Anda di halaman 1dari 10

PENDIDIKAN PANCASILA

2 SKS
WAJIB LULUS (MINIMAL C)
DOSEN:
RUKIYATI, M. Hum.
Jurusan FSP/Prodi AKP
Telp. Rumah 0274 870194
HP. 085868351800
Penilaian
Ujian Akhir Semester = 40 %
Diskusi = 20 %
Tugas Kelompok = 20 %
Tugas Individual = 20 %
Total =100 %
Kompetensi
Mahasiswa memiliki wawasan hidup
berbangsa bernegara
Mahasiswa memiliki sikap dan
perilaku yg mencerminkan nilai-nilai
Pancasila (religius, manusiawi,
nasionalis, demokratis dan adil)
sehingga dapat mengamalkan
ilmunya secara bertanggung jawab.
Kajian Ilmiah terhadap Pancasila
Pendidikan Pancasila suatu studi tentang
Pancasila sebagai dasar dan ideologi
negara.
Kajian bersifat interdisipliner artinya
tinjauan dari berbagai disiplin ilmu sebagai
satu kesatuan.
Pancasila sendiri mempunyai ciri ilmiah.

Kajian ilmiah terhadap Pancasila dilihat dari ciri
berpikir ilmiah.
Ada 4 ciri berpikir ilmiah:
1. Berobjek: o. material & o. formal
2. Bermetode: analisis-sintesis, induktif-
deduktif, hermeneutik,dll.
3. Bersistem: saling terkait antar
hal/pernyataan sebagai satu keutuhan.
4. Bersifat universal/umum: kebenarannya
tdk terbatas ruang dan waktu.

Mari kita lihat satu persatu bila ciri itu
diterapkan dalam membahas Pancasila.
Setiap ilmu mempunyai objek.
Objek material Pancasila adalah:
Manusia Indonesia dari dulu sampai
sekarang.
Objek formalnya adalah ilmu-ilmu
sosial dan budaya seperti: filsafat,
hukum, politik, sosiologi, antropologi
dan sejarah.

Metode menelaah Pancasila:

Analisis -> mengurai, memerinci sehingga
jelas makna pernyataannya, misalnya:
Sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.
Keadilan berasal dari kata adil, artinya.
Keadilan adalah keadaan yang .
Sosial -> menyangkut masyarakat
seluruhnya, mempunyai tiga dimensi: warga
negara, negara dan antar-warga negara.
Seluruh rakyat Indonesia -> semua orang
Indonesia mempunyai kewajiban dan hak yg
sama.
Sintesis: rangkuman dan simpulan
Metode induksi: berpikir dari peristiwa
khusus ke kesimpulan umum.
Contoh: Sila I, peristiwa khususnya adalah
Adanya fenomena beragama di masyarakat
Indonesia, adanya tempat ibadah.
Kesimpulannya: Orang Indonesia
berkeyakinan terhadap Tuhan YME.
Metode Deduksi: berpikir dari hal umum ke kesimpulan
khusus.
Contoh:
Semua warga negara Indonesia wajib taat
pada hukum yang berlaku
Amir adalah warga negara Indonesia
Jadi, Amir wajib taat pada hukum yg
berlaku.
Contoh lain:
Hukum yg lebih tinggi (lebih umum)
menjadi acuan hukum yang lebih rendah
(lebih khusus).

Metode hermeneutik: penafsiran/interpretasi
terhadap teks atau pernyataan.
Penerapan:
Interpretasi pada ahli hukum terhadap pasal
28 A UUD 1945 tentang hak hidup.
Pendapat yang berbeda:
Sebagian menolak hukuman mati.
Sebagian mempertahankan hukuman mati.