Anda di halaman 1dari 14

ASPEK PENDUKUNG SISTEM PERBANKAN

SYARIAH
disusun sebagai persyaratan untuk memenuhi Tugas matakuliah
Islamic Banking and Accounting



disusun oleh :

Ahmad Priyono
Anggi Octavia Irawan
Evanti Andriani


PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014



A. MONEY MARKET DAN FOREX

Asset-Liability Management
Bank pada hakikatnya adalah lembaga intermediasi antara para penabung dan investor.
Tabungan hanya akan berguna apabila diinvestasikan, sedangkan para penabung tidak dapat
diharapkan untuk sanggup melakukannya sendiri dengan terampil dan sukses. Nasabah mau
menyimpan dananya di bank karena ia percaya bahwa bank dapat memilih alternatif investasi
yang menarik.
Proses pemilihan investasi itu harus dilakukan dengan saksama karena kesalahan dalam
pemilihan bentuk investasi akan membawa akibat bank tidak bisa memenuhi kewajibannya
kepada para nasabahnya. Pada umumnya, bank mengkoordinasikan fungsi tersebut melalui
apa yang disebut assets/liabilities management committe atau disingkat ALCO.

Fungsi Manajemen Aset dan Liabilitas
Mengkoordinasikan portofolio asset / liabilitas bank dalam rangka memaksimalkan
profit bagi bank dan hasil yang dibagikan kepada para pemegang saham dalam jangka
panjang dengan memperhatikan kebutuhan likuiditas dan kehati-hatian.
Jenis-jenis Resiko
a. Risiko Likuiditas
Likuiditas secara luas dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk
memenuhi kebutuhan dana dengan segera dan dengan biaya yang sesuai.
Likuiditas penting bagi bank untuk menjalankan transaksi bisnis sehari-hari,
mengatasi kebutuhan dana yang mendesak, memuaskan permintaan nasabah
terhadap pinjaman, dan memberikan fleksibilitas dalam meraih kesempatan
investasi yang menarik dan menguntungkan.
b. Risiko Kredit
Risiko kredit muncul jika bank tidak bisa memperoleh kembali cicilan pokok
dan atau bunga dari pinjaman yang diberikannya atau investasi yang sedang
dilakukannya.


c. Risiko Fluktuasi Tingkat Bunga
Potensi risiko fluktuasi tingkat bunga dapat timbul manakala terjadi gap
antara asset dan liabilitas, dimana komposisi aset, baik berdasarkan tingkat
kepekaannya terhadap tingkat bunga maupun berdasarkan jangka waktunya,
tidak sesuai dengan komposis liabilitasnya. Untuk meminimalkan resiko
tersebut, digunakanlah alat yang disebut fund gap management untuk yang
disebut pertama dan duration gap management untuk yang disebut terakhir.

Aplikasi Teori Aseet/ Liability Management pada Perbankan Syariah
Sebagaimana perbankan konvensional, perbankan syariah pun juga merupakan
lembaga intermediasi antara penabung dan investor. Perbedaan pokok perbankan
syariah dengan perbankan konvensional terletak pada dominasi prinsip berbagi hasil
dan berbagi risiko yang melandasi sistem operasionalnya. Hal ini antara lain
tercermin pada beberapa karakteristik :
a. Tidak sebagaimana bank konvensional, bank syariah hanya menjamin
pembayaran kembali nilai nominal simpanan giro dan tabungan(seandainya
mekanisme yang dipilih adalah wadiah), tetapi tidak menjamin pembayaran
kembali nilai nominal dari deposito.
b. Sistem Operasional bank syariah berdasarkan pada sistem equity di mana
setiap modal mengandung resiko.
c. Dalam melakukan kegiatan pembiayaan , bank syariah menggunakan model
pembiyayaan muamalah maaliyah (Islamic modes of financing) :PLS dan
non-PLS. Sehubungan dengan itu, bank syariah melakukan pooling dana-dana
nasabah dan berkewajiban menyediakan manajemen investasi yang
professional.





Pasar Uang Berbasis Syariah (Islamic Money Market)
Praktik Pasar Uang Konvensional
Pasar uang adalah pasar dimana diperdagangkan surat-surat berharga jangka pendek.
Pasar valuta asing adalah pasar dimana diperdagangkan surat-surat berharga dalam
suatu mata uang dengan melibatkan mata uang lain.
Harga di pasar uang konvensional
Harga dalam pasar uang biasanya dinyatakan dalam suatu persentase yang mewakili
pendapatan berkaitan dengan penggunaan uang untuk jangka waktu tertentu. Pelaku
dalam pasar uang umumnya disebut peminjam dan pemberi pinjaman.
Pandangan Islam Syariah terhadap pasar uang
Pada dasarnya, Islam memandang uang hanyalah sebagai alat tukar, bukan komoditas
atau barang dagangannya. Oleh karena itu, motif permintaan akan uang adalah untuk
mememenuhi kebutuhan transaksi, bukan untuk spekulasi atau trading.
Kebutuhan Bank Syariah terhadap Pasar Uang
Tanpa adanya fasilitas pasar uang, bank konvensional pun akan menghadapi masalah
yang sama, mengingat pada umunya perbankan sulit menghindari posisi keuangan
yang mismatched. Untuk memanfaatkan dana yang sementara idle itu, bank dapat
melakukan investasi jangka pendek di pasar uang. Sebaliknya, untuk memenuhi
kebutuhan dana untuk likuiditas jangka pendek karena mismatch, bank juga dapat
memperolehnya di pasar uang.
Strategi Pengembangan Pasar Uang Berbasis Syariah
a. Penciptaan Intrumen Uang Syariah
Untuk menciptakan pasar uang yang bermanfaat bagi perbankan syariah, harus
dikembangkan instrument pasar uang yang berbasis syariah. Dengan aktifnya
instrument pasar uang yang berbasis syariah, perbankan syariah dapat
melaksanakan fungsinya secara penuh, tidak saja dalam memfalitasi perdaganga
jangka pendek, tetapi juga berperan dalam investasi jangka panjang.
b. Mekanisme Operasi Pasar Keuangan Syariah
Seseorang akan tertarik menanamkan dananya pada intrumen keuangan apanila
dapat diyakini bahwa instrumen tersebut dapat bahwa instrumen tersebut dapat
dicairkan setiap saat tanpa mengurangi pendapatan efektif dai investasinya. Oleh
karena itu, setiap instrument keuangan harus memenuhi beberpa syarat :
- Pendapatan yang baik
- Risiko yang rendah
- Mudah dicairkan
- Sederhana
- fleksibel
c. Peranan Company
Peranan utama dari company adalah sebagai pembuat transaksi. Sebagaimana kita
ketahui, semua lembaga keuangan berusaha memobilisasi dana-dan dari para
penabung dan mempertimbangkan jalan terbaik untuk menggunakannya.

Norma-norma Syariah dalam Pasar Valuta Asing (Foreign Exchange)
1. Praktik Pasar Valuta asing konvensional
a. Alasan kebutuhan transaksi perdagangan valuta asing
Dalam mata uang apapun invoice itu dikeluarkan, orang harus pergi ke pasar
valuta asing untuk menjual yen dan membeli rupiah. Untuk memenuhi transaksi
ini di pasar, harus ada penawaran rupiah dan permintaan yen. Dapat juga terjadi
bahwa transaksi antara dua negara diselesaikan dengan menggunakan mata uang
negara ketiga, yaitu bila eksportir maupun importir tidak memiliki mata uang
lokal negara masing-masing.
b. Harga di pasar valuta asing
Harga dalam pasar valuta asing di suatu negara dinyatakan dengan cara
sebagaimana untuk menyatakan harga dari barang dan jasa di Negara tersebut
dalam mata uang lokal.

2. Keterlibatan Perbankan Syariah dalam Pasar Valuta Asing
Sebagai lembaga keuangan yang memfasilitasi perdagangan internasional,
perbankan syariah pun tidak dapat menghindarkan diri dari keterlibatan nya pada pasar
valuta asing. Perbankan syariah harus menyusun pedoman kerja operasional bagi
dirinya agar juga mempunyai akses yang luas ke pasar valuta asing tanpa harus terlibat
pada mekanisme perdagangan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah.
Perdagangan valuta asing dapat dianalogikan dengan pertukaran antara emas
dan perak (sharf). Harga atas pertukaran itu dapat ditentukan berdasarkan kesepakatan
antara penjual dan pembeli. Rasulullah SAW mengarahkan 2 hal yakni :
a. Emas dan perak sebagai mata uang tidak boleh dipertukarkan dengan sejenisnya
(Rupiah dengan Rupiah atau Dollar dengan Dollar) kecuali sama jumlahnya.
b. Bila berbeda jenisnya, Rupiah dengan Yen, dapat ditukarkan sesuai dengan market
rate dengan catatan harus naqdan atau spot (tunai).

3. Norma-norma Syariah dalam Pasar Valuta Asing
a. Pertukaran tersebut harus dilakukan secara tunai. Artinya masing-masing pihak
harus menerima/ menyerahkan masing-masing mata uang pada saat yang
bersamaan
b. Motif pertukaran adalah dalam rangka mendukung transaksi komersial yaitu
transaksi perdagangan barang dan jasa antarbangsa, bukan dalam rangka
spekulasi.
c. Harus dihindari jual beli bersyarat.
d. Transaksi berjangka harus dilakukan dengan pihak-pihak yang diyakini mampu
menyediakan valuta asing yang dipertukarkan
e. Tidak dibenarkan menjual barang yang belum dikuasai atau dengan kata lain
tidak dibenarkan jual beli tanpa hak kepemilikan.


B. AUDIT DAN CONTROL BANK SYARIAH
Kegiatan bank memiliki resiko yang tinggi karena berurusan dengan uang dalam
jumlah yang sangat besar sehingga dapat menimbulkan niat orang-orang yang terlibat
didalamnya untuk melakukan kecurangan. Kalau kekhawatiran ini terjadi tentu di
butuhkan adanya contolling dan perlu diciptakan suatu sistem yang berlapis (multiple
audit system)

Audit Sistem Berlapis (Multilayer Audit) dalam Bank Syariah
Pengendalian Diri sendiri (Self Control)
Merupakan lapisan pertama dan utama dalam diri setiap karyawan bank syariah,
sehingga peran bagian sumber daya insani dalam memilih karyawan yang tepat
merupakan syarat mutlak adanya peran lapisan kontrol yang pertama ini secara
optimal.
Pengendalian Menyatu (Built-in Control)
Selain self control, karyawan dalam melaksanakan tugas sehari-hari tidak terlepas
dari prosedur dan aturan main yang telah ditetapkan. Dalam sistem dan prosedur yang
diciptakan, secra tidak disadari oleh setiap karyawan, di masukkan unsur-unsur
kontrol yang menyatu dengan prosedur tersebut.
Auditor Internal
Untuk dapat menyakinkan bahwa telah ada pengendalian diri dan pengendalian
menyatu yang memadai, perlu adanya suatu ukuran dan penilaian dari pihak yang
tidak terkait dengan kegiatan tersebut (independen).
a. Bagian pengawasan data
Melaksanakan audit keuangan atas laporan keuangan, khususnya melakukan
pembuktian kebenaran material setiap pos yang ada yang ada, dengan
melakukan cash count, stock opname, rekonsiliasi bank /RAK, proofing, dll.
b. Auditor wilayah (resident auditor) dan inspektur pengawasan
Kedua pengawas ini berfungsi melakukan operasional audit, di samping audit
keuangan. Titik berarti audit yang dilakukan adalah pengujjian secara
menyeluruh atas berjalannya SPIN (Sistem Pengendalian Intern) yang antara
lain meliputi : aspek organisasi, memadai tidaknya sumber daya insane,
praktik bank yang sehat, dan unsure SPI lainnya.
Eksternal Auditor
Pengauditan eksternal memberikan masukan kepada manajemen bank mengenai
kondisi bank yang bersangkutan. Dari audit eksternal diharapakan adanya suatu
penilaian yang snagant netral terhadap objek-objek yang diperiksa. Audit eksternal
yang melakukan pemeriksaan anatara lain BI, akuntan public, maupun pihak lain.


Jenis Audit, Teknik Audit, dan Hal-hal khusus dalam Pemeriksaan
Jenis Audit dan Teknik Audit
Audit keuangan dan audit operasi juga dilaksanakan dalam pemeriksaan yang
dilakukan oleh auditor untuk bank syariah. Khususnya untuk pengujian kepatuhan, di
samping peraturan-peraturan internal-peraturan (internal dan eksternal), fatwa-fatwa
dan nodules DPS juga dijadikan acuan.
Teknik audit dilaksanakan oleh auditor untuk bank syariah secara umum sama dengan
teknik audit rekonsiliasi untuk memeriksa rekening bank lain, menggunakan cash/
stock opname.
Hal-hal khusus atas pemeriksaan Bank Syariah
a. Disamping pengungkapan kewajaran penyajian laporan keuangan, juga
diungkapkan unsur kepatuhan syariah
b. Perbedaan akunting yang menyangkut aspek produk, bak sumber dana
maupun pembiayaan
c. Pemeriksaan distribusi profit
d. Pengakuan pendapatan cash basis serta riil
e. Pengakuan beban yang secara accrual basis
f. Dalam hubungan dengan bank koresponden, khususnya koresponden
depository, pengakuan pendapatan tetap harus menggunakan prinsip bagi
hasil. Jika tidak, pendapatan atas bunga tidak boleh dicatat sebagai
pendapatan.
g. Adanya pemeriksaan atas sumber dan penggunaaan zakat
h. Revaluasi atas valuta asing dapat diakui apabila posisi devisa neto dalam
posisi square. Dalam hal ini, harus ada ketentuan tentang suatu posisi PDN
yang dianggap square.
i. Ada tidaknya transaksi yang mengandung unsu-unsur yang tidak sesuai
dengan syariah.



C. BADAN ARBITRASE ISLAM

Keperluan Pembentukan Badan Arbitrase Islam
Majelis Ulama Indonesia mendirikan Badan Arbitrase Muamalat Indonesia
(BAMUI) untuk menyelesaikan kemungkinan terjadinya sengketa antara bank-bank
syariah dengan para nasabah. Hal ini diharapkan akan dapat mendukung pertumbuhan
bank syariah. Beberapa konsep pun telah disusun menyangkut rancangan akta
pendirian yayasan bagi pendiri lembaga tersebut, yang didalamnya termuat anggaran
dasar lembaga syariah tersebut. Rancangan anggaran rumah tangga yang juga
merupakan kelengkapan anggaran dasar yayasan serta rancangan peraturan prosedur
arbitrase, bila telah disahkan akan berlaku baik bagi wasit dalam melaksanakan
tugasnya menyelesaikan berbagai perkara maupun bagi calon pengguna jasa lembaga
tersebut.

Landasan Hukum
Pasal 1338 KUHP, Sistem Hukum Terbuka
Pada 1338 kitab UU Hukum Perdata (KUHP) menyatakan semua perjanjian yang
dibuat sesuai dengan undang-undang berlaku sebagai undang-undang bagi mereka
yang membuatnya. Perjanjian itu tidak dapat di tarik kembali selain dengan
kesepakatan kedua belah pihak atau karena alasan-alasan yang ditentukan oleh
undang-undang. Perjanjian harus dilaksanakan dengan baik.
Pasal 14 UU No. 14 Tahun 1970
Sejalan dengan berlakunya sistem atau asas tersebut, pasal 14 UU No.14 Tahun 1970
tentang ketentuan Pokok Kekuasaan kehakiman menyatakan hal berikut ini :
1. Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa dan mengadili sesuatu perkara
yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak atau kurang jelas, melainkan
wajib untuk memeriksa dan mengadilinya.
2. Ketentuan dalam ayai (1) tidak menutup kemungkinan untuk melakukan usaha
penyelesaian perkara perdata secara perdamaian.


Pactum de Compromittendo
Berdasarkan ketentuan yang tercantm dalam Pasal 615 RV, penetapan, penunjukan,
atau pengangkatan wasit dapat dilakukan oleh para pihak yang berselisih sesudah
selisih atau sengketa itu terjadi. Akan tetapi, penunjukkan dapat pula ditetapkan di
dalam perjanjian bahwa apabila di kemudian hari terjadi perselisihan atau
persengketaan di antara kedua belah pihak telah menetapkan wasit yang diminta
untuk menyelesaikan sengketa yang terjadi tersebut.

Dua Jenis Wasit
1. Wasit Ad Hoc
Adalah wasit yang bekerja secara incidental berguna untuk menyelesaikan
suatu sengketa karena diminta atau ditunjuk oleh dua belah pihak yang
bersengketa.
2. Wasit Permanen
Wasit ini bersifat melembaga dan bekerja secara tetap guna menyelesaikan
sengketa yang telah diminta atau mungkin akan terjadi bila hal itu diminta
para pihak yang bersangkutan. Dengan kata lain, wasit permanen adalah suatu
badan yang menyiapkan diri melayani masyarakat yang membutuhkan untuk
mendapatkan penyelesaian perkara perdata secara perdamaian

Lembaga Pemberi Pendapat yang Bersifat Final
Wasit juga dapat berfungsi sebagai lembaga pemberi pendapat yang bersifat final
dalam hal-hal para pihak yang mengadakan perjanjian tidak sependapat mengenai
penafsiran makna, maksud, atau isi dari suatu perjanjian yang dibuat oleh para pihak
yang bersangkutan atau bagian-bagiannya.
Dengan kata lain apabila ada dua belah pihak yang berselisih, maka mereka dapat
meminta kepada suatu lembaga atau wasit permanen untuk memberikan pendapatnya
dimana pendapatnya tersebuta adalah bersifat final.



Penyelesaian Sengketa Secara Damai
Penyelesaian sengketa perdata secara damai dapat dibenarkan untuk semua
masalah perdata, kecuali yang secara tegas dilarang ; yakni pemberian dan hibah
wasiat untuk keperluan hidup kecuali untuk sengketa-sengketa tertentu yang tidak
diizinkan untuk dilakukannya perdamaian menurut ketentuan undang-undang.

Syarat Wasit
Pada prinsipnya, setiap orang dapat diangkat sebagai wasit asalkan ia dapat menerma
atau ditetapkan sebagai kuasa. Demikian yang ditetapkan di dalam Pasal 617 alinea
pertama RV.

Putusan Wasit
a. Pasal 631
wasit menjatuhkan putusan menurut undang-undang hukum kecuali mereka
diberi kewenangan untuk memutuskannnya berdasarkan keadilan.
b. Pasal 632
putusan harus memuat Nama kecil dan nama para pihak bersengketa,
kesimpulan akhir dan mencantumkan nama dan tempat dijatuhkan putusan
tersebut
c. Pasal 633
apabila minoritas menolak menandatangani, maka wasit wajib menyebutkan
bahwa keputusan tersebut mempunyai kekuatan yang sama.
d. Pasal 634
Dalam waktu empat belas hari untuk Jawa dan Madura, dan sedapat mungkin
dallam waktu tiga bulan untuk tempat-tempat lain yang termasuk dalam
daerah hukum Raad van Justitie di Jawa, terhitung sejak hari putusan, surat
putusan aslinya oleh salah seorang dari para wasit atau oleh seorang
pengacara yang dikuasakan oleh mereka dengan akta otentik, diserahkan di
kepaniteraan Raad van Justitie yang daerah hukumnya meliputi tempat di
mana putusan itu diambil.

e. Pasal 635
wasit wajib menyerahkan putusannya dan akta asli pengangkatannya atau
turunan otentiknya di kepaniteraan. .
f. Pasal 636
putusan wasit mutlak, tidak dapat dilawan.
g. Pasal 637
Putusan para wasit dilaksanakan atas keakuratan surat perintah dari Ketua
Raad van Justite ( baca: Ketua Pengadilan Tinggi yang bersangkutan).
h. Pasal 638
Bila suatu perkara, yang diputus oleh hakim biasa pada tingkat pertama, pada
tingkat banding diserahkan kepada para wasit, maka putusannya diserahkan di
kepaniteraan majelis hakim yang seharusnya memeriksa perkara itu pada
tingkat banding ( baca : Pengadilan Tinggi yang bersangkutan ) dan surat
perintah diberikan oleh Ketua Majelis itu (baca : Ketua Pengadilan Tinggi
yang bersangkutan)
i. Pasal 639
Putusan wasit yang dilengkapi dengan surat perintah dari Ketua Raad van
justitie (baca: ketua pengadilan negeri) yang berwenang, dilaksanakan
menurut cara pelaksaan biasa.
j. Pasal 648
Kematian salah satu pihak tidak menghentikan akibat dari kompromi atau
perjanjian seperti tersebt dalam ayat terakhir dari pasa 615 (ada di pactum de
compromittendo); kekuasaan dari para wasit tidak juga dianggap ditarik
kembali karenanya.
k. Pasal 649
Tugas wasit berakhir setelah dijatuhkannya putusan.
l. Pasal 650
Tugas wasit berakhir bila jangkka waktu yang ditetapkan dalam komprom
atau yang diperpanjang oleh para pihak selama perkara masih bergantung,
telah terlewati, setelah lewat 6 buan terhitung sejak hari ditandatanganinya
akta penerimaan, bila tidak ditentukan jangka waktu lain, dengan ditariknya
kembali para wasit atas kesepakatan masing-masing pihak.
m. Pasal 651
Tugas para wasit berakhir pula karena kematian, keberatan terhadapnya yang
diterima, atau pemecata seorang atau lebih dari mereka.


























DAFTAR PUSTAKA

Muhammad Syafii Antonio. 2001. Bank Syariah : Dari Teori ke Praktik. Gema Insani Press.
Jakarta.