Anda di halaman 1dari 6

TUGAS

MATA KULIAH MENGGAMBAR 111


SENI BATIK



SUPARTINAH
A 451 11 003
MUSDALIFAH
A 451 11 035


KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RI
UNIVERSITAS TADULAKO
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI S-1 KUALIFIKASI PGTK
NOVEMBER , 2012






A. Pengertian batik

Batik adalah salah satu pembuatan bahan pakaian. Selain itu batik bisa
mengacu pada dua hal yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan
menggunakan malam untuk mencega pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur
internasional, teknik ini dikenal sebagai wax resist dyeing. Kain atau busana yang
dibuat dengan teknik tersebut termaksud penggunaan motif-motif tersebut. yang
memiliki kekhasan . batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik,teknologi, serta
pengembangan motif dan budaya yang terkait oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai
warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi.
Batil adalah penulisan gambar pada media apapun sehingga terbentuk corak
dan seni. Untuk pengertian batik menurut bahasa sendiri berasal dari bahasa
jawaamba yang berarti menulis dan titik kata batik menuju pada corak yang di
hasilkan oleh bahan malam. Batik adalah pakaian has indonesia batik sangat cocok
jika di kombinasikan dengan berbagai macam kain. Batik adalah salah satu sumber
kreatifitas yang sangat luas mulai dari perancang busana, pengusaha interior, sampai
dengan pengrajin kecil asesoris atau pernak pernik hiasan, mereka semua dapat
memanfaatkan batik.

B.Sejarah batik

Seni pewarnaan teknik perintang pewarnaan menggunakan malam adalah
salah satu bentuk seni kuno. Penemuan di Mesir menunjukan bahwa teknik ini telah di
kenal semenjak abad ke-4 SM, dengan di kemukakannya kain pembungkus mumi
yang juga di lapisi malam untuk membentuk pola. Di Asia, teknik serupa batik juga di
terapkan di Tiongkok semasa Dinasti T`ang (618-907) serta di India dan Jepang
semasa Periode Nara (645-794). Di Afrika, teknik seperti batik di kenal oleh Suku
Yoruba di Nigeria,serta suku Soninke dan Wolof di Senegal. Di Indonesia, batik di
percaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer ahir abad
XVIII atau awal abad XIX. Batik yang di hasilkan ialah semuanya batik tulis sampai
awal abad XX dan batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun
1920-an.





Walaupun kata batik berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa
sendiri tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa tehnik batik ini
kemungkinan di perkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke -7. Di
sisi lain, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (sejarawan Indonesia)
percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja,Flores, Halmahera,
dan Papua. Perlu di catat bahwa willayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi
oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki tradisi kuno membuat batik.
G.P.Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah di kenal sejak
abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya
bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa
canting ditemukandi Jawa pada masa sekitar itu. Detil ukiran kain yang menyerupai
pola batik dikenakan oleh Prajnaparamita,arca dewi kebijaksanaan buddhis dari Jawa
Timur abad ke-13. Detil pakaian menampilkan pola sulur tumbuhan dan kembang-
kembang rumit yang mirip dengan pola batik tradisional Jawa yang dapat di temukan
kini. Hal ini menunjukan bahwa membuat pola batik yang rumit yang hanya dapat
dibuat dengan canting telah dikenal di Jawa sejak abad ke-13 atau bahkan lebih awal.
Lagenda dalam literatur melayu abad ke-17, Sulalatus Salatin menceritakan
Laksamana Hang Nadim yang diperintahkan oleh Sultan Mahmud untuk berlayar ke
India agar mendapatkan 140 lembar kain serasah dengan pola 40 jenis bunga pada
setiap lembarnya. Karena tidak mampu memenuhi perintah itu, dia membuat sendiri
kain-kain itu. Namun sayapnya kapalnya karam dalam perjalanan pulang dan hanya
mampu membawa empat lembar sehigga membuat sang Sultan kecewa. Oleh
beberapa penafsir, serasah itu ditafsirkan sebagai batik.












Dalam Literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku
History of Java (London,1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles.Ia pernah
menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda. Pada 1873
seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang
diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada
awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu di
pamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900,batik Indonesia
memukau publik dan seniman.
Semenjak industrialisasi dan globalisasi, yang memperkenalkan teknik
otomatisasi, batik jenis baru muncul, dikenal sebagai batik cap dan batik cetak,
sementara batik tradisional yang diproduksi dengan teknik tulisan tangan
menggunakan canting dan malam disebut batik tulis. Hugh Clifford merekam industri
di pekan tahun 1895 bagi menghasilkan batik,kain pelangi,dan kain telepok.
Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi
bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan
Jawa pada masa lampau menjadikan kerterampilan mereka dalam membatik sebagai
mata pencaharian, sehingga pada masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan
ekslusif perempuan sampai ditemukan Batik Cap yang memungkinkan masuknya
laki-laki kedalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu
batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak
Mega Mendung dimana dibeberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adlah lazim
bagi kaum lelaki.
Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun,
sehingga kadang kala suatu motif dapat di kenali berasal dari batik keluarga tertentu.
Beberapa motif batik dapat menunjukan status seseorang. Bahkan sampai saat ini,
beberapa motif batik tradisional hanya di pakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan
Surakarta.
Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia (Jawa) yang sampai saat
ini masih ada. Batik juga pertama kali diperkenalkan pada dunia oleh Presiden
Soeharto,yang pada waktu itu memekai batik pada konverensi PBB.







C. Maksud
Motif kain adat dapat dilihat sebagai salah satu sarana komunikasi tradisional
yang memuat lambang-lambang atau simbol-simbol budaya tertentu. Simbol-simbol
adat sesungguhnya dapat berlaku sebagai pranata karena dengan makna dibalik
simbol itu,setiap penerima simbol akan menyadari sesuatu yang harus dan tidak harus
dijalankannya.Sehingga motif batik tradisional merupakan pesan nonverbal.
Masyarakat Jawa sampai sekarang masih mempunyai kepercayaan terhadap
batik tradisional yang bermotif tertentu. Adapun kepercayaan ini antara lain
tercermin pada upacara adat pernikahan Jawa, dimana mereka memiliki kepercayaan
bahwa batik sebagai salah satu alat perlengkapan pernikahan adat dianggap
mempunyai kekuatan magis, dan pernikahannyapun menurut aturan-aturan tertentu
yang tidak boleh dilanggar begitu saja. Disamping itu pada sementara orang Jawa
masih pula hidup pemikiran bahwa motif batik tradisional yang sering digunakan
sebagai alat perlengkapan upacara pernikahan adat Jawa memiliki mitologi tertentu
yang memberikan arti khusus dan harus mendapatkan perhatian yang khusus pula
bagi parapemakainya. Pemakaian motif batik-batik tradisional tertentu baik oleh
pengantin pria dan pengantin wanita.,orang tua dari kedua belah pihak maupun pihak-
pihak lain yang berkepentingan pada proses pelaksanaan tersebut secara menyeluruh,
mulai dari awal sampai akhir dari rangkaian upacara pernikahan itu, umumnya juga
didasari oleh pemikiran-pemikiran tersebut diatas.
Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun,
sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu .
Beberapa motif batik dapat menunjukan status seseorang. Bahkan sampai saat ini,
beberapa motif batik tradisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan
Surakarta.










D. Tujuan
Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi
bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan
Jawa di masa lampau menjadikan ketrampilan mereka dalam membatik sebagai mata
pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan ekslusif
perempuan sampai di temukannya Batik Cap yang memungkinkan masuknya laki-
laki dalam bidang ini.Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu bati pesisir
yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak Mega Mendung,
di mana dibeberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.
Tradisi falsafah jawa yang mengutamakan pengolahan jati diri melalui
prektek-prektek meditasi dan mistik dalam mencapai kemuliaan adalah satu sumber
utma penciptaan corak-corak batik tersebut selain pengapdian sepenuhnya pada
kekuasaan raja sebagai pengejawantahan Yang Maha Kuasa di dunia. Sikap ini
menjadi akar nilai-nilai simbolik yang terdapat di balik corak-corak batik menurut
Djajasoebrata (dalam Anas, Biranul,1995:64).
Pola, motif dan warna dalam batik,dulu mempunyai arti simbolik. Ini
disebabkan batik dulu merupakan pakaian upacara (kain panjang,
sarung,selendang,dodot, kemben,ikat kepala), oleh karene itu harus dapat
mencerminkan suasana upacara dan dapat menambah daya magis. Karena itu di
ciptakanlah berbagai pola dan motif batik yang mempunyai simbolisme yang bisa
mendukung atau menambah sauasana religius dan magis dari upacara itu. Jadi batik
tidak hanya untuk memperindah tubuh dan menyenangkan pandangan mata saja, tapi
merupakan bagian dari upcara itu sendiri bersama dengan alat-alat upacara yang lain
(Jawa Tirta,1985:3).
Motif-motif batik tidak sekedar gambar atau ilustrasi saja namun motif-motif
batik tersebut dapat dikatakan ingin menyampaikan pesan, karena motif-motif
tersebut tidak dapat terlepas dari pandangan hidup pembuatnya, dan lagi pemberian
nama terhadap motif-motf tersebut berkaitan dengan suatu harapan.

Anda mungkin juga menyukai