Anda di halaman 1dari 6

1

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang masalah
Industri Oil & Gas adalah industri yang mengolah minyak bumi atau gas
bumi sebagai Raw material (bahan dasar) dan diolah untuk menghasilkan
Chemical product (produk bahan kimia) ataupun Petroleum product (produk
bahan bakar mesin). Krisis ekonomi dan moneter yang menimpa Indonesia sejak
tahun 1997 memberikan pukulan yang cukup besar bagi industri-industri yang ada
di Indonesia. Krisis yang berkepanjangan tersebut telah meningkatkan inflasi
secara dramatis dan depresiasi rupiah terhadap mata uang asing, khususnya dolar
Amerika. Beban devisa tentu saja menjadi sangat berat dengan adanya devaluasi
tersebut karena pembelian bahan baku serta produk-produk dari luar negeri tetap
menggunakan kurs mata uang asing. Adanya inflasi mengakibatkan harga faktor-
faktor produksi seperti tenaga kerja, bahan baku lokal, energi, biaya transportasi
dan sebagainya meningkat secara signifikan. Menurut Ciptomulyono (2005) hal
ini tentu saja menjadi semakin berat bagi industri-industri yang mengimpor bahan
bakunya, karena berarti mereka saat ini membayar bahan baku 3 kali lebih mahal
dibandingkan dengan yang mereka bayar pada tahun 1997. Kondisi yang seperti
inilah yang membuat industri-industri di Indonesia, termasuk industri Petrokimia
yang banyak menggunakan bahan baku impor menjadi sulit untuk mencapai
profitabilitas yang tinggi sejak terjadinya krisis ekonomi dan moneter tersebut.
Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk menarik investor dalam
bidang industri Petrokimia, khususnya Petrokimia Aromatik. Salah satu hasilnya
adalah didirikannya PT. Trans-Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) di Tuban
yang memiliki tujuan untuk memproduksi produk-produk Petrokimia aromatik
hulu dan antara. TPPI berdiri pada tahun 1996 dan mendirikan pabriknya di
Tuban. TPPI merupakan pabrik yang mempunyai core business menghasilkan
produk Chemical (Benzene, Toluene dan Xylene) dan mempunyai side products
Light Naphta, Kerosene, Reformate dan Gas Oil. Oleh karena itu TPPI bisa juga
disebut sebagai Refinery Plant. Kapasitas produksi dari TPPI adalah 3,6 juta
ton/tahun, dan produknya antara lain terdiri atas Light Naphta sebanyak 1.065.000
2

ton/tahun, Paraxylene sebanyak 500.000 ton/tahun, Benzene sebanyak 207.000
ton/tahun, Toluene sebanyak 100.000 ton/tahun, Orthoxylene sebanyak 120.000
ton/tahun, Reformate sebanyak 335.000 ton/tahun, Kerosene sebanyak 1,1 juta
ton/tahun dan Diesel Oil sebanyak 189.000 ton/tahun.
Produk samping yang dihasilkan seperti Light Naphta dapat dijadikan
sebagai bahan baku untuk proses Olefin, produk yang dihasilkan antara lain
adalah polypropelene. Produk Kerosene digunakan sebagai bahan bakar minyak,
mengingat nilai oktan dari Kerosene itu sendiri cukup tinggi. Produk Diesel Oil
atau yang dikenal dengan solar digunakan sebagai bahan bakar untuk proses
seperti Boiler. Yang terakhir produk Reformate juga digunakan sebagai bahan
bakar minyak, yaitu sebagai campuran untuk bensin. Orthoxylene dapat
dimanfaatkan dalam industri plastik dan glass reinforcement. Paraxylene
dimanfaatkan dalam industri plastik, botol dan elektronika. Benzene dimanfaatkan
untuk pembuatan phenol/aceton, nylon, fibers, mainan, industri pengepakan dan
elektronik. Toluene dimanfaatkan sebagai pelarut dan Gasoline. Di antara produk-
produk ini, produk Chemical mempunyai harga jual lebih tinggi dibandingkan
dengan produk Petroleum.
Proses produksi yang kompleks dan menghasilkan produk yang berbeda-
beda antara satu sama lainnya membuat TPPI harus melakukan perencanaan
produksi yang efektif. Raw material yang mempunyai spesifikasi dan yield yang
berbeda menghasilkan produk yang mempunyai production rate, production cost
dan product price yang berbeda pula satu sama lainnya. Proses produksi di TPPI
merupakan proses yang berkesinambungan, artinya proses yang dilakukan
berlangsung selama 24 jam, di mulai dari bahan baku Condensate dialirkan dari
Condensate storage tank ke Aromatic plant untuk menghasilkan produk.
Berdasarkan desain awal, pabrik TPPI diharapkan dapat mengolah bahan
baku Condensate yang berasal dari beberapa tempat, yaitu: Bintulu, Handil,
Margham, Northwest Shelf (NWS), Qatar, Senipah, Sharjah, Arun, Bontang,
Terranganu, Bayu Undan dan Laminaria. Masing-masing bahan baku mempunyai
spesifikasi yang berbeda antara satu sama lainnya dan harga yang berbeda pula.
Tabel 1.1 menunjukkan perkiraan pertumbuhan permintaan produk BTX di
Asia rata-rata adalah sebesar 5,76% untuk produk Benzene, 6,07% untuk produk
3

Toluene dan 7,72% untuk produk Xylene. Perkiraan pertumbuhan permintaan BTX
di Asia merupakan peluang pemasaran guna meningkatkan keuntungan
perusahaan.

Tabel 1.1. Perkiraan suplai dan permintaan produk BTX di Asia
Products Description
Year Demand Growth (%)
Average
Demand
Growth
(%)
2006
(kTon)
2007
(kTon)
2008
(kTon)
2009
(kTon)
2006-
2007
2007-
2008
2008-
2009
Benzene Supply

15.556

15.837

17.095

18.163

4,41

7,13

5,74

5,76
Demand

15.616

16.337

17.592

18.663

Balance

(60)

(500)

(497)

(500)
Toluene Supply

6.607

7.077

7.750

8.570

4,27

5,56

8,37

6,07
Demand

7.265

7.589

8.036

8.770

Balance

(658)

(512)

(286)

(200)
Xylene Supply

20.700

22.600

24.100

26.900

7,52

5,71

9,93

7,72
Demand

22.150

23.950

25.400

28.200

Balance

(1.450)

(1.350)

(1.300)

(1.300)
Sumber: DeWitt Company, (2006)

Tabel 1.2 menunjukkan TPPI merupakan salah satu perusahaan petrokimia
yang menghasilkan produk Paraxylene dan menempati urutan ke delapan di Asia.
Mengingat posisi TPPI merupakan salah satu perusahaan yang menghasilkan
produk Paraxylene terbesar di Asia, maka untuk memaksimalkan keuntungan
TPPI perlu melakukan penentuan bauran produk yang tepat dalam perencanaan
produksinya.






4

Tabel 1.2. Ranking perusahaan penghasil produk Paraxylene

Sumber: Petrochemical Consultants International and Company, (2008)

1.2. Perumusan masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah di kemukakan sebelumnya maka
permasalahan utama dalam perencanaan produksi di TPPI adalah bagaimana
melakukan penentuan komposisi bauran produk antara produk Chemical dan
produk Petroleum yang tepat dengan memperhatikan goal-goal yang telah
ditetapkan oleh perusahaan, yaitu:
1. Produk Petroleum dan Chemical diproduksi sesuai dengan demand (yang
telah ditetapkan perusahaan untuk masing-masing produk).
2. Produk Petroleum dan Chemical diproduksi sesuai dengan produksi aktual
masing-masing produk.
3. Konsumsi Condensate untuk produksi produk Petroleum dan Chemical
memenuhi ketersediaan bahan baku per bulannya, konsumsi Condensate
perharinya 70 kBpd (kilo Barrel per day).
4. Loss/gas yang terbuang dan Energy usage kurang sama dengan 16,35%.



5

1.3. Tujuan penelitian
Berdasarkan rumusan permasalahan yang telah diuraikan sebelumnya
maka tujuan dilakukan penelitian ini adalah:
1. Mengembangkan model Goal programming untuk studi kasus bauran produk
yang dilakukan di PT. TPPI.
2. Mencari bahan baku yang tepat untuk digunakan sebagai bahan baku sehingga
dapat memaksimalkan profit perusahaan.
3. Mencari bauran produk antara produk Chemical dan produk Petroleum.
Dengan memperhatikan objective function yang ada, maka untuk
penyelesaiannya akan menggunakan metode Goal programming dan dibantu
dengan software Lindo.

1.4. Manfaat penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat:
1. Membantu perusahaan dalam membuat perencanaan produksi yang dapat
disesuaikan dengan situasi yang berubah-ubah.
2. Mengetahui besarnya profit yang didapat oleh perusahaan dalam proses
produksi per bulan atau bahkan per tahun.
3. Membantu perusahaan dalam perencanaan produksi untuk tahun-tahun
berikutnya, sehingga modal yang dibutuhkan dan keuntungan yang dihasilkan
nantinya dapat digunakan perusahaan sebagai dasar perkiraan untuk
melakukan company development.

1.5. Batasan dan asumsi
Penelitian yang dilakukan adalah penelitian kuantitatif dan batasan
masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Goal yang dipakai dalam permodelan adalah data perkiraan penjualan produk
dan pembelian bahan baku Condensate tahun 2009.
2. Data perancangan produksi diambil berdasarkan data dari licensed UOP
(Universal Oil Product).

6

Asumsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Tidak ada perubahan harga bahan baku dan harga produk selama tahun 2009.
2. Perubahan situasi pasar dan ekonomi tidak merubah goal perusahaan.
3. Tidak mengikutsertakan Middle Distilate Product (produk antara) ke dalam
formulasi.
4. Produksi aktual 90% dari kapasitas desain produksi.