Anda di halaman 1dari 36

1

LAPORAN KASUS


EPILEPSI



Disusun Oleh :
Amira Danila
030.09.012

Pembimbing :
dr. Meiharty, SpA



KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK
PERIODE 22 Maret 31 Mei 2014
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BUDHI ASIH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
2014
2

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
RS PENDIDIKAN : RSUD BUDHI ASIH
STATUS PASIEN KASUS I
Nama Mahasiswa : Amira Danila Pembimbing : dr. Meiharty, Sp.A
NIM : 030.09.012 Tanda tangan :
IDENTITAS PASIEN
Nama : An. VRH Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 10 Bulan Suku Bangsa : Jawa
Tempat / tanggal lahir : Jakarta, 11 Mei 2013 Agama : Islam
Alamat : Jl. Pisangan baru tengah no. 25, RT
1 RW 11, kecamatan Matraman,
Kelurahan pisangan baru, Jakarta
Timur

IDENTITAS ORANGTUA
AYAH IBU
Nama : Tn. M Nama : Ny.E
Pekerjaan : Ojek Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Pendidikan : SMP Pendidikan : SMA
Suku bangsa : Jakarta Suku bangsa : Jawa
Agama : Islam Agama : Islam
Penghasilan : Rp. 50.000/hari

ANAMNESIS
Dilakukan secara alloanamnesis dengan Ny. E yang merupakan ibu kandung pasien.
Lokasi : Bangsal lantai VI Timur, kamar 515
Tanggal / pukul : 25 Maret 2014 / 12.30 WIB
Tanggal masuk : 25 Maret 2014, pukul 10.00, IGD RSUD Budhi Asih

A. KELUHAN UTAMA
Kejang sejak 6 jam sebelum masuk RS


3

B. KELUHAN TAMBAHAN
Demam, pilek

C. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG :
An, V, usia 10 bulan , datang ke IGD RSUD Budhi Asih diantar oleh ibunya dengan
keluhan kejang sejak + 6 jam sebelum masuk RS, kejang sebanyak 8x dengan durasi
kurang dari 1 menit dan dengan jarak 10 menit sekali, kejang ini merupakan kejang
pertama os. Saat kejang os dalam keadaan demam, demam tidak tinggi, Sebelum kejang
os sedang disusui ibunya (ASI), ketika kejang kedua tangan kaku, kedua mata mendelik
keatas, mulut tidak berbusa, dan setelah kejang os tertidur, terkadang disertai
mengompol. Di UGD kejang terjadi 2x walaupun sudah tidak demam. Os pilek dengan
sekret bening cair sejak + 2 hari sebelum masuk RS. Os sering menderita batuk dan pilek
berulang, Tidak ada mual, muntah, diare, sesak, kelemahan anggota gerak,dan
penurunan kesadaran.
Buang air besar dan kecil baik, os sering terjatuh kebelakang dengan posisi terlentang
ketika sudah mulai bisa duduk, terjatuh sering sekali lebih dari + 10x

D. RIWAYAT PENYAKIT YANG PERNAH DIDERITA
Penyakit Umur Penyakit Umur Penyakit Umur
Alergi (-) Otitis (-) Kecelakaan (-)
Rhinitis
Atopi
(7hari) Parotitis (-) Penyakit Jantung (-)
Dermatitis
Atopi
(-) Difteria (-) Radang Paru (-)
Cacingan (-) Diare (-) TBC (-)
Demam
Berdarah
Dengue
(-) Kejang (-) Asma (-)
Demam
Tifoid
(-) Morbili (-)
Keluhan yang
sama sebelumnya
(-)

Kesimpulan : Pasien mempunyai riwayat rhinitis atopi, ketika terpapar debu os
mengalami batuk pilek dan bintik-bintik pada kulit.
4

E. RIWAYAT KEHAMILAN / KELAHIRAN
KEHAMILAN
Morbiditas
Kehamilan
Hipertensi (+), diabetes melitus (-), anemia
(-), penyakit jantung (-), penyakit paru (-),
infeksi pada masa kehamilan (-), keputihan
(-)
Perawatan Antenatal ANC ke Bidan 1 bulan sekali dan sudah
mendapat imunisasi vaksinasi TT sebanyak
2 kali pada usia kehamilan 6 bulan dan 8
bulan
KELAHIRAN
Tempat Persalinan Rumah Sakit
Penolong Persalinan Dokter
Cara Persalinan SC disebabkan PEB
Masa Gestasi 39 minggu
Keadaan Bayi
Berat lahir : 3500 gr
Panjang lahir : 49 cm
Lingkar kepala : tidak tahu
Langsung menangis (+)
Merah (+)
Pucat (-)
Biru (-)
Kuning (-)
Nilai APGAR : tidak tahu
Kelainan bawaan : tidak ada

Kesimpulan : Ditemukan penyulit pada masa kehamilan yaitu tekanan darah ibu
yang tinggi dan menyebabkan persalinan dilakukan secara SC. Pasien lahir cukup bulan,
dengan berat badan lahir normal.

F. RIWAYAT PERKEMBANGAN

Pertumbuhan gigi I : Usia 9 bulan (Normal: 5-9 bulan)
Gangguan perkembangan mental : Tidak ada

5

Psikomotor
Tengkurap : Umur 3 bulan (Normal : 3-4 bulan)
Duduk : Umur 5 bulan (Normal : 6-9 bulan)
Berdiri : Umur 9 bulan (Normal : 9-12 bulan)
Berjalan : Umur 17 bulan (Normal : 13 bulan)
Bicara : - (Normal : 9-12 bulan)
Membaca dan menulis : -
Perkembangan pubertas
Rambut pubis : -
Payudara : -
Menarche : -
Kesimpulan : Riwayat perkembangan baik sesuai usia

G. RIWAYAT MAKANAN
Umur (bulan) ASI / PASI Buah / Biskuit Bubur Susu Nasi Tim
0 2 ASI - - -
2 4 ASI - - -
4 6 ASI + (5bulan) - + (5bulan)
6 8 ASI + - +
8 10 ASI + - +

Jenis Makanan Frekuensi dan Jumlah
Nasi / Pengganti 3 x / hari, 2-3 centong nasi
Sayur 1 x / hari, 1 centong sayur
Daging 1 x / minggu, 1 potong
Telur 1 x / minggu, 1 butir
Ikan 1 x / minggu, 1 ekor
Tahu -
Tempe -
Susu -
Kesimpulan : Pasien mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan serta zat gizi
sehari hari baik.
6

H. RIWAYAT IMUNISASI
Vaksin Dasar (Umur) Ulangan (Umur)
BCG 1 bulan X X - - -
DPT / PT 2 bulan 4 bulan 6 bulan - - -
Polio 0 bulan 1 bulan 6 bulan - - -
Campak 9 bulan X X - - -
Hepatitis B 0 bulan 1 bulan 6 bulan - - -

Kesimpulan : Imunisasi dasar lengkap sesuai jadwal, pasien belum mendapatkan
imunisasi ulangan.

I. RIWAYAT KELUARGA
a. Corak Reproduksi
No
Tanggal lahir
(umur)
Jenis
kelamin
Hidup
Lahir
Mati
Abortus
Mati
(sebab)
Keterangan
Kesehatan
1 3 Tahun Laki-laki + - - -
Sehat,
Riwayat
kejang
demam +
2 10 Bulan Perempuan + - - - Pasien

b. Riwayat Pernikahan
Ayah Ibu
Nama Tn. M Ny. E
Perkawinan Ke - 1 1
Umur Menikah 25 tahun 19 tahun
Pendidikan SMP SMA
Agama Islam Islam
Suku Bangsa Jakarta Jawa
Keadaan Kesehatan Sehat Sehat
Kosanguinitas - -
Penyakit - -


7

c. Riwayat Penyakit keluarga
Kakak kandung pasien pernah menderita kejang demam ketika usia 6 bulan, kejang hanya
sekali dan sampai sekarang tidak pernah kambuh. Ibu pasien alergi udang, gatal-gatal bila
mengkonsumsi udang, Ayah dari Ibu pasien menderita darah tinggi. Kencing manis,
penyakit jantung, penyakit paru, penyakit hati, penyakit ginjal, keganasan serta riwayat
kejang dalam keluarga disangkal.

Kesimpulan : Terdapat riwayat kejang, alergi dan hipertensi dalam keluarga pasien.

J. RIWAYAT LINGKUNGAN PERUMAHAN
Pasien tinggal bersama ayah dan ibunya beserta kakaknya di rumah milik orang tua pasien.
Rumah terdiri dari 1 kamar, 1 kamar mandi, 1 dapur, 1 ruang tengah. Ventilasi kurang,
sirkulasi tidak cukup baik dan pencahayaan cukup. Rumah terletak dipinggir kali, sumber air
bersih dari air tanah. Air limbah rumah tangga disalurkan langsung ke kali dan pembuangan
sampah dibuang ke kali. Keadaan lingkungan sekitar rumah padat, jarak antar 1 rumah ke
rumah lainnya berdempetan, banyak yang merokok di lingkungan rumah dan banyak hewan
peliharaan yang berkeliaran seperti ayam dan bebek. Di sekitar rumah banyak tetangga yang
batuk-batuk dan beberapa riwayat batuk-batuk lama.

Kesimpulan : Lingkungan perumahan kotor dan kumuh

PEMERIKSAAN FISIK
Lokasi : Bangsal lantai VI Timur, kamar 515
Tanggal / pukul : 25 Januari 2014 / 13.00

A. Status Generalis
Keadaan Umum
Kesan sakit : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
Kesan gizi : Gizi kurang
Keadaan lain : Pucat (-), sianosis (-), ikterik (-)



8

Data Antropometri
Berat badan : 7 kg
Tinggi badan : 72 cm
Lingkar kepala : 44 cm
Lingkar Lengan Atas : 11 cm

Status Gizi
BB / U = 7 / 8,6 x 100 % = 81,39 % (Gizi baik)
TB / U = 72/ 71 x 100 % = 101,41 % (Gizi baik)
BB / TB = 7 / 9 x 100 % = 77,78 % (Gizi kurang)
LK = 44 cm (Normocephali) LLA = 11 cm

Tanda Vital
Nadi : 130x/ menit, kuat, isi cukup, ekual kanan dan kiri, regular
Nafas : 22 x/ menit, tipe abdomino-torakal, inspirasi : ekspirasi = 1 : 3
Suhu : 36,9
O
C, axilla (diukur dengan termometer air raksa)

KEPALA : normocephali

RAMBUT : Rambut hitam, distribusi merata dan tidak mudah dicabut

WAJAH : Wajah simetris, benjolan (-), ruam (-)

MATA :
Visus : kesan baik Ptosis : -/-
Sklera ikterik : -/- Lagofthalmus : -/-
Konjungtiva anemis : -/- Cekung : -/-
Exophthalmus : -/- Bercak bitot : -/-
Endofthalmus : -/- Kornea jernih : +/+
Strabismus : -/- Lensa jernih : +/+
Nistagmus : -/- Pupil : bulat, isokor
Refleks cahaya : Langsung +/+ , tidak langsung +/+
Alis : Hitam, distribusi merata
Bulu mata : Hitam, distribusi merata, madarosis (-/-), trikiasis (-/-)
9

TELINGA :
Bentuk : Normotia Tuli : -/-
Nyeri tarik aurikula : -/- Nyeri tekan tragus : -/-
Liang telinga : Lapang/lapang Membran timpani : Sulit dinilai
Serumen : -/- Refleks cahaya : Sulit dinilai
Sekret : -/-

HIDUNG :
Bentuk : Simetris Napas cuping hidung : -/-
Sekret : cair bening Deviasi septum : -
Mukosa hiperemis : -/-

BIBIR : Simetris saat diam, pucat (-), kering (-), sianosis (-), labioskizis (-)

MULUT : Oral higiene baik, kering (-), gigi caries (-), trismus (-), mukosa gusi dan pipi :
merah muda, hiperemis (-), ulkus (-), halitosis (-), oral thrush (-), pakaloskizis (-)

LIDAH : Normoglosia, mukosa merah muda (-), atrofi papil (-), tremor (-), coated tongue (-)

TENGGOROKAN : Arkus faring simetris, uvula ditengah, tonsil T1-T1 hiperemis (-/-),
kripta melebar (-/-), detritus (-/-), faring hiperemis (-), PND (-)

LEHER : Bentuk tidak tampak kelainan, tidak tampak pembesaran tiroid maupun KGB,
tidak tampak deviasi trakea, tidak teraba pembesaran tiroid maupun KGB, trakea teraba di
tengah

THORAKS :
Inspeksi : Simetris saat inspirasi dan ekspirasi, deformitas (-), efloresensi (-), retraksi
suprastrenal (-), retraksi intercostals (-)

JANTUNG
Inspeksi : Ictus cordis terlihat pada ICS V linea midklavikularis sinistra
Palpasi : Ictus cordis teraba pada ICS V linea midklavikularis sinistra
Perkusi : Batas kiri jantung : ICS V linea midklavikularis sinistra
10

Batas kanan jantung : ICS III V linea sternalis dextra
Batas atas jantung : ICS III linea parasternalis sinistra
Auskultasi : BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-)

PARU
Inspeksi : Bentuk thoraks simetris pada saat statis dan dinamis, tidak ada
pernafasan yang tertinggal, pernafasan abdomino-torakal, retraksi
suprastrenal (-), retraksi intercostals (-), retraksi epigastrium (-), retraksi
subcostal (-), tidak ditemukan efloresensi pada kulit dinding dada
Palpasi : Nyeri tekan (-), benjolan (-), gerak napas simetris kanan dan kiri,

Perkusi : Sonor di kedua hemithoraks paru
Batas paru lambung : ICS VII linea axilarris anterior
Batas paru hepar : ICS VI linea midklavikularis dextra
Auskultasi : Suara napas vesikuler, reguler, ronchi -/-, wheezing -/-

ABDOMEN :
Inspeksi : Perut datar, tidak dijumpai adanya efloresensi pada kulit perut
maupun benjolan, gerakan peristaltik (-)
Palpasi : Datar, supel, defans muscular (-), NT (-), organomegali (-), turgor baik,
ballotemen (-/-)
Perkusi : Timpani pada seluruh lapang perut, shifting dullness (-)
Auskultasi : Bising usus (+), frekuensi 4 x / menit

ANOGENITALIA : jenis kelamin perempuan, tanda radang (-), ulkus (-), sekret (-),
benjolan (-)

KELENJAR GETAH BENING :
Preaurikuler : Tidak teraba membesar
Postaurikuler : Tidak teraba membesar
Submandibula : Tidak teraba membesar
Submental : Tidak teraba membesar
Superior cervical : Tidak teraba membesar
Posterior cervical : Tidak teraba membesar
11

Supraclavicula : Tidak teraba membesar
Axilla : Tidak teraba membesar
Inguinal : Tidak teraba membesar

ANGGOTA GERAK :
Ekstremitas akral hangat ++/++, oedeme --/--
Tangan Kanan Kiri
Tonus otot normotonus normotonus
Sendi aktif aktif
Refleks fisiologis
Biscep (+) (+)
Tricep (+) (+)
Refleks patologis
Hoffman-Tromer (-) (-)

Kaki Kanan Kiri
Tonus otot normotonus normotonus
Sendi aktif aktif
Refleks fisiologis
Platella (+) (+)
Achiles (+) (+)
Refleks patologis
Babinski (+) (+)
Schaeffer (-) (-)
Oppenheim (-) (-)
Gordon (-) (-)

KULIT : warna sawo matang merata, pucat (-), sianosis (-), ikterik (-), turgor kulit baik,
lembab, efloresensi (-), pengisian kapiler < 3 detik

TULANG BELAKANG : skoliosis (-), kifosis (-), lordosis (-), spina bifida (-), tidak terdapat
deviasi, benjolan (-), ruam (-), rambut (-)


12

TANDA RANGSANG MENINGEAL :
Kaku kuduk (-)
Brudzinski I (-) (-)
Brudzinski II (-) (-)
Laseq (-) (-)
Kerniq (-) (-)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Laboratorium Darah
Tanggal 25 Maret 2014
Hematologi Hasil Nilai Normal
Hemoglobin 8,5 g/ dL 10,5-12,9
Hematokrit 27 % 35-43
Leukosit 18,3 ribu/uL 6-17,5
Eritrosit 3,5 juta/uL 3,6-5,2
Trombosit 303 ribu/uL 229-553
LED 50 mm/jam 0-10
MCV 76 fL 74-102
MCH 23,9 pg 23-31
MCHC 31,6 g/dL 28-32
RDW 15,3 % <14
Hitung Jenis :
Basofil 0 % 0-1
Eosinofil 0 % 1-5
Netrofil Batang 1 % 0-8
Netrofil Segmen 80 % 17-60
Limfosit 16 % 20-70
Monosit 3 % 1-11





13

RESUME
An, V, usia 10 bulan , datang ke IGD RSUD Budhi Asih diantar oleh ibunya dengan
keluhan kejang sejak + 6 jam sebelum masuk RS, kejang sebanyak 8x dengan durasi
kurang dari 1 menit dan jarak 10 menit sekali, Os belum pernah kejang sebelumnya. Saat
kejang os dalam keadaan demam, demam tidak tinggi Sebelum kejang os sedang disusui
ibunya (ASI), ketika kejang kedua tangan kaku, kedua mata mendelik keatas, setelah
kejang os tertidur dan terkadang mengompol. Di UGD kejang 2x,tidak demam. Os pilek
dengan sekret bening cair sejak + 2 hari sebelum masuk RS. Os sering terjatuh
kebelakang dengan posisi terlentang lebih dari + 10x ketika sudah mulai bisa duduk.Os
tinggal dilingkungan kumuh dan disekitarnya banyak orang yang batuk-batuk lama,
Kakak kandung Os pernah kejang demam 1x ketika usia 6 bulan. Os lahir secara SC
dikarenakan ibu menderita PEB.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan; CM/TSS, Nadi: 130x/ menit, Nafas: 22 x/ menit,
Suhu: 36,9
O
C, Sekret hidung cair bening.
Pada pemeriksaan penunjang didapatkan: hemoglobin dan hematokrit menurun, leukosit
meningkat, LED meningkat.

DIAGNOSIS BANDING
a. Kejang Demam Kompleks
b. Epilepsi
c. Meningitis

DIAGNOSIS KERJA
1. Kejang Demam Kompleks
2. Anemia Def. Besi

PEMERIKSAAN ANJURAN
a. EEG

PENATALAKSANAAN
Non Medikamentosa
a. Komunikasi-Informasi-Edukasi kepada orang tua pasien mengenai keadaan pasien.
b. Tirah baring
c. Observasi tanda tanda vital
14

d. Kompres air hangat bila perlu
e. Menjaga agar lidah tidak tergigit dengan memasang spatel kayu diantara rahang atas
dan bawah pada saat kejang

Medikamentosa
UGD
a. IVFD KaEn1B 3cc/kgBB/jam
b. O
2
2lt/menit
c. Paracetamol 70 mg (jika suhu
>38C)
d. Stesolid Supp 5mg






Lantai 6 Timur
a. IVFD KaEn1B 3cc/kgBB/jam
b. Inj. Ampicilin 4 x 175mg
c. Paracetamol 70mg jika suhu
>38
o
C
d. Diazepam 0,7mg jika suhu >
38,5
o
C
e. Jika Kejang lagi fenitoin
140mg dalam NaCl 100cc
dalam 30 menit


PROGNOSIS
Ad Vitam : dubia ad bonam
Ad Sanationam : dubia ad bonam
Ad Fungtionam : dubia ad bonam













15

FOLLOW UP
Tanggal S O A P
26/3/14

- Demam (-)
- Muntah (-)
- Kejang pagi ini
3x
Pk. 05.00,
08.10,10.00
KU : Tampak sakit
sedang
KS : Compos mentis
TV : N = 104 x/m, R =
36x/m, S = 37
0
C
Kepala : Normosefali
Mata : CA -/-, SI -/-
Hidung : NCH (-),
sekret (-)
Telinga : NT (-/-),
sekret (-/-), serumen (-
/-)
Mulut : kering (-)
Leher : KGB ttm
Thoraks : retraksi (-)
-Pul : SN vesikuler,
rhonki -/-, wh -/-
- Cor : BJ I-II reguler,
m (-), g (-)
Abdomen : datar, BU
(+) 4x/menit, SD (-),
turgor baik, nyeri tekan
(-)
Ekstremitas : Akral
hangat --/++, CRT < 3s
Kejang demam
kompleks
dd/ Epilepsi
Meningitis


a. IVFD KaEn1B
3cc/kgBB/jam
b. Inj. Ampicilin 4 x 350mg
c. Paracetamol 70mg jika
suhu >38
o
C
d. Diazepam 0,7mg jika
suhu > 38,5
o
C
e. Jika kejang lagi Fenitoin
70mg drip dalam NaCl
50cc selama 30menit
f. Inj. Gentamicin 1x35mg
g. Konsul mata
h. CT scan kepala dengan
Kontras
i. NGT
j. ASI 6x30cc/NGT








16

Tanggal 26 Maret 2014
Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Normal
Hematologi
Besi (Fe/iron) 19 ug/dL 40 - 100
TIBC Besi daya ikat total 198 ug/dL 240 400
Kimia Klinik
Ureum 14 mg/dL 9 41
Kreatinin 0,21 mg/dL < 0,9

SADT
26 Maret 2014
Hasil gambaran darah tepi
Eritrosit :
Normositik Normokrom
Leukosit :
Kesan Jumlah: Meningkat
Morfologi: Normal
Trombosit:
Kesan Jumlah: Cukup
Morfologi : Normal
Kesan: Anemia Normositik Normokrom sesuai dengan anemia penyakit kronis
Leukositosis











17

Tanggal S O A P
27/3/14

- Demam (+)
- Pilek (+)
- Kejang 1x pk.
03.30

Jawaban konsul
mata:
Saat ini tidak
didapatkan
edema papil,
funduskopi: dbn
KU : Tampak sakit
sedang
KS : Compos mentis
TV : N = 80 x/m, R =
36x/m, S = 38
0
C
Kepala : Normosefali
Mata : CA -/-, SI -/-
Hidung : NCH (-),
sekret (-)
Telinga : NT (-/-),
sekret (-/-), serumen (-
/-)
Mulut : kering (-)
Leher : KGB ttm
Thoraks : retraksi (-)
-Pul : SN vesikuler,
rhonki -/-, wh -/-
- Cor : BJ I-II reguler,
m (-), g (-)
Abdomen : datar, BU
(+) 4x/menit, SD (-),
turgor baik, nyeri tekan
(-)
Ekstremitas : Akral
hangat ++/++, CRT <
3s
1. Kejang demam
kompleks
2. Anemia def. fe
dd/ Epilepsi
Meningitis
a. IVFD KaEn1B
3cc/kgBB/jam
b. Inj. Ampicilin 4 x 350mg
c. Paracetamol 70mg jika
suhu >38
o
C
d. Diazepam 0,7mg jika
suhu > 38,5
o
C
e. Fenitoin 2x20mg dalam
NaCl 0,9 % 10cc
f. Inj. Gentamicin 1x35mg
g. ASI 6x30cc/NGT



Tanggal 27 Maret 2014
Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Normal
Tinja
Faeces Rutin
Makroskopik :
18

Warna Hijau Coklat
Konsistensi Padat Lunak
Lendir Negatif Negatif
Darah Negatif Negatif
Mikroskopik :
Leukosit Negatif Negatif
Eritrosit Negatif Negatif
Amoeba Coli Negatif Negatif
Amoeba Histolitika Negatif Negatif
Telur Cacing Negatif Negatif
Pencernaan
Lemak Negatif Negatif
Amilum Negatif Negatif
Serat Positif Negatif
Sel Ragi Negatif Negatif

CT SCAN
Tanggal 27 Maret 2014

Kesan: Tidak tampak perdarahan, lesi iskemik, maupun massa intracranial.
19

Tanggal S O A P
28/3/14

- Demam (-)
Terakhir demam
kemarin pagi
- Pilek (+)
- Kejang 1x pk.
04.30

CT SCAN:
normal
KU : Tampak sakit
sedang
KS : Compos mentis
TV : N = 116 x/m, R =
34x/m, S = 36,6
0
C
Kepala : Normosefali
Mata : CA -/-, SI -/-
Hidung : NCH (-),
sekret (-)
Telinga : NT (-/-),
sekret (-/-), serumen (-
/-)
Mulut : kering (+)
Leher : KGB ttm
Thoraks : retraksi (-)
-Pul : SN vesikuler,
rhonki -/-, wh -/-
- Cor : BJ I-II reguler,
m (-), g (-)
Abdomen : datar, BU
(+) 4x/menit, SD (-),
turgor baik, nyeri tekan
(-)
Ekstremitas : Akral
hangat ++/++, CRT <
3s
1. Epilepsi
2. Anemia def. fe
dd/ Kejang demam
kompleks

a. IVFD KaEn1B
3cc/kgBB/jam
b. Inj. Ampicilin 4 x 350mg
c. Paracetamol 70mg jika
suhu >38
o
C
d. Diazepam 0,7mg jika
suhu > 38,5
o
C
e. Inj. Gentamicin 1x35mg
h. Fenitoin 2x20mg dalam
NaCl 0,9 % 10cc
f. Dekapen Syr 2x0,7cc
g. ASI 6x30cc/NGT






20

Tanggal 28 Maret 2014
Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Normal
Hematologi
Hemoglobin 10,3 g/ dL 10,5-12,9
Hematokrit 32 % 35-43
Leukosit 6,1 ribu/uL 6-17,5
Eritrosit 4,3 juta/uL 3,6-5,2
Trombosit 287 ribu/uL 229-553
MCV 74,5 fL 74-102
MCH 24,2 pg 23-31
MCHC 32,4 g/dL 28-32
RDW 13,8 % <14
Kimia Klinik
Kalsium Ion 1,28 mmol/L 1,13-1,32
Elektrolit
Natrium (Na) 143 mmol/L 135 155
Kalium (K) 3,6 mmol/L 3,6 5,5
Klorida (Cl) 109 mmol/L 98 109


Tanggal S O A P
29/3/14

- Demam (-)
- Pilek (+)
- Kejang pagi ini
1x pk. 03.30 dan
semalam pk.
22.00

Lab (28/3/14)
L: 6,1
Hb: 10.3
Ht: 32
KU : Tampak sakit
sedang
KS : Compos mentis
TV : N = 132 x/m, R =
36x/m, S = 36,6oC
Kepala : Normosefali
Mata : CA -/-, SI -/-
Hidung : NCH (-),
sekret cair bening
Telinga : NT (-/-),
sekret (-/-), serumen (-
/-)
1. Epilepsi
2. Anemia def. fe
(dalam perbaikan)


a. IVFD KaEn1B
3cc/kgBB/jam
b. Inj. Ampicilin 4 x 350mg
c. Paracetamol 70mg jika
suhu >38
o
C
d. Diazepam 0,7mg jika
suhu > 38,5
o
C
e. Inj. Gentamicin 1x35mg
i. Fenitoin 2x20mg dalam
NaCl 0,9 % 10cc
f. Dekapen Syr 2x1,5cc
g. AFF NGT
21

Mulut : kering (-)
Leher : KGB ttm
Thoraks : retraksi (-)
-Pul : SN vesikuler,
rhonki -/-, wh -/-
- Cor : BJ I-II reguler,
m (-), g (-)
Abdomen : datar, BU
(+) 4x/menit, SD (-),
turgor baik, nyeri tekan
(-)
Ekstremitas : Akral
hangat ++/++, CRT <
3s
h. Makan bebas




Tanggal S O A P
01/4/14

- Demam (-)
- Pilek (+)
- Kejang (-),
kejang terakhir
minggu pagi

KU : Tampak sakit
Ringan
KS : Compos mentis
TV : N = 124 x/m, R =
28x/m, S = 36
o
C
Kepala : Normosefali
Mata : CA -/-, SI -/-
Hidung : NCH (-),
sekret cair bening
Telinga : NT (-/-),
sekret (-/-), serumen (-
/-)
Mulut : kering (-)
Leher : KGB ttm
Thoraks : retraksi (-)
1. Epilepsi
2. Anemia def. fe
(dalam perbaikan)
a. Aff Infus
b. Paracetamol 70mg jika
suhu >38oC
c. Diazepam 0,7mg jika
suhu > 38,5oC
d. Depaken syr 2x1,5cc
e. Boleh pulang
22

-Pul : SN vesikuler,
rhonki -/-, wh -/-
- Cor : BJ I-II reguler,
m (-), g (-)
Abdomen : datar, BU
(+) 4x/menit, SD (-),
turgor baik, nyeri tekan
(-)
Ekstremitas : Akral
hangat ++/++, CRT <
3s















23

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


EPILEPSI
Definisi
Epilepsi adalah suatu kelainan otak yang ditandai oleh adanya faktor predisposisi
yang dapat mencetuskan bangkitan epileptik, perubahan neurobiologis, kognitif, psikologis
dan adanya konsekuensi sosial yang diakibatkannya. Sedangkan bangkitan epileptik
didefinisikan sebagai tanda dan/atau gejala yang timbul sepintas (transien) akibat aktivitas
neuron yang berlebihan atau sinkron yang terjadi di otak.
1

Terdapat beberapa elemen penting dari definisi epilepsi yaitu:
1,2

1. Riwayat sedikitnya satu bangkitan epileptik sebelumnya
2. Perubahan di otak yang meningkatkan kecenderungan terjadinya bangkitan
selanjutnya
3. Berhubungan dengan gangguan pada faktor neurobiologis, kognitif,
psikologis, dan konsekuensi sosial yang ditimbulkan.
Serangan epileptik adalah gejala yang timbul secara tiba-tiba dan menghilang secara
tiba-tiba pula. Serangan yang hanya bangkit sekali saja tidak boleh dianggap sebagai
serangan epileptik, tetapi serangan yang timbul secara berkala pada waktu-waktu tertentu
barulah dapat disebut serangan epileptik.
2


Epidemiologi
Epilepsi dijumpai pada semua ras di dunia dengan insidensi dan prevalensi yang hampir
sama, walaupun beberapa peneliti menemukan angka yang lebih tinggi di Negara
berkembang. Penderita laki-laki lebih banyak daripada penderita wanita, dan lebih sering
dijumpai pada anak pertama.
3

Peneliti umumnya memperoleh insiden 20-70 per 100.000 per tahun dan prevalensi sewaktu
4-10 per 1000 pada populasi umum. Pada populasi anak diperkirakan 0,3-0,4% diantaranya
mengalami epilepsi.
4
Angka kejadian epilepsi masih tinggi terutama di negara berkembang. Berdasarkan asumsi
bahwa Indonesia termasuk negara yang sedang berkembang, maka kejadian epilepsi di
Indonesia lebih tinggi daripada di negara maju/industri. Dari banyak studi menunjukkan
bahwa rata-rata prevalensi aktif 8,2 per 1.000 penduduk, sedangkan angka insidensi epilepsi
24

mencapai 50 per 100.000 penduduk. Bila jumlah penduduk Indonesia berkisar 220 juta, maka
diperkirakan jumlah pasien epilepsi yang masih mengalami bangkitan atau membutuhkan
pengobatan sekitar 1,8 juta. Prevalensi epilepsi pada bayi dan anak-anak cukup tinggi,
menurun pada dewasa muda dan pertengahan, kemudian meningkat lagu pada kelompok usia
lanjut.
5

Klasifikasi
Epilepsi dapat diklasifikasikan menurut klasifikasi bangkitan epilepsi dan klasifikasi
sindroma epilepsi. Klasifikasi sindroma epilepsi berdasarkan faktor-faktor tipe bangkitan
(umum atau terlokalisasi), etiologi (simtomatik atau idiopatik), usia, dan situasi yang
berhubungan dengan bangkitan. Sedangkan klasifikasi epilepsi menurut bangkitan epilepsi
berdasarkan gambaran klinis dan elektroensefalogram.
1

Klasifikasi Internasional Bangkitan Epilepsi
1

I. Bangkitan Parsial
A. Bangkitan Parsial Sederhana (tanpa gangguan kesadaran)
1. Dengan gejala motorik
2. Dengan gejala sensorik
3. Dengan gejala otonomik
4. Dengan gejala psikik
B. Bangkitan Parsial Kompleks (dengan gangguan kesadaran)
1. Awalnya parsial sederhana, kemudian diikuti gangguan kesadaran
a. Bangkitan parsial sederhana, diikuti gangguan kesadaran
b. Dengan automatisme
2. Dengan gangguan kesadaran sejak awal bangkitan
a. Dengan gangguan kesadaran saja
b. Dengan automatisme
C. Bangkitan Umum Sekunder (tonik-klonik, tonik atau klonik )
1. Bangkitan parsial sederhana berkembang menjadi bangkitan umum
2. Bangkitan parsial kompleks berkembang menjadi bangkitan umum
3. Bangkitan parsial sederhana berkembang menjadi parsial
4. kompleks, dan berkembang menjadi bangkitan umum


25

II. Bangkitan Umum (konvulsi atau non-konvulsi)
1. Bangkitan lena
2. Bangkitan mioklonik
3. Bangkitan tonik
4. Bangkitan atonik
5. Bangkitan klonik
6. Bangkitan tonik-klonik

III. Bangkitan Epileptik yang tidak tergolongkan
Etiologi
3,5

Etiologi epilepsi dapat dibagi atas 3 kelompok :
1. Epilepsi idiopatik yang penyebabnya tidak diketahui meliputi 50% dari penderita
epilepsi anak umumnya mempunyai predisposisi genetik, awitan biasanya pada usia > 3
tahun. Biasanya tidak menunjukkan manifestasi cacat otak dan juga tidak bodoh.
Umumnya faktor genetik lebih berperan pada epilepsi idiopatik. Dengan berkembangnya
ilmu pengetahuan dan ditemukannya alat alat diagnostik yang canggih kelompok ini
makin kecil
2. Epilepsi simptomatik dapat terjadi bila fungsi otak terganggu oleh berbagai kelainan
intracranial maupun ekstrakranial. Penyebab intracranial misalnya anomaly congenital,
trauma otak, neoplasma otak, lesi iskemia, ensefalopati, abses otak, jaringan parut.
Penyebab yang bermula ekstrakranial dan kemudian juga mengganggu fungsi otak
misalnya gagal jantung, gangguan pernafasan, gangguan metabolism (hipoglikemia,
hiperglikemia, uremia), gangguan keseimbangan elektrolit, intoksikasi obat, gangguan
hidrasi.
3. Epilepsi kriptogenik dianggap simtomatik tetapi penyebabnya belum diketahui, termasuk
disini adalah sindrom West, sindrom Lennox-Gastaut dan epilepsi mioklonik. Gambaran
klinik sesuai dengan ensefalopati difus.

Patofisiologi
Dasar serangan epilepsi ialah gangguan fungsi neuron-neuron otak dan transmisi pada sinaps.
Tiap sel hidup, termasuk neuron-neuron otak mempunyai kegiatan listrik yang disebabkan
oleh adanya potensial membran sel. Potensial membran sel neuron bergantung pada
permeabilitas selektif membran neuron, yakni membran sel mudah dilalui oleh ion K dari
ruang ekstraseluler ke intraseluler dan kurang sekali ion Ca, Na, Cl, sehingga di dalam sel
26

erdapat konsentrasi tinggi ion K dan konsentrasi rendah ion Ca,Na, dan Cl, sedangkan
keadaan sebaliknya terdapat diruang ekstraseluler. Perbedaan konsentrasi ion-ion inilah yang
menimbulkan potensial membran.
2

Ujung terminal neuron-neuron berhubungan dengan dendrit-dendrit dan badan-badan neuron
yang lain, membentuk sinaps dan merubah polarisasi membran neuron berikutnya. Ada dua
jenis neurotransmitter, yakni neurotransmitter eksitasi yang memudahkan depolarisasi atau
lepas muatan listrik dan neurotransmitter inhibisi yang menimbulkan hiperpolarisasi sehingga
sel neuron lebih stabil dan tidak mudah melepaskan listrik. Diantara neurotransmitter-
neurotransmitter eksitasi dapat disebut glutamate, aspartat dan asetilkolin sedangkan
neurotransmitter inhibisi yang terkenal ialah gamma amino butyric acid (GABA) dan glisin.
Jika hasil pengaruh kedua jenis lepas muatan listrik dan terjadi transmisi impuls atau
rangsang. Hal ini misalnya terjadi dalam keadaan fisiologik apabila potensial aksi tiba di
neuron. Dalam keadaan istirahat, membran neuron mempunyai potensial listrik tertentu dan
berada dalam keadaan polarisasi. Aksi potensial akan mencetuskan depolarisasi membran
neuron dan seluruh sel akan melepas muatan listrik.
2,3

Oleh berbagai faktor, diantaranya keadaan patologik, dapat merubah atau menganggu fungsi
membran neuron sehingga membran mudah dilampaui oleh ion Ca dan Na dari ruangan
ekstra ke intraseluler. Influks Ca akan mencetuskan letupan depolarisasi membran dan lepas
muatan listrik berlebihan, tidak teratur dan terkendali. Lepas muatan listrik demikian oleh
sejumlah besar neuron secara sinkron merupakan dasar suatu serangan epilepsi. Suatu sifat
khas serangan epilepsi ialah bahwa beberapa saat serangan berhenti akibat pengaruh proses
inhibisi. Di duga inhibisi ini adalah pengaruh neuron-neuron sekitar fokus epileptik. Selain
itu juga sistem-sistem inhibisi pra dan pasca sinaptik yang menjamin agar neuron-neuron
tidak terus menerus berlepas muatan memegang peranan. Keadaan lain yang dapat
menyebabkan suatu serangan epilepsi terhenti ialah kelelahan neuron-neuron akibat habisnya
zat-zat yang penting untuk fungsi otak.
2,3

Secara teoritis ada dua faktor yang dapat menyebabkan hal ini:
4

a. Keadaan dimana fungsi jaringan neuron penghambat kurang optimal hingga terjadi
pelepasan impuls epileptik secara berlebihan. Fungsi neuron penghambat bisa kurang
optimal antara lain bila konsentrasi GABA tidak normal. Otak pasien yang menderita
epilepsi ternyata memang mengandung konsentrasi GABA yang rendah. Hambatan oleh
GABA dalam bentuk inhibisi potensial postsinaptik (IPSIs = inhibitory post synaptic
potentials) adalah lewat reseptor. Suatu hipotesa mengatakan bahwa aktivitas epileptic
disebabkan oleh hilang atau berkurangnya inhibisi oleh GABA. Zat ini merupakan
27

neurotransmitter inhibitorik utama di otak. Riset membuktikan bahwa perubahan pada
salah satu komponennya bisa menghasilkan inhibisi tak lengkap yang akan menambah
rangsangan.
b.
Keadaan dimana fungsi jaringan neuron eksitatorik berlebihan hingga terjadi pelepasan
impuls epileptik berlebihan juga. Kemungkinan lain adalah bahwa fungsi jaringan
neuron penghambat normal tapi sistem pencetus impuls (eksitatorik) yang terlalu kuat.
Keadaan ini bisa ditimbulkan oleh meningkatnya konsentrasi glutamat di otak, sampai
berapa jauh peran peningkatan glutamat ini pada orang yang menderita epilepsi belum
diketahui secara pasti.
5,6

Gejala
3,7

1. Epilepsi umum
a. Major:
Epilepsi grand mal (meliputi 75% kasus) meliputi tipe primer dan sekunder. Epilepsi
grand mal ditandai dengan hilang kesadaran dan bangkitan tonik-klonik. Manifestasi
klonik : kedua golongan epilepsi grand mal tersebut sama, perbedaan terletak pada ada
tidaknya aura, yaitu gejala pendahulu atau preiktal sebelum serangan kejang-kejang.
Pada epilepsi grand mal simtomatik selalu didahului aura yang memberi manifestasi
sesuai dengan letak fokus epileptogen pada permukaan otak. Aura dapat berupa
perasaan tidak enak, melihat sesuatu, mencium bau-bauan tak enak, mendengar suara
gemuruh, mengecap sesuatu, sakit kepala dan sebagainya. Bangkitan sendiri dimulai
dengan hilang kesadaran sehingga aktivitas penderita terhenti. Kemudian penderita
mengalami kejang tonik, otot-otot berupa berkontraksi sangat hebat, penderita jatuh,
lengan fleksi dan tungkai ekstensi. Udara paru-paru terdorong keluar dengan deras
sehingga terdengar jeritan yang dinamakan jeritan epilepsi. Kejang tonik ini kemudian
disusul dengan kejang klonik yang seolah-olah menggucang-guncang dan membanting-
banting tubuh penderita ke tanah. Kejang tonik-klonik berlangsung 2-3 menit. Selain
kejang-kejang terlihat aktivitas vegetatif seperti berkeringat, midriasis pupil, refleks
cahaya negatif, mulut berbuih, dan sianosis. Kejang berhenti secara berangsur-angsur
dan penderita dalam keadaan stupor sampai koma. Kira-kira 4-5 menit kemudian
penderita terbangun, termenung, dan kalau tidak diganggu akan tidur beberapa jam.
Frekuensi bangkitan dapat setiap jam sampai setahun sekali.


28

b. Minor :
Epilepsi petit mal yang sering disebut pykno epilepsi ialah epilepsi umum yang
idiopatik. Meliputi kira-kira 3-4% dari kasus epilepsi. Umumnya timbul pada anak
sebelum pubertas (4-5 tahun). Bangkitan berupa kehilangan kesadaran yang
berlangsung tidak lebih dari 10 menit. Sikap berdiri atau duduk sering kali masih dapat
dipertahankan. Kadang-kadang terlihat gerakan alis, kelopak dan bola mata. Setelah
sadar biasanya penderita dapat melanjutkan akitvitas semula. Bangkitan petit mal yang
tidak tertanggulangi 50% akan menjadi grand mal. Petit mal yang tidak akan timbul lagi
pada usia dewasa dapat diramalkan berdasarkan 4 ciri : timbul pada usia 4-5 tahun
dengan taraf kecerdasan yang normal, harus murni dan hilang kesadaran hanya
beberapa detik, mudah ditanggulangi hanya dengan satu macam obat, pola EEG khas
berupa gelombang runcing dan lambat dengan frekuensi 3 per detik.
c. Bangkitan mioklonus
Bangkitan berupa gerakan involunter misalnya anggukan kepala, fleksi lengan yang
terjadi berulang-ulang, bangkitan terjadi demikian cepatnya sehingga sukar diketahui
apakah ada kehilangan kesadaran atau tidak. Bangkitan ini sangat peka terhadap
rangsang sensorik.
d. Bangkitan akinetik
Bangkitan berupa kehilangan kelola sikap tubuh karena menurunnya tonus otot dengan
tiba-tiba dan cepat sehingga penderita jatuh atau mencari pegangan dan kemudian dapat
berdiri kembali.
e. Spasme infantile.
Jenis epilepsi ini timbul pada bayi 3-6 bulan dan lebih sering pada anak laki-laki.
Penyebab yang pasti belum diketahui, namun selalu dihubungkan dengan kerusakan
otak yang luas seperti proses degeneratif, gangguan akibat trauma, infeksi dan
gangguan pertumbuhan. Bangkitan dapat berupa gerakan kepala ke atas dan kedepan,
lengan ekstensi, tungkai tertarik keatas, kadang-kadang disertai tangisan atau teriakan,
miosis atau midriasis pupil, sianosis dan berkeringat.
f. Bangkitan motorik.
Fokus epileptogen terletak di korteks motorik. Bangkitan kejang pada salah satu atau
sebagian anggota badan tanpa disertai dengan hilangnya kesadaran. Penderita seringkali
dapat melihat sendiri gerakan otot yang misalnya dimulai pada ujung jari tangan,
kemudian ke otot lengan bawah dan akhirnya seluruh lengan. Manifestasi ini disebut
Jacksonian Marche
29

2. Epilepsi parsial
a. Bangkitan sensorik
Bangkitan yang terjadi tergantung dari letak fokus epileptogen pada korteks sensorik.
Bangkitan somatosensorik dengan fokus terletak di gyrus postcentralis memberi gejala
kesemutan, nyeri pada salah satu bagian tubuh, perasaan posisi abnormal atau perasaan
kehilangan salah satu anggota badan. Aktivitas listrik pada bangkitan ini dapat
menyebar ke neuron sekitarnya dan mencapai korteks motorik sehingga terjadi kejang-
kejang.
b. Epilepsi lobus temporalis
Jarang terlihat pada usia 10 tahun. Memperlihatkan gejala fokalitas yang khas sekali.
Manifestasi klinis fokalitas ini sangat kompleks karena fokus epileptogennya terletak di
lobus temporalis dan bagian otak ini meliputi kawasan pengecap, pendengar, penghidu
dan kawasan asosiatif antara ketiga indera tersebut dengan kawasan penglihatan.
Manifestasi yang kompleks ini bersifat psikomotorik. Manifestasi klinis ialah sebagai
berikut : kesadaran hilang sejenak, dalam keadaan hilang kesadaran ini penderita masuk
kealam pikiran antara sadar dan mimpi, dalam keadaan ini timbul gejala fokalisasi yang
terdiri dari halusinasi dan automatisme yang berlangsung beberapa detik sampai
beberapa jam.

Diagnosis
Diagnosis epilepsi ditegakkan atas dasar adanya gejala dan tanda klinik dalam bentuk
bangkitan epilepsi berulang (minimum 2 kali) yang ditunjang oleh gambaran epileptiform
pada EEG. Secara lengkap urutan pemeriksaan untuk menuju ke diagnosis adalah sebagai
berikut:
8

1. Anamnesis
Pola atau bentuk bangkitan
Lama bangkitan
Gejala sebelum, selama dan pasca bangkitan
Frekuensi bangkitan
Faktor pencetus
Ada atau tidak adanya penyakit lain yang diderita sekarang
Usia pada saat terjadinya bangkitan pertama
Riwayat pada saat dalam kandungan, persalinan dan perkembangan bayi atau anak
Riwayat terapi epilepsi sebelumnya
30

Riwayat penyakit epilepsi dalam keluarga
2. Pemeriksaan fisis umum dan neurologis
Dilakukan pemeriksaan yang meliputi pemeriksaan secara pediatris dan neurologis.
Diperiksa keadaan umum, tanda-tanda vital, kepala, jantung, paru, perut, hati dan limpa,
anggota gerak dan sebagainya. Hal yang perlu diperiksa antara lain adanya tanda-tanda
dari gangguan yang berhubungan dengan epilepsi, misalnya trauma kepala, infeksi telinga
atau sinusitis, gangguan kongenital, gangguan neurologik fokal atau difus, kecanduan
alcohol atau obat terlarang dan kanker. Pada pemeriksaan neurologis diperhatikan
kesadaran, kecakapan, motoris dan mental, tingkah laku, berbagai gejala proses
intrakranium, fundus okuli, penglihatan, pendengaran, saraf otak lain, sistem motorik
(kelumpuhan, trofik, tonus, gerakan tidak terkendali, koordinasi, ataksia), sistem sensorik
(parastesia, hipestesia, anastesia), refleks fisiologis dan patologis.
3. Pemeriksaan penunjang:
Pemeriksaan Elektroensefalografi (EEG)
Merupakan pemeriksaan yang mengukur arus listrik dalam otak. Rekaman EEG
sebaiknya dilakukan pada saat bangun, tidur dengan stimulasi fotik, hiperventilasi,
stimulasi tertentu sesuai pencetus bangkitan (pada epilepsi refleks).
Pemeriksaan pencitraan otak
MRI merupakan prosedur pencitraan pilihan untuk epilepsi dengan sensitivitas tinggi
dan lebih spesifik dibanding dengan CT Scan. MRI dapat mendeteksi sklerosis
hipokampus, disgenesis kortikal, tumor dan hemangioma kavernosa. Pemeriksaan MRI
diindikasikan untuk epilepsi yang sangat mungkin memerlukan terapi pembedahan.
Pemeriksaan laboratorium
- Pemeriksaan darah, meliputi hemoglobin, leukosit, hematokrit, trombosit dan
apusan darah tepi, elektrolit, kadar gula, fungsi hati, fungsi ginjal.
- Pemeriksaan cairan serebrospinal, bila dicurigai adanya infeksi SSP

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan primer pada penderita epilepsi bertujuan agar kualitas hidup optimal untuk
pasien sesuai dengan perjalanan penyakit epilepsi dan disabilitas fisik maupun mental yang
dimilikinya dapat tercapai. Tujuan tersebut hanya akan dicapai melalui beberapa upaya yang
diolah serta diterapkan secara holistik antara lain adalah menghentikan bangkitan,
mengurangi frekuensi bangkitan, mencegah timbulnya efek samping, menurunkan angka
kesakitan dan kematian serta mencegah timbulnya efek samping obat anti epilepsi.
5

31

Terapi dapat dibagi dalam 2 golongan :
1. Terapi kausal
Terapi kausal dapat dilakukan pada epilepsi simptomatik yang sebabnya dapat ditemukan,
misalnya :
- Infeksi SSP dan selaputnya, diberikan antibiotic atau obat-obat lain yang dapat
memberantas penyebabnya
- Pada neoplasma dan perdarahan di dalam rongga intrakranium mungkin diperlukan
tindakan operatif
- Pada gangguan peredaran darah otak pemberian oksigen mungkin dapat membantu
mengatasi keadaan hipoksia yang terjadi.
2. Terapi medikamentosa anti kejang
3,5

Prinsip terapi farmakologik pasien epilepsi anak pada umumnya sama dengan prinsip terapi
farmakologik pasien dewasa yaitu:
1. Obat-obat anti epilepsi mulai diberikan bila:
- Diagnosis epilepsi telah ditegakkan
- Pasien, terutama keluarga pasien telah menerima penjelasan tentang tujuan
pengobatan
- Pasien maupun keluarganya telah diberitahu tentang kemungkinan efek samping
obat anti epilepsi yang akan timbul.
2. Terapi dimulai dengan monoterapi.
3. Pemberian obat dimulai dari dosis rendah dan dinaikkan bertahap sampai mencapai dosis
efektif.
4. Bila dengan pemberian dosis maksimum obat pertama tidak dapat mengontrol bangkitan,
maka perlu ditambahkan obat anti epilepsi kedua. Bila obat anti epilepsi telah mencapai
kadar terapi maka obat anti epilepsi pertama diturunkan bertahan (tapering off),
perlahanlahan.
5. Penambahan obat ketiga baru dilakukan setelah terbukti bangkitan tidak dapat diatasi
dengan penggunaan dosis maksimal kedua obat anti epilepsi pertama.
6. Pasien dengan bangkitan tunggal direkomendasikan untuk diberi terapi bila:
Dijumpai fokus epilepsi yang luas pada EEG
Pada pemeriksaan CT scan atau MRI dijumpai lesi yang berkorelasi dengan bangkitan,
misalnya neoplasma otak, AVM, abses otak, ensefalitis herpes
Pada pemeriksaan neurologik dijumpai kelainan yang mengarah pada adanya kerusakan
otak
32

Terdapatnya riwayat epilepsi pada saudara sekandung (bukan orang tua)
Riwayat bangkitan simptomatik
Riwayat trauma kepala terutama yang disertai penurunan kesadaran, stroke, infeksi SSP
Bangkitan pertama berupa status epileptikus.
7. Efek samping obat-obat anti epilepsi perlu diperhatikan, demikian pula halnya dengan
interaksi farmakokinetik antar obat anti epilepsi.

Obat-obatan Epilepsi
9

a. Golongan Hidantoin
Fenitoin
Merupakan golongan hidantoin yang sering dipakai. Kerja obat ini antara lain
penghambatan penjalaran rangsang dari fokus ke bagian lain di otak.
Indikasi : epilepsi umum khususnya grandma tipe tidur, epilepsi fokal dan dapat juga
untuk epilepsi lobus temporalis
Dosis : dewasa 300-600 mg/hari, anak 4-8 mg/hari, maksimal 300 mg/hari
b. Golongan barbiturate
Fenobarbital
Merupakan golongan barbiturate yang bekerja lama (long acting). Kerjanya membatasi
penjalaran aktivitas serangan dengan menaikkan ambang rangsang Indikasi : epilepsi
umum khusus epilepsi Grand Mal tipe sadar, epilepsi fokal
Dosis : dewasa 200 mg/hari, anak 3-5 mg/kgBB/hari
c. Golongan benzodiazepine
Diazepam
Dikenal sebagai obat penenang, tetapi merupakan obat pilihan utama status epileptik
Dosis : dewasa 2-10 mg im/iv, dapat diulang setiap 4 jam. Anak >5 tahun 5-10 mg im/iv,
anak 1 bulan-5 tahun 0,2-2 mg im/iv
d. Golongan suksinimid
Etosuksimid
Indikasi : epilepsi petit mal murni
Dosis : 20-30 mg.kgBB/hari
e. Golongan anti epilepsi lainnya
Sodium valproat
Indikasi :epilepsi petit mal murni, dapat pula untuk epilepsi mempunyai cara kerja
menstabilkan keluar masuknya natrium pada sel otak
33

Indikasi : dapat dipakai pada epilepsi Petit Mal, dan pada epilepsi Grand Mal dimana
seranganya sering datang berhubungan dengan siklus menstruasi
Dosis : sehari total 8-30 mg/kgBB

Karbamazepin
Indikasi : epilepsi lobus temporalis dengan epilepsi Grand Mal
Dosis : dewasa 800-1200 mg/hari

Pemakaian Obat Anti Epilepsi pada Anak
10

Penderita epilepsi cenderung untuk mengalami serangan kejang secara spontan,tanpa
faktor provokasi yang kuat atau yang nyata. Timbulnya bangkitan kejang yang tidak dapat
diprediksi pada penderita epilepsi selain menyebabkan kerusakan pada otak, dapat pula
menimbulkan cedera atau kecelakaan. Kenyataan inilah yang membuat pentingnya pemberian
antikonvulsan pada pasien epilepsi. Antikonvulsi digunakan terutama untuk mencegah dan
mengobati bangkitan epilepsi (epileptic seizure). Golongan obat ini lebih tepat dinamakan
anti epilepsi sebab jarang digunakan untuk gejala konvulsi penyakit lain. Terdapat dua
mekanisme anti epilepsi yang penting yaitu:
1) Mencegah timbulnya letupan depolarisasi eksesif pada neuron epileptik dalam focus
epileptik
2) Mencegah letupan depolarisasi pada neuron normal akibat pengaruh dari fokus epilepsi,
Bagian terbesar antiepilepsi yang dikenal termasuk dalam golongan terakhir ini.
Berbagai obat antiepilepsi diketahui mempengaruhi berbagai fungsi neurofisiologik
otak, terutama yang mempengaruhi sistem inhibisi yang melibatkan GABA dalam
mekanisme kerja berbagai antiepilepsi.
Obat antiepilepsi terbagi dalam delapan golongan. Empat golongan antiepilepsi
mempunyai rumus dengan inti berbentuk cincin yang mirip satu sama lain yaitu golongan
hidantoin, barbiturate, oksazolidindion dan suksinimid. Akhir-akhir ini karbamazepin dan
asam valproat memegang peran penting dalam pengobatan epilepsi; karbamazepin untuk
bangitan parsial sederhana maupun kompleks, sedangkan asam valproat terutama untuk
bangkitan lena maupun bangkitan kombinasi lena dengan bangkitan tonik klonik.




34

Penghentian Obat Anti Epilepsi
4,5

Terdapat dua hal yang perlu diperhatikan dalam menghentikan terapi obat entiepilepsi, yaitu:
1) Syarat umum untuk menghentikan pemberian obat antiepilepsi :
- Pasien menjalani terapi secara teratur dan telah bebas dari bangkitan selama minimal
dua tahun
- Gambaran EEG normal
- Dilakukan secara bertahap, pada umumnya 25% dari dosis semula setiap bulan dalam
jangka waktu 3-6 bulan
- Penghentian dimulai dari satu obat antiepilepsi yang bukan utama.
2) Kekambuhan setelah penghentian obat antiepilepsi.
Kekambuhan setelah penghentian obat antiepilepsi akan lebih besar kemungkinannya pada
keadaan sebagai berikut:
- Semakin tua usia
- Epilepsi simptomatik
- Gambaran EEG yang abnormal
- Semakin lama adanya bangkitan sebelum dapat dikendalikan
- Tergantung banyak sindrom epilepsi yang diderita; sangat jarang pada sindrom
epilepsi benigna dengan gelombang tajam pada daerah sentro-temporal, 5-25% pada
epilepsi lena masa kanak-kanak, 25-75% epilepsi parsial kriptogenik/simptomatik, 85-
95% pada epilepsi mioklonik pada anak.
- Penggunaan lebih dari satu obat antiepilepsi
- Masih mendapatkan satu atau lebih bangitan setelah memulai terapi
- Mendapat terapi 10 tahun atau lebih.
- Kemungkinan untuk kambuh lebih kecil pada pasien yang telah bebas dari bangkitan
selama 3-5 tahun, atau lebih dari 5 tahun. Bila bangkitan timbul kembali
makagunakan dosis efektif terakhir (sebelum pengurangan dosis obat anti terapi),
kemudian dievaluasi kembali.







35

Prognosis
5

Pasien epilepsi yang berobat teratur, 1/3 akan bebas dari serangan paling sedikit 2
tahun dan bisa lebih dari 5 tahun sesudah serangan terakhir obat dihentikan, pasien tidak
mengalami serangan epilepsi lagi, dikatakan telah mengalami remisi. Diperkirakan 30%
pasien tidak mengalami remisi meskipun minum obat dengan teratur. Sesudah remisi,
kemungkinan munculnya serangan ulang paling sering didapat pada sawan tonik-klonik dan
epilepsi parsial kompleks. Demikian pula usia muda lebih mudah mengalami relaps sesudah
remisi.


























36

DAFTAR PUSTAKA

1. Octaviana F. Epilepsi. Medicinus. Vol 21 Desember 2008. FKUI
2. Purba SJ. Epilepsi : Permasalahan di Reseptor atau Neurotransmitter. Medicinus. Vol 21
Desember 2008. FKUI
3. Machfoed, Hasan M. Epilepsi.http://www.journal.unair.ac.id [diakses tanggal 2 April
2014]
5. Lazuardi S. Buku Ajar. Neurologi Anak. Dalam: editor Soetomenggolo T, Ismael S.
Pengobatan Epilepsi. Jakarta: BP IDAI; 2000.pp 237-38
6. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Buku Kuliah 2 Ilmu Kesehatan Anak Jakarta :
Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI; 2003. p. 855-59.
7.Heafield MT. Epilepsy. BMJ. Edisi 8 April 2000.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1117894/ [diakses tanggal 3 April 2014]
8. Ilae. Epilepsy. http://www.ilae-epilepsy.org/visitors/Documents/10-epilepsy.pdf [diakses
tanggal 3 April 2014]
9. Haslam HA. Nelson Ilmu Kesehatan Anak. Edisi 15. Vol 3. Dalam: editor Behrman,
Kliegman, Arvin. Epilepsi. Jakarta : EGC; 2000. pp 2067-68
10.Christian M. Korff Douglas R. Nordli Jr. Current Pediatric Therapy, 18th ed. In: Burg
DF, editor. Epilepsy. USA: Saunders; 2006.