbul perlahan-lahan dengan nyeri akibat
sumbatan biasanya terasa di epigastrium. Nyeri yang hebat dan terus menerus
menunjukkan adanya iskemia atau peritonitis. Borborygmus dapat keras dan
timbul sesuai dengan nyeri. Konstipasi atau obstipasi adalah gambaran umum
obstruksi komplit. Muntah lebih sering terjadi pada penyumbatan usus besar.
Muntah timbul kemudian dan tidak terjadi bila katup ileosekal mampu
mencegah refluks. Bila akibat refluks isi kolon terdorong ke dalam usus halus,
akan tampak gangguan pada usus halus. Muntah feka lakan terjadi kemudian.
Pada keadaan valvula Bauchini yang paten, terjadi distensi hebat dan
sering mengakibatkan perforasi sekum karena tekanannya paling tinggi dan
12

dindingnya yang lebih tipis. Pada pemeriksaan fisis akan menunjukkan
distensi abdomen dan timpani, gerakan usus akan tampak pada pasien yang
kurus, dan akan terdengar metallic sound pada auskultasi. Nyeri yang
terlokasi, dan terabanya massa menunjukkan adanya strangulasi.
1,9,10



Gambar 3. Distensi abdomen pada pasien dengan Ileus Obstruksi.
1



I.9 Diagnosis
I.9.1 Anamnesis
Gejala utama dari ileus obstruksi antara lain nyeri kolik abdomen, mual,
muntah, perut distensi dan tidak bisa buang airbesar (obstipasi). Mual muntah
umumnya terjadi pada obstruksi letak tinggi. Bila lokasi obstruksi di bagian distal
makagejala yang dominan adalah nyeri abdomen. Distensi abdomen terjadi bila
obstruksi terus berlanjut dan bagian proksimalusus menjadi sangat dilatasi.
1,9

Obstruksi pada usus halus menimbulkan gejala seperti nyeri perut sekitar
umbilikus atau bagian epigastrium. Pasien dengan obstruksi partial bisa mengalami
diare. Kadang-kadang dilatasi dari usus dapat diraba. Obstruksi pada kolon biasanya
mempunyai gejala klinis yang lebih ringan dibanding obstruksi pada usus halus.
Umumnya gejala berupa konstipasi yang berakhir pada obstipasi dan distensi
abdomen. Muntah jarang terjadi. Pada obstruksi bagian proksimal usus halus
biasanya muncul gejala muntah. Nyeri perut bervariasi dan bersifat intermittent atau
13

kolik dengan pola naik turun. Jika obstruksi terletak di bagian tengah atau letak tinggi
dari usus halus (jejenum dan ileum bagian proksimal ) maka nyeri bersifat
konstan/menetap. Pada tahap awal, tanda vital normal. Seiring dengan kehilangan
cairan dan elektrolit,maka akan terjadi dehidrasi dengan manifestasi klinis takikardi
dan hipotensi postural. Suhu tubuh biasanya normal tetapi kadang-kadang dapat
meningkat.
I.9.2 Pemeriksaan fisik
Dari pemeriksaan fisik didapatkan adanya demam, takikardi, hipotensi dan
gejala dehidrasi yang berat. Demam menunjukkan adanya obstruksi strangulate. Pada
pemeriksaan abdomen didapatkan abdomen tampak distensi, terdapat darm contour
(gambaran usus), dan darm steifung (gambaran gerakan usus), pada auskultasi
terdapat hiperperistaltik berlanjut dengan Borborygmus (bunyi usus mengaum)
menjadi bunyi metalik (klinken) / metallic sound . Pada tahap lanjut dimana obstruksi
terus berlanjut, peristaltik akan melemah dan hilang. Pada ileus paralitik, keadaan
umum pasien tampak lemah hingga dehidrasi, tidak dapat flatus maupun defekasi.
Dapat disertai muntah dan perut terasa kembung. Pada pemeriksaan abdomen
didapatkan meteorismus, suara usus (-), peristaltik menghilang. Pada palpasi tidak
terdapat nyeri tekan, defans muscular (-), kecuali jika ada peritonitis. Perkusi timpani
diseluruh lapang abdomen.

I.9.3 Pemeriksaan Penunjang
1) Laboratorium
Tes laboratorium mempunyai keterbatasan nilai dalam menegakkan diagnosis,
tetapi sangat membantu memberikan penilaian berat ringannya dan membantu
dalam resusitasi. Pada tahap awal, ditemukan hasil laboratorium yang normal.
Selanjutnya ditemukan adanya hemokonsentrasi, leukositosis dan nilai
elektrolit yang abnormal. Peningkatan serum amilase sering didapatkan.
Leukositosis menunjukkan adanya iskemik atau strangulasi, tetapi hanya
terjadi pada 38%-50% obstruksi strangulasi (dibandingkan 27%-44% pada
14

obstruksi non strangulata). Hematokrit yang meningkat dapat timbul pada
dehidrasi. Selain itu dapat ditemukan adanya gangguan elektrolit.
Analisa gas darah mungkin terganggu, dengan alkalosis metabolik bila
muntah berat, dan metabolik asidosis bila ada tanda-tanda shock, dehidrasi
dan ketosis.
1,10

2) Radiologi
Pada foto polos pasien dengan obstruksi yang komplit akan tampak terjadi
dilatasi dari usus bagian proksimal sampai ke tempat obstruksi dalam 35 jam
Usus yang diameternya lebih dari 3 cm sering dikaitkan dengan obstruksi.
Usus bagian proksimal yang terdistensi oleh gas dan cairan, akan
tampak berdilatasi oleh timbunan udara intraluminer. Sebaliknya, pada usus
bagian distal dari obstruksi tidak tampak bayangan gas, atau bila sumbatannya
terjadi belum lama maka tampak bayangan gas yang sangat sedikit di bagian
distal obstruksi. Pada daerah rektum tidak tampak bayangan gas atau udara.
1

Pada foto posisi tegak akan tampak bayangan air fluid level yang
banyak dibeberapa tempat (multiple fluid levels) yang tampak terdistribusi
dalam susunan tangga (step ladder appearance), sedangkan usus sebelah
distal dari obstruksi akan tampak kosong. Jumlah loop dari usus halus yang
berdilatasi secara umum menunjukkan tingkat obstruksi. Bila jumlah loop
sedikit berarti obstruksi usus halus letaknya tinggi, sedangkan bila jumlah
loop lebih banyak maka obstruksi usus halus letaknya rendah. Semakin distal
letak obstruksi, jumlah air fluid level akan semakin banyak, dengan tinggi
yang berbeda-beda sehingga berbentuk step ladder appearane.
1

Jarak valvula conniventes satu sama lain yang normal adalah 14 mm.
Jarak ini akan melebar pada keadaan distensi usus halus. Akibat distensi usus
halus, maka valvula conniventes agak teregang dan bersama-sama dengan
valvula conniventes dari loop yang bertetangga, akan tampak di foto sebagai
gambaran sirip ikan yang disebut herringbone appearance.
Bayangan udara di dalam kolon biasanya terletak lebih ke perifer dan
biasanya berbentuk huruf U terbalik. Obstruksi kolon ditandai dengan
15

dilatasi proksimal kolon sampai ke tempat obstruksi, dengan dekompresi dari
kolon bagian distal. Kolon bagian proksimal sampai letak obstruksi akan lebih
banyak berisi cairan daripada feses. Usus halus bagian proksimal mungkin
berdilatasi, mungkin juga tidak.


Gambar 4. Gambaran radiografi ileus obstruksi.
1

Untuk mengetahui ada tidaknya strangulasi usus, beberapa gambaran
klinik dapat membantu yaitu rasa nyeri abdomen yang hebat, bersifat
menetap, makin lama makin hebat, pada pemeriksaan abdomen didapatkan
ascites, terdapatnya abdominal tenderness, adanya tanda-tanda yang bersifat
umum, demam, dehidrasi berat, takikardia, hipotensi atau shock.
11

Namun dari semua gejala klinik di atas, kita mempunyai pedoman
Essential of Diagnosis yaitu:
1. Complete Proximal Obstruction:
Vomiting
Abdominal discomfort
Abnormal oral contrast x-rays
2. Complete Mid or Distal Obstruction:
Nyeri kolik abdomen
Vomiting
16

Abdominal distention
Constipation-obstipation
Peristaltic rushes
Usus yang berdilatasi pada pemeriksaan rontgen.
8,9

I.10 Diagnosis Banding
Ileus obstruktif dapat dikacaukan dengan gangguan saluran cerna lain dengan
gambaran klinis yang serupa seperti pseudo-obstruksi (Sindroma Ogilvie) dan ileus
paralitik. Pada ileus paralitik nyeri yang timbul lebih ringan tetapi konstan dan difus,
dan terjadi distensi abdomen. Ileus paralitik, bising usus tidak terdengar dan tidak
terjadi ketegangan dinding perut. Bila ileus disebabkan oleh proses inflamasi akut,
akan ada tanda dan gejala dari penyebab primer tersebut. Gastroenteritis akut,
apendisitis akut, dan pankreatitis akut juga dapat menyerupai obstruksi usus
sederhana.
1,11


Tabel 2. Diagnosis Banding Ileus Obstruksi.
11

Obstruksi Mekanis
Sederhana (Ileus
Obstruktif)
Ileus Paralitik Pseudo-obstruksi
Keluhan Nyeri keram
abdominal,
konstipasi,
obstipasi, mual,
muntah, dan
anoreksia
Nyeri abdominal
ringan, perut
kembung, mual,
muntah, obstipasi,
dan konstipasi
Nyeri keram
abdominal, konstipasi,
obstipasi, mual,
muntah, dan anoreksia
Hasil
Pemeriksaan
Fisik
Borborygmi, bunyi
peristaltic
meningkat dengan
bising usus nada
tinggi, distensi,
Bising usus
senyap, distensi,
dan timpani
Borborygmi, timpani,
terdapat gelombang
peristaltik dengan
bising usus hipo atau
hiperaktif, distensi dan
17

nyeri terlokalisir nyeri terlokalisir
Gambaran Foto
Polos BOF
Bow-shaped loops
in ladder patern,
terdapat gambaran
gas kolon yang
terperangkap di
bagian distal dari
lesi
Dilatasi usus kecil
dan usus besar
dengan
peningkatan
diafragma
Dilatasi usus besar
terisolasi dengan
peningkatan
diafragma
I.11 Penatalaksanaan
Dasar pengobatan ileus obstruksi adalah koreksi keseimbangan elektrolit dan
cairan, menghilangkan peregangan dan muntah dengan dekompresi, mengatasi
peritonitis dan syok bila ada, dan menghilangkan obstruksi untuk memperbaiki
kelangsungan dan fungsi usus kembali normal.
1,12

1) Resusitasi
Beberapa tindakan yang dilakukan pada pasien dengan ileus obstruksi adalah:
Dekompressi usus dengan suction, menggunakan NGT yang dimasukkan
dalam perut atau usus
Pemasangan kateter untuk mengukur urine output
Koreksi elektrolit dan keseimbangan asam basa
Atasi dehidrasi
Dalam resusitasi yang perlu diperhatikan adalah mengawasi tanda-tanda
vital, dehidrasi dan syok. Pasien yang mengalami ileus obstruksi mengalami
dehidrasi dan gangguan keseimbangan ektrolit sehingga perlu diberikan cairan
intravena seperti ringer laktat. Respon terhadap terapi dapat dilihat dengan
memonitor tanda - tanda vital dan jumlah urin yang keluar. Selain pemberian
cairan intravena, diperlukan juga pemasangan nasogastric tube (NGT). NGT
digunakan untuk mengosongkan lambung, mencegah aspirasi pulmonum bila
muntah dan mengurangi distensi abdomen.
2) Farmakologis
18

Pemberian obat-obat antibiotik spektrum luas dapat diberikan sebagai profilaksis.
Antiemetik dapat diberikan untuk mengurangi gejala mual muntah.
3) Operatif
Tindakan operatif untuk membebaskan obstruksi dibutuhkan bila dekompresi
dengan NGT tidak memberikan perbaikan atau diduga adanya kematian jaringan.
Pada umumnya dikenal 4 macam (cara) tindakan bedah yang dikerjakan pada
obstruksi ileus:
1. Koreksi sederhana (simple correction). Hal ini merupakan tindakan bedah
sederhana untuk membebaskan usus dari jepitan, misalnya pada hernia
incarcerata non-strangulasi, jepitan oleh streng/adhesi atau pada volvulus
ringan.
2. Tindakan operatif by-pass. Membuat saluran usus baru yang "melewati"
bagian usus yang tersumbat, misalnya pada tumor intralurninal, Crohn
disease, dan sebagainya.
3. Membuat fistula entero-cutaneus pada bagian proximal dari tempat obstruksi,
misalnya pada Ca stadium lanjut.
4. Melakukan reseksi usus yang tersumbat dan membuat anastomosis ujung-
ujung usus untuk mempertahankan kontinuitas lumen usus, misalnya pada
carcinomacolon, invaginasi, strangulata, dan sebagainya. Pada beberapa
obstruksi ileus, kadang-kadang dilakukan tindakan operatif bertahap, baik
oleh karena penyakitnya sendiri maupun karena keadaan penderitanya,
misalnya pada Ca sigmoid obstruktif, mula-mula dilakukan kolostomi saja,
kemudian hari dilakukan reseksi usus dan anastomosis.

4) Pasca Bedah
Pengobatan pasca bedah sangat penting terutama dalam hal cairan dan
elektrolit.Kita harus mencegah terjadinya gagal ginjal dan harus memberikan
kalori yang cukup.Perlu diingat bahwa pasca bedah usus pasien masih dalam
keadaan paralitik.
1,11


19

I.12 Komplikasi
Komplikasi dari ileus antara lain terjadinya:
12,13

Nekrosis usus, perforasi usus,
Sepsis,
Syok-dehidrasi,
Abses Sindrom usus pendek dengan malabsorpsi dan malnutrisi,
Pneumonia aspirasi dari proses muntah,
Gangguan elektrolit,
Meninggal
Pada obstruksi kolon dapat terjadi dilatasi progresif pada sekum yang berakhir
dengan perforasi sekum sehingga terjadi pencemaran rongga perut dengan akibat
peritonitis umum.
1,11


I.13 Prognosis
Mortalitas obstruksi tanpa strangulata adalah 5% sampai 8% asalkan operasi dapat
segera dilakukan. Keterlambatan dalam melakukan pembedahan atau jika terjadi
strangulasi atau komplikasi lainnya akan meningkatkan mortalitas sampai sekitar
35% atau 40%.
3
Prognosisnya baik bila diagnosis dan tindakan dilakukan dengan
cepat.
1




20

BAB II
LAPORAN KASUS
II.1. Identitas Pasien
Nama : Sdr. HS
Umur : 19 tahun
Tanggal Lahir : 20 Juni 1995
Jenis Kelamin : Pria
Agama : Islam
Alamat : Ngesal 01/06 Delik Kab. Semarang
Pekerjaan : Pelajar
Status Pernikahan : Belum menikah
Tanggal Masuk : 9 April 2014
No. CM : 056275-2
Nama orangtua : Ny.R

II.2. Anamnesa
Alloanamnesa dilakukan di Bangsal Melati RSUD Ambarawa pada hari Rabu, 9
April 2014.

Keluhan Utama :
Nyeri pada perut

Keluhan Tambahan :
Perut kembung dan tidak bisa BAB dan buang gas selama 5 hari.

Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke IGD RSUD Ambarawa mengeluh nyeri pada seluruh perut
dan perut terasa kembung. Keluhan dirasakan kurang lebih selama 2 minggu
SMRS dan bertambah buruk. Pasien juga mengeluh tidak bisa BAB dan tidak
bisa buang gas selama 5 hari. Pasien juga mengeluh mual dan muntah.
21

Muntah dikatakan lebih dari 5 kali dalam sehari berisi cairan dan tidak disertai
darah. Nafsu makan berkurang. Demam disangkal oleh pasien. Adanya
benjolan di paha atau bawah perut juga disangkal oleh pasien.
Riwayat Pengobatan:
Sebelumnya penderita dirawat di RS Fatmawati Jakarta dan mendapat
pengobatan untuk mengurangi mual dan muntah, yaitu injeksi pantoprazole
dan ondancentron.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien belum pernah mengalami keluhan yang sama sebelumya, riwayat
operasi sebelumnya (+) appendiktomi 2 tahun yang lalu, DM (-),
hipertensi (-), alergi (-), riwayat kelainan darah (-) & riwayat penyakit
jantung, dan gangguan fungsi hati (-).
Riwayat Penyakit Keluarga :
Di keluarga tidak ada yang memiliki keluhan yang sama seperti pasien.
Riwayat DM (-), hipertensi (-), alergi (-), riwayat kelainan darah (-) & riwayat
penyakit jantung, dan gangguan fungsi hati (-).

II.3. Pemeriksaan Fisik
1. Status generalisata
a. KU : tampak sakit sedang
b. Kesadaran : Compos Mentis, GCS : E4V5M6
c. Tanda Vital
- Tekanan Darah : 100/70 mmHg
- Nadi : 80x/menit
- Respirasi : 18x/menit
- Suhu : 36,8
o
C
d. Kepala : Normocephal, rambut hitam, pendek, lurus, tidak
mudah dicabut, hematom (-), jejas (-)
22

e. Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, pupil
isokor, reflek cahaya (+/+), reflek kornea (+/+)
f. Hidung : Sekret (-), mimisan (-), nafas cuping hidung (-)
g. Mulut : Stomatitis (-), sianosis (-), lidah kotor (-), pembesaran
tonsil (-)
h. Telinga : Discharge (-), luka (-)
i. Leher : Pembesaran KGB (-), deviasi trakea (-), JVP tidak
meningkat
j. Thorak :
- Pulmo : I : normochest, dinding dada simetris, jejas (-)
P : fremitus taktil kanan= kiri, ekspansi dinding
dada simetris
P : Sonor dikedua lapang paru
A: vesikuler diseluruh lap. paru, suara tambahan
(-)
- Cor : I: tidak tampak iktus kordis
P :iktus kordis teraba
P : batas atas: ICS 2 midclavicula kiri, batas
bawah : ICS 5 midclavicula kiri, batas kanan
ICS 4 parasternal kanan, batas kiri : ICS 5
axilaris anterior
A: Konfigurasi kesan dalam batas normal, SI>II
k. Abdomen : Ditensi (+), Darm contour, steifung (-), Bising usus
(+) menurun, Metalik sound (-)
l. Ekstremitas
Hangat - - , edema - -
+ + - -
2. Status Lokalis
Regio Abdomen :
I : Ditensi (+), Dam contour (-), Darm Steifung (-), jejas (-)
23

A : Bising usus (+) menurun, metalic sound (-)
P : Defans muskular (-), nyeri tekan (+) di seluruh regio
abdomen, finger test tidak teraba masa, hepar dan lien tidak
teraba, ginjal tidak teraba.
P : Timpani (+) di seluruh kuadran abdomen, Nyeri ketok (+)

Pemeriksaan khusus :
Pemeriksaan Rectal Touche (colok dubur) :
- mucosa anus licin
- Tonus m. Spinchter ani kuat
- Ampula recti tidak kollaps
- tidak teraba massa, feses (+), darah (-), lendir (-)
II.4. Diagnosis Banding
- Ileus Obstruktif
- Peritonitis
- Ileus Paralitik
II.5. Pemeriksaan Penunjang
1. Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 10 April 2014
Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan
Hematologi
darah rutin :

Hemoglobin 14 13,5 17,5 g/dl
Leukosit 13,6 5 11 ribu
Eritrosit 4,60 5 6 juta
Hematokrit 45,7 37 45 %
Trombosit 244 150 400 ribu
MCV 79,8 77 91 mikro m3
MCH 25,7 24 30 pg
MCHC 32,2 32 36 g/dl
24

RDW 10,7 10 16 %
MPV 6,9 7 11 mikro m3
Limfosit 1,3 1,5 6,5 10
3
/mikroL
Monosit 1,2 0,2 0,6 10
3
/mikroL
Granulosit 8 2,5 7 10
3
/mikroL
Limfosit % 25 25 35 %
Monosit % 4,1 4 6 %
Granulosit % 79,8 50 80 %
PCT 0,244 0,2 0,5 %
PDW 12,0 10 18 %
Golongan Darah O
Clotting Time 4 : 00 3-5 (menit:detik)
Bleeding Time 1 : 00 1-3 (menit:detik)
Kimia Klinik
SGOT 31 < 47 IU/L
SGPT 27 < 39 IU/L
Serologi
HBsAg Non Reaktif NON REAKTIF


2. Foto polos abdomen
25


II.6. Diagnosa Kerja
- Ileus Obstruktif
II.7. Penatalaksanaan
1. Non Farmakologi
Pasien dipuasakan
Dekompresi usus dengan memasang nasogastric tube (NGT)
keluar banyak cairan berwarna kuning jernih.
Pasang DC untuk mengontrol urin output (obs. dehidrasi)
2. Farmakologi
Infus RL 24 tpm
Inj Ranitidin 2x1
Inj Cefotaksim 2x1
Inj Ketorolac 3x1
3. Operatif
Laparotomi


26

II.8. Follow Up (9 April 13 April 2014)
Subjective
SOAP
09-04-14 10-04-14 11-04-14 12-04-14 13-04-14
Nyeri di
Perut
+++ ++ + + -
Perut
Kembung
+++ - - - -
Mual
Muntah
+++ - - - -
BAB &
buang gas
- - + + +

Objective
SOAP 09-04-14 10-04-14 11-04-14 12-04-14 13-04-14
KU Tampak sakit sedang
TTV
TD 162 / 92 135/96 152/91 143/89 142/87
N 60 x/m 55 x/m 69 x/m 53 x/m 63 x/m
RR 20 x/m 15 x/m 25 x/m 15 x/m 20 x/m
S 36,2 C 35,6 C 36,2C 35,6 C 35,2 C
Status Lokalis
Abdomen
I Distensi
(++)
Distensi (+) Distensi (-) Distensi (-) Distensi (-)
A BU
(menurun)
BU
(menurun)
BU (+)
normal
BU (+)
normal
BU (+)
normal
P NT (+)
seluruh
abd
NT (+)
seluruh abd
NT (+)
seluruh abd
NT (+) daerah
op
NT (+)
daerah op
P Timpani Timpani Timpani (+) Timpani (+) Timpani
27

(+++)
Nyeri
ketok (+)
(++)
Nyeri ketok
(+)
Nyeri ketok
(+)
Nyeri ketok (-
)
(+)
Nyeri ketok
(-)


II.9. Prognosis
Dubia ad bonam


28

BAB III
ANALISA KASUS
Analisa Kasus berdasarkan SOAP
Diagnosis ileus obstruktif dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Berikut adalah perbandingan antara
teori dan temuan-temuan klinis yang dijumpai pada pasien yang mendukung diagnosa
ileus obstruksi pada pasien serta penanganannya.
III.1. S (Subjective)
Pasien laki-laki umur 19 tahun,datang ke IGD RSUD Ambarawa mengeluh
nyeri pada seluruh perut dan perut terasa kembung. Keluhan dirasakan kurang lebih
selama 2 minggu SMRS dan bertambah buruk. Pasien juga mengeluh tidak bisa BAB
dan tidak bisa buang gas selama 5 hari. Pasien juga mengeluh mual dan muntah.
Muntah dikatakan lebih dari 5 kali dalam sehari berisi cairan dan tidak disertai darah.
Nafsu makan berkurang. Demam disangkal oleh pasien. Adanya benjolan di paha
atau bawah perut juga disangkal oleh pasien.
Nyeri perut kolik yang muncul pada pasien ini dapat menjadi petunjuk bahwa
asal kelainan adalah dari organ yang berongga atau mempunyai saluran. Kita dapat
memikirkan usus dan ureter sebagai penyebab nyeri perut kolik terbanyak. Adanya
keluhan tambahan muntah dan keluhan gangguan saluran cerna yaitu berupa tidak
bisa buang air besar dan buang angin mengindikasikan terjadinya gangguan pada
pasase usus atau disebut juga ileus.
Gejala pada pasien ini mengacu pada gejala obstruksi sederhana yang biasa
terjadi pada usus halus. Obstruksi usus halus merupakan obstruksi saluran cerna
tinggi, artinya disertai dengan pengeluaran banyak cairan dan elektrolit baik di dalam
lumen usus bagian oral dari obstruksi,maupun oleh muntah. Gejala penyumbatan usus
meliputi nyeri kram pada perut, disertai kembung. Pada obstruksi usus halus
proksimal akan timbul gejala muntah yang banyak, yang jarang menjadi muntah fekal
29

walaupun obstruksi berlangsung lama. Nyeri bisa berat dan menetap. Nyeri abdomen
sering dirasakan sebagai perasaan tidak enak di perut bagian atas.
III.2. O (Objective)
Dari pemeriksaan fisik ditemukan distensi abdomen, nyeri tekan abdomen,
bising usus menurun dan timpani pada seluruh lapang abdomen. Hal ini sesuai
dengan teori dimana pada pemeriksaan fisik ileus obstruktif ditemukan distensi
abdomen, hipertimpani pada perkusi, nyeri tekan pada palpasi, dan pada auskultasi
terdapat hiperperistaltik berlanjut dengan Borborygmus (bunyi usus mengaum)
menjadi bunyi metalik (klinken) / metallic sound . Pada tahap lanjut dimana obstruksi
terus berlanjut, peristaltik akan melemah dan hilang.
Dari pemeriksaan penunjang, nilai laboratorium pada pasien ini menunjukkan
adanya leukositosis yaitu nilai leukosit 13,6 10
3
/L (Normal: 5 11 rb), terdapat pula
hematokrit yang meningkat sebesar 45,7%. Hematokrit yang meningkat dapat
timbul pada dehidrasi.
Dari foto polos abdomen tampak adanya dilatasi usus. Onset keluhan yang
berlangsung cepat dapat dicurigai sebagai ileus letak tinggi dan onset yang lambat
dapat menjurus kepada ileus letak rendah. Namun lokasi dan penyebab sumbatan,
dapat diketahui secara pasti melalui laparotomi.
Diagnosis banding pada pasien ini adalah ileus paralitik. Pada ileus paralitik
nyeri yang timbul lebih ringan tetapi konstan dan difus, dan terjadi distensi abdomen.
Ileus paralitik, bising usus tidak terdengar dan tidak terjadi ketegangan dinding perut.
Pada ileus paralitik e.c. peritonitis dapat diketahui riwayat nyeri perut kanan bawah
yang menetap.
III.3. A (Assesment) & P (Planning)
Dasar pengobatan ileus obstruksi adalah koreksi keseimbangan elektrolit dan
cairan, menghilangkan peregangan dan muntah dengan dekompresi, mengatasi
peritonitis dan syok bila ada, dan menghilangkan obstruksi untuk memperbaiki
kelangsungan dan fungsi usus kembali normal. Dalam resusitasi yang perlu
diperhatikan adalah mengawasi tanda-tanda vital, dehidrasi dan syok. Pasien yang
30

mengalami ileus obstruksi mengalami dehidrasi dan gangguan keseimbangan ektrolit
sehingga perlu diberikan cairan intravena seperti ringer laktat. Terapi cairan
dibutuhkan pada pasien dengan ileus obstruktif karena tubuh tidak dapat
memasukkan air, elektrolit serta zat-zat makanan ke dalam tubuh secara oral. Dengan
terapi cairan kebutuhan akan air dan elektrolit akan terpenuhi. Respon terhadap terapi
dapat dilihat dengan memonitor tanda-tanda vital dan jumlah urin yang keluar. Selain
pemberian cairan intravena, diperlukan juga pemasangan nasogastric tube (NGT).
NGT digunakan untuk mengosongkan lambung, mencegah aspirasi pulmonum bila
muntah dan mengurangi distensi abdomen. Pada kasus ini dilakukan operasi
laparotomi yang akan dilakukan setelah kondisi optimum pasien tercapai. Selama
follow up preoperasi, pasien telah diberi tindakan rehidrasi pemberian loading IVFD
RL dan pemasangan NGT hingga tercapai balance cairan. Pemberian obat-obat
antibiotik spektrum luas dapat diberikan sebagai profilaksis. Operasi dilakukan
setelah rehidrasi dan dekompresi nasogastrik, untuk mencegah sepsis sekunder.
Setelah dilakukan laparotomi, penyebab baru bisa diketahui. Pada pasien ini
terdapat adhesi yang diduga akibat pasca operasi appendiktomi 2 tahun lalu. Adhesi
pasca operasi timbul setelah terjadi cedera pada permukaan jaringan, sebagai akibat
insisi, kauterisasi, jahitan atau mekanisme trauma lainnya. Di negara maju, adhesi
intraabdomen merupakan penyebab terbanyak terjadinya obstruksi usus.

31

BAB V
RINGKASAN

Obstruksi usus (mekanik) adalah keadaan dimana isi lumen saluran cerna
tidak bisa disalurkan ke distal atau anus karena ada sumbatan/hambatan yang
disebabkan kelainan dalam lumen usus, dinding usus atau luar usus yang menekan
atau kelainan vaskularisasi pada suatusegmen usus yang menyebabkan nekrosis
segmen usus tersebut. Obstruksi usus halus dapat disebabkan oleh adhesi, hernia
inkarserata, neoplasma, intususepsi, volvulus, benda asing, kumpulan cacing askaris,
sedangkan obstruksi usus besar penyebabnya adalah karsinoma, volvulus,
divertikulum Meckel, penyakit Hirschsprung, inflamasi, tumor jinak, dan impaksi
fekal.
Gejala penyumbatan usus meliputi nyeri kram pada perut, disertai kembung.
Bising usus yang meningkat dan metallic sound dapat didengar sesuai dengan
timbulnya nyeri pada obstruksi di daerah distal. Gejala umum dapat berupa syok,
oliguri dan gangguan elektrolit. Kolik dapat terlihat pada inspeksi perut sebagai
gerakan usus atau kejang usus dan pada auskultasi sewaktu serangan kolik,
hiperperistaltis kedengaran jelas sebagai bunyi nada tinggi. Usus di bagian distal
kolaps, sementara bagian proksimal berdilatasi. Usus yang berdilatasi menyebabkan
penumpukan cairan dan gas, distensi yang menyeluruh menyebabkan pembuluhdarah
tertekan sehingga suplai darah berkurang (iskemik), dapat terjadi perforasi.
Gambaran radiologi dari ileus berupa distensi usus dengan multiple air fluid
level, distensi usus bagian proksimal, absen dari udara kolon pada obstruksi usus
halus. Tujuan utama penatalaksanaan adalah dekompresi bagian yang mengalami
obstruksi untuk mencegah perforasi. Tindakan operasi biasanya diperlukan.