Anda di halaman 1dari 35

BAB I.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit ginjal kronik adalah suatu proses patologi dengan etiologi yang
beragam, menyebabkan penurunan fungsi ginjal yang progresif, dan pada
umumnya berakhir dengan gagal ginjal. Selanjutnya gagal ginjal adalah suatu
keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang ireversibel,
pada suatu keadaan yang nantinya akan memerlukan terapi pengganti ginjal
berupa dialisis atau transplantasi ginjal yang tetap. Uremia adalah sindrom klinik
dan laboratorik yang terjadi pada semua organ akibat penurunan fungsi ginjal
pada penyakit ginjal kronik (Suwitra, 200!.
"i #merika Serikat, data tahun $%&$ menyatakan insidensi penyakit
ginjal kronik diperkirakan $00 kasus perjuta penduduk pertahun, dan angka ini
meningkat sekitar '( setiap tahunnya. "i )alaysia, dengan populasi $' juta,
diperkirakan terdapat $'00 kasus baru gagal ginjal pertahunnya. "i negara&negara
berkembang lainnya, isidensi ini diperkirakan *0&+0 kasus perjuta penduduk
pertahun (Suwitra, 200!.
)enurut data yang didapat Perhimpunan ,efrologi -ndonesia (P./,.0/-!,
saat ini terdapat sekira 100.000 penderita gagal ginjal di -ndonesia.
Perubahan pola gaya hidup modern menyebabkan manusia se2ara mengglobal
menjalani gaya hidup yang kurang sehat. Salah satunya, dapat dilihat dengan
pilihan makanan yang diasup. 3al ini amat disayangkan, pasalnya ginjal akan
tetap berfungsi dengan baik bila seseorang menjalani gaya hidup yang sehat
(Putri, 20$2!.
4emudian di #ustralia dan -nggris sekitar %0 pasien baru per satu juta
populasi per tahun yang masuk program dialisis dan transplantasi. "an di #merika
$+0 pasien baru per satu juta per tahun dilaporkan masuk program dialisis dan
transplantasi. #danya perbedaan tersebut mungkin dikarenakan terdapat
perbedaan pada tingkat sosial ekonomi dan insidensi penyakit sehingga
mempengaruhi jumlah pasien dengan gagal ginjal kronik yang masuk program
dialisis (5e2ker et al., $2!.
1
Pada tahun 200, angka kematian pada pasien 64" umur ++ tahun atau lebih
tua ternyata menurun *0 ( sejak tahun $%, menjadi $*7 kematian per $.000
pasien ditahun 200. #ngka kematian yang disesuaikan men2apai $0% kematian
per $000 pasien pada stadium gagal ginjal kronik * 8 %. Se2ara umum kematian
pada 64" akan meningkat seiring dengan komplikasinya. "iantara pasien 64"
dengan stadium * 8 % tanpa komplikasi diabetes dan penyakit kardiovaskular,
didapatkan +1 kematian pada $.000 pasien. 4etika didapatkan penyakit diabetes
dan penyakit jantung maka angka kematian gagal ginjal kronik meningkat
menjadi $*% (Steward et al., 20$$!.
#ngka kematian se2ara konsisten akan meningkat atau naik lebih tinggi pada
laki&laki dibanding pada wanita, kemudian pada ras #frika #merika dibanding
dengan ras kulit putih dan ras lain. 9ika dilihat dari ras, maka mortalitas untuk
64" lebih tinggi pada #frika #merika. Se2ara keseluruhan angka mortalitas
pasien 64" ras #frika #merika adalah '1 per $.000 pasien. Serta 7% dan +' pada
kulit putih dan ras lain. Pada 64" stadium * 8 % angka kematian ras #frika
#merika akan meningkan menjadi $$1 (Steward et al., 20$$!.
Penyakit gagal ginjal kronik ditandai dengan keadaan fungsi ginjal yang
bersifat ireversibel serta se2ara progresif menjadi end-stage renal disease.
Penyakit gagal ginjal kronik merupakan suatu masalah kesehatan yang serius.
"ata dari #merika Serikat menunjukan peningkatan isidensi pada usia dewasa dan
biasanya berhubungan dengan outcome buruk dan biaya yang mahal (:ulati et al.,
20$2!.
4arena rata&rata 70( asam urat dieksresikan melalui ginjal maka, keadaan
hiperurisemia terjadi ketika ada gangguan fungsi ginjal. Sampai sekarang belum
jelas apakah hiperurisemia memainkan peran penting dalam progesifitas
perjalanan penyakit gagal ginjal. )eskipun, pada studi klinik menunjukan bahwa
nilai serum asam urat berhubungan dekat dengan hipertensi pada pasien dengan
hiperurisemia (studi potong lintang!, dan juga berhubungan dengan onset kejadian
hipertensi (studi longitudinal!. Sebagai tambahan, hiperurisemia juga memiliki
hubungan dekat dengan gagal ginjal kronik (;hno, 20$$!.
2
5anyak penelitian epidemiologi tentang hiperurisemia, tapi tidak semua
penelitian epidemiologi tersebut menunjukan kenaikan serum asam urat
merupakan faktor risiko dari penyakit jantung. "isisi lain kenaikan serum asam
urat memang berhubungan dengan hipertensi, obesitas, dan dislipidemi (resistensi
insulin atau sindrom <!. =ang mana dari semua penyakit tersebut berhubungan
dengan penyakit jantung. )eskipun, se2ara spesifik peran asam urat dalam hal
tersebut belum pasti (0ang et al., 200!.
4ematian akibat kardiovaskuler adalah $0 8 $00 kali lipat lebih tinggi pada
pasien dengan dialisis dibanding dengan populasi orang pada umumnya. /isiko
penyakit kardiovaskuler pada kegagalan ginjal akan meningkat seiring dengan
progesifitas penyakit gagal ginjal tersebut. >ebih spesifik lagi, terdapat bukti
dimana derajat kerusakan ginjal dari yang ringan sampai sedang berhubungan
dengan peningkatan risiko penyakit jantung (?homas et al., 200'!.
/ata&rata %0( individu dengan End Stage Renal Disease (.S/"! mengalami
kematian yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskuler. 3ubungan antara
penyakit gagal ginjal kronik dengan kematian akibat kardiovaskuler telah terjadi
pada pasien dengan kerusakan fungsi ginjal. Pada kenyataannya, mayoritas pasien
dengan 64" stadium 1 8 * (:0/ @+0 m>Amenit per $,71 m
2
! mati akibat penyakit
jantung dibanding dengan progesifitas gagal ginjalnya (S2hiffrin et al., 20$2!.
3ipertensi merupakan faktor risiko klasik penyakit jantung yang berkontribusi
terhadap risiko kardiovaskuler pada pasien 64". )untner dan kolega,
mengatakan bahwa pasien dengan hipertensi akan menaikan risiko terhadap
kejadian kardiovaskuler yang bersifat baru atau rekuren pada individu dengan
64" stadium 2 8 1 (?homas et al., 200'!.
Pada penelitian ,iskanen et al., disimpulkan asam urat merupakan prediktor
kuat sebagai penentu kematian akibat penyakit kardiovaskuler pada usia
pertengahan. Pengukuran serum asam urat menjadi 2ara yang mudah dan murah,
tetapi yang menjadi pertanyaan apakah hubungan asam urat dengan kejadian
kardiovaskuler itu sebagai faktor penyebab nampaknya harus dikaji lebih
mendalam (,iskanen et al., 200*!.
3
Subjek yang berumur 2% 8 7* tahun (total %.2+ pasien! dan diukur kadar
asam urat saat awal. "idapatkan kesimpulan peningkatan asam urat se2ara
independen dan signifikan terkait dengan risiko kematian kardiovaskuler (0ang et
al., 2000!. 4emudian penelitian oleh 5os et al., asam urat merupakan faktor risiko
kuat terhadap infark miokard dan stroke. ?etapi, terdapat sedikit informasi tentang
peran asam urat sebagai faktor risiko untuk stroke (5os et al., 200+!.
"ari penelitian ?okmakova et al., disimpulkan bahwa penyakit gagal ginjal
kronik berhubungan dengan peningkatan pada semua penyakit jantung yang
utama setelah infark miokard. 4hususnya pada orang dengan laju filtrasi
glomerulus @ *% m>Amenit per $,71 m
2
(?okmakova et al., 200*!. /isiko kematian
dan kesakitan penyakit jantung memang tinggi pada semua stadium gagal ginjal
kronik. Penyakit jantung biasanya sudah berkembang saat stadium awal ::4.
Pasien dengan penurunan fungsi ginjal memang sering menderita kematian akibat
penyakit jantungnya sendiri dibanding berkembang mengarah ke penyakit ginjal
stadium akhir (Sarnak, 2001!.
:agal ginjal kronik memang diketahui memiliki hubungan yang kuat dengan
penyakit jantung dan kejadian kematian. 3ubungan yang kuat ini juga pernah
dilaporkan antara gagal ginjal kronik non-dialysis dengan penyakit jantung
iskemik, gagal jantung, dan peningkatan tekanan darah. 3asil pengamatan
tersebut telah merekomendasikan badan ilmiah dan profesional bahwa pasien
dengan penyakit jantung yang nyata harus diskrining untuk bukti penyakit ginjal
dan pasien dengan penyakit gagal ginjal kronis harus dianggap berisiko sangat
tinggi terhadap penyakit jantung koroner (#ngelantonio et al., 20$0!.
4
1.2 PERUMUSAN MASALAH
5erdasarkan latar belakang permasalahan, maka dalam penelitian ini apakah
ada hubungan antara kadar asam urat dengan kejadian penyakit jantung koroner
pada pasien gagal ginjal kronik.
1.3 TUJUAN PENELITIAN
?ujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah ada hubungan antara kadar
asam urat dengan penyakit jantung koroner pada pasien gagal ginjal kronik.
1.4 KEASLIAN PENELITIAN
No Penelt J!"!l Ha#l Per$e"aan
$ ,iskanen et al.,
200*
Uri2 #2id >evel as a
/isk 0a2tor for
6ardiovas2ular
and #ll&6ause )ortality
in )iddle&aged )en
4enaikan serum
asam urat
menikngkat 2,%
kali risiko
kematian jantung.
Perbedaan pada
populasi dan
metode
penelitian.
2
0ang et al., 200 Serum Uri2 #2id and
6ardiovas2ular
)ortality
?he ,3#,.S -
.pidemiologi2 0ollow&
up Study, $7$&$2
Peningkatan
kadar serum asam
urat memiliki
hubungan positif
dengan kematian
akibat
kardiovaskuler
pada laki&laki dan
perempuan pada
ras hitam dan
putih.
Perbedaan pada
populasi
penelitian
1 5os et al., 200 Uri2 #2id -s a /isk
0a2tor for )yo2ardial
-nfar2tion
and Stroke
?he /otterdam Study
?ingginya serum
asam urat
berhubungan
dengan risiko
infark miokard
dan stroke.
Perbedaan
terdapat pada
populasi dan
metode
penelitian.
* 4awashima et
al., 20$$
#sso2iation between
asymptomati2
hyperuri2emia and new&
onset 2hroni2 kidney
disease in 9apanese male
workersB a long&term
retrospe2tive 2ohort
study
3iperurisemia
asimtomatik
memiliki faktor
prediktif onset
baru gagal ginjal
kronik pada
populasi pekerja
laki&laki 9epang.
Perbedaan pada
metode dan
populasi
penelitian.
1.%. MAN&AAT PENELITIAN
5
)anfaat penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kadar asam
urat dengan penyakit jantung pada pasien gagal ginjal kronik. )engingat bahwa
tingginya kadar asam urat kerkaitan dengan gangguan fungsi ginjal dan semakin
meningkatkan risiko penyakit jantung. ;leh karena itu nantinya akan diketahui
pen2engahan dan pengobatan yang bagaimana dalam menghadapi kenaikan kadar
asam urat.
)anfaat yang diperoleh institusi adalah didapatkan data tentang pengaruh
kadar asam urat terhadap penyaki jantung pada populasi gagal ginjal kronik
sehingga bisa dijadikan a2uan pada penelitian selanjutnya. )anfaat yang
diperoleh peneliti adalah diperolehnya pengetahuan dan pengalaman terhadap
proses penelitian dan pembuatan karya tulis ilmiah yang baik.
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
6
2.1. 'agal 'n(al
2.1.1 De)n# 'agal 'n(al Kronk
:agal ginjal kronik adalah suatu proses patologi dengan etiologi yang
beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif, dan pada
umumnya berakhir dengan gagal ginjal. Selanjutnya gagal ginjal adalah suatu
keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang ireversibel,
pada suatu derajat yang memerlukan terapi ginjal yang tetap, berupa dialisis atau
transplantasi ginjal. Uremia adalah suatu sindrom klinik dan laboratorik yang
terjadi pada semua organ, akibat penurunan fungsi ginjal pada penyakit ginjal
kronik.
4erusakan ginjal (renal damage! yang terjadi lebih dari 1 bulan, berupa
kelainan struktural atau fungsional dengan atau tanpa penurunan laju fultrasi
glomerulus (>:0!, dengan manifestasi, ($! kelainan patologis, dan (2! terdapat
tanda kelainan ginjal, termasuk kelainan dalam komposisi darah atau urin, atau
kelainan dalam tes pen2itraan. >aju filtrasi glomerulus (>0:! kurang dari +0
mlAmenitA$,71 m
2
selama 1 bulan, dengan atau tanpa kerusakan ginjal (Suwitra,
200!.
2.1.2. Kla#)ka# 'agal 'n(al Kronk
4lasifikasi gagal ginjal kronik dibagi menjadi dua hal yaitu, atas dasar
derajat (stage! penyakit dan diagnosis etiologi. 4lasifikasi atas dasar derajat
penyakit, dibuat dengan >0: yang dihitung dengan mempergunakan rumus
4o2k2roft&:ault sebagai berikut (Suwitra, 200!B
>0: (mlAmntA$,71 m
2
! C ($*0 8 umur! < berat badan D!
72 < kreatinin plasma (mgAdl!
D! pada perempuan dikalikan 0,'%
?abel $ B 4lasifikasi penyakit ginjal kronik atas dasar derajat penyakit
(Suwitra, 200!.
Dera(at Pen(ela#an L&' *+l,+nt,1-.3 +
2
/
7
$ 4erusakan ginjal dengan >0: normal
atau meningkat
E 0
2 4erusakan ginjal dengan >0:
menurun ringan
+0 8 '
1 4erusakan ginjal dengan >0:
menurun sedang
10 8 %
* 4erusakan ginjal dengan >0:
menurun berat
$% 8 2
% :agal ginjal @ $% atau dialisis
Pada tabel $ tahapan pertama merupakan tahap dimana telah terjadi
kerusakan ginjal dengan peningkatan >0: E 0 mlAmntA$,71 m
2
atau >0: normal.
?ahap kedua reduksi >0: berkurang sedikit (kategori mild! yaitu +0&'
mlAmntA$,71 m
2
. ?ahap ketiga reduksi >0: telah lebih banyak berkurang (kategori
moderate! yaitu 10&% mlAmntA$,71 m
2
. ?ahap keempat reduksi >0: sangat
banyak berkurang $%&2 mlAmntA$,71 m
2
. ?ahap kelima telah terjadi gagal ginjal
yaitu >0: @ $% mlAmntA$,71 m
2
(Suwitra, 200!.
?abel 2B Penyebab gagal ginjal kronik (Suwitra, 200!.
Pen0akt T1e +a0or *2onto3/
Penyakit ginjal diabetes "iabetes tipe $ dan 2
Penyakit ginjal non diabetes Penyakit glomerular (penyakit autoimun,
infeksi sistemik, obat, neoplasia!
Penyakit vas2ular (penyakit pembuluh darah
besar, hipertensi, mikroangiopati!
Penyakit tubulointerstisial (pielonefritis
kronik, batu, obstruksi, kera2unan obat!
Penyakit kistik (ginjal polikistik!
Penyakit pada transplantasi /ejeksi autoimun
4era2unan obat (siklosporinAtakrolimus!
Penyakit recurrent (glomerular!
Transplant glomerulopathy
Penyebab paling banyak gagal ginjal kronik adalah nefropati diabetikum,
khususnya tipe diabetes melitus tipe 2. Pada orang tua penyebab yang paling
umum adalah nefropati hipertensi, iskemia ginjal yang bersifat kronik yang akan
menyebabkan gangguan renovaskular pembuluh darah besar dan ke2il yang tidak
bisa ditoleransi (0au2i et al., 200'!. Penurunan nefron se2ara progresif dan >0:
pada gagal ginjal kronik menyebabkan ($! abnormalitas kandungan air, elektrolit,
8
dan keseimbangan p3, (2! akumulasi produk sampah yang dimana normalnya di
eksresikan keluar oleh ginjal, dan (1! abnormalitas dalam produksi dan
metabolism dari beberapa hormon (eritropoetin dan vitamin " aktif!. 4etika
terjadi penurunan >0: maka, aktiflah mekanisme kompensasi berupa hiperfiltrasi
dan hipertrofi dari fungsi nefron yang masih sehat dimana mekanisme kompensasi
ini justru akhirnya akan semakin memperburuk dari keadaan ginjal tersebut
(;brador, 200!.
#kibat mekanisme kompensasi ini, pasien mengalami keadaan
asimtomatik meskipun kehilangan 70( fungsi ginjal. 0aktor lain yang
berkontribusi terhadap kerusakan nefron termasuk ($! aktifitas primer dari
penyebab gagal ginjal kronik, (2! proteinuria, (1! lesi tubulointertisial, dan (*!
hiperlipidemia /espon terhadap penurunan jumlah nefron dimediasi oleh hormon
vasoaktif, sitokin, dan faktor pertumbuhan. #khirnya, adaptasi jangka pendek dari
hipertrofi dan hiperfiltrasi menjadi maladaptif seperti terjadinya peningkatan
tekanan dan aliran sehingga mengakibatkan distorsi arsitektur glomerulus, yang
berhubungan dengan sklerosis dan kerusakan dari nefron yang masih tersisa
(;brador, 200!.
Peningkatan aktifitas intrarenal dari renin&angiotensin berkontribusi
terhadap mekanisme adaptasi hiperfiltrasi, hipertrofi, dan sklerosis, yang pada
akhirnya merangsang atau menstimulasi pengeluaran transforming growth factor
(0au2i et al., 20$2!.
2.1.3. Patolog "an Bok+a "ar Ure+a
Sindrom uremia berhubungan dengan gangguan ginjal jangka panjang.
Selain berfungsi sebagai organ eksresi ginjal juga memiliki fungsi endokrin dan
metabolik, sehingga menghasilkan anemia, malnutrisi, dan metabolism abnormal
dari karbohidrat, lemak, dan protein. >ebih lanjut, kadar plasma dari berbagai
hormon, termasuk P?3 (parathyroid hormone!, 0:0&21, insulin, glukagon,
hormon steroid termasuk vitamin " dan hormon seks, dan prolaktin akan berubah
seiring dengan gagal ginjal (0au2i et al., 20$2!.
3asilnya adalah terjadi retensi urin, penurunan degradasi, atau regulasi
abnormal. 4esimpulannya, patologi dari sindrom uremia dapat dibagi menjadi
9
tiga manifestasiB ($! akumulasi toksin yang normalnya dibuang oleh ginjal,
termasuk produk metabolisme proteinF (2! konsekuensi dari hilangnya fungsi
renal, seperti terganggunya homeostasis 2airan dan elektrolit serta regulasi
hormonF dan (1! terjadinya inflamasi progresif sistemik lalu gangguan vaskular
serta nutrisi (0au2i et al., 20$2!.
2.1.4. Man)e#ta# 'agal 'n(al
$. )anifestasi 4ardiovaskular
)anifestasi kardiovaskuler merupakan penyebab kesakitan dan kematian
diantara pasien dengan gagal ginjal kronik dan termasuk kelebihan volume,
edema, hipertensi sistemik, penyakit jantung iskemik, hipertrofi ventrikel kiri,
gagal jantung, aritmia, dan perikarditis uremia. 3ipertensi sistemik sendiri
diakibatkan se2ara primer oleh kelebihan volumeF faktor lain yang berkontribusi
adalah hipereninemia dan terapi eritropoetin (;brador, 200!.
3ipertrofi ventrikel kiri terjadi +%&7%( pada pasien gagal ginjal kronik.
Penyebab gagal jantung biasanya multifaktorial, dimana terjadi kelebihan volume,
hipertensi, anemia, penyakit jantung iskemik, dan kardiomiopati uremia. #ritmia
sendiri dikarenakan oleh ketidakseimbangan elektrolit, asidosis metabolik,
kalsifikasi sistem konduksi, iskemia, dan disfungsi miokardium. Perikarditis
uremia terjadi pada +&$0(, hal ini berhubungan dengan tingginya kadar urea
dalam darah (G+0 mgAd>! (;brador, 200!.
2. )anifestasi ,eurologi
.nsefalopati uremia umum terjadi pada pasien dengan gagal ginjal akut
atau kronik dimana ketika laju filtrasi glomerulus menurun dibawah $0( dari
normal. :ambaran ensefalopati ditandai dengan lesu, mudah berdebar, mengantuk
di siang hari dan insomnia, rasa gatal, emosi labil, anoreksi, mual, muntah, dan
preterminal koma (:arg et al., 20$$!.
2.1.% Te+!an La$orator!+
Serum kreatinin akan meningkat ketika :0/ kurang dari +0 mlAmenit, dan
kemudian akan terus meningkat seiring dengan penurunan :0/. Pada gagal ginjal
terminal serum kreatinin biasanya diatas $,0 mmolAliter. 4emudian peningkatan
10
kadar kreatinin pada anak&anak dan usia lanjut kadarnya ke2il, hal ini dikarenakan
massa otot pada mereka ke2il. Pada anak, dengan serum kreatinin 0,% mmolAliter
akan membutuhkan dialisis. 4enaikan kadar plasma urea mengikuti semakin
menurunnya fungsi ginjal. 4onsentrasi urea plasma adalah 20&+0 mmolAliter saat
gagal ginjal terminal (5e2ker et al., $2!.
?urunnya bikarbonat plasma ($%&2% mmolAliter!, menyebabkan asidosis
metabolik dengan kompensasi respiratorik. Penurunan bikarbonat plasma akan
menurunkan p3 dan meningkatkan anion gap sepeertiB natrium plasma 8 (klorida
plasma H bikarbonat! G$2 mmolAliter. 4onsentrasi plasma natrium biasanya
normal, tapi dapat dengan mudah naik atau turun sesuai dengan asupan air atau
beban air yang berlebihan. 3iperkalemia merupakan tanda gagal ginjal sangat
berat. 4emudian konsentrasi serum fosfat akan naik. "an konsentrasi serum
kalsium akan turun serta semakin turun seiring dengan kenaikan
fosfat.Peningkatan P?3 terjadi akibat sekunder dari hiperparatiroidisme (5e2ker
et al., $2!.
Pemeriksaan ultrasonografi ginjal membantu dalam mendiagnosis
penyebab dari gagal ginjal (ginjal polikistik, uropati obstruksi! dan untuk
membedakan dari gagal ginjal akut. Ukuran ginjal yang ke2il (@',% 2m!
mendukung diagnosis dari gagal ginjal kronik, dimana pada keadaan akut ukuran
ginjal akan normal daripada keadaan kronik. Untuk ukuran ginjal terdapat
penge2ualian untuk beberapa penyebab gagal ginjal kronik seperti, diabetes,
penyakit ginjal polikistik, dan amiloidosis karena ukuranya bukan menge2il justru
bisa normal atau bahkan membesar (;brador, 200!.
Ultrasonografi dupleI "oppler pada arteri renalis, skintigrafi renal, dan
angiografi berguna pada pasien dengan iskemik renovaskular. Sistouretrografi
digunakan untuk menyingkirkan refluks nefropati. 6?&S2an berguna untuk
menilai apakah ada batu ginjal dan melihat adanya nekrosis papilar (;brador,
200!.
2.2 A#a+ Urat Dan 'agal 'n(al
11
#sam urat adalah asam trioksipurin lemah yang terdiri pirimidin dan
substruktur imidaJol dengan molekul oksigen, dimana diproduksi se2ara primer
oleh hati, intestinal, dan otot. Prekursor pembentukan asam urat adalah Iantin
yang mana akan didegradasi menjadi asam urat oleh Iantin oksidoreduktase.
Sumber asam urat bisa berasal dari eksogen (daging, jeroan, dan seafood! dan
endogen (purin! (4ang et al., 20$$!.
5uah dan gula merupakan sumber asam urat karena mengandung fruktosa.
0ruktosa merupakan jenis gula yang unik dimana fosforilasi fruktosa oleh
fruktokinase menyebabkan peme2ahan (reduksi! #?P didalam sel. Pada
gilirannya, menghasilkan #)P yang diperantarai oleh enJim deaminase #)P
akan membentuk -)P yang kemudian akan didegradasi menjadi asam urat (4ang
et al., 20$$!.
Pada manusia asam urat merupakan produk akhir dari metabolisme purin.
4emudian kondisi 64" semakin memperparah kenaikan serum asam urat
sehingga kadar asam urat dalam tubuh menjadi naik melebihi normal atau
hiperurisemia. "ari penelitian epidemiologi juga menunjukan kenaikan asam urat
ada hubungan dengan penyakit jantung seperti hipertensi, penyakit jantung
koroner, gagal jantung, sindrom metabolik, dan stroke. )ekanismenya adalah
ternyata kadar asam urat tinggi menstimulasi pembentukan pro&oksidan.
4emudian asam urat nantinya menstimulasi adhesi granulosit ke sel endotel serta
pembebasan senyawa peroksida dan radikal bebas superoksida ("eve2i et al.,
20$0!.
4ondisi hiperurisemia berkaitan dengan agregasi dan aktivasi platelet,
agregrasi ini menjadikan risiko trombosis dan aterogenesis koroner menjadi
meningkat. "an pada penelitian hewan tikus pemberian asam urat se2ara eksogen
memberikan efek meningkatnya disfungsi endotel. "an kadar asam urat endogen
yang tinggi semakin memperparah disfungsi endotel (#lderman et al., 200*!.
4ang et al., (20$$! mengatakan salah satu mekanisme asam urat dalam
penyakit jantung adalah melalui aktivasi inflamasi dan proliferasi sel endotel.
Pada sel endotel terdapat penurunan kadar nitrit oksida serta hambatan proliferasi
endotel. 4emudian pada sel otot polos vaskular terdapat aktivasi proliferasi dan
12
inflamasi. Selain itu juga aktivasi /## juga memberikan kontribusi terhadap
kejadian penyakit jantung.
:agal ginjal kronik, diketahui sebagai penurunan progresif dari ginjal yang
terjadi dalam periode bulan atau tahun dan merupakan isu publik yang penting.
Pasien dengan 64" (Chronic Kidney Disease! umumnya sering memiliki kondisi
komorbid yang yang berlangsung kronik, termasuk diabetes, hiperurisemia, dan
hipertensi. >aju filtrasi glomerulus merupakan pengukuran yang baik untuk
mengetahui fungsi ginjal dan merupakan prinsip diagnosis untuk 64" (chronic
kidney disease!. Pedoman saat ini dari National Kidney oundation Disease
!utcome "uality #nitiati$e (4A";K-! merekomendasikan penggunaan estimasi
>0: sebagai indeks primer untuk menilai progesifitas dan prevalensi dari 64"
(See et al., 20$$!.
:agal ginjal kronik memang diketahui menjadi faktor risiko kejadian
kardiovaskuler melalui berbagai faktor yaitu anemia, hiperparatiroidisme,
defisiensi 2arnitin, hiperhomosisteinemia, defisiensi vitamin 6, tingginya
lipoprotein(a! dan apoprotein(a!. 3iperhomosisteinemia berhubungan dengan
buruknya prognosis kejadian penyakit kardiovaskuler pada gagal ginjal kronik
(Lright et al., 200!.
#sam urat merupakan produk akhir dari metabolisme purin melalui
degradasi enJimatik dari hipoIantin dan Iantin menjadi asam urat. :injal
merupakan tempat yang dominan untuk eksresi asam urat. 5elum diketahui se2ara
sepenuhnya mengapa serum asam urat merupakan faktor risiko lesi ginjal. ,amun
banyak studi epidemiologi dan studi hewan, menunjukan keadaan hiperurisemia
akan meningkatkan kerentanan terhadap gagal ginjal kronik (See et al., 20$$!.
Serum asam urat memiliki hubungan kuat dengan penyakit ginjal, tapi bukti
peran hiperurisemia sebagai inisiasi dan progresi dari disfungsi ginjal masih
bertentangan. 5eberapa studi pada manusia mempunyai keterbatasan hubungan
antara hiperurisemia dengan penurunan fungsi ginjal. Salah satu penelitian
menemukan bahwa hiperurisemia ringan asimtomatik berhubungan dengan
penurunan aliran darah ke ginjal. Penelitian lain menunjukan bahwa serum asam
urat merupakan prediktor bagi onset awal dari 64". >ebih lanjut subjek dengan
13
hiperurisemia lebih mungkin untuk berkembang menjadi gagal ginjal terminal
(See et al., 20$$!.
4ondisi lain juga berhubungan, seperti ") dan hipertensi, adalah
determinan penting bagi penurunan :0/. "iabetes melitus diketahui merupakan
faktor risiko bagi ::4 (:agal :injal 4ronik! serta nefrosklerosis hipertensi yang
mana merupakan penyebab terbanyak kedua dari penyakit ginjal progresif. Pada
penelitian 4uo et al., setiap unit peningkatan serum asam urat berhubungan
dengan peningkatan ( risiko hipertensi (See et al., 20$$!.
Pada penelitian hewan hiperurisemia ringan memper2epat progesifitas dari
penyakit ginjal melalui mekanisme yang berhubungan dengan tingginya tekanan
darah sistemik, aktifitas sikloksigenase (6;<&2!, tromboksan&induksi penyakit
vas2ular, perubahan mikrovaskular yang menyebabkan disfungsi endotel dan
arteriolpati dari pembuluh darah pre&glomerulus dimana akan menghasilkan
hipertensi glomerulus. Penelitian epidemiologi saat ini mengidentifikasi
peningkatan serum asam urat merupakan faktor risiko independen untuk ::4 dan
penyakit jantung. 5eberapa bukti menunjukan bahwa asam urat
bertanggungjawab terhadap kenaikan tekanan darah serta fibrosis intertisial,
dengan deposisi kolagen dan infiltrasi makrofag (Satirapol et al.,200!.
#sam urat juga merupakan suatu mitogen bagi sel otot polos vaskular
dimana terjadi inhibisi proliferasi dari sel endotel vaskular. Pada tikus, sel otot
polos vaskular aorta menunjukan ekspresi de novo m/,# 6;<&2 setelah
diinkubasi dengan asam urat. -nkubasi sel tersebut baik dengan inhibitor 6;<&2
atau inhibitor reseptor ?<&#2 akan men2egah respon proliferasi terhadap asam
urat. 3al ini menunjukan adanya peran penting asam urat yang dimediasi oleh
6;<&2 memlalui pembentukan tromboksan pada sel otot polos vaskular pada
64" yang dilakukan pada studi hewan (4ang et al., 20$$!.
5aik pada biopsi ginjal dan autopsi jaringan ginjal menunjukan gambaran
tidak spesifik yaitu ateriosklerosis, glomerosklerosis, fibrosis tubulointerstisial
akibat adanya serum asam urat. )enariknya, banyak dari hasil biopsi ini
menunjukan menunjukan karakteristik fokal deposit kristal monosodium urat pada
14
tubulus pengumpul distal dan interstisium medula dengan reaksi inflamasi
sekunder (4ang et al., 20$$!.
"i 9epang, #merika, dan .ropa hiperurisemia berhubungan peningkatan
risiko ::4 pada penelitian potong lintang. ;bermary et al. memeriksa $7.17%
populasi suka rela sehat di Miennese selama 7 tahun dan menemukan peningkatan
serum asam urat 2 mgAd> menjadikan faktor risiko independen prediksi ::4
onset awal (;/ C $,+F %( 6-, $,%&$,'0! bahkan setelah penyesuaian dengan
faktor yang multipel. 3asil pada penelitian yang dilakukan oleh Satirapol et al.
juga memperlihatkan tingginya serum asam urat berkorelasi dengan prevalensi
::4 pada populasi di ?hailand (Satirapol et al., 200!
?api penelitian )adero, didapatkan hasil +0( responden (nC%%1! terkena
gagal ginjal selama rata&rata + tahun pertengahan follow-up. "engan tingkat gagal
ginjal +1(, ++(, dan +( pada kelompok asam urat $, 2, dan 1. 4emudian pada
model 6oI, tidak didapatkan hubungan antara asam urat dengan gagal ginjal. "an
setelah ditambah faktor demografi yaitu intervensi diet, faktro risiko
kardiovaskuler, faktor risiko penyakit ginjal, penggunaan diuretik dan alopurinol
tetap tidak ada hubungan asam urat dengan gagal ginjal ()adero et al., 200!

#sam urat
15
:ambar $B )ekanisme potensial asam urat&induksi penyakit ginjal yang diusulkan
oleh data eksperimental dari tikus hiperurisemia
SumberB 4ang et al., 20$$
2.3. A#a+ Urat Dan Pen0akt Kar"o4a#k!lar
Peran asam urat sebagai petanda independen bagi kardiovaskular ialah
kontroversial selama beberapa dekade. Serum monoanionik asam urat merupakan
produk metabolisme purin dan dibentuk dari Iantin, yaitu sebuah reaksi yang
dikatalisasi oleh Iantin dehidrogenase atau oksidase. 5eberapa epidemiologi
menunjukan kenaikan kadar asam urat akan meningkatkan kejadian
kardiovaskular (,iskanen et al., 200*!.
?emuan tentang hubungan asam urat dengan penyakit jantung kronik
terletak pada inflamasi kronik yaitu dimana terjadi peningkatan sitokin yang
bersirkulasi, reseptornya yang larut air, dan kenaikan solubel molekul adhesi.
16
EMT dari sel
tubulus ginjal
Infamasi
tubulointersti
alsial
#rteriolpati preglomerular
Inee!ti
autoregula
si te!anan
glomerular
"erusa!an
sir!ulasi
#eritubular
Is!emi!
ginjal
$!ti%asi
&$'
(i#ertensi
glomerular
)rodu!si
E*M
+ibrosis ginjal
)olekul adhesi, intergrin, dan sitokin se2ara mekanisme saling berhubungan.
-ntergrin .&selektin, yang terdapat pada sel endotel, berkontribusi terhadap
penempelan leukosit pada sel endotel tersebut. Pada leukosit, #ntercelluar
adhesion molecul (-6#)!&$ berinteraksi dengan intergrin dan membentuk lapisan
pada sel endotel (>eyva et al., $'!.
;leh karena itu, -6#)&$ adalah indikator aktivasi seluler yang
berhubungan dengan inflamasi. 5aik -6#)&$ dan .&selektin merupakan up-
regulated in vitro maupun in vivo oleh tumour necrosis factor (?,0!&%.
Per2obaan pada miosit tikus yang dipaparkan dengan interleukin $ ternyata akan
menstimulasi pelepasan protein&$ kemotraktan dari monosit, yang mana protein
ini diketahui menstimulasi -6#)&$. )aka, -6#)&$ mempunyai nilai prognostik
pada pasien dengan penyakit gagal jantung kronik (>eyva et al., $'!.
5eberapa penelitian menunjukan hubungan metabolisme asam urat
terhadap respon inflamasi. <antin oksidase, enJim yang mengubah Iantin atau
hipoIantin menjadi asam urat, merupakan indikator penting repon inflamasi dan
kerusakan sel pada kondisi iskemia, rematik, dan penyakit ginjal. 4emampuan
Iantin oksidase menghasilkan radikal bebas superoksida adalah suatu stimulasi
penting terhadap ekspresi molekul adhesi yang diperantarai oleh leukosit serta
aktivasi dan perlekatan leukosit pada endotel yang rusak. 5erdasarkan penjelasan
diatas, maka pemberian inhibitor Iantin oksidase (alopurinol! menunjukan
penurunan perlekatan dan ektravasasi leukosit kedalam tunika intima. 5ukti saat
ini bahwa melalui pelepasan reacti$e o&ygen species (/;S!, aktivasi Iantin
oksidase, dan aktivasi matri& mettaloproteinases ())P&2! akan berakibat onset
dini rupturnya plak ateroskelrosis. 5aru&baru ini terdapat korelasi positif antara
))P&2 dan serum asam urat pada pasien pria dengan penyakit jantung koroner
(>eyva et al., $'!.
4onsentrasi asam urat plasma $0 tingkat lebih tinggi dari konsentrasi Jat
antioksidan, seperti vitamin 6 dan vitamin .. >ebih lanjut, tingginya kadar asam
urat ini akan melebihi kapasitas antioksidan yang ada. >ebih lanjut iskemia dan
hipoksi yang disebabkan oleh penurunan kemampuan sel untuk menghasilkan
#?P. -skemia juga memi2u konversi Iantin dehidrogenase menjadi Iantin
17
oksidase, hasilnya kemungkinan akan terjadi peningkatan 2alsium intrasel dan
aktivasi protease (6hamorro et al., 200!.
Sedangkan, aktivitas &anthine dehydrogenase (<"3! sebenarnya tidak
memi2u produksi /;S, tapi reaksi &anthine o&idase (<;! adalah sumber utama
radikal bebas yang terjadi selama iskemia. ;leh karena itu, pemberian alupurinol
menunjukan efek protektif utuk melawan proses iskemia (6hamorro et al., 200!.
Studi observasional menunjukan bahwa konsentrasi serum asam urat lebih
tinggi pada pasien dengan penyakit jantung koroner jika dibanding konrol yang
sehat. 3iperurisemia juga ditemukan pada individu dengan riwayat penyakit
jantung koroner pada orang tuanya. ,amun, keadaan hiperurisemia kemungkinan
berhubungan dengan kenaikan serum trigliserida, kolesterol, glukkosa darah, rasio
pinggang&panggul, dan massa indeks tubuh (Laring et al., 2000!.
#denosin disintesis dan dilepaskan oleh jantung dan miosit vaskuler.
#denosin ini akan berikatan dengan reseptor spesifik sehingga menimbulkan efek
relaksasi otot polos vaskuler dan vasodilatasi arteriol. Pada saat kondisi hipoksia
dan iskemia jaringan, terjadi sintesis dan pelepasan adenosin vaskuler yang
menyebabkan peningkatan se2ara signifikan konsentrasi adenosin dalam sirkulasi.
-skemia viseral dan jantung men2etuskan pembentukan adenosin, dimana penting
untuk mekanisme mengembalikan aliran darah dan membatasi keadaan iskemia
(Laring et al., 2000!.
Sintesis adenosin se2ara lokal oleh otot polos vaskuler jantung se2ara
2epat didegradasi oleh endotelium menjadi asam urat. #ktivitas Iantin oksidase
dan sintesis asam urat meningkat pada observasi in $i$o pada kondisi iskemia dan
peningkatan serum asam urat mungkin bertindak sebagai sebuah marker Nada
jaringan yang mengalami iskemia (6astelli et al., $%!.
Pada sirkulasi pembuluh darah koroner, hipoksia disebabkan oleh oklusi
arteri koroner yang bersifat transien, yang men2etuskan peningkatan konsentrasi
lokal serum asam urat. 4esimpulannya meskipun, peningkatan serum asam urat
mungkin menjadi marker lokal atau sistemik iskemia dan mungkin mejelaskan
hubungan asosiasi non-causal antara hiperurisemia dengan penyakit
kardiovaskuler (Laring et al., 2000!.
18
Pada penelitian =u dan koleganya, melaporkan bahwa *0( penyakit ginjal
terjadi pada pasien dengan gout, tapi mereka berpendapat bahwa asam urat itu
mungkin bukan penyebab penyakit hipertensi, melainkan lebih karena penyakit
ginjal. Studi The ramingham 'eart melaporkan asam urat bukan merupakan
faktor risiko penyebab kejadian kardiovaskuler karena asam urat bukan faktor
risiko independen dari hipertensi. (0eigh et al., 200'!.



fosfolirase


fosfolirase

deaminase guanin

:ambar 2B )etabolisme purin dan 3ubungannya dengan -skemia jantung
SumberB Laring et al., 2000
2.4. KERAN'KA TE5RI
19
Is!emia
jantung
)ele#asan
$denosin
Metaboli
sme
#urin
$denosin
Inosin
)ening!at
an aliran
dara,
$denin
(i#o-anti
n
.uanin
/antin
$sam urat E!sresi
ginjal
$sam urat
.injal "ardio%as!uler
10 )ening!atan I*$M11
20 )ening!atan &2'
30 "enai!an T3 sistemi!
40 $!ti%itas MM)12
50 3isungsi endotel
)en4a!it
"ardio%as!uler
2.%. KERAN'KA K5NSEP
20
10 )ening!atan &$$
20 )eruba,an aliran dara,
ginjal
30 "enai!an T3 sistemi!
40 $!ti%itas *2/12
mening!at
50 3isungsi endotel
)enurunan 5aju
+iltrasi .lomerus
Me!anisme
!om#ensasi
a!ti
(i#ertro6 dan
,i#er6ltrasi
neron 4ang
tersisa
.agal .injal
:#:#> :-,9#> 4/;,-4
3e6siensi %it0*
5i#o#rotein7a8 nai!
(i#er,omosisteine
mia
2.6. HIP5TESIS
?erdapat hubungan antara kadar asam urat terhadap kejadian penyakit
jantung koroner pada pasien gagal ginjal kronik.
BAB III. MET5DE PENELITIAN
3.1. Ran2angan Peneltan
21
#S#) U/#? ,;/)#> 3-P./U/-S.)-#
P.,=#4-? 9#,?U,:
4;/;,./
Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan ran2ang
bangun cross sectional.
3.2. Po1!la# "an #a+1el
3.2.1 Po1!la# Peneltan
a/ Po1!la# target
Populasi target untuk penelitian ini adalah semua pasien gagal
ginjal kronik.
$/ Po1!la# ter(angka!
Populasi terjangkau untuk penelitian ini adalah semua pasien gagal
ginjal kronik di /SU" Soeroto ,gawi pada periode $ 9anuari 20$$ 8 1$
"esember 20$$.
3.2.2. Sa+1el Peneltan
a/ 7ara 1enga+$lan #a+1el
Pengambilan sampel dilakukan dengan 2ara ,on /andom
Sampling dengan teknik consecuti$e sampling.
$/ Be#ar #a+1el
Perkiraan besar sampel untuk menentukan adanya kadar asam urat
pada penelitian ini dihitung dengan menggunakan rumus analitik
komparatif kategorikal tidak berpasangan yaituB
?abel 1. Perhitungan besar sampel kategorikal
22
9: ; 5< ; 1=960
9> ; 20< ; 0=842
)11)2 ; 20< ; 20?100 ; 0=2
)2 ; 0=19 7dari #usta!a8
)1 ; )2 @ 7)11)28 ; 0=19 @ 0=2 ; 0=39
A1 ; 1 1 )1 ; 1 B 0=39 ; 0=61
C A2 ; 1 B )2 ; 1 B 0=19 ; 0=81
) ; 7)1 @ )28 ? 2 ; 0=39 @ 0=19 ? 2 ; 0=29
A ; 1 B ) ; 1 B 0=29 ; 0=71
) ; 7)1 @ )28 ? 2 ; 0=39 @ 0=19 ? 2 ; 0=29
D1 ; D2 ; 7 9: E2)A @ 9> E)1A1@)2A28
2
7)1 B )28
2
D1 ; D2 ; 71=960 E2 - 0=29 - 0=71 @ 0=842 E0=39 / 0=61 @ 0=19 -
0=818
2
0=2
2
2.
"ata P2 diambil dari jurnal (ric )cid *e$el as a Risk actor for
Cardio$ascular and )ll-Cause +ortality in +iddle-aged +en dengan nilai 0.$
dan dari hasil perhitungan sampel didapatkan ** rekam medis yang kadar asam
urat tinggi ,$C** dan yang kadar asam urat normal ,2C** jadi total keseluruhan
sampel adalah '' rekam medis pasien. Pengambilan sampel dalam penelitian ini
menggunakan teknik consecuti$e sampling yaitu dengan 2ara mengambil sampel
yang ada dan memenuhi kriteria pemilihan sampel yang telah ditentukan. 9umlah
pengambilan sampel yang memenuhi kriteria akan diambil sesuai dengan jumlah
besaran sampel di atas. ?ujuan dari penggunaan teknik ini adalah untuk
mendapatkan data dengan jumlah yang representatif untuk dianalisis dan
menggambarkan kondisi populasi penelitian.
2/ Krtera Inkl!# "an Ek#l!#
23
. Sampel penelitian yang akan digunakan nanti, akan diambil dari
populasi terjangkau dengan kriteriaB
$. 4riteria inklusi
a. Pasien yang didiagnosis gagal ginjal kronik dari tanggal $ 9anuari
20$$ 8 1$ "esember 20$$.
b. Pasien gagal ginjal kronik yang mempunyai 2atatan mengenai
kadar asam urat normal sebagai kontrol (priaF 1.* 8 7.0 mgAd>,
wanitaF 2,* 8 %.7 mgAd>! serta kadar asam urat tinggi (pria G 7.0
mgAd>, wanita G %.7 mgAd>!.
2. )empunyai 2atatan mengenai kejadian penyakit jantung koroner
baik dari diagnosis rekam medis, riwayat nyeri dada, dan .4:.
20 4riteria ekslusi
a. Pengisian rekam medis tidak lengkap.
b. Pasien gagal ginjal karena nefropati diabetikum. 6ara
menyingkirkan dengan melihat diagnosis diabetes di rekam medis
pada pasien gagal ginjal. "i ekslusi karena gagal ginjal bisa
disebabkan oleh kondisi diabetes.
3.3. 8ara$el Peneltan
Mariabel Penelitian adalah semua hal dalam suatu penelitian yang datanya
ingin diperoleh. Pada penelitian ini dilakukan pengukuran terhadap kadar asam
urat pada sampel penelitian dengan variabel penelitianB
$. Mariabel tergantungB
Penyakit jantung koroner.
2. Mariabel bebas
4adar asam urat normal dan tinggi.
3.4. De)n# 51era#onal
24
$. :agal ginjal kronik
:agal ginjal kronik adalah penyakit kegagalan ginjal dengan >0: @ +0
mlAmntA$,71 m
2
selama lebih dari 1 bulan. Penghitungan :0/ dengan
menggunakan rumus 4o2k2roft&:ault. Penyakit kegagalan ginjal ini
ditandai dengan karakteristik lemas, pu2at, mual, muntah, nafsu makan
turun, kulit gatal, ken2ing sedikit, edema, hipertensi, gangguan kesadaran,
sesak napas, dan o$erload 2airan (SP) /SU" Soeroto ,gawi, 20$$!.
Skala yang dipakai merupakan skala numerik. "iagnosis ditegakan oleh
dokter spesialis penyakit dalam dan datanya diperoleh dari rekam medis.
2. 4adar #sam urat
5erupa angka dengan satuan mgAd> yang ter2antum di rekam medis.
Pengukuran asam urat dilakukan dengan menggunakan metode enJimatik
se2ara kolorimetri. "inyatakan kadar asam urat normal jika priaB 1.* 8 7.0
mgAd> dan wanitaB 2,* 8 %.7 mgAd>. "inyatakan kadar asam urat tinggi
jika pria G 7.0 mgAd> dan wanita G %.7 mgAd>. "ata yang akan diambil
berupa kategorikal. Skala yang dipakai merupakan skala numerik.
30 Penyakit 9antung 4oroner
Penyakit jantung koroner adalah sekelompok penyakit jantung yang
ditegakan dengan kriteria anamnesis, perubahan .4:, dan perubahan
enJim jantung. "iagnosisnya memenuhi 2 dari 1 kriteria diatas "ata yang
diambil berupa kategorikal. Skala yang dipakai merupakan skala numerik.
Penyakit jantung koroner terbagi menjadiB
a. #ngina pektoris tidak stabil
Penyakit ini ditandai dengan nyeri dada angina yang terjadi pertama
kali, bertambah frekuensinya atau bertambah lama atau bertambah
hebat, dan timbul ketika istirahat (SP) /SU" Soeroto ,gawi, 20$$!.
"iagnosis ditegakan oleh dokter spesialis penyakit dalam dan data
diperoleh dari rekam medis. Skala yang dipakai merupakan skala
numerik.
b. #ngina pektoris stabil
25
Penyakit ini ditandai dengan sakit dada atau ekuivalennya, berlokasi di
retroternal atau prekordial kemudian dapat menjalar ke bahu kiri dan
lengan kanan atau leher dan punggung, timbul saat melakukan aktifitas
atau di2etuskan oleh suatu keadaan dan hilang bila beristirahat atau
pen2etus ditiadakan, angina dapat ditimbulkan hal&hal yang sama
(SP) /SU" Soeroto ,gawi, 20$$!. "iagnosis ditegakan oleh dokter
spesialis penyakit dalam dan data diperoleh dari rekam medis. Skala
yang dipakai merupakan skala numerik.
2. -nfark )iokard #kut
Penyakit ini ditandai dengan nyeri dada khas lamanya 20 menit atau
lebih dan terdapat perubahan .4: iskemis (gelombang K, elevasi
segmen S?, depresi gelombang, dan ? hiperakut (SP) /SU" Soeroto
,gawi, 20$$!. "iagnosis ditegakan oleh dokter spesialis penyakit
dalam dan data diperoleh dari rekam medis. Skala yang dipakai
merupakan skala numerik.
3.%. In#tr!+en Peneltan "an 7ara Peng!k!ran
$. >embar kerja, merupakan tabel yang telah dipersiapkan sedemikian rupa
sebelum pelaksanaan penelitian, dengan tujuan agar memudahkan dalam
usaha pengelompokkan data saat pengambilan data dilaksanakan.
2. #lat tulis, digunakan untuk memasukkan data ke dalam lembar kerja yang
telah disiapkan.
3.6. Ta3a1 1eneltan
26
Permohonan ijin
penelitian
3... Ren2ana Anal## Data
"ata yang sudah dilakukan pemeriksaan kemudian diolah menggunakan
bantuan komputer dengan bantuan perangkat lunak S,SS dengan metode Chi
S-uare. #nalisis dilakukan se2ara univariat dan bivariat setelah data terkumpul.
3.9. Etka Peneltan
Penelitian ini akan dilakukan setelah mendapatkan iJin penelitian dari
04U--. Selanjutnya dilakukan pemberitahuan dan penjelasan kepada pihak rumah
sakit tentang penelitian yang akan dilakukan serta meminta iJin untuk melakukan
penelitian.
BAB I8. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Ha#l
Penelitian ini berlangsung bulan 9anuari & 0ebruari 20$1 di /SU" Soeroto
,gawi, dan data diperoleh dari bagian rekam medis di /SU" Soeroto ,gawi.
27
Pengambilan rekam
medis
#nalisis data
Penyusuanan hasil
"ata yang diperoleh berupa rekam medis pasien gagal ginjal kronik yang
memiliki asam urat tinggi sebanyak ** sampel, dan sebagai kontrol berupa rekam
medis pasien yang memiliki asam urat normal sebanyak ** sampel dengan total
'' sampel kemudian masing&masing dilihat kejadian penyakit jantung
koronernya. /ekam medis pasien yang diambil merupakan rekam medis pasien
yang dirawat inap dengan rentang waktu antara $ 9anuari 20$$ sampai 1$
"esember 20$2.
/ekam medis yang diambil merupakan rekam medis yang masuk dalam
kriteria inklusi dan jumlah rekam medis tersebut telah sesuai dengan batasan
sampel yang sudah ditentukan dalam besar sampel pada bab tiga. 4emudian data
diolah dengan analisis univariat dan analisis bivariat.
#nalisis univariat yang dilakukan menggambarkan distribusi dan frekuensi
karakteristik pasien dengan asam urat yang meningkat dan asam urat yang normal.
4emudian dilihat distribusi dan frekuensi pasien dengan asam urat yang tinggi
dan asam urat yang normal terhadap jenis kelamin, usia, kadar ureum, dan kadar
kreatinin.
#nalisis bivariat dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara
asam urat dengan penyakit jantung koroner pada populasi gagal ginjal kronik
sebagaimana seperti yang telah dihipotesiskan oleh peneliti. Uji untuk analisis
bivariat menggunakan software analisis statistik SPSS $+ dengan metode Chi-
s-uare test, yang dikhususkan untuk uji dengan menggunakan tabel 2I2.
?abel *. "istribusi dan Presentase 4arakteristik Pasien
#sam urat normal #sam urat tinggi
9umlah Persen ((! 9umlah Persen ((!
9enis kelamin
>aki&laki 2 +%.0 ( 1$ 70.*% (
Perempuan $% 1*.0 ( $1 2.%* (
Usia
28
@ 10 tahun 2 *.%* ( $ 2.27 (
E 10 tahun *2 %.*% ( *1 7.72 (
4reatinin
,ormal * .0 ( 0 0 (
?inggi *0 0.0 ( ** $00 (
Ureum
,ormal ' $'.$' ( 2 *.%*
?inggi 1+ '$.'$ ( *2 %.*% (
Penyakit jantung koroner
=a $2 27.27 ( 17 '*.0 (
?idak 12 72.72 ( 7 $%.0 (
:0/ (m>AmntA$.71 m
2
!
@ +0 *$ 1.$' ( *2 %.*% (
E +0 1 +.'$ ( 2 *.%* (
"ari tabel * didapatkan pasien dengan jenis kelamin laki&laki lebih banyak
memiliki kadar asam urat tinggi yaitu sebanyak 1$ orang dibanding dengan jenis
kelamin perempuan yaitu $1 orang. "ari karakterisktik usia dari tabel 1
didapatkan pasien dengan usia E 10 tahun dengan asam urat tinggi dan asam urat
normal sebanyak *1 orang dibanding dengan usia @ 10 tahun yaitu $ orang baik
dengan asam urat normal dan asam urat tinggi.
)ayoritas pasien dengan kreatinin tinggi memiliki kadar asam urat yang
tinggi juga yaitu ada ** pasien dan pasien dengan kreatinin normal dan memiliki
kadar asam urat normal yaitu *0 orang walaupun perbedaan jumlahnya tidak
signifikan. 4emudian pasien dengan ureum tinggi juga mayoritas mempunyai
kadar asam urat tinggi yaitu sebanyak *2 orang.
Pada tabel * untuk nilai :0/ @ +0 m>AmntA$.71 m
2
pada pasien dengan kadar
asam urat normal sebanyak *$ (1.$' (! serta pada pasien dengan kadar asam urat tinggi
sebanyak *2 (%.*% (!. 4emudian untuk :0/ E +0 m>AmntA$.71 m
2
pada pasien dengan
kadar asam urat normal sebanyak 1 (+.'$ (! dan pada pasien dengan kadar asam urat
tinggi sebanyak 2 (*.*% (!.
Pada tabel + didapatkan kadar asam urat terendah ialah 2.% mgAd> untuk kadar
asam urat tertinggi adalah $.% mgAd>. Sedangkan rata&rata total asam urat ialah 7.1
mgAd>, rata&rata kadar asam urat normal %.0' mgAd>, dan rata&rata kadar asam urat tinggi
adalah $0.7' mgAd>.
29
#nalisis bivariat dari penelitian ini adalah mendeskripsikan hubungan
antara kadar asam urat dengan kejadian penyakit jantung koroner. 5erikut ini tabel
yang menggambarkan analisis bivariat dari hal tersebut.
?abel %. 3ubungan kadar asam urat dengan penyakit jantung koroner
4adar #sam Urat
?inggi ,ormal
?otal
,
, ( , (
P94
=a 17 '*.0 $2 27.27 * 0.000
?idak 7 $%.0 12 72.72 1
?otal ** 0.% ** 0.% ''
5erdasarkan tabel % di atas yang menunjukkan karakteristik kejadian
penyakit jantung koroner dengan kadar asam urat normal dan kadar asam urat
tinggi. Pada Pasien dengan asam urat tinggi dan menunjukkan penyakit jantung
koroner (P94! sebanyak 17 orang ('*.0(!, sedangkan yang asam urat tinggi dan
tidak menunjukan P94 ada 7 orang ($%.0(!. Sedangkan pada kontrol pasien
dengan asam urat normal dan menunjukan P94 ada $2 orang pasien (27,27(! dan
pasien yang asam urat normal dan tidak menunjukan P94 ada 12 orang (72.72(!.
Penelitian hubungan kadar asam urat dengan kejadian penyakit jantung
koroner pada populasi gagal ginjal kronik ini diuji dengan menggunakan Chi-
s-uare test. Untuk memenuhi penggunaan tes tersebut diperlukan syarat yaitu
tidak ada sel yang mempunyai nilai e&pe&ted kurang dari %, dan pada penelitian
ini 0 sel atau tidak ada sel yang mempunyia nilai e&pected kurang dari %, maka
sudah memenuhi syarat sehingga bisa diuji dengan menggunakan Chi-s-uare test.
?abel +. Profil asam urat
Profil asam urat mgAd>
)aksimal $.%
)inimal 2.%
)ean
?otal asam urat 7.1
30
#sam urat normal %.0'
#sam urat tinggi $0.7'
-nterpretasi dari hasil uji Chi-s-uare test ini menunjukkan nilai p adalah
0,000 yang berarti menunjukkan p @ 0,0%. Sehingga kesimpulannya terdapat
hubungan se2ara statistik antara kadar asam urat tinggi dengan kejadian penyakit
jantung koroner pada pasien gagal ginjal kronik.
,ilai ratio pre$alence dari hubungan kadar asam urat dengan penyakit
jantung koroner pada pasien gagal ginjal kronik adalah *,2$ (%( 6- C 2,$$$ &
',1'%!. 9ika ratio pre$alence G $ maka merupakan faktor risiko, jika C $ maka
bukan sebagai faktor risiko, sedangkan jika @ $ maka sebagai faktor protektif.
4arena nilai ratio pre$alence *,2$ dan itu berarti G $ maka kadar asam urat tinggi
merupakan faktor risiko terhadap penyakit jantung koroner pada pasien gagal
ginjal kronik. 9ika nilai lower limit dari %( 6- men2akup $, maka hubungan
yang ditemukan bermakna. Pada penelitian ini nilai %( 6- C 2,$$$ sampai ',1'%,
berarti terdapat hubungan bermakna. )aka kesimpulan dari semuanya bahwa
kadar asam urat tinggi menjadi faktor risiko yang bermakna terhadap tingginya
kejadian penyakit jantung koroner pada pasien gagal ginjal kronik.
4.2. Pe+$a3a#an
?otal '' pasien diantaranya yang memiliki kadar asam urat normal dan
kadar asam urat tinggi pada populasi gagal ginjal kronik, dan berjenis kelamin
laki&laki +0 orang (+',$'(! dan berjenis kelamin perempuan 2' orang (1$,'$(!.
Pada penelitian ini ditemukan pasien yang memiliki kadar asam urat yang normal
dan tinggi pada populasi gagal ginjal kronik adalah berjenis kelamin laki 8 laki.
Pada penelitian 9ungers et al ($+! didapatkan hasil bahwa jenis kelamin laki&
laki memiliki risiko dua kali lebih tinggi menderita gagal ginjal kronik dibanding
dengan perempuan.
Pada penelitian ini pasien yang memiliki asam urat yang tinggi lebih
banyak berumur G 10 tahun yaitu *1 orang (7,72(! sedangkan yang berumur @
31
10 tahun hanya $ orang (2,27(!. Umur batas diambil 10 tahun karena menurut
5alogun et al./ (200+! penurunan fungsi ginjal mulai pada usia 10 tahun.
Sumiasihni (200+!, menyebutkan bahwa penderita gagal ginjal kronik
akan memiliki kenaikan ureum dan kreatinin hal ini diakibatkan karena gagal
ginjal kronik ditandai oleh penurunan laju filtrasi glomerulus, sehingga kadar
ureum dan kreatinin darah meningkat, kenaikan kadar urea dan kreatinin darah
dan meningkatnya proses penyaringan oleh nefron yang mengalami hipertrofi,
menyebabkan muatan solut yang sampai ke masing&masing tubulun yang masih
berfungsi akan menjadi lebih besar dibanding dengan normal. Pada penelitian ini
didapatkan pasien gagal ginjal kronik dengan ureum normal dan asam urat normal
hanya sebanyak ' orang ($'.$' (!, sedangkan yang ureum normal dan asam urat
tinggi didapatkan hasil 1+ orang ('$.'$ (!. 4emudian pasien kreatinin tinggi dan
asam urat normal sebanyak ** pasien ($00(!, sedangkan kretinin normal dan
asam urat tinggi sebanyak 0 pasien (0(!.
)enurut 4umar et al./ (2001! gagal ginjal juga bisa disebabkan oleh
nefropati diabetikum. 4arena diabetes menimbulkan lesi glomerulus yaitu
penebalan membran kapiler, glomerulosklerosis difus, dan glomerulosklerosis
nodular. Perubahan penebalan membran kapiler ini dapat terjadi beberapa tahun
onset diabetes, kadang tanpa disetai perubahan pada fungsi ginjal. 4emudian
glomerulosklerosis difus dijumpai pada hampir setiap pasien yang mengidap
diabetes lebih dari $0 tahun. ;leh karena itu, pada penelitian ini peneliti tidak
mengambil data pasien ::4 yang diakibatkan diabetes karena bisa menimbulkan
bias.
"ari pasien yang kadar asam urat tinggi dan mempunyai penyakit jantung
koroner didapatkan hasil '* pasien ('*,0(!, kemudian pasien dengan kadar
asam urat normal dan mempunyai penyakit jantung koroner didapatkan hasil $2
pasien (27,27(!. Pada penelitian ,iskanen et al./ (200+! menyebutkan bahwa
serum asam urat menjadi prediktor yang kuat terhadap kejadian kematian dan
kesakitan akibat penyakit jantung. 4emudian pada penelitian 0ang et al (200!
juga menyebutkan bahwa serum asam urat memiliki hubungan yang positif
dengan penyakit jantung baik pada laki&laki dan perempuan.
32
)enurut Suwitra (200!, untuk kriteria gagal ginjal kronik yaitu :0/
kurang dari +0 mlAmenitA$,71 m
2
selama 1 bulan, dengan atau tanpa kerusakan
ginjal. "ari hasil penelitian didapatkan pasien dengan :0/ @ +0 mlAmenitA$,71 m
2
pada kadar asam urat normal sebanyak *$ (1.$' (! serta pada pasien dengan kadar
asam urat tinggi sebanyak *2 (%.*% (!. 4emudian untuk yang :0/ E +0 +0
mlAmenitA$,71 m
2
pada pasien dengan kadar asam urat normal sebanyak 1 (+.'$ (! dan
pada pasien dengan kadar asam urat tinggi sebanyak 2 (*.*% (!, hal ini kemungkinan
disebabkan oleh beberapa kelemahan penghitungan :0/ dengan menggunakan kreatinin
seperti nilai kreatinin dipengaruhi dari massa otot, ketika massa otot rendah maka :0/
akan lebih tinggi dari aslinya.
)enurut penelitian yang dilakukan "eve2i et al./ (20$0!, hasil utama yang
didapatkan dari penelitiannya bahwa kadar serum asam urat lebih tinggi pada
pasien dengan penyakit arteri koroner. 4emudian pasien dengan bukti nyata
gangguan arteri koroner ternyata juga memiliki kadar serum asam urat yang
tinggi. 3al ini disebabkan oleh karena pada fase awal proses aterosklerosis asam
urat beraksi atau bekerja sebagai antioksidan . ,amun ketika asam urat meningkat
diatas + mgAdl (wanita! dan diatas 7.0 mgAdl (laki&laki!, maka fungsi asam urat
disini bukan lagi sebagai antioksidan, namun fungsinya malah menjadi pro&
oksidan. 3al inilah yang menjadikan mengapa kadar asam urat yang tinggi
menjadi faktor risiko kejadian penyakit jantung koroner.
4elemahan pada penelitian ini dijumpai dari sampel yang yang tidak
mewakili populasi dari keseluruhan jumlah penderita 64" di /SU" Soeroto
,gawi. "ata penelitian ini diambil dari data sekunder rekam medis sehingga tidak
bisa meneliti lebih dalam. 4emudian jenis penelitian merupakan kategorikal.
Cofounding factor dalam penelitian ini adalah kadar kolesterol dan trigliserid
yang tinggi karena merupakan faktor risiko kejadian penyakit jantung koroner.
5ias dalam penelitian ini kemungkinan peneliti terdapat kesalahan dalam
menginterpretasikan rekam medis.
33
BAB 8. SIMPULAN DAN SARAN
%.1. S+1!lan
?erdapat hubungan antara kadar asam urat dengan kejadian penyakit
jantung koroner pada populasi gagal ginjal kronik ( p@0.0%!.
34
%.2. Saran
$. "iharapkan kepada peneliti berikutnya agar lebih memperluas 2akupan
penelitiannya sehingga dapat lebih bermanfaat dalam perkembangan ilmu
pengetahuan di bidang kedokteran dan kesehatan.
2. 5agi /SU" Soeroto ,gawi diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat
menjadi masukan dalam upaya menurunkan atau men2egah penyakit jantung
koroner pada pasien gagal ginjal kronik dengan 2ara menganjurkan pasien
dengan kadar asam urat tinggi untuk melakukan pemeriksaan .4:.
1. 5agi penderita gagal ginjal kronik khususnya serta bagi masyarakat pada
umumnya harus sadar mengenai bahaya penyakit jantung koroner dan dapat
mengenal faktor risikonya supaya upaya pen2egahan dapat dilakukan di tahap
awal.
35