Anda di halaman 1dari 228

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

REPUBLIK INDONESIA





LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN
ATAS
LAPORAN KEUANGAN
PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR
TAHUN ANGGARAN 2008
DI
SURABAYA








PERWAKILAN PROVINSI JAWA TIMUR




Nomor : 106/R/XVIII.J ATIM/05/2009
Tanggal : 25 Mei 2009
BUKU I
i
DAFTAR ISI



HALAMAN
DAFTAR ISI i
LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN......... 1
LAPORAN KEUANGAN POKOK
1. NERACA KOMPARATIF..................................................................... 3
2. LAPORAN REALISASI APBD............................................................. 5
3. LAPORAN ARUS KAS........................................................................ 7
4. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN.......................................... 9
A. PENDAHULUAN.......................................................................... 9
B. EKONOMI MAKRO, KEBIJ AKAN KEUANGAN DAN
PENCAPAIAN TARGET KINERJ A APBD.....................................
13
C. IKHTISAR PENCAPAIAN KINERJ A KEUANGAN....................... 26
D. KEBIJ AKAN AKUNTANSI............................................................ 62
E. PENJ ELASAN ATAS REKENING-REKENING NERACA,
LAPORAN REALISASI ANGGARAN DAN LAPORAN ARUS
KAS..............................................................................................


81
F. PENJ ELASAN ATAS INFORMASI NON KEUANGAN................ 132

GAMBARAN UMUM PEMERIKSAAN......................................................... 137



PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR 1
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA


OPINI BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

Kepada para pengguna laporan keuangan,

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan
Pengelolaan dan Tanggung jawab Keuangan Negara dan Undang-Undang Nomor 15
Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan, Badan Pemeriksa Keuangan
Republik Indonesia (BPK RI) telah memeriksa Neraca Pemerintah Provinsi J awa
Timur per 31 Desember 2008, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan
Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut.
Laporan keuangan adalah tanggung jawab Pemerintah Provinsi J awa Timur.
Tanggung jawab BPK RI adalah pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan
berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan.

BPK RI melaksanakan pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan
Negara (SPKN) yang ditetapkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan. Standar tersebut
mengharuskan BPK RI merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan agar BPK RI
memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji
material. Suatu pemeriksaan meliputi penilaian, atas dasar pengujian, bukti-bukti
yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan.
Pemeriksaan juga meliputi penilaian atas Standar Akuntansi Pemerintahan yang
digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh Pemerintah Provinsi J awa Timur,
serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. BPK RI
yakin bahwa pemeriksaan BPK RI memberikan dasar memadai untuk menyatakan
pendapat.

Berdasarkan pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi J awa Timur
Tahun Anggaran 2008, BPK RI menemukan beberapa permasalahan yang berdampak
pada kewajaran penyajian laporan keuangan, sebagai berikut.
1. Sebagaimana diungkapkan dalam Temuan Kepatuhan Nomor 1, LHP tertanggal
25 Mei 2009, yang menunjukkan, Anggaran Dan Realisasi Belanja Modal Pada
Dinas Kesehatan Sebesar Rp2.769.528.901,00 Tidak Sesuai Ketentuan;
2. Sebagaimana diungkapkan dalam Temuan Kepatuhan Nomor 3, LHP tertanggal
25 Mei 2009, menunjukkan, Realisasi Bantuan Sosial Sebesar
Rp26.867.225.000,00 Digunakan Untuk Pelaksanaan Kegiatan Di SKPD;
3. Sebagaimana diungkapkan dalam Temuan Kepatuhan Nomor 7, LHP tertanggal
25 Mei 2009, menunjukkan, Penerima Bantuan Sosial Sebesar
Rp57.062.248.370,00 Belum Menyampaikan Laporan Pertanggungjawaban

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
3
I. NERACA


PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR
N NE ER RA AC CA A
PER 31 DESEMBER TAHUN 2008 DAN TAHUN 2007

URAIAN Tahun 2008
Audited
Tahun 2007
Audited
ASET LANCAR
Kas 2.063.118.059.972,69

1.281.755.295.429,82
Kas di Kas Daerah (BUD) 2.007.849.923.476,24 1.237.638.636.382,43
Kas di Bendahara Penerimaan 526.126.759,00 271.663.646,00
Kas di Bendahara Pengeluaran 9.388.513.685,00 8.588.974.570,00
Kas di RSUD 45.353.496.052,45 35.256.020.830,79

Piutang 148.750.950.229,00 153.269.178.288,00
Piutang Pajak 103.772.313.389,00 96.996.693.111,00
Piutan Retribusi 42.544.340.213,00 55.149.662.819,00
Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran 867.469.581,00 990.653.996,00
Bagian Lancar Tuntutan Perbendaharaan (TP) 0,00 0,00
Bagian Lancar Tuntutan Ganti Rugi (TGR) 151.901.950,00 84.278.650,00
Piutang Lainnya 1.414.925.096,00 47.889.712,00

Persediaan 37.185.792.821,64 52.044.941.410,42

Jumlah Aset Lancar 2.249.054.803.023,33 1.487.069.415.128,24

INVESTASI JANGKA PANJANG
Investasi Non Permanen
Investasi Dana Bergulir 403.995.700.850,00 379.995.700.850,00
Jumlah Investasi Non Permanen 403.995.700.850,00 379.995.700.850,00

Investasi Permanen
Penyertaan Modal Pemerintah Daerah 1.058.354.358.500,00 910.070.658.500,00
Jumlah Investasi Permanen 1.058.354.358.500,00 910.070.658.500,00

Jumlah Investasi 1.462.350.059.350,00 1.290.066.359.350,00

ASET TETAP
Tanah 12.233.981.778.765,00 12.382.351.961.109,00
Peralatan dan Mesin 1.586.475.817.532,50 1.453.395.570.350,00
Gedung dan Bangunan 1.222.196.223.195,00 1.080.020.130.941,00
J alan, Irigasi dan J aringan 8.753.425.297.429,00 8.601.027.328.985,00
Aset Tetap Lainnya 14.092.522.448,00 11.236.833.713,00
Konstruksi dalam Pengerjaan 214.118.574.305,00 171.883.125.444,00
Akumulasi Penyusutan Tetap 0,00 0,00
Jumlah Aset Tetap 24.024.290.213.674,50 23.699.914.950.542,00


DANA CADANGAN
Dana Cadangan 41.500.000.000,00 479.055.408.392,75
Jumlah Dana Cadangan 41.500.000.000,00 479.055.408.392,75

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
4
URAIAN Tahun 2008
Audited
Tahun 2007
Audited

ASET LAINNYA
Tagihan Penjualan Angsuran 0,00 0,00
Tuntutan Perbendaharaan (TP) 1.393.331.210,00

0,00
Tuntutan Ganti Rugi (TGR) 84.636.400,00 1.393.331.210,00
Kemitraan dengan Pihak Ketiga 0,00 0,00
Aset Tak Berwujud 37.593.548.920,00

0,00
Aset Lainnya 10.000.000.000,00 10.000.000.000,00
Jumlah Aset Lainnya 49.071.516.530,00 11.393.331.210,00

JUMLAH ASET 27.826.266.592.577,80 26.967.499.464.623,00

KEWAJIBAN
Kewajiban Jangka Pendek 442.879.363.344,30 169.651.146.773,65
Utang Perhitungan Pihak Ketiga (PFK) 1.345.404.674,00 1.530.992.927,00
Utang Bunga 311.583.296,00 524.831.946,00
Bagian Lancar utang jangka panjang 3.688.416.704,00 3.475.168.052,00
Utang belanja 130.145.046,00 357.489.502,00
Utang Bagi Hasil Pajak 429.883.517.509,04 157.176.933.046,81
Utang Bagi Hasil Bukan Pajak 4.357.864.703,26 3.959.254.211,39
Utang Lain-lain 3.162.431.412,00 2.626.477.088,45

Kewajiban Jangka Panjang 2.870.634.523,00 6.559.051.226,00
Utang J angka Panjang 2.870.634.523,00 6.559.051.226,00

Jumlah Kewajiban 445.749.997.867,30 176.210.197.999,65

EKUITAS DANA
Ekuitas Dana Lancar 1.806.175.439.679,03 1.317.418.268.354,59
Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) 2.062.591.933.213,69 1.281.483.631.783,22
Pendapatan yang ditangguhkan 526.126.759,00 271.663.646,60
Cadangan Piutang 148.750.950.229,00 153.269.178.288,00
Cadangan Persediaan 37.185.792.821,64 52.044.941.410,42
Dana yg. Hrs. Disediakan utk. Pembiayaan utang jk.
Pendek
(442.879.363.344,30) (169.651.146.773,65)

Ekuitas Dana Investasi 25.532.841.155.031,50 24.994.815.589.876,00
Diinvestasikan dalam Investasi J angka Panjang 1.462.350.059.350,00 1.290.066.359.350,00
Diinvestasikan dalam Aset Tetap 24.024.290.213.674,50 23.699.914.950.542,00
Diinvestasikan dalam Aset Lainnya 49.071.516.530,00 11.393.331.210,00
Dana yg. Hrs. Disediakan utk. Pembiayaan utang jk.
Panjang
(2.870.634.523,00) (6.559.051.226,00)


Ekuitas Dana Cadangan 41.500.000.000,00 479.055.408.392,75
Diinvestasikan dalam Dana Cadangan 41.500.000.000,00 479.055.408.392,75

JUMLAH EKUITAS DANA 27.380.516.594.710,50 26.791.289.266.623,30

JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS DANA 27.826.266.592.577,80 26.967.499.464.623,00


PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
5

II. LAPORAN REALISASI ANGGARAN

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR
LAPORAN REALISASI APBD
UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2008 DAN 2007
TA-2008 Audited Nomor
urut
U r a i a n Anggaran Setelah
Perubahan
Realisasi %
4 PENDAPATAN 5.709.790.737.436,00 7.075.105.412.658,91 123,91%
4.1 PENDAPATAN ASLI DAERAH 3.930.412.671.290,00 5.212.319.315.953,91 132,62%
4.1.1 Pendapatan Pajak Daerah 3.372.150.000.000,00 4.481.791.543.639,05 132,91%
4.1.2 Pendapatan Retribusi Daerah 277.448.771.360,00 309.323.367.729,22 111,49%
4.1.3 Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan
Daerah yang dipisahkan
194.860.990.000,00 195.402.283.657,46 100,28%
4.1.4 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah 85.952.909.930,00 225.802.120.928,18 262,70%
4.2 PENDAPATAN TRANSFER
4.2.1 Transfer Pemerintah Pusat - Dana
Perimbangan

4.2.1.1 Dana Bagi Hasil Pajak/ Bagi Hasil Bukan
Pajak
701.524.813.446,00 775.290.375.969,00 110,52%
4.2.1.2 Dana Alokasi Umum 1.022.860.627.000,00 1.022.860.627.000,00 100,00%
4.2.2 Transfer Pemerintah Pusat - Lainnya 40.847.625.700,00 40.847.625.700,00 100,00%
4.2.2.1 Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus 40.847.625.700,00 40.847.625.700,00 100,00%
4.3 LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH 14.145.000.000,00 23.787.468.036,00 168,17%
4.3.1 Pendapatan Hibah 14.145.000.000,00 23.787.468.036,00 168,17%

5 BELANJA 7.314.357.548.792,00 6.639.780.929.165,05 90,78%
5.1 BELANJA OPERASI 5.075.554.634.613,00 4.598.183.700.513,05 90,59%
5.1.1 Belanja Pegawai 1.604.463.660.894,00 1.443.479.399.210,00 89,97%
5.1.2 Belanja Barang 1.423.106.878.815,00 1.311.774.041.352,00 92,18%
5.1.3 Belanja Bunga 0 0
5.1.4 Belanja Subsidi 0 0
5.1.5 Belanja Hibah 1.475.452.300.000,00 1.283.926.009.927,05 87,02%
5.1.6 Belanja Bantuan Sosial 572.531.794.904,00 559.004.250.024,00 97,64%
5.2 BELANJA MODAL 601.497.451.035,00 548.509.682.952,00 91,19%
5.2.1 Belanja Tanah 37.955.870.000,00 29.586.381.609,00 77,95%
5.2.2 Belanja Peralatan dan Mesin 131.110.506.661,00 120.327.684.042,00 91,78%
5.2.3 Belanja Gedung dan Bangunan 191.857.808.727,00 178.485.649.840,00 93,03%

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
6
TA-2008 Audited Nomor
urut
U r a i a n Anggaran Setelah
Perubahan
Realisasi %
5.2.4 Belanja J alan, Irigasi dan J aringan 197.177.660.147,00 190.579.278.028,00 96,65%
5.2.5 Belanja Aset Tetap Lainnya 4.368.509.000,00 2.853.361.553,00 65,32%
5.2.6 Belanja Modal Hibah 39.027.096.500,00 26.677.327.880,00 68,36%

5.3 BELANJA TIDAK TERDUGA 49.908.756.455,00 23.803.348.578,00 47,69%
5.3.1 Belanja Tidak Terduga 49.908.756.455,00 23.803.348.578,00 47,69%

5.4 TRANSFER 1.587.396.706.689,00 1.469.284.197.122,00 92,56%
5.4.1 Transfer/bagi hasil pendapatan ke
Kabupaten/Kota
1.568.979.706.689,00 1.452.594.468.910,00 92,58%
5.4.2 Transfer Bantuan Keuangan ke Pemda
Lainnya
18.417.000.000,00 16.689.728.212,00 90,62%

Jumlah Belanja 7.314.357.548.792,00 6.639.780.929.165,05 90,78%
Surplus/((Defisit) -1.604.566.811.356,00 435.324.483.493,86 -27,13%
6 PEMBIAYAAN 1.604.566.811.356,00 1.625.922.045.045,83 101,33%
6.1 PENERIMAAN DAERAH 1.702.566.811.356,00 1.723.922.045.045,83 101,25%
6.1.1 Penggunaan Sisa Lebih Perhitungan
Anggaran (SiLPA)
1.277.566.811.356,00 1.277.566.811.356,22 100,00%
6.1.2 Pencairan Dana Cadangan 425.000.000.000,00 446.355.233.689,61 105,02%
6.1.3 Pinjaman Dalam Negeri-Pemerintah Pusat 0 0
Jumlah Penerimaan 1.702.566.811.356,00 1.723.922.045.045,83 101,25%

6.2 PENGELUARAN DAERAH 98.000.000.000,00 98.000.000.000,00 100,00%
6.2.1 Pembentukan Dana Cadangan 0 0
6.2.2 Penyertaan Modal (Investasi) Pemerintah 98.000.000.000,00 98.000.000.000,00 100,00%
6.2.3 Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri-
Pemerintah Pusat
0 0
Jumlah Pengeluaran 98.000.000.000,00 98.000.000.000,00 100,00%
Pembiayaan Neto 1.604.566.811.356,00 1.625.922.045.045,83 101,33%
6.3 Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) 0 2.061.246.528.539,69



PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
7
III. LAPORAN ARUS KAS

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR
LAPORAN ARUS KAS
UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2008 DAN 2007

U R A I A N Tahun 2008
Audited
Tahun 2007
Audited

ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Arus Kas Masuk :
Pajak Daerah 4.481.791.543.639,05 3.574.886.241.780,00
Retribusi Daerah 61.050.477.348,00 56.792.023.080,88
Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan 195.402.283.657,46 99.510.836.622,96
Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah 218.086.900.824,74 220.082.420.065,88
Dana Bagi Hasil Pajak 700.206.917.652,00 641.893.164.721,00
Dana Bagi Hasil Bukan Pajak (Sumber Daya Alam) 75.083.458.317,00 22.847.861.448,00
Dana Alokasi Umum 1.022.860.627.000,00 1.091.155.000.000,00
Dana Otonomi Khusus 0,00 0,00
Dana Penyesuaian 40.847.625.700,00 0,00
Pendapatan Hibah 23.787.468.036,00 19.901.336.118,00
Dana Darurat 0,00 0,00
Pendapatan Lainnya 0,00 0,00
Total Arus Masuk Kas dari Aktivitas Operasi 6.819.117.302.174,25 5.727.068.883.836,72
Arus Kas Keluar :
Belanja Pegawai 1.344.594.972.791,00 1.136.408.311.825,00
Belanja Barang dan J asa 1.183.520.470.454,00 1.080.067.901.520,00
Belanja Bunga 0,00 0,00
Belanja Subsidi 0,00 0,00
Belanja Hibah 1.283.926.009.927,05 2.000.000.000,00
Belanja Bantuan Sosial 559.004.250.024,00 854.686.634.603,71
Belanja Bagi Hasil ke Kabupaten/Kota 1.452.594.468.910,00 1.334.276.267.687,00
Belanja Bantuan Keuangan 16.689.728.212,00 4.624.714.800,00
Belanja Tidak Terduga 23.803.348.578,00 25.002.442.773,00
Total Arus Keluar Kas dari Aktivitas Operasi 5.864.133.248.896,05
4.437.066.273.208,71

Arus Kas Bersih dari Akti vitas Operasi 954.984.053.278,20 1.290.002.610.628,01

ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI ASET NONKEUANGAN.
Arus Kas Masuk :
Pendapatan Penjualan atas Tanah 403.312.279,00 3.437.652.807,00
Pendapatan Penjualan atas Peralatan dan Mesin 24.400.000,00 34.253.000,00
Pendapatan Penjualan atas Gedung dan Bangunan 15.250.000,00 56.760.000,00
Pendapatan Penjualan atas J alan, Irigasi dan J aringan 0,00 0,00
Pendapatan Penjualan atas Aset Tetap Lainnya 0,00 0,00
Pendapatan Penjualan atas Aset Lainnya 0,00 0,00
Total Arus Kas masuk dari Aktivitas Investasi Aset Non-Keuangan 442.962.279,00 3.528.665.807,00
Arus Kas Keluar :
Belanja Modal Pengadaan Tanah 29.586.381.609,00 62.055.742.229,00
Belanja Modal Pengadaan Peralatan dan Mesin 102.196.546.775,00 111.154.689.684,00
Belanja Modal Pengadaan Gedung dan Bangunan 178.485.649.840,00 249.684.271.166,00
Belanja Modal Pengadaan J alan, Irigasi dan J aringan 190.579.278.028,00 195.717.562.384,57
Belanja Modal Pengadaan Aset Tetap Lainnya 2.674.823.153,00 2.217.114.183,00
Belanja Aset Lainnya 26.677.327.880,00 1.520.883.900,00
Total Arus Kas keluar dari Aktivitas Investasi Aset
Nonkeuangan
530.200.007.285,00 622.350.263.546,57

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
8
U R A I A N Tahun 2008
Audited
Tahun 2007
Audited

Arus Kas Bersih dari Akti vitas Investasi (529.757.045.006,00) (618.821.597.739,57)

ARUS KAS DARI AKTIVITAS PEMBIAYAAN
Arus Kas Masuk :
Pencairan Dana Cadangan 446.355.233.689,61 67.713.876.943,00
Hasil Penjualan Asset /Kekayaan Daerah yang dipisahkan 0,00 0,00
Penerimaan Pinjaman dan Obligasi 0,00 0,00
Penerimaan Kembali Pinjaman 0,00 149.395.250,00
Penerimaan Piutang 0,00 0,00
Total Arus Kas masuk dari Aktivitas Pembiayaan 446.355.233.689,61 67.863.272.193,00
Arus Kas Keluar :
Pembentukan Dana Cadangan 0,00 190.000.000.000,00
Penyertaan modal (Investasi) Pemerintah Daerah 98.000.000.000,00 118.263.000.000,00
Pembayaran Pokok Utang Pinjaman dan Obligasi 0,00 149.395.217,00
Pemberian Pinjaman 0,00 0,00
Total Arus Kas Keluar dari Aktivitas Investasi 98.000.000.000,00 308.412.395.217,00

Arus Kas Bersih dari Akti vitas Pembiayaan 348.355.233.689,61 (240.549.123.024,00)

ARUS KAS DARI AKTIVITAS NON ANGGARAN
Arus Kas Masuk :
Penerimaan Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) 173.266.205.840,00 164.316.039.187,00
Total Arus Kas masuk dari Aktivitas Non Anggaran 173.266.205.840,00 164.316.039.187,00
Arus Kas Keluar :
Pengeluaran Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) 173.266.205.840,00 164.316.039.187,00
Total Arus Kas masuk dari Aktivitas Non Anggaran 173.266.205.840,00 164.316.039.187,00
Arus Kas Bersih dari Akti vitas Non Anggaran 0,00 0,00

Kenaikan (Penurunan) Bersih Kas Selama Periode berjalan 773.582.241.961,81 430.631.889.864,44
Saldo Awal Kas di BUD/Kas Daerah 1.242.310.790.525,43 811.678.900.660,99
Kas di BUD/Kas Daerah 1.237.638.636.382,43 810.854.071.190,99
Kas di Bendahara Pengeluaran 4.672.154.143,00 824.829.470,00

Saldo Akhir Kas di BUD/ Kas Daerah 2.015.893.032.487,24 1.242.310.790.525,43
Kas di BUD/Kas Daerah 2.007.849.923.476,24 1.237.638.636.382,43
Kas di Bendahara Pengeluaran 8.043.109.011,00 4.672.154.143,00
Saldo Akhir Kas di Rekening Fungsional Rumah Sakit 45.353.496.052,45 35.256.020.830,79
Saldo Akhir Kas di Bendahara Pengeluaran (belum setor) 1.345.404.674,00 3.916.820.427,00
Saldo Askeskin di RSUD Saiful Anwar Malang 0,00 2.385.827.500,00
PFK di Bendahara Pengeluaran (GU) 1.345.404.674,00 1.530.992.927,00
Saldo Akhir Kas di Bendahara Penerimaan 358.606.759,00 271.663.646,60
Saldo Akhir Kas di Islamic Centre (koreksi BPK) 167.520.000,00 0
SALDO AKHIR KAS 2.063.118.059.972,69

1.281.755.295.429,82




PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
9
1. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN

a. PENDAHULUAN
1) Latar Belakang
Wujud nyata dari perubahan paradigma yang menjadikan
pembangunan sebagai acuan kerja pemerintahan ke paradigma pelayanan dan
pemberdayaan sebagai landasan kerja pemerintah adalah ditetapkannya
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan
Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan
Antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Salah satu perubahan mendasar dari
paradigma tersebut adalah adanya reformasi dalam pelaksanaan otonomi
daerah, yang memberikan kewenangan lebih besar dalam bidang politik,
pengelolaan keuangan daerah dan pemanfaatan sumber-sumber daya daerah
untuk kepentingan masyarakat lokal, yang bermuara pada terciptanya
dinamika serta corak pembangunan baru di daerah.
Implementasi reformasi di bidang pengelolaan keuangan adalah
Undang-Undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Dalam
Undang-Undang tentang Keuangan Negara ini dijabarkan aturan-aturan
pokok yang merupakan pencerminan best practices (penerapan kaidah-
kaidah yang baik) dalam pengelolaan keuangan negara, antara lain:
akuntabilitas berorientasi pada hasil
profesionalitas
proporsionalitas
keterbukaan dalam pengelolaan keuangan negara
pemeriksaan keuangan oleh badan pemeriksa yang bebas dan mandiri
Salah satu upaya konkrit untuk mewujudkan transparansi dan
akuntabilitas pengelolaan keuangan negara adalah penyampaian laporan
pertanggungjawaban keuangan pemerintah yang memenuhi prinsip-prinsip
tepat waktu dan disusun dengan mengikuti standar akuntansi pemerintahan
yang telah diterima secara umum. Pada Undang-Undang Nomor 17 tahun
2003 tentang Keuangan Negara khususnya pasal 30, 31 dan pasal 32
disebutkan bahwa Presiden/Gubernur/Bupati/Walikota menyampaikan
pertanggungjawaban pelaksanaan APBN/APBD kepada DPR/DPRD berupa
laporan keuangan. Laporan keuangan dimaksud meliputi Laporan Realisasi
Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan
(CaLK). Laporan keuangan tersebut disusun dan disajikan sesuai dengan
Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP).
Tidak berhenti hanya sampai disitu, selanjutnya ditetapkan
Undang-Undang Nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, yang
mengamanatkan pula agar segera disusun standar akuntansi pemerintahan.
Menindaklanjuti semua peraturan tersebut serta perlunya pedoman yang
mengatur kesamaan dalam penerapan prinsip-prinsip akuntansi maka
ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2005 tentang Standar
Akuntansi Pemerintahan yang berlanjut dengan Peraturan Pemerintah
Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah serta
ketentuan teknisnya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 tahun 2006
tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, sebagaimana telah diubah

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
10
dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang
Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 tahun 2006
tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Dalam pelaporan
keuangan dibedakan menjadi 2 (dua) entitas yaitu entitas pelaporan dan
entitas akuntansi. Entitas pelaporan adalah unit pemerintahan daerah yang
terdiri dari satu atau lebih entitas akuntansi yang menurut ketentuan
peraturan perundang-undangan wajib menyampaikan laporan
pertanggungjawaban berupa laporan keuangan. Entitas pelaporan adalah
pemerintah daerah atau satuan organisasi di lingkungan pemerintah daerah
atau organisasi lainnya jika menurut peraturan perundang-undangan satuan
organisasi dimaksud wajib menyajikan laporan keuangan. Entitas pelaporan
dalam hal ini adalah Pemerintah Provinsi J awa Timur. Entitas akuntansi
adalah unit pemerintahan pengguna anggaran/pengguna barang dan oleh
karenanya wajib menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan
keuangan untuk digabungkan pada entitas pelaporan. Entitas akuntansi
dalam hal ini adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah ( SKPD ) yang
berada di lingkup Pemerintah Provinsi J awa Timur.
Laporan keuangan yang disusun oleh Pemerintah Provinsi J awa
Timur menginformasikan posisi keuangan dan seluruh transaksi selama
periode pelaporan, selain itu juga berfungsi membandingkan realisasi
pendapatan dan belanja dengan anggaran yang telah ditetapkan. Membantu
dalam menilai kondisi keuangan, efektif dan efisiensi dalam
penyelenggaraan pelaksanaan realisasi anggaran serta menentukan ketaatan
terhadap kewajiban untuk melaporkan upaya-upaya yang telah dilakukan
dalam pengelolaan keuangan daerah.
2) Maksud dan tujuan penyusunan laporan keuangan
Sesuai dengan asas umum pengelolaan keuangan daerah yang
ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 58 tahun 2005 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah pasal 4, yaitu:
a) Keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-
undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan dan bertanggungjawab
dengan memperhatikan asas keadilan, kepatutan dan manfaat untuk
masyarakat;
b) Pengelolaan keuangan daerah dilaksanakan dalam suatu sistem yang
terintegrasi yang diwujudkan dalam APBD yang setiap tahun ditetapkan
dengan peraturan daerah.
Sebagai upaya perwujudan Good Governance serta taat asas, maka
pelaporan keuangan pemerintah seharusnya menyajikan informasi yang
bermanfaat bagi para pengguna laporan dalam menilai akuntabilitas dan
membuat keputusan baik keputusan ekonomi, sosial, maupun politik dengan
menyediakan informasi yang berkaitan dengan keuangan dalam hal
pendapatan, belanja, pembiayaan, aset, kewajiban, ekuitas dana dan arus kas.
Maksud penyusunan Laporan Keuangan ini adalah wujud
pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada DPRD dalam menjelaskan
kinerja penyelenggaraan pemerintahan kepada masyarakat.
Pertanggungjawaban ini bukanlah semata-mata dimaksudkan sebagai upaya
untuk menemukan kelemahan pelaksanaan pemerintahan daerah melainkan

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
11
untuk melaksanakan asas efisiensi, efektifitas, serta fungsi pengawasan
DPRD terhadap jalannya pemerintahan.
Tujuan penyusunan laporan keuangan adalah menyajikan informasi
mengenai posisi keuangan, realisasi anggaran, arus kas dan kinerja keuangan
suatu entitas pelaporan yang secara spesifik tidak hanya bermanfaat bagi para
pengguna dalam membuat dan mengevaluasi keputusan mengenai alokasi
sumber daya tapi juga berguna dalam pengambilan keputusan serta
menunjukkan akuntabilitas entitas pelaporan atas sumber daya yang
dipercayakan dengan:
a) Menyediakan informasi mengenai kecukupan penerimaan periode
berjalan untuk membiayai seluruh pengeluaran;
b) Menyediakan informasi mengenai kesesuaian cara memperoleh sumber
daya ekonomi dan alokasinya dengan anggaran yang ditetapkan dan
peraturan perundang-undangan;
c) Menyediakan informasi mengenai jumlah sumber daya ekonomi yang
digunakan dalam kegiatan entitas pelaporan serta hasil-hasil yang telah
dicapai;
d) Menyediakan informasi mengenai bagaimana entitas pelaporan mendanai
seluruh kegiatannya dan mencukupi kebutuhan kasnya;
e) Menyediakan informasi mengenai posisi keuangan dan kondisi entitas
pelaporan berkaitan dengan sumber-sumber penerimaannya, baik jangka
pendek maupun jangka panjang, termasuk yang berasal dari pungutan
pajak dan pinjaman;
f) Menyediakan informasi mengenai perubahan posisi keuangan entitas
pelaporan, apakah mengalami kenaikan atau penurunan, sebagai akibat
kegiatan yang dilakukan selama periode pelaporan;
Maka berdasarkan ketentuan yang ada dalam peraturan-peraturan
yang telah disampaikan sebelumnya, Laporan keuangan Pemerintah Provinsi
J awa Timur ini disusun sebagai Pertanggungjawaban Pelaksanaan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2008 yang
tertuang dalam Peraturan Daerah Nomor 13 tahun 2007 dan Perubahan
APBD (P-APBD) Tahun Anggaran 2008 sesuai dengan Peraturan Daerah
Nomor 06 tahun 2008.
3) Landasan hukum :
Landasan hukum penyusunan laboran keuangan yaitu:
a) UUD 1945 pasal 23;
b) UU Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara, pasal 31 ayat (1)
Gubernur menyampaikan rancangan peraturan daerah tentang
pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD berupa laporan
keuangan yang telah diperiksa oleh Badan Pemerinksa Keuangan,
selambat-lambatnya 6 bulan setelah tahun anggaran berakhir ;
c) UU Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara, pasal 31 ayat (2)
Laporan keuangan dimaksud setidak-tidaknya meliputi Laporan Realisasi
APBD, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan,
yang dilampiri dengan laporan keuangan perusahaan;
d) UU Nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, pasal 56 ayat
(1) Kepala Satuan Kerja Pengelolaan Keuangan Daerah selaku Pejabat

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
12
Pengelola Keuangan Daerah menyusun laporan keuangan pemerintah
daerah untuk disampaikan kepada Gubernur dalam rangka memenuhi
pertanggungjawaban pelaksanaan APBD;
e) UU Nomor 15 tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan
Tanggungjawab Keuangan Negara, yang menetapkan bahwa Laporan
Keuangan Pemerintah Provinsi J awa Timur (Audited) disusun
berdasarkan Standart Akuntansi Pemerintahan yang telah dikoreksi atau
disesuaikan menurut hasil pemeriksaan BPK;
f) UU Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah , pasal 184 ;
g) UU Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, pasal 2 dan pasal 81;
h) Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2005 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan;
i) Peraturan Pemerintah Nomor 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan
Keuangan Daerah;
j) Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 2006 tentang Laporan Keuangan
dan Kinerja Instansi Pemerintah;
k) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah;
l) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang
Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 tahun 2006
tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;
m) Surat Edaran Menteri Dalam Negeri tanggal 5 April 2007 Nomor
900/316/BAKD/ 2007 tentang Pedoman Sistem dan Prosedur
Penatausahaan dan Akuntansi, Pelaporan, dan Pertanggungjawaban
Keuangan Daerah;
n) Surat Edaran Menteri Dalam Negeri tanggal 4 September 2007 Nomor
900/743/BAKD perihal Modul Akuntansi Keuangan Pemerintah Daerah;
o) Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah Provinsi J awa Timur;
p) Peraturan Daerah Nomor 13 tahun 2007 tentang Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2008 Provinsi J awa Timur;
q) Peraturan Daerah Nomor 06 tahun 2008 tentang Perubahan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2008 Provinsi J awa
Timur;
r) Peraturan Gubernur Nomor 73 tahun 2007 tentang Penjabaran Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2008 Provinsi J awa
Timur;
s) Peraturan Gubernur Nomor 69 tahun 2008 tentang Perubahan Penjabaran
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2008
Provinsi J awa Timur.
t) Keputusan Gubernur Nomor 188/65/KPTS/013/2007 tentang Pedoman
Teknis Pengelolaan Keuangan Daerah Provinsi J awa Timur;
u) Keputusan Gubernur J awa Timur Nomor 188/415/KPTS/013/2007
tentang Pedoman Kerja dan Pelaksanaan Tugas Pemerintah Provinsi
J awa Timur Tahun 2008.


PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
13
b. EKONOMI MAKRO, KEBIJAKAN KEUANGAN DAN PENCAPAIAN
TARGET KINERJA APBD.
1) Ekonomi Makro
Proses pembangunan daerah yang dilaksankan secara merata dan
berkelanjutan harus memperhatikan asumsi dasar ekonomi makro nasional,
regional dan daerah. Asumsi dasar tersebut merupakan besaran fundamental
dalam perekonomian daerah, selain karena sangat berpengaruh besar dalam
menentukan pengambilan kebijakan pengelolaan anggaran daerah yang akan
dioperasionalkan dalam pembangunan daerah kedepan, juga sebagai tindakan
penyesuaian terhadap kekuatan dan kemampuan Pemerintah Daerah untuk
mengantisipasi permasalahan krusial di masyarakat dalam berbagai bidang
pembangunan, sehingga asumsi makro ekonomi dapat tercapai.
Pemerintah Provinsi J awa Timur dalam melaksanakan
pembangunan tahun 2008 mendasarkan pada asumsi makro ekonomi J awa
Timur Tahun 2008 yaitu Pertumbuhan Ekonomi mencapai sebesar 5,70%,
dengan Laju Inflasi sebesar 6,5% dibawah dua digit dan Nilai Tukar Rupiah
dibawah Rp9.150,- diharapkan pada tahun berjalan akan diperoleh hasil
sebagaimana perhitungan prediksi BPS Provinsi J awa Timur bahwa
Pertumbuhan Ekonomi pada akhir bulan Desember 2008 akan mencapai
sebesar 5,80%, sedangkan Laju Inflasi diatas dua digit (diatas 10,00%) dan
Nilai tukar Rupiah sebesar Rp10.750,00 sedangkan dari sisi penerimaan,
Penerimaan Pajak Daerah mengalami penurunan sebesar -1,98% namun
Retribusi Daerah diperkirakan akan naik sebesar 4,83%. Atas dasar uraian
tersebut, Pemerintah Provinsi J awa Timur menetapkan Peraturan Gubernur
J awa Timur Nomor 50 Tahun 2007 tentang RKPD Provinsi J awa Timur
Tahun 2008 beserta Lampirannya.
Selanjutnya sebagai penjabaran atas pengalokasian anggaran
terhadap dokumen perencanaan program pembangunan tersebut ditetapkan
PERDA Provinsi J awa Timur Nomor 13 Tahun 2007 tentang Rincian APBD
TA2008 dan PERDA Provinsi J awa Timur Nomor 6 Tahun 2007 tentang
Rincian Perubahan APBD TA2008.
Prospek ekonomi J awa Timur pada tahun 2008 diwarnai oleh
pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dengan inflasi yang lebih rendah.
Namun pada triwulan I-2008 Ekonomi J awa Timur mengalami tekanan
dengan perkiraan terjadi perlambatan pertumbuhan dan inflasi yang relatif
tinggi. Pada yahun 2008 pertumbuhan ekonomi J awa Timur diperkirakan
pada kisaran 6,00%-6,5% dengan didukung oleh faktor internal dan eksternal.
Berbagai faktor positif tersebut meliputi kondisi makro yang semakin
kondusif, membaiknya daya beli masyarakat, kinerja ekspor yang terus
membaik, realisasi proyek infrastruktur, keyakinan pelaku ekonomi yang
cenderung semakin membaik, Pilkada di Kabupaten/Kota dan Propinsi,
perbaikan pengelolaan/manajemen anggaran yang dapat meningkatkan daya
serap fiskal yang lebih cepat. Sektor utama J awa Timur meningkat
pertumbuhannya, sedangkan disisi pengeluaran investasi dan ekspor semakin
menunjukkan peningkatan peranannya. Sementara, Inflasi J awa Timur pada
tahun 2008 akan tetap terjaga di kisaran 6% meskipun dengan beberapa
prasyarat. Faktor risiko utama yang mengancam stabilitas harga di tahun

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
14
2008 adalah tren peningkatan harga minyak mentah di pasar dunia. Ketatnya
suplai, tingginya permintaan dari ekonomi berkembang (India dan China),
serta peran spekulan di pasar dunia, membuat tren ini diperkirakan terus
berlanjut hingga akhir tahun.
Terkait dengan perkembangan asumsi makro ekonomi tersebut,
oleh karena itu dalam pengalokasian anggaran pembangunan tahun anggaran
2008 secara keseluruhan mengalami peningkatan.
2) Kebijakan Keuangan
Secara garis besar, pengelolaan (manajemen) keuangan daerah
dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu manajemen penerimaan daerah dan
manajemen pengeluaran daerah. Kedua komponen tersebut akan sangat
menentukan kedudukan suatu pemerintah daerah dalam rangka melaksanakan
otonomi daerah. Konsekuensi logis pelaksanaan otonomi daerah berdasarkan
UU No. 32 tahun 2004 dan UU No. 33 tahun 2004 menyebabkan perubahan
dalam manajemen keuangan daerah. Perubahan tersebut antara lain adalah
perlunya dilakukan budgeting reform atau reformasi anggaran.
Kebijakan di bidang keuangan daerah meliputi 2 (dua) aspek
penting yaitu kebijakan di bidang penerimaan/pendapatan daerah (revenue
policy) dan kebijakan di bidang pembelanjaan keuangan daerah (expenditure
policy). Kebijakan di bidang keuangan daerah tersebut mempunyai nilai yang
sama penting dan masing-masing harus dapat bersinergi. Idealnya
expenditure policy adalah merupakan kebijakan yang sesuai dengan
kebutuhan masyarakat disamping dapat meningkatkan penerimaan daerah.
Sebaliknya revenue policy dapat mendukung berbagai kebijakan anggaran,
terutama pada sisi pengeluaran.
APBD merupakan instrumen untuk mengimplementasikan
kebijakan keuangan daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh
Pemerintah Daerah dan DPRD serta ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
Kebijakan pengelolaan keuangan daerah meliputi 3 (tiga) aspek penting yaitu
kebijakan bidang pendapatan daerah, belanja daerah dan pembiayaan.
Terkait dengan pembahasan ini, belanja daerah diarahkan pada
prinsip-prinsip keadilan yang dapat dinikmati oleh seluruh kelompok
masyarakat tanpa dsikriminasi, khususnya dalam hal pelayanan public.
Selanjutnya terhadap aspek pembiayaan diarahkan pada prinsip-prinsip
akurasi, efisiensi, efektivitas dan profitabilitas.
Kebijakan keuangan Pemerintah Provinsi J awa Timur Tahun 2008
ditetapkan dengan memperhatikan kondisi umum yaitu pendapatan yang
terdiri dari Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan dan Lain-lain
Pendapatan yang Sah dengan prediksi kekuatan mencapai sebesar Rp5,202
Trilyun, Belanja Daerah sebesar Rp5,598 Trilyun sehingga terdapat Defisit
sebesar Rp,396 Milyar. Kekurangan ini akan ditutup dari selisih antara
Penerimaan Pembiayaan sebesar Rp450 Milyar (yaitu dari estimasi SILPA
dan Pencairan Dana Cadangan) dengan Pengeluaran Pembiayan sebesar
Rp554 Milyar untuk penyertaan modal.
Selain itu, juga memperhatikan 7 (tujuh) permasalahan pokok di
J awa Timur yaitu Pertama, Pengamalan Nilai-nilai Agama, Kedua,
Aksesibilitas dan Kualitas Pendidikan dan Kesehatan, Ketiga, Kemiskinan,

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
15
Kesenjangan dan Pengangguran, Keempat, Percepatan Pembangunan
Ekonomi dan Pembangunan Infrastruktur, Kelima, Sumber Daya Alam dan
Lingkungan Hidup, Keenam, Penyelenggaraan Otonomi Daerah, Penegakan
Supremasi Hukum dan HAM serta Ketujuh, Terbatasnya Sumber
Pembiayaan.
Dari ketujuh permasalahan tersebut, Pemerintah Provinsi J awa
Timur dengan keterbatasan anggaran lebih memfokuskan kebijakan
pengelolaan keuangan daerah J awa Timur pada 4 (empat) permasalahan
krusial dan menjadi isu actual tahun 2008 yaitu meliputi:
a) Peningkatan Penanganan Kemiskinan
Prioritas kebijakan pengalokasian anggaran untuk menangani
masyarakat miskin ini menimbang masih tingginya jumlah penduduk
miskin di J awa Timur, walaupun jumlahnya mengalami penurunan pada
tahun sebelumnya. Hal ini dikarenakan masyarakat miskin tidak memiliki
ketrampilan dalam mengelola potensi sumber daya yang ada, posisinya
selama ini masih sebagai obyek pembangunan, belum diberdayakan
secara keseluruhan.
Dengan pemberdayaan yang proporsional diharapkan masyarakat
miskin dapat berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi sehingga mengubah
pandangan dari beban (liabilities) menjadi potensi (assets).
b) Peningkatan Penanganan Pengangguran
Bertambahnya jumlah pengangguran di J awa Timur seiring dengan
dampak krisis keuangan global dan kebijakan Pemerintah Pusat terhadap
kenaikan harga BBM dalam negeri telah berimbas semakin
meningkatnya angka pengangguran, utamanya dari PHK beberapa
perusahaan di J awa Timur.
Untuk dapat memberikan lapangan kerja yang memadai,
Pemerintah tentu perlu mempersiapkan ketrampilan yang sesuai dengan
tuntutan global. Oleh karena itu, pada tahun 2008 hal-hal yang akan
menjadi perhatian pada tenaga kerja di J awa Timur antara lain tingkat
pendidikan, ketrampilan/keahlian, dan tingkat kompetensi global.
c) Pertumbuhan Ekonomi Yang Berkualitas
Kontribusi pertumbuhan ekonomi di J awa Timur yang masih
didominasi oleh sector konsumsi menjadikan tingkat percepatan
pertumbuhan ekonomi J awa Timur mengalami perlambanan. Untuk
meningkatkan pertumbuhan tersebut Pemerintah di tahun 2008 akan
memprioritaskan kontribusi yang didukung oleh kekuatan sector produksi
secara konsisten, sehingga percepatan yang diharapkan dapat
memperbaiki tingkat kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
d) Optimalisasi Pelayanan Sosial Dasar
Semakin banyaknya jumlah penduduk di J awa Timur tentunya
membutuhkan pelayanan social dasar yang sesuai dengan tuntutan
masyarakat yaitu cepat, mudah, murah adil, transparan dan dapat
dipertanggungjawabkan.
J angkauan tingkat pelayanan Pemerintah kepada seluruh lapisan
masyarakat adalah tingkat kepuasan yang semakin tinggi, sehingga
meningkatkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap peran

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
16
Pemerintah Daerah. Oleh karena itu, perhatian Pemerintah Daerah harus
mencakup system dan mekanisme pelayanan social yang berbasis
teknologi informasi sesuai dengan tuntutan global.
Kebijakan keuangan pada tahun anggaran 2008 tersebut
diimplementasikan untuk melaksanakan Visi dan Misi J awa Timur dengan
tema: OPTIMALISASI PELAYANAN DASAR DAN PEMANTAPAN
KUALITAS PERTUMBUHAN EKONOMI UNTUK MENGURANGI
KEMISKINAN DAN PENGANGGURAN.
Sebagaimana ditetapkan dalam Nota Kesepakatan antara
Pemerintah Provinsi J awa Timur dengan DPRD Nomor 188/6/NK/013/2007
dan Nomor 160/4/NK/050/2007 Tanggal 24 Oktober 2007 tentang Kebijakan
Umum APBD TA2008 maka kebijakan umum APBD Tahun Anggaran 2008
secara keseluruhan diarahkan pada struktur APBD yang meliputi:
a) Pendapatan
i) Peningkatan target pendapatan daerah baik pajak langsung maupun
tidak langsung secara terencana sesuai kondisi perekonomian dengan
memperhatikan kendala, potensi, dan coverage ratio yang ada.
ii) Mengembangkan kebijakan pendapatan daerah yang dapat diterima
masyarakat, partisipatif, bertanggungjawab dan berkelanjutan.
iii) Perluasan sumber-sumber penerimaan daerah.
b) Pendapatan
i) Pemenuhan kebutuhan pelayanan dasar masyarakat, khususnya
bidang pendidikan, kesehatan dan pangan.
ii) Stimulasi pertumbuhan ekonomi di sektor riil melalui fasilitasi UKM
di semua sektor terutama dalam rangka menuju kemandirian pangan
dan energi.
iii) Melanjutkan proyek-proyek strategis sesuai tahapan.
iv) Penanganan bencana alam dan pasca bencana alam. Belanja
penanganan bencana alam dan pasca bencana alam dialokasikan
dengan pola plotting mengambang yang sewaktu-waktu dapat
dibelanjakan. Belanja dari pola plotting mengambang jika tidak dapat
diserap karena tidak terjadi bencana, sisa lebih bukan tidak dihitung
sebagai kerangka prestasi kerja.
v) Mengakomodasikan dinamika masyarakat yang berkembang.
vi) Memenuhi prinsip keadilan tidak hanya terkonsentrasi pada lokus
tertentu serta memperhatikan aspirasi masyarakat.
vii) Mengacu pada sinkronisasi kebijakan antara Pemerintah Pusat,
Provinsi dan Kabupaten/KoTA
viii) Peningkatan kinerja hasil (out come) yang nyata dan pada tahap
awal diperlukan pilot project untuk mendukung keberhasilan
implementasi perencanaan.
c) Pembiayaan
Meningkatkan manajemen pembiayaan daerah yang mengarah
pada akurasi, efisiensi, efektifitas, dan profitabilitas.


PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
17
Adapun untuk mencapai target yang diharapkan dalam struktur
APBD tersebut, Pemerintah Provinsi J awa Timur menggunakan strategi
peningkatan pendapatan yang signifikan, kemudian efektivitas dan efisiensi
pengalokasian Belanja serta pengeksplorasian dan inovasi penggalian
sumber-sumber Pembiayaan.
Pada sisi Pendapatan Daerah dilakukan melalui 3 (tiga) fokus strategi
yaitu Bidang Pendapatan, Bidang Pelayanan Publik dan Bidang
Kelembagaan.
Bidang Pendapatan dilakukan dengan strategi Pertama, melalui
perluasan dan peningkatan sumber penerimaan dan pembiayaan daerah serta
mendorong peningkatan tertib administrasi keuangan daerah. Kedua, melalui
peningkatan hubungan kerja/kerjasama antar Dinas di Lingkungan
Pemerintah Provinsi J awa Timur dan Pemerintah/BUMN dalam rangka
peningkatan penerimaan Bagi Hasil dari Pemerintah. Ketiga, melalui
pengembangan fasilitasi kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten/Kota di
bidang Pajak dan Retribusi Daerah serta Lain-lain Pendapatan Daerah yang
Sah. Keempat, melalui optimalisasi pemanfaatan asset dan pengelolaan
BUMD yang didukung oleh sistem evaluasi kinerja BUMD yang
memungkinkan BUMD dioptimalkan maupun dilakukan restrukturisasi.
Bidang Pelayanan Publik dengan strategi Pertama, melalui
pengembangan/peningkatan sarana dan prasarana pelayanan masyarakat.
Kedua, melalui Pembangunan sarana dan prasarana pelayanan masyarakat.
Ketiga, melalui Peningkatan kualitas pelayanan, dengan pemanfaatan
teknologi informasi sebagai pendukung utama kelembagaan. Keempat,
melalui pengembangan sistem dan prosedur pemungutan dan pembayaran
pajak, retribusi daerah dan pendapatan lainnya.
Bidang Kelembagaan dilakukan dengan strategi, Pertama, melalui
penyederhanaan peraturan perundangan-undangan. Kedua melalui
pengembangan manajamen pendapatan daerah dengan prinsip
profesionalitas, efisiensi, transparan dan akuntabel. Ketiga, melalui
peningkatan kapabilitas dan profesionalisme sumber daya manusia aparatur
di bidang pengelolaan keuangan daerah. Keempat, melalui in house/on job
training. Kelima, ,melalui program rekruitmen sumber daya manusia aparatur
berbasis kompetensi. Keenam, melalui optimalisasi UPTD.
Pada sisi Belanja Daerah dilakukan dengan strategi Pertama,
melalui pemenuhan alokasi belanja langsung pegawai (gaji), serta efisiensi
pemanfaatan dalam pemakaian listrik, air, telepon, pemeliharaan bangunan
kantor dan perjalanan dinas. Kedua, melaui efektivitas dan efisiensi
pemanfaatan belanja melalui konsep kemitraan dengan pihak swasta maupun
dengan Pusat dan Kabupaten/KoTA Ketiga, melalui prioritas pemenuhan
belanja kegiatan-kegiatan yang bersifat multi years sesuai dengan
kemampuan dan percepatan penyelesaian kegiatan. Keempat, melalui
optimalisasi pemanfaatan belanja langsung untuk penyelenggaraan urusan
kewenangan Pemerintah Provinsi dan fasilitasi bantuan keuangan/bantuan
sosial untuk urusan non kewenangan Pemerintah Provinsi sesuai kemampuan
dan mengacu pada peundangan yang berlaku.

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
18
Adapun pada sisi Pembiayaan dilakukan melalui strategi Pertama,
apabila terjadi surplus akan dilakukan transfer ke persediaan kas dalam
bentuk giro, deposito, penyertaan modal atau sisa lebih perhitungan anggaran
(SILPA) tahun berjalan. Kedua, apabila terjadi defisit akan memanfaatkan
anggaran yang berasal dari sisa lebih perhitungan anggaran (SILPA) tahun
lalu dan rasionalisasi belanja. Ketiga, apabila SILPA tidak mencukupi untuk
menutupi defisit APBD akan ditutup dengan dana pinjaman.
Kebijakan keuangan Pemerintah Provinsi J awa Timur Tahun
2008 yang dialokasikan untuk kebijakan program dan kegiatan secara rinci
dapat dilihat pada PERDA Provinsi J awa Timur Nomor 13 Tahun 2007
tentang Rincian APBD TA2008 dan PERDA Provinsi J awa Timur Nomor 6
Tahun 2007 tentang Rincian Perubahan APBD TA2008 menurut struktur
APBD serta Peraturan Gubernur J awa Timur Nomor 69 Tahun 2007 tentang
Penjabaran APBD TA2008 dan Peraturan Gubernur J awa Timur Nomor 73
Tahun 2007 tentang Penjabaran P-APBD TA2008 yang menjelaskan
mengenai alokasi kebijakan program dan kegiatan per SKPD.
a) Kebijakan Fiskal
Kebijakan Fiskal adalah suatu kebijakan ekonomi dalam rangka
mengarahkan kondisi perekonomian untuk menjadi lebih baik dengan
jalan mengubah penerimaan dan pengeluaran pemerintah. Kebijakan ini
mirip dengan kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar,
namun kebijakan fiskal lebih menekankan pada pengaturan pendapatan
dan belanja pemerintah.
Pada prinsipnya kebijaksanaan fiskal mempunyai 2 (dua) aspek
yaitu aspek kuantitatif dan aspek kualitatif, dimana setiap kebijaksanaan
fiskal dapat dilihat dari kedua aspek tersebut. Ditinjau dari aspek tujuan
kebijaksanaan fiskal yang berarti aspek kualitatif yaitu meliputi jenis-
jenis pajak, pembayaran-pembayaran, subsidi-subsidi utamanya terkait
dengan perkembangan keadilan dan kebebasan. Sedangkan ditinjau dari
aspek kuantitaif yakni meliputi masalah yang berhubungan dengan
jumlah uang yang harus ditarik dan dibelanjakan.
Tujuan kebijaksanaan fiskal adalah untuk menyeimbangkan
anggaran belanja pemerintah dengan arti lain untuk menaikkan jumlah
penerimaan negara dengan jumlah yang cukup, dengan melalui pajak dan
penjualan jasa-jasa, sehingga seluruh pembayaran negara dapat ditutup
tepat tanpa penrbitan sekuritas atau penambahan uang pemerintah.
Instrumen kebijakan fiskal adalah penerimaan dan pengeluaran
pemerintah yang berhubungan erat dengan pajak. Dari sisi pajak jelas
jika mengubah tarif pajak yang berlaku akan berpengaruh pada ekonomi.
J ika pajak diturunkan maka kemampuan daya beli masyarakat akan
meningkat dan industri akan dapat meningkatkan jumlah output. Dan
sebaliknya kenaikan pajak akan menurunkan daya beli masyarakat serta
menurunkan output industri secara umum.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) merupakan
instrumen kebijakan fiskal yang menjadi salah satu penggerak laju
perekonomian nasional. APBN menjadi penjabaran rencana kerja dan
anggaran Kementerian/Lembaga dalam menyelenggarakan pemerintahan,

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
19
mengalokasikan sumber-sumber ekonomi, mendistribusikan barang dan
jasa, serta menjaga stabilisasi dan akselerasi kinerja ekonomi. Oleh
karena itu, strategi dan pengelolaan APBN memegang peranan yang
cukup penting dalam mencapai sasaran pembangunan nasional.
APBN merupakan bagian yang tak terpisahkan dari
perekonomian secara agregat. Setiap perubahan yang terjadi pada
variabel-variabel ekonomi makro akan berpengaruh pada besaran-
besaran APBN. Sebaliknya, kebijakan-kebijakan APBN pada gilirannya
juga akan mempengaruhi aktivitas perekonomian.
Pada prinsipnya APBN merupakan bentuk campur tangan
pemerintah terhadap aktivitas perekonomian dalam rangka menyediakan
barang dan jasa kepada masyarakat. Adapun fungsi pokok kebijakan
anggaran Pemerintah adalah; (i) fungsi alokasi, (ii) fungsi distribusi, dan
(iii) fungsi stabilisasi. Fungsi alokasi berkaitan dengan kebijakan
anggaran Pemerintah dalam rangka memberikan stimulasi kepada
perekonomian baik melalui instrumen penerimaan (insentif) maupun
belanja (anggaran sektoral). Fungsi distribusi berkaitan dengan upaya
Pemerintah untuk mengurangi kesenjangan pendapatan masyarakat
(pemerataan).
Sementara itu fungsi stabilisasi berkaitan dengan peran kebijakan
anggaran Pemerintah dalam rangka mengurangi gejolak perekonomian
(counter-cyclical) yang dilakukan baik melalui kebijakan belanja maupun
penerimaan negara. Hal ini terkait erat dengan fungsi kebijakan fiskal
sebagai instrumen pengelolaan ekonomi makro (macro economic
management) dari sisi permintaan agregat (aggregate demand).
Dengan pemahaman tersebut maka kewenangan untuk mengatur
kebijakan fiskal merupakan wilayah kewenangan Pusat, sedangkan
Pemerintah Provinsi hanya menerima dampaknya, namun hal ini masih
bergantung kepada kemampuannya dalam mengelola potensi daerah
sesuai kewenangannya sebagai daerah otonom yang didukung pula oleh
seluruh komponen stakeholdernya..
Sebagai penjelasan terhadap fiskal dari kebijakan pemerintah
pusat tersebut dapat disampaikan beberapa asumsi dasar ekonomi makro
yang dipakai dalam penyusunan RAPBN tahun 2008 yang akan menjadi
patokan bagi seluruh kebijakan ekonomi pemerintah daerah sebagai
berikut :
i) Pertumbuhan Ekonomi (persen) =6,8
ii) Inflasi (persen) =6,0
iii) Nilai Tukar Rupiah rata-rata diperkirakan (Rp/US$1) =9.100
iv) Tingkat Suku Bunga SBI-3 Bulan (persen) =7,5
v) Harga Minyak Indonesia (US$/barel) =60
vi) Lifting (MBCD) barel per hari =977.000
vii) Produksi Minyak (MBCD) per juta per hari =1,034

Kebijakan Fiskal dalam RAPBN 2008 secara garis besar
diarahkan untuk mengantisipasi:
Risiko Perubahan Asumsi (sensitivitas)

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
20
Deviasi perencanaan asumsi makro terhadap besaran APBN
Deviasi perencanaan pendapatan, belanja dan pembiayaan
Sensitivitas Perubahan APBN 2008 akibat perubahan asumsi
makro
Risiko Belanja
Bencana alam
Desentralisasi fiskal (pemekaran, asumsi)
Kebijakan yang mendadak
Risiko Dukungan Infrastruktur
Risiko tanah
Operasional BUMN (PLN, J asa Marga)
Risiko Utang
Risiko pembayaran kembali, nilai tukar, tingkat bunga dan
operasional

Pemerintah meningkatkan alokasi anggaran belanja ke daerah
pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN)
2008 hingga mencapai 7,6 persen dari perkiraan realisasi belanja ke
daerah tahun 2007 senilai Rp252,5 triliun menjadi Rp271,8 triliun.
J umlah itu terdiri dari Dana Perimbangan Rp262,3 triliun, serta alokasi
dana otonomi khusus dan penyesuaian Rp9,5 triliun. Alokasi dana
perimbangan itu terdiri dari Dana Bagi Hasil (DBH) Rp64,5 triliun, dan
Dana Alokasi Umum (DAU) Rp176,6 triliun, serta Dana Alokasi Khusus
(DAK) sebesar Rp21,2 triliun.
Total alokasi belanja APBN Tahun 2008 senilai Rp854,6
triliun atau naik 13,2 persen dibanding APBN 2007 Rp755,3 triliun.
J umlah itu terbagi atas anggaran belanja pemerintah pusat Rp573,4
triliun dan anggaran untuk daerah Rp281,2 triliun. Dari alokasi anggaran
belanja pemerintah pusat, belanja pegawai Rp128,3 triliun, belanja
barang Rp69,4 triliun, belanja modal Rp95,4 triliun, bantuan sosial
Rp66,2 triliun dan pembayaran bunga utang, subsidi dan belanja lain-lain
Rp214,1 triliun. Anggaran untuk daerah terbagi atas dana perimbangan
sebesar Rp266,8 triliun dan dana otonomi khusus dan penyesuaian
sebesar Rp14,4 triliun.
Rencana penerimaan perpajakan tahun 2008, berasal dari
penerimaan pajak dalam negeri Rp568,3 triliun, dan pajak perdagangan
internasional Rp 15,4 triliun. Di sisi lain, target Penerimaan Negara
Bukan Pajak (PNBP) pada APBN 2008 diperkirakan mencapai Rp 175,6
triliun, atau lebih rendah Rp 16,2 triliun dibanding sasaran PNBP tahun
2007. Lebih rendahnya penerimaan PNBP disebabkan turunnya
penerimaan bagian pemerintah atas laba Badan Usaha Milik Negara
(BUMN) dan penurunan PNBP lainnya.
Selain itu, pemerintah meningkatkan alokasi anggaran belanja
ke daerah pada RAPBN 2008 hingga mencapai 7,6 persen dari perkiraan
realisasi belanja ke daerah tahun 2007 sebesar Rp252,5 triliun menjadi
Rp271,8 triliun. J umlah itu terdiri dari Dana Perimbangan Rp262,3
triliun, serta alokasi dana otonomi khusus dan penyesuaian Rp9,5 triliun.

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
21
Alokasi dana perimbangan itu terdiri dari Dana Bagi Hasil (OBH)
Rp64,5 triliun, dan Dana Alokasi Umum (DAU) Rpl76,6 triliun, serta
Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar Rp21,2 triliun.
b) Kebijakan Moneter
Kebijakan Moneter dilaksanakan untuk mengendalikan
keadaan ekonomi makro agar dapat berjalan sesuai dengan yang
diinginkan melalui pengaturan jumlah uang yang beredar dalam
perekonomian. Usaha tersebut dilakukan agar terjadi kestabilan harga
dan inflasi serta terjadinya peningkatan output keseimbangan. Kebijakan
moneter merupakan kewenangan dari pemerintah Pusat dalam hal Bank
Indonesia yang mempunyai tugas untuk menjaga tingkat stabilitas
moneter dalam negeri.
Setiap kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah harus
memiliki target dan ukuran keberhasilan. Hal ini penting, untuk
mengukur atau sebagai acuan, apakah kebijakan tersebut berhasil atau
tidak. Dalam perekonomian beberapa indikator yang biasanya digunakan
untuk menilai kebijakan moneter adalah :
i) J umlah Uang Beredar
ii) Laju inflasi yang cukup rendah terkendali
iii) Suku bunga pada tingkat yang wajar
iv) Nilai tukar rupiah yang realistis, dan
v) Ekspektasi/harapan masyarakat terhadap moneter
Dari kelima indikator tersebut, hanya J umlah Uang Beredar
yang tidak dapat dimonitor dan dirasakan lansung oleh masyarakat,
sementara itu indikator lainnya, relatif dapat dilihat dan dirasakan
langsung oleh masyarakat.
3) INDIKATOR PENCAPAIAN TARGET KINERJA PROGRAM
ENTITAS PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR.
Dokumen Rencana Pembangunan J angka Menengah (RPJ MD)
Provinsi J awa Timur Tahun 2006-2008 merupakan acuan didalam penetapan
target kinerja menengah dalam kurun waktu 3 (tiga) Tahun dengan
memobilisasi potensi-potensi yang ada. Selanjutnya target-target tersebut
dijabarkan kedalam target-target tahunan dalam dokumen Rencana Kerja
Pemerintah Daerah (RKPD) tahunan daerah sebagaimana ditetapkan dalam
Peraturan Gubernur J awa Timur Nomor 50 Tahun 2007 tentang RKPD
Provinsi J awa Timur Tahun 2008, sebagai berikut:

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
22

MATRIK PENGUKURAN KINERJA PEMBANGUNAN
TAHUN 2008
NO INDIKATOR KINERJA
TARGET CAPAIAN
KINERJA
2008
I. AGENDA PENINGKATAN KESALEHAN SOSIAL DALAM BERAGAMA
1. Rasio Angka Perceraian Terhadap J umlah Rumah Tangga 0,0025
2. Pemakai Narkoba (% Penurunan) -2
3. Indeks Komposit kriminalitas yang dominan (2005=100) 96
II.

AGENDA PENINGKATAN AKSESIBILITAS TERHADAP KUALITAS
PENDIDIKAN DAN KESEHATAN

1. Angka Buta Huruf penduduk umur 10 44 tahun (%) 4,94
2. Angka Partisipasi Sekolah menurut tingkat pendidikan (%) :
a. SD-MI 99,73
b. SLTP-MTs 86,07
c. SLTA-MA 64,39
3. Rasio murid SMK terhadap murid SMU 0,71
4. Angka Kematian Bayi per 1.000 kelahiran hidup 36,50
5. Angka Harapan Hidup (tahun) 67,75
6. Angka Kematian Ibu melahirkan per 100.000 kelahiran hidup 290
7. Prevalensi kurang Gizi pada anak (%) 18,00
8. Persalinan oleh Tenaga Kesehatan (%) 86,00

III.

AGENDA PENANGGULANGAN KEMISKINAN, PENGANGGURAN,
PERBAIKAN IKLIM KETENAGA KERJAAN DAN MEMACU
KEWIRAUSAHAAN

1. Tingkat Pengangguran Terbuka/TPT (%) 5,6
2. Pemenuhan kebutuhan Pangan (Skor Pola Pangan Harapan) 79,7
3. ILOR 0,056
4. Persentase penduduk miskin terhadap jumlah penduduk (%) 15,90
5. Peranan APBD terhadap PDRB (%) 1,45
6. Indeks J umlah Kecelakaan Kerja (2005=100) 96,00

IV.

AGENDA PERCEPATAN PERTUMBUHAN EKONOMI YANG BERKUALITAS
DAN BERKELANJUTAN DAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR


1. Pertumbuhan Ekonomi ADHK Tahun 2000 (%) 6,30

2. PDRB Per Kapita (ribu Rupiah) 9.195

3. Indeks Daya Beli (Tahun 2000=100) 131

4. Indeks Disparitas Wilayah 101,0

5. Nilai Tukar Petani (NTP) 2002 =100 106,89
6. Nilai Tukar Nelayan (NTN) 108
7. Peningkatan Nilai Tambah UKM dalam PDRB (%) 64,00
8. Indeks Pembangunan Manusia 65,00
9. ICOR 4,78
10. Pertumbuhan Penduduk (%) 1,097


PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
23
V.

AGENDA OPTIMALISASI PENGENDALIAN SDA, PELESTARIAN
LINGKUNGAN HIDUP DAN PENATAAN RUANG

1. Kualitas air sungai (% terhadap parameter kunci dalam baku mutu) 20,00
2. Kualitas udara ambien di perkotaan (% terhadap baku mutu udara
ambien)
30,00
3. Pengendalian limbah B3 (% terhadap total potensi limbah B3 yang
dihasilkan)
40,00
4. Lahan kritis Tahura R.Suryo (Ha) 11.000
5. Lahan Kritis Non Tahura R.Suryo di J awa Timur (Ha) 370.000

VI.

AGENDA PENINGKATAN KETENTRAMAN DAN KETERTIBAN, SUPREMASI
HUKUM DAN HAM

1. Indeks Korban Kejahatan (2005=100) 99
2. Penurunan Kecelakaan Lalu Lintas (%) -2
3.
Indeks Korban Kekerasan (2005=100)
97
4.
Indeks Perkelahian antar pelajar (2005=100)
97
5.
Indeks Kerusuhan berlatarbelakang SARA (2005=100)
97
6.
Indeks Pertikaian antar aparat keamanan (2005=100)
85
7.
Indeks Kerusuhan berlatar belakang politik (2005=100)
85
8.
Indeks Konflik antar nelayan (2005=100)
85



VII.

AGENDA REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI DAN OTONOMI
DAERAH MELALUI REFORMASI BIROKRASI DAN PENINGKATAN
PELAYANAN PUBLIK

1. Efektivitas Perda yang dihasilkan meningkat
2. Penanganan pengaduan di DPRD J awa Timur meningkat
3. Rasio jumlah dan besar kerugian negara terhadap APBD (%) 0,320
4. Penanganan terhadap Pengaduan Pelayanan Publik meningkat

Penetapan target kinerja pembangunan tersebut apabila dicermati
dengan melihat beberapa factor seperti kekuatan APBD Tahun Anggaran
2008, prediksi perekonomian global dan nasional, asumsi makro, prospek
perekonomian, kondisi keamanan yang stabil, permasalahan krusial dan
didukung rasa optimisme seluruh jajaran Pemerintah Daerah serta
perkembangan capaian kinerja pembangunan J awa Timur dua tahun
sebelumnya (tahun 2006-2007), sebagai berikut:
Kondisi kinerja makro ekonomi J awa Timur Tahun 2006-2007
yang secara keseluruhan menunjukkan adanya peningkatan. Dalam
pembentukan PDRB J awa Timur tahun 2006 sebesar Rp470.627 Milyar di
tahun 2007 meningkat menjadi sebesa Rp531.738 Milyar.
Pertumbuhan ekonomi dari PDRB J awa Timur ADHK 2000 tahun
2006 mencapai sebesar 5,80% dan pada tahun 2007 meningkat menjadi
sebesar 6,11%. Kontribusi terbesar pertumbuhan pada tahun 2006 ditopang
oleh 3 sector utama yaitu sector Perdagangan, Hotel dan Perhotelan disusul

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
24
dengan sector Pertambangan dan Penggalian serta sector Keuangan, Sewa
dan J asa Perusahaan. Kemudian pada tahun 2007 ditopang oleh 3 sektor
utama yaitu sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih, disusul dengan sektor sektor
Perdagangan, Hotel, dan Restoran serta sector Pertambangan dan Penggalian.
Seperti juga pada tahun-tahun sebelumnya dilihat dari aspek
penggunaannya, pertumbuhan ekonomi J awa Timur pada tahun 2008 secara
tahunan masih didominasi oleh pertumbuhan konsumsi terutama konsumsi
rumah tangga, namun hal ini belum mencerminkan basis pertumbuhan
perekonomian yang kuat, karena pertumbuhan penciptaan lapangan kerja
tidak sebanding dengan pertumbuhan angkatan kerja.
Tingkat inflasi di J awa Timur pada periode ini menunjukkan
kondisi yang tetap terkendali (dalam target 6% 1), yaitu masing-masing
sebesar 6,71%, 6,47%, dan 6,29% untuk bulan Oktober, November, dan
Desember 2007. Angka-angka ini lebih rendah daripada inflasi nasional yang
mencapai 6,88%, 6,71%, dan 6,59%. Hingga akhir tahun 2007 ini, tingkat
inflasi kumulatif J awa Timur tercatat sebesar 6,29%, yang berarti lebih
rendah daripada tahun 2006 yang sebesar 6,64%.
Kinerja investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN)
periode J anuari Desember 2006 telah disetujui sebanyak 32 Perusahaan dan
J umlah investasi sebesar Rp167.449.029 J uta dengan jumlah tenaga kerja
sebanyak 12.779 Orang Tenaga Kerja Indonesia dan Tenaga Kerja Asing.
Sedangkan periode J anuari Desember 2007 telah disetujui sebanyak 22
Perusahaan dan J umlah investasi sebesar Rp16.705.091 J uta dengan jumlah
tenaga kerja sebanyak 35.237 Orang Tenaga Kerja Indonesia dan Tenaga
Kerja Asing. J adi jumlah perusahaa mengalami penurunan sebesar 31,25%
dan jumlah investasinya menurun sebesar 90,02%.
Perkembangan realisasi investasi PMDN tahun 2006 dari 1.440
Perusahaan di J awa Timur terdapat 150 perusahaan yang investasinya
mengalami pertumbuhan sebesar Rp8.306.224,40 J uta (Rp8,31 Trilyun) dan
pada tahun 2007 dari 1.459 perusahaan terdapat 1.598 perusahaan yang
investasinya mengalami pertumbuhan sebesar Rp6.249.044,66 J uta (Rp6,25
Trilyun).
Kinerja ekspor non migas J awa Timur tahun 2007 dilaihat dari nilai
ekspornya tercatat sebesar US$ 11,770 milyar atau mengalami peningkatan
sebesar 30,50 % dibandingkan tahun 2006 yaitu sebesar US$ 9,019 milyar.
Sedangkan dilihat dari volume ekspor pada tahun 2007 mengalami kenaikan
sebesar 16,83 % dari 6,85 juta ton menjadi 8,311 juta ton tahun 2006.
Struktur ekspor non migas J awa Timur tahun 2007 dilihat dari 3 kelompok
produk utama dari 10 produk utama yang memberikan kontribusi terbesar
yaitu komoditi Pengolahan Tembaga, Timbah dll sebesar 16,65% kemudian
Pengolahan Kayu sebesar 10,26%, Pulp dan Kertas sebesar 8,58%. Adapun
10 (sepuluh) negara tujuan utama ekspor non migas, yaitu J epang; Amerika
serikat; Malaysia; Republik Rakyat Cina; Thailand; Singapura; Korea
Selatan; Taiwan; Australia dan Belgia.
Realiasi impor sektor non migas terutama didominasi oleh peranan
sub sector industri yang memberikan kontribusi sebesar 86,07% diikuti oleh
sub sector pertanian sebesar 9,78% lalu sub sector pertambangan sebesar

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
25
4,11% dan sub sector lainnya sebesar 0,04%. 10 Negara asal utama impor
J awa Timur tahun 2007 berasal dari RRC, Singapura, Malayisia, Korea
Selatan, Amerika Serikat, Thailand, Australia, J epang, India dan Kanada.
Neraca perdagangan J awa Timur menunjukkan perkembangan
yang cukup fluktuatif, dimana tahun 2006 mengalami surplus sebesar US$
3.520 juTA Sedangkan neraca perdagangan tahun 2007 mencapai surplus
sebesar US$ 1.826 juTA Selanjutnya kontribusi nilai ekspor non migas J awa
Timur terhadap realisasi nilai ekspor non migas nasional cukup tinggi, pada
tahun tahun 2006 sebesar 11,33 %, sedangkan tahun 2007 tercatat sebesar
12,92 %.
Kinerja stabilitas sistem keuangan, khususnya perbankan di J awa
Timur sampai September 2007 menunjukkan perbaikan, terutama
diindikasikan oleh risiko kredit dan risiko pasar yang masih relatif terkendali.
Risiko kredit perbankan di J awa Timur secara umum tetap terkendali,
tercermin dari kondisi NPL gross yang terus menurun dari 7,33% (Sept 2006)
menjadi 4,95% (Sept 2007), sejalan dengan mulai pulihnya sektor industri.
Secara makro regional, musibah bencana lumpur Lapindo yang melanda
Kabupaten Sidoarjo, belum berdampak signifikan terhadap kinerja NPL.
Namun secara mikro perbankan, tidak dipungkiri bahwa bank bank yang
berlokasi di beberapa kabupaten/kota di J awa Timur yang terkena dampak
tidak langsung lumpur Lapindo mengalami kenaikan NPL. Risiko pasar
perbankan juga relatif terjaga, karena di tengah penurunan suku bunga
simpanan dan maraknya produk keuangan lain seperti ORI dan lainnya,
minat masyarakat untuk menempatkan dananya di perbankan tidak
berkurang. Namun, kegiatan usaha perbankan di wilayah Jawa Timur
diwarnai oleh risiko likuiditas dan risiko operasional. Risiko likuiditas
perbankan berpotensi bergejolak, karena dari segi jangka waktu, struktur
DPK perbankan masih didominasi oleh sumber dana jangka pendek.
Meskipun sumber DPK perbankan terbesar tetap berasal dari dana yang
relatif mahal, yaitu deposito, namun pertumbuhannya cenderung menurun.
Selain itu, potensi risiko operasional juga dihadapi oleh industri perbankan di
J awa Timur, terkait dengan penyimpangan yang terjadi pada beberapa
perbankan di J awa Timur, sebagai indikasi lemahnya kualitas tata kelola
(governance) dan pengendalian internal.
Sistem pembayaran hingga saat ini dinilai masih tetap kondusif.
Kebutuhan masyarakat terhadap keamanan, kecepatan serta kemudahan
melakukan transaksi keuangan terpenuhi dengan baik. Selama bulan J uli-
September 2007, nilai transaksi pembayaran, baik melalui tunai maupun non
tunai, meningkat dibanding triwulan sama tahun sebelumnya. Namun, posisi
inflow bulan J uli-September 2007 menurun dibanding triwulan yang sama
tahun sebelumya, karena penerapan kebijakan BI tentang penyetoran hanya
uang yang tidak layak edar ke BI. Pada bulan September 2007, outflow terus
meningkat seiring dengan meningkatnya kebutuhan uang kartal masyarakat
menjelang hari raya Idul Fitri. Sementara itu, penyelesaian transaksi non
tunai menunjukkan peningkatan, yang secara umum didominasi oleh sistem
BI-RTGS dan diikuti oleh transaksi sistem kliring, yang masing-masing
tercatat sebesar Rp117,50 triliun dan Rp34,25 triliun. Hal tersebut

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
26
mengindikasikan tingginya kebutuhan masyarakat akan transfer dana yang
cepat, baik untuk kegiatan bisnis di sektor riil dan pembayaran atas
kebutuhan nasabah.

c. Ikhtisar Pencapaian Kinerja Keuangan
1) Ikhtisar Realisasi Pencapaian Target Kinerja Keuangan
Pada tahun 2008 capaian terhadap target Pemerintah Provinsi J awa
Timur sebagaimana diuraikan pada bab 2 adalah berikut :
Agenda I : Agenda Peningkatan Kesalehan Sosial Dalam Beragama

Rasio perceraian terhadap jumlah rumahtangga di J awa Timur
sebesar 0,183 persen pada tahun 2008. Besaran di tahun 2008 ini lebih besar
dari tahun sebelumnya yang sebesar 0,165 persen. Angka rasio 0,183
menunjukkan setiap 1000 rumahtangga/keluarga terdapat 1,83
rumahtangga/keluarga yang bercerai di tahun 2008.
Penyebab perceraian selama tahun 2007-2008 cenderung
didominasi sebagai akibat dari tidak adanya tanggungjawab,
ketidakharmonisan, masalah ekonomi dan perselingkuhan. Disamping itu
masih juga ditemui perceraian yang diakibatkan kekerasan dalam
rumahtangga/keluarga. Menilik penyebab tersebut perlu dilakukan ekplorasi
yang lebih luas, agar akar dan permasalahan perceraian dapat dicarikan
pemecahan lebih lanjut.
Pada tahun 2008 jumlah kasus pemakai narkoba menunjukan
penurunan dari 1.866 kasus pada tahun 2007 menjadi 1.757 kasus. Penurunan
tersebut diduga sebagai dampak dari gencarnya operasi narkoba dan sosialisai
dampak negatif narkoba. Tetapi karena penyakit narkoba itu merupakan
penyakit kambuhan, pada tahun 2008 tersangka kasus ini mengalami
kenaikan sebesar dari 2.414 kasus tahun 2007 menjadi 2.446 kasus.
Meskipun demikian dari jumlah kasusnya lebih sedikit dibanding tahun lalu,
ini mengartikan bahwa jumlah anggota kelompok yang terjerumus kasus ini
mengalami peningkatan.
Indeks Kriminalitas selama tahun 2008 mengalami peningkatan
yaitu 114,46 pada tahun 2007 menjadi 115,24 di tahun 2008, baik secara
agregat maupun jenis kriminalitas dibanding tahun dasar (2005=100), kecuali
pembunuhan, pencurian dengan kekerasan, pencurian kayu jati, pemerkosaan,
uang palsu, kebakaran dan kekerasan dalam rumahtangga.
J enis kriminalitas selama tahun 2008 yang mengalami kenaikan
dibanding tahun dasar yaitu pencurian dengan pemberatan, pencurian
kendaraan bermotor, pencurian hewan dan narkotik. Kriminalitas yang
cenderung meningkat diduga dipengaruhi oleh tuntutan ekonomi yang
semakin meningkat. J ika tidak diimbangi dengan pembenahan kesempatan
INDIKATOR KINERJ A RPJ MD 2006 -2008 TARGET
2008
CAPAIAN
2008
Rasio Angka Perceraian Terhadap J umlah Rumah Tangga 0,250 0,206
Pemakai Narkoba (% Penurunan) -2,000 -6,130
Indeks Komposit Kriminalitas yang Dominan (2005=100) 96 112,680

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
27
berusaha, kerja dan penguatan institusi maka kriminalitas akan semakin
meningkat dan sulit dikendalikan.
Agenda II : Agenda Peningkatan Aksesibilitas Terhadap Kualitas
Pendidikan Dan Kesehatan
INDIKATOR KINERJ A RPJ MD 2006 -2008 TARGET
2008
CAPAIAN
2008
Angka Buta Huruf penduduk umur 10 44 tahun (%) 4,940 3,440
Angka Partisipasi Sekolah menurut tingkat pendidikan (%) :
a. SD-MI 99,730 98,460
b. SLTP-MTs 86,070 86,640
c. SLTA-MA 64,390 59,050
Rasio murid SMK terhadap murid SMU 0,710 0,697
Angka Kematian Bayi per 1.000 Kelahiran Hidup 36,500 32,440
Angka Harapan Hidup (tahun) 67,750 69,220
Angka Kematian Ibu Melahirkan per 100.000 Kelahiran Hidup 290,000 326,000
Prevalensi Kurang Gizi pada Anak (%) 18,000 15,710
Persalinan oleh Tenaga Kesehatan (%) 86,00 88,450

Untuk mengukur kinerja Agenda Peningkatan Aksesibilitas Terhadap
Kualitas Pendidikan dan Kesehatan maka indikator yang digunakan adalah
Angka Buta Huruf; Angka Partisipasi Sekolah; Rasio murid SMK terhadap
murid SMU; Angka Kematian Bayi; dan Angka Harapan Hidup; Angka
Kematian Ibu melahirkan; Prevalensi kurang Gizi pada anak; dan Persalinan
oleh Tenaga Kesehatan.
Pada tahun 2008 persentase ABH turun menjadi 11 persen. Dengan
demikian program pengentasan buta aksara di J awa Timur telah
mengentaskan penduduk buta aksara rata-rata 1 persen poin setiap tahun.
Disparitas ABH di J awa Timur pada 2008 tidak hanya terjadi
pada perbedaan menurut jenis kelamin, namun juga terjadi dari sisi
wilayah (pedesaan dan perkotaan). Fenomena yang perlu dicermati
adalah terjadinya disparitas ABH menurut kelompok wilayah diawali
pada kelompok usia 20 tahun. Bila kedua informasi di atas dipadukan,
dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa implementasi program
pemerintah melalui SD Inpres dan program Pemberantasan Buta
Aksara menunjukkan hasil yang menggembirakan (melalui kejar
Paket A). ABH untuk kelompok umur 10-44 di J awa Timur mengalami
penurunan dari 3,54 persen (2007) menjadi 3,44 persen (2008).
Sementara itu, standar kinerja ABH kelompok umur 10-44 tahun
yang diagendakan dalam RPJ MD Provinsi J awa Timur pada tahun 2008
sebesar 4,94 persen, sedangkan nilai capaian ABH sebesar 3,44 persen.
Dengan demikian pada tahun 2008 indikator ABH kelompok umur 10-44
telah terpenuhi.
Angka Partisipasi Sekolah usia SD (7-12 tahun) selama tahun 2007-
2008 mengalami kenaikan dari 98,42 menjadi 98,46 pada tahun 2008. Seperti
halnya APS usia SD (7-12 tahun), APS untuk usia SLTP juga mengalami
peningkatan dari 86,42 menjadi 86,64 pada tahun 2008. Keberadaan program
BOS tentunya tidak mampu secara drastis mendorong APS pada kelompok

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
28
usia ini, mengingat program tersebut bukan bersifat menghapuskan biaya
pendidikan, namun hanya bersifat subsidi. J ika pada jenjang pendidikan SD
beberapa sumber menyebutkan bahwa sebagian besar murid tidak lagi
terbebani biaya SPP/BP3, namun pada jenjang pendidikan SLTP/sederajat,
sebagian murid masih membayar selisih SPP/BP3 setelah dikurangi dana
BOS.
Pencapaian APS SLTP tahun 2008 di sebagian besar kabupaten/kota
berada di atas standar kinerja dalam RPJ MD J awa Timur, kecuali Kabupaten
Malang, Lumajang, J ember, Bondowoso, Situbondo, Probolinggo, Pasuruan,
Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Dampak bergulirnya dana
BOS di setiap wilayah relatif berbeda, ada beberapa wilayah yang mampu
meningkatkan APS. Namun pada beberapa wilayah yang lain (misal Kota
Surabaya) tidak banyak membantu dalam meningkatkan APS, hal ini
diindikasikan dari APS di wilayah ini menurun dibandingkan tahun
sebelumnya.
Pada tahun 2008 terjadi penurunan pola pada anak usia 13-15 tahun
yang tidak bersekolah lagi, baik untuk penduduk laki-laki maupun
perempuan. Kondisi ini dapat disebabkan karena menurunnya angka putus
sekolah SD, tamat SD namun tidak melanjutkan lagi, putus sekolah SLTP,
serta sudah menamatkan SLTP namun tidak melanjutkan ke jenjang
pendidikan selanjutnya, atau bahkan sudah pernah melanjutkan pendidikan di
tingkat SLTA (saat pencacahan berusia 13-15 tahun) namun terputus
pendidikannya. Angka Putus Sekolah pada jenjang Pendidikan usia SLTP,
pada tahun 2008 adalah sebesar 0,49 persen dan terjadi peningkatan APS,
terutama pada penduduk perempuan.
Seperti APS pada usia 7-12 tahun serta usia 13-15 tahun, APS pada
penduduk usia SLTA juga memiliki pola meningkat. Yaitu pada tahun 2007
sebesar 58,54 meningkat menjadi 59,05. Walaupun terjadi peningkatan,
namun sangat disayangkan karena pendidikan di tingkat SLTA ini hanya
dapat dinikmati oleh sebagian orang yang beruntung saja, mengingat
peluang seseorang yang berada di J awa Timur dapat bersekolah di tingkat
SLTA kurang 60 persen, tahun 2007. Sebagai gambaran, dari angka APS
diperoleh informasi bahwa, jika ada 100 orang berusia 16-18 tahun, maka 59
anak diantaranya saat ini sedang bersekolah, 41 sudah tidak bersekolah lagi,
atau belum pernah bersekolah.
Bila dicermati, pola pada kelompok APS 7-12 tahun dan 13-15
tahun, menunjukkan bahwa perbedaan gender tidak terlalu kelihatan, maka
pada kelompok usia 16-18 tahun terdapat selisih capaian APS, yaitu
penduduk perempuan selalu berada di bawah penduduk laki-laki. Walaupun
sejak J uli 2005 sudah ada program Bantuan Khusus Murid (BKM) yang
merupakan bagian dari kegiatan PKPS-BBM untuk siswa
SMA/SMK/MA/SMLB, namun belum sepenuhnya bisa membantu mening-
katkan APS usia SLTA Bahkan persentase APS di tahun 2008 masih berada
di bawah standar kinerja dalam RPJ MD J awa Timur. Pada tahun 2008 APS
usia SLTA untuk Kabupaten/Kota yang memenuhi standar kinerja adalah
Kabupaten Ponorogo, Sidoarjo, Mojokerto, Nganjuk, Madiun, Magetan,
Gresik, serta Kota Kediri, Blitar, Malang, Probolinggo, Pasuruan, Mojokerto,

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
29
Madiun, Surabaya, dan Batu. Faktor yang menjadi sebab rendahnya
persentase APS usia SLTA ini adalah masih tingginya penduduk usia 16-18
tahun yang tidak bersekolah lagi (masih di atas 40 persen). Selama kurun
waktu 2007-2008 rata-rata penurunan penduduk usia 16-18 tahun yang tidak
bersekolah lagi, hanya berada pada kisaran 1 persen. Oleh karena itu
diperlukan alternatif program yang lebih efektif lagi dalam upaya
meningkatkan besaran APS pada kelompok usia ini, serta mencari solusi dan
terutama dalam mereduksi anak yang menamatkan jenjang pendidikan
SLTP/sederajat agar melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Program
keberlanjutan pendidikan dari tingkat SLTP ke SLTA dan ketersediaan
fasilitas pendidikan pada jenjang pendidikan tingkat SLTA yang mudah
diakses penduduk pada tingkat pendidikan ini merupakan salah satu alternatif
peningkatan APS usia SLTA .
Untuk Rasio murid SMK terhadap SMU (termasuk MA) selama dua
tahun terakhir (2006/2007-2007/2008) berada pada kisaran 60 yang berarti
rata-rata terdapat 60 murid yang memilih bersekolah di SMK ketika 100
orang yang lain memilih untuk bersekolah di SMU.
J umlah murid SMK pada tahun ajaran 2006/2007 berjumlah
462.378 siswa dan pada tahun ajaran 2007/2008 meningkat menjadi 485.116
siswa. Sementara jumlah murid SMU/MA tahun ajaran 2006/2007 berjumlah
674.272 siswa dan pada tahun 2007/2008 menjadi 697.228 siswa. Kenaikan
jumlah siswa, baik SMK maupun SMU diduga karena keinginan mereka
tetap survive dalam persaingan bursa kerja dengan bermodalkan tingkat
pendidikan/keahlian yang diperoleh dari tingkat pendidikan formal.
Dalam beberapa tahun terakhir AKB di J awa Timur mengalami
penurunan, dari 32,93 (tahun 2007) menjadi 32,44 (tahun 2008) menurunnya
AKB merupakan gambaran adanya peningkatan dalam kualitas hidup dan
pelayanan kesehatan masyarakat. Hal ini merupakan tolak ukur keberhasilan
di bidang kesehatan di J awa Timur.
Turunnya angka kematian bayi ini antara lain didukung karena
adanya peningkatan penolong persalinan oleh tenaga medis, keberhasilan
program KB, peningkatan pelayanan dan penyediaan fasilitas kesehatan yang
telah dilakukan oleh pemerintah, seiring itupula semakin baiknya
pengetahuan masyarakat akan kesehatan.
Angka Kematian Bayi dapat ditekan, dengan penanganan yang
intensif baik itu dari faktor eksternal antara lain melalui keberadaan penolong
persalinan yang representatif dan kemudahan akses ke tempat pelayanan
kesehatan. Adapun faktor internal yaitu perhatian dan perlakuan rumahtangga
terhadap bayi. Sementara itu untuk faktor internal lainnya melalui pola
pemberian ASI dan imunisasi.
Angka Harapan Hidup penduduk J awa Timur dari tahun ke tahun
terus mengalami peningkatan yang berarti. Pada tahun 2007 AHH penduduk
J awa Timur sebesar 68,69 tahun meningkat menjadi 69,22 tahun pada tahun
2008. Apabila diperhatikan menurut jenis kelamin, umur harapan hidup
perempuan dari waktu ke waktu selalu menunjukkan angka yang lebih tinggi
dibandingkan laki-laki, yaitu 66,81 tahun untuk laki-laki dan 70,91 tahun
untuk perempuan pada tahun 2008. Meningkatnya umur harapan hidup ini

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
30
secara tidak langsung memberikan gambaran tentang adanya peningkatan
kualitas hidup dan derajat kesehatan masyarakat.
Seiring dengan semakin meningkatnya umur harapan hidup, jumlah
penduduk lanjut usia akan semakin meningkat. Upaya peningkatan umur
harapan hidup penduduk perlu diiringi dengan upaya peningkatan kualitas
kesehatannya, supaya penduduk tersebut dapat hidup lebih lama yang
ditunjang kondisi tubuh yang sehat dan tidak menjadi beban bagi penduduk
yang lainnya.
Hal ini memberikan indikasi bahwa antara AHH dan AKB memiliki
korelasi yang negatif. Tinggi rendahnya AHH juga dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor diantaranya kondisi lingkungan perumahan yang sehat dan
pola konsumsi makanan yang berimbang.
Data tentang kematian ibu maternal di J awa Timur masih tercatat
dalam jumlah kasus. Pada tahun 2007 tercatat sekitar 349 kasus kematian ibu
maternal, dan jumlah ini turun menjadi 326 kasus pada tahun 2008.
Tingginya AKI dipengaruhi oleh penyebab langsung dan penyebab tidak
langsung. Penyebab langsung yang berkaitan dengan kematian ibu antara lain
adalah berkaitan dengan kondisi saat melahirkan seperti pendarahan,
hipertensi (tekanan darah tinggi) saat kehamilan, infeksi, dan komplikasi
keguguran.
Penyebab tidak langsung dari kematian ibu antara lain adanya anemia
dan penyakit menular yang diderita ibu, serta faktor status kesehatan dan gizi
ibu yang kurang baik. Faktor lain yang juga mempengaruhi kematian ibu
adalah tingkat pendidikan perempuan, kurangnya pengetahuan tentang
kesehatan reproduksi, rendahnya status sosial ekonomi, faktor budaya, serta
kurangnya ketersediaan pelayanan kesehatan dan keluarga berencana (KB).
Upaya efektif untuk menurunkan AKI antara lain dengan
mengupayakan semua persalinan dibantu oleh tenaga kesehatan. Pemerintah
juga telah melakukan berbagai kebijakan perbaikan akses dan kualitas
pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir, seperti pelatihan dukun bayi,
pengembangan klinik Kesehatan Ibu dan Anak; pembangunan rumah sakit;
pengembangan puskesmas, pondok bersalin desa, dan posyandu; pendidikan
dan penempatan bidan di desa; dan penggerakan masyarakat untuk
penyelamatan ibu hamil dan bersalin. Namun demikian upaya tersebut belum
memberikan hasil seperti yang diharapkan. Indikasi AKI yang tinggi yang
diikuti dengan lambatnya penurunan merupakan salah satu ciri dari negara
berkembang.
Terjadinya peningkatan prevalensi balita kurang gizi yang terjadi
mengalami penurunan dari 15,86 tahun 2007 menjadi 15,71 pada tahun 2008,
hal ini disebabkan semakin menurunnya konsumsi telur dan susu pada balita
karena kenaikan harga yang berarti. Selain itu juga didukung data dari
kelompok penduduk berpenghasilan terendah dalam kuantil konsumsi yang
semakin menurun.
Selama periode 2007-2008 angka persalinan oleh tenaga medis di
J awa Timur menunjukkan adanya peningkatan dari 87,89 menjadi 88,45
tahun 2008. Hal ini menggambarkan kesadaran masyarakat akan resiko
kematian ibu dan bayi, indikatornya adalah kecenderungan masyarakat untuk

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
31
beralih dari persalinan yang ditolong oleh tenaga non medis ke tenaga medis.
Bila peningkatan ini dipertahankan maka diharapkan angka kematian ibu dan
bayi akibat proses persalinan dapat semakin ditekan, ini mengindikasikan
keberhasilan pelayanan di bidang kesehatan.
Data Susenas tahun 2008 menunjukkan bahwa cakupan persalinan
oleh tenaga medis (dokter, bidan, dan tenaga medis lainnya) pada balita (usia
0-4 tahun) di J awa Timur mencapai sekitar 88,45 persen. Ini berarti masih
terdapat sekitar 12,55 persen masyarakat di J awa Timur yang memanfaatkan
jasa non medis (dukun bayi atau famili) dalam membantu proses persalinan.
Angka penolong persalinan oleh tenaga non medis di daerah
pedesaan yang masih cukup tinggi, diduga antara lain karena faktor
kebiasaan/tradisi masyarakat di daerah tersebut dan adanya kepercayaan
bahwa dukun bayi cukup mampu menolong proses persalinan. Selain itu
faktor pendidikan yang rendah dan kurangnya - selanjutnya dirujuk ke tenaga
medis.
Hal ini menunjukkan bahwa persentase terbesar penolong persalinan
oleh tenaga medis adalah bidan, kemudian disusul dokter dan tenaga medis
lainnya. Hal ini kemungkinan karena tempat praktek bidan lebih dekat
dengan tempat tinggal pasien sehingga lebih mudah untuk menghubunginya,
penyebab lainnya adalah faktor biaya yang akan dikeluarkan relatif lebih
murah dibandingkan bila harus ditangani oleh dokter. Walaupun demikian
ada sedikit pergeseran angka, ada sedikit peningkatan persentase penolong
persalinan oleh dokter dan penolong persalinan oleh bidan selama persentase
mengalami penurunan.
Agenda III : Agenda Penanggulangan Kemiskinan, Pengangguran,
Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan Dan Memacu Kewirausahaan
INDIKATOR KINERJ A RPJ MD 2006 -2008 TARGET
2008
CAPAIAN
2008
Tingkat Pengangguran Terbuka/TPT (%) 5,600 6,420
Pemenuhan Kebutuhan Pangan (Skor Pola Pangan Harapan) 79,700 75,530
ILOR 0,056 0,020
Persentase Penduduk Miskin terhadap J umlah Penduduk (%) 15,900 15,410
Peranan APBD terhadap PDRB (%) 1,450 0,870
Indeks J umlah Kecelakaan Kerja (2005=100) 96,000 50,130
Dari hasil pendataan yang dilakukan BPS melalui Survei Angkatan
Kerja Nasional (Sakernas), selama 2 tahun terakhir (20072008) jumlah
penganggur di J awa Timur menunjukkan penurunan yang cukup berarti.
Tahun 2008, jumlah penganggur turun sekitar 378 ribu orang dari 1.366.503
menjadi 987.922

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
32
Penurunan jumlah penganggur yang cukup besar hendaknya masih
perlu diwaspadai, mengingat angka setengah penganggur masih cukup tinggi.
Angka setengah penganggur memberikan indikasi bahwa penduduk yang
masuk dalam kategori bekerja masih belum produktif atau waktu yang
digunakan untuk bekerja berada di bawah jam kerja normal (kurang dari 35
jam seminggu). Umumnya mereka bekerja sebagai pekerja bebas atau pekerja
keluarga pada sektor pertanian maupun pertanian.
Sebaran jumlah penganggur menurut Kabupaten/Kota di J awa Timur
relatif heterogen. Untuk angka TPT berkisar antara 1,11 % ( Kab.
Sampang) hingga 12,55 % (Kota Madiun). Sebegian besar TPT pada
kab/kota menunjukkan penurunan pada tahun 2007 2008. Untuk penurunan
TPT >3 persen pada tahun 2007 2008, terdapat pada : Kab. Kediri (-3,29
%),
Salah satu kebijakan strategis terkait perluasan dan pengembangan
kesempatan kerja bagi angkatan kerja muda produktif (21 35 tahun) serta
upaya pengembangan usaha mandiri yang merupakan program pembentukan
tenaga kerja mandiri untuk angkatan kerja terdidik (sarjana) maupun non
sarjana (SMA/SMP). Program tersebut bertujuan untuk mendorong angkatan
kerja muda agar tertarik menekuni dunia wirausaha sebagai pilihan karir
pekerjaan sehingga tumbuh menjadi kader-kader wirausaha yang mandiri,
produktif dan profesional yang mampu menciptakan pekerjaan bagi dirinya
sendiri maupun orang lain.
Berdasarkan hasil Susenas 2008, sekitar 75,53 persen pengeluaran
penduduk J awa Timur digunakan untuk memenuhi kebutuhan makanan, dan
sekitar 25,47 persen untuk kebutuhan non makanan. Ini berarti bahwa
pemenuhan kebutuhan makanan masih mendominasi pengeluaran penduduk
J awa Timur.
Untuk melihat gambaran pola konsumsi/kebiasaan makan penduduk
di suatu wilayah maka dilakukan dengan penilaian terhadap perkembangan
pola konsumsi pangan melalui pendekatan pola pangan harapan baik dari sisi
kualitas maupun kuantitas dengan menggunakan data Susenas. Secara umum,
pencapaian konsumsi energi berdasarkan hasil skor PPH J awa Timur tahun
2008 menunjukkan penurunan dibandingkan tahun 2007. Akan tetapi jika
diperhatikan konsumsi energi per kapita sehari menunjukkan adanya
peningkatan kalori dari tahun sebelumnya, yaitu dari 2318,25 Kkal menjadi
sebesar 2582,96 Kkal.
Walaupun mengalami peningkatan bahkan lebih besar dari jumlah
angka kecukupan energi yang ditetapkan (2200 Kkal), kontribusi terbesar
terhadap peningkatan tersebut masih diberikan oleh kelompok padi-padian,
mengingat kelompok padi-padian (beras) merupakan makanan pokok bagi
sebagian besar penduduk di Indonesia. Peningkatan skor tertinggi terjadi
pada kelompok minyak dan lemak (naik 0,40). Mengingat minyak dan lemak
bukanlah kelompok bahan makanan pokok ataupun sebagai lauk-pauk,
kenaikan ini terlihat sangat tinggi. Walaupun harga minyak di pasaran
cenderung meningkat akan tetapi tidak signifikan mengurangi permintaan
masyarakat untuk tetap mengkonsumsinya. Hal ini mungkin saja tidak

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
33
terlepas dari kebiasaan yang ada di masyarakat dalam mengkonsumsi
makanan dengan penyajian digoreng.
Untuk indikator PDRB Provinsi J awa Timur baik ADHB (Atas
Dasar Harga Berlaku) maupun ADHK (Atas Dasar Harga Konstan) terus
meningkat, seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian J awa Timur.
Dengan melihat besaran angka ILOR, dapat diketahui pengaruh dari
perubahan PDRB (ADHK) terhadap penyerapan tenaga kerja di J awa Timur.
Pada tahun 2008 angka ILOR mengalami penurunan dibandingkan
dengan angka ILOR pada tahun sebelumnya (2007), yaitu sebesar 0,03 pada
tahun 2007 menjadi sebesar 0,02 pada tahun 2008. Bisa diartikan bahwa pada
tahun 2007, penambahan 100 juta rupiah PDRB diikuti oleh penambahan 6
(tujuh) orang tenaga kerja. Hal ini mungkin disebabkan oleh banyaknya
perusahaan yang mulai meningkatkan kapasitas produksinya dan menambah
tenaga kerja baru.
Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa dengan masih rendahnya
ILOR, berarti masih rendahnya tingkat penyerapan tenaga kerja yang
ditimbulkan oleh peningkatan nilai output di wilayah J awa Timur.
Menilik data tahunan jumlah kasus kecelakaan kerja mengalami
penurunan. Hal ini ditunjukan dengan angka delta IBKKnya.
Sisi lain yang dapat diungkap adalah jumlah korban akibat
kecelakaan kerja. Dilihat dari sisi jumlah kasus kecelakaan kerja mengalami
penurunan . Akan tetapi dilihat jumlah korban akibat kecelakaan mengalami
peningkatan. Pada tahun 2008 setiap 100 kasus kecelakaan kerja terdapat
korban sebanyak 105,7. Hal ini perlu mendapat perhatian semua pihak yang
terkait dengan permasalah di atas. Apakah dari sisi perusahaan yang kurang
dalam menyediakan perlengkapan kerja atau ketidakmauan pekerja dalam
melengkapi dirinya dengan peralatan keselamatan kerja.
Agenda IV : Agenda Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Yang Berkualitas
Dan Berkelanjutan Dan Pembangunan Infrastruktur.











R
INDIKATOR KINERJ A RPJ MD 2006 -2008 TARGET
2008
CAPAIAN 2008
Pertumbuhan Ekonomi ADHK Tahun 2000 (%) 6,300 5,850
PDRB Per Kapita (ribu Rupiah) 9.195,00 16.662,30
Indeks Daya Beli (Tahun 2000=100) 131,000 146,530
Indeks Disparitas Wilayah 101,000 109,280
Nilai Tukar Petani (NTP) 2002 =100 106,890 114,150
Nilai Tukar Nelayan (NTN) 108,000 139,970
Peningkatan Nilai Tambah UKM dalam PDRB (%) 64,00 53,290
Indeks Pembangunan Manusia 66,00 68,190
ICOR 4,780 3,230
Pertumbuhan Penduduk (%) 1,097 0,540

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
34
epresentasi dari agenda ini diukur dari indikator Pertumbuhan Ekonomi;
PDRB Per Kapita; Indeks Daya Beli; Indeks Disparitas Wilayah; Nilai Tukar
Petani (NTP); Nilai Tukar Nelayan (NTN); Peningkatan Nilai Tambah UKM
dalam PDRB; Indeks Pembangunan Manusia; Incremental Capital Output
Ratio (ICOR) dan Pertumbuhan Penduduk.
PDRB J awa Timur atas dasar harga berlaku pada tahun 2007 sebesar
534.919 miliar meningkat menjadi sebesar 618.085 miliar pada tahun 2008.
Untuk melihat pertumbuhan ekonomi J awa Timur dapat dilihat dari PDRB
atas dasar harga konstan 2000, karena pertumbuhan ekonomi ini benar-benar
diakibatkan dari perubahan jumlah nilai produksi sektoral yang sudah bebas
dari pengaruh harga.
Dari PDRB atas dasar harga konstan 2000, diketahui bahwa
pertumbuhan ekonomi J awa Timur selama periode 2007-2008 adalah
berturut-turut sebesar 6,11 persen (2007), dan 5,85 persen (2008).
Pada tahun 2007 ekonomi J awa Timur mulai sedikit meningkat
dengan tumbuh sebesar 6,05 persen. Dampak krisis ekonomi global telah
menyebabkan pertumbuhan pada tahun 2008 melambat dibanding tahun
sebelumnya sebesar 5,85 persen.
Pengaruh kenaikan harga BBM pada tahun 2006 sedikit demi sedikit
pada tahun 2007 mulai berkurang. Sehingga Pada tahun 2007 perekonomian
J awa Timur nampak meningkat dengan tumbuh sebesar 6,11 persen.
Kontribusi terbesar pertumbuhan pada tahun 2007 adalah sektor listrik, gas,
dan air bersih serta sektor perdagangan, hotel, dan restoran dengan
pertumbuhan masing-masing sebesar 11,81 persen dan 9,21 persen. Pada
tahun 2008 ekonomi tumbuh sebesar 5,85 persen, dan tercatat sektor
pertambangan dan penggalian mengalami pertumbuhan tercepat dengan
pertumbuhan sebesar 9,36 persen.
PDRB sebagai salah satu indikator makro ekonomi di J awa Timur
dalam kurun waktu dua tahun terakhir menunjukkan peningkatan dengan
nilai sebesar Rp 14,15 juta tahun 2007 menjadi Rp 16,25 juta tahun 2008.
Peningkatan PDRB per kapita disebabkan karena pertumbuhan PDRB ADHB
lebih cepat dibandingkan pertumbuhan penduduk.
Pengaruh kenaikan harga BBM menjelang akhir 2006 telah
memperlambat perekonomian secara signifikan, namun lambat laun mulai
dapat dieliminir seiring dengan terjaganya stabilitas makro ekonomi J awa
Timur di tahun 2007. Faktor-faktor yang secara langsung maupun tidak
langsung dianggap mampu mempengaruhi pertumbuhan ekonomi seperti
kasus lumpur lapindo dan bencana alam lain yang terjadi di tahun 2007, yang
meskipun berdampak namun secara makro tidak memberikan pengaruh yang
signifikan sebagaimana efek dari kenaikan harga BBM di tahun 2006.
Sehingga tingkat inflasi, PDRB perkapita dan pertumbuhan ekonomi masih
berada pada kisaran yang moderat dan mendorong indeks daya beli (IDB) ke
arah yang lebih baik.
Pada tahun 2007 Indeks Daya Beli masyarakat J awa Timur mencapai
137,01 atau naik menjadi 142,89 pada tahun 2008. Pemerintah nampaknya
sadar bahwa pertumbuhan ekonomi masih terlalu rentan untuk menerima
kejutan-kejutan negatif, seperti kenaikan harga BBM, komoditi-komoditi

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
35
yang input antaranya secara langsung terkena imbas kenaikan harga BBM
dan output produksinya dikonsumsi oleh masyarakat luas. Sehingga akan
berdampak secara nyata terhadap kemampuan masyarakat tersebut dalam
mengkonsumsi barang dan jasa yang dalam hal ini diukur dengan IDB.
Peningkatan PDRB perkapita sebagai proxy pendapatan perkapita
masyarakat, diiringi dengan terkendalinya tingkat harga pada tahun 2007
mendorong naiknya tingkat kesejahteraan masyarakat yang dicerminkan
dengan naiknya daya beli masyarakat. Sedangkan pada tahun 2008, Indeks
Daya Beli meningkat mencapai 142,89 atau mengalami perlambatan tipis
daripada tahun sebelumnya yaitu mencapai pertumbuhan IDB sebesar 4,29
persen.
Indeks Disparitas Williamson tahun 2007 sebesar 109,45 poin atau
mengalami penurunan lagi sebesar 0,05 persen, hal ini menunjukkan bahwa
pemerataan pembangunan di daerah selalu diupayakan agar tidak terjadi
kesenjangan yang mencolok antar wilayah. Kondisi berlanjut pada tahun
2008 dengan pencapaian indeks sebesar 109,28 atau mengalami penurunan
disparitas kesenjangan sebesar 0,15532 persen.
Pola NTP bulan J anuari sampai dengan J uli 2008 secara umum
relatif lebih stabil dan lebih baik dibanding tahun 2007. NTP Jawa Timur
2007 terendah yaitu pada bulan April sebesar 111,95 yang disebabkan
turunnya indeks harga tanaman bahan makanan sebesar 0,99 persen.
Sedangkan NTP tertinggi terjadi pada bulan Desember sebesar 114,30 yang
disebabkan naiknya indeks harga semua sub sektor pertanian. J ika dilihat
besarnya perubahan, kenaikan tertinggi terjadi pada bulan J uli sebesar 0,56
persen karena kenaikan indeks harga yang diterima petani (0,85 persen) lebih
besar dibanding kenaikan indeks harga yang dibayar petani (0,29 persen).
Indeks harga yang diterima petani pada tahun 2007 cenderung
meningkat dan secara rata-rata selama periode J anuari sampai dengan
Desember mengalami kenaikan 9,96 persen dari 155,19 pada tahun 2006
menjadi 170,64. Kenaikan indeks disebabkan oleh naiknya indeks pada
semua kelompok komoditi, tertinggi terjadi pada sub sektor tanaman bahan
makanan sedangkan terendah sub sektor tanaman perkebunan rakyat. Pada
bulan J uli 2008, indeks harga yang dibayar petani naik sebesar 1,80%
dibanding bulan sebelumnya, yaitu dari 170,62 menjadi 173,73. Kenaikan ini
disebabkan naiknya indeks harga konsumsi rumahtangga maupun indeks
harga biaya produksi.
Pada bulan J uli 2008 NTP J awa Timur mengalami kenaikan sebesar
1,12% dari bulan sebelumnya, yaitu dari 114,22 menjadi 115,47. Kenaikan
tersebut disebabkan karena kenaikan indeks harga yang diterima petani
(2,94%) lebih tinggi dibanding indeks harga yang dibayar petani (1,80%).
Kondisi tersebut menggambarkan bahwa kenaikan harga hasil produksi
petani lebih tinggi dibanding dengan kenaikan harga barang-barang konsumsi
rumahtangga dan biaya produksi.
Kenaikan indeks harga yang diterima petani disebabkan oleh naiknya
indeks harga sub sektor tanaman bahan makanan sebesar 3,47%, tanaman
perkebunan rakyat 3,15%, peternakan 1,18% dan perikanan 0,96%.
Kenaikan indeks harga yang dibayar petani disebabkan oleh naiknya indeks

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
36
harga konsumsi rumahtangga sebesar 1,91% maupun indeks harga biaya
produksi petani sebesar 1,40%.
Apabila dibandingkan dengan kondisi bulan J uli 2007 (year on year),
semua sub sektor mengalami kenaikan indeks. Sub sektor yang mengalami
kenaikan paling besar yaitu sub sektor tanaman bahan makanan sebesar
23,07% sedangkan yang kenaikannya paling rendah yaitu sub sektor tanaman
perkebunan rakyat 19,36%. J ika dibanding bulan J uli 2007, secara umum
NTP J awa Timur bulan Juli 2008 naik sebesar 2,10% yaitu dari 113,09
menjadi 115,47. Kenaikan NTP tersebut disebabkan laju perubahan indeks
yang diterima petani (18,59%) lebih tinggi dibandingkan laju perubahan
indeks yang dibayar petani (16,15%). Keadaan ini menggambarkan bahwa
secara umum tingkat kesejahteraan petani pada bulan J uli 2008 lebih baik
dibanding keadaan setahun yang lalu.
Dari hasil penjumlahan nilai tambah usaha kecil dan menengah untuk
sektor pertanian sampai dengan sektor jasa-jasa, maka dapat diperkirakan
nilai tambah UKM J awa Timur Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) yang
dihasilkan pada tahun 2007 sebesar Rp 284,38 triliun, dan tahun 2008 sebesar
Rp 293,09 triliun. Sedangkan nilai tambah UKM J awa Timur Atas Dasar
Harga Konstan (ADHK) tahun 2007 sebesar Rp 156,08 triliun dan pada
tahun 2008 mencapai Rp 164,84 triliun.
Angka IPM di J awa Timur pada tahun 2007 sebesar 68,06 menjadi
69,45. Kenaikan angka IPM lebih disebabkan karena adanya sedikit
perbaikan/peningkatan pada kesehatan dan pendidikan yang merupakan
dampak dari peningkatan program pada kedua bidang tersebut. Sementara
untuk komponen daya beli selama tahun 2006 2007 mensunjukkan adanya
penurunan sebagai dampak dari kenaikan harga BBM sehingga kemampuan
daya beli masyarakat (khususnya yang termasuk kelompok miskin) semakin
rendah.
Dengan angka IPM sebesar 68,06, menunjukkan kondisi status
pembangunan manusia di J awa Timur termasuk dalam kategori menengah
atas Besaran angka IPM menurut wilayah (kab/kota) menunjukkan fenomena
yang semakin heterogen. Hal ini tercermin dari semakin besarnya range
antara angka IPM yang tertinggi dengan angka IPM terendah. Hal ini diduga
karena prioritas sasaran program maupun kebijakan yang diambil masing-
masing daerah tidak sama. Selain itu tidak semua kondisi pembangunan
manusia di kabupaten/kota mengalami peningkatan selama tahun 2006
2008.
Besaran ICOR yang dihasilkan pada tahun 2007 sebesar 3,11 dan
tahun 2008 sebesar 3,23. Ini berarti bahwa untuk menambahkan output
sebesar 1 unit diperlukan investasi sekitar 3,23 unit. Sedangkan besaran
ICOR pada tahun sebelumnya 3,11 menunjukkan bahwa setiap penambahan 1
unit output memerlukan investasi sebesar kurang lebih 3,11 unit. Dengan
demikian terlihat bahwa investasi.
yang dibutuhkan untuk menaikkan satu unit output pada tahun 2008
lebih besar jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Secara lebih nyata pernyataan tersebut di atas dapat diartikan untuk
meningkatkan PDRB ADHK sebesar Rp 1 M pada tahun 2007 diperlukan

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
37
investasi sebesar Rp 3,11 M, sedangkan untuk meningkatkan PDRB ADHK
sebesar Rp 1 M, dengan demikian maka pada tahun 2008 dibutuhkan
investasi sebesar Rp 3,23 M.
Setelah terjadi krisis ekonomi melanda terjadi reformasi di beberapa
bidang termasuk perbankan dan peraturan-peraturan pemerintah yang
berkaitan dengan investasi, impor bahan baku dan lain-lain. Secara tidak
langsung perubahan-perubahan ini berdampak positif pada perkembangan
berbagai sektor di Indonesia. Namun demikian nampaknya tingkat suku
bunga yang rendah dan kemudahan impor bahan baku belum mampu menjadi
stimulus bagi sektor riil. Selain itu, krisis ekonomi juga telah membawa
dampak terjadinya seleksi alam terhadap perusahaan-perusahaan yang efisien
dan tidak efisien. Hanya perusahaan-perusahaan yang mempunyai tingkat
efisiensi tinggi sajalah yang mampu bertahan dalam menghadapi badai krisis
ekonomi. Akibatnya nilai ICOR relatif kecil dibanding saat sebelum krisis
terjadi, walaupun belum sepenuhnya seperti yang diharapkan.
Laju pertumbuhan penduduk di J awa Timur sebesar 0,65 atau lebih
kecil dibandingkan periode sebelumnya (2006 - 2007). Penurunan jumlah
penduduk di J awa Timur, antara lain disebabkan karena keberhasilan
pemerintah dalam mengendalikan angka kelahiran. Kabupaten/kota di
wilayah J awa Timur memiliki tingkat laju pertumbuhan penduduk di atas 1
persen adalah Kabupaten Sidoarjo, J ombang, Gresik, Bangkalan, Sampang,
Pamekasan dan Kota Probolinggo. Pertumbuhan penduduk terendah terjadi di
Kabupaten Magetan dan Kota Surabaya.
Dari sisi stuktur penduduknya, kabupaten tersebut cenderung ke arah
penduduk tua yang berarti bahwa banyak penduduk muda yang melakukan
migrasi keluar daerah untuk menuntut ilmu maupun mencari pekerjaan yang
lebih baik. Sedangkan untuk Kota Surabaya sebagai ibukota dan sentra
kegiatan ekonomi di J awa Timur yang memiliki faktor penarik untuk menjadi
daerah tujuan bagi para pencari kerja, pertumbuhan penduduknya sudah
semakin jenuh, hal ini disebabkan karena pendatang pada umumnya mencari
domisili di kabupaten/kota sekitarnya.
Sebagian kabupaten/kota juga memiliki tingkat laju pertumbuhan
penduduk yang rendah diduga karena secara ekonomi maupun faktor lainnya
relatip lebih rendah dibandingkan dengan kabupaten/kota lain.
Agenda V : Agenda Optimalisasi Pengendalian Sda, Pelestarian
Lingkungan Hidup Dan Penataan Ruang
INDIKATOR KINERJ A RPJ MD 2006 -2008 TARGET
2008
CAPAIAN
2008
Kualitas air sungai (% terhadap parameter kunci dalam baku mutu) 20,00 -4,52
Kualitas udara ambien di perkotaan (% terhadap baku mutu udara ambien) 30,00 -
Pengendalian limbah B3 (% terhadap total potensi limbah B3 yang
dihasilkan)
40,000 -
Lahan kritis Tahura R. Suryo (Ha) 11.000 7.986
Lahan Kritis Non Tahura R.Suryo di J awa Timur (Ha) 370.000 -

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
38
Representasi kinerja agenda ini dapat diukur dengan indikator
kualitas air sungai; kualitas udara ambien di perkotaan dan lahan kritis Non
Tahura R.Suryo.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kualitas air sangat
bergantung pada musim. Hal ini terjadi karena adanya keterkaitan antara
kuantitas air (debit air) dengan kualitas air (mutu air). Semakin rendah debit
airnya, maka kadar BOD cenderung akan semakin tinggi.
Dengan melihat nilai BOD dan PBOD akan terlihat bahwa kualitas
air sungai Brantas akan diketahui seberapa besar dan kesesuainnya dengan
baku mutunya dalam hal ini SK gubernur (6 mg/liter). Sementara itu Nilai
PBOD akan mengetahui keberhasilan upaya yang dilakukan dalam menjaga
kualitas air sungai Brantas, agar memenuhi syarat baku mutu yang telah
ditentukan.
Kadar BOD yang memenuhi standart yang telah ditetapkan dalam SK
Gubernur terjadi pada tahun 2007 sebesar 5,96 mg/liter sedangkan pada tahun
2008 melebihi standar yang telah ditetapkan yaitu 6,26 mg/liter. Dengan
kadar BOD yang telah melebihi standar yang ditetapkan, maka upaya
perlindungan terhadap kuantitas dan kualitas air perlu dilakukan upaya
pelestarian sumber daya air melalui pengendalian dan pencegahan sumber
pencemar pada sumber air secara konsepsional dan berkelanjutan.
Pengendalian kualitas dapat dilakukan melalui penurunan beban
pencemaran air. Sedangkan pengendalian kuantitas air dilakukan melalui
program konservasi dan kegiatan pengelolaan kebersihan sungai, khususnya
untuk sungai-sungai yang melintas di daerah perkotaan yang didalamnya
tercakup pula penertiban dan pengelolaan sempadan dan anak sungai.
Efektifitas tersebut dapat didukung pula dengan perbaikan pada hulu sungai
atau perbaikan di sekitar sumber mata air pada sungai-sungai utama di J awa
Timur.
Secara umum kualitas ambien udara J awa Timur menunjukan
kualitas yang baik dalam artian memenuhi kualitas udara yang baik. Hal ini
ditunjukan dari angka KAmb yang nilainya pada tahun 2007 sebesar 24,78.
Hal ini menujukan upaya yang dilakukan oleh semua pihak terutama
pemerintah J awa Timur, menunjukkan hasil sesuai dengan yang diharapkan
Pada tahun 2006, rata-rata B3 di J awa Timur yang berpotensi
mencemari adalah sebesar 10,74 persen dari total pencemaran yang ada.
Sumber pencemaran B3 meliputi sektor industri, rumahtangga, pertanian dan
lainnya. Sektor pertanian dan lainnya merupakan sumber pencemaran B3
yang perlu diwaspadai, karena jumlah limbah yang tidak dikelola lebih besar
dari pada yang dikelola.
Data tahun 2006 merupakan kegiatan khusus yang dilakukan oleh
Bapedal J awa Timur. Kegiatan tersebut merupakan inventarisasi dari
beberapa sampel industri yang diambil. Sementara pada tahun 2007 kegiatan
khusus tersebut dilakukan.
Dinas Kehutanan Provinsi J awa Timur melalui Balai Taman Hutan
Raya R. Soerjo mengelola kawasan Tahura R. Soerjo seluas 27.868,30
hektar, dengan rincian Tahura seksi wilayah Malang seluas 8.928,20 hektar,
Tahura seksi wilayah Pasuruan seluas 4.607,30 hektar dan Tahura seksi

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
39
wilayah Mojokerto seluas 11.468,10 hektar dan Tahura seksi wilayah
J ombang seluas 2.864,70 hektar.
Kondisi fisik tiga wilayah Tahura yang cenderung kering serta
banyak berisi jenis tanaman alang-alang dan semak belukar, membuat
kawasan hutan itu pada saat musim kemarau rawan bencana kebakaran.
Sedangkan Tahura di seksi wilayah J ombang, sebagian besar ditumbuhi
tanaman-tanaman basah, seperti pohon pisang dan pohon bambu, sehingga
dinyatakan relatif aman. Kawasan hutan di J awa Timur pada musim kemarau
hampir setiap tahun selalu mengalami kebakaran dan jenis tanaman yang
terbakar adalah tanaman jati muda, rumput dan alang-alang. Prosentase
Penyebab bencana kebakaran itu 90 persen karena ulah manusia seperti api
unggun yang tidak dimatikan, puntung rokok milik pendaki yang masih
menyala, atau memang dari masyarakat sekitar yang sengaja membakar hutan
untuk membuka lahan. Sedangkan sisanya adalah karena faktor alam seperti
letusan gunung atau gesekan ranting-ranting yang kering.
Luas Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi J awa Timur Berdasarkan
Keputusan Menteri Kehutanan Tentang Penunjukan Kawasan Hutan dan
Perairan Provinsi Nomor 417/Kpts-II/1999 mencapai 1.357.337,07 Ha.
Sementara data yang bersumber dari Dinas Kehutanan Provinsi J awa Timur,
di J awa Timur sampai dengan tahun 2006, menurut kategori Lahan Kritis
Dalam Kawasan mencapai 165.619,53 Ha, sedangkan Lahan Kritis Luar
Kawasan Mencapai 502.405,68 Ha.
Pada tahun 2007 Lahan Kritis non tahura R. Soeryo mencapai
100.334 Ha. Upaya Rehabilitasi Hutan dan Lahan, sangat penting untuk
memulihkan kembali fungsi lahan yang kritis. Dimana sasaran kegiatan
rehabilitasi adalah lahan-lahan dengan fungsi lahan yang ada kaitannya
dengan kegiatan rehabilitasi dan penghijauan, yaitu fungsi kawasan hutan
lindung, fungsi kawasan hutan lindung di luar kawasan hutan dan fungsi
kawasan budidaya untuk usaha pertanian.
Agenda VI : Agenda Peningkatan Ketentraman Dan Ketertiban, Supremasi
Hukum Dan Ham











Implementasi agenda Peningkatan Ketentraman dan Ketertiban,
Supremasi Hukum dan HAM diukur dengan indikator Indeks Korban
Kejahatan; Penurunan Kecelakaan Lalu Lintas; Indeks Korban Kekerasan;
Indeks Perkelahian Antar Pelajar; Indeks Kerusuhan berlatar belakang
INDIKATOR KINERJA RPJMD 2006 -2008 TARGET
2008
CAPAIAN 2008
Indeks Korban Kejahatan (2005=100) 99,000 262,510
Penurunan Kecelakaan Lalu Lintas (%) -2,000 -
Indeks Korban Kekerasan (2005=100) 97,000 -116,200
Indeks Perkelahian antar pelajar (2005=100) 97,000 -200,000
Indeks Kerusuhan Berlatarbelakang SARA (2005=100) 97,000 15,380
Indeks Pertikaian antar Aparat Keamanan (2005=100) 85,000 0,000
Indeks Kerusuhan Berlatar Belakang Politik (2005=100) 85,000 0,000
Indeks Konflik antar Nelayan (2005=100) 85,000 58,330

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
40
SARA; Indeks Pertikaian antar aparat keamanan (2005=100); Indeks
Kerusuhan berlatar belakang politik (2005=100);
Indek korban kejahatan (2005 = 100) pada tahun 2007 sebesar
149,24. meningkat menjadi sebesar 153,70 pada tahun 2008Pada tahun 2007
setiap 100 kejadian kejahatan mengakibatkan korban sebesar 31 jiwa dan 33
jiwa. Sementara kejahatan pada tahun 2008 meningkat seperti yang
ditunjukkan indeks kejahatan sebesar 153,70.
Pada tahun 2007 jenis pelanggaran kelengkapan surat-surat
mengalami peningkatan baik dari sisi absolut maupun persentase. Pada tahun
2006, jenis pelanggaran ini sebesar 306.561 kasus (40,08 persen) dan tahun
2007 menjadi 312.358 kasus (41,40 persen). Kondisi tersebut dimungkinkan
akibat dari makin meningkatnya jumlah kendaraan bermotor yang ada di
J awa Timur khususnya roda dua, dan diduga juga akibat dari rendahnya
kesadaran para pengguna jalan terhadap aturan-aturan berlalu lintas. J enis
pelanggaran tertinggi kedua adalah pelanggaran rambu lalu lintas. Walaupun
secara absolut maupun persentase jenis pelanggaran ini turun, namun bila
dilihat dari total 6 (enam) jenis pelanggaran menempatkan jenis pelanggaran
rambu lalu lintas pada posisi kedua terbesar setelah jenis pelanggaran
kelengkapan surat-surat dari 198.373 kasus (25,93 persen) menjadi 183.590
kasus (24,33 persen).
Naik turunnya jumlah pelanggaran lalu lintas, berindikasi pula
terhadap tinggi rendahnya jumlah kecelakaan lalu lintas. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada tabel 7.2. Pada tahun 2006 indeks kecelakaan lalu lintas
sebesar 474,21 persen atau mengalami kenaikan 4 kali lipat dibandingkan
jumlah kecelakaan tahun 2005. Sedangkan pada tahun 2007 indeks
kecelakaan sebesar 320,09 lebih kecil dibandingkan tahun 2006. Dari indeks
tersebut dapat disimpulkan, walaupun pihak kepolisian telah melakukan
berbagai upaya untuk menekan jumlah kecelakaan, namun bila tidak
didukung oleh masyarakat khususnya pengguna jalan itu sendiri maka
program tersebut tidak akan tercapai. Sementara pada tahun 2008, indeks
kecelakaan mengalami kenaikan indeks hingga mencapai 363,521.
Indeks korban kekerasan pada tahun 2008 mengalami penurunan
sebesar satu persen bila dibandingkan tahun sebelumnya. Namun jika
dibandingkan dengan tahun 2006, angka tersebut relatif turun. Korban
kekerasan ini meliputi pembunuhan, pencurian dengan kekerasan,
pemerkosaan, penganiayaan berat dan kekerasan dalam rumahtangga.
Perkelahian antar pelajar di J awa Timur cenderung meningkat. Pada
tahun 2005 terjadi 5 kali perkelahian antar pelajar, 3 terjadi di Kabupaten
Situbondo, masing-masing 1 kali terjadi di Kabupaten Tulungagung dan
Kabupaten Bojonegoro. Pada tahun 2006, jumlah perkelahian antar pelajar
meningkat cukup tajam yakni sebesar 19 kali. Ini mengindikasikan semakin
merosotnya moral pelajar di J awa Timur. Sedangkan pada tahun 2008,
perkelahian antar pelajar di J awa Timur mengalami penurunan yang cukup
signifikan. Kondisi tersebut dimungkinkan adanya pendidikan moral yang
semakin ditingkatkan dari pihak sekolah dan institusi terkait, dan
kemungkinan pula adanya sangsi yang cukup berat bagi pelajar yang terlibat
perkelahian sehingga membuat mereka jera.

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
41
Pada tahun 2007 terjadi 4 kasus kerusuhan, masing-masing terjadi di
Kabupaten Sidoarjo (1 kasus), Kabupaten J ember (2 kasus), dan Kabupaten
Nganjuk (1 kasus). Dari kasus tersebut di atas ada sejumlah 3 orang yang
menjadi korban yaitu kerusuhan yang terjadi di Kabupaten Sidoarjo. Indeks
kerusuhan berlatar belakang sara (2005 =100) tahun 2006 maupun tahun
2007 sebesar 30,77 atau mengalami penurunan sebesar 69,23 persen bila
dibanding tahun 2005. Banyaknya kasus kerusuhan tersebut mengindikasikan
bahwa masih kurang pahamnya masyarakat kita tentang pendidikan moral
pancasila. Sementara pada tahun 2008 hanya terjadi 1 kasus di Pasuruan.
J awa Timur merupakan daerah yang relatif aman tetapi juga tidak
luput dari terjadinya pertikaian antar aparat keamanan. Pada tahun 2007
masih terjadi pertikaian aparat sebanyak 2 kali dan nilai ini lebih kecil dari
tahun 2006. Penegakan disiplin yang ketat pada setiap korps mampu
meredam perselisihan tersebut.
Sejalan dengan proses pembangunan, dapat lihat dalam kurun waktu
belakangan ini sejak reformasi digulirkan pertentangan-pertentangan politik
terjadi di kelompok masyarakat Indonesia tidak terkecuali J awa Timur.
Konflik yang terjadi tidak jarang menimbulkan kerusuhan yang terjadi di
tingkat daerah. Kerusuhan berbeda dengan demontrasi, karena kerusuhan
biasanya diikuti dengan pengrusakan barang-barang, pemukulan atau
pembunuhan oleh alat keamanan atas pelaku-pelaku kerusuhan dan
penggunaan berbagai macam senjata atau alat pemukul oleh para pelaku
kerusuhan di lain pihak. Ciri lain dari kerusuhan terutama ditandai dengan
oleh spontanitas sebagai akibat dari suatu insiden dan perilaku kelompok
yang kacau.
Pada tahun 2006 kerusuhan yang diakibatkan politik terjadi di
Kabupaten Tuban dan pada tahun 2005 terjadi di Kabupaten Banyuwangi.
Pada tahun 2007 kerusuhan berlatar belakang politik tidak terjadi. Fenomena
ini tidak lepas dari kedewasaan berpolitik masyarakat J awa Timur.
J awa Timur memiliki daerah pesisir yang dapat dikembangkan
sebagai potensi ekonomi daerah. Pengembangan tersebut berdampak pada
kesinambungan ekonomi dan budaya lokal, sehingga secara langsung akan
mempengaruhi tatanan kehidupan masyarakat setempat.
Secara umum keluarga nelayan menyandarkan ekonomi pada
perolehan hasil tangkapan laut. Menurut daerah tangkapan nelayan di J awa
Timur terbagi kedalam 3 tipe daerah tangkapan yaitu di sekitar laut J awa,
selat madura dan samudera Indonesia.
Untuk memperoleh tangkapan yang diinginkan tidak jarang terjadi
gesekan antar nelayan yang disebabkan beberapa hal, antara lain :
penggunaan pukat harimau, penggunaan bahan peledak dan kesenjangan
perolehan tangkapan termasuk wilayah geografis atau area laut.
Konflik yang terjadi selama ini dapat dibedakan menjadi 2 hal yaitu
batas area tangkapan menurut batas terotorial mereka dan pengelolaan tanah
oloran di daerah pantai. Oleh karena sosialisasi pemahaman mengenai daerah
tangkapan dan pengaturan pengelolaan termasuk status hukum tanah oloran
akan dapat menekan terjadinya pertikaian nelayan di J awa Timur. Konflik
yang terjadi selama tahun 2007 ada di kabupaten Probolinggo, pasuruan dan

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
42
sidoarjo. Penyebabnya sama dengan tahun lalu yaitu perebutan tanah oloran
dan isu penyanderaan nelayan.
J ika dilihat indeksnya, dari tahun ke tahun memperlihatkan
penurunan yang cukup signifikan. Pada tahun 2007 indeks konflik antar
nelayan mengalami penurunan sebesar 16,67 bila dibandingkan tahun 2006.
Hal ini dimungkinkan adanya peningkatan sosialisasi pemahaman mengenai
daerah tangkapan dan pengaturan pengelolaan serta status hukum tanah
oloran pada nelayan.
Agenda VII : Agenda Revitalisasi Proses Desentralisasi Dan Otonomi
Daerah Melalui Reformasi Birokrasi Dan Peningkatan
Pelayanan Publik
INDIKATOR KINERJA RPJMD 2006 -2008 TARGET
2008
CAPAIAN
2008
Efektivitas Perda yang dihasilkan meningkat -
Penanganan Pengaduan di DPRD J awa Timur meningkat 100,00
Rasio jumlah dan besar kerugian negara terhadap
APBD (%)
0,320 -
Penanganan terhadap Pengaduan Pelayanan Publik meningkat -
Representasi kinerja agenda ini diukur dengan indikator Efektivitas
Perda yang dihasilkan; Penanganan pengaduan di DPRD J awa Timur; Rasio
jumlah dan besar kerugian negara terhadap APBD; Penanganan terhadap
Pengaduan Pelayanan Publik.
Berdasarkan hasil studi sosial tahun 2007 yang dilakukan BPS,
diketahui bahwa sosialisasi yang dilakukan berhubungan dengan Perda yang
diterapkan masih belum optimal. Hal ini berakibat sebagian besar responden
mengaku kurang jelas (49,85 %) dan kurang paham (45,87 %) tentang Perda
yang diterbitkan oleh pihak Pemda. Selain itu sebagian besar respoden (45,09
%) juga mengaku terkadang masih ada perbedaan persepsi tentang Perda
yang diterbitkan antara pihak aparat dan masyarakat..
Selain itu, keberadaan Petunjuk Teknis (J uknis) tentang penerapan
Perda juga sangat dibutuhkan. Tanpa adanya J uknis tersebut, bukan mustahil
Perda yang diterbitkan tidak dapat diterapkan dengan maksimal. Namun
mayoritas responden mengaku bahwa J uknis yang ada hanya bersifat umum
(49,84 %). Bahkan baru sekitar 20,84 % reponden yang mengaku mendapati
J uknis khusus yang membahas tentang Perda yang bersangkutan. Sedangkan
sekitar 21,48 % lainnya mengaku tidak menjumpai sama sekali adanya
J uknis.
Namun yang cukup menggembirakan, 55,59% responden mengaku
bahwa dampak implementasi dari penerapan Perda yang ada dirasakan baik
untuk perkembangan usaha ini. Dampak implementasi dari perda ini
memiliki arti yang sangat penting, mengingat dampak langsung akan
dirasakan oleh masyarakat.
Pengaduan-pengaduan masyarakat akibat ketidakadilan dan
ketidakpuasan akan memberikan input bagi DPRD untuk
menindaklanjutinya. Penyelesaian pengaduan dapat dilakukan dengan
klarifikasi maupun terjun kelapangan. Penyelesaian itu akan melihat subyek
yang komplain, pokok persoalan, pihak yang dikomplain. Hal ini akan

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
43
membawa dampak sampai dimana kasus atau pengaduan itu ditindak lanjuti
oleh DPRD.
Selama tahun 2008 DPRD telah menindaklanjuti 100 persen dari
sejumlah pengaduan yang masuk sebanyak 274 buah atau mengalami
penurunan dibandingkan dengan tahun 2007 sebanyak 348 buah.
Transparansi pengelolaan keuangan daerah telah menjadi tuntutan
publik, sehingga diharapkan kontrol terhadap eksekutif mudah dilakukan.
Kelengkapan institusi pemerintah yang menjadi barometer pengawasan
internal adalah Badan Pengawas Daerah (Bawasda) yang ada ditingkat
provinsi dan kabupaten. Intitusi ini mempunyai tugas mengawasi jalannya
penggunaan dan pengelolaan anggaran pemerintahan.
Pada tahun 2007 dilakukan estimasi karena data yang ada belum
tersedia. Dari tabel 8.2 terlihat tren penurunan baik dari segi kuantitas
kerugian maupun persentase terhadap APBD. Informasi yang layak mendapat
perhatian adalah temuan administrasi dan penyetoran kembali.
Dari hasil studi sosial tahun 2007, oleh BPS Propoinsi J awa Timur
yang dilakukan diketahui bahwa sebagian besar responden merasakan adanya
peningkatan kualitas pelayanan di fasilitas publik yang ada. Mulai dari
kemudahan prosedur pengurusan (62,87 %); kesesuaian persyaratan (62,81
%); keadilan dalam mendapatkan layanan (60,68 %); kewajaran biaya
(72,06 %); kenyaman di tempat pelayanan (79 %); hingga keamanan di
tempat pelayanan (89,32 %). Secara umum sekitar 69,93 persen responden
mengaku penyelenggaraan pelayanan di fasilitas publik memuaskan.
Namun untuk beberapa variabel, dari hasil studi sosial didapati
bahwa layanan belum maksimal. Seperti untuk variabel kecepatan layanan
(51,78_%), kesesuaian biaya (48,62 %) dan ketepatan waktu layanan (55,03
%); mayoritas responden mengaku kurang puas dengan layanan yang
diberikan.
Kualitas dari petugas layanan yang semakin baik juga dirasakan oleh
konsumen. Mayoritas responden memberikan nilai plus untuk kualitas
petugas di tempat pelayanan publik. Mulai dari kejelasan petugas (66,19 %);
kedisiplinan petugas (66,55 %); tanggung jawab petugas (73,73 %);
kemampuan petugas (87,54 %) hingga kesopanan dan keramahan petugas
(88,17 %).
Walaupun belum semua responden merasakan hal serupa, namun hal
itu patut dibanggakan, mengingat tingkat kepuasan seseorang merupakan
suatu hal yang relatif. Namun yang perlu diingat bahwa kualitas pelayanan
publik harus senantiasa ditingkatkan, mengingat beberapa faktor masih
dinilai kurang optimal oleh responden. Misalnya faktor kecepatan dan
ketepatan waktu layanan, serta kesesuaian biaya dengan yang telah
ditetapkan masih sering dikeluhkan oleh responden.
2) Kinerja Dan Hambatan Pelaksanaan Agenda Pembangunan Pemerintah
Provinsi Jawa Timur
Kinerja agregat 7 (tujuh) agenda pembangunan yang ditetapkan
dalam RKPD Tahun 2008 dan RPJ MD 2006-2008 secara keseluruhan apabila
dibandingkan dengan target pencapaiannya, dapat disimpulkan bahwa dari 45
target indikator kinerja dalam RPJ MD pada Tahun 2008, terdapat 22

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
44
indikator (48,89%) yang telah mencapai target, dan 16 indikator (35,56%)
belum tercapai, sedangkan 7 indikator (15,56%) tidak dapat diketahui.
Kondisi ini dapat dinyatakan LEBIH BAIK apabila dibandingkan
dengan capaian kinerja Tahun 2007 dimana target tercapai 22 indikator, tidak
tercpai targetnya 10 indikator, tidak jelas target dan realisasinya 11 indikator
serta target persis sama/dibawah target nasional 2 indikator. Apalagi di tahun
2008 factor ekstern krisis keuangan global dan kebijakan Pemerintah pusat
yang menaikkan harga BBM dua kali sehingga mengakibatkan perekonomian
J awa Timur turut terkena dampak stagflasinya perekonomian nasional.
Sedangkan ditinjau dari sisi dana yang dialokasikan untuk mencapai
target indikator kinerja agregat yang ditetapkan pada tahun Anggaran 2008
untuk Belanja Langsung sebesar Rp2,090 Trilyun dan terealisasikan sebesar
Rp2,471 Trilyun atau sebesar 18,23 %, hal ini secara umum dapat dimaklumi
mengingat stagflasi yang menimbulkan permasalahan krusial baru yaitu
perdagangan ekspor turun drastis, investasi belum signifikan, tertundanya
pembangunan infrastruktur, subsidi biaya kesehatan masyarakat miskin, dlsb
telah begitu banyak menyerap alokasi anggaran belanja langsung dari yang
diperkirakan sebelumnya.
Hambatan/permasalahan dan kendala yang ada dalam pencapaian
target yang ditetapkan ditinjau dari aspek pelaksanaan program maupun
pendanaan tahun 2008, sebagai berikut:
a) Masalah Pengamalan Nilai-Nilai Agama
Banyaknya Guru Madrasah Diniyah yang kurang memenuhi standart
kompetensi sebagai Guru
Banyaknya sarana prasarana Madrasah Diniyah, TPA/TPQ, MI,
MTs dan MA kurang memenuhi persyaratan
Sejalan dengan era keterbukaan, semakin kompleknya permasalahan
bangsa sangat rentan terjadinya konflik baik vertikal maupun konflik
horizontal
Banyaknya sarana ibadah dan pondok pesantren yang kurang
memenuhi persyaratan
Terbatasnya sumber dana untuk mendukung kegiatan lembaga-
lembaga keagamaan
Masih belum dipahaminya norma keagamaan secara utuh sehingga
terjadi penyimpangan-penyimpangan
Masih rendahnya keimanan dan ketaqwaan masyarakat terhadap
ajaran agama yang diyakini.

b) Masalah Aksesibilitas dan Kualitas Pendidikan dan Kesehatan
i) Pendidikan
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi
J awa Timur Tingkat pendidikan penduduk Provinsi J awa Timur
relatif masih rendah.
Masih ada sekitar 81,80% anak usia 2-4 tahun belum
mengenyam PAUD dan 41,55% anak usia 5-6 tahun yang belum
mengenyam pendidikan TK/RA.
Kesadaran orangtua terhadap Program PAUD kurang

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
45
Lembaga PAUD belum merata di desa-desa
Keluarga dari ekonomi lemah tidak mampu membiayai secara
mandiri
Masih ada sekitar 0,26 persen penduduk usia 7-15 tahun yang
belum menyelesaikan Program Wajar Dikdas 9 Tahun. Dari hasil
evaluasi diantara mereka adalah penyandang buta aksara, warga
masyarakat yang miskin dan kondisi tempat tingggal mereka
jauh dari akses jalan.
Penyebaran guru SD/MI, SMP/MTs yang kurang merata di
daerah perkotaan dan pedesaan
Salah satu faktor yang diyakini sebagai penyebab rendahnya
angka melanjutkan ke Sekolah Menengah (SM)
(SMA/MA/SMK) adalah karena jumlah SM yang jauh lebih
sedikit dibandingkan jumlah SMP/MTs (daya tampungnya lebih
rendah dari pada lulusan SMP/MTs). Faktor lain yang juga
diyakini sangat dominan mempengaruhi angka melanjutkan
lulusan SMP/MTs ke SMA/MA/SMK adalah karena pada
umumnya SMA/MA/SMK berada di perkotaan sehingga menjadi
kendala bagi lulusan SMP/MTs yang tinggal di daerah pedesaan,
juga karena biayanya yang relatif lebih tinggi, sebagai akibat
dari relatif lebih tingginya biaya investasi maupun biaya
operasional pembelajaran utamanya untuk praktik mata pelajaran
produktif.
Penyandang buta aksara umumnya disebabkan karena kondisi
masyarakat yang miskin dan kondisi tempat tingggal mereka
jauh dari akses jalan.
Belum semua guru/pendidik memiliki kualifikasi pendidikan
yang disyaratkan;
Ketersedian guru/pendidik yang belum memadai baik secara
kualitas maupun kwantitas;
Masih adanya guru mata pelajaran yang latar belakang
pendidikannya tidak sesuai dengan pelajaran yang diajarkan
ii) Kesehatan
J umlah dukun masih lebih banyak dibandingkan dengan jumlah
bidan (3:2)
Pemahaman & kesadaran masyarakat untuk melahirkan di
petugas kesehatan belum merata
Ketersediaan tenaga & alat pada penanganan gawat darurat
obstetri maternal (ibu) , neonatal (bayi baru lahir) masih terbatas
Perencanaan dan dukungan kebijakan terkait pelayanan
kesehatan ibu dan anak masih terkotak-kotak.
Belum semua anak mendapat kualitas pelayanan yang standar
MTBS (manajemen terpadu balita sakit)
Belum semua anak memperoleh pemantauan tumbuh kembang
dan stimulasi
Progam kesehatan pengembangan belum diprioritaskan dalam
pelaksanaannya

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
46
Dana untuk program kesehatan pengembangan belum
dialokasikan sebagai prioritas anggaran
Tenaga kesehatan di Kab/Kota walaupun pernah dilatih tetapi
banyak yang pindah kelain bagian sehingga mengganggu
kesinambungan program kesehatan khusus.
Kurangnya sarana prasarana pendukung kegiatan
Belum optimalnya koordiansi lintas program dan lintas sektor
Pencatatan pelaporan belum tertata dengan baik
Propinsi J awa Timur mempunyai 54 RS pemerintah (umum dan
khusus), sampai saat ini yang sudah terakreditasi sebanyak 31 RS
(57,4%), sedangkan untk taget dari Departemen Kesehatan
adalah 75% jadi masih teradi kesenjangan 17,6%.
Pengaturan penempatan tenaga dokter spesialis secara merata
dan jaminan kesejahteraan oleh pemerintah daerah
Sistem Informasi Rumah Sakit yang online dan bisa diakses di
seluruh Indonesia dan sistem Rujukan.
Sarana Produksi Obat Tradisional Dan Kosmetik
- Sumber daya alam tumbuhan obat dan bahan kosmetik
berbahan alam belum semua dapat dikelola secara optimal
dan kegiatan kegiatan budidaya dan produksi belum
diselenggarakan secara professional karena iklim usaha yang
tidak kondusif, tidak ada jaminan pasar dan harga
sumberdaya alam, sumber daya manusia dan pengolahan.
- Upaya pengembangan obat tradisional dan kosmetika
berbahan alam kurang terkoordinasi dengan baik, pihak
terkait seperti pemerintah, industri, pendidikan dan penelitian
dan provider kesehatan belum bekerjasama secara sinergis
dengan optimal
- Sebagian besar Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT) dapat
digolongkan sebagai industri rumah tangga dengan fasilitas
dan sumber daya yang sangat minimal.
- Masih ada Obat Tradisional yang tidak memenuhi syarat
mengandung bahan kimia (BKO) dan Kosmetika berbahan
alam yang ditambah bahan kimia yang tidak memenuhi
syarat dan melebihi kadar.
Sarana Distribusi Obat Tradisional dan Kosmetika
- Masih ditemuinya obat tradisional dan kosmetika di sarana
distribusi yang tidak memenuhi syarat penandaan dan
periklanan.
- Masih ada sebagian obat tradisional dan kosmetika yg
beredar tidak memenuhi syarat Cara pembuatan Obat
Tradisional yang baik (CPOB) dan Cara pembuatan
Kosmetika yang baik (CPKB).
- Masih belum optimal kesadaran konsumen dan masyarakat
terhadap penggunaan Obat Tradisional dan Kosmetik yang
layak dikonsumsi.

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
47
- Masih ada Obat Tradisional dan Kosmetik yang beredar
tanpa izin edar atau no. Registrasi /no pendaftaran.
- Masih ditemukan produk OT dan kosmetik di pasaran yang
dilarang beredar
Kurangnya kesadaran masyarakat tentang keamanan makanan
Kurangnya pengetahuan produsen tentang cara produksi
makanan yang baik
Masih dijumpainya bahan tambahan makanan yang dilarang
untuk makanan seperti boraks, formalin dan rhodamin-B,
berdasarkan hasil sampling jajanan anak sekolah dan makanan
kemasan industri rumah tangga
Masih dijumpai peredaran makanan dan minuman yang tidak
memenuhi syarat peraturan pemerintah seperti izin edar, masa
kadaluarsa dan kemasan yang rusak
Masih ada kendala penerapan software SIPNAP berupa :
- Beberapa jenis obat belum masuk dalam data base
- Proporsi jumlah petugas dan hardware untuk beberapa
kab/kota tidak seimbang, sehingga entry data kurang lengkap
- Petugas yang telah dilatih mutasi.
- Sarana dan pra sarana penunjang dalam pelayanan informasi
keracunan masih terbatas.
Masih ada sekitar 35% TTU di J atim yg belum memenuhi syarat
hygiene sanitasi
Kesadaran pengusaha TTU untuk ikut berperan dalam menjaga
kondisi hygiene sanitasi tempat usahanya belum optimal
Masih ada sekitar 40% rumah di J atim yg belum memenuhi
syarat sanitasi dasar
Kondisi ekonomi masyarakat yg kurang mendukung perbaikan
sanitasi dasar rumah tinggal
Masih ada 28% TPM yang tidak memenuhi syarat sehat
Masih ada 35% TP pestisida yang tidak memenuhi syarat sehat
Belum optimalnya perencanaan anggaran yang dialokasikan
untuk kegiatan Posyandu (Perencanaan anggaran belum
melibatkan lintas program & lintas sektor).
Kurangnya koordinasi terutama dengan lintas sektor
Pembinaan yang dilakukan belum dilaksanakan secara
rutin/berkala
Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang desa siaga
Kurangnya sosialisasi desa siaga bagi lintas sector di Tingkat
Propinsi, Kab/Kota, Kecamatan dan desa
Masih tingginya ketergantungan masyarakat akan dukungan dana
dari pusat, Propinsi, kab/Kota, Kecamatan dan desa dalam
pengembangan desa siaga
Kurangnya pengetahuan, kemauan dan kemampuan masyarakat
dalam menggerakan dan mengembangkan desa siaga (lemahnya
pemberdayaan masyarakat)

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
48
Kurangnya dukungan sumberdaya di kab/Kota, kecamatan dan
desa
Belum optimalnya perencanaan anggaran yang dialokasikan
untuk kegiatan program pengembangan UKBM (perencanaan
anggaran belum melibatkan lintas program dan lintas sektor)
Kurangnya koorinasi teutama dengan lintas sektor
Pembinaan yang dilakukan belum dilaksanakan secara
rutin/berkala
Masih belum optimalnya informasi program-program kesehatan
yang disosialisasikan ke masyarakat.
Profesionalisme, tenaga kesehatan yang profesional
Pelatihan peningkatan kemampuan operasional
Waktu/siklus perencanaan yang tidak pasti dan kebijakan yang
sering berubah membuat dokumen perencanaan sering kurang
focus terhadap capaian/indicator yang diharapkan
Kerjasama antar daerah belum semua ditindaklanjuti oleh
program dan daerah lain
Kunjungan rumah sakit baik Rawat Inap maupun Rawat J alan
setiap tahun selalu mengalami peningkatan sehingga sangat
memerlukan penambahan tenaga khususnya paramedis
keperawatan.
Meningkatnya biaya operasional yang tidak diimbangi dengan
peningkatan tarif, sehingga diperlukan biaya subsidi yang makin
tinggi
Dengan belum dilakukan Badan Layanan Umum (BLU) di
Rumah Sakit Provinsi, maka dirasakan kesulitan dalam proses
pengelolaan keuangan dan perubahan tarif rumah sakit
Masih kurangnya kelengkapan sarana dan prasarana yang
dimiliki RSU Haji Surabaya sertadengan semakin meningkatnya
jumlah kunjungan pasien dirawat jalan khususnya poli jantung,
maka semakin meningkat pula tren penyakit jantung, khususnya
pada masyarakat miskin. Sehingga untuk meningkatkan
pelayanan dan kualitas hidup masyarakat makin dibutuhkan alat
penunjang diagnostik canggih (Angiographi) yang selama ini
dimiliki oleh rumah sakit swasta, sehingga tarif pelayanan tidak
terjangkau oleh masyarakat miskin.
Dengan semakin meningkatnya jumlah kunjungan pasien
utamanya yang memerlukan tindakan operasi maka diperlukan
ruang operasi yang memenuhi standar pelayanan. Mengingat
tingginya angka infeksi nosokomial di ruang operasi, maka ruang
operasi yang ada belum dapat dimanfaatkan secara optimal.
Mengingat tingkat hunian rumah sakit sangat tinggi (80%)
sehingga sering merujuk pasien maka diperlukan penambahan
gedung rawat inap sehingga diharapkan akan meningkatkan
kualitas pelayanan dan kenyamanan serta menambah kuantitas
pelayanan khususnya rawat inap
BOR (Bed Occupancy Rate) yang cenderung menurun.

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
49
Adanya kebijakan jaminan Askeskin yang belum stabil, sehingga
mempengaruhi jumlah pasien yang menggunakan jasa layanan
RS.
Masih kurangnya jumlah tenaga dokter (terutama dokter spesialis
jiwa) dan perawat jika dibandingkan dengan jumlah pasien yang
harus dilayani.
Kurang berjalannya kegiatan integrasi kesehatan jiwa bagi
RS/Puskesmas karena kurangnya dana dan tenaga medis yang
dimilliki RS J iwa Menur.
Belum semua kebutuhan RS terpenuhi melalui dana APBD,
sementara pendapatan RS sudah dioptimalkan, sehingga biaya
operasional RS masih membutuhkan tambahan dana subsidi.
Masih tingginya Alos (Average lengt of stay) yang menunjukan
mutu pelayanan kurang optimal.
Kebijakan jaminan Askeskin yang belum stabil, sehingga
mempengaruhi jumlah pasien yang menggunakan jasa pelayanan
RS.
Tidak ada dokter Spesialis, khususnya Spesialis Kulit &
Kelamin yang merupakan kebutuhan utama tenaga dokter bagi
RS. Kusta Kediri.
Kurangnya tenaga perawat, yang saat ini rasio tenaga perawat
dengan pasien 1 : 22, yang idealnya 1 : 4.
Kurang berjalannya kegiatan integrasi pelayanan penyakit kusta
bagi RS/Puskesmas/masyarakat karena kurangnya dana dan
tenaga medis yang dimilliki RS Kusta Kediri.
Belum semua kebutuhan RS terpenuhi melalui dana APBD,
sementara pendapatan RS sudah dioptimalkan, sehingga biaya
operasional RS masih membutuhkan tambahan dana subsidi
Alokasi dana pembangunan tidak mencukupi sehingga
penambahan ruang rawat inap kelas III tercapai untuk 8
(delapan) tempat tidur saja sehingga masih perlu menambah 12
(dua belas) atau 210 M
2
.
Program pengembangan SDM belum optimal.
iii) Masalah Kemiskinan, Kesenjangan, dan Pengangguran
(1) Masalah Kemiskinan
Kurangnya kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang
kesetaraan gender karena pengaruh budaya patriarkhi dan
interprestasi agama yang bias gender
Masih adanya kebijakan yang belum sensitive gender
Diskriminasi dalam kesempatan untuk memperoleh
pendidikan, kesempatan kerja khususnya pada keluarga yang
terbatas ekonomi
Keterpaduan program penanggulangan kemiskinan yang
diharapkan oleh program Gerdu-Taskin belum dapat
terwujud, diantanranya adalah :
Keterpaduan Lokasi. Program-program pengentasan
kemiskinan yang berasal dari Pusat seringkali dalam

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
50
penentuan lokasi tidak disinkronkan dengan peta
Desa/Kelurahan Miskin yang sudah dimiliki oleh Pemerintah
Daerah;
Keterpaduan Pendanaan. Program Gerdu-Taskin selama ini
baru didanai dari Pemerintah Kabupaten/Kota dan
Pemerintah Propinsi sedangkan Pemerintah Pusat belum
menganggarkan;
Keterpaduan kelembagaan. Program-program pengentasan
kemiskinan yang masuk ke Desa/Kelurahan tidak perlu
membentuk lembaga baru, tetapi memanfaatkan lembaga
yang sudah ada di Desa/Kelurahan, misalnya UPK;
Belum seluruh Kabupaten/Kota mengalokasikan dana
sharing yang besarnya sesuai ketentuan dan pengalokasian
dana sharing masih banyak dilakukan melalui P-APBD;
Masih kurangnya perhatian Pemerintah Kabupaten/Kota
terhadap pelestarian pasca program utamanya pembinaan dan
penguatan kelembagaan UPK;
Masih kurangnya alokasi pendanaan Gerdu-Taskin
sehingga jangkauan lokasi sangat terbatas sementara target
lokasi Desa/Kelurahan Merah dan Kuning masih banyak.
Keterbatasan pendanaan juga mempengaruhi alokasi waktu
pendampingan oleh Tenaga Pendamping Masyarakat sangat
terbatas hanya 10 bulan, sementara idealnya pendampingan
dilakukan minimal 3 tahun berturut-turut;
Belum adanya dukungan pendanaan dari APBN,
Masih ada sebagian masyarakat yang menganggap dana
Gerdu-Taskin merupakan dana hibah
Dalam pelaksanaan Lomba Desa dan Kelurahan, banyak
kegiatan yang kurang atau tidak ada hubungan dengan
Lomba, namun sulit untuk dihindari, misalnya acara
seremonial penerimaan Tim Penilai Lomba
Dalam pelaksanaan Program, banyak hal yang kurang atau
tidak dipahami oleh Masyarakat sehingga pelaksanaan
Program kurang mengarah kesasaran, misalnya: kurang
adanya keterlibatan pihak swasta untuk mendukung
pelaksanaan program PWTAD
Pelaksanaan program di daerah banyak mengalami hambatan
dikarenakan pemahaman terhadap petunjuk teknis masih
kurang;
Kurangnya dukungan dana sharing dari Daerah/
Kabupaten/Kota lokasi kegiatan (APBD Kab./Kota) terhadap
program-program yang masuk di daerahnya
Pelaksanaan program di daerah banyak mengalami hambatan
dikarenakan pemahaman terhadap petunjuk teknis masih
kurang;

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
51
Kurangnya dukungan dana sharing dari Daerah/
Kabupaten/Kota lokasi kegiatan (APBD Kab./Kota) terhadap
program-program yang masuk di daerahnya
Pelaksanaan program di daerah banyak mengalami hambatan
dikarenakan pemahaman terhadap petunjuk teknis masih
kurang;
Kurangnya dukungan dana sharing dari Daerah/
Kabupaten/Kota lokasi kegiatan (APBD Kab./Kota) terhadap
program-program yang masuk di daerahnya
Perguruan Tinggi / LSM pendamping masih kurang intens
mendampingi UPK;
Tenaga Ahli dari Perguruan Tinggi/LSM pendamping belum
memberikan kontribusi pd pengembangan potensi unggulan;
Pemberdayaan Usaha belum dilaksanakan secara optimal,
karena PT yg mendampingi belum maksimal;
UPK banyak melakukan kesalahan2 dan kurang memahami
kegiatan USP dan kemitraan.
Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM) belum maksimal
memfasilitasi cara-cara pembukuan yg baik
Kabupaten lokasi PPEK ada yang terlambat dalam pencairan
dana sharing sebesar minimal 30% dari alokasi dana APBD
Propinsi;
Terbatasnya koalitas SDM masyarakat dalam mengelola
program dan mengembangkan usa;
Terbatasnya kemampuan mengakses pasar, sehingga
kesulitan dalam memasarkan produk unggulan;
Belum meratanya masyarakat di lokasi kawasan sebagai
penerima/pemanfaat (sasaran target group) program karena
terbatasnya modal;
Belum optimalnya stakeholder dalam pelaksanaan program;
Sering terlambatnya pencairan dana sharing program
sehingga memperlambat realisasi pelaksanaan kegiatan
program
Kemampuan penyertaan dana dari APBD Kabupaten,
sebesar 20% dari BLM di setiap Kabupaten lokasi tidak
sama;
Pembiayaan untuk para pelaku di tingkat Kecamatan dan
Desa yang dananya dari APBD Kabupaten besarnya tidak
merata, sehingga menimbulkan kecemburuan.
(2) Kesenjangan Sosial
Kurangnya pemahaman masyarakat tentang kesetaraan
gender dan masih adanya kebijakan yang belum sensitive
gender dan responsif terhadap perlindungan anak
Dengan terbatasnya anggaran maka besaran biaya
operasional untuk Kab/Kota, Camat dan Lurah/Kepala Desa
serta untuk pendamping masih belum proporsional, padahal
letak geografis masing-masing Kab/Kota berbeda-beda.

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
52
Kab/Kota masih ragu-ragu dalam menetapkan lokasi Desa/
Kelurahan yang menerima bantuan dana J PES karena
dianggap yang menetapkan lokasi adalah Pemprop J atim.
Pelaksanaan koordinasi pada tingkat propinsi tidak ada
hambatan/permasalahan yang terjadi karena semuanya
berjalan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan, hal
ini tercermin dari prosentase penyerapan anggaran yang
mencapai 99,98 %.
Munculnya keluarga berumah tidak layak huni, keluaga
rentan dan keluarga fakir miskin, Anak Korban tindak
kekerasan dan perlakuan salah, lanjut usia terlantar, anak
terlantar dan anak jalanan, penyandang cacat, disamping
kerena factor lain justru sebaliknya juga dapat
memunculkannya masalah kemiskinan (bagai lingkaran
seta).
Keterbatasan sarana dan Prasarana di Panti Pemerintah
Keterbatasan SDM di dalam Panti
Komitmen Kabupaten / Kota masih belum merata tentang
pembangunan Bidang Kesejahteraan Sosial, apalagi sering
dipersoalkan bahwa PMKS yang ada bukanlah penduduk
setempat.
Tidak adanya Pembinaan Fungsional di daerah yaitu petugas
sosial kecamatan yang melakukan pembinaan kelembagaan.
Misalnya : Karang Taruna, Pekerja Sosial Masyarakat
(PSM), Orsos dll.
Sebagian besar kelembagaan dalam menjalankan fungsinya
tidak didukung dana operacional.
Kurangnya pengetahuan masyarakat dalam Mendeteksi
bencana alam.
Kurangnya informasi penanganan bencana alam dan
distribusi bantuan bencana alam yang lokasinya terkena
bencana
Keterbatasan SDM Pelaksana di Satuan kerja Kab./Kota
tidak sesuai dengan bidang tugas atau kompetensinya,
khususnya pembangunan bidang kesejahteraan sosial.
Kurangnya Koordinasi antar Kabupaten/Kota dalam
penanganan PMKS.
Adanya Otonomi daerah, pemerintah Kabupaten/Kota
menganggap bahwa kewenangan hanya sampai di tingkat
Kabupaten/KoTA
(3) Pengangguran
Lowongan kerja yang terdaftar baik dari Dalam maupu Luar
Negeri tidak dapat diisi sepenuhnya dikarenakan kualifikasi
pencaker tidak memenuhi persyaratan jabatan yang diminta,
terutama dari segi ketrampilan kerja
Rendahnya semangat angkatan kerja untuk berwira usaha
dalam kegiatan ekonomi produktif dan masih tingginys

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
53
kecenderungan orientasi menjadi pegawai negeri.
Penyebabnya adalah kurangnya motivasi dan ketersediaan
modal usaha serta belum terkondisinya mekanisme
pemasaran.
Sarana dan fasilitas di BLK rata-rata sudah usia tua dan
sudah tidak sesuai dengan perkembangan teknologi, hal ini
akan berdampak pada kinerja pelayanan pelatihan
ketrampilan di BLK
Semakin berkurangnya jumlah tenaga Instruktur di BLK
dikarenakan banyak yang sudah pension namun tidak ada
penambahan (regenerasi instruktur)
Rendahnya tingkat kesejahteraan buruh/pekerja yang
mengakibatkan timbulnya perselisihan hubungan kerja dan
PHK.
Terbatasnya petugas pengawas ketenagakerjaan di Kab/kota
berdampak terbatasnya aspek perlindungan dan penegakan
aturan ketenagakerjaan di perusahaan.
iv) Masalah Percepatan Pembangunan Ekonomi dan Pembangunan
Infrastruktur.
Perekonomian J awa Timur pada tahun 2008 secara
keseluruhan menunjukkan penurunan, dari target sebesar 6,30%
tercapai sebesar 5,85%. Pertumbuhan ini masih dibawah capaian
tahun 2007 sebesar 6,11%. Kontribusi terbesar pertumbuhan
ekonomi J awa Timur tahun 2008 masih didominasi oleh sektor
kosumsi.
Kebijakan pemerintah mengenai kenaikan harga BBM dalam
negeri hingga 2 (dua) kali ditambah dengan terjadi krisis keuangan
global yang melanda di berbagai negara termasuk Indonesia,
menjadikan kondisi perekonomian mengalami stagflasi. Imbasnya
sector perdagangan turun, transportasi semakin mahal, kinerja
perbankan mengalami penurunan. Belum lagi masyarakat masih
dihadapkan pada belum mantapnya stock konversi penggunaan
bahan bakar minyak tanah untuk memasak dan industry menjadi Gas
LPG, serta tidak adanya stock pupuk pertanian sehingga harga pupuk
menjadi mahal dan tak terjangkau petani.
Krisis keuangan global berdampak pada investasi yang
masih rendah dan kinerja perusahaan mengalami penurunan,
sehingga ancaman PHK menghantui masyarakat J awa Timur. Disisi
lain ketimpangan wilayah di J awa Timur menunjukkan peningkatan
terutama untuk kawasan selatan J awa Timur, Madura dan
Kepulauan.
v) Masalah Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup
(1) Sumber Daya Alam
Kesempatan memperoleh pendidikan dan pelatihan bagi
setiap pegawai kurang merata dan kurang pemberdayaan
pegawai
Rendahnya tingkat profesionalitas pegawai karena beban

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
54
kerja pada masing-masing pegawai kurang proporsional
Pengelolaan bidang pertambangan umum di Kabupaten/Kota
se J awa Timur belum dapat dilakukan secara utuh dan
terpadu, baik dari aspek perencanaan, pelaksanaan maupun
pengawasan, karena persepsi terhadap peraturan perundang-
undangan dan struktur kelembagaan yang ada berbeda di
masing-masing kabupaten/kota, serta keterbatasan sumber
daya manusia yang menangani bidang pertambangan di
kabupaten/koTA
Pelaksanaan kegiatan usaha tambang sering menyebabkan
kerusakan lingkungan karena para pelaksana usaha tambang
kurang peduli terhadap teknik dan tata cara penambangan
yang benar sesuai ketentuan yang berlaku, termasuk upaya
perlindungan kesehatan dan keselamtan kerja serta
lingkungannya.
Berkembangnya kegiatan Pertambangan Tanpa Ijin (PETI) di
kabupaten/kota termasuk penambangan pasir di sepanjang
Kali Brantas, Kali Surabaya, Kali Porong dan Kali Marmoyo
baik yang menggunakan peralatan manual (tradisional)
maupun peralatan mekanis, disebabkan karena kurangnya
pengawasan dan upaya penegakan hukum.
Di bidang Kegeologian, sering terjadi bencana alam seperti
longsor dan banjir bandang yang diikuti timbulnya banyak
kerugian harta benda maupun jiwa.
Hal tersebut disebabkan karena kurang pedulinya masyarakat
dan aparat terhadap potensi bahaya yang ditimbulkan oleh
fenomena-fenomena kegeologian, dan kurangnya informasi
kepada masyarakat tentang pengelolaan resiko bencana alam,
serta belum digunakannya informasi geologi lingkungan
dalam perencanan tata ruang dan wilayah
Rencana Umum Kelistrikan Daerah (RUKD) yang bersifat
regional belum disusun. Hal ini disebabkan sebagian
pemerintah kabupaten/kota belum menyusun RUKD sebagai
acuan Pemerintah Propinsi dalam menyusun RUKD
propinsi.
Masih banyak daerah-daerah di pedesaan terpencil yang
belum teraliri listrik oleh PLN, karena pembangunan
infrastruktur jaringan listrik membutuhkan biaya yang besar
namun kurang ekonomis dan ketersediaan listrik kurang
sebanding dengan kebutuhan yang ada
Pengelolaan air tanah di J awa Timur secara umum belum
dilaksanakan secara terpadu (belum semua kabupaten/kota
menerbitkan izin berdasarkan rekomendasi teknik Gubernur
atau Menteri). Hal tersebut disebabkan oleh perbedaan
persepsi dalam menyikapi peraturan perundang-undangan,
beragamnya tingkat kelembagaan yang membidangi air tanah
di kabupaten/ kota, belum adanya Peraturan Daerah yang

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
55
mengatur pengelolaan air tanah di kabupaten/ kota dan
keterbatasan sumber daya manusia dalam hal teknis
pengelolaan air tanah.
Pengambilan air tanah sering menimbulkan dampak negatif
terhadap lingkungan dan air tanah itu sendiri seperti
penurunan muka air tanah secara drastis, munculnya intrusi
air laut di daerah pantai dan bahkan menyebabkan penurunan
muka tanah (subsidence). Hal tersebut disebabkan karena
meningkatnya intensitas pengambilan air tanah yang tidak
diimbangi dengan kegiatan konservasi secara memadai, serta
diperparah dengan meningkatnya perubahan fungsi lahan di
daerah resapan air tanah, sementara itu kesadaran masyarakat
terhadap pelestarian air tanah masih sangat rendah.
Pemerintah Propinsi tidak dapat berperan aktif dalam
pengelolaan sumber energi dari minyak dan gas bumi, karena
kewenangan pengelolaan Minyak dan Gas Bumi masih
berada di Pusat.
Penerimaan daerah yang berasal dari bagian hasil
perimbangan ( royalty ) di bidang minyak dan gas bumi
kurang proporsional, karena Pemerintah pusat kurang
transparan dalam perhitungan bagi hasil tersebut.
Masih banyak penyimpangan terhadap tata niaga BBM dan
pelumas, karena kewenangan pengelolaannya masih berada
di Direktorat J enderal Migas Departemen Energi dan Sumber
Daya Mineral.
Pemanfaatan energi alternatif kurang berkembang, padahal
sumber daya ini cukup besar. Hal ini disebabkan karena nilai
ekonomis energi alternatif masih belum dapat bersaing
dengan energi konvensional (migas)
Kurang intensifnya kegiatan sosialisasi kepada masyarakat
tentang penggunaan energi alternatif sehingga masyarakat
belum banyak yang mengetahui keuntungan menggunakan
energi alternatif
(2) Lingkungan Hidup
Pencemaran Kali Surabaya melebihi baku mutu sesuai
peruntukan penyediaan air baku air minum.
Sebagian besar (+60%) pencemaran Kali Surabaya berasal
dari limbah domestik.
Kesadaran dan kepedulian bersih lingkungan belum merata
di lingkungan masyarakat
Hasil pengkajian Kali Surabaya menunjukkan bahwa
diperlukan 74 cluster pembuangan limbah domestik tanpa
IPAL dan akhir tahun 2008 telah dibangun 2 cluster yang
menggunakan IPAL Domestik Komunal
Masih banyak dunia industri yang belum melaksanakan
program produksi bersih dan sistem managemen lingkungan
ISO 14001.

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
56
Industri rokok dan Perkebunan tembakau yang tersebar di
Kab/Kota di J awa Timur belum menerapkan SML mengacu
pada AMDAL masih banyak yang belum populernya
penggunaan pupuk organic bagi tanaman tembakau.
Lab lingkungan daerah belum sepenuhnya siap menjadi
laboaratorium lingkungan terakreditasi..
Kesadaran dan partisipasi masyarakat serta dunia usaha
dalam pengelolaan lingkungan perkotaan belum optimal.
Meningkatnya beban pencemaran akibat aktivitas industri
maupun domestik
Masih banyaknya usaha/kegiatan yang belum dapat
memenuhi persyaratan berkaitan dengan peraturan
pengelolaan limbah B3.
Penanganan limbah padat disebagian industri besar tembakau
dan pendukungnya masih dilakukan dengan cara membakar,
mengumpulkan di TPS dan mengembalikan ke industri
utamanya
Belum memasyarakatnya sumur resapan dikalangan
masyarakat luas.
Masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap konservasi
tanah dan air
Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pemeliharaan
hasil penanaman di daerah.
Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kelestarian
mangrove karena mengutamakan penangkapan ikan
Pelaksanaan Program Adiwiyata di J awa Timur masih belum
bersinergi antara program yang ditangani oleh Badan
Lingkungan Hidup Provinsi dan Dinas Pendidikan Provinsi
termasuk juga yang ada diKab/KoTA
Pembinaan dan fasilitasi Kab/kota terhadap sekolah masih
kurang
Pemahaman industri dalam melaksanakan pengendalian
udara emisi, peraturan yang berlaku termasuk aspek
pelaporan belum berjalan optimal.
Pengelolaan limbah padat B3 membutuhkan spesifikasi yang
rumit, penanganan khusus dan membutuhkan biaya
Sesuai beban kerja sebagaimana diatur di dalam Peraturan
Pemreintah Nomor 41 Tahun 2007 pewadahan 18 Sub-sub
Bidang dan permasalahan lingkungan hidup yang semakin
komplek maka wadah yang dapat mengatasi permasalahan
tersebut adalah dalam bentuk Badan. Sedangkan lembaga
lingkungan hidup daerah yang ada masih ada yang berbentuk
Kantor atau bagian.
vi) Masalah Penyelenggaraan Otonomi Daerah, Penegakan
Supremasi Hukum dan HAM, Ketentraman dan Ketertiban
(1) Otonomi Daerah

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
57
Penyelenggaraan diklat, tugas belajar, ijin belajar, kursus, in
house training menjadi bagian penting dalam meningkatkan
kompetensi PNS. Penyelenggaraannya seharusnya
didasarkan pada informasi kebutuhan yang akurat dari setiap
instansi perangkat daerah. Fakta di lapangan menunjukkan
bahwa Analisis Kebutuhan Diklat (AKD) belum dilakukan
optimal dikarenakan sistem, prosedur dan SDM
pelaksanaanya belum dikembangkan sebagaimana mestinya.
Kebijakan penyelenggaraan Diklatpim yang bertujuan
menyiapkan kader bagi pimpinan dan pejabat struktural
sudah tersusun dengan baik, namun dalam implementasinya
masih ditemukan permasalahan. Akibatnya jumlah alumni
Diklatpim berlimpah dan akhirnya tim Baperjakat
dihadapkan pada pilihan yang tidak porposional. Dari sisi
masyarakat pegawai melahirkan persepsi bahwa alumni
Diklat tidak menjadi pertimbangan pengangkatan dalam
jabatan.
Penegakan hukuman disiplin khususnya yang terkait dengan
kode etik dan nilai-nilai PNS relatif dapat diselesaikan
dengan baik. Hal ini berbeda ketika seorang PNS terlibat
permasalahan hukum pidana yang penyelesaiannya ada di
lembaga peradilan. Ketetapan sanksi PNS yang tersangkut
hukum pidana harus menunggu keputusan pengadilan yang
mempunyai kekuatan hukum tetap. J ika keputusan
pengadilan berjalan lancar akan membantu proses ketetapan
sanksi bagi PNS dan sebaliknya akan membuat
permasalahan berlarut-larut. Bahkan beberapa diantaranya
dalam hal karier diperlakukan sama dengan PNS lainnya.
Kemudian dalam hal pengajuan ijin ke luar negeri, pada
umumnya pengajuan ijin ini disampaikan dengan waktu
mendekati jadwal keberangkatan. Bagi pengelola
kepegawaian pengajuan demikian menjadi masalah tersendiri
karena dibatasi waktu yang singkat.
Wacana yang berkembang tentang peningkatan kesejahteraan
PNS pada umumnya berujung pada kebutuhan dana yang
sangat besar, terutama di Pemerintah Propinsi J awa Timur
dengan jumlah pegawai lebih dari 23 ribu orang. Sementara
itu kebijakan pemerintah lebih mengutamakan pada
peningkatan kesejahteraan masyarakat yang lebih luas.
Kemampuan daerah dalam meningkatkan kesejahteraan PNS
belum dapat diberikan pada seluruh PNS. Sebagai contoh,
jumlah peserta pembekalan kewirausahaan bagi PNS
menjelang purna tugas masih jauh dari target. J umlah PNS
yang pensiun rata-rata per tahun sebanyak 1.000 orang lebih,
sementara peserta yang ditunjuk mengikuti pembekalan
hanya 105 orang. Demikian pula dengan bantuan biaya

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
58
pemulangan PNS menjelang purna tugas yang hanya
diberikan kepada pegawai di lingkungan Sekretariat Daerah.
Pengembangan sistem informasi kepegawaian dimaksudkan
untuk meningkatkan kualitas data kepegawaian dan
kelancaran pelayanan administrasi kepegawaian. Dalam
kaitan ini, Badan Kepegawaian Negara berencana melakukan
perubahan sistem penomoran NIP yang dibarengi dengan
perubahan KARPEG menjadi Kartu Pegawai Elektronik bagi
seluruh PNS. Perubahan mendasar ini berdampak pada
kebutuhan perubahan aplikasi yang sudah ada.
Idealnya pengembangan sistem informsi kepegawaian diikuti
dengan dukungan dokumen tata naskah kepegawaian.
Namun demikian dokumen tata naskah kepegawaian belum
menjadi rujukan utama dalam mencukupi kebutuhan
administrasi kepegawaian.
Secara administatif proses kenaikan pangkat bagi PNS di
lingkungan Pemerintah Propinsi dan Kabupaten/Kota tidak
ditemukan permasalahan yang berarti. Tetapi dari sisi
kebijakan terutama dalam hal mekanisme penilaian angka
kredit bagi pejabat fungsional ditemukan penafsiran ganda,
terutama yang terkait dengan siapa yang mendapat
kewenangan menilai pelaksanaan jabatan fungsional.
Proses penetapan kenaikan gaji berkala telah didelegasikan
ke instansi perangkat daerah. Proses ini belum diikuti dengan
mekanisme pelaporan. Ketiadaan mekanisme demikian
mengakibatkan Biro Kepegawaian kurang dapat
melaksanakan fungsi pengendalian.
Penetapan pensiun pegawai untuk golongan ruang IV/c ke
atas adalah kewenangan Presiden melalui Sekretariat Negara.
Prosedur yang panjang ini membutuhkan waktu yang lama
dan dinilai tidak sesuai dengan asas pelayanan yang baik
Masih ada SKPD di lingkungan Pemerintah Provinsi J awa
Timur yang belum memberikan laporan sesuai dengan
tanggal yang telah ditetapkan
Masih ada SKPD di lingkungan Pemerintah Provinsi J awa
Timur yang belum memberikan laporan realisasi dan
keuangan pelaksanaan pembangunan sumber dana APBN
dan APBD sesuai dengan tanggal yang telah ditetapkan
Masih ada SKPD di lingkungan Pemerintah Provinsi J awa
Timur yang mana Panitia Pengadaan Barang/J asa serta
pengelola keuangan di lingkungan SKPDnya masih belum
mempunyai sertifikat pengadaan barang/jasa
Masih ada SKPD di lingkungan Pemerintah Provinsi J awa
Timur yang masih belum mengisi perencanaan dan
pelaksanaan lelang di lingkungan SKPDnya karena masih
lemahnya landasan hukum Keppres 80 Tahun 2003 yang

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
59
tidak memberikan sangsi yang tegas terhadap kepatutan
pelaksanaan pengadaan barang/jasa
(2) Supremasi Hukum dan HAM
Masih ditemukannya beberapa produk hukum dari Kab/Kota
yang penyusunannya belum sesuai baik menyangkut
substansi maupun mekanisme dengan peraturan yang lebih
tinggi;
Kurangnya koordinasi dan konsultasi antara Propinsi dengan
Kab/Kota terkait dengan penyusunan suatu produk hukum
Daerah
Terbatasnya jumlah SDM yang menguasai teknologi
informasi (IT) dalam pengelolaan informasi hukum
menyebabkan kemampuan dalam penyediaan informasi dan
dokumentasi hukum sangat lambat;
Terhambatnya up dating data sehingga peningkatan kinerja
yang dapat dicapai tiap tahun rata-rata hanya 12%;
Perlu peningkatan SDM baik kualitas maupun kuantitas
khususnya yang memiliki basic pendidikan teknologi;
Rendahnya pemahaman tentang pelaksanaan RAN HAM
anggota panitia RAN HAM menyebabkan seolah-olah
pemenuhan hak-hak dasar masyarakat kurang mendapat
perhatian.
(3) Ketentraman dan Ketertiban
Kualitas SDM anggota Polisi Pamong Praja kurang
profesional, antara lain disebabkan anggota Polisi Pamong
Praja yang masuk ke Satuan Polisi Pamong Praja umumnya
tidak dibekali ilmu / keterampilan teknis yang disyaratkan.
Kurang mantapnya koordinasi dan dukungan dari Dinas /
Instansi terkait dalam proses Penegakan Perda yang
terkadang menyebabkan kinerja Satuan Polisi Pamong Praja
menjadi berbenturan dengan masyarakat dan bahkan kontra
produktif, yang disebabkan :
- Sulitnya data identitas pelanggar di dapat dari Instansi
yang berwenang mengeluarkan ijin atau rekomendasi.
- Polisi Pamong Praja Provinsi J awa Timur tidak diberikan
informasi pada setiap pengeluaran ijin / rekomendasi
persetujuan terhadap sesuatu objek, sehingga
menyulitkan untuk melakukan penyidikan dan
penertiban.
Masih belum terumuskannya rencana induk yang benar
benar komprehensif antara Dinas yang satu dengan yang lain
dalam penanganan masalah sosial politik tertentu, sehingga
tidak jarang menghadapkan Satuan Polisi Pamong Praja pada
sebuah dilema dalam kasus penataan PKL / operasional
lapangan, misalnya sering Satuan Polisi Pamong Praja diberi
tugas melakukan penertiban yang sifatnya parsial dan
temporer, sementara itu program program penanganan

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
60
pasca penertiban PKL / operasi lapangan yang semestinya
dilakukan Dinas yang bersangkutan, ternyata tidak
dilakukan. Akibat yang terjadi, biasanya penanganan yang
dilakukan menjadi tidak tuntas.
Di era Otonomi Daerah dalam beberapa kasus harus diakui
terkadang menimbulkan ego kedaerahan dan sikap soliter
Kabupaten / Kota yang berlebihan, sehingga menyulitkan
koordinasi dalam upaya penanganan masalah ketertiban dan
ketentraman umum. Sementara itu gangguan dan ancaman
terhadap ketertiban dan ketentraman sering bersifat lintas
wilayah dan tidak bisa dibatasi oleh garis administratif Kota /
Kabupaten tertentu saja, sehingga tanpa didukung koordinasi
yang benar benar matang, niscaya hasilnya menjadi kurang
maksimal.
Masih adanya kekeliruan persepsi dan image masyarakat
terhadap Satuan Polisi Pamong Praja yang terkadang
dituding hanya sebagai tukang obrak yang tidak peka
pada masalah kemanusiaan dan penderitaan orang kecil
dan penjaga kantor sehingga menyulitkan upaya Satuan
Polisi Pamong Praja untuk mengembangkan dukungan dari
berbagai kelompok serta organisasi sosial politik dan warga
masyarakat pada umumnya.
Berkaitan dengan hak perlindungan dan asuransi
keselamatan bagi anggota Satuan Polisi Pamong Praja yang
dinilai masih belum sebanding dengan resiko kerja atau tugas
yang harus dilakukan.
Sarana dan prasarana yang dimiliki sangat terbatas serta
dukungan dana operasional kurang optimal.
Produk kebijakan seperti Undang undang (UU), Peraturan
Pemerintah (PP), Keputusan Presiden (Kepres) dan Peraturan
Daerah (Perda) seringkali tidak responsive dan aspiratif atau
berbeda dengan aspirasi, cenderung ditolak dan tidak
dipatuhi oleh masyarakat ;
Belum efektifnya pencapaian pelaksanaan Peraturan Daerah
di J awa Timur yang dapat berpengaruh kepada peningkatan
Pendapatan Asli Daerah ( PAD ) ;
Masih berkembangnya iklim tidak menghargai orang lain,
penyampaian aspirasi yang cenderung sebebas-bebasnya,
unjuk rasa mengarah kepada anarkisme disertai kekerasan
dan intimidasi, serta terjadinya kepentingan politik dengan
menggunakan cara-cara tidak terpuji.
vii) Masalah Terbatasnya Sumber Pembiayaan
Alokasi dana pembangunan J awa Timur saat ini masih
sangat terbatas, walaupun didukung dengan bagian dana
dekonsentrasi dari Pemerintah Pusat. J umlah dana riil yang ada
masih belum memadai untuk dapat menuntaskan permasalahan
pokok yang dihadapi J awa Timur, lebih-lebih dalam menangani

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
61
masalah kemiskinan dan pengangguran. Kecilnya dana pemerintah
tersebut disebabkan antara lain:
Terbatasnya pembiayaan pembangunan APBN/APBD
Kecilnya pengembalian dana perimbangan ke Provinsi
Belum optimalnya pengelolaan keuangan daerah.






PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
62

d. Kebijakan Akuntansi
1) Entitas pelaporan keuangan daerah
Dalam sistem akuntansi pemerintahan daerah ada 2 (dua) entitas
penyelenggara yaitu entitas pelaporan dan entitas akuntansi, yang memiliki
pengertian sebagai berikut :
a) Entitas pelaporan adalah unit pemerintahan daerah yang terdiri dari satu
atau lebih entitas akuntansi yang menurut ketentuan peraturan
perundang-undangan wajib menyampaikan laporan keuangan. Entitas
pelaporan adalah pemerintah daerah atau satuan organisasi di lingkungan
pemerintah daerah atau organisasi lainnya jika menurut peraturan
perundang-undangan satuan organisasi dimaksud wajib menyajikan
laporan keuangan. Entitas pelaporan yang ada di Provinsi J awa Timur
adalah Pemerintah Provinsi J awa Timur;
b) Entitas akuntansi adalah unit pemerintahan pengguna anggaran/
pengguna barang dan oleh karenanya wajib menyelenggarakan akuntansi
dan menyusun laporan keuangan untuk digabungkan pada entitas
pelaporan. Entitas akuntansi yang ada di Provinsi J awa Timur adalah
Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang berada di lingkup
Pemerintah Provinsi J awa Timur.

Dalam upaya untuk meningkatkan akurasi dan validitas laporan
keuangan yang disusun oleh setiap SKPD sebagai entitas akuntansi, maka
SKPKD selain berfungsi sebagai entitas akuntansi juga bertindak sebagai
PPKD selaku entitas pelaporan yang menyelenggarakan akuntansi dan
laporan keuangan untuk masing-masing SKPD. Secara periodik, SKPKD
melakukan rekonsiliasi dengan setiap SKPD atas laporan keuangan SKPD.
Agar hasil rekonsiliasi yang kemudian disusun sebagai laporan keuangan
dapat memenuhi standar sesuai ketentuan yang berlaku maka pedoman teknis
yang mengatur akuntansi serta laporan pertanggungjawaban APBD Provinsi
J awa Timur khususnya untuk tahun anggaran 2008 telah diatur pada lampiran
Keputusan Gubernur J awa Timur Nomor 188/65/KPTS/013/2007 tentang
Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Daerah Provinsi J awa Timur;
Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi J awa Timur disusun untuk
menyediakan informasi yang relevan mengenai posisi keuangan, realisasi
anggaran, arus kas, dan kinerja keuangan selama periode pelaporan. Laporan
Keuangan tersebut merupakan kompilasi dari seluruh laporan keuangan
SKPD, yang tidak hanya mencakup aspek keuangan yang dikelola oleh
entitas akuntansi, baik Badan, Dinas, Kantor dan Biro, namun juga
dilengkapi data dari unit-unit yang terkait.

Untuk tahun anggaran 2008, entitas akuntansi (SKPD) yang menyusun
laporan keuangan meliputi:


Nama Dinas

Nama Dinas
1 1 01 0100
Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan 31 SEKRETARIAT DAERAH
2 1 01 0200
Badan Perpustakaan
d. 1 20 0304
Biro Perekonomian

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
63

Nama Dinas

Nama Dinas
3 1 02 0100 Dinas Kesehatan e. 1 20 0305
Biro Administrasi
Pembangunan
4 1 02 0201
RSUD. Dr. Soetomo
Surabaya f. 1 20 0306
Biro Kesejahteraan Rakyat
5 1 02 0202
RSUD. Dr. Saiful Anwar
Malang g. 1 20 0307
Biro Mental Spiritual
6 1 02 0203 RSUD. Dr. Soedono Madiun h. 1 20 0308
Biro Organisasi
7 1 02 0204 RSU. Haji Surabaya i. 1 20 0309
Biro Kepegawaian
8 1 02 0301 RS. J iwa Menur Surabaya j. 1 20 0310
Biro Keuangan
9 1 02 0401 RSK. Paru-paru Batu k. 1 20 0311
Biro Perlengkapan dan
Adm. Asset
10 1 02 0402 RSK. Paru-paru J ember l. 1 20 0312 Biro Umum
11 1 02 0403
RSK. Paru-paru Dungus
Madiun 32 1 20 0400 SEKRETARIAT DPRD
12 1 02 0601 RSK. Kusta Kediri 33 1 20 0600
Badan Penelitian dan
Pengembangan
13 1 02 0602
RSK. Kusta Sumberglagah
Mojokerto 34 1 20 0700
Badan Pengawasan
Provinsi
14 1 03 0200 DPU. Bina Marga 35 1 20 1100 Dinas Pendapatan
15 1 03 0300 DPU. Pengairan 36 1 20 1200
Kantor Perwakilan Provinsi
J awa Timur
16 1 04 0100 Dinas Permukiman 37 1 20 1301 Bakorwil I Madiun
17 1 06 0100
Badan Perencanaan
Pembangunan Provinsi 38 1 20 1302 Bakorwil II Bojonegoro
18 1 07 0100 Dinas Perhubungan 39 1 20 1303 Bakorwil III Malang
19 1 07 0200
Dinas Lalu Lintas Angkutan
J alan 40 1 20 1304 Bakorwil IV Pamekasan
20 1 08 0200
Badan Pengendalian
Dampak Lingkungan 41 1 20 1400 Kantor Kas Daerah
21 1 10 0200 Dinas Kependudukan 42 1 21 0100
Badan Pendidikan dan
Pelatihan
22 1 13 0100 Dinas Sosial 43 1 22 0100
Badan Pemberdayaan
Masyarakat
23 1 14 0100 Dinas Tenaga Kerja 44 1 24 0100 Badan Arsip
24 1 15 0100 Dinas Koperasi PK & M 45 1 25 0100
Dinas Informasi dan
Komunikasi
25 1 16 0100 Badan Penanaman Modal 46 1 25 0200
Badan Pengelolaan Data
Elektronik
26 1 18 0100
Dinas Pemuda dan
Olahraga 47 2 01 0100 Dinas Pertanian
27 1 19 0100 Badan Kesatuan Bangsa 48 2 01 0200 Dinas Perkebunan
28 1 19 0300 Kantor Polisi Pamong Praja 49 2 01 0300 Dinas Peternakan
29 1 20 0100
Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah 50 2 01 0400 Badan Ketahanan Pangan
30 1 20 0200
Kepala Daerah dan Wakil
Kepala Daerah 51 2 02 0100 Dinas Kehutanan
31 SEKRETARIAT DAERAH 52 2 03 0200
Dinas Energi dan Sumber
Daya Mineral
a. 1 20 0301
Biro Pemerintahan dan
Otonomi Daerah 53 2 04 0100 Dinas Pariwisata
b. 1 20 0302
Biro Kerjasama
54 2 05 0100
Dinas Perikanan dan
Kelautan
c. 1 20 0303
Biro Hukum
55 2 07 0100
Dinas Perindustrian dan
Perdagangan

Sebagai entitas pelaporan maka Laporan Keuangan yang disusun
oleh SKPKD Pemerintah Provinsi J awa Timur terdiri dari :
a) Laporan Realisasi Anggaran (LRA)
Laporan Realisasi Anggaran (LRA) menyajikan informasi
mengenai realisasi pendapatan, belanja, transfer, surplus/defisit dan
pembiayaan dari suatu entitas pelaporan yang masing-masing

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
64
diperbandingkan dengan anggarannya. Unsur yang dicakup dalam LRA
terdiri dari pendapatan, belanja dan pembiayaan. LRA Pemerintah
Provinsi J awa Timur disusun berdasarkan LRA SKPD, setelah dilakukan
rekonsiliasi dengan data yang ada di PPKD. Dalam hal ini yang berfungsi
sebagai PPKD adalah Biro Keuangan. Sampai saat ini LRA SKPD
disusun dengan menggunakan Sistem Akuntansi berbasis kas.
b) Neraca
Neraca adalah laporan keuangan yang menyajikan posisi
keuangan entitas pada suatu saat (tanggal) tertentu. Unsur yang dicakup
dalam neraca terdiri dari aset, kewajiban dan ekuitas dana. Neraca
Pemerintah Provinsi J awa Timur disusun berdasarkan neraca SKPD,
terutama dari Kas di Bendahara Penerimaan, Kas di Bendahara
Pengeluaran. Neraca juga dilengkapi data-data keuangan yang dikelola
oleh Kantor Kas Daerah, Biro Keuangan, Biro Perlengkapan dan
Administrasi Aset, Biro Perekonomian dan Dinas Pendapatan. Support
data mengenai Kas Daerah dan Non Anggaran (Penerimaan Perhitungan
Fihak Ketiga) berasal dari data Kantor Kas Daerah, data mengenai berapa
kewajiban pemerintah yang harus diselesaikan pada tahun anggaran
berikutnya berasal dari data yang ada di Biro Keuangan. Sementara itu
untuk data berapa besar penyertaan modal yang telah disertakan
Pemerintah Provinsi J awa Timur pada BUMD/Perusahaan Daerah
bersumber pada data Biro Perekonomian. Terkait dengan sumber data
besaran jumlah Piutang Pajak maupun Retribusi maka selain diperoleh
dari SKPD juga dilengkapi data dari Dinas Pendapatan Daerah. Unsur
Aset Tetap dan Persediaan maka sumber data didapat dari Biro
Perlengkapan dan Administrasi Aset.
c) Laporan Arus Kas
Laporan Arus Kas menyajikan informasi kas terkait dengan
aktivitas operasional, investasi aset non keuangan, pembiayaan dan
transaksi non anggaran yang menggambarkan saldo awal, penerimaan,
pengeluaran dan saldo akhir kas pemerintah daerah selama periode
tertentu. Unsur penting dari aktivitas tersebut adalah penerimaan dan
pengeluaran kas yang dikelola oleh Kantor Kas Daerah, selaku Kuasa
Bendahara Umum Daerah, melalui rekening: 0011000477 pada Bank
J atim.
Sumber data yang digunakan dalam analisis penyusunan Laporan
Arus Kas berasal dari data sekunder yang antara lain adalah :
i) Posisi Kas Awal ( 2 J anuari 2008) dan Posisi Kas Akhir ( 31
Desember 2008).
ii) Realisasi pelaksanaan anggaran tahun 2008.
iii) Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Tahun 2008.
iv) Penerimaan Sisa UP/GU/TU Tahun 2008.
d) Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK)
Catatan atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan naratif atau
rincian dari angka yang tertera dalam Laporan Realisasi Anggaran,
Neraca, dan Laporan Arus Kas. Catatan atas Laporan Keuangan juga
mencakup informasi tentang kebijakan akuntansi yang dipergunakan oleh

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
65
entitas pelaporan serta ungkapan-ungkapan yang diperlukan untuk
menghasilkan penyajian laporan keuangan secara wajar.
Disamping unsur-unsur laporan keuangan yang pokok,
sebagaimana yang telah diungkapkan, maka laporan keuangan
pemerintahan daerah juga dilampiri dengan Ikhtisar Laporan kinerja
Keuangan APBD dan Ikhtisar laporan keuangan BUMD.
e) Lampiran Ikhtisar Laporan Kinerja Keuangan APBD
Laporan Kinerja Keuangan APBD merupakan lampiran dari
laporan pokok diatas yang menggambarkan Kinerja Keuangan APBD
dan Laporan Kinerja Keuangan APBD dapat kita informasikan dalam 2
(dua) hal yaitu :
i) Laporan Kinerja yang berdimensi Keuangan, merupakan infromasi
yang menggambarkan tingkat penyerapan, perkembangan realisasi
APBD;
ii) Laporan Kinerja Keuangan yang terkait dengan program/ kegiatan
guna mengukur tingkat keberhasilan Pemerintah Provinsi J awa
Timur yang telah ditargetkan dalam RKPD tahunan atas pelaksanaan
RPJ MD tahun 2006-2008 dijelaskan pada Catatan atas Laporan
Keuangan (CaLK).
f) Ikhtisar Laporan Keuangan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD)
Laporan Keuangan BUMD juga merupakan lampiran dari
laporan pokok diatas yang menyajikan ikhtisar laporan keuangan BUMD
yang menggambarkan perkembangan Badan Usaha Milik Daerah dan
Perusahaan Daerah Provinsi J awa Timur.
2) Basis akuntansi yang mendasari penyusunan laporan keuangan
Asumsi dasar dalam pelaporan keuangan pemerintah daerah adalah
anggapan yang diterima sebagai suatu kebenaran tanpa perlu dibuktikan agar
kebijakan akuntansi dapat diterapkan, yang terdiri dari:
a) Asumsi kemandirian entitas;
Asumsi kemandirian entitas, yang berarti bahwa Pemerintah
Provinsi J awa timur sebagai entitas pelaporan dan SKPD di lingkup
Pemerintah Provinsi J awa Timur sebagai entitas akuntansi dianggap
sebagai unit yang mandiri dan mempunyai kewajiban untuk menyajikan
laporan keuangan sehingga tidak terjadi kekacauan antar unit
pemerintahan dalam pelaporan keuangan. Salah satu indikasi
terpenuhinya asumsi ini adalah adanya kewenangan masing-masing
entitas untuk menyusun anggaran dan melaksanakannya dengan
tanggung jawab penuh. Setiap entitas bertanggungjawab atas pengelolaan
aset dan sumber daya di luar neraca untuk kepentingan yurisdiksi tugas
pokoknya, termasuk atas kehilangan atau kerusakan aset dan sumber
daya dimaksud, utang-piutang yang terjadi akibat pembuatan keputusan
entitas, serta terlaksana tidaknya program dan kegiatan yang telah
ditetapkan.
b) Asumsi kesinambungan entitas;
Laporan keuangan Pemerintah Provinsi J awa Timur disusun
dengan asumsi bahwa Pemerintah Provinsi J awa Timur akan berlanjut
keberadaannya dan tidak ermaksud untuk melakukan likuidasi. Dalam

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
66
pengertian kesinambungan entitas ini adalah bahwa Pemerintah Provinsi
J awa Timur dibentuk untuk menjalankan tugas kepemerintahan dalam
jangka waktu panjang dan tidak dimaksudkan untuk dibubarkan.
c) Asumsi keterukuran dalam satuan uang (monetary measurement).
Laporan keuangan Pemerintah Provinsi J awa Timur menyajikan
setiap kegiatan yang diasumsikan yang dapat dinilai dengan satuan uang.
Hal ini diperlukan agar memungkinkan dilakukannya analisis dan
pengukuran dalam akuntansi.

Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan Daerah (LRA) disusun
menggunakan basis kas yaitu basis akuntansi yang mengakui pengaruh
transaksi dan peristiwa lainnya pada saat kas atau setara kas diterima pada
Kas Daerah atau dikeluarkan dari Kas Daerah.
Dalam penyajian Neraca, Aset, Kewajiban dan Ekuitas dana diakui
berdasarkan basis akrual, yaitu pada saat diperolehnya hak atas aset dan
timbulnya kewajiban tanpa memperhatikan saat kas atau setara kas diterima
atau dikeluarkan dan Kas Daerah.
Pada Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar
Akuntansi Pemerintahan (SAP), bahwa Pemerintah Provinsi J awa Timur
telah mempedomani dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangannya.
Namun, untuk pelaporan tahun anggaran 2008 Pemerintah Provinsi J awa
Timur belum dapat mengikuti semua prinsip-prinsip akuntansi dan pelaporan
yang ada dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar
Akuntansi Pemerintahan (SAP). Pemerintah Provinsi J awa Timur
mempunyai kebijakan untuk menerapkan SAP secara bertahap.
Prinsip-prinsip akuntansi yang digunakan dalam penyusunan
laporan keuangan pemerintah Provinsi Jawa Timur :
a) Basis akuntansi;
Basis akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan
Provinsi J awa Timur adalah basis kas untuk pengakuan pendapatan,
belanja, dan pembiayaan dalam Laporan Realisasi Anggaran dan basis
akrual untuk pengakuan aset, kewajiban, dan ekuitas dana dalam Neraca.
Basis kas untuk Laporan Realisasi Anggaran berarti bahwa pendapatan
dan penerimaan pembiayaan diakui pada saat kas diterima oleh kas
daerah, serta belanja dan pengeluaran pembiayaan diakui pada saat kas
dikeluarkan dari kas daerah. Sebagaimana pemerintah daerah lainnya,
Pemerintah Provinsi J awa Timur tidak menggunakan istilah laba,
melainkan menggunakan sisa perhitungan anggaran (lebih/kurang) untuk
setiap tahun anggaran. Sisa perhitungan anggaran tergantung pada selisih
realisasi penerimaan pendapatan dan pembiayaan dengan pengeluaran
belanja dan pembiayaan.
Basis akrual untuk Neraca berarti bahwa aset, kewajiban, dan ekuitas
dana diakui dan dicatat pada saat terjadinya transaksi, atau pada saat
kejadian atau kondisi lingkungan berpengaruh pada keuangan Pemerintah
Provinsi J awa Timur, bukan terpaku pada saat kas diterima atau dibayar
oleh kas daerah.

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
67
Prinsip nilai perolehan, Aset dicatat sebesar jumlah kas yang dibayar atau
sebesar nilai wajar dari imbalan (consideration) untuk memperoleh aset
tersebut pada saat perolehan. Utang dicatat sebesar jumlah kas yang
diharapkan akan dibayarkan untuk memenuhi kewajiban di masa yang
akan datang dalam pelaksanaan kegiatan Pemerintah Provinsi J awa
Timur.
b) Prinsip realisasi;
Ketersediaan pendapatan daerah yang telah diotorisasikan
melalui APBD selama suatu tahun anggaran akan digunakan untuk
membiayai belanja daerah dalam periode tahun anggaran dimaksud.
c) Prinsip substansi mengungguli formalitas;
Informasi akuntansi dimaksudkan untuk menyajikan dengan
jujur transaksi serta peristiwa lain yang seharusnya disajikan, maka
transaksi atau peristiwa lain tersebut harus dicatat dan disajikan sesuai
dengan substansi dan realitas ekonomi, bukan hanya mengikuti aspek
formalitasnya.
d) Prinsip periodisitas;
Kegiatan akuntansi dan pelaporan keuangan Pemerintah Provinsi
J awa Timur perlu dibagi menjadi periode-periode pelaporan sehingga
kinerja Pemerintah J awa Timur dapat diukur dan posisi sumber daya
yang dimilikinya dapat ditentukan. Periode utama untuk pelaporan
keuangan yang digunakan oleh Pemerintah Provinsi J awa Timur adalah
tahunan. Periode pelaporan semesteran untuk entitas pelaporan dan
triwulanan untuk entitas akuntansi digunakan untuk melakukan evaluasi
atas kinerja yang telah dicapai dalam semester sebelumnya.
e) Prinsip konsistensi;
Perlakuan akuntansi yang sama harus diterapkan pada kejadian
yang serupa dari periode ke periode oleh pemerintah daerah (prinsip
konsistensi internal). Hal ini tidak berarti bahwa tidak boleh terjadi
perubahan dari satu metode akuntansi ke metode akuntansi yang lain.
f) Prinsip pengungkapan lengkap; dan
Laporan keuangan Pemerintah Provinsi J awa Timur menyajikan
secara lengkap informasi yang dibutuhkan oleh pengguna laporan.
Informasi yang dibutuhkan oleh pengguna laporan ditempatkan pada
lembar muka (on the face) laporan keuangan atau catatan atas laporan
keuangan.
g) Prinsip penyajian wajar.
Laporan keuangan Pemerintah Provinsi J awa Timur diarahkan
untuk menyajikan dengan wajar Laporan Realisasi Anggaran, Neraca,
Laporan Arus Kas, dan Catatan Atas Laporan Keuangan serta Laporan
Kinerja Keuangan dan Ikhtisar Laporan Keuangan BUMD.
3) Basis pengukuran yang mendasari penyusunan laporan keuangan
Unsur-unsur laporan keuangan yang menjelaskan pengertian dan
ruang lingkup dari pos-pos yang membentuk laporan keuangan, bahwa
kriteria minimum yang perlu dipenuhi oleh suatu kejadian atau peristiwa
untuk diakui yaitu:

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
68
a) Terdapat kemungkinan bahwa manfaat ekonomi yang berkaitan dengan
kejadian atau peristiwa tersebut akan mengalir keluar dari atau masuk ke
dalam entitas pemerintah yang bersangkutan;
b) Kejadian atau peristiwa tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat
diukur atau dapat diestimasi dengan andal.

Hal lain yang perlu diperhatikan:
a) Keandalan Pengukuran
Kriteria pengakuan pada umumnya didasarkan pada nilai uang
akibat peristiwa atau kejadian yang dapat diandalkan pengukurannya.
Namun ada kalanya pengakuan didasarkan pada hasil estimasi yang
layak. Apabila pengukuran berdasarkan biaya dan estimasi yang layak
tidak mungkin dilakukan, maka pengakuan transaksi demikian cukup
diungkapkan pada catatan atas laporan keuangan.
Penundaan pengakuan suatu pos atau kejadian dapat terjadi
apabila kriteria pengakuan baru terpenuhi setelah terjadi atau tidak terjadi
peristiwa atau keadaan lain di masa mendatang.
Pengukuran adalah proses penetapan nilai uang untuk
mengakui dan memasukkan setiap pos dalam laporan keuangan
pemerintah daerah. Pada dasarnya, pengukuran pos-pos dalam laporan
keuangan Pemerintah Provinsi J awa Timur menggunakan nilai perolehan
historis.
b) Koreksi Kesalahan
Laporan keuangan disusun dan disajikan untuk menyediakan
informasi yang relevan mengenai posisi keuangan dan seluruh transaksi
yang dilakukan oleh pelaporan. Untuk menjaga integritas data dan agar
informasi laporan keuangan tidak menyesatkan maka laporan keuangan
harus bebas dari kesalahan.
Kesalahan adalah penyajian akun-akun yang secara signifikan
tidak sesuai dengan yang seharusnya yang mempengaruhi laporan
keuangan periode berjalan atau periode sebelumnya. Periode berjalan
adalah periode sebelum laporan keuangan ditetapkan oleh Peraturan
Daerah. Periode sebelumnya adalah periode akuntansi dimana laporan
keuangan telah diterbitkan dan ditetapkan oleh Peraturan Daerah.
c) Perubahan Kebijakan Akuntansi
Para pengguna perlu membandingkan laporan keuangan dari
suatu entitas pelaporan dari waktu ke waktu untuk mengetahui trend
posisi keuangan, kinerja, dan arus kas. Oleh karena itu, kebijakan
akuntansi yang digunakan harus diterapkan secara konsisten pada setiap
periode. Perubahan dalam perlakuan, pengakuan, atau pengukuran
akuntansi sebagai akibat dari perubahan atas basis akuntansi, kriteria
kapitalisasi, metode, dan estimasi, merupakan contoh perubahan
kebijakan akuntansi.
Peristiwa luar biasa adalah kejadian atau transaksi yang secara
jelas berbeda dari aktivitas biasa atau normal suatu entitas dan karenanya
tidak diharapkan terjadi dan berada di luar kendali atau pengaruh entitas

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
69
sehingga memiliki dampak yang signifikan terhadap realisasi anggaran
atau posisi aset/kewajiban.
d) Penyusunan dan penyajian Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi
J awa Timur Tahun Anggaran 2008 telah mengacu pada Standar
Akuntansi Pemerintahan (SAP) Tahun 2005. Dengan demikian, dalam
penyusunan laporan keuangan telah diterapkan kaidah-kaidah
pengelolaan keuangan yang sehat di lingkungan pemerintahan. Laporan
Keuangan Pemerintah Provinsi J awa Timur terdiri dari :
i) Pendapatan
Pendapatan adalah semua penerimaan kas daerah yang
menambah ekuitas dana dalam periode tahun anggaran yang
bersangkutan yang menjadi hak pemerintah daerah, dan tidak perlu
dibayar kembali oleh pemerintah daerah. Pendapatan diakui pada saat kas
diterima pada Kas Daerah. Akuntansi pendapatan dilaksanakan
berdasarkan azas bruto yaitu dengan membukukan penerimaan bruto, dan
tidak mencatat netonya. Pendapatan disajikan sesuai dengan jenis
pendapatan.
ii) Belanja
Belanja adalah semua pengeluaran kas daerah yang
mengurangi ekuitas dana dalam periode tahun anggaran yang
bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali
oleh pemerintah daerah. Belanja diakui pada saat terjadi pengeluaran
kas dari Kas Daerah. Untuk pengeluaran melalui bendahara
pengeluaran, pengakuan belanja terjadi pada saat
pertanggungjawaban atas pengeluaran tersebut disahkan oleh unit
yang mempunyai fungsi perbendaharaan (BUD). Belanja disajikan
dimuka (face) laporan menurut klasifikasi ekonomi/ J enis belanja,
sedangkan di Catatan atas Laporan Keuangan, belanja disajikan
menurut organisasi dan fungsi. Klasifikasi menurut klasifikasi
ekonomi (jenis belanja), organisasi dan fungsi.
Pengeluaran kas atas pencairan SP2D Gaji diakui sebagai
penambah belanja gaji. Pada saat dilakukan pertanggungjawaban atas
pembayaran gaji pada tahun berjalan, jika terdapat kelebihan gaji
yang disetorkan ke kas umum daerah diakui sebagai pengurang
belanja gaji. Pengembalian atas belanja gaji pada periode
sebelumnya diakui sebagai pendapatan lain-lain.
Belanja bukan tunai dalam bentuk barang dan jasa diakui
sebagai belanja dan disajikan dalam Laporan Realisasi Anggaran
pada saat terjadinya transaksi belanja yang bersangkutan. Belanja
bukan tunai ini diakui sebagai konsekuensi atas pendapatan non tunai
yang diterima oleh Pemerintah Provinsi J awa Timur. Berhubung
transaksi ini tidak melibatkan arus kas, maka transaksi ini tidak
dilaporkan dalam laporan arus kas.
Donasi/hibah baik dalam bentuk uang maupun barang
dicatat sebagai pendapatan hibah dan harus dilaporkan dalam laporan
realisasi anggaran. Perlakuan terhadap hibah dalam bentuk barang ini
adalah dengan menganggap seolah-olah ada uang kas masuk sebagai

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
70
pendapatan hibah, kemudian uang tersebut dibelanjakan aset tetap
yang bersangkutan. J adi, terdapat tiga pengakuan atas aset donasi,
yaitu pengakuan pendapatan, belanja modal, dan pengakuan aset
tetap.
Penerimaan kembali belanja yang terjadi pada periode
berjalan dibukukan sebagai pengurang belanja pada periode yang
sama. Apabila penerimaan kas atas kelebihan belanja yang terjadi
pada periode sebelumnya diakui sebagai pendapatan lain-lain pada
akun Pendapatan dari Pengembalian. Pembahasan lebih lanjut
mengenai pengembalian kelebihan belanja akan dibahas secara lebih
detail pada bagian koreksi.
Pengakuan belanja non modal atau investasi dalam periode
berjalan berdasarkan jumlah kas yang dikeluarkan. Pada akhir
periode akuntansi, berdasarkan jumlah belanja non modal yang
sampai akhir periode akuntansi telah menjadi kewajiban tetapi belum
ada realisasi pengeluaran kas, maka diakui sebagai kewajiban kepada
pihak ketiga. Belanja modal diakui dalam periode berjalan pada saat
aset yang dibeli telah diterima dan hak kepemilikannya telah
berpindah.
Pada akhir periode, jika terdapat kewajiban bagi pemerintah
daerah untuk membayar kepada pihak ketiga diakui sebagai
penambahan kewajiban (utang) dan pengurangan ekuitas dana.
Belanja modal tanah diakui sebesar biaya perolehan tanah
yang mencakup harga pembelian atau biaya pembebasan tanah, biaya
yang dikeluarkan dalam rangka memperoleh hak, biaya pematangan,
pengukuran, penimbunan, dan biaya lainnya yang dikeluarkan
sampai tanah tersebut siap pakai. Belanja modal tanah juga meliputi
harga bangunan tua yang terletak pada tanah yang dibeli jika
bangunan tua tersebut dimaksudkan untuk dimusnahkan.
Belanja modal peralatan dan mesin menggambarkan
jumlah pengeluran yang telah dilakukan untuk memperoleh peralatan
dan mesin tersebut sampai siap pakai. Biaya ini antara lain meliputi
harga pembelian, biaya pengangkutan, biaya instalasi, serta biaya
langsung lainnya untuk memperoleh dan mempersiapkan sampai
peralatan dan mesin tersebut siap digunakan.
Belanja modal gedung dan bangunan diakui sebesar harga
perolehan gedung dan bangunan sampai siap untuk digunakan. Biaya
perolehan gedung dan bangunan meliputi harga pembelian atau biaya
konstruksi termasuk biaya pengurusan IMB, notaris dan pajak.
Belanja modal jalan, irigasi dan jaringan diakui sebesar
seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh jalan, irigasi, dan
jaringan sampai siap pakai. Biaya ini meliputi biaya perolehan atau
biaya konstruksi dan biaya-biaya lain yang dikeluarkan sampai jalan,
irigasi dan jaringan tersebut siap pakai.
Biaya administrasi dan biaya umum lainnya bukan
merupakan suatu komponen biaya aset tetap sepanjang biaya tersebut
tidak dapat diatribusikan secara langsung pada biaya perolehan aset

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
71
atau membawa aset ke kondisi kerjanya. Contoh dari biaya ini adalah
biaya pimpinan kegiatan (kuasa pengguna anggaran), PPTK, biaya
ATK untuk administrasi kegiatan, dll.
Biaya yang tidak termasuk dalam kategori belanja modal
adalah biaya permulaan (start-up cost) dan pra produksi kecuali
biaya tersebut perlu untuk membawa aset ke kondisi kerjanya.
Contoh biaya permulaan atau pra produksi yang tidak termasuk
dalam kategori belanja modal adalah biaya studi kelayakan.
Biaya yang dikeluarkan setelah aset tetap diperoleh yang
memperpanjang masa manfaat atau yang kemungkinan besar
memberi manfaat ekonomik di masa yang akan datang dalam bentuk
kapasitas, mutu produksi, atau peningkatan standar kinerja harus
diakui sebagai belanja modal, bukan merupakan aktivitas
pemeliharaan. Dengan kata lain, biaya setelah perolehan aset tetap
tersebut dikapitalisasi ke aset tetap yang bersangkutan.
Surplus/defisit dicatat sebesar selisih lebih atau kurang
antara pendapatan dan belanja selama satu periode pelaporan.
iii) Pembiayaan
Pembiayaan adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar
kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada
tahun anggaran bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran
berikutnya, yang dalam penganggaran pemerintah daerah terutama
dimaksudkan untuk menutup defisit atau memanfaatkan surplus
anggaran. Salah satu komponen pembiayaan ini adalah penerimaan
atas pinjaman dan pembayaran pinjaman jangka panjang.
Dalam penyusunan APBD, Selisih Lebih (Kurang)
Pembiayaan Anggaran (SILPA/SIKPA) akan selalu nihil karena
jumlah surplus atau defisit harus ditetapkan rencana pemanfaatannya
atau penutupannya. Namun dalam realisasi anggaran pada umumnya
SILPA akan muncul. J umlah ini merupakan selisih antara
penerimaan anggaran dikurangi dengan pengeluaran anggaran.
Dengan kata lain jumlah ini diperoleh dengan menjumlahkan
surplus/defisit dengan pembiayaan netto.
iv) Aset
Aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau
dimiliki oleh sebagai akibat peristiwa masa lalu dan dari mana
manfaat ekonomi dan/atau sosial dimasa akan depan diharapkan
dapat diperoleh, baik oleh pemerintah provinsi J awa Timur atau oleh
masyarakat, serta dapat diukur dalam satuan uang, termasuk sumber
daya non-keuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi
masyarakat umum dan sumber-sumber daya yang dipelihara karena
alasan sejarah dan budaya. Dalam pengertian aset ini tidak termasuk
sumber daya alam seperti hutan, kekayaan didasar laut dan
kandungan pertambangan. Aset diakui pada saat diterima atau saat
hak kepemilikan berpindah.
Aset diklasifikasikan menjadi Aset Lancar, Investasi, Aset
Tetap dan Aset Lainnya.

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
72
(1) Aset Lancar
Aset Lancar jika berupa kas dan setara kas yang
diharapkan segera untuk direalisasikan, dipakai, atau dimilki
untuk dijual dalam waktu 12 (dua belas) bulan sejak tanggal
pelaporan. Aset Lancar terdiri dari Kas, Piutang dan Persediaan.
Kas disajikan dineraca dengan menggunakan nilai
nominal. Kas dalam bentuk valuta asing disajikan dineraca
dengan menggunakan kurs tengah BI pada tanggal neraca.
Piutang dinyatakan dalam neraca menurut nilai yang
timbul berdasarkan hak yang telah dikeluarkan surat keputusan
penagihannya. Termasuk dalam pos Piutang adalah Tagihan
Penjualan Rumah (Angsuran), Tagihan Tuntutan Ganti Rugi
(TGR) yang akan jatuh tempo dalam waktu 12 (dua belas) bulan
setelah tanggal laporan. Persediaan adalah aset lancar dalam
bentuk barang atau perlengkapan yang dimaksudkan untuk
mendukung kegiatan operasional pemerintah, dan barang-barang
yang dimaksudkan untuk dijual dan/atau diserahkan dalam
rangka pelayanan kepada masyarakat.
Persediaan dicatat pada neraca berdasarkan :
(a) harga pembelian terakhir, apabila diperoleh dengan
pembelian,
(b) harga standar apabila diperoleh dengan memproduksi
sendiri,
(c) harga wajar atau estimasi nilai penjualannya diperoleh
dengan cara lainnya seperti donasi/ rampasan.
(2) Investasi
Investasi adalah aset yang dimaksudkan untuk
memperoleh manfaat ekonomik seperti bunga, deviden, royalti,
atau manfaat sosial sehingga dapat meningkatkan kemampuan
pemerintah provinsi jawa timur dalam rangka pelayanan kepada
masyarakat.
Investasi diklasifikasikan kedalam investasi jangka
pendek dan investasi jangka panjang. Investasi jangka pendek
adalah investasi yang segera dicairkan dan dimaksudkan untuk
dimiliki dalam kurun waktu setahun atau kurang. Investasi
jangka panjang adalah investasi yang dimaksudkan untuk
dimiliki selama lebih dari setahun. Penyajian investasi pada
Neraca Pemerintah Provinsi J awa Timur per 31 Desember 2008
terbatas pada investasi jangka panjang.
Investasi jangka panjang dibagi menurut sifat
penanaman investasinya, yaitu non permanen dan permanen.
(a) Investasi Non Permanen
Investasi non permanen adalan investasi jangka
panjang yang tidak termasuk dalam investasi permanen dan
dimaksudkan untuk dimiliki secara tidak berkelanjutan.
Investasi non permanen sifatnya bukan penyertaan modal

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
73
saham melainkan pinjaman jangka panjang yang
dimaksudkan untuk pembiayaan investasi pihak ketiga.
Investasi Non Permanen meliputi :
(i) Seluruh dana Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang
diberikan dalam bentuk Pinjaman Dana Bergulir kepada
pengusaha kecil, anggota koperasi, anggota kelompok
Swadaya Masyarakat, nasabah Lembaga Dana Kredit
Pedesaan, Nasabah Usaha Simpan Pinjam atau nasabah
Bank Perkreditan Rakyat.
(ii) Seluruh pencairan pinjaman pendanaan Kredit Usaha
Mikro dan Kecil (KUMK).
(b) Investasi Permanen.
Investasi Permanen adalah investasi jangka panjang
yang dimaksudkan untuk dimiliki secara berkelanjutan.
Investasi permanen dimaksudkan untuk mendapatkan
dividen atau menambahkan pengaruh yang signifikan dalam
jangka panjang. Investasi permanen meliputi seluruh
Penyertaan Modal Pemerintah Daerah pada Badan Usaha
Milik Daerah dan Perusahaan Daerah atau Badan Hukum
lainnya. Pemerintah Provinsi J awa Timur mempunyai 10
(sepuluh ) Badan Usaha dan 1 (satu) Perusahaan Daerah.
Metode penilaian yang digunakan terdapat 3 (tiga)
metode yang digunakan oleh Pemerintah Provinsi J awa
Timur, yaitu :
(i) Metode biaya;
Metode biaya adalah suatu metode penilaian
yang mencatat nilai investasi berdasarkan harga
perolehan. Dengan menggunakan metode biaya,
investasi dicatat sebesar biaya perolehan. Penghasilan
atas investasi tersebut diakui sebesar bagian hasil yang
diterima dan tidak mempengaruhi besarnya nilai
investasi pada badan usaha/badan hukum yang terkait.
(ii) Metode ekuitas;
Metode ekuitas adalah suatu metode penilaian
yang mengakui penurunan atau kenaikan nilai investasi
sehubungan dengan adanya rugi/laba badan usaha yang
menerima investasi (investee), proporsional terhadap
besarnya saham atau pengendalian yang dimiliki
pemerintah.
Dengan menggunakan metode ekuitas,
pemerintah mencatat investasi awal sebesar biaya
perolehan dan ditambah atau dikurangi sebesar bagian
laba atau rugi pemerintah setelah tanggal perolehan.
Bagian laba yang diterima pemerintah akan mengurangi
nilai investasi pemerintah. Sedangkan dividen yang
dibayarkan dalam bentuk saham, tidak mempengaruhi
nilai investasi pemerintah karena pengakuan kenaikan

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
74
nilai investasinya sudah dilakukan pada saat laba
dilaporkan. Penyesuaian terhadap nilai investasi juga
diperlukan untuk mengubah porsi kepemilikan investasi
pemerintah, misalnya adanya perubahan yang timbul
akibat pengaruh valuta asing serta revaluasi aset tetap.
(iii) Metode nilai bersih yang dapat direalisasi
Metode nilai bersih yang dapat direalisasikan
digunakan terutama untuk kepemilikan yang akan
dilepas/dijual dalam jangka waktu dekat.

Penilaian investasi jangka panjang di Pemerintah
Provinsi J awa Timur sampai dengan tahun anggaran 2008
masih diprioritaskan menggunakan Metode Biaya. Namun
untuk penilaian investasi tahun anggaran 2009 Pemerintah
Provinsi J awa Timur akan mengidentifikasi kepemilikan
sekaligus metode penilaian akan disesuaikan dengan Standar
Akuntansi Pemerintahan (SAP) tahun 2005. Hal ini telah
disepakati dengan para Direktur Utama dan Pimpinan Cabang
dari BUMD dan Perusahaan Daerah yang dituangkan ke dalam
Berita Acara tanggal 27 Nopember 2008. Dengan demikian
Investasi penyertaan Modal dan Dana Bergulir, tahun TA 2008
laporannya masih berdasarkan SP2D.
(3) Aset Tetap
Aset tetap adalah aset berwujud yang mempunyai masa
manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan untuk digunakan dalam
kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum.
Klasifikasi aset tetap adalah tanah, peralatan dan mesin, gedung
dan bangunan, jalan, irigasi dan jaringan, aset tetap lainnya, dan
konstruksi dalam pengerjaan.
Tanah yang dikelompokkan dalam aset tetap adalah
tanah yang dimiliki atau dikuasai oleh pemerintah untuk
digunakan dalam kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh
masyarakat umum dan dalam kondisi siap digunakan. Tanah
yang digunakan untuk bangunan, jalan, irigasi, dan jaringan tetap
dicatat sebagai tanah yang terpisah dari aset tetap yang dibangun
di atas tanah tersebut.
Peralatan dan Mesin yang dikelompokkan dalam aset
tetap adalah peralatan dan mesin yang dimiliki atau dikuasai oleh
pemerintah untuk digunakan dalam kegiatan pemerintah atau
dimanfaatkan oleh masyarakat umum dan dalamkondisi siap
digunakan. Aset tetap yang dapat diklasifikasikan dalam
Peralatan dan Mesin ini mencakup antara lain: alat berat; alat
angkutan; alat bengkel dan alat ukur; alat pertanian; alat kantor
dan rumah tangga; alat studio, kominikasi, dan pemancar; alat
kedokteran dan kesehatan; alat laboratorium; alat persenjataan;
komputer; alat eksplorasi; alat pemboran; alat produksi,
pengolahan, dan pemurnian; alat bantu eksplorasi; alat

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
75
keselamatan kerja; alat peraga; dan unit peralatan proses
produksi.
Gedung dan Bangunan yang dikelompokkan dalam aset
tetap adalah gedung dan bangunan yang dimiliki atau dikuasai
oleh pemerintah untuk digunakan dalam kegiatan pemerintah
atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum dan dalam kondisi
siap digunakan. Termasuk dalam jenis gedung dan bangunan ini
antara lain: bangunan gedung, monumen, bangunan menara, dan
rambu-rambu.
J alan, Irigasi dan J aringan yang dikelompokkan dalam
aset tetap adalah jalan, irigasi, dan jaringan yang dimiliki atau
dikuasai oleh pemerintah untuk digunakan dalam kegiatan
pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum dan dalam
kondisi siap digunakan. Contoh aset tetap yang termasuk dalam
klasifikasi ini mencakup antara lain: jalan dan jembatan,
bangunan air, instalasi, dan jaringan.
Aset tetap Lainnya mencakup aset tetap yang tidak dapat
dikelompokkan ke dalam kelompok aset tetap di atas, tetapi
memenuhi definisi aset tetap. Aset tetap lainnya ini dapat
meliputi koleksi perpustakaan/buku dan barang bercorak
seni/budaya/olah raga.
Konstruksi dalam Pengerjaan mencakup aset tetap yang
sedang dalam proses pembangunan, yang pada tanggal neraca
belum selesai dibangun seluruhnya. Pembahasan mengenai
konstruksi dalam pengerjaan dijelaskan lebih rinci dalam sub bab
konstruksi dalam pengerjaan.
Akumulasi penyusutan merupakan pos di neraca yang
mengurangi nilai dari aset tetap. Penyusutan adalah penyesuaian
nilai sehubungan dengan penurunan kapasitas dan manfaat dari
suatu aset. Selain tanah dan konstruksi dalam pengerjaan, seluruh
aset tetap dapat disusutkan sesuai dengan sifat dan karakteristik
aset tersebut. Penyusutan ini bukan untuk alokasi biaya
sebagaimana penyusutan di sektor komersial, tetapi untuk
menyesuaikan nilai sehingga dapat disajikan secara wajar.
Aset bersejarah merupakan aset tetap yang dimiliki atau
dikuasai oleh pemerintah yang karena umur dan kondisinya aset
tetap tersebut harus dilindungi oleh peraturan yang berlaku dari
segala macam tindakan yang dapat merusak aset tetap tersebut.
Lazimnya, suatu aset tetap dikategorikan sebagai aset bersejarah
jika mempunyai bukti tertulis sebagai barang/bangunan
bersejarah.
Aset tetap diperoleh pemerintah dengan maksud untuk
digunakan dalam kegiatan operasional pemerintahan. Aset tetap
bagi pemerintah, disatu sisi merupakan sumberdaya ekonomi,
disisi lain merupakan suatu komitmen, artinya di kemudian hari
pemerintah wajib memelihara atau merehabilitasi aset tetap yang
bersangkutan. Pengeluaran belanja untuk aset tetap setelah

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
76
perolehan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu belanja
pemeliharaan dan belanja untuk peningkatan.
Belanja pemeliharaan dimaksudkan untuk
mempertahankan kondisi aset tetap tersebut sesuai dengan
kondisi awal. Sedangkan belanja untuk peningkatan adalah
belanja yang memberi manfaat ekonomik di masa yang akan
datang dalam bentuk peningkatan kapasitas, masa manfaat, mutu
produksi, atau peningkatan standar kinerja.
Menurut PSAP Nomor 07 tentang Akuntansi Aset Tetap,
aset tetap disajikan berdasarkan biaya perolehan aset tetap
dikurangi akumulasi penyusutan (depresiasi). Namun Laporan
Keuangan Pemerintah Provinsi J awa Timur, seluruh aset tetap
yang dikelola oleh Biro Administrasi Aset dan Perlengkapan
belum disusutkan/Dipresiasi. Hal ini disebabkan antara lain
belum dilakukan inventarisasi dab penilaian kembali (reevaluasi)
atas aset tetap tersebut.
(4) Aset Lainnya
Aset lainnya adalah aset Pemerintah Provinsi J awa
Timur selain aset lancar, investasi, dan aset tetap. Yang termasuk
dalam aset lainnya adalah Tagihan Penjualan Angsuran Rumah,
Tagihan Ganti Rugi yang jatuh tempo lebih dari 1 (satu) tahun,
Kemitraan dengan Pihak Ketiga, Aset Tak berwujud dan Aset
Lain-lain.
Tagihan Penjualan Angsuran (TPA), menggambarkan
yang dapat diterima dari penjualan aset pemerintah provinsi J awa
Timur secara angsuran kepada pegawai pemerintah daerah yang
dinilai sebesar nilai nominal dari kontrak/berita acara penjualan
aset yang bersangkutan setelah dikurangi dengan angsuran yang
telah dibayar oleh pegawai ke Kas Daerah atau daftar saldo
tagihan penjualan angsuran.
Tuntutan Ganti Rugi (TGR), merupakan suatu proses
yang dilakukan terhadap bendahara/pegawai negeri bukan
bendahara dengan tujuan untuk menuntut penggantian atas suatu
kerugian yang diderita oleh negara sebagai akibat langsung atau
tidak langsung dari suatu perbuatan yang melanggar hukum yang
dilakukan oleh bendahara/ pegawai negeri tersebut atau kelalaian
dalam pelaksanaan tugasnya.
Tagihan Penjualan Angsuran dan Tuntutan Ganti Rugi
yang akan jatuh tempo dalam 12 (dua belas) bulan setelah
tanggal neraca disajikan sebagai aset lancar.
Kemitraan dengan pihak ketiga, merupakan perjanjian
antara dua pihak atau lebih yang mempunyai komitmen untuk
melaksanakan kegiatan yang dikendalikan bersama dengan
menggunakan aset dan /atau hak usaha yang dimiliki (Bangun,
Kelola, Serah).
Aset Tak Berwujud merupakan aset nonkeuangan yang
dapat diidentifikasi dan tidak mempunyai wujud fisik serta untuk

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
77
digunakan dalam menghasilkan barang dan jasa atau digunakan
untuk tujuan lain termasuk hak atas kekayaan intelektual. Aset
Tak Berwujud meliputi : Software komputer, Lesensi dan
Franchise, Hak cipta (copyright), paten, goodwill dan hak lainya,
Hak jasa dan operasi.
(5) Dana Cadangan
Sesuai Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah dan PP 24 tahun 2005 tentang
standar Akuntansi Pemerintahan mendifinisikan Dana Cadangan
sebagai dana yang disisihkan guna mendanai kegiatan yang
memerlukan dana relatif besar yang tidak dapat dipenuhi dalam 1
(satu) tahun anggaran.
Dana Cadangan diakui ketika Pemerintah Daerah
Provinsi J awa Timur mengeluarkan kas dari Kas Daerah untuk
membentuk dana cadangan yang dianggarkan dalam
pembiayaan. Mutasi tambah atas saldo dana cadangan ketika
SP2D untuk pembentukan dana cadangan diperlukan, dan mutasi
kurang timbul pada saat pemerintah daerah melakukan pencairan
dana cadangan yang penerimaan atas pencairan tersebut
dianggarkan dalam pembiayaan. Hasil yang diterima dari
pengelolaan dana cadangan yaitu pendapatan bunga diakui
menambah saldo dana cadangan, sebaliknya seluruh biaya yang
timbul atas pengelolaan dana cadangan akan mengurangi dana
cadangan yang bersangkutan, misalnya adminstrasi deposito.
(6) Kewajiban
Kewajiban adalah utang yang timbul dari peristiwa masa
lalu yang penyelesaiannya mengakibatkan aliran keluar sumber
daya ekonomi pemerintah daerah. Dalam konteks pemerintahan,
kewajiban muncul antara lain karena penggunaan sumber
pembiayaan yang berasal dari pinjaman. Pinjaman tersebut dapat
berasal dari masyarakat, lembaga keuangan, pemerintah lain,
atau lembaga internasional. Kewajiban pemerintah juga terjadi
karena perikatan dengan pegawai yang bekerja pada pemerintah,
kewajiban kepada masyarakat luas yaitu kewajiban tunjangan,
kompensasi, ganti rugi, alokasi/realokasi pendapatan ke entitas
lainnya, atau kewajiban dengan pemberi jasa lain. Kewajiban
pemerintah dapat juga timbul dari pengadaan barang dan jasa
dari pihak ketiga yang belum dibayar pemerintah pada akhir
tahun anggaran.
Kewajiban diklasifikasikan menjadi dua, yaitu kewajiban
jangka pendek dan kewajiban jangka panjang.
Kewajiban J angka Pendek dapat diklasifikasikan sebagai
berikut :
(a) Kewajiban jangka pendek
Suatu kewajiban diklasifikasikan sebagai jangka
pendek jika diharapkan untuk dibayar atau jatuh tempo
dalam waktu 12 (dua belas) bulan setelah tanggal pelaporan.

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
78
Kewajiban jangka pendek meliputi Utang Kepada Pihak
Ketiga, Utang Perhitungan Fihak Ketiga, Bagian Lancar
Utang J angka Panjang, Utang Bunga dan Utang J angka
Pendek lainnya.
(b) Kewajiban J angka Panjang
Terkait dengan kewajiban jangka panjang, jika
terjadi kesulitan likuiditas pemerintah dapat melakukan
restrukturisasi atau pendanaan kembali terhadap utang-
utangnya yang akan jatuh tempo. Apabila hal ini terjadi,
entitas pelaporan dapat memasukkan kewajiban jatuh
temponya dalam waktu 12 bulan setelah tanggal pelaporan
ke dalam klasifikasi kewajiban jangka panjang, jika, J angka
waktu aslinya adalah untuk periode lebih dari 12 (dua belas)
bulan, dan Entitas bermaksud untuk mendanai kembali
(refinance) kewajiban tersebut atas dasar jangka panjang;
dan Maksud tersebut didukung dengan adanya suatu
perjanjian pendanaan kembali (refinancing), atau adanya
penjadwalan kembali terhadap pembayaran, yang
diselesaikan sebelum laporan keuangan disetujui. J umlah
kewajiban yang dikeluarkan dari kewajiban jangka pendek
menjadi kewajiban jangka panjang
(7) Ekuitas Dana
Ekuitas dana merupakan pos pada neraca pemerintah
yang menampung selisih antara aset dan kewajiban pemerintah.
Pos ekuitas dana terdiri dari tiga kelompok, yaitu, Ekuitas Dana
Lancar, Ekuitas Dana Investasi, Ekuitas Dana Cadangan, Uang
Muka dari Kas Umum Daerah
Ekuitas Dana Lancar merupakan selisih antara aset
lancar dengan kewajiban jangka pendek. Kelompok ekuitas dana
lancar antara lain terdiri dari sisa lebih pembiayaan anggaran
(SILPA), pendapatan yang ditangguhkan, cadangan piutang,
cadangan persediaan, dan dana yang harus disediakan untuk
pembayaran utang jangka pendek.
SILPA merupakan akun lawan yang menampung kas dan
setara kas serta investasi jangka pendek. Sedangkan pendapatan
yang ditangguhkan adalah akun lawan yang dimaksudkan untuk
menampung kas di Bendahara Penerimaan yang berasal dari
penyetoran pendapatan asli daerah oleh wajib bayar namun
sampai dengan akhir periode akuntansi belum disetorkan ke kas
umum daerah. Selain itu pada kelompok aset lancar terdapat
persediaan. Akun lawan dari persediaan adalah cadangan
persediaan.
Pada sisi kewajiban jangka pendek, selain utang PFK
yang merupakan pengurang SiLPA seperti disebutkan di atas,
ada akun kewajiban jangka pendek lainnya. Akun lawan dari
kewajiban jangka pendek lainnya ini adalah dana yang
disediakan untuk pembayaran utang jangka pendek.

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
79

Ekuitas Dana Investasi mencerminkan kekayaan
pemerintah yang tertanam dalam investasi jangka panjang, aset
tetap, dan aset lainnya, dikurangi dengan kewajiban jangka
panjang. Pos ini terdiri dari :
(a) Diinvestasikan dalam investasi jangka panjang, yang
merupakan akun lawan dari Investasi J angka Panjang
(b) Diinvestasikan dalam Aset Lainnya, yang merupakan lawan
dari Aset Lainnya
(c) Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang
J angka Panjang, yang merupakan akun lawan dari seluruh
Utang J angka Panjang.
Ekuitas Dana Cadangan mencerminkan kekayaan
pemerintah yang dicadangkan untuk tujuan tertentu sesuai
dengan peraturan perundang-undangan. Akun ini merupakan
akun lawan dari Dana Cadangan.
4) Penerapan kebijakan akuntansi berkaitan dengan ketentuan yang ada
dalam Standar Akuntansi Pemerintah.
Permendagri 13 tahun 2006 telah menegaskan bahwa laporan
keuangan pemerintah daerah disusun berdasarkan Standar Akuntansi
Pemerintahan (SAP). Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan di
Pemerintah Provinsi J awa Timur dilakukan secara bertahap, dalam arti bahwa
belum semua kebijakan akuntansi yang disarankan oleh Standar Akuntansi
Pemerintahan berjalan di Provinsi J awa Timur.
Sebagai penjelasan Kebijakan Akuntansi Pemerintahan Provinsi
J awa Timur secara umum sebagai berikut :
a) Kebijakan Akuntansi yang telah mengikuti Standar Akuntansi
Pemerintahan:
i) Penerapan kebijakan akuntansi pendapatan telah mengacu pada
Standar Akuntansi Pemerintahan, yaitu dengan mengakui pendapatan
pada saat kas dan setara kas diterima dan masuk ke rekening kas
umum daerah (dalam hal ini adalah rekening yang dikelola oleh
Kantor Kas Daerah). Perlakuan terhadap koreksi atas transaksi
pendapatan juga telah sesuai dengan Standar Akuntansi
Pemerintahan. Restitusi atas pendapatan tahun berjalan dilakukan
dengan mengurangi realisasi pendapatan tahun berjalan, sedangkan
restitusi atas realisasi pendapatan tahun sebelumnya diakui sebagai
belanja tak terduga yang pada akhirnya mengurangi ekuitas dana
lancar.
ii) Penerapan kebijakan akuntansi belanja juga telah mengadopsi
kebijakan akuntansi yang dituangkan dalam Standar Akuntansi
Pemerintahan. Belanja diakui ketika terjadi pengeluaran dari
rekening kas umum daerah dan/atau rekening bendahara pengeluaran
dan ketika belanja tersebut telah definitif dan dinyatakan sah oleh
pihak yang berwenang. Penyetoran atas pengembalian realisasi
belanja ke rekening kas umum daerah yang terjadi pada tahun
berkenaan diakui mengurangi realisasi belanja yang bersangkutan.

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
80
Sedangkan penerimaan atas pengembalian realisasi belanja tahun
sebelumnya ke rekening kas umum daerah diakui sebagai pendapatan
dari pengembalian kelebihan belanja.
iii) Terkait dengan kebijakan akuntansi atas belanja modal, Pemerintah
Provinsi J awa Timur telah mengakui realisasi belanja modal
berdasarkan prinsip harga perolehan, dan pada saat yang sama diakui
menambah aset tetap pemerintah daerah. Dengan pertimbangan
efisiensi, pembayaran termin atas realisasi belanja modal diakui
menambah aset Pemerintah Provinsi J awa Timur. J ika pada akhir
tahun pelaporan terdapat aset yang masih dalam proses pengerjaan,
maka dilakukan jurnal penyesuaian untuk mengurangi realisasi
pertambahan aset dan memindahkannya ke Konstruksi Dalam
Pengerjaan.
iv) Perlakuan atas transaksi pembiayaan juga telah mengacu pada
Standar Akuntansi Pemerintahan dengan kebijakan akuntansi yang
setara dengan kebijakan akuntansi pendapatan dan belanja yang telah
dibahas diatas.
b) Kebijakan Akuntansi yang belum mengikuti Standar Akuntansi
Pemerintahan adalah kebijakan akuntansi penyusutan aset tetap dan
investasi.
i) Pemerintah Provinsi J awa Timur belum menetapkan kriteria dan
metode penyusutan yang akan diberlakukan di seluruh satuan kerja
perangkat daerah,sehingga pelaporan aset untuk periode yang
berakhir tahun 2008 masih disajikan sebesar harga perolehannya, dan
belum dikurangi dengan penyusutan.
ii) Terkait dengan investasi permanen di BUMD dan Bank J atim,
Pemerintah Provinsi J awa Timur membuat kebijakan akuntansi
pengakuan mutasi tambah berdasarkan realisasi SP2D yang
dikeluarkan dari rekening kas umum daerah, dan mengakui
pendapatan dividen jika pembagian dividen dilakukan secara tunai
(kas). J adi, penyajian pos investasi dalam neraca Pemerintah Propinsi
J awa Timur untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2008 belum
menggunakan metode ekuitas, melainkan dengan menggunakan
metode biaya. Hal ini dilandasi oleh perbedaan pengakuan investasi
di masing-masing BUMD yang belum mengacu pada Standar
Akuntansi Pemerintahan.
Hasil rapat koordinasi dan penyamaan persepsi yang
dituangkan kedalam Berita Acara yang telah ditandatangani oleh
masing-maising BUMD atas pengakuan investasi sepakat untuk
melakukan kebijakan akuntansi investasi pada tahun anggaran 2009.
Sehingga diharapkan pada tahun 2010 laporan keuangan atas
pengakuan investasi penyertaan modal maupun invstasi dana bergulir
telah mengacu pada Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP).

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
81

e. PENJELASAN ATAS POS-POS NERACA, LAPORAN REALISASI
ANGGARAN, DAN LAPORAN ARUS KAS

Penjelasan Pos-Pos Neraca

1) Posisi Neraca secara Umum
Ringkasan Neraca per 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007
adalah sebagai berikut:

Tabel e.1 Neraca Pemerintah Propinsi J awa Timur (Rp)
Akun 31 Desember 2008
(Un-Audited)
31 Desember 2007
(Audited)

Aset 27.826.266.592.577,80 26.967.499.464.623,00
Aset Lancar 2.249.054.803.023,33 1.487.069.415.128,24
Investasi J angka Panjang 1.462.350.059.350,00 1.290.066.359.350,00
Aset Tetap 24.024.290.213.674,50 23.699.914.950.542,00
Dana Cadangan 41.500.000.000,00 479.055.408.392,75
Aset Lainnya 49.071.516.530,00 11.393.331.210,00

Kewajiban 445.749.997.867,30 176.210.197.999,65
Kewajiban J k. Pendek 442.879.363.344,30 169.651.146.773,65
Kewajiban J k. Panjang 2.870.634.523,00 6.559.051.226,00

Ekuitas Dana 27.380.516.594.710,50 26.791.289.266.623,30
Ekuitas Dana Lancar 1.806.175.439.679,03 1.317.418.268.354,59
Ekuitas Dana Investasi 25.532.841.155.031,50 24.994.815.589.876,75
Ekuitas Dana Cadangan 41.500.000.000,00 479.055.408.392,75

Perbandingan Aset, Kewajiban, dan Ekuitas Dana selama 2 (dua)
tahun terakhir disajikan pada berikut:
















Diagram e.1 Perbandingan Aset,Kewajiban dan Ekuitas
2
6
,
9
7
( 0,18 )
2
6
,
7
9
2
7
,
6
4
( 0,45 )
2
7
,
1
9
-60
-40
-20
0
20
40
60
80
100
t
r
i
l
y
u
n

r
u
p
i
a
h

2007 2008
Aset Kewajiban Ekuitas Dana

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
82

2) Penjelasan Atas Pos Neraca
a) ASET
i) Aset Lancar
(1) Kas
(a) Rekening Kas di Kas Daerah (BUD)
J umlah kas di Kas Daerah per 31 Desember 2008
dan 31 Desember 2007 sebesar Rp2.007.849.923.476,24 dan
Rp1.237.638.636.382,43. Sisa kas tersebut merupakan saldo
rekening 0011000477 yang ada di Bank J atim.
Saldo rekening per 31 Desember 2008 terdiri dari:



31 Desember 2008
(Rp)
31 Desember 2007
(Rp)
- Rek. Kasda
(0011000477)

2.007.849.923.476,24

1.237.638.636.382,43
- Rek. DAU
(0011142000)

0,00

0,00

Kenaikan saldo Rekening Kas Daerah di Bank J atim
per 31 Desember 2008 sebesar Rp770.211.287.093,81,
dikarenakan ada peningkatan dari pelampauan Pajak,
penghematan belanja dengan rincian sebagai berikut:
31 Desember 2008
(Rp)
31 Desember 2007
(Rp)
- Saldo Awal Kas
1 J an 2008

1.237.638.636.382,43

810.854.071.190,99
- Penerimaan Kas
s/d 31 Desember

7.498.524.016.323,81

5.897.296.226.927,44
- Pengeluaran Kas
s/d 31 Desember

6.728.312.729.230,00

5.470.511.661.736,00
- Kenaikan Kas
Tahun 2008

770.211.287.093,81

426.784.565.191,44
- Saldo Akhir Kas
31 Des 2008

2.007.849.923.476,24

1.237.638.636.382,43

(b) Kas Bendahara Penerimaan
J umlah Rekening Kas dari Bendahara Penerimaan
(Pendapatan yang ditangguhkan) per 31 Desember 2008 dan
31 Desember 2007 sebesar Rp526.126.759,00 dan
Rp271.663.646,00.


31 Desember 2008
(Rp)
31 Desember 2007
(Rp)
Kas di Bendahara
Penerimaan SKPD

526.126.759,00

271.663.646,00


PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
83
J umlah tersebut merupakan saldo Kas di
Bendahara Penerimaan per 31 Desember 2008 dan 2007,
dengan rincian berikut:

Tabel e.1 Saldo Kas di Bendahara Penerimaan (Rp)
Kas di Bendahara Penerimaan
SKPD
31 Desember 2008

31 Desember 2007

- Biro Perekonomian 0,00 220.872.916,60
- Dinas Koperasi dan UKM 0,00 4.219.125,00
- Dinas Perhubungan 150.869.149,00 25.885.857,00
- Dinas Kehutanan 39.206.310,00 0,00
- Biro Perlengkapan dan Adm. Aset 168.531.300,00 0,00
- RSUD Dr Saiful Anwar 0,00 20.685.748,00
- Islamic Centre 167.520.000,00 0,00
Jumlah saldo Kas di Bendahara
Penerimaan SKPD
526.126.759,00 271.663.646,60

(c) Kas Bendahara Pengeluaran
J umlah Kas pada Bendahara Pengeluaran per 31
Desember 2008 dan 31 Desember 2007 sebesar
Rp9.388.513.685,00 dan Rp8.588.974.570,00 yang terdiri
dari Sisa Kas GU dan Perhitungan Pihak Ketiga (PFK),
sehingga Saldo Kas pada Bendahara Pengeluaran seluruhnya
sebagaimana terinci :
(i) J umlah Rekening Kas di Bendahara Pengeluaran
merupakan Sisa Kas Ganti Uang (GU) per 31 Desember
2008 dan 31 Desember 2007 sebesar
Rp8.043.109.011,00 dan Rp4.672.154.143,00, dengan
rincian sebagai berikut :
31 Desember 2008
(Rp)
31 Desember 2007
(Rp)
Saldo Kas Ganti Uang
(GU)
8.043.109.011,00 4.672.154.143,00

Tabel e.2 Saldo Kas di Bendahara Pengeluaran (Rp)
Kas di Bendahara
Pengeluaran
31 Desember 2008 31 Desember 2007
- Dinas Kesehatan 0,00 167.369.062,00
- RSUD Dr Soetomo 0,00 109.236.723,00
- RSK Kusta Sumberglagah 198.123.428,00 296.955.338,00
- Dinas PU Bina Marga 0,00 807.702.051,00
- Bapeprov 450,00 201.000,00
- DLLAJ 50.100.000,00 254.399.625,00
- Badan Penged.Dampak Lingk. 1.243.643.148,00 624.855.050,00
- Dinas Sosial 0,00 1.000,00
- Dinas Tenaga Kerja 798.026.333,00 1.716.960.884,00

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
84
Kas di Bendahara
Pengeluaran
31 Desember 2008 31 Desember 2007
- Dinas Koperasi dan UKM 0,00 210.291.247,00
- Dispora 0,00 257.478.921,00
- Biro Perekonomian 791.669.916,00 40.593.790,00
- Biro Mental dan Spiritual 182.144.060,00 87.205.920,00
- Badan Ketahanan Pangan 339.721.753,00 96.727.712,00
- Dinas Energi dan SDM 0,00 2.175.820,00
- Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan
2.452.362.070 0,00
- Biro Kerjasama 67.469.850,00 0,00
- Sekretariat DPRD 780.356.029,00 0,00
- Bakorwil IV Pamekasan 161.236.086,00 0,00
- Dinas Info Komunikasi 58.255.888,00 0,00
- Dinas Kehutanan 920.000.000,00 0,00
Jumlah 8.043.109.011,00 4.672.154.143,00

(ii) J umlah Rekening Kas di Bendahara Pengeluaran
merupakan Perhitungan Pihak Ketiga (PFK) yang belum
disetorkan pada pihak ketiga per 31 Desember 2008 dan
31 Desember 2007 sebesar Rp1.345.404.674,00 dan
Rp1.530.992.927,00, dengan rincian sebagai berikut :

31 Desember 2008
(Rp)
31 Desember 2007
(Rp)
Saldo Kas PFK 1.345.404.674,00 1.530.992.927,00

Tabel e.3 Saldo PFK (Rp)
Kas di Bendahara
Pengeluaran
31 Desember 2008 31 Desember 2007

- PFK Dinas Perkebunan 0,00 810.115.994,00
- PFK Balitbang 0,00 26.250,00
- PFK Biro Umum 0,00 720.850.683,00
- PFK Dinas P dan K 758.403.985,00 0,00
- PFK Bapeprov 313.677.743,00 0,00
- PFK Bapedalda 8.095.845,00 0,00
- PFK Badan Pengawasan 253.996.041,00 0,00
- PFK Baketpang 11.231.060,00 0,00
Jumlah seluruhnya 1.345.404.674,00 1.530.992.927,00,

(iii) J umlah Rekening Kas di Bendahara Pengeluaran RSUD
Saiful Anwar Malang merupakan saldo Askeskin per 31
Desember 2008 dan 31 Desember 2007 sebesar Rp0,00
dan Rp2.358.827.500,00, dengan rincian sebagai berikut:



PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
85
31 Desember 2008
(Rp)
31 Desember 2007
(Rp)
Kas di Bendahara
Pengeluaran
0,00 2.385.827.500,00


(d) Kas di RSUD
J umlah Kas di RSUD (Fungsional) per 31 Desember
2008 dan 31 Desember 2007 sebesar Rp45.353.496.052,45
dan Rp35.256.020.830,79.

31 Desember 2008
(Rp)
31 Desember 2007
(Rp)
Kas di Rekening
Rumah Sakit

45.353.496.052,45

35.256.020.830,79

J umlah tersebut adalah saldo Kas di Rekening
Rumah Sakit (Fungsional) per 31 Desember 2008 dan
per 31 Desember 2007 dengan rincian sebagai berikut
(dalam rupiah):

Tabel e.4 Saldo Kas Fungsional Rumah Sakit (Rp)
Rumah Sakit 31 Desember 2008

31 Desember 2007
- RSUD Dr Soetomo 14.791.529.019,36 11.388.387.904,42
- RSUD Dr Saiful Anwar 14.397.556.965,00 11.145.865.787,00
- RSUD Dr Soedono 9.739.184.613,00 5.016.003.670,48
- RSU Haji 3.663.789.092,89 6.340.039.716,89
- RS J iwa Menur 1.722.621.516,00 1.030.296.284,00
- RSK Paru Batu 393.943.278,00 84.792.081,00
- RSK Paru Dungus 119.981.475,00 158.494.723,00
- RSK Paru J ember 148.317.151,00 42.364.901,00
- RSK Kusta Kediri 199.127.700,00 13.700.625,00
- RSK Kusta Sumberglagah 177.445.242,20 36.075.138,00
J umlah 45.353.496.052,45 35.256.020.830,79

Tabel. e.5 Perbandingan SILPA di Neraca dan SILPA di LRA
Tahun 2008 (Rp)
No Uraian SiLPA di NERACA SILPA di LRA
1 Kas di Kas Daerah 2.007.849.923.476,24 2.007.849.923.476,24
2 Kas di Bendahara
Pengeluaran

- Sisa UP disetor 2009 8.043.109.011,00 8.043.109.011,00
- PFK GU yg. belum disetor 1.345.404.674,00 0
3 Kas di Rekening Rumah Sakit 45.353.496.052,45 45.353.496.052,45
Jumlah 2.062.591.933.213,69 2.061.246.528.539,69


PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
86

(2) Piutang
(a) Piutang Pajak

31 Desember 2008
(Rp)
31 Desember 2007
(Rp)
Piutang Pajak 103.772.313.389,00 96.996.693.111,00

J umlah Piutang Pajak per 31 Desember 2008 dan 31
Desember 2007 adalah sebesar Rp103.772.313.389,00 dan
Rp96.996.693.111,00 yang rinciannya sebagai berikut

Tabel e.6 Piutang Pajak (Rp)
Uraian 31 Desember 2008 31 Desember 2007
PKB Non Penetapan J abatan 678.983.365,00 879.250.515,00
PKB Penetapan J abatan 100.975.025.550,00 93.892.858.700,00
BBNKB 135.211.200,00 239.111.850,00
P3ABT 1.017.252.620,00 1.219.188.636,00
P3AP 965.840.654,00 766.283.410,00
Jumlah seluruhnya 103.772.313.389,00 96.996.693.111,00

(b) Piutang Retribusi

31 Desember 2008
(Rp)
31 Desember 2007
(Rp)
Piutang Retribusi 42.544.340.213,00 55.149.662.819,00

J umlah tersebut merupakan tagihan retribusi Tahun
2008 dan 2007 yang belum tertagih sampai dengan 31
Desember 2008 dan 31 Desember 2007.

Tabel e.7 Piutang Retribusi (Rp)
No Jenis retribusi 31 Desember 2008 31 Desember 2007
1. Retribusi Pemeriksaan,
Pengukuran, dan Pengujian Hasil
Hutan (RP3HH)
0,00 26.499.510,00
2. Retribusi ijin/rekomendasi
pemakaian tanah di Dinas
Pengairan
232.153.734,00
3. Retribusi Pelayanan Kesehatan *) 42.312.186.479,00 55.123.163.309,00
Total 42.544.340.213,00 55.149.662.819,00


PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
87

Tabel e.8 Piutang Retribusi Pelayanan Kesehatan (Rp)
No Uraian 31 Desember 2008 31 Desember 2007
1. RS. Dr. Soetomo 9.524.335.886,00 32.201.644.304,00
2. RS. Dr. Syaiful Anwar 25.515.012.250,00 14.865.606.850,00
3. RS. Soedono 2.276.362.105,00 5.413.176.650,00
4. RS. Haji Surabaya 1.764.876.245,00 1.643.094.058,00
5. RS. Menur 1.119.635.282,00 999.641.447,00
6. RS. Paru J ember 111.964.711, 0,00
Total 42.312.186.479,00 55.149.662.819,00

(c) Piutang Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran

31 Desember 2008
(Rp)
31 Desember 2007
(Rp)
Piutang Bagian Lancar
Tagihan Penjualan
Angsuran
867.469.581,00

990.653.996,00

J umlah tersebut merupakan Tagihan Penjualan
Angsuran atas penjualan rumah secara angsuran kepada
pegawai yang belum dibayar sampai dengan 31 Desember
2008 dan 31 Desember 2007. Tagihan Penjualan Angsuran
terdiri atas angsuran penjualan perumahan dengan rincian,
(dalam rupiah):

Tabel e.9 Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran (Rp)
No. Uraian 31 Desember 2008 31 Desember 2007
1. Penjaringan I 43.337.791,00 47.083.181,00
2. Penjaringan II 153.426.454,00 174.117.479,00
3. J enggolo I 291.793.100,00 340.782.100,00
4. J enggolo II 295.611.718,00 335.985.718,00
5. J enggolo III 83.300.518,00 92.685.518,00
Jumlah 867.469.581,00 990.653.996,00

Pemerintah Provinsi J awa Timur belum dapat
memisahkan Tagihan Penjualan Angsuran yang jatuh tempo
kurang dari 12 bulan (Bagian Lancar) dengan Tagihan
Penjualan Angsuran yang jatuh tempo lebih dari 12 bulan
(Aset Lainnya), namun demikian terdapat Mutasi Angsuran
Tahun Anggaran 2008 sebesar Rp123.184.415,00

(d) Piutang Bagian Lancar Tuntutan Perbendaharaan (TP)
Piutang Bagian Lancar Tuntutan Perbendaharaan
(TP) Tahun 2008 adalah sebesar Rp0,00.




PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
88
(e) Piutang Bagian Lancar Tuntutan Ganti Rugi (TGR)

31 Desember 2008
(Rp)
31 Desember 2007
(Rp)
Bagian Lancar
Tuntutan Ganti
Kerugian Daerah
151.901.950,00

84.278.650,00

J umlah tersebut merupakan saldo piutang Lancar
dari Tuntutan Ganti Rugi (TGR) yang belum dibayar sampai
dengan 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007. Sebagai
rinciannya lihat Daftar Lampiran I.

(f) Piutang Lainnya

31 Desember 2008
(Rp)
31 Desember 2007
(Rp)
Piutang Lain-lain 1.414.925.096,00 47.889.712,00

J umlah tersebut merupakan saldo piutang lain-lain
yang belum dibayar sampai dengan 31 Desember 2008 dan
31 Desember 2007

Tabel e.10 Piutang Lainnya (Rp)
Uraian 31 Desember 2008 31 Desember 2007
1. Piutang SP3-ASDP (Dinas
Perhubungan)
41.689.712,00 46.689.712,00
2. Piutang pada PT. J IM (Biro
Perekonomian)
1.000.000.000,00 0,00
4. Piutang Lain-lain (RS J iwa Menur) 89.800.000,00 1.200.000,00
5. Piutang PT Pelindo
283.435.384,00
0
Jumlah seluruhnya 1.414.925.096,00 47.889.712,00

(3) Persediaan

31 Desember 2008
(Rp)
31 Desember 2007
(Rp)
Persediaan 37.185.792.821,64 52.044.941.410,42

J umlah tersebut merupakan saldo persediaan barang
pakai habis per 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007 pada
beberapa SKPD dengan rincian Lihat daftar Lampiran II.

(4) Investasi Jangka Panjang
(a) Investasi Non Permanen
Investasi Non Permanen berupa Investasi Dana
Bergulir dengan rincian sebagai berikut:

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
89

31 Desember 2008
(Rp)
31 Desember 2007
(Rp)
Investasi J k. Pjg. Dana
Bergulir
403.995.700.850,00

379.995.70.850,00

J umlah Dana Bergulir Pemerintah Provinsi J awa
Timur per 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007,
merupakan dana Pemerintah Daerah Provinsi J awa Timur
yang disalurkan dalam bentuk pinjaman bergulir kepada
pengusaha kecil, anggota koperasi, dan lainnya yang dikelola
oleh beberapa SKPD. J umlah Dana Bergulir yang
dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah Provinsi J awa Timur
berdasarkan SPM/SP2D, dengan rincian sebagai berikut:

Tabel e.11 Dana Bergulir (Rp)
No. Uraian 31 Desember 2008 31 Desember 2007
1. PT Bank J atim (UKMK) 118.000.000.000,00 110.000.000.000,00
2. PT BPR J atim (UKMK) 97.500.000.000,00 93.000.000.000,00
3. Badan Ketahanan Pangan 57.405.000.000,00 54.955.000.000,00
4. Dinas Peternakan 27.513.700.850,00 27.513.700.850,00
5. Dinas Koperasi dan UKM 55.977.000.000,00 47.727.000.000,00
6. Dinas Perindag. 11.200.000.000,00 11.200.000.000,00
7. Dinas Perkebunan 1.200.000.000,00 1.200.000.000,00
8. Dinas Perikanan dan Kelautan 2.200.000.000,00 1.400.000.000,00
9. Dinas Pertanian 4.000.000.000,00 4.000.000.000,00
10. PT Bank J atim (PJ TKI) 29.000.000.000,00 29.000.000.000,00
Jumlah seluruhnya 403.995.700.850,00 379.995.700.850,00
Keterangan :
Dana Bergulir yang dikelola oleh SKPD Pemerintah
Provinsi J awa Timur, yang disalurkan antara lain melalui PT.
Bank J atim dan PT. BPR J atim, merupakan dana perguliran
yang yang dikelola oleh setiap SKPD yang melaksanakan.
Dalam penyajian dana bergulir tahun anggaran 2008
Pemerintah Provinsi J awa Timur masih belum dapat
menyampaikan laporannya dengan menggunakan Metode
Nilai bersih. Namun Pemerintah Provinsi J awa Timur tahun
2009 telah menyusun draft regulasi tentang dana bergulir
yang akan mengatur baik dari sisi perencanaan hingga
pelaporannya.
Penambahan nilai Investasi Non Permanen pada
Tahun 2008 berupa penambahan Dana Bergulir melalui:
- PT Bank J atim (UKMK) sebesar Rp8.000.000.000,00
- PT BPR J atim (UKMK) sebesar Rp4.500.000.000,00
- Badan Ketahanan Pangan sebesar Rp2.450.000.000,00
- Dinas Koperasi dan UKM sebesar Rp8.250.000.000,00
- Dinas Perikanan dan Kelautan sebesar
Rp800.000.000,00

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
90


(b) Investasi Permanen
Investasi Permanen berupa Penyertaan Modal ke
Pemerintah Daerah dengan rincian sebagai berikut:

31 Desember 2008
(Rp)
31 Desember 2007
(Rp)
Penyertaan Modal
Pemda.
1.058.354.358.500,00

910.070.658.500,00

J umlah Penyertaan Modal Pemerintah Provinsi J awa
Timur pada 11 Perusahaan berdasarkan SPM/ SP2D sampai
dengan 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007. Penilaian
investasi penyertaan modal pada Tahun Anggaran 2008
masih diprioritaskan dengan menggunakan metode biaya
untuk seluruh tingkat kepemilikan. Berikut rincian
penyertaan modal :

Tabel e.12 Penyertaan Modal (Rp)
No Uraian Pendirian 31 Desember 2008 31 Desember 2007
1. PT. Surabaya
Industrial Estate
Rungkut
Akta Pendirian No.
166/1974
7.500.000.000,00 7.500.000.000,00
2. PD Air Bersih Perda No. 2/1987 jo
12/1996
5.000.000.000,00 5.000.000.000,00
3. PT Askrida Akta Pendirian No.
131/1997
560.000.000,00 560.000.000,00
4. PT Bank J atim Perda No. 1/1999 510.949.000.000,00 510.949.000.000,00
5. PT Panca Wira
Usaha
Perda No. 5/1999 94.930.058.500,00 94.930.058.500,00
6. PT Bank
Perkreditan
Rakyat

Perda No. 10/2000 45.380.300.000,00 41.380.300.000,00
7. PT J atim Marga
Utama
Perda No. 25/2002 30.002.000.000,00 30.002.000.000,00
8. PT J atim Krida
Utama
Akta Pendirian No.
30/2004
1.800.000.000,00 1.800.000.000,00
9. PT J atim
Investment
Manajemen
Perda No. 12/2003
jo 4/2004
40.300.000.000,00 40.300.000.000,00
10. PT J atim Graha
Utama
Perda No. 14/2005
227.058.000.000,00

82.774.300.000,00
11. PT Petrogas
J atim Utama
Perda No. 1/2006 94.875.000.000,00 94.875.000.000,00
Jumlah 1.058.354.358.500,00 910.070.658.500,00

Perubahan nilai Investasi Permanen pada Tahun
2008 berupa penyertaan modal dengan rincian sebagai
berikut

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
91
- Penambahan penyertaan modal kepada PT BPR J atim
sebesar Rp4.000.000.000,00
- Penambahan penyertaan modal kepada PT J atim Graha
Utama sebesar Rp70.000.000.000,00
- Penambahan penyertaan modal kepada PT J atim Graha
Utama berupa tanah yang telah direvaluasi sebesar
Rp117.058.000.000,00 dari nilai awal sebesar
Rp42.774.300.000,00.

J umlah Investasi Permanen Penyertaan Modal
Daerah, merupakan nilai penyertaan modal pada BUMD
yang bergerak dalam bidang Perbankan, Pembiayaan,
Konstruksi, dan J asa lainnya. Berikut komposisi Penyertaan
Modal Pemerintah Provinsi J awa Timur pada BUMD per 31
Desember 2008 (Un-Audited):

Tabel e.13 Komposisi Penyertaan Modal

















ii) Aset Tetap
J umlah Aset Tetap per 31 Desember 2008 dan 31 Desember
2007 sebesar Rp24.024.290.213.674,50 dan
Rp23.699.914.950.542,00 merupakan nilai aset tetap berdasarkan
neraca SKPD. Aset Tetap dinilai dengan menggunakan metode harga
perolehan (Acquisition Cost) dan belum memperhitungkan
Depresiasi (penyusutan). Diantara aset tetap tersebut terdapat aset
NO NAMA PERUSAHAAN
Tahun
Pelaporan
Status Laporan
Keuangan
%Saham
Pemprov Jatim
Nilai Ekuitas
Kepemilikan
Pemprov Jatim
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) = (5) x (6)
I. PERBANKAN
1. PT. BankPembangunanDaerahJawaTimur 2008 Unaudited 75,37% 2.039.835.810 1.537.424.249,89
2. PT. BankPerkreditanRakyat (BPR) JawaTimu 2008 Unaudited 81,54% 75.632.554 61.670.784,25
Sub Total 1.599.095.034
II. PEMBIAYAAN
1. PT. JatimInvestment Management (JIM) 2008 Unaudited 99,51% 23.680.986 23.564.949
Sub Total 23.564.949
III. PENUNJANG KONSTRUKSI
1. PT. JatimGrhaUtama(JGU) 2008 Unaudited 99,93% 229.327.521 229.166.992
2. PT. JatimMargaUtama(JMU) 2008 Unaudited 70,00% 42.860.000 30.002.000
Sub Total 259.168.992
IV. JASA LAINNYA
1. PerusahaanDaerahAir Bersih 2008 Unaudited 100,00% 10.912.030 10.912.030
2. PT. JatimKridaUtama(JKU) 2008 Unaudited 60,00% 3.458.180 2.074.908
Sub Total 12.986.938
V. PERTAMBANGAN
1. PT. PetrogasJatimUtama(PJU) 2008 Unaudited 99,00% 93.307.720 92.374.643
Sub Total 92.374.643
VI. USAHA ANEKA INDUSTRI
1. PT. PancaWiraUsaha(PWU) JawaTimur 2008 Unaudited 99,99% 136.913.373 136.902.608
Sub Total 136.902.608
VII. BUMD DENGAN SAHAM MINORITAS
1. PT. Asuransi BangunAskrida 2008 Unaudited 0,04% 199.969.778 81.988
2. PT. SurabayaIndustrial EstateRungkut (Perse 2008 Unaudited 25,00% 141.826.850 35.456.713
Sub Total 35.538.700
T OT A L 2.159.631.863

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
92
pusat sebesar Rp 84.691.074.000,00, namun belum dikeluarkan dari
Daftar Aktiva Tetap Pemerintah Provinsi, mengingat bukti-bukti
pendukung yang menyatakan aset dimaksud benar-benar milik
Pemerintah Pusat belum ditemukan.
Sampai saat ini telah dilakukan penilaian atas nilai wajar aset
tetap pada beberapa SKPD. Hasil penilaian tersebut telah dijadikan
sebagai dasar koreksi atas nilai tetap pada beberapa SKPD antara
lain: Dinas Peternakan dan Dinas Pendapatan Provinsi J awa Timur.

31 Desember 2008
(Rp)
31 Desember 2007
(Rp)
Aset Tetap
24.024.290.213.674,50
23.699.914.950.542,00

J umlah tersebut merupakan saldo Aset Tetap yang dimiliki
Pemerintah Provinsi J awa Timur per 31 Desember 2008 dan 31
Desember 2007.
Rincian Aset Tetap menurut jenisnya adalah sebagai berikut
:
Tabel e.14 Aset Tetap (Rp)
Jenis Aset Tetap 31 Desember 2008 31 Desember 2007
Tanah 12.233.981.778.765,00 12.382.351.961.109,00
Peralatan dan Mesin 1.586.475.817.532,50 1.453.395.570.350,00
Gedung dan Bangunan 1.222.196.223.195,00 1.080.020.130.941,00
J alan, Irigasi dan J aringan 8.753.425.297.429,00 8.601.027.328.985,00
Aset Tetap lainnya 14.092.522.448,00 11.236.833.713,00
Kontruksi dalam Pengerjaan 214.118.574.305,00 171.883.125.444,00
Jumlah 24.024.290.213.674,50 23.699.914.950.542,00
J umlah tersebut merupakan Aset Tetap per 31 Desember
2008 dan 31 Desember 2007 pada beberapa SKPD dengan rincian
Lihat Daftar Lampiran III.

(1) Tanah

31 Desember 2008
(Rp)
31 Desember 2007
(Rp)
Tanah 12.233.981.778.765,00 12.382.351.961.109,00

J umlah tersebut merupakan saldo Aktiva Tetap Tanah
yang dimiliki Pemerintah Provinsi J awa Timur per 31 Desember
2008 dan 31 Desember 2007.
Diantara Aktiva Tetap Tanah dimaksud terdapat 1.701
bidang tanah seluas 5.681.477 m2 senilai
Rp3.790.435.529.075,00 yang belum bersertifikat, sebagian
diantaranya sejumlah 792 bidang seluas 3.472.449 m2 senilai
Rp1.515.750.536.561,00 mempunyai dokumen perolehan tanah
sedangkan sisanya dokumen pendukung akan diupayakan.

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
93
Perubahan nilai Aktiva Tetap Tanah disebabkan oleh :
(a) pengurangan karena proses pelepasan dan penyertaan modal
serta kompensasi penggunaan/pinjam pakai kawasan hutan
senilai Rp117.974.180.000,00
(b) pengurangan senilai Rp114.516.068.480,00 karena terbukti
aset tetap tanah dimaksud milik Pemerintah
Pusat/Kabupaten/Kota yang digunakan dengan cara pinjam
pakai atau sewa
(c) pengurangan karena terdapat 2 SKPD yang telah mencatat
aset, kesalahan entry nilai data tanah, dan nilai awal tanah
yang dilakukan apraisal, serta data yang alamatnya tidak
jelas senilai Rp8.986.034.474,00
(d) Adanya pengalihan penggunaan tanah antar SKPD di
lingkungan Pemerintah Provinsi senilai
Rp17.232.080.000,00 menyebabkan mutasi tambah kurang
(e) Pertambahan disebabkan realisasi Belanja Modal APBD
Tahun 2008 senilai Rp29.586.381.609,00
(f) Pertambahan karena hasil apraisal atas tanah
Rp21.803.339.000,00
(g) Pertambahan karena data tanah belum dimasukkan dalam
Daftar Aktiva Tetap sebelumnya Rp41.716.380.001,00

(2) Peralatan dan Mesin

31 Desember 2008
(Rp)
31 Desember 2007
(Rp)
Peralatan dan
Mesin
1.586.475.817.532,50

1.453.395.570.350,00

J umlah tersebut merupakan saldo Aktiva Tetap Peralatan
dan Mesin yang dimiliki Pemerintah Provinsi J awa Timur per 31
Desember 2008 dan 31 Desember 2007.
Rincian Peralatan dan Mesin berikut:

Tabel e.15 Peralatan dan Mesin (Rp)
No. Uraian 31 Desember 2008 31 Desember 2007
1. Alat-alat Berat 220,307,543,910,00 216.480.662.379,00
2. Alat-alat Angkutan 193,338,804,746,00 190.197.495.014,00
3. Alat-alat Bengkel dan ukur 64.102.782.801,50 53.539.381.575,00
4. Alat-alat Pertanian 74.342.936.710,00 65.700.442.888,00
5. Alat-alat Kantor dan RT 543.363.478.084,00 495.884.298.957,00
6. Alat-alat Studio dan
Komunikasi
138.013.928.880,00 129.393.075.203,00
7. Alat-alat Kedokteran 275.324.632.973,20 238.580.431.683,00
8. Alat Laboratorium 75.384.962.894,80 61.352.601.601,00
9. Alat Keamanan 2.296.746.533,00 2.267.181.050,00
Jumlah 1.586.475.817.532,50 1.453.395.570.350,00


PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
94
Perubahan nilai Aktiva Tetap Peralatan dan Mesin
diakibatkan oleh:
(a) Penambahan berasal dari :
(i) realisasi Belanja Modal APBD Tahun 2008 senilai
Rp103.829.168.982,00
(ii) perolehan barang inventaris yang belum masuk dalam
Aktiva Tetap ditemukan pada saat validasi data Barang
daerah tahun 2008 senilai Rp23.355.189.048,00
(iii) perolehan dari Realisasi Belanja Non Modal APBD
Tahun 2008 berupa barang inventaris senilai
Rp74.453.500,00;
(iv) penerimaan bantuan alat kedokteran dari Departemen
Kesehatan kepada RSUD Dr. Soetomo Surabaya sebesar
Rp6.124.085.000,00
(b) Pengurangan berasal dari:
(i) Pengurangan karena pengeluaran barang Pusat (APBN)
yang dulunya masuk dalam Neraca 2007 (LHP BPK-
2007) serta Penghapusan Barang Inventaris Tahun 2008
senilai Rp100.388.047,00
(ii) Pengurangan karena terdapat Belanja Modal Peralatan
dan Mesin pada Dinas Kesehatan sebesar
Rp202.261.300,50 yang tidak menambah aset tetap
(salah beban).
(c) Pengalihan barang Inventaris antar SKPD serta penempatan
barang inventaris yang mengakibatkan mutasi tambah kurang
senilai Rp24.510.313.332,00

(3) Gedung dan Bangunan

31 Desember 2008
(Rp)
31 Desember 2007
(Rp)
Gedung dan
bangunan
1.222.196.223.195,00

1.080.020.130.941,00

J umlah tersebut merupakan saldo Aktiva Tetap Gedung
dan Bangunan yang dimiliki Pemerintah Provinsi Jawa Timur
per 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007.
Rincian Gedung dan Bangunan berikut ini:

Tabel e.16 Gedung dan Bangunan (Rp)
No. Uraian 31 Desember 2008 31 Desember 2007
1. Bangunan Gedung 1.202.455.996.219,00 1.063.729.181.698,00
2. Bangunan Monumen 19.740.226.976,00 16.290.949.243,00
Jumlah 1.222.196.223.195,00 1.080.020.130.941,00
Perubahan nilai Aktiva Tetap Gedung dan Bangunan
diakibatkan oleh:

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
95
(a) Penambahan berasal dari :
(i) Realisasi Belanja Modal APBD Tahun 2008 senilai
Rp86.357.042.130,00;
(ii) Data gedung dan bangunan (lama) yang belum masuk
dalam Aktiva Tetap 2007 senilai Rp55.265.727.732,00;
(iii) Konstruksi Dalam Pengerjaan Tahun 2007 sebesar
Rp5.049.425.238,00 pada Dinas Kesehatan telah menjadi
Bangunan Gedung di Tahun 2008.
(b) Pengurangan berasal dari:
(i) Pengurangan karena pengeluaran barang Pusat (APBN)
yang dulunya masuk dalam Neraca 2007 (LHP BPK-
2007) serta Penghapusan Gedung (Bongkaran) untuk
dibangun kembali senilai Rp 5.609.172.136,00;
(ii) Terdapat Konstruksi Dalam Pengerjaan Tahun 2008
sebesar Rp1.905.959.500,00 yang sudah diakui sebagai
aset Bangunan-Gedung di Tahun 2008, sehingga harus
dilakukan reklasifikasi;
(iii) Aset Tak Berwujud sebesar Rp271.148.500,00 pada
Dinas Kesehatan dicatat sebagai aset Bangunan-Gedung
sehingga harus dilakukan reklasifikasi;
(iv) Belanja Modal Bangunan-Gedung digunakan untuk
rehabilitasi beberapa bangunan total sebesar
Rp2.105.164.600,00 pada Dinas Kesehatan tidak
menambah aset sehingga harus dikeluarkan dari nilai
aset.
(c) Pengalihan gedung dan bangunan antar SKPD serta
pengalihan Nilai Kontruksi Dalam Pengerjaan yang sudah
selesai dibangun yang mengakibatkan mutasi tambah kurang
senilai Rp 5.395.341.890,00.

(4) Jalan, Irigasi dan Jaringan

31 Desember 2008
(Rp)
31 Desember 2007
(Rp)
J alan, irigasi dan
J aringan
8.753.425.297.429,00

8.601.027.328.985,00

J umlah tersebut merupakan saldo Aktiva Tetap J alan,
Irigasi dan J aringan yang dimiliki Pemerintah Provinsi J awa
Timur per 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007.Rincian
J alan, Irigasi, dan J aringan adalah sebagai berikut:
Tabel e.17 J alan, Irigasi dan J aringan (Rp)
No. Uraian 31 Desember 2008 31 Desember 2007
1. J alan dan J embatan 585.797.647.399,00 484.362.127.467,00
2. Bangunan Air (Irigasi) 8.150.727.546.240,00 8.102.827.128.028,00
3. Instalasi 8.775.568.007,00 6.965.573.407,00
4. J aringan 8.124.535.783,00 6.872.500.083,00
Jumlah 8.753.425.297.429,00 8.601.027.328.985,00

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
96

Perubahan nilai Aktiva Tetap J alan, Irigasi dan J aringan
diakibatkan oleh :
(a) Penambahan berasal dari realisasi Belanja Modal APBD
Tahun 2008 senilai Rp153.002.943.044,00
(b) Pengurangan berasal dari:
(i) karena pengeluaran barang Pusat (APBN) yang dulunya
masuk dalam Neraca 2007 (LHP BPK-2007) senilai
Rp142.871.600,00;
(ii) belanja modal jalan, irigasi dan jaringan Tahun 2008
sebesar Rp462.103.000,00 pada Dinas Kesehatan tidak
menambah aset tetap sehingga harus dikeluarkan dari
aset jalan, jaringan dan irigasi;
(c) Pengalihan barang pada bidang jalan dan jembatan berupa
gorong-gorong ke bidang bangunan air mengakibatkan
mutasi tambah kurang senilai Rp157.399.904.524,00

(5) Aset Tetap Lainnya

31 Desember 2008
(Rp)
31 Desember 2007
(Rp)
Aset Tetap lainnya 14.092.522.448,00 11.236.833.713,00

J umlah tersebut merupakan saldo Aktiva Tetap Lainnya
yang dimiliki Pemerintah Provinsi J awa Timur per 31 Desember
2007 dan 31 Desember 2006.
Rincian Aset Tetap Lainnya berikut.

Tabel e.18 Aset Tetap Lainnya (Rp)
No. Uraian 31 Desember 2008 31 Desember 2007
1. Buku dan Perpustakaan 6.711.360.170,00 5.629.952.900,00
2. Barang bercorak
Kesenian/Kebudayaan
6.017.674.311,00 4.584.058.346,00
3. Hewan/Ternak & Tumb. 1.363.487.967,00 1.022.822.467,00
Jumlah 14.092.522.448,00 11.236.833.713,00
Perubahan nilai Aktiva Tetap Lainnya diakibatkan oleh :
(a) Penambahan berasal dari realisasi Belanja Modal APBD
Tahun 2008 senilai Rp2,853,361,553,00, serta perolehan
barang inventaris yang belum masuk dalam Aktiva Tetap
pada saat validasi data Barang tahun 2008 senilai
Rp38,429,572,00;
(b) Pengurangan karena proses penghapusan senilai
Rp36.102.390,00.

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
97

(6) Konstruksi dalam pengerjaan

31 Desember 2008
(Rp)
31 Desember 2007
(Rp)
Konstruksi Dalam
Pengerjaan
214.118.574.305,00

171.883.125.444,00

J umlah tersebut merupakan biaya yang diakumulasikan
sampai pada tanggal laporan posisi keuangan dari semua jenis
aset tetap bangunan dalam pengerjaan yang belum selesai
dibangun yang dimiliki Pemerintah Provinsi J awa Timur per 31
Desember 2008 dan 31 Desember 2007.
Perubahan nilai Aktiva Tetap Lainnya diakibatkan oleh
realisasi Belanja Modal APBD Tahun 2008 senilai
Rp55.004.562.700,00 yang sampai akhir Tahun 2008 belum
selesai secara keseluruhan, serta beralihnya ke bidang barang lain
bagi konstruksi yang sudah jadi senilai Rp9.625.648.101,00.
Terdapat penambahan sebesar Rp1.905.959.500,00 pada
Dinas Kesehatan atas Belanja Modal Bangunan-Gedung yang
belum selesai. Selain itu terdapat pengurangan Konstruksi Dalam
Pengerjaan sebesar Rp5.049.425.238,00 karena telah selesai
pengerjaannya dan diakui sebagai aset Bangunan-Gedung pada
Dinas Kesehatan.

iii) Dana Cadangan

31 Desember 2008
(Rp)
31 Desember 2007
(Rp)
Dana Cadangan
41.500.000.000,00
479.055.408.392,75


J umlah tersebut merupakan saldo Dana Cadangan yang
dimiliki Pemerintah Provinsi J awa Timur per 31 Desember 2008 dan
31 Desember 2007.
Rincian Dana Cadangan sebagai berikut :

Tabel e.19 Dana Cadangan (Rp)
No. Uraian 31 Desember 2008 31 Desember 2007
1. Dana Cadangan Beku 41.500.000.000,00 50.562.937.305,00
2. Dana Pilkada Gubernur 0,00 428.492.471.087,75
Jumlah 41.500.000.000,00 479.055.408.392,75

Selama periode tahun 2008 Dana Cadangan yang dicairkan
untuk digunakan sesuai peruntukannya yaitu Dana Pilkada-Gubernur
yang dicairkan sebesar Rp437.555.408.392,75, dan pada akhir 31
Desember 2008 Saldo Dana Cadangan menjadi

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
98
Rp41.500.000.000,00, dan Saldo dana tersebut merupakan Saldo
Dana Beku sebagai jaminan pada PT. Bank J atim atas pinjaman
RSU. Dr. Soetomo sebesar Rp20.000.000.000,00 dan RSU. Dr.
Saiful Anwar sebesar Rp21.500.000.000,00.

iv) Aset Lainnya

31 Desember 2008
(Rp)
31 Desember 2007
(Rp)
Aset lainnya 49.071.516.530,00 11.393.331.210,00

J umlah tersebut merupakan aset lainnya yang dimiliki
Pemerintah Provinsi J awa Timur per 31 Desember 2008 dan 31
Desember 2007.
Rincian Aset Lainnya berikut.

Tabel e.20 Aset Lainnya (Rp)
No. Uraian 31 Desember 2008 31 Desember 2007
1. BOT - -
2. Tagihan Penjualan
Angsuran
- -
3. Tagihan T. Perbend. 1.393.331.210,00 1.393.331.210,0
4 Tagihan T. Ganti Rugi 84.636.400,00 -
4. Kemitraan Pihak Ketiga - -
5. Aset Tak Berwujud
37.593.548.920,00
-
6. Aset Lain-lain 10.000.000.000,00 10.000.000.000,00
Jumlah
49.071.516.530,00

11.393.331.210,00

Keterangan :
(1) Tagihan Tuntutan Perbendaharaan Daerah sebesar
Rp1.393.331.210,00 adalah reklasifikasi dari Ganti Rugi atas Kas
di Bendahara Pengeluaran Dinas Kesehatan tahun 2006 yang
telah dikenakan SKTJ M.
(2) Tagihan Tuntutan Ganti Rugi (TGR) sebesar Rp84.636.400,00
merupakan TGR yang jatuh tempo lebih dari 12 bulan.
(3) Aset lainnya dari Aset tak berwujud berupa software Komputer
Licensi dan Franccise Hak Cipta (Copy Right/Paten) Hasil
Kajian yang diakui oleh Pemerintah Provinsi J awa Timur sebesar
Rp37.593.548.920,00. rinciannya lihat pada Lampiran IV.
(4) Aset Lain-lain sebesar Rp10.000.000.000,00 adalah Aset
Pemerintah Provinsi J awa Timur berdasarkan Peraturan
Gubernur Nomor 60 Tahun 2008 tentang J aminan Kredit antara
PT. PWU dan PT. Bank Jatim.


PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
99

b) KEWAJIBAN

i) Kewajiban Jangka Pendek
(1) Utang PFK

31 Desember 2008
(Rp)
31 Desember 2007
(Rp)
Utang PFK 1.345.404.674,00 1.530.992.927,00

J umlah tersebut merupakan saldo Utang PFK yang
dimiliki Pemerintah Provinsi J awa Timur per 31 Desember 2008
dan 31 Desember 2007. Utang PFK tersebut merupakan
pemotongan yang dilakukan Bendahara Pengeluaran yang belum
disetor ke Kas Negara sampai dengan akhir tahun, berikut
rinciannya:
Tabel e.21 Utang PFK (Rp)
No. Uraian 31 Desember 2008 31 Desember 2007
1. Dinas Perkebunan 0,00 810.115.994,00
2. Biro Umum 0,00 720.850.683,00
3. Balitbang 0,00 26.250,00
4. Baketpang 11.231.060,00 0,00
5. Badan Pengawas 253.996.041,00 0,00
6. Bapeprov J atim 313.677.743,00 0,00
7. Bapedalda 8.095.845,00 0,00
Jumlah seluruhnya 1.345.404.674,00 1.530.992.927,00

(2) Utang Bunga

31 Desember 2008
(Rp)
31 Desember 2007
(Rp)
Utang Bunga 311.583.296,00 524.831.946,00

J umlah tersebut merupakan saldo utang bunga per 31
Desember 2008. Utang bunga berasal dari pinjaman RSU Dr
Soetomo kepada Bank J atim sebesar Rp 311.583.296,00.
Pembayaran bunga utang dibebankan pada Belanja Barang dan
J asa-Belanja Bunga dan Angsuran Pinjaman Rumah Sakit
(rekening 5220316) sehingga saldo akun Belanja Bunga TA
2008 adalah sebesar Rp0,00.

(3) Bagian Lancar Utang Jangka Panjang

31 Desember 2008
(Rp)
31 Desember 2007
(Rp)
Bagian Lancar
Utang J k. Panjang
3.688.416.704,00 3.475.168.052,00

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
100


J umlah tersebut merupakan saldo bagian lancar utang
jangka panjang per 31 Desember 2008. Bagian Lancar Utang
J angka Panjang berasal dari pinjaman RSU Dr Soetomo kepada
Bank J atim yang jatuh tempo dalam waktu kurang dari 12 bulan.
Bagian Lancar Utang J angka Panjang belum termasuk utang
RSUD Dr. Saiful Anwar sebesar Rp3.688.416.704,00 yang
menjadi tanggung jawab unit paviliun.

(4) Utang Belanja

31 Desember 2008
(Rp)
31 Desember 2007
(Rp)
Utang Belanja 130.145.046,00 357.489.502,00

J umlah tersebut merupakan saldo utang belanja per 31
Desember 2008 dan 31 Desember 2007. Utang Belanja berasal
dari utang pembayaran tagihan air, listrik, dan telepon. Rincian
utang belanja pada SKPD:

Tabel e.22 Utang Belanja (Rp)
No. Uraian 31 Desember 2008 31 Desember 2007
1. RSU Dr Saiful Anwar 26.912.200,00 125.941.687,00
2. RSU Dr Soedono 5.823.760,00 8.108.720,00
3 RS Kusta Sumberglagah 13.683.836,00 11.035.431,00
4. RSU Paru J ember 3.573.950,00 0,00
5. Dinas Kependudukan 0,00 36.617.800,00
6. Bakorwil IV Pamekasan 7.586.704,00 15.073.497,00
7. Dinas Kesehatan 68.210.725,00 160.712.367,00
8. Dinas Pemuda & OR 4.353.871,00 0,00
Jumlah seluruhnya 130.145.046,00 357.489.502,00

(5) Utang Bagi Hasil Pajak

31 Desember 2008
(Rp)
31 Desember 2007
(Rp)
Utang Bagi Hasil
Pajak

429.883.517.509,04

157.176.933.046,81

J umlah tersebut merupakan saldo utang bagi hasil pajak
per 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007.
Rincian utang bagi hasil pajak sebagai berikut:

Tabel e.23 Utang Bagi Hasil Pajak (Rp)
No. Uraian 31 Desember 2008 31 Desember 2007
1. Bagian Kab/Kota dari PKB
dan BBNKB
282.891.675.367,20 122.108.628.342,92

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
101
No. Uraian 31 Desember 2008 31 Desember 2007
2. Bagian Kab/Kota dari
PBBKB
143.544.503.681,53 33.623.564.480,17
3. Bagian Kab/Kota dari
P3AP dan P3ABT
3.447.338.460,31 1.444.740.223,72
Jumlah seluruhnya 429.883.517.509,04 157.176.933.046,81

(6) Utang Bagi Hasil Bukan Pajak
31 Desember 2008
(Rp)
31 Desember 2007
(Rp)
Utang Bagi Hasil
Bukan Pajak
4.357.864.703,26 3.959.254.211,08

J umlah tersebut merupakan saldo utang bagi hasil bukan
pajak per 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007. Rincian
utang bagi hasil bukan pajak sebagai berikut:

Tabel e.24 Utang Bagi Hasil Bukan Pajak (Rp)
No Uraian 31 Desember 2008 31 Desember 2007
1. Bagian Kab/Kota dari SP3 1.729.262.638,87 982.100.474,16
2. Bagian Kab/Kota dari Tahura 101.636.700,00 95.028.973,00
3. Bagian Kab/Kota dari RP3HH 1.041.511.061,00 1.003.981.557,68
4. Bagian Kab/Kota dari IMTA 804.255.752,30 973.893.120,20
5. Bagian Kab/Kota dari TERA 488.367.261,09 370.482.783,80
6. Bagian Kab/Kota dari ASDP 94.200.000,00 464.110.207,46
7. Bagian Kab/Kota dari Iuran
ternak
98.631.290,00 69.657.094,78
Jumlah seluruhnya 4.357.864.703,26 3.959.254.211,08

(7) Utang Lain-lain

31 Desember 2008
(Rp)
31 Desember 2007
(Rp)
Utang Lain-lain 3.168.707.950,39 2.626.477.088,39

J umlah tersebut merupakan saldo utang lain-lain per 31
Desember 2008 dan 31 Desember 2007. Rincian utang lain-lain
sebagai berikut:
Tabel e.25 Utang Lain-lain (Rp)
No Uraian 31 Desember 2008 31 Desember 2007
1. Setoran IWLTKP(Disnaker) 776.536,60 776.536,60
2. Hasil Penjualan sapi (Disnak) 5.500.000,00 5.500.000,00
3. Hsl. Penjualan gabah
(Baketpang)
0,53 0,53
4. Rekondisi (PU Bina Marga) 1,26 1,26
5. Utang J asa Pelayanan
(RSU Dr Saiful Anwar)
3.162.431.412,00 2.620.200.550,00
Jumlah 3.168.707.950,39 2.626.477.088,39


PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
102

ii) Kewajiban Jangka Panjang

31 Desember 2008
(Rp)
31 Desember 2007
(Rp)
Kewajiban J angka
Panjang
4.357.864.703,26 3.959.254.211,08

J umlah tersebut merupakan saldo Utang J angka Panjang
Lainnya per 31 Desember 2008. Utang J angka Panjang Lainnya
berasal dari pinjaman RSUD Dr Soetomo kepada Bank J atim. Utang
J angka Panjang tersebut belum termasuk utang RSUD Dr Saiful
Anwar kepada Bank J atim sebesar Rp2.870.634.523,00 yang menjadi
tanggung jawab unit paviliun.

c) EKUITAS DANA
i) Ekuitas Dana Lancar
31 Desember 2008
(Rp)
31 Desember 2007
(Rp)
Ekuitas Dana
Lancar
1.806.175.439.679,03

1.317.418.268.354,96

J umlah tersebut merupakan saldo Ekuitas Dana Lancar per
31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007.
Ekuitas Dana Lancar terdiri dari:

Tabel e.26 Ekuitas Dana Lancar (Rp)
No Uraian 31 Desember 2008 31 Desember 2007
1. Sisa Lebih Pembiayaan
Anggaran (SILPA)
2.062.591.933.213,69 1.281.483.631.783,22
2. Pendapatan yang ditangguhkan
526.126.759,00
271.663.646,60
3. Cadangan Piutang
148.750.950.229,00
153.269.178.288,00
4. Cadangan Persediaan
37.185.792.821,64
52.044.941.410,42
5. Dana yang harus disediakan
untuk hutang jangka pendek
(442.879.363.344,30)
(169.651.146.773,28)
Total Ekuitas Dana Lancar 1.806.175.439.679,03 1.317.418.268.354,96


(1) Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA)

31 Desember 2008
(Rp)
31 Desember 2007
(Rp)
Kas di Kas Daerah 2.007.849.923.476,24 1.237.638.636.382,43
Kas di Bendahara
Pengeluaran

8.043.109.011,00

4.672.154.143,00
Kas di Rekening
RS (Fungsional)

45.353.496.052,45

35.256.020.830,79

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
103
Kas di Bendahara
Pengeluaran (PFK)

1.345.404.674,00

3.916.820.427,00
Jumlah 2.062.591.933.213,69 1.281.483.631.783,22

Perbandingan SILPA di Neraca dengan Saldo Kas di
Neraca (dalam rupiah)

Tabel e.26 Perbandingan SILPA di Neraca dengan
Saldo Kas di Neraca (Rp)
No Uraian SiLPA di Neraca Kas di Neraca
1 Kas di Kas Daerah 2.007.849.923.476,24 2.007.849.923.476,24
2 Kas di Bendahara Pengeluaran
a. Sisa UP disetor 2008 8.043.109.011,00 8.043.109.011,00
b. PFK Bendahara Pengeluaran 1.345.404.674,00 1.345.404.674,00
3 Kas di Rekening Rumah Sakit 45.353.496.052,45 45.353.496.052,45
4 Kas di Bendahara Penerimaan
a. Pendapatan yang
ditangguhkan di Dinas
Kehutanan
39.206.310,00
b. Pendapatan yang
ditangguhkan di Dinas
Perhubungan
150.869.149,00
c. Pendapatan yang
ditangguhkan di Biro
Plengkap. & Adm. Aset
168.531.300,00
d. Pendapatan yang
ditangguhkan di Islamic
Centre
167.520.000,00
Jumlah 2.062.591.933.213,69 2.063.118.059.972,69

(2) Pendapatan yang ditangguhkan
J umlah Pendapatan yang ditangguhkan per 31 Desember
2008 dan 31 Desember 2007 sebesar Rp526.126.759,00 dan
Rp271.663.646,60, merupakan penerimaan yang diterima oleh
Bendahara Penerimaan sampai dengan per 31 Desember 2008
belum disetorkan ke Kas Daerah/ BUD.

Perbedaan SILPA di Neraca dengan Kas di Neraca
SILPA di Neraca : Rp 2.062.591.933.213,69
Kas di Neraca : Rp 2.063.118.059.972,69
Selisih :(Rp 526.126.759,00)
Terdiri dari:
Tabel e.27 Pendapatan yang ditangguhkan (Rp)
a. Pendapatan yang ditangguhkan di Dinas Kehutanan : 39.206.310,00
b. Pendapatan yang ditangguhkan di Dinas Perhubungan : 150.869.149,00
c. Pendapatan yang ditangguhkan di Biro Plengkap. & Adm. Aset : 168.531.300,00
d. Pendapatan yang ditangguhkan di Islamic Centre : 167.520.000,00
Jumlah :
526.126.759,00




PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
104
Keterangan
(a) Pendapatan dari Dinas Kehutanan sebesar Rp39.206.310,00
merupakan penerimaan yang diterima Bendahara
Penerimaan namun belum disetor ke Kas Daerah sampai
dengan 31 Desember 2008. J umlah tersebut termasuk Kas di
Neraca namun tidak termasuk SILPA di Neraca. J umlah
tersebut dicatat sebagai Pendapatan yang ditangguhkan.
(b) Pendapat dari Dinas Perhubungan sebesar Rp150.869.149,00
merupakan penerimaan yang diterima Bendahara
Penerimaan namun belum disetor ke Kas Daerah sampai
dengan 31 Desember 2008. J umlah tersebut termasuk Kas di
Neraca namun tidak termasuk SILPA di Neraca. J umlah
tersebut dicatat sebagai Pendapatan yang ditangguhkan.
(c) Pendapatan dari Biro Perekonomian dan Adm. Aset sebesar
Rp168.531.300,00 merupakan penerimaan yang diterima
Bendahara Penerimaan namun belum disetor ke Kas Daerah
sampai dengan 31 Desember 2008. J umlah tersebut termasuk
Kas di Neraca namun tidak termasuk SILPA di Neraca.
J umlah tersebut dicatat sebagai Pendapatan yang
ditangguhkan.
(d) Pendapatan dari Islamic Centre sebesar Rp167.520.000,00
merupakan penerimaan yang diterima Bendahara
Penerimaan namun belum disetor ke Kas Daerah sampai
dengan 31 Desember 2008. J umlah tersebut termasuk Kas di
Neraca namun tidak termasuk SILPA di Neraca. J umlah
tersebut dicatat sebagai Pendapatan yang ditangguhkan.


Perbedaan SILPA di Neraca dengan SILPA di LRA
SILPA di Neraca : Rp 2.062.591.933.213,69
SILPA di LRA : Rp 2.061.246.528.539,69
Selisih : Rp 1.345.404.674,00

Selisih sebesar Rp1.345.404.674,00 merupakan utang
PFK yang belum disetor ke Kas Negara dan masih ada di
Bendahara Pengeluaran.

(3) Cadangan Piutang
J umlah cadangan piutang per 31 Desember 2008 dan 31
Desember 2007 sebesar Rp148.750.950.229,00 dan
Rp153.269.178.288,00. Untuk posisi per 31 Desember 2008
jumlah tersebut berasal dari total piutang Pajak, Retribusi,
Tagihan penjualan angsuran, TuntutanGanti Rugi dan piutang
lainnya.




PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
105
(4) Cadangan Persediaan
J umlah Cadangan Persediaan per 31 Desember 2008 dan
31 Desember 2007 sebesar Rp37.185.792.821,64 dan
Rp52.044.941.410,42, merupakan pasangan perkiraan persediaan
yang dilaporkan seluruh SKPD Pemerintah Provinsi J awa Timur.

(5) Dana yang harus disediakan untuk pembayaran Utang
Jangka Pendek.
J umlah Perkiraan dalam Investasi J angka Pendek per 31
Desember 2008 dan 31 Desember 2007 sebesar minus
Rp442.879.363.344,30 dan minus Rp 169.651.146.773,65,.
Perkiraan tersebut merupakan bagian dari ekuitas dana yang
disediakan untuk pembayaran utang jangka pendek. J umlah ini
merupakan total nilai Bagian Lancar Utang J angka Panjang,
utang Bunga, utang PFK, utang belanja, utang Bagi Hasil Pajak
dan Bukan Pajak serta utang lain-lain.

ii) Ekuitas Dana Investasi

Tabel e.27 Pendapatan yang ditangguhkan (Rp)
31 Desember 2008
(Rp)
31 Desember 2007
(Rp)
Ekuitas Dana
Investasi
25.532.841.155.031,50

24.994.815.589.876,00


J umlah tersebut merupakan saldo Ekuitas Dana Investasi per
31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007.
Ekuitas Dana Investasi terdiri dari:

Tabel e.27 Ekuitas Dana Investasi (Rp)
No Uraian 31 Desember 2008 31 Desember 2007
1. Diinvestasikan dlm. Investasi J k.
Pjng.
1.462.350.059.350,00 1.290.066.359.350,00
2. Diinvestasikan dalam Aset Tetap 24.024.290.213.674,50 23.699.914.950.542,00
3. Diinvestasikan dalam Aset Lainnya 49.071.516.530,00 11.393.331.210,00
4. Dana Yang Harus Disediakan
Untuk Pembayaran Utang J angka
Panjang
(2.870.634.523,00)


(6.559.051.226,00)
Total Ekuitas Dana Investasi 25.532.841.155.031,50 24.994.815.589.786,00

(1) Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang
J umlah Perkiraan Diinvestasikan dalam Investasi J angka
Panjang per 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007 sebesar
Rp1.462.350.059.350,00 dan Rp1.290.066.359.350,00 dan
merupakan Dana Pemerintah Provinsi J awa Timur yang
diinvestasikan dalam bentuk Investasi Non Permanen dan
Permanen, yang merupakan lawan dari perkiraan Investasi
J angka Panjang.

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
106

(2) Diinvestasikan dalam Aset Tetap
J umlah Diinvestasikan dalam Aset Tetap per 31
Desember 2008 dan 31 Desember 2007 sebesar
Rp24.024.290.213.674,50 dan Rp23.699.914.950.542,00
merupakan jumlah ekuitas dana yang diinvestasikan oleh
Pemerintah Provinsi J awa Timur dalam bentuk Aset Tetap.

(3) Diinvestasikan dalam Aset Lainnya.
J umlah Diinvestasikan dalam Aset Lainnya per 31
Desember 2008 dan 31 Desember 2007 sebesar
Rp49.071.516.530,00 dan Rp 11.393.331.210,00 merupakan
jumlah ekuitas dan yang diinvestasikan oleh Pemerintah Provinsi
J awa Timur dalam bentuk Aset Lainnya.

(4) Dana yang harus disediakan untuk pembayaran Utang
Jangka Panjang
J umlah Perkiraan dalam Investasi J angka Panjang per 31
Desember 2008 dan 31 Desember 2007 sebesar minus
Rp2.870.634.523,00 dan minus Rp6.559.051.226,00. Perkiraan
tersebut merupakan bagian dari ekuitas dana yang disediakan
untuk pembayaran utang jangka panjang. J umlah ini merupakan
Utang J angka Panjang berasal dari pinjaman RSUD Dr Soetomo
kepada Bank J atim , yang menjadi tanggung jawab unit paviliun.

iii) Ekuitas Dana Cadangan
31 Desember 2008
(Rp)
31 Desember 2007
(Rp)
Diinvestasikan
dalam Dana
Cadangan


41.500.000.000,00

479.055.408.392,75

J umlah Ekuitas Dana Cadangan per 31 Desember 2008 dan
31 Desember 2007 sebesar Rp41.500.000.000,00 dan Rp
479.055.408.392,75, merupakan dana Pemerintah Provinsi J awa
Timur yang dicadangkan dalam bentuk Deposito Beku atas jaminan
Kredit untuk RSUD Dr. Soetomo Surabaya dan Dr. Saiful Anwar
Malang.

Ekuitas Dana
31 Desember 2008
(Rp)
31 Desember 2007
(Rp)
J umlah Ekuitas
Dana
27.722.056.585.085,30 26.791.289.266.621,60

J umlah tersebut merupakan Ekuitas Dana per 31 Desember 2008
dan 31 Desember 2007.

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
107
Penjelasan Atas Pos-Pos Laporan Realisasi Anggaran

1) Penjelasan Umum Laporan Realisasi Anggaran (LRA)
Realisasi Anggaran Pemerintah Provinsi J awa Timur merupakan
laporan yang menjelaskan ikhtisar Sumber, Alokasi dan pemakaian sumber
daya ekonomi yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi J awa Timur yang
menggambarkan perbandingan antara realisasi dan anggarannya dalam satu
periode pelaporan. Dalam penjelasan Laporan Realisasi Anggaran (LRA) ini
akan disajikan sesuai dengan Struktur APBD yang meliputi Pendapatan,
Belanja dan Pembiayaan.
Realisasi Pendapatan Tahun Anggaran 2008 sebesar
Rp7.075.105.412.658,91, apabila dihadapkan dengan target pendapatan
sebesar Rp5.709.790.737.436,00 terdapat pelampauan realisasi pendapatan
sebesar Rp1.365.314.675.222,91 atau terealisir sebesar 123,91%. Berarti ada
pelampauan realisasi pendapatan sebesar 23,91% dari anggaran. Pendapatan
Daerah terdiri dari Penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD), Pendapatan
Transfer dan Lain-lain Pendapatan yang sah.
Realisasi Belanja pada Tahun Anggaran 2008 sebesar
Rp6.639.780.929.165,05 terdiri dari Belanja Operasi sebesar
Rp4.598.183.700.513,05, Belanja Modal sebesar Rp548.509.682.952,00,
Belanja Tidak Terduga sebesar Rp23.803.348.578,00 dan Belanja Transfer
sebesar Rp1.469.284.197.122,00. Apabila Realisasi Belanja dihadapkan pada
target belanja sebesar Rp7.314.357.548.792,00 terdapat penghematan atau
sebab lainnya sebesar Rp674.576.619.626,95 atau terealisasi 90,78, berarti
ada penghematan belanja atau sebab lainnya sebesar 9,22%.
Sementara pada realisasi Pendapatan sebesar
Rp7.075.105.412.658,91 dan Realisasi Belanja sebesar Rp
6.639.780.929.165,05 terdapat selisih positip, artinya bahwa terjadi realisasi
Surplus Anggaran pada tahun 2008 adalah sebesar Rp435.324.483.493,86.
Dan untuk memanfaatkan Surplus Anggaran tersebut, Pemerintah berusaha
menggunakan pada pembiayaan baik berasal dari pembiayaan pengeluaran
maupun pembiayaan penerimaan.
Pada sisi Pembiayaan Daerah tahun 2008 juga mengalami surplus,
hal ini dapat dicermati dari perolehan realisasi penerimaan pembiayaan
sebesar Rp1.723.922.045.045,83, apabila dihadapkan dengan realisasi
pengeluaran pembiayaan sebesar Rp98.000.000.000,00 terdapat selisih lebih
yang merupakan pembiayaan neto tahun 2008 sebesar
Rp1.625.922.045.045,83
Untuk SILPA (SIKPA), berdasarkan perangkaan pada pencapaian
Surplus Anggaran sebesar Rp435.324.483.493,86 dan pencapaian
Pembiayaan Neto sebesar Rp1.625.922.045.045,83 diperoleh Sisa Lebih
Pembiayaan Anggaran (SILPA) tahun 2008 sebesar Rp2.061.246.528.539,69



PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
108

2) Penjelasan Pos-pos Laporan Realisasi Anggaran (LRA)
a) Penjelasan Pos-Pos Pendapatan















Diagram e.2 Realisasi Pendapatan TA 2008

Realisasi Pendapatan pada Tahun Anggaran 2008 sebesar
Rp7.075.105.412.658,91 apabila dihadapkan dengan target pendapatan
sebesar Rp5.709.790.737.436,00 terdapat pelampauan realisasi
pendapatan sebesar Rp1.365.314.675.222,91 atau terealisir sebesar
123,91%. Realisasi Pendapatan tersebut meliputi realisasi Pendapatan
Asli daerah, Pendapatan Transfer dan Lain-lain Pendapatan yang sah,
sebagaimana ikhtisar sebagai berikut :

Tabel e.28 Pendapatan TA 2008 (Rp)
Uraian Anggaran Setelah
Perubahan
Realisasi %
4 PENDAPATAN 5.709.790.737.436,00 7.075.105.412.658,91 123,91%
4.1 PENDAPATAN ASLI DAERAH 3.930.412.671.290,00 5.212.319.315.953,91 132,62%
4.1.1 Pendapatan Pajak Daerah 3.372.150.000.000,00 4.481.791.543.639,05 132,91%
4.1.2 Pendapatan Retribusi Daerah 277.448.771.360,00 309.323.367.729,22 111,49%
4.1.3 Pendapatan Hasil Pengelolaan
Kekayaan Daerah yang
dipisahkan
194.860.990.000,00 195.402.283.657,46 100,28%
4.1.4 Lain-lain Pendapatan Asli
Daerah yang Sah
85.952.909.930,00 225.802.120.928,18 262,70%
4.2 PENDAPATAN TRANSFER
4.2.1 Transfer Pemerintah Pusat -
Dana Perimbangan
1.765.233.066.146,00 1.838.998.628.669,00 104,18%

4.2.1.1 Dana Bagi Hasil Pajak/ Bagi
Hasil Bukan Pajak
701.524.813.446,00 775.290.375.969,00 110,52%
4.2.1.2 Dana Alokasi Umum 1.022.860.627.000,00 1.022.860.627.000,00 100,00%
4.2.1.3 Dana Penyesuaian dan
Otonomi Khusus
40.847.625.700,00 40.847.625.700,00 100,00%
4.3 LAIN-LAIN PENDAPATAN
YANG SAH
14.145.000.000,00 23.787.468.036,00 168,17%
4.3.1 Pendapatan Hibah 14.145.000.000,00 23.787.468.036,00 168,17%


73,67%
25,99%
0,34%
0,00%
10,00%
20,00%
30,00%
40,00%
50,00%
60,00%
70,00%
80,00%
Tahun Anggaran 2008
Komposisi Realisasi Pendapatan
Pendapatan Asli Daerah (73,67%)
Pendapatan Perimbangan (25,99%)
Lain-lain Pendapatan yg Sah (0,34%)

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
109
i) Pendapatan Asli Daerah
Sumber Pendapatan Asli Daerah ini berasal dari Pajak
Daerah, Retribusi Daerah, Pendapatan Hasil Pengelolaan kekayaan
daerah yang dipisahkan dan Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah,
dengan target sebesar Rp3.930.412.671.290,00 dan terealisir sebesar
Rp5.212.319.315.953,91 atau 132,62% terdiri dari:
(1) Pajak Daerah
Realisasi Penerimaan Pajak Daerah TA 2008
Rp4.481.791.543.639,05 atau mencapai 132,91% dari target
yang direncanakan dalam P-APBD sebesar
Rp3.372.150.000.000,00. Hal ini berarti Penerimaan Pajak TA
2008 melebihi target sebesar Rp1.109.641.543.639,05 atau
32,91%. Bila dibanding dengan realisasi TA 2007 naik
Rp906.905.301.859,05.
Penerimaan Perpajakan ini berasal dari (i) Pajak
Kendaraan Bermotor (ii) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor
(iii) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (iv) Pajak Air
Permukaan (v) Pajak Air Bawah Tanah, besarnya realisasi
perpajakan ini adalah sebagai berikut:

Tabel e.29 Penerimaan Pajak Daerah (Rp)
Uraian TA 2008 TA 2007
Pajak Kendaraan Bermotor 1.697.833.590.803,00 1.483.707.055.565,00
Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor 1.722.665.636.915,00 1.256.328.897.050,00
Pajak Bahan Bakar Kend. Bermotor 1.024.222.886.130,05 800.561.751.098,00
Pajak Air Permukaan 18.830.771.512,00 17.009.784.842,00
Pajak Air Bawah Tanah 18.238.658.279,00 17.278.753.225,00
Total Penerimaan Pajak 4.481.791.543.639,05 3.574.886.241.780,00

(2) Retribusi Daerah
Realisasi Penerimaan Retribusi Daerah TA 2008
Rp309.323.367.729,22 atau mencapai 111,49% dari target yang
direncanakan dalam P-APBD sebesar Rp277.448.771.360,00.
Hal ini berarti Penerimaan Retribusi TA 2008 lebih besar
Rp31.874.596.369,22 atau 11,49%. Bila dibanding dengan
realisasi TA 2007 naik sebesar Rp48.222.687.271,45.
Penerimaan Retribusi ini berasal dari realisasi subsidi dan
fungsional antara lain (i) Retribusi J asa Umum (ii) Retribusi
J asa Usaha (iii) Retribusi Perijinan Tertentu. Bersarnya retribusi
dari subsidi dan fungsional adalah sebagai berikut:

Tabel e.30 Penerimaan Retribusi Daerah (Rp)
Uraian TA 2008 TA 2007
Retribusi J asa Umum 259.977.428.276,22 214.959.313.823,77
Retribusi J asa Usaha 33.733.859.317,00 30.706.260.344,00
Retribusi Perijinan Tertentu 15.612.080.136,00 15.435.106.290,00
Total Penerimaan Retribusi 309.323.367.729,22 261.100.680.457,77

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
110



(3) Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah
Realisasi Penerimaan Hasil Pengelolaan Kekayaan
Daerah yg. dipisahkan TA 2008 Rp195.402.283.657,46 atau
mencapai 100,28% dari target yang direncanakan dalam P-
APBD sebesar Rp194.860.990.000. Hal ini berarti Penerimaan
Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yg. dipisahkan TA 2008
lebih besar Rp541.293.657,46. atau 0,28%. Bila dibanding
dengan realisasi TA 2007 naik sebesar Rp95.891.447.034,50.
Realisasi ini berasal dari Hasil Pengelolaan Kekayaan
Daerah terdiri dari (i) Bagian Laba atas penyertaan Modal pada
BUMD (ii) Bagian Laba atas penyertaan modal pada perusahaan
daerah / milik swasTA Besarnya realisasi adalah sebagai berikut:

Tabel e.31 Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan (Rp)
Uraian TA 2008 TA 2007
Bagian Laba atas Penyertaan Modal -
pada Perusahaan Daerah (BUMD) 190.632.165.167,46 93.235.168.943,54
Bagian Laba atas Penyertaan Modal -
pada Perusahaan Patungan/Milik Swasta 4.770.118.490,00 6.275.667.679,42
Total Hsl. Kekayaan Drh. yg. dipshkan 195.402.283.657,46 99.510.836.622,96

(4) Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah.
Realisasi Penerimaan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah
yang sah TA 2008 Rp225.802.120.928,18 atau mencapai
262,70% dari target yang direncanakan dalam P-APBD sebesar
Rp85.952.909.930,00. Bila diabnding dengan realisasi TA 2007
turun sebesar Rp2.950.780.197,70. Hal ini berarti Penerimaan
Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah TA 2008 lebih besar
Rp139.849.210.998,18 atau 162,70%. Realisasi ini berasal dari
subsidi dan fungsional, dengan rincian sebagai berikut:

Tabel e.32 Lain-lain PAD yang Sah (Rp)
Uraian TA 2008 TA 2007
Hsl. Penjualan Aset Drh. Yg. Tdk.
Dipisahkan
795.102.279,00 3.884.031.007,00
J asa Giro 88.250.651.551,77 77.459.189.893,27
Tuntutan Ganti Rugi (TGR) 83.460.700,00 59.962.650,00
Komisi, Potongan dan Keuntungan selisih
nilai tukar rupiah.
141.783.771,00 148.290.926,00
Pendapatan denda atas keterlambatan
pelaksanaan pekerjaan
17.869.909.208,90 12.853.369.000,00
Pendapatan denda Pajak 71.284.195.265,00 49.560.734.411,00
Pendapatan dari Pengembalian 408.925.843,00 0,00
Pendapatan dari penyelanggaraan
Pendidikan dan pelatihan
1.584.508.725,00 1.377.999.485,00
Pendapatan Sewa 2.868.280.399,44 3.530.538.941,00
Pengelolaan/ Pembuangan Limbah 154.315.250,00 11.334.000,00

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
111
Uraian TA 2008 TA 2007
Penerimaan Lain-lain 38.522.715.660,07 79.767.450.812,61
Total Lain-lain Pendapatan yg Sah 225.802.120.928,18 228.752.901.125,88

ii) Pendapatan Transfer
(1) Transfer Pemerintah Pusat-Dana Perimbangan
Realisasi Dana Perimbangan TA 2008 sebesar
Rp1.798.151.002.969,00 atau mencapai 104,28% dari target
yang direncanakan sebesar Rp1.724.385.440.446,00 atau
melampaui target sebesar Rp73.765.562.523,00. Bila dibanding
dengan realisasi TA 2007 turun sebesar Rp68.294.373.000,00.
Realisasi ini berasala dari (i) Bagai Hasil Pajak dan Bukan Pajak
(ii) Dana Alokasi Umum , yang realisasinya terinci sebagai
berikut:
Tabel e.33 Dana perimbangan (Rp)
Uraian TA 2008 TA 2007
Bagia Hasil Pajak dan Bukan Pajak 775.290.375.969,00 664.741.026.169,00
Dana Alokasi Umum (DAU) 1.022.860.627.000,00 1.091.155.000.000,00
Total Dana Perimbangan 1.798.151.002.969,00 1.755.896.026.169,00

(a) Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak
Realisasi Penerimaan Dana Bagi Hasil Pajak dan
Bukan Pajak TA 2008 Rp775.290.375.969,00 atau mencapai
110,52% dari target yang direncanakan dalam PAPBD
sebesar Rp 701.524.813.446,00. Hal ini berarti Penerimaan
Dana Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak TA 2008 lebih besar
Rp73.765.562.523,00 atau 10,52%.Bila dibanding dengan
realisasi TA 2007 naik sebesar Rp130.549.349.800,00.
Realisasi ini berasal dari (i) Bagia Hasil Pajak (ii) Bagi Hasil
Bukan Pajak (iii) Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau.
Besarnya realisasi ini adalah sebagai berikut:
Tabel e.34 Bagi Hasil Pajak dan Non Pajak (Rp)
Uraian TA 2008 TA 2007
Bagi Hasil Pajak 700.206.917.652,00 641.893.164.721,00
Bagi Hasil Bukan Pajak 75.083.458.317,0 22.847.861.448,00
Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau 0,00 0,00
Total Bagi Hsl Pajak & Bukan Pajak 775.290.375.969,00 644.741.026.169,00

(b) Dana Alokasi Umum
Realisasi Penerimaan Dana Alokasi Umum TA 2008
Rp1.022.860.627.000,00 atau mencapai 100% dari target
yang direncanakan dalam P-APBD sebesar
Rp1.022.860.627.000,00. Hal ini berarti Penerimaan Dana
Alokasi Umum TA 2008 sesuai yang direncanakan. Bila
dibanding realisasi TA 2007 mengalami penurunan sebesar
Rp68.294.373.000,00



PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
112
(2) Transfer Pemerintah Pusat-Lainnya
Realisasi Transfer Pemerintah Pusat-Lainnya TA 2008
sebesar Rp40.847.625.700,00 100% Berasal dari Dana
Penyesuaian. Realisasi Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus
TA 2008 Rp40.847.625.700,00 atau mencapai 100% dari target
yang direncanakan dalam P-APBD sebesar
Rp40.847.625.700,00. Hal ini berarti Penerimaan Dana
Penyesuaian dan otonomi Khusus TA 2008 sesuai yang
direncanakan.Tahun 2007 Rp0,00

iii) Lain-lain Pendapatan Daerah yang sah
Lain-lain Pendapatan Daerah Realisasi Pendapatan Hibah
TA 2008 Rp23.787.468.036,00 atau mencapai 168,17% dari target
yang direncanakan dalam P-APBD sebesar Rp14.145.000.000,00.
Hal ini berarti Pendapatan Hibah TA 2008 lebih besar
Rp9.642.468.036,00 atau 68,17%. Bila dibanding dengan TA 2007
realisasinya naik sebesar Rp3.886.131.918,00.

b) Penjelasan Pos-Pos Belanja

Realisasi Belanja Daerah pada Tahun Anggaran 2008 sebesar
Rp6.639.780.929.165,05 apabila dihadapkan dengan target Belanja
sebesar Rp7.314.357.548.792,00 terdapat penghematan belanja atau
sebab lainnya sebesar Rp674.576.619.626,95 atau terealisir sebesar
90,78%. Realisasi Belanja Daerah meliputi realisasi sebagaimana ikhtisar
berikut:
Tabel e.35 Belanja Daerah (Rp)
Uraian Anggaran Setelah
Perubahan
Realisasi %
5 BELANJA 7.314.357.548.792,00 6.639.780.929.165,05 90,78%
5.1 BELANJA OPERASI 5.075.554.634.613,00 4.598.183.700.513,05 90,59%
5.1.1 Belanja Pegawai 1.604.463.660.894,00

1.443.479.399.210,00 89,97%
5.1.2 Belanja Barang 1.423.106.878.815,00 1.311.774.041.352,00 92,18%
5.1.3 Belanja Bunga 0 0
5.1.4 Belanja Subsidi 0 0
5.1.5 Belanja Hibah 1.475.452.300.000,00 1.283.926.009.927,05 87,02%
5.1.6 Belanja Bantuan Sosial 572.531.794.904,00 559.004.250.024,00 97,64%
5.2 BELANJA MODAL 601.497.451.035,00 548.509.682.952,00 91,19%
5.2.1 Belanja Tanah 37.955.870.000,00 29.586.381.609,00 77,95%
5.2.2 Belanja Peralatan dan Mesin 131.110.506.661,00 120.327.684.042,00 91,78%
5.2.3 Belanja Gedung dan Bangunan 191.857.808.727,00 178.485.649.840,00 93,03%
5.2.4
Belanja J alan, Irigasi dan
J aringan 197.177.660.147,00 190.579.278.028,00 96,65%
5.2.5 Belanja Aset Tetap Lainnya 4.368.509.000,00 2.853.361.553,00 65,32%
5.2.6 Belanja Modal Hibah 39.027.096.500,00 26.677.327.880,00 68,36%


PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
113
Uraian Anggaran Setelah
Perubahan
Realisasi %
5.3 BELANJA TIDAK TERDUGA 49.908.756.455,00 23.803.348.578,00 47,69%
5.3.1 Belanja Tidak Terduga 49.908.756.455,00 23.803.348.578,00 47,69%

5.4 TRANSFER 1.587.396.706.689,00 1.469.284.197.122,00 92,56%
5.4.1
Transfer/bagi hasil pendapatan
ke Kabupaten/Kota 1.568.979.706.689,00 1.452.594.468.910,00 92,58%
5.4.2
Transfer Bantuan Keuangan ke
Pemda Lainnya 18.417.000.000,00 16.689.728.212,00 90,62%

Jumlah Belanja 7.314.357.548.792,00 6.639.780.929.165,05 90,78%


i) Belanja Operasi

(1) Belanja Pegawai
Realisasi Belanja Pegawai TA 2008 adalah sebesar Rp
1.443.479.399.210,00 atau 89,97% dari jumlah yang diangarkan
dalam P-APBD sebesar Rp1.604.463.660.894,00 yang berarti
ada penghematan sebesar Rp160.984.261.684,00. Bila dibanding
dengan realisasi belanja TA 2007 naik Rp232.677.964.146,00.
Besarnya realisasi Belanja Pegawai adalah sebagai berikut:

Tabel e.36 Belanja Pegawai (Rp)
Uraian TA 2008 TA 2007
Gaji dan Tunjangan 730.623.900.187,00 599.025856.120,00
Tambahan Penghasilan PNS 88.842.758.595,00 71.935.854.922,00
Belanja Penerimaan KDH/SKDH lainnya 5.064.997.165,00 15.646.713.289,00
Biaya Pemungutan Pajak Daerah 150.430.692.789,00 165.454.829.796,00
Belanja Tunjangan Komunikasi Intensif 10.710.450.000,00 0,00
Belanja penunjang operasional 484.300.000,00 233.300.000,00
Honorarium PNS 201.889.017.359,00 146.614.069.089,00
Honorarium Non PNS 151.599.906.225,00 123.126.581.385,00
Uang Lembur 80.350.189.270,00 63.126.157.525,00
Belanja Beasiswa Pendidikan PNS 5.012.714.500,00 5.120279.000,00
Belanja Kursus, Pelatihan, Sosialisasi dan
Bimbingan Teknis PNS
18.470.473.120,00 20.517.793.938,00
J umlah 1.443.479.399.210,00 1.210.801.435.064,00

(2) Belanja Barang
Realisasi Belanja Barang dan J asa TA 2008 adalah
sebesar Rp1.311.774.041.352,00 atau 92,18% dari jumlah yang
diangarkan dalam P-APBD sebesar Rp1.423.106.878.815,00
yang berarti ada penghematan sebesar Rp 111.332.837.463,00

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
114
atau 7,82%. Bila dibandingkan dengan realisasi belanja ini TA
2007 naik sebesar Rp117.421.483.954,00
Rincian belanja barang jasa sumber dana dari
subsidi/fungsional adalah sebagai berikut:
Tabel e.37 Belanja Barang (Rp)
Uraian TA 2008 TA 2007
Belanja Bahan Pakai Habis 139.896.224.646,00 106.190.630.073,00
Belanja Bahan/Material 119.987.333.083,00 126.464.838.393,00
Belanja J asa Kantor 490.575.051.188,00 487.407.717.028,00
Belanja Premi Asuransi 3.040.185.428,00 3.710.239.140,00
Belanja Perawatan Kendaraan Bermotor 33.717.219.946,00 31.719.465.002,00
Belanja Cetak dan Pengadaan 62.624.867.908,00 59.866.869.230,00
Belanja Sewa
Rmh/Gedung/Gudang/Park
15.587.330.535,00 14.520.035.289,00
Belanja Sewa Sarana Mobilitas 3.016.978.828,00 4.261.479.555,00
Belanja Sewa Alat Berat 1.895.171.937,00 3.383.248.893,00
Belanja Sewa Perlengkapan/ Pltan Ktr 5.039.843.955,00 4.087.162.495,00
Belanja Makan dan Minum 94.159.859.688,00 90.009.522.483,00
Belanja Pakaian Dinas dan Atribut 6.704.321.168,00 11.803.431.008,00
Belanja Pakaian Kerja 2.680.825.120,00 3.721.255.365,00
Belanja Pakaian khusus dan hari
tertentu
5.591.334.230,00 4.832.690.335,00
Belanja Perjalanan Dinas 327.087.493.792,00 242.274.973.109,00
Belanja Pemulangan Pegawai 170.000.000,00 99.000.000,00
Total Belanja Barang 1.311.774.041.352,00 1.194.352.557.398,00

(3) Belanja Bunga
Realisasi Belanja Bunga TA 2008 adalah Rp0,00.
Sedangkan untuk pembayaran Utang Bunga atas pinjaman RSU
Dr Soetomo kepada Bank J atim sebesar 524.831.946,00
dibebankan pada Belanja Barang dan J asa-Belanja Bunga dan
Angsuran Pinjaman Rumah Sakit (rekening 5220316) sehingga
saldo akun Belanja Bunga TA 2008 adalah sebesar Rp0,00.

(4) Belanja Subsidi
Realisasi Belanja Bunga TA 2008 adalah Rp0,00.

(5) Belanja Hibah
Realisasi Belanja Hibah TA 2008 adalah sebesar
Rp1.283.926.009.927,05 atau 87,02% dari jumlah yang
diangarkan dalam P-APBD sebesar Rp1.475.452.300.000,00
yang berarti ada penghematan sebesar Rp191.526.290.072,95
atau 12,98%. Sedangkan TA 2007 realisasi belanja hibah sebesar
Rp2.000.000.000,00 artinya mengalami kenaikan sebesar
Rp1.281.926.009.927,05.

(6) Belanja Bantuan Sosial
Realisasi Belanja Bantuan Sosial TA 2008 adalah
sebesar Rp559.004.250.024,00 yang berarti 97,64% dari jumlah

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
115
yang dianggarkan dalam P-APBD sebesar
Rp572.531.794.904,00. Sehingga ada penghematan dari belanja
bantuan sosial sebesar Rp13.527.544.880,00 atau sebesar 2,36%.
Bila dibanding dengan realisasi belanja ini TA 2007 turun
sebesar Rp295.682.384.579,71.
Realisasi Belanja ini berasal (i) Belanja Organisasi
Kemasyarakatan (ii) Belanja bantuan kepada Partai Politik
dengan rincian sebagai berikut:

Tabel e.37 Belanja Bantuan Sosial (Rp)
Uraian TA 2008 TA 2007
Belanja Bantuan Sosial kpd. Organisasi
Kemasyarakatan
557.555.250.024,00 852.586.634.603,71
Belanja Bantuan kepada Partai Politik 1.449.000.000,00 2.100.000.000,00
Total Belanja Bantuan Sosial 559.004.250.024,00 854.686.634.603,71


ii) Belanja Modal
Realisasi Belanja Modal TA 2008 adalah sebesar
Rp548.509.682.952,00 atau 91,19% dari jumlah yang diangarkan
dalam P-APBD sebesar Rp 601.497.451.035 yang berarti ada
penghematan sebesar Rp52.987.768.083,00 atau 9,81%. Bila
diibandingkan dengan TA 2007 realisasi belanja modalnya menurun
sebesar Rp93.591.612.614,57. Besarnya realisasi belanja modal dari
sumber dana subsidi/ fungsional adalah sebagai berikut:

Tabel e.39 Belanja Modal (Rp)
No Uraian Tahun 2008 Tahun 2007
1. Belanja Modal Tanah - Belanja Modal Pengadaan Tanah 29.586.381.609,00 62.055.742.229,00
2. Belanja Modal Peralatan
dan Mesin
- Belanja Modal Pengadaan Alat-alat
Berat
5.825.982.695,00 15.648.940.415,00
- Belanja Modal Pengadaan Alat-alat
Angkutan Darat Bermotor
4.322.399.500,00 9.348.849.000,00
- Belanja Modal Pengadaan Alat-alat
Angkutan Darat Tidak Bermotor
14.191.400,00 197.205.875,00
- Belanja Modal Pengadaan Alat-alat
Angkutan di Air Bermotor
1.055.741.500,00 1.263.735.000,00
- Belanja Modal Pengadaan Alat-alat
Angkutan di Air Bermotor
89.941.500,00 0,00
- Belanja Modal Pengad. Alat Bengkel 3.040.769.465,00 3.431.971.215,00
- Belanja Modal Pengadaan Alat-alat
Pengolahan Pertanian, Perkebunan,
Peternakan, Perikanan, Pertambangan,
ESDM dan kehutanan
4.460.229.575,00 1.526.114.340,00
- Belanja Modal Pengadaan Peralatan
Kantor
4.452.606.065,00 6.480.447.782,00
- Belanja Modal Pengadaan
Perlengkapan Kantor
4.734.938.295,00 4.978.199.765,00
- Belanja Modal Pengadaan Komputer 21.340.906.205,00 18.443.130.275,00
- Belanja Modal Pengadaan Mebeulair 10.261.019.497,00 14.358.153.221,00
- Belanja Modal Pengadaan Peralatan
Dapur
2.227.597.823,00 1.580.639.265,00
- Belanja Modal Pengadaan Penghias 2.329.308.876,00 76.311.740,00

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
116
No Uraian Tahun 2008 Tahun 2007
Ruangan Rumah Tangga
- Belanja Modal Pengadaan Alat-alat
Studio
9.686.001.770,00 8.344.849.820,00
- Belanja Modal Pengadaan Alat-alat
Komunikasi
1.228.268.985,00 2.655.304.400,00
- Belanja Modal Pengadaan Alat-alat
Ukur
4.645.724.625,00 2.974.814.380,00
- Belanja Modal Pengadaan Alat-alat
Kedokteran
31.388.765.688,00 30.415.080.296,00
- Belanja Modal Pengadaan Alat-alat
Laboratorium
9.206.225.178,00 9.603.129.240,00
- Belanja Modal Pengadaan Alat-alat
Persenjataan/Keamanan
17.065.400,00 155.268.525,00
3 Belanja Modal Gedung
dan Bangunan
- Belanja Modal Pengadaan Konstruksi/
Pembelian Bangunan
178.485.649.840,00 250.394.635.516,00
4 Belanja Modal J alan,
Irigasi dan J aringan
- Belanja Modal Pengadaan Konstruksi
J alan
132.149.604.187,00 125.415.986.134,57
- Belanja Modal Pengadaan Konstruksi
J embatan
51.277.652.658,00 60.190.525.811,00
- Belanja Modal Pengadaan Konstruksi
J aringan, Instalasi Air dan Irigasi
1.319.049.400,00 776.964.129,00
- Belanja Modal Pengadaan Konstruksi
Penerangan J alan, Taman & Hutan
Kota serta Perlengkapan J alan
3.063.119.483,00 6.272.543.559,00
5 Belanja Modal Aset Tetap
Lainnya
- Belanja Modal Pengadaan Instalasi &
J aringan Listrik, Telepon dan
Infrastuktur Lainnya
2.769.852.300,00 1.498.052.082,00
- Belanja Modal Pengadaan
Buku/Kepustakaan dan Barang
Perpustakaan
1.094.632.508,00 1.099.123.333,00
- Belanja Modal Pengadaan Barang
bercorak Kesenian, Kebudayaan &
Olahraga
1.323.420.145,00 948.978.350,00
- Belanja Modal Pengadaan
Hewan/Ternak dan Tanaman
435.308.900,00 369.606.500,00
6 Belanja Modal Hibah - Belanja Modal Hibah/Bantuan Barang
Daerah
26.677.327.880,00 1.596.993.369,00
Jumlah Belanja Aset Tetap 548.509.682.952,00 642.101.295.566,57

iii) Belanja Tidak Terduga
Realisasi Belanja Tidak Terduga TA 2008 sebesar
Rp23.803.348.578,00 atau 47,69% dari jumlah yang dianggarkan
dalam P-APBD 2008 sebesar Rp49.908.756.455,00. Sehingga ada
penghematan belanja tidak terduga sebesar Rp26.105.407.877,00
atau sebesar 52,31%. Sedangkan realisasi pada TA 2007 sebesar
Rp25.002.442.773,00, berarti ada penurunan sebesar
Rp1.199.094.195,00

iv) Belanja Transfer
(1) Transfer/Bagi Hasil Pendapatan ke Kabupaten/Kota
Realisasi Belanja Bagi Hasil kepada ke Kabupaten/ Kota
TA 2008 sebesar Rp1.452.594.468.910,00 atau 92,58% dari
jumlah yang dianggarkan dalam P-APBD 2008 sebesar
Rp1.568.979.706.689,00. Sehingga ada penghematan atau sebab
lainnya dari belanja bagi hasil sebesar Rp116.385.237.779,00

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
117
atau sebesar 7,42%. Bila dibanding dengan realisasi belanja ini
TA 2007 naik sebesar Rp118.318.201.223,00. Belanja ini
dipergunakan untuk (i) Belanja Bagi Hasil Pajak Daerah Kepada
Kabupaten / Kota (ii) Belanja Bagi Hasil Retribusi Daerah
Kepada Kabupaten/ KoTA Rinciannya adalah sebagai berikut:

Tabel e.40 Belanja Bagi Hasil Kab/Kota (Rp)
Uraian TA 2008 TA 2007
Belanja Bagi Hasil Pajak Daerah Kepada
Kabupaten / Kota
1.441.802.067.998,00 1.323.464.389.531,00
Belanja Bagi Hasil Retribusi Daerah
Kepada Kabupaten/ Kota
10.792.400.912,00 10.811.878.156,00
Total Belanja Bagi Hasil Kab/ Kota 1.452.594.468.910,00 1.334.276.267.687,00

(2) Belanja Bantuan Keuangan
Realisasi Belanja Keuangan kepada Pemprop/Kab./ Kota
dan Pemerintah desa TA 2008 sebesar Rp16.689.728.212,00 atau
90,62% dari jumlah yang dianggarkan dalam P-APBD 2008
sebesar Rp18.417.000.000,00 Sehingga ada penghematan belanja
bantuan keuangan sebesar Rp1.727.271.788,00 atau sebesar
9,38%. Bila dibanding dengan realisasi belanja ini TA 2007 naik
sebesar Rp12.065.013.412,00. Rinciannya adalah sebagai
berikut:
Tabel e.41 Belanja Bantuan Keuangan (Rp)
Uraian TA 2008 TA 2007
Belanja Bantuan Keuangan kepada
Propinsi
0,00 867.550.000,00
Belanja Bantuan Keuangan kepada
Kabupaten / Kota
14.404.500.000,00 1.110.000.000,00
Belanja Bantuan Keuangan kepada
Provinsi, Pemerintah Daerah dan
Pemerintah Desa lainnya
2.258.228.212,00 2.647.164.800,00
Total Belanja Bantuan Keuangan 16.689.728.212,00 4.624.714.800,00


c) Surplus (Defisit) Anggaran
Berdasarkan realisasi Pendapatan dan realisasi Belanja TA 2008
sebagaimana telah diuraikan di atas, maka Surplus Anggaran TA 2008
adalah sebesar Rp435.324.483.493,86 atau 27,13% dari defisit yang
diperkirakan dalam P-APBD sebesar Rp1.604.566.811.356,00.

d) Pembiayaan
Untuk memanfaatkan Surplus P_APBD Tahun Anggaran 2008
tersebut ditempuh berbagai upaya strategis untuk mengoptimalkan
pembiayaan, baik yang bersumber dari Penerimaan pembiayaan dan
pengeluaran pembiayaan. Dalam pelaksanaan P-APBD Tahun Anggaran
2008, realisasi Pembiayaan (Neto) adalah sebesar
Rp1.625.922.045.045,83 yang berarti 101,33% dari jumlah yang
ditetapkan dalam P-APBD Tahun Anggaran 2008.


PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
118
i) Penerimaan Pembiayaan
Realisasi penerimaan pembiayaan TA 2008 sebesar
Rp1.723.922.045.045,83 atau 101,25% dari yang ditargetkan sebesar
Rp1.702.566.811.356,00. Realisasi penerimaan pembiayaan terdiri
dari (i) SILPA tahun lalu (ii) Pencairan Dana Cadangan. Berikut
rincian realisasinya:

(1) Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Lalu (SILPA)
Realisasi penerimaan pembiayaan dari Sisa Lebih
Perhitungan Anggaran (SiLPA) Tahun Anggaran sebelumnya
sebesar Rp1.277.566.811.356,22, baik yang bersumber dari
pelampauan pajak maupun penghematan belanja atau terealisasi
100% dari jumlah yang dianggarkan dalam P-APBD sebesar
Rp1.277.566.811.356,00. Sedangkan TA 2007 Realisasi
penerimaan pembiayaan dari SILPA sebesar
Rp847.306.591.208,89.

(2) Pencairan Dana Cadangan
Realisasi penerimaan pembiayaan Dana Cadangan
sebesar Rp446.355.233.689,61 yang bersumber dari Dana
Cadangan Murni atau terealisir 105,02% dari jumlah yang
dianggarkan dalam P-APBD sebesar Rp425.000.000.000,00.
Sedangkan Tahun 2007 pencairan dana cadangan sebesar
Rp67.713.876.943,00. Besarnya rincian sebagai berikut:
Tabel e.42 Pencairan Dana cadangan (Rp)
Uraian Tahun 2008 Tahun 2007
Deposito Dana Cadangan Murni 9.062.937.305,00 67.713.876.943,00
Deposito Dana Pilkada Gubernur 400.000.000.000,00
Bunga dalam bentuk Deposito 28.492.875.296,86
Bunga dalam bentuk Giro 8.799.875.296,86
Total Pencairan Dana Cadangan 446.355.283.689,61 67.713.876.943,00

(3) Penerimaan Pinjaman Daerah
Realisasi penerimaan pembiayaan pinjaman daerah
sebesar Rp0,00 sedangkan Tahun 2007 sebesar
Rp149.395.250,00

ii) Pengeluaran Pembiayaan
(1) Pembentukan Dana Cadangan
Realisasi pengeluaran pembiayaan pembentukan dana
cadangan selama tahun 2008 tidak menganggarkan sekaligus
merealisasikannya sehingga sebesar Rp0,00. Sedangkan pada
Tahun 2007 sebesar Rp190.000.000.000,00

(2) Penyertaan Modal
Realisasi pengeluaran pembiayaan Penyertaan Modal
untuk BUMD dan penambahan Investasi Non Permanen Dana
Bergulir adalah sebesar Rp98.000.000.000,00, yang berarti 100%

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
119
dari jumlah yang dianggarkan dalam P-APBD TA 2008 sebesar
Rp98.000.000.000,00. Tahun 2007 sebesar
Rp118.263.000.000,00
Rincian Penyertaan Modal Investasi Permanen dan Non
Permanen adalah sebagai berikut:

Tabel e.43 Penyertaan Modal (Rp)
Uraian Tahun Anggaran 2008
Penyertaan Modal BUMD :
- PT. J atim Grha Utama 70.000.000.000,00
- PT. BPR J atim 4.000.000.000,00
Dana Bergulir :
PT. BPR J atim (Biro Perekonomian) 4.500.000.000,00
UKMK - PT. Bank J atim (Biro
Perekonomian)
8.000.000.000,00
Dinas Koperai 8.250.000.000,00
Dinas Perikanan 800.000.000,00
Badan Ketahanan Pangan 2.450.000.000.00
Jumlah seluruhnya 98.000.000.000,00


(3) Pembayaran Pokok Utang
Realisasi pengeluaran pembiayaan pembayaran pokok
utang selama tahun 2008 tidak menganggarkan sekaligus
merealisasikannya sehingga sebesar Rp 0,00 karena sudah
pelunasan. Sedangkan pada Tahun 2007 sebesar
Rp149.395.217,00 yang merupakan pembayaran angsuran
terakhir.

e) SILPA (SIKPA)
Berdasarkan realisasi Surplus Anggaran sebesar
Rp435.324.483.493,86 dan realisasi Pembiayaan Neto pada TA 2008
sebesar Rp 1.625.922.045.045,83 sebagaimana yang diuraikan diatas,
maka dalam pelaksanaan P-APBD TA 2008 terdapat Sisa Lebih
Pembiayaan Anggaran (SILPA) sebesar Rp2.061.246.528.539,69. Bila
dibanding dengan SILPA TA 2007 naik sebesar Rp782.286.385.973,47.
Rincian Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) Tahun Anggaran
2008 pada Daftar Lampiran V.


PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
120
Penjelasan Atas Pos-Pos Laporan Arus Kas

1) IKHTISAR LAPORAN ARUS KAS
a) Saldo Awal Kas
Saldo awal Kas di Kas Daerah per 1 J anuari 2008 sebesar
Rp1.242.310.790.525,43 Saldo tersebut merupakan saldo Akhir Kas di
Kas Daerah (BUD) per 31 Desember 2007 sebesar
Rp1.237.638.636.382,43 ditambah dengan Kas Bendahara Pengeluaran
sebesar Rp4.672.154.143,00. Rincian Saldo Awal Kas Daerah (BUD)
adalah sebagai berikut:

1 Januari 2008
(Rp)
1 Januari 2007 (Rp)
Kas di Kas daerah 1.237.638.636.382,43 810.854.071.190,99
Kas di Bendahara
Pengeluaran
4.672.154.143,00 824.829.470,00
Saldo Awal Kas di
BUD
1.242.310.790.525,43 811.678.900.660,99

b) Perubahan Kas
Kenaikan (penurunan) kas dari berbagai aktivitas Pemerintah
Provinsi J awa Timur sepanjang TA 2008 dan TA 2007 adalah sebagai
berikut:
Tabel e.44 Perubahan Kas (Rp)
URAIAN Tahun 2008 Tahun 2007

Kenaikan (Penurunan) Aktivitas Operasi 954.984.053.278,20 1.290.002.610.628,01
Kenaikan (Penurunan) Aktivitas Inves.Aset
Non Keuangan
(529.757.045.006,00) (618.821.597.739,57)
Kenaikan (Penurunan) Aktivitas
Pembiayaan
348.355.233.689,61 (240.549.123.024,00)
Kenaikan (Penurunan) Aktivitas Non
Anggaran
0,00 0,00
Kenaikan (Penurunan) Kas 773.582.241.961,81 430.631.889.864,44

c) Saldo Akhir Kas
Saldo Akhir Kas per 31 Desember 2008 sebesar
Rp2.063.118.059.972,69 merupakan kas Pemerintah Daerah yang
tersedia dan siap digunakan untuk membiayai aktivitas Pemerintah
Daerah tahun berikutnya dengan rincian:

Tabel e.45 Saldo Akhir Kas (Rp)
Uraian Tahun 2008 Tahun 2007

Kas di Kas Daerah 2.007.849.923.476,24 1.237.638.636.382,43
Kas di Bendahara Pengeluaran
a)
8.043.109.011,00 4.672.154.143,00
1.Saldo Akhir Kas di BUD 2.015.893.032.487,24 1.242.310.790.525,43


PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
121
Uraian Tahun 2008 Tahun 2007
2.Saldo Akhir Kas di Fungs. RS
b)
45.353.496.052,45 35.256.020.830,79

3.Kas di Bend. Pengl. (belum setor) 1.345.430.924,00 3.916.820.427,00
Saldo Askeskin di RSUD Saiful
Anwar Malang
0,00 2.385.827.500,00
PFK di Bendahara Pengeluaran
(GU)
c)

1.345.430.924,00 2.530.992.927,00
4.Saldo Akhir Kas di B.Penerimaan
d)
358.606.759,00 271.663.646,60
Saldo Akhir Kas (1+2+3+4) 2.062.950.539.972,69 1.281.755.295.429,82
Saldo Kas di Islamic Centre yang
belum disetor ke Kasda per 31
Desember 2008 ( Koreksi BPK)

167.520.000,00

0
Saldo Akhir per 31 Desember 2008 2.063.118.059.972,69

1.281.755.295.429,82
Keterangan :
i) Kas di Bendahara Pengeluaran, merupakan Sisa Belanja Tahun
Anggaran 2008 yang disetorkan pada bulan J anuari 2009 dari
dinas/badan/kantor/Biro sebesar Rp8.043.109.011,00. Rinciannya
lihat pada Daftar Lampiran VI.
ii) Saldo Akhir Kas di Fungsional Rumah Sakit, merupakan Saldo di
Bendahara Penerimaan Rumah Sakit per 31 Desember 2008 sebesar
Rp 45.353.496.052,45. Rinciannya lihat pada Daftar Lampiran VII.
iii) PFK di Bendahara Pengeluaran (GU), merupakan saldo PFK-GU per
31 Desember 2008 yang belum disetorkan, dengan rincian :
- Dinas P dan K Prov. J awa Timur 758.403.985,00
- Badan Pengawas Prov. J atim 253.996.041,00
- Bapeprov J awa Timur 313.677.743,00
- Bapedalda Prov. J awa Timur 8.095.845,00
- Badan Ketahanan Pangan Prov
J atim

11.231.060,00
Jumlah PFK 1.345.404.674,00
iv) Saldo Akhir Kas di Bendahara Penerimaan dari Pendapatan yang
ditangguhkan sebesar Rp358.606.759,00. dengan rincian sebagai
berikut :
- Dinas Kehutanan 39.206.310,00
- Dinas Perhubungan 150.869.149,00
- Biro Perlengkapan dan Adm.
Aset
168.531.300,00
- Dinas Koperasi dan UKM 0,00
- RSUD Dr. Syaiful Anwar 0,00
Jumlah 358.606.759,00
v) Terdapat saldo kas di Islamic Centre yang belum disetorkan ke
Kasda per 31 Desember 2008 sebesar Rp167.520.000,00(koreksi
BPK) sehingga menambah saldo akhir kas per 31 Desember 2008
menjadi Rp2.063.118.059.972,69.


PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
122

2) PENJELASAN ATAS POS LAPORAN ARUS KAS
Aktivitas yang tersajikan dalam Laporan Arus Kas Daerah adalah
aktivitas arus kas masuk dan keluar melalui Kas Daerah. Aktivitas yang
dilakukan melalui rekening Fungsional Rumah Sakit dikeluarkan. Penjelasan
atas Laporan Arus Kas Pemerintah Provinsi J awa Timur Tahun Anggaran
2008 diuraikan sebagai berikut :
a) ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Arus Kas dari Aktivitas Operasi menjelaskan aktivitas
penerimaan dan pengeluaran kas untuk kegiatan operasional Pemerintah
Provinsi J awa Timur selama satu periode yang berakhir 31 Desember
2008. Arus Kas Bersih dari Aktivitas Operasi adalah sebesar
Rp954.984.053.278,20, J umlah tersebut berasal dari (dalam rupiah):

Tabel e. 46 Arus Kas Aktivitas Operasi (Rp)
Uraian Tahun 2008 Tahun 2007
Arus Kas Masuk 6.819.117.302.174,25 5.727.068.883.836,72
Dikurangi Arus Kas Keluar 5.864.133.248.896,05 4.437.066.273.208,71
Arus Kas Bersih 954.984.053.278,20 1.290.002.610.628,01

Terdapat penurunan Arus Kas Bersih pada tahun 2008 dibanding
tahun 2007. Penurunan ini disebabkan kenaikan Arus Kas Keluar lebih
tinggi dibanding dengan kenaikan Arus Masuk. Penurunan Arus Kas
Bersih dari Aktivitas Operasi TA 2008 sebesar Rp335.018.557.349,80
atau 25,97 persen dibanding dengan tahun 2007. Walaupun terjadi
penurunan Arus Kas Bersih dari Aktivitas Operasi, dalam TA 2008
Pemerintah Provinsi J awa Timur dapat mendanai seluruh aktifitas operasi
dari penerimaan operasinya. Dan berikut rincian arus kas dari aktivitas
operasi (dalam rupiah):
i) Arus Kas Masuk
Arus Kas Masuk pada aktivitas Operasi selama TA 2008
sebesar Rp6.819.116.302.174,25 dan TA 2007 sebesar
Rp5.727.068.883.836,72, dengan rincian sebagai berikut:

Tabel e.47 Arus Kas Masuk Aktivitas Operasi (Rp)
Uraian Tahun 2008 Tahun 2007
Penerimaan :
Pajak Daerah 4.481.791.543.639,05 3.574.886.241.780,00
Retribusi Daerah 61.050.477.348,00 56.792.023.080,88
Hsl. Pengelolaan Key. Drh. Yg. dipshkan 195.402.283.657,46 99.510.836.622,96
Lain-lain PAD yg. Sah 218.141.337.188,74 220.082.420.065,88
Dana Bagi Hasil Pajak 700.206.917.652,00 641.893.164.721,00
Dana Bagi Hasil bkn. Pajak (SDA) 75.083.458.317,00 22.847.861.448,00
Dana Alokasi Umum 1.022.860.627.000,00 1.091.155.000.000,00
Dana Penyesuaian 40.847.625.700,00 0,00
Pendapatan Hibah 23.787.468.036,00 19.901.336.118,00
Jumlah Penerimaan 6.819.560.264.453,25 5.727.068.883.836,72



PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
123
(1) Penerimaan Pajak
Penerimaan Perpajakan pada TA 2008 sebesar
Rp4.481.791.543.639,05 terdiri dari Penerimaan Pajak
Kendaraan Bermotor, Bea Bahan Kendaraan Bermotor, Pajak
Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, Pajak Air Permukaan dan
Pajak Air Bawah Tanah.
Tabel e.48 Penerimaan Pajak (Rp)
Uraian TA 2008 TA 2007
Pajak Kendaraan Bermotor 1.697.833.590.803,00 1.483.707.055.565,00
Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor 1.722.665.636.915,00 1.256.328.897.050,00
Pajak Bahan Bakar Kend. Bermotor 1.024.222.886.130,05 800.561.751.098,00
Pajak Air Permukaan 18.830.771.512,00 17.009.784.842,00
Pajak Air Bawah Tanah 18.238.658.279,00 17.278.753.225,00
Total Penerimaan Pajak 4.481.791.543.639,05 3.574.886.241.780,00

(2) Penerimaan Retribusi Daerah
Penerimaan Retribusi Daerah TA 2008 sebesar
Rp61.050.477.348,00 terdiri dari Penerimaan Retribusi J asa
Umum, Retribusi J asa Usaha dan Retribusi Perijinan Tertentu.
Tabel e.49 Penerimaan Retribusi (Rp)
Uraian TA 2008 TA 2007
Retribusi J asa Umum 11.704.537.895,00 10.650.656.446,88
Retribusi J asa Usaha 33.733.859.317,00 30.706.260.344,00
Retribusi Perijinan Tertentu 15.611.080.136,00 15.435.106.290,00
Total Penerimaan Retribusi 61.050.477.348,00 56.792.023.080,88

(3) Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yg. Dipisahkan
Penerimaan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang
dipisahkan TA 2008 sebesar Rp195.402.283.657,46 terdiri dari
Penerimaan Bagian Laba atas Penyertaan Modal pada BUMD
dan Bagian Laba atas Penyertaan Modal pada Perusahaan
Patungan/ Milik Swasta

Tabel e.50 Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan (Rp)
Uraian TA 2008 TA 2007
Bagian Laba atas Penyertaan Modal -
pada Perusahaan Daerah (BUMD) 190.632.165.167,46 93.235.168.943,54
Bagian Laba atas Penyertaan Modal -
pada Perusahaan Patungan/Milik Swasta 4.770.118.490,00 6.275.667.679,42
Total Hsl. Kekayaan. Drh. yg. dipshkan 195.402.283.657,46 99.510.836.622,96

(4) Lain-lain PAD yang Sah
Penerimaan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah
TA 2008 sebesar Rp218.584.299.467,74 , rinciannya sebagai
berkut:
Tabel e.51 Lain-lain PAD yang Sah (Rp)
Uraian TA 2008 TA 2007
Hsl. Penjualan Aset Drh. Yg. Tdk. 795.102.279,00 342.615.200,00

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
124
Uraian TA 2008 TA 2007
Dipisahkan
J asa Giro 88.250.651.551,77 77.459.189.893,27
Tuntutan Ganti Rugi (TGR) 83.460.700,00 59.962.650,00
Komisi, Potongan dan Keuntungan selisih
nilai tukar rupiah.
15,00 0,00
Pendapatan denda atas keterlambatan
pelaksanaan pekerjaan
17.869.909.208,90 12.853.369.000,00
Pendapatan denda Pajak 71.284.195.265,00 49.560.734.411,00
Pendapatan dari Pengembalian 408.925.843,00 0,00
Pendapatan dari penyelenggaraan
Pendidikan dan pelatihan
864.193.050,00 726.360.600,00
Pendapatan Sewa 505.145.895,00 1.754.103.349,00
Pengelolaan/ Pembuangan Limbah 0,00 0,00
Penerimaan Lain-lain 38.522.715.660,07 77.326.084.962,61
Total Lain-lain Pendapatan yg Sah 218.141.337.188,74 220.082.420.065,88

(5) Dana Bagi Hasil Pajak
Penerimaan dari Dana Bagi Hasil Pajak TA 2008 sebesar
Rp700.206.917.652,00 lebih besar dibanding TA 2007 yaitu
sebesar Rp641.893.164.721,00

(6) Dana Bagi Hasil Bukan Pajak
Penerimaan dari Dana Bagi Hasil Bukan Pajak TA 2008
sebesar Rp75.083.458.317,00 lebih besar dibanding TA 2007
yaitu sebesar Rp22.847.861.448,00

(7) Dana Alokasi Umum (DAU)
Penerimaan Dana Alokasi Umum TA 2008 sebesar
Rp1.022.860.627.000,00 lebih kecil dibanding TA 2007 yaitu
sebesar Rp1.091.155.000.000,00

(8) Dana Penyesuaian
Penerimaan Dana Penyesuaian TA 2008 sebesar
Rp40.847.625.700,00 dan TA 2007 sebesar Rp0,00

(8) Pendapatan Hibah
Penerimaan Dana Hibah TA 2008 sebesar
Rp23.803.348.578,00 dan TA 2007 sebesar
Rp19.901.336.118,00

ii) Arus Kas Keluar
Arus Kas Keluar pada aktivitas Operasi selama TA 2008
sebesar Rp954.983.053.278,20 dan TA 2007 sebesar
Rp1.290.002.610.628,01, berikut rinciannya:

Tabel e.52 Arus Kas Keluar Aktivitas Operasi (Rp)
Belanja : Tahun 2008 Tahun 2007
Belanja Pegawai 1.344.594.972.791,00 1.136.408.311.825,00

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
125
Belanja : Tahun 2008 Tahun 2007
Belanja Barang dan J asa 1.183.520.470.454,00 1.080.067.901.520,00
Belanja Hibah 1.283.926.009.927,05 2.000.000.000,00
Belanja Bantuan Sosial 559.004.250.024,00 854.686.634.603,71
Belanja Bagi Hasil ke Kab/ Kota 1.452.594.468.910,00 1.334.276.267.687,00
Belanja Bantuan Keuangan 16.689.728.212,00 4.624.714.800,00
Belanja Tidak Terduga 23.803.348.578,00 25.002.442.773,00
Jumlah Belanja 5.864.133.248.896,05 4.437.066.273.208,71

(1) Belanja Pegawai
Belanja Pegawai merupakan gabungan dari belanja tidak
langsung dan belanja langsung Tahun 2008 sebesar
Rp1.344.594.972.791,00 dan TA 2007 sebesar
Rp1.136.408.311.825,00, berikut rinciannya:
Tabel e.53 Belanja Pegawai (Rp)
Uraian TA 2008 TA 2007
Belanja Tidak Langsung :
Gaji dan Tunjangan 730.623.900.187,00 599.025.856.120,00
Tambahan Pengasilan PNS 88.842.758.595,00 71.935.854.922,00
Belanja Penerimaan KDH/WKDH lainnya 5.064.997.165,00 15.646.713.289,00
Biaya Pemungutan Pajak Daerah 150.430.692.789,00 165.454.829.796,00
Belanja Tunjangan Komunikasi Intensif 10.710.450.000,00 0,00
Belanja Penunjang Operasional 484.300.000,00 233.300.000,00
Total Belanja Tidak Langsung 986.157.098.736,00 852.296.554.127,00
Ditambah :
Belanja Langsung :
Honorarium PNS 113.877.011.580,00 81.104.688.360,00
Honorarium Non PNS 144.779.696.085,00 118.173.701.385,00
Uang Lembur 78.817.508.770,00 61.904.893.025,00
Belanja Beasiswa Pendidikan PNS 3.956.907.500,00 3.878.174.500,00
Belanja Kursus, Pelatihan, Sosialisasi dan
Bimbingan Teknis PNS
17.006.750.120,00 19.050.300.428,00
Total Belanja Langsung 358.437.874.055,00 284.111.757.698,00
Total Belanja Pegawai 1.344.594.972.791,00 1.136.408.311.825,00

(2) Belanja Barang dan Jasa

Tabel e.54 Belanja Barang dan J asa (Rp)
Uraian TA 2008 TA 2007
Belanja Bahan Pakai Habis 109.316.619.663,00 77.648.585.166,00
Belanja Bahan/Material 88.233.247.730,00 96.974.048.004,00
Belanja J asa Kantor 454.919.466.886,00 457.020.127.251,00
Belanja Premi Asuransi 3.040.185.428,00 3.710.239.140,00
Belanja Perawatan Kendaraan Bermotor 31.696.803.523,00 30.519.013.752,00
Belanja Cetak dan Pengadaan 58.520.486.217,00 56.863.268.472,00
Belanja Sewa
Rmh/Gedung/Gudang/Park
15.580.610.535,00 14.505.835.289,00
Belanja Sewa sarana Mobiltas 2.999.178.828,00 4.259.979.555,00
Belanja sewa Alat Berat 1.895.171.937,00 3.383.248.893,00
Belanja Sewa Perlengkapan/ Pltan Ktr 5.025.786.155,00 4.073.047.495,00

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
126
Uraian TA 2008 TA 2007
Belanja Makan dan Minum 74.997.292.758,00 72.233.583.511,00
Belanja Pakaian Dinas dan Atribut 5.857.638.068,00 10.618.559.468,00
Belanja Pakaian Kerja 1.651.641.070,00 2.380.846.710,00
Belanja Pakaian khusus dan hari
tertentu
5.357.438.830,00 4.813.719.335,00
Belanja Perjalanan Dinas 324.258.902.826,00 240.969.425.429,00
Belanja Pemulangan Pegawai 170.000.000,00 99.000.000,00
Total Belanja Brg. Dan Jasa 1.183.520.470.454,00 1.080.067.901.520,00

(3) Belanja Bunga
Belanja Bunga Tahun 2008 adalah sebesar Rp0,00.
Pembayaran bunga utang dibebankan pada Belanja Barang dan
J asa-Belanja Bunga dan Angsuran Pinjaman Rumah Sakit
(rekening 5220316) sehingga saldo akun Belanja Bunga TA
2008 adalah sebesar Rp0,00

(4) Belanja Subsidi
Belanja Subsidi Tahun 2008 adalah sebesar Rp0,00

(5) Belanja Hibah
Belanja Hibah kepada Badan/ Lembaga dan Organisasi
Swasta TA 2008 sebesar Rp1.283.926.009.927,05 mengalami
penurunan dibanding TA 2007 sebesar Rp2.000.000.000,00

(6) Belanja Bantuan Sosial

Tabel e.55 Belanja Bantuan Sosial (Rp)
Uraian TA 2008 TA 2007
Belanja Bantuan Sosial kpd. Organisasi
Kemasyarakatan
557.555.250.024,00 852.586.634.603,71
Belanja Banruan kepada Partai Politik 1.449.000.000,00 2.100.000.000,00
Total Belanja Bantuan Sosial 559.004.250.024,00 854.686.634.603,71

(7) Belanja Bagi Hasil ke Kabupaten/ Kota

Tabel e.56 Belanja Bagi Hasil (Rp)
Uraian TA 2008 TA 2007
Belanja Bagi Hasil Pajak Daerah Kepada
Kabupaten / Kota
1.441.802.067.998,00 1.323.464.389.531,00
Belanja Bagi Hasil Retribusi Daerah
Kepada Kabupaten/ Kota
10.792.400.912,00 10.811.878.156,00
Total Belanja Bagi Hasil Kab/ Kota 1.452.594.468.910,00 1.334.276.267.687,00

(8) Belanja Bantuan Keuangan

Tabel e.57 Belanja Bantuan Keuangan (Rp)
Uraian TA 2008 TA 2007
Belanja Bantuan Keuangan kepada
Provinsi
0,00 867.550.000,00

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
127
Uraian TA 2008 TA 2007
Belanja Bantuan Keuangan kepada
Kabupaten / Kota
14.404.500.000,00 1.110.000.000,00
Belanja Bantuan Keuangan kepada
Provinsi, Pemerintah Daerah dan
Pemerintah Desa lainnya
2.258.228.212,00 2.647.164.800,00
Total Bantuan Keuangan 16.689.728.212,00 4.624.714.800,00

(9) Belanja Tidak Terduga
Belanja Tidak Terduga TA 2008 sebesar
Rp23.803.348.578,00 mengalami penurunan dibanding TA 2007
yang realisasinya sebesar Rp25.002.442.773,00


b) ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI ASET NON
KEUANGAN
Arus Kas dari Aktivitas Investasi Aset Nonkeuangan
menjelaskan aktivitas yang mencerminkan penerimaan dan pengeluaran
kas neto dalam rangka perolehan dan pelepasan sumber daya ekonomi
yang bertujuan untuk meningkatkan dan mendukung pelayanan
pemerintah kepada masyarakat di masa yang akan datang. Aktivitas
Investasi Aset Nonkeuangan pada TA 2008 menunjukkan arus kas keluar
netto sebesar Rp529.757.045.006,00, J umlah tersebut berasal dari:

Tahun 2008 Tahun 2007
- Arus Kas Masuk 442.962.279,00 3.528.665.807,00
- Dikurangi Arus Kas Keluar 530.200.007.285,00 622.350.263.546,57
Arus Kas Bersih (529.757.045.006,00) (618.821.597.739,57)
Arus kas Bersih dari Aktivitas Investasi Aset Nonkeuangan pada
TA 2008 lebih besar Rp89.064.552.733,57 dari TA 2007

i) Arus Kas Masuk
Pada Arus Kas Masuk merupakan Pendapatan Penjualan
Aset Tetap, yang berasal dari penjualan aset yang rusak atau
berlebihan. Pendapatan yang berasal dari Penjualan Aset Tetap pada
TA 2008 adalah sebesar Rp442.962.279,00 dengan rincian sebagai
berikut :

Tabel e.58 Arus Kas Masuk Aktivitas Investasi Aset Non Keuangan (Rp)
Uraian Tahun 2008 Tahun 2007
Penjualan atas Tanah 403.312.279,00 3.437.652.807,00
Penjualan atas Peralatan & Mesin 24.400.000,00 34.253.000,00
Penjualan atas Gedung & Bangunan 15.250.000,00 56.760.000,00
Jumlah Penerimaan atas Penjualan 442.962.279,00 3.528.665.807,00
Pendapatan ini pada TA 2008 lebih kecil sebesar
Rp3.085.703.528,00 dari TA 2007.



PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
128
ii) Arus Kas Keluar
Belanja Aset Tetap pada TA 2008 adalah sebesar
Rp530.200.007.285,00 dengan rincian sebagai berikut:

Tabel e.59 Arus Kas Keluar Aktivitas Investasi Aset Non Keuangan (Rp)
Uraian Tahun 2008 Tahun 2007
Belanja Modal Tanah 29.586.381.609,00 62.055.742.229,00
Belanja Modal Peralatan & Mesin 102.195.546.775,00 111.154.689.684,00
Belanja Modal Gedung & Bangunan 178.485.649.840,00 249.684.271.166,00
Belanja Modal J alan,Irigasi &Bangunan 190.579.278.028,00 195.717.562.384,57
Belanja Modal Aset Tetap Lainnya 2.674.823.153,00 2.217.114.183,00
Belanja Aset Lainnya 26.677.327.880,00 1.520.883.900,00
Jumlah Belanja Aset Tetap 530.200.007.285,00 622.350.263.546,57

Belanja ini pada TA 2008 lebih kecil Rp92.150.256.261,57
dari TA 2007

Dengan Arus Kas Masuk Bersih dari Aktivitas Operasi sebesar
Rp954.984.053.278,20 dan Arus Kas Bersih Keluar dari Aktivitas Aset
Nonkeuangan sebesar Rp 529.757.045.006,00 mengakibatkan Surplus
Anggaran sebesar Rp425.227.008.272,20,
Dan bila dibandingkan dengan Surplus Anggaran Laporan
Realisasi Anggaran (LRA) sebesar Rp435.324.483.493,86, terdapat
selisih Rp10.097.472.221,66. Perbedaan ini disebabkan belanja dana
Fungsional Rumah Sakit tidak melalui Kas Daerah, sehingga pada arus
kas tidak nampak, terinci sebagai berikut:

Tabel e.60 Belanja Dana Fungsional (Rp)
Uraian Laporan Arus Kas LRA
Kas Masuk/ Penerimaan 954.984.053.278,20 7.075.105.412.658,91
Kas Keluar/ Pengeluaran 529.757.045.006,00 6.639.780.929.165,05
Surplus Anggaran 425.227.008.272,20 435.324.483.493,86

c) ARUS KAS DARI AKTIVITAS PEMBIAYAAN
Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan menjelaskan aktivitas
penerimaan dan pengeluaran kas sehubungan dengan pendanaan defisit
atau penggunaan surplus anggaran yang bertujuan untuk memprediksi
klaim (tuntutan) pihak lain terhadap arus kas Pemerintah Provinsi J awa
Timur dan tuntutan Pemerintah Provinsi J awa Timur terhadap pihal lain
dimasa yang akan datang. J umlah Pembiayaan Netto dalam TA 2008
adalah sebesar Rp348.355.233.689,61. Jumlah tersebut berasal dari:
Tahun 2008 Tahun 2007
Arus Kas Masuk 446.355.233.679,61 67.863.272.193,00
Dikurangi Arus Kas
Keluar

98.000.000.000,00

308.412.395.217,00
Arus Kas Bersih 348.355.233.689,61 (240.549.123.024,00)


PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
129
Arus Kas Bersih dari Aktivitas Pembiayaan TA 2008 lebih besar
Rp107.806.110.665,61 dari TA 2007 dan rinciannya sebagai berikut:

i) Arus Kas Masuk
Penerimaan Pembiayaan dalam TA 2008 merupakan
penerimaan dari Deposito, Bunga Deposito dan Bunga Giro sebesar
Rp 446.355.283.689,61 dengan rincian sebagai berikut:

Tabel e.61 Arus Kas Masuk Aktivitas Pembiayaan (Rp)
Uraian Tahun 2008 Tahun 2007
Pencairan Dana Cadangan
Deposito Dana Cadangan Murni 9.062.937.305,00 67.713.876.943,00
Deposito Dana Pilkada Gubernur 400.000.000.000,00
Bunga dalam bentuk Deposito 28.492.875.296,86
Bunga dalam bentuk Giro 8.799.875.296,86
Penerimaan Pinjaman Daerah
Penerimaan Kembali Pinjaman LK Bukan
Bank
0,00 149.395.250,00
Total Penerimaan Pembiayaan 446.355.283.689,61 67.863.272.193,00

ii) Arus Kas Keluar
Pengeluaran Pembiayaan pada TA 2008 sebesar Rp
98.000.000.000,00 yang digunakan untuk menambah modal pada
BUMD dan Modal Bergulir, dengan rincian sebagai berikut:

Tabel e.62 Arus Kas Masuk Aktivitas Pembiayaan (Rp)
Uraian Tahun 2008 Tahun 2007
Pembentukan Dana Cadangan:
Deposito Dana Pilkada Gubernur 0,00 190.000.000.000,00
Investasi Permanen :
PT. BPR J atim 4.000.000.000,00 11.000.000.000,00
PT. J atim Grha Utama (J GU) 70.000.000.000,00 5.000.000.000,00
PT. Petrogas J atim Utama (PJ U) 0,00 12.500.000.000,00
PT. Panca Wira Usaha (PWU) 0,00 30.000.000.000.00
Investasi Non Permanen :
Biro Adm. Perekonomian (UKMK) Bank
J atim
8.000.000.000,00 10.000.000.000,00
Biro Adm. Perekonomian (UKMK) BPR
J atim
4.500.000.000,00 28.000.000.000,00
Biro Adm. Perekonomian (PJ TKI) Bank
J atim
0,00 9.000.000.000,00
Badan Ketahanan Pangan 2.450.000.000,00 3.100.000.000,00
Dinas Koperasi dan UKM 8.250.000.000,00 8.463.000.000,00
Dinas Perikanan dan Kelautan 800.000.000,00 0,00
Dinas Perkebunan 0,00 400.000.000,00
Dinas Pertaniansi 0,00 800.000.000,00
Pembayaran Pokok Utang
Pembayaran Pokok Utang yang jatuh
tempo kepada Pemerintah
0,00 149.395.217,00
Total Pengeluaran Pembiayaan 98.000.000.000,00 308.412.395.217,00



PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
130
d) ARUS KAS DARI AKTIVITAS NON ANGGARAN
Arus Kas dari Aktivitas Nonanggaran merupakan aktivitas arus
kas yang tidak mempengaruhi anggaran dengan mempergunakan angka
penerimaan dan pengeluaran daerah dari fungsi perbendaharaan.
Pengeluaran Daerah adalah arus kas keluar dari kas daerah dengan tanpa
memperhatikan berapa yang dipertanggungjawabkan atau yang
dikembalikan dan Penerimaan Daerah adalah arus kas masuk ke kas
daerah.
Dalam TA 2008 dan TA 2007 Arus Kas dari Aktivitas
Nonanggaran adalah sebesar Rp0,00 J umlah tersebut berasal dari:
Tahun 2008 Tahun 2007
Arus Kas Masuk 173.266.205.840,00 164.316.039.187,00
Dikurangi Arus Kas Keluar 173.266.205.840,00 164.316.039.187,00
Arus Kas Bersih 0,00 0,00

Arus Kas Bersih dari Aktivitas Nonanggaran TA 2008 sebesar
Rp 0,00

i) Arus Kas Masuk
Arus Kas masuk yang berasal dari Perhitungan Fihak Ketiga
(PFK) dalam TA 2008 adalah sebesar Rp173.266.205.840,00. Arus
Kas masuk ini berasal dari penerimaan Pemerintah Daerah yang
berasal dari jumlah dana yang dipotong langsung oleh Bank J atim
melalui SP2D-LS, seperti potongan gaji, dan PFK lainnya. Dan
selanjutnya semua potongan tersebut disetorkan ke Pihak yang
berwenang.
Adapun rincian penerimaan dan pengeluaran PFK pada TA
2008 sebagai berikut:

Tabel e.63 Arus Kas Masuk Aktivitas Non Anggaran (Rp)
Uraian Tahun 2008 Tahun 2007
PPh 21 32.331.422.545,00 23.048.795.942,00
PPh 22 3.612.055.291,00 3.337.087.314,00
PPh 23 13.199.290.473,00 17.032.448.706,00
PPn 69.956.045.021,00 77.089.064.818,00
Asuransi Kesehatan (Askes) 11.549.373,00 5.909.428,00
Tabungan Perumahan (Taperum) 1.768.994.015,00 1.671.937.000,00
Tabungan Pensiun (Taspen) 52.160.950.393,00 41.927.160.228,00
J aminan Sosial Tek. Kerja (J amsostek) 225.898.729,00 203.635.751,00
Jumlah 173.266.205.840,00 164.316.039.187,00

ii) Arus Kas Keluar
Arus Kas keluar yang berasal dari Perhitungan Fihak Ketiga
(PFK) dalam TA 2008 yang sudah disetor ke pihak berwenang
sebesar Rp173.266.205.840,00. dengan rincian:



PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
131
Tabel e.64 Arus Kas Keluar Aktivitas Non Anggaran (Rp)
Uraian Tahun 2008 Tahun 2007
PPh 21 32.331.422.545,00 23.048.795.942,00
PPh 22 3.612.055.291,00 3.337.087.314,00
PPh 23 13.199.290.473,00 17.032.448.706,00
PPn 69.956.045.021,00 77.089.064.818,00
Asuransi Kesehatan (Askes) 11.549.373,00 5.909.428,00
Tabungan Perumahan (Taperum) 1.768.994.015,00 1.671.937.000,00
Tabungan Pensiun (Taspen) 52.160.950.393,00 41.927.160.228,00
J aminan Sosial Tek. Kerja (J amsostek) 225.898.729,00 203.635.751,00
Jumlah 173.266.205.840,00 164.316.039.187,00


PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
132

f. PENJELASAN ATAS INFORMASI NON-KEUANGAN

1) DASAR HUKUM :
Provinsi J awa Timur dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor
2 Tahun 1950 tentang Pembentukan Provinsi J awa Timur J uncto Undang-
Undang Nomor 18 Tahun 1950 tentang Mengadakan Perubahan dalam
Undang-Undang Tahun 1950 Nomor 2 dari hal Pembentukan Provinsi J awa
Timur (Lembaran Negara Tahun 1950 Nomor 32)

2) DOMISILI :
Pemerintah Provinsi J awa Timur berkedudukan di J alan Pahlawan
Nomor 110 Surabaya Kelurahan Alon-Alon Contong, Kecamatan Bubutan
Kota Surabaya.

3) GEOGRAFI
J awa Timur terletak antara 111,0' BT hingga 114,4' BT dan Garis
Lintang 7,12 LS dan 8,48 LS dengan luas wilayah 47.157,72 Km2.
Secara umum J awa Timur dapat dibagi menjadi dua bagian utama,
yaitu J awa Timur daratan dengan proporsi lebih luas hampir mencakup 90%
dari seluruh luas wilayah Provinsi J awa Timur dan wilayah Kepulauan
Madura yang hanya sekitar 10 % saja.
J awa Timur mempunyai 229 pulau terdiri dari 162 pulau bernama
dan 67 pulau tak bernama, dengan panjang pantai sekitar 2.833,85 Km.
Batas-batas wilayah Provinsi J awa Timur sebagai berikut :
a) Sebelah Utara dengan Laut J awa dan Pulau Kalimantan, Provinsi
Kalimantan Selatan
b) Sebelah Selatan dengan Samudra Indonesia
c) Sebelah Barat dengan Provinsi J awa Tengah
d) Sebelah Timur dengan Selat Bali / Provinsi Bali
Tabel f.1 Luas Wilayah Jawa Timur
LUAS WILAYAH JAWA TIMUR
Pemukiman / Terbangun : 5.858,83
Persawaan : 12.034,46
Pertanian Tanah Kering : 10.332,31
Kebun Campur : 913,26
Perkebunan : 1.842,26
Hutan : 12.529,59
Rawa/ Danau/ Waduk : 112,35
Tambak/ Kolam : 732,40
Padang Rumput / Tanah
Kosong
: 256,38
Tanah Tandus/ Rusak.
Tambang
: 1.350,03
Lain- Lain : 1.192,81



PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
133
4) TOPOGRAFI
Tingkat Kemiringan Dilihat dari segiTopografis, sebagian besar
wilayah daratan di J awa Timur (39,89 %) tergolong berpermukaan datar
dengan tingkat kemiringan 0 2 %. Sedangkan ketinggian tanah sebagian
besar wilayah pada posisi 0 100 M diatas permukaan laut dengan jumlah
mencapai 41,39 % dari total wilayah J awa Timur. Dengan kondisi tersebut
dapat dinyatakan bahwa sebagian besar wilayah berupa dataran rendah.
Tabel f.2 Topografi Luas Kemiringan Lahan
Uraian Luas kemiringan lahan (Ha)
Datar ( 0 2 ) 1.797,789,19
Bergelombang ( 3 15 % ) 1.292.207,05
Curam ( 16 40 % ) 447.043,03
Sangat curam ( >40 % ) 969.155,20

Salah satu faktor penting yang mempengaruhi tingkat kesuburan
tanah adalah banyaknya gunung berapi yang masih aktif serta aliran sungai
yang cukup besar. Gunung berapi dan sungai yang lebar berfungsi sebagai
sarana penyebaran zat zat hara yang terkandung dalam material hasil
letusan gunung berapi. Provinsi J awa Timur mempunyai 48 gunung dan
beberapa diantaranya yang masih aktif antara lain Gunung Kelud, Gunung
Semeru yang mencapai ketinggian 3.676 meter, Gunung Lamongan yang
merupakan gunung terendah dengan tinggi 1.668 meter dan gunung Bromo
yang mulai kelihatan aktifitasnya. Sementara beberapa sungai besar yang
aktif ikut mentransfer tanah yang subur diantaranya adalah sungai Brantas,
sungai Bengawan Solo, Sungai Madiun, Sungai Konto dan lainnya.

Tabel f.3 Topografi Ketinggian di atas Permukaan Laut
Uraian Ketinggian di atas permukaan
laut (Ha)
0 100 M 1.950.567,16
100 500 M 1.723.862,64
500 1.000 M 447.043,03
Lebih besar dari 1.000 M 591.541,84
Desa/Kelurahan
Pembagian wilayah administrasi Pemerintah Provinsi J awa Timur
pada tahun 2003 s/d tahun 2008 terbagi dalam 4 (empat) Badan Koordinasi
Wilayah/ Pembantu Gubernur, 29 Kabupaten dan 9 Kota serta jumlah
kecamatan berjumlah 642 kecamatan. Perwakilan kecamatan sejak tahun
2003 telah ditiadakan, sebelumnya berjumlah 114, dan Kota Administratif
Batu sejak tahun 2003 telah menjadi Kota,sedang Kota Administratif J ember
berdasarkan peraturan perundangan telah dicabut dengan demikian J ember
hanya sebagai Kabupaten. J ml. kelurahan sebanyak 785 Kelurahan dan Desa
sebanyak 7.680 desa.





PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
134
Tabel f.4 Pembagian Wilayah Administrasi
Uraian 2006 2007 2008
Badan Koordinasi Wilayah 4 4 4
J umlah Kabupaten 29 29 29
J umlah Kota 9 9 9
J umlah Kecamatan 657 657 657
J umlah Kelurahan 784 784 784
J umlah Desa 8.484 8.484 8.484

5) PEMERINTAHAN
Dalam penyelenggaraan pemerintahan, Negara Republik Indonesia
sebagai negara kesatuan menganut asas desentralisasi dengan memberikan
kesempatan dan kekuasaan kepada daerah untuk menyelenggarakan otonomi
daerah. Karena itu, wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi
dalam Daerah Provinsi, Daerah Kabupaten dan Daerah Kota yang bersifat
otonom, termasuk di dalamnya adalah Provinsi J awa Timur. Sesuai ketentuan
UU nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah yang kemudian
diperbarui dengan UU nomor 32 tahun 2004, lembaga eksekutif di
Pemerintah Provinsi J awa Timur dipimpin oleh seorang Gubernur yang
dibantu oleh seorang Wakil Gubernur
Untuk menyelenggarakan pemerintahan, Gubernur membentuk
perangkat daerah yang terdiri dari Sekretariat Daerah Provinsi, Dinas, Badan
dan Kantor. Sekretariat Daerah Provinsi dipimpin oleh seorang Sekretaris
Daerah Propinsi dan 4 orang Asisten.

Tabel f.5 Susunan instansi perangkat daerah Provinsi Jawa Timur.
Biro di lingkungan Sekretariat Daerah Provinsi
1. Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah
2. Biro Kerjasama
3. Biro Hukum
4. Biro Kesejahteraan Rakyat
5. Biro Mental Spiritual
6. Biro Perekonomian
7. Biro Administrasi Pembangunan
8. Biro Organisasi
9. Biro Kepegawaian
10. Biro Keuangan
11. Biro Administrasi Aset dan Perlengkapan
12. Biro Umum
13. Sekretariat DPRD
Dinas
1. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral
2. Dinas Kesehatan
3. Dinas Sosial
4. Dinas Pertanian

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
135
Biro di lingkungan Sekretariat Daerah Provinsi
5. Dinas Perkebunan
6. Dinas Perhubungan
7. Dinas Kehutanan
8. Dinas Koperasi, Pengusaha Kecil dan Menengah
9. Dinas Peternakan
10. Dinas Tenaga Kerja
11. Dinas Pariwisata
12. Dinas Pendapatan
13. Dinas Kependudukan
14. Dinas Perindustrian dan Perdagangan
15. Dinas Kepemudaan dan keolahragaan
16. Dinas Lalu Lintas dan Angkutan J alan
17. Dinas Perikanan dan Kelautan
18. Dinas Informasi dan Komunikasi
19. Dinas Pemukiman
20. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
21. Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga
22. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan
Badan
1. Badan Arsip
2. Badan Pendidikan dan Pelatihan
3. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan
4. Badan Perencanaan Pembangunan Provinsi
5. Badan Perpustakaan
6. Badan Kesatuan Bangsa
7. Badan Ketahanan Pangan
8. Badan Pengawasan
9. Badan Pengelolaan Data Elektronik
10. Badan Pemberdayaan Masyarakat
11. Badan Penelitian dan Pengembangan
12. Badan Penanaman Modal
13. Badan Koordinasi Wilayah I Madiun
14. Badan Koordinasi Wilayah II Bojonegoro
15. Badan Koordinasi Wilayah III Malan
16. Badan Koordinasi Wilayah IV Pamekasan

Kantor
1. Kantor Kas Daerah
2. Kantor Perwakilan Provinsi J awa Timur
3. Kantor Polisi Pamong Praja
6) DPRD
Dalam penyelenggaraan pemerintahan, susunan pemerintah daerah
otonom meliputi DPRD sebagai lembaga legislatif dan pemerintah daerah
sebagai lembaga eksekutif. Sesuai ketentuan UU Nomor 32 tahun 12004
tentang Pemerintah Daerah, Untuk melaksanakan tugas dan wewenang

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
136
DPRD sebagai lembaga legislatif dibentuk unsur pimpinan, komisi-komisi,
panitia dan fraksi.
Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah.
Sistem Ketatanegaraan Indonesia menganut prinsip pembagian kewenangan
berdasarkan asas dekonsentrasi dan desentralisasi dalam kerangka Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Daerah yang dibentuk berdasarkan asas
desentralisasi dan dekonsentrasi adalah Daerah Provinsi. Sedangkan daerah
yang dibentuk berdasarkan asas desentralisasi adalah Daerah Kabupaten dan
Daerah Kota
Di Daerah Provinsi J awa Timur terdapat 38 Daerah, yang terdiri dari
29 Kabupaten dan 9 Kota Nama Daerah Kabupaten/Kota itu adalah :

Tabel f.6 Daerah Kabupaten / Kota di Jawa Timur
No. Kabupaten / Kota No. Kabupaten / Kota

1 Kota Madiun 20 Kabupaten Probolinggo
2 Kabupaten Madiun 21 Kabupaten Lumajang
3 Kabupaten Ponorogo 22 Kabupaten Bojonegoro
4 Kabupaten Magetan 23 Kabupaten Tuban
5 Kabupaten Pacitan 24 Kabupaten Lamongan
6 Kabupaten Ngawi 25 Kota Surabaya
7 Kota Kediri 26 Kota Mojokerto
8 Kabupaten Kediri 27 Kabupaten Mojokerto
9 Kota Blitar 28 Kabupaten Gresik
No. Kabupaten / Kota No. Kabupaten / Kota
10 Kabupaten Blitar 29 Kabupaten J ombang
11 Kabupaten Trenggalek 30 Kabupaten Sidoarjo
12 Kabupaten Tulungagung 31 Kabupaten Pamekasan
13 Kabupaten Nganjuk 32 Kabupaten Bangkalan
14 Kota Malang 33 Kabupaten Sampang
15 Kabupaten Malang 34 Kabupaten Sumenep
16 Kota Batu 35 Kabupaten J ember
17 Kota Pasuruan 36 Kabupaten Situbondo
18 Kabupaten Pasuruan 37 Kabupaten Bondowoso
19 Kota Probolinggo 38 Kabupaten Banyuwangi





PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
137
GAMBARAN UMUM PEMERIKSAAN
1. Dasar Hukum Pemeriksaan
a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;
b. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;
c. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung
J awab Keuangan Negara;
d. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan.

2. Tujuan Pemeriksaan
Tujuan pemeriksaan atas LKPD TA 2008 adalah untuk memperoleh opini atas tingkat
kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan yang didasarkan pada
kriteria:
a. Kesesuaian dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP);
b. Kecukupan pengungkapan (adequate disclosures);
c. Kepatuhan terhadap perundang-undangan;
d. Efektivitas sistem pengendalian intern.

3. Sasaran Pemeriksaan
Sasaran Pemeriksaan atas LKPD TA 2008 adalah sebagai berikut.
a. Efektivitas desain dan implementasi sistem pengendalian intern termasuk pertimbangan
hasil pemeriksaan sebelumnya;
b. Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku;
c. Penyajian saldo akun-akun dan transaksi-transaksi dalam Neraca per 31 Desember 2008,
Laporan Realisasi Anggaran dan Laporan Arus Kas untuk tahun yang berakhir sampai
dengan 31 Desember 2008 sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan;
d. Pengungkapan informasi keuangan pada Catatan Atas Laporan Keuangan sesuai dengan
Standar Akuntansi Pemerintahan;
e. Tindak lanjut yang dilakukan Pemerintah Daerah atas Hasil Pemeriksaan BPK RI
sebelumnya.

4. Standar Pemeriksaan
Standar Pemeriksaan yang digunakan adalah Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN)
yang ditetapkan BPK RI Tahun 2007.

5. Metode Pemeriksaan
Metodologi pemeriksaan yang digunakan adalah pemeriksaan dengan pendekatan
berdasarkan risiko, yang dirancang untuk menemukan kesalahan dan penyimpangan
informasi atas laporan keuangan dengan menelaah kegiatan pemerintahan. Kegiatan
pemeriksaan dimulai dengan melakukan penelaahan kegiatan yang akan menentukan area
risiko penting yang seharusnya menjadi fokus pemeriksaan untuk meyakinkan pencatatan
yang memadai di laporan keuangan.
Dalam menganalisis dan menguji proses akuntansi dan pelaporan keuangan Pemerintah, BPK
telah melakukan prosedur-prosedur di bawah ini:
a. Memahami dan menguji sistem akuntansi dan pelaporan yang dipakai dan diterapkan
oleh Pemerintah Daerah saat ini apakah telah mengikuti sistem akuntansi yang telah
ditetapkan Pemerintah;

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
138
b. Menganalisis proses akuntansi dan pelaporan instansi, termasuk pengendalian yang
diterapkan untuk mengurangi risiko salah saji dan kesalahan yang disengaja;
c. Menelaah kecukupan pengendalian intern yang berhubungan dengan sistem akuntansi
dan pelaporan; dan
d. Menelaah keakuratan, kelengkapan, keberadaan, penilaian, pisah batas, kepemilikan,
penyajian dan pengungkapan laporan keuangan yang dihasilkan oleh sistem akuntansi
dan pelaporan.
Pemeriksaan BPK juga mencakup pengujian pengendalian, prosedur analitis, dan pengujian
substantif untuk menilai efektivitas pengendalian, kepatuhan terhadap peraturan perundang-
undangan, dan kewajaran laporan keuangan pemerintah daerah.
Selain itu, kami juga melakukan pemantauan atas tindak lanjut dari setiap permasalahan yang
ditemui dalam pemeriksaan LKPD sebelumnya.

6. Waktu Pemeriksaan
Pemeriksaan Pendahuluan dilaksanakan mulai tanggal 23 Februari 2009 dan berakhir pada
tanggal 31 Maret 2009 dan Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Daerah dilaksanakan mulai
tanggal 13 April 2009 dan berakhir pada tanggal 25 Mei 2009.

7. Obyek Pemeriksaan
Obyek pemeriksaan BPK adalah Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi J awa Timur Tahun
2008, yang terdiri dari:
a. Neraca per 31 Desember 2008;
b. Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah untuk periode Tahun 2008;
c. Laporan Arus Kas untuk Periode Tahun 2008, dan
d. Catatan atas Laporan Keuangan.

8. Kendala Pemeriksaan
Dalam rangka pelaksanaan salah satu tugas konstitusionalnya yaitu pemeriksaan atas Laporan
Keuangan Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota Tahun 2008, BPK RI tidak menghadapi
kendala yang berarti dalam pelaksanaan pemeriksaan.

Lampiran 1
1 2 3 4 5=(3+4) 6 7 = (5-6) 8
1 Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Timur 6.539.000,00 6.539.000,00 2.000.000,00 4.539.000,00 1.200.000,00
2 Dinas Pertanian Kab. Sumenep 200.000,00 200.000,00 200.000,00 0,00 0,00
3 Dinas Pertanian Kab.Lumajang 1.900.000,00 1.900.000,00 0,00 1.900.000,00 1.200.000,00
4 Dinas Pertanian Kab.Bangkalan 250.000,00 250.000,00 0,00 250.000,00 250.000,00
5 Dinas Pendapatan UPT Bangkalan 4.287.400,00 4.287.400,00 0,00 4.287.400,00 2.450.000,00
6 Dinas Pertanian Kab. Probolinggo 4.700.000,00 4.700.000,00 200.000,00 4.500.000,00 600.000,00
7 Bappeprop. Jawa Timur 1.244.000,00 1.244.000,00 600.000,00 644.000,00 644.000,00
8 Dinas Pendapatan UPT Bondowoso 1.603.600,00 1.603.600,00 1.375.200,00 228.400,00 228.400,00
9 HMT Dinas Peternakan Branggahan Kediri 866.000,00 866.000,00 866.800,00 (800,00) kelebihan setor
10 Dinas Sosial Kabupaten Jember 3.575.000,00 3.575.000,00 2.000.000,00 1.575.000,00 1.575.000,00
11 BPTPH Pamekasan Disperta Prov Jatim 2.465.600,00 2.465.600,00 1.850.400,00 615.200,00 615.200,00
12 Dinas Pertanian Kab. Lumajang 2.065.600,00 2.065.600,00 0,00 2.065.600,00 2.065.600,00
13 Dinas Pertanian Kab. Gresik 3.700.000,00 3.700.000,00 800.000,00 2.900.000,00 2.400.000,00
14 Dinas Pertanian Kab. Blitar 2.324.000,00 2.324.000,00 2.325.600,00 (1.600,00) kelebihan setor
15 Dinas Pertanian Kab. Sampang 1.172.000,00 1.172.000,00 588.000,00 584.000,00 584.000,00
16 Dinas Pertanian Kab. Bangkalan 4.600.000,00 4.600.000,00 0,00 4.600.000,00 2.350.000,00
17 Dinas Pertanian Kab. Pasuruan 645.200,00 645.200,00 646.000,00 (800,00) kelebihan setor
18 Dinas Pertanian Kab. Jember 6.474.800,00 6.474.800,00 1.850.400,00 4.624.400,00 3.700.800,00
19 Dinas Pertanian Kab. Sumenep 4.700.000,00 4.700.000,00 1.900.000,00 2.800.000,00 1.800.000,00
20 Dinas Pertanian Kab. Sumenep 4.700.000,00 4.700.000,00 1.900.000,00 2.800.000,00 1.800.000,00
21 Dinas Tenaga Kerja Prov Jatim 7.570.800,00 7.570.800,00 3.621.200,00 3.949.600,00 3.949.600,00
22 Dinas Tenaga Kerja BLKI Pasuruan 4.200.000,00 4.200.000,00 800.000,00 3.400.000,00 2.400.000,00
23 Dinas Tenaga Kerja Prov Jatim 4.887.500,00 4.887.500,00 3.450.000,00 1.437.500,00 1.437.500,00
24 Dinas Pertanian Kab. Pasuruan 4.391.550,00 4.391.550,00 2.583.500,00 1.808.050,00 1.808.050,00
25 Balai Bango Malang 3.416.600,00 3.416.600,00 1.366.800,00 2.049.800,00 2.049.800,00
26 Dinas Tenaga Kerja (BLKP-Malang) 162.373.600,00 162.373.600,00 35.000.000,00 127.373.600,00 84.000.000,00
27 Dinas P dan K Prov. Jatim 9.630.000,00 9.630.000,00 1.605.000,00 8.025.000,00 4.815.000,00
28 Dinas Pertanian Prov. Jatim (BPTPH-Mojokerto) 4.960.000,00 4.960.000,00 0,00 4.960.000,00 2.479.000,00
DAFTAR PEMBAYAR ANGSURAN TP-TGR TAHUN 2008
NO. INSTANSI
SALDO ANGSURAN
AKHIR DES' 2007
NILAI PENETAPAN
KERUGIAN TAHUN
ANGGARAN 2008
JUMLAH NILAI
KERUGIAN TAHUN 2008
POTENSI TAHUN 2009
JUMLAH ANGSURAN
TAHUN 2008
SISA ANGSURAN TAHUN
2008
Lampiran 1
1 2 3 4 5=(3+4) 6 7 = (5-6) 8
DAFTAR PEMBAYAR ANGSURAN TP-TGR TAHUN 2008
NO. INSTANSI
SALDO ANGSURAN
AKHIR DES' 2007
NILAI PENETAPAN
KERUGIAN TAHUN
ANGGARAN 2008
JUMLAH NILAI
KERUGIAN TAHUN 2008
POTENSI TAHUN 2009
JUMLAH ANGSURAN
TAHUN 2008
SISA ANGSURAN TAHUN
2008
29 Badan Arsip Jatim 51.000.000,00 51.000.000,00 6.375.000,00 44.625.000,00 25.500.000,00
J U M L A H 84.278.650,00 235.723.600,00 320.002.250,00 83.463.900,00 236.538.350,00 151.901.950,00
Lampiran 2
Dipakai sendiri Hibah
1 2 3 4 5 6 7 8
1
SEKRETARIAT DPRD PROPINSI JATIM 233.753.250,00
294.015.785,00 1.921.349.912,00 0,00
1.970.448.628,00
343.114.501,00
2
BAKORWIL I MADIUN 0,00
0,00 246.239.070,00 0,00
246.239.070,00
0,00
3
BAKORWIL II BOJONEGORO 8.560.800,00
11.814.760,00 81.587.965,00 0,00
90.749.865,00
20.976.660,00
4
BAKORWIL III MALANG 1.847.525,00
1.847.525,00 382.412.265,00 0,00
383.857.265,00
3.292.525,00
5
BAKORWIL IV PAMEKASAN 2.313.285,00
1.045.315,00 75.806.685,00 0,00
76.213.850,00
1.452.480,00
6
SEKRETARIAT DAERAH PROPINSI JATIM 1.961.965.261,76
1.758.068.788,65 1.787.797.406,78 0,00
1.569.209.715,00
1.539.481.096,87
7
D P U BINA MARGA PROPINSI JATIM 230.624.079,50
514.931.227,00 829.499.227,00 0,00
484.054.436,00
169.486.436,00
8
DINAS PERMUKIMAN PROPINSI JATIM 0,00
0,00 534.276.325,00 0,00
534.276.325,00
0,00
9
D P U PENGAIRAN PROVINSI JATIM 626.569.904,00
537.001.460,00 530.532.255,00 0,00
468.640.385,00
475.109.590,00
10
DINAS LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN 456.493.015,00
129.974.015,00 441.959.720,00 0,00
640.974.616,00
328.988.911,00
11
DINAS PERHUBUNGAN 202.400,00
0,00 93.848.525,00 0,00
94.082.825,00
234.300,00
12
DINAS KESEHATAN 0,00
0,00 7.454.287.810,00 0,00
10.498.118.815,00
3.043.831.005,00
13
RS.U SAIFUL ANWAR 11.814.900.183,23
6.243.260.129,94 10.021.230.340,06 0,00
9.971.107.386,85
6.193.137.176,73
14
RS.U SOEDONO MADIUN 2.329.696.005,27
1.101.529.667,09 4.069.670.620,30 0,00
4.378.291.403,00
1.410.150.449,79
15
RS.U HAJI SURABAYA PROPINSI JATIM 1.070.864.800,00
1.577.937.311,00 4.739.001.874,00 0,00
3.929.678.320,00
768.613.757,00
16
RS.U Dr SOETOMO 10.542.065.221,16
7.359.286.416,85 9.674.576.816,20 0,00
12.326.704.305,25
10.011.413.905,90
17
RS. JIWA MENUR PROPINSI JATIM 808.583.833,65
672.737.740,38 424.994.933,46 0,00
324.490.504,00
572.233.310,92
18
RS. KUSTA KEDIRI 477.047.188,78
401.360.625,01 286.038.005,84 0,00
309.219.378,00
424.541.997,17
19
RS. KUSTA GLAGAH MOJOKERTO 385.519.975,00
275.401.215,00 690.460.574,00 0,00
773.164.755,00
358.105.396,00
20
RS. PARU DUNGUS MADIUN 64.132.023,00
64.240.531,00 147.574.981,00 0,00
156.021.515,00
72.687.065,00
21
RS. PARU BATU MALANG 490.532.352,35
505.908.457,28 451.130.691,15 0,00
629.066.520,00
683.844.286,13
22
RS. PARU JEMBER 341.272.243,00
395.012.905,00 234.066.045,00 0,00
192.686.045,00
353.632.905,00
23
DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PROPINSI JATIM 1.239.858.320,64
1.218.140.886,91 517.806.899,91 0,00
-
700.333.987,00
24
DINAS PEMUDA DAN OLAH RAGA 13.503.361,73
17.351.227,37 697.352.744,72 0,00
685.045.585,00
5.044.067,65
25
DINAS SOSIAL PROPINSI JATIM 296.298.603,00
315.796.592,00 6.208.552.641,00 491.753.475,00
6.639.749.504,00
255.239.980,00
26
BADAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PROPINSI JATIM 0,00
3.655.500,00 500.700.890,00 0,00
496.358.490,00
686.900,00
27
DINAS KEPENDUDUKAN 36.529.642,68
83.747.757,83 487.575.756,83 0,00
403.827.999,00
0,00
28
DINAS TENAGA KERJA 12.863.000,00
35.347.819,00 55.207.538,00 0,00
39.530.425,00
19.670.706,00
REKAPITULASI LAPORAN PERSEDIAAN BARANG PAKAI HABIS PER 31 DESEMBER 2008
Mutasi Triwulan IV
Saldo Akhir
Tahun 2008
Berkurang
Bertambah
No SATUAN KERJ A PERANGKAT DAERAH
Saldo Awal Tahun
2008
Keadaan Akhir
Triwulan III 2008
Lampiran 2
Dipakai sendiri Hibah
1 2 3 4 5 6 7 8
Mutasi Triwulan IV
Saldo Akhir
Tahun 2008
Berkurang
Bertambah
No SATUAN KERJ A PERANGKAT DAERAH
Saldo Awal Tahun
2008
Keadaan Akhir
Triwulan III 2008
29
DINAS PERTANIAN 0,00
0,00 19.639.351.742,00 0,00
19.639.351.742,00
0,00
30
DINAS PERKEBUNAN 4.117.958,00
4.473.676,00 63.125.971,00 0,00
61.346.940,00
2.694.645,00
31
DINAS KEHUTANAN 157.918.760,00
45.180.420,00 283.082.520,00 0,00
260.477.000,00
22.574.900,00
32
DINAS PERIKANAN DAN KELAUTAN 0,00
0,00 0,00 0,00 0,00
33
DINAS PETERNAKAN 450.989.915,00
1.146.599.543,00 2.502.178.768,00 0,00
2.590.673.224,00
1.235.093.999,00
34
BADAN KETAHANAN PANGAN 0,00
0,00 435.141.880,00 0,00
435.141.880,00
0,00
35
DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN 16.591.280,00
33.408.730,00 391.324.816,33 0,00
351.123.286,33
6.792.800,00
36
DINAS KOPERASI PK DAN M 8.054.670,00
0,00 73.493.934,00 0,00
73.944.034,00
450.100,00
37
DINAS ENERGI DAN SDM 16.601.991,67
13.686.748,98 411.889.909,20 0,00
413.500.094,70
15.296.934,48
38
B P M 3.354.560,00
4.866.105,00 790.342.040,00 0,00
790.900.085,00
5.424.150,00
39
DISPENDA 17.583.190.810,00
6.667.642.167,00 7.624.981.758,00 0,00
8.663.431.405,00
7.706.091.814,00
40
KASDA 24.210.385,00
14.627.150,00 18.642.020,00 0,00
32.019.380,00
28.004.510,00
41
BADAN PENGAWAS PROPINSI JATIM 6.718.801,00
6.872.938,00 377.135.568,00 0,00
382.545.424,00
12.282.794,00
42
BAPPEPROP 6.569.915,00
0,00 429.112.365,16 0,00
437.913.465,16
8.801.100,00
43
BALITBANG 6.945.625,00
3.571.725,00 17.042.275,00 0,00
18.730.750,00
5.260.200,00
44
BAPEDALDA 81.565.290,00
58.367.190,00 83.786.141,00 0,00
111.964.639,00
86.545.688,00
45
DINAS PARIWISATA 221.529.273,00
141.614.125,00 1.023.249.275,00 0,00
1.145.970.825,00
264.335.675,00
46
BAKESBANG 186.725,00
503.690,00 100.823.345,00 0,00
100.823.345,00
503.690,00
47
KANTOR SATPOL PP 0,00
0,00 253.162.150,00 0,00
253.162.150,00
0,00
48
D I K L A T 0,00
0,00 89.597.078,00 0,00
89.597.078,00
0,00
49
KANTOR PERWAKILAN JATIM 0,00
0,00 362.597.860,00 0,00
362.597.860,00
0,00
50
DINAS INFOKOM 3.817.350,00
1.885.550,00 455.142.545,00 0,00
455.142.545,00
1.885.550,00
51
B P D E 5.442.228,00
4.944.498,00 249.660.050,00 0,00
288.004.279,00
43.288.727,00
52
BADAN ARSIP DAERAH PROPINSI JATIM 1.139.600,00
2.773.400,00 374.261.470,00 0,00
371.609.620,00
121.550,00
53
BADAN PERPUSTAKAAN 0,00
0,00 110.602.092,00 0,00
110.602.092,00
0,00
52.044.941.410,42 31.670.431.313,29 89.745.266.089,94 491.753.475,00 92.240.503.417,29 37.200.752.221,64 JUMLAH :
Lampiran 3
Penambahan Pengurangan
1 Tanah 12.382.351.961.109,00 110.338.180.610,00 258.708.362.954,00 12.233.981.778.765,00
Tanah 12.382.351.961.109,00 110.338.180.610,00 258.708.362.954,00 12.233.981.778.765,00
2 Peralatan dan Mesin 1.453.395.570.350,00 161.379.838.870,00 28.299.591.687,50 1.586.475.817.532,50
Alat-alat Berat 216.480.662.379,00 6.148.668.545,00 2.321.787.014,00 220.307.543.910,00
Alat-alat Angkutan 190.197.495.014,00 5.101.413.739,00 1.960.104.007,00 193.338.804.746,00
Alat Bengkel dan Alat Ukur 53.539.381.575,00 10.744.565.635,00 181.164.408,50 64.102.782.801,50
Alat Pertanian 65.700.442.888,00 8.780.153.108,00 137.659.286,00 74.342.936.710,00
Alat-alat Kantor dan Rumah Tangga 495.884.298.957,00 56.630.609.556,00 9.151.430.429,00 543.363.478.084,00
Alat Studio dan Alat Komunikasi 129.393.075.203,00 10.426.391.907,00 1.805.538.230,00 138.013.928.880,00
Alat-alat Kedokteran 238.580.431.683,00 49.239.221.915,00 12.495.020.625,00 275.324.632.973,00
Alat Laboratorium 61.352.601.601,00 14.279.248.982,00 246.887.688,00 75.384.962.895,00
Alat Keamanan 2.267.181.050,00 29.565.483,00 0,00 2.296.746.533,00
3 Gedung dan Bangunan 1.080.020.130.941,00 152.067.536.990,00 9.891.444.736,00 1.222.196.223.195,00
Bangunan Gedung 1.063.729.181.698,00 148.618.259.257,00 9.891.444.736,00 1.202.455.996.219,00
Bangunan Monumen 16.290.949.243,00 3.449.277.733,00 0,00 19.740.226.976,00
4 Jalan, Irigasi dan Jaringan 8.601.027.328.985,00 467.972.087.492,00 315.574.119.048,00 8.753.425.297.429,00
Jalan dan Jembatan 484.362.127.467,00 258.835.424.456,00 157.399.904.524,00 585.797.647.399,00
Bangunan Air (Irigasi) 8.102.827.128.028,00 205.316.383.736,00 157.415.965.524,00 8.150.727.546.240,00
Instalasi 6.965.573.407,00 2.425.372.000,00 615.377.400,00 8.775.568.007,00
Jaringan 6.872.500.083,00 1.394.907.300,00 142.871.600,00 8.124.535.783,00
5 Aset Tetap Lainnya 11.236.833.713,00 2.891.791.125,00 36.102.390,00 14.092.522.448,00
Buku dan Perpustakaan 5.629.952.900,00 1.105.657.660,00 24.250.390,00 6.711.360.170,00
Barang Bercorak Kesenian/Kebudayaan 4.584.058.346,00 1.445.467.965,00 11.852.000,00 6.017.674.311,00
Hewan/Ternak dan Tumbuhan 1.022.822.467,00 340.665.500,00 0,00 1.363.487.967,00
23.528.031.825.098,00 894.649.435.087,00 612.509.620.815,50 23.810.171.639.369,50 Jumlah
PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR
No. Uraian
REKAPITULASI ASSET PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR
TAHUN ANGGARAN 2008
Saldo Awal 2008
Mutasi 2008
Saldo Akhir 2008
Lampiran 3
Penambahan Pengurangan
No. Uraian Saldo Awal 2008
Mutasi 2008
Saldo Akhir 2008
6 Konstruksi Dalam Pengerjaan 171.883.125.444,00 56.910.522.200,00 14.675.073.339,00 214.118.574.305,00
Konstruksi Dalam Pengerjaan 171.883.125.444,00 56.910.522.200,00 14.675.073.339,00 214.118.574.305,00
7 Akumulasi Penyusutan Aset Tetap 0,00 0,00 0,00 0,00
Akumulasi Penyusutan Aset Tetap 0,00 0,00 0,00 0,00
23.699.914.950.542,00 951.559.957.287,00 627.184.694.154,50 24.024.290.213.674,50
Penambahan Pengurangan
1 Tanah 12.382.351.961.109,00 110.338.180.610,00 258.708.362.954,00 12.233.981.778.765,00
2 Peralatan dan Mesin 1.453.395.570.350,00 161.379.838.870,00 28.299.591.687,50 1.586.475.817.532,50
3 Gedung dan Bangunan 1.080.020.130.941,00 152.067.536.990,00 9.891.444.736,00 1.222.196.223.195,00
4 Jalan, Irigasi dan Jaringan 8.601.027.328.985,00 467.972.087.492,00 315.574.119.048,00 8.753.425.297.429,00
5 Aset Tetap Lainnya 11.236.833.713,00 2.891.791.125,00 36.102.390,00 14.092.522.448,00
6 Konstruksi Dalam Pengerjaan 171.883.125.444,00 56.910.522.200,00 14.675.073.339,00 214.118.574.305,00
7 Akumulasi Penyusutan Aset Tetap 0,00 0,00 0,00 0,00
Jumlah 23.699.914.950.542,00 951.559.957.287,00 627.184.694.154,50 24.024.290.213.674,50
Saldo Akhir No. Uraian Saldo Awal
Mutasi
Jumlah
REKAPITULASI ASSET PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR
TAHUN ANGGARAN 2008
Lampiran 4
No
Kode
Bidang
Kode Unit Nama Unit Kerja Software Komputer Lisensi dan Franchise
Hak Cipta (copyright),
Paten
Hasil Kajian/ Penelitian TOTAL
1 08 01 DINAS P DAN K 0,00
0,00 0,00 0,00 0,00
2 21 04 BADAN PERPUSTAKAAN 0,00
0,00 0,00 0,00 0,00
3 07 01 DINAS KESEHATAN 170.599.000,00
0,00 0,00 342.988.000,00 513.587.000,00
4 07 05 RSUD dr. SOETOMO 1.855.231.000,00
0,00 0,00 0,00 1.855.231.000,00
5 07 02 RSUD dr. SYAIFUL ANWAR 846.560.820,00
0,00 0,00 0,00 846.560.820,00
6 07 03 RSUD dr. SOEDONO MADIUN 0,00
0,00 0,00 0,00 0,00
7 07 04 RS. HAJI SURABAYA 471.849.000,00
0,00 0,00 0,00 471.849.000,00
8 07 06 RS. JIWA MENUR SURABAYA 21.307.000,00
0,00 0,00 0,00 21.307.000,00
9 07 10 RS PARU BATU 0,00
0,00 0,00 0,00 0,00
10 07 11 RS PARU JEMBER 74.250.000,00
0,00 0,00 0,00 74.250.000,00
11 07 09 RS PARU DUNGUS MADIUN 49.500.000,00
0,00 0,00 0,00 49.500.000,00
12 07 07 RS KUSTA KEDIRI 0,00
0,00 0,00 0,00 0,00
13 07 08 RS KUSTA SUMBER GLAGAH 0,00
0,00 0,00 0,00 0,00
14 05 01 DINAS PU BINA MARGA 0,00
0,00 0,00 573.188.000,00 573.188.000,00
15 05 03 DINAS PU PENGAIRAN 0,00
0,00 0,00 0,00 0,00
16 05 02 DINAS PERMUKIMAN 0,00
0,00 0,00 2.634.000.000,00 2.634.000.000,00
17 15 01 BAPEPROP JATIM 19.030.000,00
87.473.100,00 0,00 1.645.680.000,00 1.752.183.100,00
18 06 02 DINAS PERHUBUNGAN 0,00
5.857.170.000,00 5.857.170.000,00
19 06 01 DINAS LLJ 0,00
0,00 0,00 0,00 0,00
20 16 01 BAPEDAL PROPINSI JATIM 5.989.500,00
0,00 0,00 0,00 5.989.500,00
21 10 01 DINAS KEPENDUDUKAN 545.819.500,00
0,00 0,00 0,00 545.819.500,00
22 09 01 DINAS SOSIAL 0,00
0,00 0,00 79.750.000,00 79.750.000,00
23 10 02 DINAS TENAGA KERJA 32.050.000,00
0,00 0,00 0,00 32.050.000,00
24 12 02 DINAS KOPERASI PK dan M 138.401.500,00
0,00 0,00 500.000.000,00 638.401.500,00
25 12 04 BADAN PENANAMAN MODAL 421.296.700,00
0,00 0,00 0,00 421.296.700,00
26 08 02 DISPORA 0,00
0,00 0,00 0,00 0,00
REKAPITULASI ASET TAK BERWUJUD PEMERINTAH PROPINSI JAWA TIMUR
Lampiran 4
No
Kode
Bidang
Kode Unit Nama Unit Kerja Software Komputer Lisensi dan Franchise
Hak Cipta (copyright),
Paten
Hasil Kajian/ Penelitian TOTAL
REKAPITULASI ASET TAK BERWUJUD PEMERINTAH PROPINSI JAWA TIMUR
27 18 01 BADAN KESATUAN BANGSA 0,00
4.840.000,00 0,00 0,00 4.840.000,00
28 18 02 SATPOL PP 0,00
0,00 0,00 0,00 0,00
29 04 01 DPRD 0,00 0,00 0,00
0,00
30 04 01 KEPALA DAERAH 0,00 0,00 0,00
0,00
31 04 01 SEKRETARIAT DAERAH 0,00 0,00 0,00
0,00
32 04 01 BIRO OTODA 0,00
0,00 0,00 0,00 0,00
33 04 01 BIRO KERJASAMA 0,00
0,00 0,00 0,00 0,00
34 04 01 BIRO HUKUM 0,00
0,00 0,00 0,00 0,00
35 04 01 BIRO PEREKONOMIAN 0,00
0,00 0,00 0,00 0,00
36 04 01 BIRO ADMINISTRASI PEMBANGUNAN 1.941.000.000,00
0,00 0,00 0,00 1.941.000.000,00
37 04 01 BIRO KESRA 0,00
0,00 0,00 0,00 0,00
38 04 01 BIRO MENTAL 0,00
0,00 0,00 0,00 0,00
39 04 01 BIRO ORGANISASI 0,00
0,00 0,00 0,00 0,00
40 04 01 BIRO KEPEGAWAIAN 175.725.000,00
0,00 0,00 0,00 175.725.000,00
41 04 01 BIRO KEUANGAN 2.504.460.000,00
0,00 0,00 0,00 2.504.460.000,00
42 04 01 BIRO PERLENGKAPAN 1.649.745.000,00
0,00 0,00 0,00 1.649.745.000,00
43 04 01 BIRO UMUM 0,00 0,00 0,00 0,00
0,00
44 04 01 SEKRETARIAT DPRD 541.197.800,00 0,00 0,00 47.080.000,00
588.277.800,00
45 15 02 BALITBANG PROP JATIM 23.000.000,00
0,00 0,00 7.330.000.000,00 7.353.000.000,00
46 14 01 BADAN PENGAWASAN 0,00
0,00 0,00 0,00 0,00
47 13 01 DINAS PENDAPATAN 2.161.661.300,00
0,00 0,00 0,00 2.161.661.300,00
48 20 01 KANTOR PERWAKILAN 0,00
0,00 0,00 0,00 0,00
49 03 01 BAKORWIL I MADIUN 0,00
0,00 0,00 0,00 0,00
50 03 02 BAKORWIL II BOJONEGORO 0,00
0,00 0,00 0,00 0,00
51 03 03 BAKORWIL III MALANG 0,00
0,00 0,00 0,00 0,00
52 03 04 BAKORWIL IV PAMEKASAN 0,00
0,00 0,00 0,00 0,00
53 13 02 KANTOR KAS DAERAH 0,00
0,00 0,00 0,00 0,00
Lampiran 4
No
Kode
Bidang
Kode Unit Nama Unit Kerja Software Komputer Lisensi dan Franchise
Hak Cipta (copyright),
Paten
Hasil Kajian/ Penelitian TOTAL
REKAPITULASI ASET TAK BERWUJUD PEMERINTAH PROPINSI JAWA TIMUR
54 19 01 BADAN DIKLAT
116.941.750,00 0,00 0,00 0,00 116.941.750,00
55 09 02 BAPEMAS 0,00
0,00 0,00 0,00 0,00
56 21 03 BADAN ARSIP 3.290.216.950,00
0,00 0,00 0,00 3.290.216.950,00
57 21 01 DINAS INFOKOM 0,00
0,00 0,00 0,00 0,00
58 21 02 BPDE 161.364.500,00
0,00 0,00 0,00 161.364.500,00
59 11 01 DINAS PERTANIAN 0,00
0,00 0,00 0,00 0,00
60 11 02 DINAS PERKEBUNAN 178.399.000,00
0,00 0,00 0,00 178.399.000,00
61 11 05 DINAS PETERNAKAN 15.999.500,00
0,00 0,00 0,00 15.999.500,00
62 11 06 BADAN KETAHANAN PANGAN 68.474.000,00
0,00 0,00 0,00 68.474.000,00
63 11 03 DINAS KEHUTANAN 41.250.000,00
0,00 0,00 0,00 41.250.000,00
64 12 03 DINAS ENERGI & SDM 19.525.000,00
0,00 0,00 0,00 19.525.000,00
65 17 01 DINAS PARIWISATA 0,00
0,00 0,00 100.000.000,00 100.000.000,00
66 11 04 DINAS PERIKANAN 0,00
0,00 0,00 454.044.000,00 454.044.000,00
67 12 01 DINAS PERINDAG 93.500.000,00
0,00 0,00 302.992.000,00 396.492.000,00
17.634.343.820,00 92.313.100,00 0,00 19.866.892.000,00 37.593.548.920,00 JUMLAH
Lampiran 5
No. Uraian Tahun 2008 Tahun 2007
1 Pelampauan PAD - Pajak Daerah 1.109.641.543.639,05 431.636.241.780,00
2 Pelampauan PAD - Retribusi Daerah 31.679.328.069,22 31.186.906.957,77
3 Pelampauan PAD - Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan 541.293.657,46 1.965.929.664,96
4 Pelampauan PAD - Lain-lain PAD yang sah 140.044.479.298,18 143.964.404.125,88
5 Pelampauan PAD - Bagi Hasil Pajak 27.275.777.652,00 189.893.164.721,00
6 Pelampauan PAD - Bagi Hasil Bukan Pajak 46.489.784.871,00 1.847.861.448,00
7 Pelampauan PAD - Pendapatan Hibah 9.642.468.036,00 5.706.336.118,00
8 Penghematan Belanja - Belanja Pegawai dari Belanja Tidak Langsung 111.293.148.754,00 53.797.548.409,00
9 Penghematan Belanja - Belanja Hibah 191.526.290.072,95 0,00
10 Penghematan Belanja - Belanja Bantuan Sosial 13.527.544.880,00 12.141.184.250,29
11 Penghematan Belanja - Belanja Bagi Hasil kepada Provinsi/Kabupaten/Kota dan Pemerintahan Desa 116.385.237.779,00 118.380.363.473,00
12 Penghematan Belanja - Belanja Bantuan Keuangan kepada Provinsi/Kabupaten/Kota dan Pemerintahan Desa 1.727.271.788,00 2.732.333.200,00
13 Penghematan Belanja - Belanja Tidak Terduga 26.105.407.877,00 31.060.740.627,00
14 Penghematan Belanja - Belanja Pegawai dari Belanja Langsung 49.691.112.930,00 27.491.206.209,00
15 Penghematan Belanja - Belanja Barang dan Jasa 111.332.837.463,00 162.920.430.223,00
16 Penghematan Belanja - Belanja Modal 52.987.768.083,00 62.695.573.780,43
17 Pelampauan Pembiayaan - Pencairan Dana Cadangan 21.355.233.689,61 0,00
18 Pelampauan Pembiayaan - SILPA Anggaran sebelumnya 0,22 1.539.917.578,89
2.061.246.528.539,69 1.278.960.142.566,22 Jumlah
RINCIAN SISA LEBIH PEMBIAYAAN ANGGARAN (SILPA)
TAHUN ANGGARAN 2008 DAN 2007
Lampiran 6
No. Uraian 2008
1 Dinas Pendidikan & Kebudayaan 2.452.362.070,00
2 RSK. Kusta Sumberglagah 198.123.428,00
3 Badan Perencanaan Pembangunan 450,00
4 Dinas Lalu Lintas & Angkutan Jalan 50.100.000,00
5 Badan Pengendalian Dampak Lingkungan 1.243.643.148,00
6 Dinas Tenaga Kerja 798.026.333,00
7 Biro Kerjasama 67.469.850,00
8 Biro Perekonomian 791.669.916,00
9 Biro Mental Spiritual 182.144.060,00
10 Sekretariat DPRD 780.356.029,00
11 Badan Koordinasi Wilayah IV Pamekasan 161.236.086,00
12 Dinas Informasi & Komunikasi 58.255.888,00
13 Badan Ketahanan Pangan 339.721.753,00
14 Dinas Kehutanan 920.000.000,00
Jumlah 8.043.109.011,00
SALDO KAS DI BENDAHARA PENGELUARAN TAHUN ANGGARAN 2008
(Dalam Rupiah)
Lampiran 7
No. Uraian 2008 2007
1 RSU Dr. Soetomo 14.791.529.019,36 11.388.387.904,42
2 RSK. Kusta Sumberglagah 14.397.556.965,00 11.145.865.787,00
3 RSU Dr. Soedono Madiun 9.739.184.613,00 5.016.003.670,48
4 RSU Haji Surabaya 3.663.789.092,89 6.340.039.716,89
5 RS Jiwa Menur Surabaya 1.722.621.516,00 1.030.296.284,00
6 RS Paru Batu 393.943.278,00 84.792.081,00
7 RS Khusus Paru-Paru Jember 119.981.475,00 158.494.723,00
8 RS Khusus Paru-Paru Dungus Madiun 148.317.151,00 42.364.901,00
9 RS Khusus Kusta Kediri 199.127.700,00 13.700.625,00
10 RS Khusus Kusta Sumberglagah Mojokerto 177.445.242,20 36.075.138,00
Jumlah 45.353.496.052,45 35.256.020.830,79
SALDO KAS DI BENDAHARA PENERIMAAN
PER 31 DESEMBER 2008
(RUMAH SAKIT FUNGSIONAL)


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA





LAPORAN ATAS KEPATUHAN
DALAM KERANGKA PEMERIKSAAN
LAPORAN KEUANGAN
PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR
TAHUN ANGGARAN 2008
DI
SURABAYA







PERWAKILAN PROVINSI JAWA TIMUR




Nomor : 106/R/XVIII.J ATIM/05/2009
Tanggal : 25 Mei 2009
BUKU II
i
DAFTAR ISI


HALAMAN
RESUME HASIL PEMERIKSAAN ATAS KEPATUHAN TERHADAP
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN ...............................................


1
HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEPATUHAN
1. Anggaran Dan Realisasi Belanja Modal Pada Dinas Kesehatan Sebesar
Rp2.769.528.901,00 Tidak Sesuai Ketentuan ....................
3
2. Pengeluaran Biaya Narasumber Menambah Beban Pada Kegiatan Reses
Anggota DPRD Sebesar Rp2.048.000.000,00 .......................
5
3. Realisasi Bantuan Sosial Sebesar Rp26.867.225.000,00 Digunakan Untuk
Pelaksanaan Kegiatan Di SKPD .............................................
7
4. PT Pelindo III Kurang Menyetorkan Penerimaan J asa Penambatan dan
J asa Dermaga Sebesar Rp283.435.384,00...........................
9
5. Pengadaan Obat Obatan Dan Bahan Kimia/Laboratarium Pada Sekretariat
DPRD Dipecah Beberapa Paket Kegiatan...................................................
11
6. Pembayaran Angsuran Utang RSUD Dr. Soetomo Surabaya Tidak Dicatat
Dan Dibebankan Sesuai Ketentuan.....................
13
7. Penerima Bantuan Sosial Sebesar Rp57.062.248.370,00 Belum
Menyampaikan Laporan Pertanggungjawaban Kepada Biro Keuangan
Sekretariat Daerah Provinsi J awa Timur.....................................
16
8. Klaim Pelayanan Kesehatan Masyarakat Miskin Non Kuota Yang Berobat
Ke Rumah Sakit Dr Soetomo Belum Dibayar Sebesar
Rp19.173.326.970,64...............................................
19
9. Penerima Hibah Sebesar Rp169.442.152.423,00 Belum Menyampaikan
Laporan Pertanggungjawaban Kepada Biro Keuangan Sekretariat Daerah
Provinsi J awa Timur......................................
21
10 Dana Program Penanganaan Sosial Ekonomi Masyarakat Digunakan Tidak
Sesuai Tujuan Sehingga Realisasi Biaya P2SEM Tidak Menggambarkan
Yang Sebenarnya ........................................................................
24
11 Pemberian Hibah Pada Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan Sebesar
Rp23.092.010.765,00 Belum Dilengkapi Naskah Perjanjian
Hibah....................................................................
27
12 Pengadaan J asa Cleaning Service Di Dinas Perhubungan Tidak Sesuai
Ketentuan ................................
29
13 Penunjukan Pihak Non-PNS Sebagai Panitia Kegiatan SKPD
Mengakibatkan Pengeluaran Daerah Tidak Efektif Sebesar
Rp21.700.000,00 .

31
ii
14 Pemberian Bantuan Transport Panitia Pada Sub Dinas Pendidikan TK/SD
Melebihi Standar Yang Telah Ditentukan Sebesar
Rp17.750.000,00............................................................................................
33
15 Perbedaan Cara Perhitungan Pada Pekerjaan Peningkatan J alan Di Bina
Marga Sehingga Terjadi Kelebihan Pembayaran Sebesar Rp20.233.000,00
35
16 Penganggaran Dan Realisasi Pekerjaan Penanaman Pohon Pada Belanja
Modal ..........................................................................
37
17 SPJ Penggunaan Dana Pembinaan Kelompok Kerja Teknis Dana Bergulir
Tidak Lengkap ............................................................................
39
18 Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan Belum Sesuai Rekomendasi. 41



LAMPIRAN



BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA


RESUME HASIL PEMERIKSAAN ATAS
KEPATUHAN TERHADAP PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan
dan Tanggung J awab Keuangan Negara dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006
tentang Badan Pemeriksa Keuangan, Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia
(BPK RI) telah memeriksa Neraca Pemerintah Provinsi Jawa Timur per 31 Desember
2008, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan
Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut.

Untuk memperoleh keyakinan memadai, apakah laporan keuangan bebas dari salah saji
material, Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) yang ditetapkan oleh BPK RI
mengharuskan BPK RI melaksanakan pengujian atas kepatuhan Pemerintah Provinsi
J awa Timur terhadap peraturan perundang-undangan. Kepatuhan terhadap peraturan
perundang-undangan merupakan tanggung jawab Pemerintah Pemerintah Provinsi J awa
Timur. Namun, tujuan pemeriksaan BPK RI atas laporan keuangan tidak untuk
menyatakan pendapat atas keseluruhan kepatuhan terhadap peraturan perundang-
undangan tersebut. Oleh karena itu, BPK RI tidak menyatakan suatu pendapat seperti itu.

Selain itu, peraturan perundang-undangan dan SPKN mengharuskan BPK RI untuk
melaporkan kepada pihak berwenang, apabila dalam melakukan pemeriksaan atas laporan
keuangan ditemukan kecurangan dan penyimpangan dari ketentuan peraturan perundang-
undangan yang berindikasi unsur tindak pidana.

Pokok-pokok temuan ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dalam
pelaporan keuangan yang ditemukan BPK RI adalah sebagai berikut:
1. Anggaran Dan Realisasi Belanja Modal Pada Dinas Kesehatan Sebesar
Rp2.769.528.901,00 Tidak Sesuai Ketentuan;
2. Realisasi Bantuan Sosial Sebesar Rp26.867.225.000,00 Digunakan Untuk
Pelaksanaan Kegiatan Di SKPD;
3. Penerima Bantuan Sosial Sebesar Rp57.062.248.370,00 Belum Menyampaikan
Laporan Pertanggungjawaban Kepada Biro Keuangan Sekretariat Daerah
Provinsi J awa Timur;
4. Penerima Hibah Sebesar Rp169.442.152.423,00 Belum Menyampaikan Laporan
Pertanggungjawaban Kepada Biro Keuangan Sekretariat Daerah Provinsi Jawa
Timur;
5. Pencatatan Atas Pendapatan Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah Pada Biro
Mental Spiritual Dan Dinas Tenaga Kerja Dicatat Tidak Secara Bruto.

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR 2




Berdasarkan temuan tersebut, BPK RI merekomendasikan kepada Gubernur J awa Timur
agar:
1. Memperingatkan Tim Anggaran dan Panitia Anggaran untuk memperhatikan
ketentuan yang berlaku dalam menganggarkan belanja modal;
2. Memperingatkan Kepala Biro Keuangan dan Kepala Biro Administrasi Pembangunan
supaya mengacu kepada ketentuan yang berlaku dalam memberikan Bantuan Sosial;
3. Memperingatkan para Kepala Biro pengelola Bantuan Sosial untuk segera melakukan
upaya penertiban terhadap para penerima Bantuan Sosial yang belum menyampaikan
Laporan Pertanggungjawaban penggunaan dana Bantuan Sosial dan Melaporkan
hasilnya kepada BPK RI;
4. Memperingatkan para Kepala Biro pengelola Bantuan Hibah untuk segera melakukan
upaya penertiban terhadap para penerima Bantuan Hibah yang belum menyampaikan
Laporan Pertanggungjawaban penggunaan dana Bantuan Hibah dan Melaporkan
hasilnya kepada BPK RI;
5. Memperingatkan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Kepala Biro Mental Spiritual untuk
melaksanakan pencatatan sesuai ketentuan yang berlaku serta meninjau kembali
Peraturan Gubernur J awa Timur Nomor 35 Tahun 2005 tentang Petunjuk
Pelaksanaan Pemungutan Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah.


Secara lebih rinci dijelaskan pada bagian Hasil Pemeriksaan atas Kepatuhan.



PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR 3
HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEPATUHAN

1. Anggaran Dan Realisasi Belanja Modal Pada Dinas Kesehatan Sebesar
Rp2.769.528.901,00 Tidak Sesuai Ketentuan

Dinas Kesehatan Provinsi J atim Tahun 2008 telah menganggarkan belanja
modal (5.2.3) sebesar Rp33.357.662.758,00 dan telah direalisasikan sebesar
Rp27.940.441.988,00 (83,76%). Hasil pemeriksaan dan konfirmasi ke bagian
perlengkapan/aset pada Dinas Kesehatan menunjukkan bahwa terdapat belanja modal
sebesar Rp2.769.528.901,00 yang tidak menambah aset tetap namun sudah dicatat
sebagai aset tetap dengan rincian sebagai berikut:

Kode rekening Belanja Modal yang tidak menambah
nilai aset tetap Jumlah (Rp)
52323 Bangunan Air 136.126.000,00
52325 J aringan 325.977.000,00
52326 Bangunan Gedung 2.105.164.600,00
52308 Alat - alat Bengkel 29.286.203,00
52309 Alat - alat Pertanian 9.900.000,00
52310 Alat kantor dan rumah tangga 77.040.300,00
52316 Alat Studio 41.662.500,00
52319 Alat Kedokteran 37.922.300,00
52320 Alat Laboratorium 6.449.998,00
Jumlah 2.769.528.901,00

Realisasi belanja modal sebesar Rp2.769.528.901,00 tidak menambah nilai
aset tetap seharusnya dibebankan pada rekening belanja barang dan jasa.
Permasalahan tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri
Nomor 13 Tahun 2006, pada :
a. Pasal 52 ayat (1) yang menyebutkan bahwa Belanja barang dan jasa sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 50 huruf b digunakan untuk pengeluaran
pembelian/pengadaan barang yang nilai manfaatnya kurang dari 12 (duabelas)
bulan dan/atau pemakaian jasa dalam melaksanakan program dan kegiatan
pemerintahan daerah;
b. Pasal 53 ayat (1) yang menyebutkan bahwa belanja modal sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 50 huruf c digunakan untuk pengeluaran yang dilakukan
dalam rangka pembelian/pengadaan atau pembangunan aset tetap berwujud yang
mempunyai nilai manfaat lebih dari 12 (duabelas) bulan untuk digunakan dalam
kegiatan pemerintahan, seperti dalam bentuk tanah, peralatan dan mesin, gedung
dan bangunan, jalan, irigasi dan jaringan, dan aset tetap lainnya

Hal ini mengakibatkan belanja modal serta aset tetap dicatat lebih tinggi dan
belanja barang dan jasa dicatat lebih rendah masing-masing sebesar
Rp2.769.528.901,00.

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
4
Hal ini disebabkan Tim Anggaran dan Panitia Anggaran dalam
menganggarkan belanja modal tidak memperhatikan ketentuan berlaku.

Atas permasalahan tersebut Sekretaris Kepala Dinas Kesehatan Provinsi J awa
Timur berpendapat bahwa untuk yang akan datang penganggaran Belanja Barang&
J asa tidak akan dibebankan pada belanja modal

BPK RI merekomendasikan kepada Gubernur J awa Timur agar
memperingatkan Tim Anggaran dan Panitia Anggaran untuk memperhatikan
ketentuan yang berlaku dalam menganggarkan belanja modal.

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
5
2. Pengeluaran Biaya Narasumber Menambah Beban Pada Kegiatan Reses
Anggota DPRD Sebesar Rp2.048.000.000,00

J adwal persidangan DPRD Provinsi J awa Timur dimulai pada tanggal 1
J anuari dan berakhir pada tanggal 31 Desember. Kurun waktu satu tahun masa
sidang tersebut terdapat hari-hari tidak ada kegiatan sidang atau masa Reses. Masa
Reses digunakan oleh Anggota DPRD untuk mengunjungi daerah pemilihan anggota
yang bersangkutan dalam rangka menyerap aspirasi masyarakat. Reses dilaksanakan
tiga kali dalam satu tahun paling lama enam hari kerja dalam satu kali Reses.
Kegiatan dan jadwal acara Reses ditetapkan oleh Pimpinan DPRD setelah mendengar
pertimbangan Panitia Musyawarah. Pada Tahun Anggaran 2008 anggaran biaya
Reses sebesar Rp11.968.820.000,00 dan direalisasikan sebesar Rp10.906.804.739,00
biaya tersebut dipergunakan untuk belanja pegawai, belanja barang dan jasa.
Hasil pemeriksaan atas surat pertanggungjawaban atas pelaksanaan Reses
tersebut menunjukkan bahwa dana digunakan untuk biaya narasumber sebesar
Rp2.048.000.000,00 dengan rincian pada lampiran 2.1.
Narasumber tersebut dimanfaatkan pada saat pertemuan dengan masyarakat
untuk menjelaskan apa yang menjadi pertanyaan masyarakat dan menjelaskan
program dan kegiatan yang sedang dilaksanakan pemerintah. Seharusnya untuk
menjaring aspirasi masyarakat tidak diperlukan narasumber, cukup Anggota DPRD
saja yang menampung apa yang menjadi aspirasi masyarakat serta menjelaskan
program dan kegiatan pemerintah provinsi yang sedang dilaksanakan. Karena
menjaring aspirasi masyarakat merupakan tugas pokok dari Anggota DPRD dari
daerah pilihannya.

Hal tersebut tidak sesuai dengan :
a. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2004 pada :
1) Pasal 36 huruf f disebutkan bahwa Anggota DPRD mempunyai kewajiban
diantaranya menyerap, menghimpun, menampung dan menindaklanjuti
aspirasi masyarakat;
2) Pasal 55 ayat (4) antara lain disebutkan bahwa Reses dipergunakan untuk
mengunjungi daerah pemilihan anggota yang bersangkutan dan menyerap
aspirasi masyarakat.
b. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tanggal 15 Mei 2006
tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 4 ayat (1) yang
menyatakan keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan
perundang-undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan bertanggung
jawab dengan memperhatikan azas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk
masyarakat.

Hal ini mengakibatkan realisasi biaya reses tidak menggambarkan yang
sebenarnya.
Hal tersebut disebabkan :
a. Kuasa Pengguna Anggaran dalam menyusun Rencana Kegiatan Anggaran
(RKA) dan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) kurang memperhatikan
urgensinya narasumber dalam kegiatan Reses;

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
6
b. Para Pimpinanan dan Anggota DPRD dalam melakukan kegiatan reses cenderung
membebankan tugasnya pada para narasumber;

Atas permasalahan tersebut Sekretaris DPRD Provinsi Jawa Timur
berpendapat bahwa pelaksanaan reses yang dilakukan oleh pimpinan dan anggota
DPRD Provinsi J awa Timur dipergunakan untuk mengunjungi Daerah Pemilihan
Anggota DPRD Provinsi J awa Timur guna menyerap aspirasi masyarakat dalam
rangka mencari dan mengumpulkan permasalahan di daerah.

BPK RI merekomendasikan kepada Gubernur J awa Timur agar
memperingatkan Kuasa Pengguna Anggaran Sekretaris DPRD Provinsi J awa Timur
untuk memperhatikan urgensi narasumber dalam kegiatan reses.

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
7

3. Realisasi Bantuan Sosial Sebesar Rp26.867.225.000,00 Digunakan Untuk
Pelaksanaan Kegiatan Di SKPD

Tahun Anggaran 2008 Pemerintah Provinsi J awa Timur menganggarkan
Belanja Bantuan Sosial sebesar Rp611.558.891.404,00 dengan realisasi sebesar
Rp585.681.577.904,00 (95,77%).
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa terdapat bantuan sosial sebesar
Rp26.867.225.000,00 yang dicairkan dan selanjutnya digunakan untuk mendanai
kegiatan yang berkaitan dengan bantuan kepada masyarakat di beberapa SKPD.
Rincian penggunaan dana adalah sebagai berikut:

No Kegiatan Penerima Jumlah (Rp)
1 Pembayaran Bantuan Sosial untuk
Program Pembangunan J atim Dalam
Rangka Perbaikan Sarana Prasarana
Lingkungan Permukiman
Dinas Permukiman Provinsi J awa timur /
Ir. BUDI SUSILO, M.Sc.

10.900.000.000
2 Pembayaran Bantuan Program
Pembangunan J atim dalam rangka
Bantuan untuk Sarana Prasarana Air
Bersih dan Sanitasi
Dinas Permukiman Provinsi J awa Timur /
Ir. BUDI SUSILO, M.Sc.

3.480.000.000
3 Pendamping Kelompok Keluarga Miskin
Program J aring Pengaman Ekonomi
Sosial (J PES) Provinsi J atim Tahun 2008
Biro Administrasi Pembangunan
(Pendamping Kelompok Keluarga Miskin)

3.678.750.000

4 Biaya Operasional J aring Pengaman
Ekonomi Sosial (J PES) Provinsi J atim
Tahun 2008
Biro Administrasi Pembangunan (Ketua
Tim Koordinasi Kabupaten, Kecamatan,
Desa/ Kelurahan)

8.808.475.000

Jumlah 26.867.225.000

Hal tersebut diatas merupakan kegiatan/belanja yang seharusnya dapat
dianggarkan pada DPA masing-masing SKPD dan bukan melalui realisasi belanja
bantuan sosial.
Kondisi tersebut tidak sesuai dengan:
a. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah pada :
1) Pasal 4 ayat (1) yang menyatakan keuangan daerah dikelola secara tertib, taat
pada peraturan perundang-undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan,
dan bertanggung jawab dengan memperhatikan azas keadilan,kepatutan, dan
manfaat untuk masyarakat;
2) Pasal 45 ayat (1) yang menyatakan bahwa bantuan sosial sebagaimana
dimaksud dalam pasal 37 huruf e digunakan untuk menganggarkan
pemberian bantuan dalam bentuk uang dan/atau barang kepada masyarakat
yang bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.
b. Peraturan Gubernur Nomor 20 Tahun 2008 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan
Belanja Subsidi, Hibah, Bantuan Sosial, Bagi Hasil, Bantuan Keuangan dan
Belanja Tidak Terduga Provinsi J awa Timur Tahun Anggaran 2008 pada pasal 6
yang menyatakan bahwa Bantuan Sosial dianggarkan untuk pemberian bantuan

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
8
yang bersifat sosial kemasyarakatan dalam bentuk uang dan/atau barang kepada
organisasi/kelompok/anggota masyarakat dan partai politik.

Hal tersebut mengakibatkan saldo akun bantuan sosial disajikan lebih tinggi
dan saldo akun belanja pada SKPD disajikan lebih rendah. Masing-masing sebesar
Rp26.867.225.000,00.

Permasalahan ini disebabkan Biro Keuangan dan Biro Administrasi
Pembangunan dalam memberikan Bantuan Sosial kepada masing-masing SKPD tidak
memahami ketentuan yang berlaku.

Atas permasalahan tersebut Kepala Biro Keuangan berpendapat bahwa
penggunaan bantuan sosial melalui SKPD/Biro telah dilandasi dengan Peraturan
Gubernur J awa Timur Nomor 20 Tahun 2008 Pasal 10 ayat (6) yang menjelaskan
bahwa khusus untuk belanja bantuan sosial yang akan diwujudkan dalam bentuk
barang dan sebelumnya tidak dianggarkan pada program dan kegiatan SKPD, dapat
didanai dari belanja bantuan sosial yang dianggarkan di PPKD.

BPK RI merekomendasikan kepada Gubernur J awa Timur agar
memperingatkan Kepala Biro Keuangan dan Kepala Biro Administrasi Pembangunan
supaya mengacu kepada ketentuan yang berlaku dalam memberikan Bantuan Sosial.



























PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
9
4. PT Pelindo III Kurang Menyetokan Penerimaan Jasa Penambatan dan Jasa
Dermaga Sebesar Rp283.435.384,00

Dalam rangka meningkatkan pendapataan daerah Dinas Perhubungan
Provinsi melakukan kesepakatan bersama dengan PT Pelindo III Cabang Surabaya.
Dalam kesepakatan tersebut ditetapkan bahwa pemerintah provinsi memperoleh
bagian penerimaan sumbangan pihak ketiga dari PT Pelindo III sebesar 25% atas
penerimaan Dermaga Untuk Kepentingan Sendiri (DUKS) meliputi J asa Penambatan
dan J asa Dermaga.
Hasil penelaahan atas penyetoran kontribusi DUKS yang dilakukan
PT Pelindo III menunjukkan bahwa kewajiban yang seharusnya disetorkan selama
Tahun Anggaran 2008 sebesar Rp552.266.571,00 telah disetorkan periode bulan
J anuari s.d. J uni 2008 sebesar Rp268.831.187,00 sehingga kurang penyetoran sebesar
Rp283.435.384,00 dengan perhitungan sebagai berikut:
Pendapatan J asa (Rp)
No Uraian
Penambatan Dermaga
J umlah
(Rp)
1 Pendapatan bulan J an s.d. Des 2008 1.966.491.193,00 242.575.084,00 2.209.066.277,00
2 Kontribusi ke Pem Prop 25% (25% X 1) 491.622.798,00 60.643.773,00 552.266.571,00
3 Disetorkan ke Kas Daerah (J an s.d. J un 08) 268.831.187,00
4 Kekurangan penyetoran (2 3) 283.435.384,00
Menurut penjelasan Manager Keuangan PT Pelindo III Cabang Surabaya
bahwa kekurangan penyetoran tersebut karena Dinas Perhubungan belum melakukan
tagihan atas kontribusi bulan J uli sampai dengan Desember 2008 yang menjadi hak
provinsi.
Hal tersebut tidak sesuai dengan:
a. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tanggal 15 Mei 2006
tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah pada Pasal 4 ayat (1) yang
menyatakan keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan
perundang-undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan bertanggung
jawab dengan memperhatikan azas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk
masyarakat;
b. Naskah Kerjasama antara Dinas Perhubungan Provinsi J awa Timur dengan
PT (Pesero) Pelabuhan Indonesia III Nomor KU.302/2083/106/2003 dan
HK.0501/25.1/P.III-2003 tanggal 2 J uni 2003 tentang Kontribusi J asa Wilayah
dari PT (Persero) Pelabuhan Indonesia III Surabaya pada pasal 3 ayat (1)
disebutkan bahwa PT Pelindo III bersedia memberikan kontribusi jasa wilayah
sebesar 25% kepada Pemerintah Provinsi atas jasa yang diterima dari DUKS
yang terdiri Jasa Penambatan dan J asa Dermaga.
Kondisi tersebut mengakibatkan Penerimaan Sumbangan Pihak Ketiga dari
J asa Penambatan dan J asa Dermaga tertunda sebesar Rp283.435.384,00;
Masalah tersebut disebabkan :
a. Kelalaian Kepala Dinas Perhubungan yang tidak melakukan penagihan atas
kontribusi J asa Penambatan dan J asa Dermaga bulan J uli sampai dengan
Desember 2008 ;
b. Tidak ada ketentuan yang mengharuskan PT Pelindo III untuk aktif melakukan
penyetoran bila telah jatuh tempo sesuai ketentuan.

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
10
Atas permasalahan tersebut Sekretaris Dishub dan LLAJ Provinsi J awa
Timur berpendapat bahwa akan segera dilakukan penagihan kepada PT Pelindo III
sejumlah Rp283.435.384,00.

BPK RI merekomendasikan kepada Gubernur J awa Timur agar:
1. Memperingatkan Kepala Dinas Perhubungan untuk melakukan penagihan atas
kontribusi J asa Penambatan dan J asa Dermaga bulan J uli sampai dengan
Desember 2008 sebesar Rp283.435.384,00.
2. Merevisi naskah kerjasama dengan menambah aturan yang memberi
sanksi/kewajiban yang mendorong PT Pelindo III untuk menyelesaikan
pembayarannya sesuai kontrak yang berlaku.





































PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
11
5. Pengadaan Obat Obatan Dan Bahan Kimia/Laboratarium Pada Sekretariat
DPRD Dipecah Beberapa Paket Kegiatan

Pada Tahun Anggaran 2008 Sekretariat DPRD melaksanakan kegiatan
pengadaan obat-obatan dan bahan kimia/laboratarium. dengan anggaran sebesar
Rp422.912.900 dan realisasi sampai dengan 31 Desember 2008 sebesar
Rp421.293.959,00. Kebutuhan obat dan bahan kimia/laboratarium tersebut digunakan
oleh Pimpinan, Anggota DPRD serta para karyawan Sekretariat DPRD pada saat
memerlukan penanganan sementara bila terjadi keluhan kesehatan.
Hasil pemeriksaan dokumen pelaksanaan pengadaan obat-obatan dan bahan
kimia/laboratarium menunjukkan bahwa terdapat pemecahan kegiatan menjadi 10
paket kegiatan masing-masing dibawah Rp50.000.000,00 dengan penunjukan
langsung untuk menghindari pelelangan dengan rincian sebagai berikut :
No. Kegiatan Pengadaan Nama Rekanan
Nomor dan Tgl
Surat Penunjukan
Nilai Kontrak
(Rp)
1 Pengadaan Obat-obatan
PT. Kurnia Pharmindo
Sejati, Surabaya
027/14/PLP/2008
30-01--2008
49.533.000,00
2 Pengadaan Obat-obatan
PT. Kurnia Pharmindo
Sejati, Surabaya
027/58/PLP/2008
01-04--2008
49.987.000,00
3 Pengadaan Obat-obatan
PT. Kurnia Pharmindo
Sejati, Surabaya
027/122/PLP/2008
01-02--2008
14.230.700,00
4 Pengadaan Obat-obatan
PT. Kurnia Pharmindo
Sejati, Surabaya
027/209/PLP/2008
27-06--2008
49.500.000,00
5 Pengadaan Obat-obatan
PT. Kurnia Pharmindo
Sejati, Surabaya
027/322/PLP/2008
09-10--2008
49.287.150,00
6
Pengadaan Bahan
Kimia/Laboratarium
PT. Kurnia Pharmindo
Sejati, Surabaya
027/412/PLP/2008
14-11--2008
38.573.700,00
7
Pengadaan Bahan
Kimia/Laboratarium
PT. Kurnia Pharmindo
Sejati, Surabaya
027/13/PLP/2008
30-01--2008
42.086.000,00
8
Pengadaan Bahan
Kimia/Laboratarium
PT. Kurnia Pharmindo
Sejati, Surabaya
027/59/PLP/2008
02-04--2008
49.500.000,00
9
Pengadaan Bahan
Kimia/Laboratarium
PT. Kurnia Pharmindo
Sejati, Surabaya
027/210/PLP/2008
30-06--2008
49.504.400,00
10
Pengadaan Bahan
Kimia/Laboratarium
PT. Kurnia Pharmindo
Sejati, Surabaya
027/323/PLP/2008
10-10-2008
29.392.000,00
J umlah 421.293.950,00
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa anggaran tersebut dibebankan dalam
satu mata anggaran yaitu 1.20.0.400.01.004.5.2.2.02.004, dalam DPA juga satu mata
anggaran.
Kondisi di atas tidak sesuai dengan :
a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tanggal 5 April 2003 tentang Keuangan
Negara, dalam pasal 3 ayat (1) disebutkan bahwa keuangan negara dikelola
secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif,
transparan dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan
kepatutan;
b. Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 tanggal 3 Nopember 2003 tentang
Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/J asa Pemerintah, pada:

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
12
1) Pasal 5 yang menyebutkan bahwa pengguna barang/jasa, penyedia
barang/jasa, dan para pihak yang terkait dalam pelaksanaan pengadaan
barang/jasa harus mematuhi etika, antara lain melaksanakan tugas secara
tertib, disertai rasa tanggung jawab untuk mencapai sasaran kelancaran dan
ketepatan tercapainya tujuan pengadaan barang/jasa, serta menghindari dan
mencegah terjadinya pemborosan dan kebocoran keuangan negara dalam
pengadaan barang/jasa;
2) Lampiran I, BAB I, A, 1, a, butir 3) disebutkan bahwa PPTK dilarang
memecah pengadaan barang/jasa menjadi beberapa paket dengan maksud
untuk menghindari pelelangan;
3) Lampiran I, BAB I, C, 1, a butir 1) sampai 4) diantaranya disebutkan bahwa:
a) Semua pemilihan penyedia barang/jasa pemborongan/jasa lainnya pada
prinsipnya dilakukan dengan pelelangan umum;
b) Untuk pekerjaan yang kompleks dan jumlah penyedia barang/jasa yang
mampu melaksanakan diyakini terbatas, maka pemilihan penyedia
barang/jasa dapat dilakukan dengan metoda pelelangan terbatas;
c) Pemilihan langsung dapat dilaksanakan untuk pengadaan yang bernilai
sampai dengan Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah);
d) Penunjukan langsung dapat dilaksanakan dalam hal memenuhi kriteria
diantaranya pekerjaan yang berskala kecil dengan nilai maksimum
Rp50.000.000,00

Hal tersebut mengakibatkan :
a. Tidak diperoleh harga yang bersaing melalui cara pelelangan;
b. Tidak memberikan kesempatan para penyedia barang/jasa lainnya
melakukan kompetisi.

Masalah di atas disebabkan:
1) PPTK dan Panitia Pengadaan Barang dan J asa dalam merealisasikan
kegiatan pengadaan tidak mengacu pada ketentuan;
2) Pengguna Anggaran kurang efektif dalam pengendalian kegiatan.

Atas permasalahan tersebut Sekretaris DPRD Provinsi Jawa Timur
berpendapat bahwa pengadaan obat-obatan dan bahan Kimia/Laboratorium di
Sekretariat DPRD J awa Timur dilaksanakan sesuai kebutuhan dan berdasar Anggaran
per Tribulan, untuk selanjutnya Panitia Pengadaan dan PPTK akan melakukan
kegiatan lebih hati-hati sesuai dengan ketentuan dan Pengguna Anggaran akan
meningkatkan kinerja yang lebih efektif dalam pengendalian kegiatan.

BPK RI merekomendasikan kepada Gubernur J awa Timur agar
memperingatkan PPTK , Panitia Pengadaan Barang dan J asa, serta Pengguna
Aggaran pada Sekretariat DPRD Provinsi J awa Timur dalam melakukan pengadaan
barang dan jasa mengacu pada ketentuan yang berlaku.





PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
13
6. Pembayaran Angsuran Utang RSUD Dr. Soetomo Surabaya Tidak Dicatat Dan
Dibebankan Sesuai Ketentuan

RSUD Dr. Soetomo melakukan pinjaman ke Bank J atim berdasarkan Akte
Perjanjian Kredit tanggal 21 Agustus 2002 dan melalui Surat Pemberitahuan
Pemberian Kredit dari Bank J atim kepada RSUD Dr. Soetomo Nomor
040/071/KRD/SDK-II tanggal 20 Agustus 2002 dengan pagu maksimum kredit
Rp20.000.000.000,00.
Pinjaman dilakukan dengan persyaratan:
- J angka waktu pengembalian : 8 tahun
- Tingkat bunga : 6%
- Grace period : 2 tahun
Pinjaman tersebut dijamin dengan menggunakan Dana Cadangan Pemerintah
Provinsi J awa Timur berupa deposito di Bank J atim sebesar Rp20.000.000.000,00
berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Nomor 58 Tahun 2002 tentang Penggunaan
Sebagian Dana Cadangan Pemerintah Provinsi J awa Timur sebagai J aminan Fasilitas
Kredit antara RSUD Dr. Soetomo Surabaya dengan PT. Bank J atim serta Keputusan
DPRD Provinsi J awa Timur Nomor 7 Tahun 2002 tentang Persetujuan Pengalihan
Pinjaman RSUD Dr. Soetomo dari Departemen Keuangan RI kepada Bank J atim
dengan J aminan Dana Cadangan Daerah Pemerintah Provinsi J awa Timur.
Sisa utang RSUD Dr. Soetomo ke Bank J atim yang tercantum dalam Neraca
Provinsi J awa Timur per 31 Desember 2008 adalah sebesar Rp6.559.051.227,00,
dengan pengklasifikasian utang jangka panjang sebesar Rp2.870.634.523,00 dan
utang jangka pendek sebesar Rp4.000.000.000,00 (terdiri dari Bagian Lancar Utang
J angka Panjang sebesar Rp3.688.416.704 dan Utang Bunga sebesar
Rp311.583.296,00).
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa pembayaran angsuran pokok
maupun bunga pinjaman tahun 2008 dianggarkan dan direalisasikan pada kegiatan
Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik di DPA RSUD Dr. Soetomo-Belanja Barang
dan J asa, mata anggaran Belanja Bunga dan Angsuran Pinjaman Rumah Sakit
(rekening 5220316) sebesar Rp4.000.000.000,00 dengan rincian pembayaran
angsuran pokok utang sebesar Rp3.475.168.052,00 dan bunga pinjaman sebesar
Rp524.831.948,00. Pembayaran angsuran utang seharusnya dibebankan dan dicatat
pada akun Pembiayaan pengeluaran-Pembayaran pokok pinjaman dalam negeri dan
Belanja Bunga.

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan:
a. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan pada:
1) PSAP Nomor 2 paragraf 8 disebutkan bahwa Pembiayaan (financing) adalah
setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang
akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran bersangkutan maupun
tahun-tahun anggaran berikutnya, yang dalam penganggaran pemerintah
terutama dimaksudkan untuk menutup defisit atau memanfaatkan surplus
anggaran;
2) PSAP Nomor 2 paragraf 50 disebutkan bahwa sementara, pengeluaran
pembiayaan antara lain digunakan untuk pembayaran kembali pokok

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
14
pinjaman, pemberian pinjaman kepada entitas lain, dan penyertaan modal
oleh pemerintah.
b. Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah pada:
1) Pasal 4 ayat (2) disebutkan bahwa Pendapatan Daerah dan/atau barang milik
daerah tidak boleh dijadikan jaminan Pinjaman Daerah;
2) Pasal 19 ayat (19) disebutkan bahwa Pinjaman Daerah yang bersumber selain
dari Pemerintah dituangkan dalam perjanjian pinjaman yang ditandatangani
oleh Kepala Daerah dan pemberi pinjaman;
3) Pasal 38 ayat (1) disebutkan bahwa kewajiban pembayaran kembali pinjaman
daerah yang jatuh tempo wajib dianggarkan dalam APBD dan
direalisasikan/dibayarkan pada tahun anggaran yang bersangkutan;
4) Pasal 39 ayat (1) disebutkan bahwa semua penerimaan dan kewajiban dalam
rangka pinjaman daerah dicantumkan dalam APBD dan dibukukan sesuai
dengan Standar Akuntansi Pemerintah;
c. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pengelolaan
Keuangan Daerah pada:
1) Pasal 40 disebutkan bahwa belanja bunga sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 37 huruf b digunakan untuk menganggarkan pembayaran bunga utang
yang dihitung atas kewajban pokok (principal outstanding) berdasarkan
perjanjian pinjaman jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang;
2) Pasal 52 ayat (1) disebutkan bahwa belanja barang dan jasa sebagaiman
dimaksud dalam Pasal 50 huruf b digunakan untuk pengeluaran
pembelian/pengadaan barang yang nilai manfaatnya kurang dari 12
(duabelas) bulan dan/atau pemakaian jasa dalam melaksanakan program dan
kegiatan pemerintah daerah;
3) Pasal 60 ayat (2) disebutkan bahwa pengeluaran pembiayaan sebagaimana
dimaksud dalam pasal 59 mencakup: diantaranya huruf c. pembayaran pokok
utang;
4) Pasal 74 disebutkan bahwa Pembayaran pokok utang sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 60 ayat (2) huruf c digunakan untuk menganggarkan
pembayaran kewajiban atas pokok utang yang dihitung berdasarkan
perjanjian pinjaman jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang;
5) Pasal 142 ayat (1) disebutkan bahwa penerimaan pinjaman daerah dan
obligasi daerah dilakukan melalui rekening kas umum daerah;
6) Pasal 142 ayat (3) disebutkan bahwa pendapatan daerah/atau aset daerah
(barang milik daerah) tidak boleh dijadikan jaminan pinjaman daerah.

Permasalahan tersebut mengakibatkan:
a. Saldo akun Belanja Bunga disajikan lebih rendah sebesar Rp524.831.948,00;
b. Saldo akun Pembiayaan pengeluaran disajikan lebih rendah sebesar
Rp3.475.168.052,00;
c. Belanja Barang dan J asa disajikan lebih tinggi sebesar Rp4.000.000.000,00

Hal tersebut disebabkan Kelalaian Tim Anggaran dan Panitia Anggaran
dalam menganggarkan kegiatan tidak memperhatikan ketentuan dalam Standar
Akuntansi Pemerintahan dan Permendagri Nomor 13 Tahun 2006.


PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
15
Atas permasalahan tersebut Wadir Umum dan Keuangan RSUD
Dr. Soetomo berpendapat bahwa untuk yang akan datang penganggaran pembayaran
hutang melalui pembiayaan pengeluaran, sedangkan pembayaran bunga melalui
penganggaran biaya bunga.

BPK RI merekomendasikan kepada Gubernur J awa Timur agar
memperingatkan Tim Anggaran dan Panitia Anggaran dalam menganggarkan
kegiatan untuk memperhatikan ketentuan dalam Standar Akuntansi Pemerintahan dan
Permendagri Nomor 13 Tahun 2006.


PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
16

7. Penerima Bantuan Sosial Sebesar Rp57.062.248.370,00 Belum Menyampaikan
Laporan Pertanggungjawaban Kepada Biro Keuangan Sekretariat Daerah
Provinsi Jawa Timur

Pada Tahun Anggaran 2008 Pemerintah Daerah Provinsi J awa Timur telah
menganggarkan Belanja Bantuan Sosial sebesar Rp572.531.794.904,00 dan
direalisasikan sebesar Rp559.004.250.024,00 atau sebesar 97,64% dari anggaran.
Belanja Bantuan Sosial dikelola oleh beberapa Biro yang berada pada
sekretariat Daerah Provinsi J awa Timur sesuai dengan Lampiran Peraturan Gubernur
Nomor 20 Tahun 2008 tanggal 29 Februari 2008 tentang Pedoman Teknis
Pengelolaan Belanja Subsidi, Hibah, Bantuan Sosial, Bagi Hasil, Bantuan Keuangan,
dan Belanja Tidak Terduga Provinsi J awa Timur Tahun Anggaran 2008 yang
menyatakan Pengelola Bantuan Sosial dilingkungan Sekretariat Daerah Provinsi J awa
Timur berada pada :
a. Biro Kesejahteraan Rakyat
b. Biro Perekonomian
c. Biro Administrasi Pembangunan
d. Biro Mental Spiritual
e. Biro Keuangan
f. Bakesbang
Mekanisme pemberian Belanja Bantuan Sosial diawali dengan adanya
pengajuan proposal dari Instansi/ Lembaga/Kelompok Masyarakat atas kegiatan atau
program yang akan mereka laksanakan. Pengajuan diberikan kepada masing-masing
Biro yang berkaitan. Setiap Biro memiliki kewajiban untuk melakukan penelitian dan
verifikasi, untuk kemudian dibuat surat permintaan persetujuan kepada Gubernur
J awa Timur . Setelah disetujui oleh Gubernur J awa Timur, Biro membuat SPP- LS
dan SPM disertai dengan proposal untuk kemudian disampaikan kepada Sekretariat
Daerah dhi. Biro Keuangan Sekretariat Daerah untuk diterbitkan SP2D dan bantuan
sosial dicairkan kepada masing-masing penerima. Setiap penerima seharusnya wajib
melaporkan penggunaan dan mempertanggungjawabkan atas dana bantuan sosial
yang diterimanya kepada Biro Keuangan Sekretarian Daerah Provinsi J awa Timur.
Belanja hibah diberikan secara selektif dengan mempertimbangkan kemampuan
keuangan daerah, rasionalitas, dan ditetapkan dengan Keputusan Gubernur J awa
Timur. Berdasarkan pemeriksaan lebih lanjut menunjukkan bahwa terdapat para
penerima Belanja Hibah yang belum menyampaikan laporan pertanggungjawaban
kepada Biro Keuangan Sekretariat Provinsi J awa Timur sesuai ketentuan sebesar
Rp169.442.152.423,00 dengan rincian sebagai berikut :
a. Biro Kesejahteraan Rakyat
Belanja Bantuan Sosial Kepada Organisasi Instansi/Lembaga Daerah/ Masyarakat
Rp1.267.000.000,00
J umlah Rp1.267.000.000,00
b. Biro Perekonomian
Belanja Bantuan Sosial Kepada Organisasi Instansi/Lembaga Daerah/ Masyarakat
Rp 799.000.000,00
J umlah Rp 799.000.000,00


PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
17
c. Biro Administrasi Pembangunan
1) Belanja Bantuan Sosial lainnya Rp822.500.000,00
2) Belanja Bantuan Sosial Untuk Dinamika Aspirasi Lokal/Masyarakat
Rp51.429.530.000,00
J umlah Rp52.252.030.000,00
d. Biro Mental Spiritual
1) Belanja Bantuan Sosial untuk Peningkatan Pendidikan Rp328.500.000,00
2) Belanja Bantuan Sosial Organisasi Keagamaan Rp1.421.718.370,00
3) Belanja Bantuan Sosial Organisasi Kepemudaan Dan Keolahragaan
Rp839.000.000,00
J umlah Rp2.589.218.370,00
e. Biro Keuangan
Belanja Bantuan Sosial Penunjang Kegiatan Strategis Rp155.000.000,00
J umlah Rp155.000.000,00

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan :
a. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah Pasal 61 ayat (1) yang menyatakan bahwa Setiap pengeluaran harus
didukung oleh bukti yang lengkap dan sah mengenai hak yang diperoleh oleh
pihak yang menagih.
b. Peraturan Menteri Dalam Negeri 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Daerah pada:
1) Pasal 4 yang menyatakan keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada
peraturan perundang-undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan
bertanggung jawab dengan memperhatikan azas keadilan, kepatutan, dan
manfaat untuk masyarakat;
2) Pasal 132 yang menyatakan bahwa setiap pengeluaran belanja atas beban
APBD harus didukung dengan bukti yang lengkap dan sah;
3) Pasal 133 ayat (2) yang menyatakan bahwa penerima subsidi, hibah, bantuan
sosial, dan bantuan keuangan bertanggung jawab atas penggunaan
uang/barang dan/atau jasa yang diterimanya dan wajib menyampaikan
laporan pertanggungjawaban penggunaannya kepada Kepala Daerah;
c. Peraturan Gubernur J awa Timur Nomor 20 Tahun 2008 tentang Pedoman Teknis
Pengelolaan Belanja Subsidi, Hibah, Bantuan Sosial, Bagi Hasil, Bantuan
Keuangan dan Belanja Tidak Terduga Provinsi J awa Timur Tahun Anggaran
2008 pada :
1) Pasal 13 ayat (1) yang menyatakan Penerima belanja subsidi, hibah, bantuan
sosial, bantuan keuangan, dan belanja tidak terduga bertanggungjawab atas
penggunaan uang/barang dan/atau jasa yang diterimanya dengan berpedoman
pada ketentuan perundang-undangan dan wajib menyampaikan
pertanggungjawaban penggunaannya kepada Gubernur J awa Timur melalui
PPKD dan SKPD/Biro yang bersangkutan;
2) Pasal 13 ayat (2) menyatakan pertanggungjawaban sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) berupa laporan Realisasi penggunaan uang/barang dan/atau
J asa sesuai dengan Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NHPD) / Proposal
Permohonan Bantuan atau dokumen lain yang dipersamakan.


PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
18
Hal tersebut mengakibatkan pengelolaan tidak tertib dan membuka peluang
penyalahgunaan penggunaan Bantuan Sosial.



Kondisi tersebut disebabkan :
a. Masing-masing penerima bantuan sosial kurang memahami ketentuan yang
berlaku;
b. Masing-masing kepala Biro selaku pengelola bantuan sosial kurang aktif dalam
upaya penyelesaian pertanggungjawabannya;

Atas permasalahan tersebut Kepala Biro Keuangan berpendapat bahwa
pemberi hibah/bansos telah mengingatkan kepada penerima hibah/bansos untuk
menyampaikan laporan dimaksud.

BPK RI merekomendasikan kepada Gubernur J awa Timur agar
memperingatkan para Kepala Biro pengelola Bantuan Sosial untuk segera melakukan
upaya penertiban terhadap para penerima Bantuan Sosial yang belum menyampaikan
Laporan Pertanggungjawaban penggunaan dana Bantuan Sosial dan Melaporkan
hasilnya kepada BPK RI.


PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
19

8. Klaim Pelayanan Kesehatan Masyarakat Miskin Non Kuota Yang Berobat Ke
Rumah Sakit Dr Soetomo Belum Dibayar Sebesar Rp19.173.326.970,64

Sesuai dengan program pemerintah untuk memberikan jaminan pemeliharaan
kesehatan masyarakat miskin, RSU Dr Soetomo memberikan pelayanan kepada
masyarkat miskin dalam dua golongan yaitu:
a. Bagi masyarakat miskin terdaftar di Kabupaten/kota atau sudah memiliki kartu
Askeskin (kuota). Biaya pelayanan yang sudah diberikan oleh RSU Dr Soetomo
setelah dilakukan verifikasi diklaimkan di PT Askes untuk dimintakan
pembayaran sesuai dengan tagihan;
b. Bagi masyarakat miskin yang tidak terdaftar di Kabupaten/Kota atau tidak
memiliki kartu Askeskin (non kuota), dengan menunjukkan surat keterangan
miskin dari perangkat desa. Sesuai ketentuan yang berlaku biaya pelayanan
kesehatan yang sudah diberikan oleh RSU Dr Soetomo untuk masyarakat miskin
non kuota menjadi tanggungjawab pemerintah provinsi. Klaim atas masyarakat
miskin non kuota setelah dilakukan verifikasi dimintakan pembayarannya ke
Bendahara pengeluaran bantuan sosial.
Hasil pemeriksaan dokumen klaim pelayanan masyarakat miskin non kuota
Tahun Anggaran 2008 menunjukkan bahwa klaim yang belum dibayar sebesar
Rp19.173.326.970,64 dengan rincian sebagai berikut:
No Uraian Klaim (Rp) Dibayar (Rp) Sisa (Rp)
1 Pelayanan Medis 14.088.543.450,00 10.431.540.450,00 3.657.003.000,00
2 Pelayanan Obat 23.458.641.796,64 7.942.317.826,00 15.516.323.970,00
J umlah 37.547.185.246,64 18.373.858.276,00 19.173.326.970,64
Dari tabel di atas terlihat bahwa klaim pelayanan kesehatan masyarakat
miskin non kuota yang dibebankan pada belanja sosial telah dibayar sebesar
Rp18.373.858.276,00 dari tagihan sebesar Rp37.547.1885.246,64 dan sisa yang
belum terbayar sebesar Rp19.173.326.970,00.
Seharusnya untuk klaim pelayanan kesehatan masyarakat miskin non kuota
disediakan sesuai dengan perkiraan kebutuhan riil. Sedangkan RSU Dr Soetomo
sudah terlanjur melakukan pengeluaran biaya untuk melayani kesehatan masyarakat
miskin non kuota yang sudah datang ke Rumah Sakit Dr Soetomo.

Kondisi di atas tidak sesuai dengan;
a. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 125/MENKES/SK/II/2008 tanggal 6
Februari 2008 tentang Pedoman Penyelenggaraaan Program J aminan Kesehatan
Masyarakat pada huruf B Kebijakan Operasional angka 1 disebutkan bahwa
J AMKESMAS adalah program untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat
miskin dan tidak mampu. Program ini diselenggarakan secara nasional. Pada
angka 2 disebutkan bahwa pada hakekatnya pelayanan kesehatan terhadap
masyarrakat miskin menjadi tanggungjawab dan dilaksanakan bersama oleh
Pemerintah Pusat dan Pemeraintah Daerah. Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota
berkewajiban memberikan kontribusi sehingga menghasilkan pelayanan yang
optimal;
b. Surat Edaran Menteri Kesehatan Nomor 586/MENKES/VII/2008 tanggal 3 J uli
2008 perihal Pelaksanaan Penyelenggarakan Pelayanan J amkesmas pada butir 1)

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
20
disebutkan bahwa bagi daerah yang telah siap membiayai pasien miskin diluar
kuota yang ditetapkan (non kuota), biaya pasien tersebut menjadi tanggungjwab
Pemerintah Daerah.

Hal tersebut mengakibatkan RSU Dr. Soetomo masih mempunyai hak tagih
atas klaim pelayanan medis & obat sebesar Rp19.173.326.970,64.

Masalah tersebut disebabkan Tim Anggaran dan Pantia Anggaran
Pemerintah Provinsi J awa Timur:
a. Kurang memperhatikan tugas pokok dan fungsi RSU Dr Soetomo terkait dengan
penganggaran dalam membiayai kesehatan masyarakat miskin non kuota;
b. Dalam memperhitungkan perkiraan besarnya anggaran biaya pelayanan
kesehatan masyarkat miskin non kuota kurang cermat.

Atas permasalahan tersebut Wakil Direktur Umum dan Keuangan RSUD
Dr. Soetomo Surabaya berpendapat bahwa pelaksanaan klaim J amkesmas Non Kuota
merupakan tanggungjawab pembiayaan oleh Pemerintah Provinsi J awa Timur,
Kekurangan biaya dimaksud sebesar Rp19.173.326.970,64 akan dibayar melalui
P.APBD Tahun 2009

BPK RI merekomendasikan kepada Gubernur J awa Timur agar
memperingatkan Tim Anggaran dan Pantia Anggaran Pemerintah Provinsi J awa
Timur untuk memperhatikan penganggaran dalam membiayai kesehatan masyarakat
miskin non kuota.



PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
21

9. Penerima Hibah Sebesar Rp169.442.152.423,00 Belum Menyampaikan Laporan
Pertanggungjawaban Kepada Biro Keuangan Sekretariat Daerah Provinsi Jawa
Timur

Pada Tahun Anggaran 2008 Pemerintah Daerah Provinsi J awa Timur telah
menganggarkan Belanja Hibah sebesar Rp1.475.452.300.000,00 dan direalisasikan
sebesar Rp1.283.926.009.927,05,00 atau 87,02% dari anggaran.
Belanja Hibah dikelola oleh beberapa Biro sesuai dengan Lampiran Peraturan
Gubernur Nomor 20 Tahun 2008 tanggal 29 Februari 2008 tentang Pedoman Teknis
Pengelolaan Belanja Subsidi, Hibah, Bantuan Sosial, Bagi Hasil, Bantuan Keuangan,
dan Belanja Tidak Terduga Provinsi J awa Timur Tahun Anggaran 2008 yang
menyatakan Pengelola Belanja Hibah di lingkungan Sekretariat Daerah Provinsi J awa
Timur berada pada :
a. Biro Pemerintahan;
b. Biro Keuangan;
c. Bappeprov;
d. Biro Kesejahteraan Rakyat;
e. Bapemas;
f. Dinas Kependudukan;
g. Biro Mental Spiritual;
h. Dinas pendidikan dan Kebudayaan;
i. Biro Perekonomian;
j. Dinas Koperasi dan UKM;
k. Dinas ESDM;
l. Dinas Perhubungan.
Mekanisme Belanja Hibah digunakan untuk menganggarkan pemberian
hibah dalam bentuk uang, barang, dan/atau jasa kepada pemerintah, pemerintah
daerah lain, perusahaan daerah, masyarakat dan organisasi kemasyarakatan yang
secara spesifik telah ditetapkan peruntukannya.
Belanja hibah diberikan secara selektif dengan mempertimbangkan
kemampuan keuangan daerah, rasionalitas, dan ditetapkan dengan Keputusan
Gubernur J awa Timur. Berdasarkan pemeriksaan lebih lanjut menunjukkan bahwa
terdapat para penerima Belanja Hibah yang belum menyampaikan laporan
pertanggungjawaban kepada Biro Keuangan Sekretariat Provinsi J awa Timur sesuai
ketentuan sebesar Rp169.442.152.423,00 dengan rincian sebagai berikut :
a. Biro Pemerintahan
J umlah Belanja Hibah yang belum dilaporkan pertanggungjawabannya sebesar
Rp6.354.352.423,00
b. Bapemas
J umlah Belanja Hibah yang belum dilaporkan pertanggungjawabannya sebesar
Rp136.823.000.000,00
c. Dinas Kependudukan
J umlah Belanja Hibah yang belum dilaporkan pertanggungjawabannya sebesar
Rp75.000.000,00



PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
22
d. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan;
J umlah Belanja Hibah yang belum dilaporkan pertanggungjawabannya sebesar
Rp8,189,800,000.00
e. Dinas Koperasi dan UKM
J umlah Belanja Hibah yang belum dilaporkan pertanggungjawabannya sebesar
Rp18.000.000.000,00

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan :
a. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah Pasal 61 ayat (1) yang menyatakan bahwa Setiap pengeluaran harus
didukung oleh bukti yang lengkap dan sah mengenai hak yang diperoleh oleh
pihak yang menagih.
b. Peraturan Menteri Dalam Negeri 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Daerah pada:
1) Pasal 4 yang menyatakan keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada
peraturan perundang-undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan
bertanggung jawab dengan memperhatikan azas keadilan, kepatutan, dan
manfaat untuk masyarakat;
2) Pasal 132 yang menyatakan bahwa setiap pengeluaran belanja atas beban
APBD harus didukung dengan bukti yang lengkap dan sah;
3) Pasal 133 ayat (2) yang menyatakan bahwa penerima subsidi, hibah, bantuan
sosial, dan bantuan keuangan bertanggung jawab atas penggunaan
uang/barang dan/atau jasa yang diterimanya dan wajib menyampaikan
laporan pertanggungjawaban penggunaannya kepada Kepala Daerah;
c. Peraturan Gubernur J awa Timur Nomor 20 Tahun 2008 tentang Pedoman Teknis
Pengelolaan Belanja Subsidi, Hibah, Bantuan Sosial, Bagi Hasil, Bantuan
Keuangan dan Belanja Tidak Terduga Provinsi J awa Timur Tahun Anggaran
2008 pada :
1) Pasal 13 ayat (1) yang menyatakan Penerima belanja subsidi, hibah, bantuan
sosial, bantuan keuangan, dan belanja tidak terduga bertanggungjawab atas
penggunaan uang/barang dan/atau jasa yang diterimanya dengan berpedoman
pada ketentuan perundang-undangan dan wajib menyampaikan
pertanggungjawaban penggunaannya kepada Gubernur J awa Timur melalui
PPKD dan SKPD/Biro yang bersangkutan;
2) Pasal 13 ayat (2) menyatakan pertanggungjawaban sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) berupa laporan Realisasi penggunaan uang/barang dan/atau
J asa sesuai dengan Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NHPD) / Proposal
Permohonan Bantuan atau dokumen lain yang dipersamakan.

Kondisi tersebut mengakibatkan pengelolaan tidak tertib dan membuka
peluang penyalahgunaan penggunaan belanja hibah.

Hal tersebut disebabkan:
a. Masing-masing penerima hibah kurang memahami ketentuan yang berlaku;
b. Masing-masing kepala Biro selaku pengelola bantuan sosial kurang aktif dalam
upaya penyelesaian pertanggungjawabannya;

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
23
c. PPKD selaku penerima pertanggungjawaban penerima hibah tidak melakukan
update berkala atas jumlah SPJ penggunaan hibah.

Atas permasalahan tersebut Kepala Biro Keuangan berpendapat bahwa
pemberi hibah/bansos telah mengingatkan kepada penerima hibah/bansos untuk
menyampaikan laporan dimaksud.

BPK RI merekomendasikan kepada Gubernur J awa Timur agar
memperingatkan para Kepala Biro pengelola Bantuan Hibah untuk segera melakukan
upaya penertiban terhadap para penerima Bantuan Hibah yang belum menyampaikan
Laporan Pertanggungjawaban penggunaan dana Bantuan Hibah dan Melaporkan
hasilnya kepada BPK RI.





PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
24

10. Dana Program Penanganaan Sosial Ekonomi Masyarakat Digunakan Tidak
Sesuai Tujuan Sehingga Realisasi Biaya P2SEM Tidak Menggambarkan Yang
Sebenarnya

Untuk menanggulangi masyarakat yang berpotensi menghadapi masalah
sosial dan ekonomi, Pemerintah Provinsi J awa Timur dalam Tahun Anggaran 2008
menganggarkan Kegiatan Program Penanganan Sosial dan Ekonomi Masyarakat
(Kegiatan P2SEM). Kegiatan tersebut setelah mendapatkan verifikasi Sekretariat
Tetap (SEKTAP) Kabupaten/Kota peruntukannya meliputi :
a. Penciptakan lapangan kerja seperti usaha ekonomi produktif, pengembangan
industri dan kerajinan skala mikro dan kecil;
b. Peningkatan Daya Beli Masyarakat seperti bantuan pinjaman usaha mikro,
pengadaan pasar malam;
c. Penanganan masalah sosial seperti pendidikan, kesehatan.
Kegiatan P2SEM dianggarkan dalam APBD melalui Belanja Hibah kepada
Badan/Lembaga/Organisasi Swasta, kode rekening 51405001 sebesar
Rp1.475.452.300.000,00 dan realisasi sampai dengan 31 Desember 2008 sebesar
Rp1.283.926.009.927,05
Hasil pemeriksaan secara uji petik atas dokumen Surat
Pertanggungjawabanan diketahui terdapat lima kegiatan P2SEM yang digunakan
untuk kegiatan di luar yang seharusnya, dengan rincian sebagai berikut:
NO URAIAN PENERIMA NO SP2D / TGL NILAI (Rp)
1 Pembayaran Hibah P2SEM
untuk Kegiatan Peningkatan
Demokrasi dengan cara
Pelatihan Saksi Pemilu di Desa
Penyepen, Pamekasan.
Ketua Pusat Pengem-
bangan Manajemen
Unijoyo Bangkalan
LS080016851
21/11/2008
125,000,000.00
2 Pembayaran Hibah P2SEM
untuk Kegiatan Pendidikan
demokrasi bagi masyarakat, di
Ds. Pocong, Kec. Tragah, Kab.
Bangkalan
Ketua Forum Masya-
rakat sadar
Demokrasi
LS080016863
21/11/2008
75,000,000.00
3 Pembayaran Hibah P2SEM
untuk Kegiatan Pendidikan
Demokrasi bagi Pemuda di Kab.
Trenggalek
Direktur Lembaga Pe-
nguatan Partisipasi
Ma-syarakat untuk
Demo-krasi /LP 2MD
LS080019247
5/12/2008
15,000,000.00
4 Pembayaran Hibah P2SEM
untuk Kegiatan Pelatihan
Pendewasaan Demokrasi
Pemuda di Ds. Pengkol, Kec.
Tambakrejo, Kab. Bojonegoro.
Ketua Komunitas
Pemuda Peduli
Demo-krasi
LS080019257
5/12/2008
45,000,000.00
5 Pembayaran Hibah P2SEM
untuk kegiatan Workshop
Pendidikan Demokrasi di Kota
Kediri .
Ketua Pusat Studi
Pemerintahan &
Kebijakan Publik
LS080021058
15/12/2008
80,000,000.00
J umlah Rp340.000.000,00

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
25

Dari tabel di atas terlihat bahwa Kegiatan untuk Pelatihan Saksi Pemilu,
Pendidikan Demokrasi bagi Pemuda, Pelatihan Pendewasaan Demokrasi Pemuda,
Workshop Pendidikan Demokrasi tidak sesuai dengan tujuan pemberian hibah untuk
P2SEM. Seharusnya sebesar Rp340.000.000,00 digunakan untuk kegiatan yang
menyangkut peningkatkan kesejahteraan sosial dan meningkatkan ekonomi keluarga.

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan:
a. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tanggal 15 Mei 2006
tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 4 ayat (1) yang
menyatakan keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan
perundang-undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan bertanggung
jawab dengan memperhatikan azas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk
masyarakat.
b. Lampiran Peraturan Gubernur J awa Timur nomor 72 Tahun 2008 tentang
Pedoman Umum Program Penanganan Sosial Ekonomi Masyarakat pada:
1) Huruf B butir 2 disebutkan bahwa Tujuan Khusus adalah :
Terciptanya lapangan kerja bagi masyarakat desa/kelurahan sesuai potensi
lokal;
Meningkatkan pendapatan masyarakat desa/kelurahan;
Berkembangnya kemampuan berusaha bagi masyarakat desa/kelurahan;
Perbaikan sarana dan prasarana ekonomi dan sosial lokal untuk peningkatkan
kualitas hidup bagi masyarakat desa/kelurahan;
Meningkatnya kemitraan untuk mewujudkan keterpaduan dan keberlanjutan
program penanganan ekonomi dan sosial lokal secara partisipatif ;
Menguatnya kelembagaan dan keswadayaan masyarakat desa/kelurahan agar
berefungsi dan berperan aktif dalam penanganan masalah ekonomi dan sosial;
Meningkatnya partisipasi masyarakat desa/kelurahan dalam perencanaan,
pelaksanaan, pengawasan dan pelestarian program.
2) Huruf C disebutkan bahwa sasaran kegiatan diprioritaskan untuk masyarakat
yang sedang maupun berpotensi mengalami masalah ekonomi dan sosial.

Penggunaan dana Program Penanggulangan Sosial Ekonomi Masyarakat
untuk kegiatan yang tidak sesuai dengan tujuan mengakibatkan membebani keuangan
daerah sebesar Rp340.000.000,00.

Hal ini disebabkan adanya kekurangcermatan Sekretariat Tetap (SEKTAP)
dalam melakukan verifikasi dan memberikan rekomendasi terhadap kegiatan P2SEM
yang akan dilaksanakan.

Atas permasalahan tersebut Kepala Biro Keuangan berpendapat bahwa
kegiatan yang dimaksudkan dalam proposal bukan untuk pembiayaan salah satu
partai politik tertentu, melainkan untuk meningkatkan pengetahuan dan
wawasan serta kesadaran masyarakat sebagai warga negara yang berhak
mendapatkan pendidikan sosial politik dalam berdemokrasi.



PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
26
BPK RI merekomendasikan kepada Gubernur J awa Timur agar
memperingatkan Sekretariat Tetap (SEKTAP) untuk lebih cermat dalam melakukan
verifikasi dan memberikan rekomendasi terhadap kegiatan P2SEM yang akan
dilaksanakan.












































PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
27
11. Pemberian Hibah Pada Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan Sebesar
Rp23.092.010.765,00 Belum Dilengkapi Naskah Perjanjian Hibah

a. Dinas Kesehatan
Dinas Kesehatan Provinsi J atim Tahun 2008 telah menganggarkan
belanja modal (5.2.3) sebesar Rp33.357.662.758,00 dan telah direalisasikan
sebesar Rp27.940.441.988,00 (83,76%). Hasil pemeriksaan menunjukkan
terdapat aset yang berasal dari realisasi belanja modal Tahun 2008 yang
dihibahkan kepada pihak ke tiga sebesar Rp12.880.531.665,00 meliputi :
Akti va tetap Jumlah (Rp)
Bangunan gedung 4.233.637.505,00
Alat-alat bengkel 1.444.000.000,00
Alat kedokteran 4.798.992.000,00
Alat studio 2.403.902.160,00
Jumlah 12.880.531.665,00
Aset tersebut dihibahkan kepada pihak-pihak yang telah ditentukan
berdasarkan DPA Dinas Dinas Kesehatan Tahun Anggaran 2008 dan tidak dicatat
sebagai aset tetap dalam Neraca Dinas Kesehatan. Akan tetapi pemberian hibah
tersebut belum dilengkapi dengan Naskah Perjanjian Hibah. Pemberian hibah
hanya dilampiri dengan berita acara serah terima barang antara Dinas Kesehatan
dengan penerima hibah.

b. Dinas Pendidikan
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi J atim Tahun 2008 telah
menganggarkan belanja modal hibah (5.2.3.31) sebesar Rp21.537.730.000,00 dan
telah direalisasikan sebesar Rp10.211.479.100,00. Realisasi belanja tersebut
meliputi :
Belanja modal hibah Jumlah (Rp)
Belanja modal hibah komputer 588.240.000,00
Belanja modal hibah mebeulair 2.006.195.950,00
Belanja modal hibah alat-alat studio 288.240.000,00
Belanja modal hibah alat-alat kedokteran 305.266.500,00
Belanja modal hibah alat-alat laboratorium 1.587.161.950,00
Belanja modal hibah konstruksi/pembelian bangunan 3.543.614.600,00
Belanja modal hibah barang bercorak kesenian,
kebudayaan dan olah raga
1.892.760.100,00
Jumlah 10.211.479.100,00
Aset yang berasal dari belanja modal hibah tersebut kemudian
dihibahkan kepada pihak-pihak yang telah ditentukan berdasarkan DPA Dinas
Pendidikan dan Kebudayaan Tahun Anggaran 2008 dan tidak tercatat dalam aset
Dinas Pendidikan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan diketahui bahwa pemberian hibah
tersebut belum dilengkapi dengan Naskah Perjanjian Hibah. Pemberian hibah
hanya dilampiri dengan nota pengiriman/penerimaan barang yang ditandatangani
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi J atim sebagai pihak pemberi hibah
dan Sekolah sebagai pihak penerima hibah.

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
28

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan :
a. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara Pasal 3 ayat
(1) menyatakan bahwa Keuangan Negara dikelola secara tertib, taat pada
peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan
bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan;
b. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah pada :
1) Pasal 42 ayat (1) menyatakan bahwa Belanja hibah sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 37 huruf d digunakan untuk menganggarkan pemberian hibah
dalam bentuk uang, barang dan/atau jasa kepada pemerintah atau pemerintah
daerah lainnya, dan kelompok masyarakat/ perorangan yang secara spesifik
telah ditetapkan peruntukannya;
2) Pasal 44 ayat (1) Belanja hibah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42
bersifat bantuan yang tidak mengikat/tidak secara terus menerus dan harus
digunakan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dalam naskah
perjanjian hibah daerah;
c. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Perubahan
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah pasal 43 ayat (5) Belanja Hibah kepada
Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaporkan pemerintah daerah
kepada Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan setiap akhir tahun
anggaran.

Hal tersebut mengakibatkan pemberian hibah sebesar Rp23.092.010.765,00
pada Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan belum dapat dipertanggungjawabkan
sesuai ketentuan dan aset sebesar Rp23.092.010.765,00 belum jelas status
kepemilikannya.

Permasalahan tersebut disebabkan karena kelalaian Pengguna Anggaran dan
PPTK belum melengkapi pemberian hibah dengan naskah perjanjian hibah.

Atas permasalahan tersebut Kepala Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan
Provinsi J awa Timur berpendapat bahwa untuk proses pemberian hibah kepada pihak
ketiga (Kab/Kota) di J awa Timur, sudah dibuat Berita Acara Serah Terima Barang
dan sudah diusulkan ke Biro Keuangan/Aset untuk ditindaklanjuti dengan naskah
perjanjian hibah.

BPK RI merekomendasikan kepada Gubernur J awa Timur agar
memperingatkan Pengguna Anggaran dan PPTK pada Dinas Kesehatan untuk
melengkapi pemberian hibah dengan naskah perjanjian hibah.







PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
29

12. Pengadaan Jasa Cleaning Service Di Dinas Perhubungan Tidak Sesuai
Ketentuan

Pada Tahun 2008 Dinas Perhubungan telah menganggarkan belanja jasa jasa
kerja (rekening 52203013) pada kegiatan Peningkatan Kapasitas Kelembagaan
Pemerintah Daerah (kode kegiatan 07.099) sebesar Rp126.900.000,00 dan telah
direalisasikan sebesar Rp125.916.000,00 atau sebesar 99,22%.
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa penyediaan jasa cleaning service
dilaksanakan oleh CV Bali Dunia & Co melalui mekanisme penunjukan langsung.
Selama Tahun 2008 terdapat empat tahap Surat Perintah Kerja (SPK) untuk
penyediaan jasa cleaning service selama 12 bulan dengan rincian sebagai berikut:
No Rekanan SPK No SP2D Jumlah (Rp)
1
CV Bali Dunia & Co PL.103/18/I/2008 Tanggal 2 J anuari
2008 LS080001355

20.986.000
2
CV Bali Dunia & Co PL.103/18/I/2008 Tanggal 2 J anuari
2008 LS080002189

10.493.000
3
CV Bali Dunia & Co PL.103/36/II/2008 Tanggal 2 April
2008 LS080004704

10.493.000
4
CV Bali Dunia & Co PL.103/36/II/2008 Tanggal 2 April
2008 LS080005970

10.493.000
5
CV Bali Dunia & Co PL.103/36/II/2008 Tanggal 2 April
2008 LS080007642

10.493.000
6
CV Bali Dunia & Co PL.103/53/III/2008 Tanggal 2 J uli
2008 LS080009935

10.493.000
7
CV Bali Dunia & Co PL.103/53/III/2008 Tanggal 2 J uli
2008 LS080011719

10.493.000
8
CV Bali Dunia & Co PL.103/53/III/2008 Tanggal 2 J uli
2008 LS080013811

10.493.000
9
CV Bali Dunia & Co PL.103/77/IV/2008 Tanggal 6
Oktober 2008 LS080016955

10.493.000
10
CV Bali Dunia & Co PL.103/77/IV/2008 Tanggal 6
Oktober 2008 LS080019182

10.493.000
11
CV Bali Dunia & Co PL.103/77/IV/2008 Tanggal 6
Oktober 2008 LS080023374

10.493.000




125.916.000
Pengadaan jasa cleaning service dengan nilai Rp125.916.000,00 seharusnya
dilakukan dengan pelelangan dan bukan dengan penunjukan langsung.

Kondisi diatas tidak sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun
2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/J asa Pemerintah pada Pasal 3
yang menyatakan bahwa pengadaan barang/jasa wajib menerapkan prinsip terbuka
dan bersaing, berarti pengadaan barang/jasa harus terbuka bagi penyedia barang/jasa
yang memenuhi persyaratan dan dilakukan melalui persaingan yang sehat di antara
penyedia barang/jasa yang setara dan memenuhi syarat/kriteria tertentu berdasarkan
ketentuan dan prosedur yang jelas dan transparan.

Hal diatas mengakibatkan tidak diperoleh harga yang kompetitif dalam
pengadaan jasa cleaning service.


PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
30
Kondisi diatas disebabkan oleh Tim pengadaan barang dan jasa Dinas
Perhubungan memecah kegiatan pengadaan dan tidak melakukan pelelangan atas
pengadaan jasa cleaning service.

Atas permasalahan tersebut Sekretaris Dinas Perhubungan dan dan LLAJ
Provinsi J awa Timur berpendapat bahwa anggaran pengadaan cleaning service tahun
2008 sebesar Rp125.916.000,00 dalam perencanaan anggaran terbagi dalam 4
triwulan sehingga per triwulan nilainya masih di bawah Rp50 juta, sehingga
pelaksanaan pengadaannya dilakukan dengan penunjukkan langsung. Untuk
berikutnya akan diperhatikan.

BPK RI merekomendasikan kepada Gubernur J awa Timur agar
memerintahkan Kepala Dinas Perhubungan untuk memperingatkan Tim pengadaan
barang dan jasa Dinas Perhubungan untuk tidak memecah kegiatan pengadaan serta
melakukan pelelangan atas pengadaan jasa cleaning service.

































PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
31
13. Penunjukan Pihak Non-PNS Sebagai Panitia Kegiatan SKPD Mengakibatkan
Pengeluaran Daerah Tidak Efektif Sebesar Rp21.700.000.00

Pada tahun anggaran 2008 Dinas Pendidikan Provinsi J awa Timur melalui
Sub Dinas TK/SD melaksanakan Program Manajemen Pendidikan TK/RA dengan
total realisasi anggaran untuk pembayaran honorarium Tim/Panitia/pelaksana
Kegiatan PNS sebesar Rp150.300.00,00. Salah satu kegiatan yang dilaksanakan dari
program tersebut adalah lomba kreatifitas TK/RA tingkat Provinsi J awa Timur.
Kegiatan tersebut menggunakan anggaran sejumlah Rp.43.150.000 sebagai honor
untuk panitia kegiatan dan sejumlah Rp.16.000.000 dibayarkan untuk bantuan
Transport panitia. Dari susunan panitia kegiatan diketahui bahwa sebagian dari
panitia berasal dari pihak luar dan berstatus Non-PNS (bukan honorer maupun
outsourcing), sehingga ditinjau dari segi tugas pokok dan fungsinya mereka tidak
memiliki hak dan kewajiban untuk dapat ditunjuk sebagai pelaksana kegiatan dalam
SKPD Dinas Pendidikan Provinsi J awa Timur. Adapun jumlah pengeluaran tersebut
adalah Rp21.000.000,00 untuk 30 orang yang terdiri atas honor panitia sebesar
Rp15.500.000,00 dan transport panitia sebesar Rp6.200.000,00. Penyetoran tersebut
telah dilakukan kembali ke rekening Kas Daerah Rp21.700.000,00.

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan:
a. Peraturan Menteri Dalam Negeri 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Daerah pada :
1) Pasal 38 ayat (1) menyatakan bahwa sebagaimana dimaksud dalam pasal 37
huruf a belanja pegawai merupakan belanja kompensasi dalam bentuk gaji
dan tunjangan, serta penghasilan lainnya yang diberikan kepada pegawai
negeri sipil yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan;
2) Pasal 51 menyatakan bahwa belanja pegawai sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 50 huruf a untuk pengeluaran honorarium/upah dalam melaksanakan
program dan kegiatan pemerintah daerah
b. Pedoman Kerja dan Pelaksanaan Tugas Pemerintah Provinsi J awa Timur Tahun
2008 pada BAB VII tentang Standar Honorarium/Upah/Tarif
1) Huruf G tentang Honorarium Kegiatan angka 7 menjelaskan bahwa
honorarium pembina/pengarah/penyaji/panitia kegiatan/rapat
a) Gubernur sebesar Rp2.500.000,00
b) Wakil Gubernur sebesar Rp.2.000.000,00
c) Eselon I sebesar Rp1.500.000,00
d) Eselon II sebesar Rp1.000.000,00
e) Eselon III sebesar Rp750.000,00
f) Eselon IV sebesar Rp600.000,00
g) Staf sebesar Rp500.000,00
h) Honorer/Tenaga Outsourcing sebesar Rp300.000,00

Permasalahan tersebut mengakibatkan terjadinya pengeluaran daerah yang
tidak efektif sebesar Rp21.000.000,00

Hal ini disebabkan karena bendahara pengeluaran pembantu Sub Dinas
Pendidikan TK/SD tidak memahami ketentuan yang berlaku.

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
32
Atas permasalahan tersebut Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi J awa Timur
berpendapat bahwa kelalaian dalam pelaksanaan penunjukkan kepanitiaan akan
diperbaiki pada kegiatan berikutnya dan penyetoran kembali ke rekening Kas Daerah
sudah dilakukan sebesar Rp21.700.000,00.

BPK RI merekomendasikan kepada Gubernur J awa Timur untuk
memerintahkan Kepala Dinas Pendidikan agar memperingatkan bendahara
pengeluaran pembantu Sub Dinas Pendidikan TK/SD supaya memahami ketentuan
yang berlaku dalam pelaksanaan penunjukan kepanitiaan.







































PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
33
14. Pemberian Bantuan Transport Panitia Pada Sub Dinas Pendidikan TK/SD
Melebihi Standar Yang Telah Ditentukan Sebesar Rp17.750.000,00

Pada tahun anggaran 2008 Sub Dinas TK/SD memiliki tiga program yang
harus dilaksanakan. Dari realisasi program tersebut terdapat beberapa kegiatan yang
dilaksanakan di dalam kota.yaitu antara lain;
a. Pemilihan Kader Tiwisada tingkat Provinsi
b. Bina Kreatifitas SD/MI tingkat Provinsi
c. Pemilihan Siswa teladan tingkat Provinsi
d. Lomba kreatifitas TK/RA tingkat Provinsi
Dari kegiatan yang dilaksanakan didalam kota tersebut, bendahara Sub Dinas
Pendidikan TK/SD memberikan bantuan transport kepada panitia kegiatan dengan
jumlah yang melebihi standar yang telah ditetapkan dalam pedoman kerja dan
pelaksanaan tugas Pemerintah Provinsi J awa Timur tahun 2008. Rincian kelebihan
pembayaran bantuan transport terdapat dalam tabel berikut :
Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Pedoman Kerja dan Pelaksanaan Tugas
Pemerintah Provinsi J awa Timur Tahun 2008 pada BAB VII tentang Standar
Honorarium/Upah/Tarif Huruf G Tentang honorarium kegiatan angka 9 menyebutkan
bahwa pelaksanaan kegiatan rapat di luar kantor yang didukung dengan pembentukan
panitia dan akomodasi konsumsi disediakan oleh panitia, hanya dapat diberikan
bantuan transport dalam kota sebesar Rp150.000,00. Atas kelebihan pembayaran itu
telah dilakukan penyetoran ke rekening Kas Daerah pada tanggal 20 Mei 2009
sebesar Rp17.750.000,00.

Hal tersebut mengakibatkan terjadinya pengeluaran daerah yang tidak efektif
sebesar Rp17.750.000,00.

Transport Dalam Kota Melebihi standar
Kegiatan Panitia J ml
Standar
biaya
transpor
Transpor yg
diberikan
Selisih Total
1. Pemilihan Kader Tiwisada Provinsi
Eselon 5

150.000

200.000

50.000 250.000

Reguler 35 150.000

250.000

100.000 3.500.000
2.
Bina Kreatifitas SD/MI Tingk.
Provinsi Eselon 5 150.000

200.000

50.000 250.000

Reguler 60 150.000

200.000

50.000 3.000.000

Eselon 5 150.000

200.000

50.000 250.000

Reguler 20 150.000

250.000

100.000 2.000.000
3. Pemilihan Siswa Teladan Provinsi.
Eselon 5 150.000

300.000

150.000 750.000

Reguler 35 150.000

250.000

100.000 3.500.000
4. Lomba Kreatifitas TK/RA Provinsi.
Eselon 5 150.000

200.000

50.000 250.000
Reguler 80 150.000

200.000

50.000 4.000.000
TOTAL 17.750.000

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
34
Hal tersebut terjadi disebabkan bendahara pengeluaran pembantu sub dinas
TK/SD dalam melaksanakan tugasnya tidak memahami ketentuan yang berlaku.

Atas permasalahan tersebut Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi J awa Timur
berpendapat bahwa pada awalnya kegiatan tersebut akan dilaksanakan di luar kota,
namun karena kepadatan kegiatan yang ada maka kegiatan tidak sesuai rencana dan
dilaksanakan di dalam kota. Dengan adanya kelalaian tersebut telah dilakukan
penyetoran ke Kas Daerah pada tanggal 20 Mei 2009 sebesar Rp17.750.000,00.

BPK RI merekomendasikan Gubernur J awa Timur agar memerintahkan
Kepala Dinas Pendidikan untuk memperingatkan bendahara pengeluaran sub dinas
TK/SD dalam melaksanakan tugasnya untuk memperhatikan ketentuan yang berlaku.




































PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
35
15. Perbedaan Cara Perhitungan Pada Pekerjaan Peningkatan Jalan Di Bina
Marga Sehingga Terjadi Kelebihan Pembayaran Sebesar Rp20.233.000,00

Pemeriksaan fisik di lapangan atas pekerjaan peningkatan jalan pada Dinas
Bina Marga Provinsi J awa Timur dilaksanakan pada tanggal 6 Maret 2009 terhadap
pelaksanaan pekerjaan yang berlokasi di jalan legundi pertigaan bunder Kabupaten
Gresik. Dasar pelaksanaan adalah Kontrak Antara Dinas Bina Marga dengan
PT Kharisma Multijaya Nomor:602.1/13015/KTR/119/PLB/2008 tanggal 14 Agustus
2008 sebesar Rp919.208.000,00
Rincian pekerjaan tersebut adalah sebagai berikut:
No. Uraian Nilai (Rp)
1 Umum 30.987.000
2 Perkerasan Berbutir -
3 Perkerasan Aspal 798.063.261,35
4 Pekerjaan Struktur 6.235.199,79
5 Pengembalian Kondisi dan Pekerjaan Minor 358.861,34
J umlah 835.644.322,48
PPN 10% 83.564.432,25
J umlah termasuk PPN 10% 919.208.754,73
Dibulatkan 919.208.000,00
Dari nilai tersebut, pekerjaan terbesar adalah perkerasan aspal senilai
Rp798.063.261,35 dengan rincian sebagai berikut:
No. Uraian Sat. Harga Kuantitas Nilai (Rp)
1 Lapis Perekat (Tack Coat) Ltr. 5.999,84 3.262,52 19.574.598,00
2 ATB (Laston Atas) M
3
1.290.326,80 8,80 11.354.875,84
3 ACL (Lasto Leveling) Ton 560.931,85 1.280,23 718.121.782,33
4 Lapis Penetrasi Macadam (Lapen) t =5 cm M
3
646.178,66 75,85 49.012.005,18
798.063.261,35
Penelaahan atas beberapa dokumen menunjukkan beberapa hal berikut:
1) Dari tabel di atas untuk uraian pekerjaan ACL (Lasto Leveling) senilai
Rp 718.121.782,33 atau ekuivalen atas penghamparan aspal sebesar 1.280,23 ton
dengan harga satuan Rp560.931,85.
2) Hasil Pemeriksaan atas sample yang telah disepakati ternyata terdapat perbedaan
perhitungan, tebal rata-rata AC-WC yang dikerjakan adalah 5,4 cm. Bila
mengacu pada penghamparan aspal di lokasi tersebut pada tanggal 17 Oktober
2008 dan 20 Oktober 2008, dokumen backup kuantitas menyebutkan bahwa
jumlah tonase yang dihamparkan dan dibayar sesuai kontrak 360,70 ton (179,33
+181,37) atau Rp202.328.118. Penghamparan aspal tersebut untuk luas area
2.626,35 m2 dengan berat jenis aspal adalah 2,291 sehingga ketebalan yang
seharusnya adalah 6cm. Dengan demikian, terdapat kesalahan pembayaran atas
harga penghamparan Laston sebesar Rp20.233.000,00((0,6 / 6) x
Rp202.328.118). Atas masalah tersebut telah dilakukan penyetoran ke rekening
Kas Daerah tanggal 22 Mei 2009 sebesar Rp20.233.000,000.



PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
36
Keadaan tersebut tidak sesuai dengan:
a. Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan
Pengadaan Barang/J asa Pemerintah, pada penjelasan pasal 33 ayat (2)
menyebutkan bahwa khusus untuk pekerjaan konstruksi, pembayaran hanya dapat
dilakukan senilai pekerjaan yang telah terpasang tidak termasuk bahan-bahan,
alat-alat yang ada di lapangan;
b. Pekerjaan-pekerjaan sebagaimana dimaksud harus dilaksanakan oleh pihak kedua
berdasarkan dokumen pelelangan yang terdiri dari gambar-gambar (termasuk
gambar-gambar detail), Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) dan semua
perubahan sesuai dengan Berita Acara Penjelasan Pekerjaan (BAP), dan
keterangan-keterangan lainnya.

Hal tersebut mengakibatkan terjadinya pengeluaran daerah yang tidak efektif
sebesar Rp20.233.000,00.

Permasalahan tersebut disebabkan Pengawas Lapangan dan Pejabat
Pelaksana Teknis Kegiatan kurang cermat dalam melaksanakan pengawasan
pekerjaan di lapangan.

Atas permasalahan tersebut Kuasa Pengguna Anggaran Peningkatan J alan
dan Penggantian J embatan Provinsi J awa Timur berpendapat bahwa penyetoran Ke
rekening Kas Daerah sudah dilakukan pada tanggal 22 Mei 2009 sebesar
Rp20.233.000,00.

BPK RI merekomendasikan kepada Gubernur J awa Timur agar
memerintahkan Kepala Dinas Bina Marga untuk memperingatkan Pengawas
Lapangan dan Pejabat Pengendali Teknis Kegiatan supaya lebih cermat dalam
melaksanakan pengawasan pekerjaan di lapangan.




















PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
37
16. Terdapat Penganggaran Dan Realisasi Pekerjaan Penanaman Pohon Pada
Belanja Modal

Pada Tahun Anggaran 2008 Dinas Permukiman Pemerintah Provinsi J awa
Timur melakukan Kegiatan Pengembangan dan Pengelolaan Rumah Susun Sederhana
Sewa (Rusunawa) dengan kode rekening 1 04 0100 15 050. Kegiatan tersebut
dianggaran sebesar Rp5.800.000.000,00 dan realisasi sebesar Rp5.274.350.190,00.
Dalam Kegiatan tersebut terdapat belanja modal untuk Pembangunan Masjid, Gedung
TK/Play Group, Pasar Kering, Pembangunan Lanjutan Rusunuwa, Tempat
Pembuangan Sampah, Pengawasan Fisik dan Penanaman Pohon.
Hasil pemeriksaan atas dokumen belanja modal menunjukkan bahwa
Penganggaran dan realiasi belanja Modal Penanaman Pohon sebesar Rp74.894.000,00
tidak tepat karena pohon bukan merupakan aset, yaitu tidak memberikan manfaat
untuk operasional Rusunawa. Seharusnya yang dapat dikapitalisasikan ke aset hanya
yang mempunyai manfaat langsung maupun tidak langsung terhadap operasional dari
Rusunawa seperti Gedung TK/Play Group, Pasar Kering, Pembangunan Lanjutan
Rusunuwa, Tempat Pembuangan Sampah, sehingga belanja modal penanaman
pohon sebesar Rp74.894.000,00 seharusnya dibebankan pada belanja barang.

Hal tersebut tidak sesuai dengan:
a. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tanggal 15 Mei 2006
tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah pada:
1) Pasal 4 ayat (1) yang menyatakan keuangan daerah dikelola secara tertib, taat
pada peraturan perundang-undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan,
dan bertanggung jawab dengan memperhatikan azas keadilan, kepatutan, dan
manfaat untuk masyarakat;
2) Pasal 52 ayat (1) disebutkan bahwa Belanja barang dan jasa digunakan untuk
pengeluaran pembelian/pengadaan barang yang nilai manfaatnya kurang dari
12 (duabelas) bulan dan/atau pemakaian jasa dalam melaksanakan program
dan kegiatan pemerintahan daerah.
b. Lampiran II Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tanggal 2005 tentang
Standar Akuntasi pada butir 61 disebutkan bahwa aset mempunyai manfaat
ekonomi masa depan yang terwujud dalam aset adalah potensi aset tersebut untuk
memberikan sumbangan, baik langsung maupun tidak langsung, bagi kegiatan
operasional pemerintah, berupa aliran pendapatan atau penghematan belanja bagi
pemerintah.

Permasalahan tersebut mengakibatkan Laporan Realisasi Anggaran Belanja
Modal menggambarkan kondisi yang tidak sebenarnya.

Hal tersebut disebabkan:
a. Pengguna Anggaran dalam menyusun Rencana Anggaran Kegiatan (RAK-
SKPD) kurang memperhatikan kententuan yang berlaku;
b. Panitia Anggaran dan Tim Anggaran Pemerinah Daerah dalam melakukan
evaluasi atas belanja modal kurang cermat.


PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
38
Atas permasalahan tersebut Kepala Bidang Perumahan Dinas Pekerjaan
Umum Provinsi J awa Timur menjelaskan bahwa untuk selanjutnya pada kegiatan-
kegiatan yang akan datang akan diupayakan untuk lebih teliti sehingga tidak terjadi
lagi kekeliruan dalam posting anggaran antara belanja modal dan belanja barang dan
jasa.

BPK RI merekomendasikan kepada Gubernur J awa Timur agar
memperingatkan Pengguna Anggaran untuk memperhatikan ketentuan yang berlaku
dalam menyusun Rencana Anggaran Kegiatan SKPD serta memperingatkan Panitia
Anggaran dan Tim Anggaran Pemerintah Daerah untuk lebih cermat dalam
melakukan evaluasi atas belanja modal.





PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
39

17. SPJ Penggunaan Dana Pembinaan Kelompok Kerja Teknis Dana Bergulir
Tidak Lengkap

Program yang dimiliki oleh Pemerintah Provinsi J awa Timur untuk
mengupayakan pemberdayaan usaha kecil menengah adalah Program Dana Bergulir
Modal Kerja kepada UMKM dalam bentuk pemberian Kredit Modal Kerja melalui
Bank J atim dan BPR J atim, guna meningkatkan kemampuan permodalan dan
mengembangkan usahanya.
Sesuai dengan Petunjuk teknis Dana Bergulir Modal Kerja Kepada Usaha
Kecil Menengah dan Koperasi tahun 2008 disebutkan bahwa proporsi pembagian
bunga yang berasal dari pembayaran bunga dana bergulir adalah, sebesar 1 % dari
plafond kredit digunakan sebagai biaya administrasi bank, 2% untuk dana pembinaan
Oleh Tim Pokja, dan 3% disetor sebagai PAD Provinsi J awa Timur.
Pencatatan pendapatan yang dilakukan secara bruto telah menjadi temuan
atas pemeriksaan BPK pada tahun anggaran 2007, selain itu kegiatan atas kelompok
kerja teknis dana bergulir tidak dianggarkan melalui mekanisme DPA sehingga
penggunaan biaya harus dilakukan secara langsung dengan mengkompensasikan
pengeluaran biaya dengan pendapatan asli daerah. Hal ini telah ditindaklanjuti dengan
penyusunan draft peraturan tentang pembentukan BLUD pengelola dana bergulir
secara khusus yang akan segera disahkan pada tahun anggaran berjalan.
Mekanisme penyaluran dana dilakukan sepenuhnya oleh Bank J atim dan
BPR J atim sebagai bank pelaksana. Penyaluran dana dilakukan ketika terjadi setoran
pengembalian masuk dari debitor dana bergulir, Bagian dana yang menjadi hak
Kelompok Kerja Teknis disetorkan kepada rekening Bank J atim atas nama Asisten
Ekonomi dan Pembangunan di rekening 0011201946 dan 0011201954. Dua rekening
tersebut digunakan karena Kelompok Kerja mengelola dua jenis dana bergulir yaitu
dana bergulir UKMK dan dana bergulir PJ TKI. Dokumen yang digunakan sebagai
bukti penggunaan dan pencatatan berupa rekening Koran yang dikirimkan oleh pihak
bank, sehingga transaksi atas penggunaan dana pokja yang terjadi belum memiliki
bukti pendukung pencatatan yang lengkap.
Pada Tahun Anggaran 2008 diketahui terdapat penambahan jumlah dana
pembinaan kelompok kerja teknis sesuai dengan pencatatan dalam rekening Koran
sebesar Rp1.432.276.346,00 dan digunakan sebesar Rp828.800.000,00. penggunaan
tersebut didukung dengan penarikan yang terlihat di dalam rekening koran.
Dokumentasi laporan pertanggungjawaban dalam bentuk SPJ menunjukkan
bahwa bukti pengeluaran dan pelaksanaan kegiatan berupa kwitansi penerimaan oleh
pelaksana kegiatan.
Hal tersebut tidak sesuai dengan
a. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah Pasal 61 ayat (1) yang menyatakan bahwa Setiap pengeluaran harus
didukung oleh bukti yang lengkap dan sah mengenai hak yang diperoleh oleh
pihak yang menagih.
b. Peraturan Menteri Dalam Negeri 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Daerah pada:


PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
40
1) Pasal 1 ayat (6) yang menyatakan bahwa Keuangan Daerah adalah semua hak
dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah
yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan
yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut;
2) Pasal 4 yang menyatakan keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada
peraturan perundang-undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan
bertanggung jawab dengan memperhatikan azas keadilan, kepatutan, dan
manfaat untuk masyarakat;
3) Pasal 132 yang menyatakan bahwa setiap pengeluaran belanja atas beban
APBD harus didukung dengan bukti yang lengkap dan sah.

Hal tersebut mengakibatkan potensi terjadinya penyalahgunaan penggunaan
Dana Kelompok Kerja Teknis Dana Bergulir.

Hal tersebut disebabkan :
a. Ketua Tim Kelompok Kerja Teknis Dana bergulir tidak memahami ketentuan
yang berlaku;
b. Anggaran kegiatan yang dilaksanakan oleh Kelompok Kerja Teknis Dana
Bergulir tidak dianggarkan dalam APBD Provinsi J awa Timur;

Atas permasalahan tersebut Kepala Biro Administrasi Perekonomian
berpendapat bahwa secara substantif realisasi kegiatan tersebut telah dilaksanakan
sesuai dengan ketentuan, namun secara administratif pertanggungjawaban masih
dalam proses penyusunan sehingga belum dapat ditunjukkan ketika pemeriksaan
berlangsung.

BPK RI merekomendasikan Gubernur J awa Timur agar memperingatkan
Ketua Tim Kelompok Kerja Teknis Dana bergulir untuk menganggarkan kegiatan
Kelompok Kerja Teknis Dana Bergulir.



















PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
41
18. Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan Belum Selesai Sesuai Rekomendasi

Hasil pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi J awa Timur
Tahun Anggaran 2007 terdapat 29 temuan pemeriksaan dengan 46 rekomendasi. Dari
46 rekomendasi tersebut, sebanyak 41 rekomendasi telah ditindaklanjuti sesuai
rekomendasi, 5 (lima) temuan telah ditindaklanjuti namun belum sesuai dengan
rekomendasi. Temuan yang tindak lanjutnya belum sesuai dengan rekomendasi
adalah sebagai berikut:
No Temuan Rekomendasi Keterangan
1 Penyajian Informasi Keuangan
Dana Bergulir sebesar
Rp379.995.700.850,00 Kurang
Memadai
Direkomendasikan kepada Gubernur
J awa Timur agar menyajikan nilai dana
bergulir berdasarkan nilai bersih yang
dapat direalisasikan (net realizable
value) yaitu sebesar nilai kas yang
dipegang unit pengelola ditambah
jumlah yang diharapkan dapat
direalisasikan;
Nilai Dana Bergulir dapat
disajikan pada TA 2010
2 Penggunaan Belanja
Operasional Pimpinan DPRD
Provinsi J awa Timur tidak
didukung dangan bukti yang
lengkap sebesar
Rp233.300.000,00
Direkomendasikan kepada Gubernur
J awa Timur agar meminta Pimpinan
DPRD Provinsi J awa Timur dan
Sekretaris DPRD untuk
mempertanggung jawabkan
penggunaan belanja penunjang
operasional pimpinan (BPOP) sesuai
ketentuan yang berlaku.
Kurang laporan kegiatan
dan rekap dari rincian
penggunaan dana BOP
yang dilengkapi bukti
kwitansi
3 Pencatatan Aset Tetap hasil
pengadaan Dinas Permukiman
tidak dilaksanakan secara
tertib serta Belanja Modal
direalisasikan untuk Belanja
Non Modal sebesar
Rp45.600.614.000,00
Direkomendasikan kepada Gubernur
J awa Timur agar menegur Kepala
Dinas Permukiman supaya mencatat
aset tetap yang akan dipergunakan
SKPD lain sampai Berita Acara Serah
Terima Barang diterbitkan;
Belum ada SK Hibah dari
Gubernur
4 Deposito Senilai
Rp41.500.000.000,00
Digunakan Sebagai J aminan
Pinjaman Daerah
Direkomendasikan kepada Gubernur
J awa Timur agar meninjau kembali
kebijakan Gubernur yang mengatur
penggunaan deposito dana cadangan
murni sebagai jaminan utang rumah
sakit pada PT Bank J atim.
Menunggu SK Gubernur
tentang peninjauan
kembali mengenai
penjaminan utang
menggunakan deposito
5 Penyelesaian Piutang Pasien
Umum, Piutang Pasien Askes,
dan Piutang Lain-lain pada
Rumah Sakit Umum Daerah
milik Pemerintah Provinsi
J awa Timur sebesar
Rp54.223.863.309,00 berlarut-
larut
Direkomendasikan kepada Gubernur
J awa Timur agar menegur masing-
masing Direktur Rumah Sakit untuk
mengintensifkan upaya penagihan
piutang.
Bukti intensifikasi
penagihan hutang dan
bukti penerimaan atas
piutang belum ada

Kondisi di atas tidak sesuai dengan Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004
tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung J awab Keuangan Negara, Pasal 20
Ayat (1) yang menyebutkan bahwa Pejabat wajib menindaklanjuti rekomendasi
dalam laporan hasil pemeriksaan;

Temuan pemeriksaan BPK yang belum ditindak lanjuti sesuai rekomendasi
tersebut mengakibatkan perbaikan manajemen belum dapat dilaksanakan.




PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
42
Hal tersebut disebabkan oleh kurangnya perhatian para Kepala SKPD terkait
untuk melaksanakan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

BPK RI merekomendasikan kepada Gubernur J awa Timur agar
memerintahkan para Kepala SKPD terkait untuk menindaklanjuti Hasil Pemeriksaan
BPK RI sesuai rekomendasi.

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
43
Lampiran 2.1
Daftar Pengeluaran SPJ untuk Narasumber pada kegiatan Reses
NO
NO
BKU
TGL BUKTI URAIAN J UMLAH (Rp)
1 1854 31/12/2008 Rekapitulasi honor narasumber jasmas III Th 2008
Dapil III ( 8 Orang )
64.000.000,00
2 2025 31/12/2008 Rekapitulasi honor narasumber dalam rangka
kegiatan J asmas III Th 2008 utk 9 Orang Dapil X
72.000.000,00
3 2881 31/12/2008 honor narasumber J asmas III Dapil VII Tahun 2008 (
10 Orang )
80.000.000,00
4 575 05/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asamas I /
200 Anggota DPRD jatim 3 Org Dapil V
8.000.000,00
5 661 05/08/2008 Pembayaran honor narasumber Reses I Th 2008
Anggota DPRD J atim 4 Org Dapil X An. KH. Abd
Salam Syah
8.000.000,00
6 1041 05/09/2008 Pmbiayarn honor narasumber kegiatan J asmas I /
2008 Dapil IX utk 3 Org An. M. Siroj Sag.
8.000.000,00
7 1116 05/09/2008 Pembayaran honor narasumber Kegiatan J asmas I /
2008 utk 3 Org Dapil IX An. Drs. Trisno Ujud Msi.
8.000.000,00
8 1093 05/09/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan jasmas I /
2008 utk 3 Org An. Drs. HM. Rofiq Dapil IX
8.000.000,00
9 1066 05/09/2008 Pmbiayarn honor narasumber J asmas I / 2008 Dapil
IX An, Hermanto, SE utkl 3 Org
8.000.000,00
10 917 05/09/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan jasmas I /
2008 Dapil IX utk 3 Org
8.000.000,00
11 942 05/09/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas I /
2008 utk 3 Org Dapil IX An. Drs. HM. Msyafa Noer
8.000.000,00
12 33 05/06/2008 Pembayaran honor narasumber utk 3 Org dalam
rangka acr penyerapan asprs Anggota DPRD J atim
dgn masy pemilih Dapil VI An. Dra. Hj. Noer Cholida
Badrus Msi. tgl 29, 30 April & 3 Mei 2008
8.000.000,00
13 283 05/08/2008 Pembayaran honor narasumber J asmas masa
Reses I Th 2008 Anggota DPRD J atim 4 Org Dapil X
8.000.000,00
14 37 05/06/2008 Pembayaran honor narasumber utk 3 Org dalam
rangka acr penyerapan asprs Anggota DPRD J atim
dgn masy pemilih Dapil VI An. Dra. Hj. Noer Cholida
Badrus Msi. tgl 30 April 3 & 5 Mei 2008
8.000.000,00
15 45 05/06/2008 Pembayaran honor narasumber dalam kegiatan
J asmas I / 2008 Anggota DPRD J atim An.
Hj.Mustafaridah Hasan Spd.. tgl 29, 30 April & 4 Mei
2008 utk 3 Org Dapil I
8.000.000,00
16 51 05/06/2008 Pembayaran honor narasumber dalam kegiatan
J asmas I / 2008 Anggota DPRD J atim An. H. Imron
safi'i. tgl 28 April & 1, 2, 4 Mei 2008 utk 4 Org Dapil
I
8.000.000,00
17 261 05/06/2008 Rekapitulasi honor narasumber utk 3 Org dalam
rangka Rapat Anggota DPRD J atim Dapil VIII masa
Reses I th 2008 tgl 30 April & 3, 5 Mei 2008 tgl 3, 5
Mei 2008 An. Drs. H. Abd. Rachman Ustman
8.000.000,00
18 257 05/06/2008 Rekapitulasi honor narasumber utk 3 Org dalam
rangka Rapat Anggota DPRD J atim Dapil VIII masa
Reses I th 2008 tgl 30 April & 3, 5 Mei 2008 tgl 3, 5
Mei 2008 An. Hartono SH.
8.000.000,00
19 253 05/06/2008 Rekapitulasi honor narasumber utk 3 Org dalam
rangka Rapat Anggota DPRD J atim Dapil VIII masa
Reses I th 2008 tgl 30 April & 3, 5 Mei 2008 tgl 3, 5
Mei 2008 An. Soeharto SH, MHum.
8.000.000,00
20 281 05/08/2008 Pembayaran honor narasumber J asmas masa
Reses I Th 2008 Anggota DPRD J atim 4 Org Dapil X
8.000.000,00
21 279 05/06/2008 Rekapitulasi honor narasumber utk 3 Org dalam
rangka Rapat Anggota DPRD J atim Dapil VIII masa
Reses I th 2008 tgl 30 April & 3, 5 Mei 2008 tgl 3, 5
Mei 2008 An. Dra Rachmawati Peni Sutantri, MBA
8.000.000,00

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
44
NO
NO
BKU
TGL BUKTI URAIAN J UMLAH (Rp)
22 265 05/06/2008 Rekapitulasi honor narasumber utk 3 Org dalam
rangka Rapat Anggota DPRD J atim Dapil VIII masa
Reses I th 2008 tgl 30 April & 3, 5 Mei 2008 tgl 3, 5
Mei 2008 An. Drs. Yusuf Husni Apt.
8.000.000,00
23 273 05/06/2008 Rekapitulasi honor narasumber utk 3 Org dalam
rangka Rapat Anggota DPRD J atim Dapil VIII masa
Reses I th 2008 tgl 30 April & 3, 5 Mei 2008 tgl 3, 5
Mei 2008 An. Drs. H. Romadhon, MH.
8.000.000,00
24 269 05/06/2008 Rekapitulasi honor narasumber utk 3 Org dalam
rangka Rapat Anggota DPRD J atim Dapil VIII masa
Reses I th 2008 tgl 30 April & 3, 5 Mei 2008 tgl 3, 5
Mei 2008 An. Drs. Sudono Syueb Msi.
8.000.000,00
25 221 05/06/2008 Pembayaran honor narasumber dalam rangka
kegiatan J asmas I 2008 Anggota DPRD Prop J atim
utk 3 Org Dapil III
8.000.000,00
26 249 05/06/2008 Rekapitulasi honor narasumber utk 3 Org dalam
rangka Rapat Anggota DPRD J atim Dapil VIII masa
Reses I th 2008 tgl 30 April & 3, 5 Mei 2008 tgl 3, 5
Mei 2008 An. H. MB Firjaun Bustaman
8.000.000,00
27 227 05/06/2008 Pembayaran honor narasumber dalam rangka
kegiatan J asmas I 2008 Anggota DPRD Prop J atim
utk 3 Org Dapil III
8.000.000,00
28 225 05/06/2008 Pembayaran honor narasumber dalam rangka
kegiatan J asmas I 2008 Anggota DPRD Prop J atim
utk 3 Org Dapil III
8.000.000,00
29 231 05/06/2008 Pembayaran honor narasumber dalam rangka
kegiatan J asmas I 2008 Anggota DPRD Prop J atim
utk 3 Org Dapil III
8.000.000,00
30 219 05/06/2008 Pembayaran honor narasumber dalam rangka
kegiatan J asmas I 2008 Anggota DPRD Prop J atim
utk 3 Org Dapil III
8.000.000,00
31 217 05/06/2008 Pembayaran honor narasumber dalam rangka
kegiatan J asmas I 2008 Anggota DPRD Prop J atim
utk 3 Org Dapil III
8.000.000,00
32 223 05/06/2008 Pembayaran honor narasumber dalam rangka
kegiatan J asmas I 2008 Anggota DPRD Prop J atim
utk 3 Org Dapil III
8.000.000,00
33 229 05/06/2008 Pembayaran honor narasumber dalam rangka
kegiatan J asmas I 2008 Anggota DPRD Prop J atim
utk 3 Org Dapil III
8.000.000,00
34 29 05/06/2008 Pembayaran honor narasumber utk 3 Org dalam
rangka acr penyerapan asprs Anggota DPRD J atim
dgn masy pemilih Dapil VI An. Drs. Hidayat Msi.tgl
30 April & 5 Mei 2008
8.000.000,00
35 25 05/06/2008 Pembayaran honor narasumber utk 3 Org dalam
rangka acr penyerapan asprs Anggota DPRD J atim
dgn masy pemilih Dapil VI An. Islan Gatot Imbata tgl
24, 30 April & 3 Mei 2008
8.000.000,00
36 17 05/06/2008 Pembayaran honor narasumber utk 3 Org dalam
rangka acr penyerapan asprs Anggota DPRD J atim
dgn masy pemilih Dapil VI An. Drs. Chusnul Huda tgl
30 April 3, & 5 Mei 2008
8.000.000,00
37 21 05/06/2008 Pembayaran honor narasumber utk 3 Org dalam
rangka acr penyerapan asprs Anggota DPRD J atim
dgn masy pemilih Dapil VI An. Sudiyati, SH tgl 30
April 3, & 5 Mei 2008
8.000.000,00
38 472 05/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas I /
2008 Anggota DPRD J atim 4 Org Dapil V
8.000.000,00
39 492 05/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas I /
2008 Anggota DPRD J atim 3 Org Dapil V
8.000.000,00
40 476 05/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas I /
2008 Anggota DPRD J atim 4 Org Dapil V
8.000.000,00

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
45
NO
NO
BKU
TGL BUKTI URAIAN J UMLAH (Rp)
41 484 05/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas I /
2008 Anggota DPRD J atim 3 Org Dapil V
8.000.000,00
42 480 05/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas I /
2008 Anggota DPRD J atim 4 Org Dapil V
8.000.000,00
43 488 05/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas I /
2008 Anggota DPRD J atim 3 Org Dapil V
8.000.000,00
44 550 05/08/2008 Rekapitulasi honor 3 Org narasumber Kegiatan
J asmas I / 2008 bg Anggota DPRD jatim Dapil II An.
Drs. H. Achmad Suriyaji, Msi.
8.000.000,00
45 498 05/08/2008 Rekapitulasi honor narasumber kegiatan J asmas I
Th 2008 bg Anggota DPRD J atim ( Dapil II ) An. Hj.
Luluk Mauludyah, SE.
8.000.000,00
46 496 05/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas I /
2008 Anggota DPRD J atim 3 Org Dapil V
8.000.000,00
47 523 05/08/2008 Rekapitulasi biaya honor 3 Org narasumber dalam
rangka kegiatan J asmas I / 2008 bg Anggota DPRD
J atim Dapil II An. Dra, Hj, Harbiyah Salahudin, Msi.
8.000.000,00
48 345 05/08/2008 Rekapitulasi biaya honor 3 Org narasumber dalam
kegiatan J asmas I Th 2008 bg Anggota DPRD J atim
Dapil II An. Anwar Sadad Mag.
8.000.000,00
49 291 05/08/2008 Pembayaran honor narasumber J asmas masa
Reses I Th 2008 Anggota DPRD J atim 4 Org Dapil X
8.000.000,00
50 289 05/08/2008 Pembayaran honor narasumber J asmas masa
Reses I Th 2008 Anggota DPRD J atim 4 Org Dapil X
8.000.000,00
51 287 05/08/2008 Pembayaran honor narasumber J asmas masa
Reses I Th 2008 Anggota DPRD J atim 4 Org Dapil X
8.000.000,00
52 285 05/08/2008 Pembayaran honor narasumber J asmas masa
Reses I Th 2008 Anggota DPRD J atim 4 Org Dapil X
8.000.000,00
53 293 05/08/2008 Pembayaran honor narasumber J asmas masa
Reses I Th 2008 Anggota DPRD J atim 4 Org Dapil X
8.000.000,00
54 420 05/08/2008 Pembayaran Rekapitulasi honor 3 Org narasumber
Kegiatan J asmas I Th 2008 bg Anggota DPRD J atim
An. KH. Yunus Richan SH. DApil II
8.000.000,00
55 370 05/08/2008 Rekapitulasi biaya honor 3 Org narasumber J asmas
I Th 2008 Dapil II An. H. Chilili Mugi SH, MHum.
8.000.000,00
56 1866 05/09/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas I /
2008 Dapil I An. Drs. Kuswiyanto Msi
8.000.000,00
57 2169 19/5/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas I /
2008 Dapil IX A. Drs. Ec. Moh Kasdi MM
8.000.000,00
58 2199 19/5/2008 Rekapitulasi honor narasumber utk 3 Org kegiatan
J asmas I / 2008 Dapil VIII An. Heri Soegihono, SH,
tgl 29 April, 2, 3 Mei 2008
8.000.000,00
59 2228 19/5/2008 Pembayaran honor narasumber J asmas I / 2008
Dapil IV utk 5 Org An. Syaiful Islam
8.000.000,00
60 2236 19/5/2008 Pembayaran honor narasumber J asmas I / 2008
Dapil IV utk 5 Org An. Hj. Aiosyah Lilia Agustini
8.000.000,00
61 2232 19/5/2008 Pembayaran honor narasumber J asmas I / 2008
Dapil IV utk 5 Org An. Ali Saibo
8.000.000,00
62 2224 19/5/2008 Pembayaran honor narasumber J asmas I / 2008
Dapil IV utk 5 Org An. Imam Ghozali Ara
8.000.000,00
63 2244 19/5/2008 Pembayaran honor narasumber J asmas I / 2008
Dapil IV utk 5 Org An. Moch Husein Dapil IV
8.000.000,00
64 2240 19/5/2008 Pembayaran honor narasumber J asmas I / 2008
Dapil IV utk 5 Org An. Budiharto Tasmo Dapil IV
8.000.000,00
65 2248 19/5/2008 Pembayaran honor narasumber J asmas I / 2008
Dapil IV utk 5 Org An. H. Moch Mirdasy Dapil IV
8.000.000,00
66 2174 19/5/2008 Rekapitulasi honor narasumber utk 3 Org dalam
rangka J asmas I Th 2008 Dapil VIII A. Hj. Munjidah
Wahab
8.000.000,00

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
46
NO
NO
BKU
TGL BUKTI URAIAN J UMLAH (Rp)
67 1141 05/09/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas I /
2008 utk 3 Org An. Drs. Ali Mudji Ms. Dapil IX
8.000.000,00
68 796 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber utk 3 Org dalam acr
J asmas II / 2008 Dapil VI An. Drs. Hj. Sudijati
Mustadjab, SH
8.000.000,00
69 792 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber utk 3 Org dalam acr
J asmas II / 2008 Dapil VI An. Drs. H. Chusnul Huda
Dapil VI
8.000.000,00
70 788 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber utk 3 Org dalam acr
J asmas II / 2008 Dapil VI An. Sabron Djamil
Pasarribu
8.000.000,00
71 816 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber utk 3 Org dalam acr
J asmas II / 2008 Dapil VI An. Ir. bambang Suhartono
8.000.000,00
72 812 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber utk 3 Org dalam acr
J asmas II / 2008 Dapil VI An. Drs. Hidayat Msi.
8.000.000,00
73 800 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber utk 3 Org dalam acr
J asmas II / 2008 Dapil VI An. Syahri Mulyo, SE.
8.000.000,00
74 808 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber utk 3 Org dalam acr
J asmas II / 2008 Dapil VI An. Renville Antonio
8.000.000,00
75 804 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber utk 3 Org dalam acr
J asmas II / 2008 Dapil VI An. Wisnu Sakti Buana
8.000.000,00
76 784 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber utk 3 Org dalam acr
J asmas II / 2008 Dapil VI An. Dra. HJ . Noer Cholidah
Badrus
8.000.000,00
77 820 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber utk 3 Org dalam acr
J asmas II / 2008 Dapil VI An. Ir. H. Sjamsul Huda
8.000.000,00
78 824 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber utk 3 Org dalam acr
J asmas II / 2008 Dapil VI An. Islan gatot Imbata
8.000.000,00
79 654 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber 4 Org. J asmas II /
2008 Anggota DPRD J atim Dapil X An.Dra. Hj.
Salimah Hadi
8.000.000,00
80 1049 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas II
th 2008 Dapil I An. KH. Abd. Salam Syah
8.000.000,00
81 1076 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas II
th 2008 Dapil X An. Drs. Darwies Maszar
8.000.000,00
82 1123 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas II
th 2008 Dapil X An. Drs. Djafar Shodiq, Msi.
8.000.000,00
83 1119 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas II
th 2008 Dapil X An. Ir. HM. Farid Alfauzi, MM.
8.000.000,00
84 1143 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas II
th 2008 Dapil X An. Drs. KH. RPA Mujahid Anshori
Msi.
8.000.000,00
85 1020 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas II
th 2008 Dapil I An.H. Kusnadi, SH.
8.000.000,00
86 1012 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas II
th 2008 Dapil I An. W. Patti Radjawane
8.000.000,00
87 1008 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas II
th 2008 Dapil I An. Moch Arief Djuanidy .
8.000.000,00
88 1016 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas II
th 2008 Dapil I An.H. Imron Rofi
8.000.000,00
89 1024 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas II
th 2008 Dapil I An.Hj. RA. Siti Fatimah Hafids
8.000.000,00
90 1004 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas II
th 2008 Dapil I An. Drs. Kuswiyanto, Msi.
8.000.000,00
91 1000 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas II
th 2008 Dapil I An. HJ . Mustafaridah Hasan
8.000.000,00
92 996 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas II
th 2008 Dapil I An. YA. Widodo
8.000.000,00
93 994 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas II 8.000.000,00

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
47
NO
NO
BKU
TGL BUKTI URAIAN J UMLAH (Rp)
th 2008 Dapil I An. H. Rofi Munawar
94 992 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas II
th 2008 Dapil I An. H. Rofi Munawar
8.000.000,00
95 988 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas II
th 2008 Dapil I An. H. Saleh ismail Mukadar
8.000.000,00
96 33 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber dalam rangka
J asmas II Th 2008 Dapil VII An. Drs. Gatot Sodjito
Msi. utk 3
8.000.000,00
97 37 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber dalam rangka
J asmas II Th 2008 Dapil VII An. Drs. Basuki
Babusalam, SH. utk 3
8.000.000,00
98 69 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber dalam rangka
J asmas II Th 2008 Dapil VII An. H. Bahrul Munir utk
3
8.000.000,00
99 65 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber dalam rangka
J asmas II Th 2008 Dapil VII An. Moch. Ashari, SH.
utk 3
8.000.000,00
100 45 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber dalam rangka
J asmas II Th 2008 Dapil VII An.H, Suhartono W utk
3
8.000.000,00
101 41 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber dalam rangka
J asmas II Th 2008 Dapil VII An. Ir. Sukirno Msi. utk
3
8.000.000,00
102 61 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber dalam rangka
J asmas II Th 2008 Dapil VII An. Djamal Abdullah
Alkatiri, SH. utk 3
8.000.000,00
103 53 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber dalam rangka
J asmas II Th 2008 Dapil VII An. Sirmadji utk 3
8.000.000,00
104 49 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber dalam rangka
J asmas II Th 2008 Dapil VII An.KH. Abd. Wahid Asa
utk 3
8.000.000,00
105 57 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber dalam rangka
J asmas II Th 2008 Dapil VII An. Sudibiayao utk 3
8.000.000,00
106 522 09/08/2008 Rekapitulasi honor narasumber utk 3 Org J asmas II
Th 2008 Dapil VIII An. Drs. H. Abd. rachman Ustman
8.000.000,00
107 518 09/08/2008 Rekapitulasi honor narasumber utk 3 Org J asmas II
Th 2008 Dapil VIII An. Zainal Abidin, SH.
8.000.000,00
108 498 09/08/2008 Rekapitulasi honor narasumber utk 3 Org J asmas II
Th 2008 Dapil VIII An. Sudono Syueb Msi.
8.000.000,00
109 494 09/08/2008 Rekapitulasi honor narasumber utk 3 Org J asmas II
Th 2008 Dapil VIII An. Suharto, SH, M.Hum.
8.000.000,00
110 514 09/08/2008 Rekapitulasi honor narasumber utk 3 Org J asmas II
Th 2008 Dapil VIII An.Drs. Yusuf Husni
8.000.000,00
111 506 09/08/2008 Rekapitulasi honor narasumber utk 3 Org J asmas II
Th 2008 Dapil VIII An. HJ . Munjidah Wahab
8.000.000,00
112 502 09/08/2008 Rekapitulasi honor narasumber utk 3 Org J asmas II
Th 2008 Dapil VIII An. Drs. H. Romadhon MM.
8.000.000,00
113 510 09/08/2008 Rekapitulasi honor narasumber utk 3 Org J asmas II
Th 2008 Dapil VIII An. Hery Sugiono, SH.
8.000.000,00
114 486 09/08/2008 Rekapitulasi honor narasumber utk 3 Org J asmas II
Th 2008 Dapil VIII An.Hartono SH.
8.000.000,00
115 490 09/08/2008 Rekapitulasi honor narasumber utk 3 Org J asmas II
Th 2008 Dapil VIII An. Dra. Rachmawati Peni S
8.000.000,00
116 482 09/08/2008 Rekapitulasi honor narasumber utk 3 Org J asmas II
Th 2008 Dapil VIII An. H. MB. Firjaun B
8.000.000,00
117 2271 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber Kegiatan J asmas II
/ 2008 Dapil IV An. Imam Ghozali Aro
8.000.000,00
118 2171 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber Kegiatan J asmas II /
2008 Dapil IV An. Ir. Heri Purwanto
8.000.000,00

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
48
NO
NO
BKU
TGL BUKTI URAIAN J UMLAH (Rp)
119 2193 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber Kegiatan J asmas II
/ 2008 Dapil IV An. Ir. Suryo Subandrio
8.000.000,00
120 2325 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber Kegiatan J asmas II /
2008 Dapil V An. Ir. HM. Ridwan Hisjam
8.000.000,00
121 2300 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber Kegiatan J asmas II /
2008 Dapil IV An. Budiharto Tasmo
8.000.000,00
122 2298 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber Kegiatan J asmas II
/ 2008 Dapil IV An. Drs. Ec. Ali Saebo, MM.
8.000.000,00
123 1826 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber dalam kegiatan
J asmas II / 2008 Dapil III An. Dra. Masroroh Wahid,
Msi.
8.000.000,00
124 1799 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas II /
2008 An. H. Pudjo Setijono, SH, MH. Dapil III
8.000.000,00
125 2131 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber Kegiatan J asmas II
/ 2008 Dapil IV An. Dra. Hj. Aisyah lilia Agustini
8.000.000,00
126 2090 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber Kegiatan J asmas II /
2008 Dapil II An. Dr. KH. Masjkur Hasyim, MM, MBA.
8.000.000,00
127 2124 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber Kegiatan J asmas II
/ 2008 Dapil II An. Dra. Hj. Harbiah Salahuddin, Msi.
8.000.000,00
128 1553 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas II
/ 2008 Dapil IX An. Drs. Ali Mudji, Ms.
8.000.000,00
129 1580 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas II /
2008 Dapil IX An. Moch. Siroj, S.AG.
8.000.000,00
130 1526 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas II /
2008 Dapil IX An. Dra. HJ . Sakinah Ma'shum, MM.
8.000.000,00
131 1549 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas II
/ 2008 Dapil IX An. Ir. Suhandoyo, Sp.
8.000.000,00
132 1653 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas II /
2008 An. Hermanto, SE. Dapil IX
8.000.000,00
133 1628 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas II /
2008 An. Drs. HM. Rofiq Munawar Dapil IX
8.000.000,00
134 1605 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas II /
2008 Dapil IX An. Drs. H. M. Musyafa' Noer
8.000.000,00
135 1440 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas II /
2008 An. Reny Irawati ( Dapil I )
8.000.000,00
136 1426 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas II /
2008 An. Linda Oktavia ( Dapil I )
8.000.000,00
137 1501 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas II /
2008 An. Bambang Heru J uwito, SH. ( Dapil IX )
8.000.000,00
138 1476 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas II /
2008 An. Firdaus Fibrianto, SH. ( Dapil IX )
8.000.000,00
139 1924 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber Kegiatan J asmas II /
2008 Dapil IX An. Drs. H. Trisno Ujud.
8.000.000,00
140 1874 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber Kegiatan J asmas II /
2008 Dapil III An. Drs. H. Syamsul Hadi
8.000.000,00
141 1939 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber Kegiatan J asmas II /
2008 Dapil II An. Anwar sadat M. Ag.
8.000.000,00
142 1883 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber Kegiatan J asmas II /
2008 Dapil III An. Drs. H. Abd. Ruslan.
8.000.000,00
143 1243 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber J asmas II th 2008
Dapil V An. Ir. Achmad Subhan
8.000.000,00
144 1235 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber J asmas II th 2008
Dapil V An. Teddy Hartono, S.
8.000.000,00
145 1231 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber J asmas II th 2008
Dapil V An. KH. Moh Lutfi Abd Hadi, SH.
8.000.000,00
146 1239 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber J asmas II th 2008
Dapil V An. HJ . Agung Sintha Dinastomo, SH.
8.000.000,00

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
49
NO
NO
BKU
TGL BUKTI URAIAN J UMLAH (Rp)
147 1247 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber J asmas II th 2008
Dapil V An.Lutfillah Masduki SE, MM.
8.000.000,00
148 1251 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber J asmas II th 2008
Dapil V An. Lambertus L Wayong, Bsc.
8.000.000,00
149 1227 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber J asmas II th 2008
Dapil V An. Boimin Nur Suhandri
8.000.000,00
150 1223 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber J asmas II th 2008
Dapil V An. Daisy Margaret S, S. Sos.
8.000.000,00
151 1219 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber J asmas II th 2008
Dapil X An. HR. Harsono Zainuddin, SH.
8.000.000,00
152 1680 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas II /
2008 An. Drs. Ec. Moh Kasdi, MM. Dapil IX
8.000.000,00
153 2221 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber Kegiatan J asmas II /
2008 Dapil IV An.Drs. H. Saiful Islam
8.000.000,00
154 2246 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber Kegiatan J asmas II
/ 2008 Dapil IV An. Moch. H. Mirdasy, SiP.
8.000.000,00
155 1749 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas II /
2008 An. Marsindi Dapil III
8.000.000,00
156 1774 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas II /
2008 An. Drs. H. Fathorrasjid, Msi. Dapil III
8.000.000,00
157 1724 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas II /
2008 An. HA. zaini Ghozali SH, Sip. MH, MM. Dapil
III
8.000.000,00
158 1849 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber Kegiatan J asmas II /
2008 Dapil III An. HM. Binsech. AB.
8.000.000,00
159 1962 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber Kegiatan J asmas II /
2008 Dapil II An.H. Cholili Mugi, SH.
8.000.000,00
160 1999 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber Kegiatan J asmas II /
2008 Dapil II An.H. KH. Yunus Roichan
8.000.000,00
161 2008 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber Kegiatan J asmas II /
2008 Dapil II An.Drs. Achmad Sufiaji, Sg, Msi.
8.000.000,00
162 2074 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber Kegiatan J asmas II /
2008 Dapil II An. Hj. Luluk Mauludiyah, SE.
8.000.000,00
163 1192 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber kegiatan J asmas II
th 2008 Dapil X An. Drs. Achmad Ruba'i
8.000.000,00
164 2049 09/08/2008 Pembayaran honor narasumber Kegiatan J asmas II
/ 2008 Dapil II An. Hj. Noer Endah Nizar Lc.
8.000.000,00
165 2453 31/12/2008 honor narasumber J asmas III Dapil IX ( 12 Orang )
Tahun 2008
96.000.000,00
166 2449 31/12/2008 honor narasumber J asmas III Dapil VIII ( 11 Orang )
Tahun 2008
88.000.000,00
167 3108 31/12/2008 honor narasumber J asmas III Th 2008 Dapil I ( 11
Orang )
88.000.000,00
168 2709 31/12/2008 honor Narasumber kegiatan J asmas III Dapil IV ( 8
Orang )
64.000.000,00
169 3713 31/12/2008 honor Narasumber Kegiatan J asmas III Dapil V ( 8
Orang )
64.000.000,00
170 3220 31/12/2008 Honor narasumber J asmas III Dapil VI ( 11 Orang ) 88.000.000,00
171 3521 31/12/2008 honor narasumber kegiatan J asmas III Dapil II ( 7
Orang )
56.000.000,00
2.048.000.000,00




BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA





LAPORAN ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN
DALAM KERANGKA PEMERIKSAAN
LAPORAN KEUANGAN
PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR
TAHUN ANGGARAN 2008
DI
SURABAYA








PERWAKILAN PROVINSI JAWA TIMUR




Nomor : 106/R/XVIII.J ATIM/05/2009
Tanggal : 25 Mei 2009
BUKU III
DAFTAR ISI











HALAMAN
RESUME LAPORAN ATAS PENGENDALIAN INTERN.......................................... 1

HASIL PEMERIKSAAN ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN..................... 3

1. Pencatatan Atas Pendapatan Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah Pada Biro
Mental Spiritual Dan Dinas Tenaga Kerja Dicatat Tidak Secara Bruto.......................

3

2. Realisasi Belanja Kegiatan Pelaksanaan Pelantikan Panwaslu yang Dibiayai
Dengan Anggaran Kegiatan Hearing di Sekretariat DPRD tidak tepat .......

6

3. Pendapatan Yang Diterima Oleh Bendahara Penerimaan Tidak Disetorkan Kepada
Kas Daerah Setiap Hari.......................................................................................

8
4. Penyetoran Penerimaan Sumbangan Pihak Ketiga Terlambat Disetor Ke Kas
Daerah ................................................................................................................
11

LAMPIRAN




1

PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

RESUME HASIL PEMERIKSAAN ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan
Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara dan Undang-Undang Nomor 15
Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan, Badan Pemeriksa Keuangan
Republik Indonesia (BPK RI) telah memeriksa Neraca Pemerintah Provinsi Jawa
Timur per 31 Desember 2007, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan
Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut.
Untuk memperoleh keyakinan memadai, apakah laporan keuangan bebas dari salah
saji material, Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) yang ditetapkan oleh
BPK RI mengharuskan BPK RI melaksanakan pengujian atas sistem pengendalian
intern Pemerintah Provinsi J awa Timur. Sistem pengendalian intern merupakan
tanggung jawab Pemerintah Provinsi J awa Timur. Namun, tujuan pemeriksaan BPK
RI atas laporan keuangan tidak untuk menyatakan pendapat atas keseluruhan sistem
pengendalian intern tersebut. Oleh karena itu, BPK RI tidak menyatakan suatu
pendapat seperti itu. Sistem pengendalian intern Pemerintah Provinsi J awa Timur
terkait dengan laporan keuangan merupakan suatu proses yang didesain untuk
memberikan keyakinan memadai atas keandalan laporan keuangan sesuai dengan
Standar Akuntansi Pemerintahan. Pengendalian intern tersebut meliputi berbagai
kebijakan dan prosedur yang: (1) terkait dengan catatan keuangan; (2) memberikan
keyakinan yang memadai bahwa laporan tersebut telah sesuai dengan Standar
Akuntansi Pemerintahan serta penerimaan dan pengeluaran telah sesuai dengan
otorisasi yang diberikan; (3) memberikan keyakinan yang memadai atas keamanan
aset yang berdampak material pada laporan keuangan. Pemerintah Provinsi Jawa
Timur bertanggung jawab untuk mengatur dan menyelenggarakan pengendalian
tersebut.
SPKN mengharuskan BPK RI untuk mengungkapkan kelemahan dalam sistem
pengendalian intern atas pelaporan keuangan.
Kelemahan dalam sistem pengendalian intern atas Laporan Keuangan Pemerintah
Provinsi J awa Timur yang ditemukan BPK RI adalah sebagai berikut:
1. Pencatatan Atas Pendapatan Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah Pada Biro
Mental Spiritual Dan Dinas Tenaga Kerja Dicatat Tidak Secara Bruto;
2. Realisasi Belanja Kegiatan Pelaksanaan Pelantikan Panwaslu Yang Dibiayai
Dengan Anggaran Kegiatan Hearing Di Sekretariat DPRD Tidak Tepat;
3. Pendapatan yang Diterima oleh Bendahara Penerimaan Tidak Disetorkan Kepada
Kas Daerah Setiap Hari;
4. Penyetoran Penerimaan Sumbangan Pihak Ketiga Terlambat Disetor Ke Kas
Daerah

2


PERWAKILAN PROVINSI J AWA TIMUR

Berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut, BPK RI merekomendasikan kepada
Gubernur J awa Timur agar:
1. Memperingatkan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Kepala Biro Mental Spiritual
untuk melaksanakan pencatatan sesuai ketentuan yang berlaku serta meninjau
kembali Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 35 Tahun 2005 tentang Petunjuk
Pelaksanaan Pemungutan Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah.
2. Memperingatkan Pengguna Anggaran pada Sekretariat DPRD untuk memperhatikan
tugas pokok fungsi dari DPRD dalam menganggarkan kegiatan.
3. Memerintahkan Kepala Biro Mental dan Spiritual, Kepala Dinas Tenaga Kerja untuk
memperingatkan para Bendahara Penerimaan untuk menyetorkan pendapatan yang
diterima ke kas daerah sesuai dengan ketentuan yang berlaku tentang tatausaha
penerimaan daerah.
4. Memperingatkan Bendahara Penerima Dinas Perhubungan untuk menyetorkan
penerimaan dari sumbangan pihak ketiga sesuai dengan ketentuan
Secara lebih rinci dijelaskan pada bagian Hasil Pemeriksaan atas Sistem Pengendalian
Intern.



3

HASIL PEMERIKSAAN ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN


1. Pencatatan atas Pendapatan Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah pada Biro Mental
Spiritual Dan Dinas Tenaga Kerja Dicatat Tidak Secara Bruto

Pada Tahun Anggaran 2008 Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Biro
Mental dan Spiritual telah menganggarkan Pendapatan Retribusi Pemakaian Kekayaan
Daerah (rekening 0300.00.000.4.1.2.02.001) sebesar Rp500.000.000,00 dan dengan realisasi
sebesar Rp685.770.500,00 serta menganggarkan Pendapatan dari Penyelenggaraan
Pendidikan dan Pelatihan pada Dinas Tenaga Kerja berupa uang sekolah dan pelatihan
(rekening 0100.00.000.4.1.4.12.002) sebesar Rp668.000.000,00 dengan realisasi sebesar
Rp839.748.850,00
Hasil pemeriksaan atas Laporan Realisasi Anggaran dan bukti penerimaan serta
bukti-bukti pendukung lainnya menunjukkan bahwa pengakuan dan pencatatan pendapatan
retribusi pemakaian kekayaan daerah dan penerimaan atas uang sekolah dan pelatihan dari
penyelenggaraan pendidikan pelatihan dicatat tidak sesuai ketentuan, dengan penjelasan
sebagai berikut:

a. Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah pada Biro Mental dan Spiritual
Pemungutan retribusi pemakaian kekayaan daerah dilaksanakan sesuai dengan
Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur nomor 2 Tahun 2005 tentang Retribusi Pemakaian
Kekayaan Daerah, yang mengatur pemungutan retribusi atas semua obyek pemungutan
retribusi. Salah satu obyek pemungutan retribusi adalah penggunaan gedung balai pertemuan
serta mess di Gedung Islamic Center dalam lingkungan Biro Mental dan Spiritual.
Mekanisme penyetoran atas pendapatan diatur dalam Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor
35 Tahun 2005 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemungutan Retribusi Pemakaian Kekayaan
Daerah.
Peraturan tersebut mengatur tata cara pembayaran dan penyetoran retribusi untuk
Biro Mental dan Spiritual dengan memberi kekhususan berupa penyetoran dapat dilakukan
netto sebesar 50% dari total penerimaan bagi instansi yang menanggung beban tetap biaya
telepon, listrik, air, dan kebersihan.
Pada tahun 2008 realisasi pendapatan Islamic Center dianggarkan sebesar
Rp500.000.000,00 dan telah direalisasikan sebesar Rp685.770.500,00. Realisasi tersebut
hanya merupakan 50% bagian pendapatan yang diterima oleh Biro Mental dan Spiritual yang
secara total berjumlah Rp1.371.541.000,00. Pengakuan pendapatan yang tercatat dalam
laporan keuangan Propinsi Jawa Timur hanya sejumlah 50% dari total pendapatan yang
diterima sebenarnya. Hal ini tidak sesuai dengan asas bruto yang seharusnya diterapkan
dalam pencatatan seluruh pendapatan yang diterima pemerintah daerah dalam setiap tahun
anggaran.

b. Penerimaan di Lingkungan Dinas Tenaga Kerja

Pemungutan retribusi dari jasa pendayagunaan fasilitas dan pelatihan kerja di
BLK dan BPPTK dilaksanakan sesuai dengan Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur nomor
2 Tahun 2005 tentang Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah.
4

PERWAKILAN PROVINSI JAWA TIMUR

Salah satu obyek pemungutan retribusi tersebut adalah biaya-biaya yang
digunakan dalam pendayagunaan fasilitas dan pelatihan kerja di BLK dan BPPTK seluruh
Jawa Timur. Mekanisme penyetoran atas penerimaan diatur dalam Peraturan Gubernur Jawa
Timur Nomor 35 Tahun 2005 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemungutan Retribusi
Pemakaian Kekayaan Daerah. Berdasarkan peraturan tersebut tata cara pembayaran dan
penyetoran retribusi untuk Dinas Tenaga Kerja diberikan kekhususan berupa Penyetoran
dapat dilakukan netto sebesar 20% dari total penerimaan karena Dinas Tenaga Kerja
dikategorikan sebagai instansi yang dalam proses menghasilkan jasa menanggung beban tetap
berupa biaya telepon, listrik, air, kebersihan, dan tenaga (instruktur/pelatih) dan bahan.
Pada tahun 2008 Pendapatan Dinas Tenaga Kerja dianggarkan sebesar
Rp668.000.000,00 dengan realisasi sebesar Rp839.748.850,00
Realisasi tersebut hanya merupakan 20% bagian pendapatan yang diterima oleh
Dinas Tenaga Kerja yang secara total berjumlah Rp4.198.744.250,00. Pengakuan pendapatan
yang dilakukan oleh Propinsi Jawa Timur hanya sejumlah 20% dari total pendapatan yang
diterima sebenarnya. Hal ini tidak sesuai dengan asas bruto yang seharusnya diterapkan
dalam pencatatan seluruh pendapatan yang diterima pemerintah daerah dalam tiap tahun
anggaran.

Permasalahan tersebut tidak sesuai dengan :
a. Standar Akuntansi Pemerintah Pernyataan No.2 tentang Akuntansi Pendapatan baris ke-
25 yang menyatakan bahwa akuntansi pendapatan dilaksanakan berdasarkan asas bruto,
yaitu dengan membukukan penerimaan bruto, dan tidak mencatat jumlah netonya (setelah
dikompensasikan dengan pengeluaran);
b. Peraturan Menteri Dalam Negeri No.13 Tahun 2006 pasal 20 ayat 2 menyebutkan bahwa
seluruh pendapatan daerah, belanja daerah, dan pembiayaan daerah dianggarkan secara
bruto dalam APBD;
c. Pedoman Kerja dan Pelaksanaan Tugas Pemerintah Propinsi Jawa Timur Tahun 2008
Bab III Huruf I tentang Kebijakan Akuntansi secara umum angka (3) menyatakan bahwa
pencatatan pendapatan harus dilaksanakan berdasarkan asas bruto, mencatat penerimaan
bruto dan tidak diperbolehkan berdasarkan penerimaan netto (setelah dikompensasikan
dengan pengeluaran).

Hal tersebut mengakibatkan Pendapatan Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah
dan Penerimaan Jasa pendayagunaan fasilitas pada Dinas Tenaga Kerja disajikan lebih kecil
sebesar Rp4.044.765.900,00.

Permasalahan tersebut disebabkan :
a. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Kepala Biro Mental tidak melaksanakan pencatatan
pendapatan sesuai ketentuan yang berlaku;
b. Adanya Peraturan Gubernur Jawa Timur yang bertentangan dengan peraturan yang lebih
tinggi.





5

PERWAKILAN PROVINSI JAWA TIMUR

Atas permasalahan tersebut Kepala Biro Mental Spiritual berpendapat bahwa
berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2005 tentang Retribusi Pemakaian Kekayaan
Daerah dan Peraturan Gubernur Nomor 35 Tahun 2005 tentang petunjuk pelaksanaan
Retribusi Kekayaan Daerah ditetapkan bahwa hasil penerimaan disetorkan ke Kasda sebesar
50% sedangkan yang 50% untuk operasional Islamic Center. Untuk Tahun 2009 akan
dilakukan pencatatan seluruh pendapatan Islamic Center dan menyetor seluruhnya ke Kasda
sebesar 100%.

BPK RI merekomendasikan kepada Gubernur Jawa Timur agar memperingatkan
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Kepala Biro Mental Spiritual untuk melaksanakan pencatatan
sesuai ketentuan yang berlaku serta meninjau kembali Peraturan Gubernur Jawa Timur
Nomor 35 Tahun 2005 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemungutan Retribusi Pemakaian
Kekayaan Daerah.




























6

PERWAKILAN PROVINSI JAWA TIMUR


2. Realisasi Belanja Kegiatan Pelaksanaan Pelantikan Panwaslu yang Dibiayai Dengan
Anggaran Kegiatan Hearing di Sekretariat DPRD Menyalahi Ketentuan.

Pimpinan dan Anggota DPRD dalam melaksanakan fungsi legislasi, anggaran dan
pengawasan memerlukan tambahan penjelasan dari pihak eksekutif yaitu dengan melakukan
rapat dan dengar pendapat (hearing). Hal tersebut telah diatur dalam Peraturan Pemerintah
Nomor 25 Tahun 2004 tentang Pedoman Penysusunan Peraturan Tata Tertib DPRD. Untuk
kegiatan tersebut dianggarkan dalam APBD berupa Kegiatan Hearing/Dialog dan Koordinasi
dengan Pejabat Pemerintah dan Tokoh Masyarakat/Tokoh Agama dengan kode rekening
120040015002. Pada Tahun Anggaran 2008 dianggarkan sebesar Rp12.872.948.000,00 dan
realiasasi sebesar Rp11.774.221.462,00 atau 91,46%.Output dari Kegiatan Hearing/Dialog
dan Koordinasi dengan Pejabat Pemerintah dan Tokoh Masyarakat/Tokoh Agama adalah
terselenggaranya kegiatan hearing.
Dari hasil pemeriksaan terhadap surat pertanggungjawaban atas pelaksanaan
Kegiatan Hearing/Dialog dan Koordinasi dengan Pejabat Pemerintah dan Tokoh
Masyarakat/Tokoh Agama diketahui bahwa terdapat pengeluaran yang terkait dengan
Pelaksanaan Pelantikan Panitia Pengawas Pemilihan Umum Kepala Daerah sebesar
Rp1.571.948.247,00 dengan rincian pada lampiran 1.
Penganggaran Kegiatan Pelaksanaan Pelantikan Pengawas Pemilihan Umum
Kepala Daerah tersebut dimasukkan dalam Kegiatan Hearing/Dialog dan Koordinasi dengan
Pejabat Pemerintah dan Tokoh Masyarakat/Tokoh Agama pada Perubahan APBD karena
kegiatan tersebut tidak tercantum dalam Rencana Kerja dan Anggaran (RKA-SKPD)
Sekretariat DPRD. Seharusnya Pelaksanaan Pelantikan Panitia Pengawas Pemilihan Umum
Kepala Daerah dianggarkan dalam kegiatan tersendiri karena keluaran atau outputnya berbeda
dengan Kegiatan Hearing/Dialog dan Koordinasi dengan Pejabat Pemerintah dan Tokoh
Masyarakat/Tokoh Agama

Hal tersebut tidak sesuai dengan:
a. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tanggal 15 Mei 2006 tentang
Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah pada:
1) Pasal 1 ayat (42) disebutkan bahwa Kegiatan adalah bagian dari program yang
dilaksanakan oleh satu atau lebih unit kerja pada SKPD sebagai bagian dari pencapaian
sasaran terukur pada suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan
sumber daya baik yang berupa personil (sumber daya manusia), barang modal termasuk
peralatan dan teknologi, dana, atau kombinasi dari beberapa atau kesemua jenis sumber
daya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam
bentuk barang/jasa;
2) Pasal 4 ayat (1) yang menyatakan keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada
peraturan perundang-undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan bertanggung
jawab dengan memperhatikan azas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat.
b. Surat Pengesahan Kepala PPKD Nomor 914/141.P/043/2008 tanggal 22 Agustus 2008
tentang Perubahan Dokumen Pelaksanaan Perubahan Anggaran Satuan Kerja Perangkat
Daerah (DPPA-SKPD) ditetapkan keluaran (output) adalah terselanggaranya kegiatan
hearing.
7

PERWAKILAN PROVINSI JAWA TIMUR


Hal tersebut mengakibatkan:
a. Laporan Realisasi Anggaran Belanja Kegiatan Hearing/dialog dan Koordinasi dengan
Pejabat Pemerintah dan Tokoh Masyarakat/Tokoh Agama tidak menggambarkan kondisi
yang sebenarnya;
b. Laporan Realisasi Anggaran pada Sekretariat DPRD tidak menggambarkan adanya
kegiatan Pelaksanaan Pelantikan Panwaslu.

Permasalahan tersebut terjadi karena Pengguna Anggaran pada Sekretariat DPRD
dalam menganggarkan kegiatan kurang memperhatikan tugas pokok fungsi dari DPRD.

Atas permasalahan tersebut Sekretaris DPRD Provinsi Jawa Timur berpendapat
bahwa setelah melalui proses konsultasi dan koordinasi dengan Biro Keuangan, anggaran
untuk Panwaslu ditempatkan pada rekening Hearing/Dialog, selanjutnya akan dilakukan
langkah penyempurnaan.

BPK RI merekomendasikan Gubernur Jawa Timur agar memperingatkan Pengguna
Anggaran pada Sekretariat DPRD untuk memperhatikan tugas pokok fungsi dari DPRD
dalam menganggarkan kegiatan.









8

PERWAKILAN PROVINSI JAWA TIMUR


3. Pendapatan yang Diterima oleh Bendahara Penerimaan Tidak Disetorkan Kepada Kas
Daerah Setiap Hari

Pemeriksaan terhadap beberapa SKPD pada Provinsi Jawa Timur tentang
penatausahaan penerimaan asli daerah atau PAD masih menunjukkan penatausahaan yang
tidak sesuai dengan ketentuan. Kesalahan penatausahaan umumnya terjadi dalam prosedur
penyetoran penerimaan daerah yang tidak disetorkan ke Kas Daerah setiap hari. Rincian
SKPD yang masih belum menatausahakan penerimaan daerah sesuai dengan ketentuan yaitu :

a. Dinas Tenaga Kerja
Pada tahun anggaran 2008 Dinas Tenaga Kerja Provinsi jawa Timur merealisasikan
pendapatan dari retribusi dana pembinaan, pelatihan, dan perlindungan TKI senilai
Rp6.852.639.900,00. Dari pemeriksaan dokumen penatausahaan penerimaan pendapatan yang
dilakukan diketahui bahwa penyetoran dana DP3TKI tidak disetorkan ke Kas Daerah setiap
hari, namun disetorkan tiap awal bulan berikutnya. Rincian tanggal penyetoran pada tahun
2008 terdapat dalam tabel berikut :

No. Uraian penyetoran Jumlah Setor
Tanggal
Setor
1. Penyetoran atas Penerimaan Bulan Januari 2008 Rp664.988.400 01/02/08
2. Penyetoran atas Penerimaan Bulan Februari 2008 Rp500.936.100 03/03/08
4. Penyetoran atas Penerimaan Bulan April 2008 Rp559.966.000 30/05/08
5. Penyetoran atas Penerimaan Bulan Mei 2008 Rp497.973.000 06/06/08
6. Penyetoran atas Penerimaan Bulan Juni 2008 Rp710.858.400 07/07/08
7. Penyetoran atas Penerimaan Bulan Juli 2008 Rp750.122.100 08/08/08
8. Penyetoran atas Penerimaan Bulan Agustus 2008 Rp615.471.600 09/09/08
9. Penyetoran atas Penerimaan Bulan September 2008 Rp519.088.500 10/10/08
10. Penyetoran atas Penerimaan Bulan Oktober 2008 Rp488.589.750 11/11/08
11. Penyetoran atas Penerimaan Bulan November 2008 Rp603.936.000 01/12/08
12. Penyetoran atas Penerimaan Bulan Desember 2008 Rp494.235.000 31/12/08

b. Biro Mental dan Spiritual
Sesuai dengan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur No.2 Tahun 2005 tentang
Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah Biro Mental berkewajiban untuk memungut retribusi
atas pemakaian kekayaan daerah yaitu berupa biaya atas persewaan gedung dan mess yang
berada di Islamic Center Surabaya. Retribusi yang dibayarkan pengguna jasa diterima oleh
bendahara yang ditunjuk sesuai dengan keputusan Gubernur No.14/KPTS/013/2008 tentang
Tim Pengelola Islamic Center Surabaya. Penerimaan tersebut dicatat dan digunakan untuk
kegiatan operasional bulanan Islamic Center. Penatausahaan kas bendahara penerimaan
dilakukan secara langsung tanpa menggunakan rekening bank. Penyetoran atas penerimaan
tersebut tidak dilakukan tiap hari. Rincian penyetoran terdapat dalam tabel berikut ini :



9

PERWAKILAN PROVINSI JAWA TIMUR



No. Uraian penyetoran Jumlah Setor
Tanggal
Setor
1. Penyetoran atas Penerimaan Bulan Januari 2008 Rp53.518.000 01/02/08
2. Penyetoran atas Penerimaan Bulan Februari 2008 Rp46.885.000 03/03/08
3. Penyetoran atas Penerimaan Bulan Maret 2008 Rp54.875.000 30/05/08
4. Penyetoran atas Penerimaan Bulan April 2008 Rp88.500.000 06/06/08
5. Penyetoran atas Penerimaan Bulan Mei 2008 Rp52.625.000 07/07/08
6. Penyetoran atas Penerimaan Bulan Juni 2008 Rp88.000.000 08/08/08
7. Penyetoran atas Penerimaan Bulan Juli 2008 Rp66.875.000 09/09/08
8. Penyetoran atas Penerimaan Bulan Agustus 2008 Rp107.697.500 10/10/08
9. Penyetoran atas Penerimaan Bulan September 2008 Rp68.250.000 11/11/08
10. Penyetoran atas Penerimaan Bulan Oktober 2008 Rp32.940.000 01/12/08
11.
Penyetoran atas penerimaan bulan November dan
Desember
Rp167.520.000
Disetorkan
pada tahun
2009

Atas penerimaan pendapatan Biro Mental dan Spiritual pada Bulan November dan
Desember yang disetorkan pada Bulan Januari 2009 menyebabkan pendapatan yang
seharusnya telah diterima pada tahun 2008 tidak dapat diakui sebagai penerimaan pendapatan
asli daerah pada tahun tersebut.
Kondisi tersebut tidak sesuai dengan:
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tanggal 14 Januari 2004 tentang Perbendaharaan
Negara, pada :
1) Pasal 16 ayat (2) menyebutkan bahwa penerimaan harus disetor seluruhnya ke Kas
Negara/Daerah pada waktunya yang selanjutnya diatur dalam peraturan pemerintah;
2) Pasal 27 ayat (3) menyebutkan bahwa rekening penerimaan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) digunakan untuk menampung penerimaan daerah setiap hari;
3) Pasal 27 ayat (4) menyebutkan bahwa saldo rekening penerimaan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) setiap akhir hari kerja wajib disetorkan seluruhnya ke
Rekening Kas Umum Daerah.
b. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tanggal 9 Desember 2005 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah, pada
1) Pasal 57 ayat (2) menyebutkan bahwa bendahara penerimaan wajib menyetor seluruh
penerimaannya ke Rekening Kas Umum Daerah selambat-lambatnya dalam waktu 1
(satu) hari kerja;
2) Pasal 111 ayat (4) menyebutkan bahwa saldo rekening penerimaan sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) setiap akhir hari kerja wajib disetorkan seluruhnya ke
rekening kas umum daerah.
c. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tanggal 16 Juli 2007 tentang Pengelolaan
Uang Negara/Daerah, pasal 27 ayat (3) menyebutkan bahwa semua pendapatan asli
daerah yang ditampung di rekening penerimaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
setiap hari disetor seluruhnya ke Rekening Kas Umum Daerah
10

PERWAKILAN PROVINSI JAWA TIMUR

d. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah, pada :
1) Pasal 122 ayat (4) menyebutkan bahwa penerimaan SKPD berupa uang atau cek
harus disetor ke rekening kas umum daerah paling lama 1 (satu) hari kerja;
2) Pasal 181 ayat (1) menyebutkan bahwa rekening penerimaan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 180 digunakan untuk menampung penerimaan daerah setiap hari;
3) Pasal 181 ayat (2) menyebutkan bahwa saldo rekening penerimaan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) setiap akhir hari kerja wajib disetorkan seluruhnya ke
Rekening Kas Umum Daerah.

Hal tersebut mengakibatkan:
a. Berpotensi terjadinya penyalahgunaan realisasi penerimaan daerah.
b. Pendapatan yang sebenarnya diterima tahun 2008 tidak bisa diakui pada tahun tersebut.

Permasalahan tersebut disebabkan:
a. Kepala Biro Mental dan Spiritual dan Kepala Dinas Tenaga Kerja tidak memperhatikan
ketentuan yang berlaku tentang tatausaha penerimaan daerah.
b. Bendahara penerimaan yang sengaja tidak menyetorkan pendapatan setiap hari

Atas permasalahan tersebut Kepala Biro Mental dan Spiritual dan Kepala Dinas
Tenaga Kerja berpendapat bahwa terhambatnya penyetoran selama ini karena terbatasnya
petugas keuangan dan selanjutnya akan ditambah satu orang tenaga pencatat dan penyetor.

BPK RI merekomendasikan kepada Gubernur Jawa Timur agar memerintahkan
Kepala Biro Mental Spiritual dan Kepala Dinas Tenaga Kerja untuk memperingatkan para
Bendahara Penerimaan untuk menyetorkan pendapatan yang diterima ke kas daerah sesuai
dengan ketentuan yang berlaku tentang tatausaha penerimaan daerah.

11

PERWAKILAN PROVINSI JAWA TIMUR

4. Penyetoran Penerimaan Sumbangan Pihak Ketiga Terlambat Disetor Ke Kas Daerah

Dinas Perhubungan Provinsi pada Tahun Anggaran 2008 menganggarkan
penerimaan sumbangan pihak ketiga sebesar Rp3.845.000.000,00 dan realisasi sebesar
Rp4.149.254.999,00. Sumbangan Pihak Ketiga tersebut diperoleh dari PT Pelabunan
Indonesia (Pelindo) III atas kegiatan Dermaga Untuk Kepentingan Sendiri (DUKS), Pas
Pelabuhan dan PT ASDP atas kegiatan Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan. Untuk
menampung penerimaan dari PT Pelindo III dan PT ASDP tersebut telah dibuka rekening di
Bank Jatim Cabang Utama Surabaya nomor 0011148633 atas nama Dinas Perhubungan.
Hasil pemeriksaan atas bukti bukti pendukung atas penerimaan sumbangan pihak
ketiga menunjukkan bahwa penerimaan mengalami keterlambatan antara 2 sampai dengan
26 hari dengan rincian sebagai berikut:

No Tanggal diterima Tanggal disetor
Nilai
(Rp)
Selisih
(hari)
1 07/01/2008 31/01/2008 89.611.081,00 23
2 26/02/2008 29/02/2008 278.246.055,00 2
3 25/03/2008 31/03/2008 73.964.171,00 5
4 03/04/2008 30/05/2008 355.180.099,00 26
5 30/05/2008 16/06/2008 72.771.310,00 16
6 17/06/2008 30/06/2008 28.705.195,00 12
7 14/07/2008 31/07/2008 350.525.617,00 16
8 10/09/2008 26/09/2008 531.762.055,00 15
9 16/10/2008 31/10/2008 57.990.960,00 14
10 21/11/2008 28/11/2008 389.952.934,00 6
11 19/12/2008 30/12/2008 271.514.386,00 10
12 30/12/2008 08/01/2009 150.869.149,00 8

Dari tabel di atas menggambarkan bahwa terjadi keterlambatan antara 2 sampai
dengan 26 hari atas penyetoran penerimaan, sedangkan untuk penerimaan tanggal 30
Desember 2008 baru disetorkan pada tanggal 8 Januari 2009 menunjukkan adanya
penerimaan sebesar Rp150.869.149,00 yang tidak dapat dilaporkan dalam LRA Tahun 2008.

Hal tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun
2006 tanggal 15 Mei 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah pada:
a. Pasal 4 ayat (1) yang menyatakan keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada
peraturan perundang-undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan bertanggung
jawab dengan memperhatikan azas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat;
b. Pasal 181 ayat (1) disebutkan bahwa untuk menampung penerimaan daerah dibuka
rekening atas nama SKPD, ayat (2) disebutkan bahwa Saldo rekening penerimaan
tersebut setiap akhir hari kerja wajib disetorkan seluruhnya ke rekeing kas umum daerah.



12

PERWAKILAN PROVINSI JAWA TIMUR

Kondisi tersebut mengakibatkan:
a. Tidak dapat segera memanfaatkan hasil penerimaan daerah untuk membiayai
pengeluaran;
b. Pendapatan yang sebenarnya diterima tahun 2008 tidak bisa diakui pada tahun tersebut.

Permasalahan tersebut disebabkan Bendahara Penerimaan tidak memperhatikan
ketentuan yang berlaku tentang tatausaha penerimaan daerah.

Atas permasalahan tersebut Sekretaris Dinas Perhubungan dan LLAJ Provinsi Jawa
Timur berpendapat bahwa untuk yang akan datang Bendahara Penerima akan segera
menyetorkan setiap penerimaan paling lambat keesokan harinya.

BPK RI merekomendasikan kepada Gubernur Jawa Timur agar memperingatkan
Bendahara Penerima Dinas Perhubungan untuk menyetorkan penerimaan dari sumbangan
pihak ketiga sesuai dengan ketentuan

Lampiran 1


Daftar Surat Pertanggungjawaban atas pelaksanaan pelantikan Panwaslu dibebankan pada Kegiatan
Hearing/Dialog dan Koordinasi dengan Pejabat Pemerintah dan Tokoh Masyarakat/Tokoh Agama.

No Urian No BKU TGL Nilai (Rp)
1
Pembayaran biaya perjalanan dinas Wk. ketua DPRD Jatim mengikuti
Kunjungan Kerja Pimp/Anggota Komisi A DPRD Jatim ke Komisi A DPRD
Prop DKI di Jakarta dalam rangka mencari masukan terangkaait
pembentukan Panwas Pemilu di prop Jatim tgl 21 s/d 23 Peb 2008 An.
Ya Widodo
19 03/03/2008 5.400.000,00
2
Rekap biaya perjalanan dinas 19 Org Pimp/Anggota Komisi A DPRD
Jatim ke KPU Pusat di Jakarta dalam rangka knslts terhdp pembentukan
Panwsalu Gub & Wagub Jatim th 2008 utk Kab Kota tgl 31 maret s/d 2
April 2008
447 16/04/2008 82.800.000,00
3
Rekap biaya perjalanan dinas Pimp/ Anggota Komisi a DPRD Jatim 14
Org Kunjungan Kerja ke Dirjend Bina Adm Keu Daerah Depdagri di
Jakarta dalam rangka knslts terhdp pendanaan Panwaslu Gub & Wagub
Jatim Th 2008 utk Tk Kab/Kota tgl 3 s/d 5 April 2008
401 15/04/2008 61.600.000,00
4
Pembayaran pengadaanaan hidangan sidang Prpurna pelaksanaantikan
Panwaslu Kepala Daerah tgl 28 Maret 2008 An. CV. Citra Aditya
513 17/04/2008 2.530.000,00
5
Rekap honor kepanitiaan tim teknis seleksi Panwas Pilgub & Wagub
Jatim Tk Kab/Kota di Kab Jember
569 27/05/2008 24.750.000,00
6
Rekap honor kepanitiaan tim teknis seleksi Panwas Pilgub & Wagub
Jatim Tk Kab/Kota di Kab Madiun
567 27/05/2008 12.650.000,00
7
Rekap biaya perjalanan dinas dalam Drh Prop Jatim bg 23 Org
karyawan/ti Set DPRD Jatim dalam rangka kegiatan Panwas Pilgub
bagian bln April & Mei 2008
602 28/05/2008 22.050.000,00
8
Rekap biaya perjalanan dinas dalam Drh Prop Jatim bg 24 Org
karyawan/ti Set DPRD Jatim dalam rangka kegiatan Panwas Pilgub
bagian bln April 2008
601 28/05/2008 27.900.000,00
9
Rekap biaya perjalanan dinas dalam Drh Prop Jatim bg 27 Org
karyawan/ti Set DPRD Jatim dalam rangka kegiatan Panwas Pilgub
bagian bln April 2008
600 28/05/2008 18.950.000,00
10
Rekap honor kepanitiaan tim teknis seleksi Panwas Pilgub & Wagub
Jatim Tk Kab/Kota di Kab Sumenep
563 27/05/2008 21.750.000,00
11
Rekap honor kepanitiaan tim teknis seleksi Panwas Pilgub & Wagub
Jatim Tk Kab/Kota di Kab Pasuruan
565 27/05/2008 19.500.000,00
12
Pembayaran honor pelaksanaaksana kegiatan Pengambil sumpah pd
acara pelaksanaantikan Anggota Panwas Pilgub Tk Kab/Kota & kec se
Jatim ( Suripto ( Surabaya )
530 27/05/2008 1.000.000,00
13
Pembayaran honor pelaksana kegiatan Pengukuh Sumpah pd acara
pelaksanaantikan Anggota Panwas Pilgub Tk Kab/Kota & Kec se Jatim
Amarullah ( Surabaya )
528 27/05/2008 500.000,00
14
Pembayaran honor pelaksana kegiatan Pembaca Do'a pd acara
Pelaksanaantikan Anggota Panwas Pilgub Tk Kab/Kota se Jatim An. Moh
Husin ( Surabaya 0
526 27/05/2008 500.000,00
15
Pembayaran honor pelaksanak kegiatan MC acara pelaksanaantikan
Anggota Panwas Pilgub Tk Kab/Kota & Kec Se Jatim ( Surabaya ) Erna
Aries
524 27/05/2008 500.000,00
16
Pembayaran honor pelaksanaaksana kegiatan pengambilan sumpah pd
acara pelaksanaantikan Anggota Panwas Pilgub Tk Kab/Kota & Kec se
Jatim ( Probolinggi ) An. Dwi Arsa Budi Santi Anto
518 27/05/2008 1.000.000,00
17
Rekap honor kepanitiaan Tim Teknis seleksi Calon Panwas Pilgub &
Wagub Jatim tk Kab/Kota di Kota Surabaya
522 27/05/2008 24.750.000,00
18
Rekap honor kepanitiaan Tim teknis seleksi calon panitia Panwas Pilgub
& Wagub Jatim Tk Kab/Kota di Kab mojokerto
549 27/05/2008 15.000.000,00
19
Rekap honor kepanitiaan Tim Teknis seleksi calon Panwas Pilgub &
Wagub Jatim Tk Kab/Kota di Kab Tulungagung
561 27/05/2008 15.750.000,00
20
Rekap honor keopanitiaan tim teknis seleksi calon Panwas Pilgub &
Wagub Jatim Tk Kab/Kota di Kab Blitar
559 27/05/2008 17.850.000,00
21
Rekap honor kepanitiaan tim teknis seleksi calon Panwas Pilgub &
Wagub Jatim Tk Kab/Kota di Kota madiun
551 27/05/2008 3.750.000,00
22
Pembayaran pemasangan iklan penerimaan Calon Anggota Panwas
Pilgub & Wagub tgl 4 April 2008 An. PT, Antar Surya jaya
282 19/05/2008 9.900.000,00
23
Pembayaran pemasangan iklan penerimaan calon Anggota Panwas Pilgu
& Wagub tgl 27 maret 2008 An. PT. Antar Surya Jaya
279 19/05/2008 9.900.000,00
24
rekap honor kepanitiaan tim teknis seleksi calon Panwas Pilgub & Wagub
Jatim Tk Kab/Kota di Kab Ngawi
625 28/05/2008 15.400.000,00
No Urian No BKU TGL Nilai (Rp)
25
Pembayaran pemasangan iklan penerimaan Calon Anggota Panwas
Pilgub & Wagub tgl 25 Maret 2008 An. PT. Antar Surya Jaya
262 16/05/2008 9.900.000,00
26
Rekap biaya perjalanan dinas 11 Org Pimp/Anggota Komisi A DPRD
Jatim Kunjungan Kerja dalam rangka memonitoring terhdp
penyelenggaraan seleksi Panwas Pilkada Gub Jatim di Tk Kab/Kota tgl 7
s/d 9 April 2008
34 07/05/2008 16.500.000,00
27
Rekap biaya perjalanan dinas 11 Org Pimp/Anggota Komisi A DPRD
Jatim Kunjungan Kerja ke DPRD Kab / Kota Masing-2 dalam rangka
menghdr Sidang Rapat Prpurna istimewa Pengambilan Sumpah Anggota
Panwas Pilgub Jatim tgl 24 s/d 26 April 2008
33 07/05/2008 16.500.000,00
28
Pembayaran honor narasumber dalam rangka mencari masukan tentang
persiapan & pelaksanaaksanaan pemilihan Panwaslu ke DPR RI di
Jakarta tgl 19 Maret 2008 An. M. Gholib
31 06/05/2008 2.000.000,00
29
Pembayaran honor narasumber dalam rangka mencari masukan tentang
persiapan & pelaksanaaksanaan pemilihan Panwaslu ke DPR RI di
Jakarta tgl 19 Maret 2008 An. M. Khoidin
25 06/05/2008 2.000.000,00
30
Pembayaran honor narasumber dalam rangka mencari masukan tentang
persiapan & pelaksanaaksanaan pemilihan Panwaslu ke DPR RI di
Jakarta tgl 19 Maret 2008 An. J. Subekti, SH, MM.
23 06/05/2008 2.000.000,00
31
Pembayaran honor pengukuh Sumpah pd acara pelaksanaantikan
Anggota Panwas Pilkada Gub & Wagub Jatim tgl 28 Maret 2008 An Drs.
Imam Shofwan, SH
21 05/05/2008 1.000.000,00
32
Pembayaran honor pembaca Do'a pd acara pelaksanaantikan Anggota
Panwas Pilkada Gub & Wagub Jatim tgl 28 Maret 2008 An. Hizbul Waton
19 05/05/2008 750.000,00
33
Pembayaran honor pembawa acara / MC pd acara pelaksanaantikan
Anggota Panwas Pilkada Gub & Wagub Jatim tgl 28 Maret 2008 An. Nur
Rintawati
17 05/05/2008 500.000,00
34
Pembayaran biaya bant honor tim Teknis Seleksi Anggota Panwas
Pilkada & Wakil Kepala daerah utk 45 Pns Set DPRD Jatim tgl 11 s/d 28
Maret 2008
15 05/05/2008 48.400.000,00
35
Pembayaran biaya bant honor tim teknis seleksi Anggota Panwaslu
Pilkada & Wakil Kepala Daerah utk 16 Non Pns Set DPRD Jatim tgl 11
s/d 28 Maret 2008
13 05/05/2008 11.200.000,00
36
Pembayaran honor narasumber dalam rangka mencari masukan tentang
persiapan & pelaksanaaksanaan pemilihan Panwaslu ke DPR RI di
Jakarta tgl 19 Maret 2008 An. Suparto Wijoyo
27 06/05/2008 2.000.000,00
37
Pembayaran honor narasumber / tng ahli dalam rangka seleksi &
pembentukan Anggota Panwaslu Daerah 2 An. Gholib
11 05/05/2008 2.500.000,00
38
Pembayaran bant trnsprt bg protokol Kajati dalam rangka menghdr R
Prpurna DPRD Jatim dan Acara Pelaksanaantikan Anggota Panwaslu tgl
28 Maret 2008 An. Andi
9 05/05/2008 150.000,00
39
Pembayaran bant trnsprt bg Protokol Kajati dalam rangka menghdr R
Prpurna DPRD Jatim dan Acara pelaksanaantikan Anggota Panwaslu tgl
28 Maret 2008 An. David HS
7 05/05/2008 150.000,00
40
Pembayaran honor narasumber dalam rangka mencari masukan tentang
persiapan & pelaksanaaksanaan pemilihan Panwaslu ke DPR RI di
Jakarta tgl 19 Maret 2008 An. Prasetijo Rayadi
29 06/05/2008 2.000.000,00
41
Pembayaran honor narasumber/tng ahli dalam rangka seleksi &
pembentukan Anggota Panwas di daerah-2 An. Suparto Wijoyo
156 14/05/2008 2.500.000,00
42
Pembayaran honor narasumber/tng ahli dalam rangka seleksi &
pembentukan Anggota Panwas di daerah-2 An. Andi Irawan
154 14/05/2008 2.500.000,00
43
Pembayaran honor narasumber/tng ahli dalam rangka seleksi &
pembentukan Anggota Panwas di daerah-2 An. M. Khoidin
152 14/05/2008 2.500.000,00
44
Pembayaran honor narasumber/tng ahli dalam rangka seleksi &
pembentukan Anggota Panwas di daerah-2 An.J. Subekti
150 14/05/2008 2.500.000,00
45
Pembayaran honor narasumber/tng ahli dalam rangka seleksi &
pembentukan Anggota Panwas di daerah-2 An. I Komang Wiarsa
148 14/05/2008 2.500.000,00
46
Rekap biaya perjalanan dinas dalam drh prop Jatim 17 Org karyawan/ti
Set DPRD Jatim mengikuti kegiatan Anggota DPRD Jatim dalam rangka
pembentukan Panwas Pilgub bln April s/d Mei 2008
203 15/05/2008 21.300.000,00
47
Pembayaran peng ATK utk Seleksi Anggota Panwas Pilgub & Wagub
Jatim CV. Setunggal tunggal
773 29/05/2008 6.737.500,00
48
Rekap honor kepanitiaan tim teknis seleksi Calon Panwas Pilgub &
Wagub Jatim tk Kab/Kota di Kota Kediri
763 29/05/2008 3.750.000,00
49
Rekap honor kepanitiaan tim teknis seleksi Calon Panwas Pilgub &
Wagub Jatim tk Kab/Kota di Kota Blitar
761 29/05/2008 3.750.000,00
50
Rekap honor kepanitiaan tim teknis seleksi Panwas Pilgub & Wagub
Jatim Tk Kab/Kota di kab Sampang
693 28/05/2008 11.900.000,00
51
rekap honor Pengukuh sumpah pd kepanitiaan Tim teknis seleksi calon
Panwas Pilgub & Wagub Jatim Tk Kab Kota th 2008
799 29/05/2008 15.999.500,00
52
rekap honor Pembaca Do'a pd kepanitiaan Tim teknis seleksi calon
Panwas Pilgub & Wagub Jatim Tk Kab Kota th 2008
795 29/05/2008 16.000.000,00
No Urian No BKU TGL Nilai (Rp)
53
rekap honor pengambhilan sumpah pd kepanitiaan Tim teknis seleksi
calon Panwas Pilgub & Wagub Jatim Tk Kab Kota th 2008
793 29/05/2008 32.000.000,00
54
Rekap honor kepanitiaan Tim teknis seleksi calon Panwas Pilgub &
Wagub Jatim Tk Kab/Kota di Kab pamekasan
785 29/05/2008 11.000.000,00
55
Rekap honor kepanitiaan Tim teknis seleksi calon Panwas Pilgub &
Wagub Jatim Tk Kab/Kota di Kab Ponorogo
783 29/05/2008 17.250.000,00
56
rekap honor Pembawa Acara / MC pd kepanitiaan Tim teknis seleksi
calon Panwas Pilgub & Wagub Jatim Tk Kab Kota th 2008
797 29/05/2008 16.000.000,00
57
Rekap honor kepanitiaan tim teknis seleksi calon Panwas Pilgub dan
Wagub Jatim tk Kab/Kota di kab Gresik
713 29/05/2008 15.000.000,00
58
Rekap honor kepanitiaan tim teknis seleksi calon Panwas Pilgub dan
Wagub Jatim tk Kab/Kota di kab Lamongan
711 29/05/2008 21.750.000,00
59
Rekap honor kepanitiaan tim teknis seleksi calon Panwas Pilgub dan
Wagub Jatim tk Kab/Kota di kab Tuban
709 29/05/2008 16.500.000,00
60
Rekap honor kepanitiaan tim teknis seleksi calon Panwas Pilgub dan
Wagub Jatim tk Kab/Kota di kab pacitan
707 29/05/2008 10.500.000,00
61
Rekap honor kepanitiaan tim teknis seleksi Panwas Pilgub & Wagub
Jatim Tk Kab/Kota di kab Nganjuk
699 28/05/2008 16.500.000,00
62
Rekap honor kepanitiaan tim teknis seleksi Panwas Pilgub & Wagub
Jatim Tk Kab/Kota di kab Bangkalan
697 28/05/2008 15.000.000,00
63
Rekap honor kepanitiaan tim teknis seleksi Panwas Pilgub & Wagub
Jatim Tk Kab/Kota di kab Bojonegoro
695 28/05/2008 21.750.000,00
64
Rekap honor kepanitiaan Tim teknis seleksi calon Panwas Pilgub &
Wagub Jatim Tk Kab/Kota di Kab Sidoarjo
745 29/05/2008 15.000.000,00
65
Rekap honor kepanitiaan Tim teknis seleksi calon Panwas Pilgub &
Wagub Jatim Tk Kab/Kota di Kab Malang
743 29/05/2008 26.250.000,00
66
Rekap honor kepanitiaan Tim teknis seleksi calon Panwas Pilgub &
Wagub Jatim Tk Kab/Kota di Kab Kediri
741 29/05/2008 21.000.000,00
67
Rekap honor kepanitiaan Tim teknis seleksi calon Panwas Pilgub &
Wagub Jatim Tk Kab/Kota di Kota batu
739 29/05/2008 3.750.000,00
68
Rekap honor kepanitiaan Tim teknis seleksi calon Panwas Pilgub &
Wagub Jatim Tk Kab/Kota di Kab Situbondo
737 29/05/2008 14.000.000,00
69
Rekap honor kepanitiaan tim teknis calon Panwas Pilgub & Wagub Jatim
tk Kab/Kota di Kab Banyuwangi
816 29/05/2008 19.500.000,00
70
Rekap honor kepanitiaan tim teknis calon Panwas Pilgub & Wagub Jatim
tk Kab/Kota di Kab Trenggalek
814 29/05/2008 11.900.000,00
71
Rekap honor kepanitiaan tim teknis calon Panwas Pilgub & Wagub Jatim
tk Kab/Kota di Kota Probolinggo
812 29/05/2008 5.150.000,00
72
Pembayaran honor pelaksana kegiatan Pembc Do'a pd acara
pelaksanaantikan Anggota Panwas Pilgub Tk Kab/Kota se Jatim An. Drs.
Sholeh Fikri ( Probolinggo )
513 27/05/2008 500.000,00
73
Pembayaran honor pelaksana kegiatan MC pd acara pelaksanaantikan
Anggota Panwas Pilgub tk Kab/Kota & Kec se Jatim An. Heri Mulyadi (
Probolinggo )
511 27/05/2008 500.000,00
74
Pembayaran honor pelaksanaaksana kegiatan pengukuh sumpah pd
acara pelaksanaantikan Anggota Panwas Pilgub Tk Kab/Kota & Kec se
Jatim An. Syamsul Huda (Probolinggo )
509 27/05/2008 500.000,00
75
Rekap hn kepanitiaan Tim teknis seleksi calon Panwas Pilgub & Wagub
Jatim Tk Kab/Kota di Kab Magetan
680 28/05/2008 15.000.000,00
76
Rekap hn kepanitiaan Tim teknis seleksi calon Panwas Pilgub & Wagub
Jatim Tk Kab/Kota di Kota Pasuruan
678 28/05/2008 3.750.000,00
77
Rekap hn kepanitiaan Tim teknis seleksi calon Panwas Pilgub & Wagub
Jatim Tk Kab/Kota di Kota Mojokerto
676 28/05/2008 3.000.000,00
78
Rekap honor kepanitiaan tim teknis seleksi calon Panwas Pilgub &
Wagub Jatim Tk Kab / Kota Kab Probolinggo
507 27/05/2008 19.500.000,00
79
Pembayaran biaya publiks melalui siaran radio dalam rangka seleksi pil
tim Panwas Pilgub & wagub Jatim th 2008 Tk Kota 7 Kec. probolinggo tgl
4 s/d 13 April 2008
339 10/06/2008 1.000.000,00
80
Pembayaran pembelian ATK dalam rangka seleksi pemilihan tim Panwas
Pilgub & Wagub Tk Kota & Kec. probolinggo tgl 6, 8, 16 April 2008
338 10/06/2008 750.000,00
81
Pembayaran biaya foto copy dalam rangka pil tim Panwas Gub & Wagub
Jatim tk Kec Kota Probolinggo tgl 13 s/ d 19 April 2008
340 10/06/2008 510.000,00
82
Pembayaran peng hidangan utk acara pendaftaran & seleksi calon
Panwaskab & Panwascam se Kab Malang th 2008 CV. Dharma Utama
391 12/06/2008 3.657.500,00
83
Pembayaran nasi & snack acara gladi bersih pelaksanaantikan Panwas
Kab & Panwascam Pilgub / Wagub
496 16/06/2008 2.750.000,00
84
Pembayaran konsumsi pd plksnn test tulis Panwascam &
pelaksanaaksanaan pelaksanaantikan Panwaskab dalam rangkaian
kegiatan Pilgub & wagub Jatim th 2008 An. Hj. R. Aryati Soetomo
466 16/06/2008 4.455.000,00
85
Pembayaran pengadaanaan ATK dalam rangka seleksi &
pelaksanaantikan Anggota Panwas Kab Tuban & Panwascam se Kab
Tuban Th 2008 CV Syukur
493 16/06/2008 2.249.995,00
No Urian No BKU TGL Nilai (Rp)
86
Pembayaran pengadaanaan ATK dalam rangka seleksi Anggota Panwas
Pilgub & Wagub Jatim Tk Kab/Kec di Kab Banyuwangi th 2008 CV.
Srikandi Putra
434 13/06/2008 2.640.000,00
87
Pembayaran opengadaanaan hidangan mamin dalam rangka seleksi
Anggota Panwas Pilgub & wagub Jatim tk Kab/Kec di kab banyuwangi
UD Putra Bengawan
441 13/06/2008 2.492.600,00
88
Pembayaran biaya publikasi dalam rangka seleksi Anggota Panwas
Pilgub Jatim Tk Kab/Kec di Kab banyuwangi th 2008
437 13/06/2008 1.000.000,00
89
Pembayaran biaya foto copy / penggandaan dalam rangka seleksi &
pelaksanaantikan Panwas Pilgub & Wagub Jatim th 2008 Tk Kab & Kec
UD Sarjono
438 13/06/2008 3.120.341,00
90
Pembayaran foto copy formulir pendaftaran Panwas Kab & Panwascam
dalam rangka Pilgub Th 2008 CV Nur Hidanganayah
460 13/06/2008 1.899.700,00
91 Pembayaran iklan pengumuman pendaftaran Panwas 346 10/06/2008 500.000,00
92 Pembayaran iklan pengumuman hasil seleksi Panwas 347 10/06/2008 500.000,00
93 Pembayaran iklan Panwas Cam 348 10/06/2008 500.000,00
94
Pembayaran biaya publikasi dalam rangka pengumuman hasil kelulusan
adm Anggota Panwas Pilgub & Wagub Jatim tk Kab./Kec di kab
Banyuwangi Th 2008
444 13/06/2008 1.000.000,00
95
Pembayaran peng ATK dalam rangka seleksi & pelaksanaantikan
Panwas Pilgub & Wagub Th 2008 Tk Kec/Kab CV. Senyumindo
Mediatama
448 13/06/2008 3.346.663,00
96
Pembayaran pengadaanaan hidangan mamin dalam rangka seleksi
Anggota Panwas Pilgub & Wagub Jatim Tk Kab/Kec di Kab banyuwangi
Th 2008 CV. Srikandi putra
428 13/06/2008 4.988.500,00
97
Pembayaran peng foto copy seleksi Anggota Panwas Pilgub & Wagub
Jatim Tk Kab/Kec di Kab banyuwangi Th 2008 CV. Srikandi Putra
431 13/06/2008 2.499.200,00
98
Pembayaran peng hidangan utk acara pelaksanaantikan Panwaskab &
Panwascam se Jatim Th 2008 CV. Dharma Utama
399 12/06/2008 4.961.000,00
99
Pembayaran peng mamin harian Pan seleksi penerimaan Anggota
Panwas Pil Gub & Wagub Jatim utk Tk Kab & Kec di kab Magetan tgl 6
s/d 19 April 2008 CV. Sari Ayu katering
402 12/06/2008 2.810.500,00
100
Pembayaran foto copy formulir pendaftaran calon Panwas Cam &
Panwas Kab sebanyak 6.667 Lbr
73 03/06/2008 1.000.000,00
101
Pembiayaran siaran langsung pelaksanaantikan Anggota Panwas Pilgub
& Wagub Tk Kota & kec
80 03/06/2008 500.000,00
102
Pembayaran publikasi dalam rangka pengumuman penerimaan calon
Anggota Panwas Pilgub & Wagub Jatim tk Kec di RANGKAPD Magetan
tgl 10 s/d 16 April 2008
54 03/06/2008 750.000,00
103
Pembayaran publikasi dalam rangka pengumuman seleksi yg lulus adm
calon Anggota Panwas Pilgub & Wagub Jatim utk Tk Kec di RANGKAPD
magetan tgl 17 April 2008
55 03/06/2008 100.000,00
104
Pembayaran publikasi dalam rangka pengumuman hasil ujian tulis calon
Anggota Panwas Pilgub & Wagub Jatim utk Tk Kec di RANGKAPD
Magetan tgl 19 April 2008
56 03/06/2008 100.000,00
105
Pembayaran publikasi dalam rangka kegiatan seleksi penerimaan calon
Anggota Panwas Pilgub & wagub utk Tk Kec di RANGKAPD Magetan
57 03/06/2008 1.000.000,00
106
Pembayaran publikasi dalam rangka pengumuman hasil ujian tulis dan
karya ilmiah calon Anggota Panwas Pilgub & Wagub Jatim utk Tk Kab di
RANGKAPD Magetan tgl 11 April 2008
52 31/01/2008 100.000,00
107
Pembayaran foto copy formulir pendaftaran calon Panwas Cam &
Panwas Kab 8.000 lbr
72 03/06/2008 1.000.000,00
108
Pembayaran publikasi dalam rangka pengumuman seleksi yg lulus Adm
Calon Anggota Panwas Pilgub & Wagub Jatim utk Tk Kab di RANGKAPD
magetan tgl 9 April 2008
51 03/06/2008 100.000,00
109
Pembayaran pembuatan & pemasangan spanduk Set Panwas Pilgub &
Wagub Jatim Tk Kota Blitar th 2008
74 03/06/2008 200.000,00
110
Pembayaran pembuatan & pemasangan 1 bh spanduk seleksi Panwas
Pilgub & Wagub Jatim Tk Kota & Kec se Kota Blitar
75 03/06/2008 200.000,00
111
Pembayaran foto dokumentasi seleksi & pelaksanaantikan Panwas
Pilgub & Wagub Jatim Tk Kota & kec se Kota Blitar
76 03/06/2008 300.000,00
112
Pembayaran foto copy utk seleksi & pelaksanaantikan Anggota Panwas
Kota / Kec se Kota Blitar Th 2008
77 03/06/2008 400.000,00
113
Pembayaran pembelian ATK utk seleksi & pelaksanaantikan Anggota
Panwas Kota & Kec se Kota Blitar Th 2008
78 03/06/2008 550.000,00
114
Pembayaran publikasi dalam rangka seleksi penerimaan calon Anggota
Panwas Pilgub & Wagub Jatim utk tk Kab di RANGKAPD magetan
58 03/06/2008 1.000.000,00
115
Pembayaran pengadaanaan ATK acara penjaringan Panwas Pilgub
Jatim Th 2008 Tk Kab & Kec se Kab Sampang
145 04/06/2008 998.000,00
No Urian No BKU TGL Nilai (Rp)
116
Pembayaran biaya pek pengadaanaanaan ATK utk kegiatan seleksi
Panwas Pilgub & Wagub Jatim Tk Kab / Kec se Kab pasuruan th 2008 -
2013 An. CV. Putra Anugrah
23 02/06/2008 2.649.000,00
117
Pembayaran publikasi dalam rangka pengumuman hasil ujian tulis, karya
ilmiah & Fit and Propertes thdp calon Anggota Panwas Pilgub & Wagub
Jatim utk tk Kab di RANGKAPD magetan tgl 16 April 2008
53 03/06/2008 100.000,00
118
Pembayaran penyiaran penerimaan s/d pelaksanaantikan Anggota
Panwas Pilgub & Wagub Tk Kota & kec
81 03/06/2008 500.000,00
119
Pembayaran pengumuman proses Seleksi Panwas Gub & Wagub Jatim (
Madura/Pamekasan )
31 02/06/2008 800.000,00
120
Pembayaran biaya pengumuman pendaftaran, pengumuman seleksi
Adm, pengumuman lulus tes tulis, pengumuman lulus seleksi Anggota
Panwas Pilgub & Wagub Jatim Tk Kec se Kab Pamekasan Th 2008 di
Stasiun Radio Ralita FM
32 02/06/2008 600.000,00
121
Pembayaran biaya pengumuman pendaftaran , pengumuman seleksi
Adm, pengumuman lulus tes tulis, pengumuman Fit and Propertest,
pengumuman lulus selsksi Anggota Panwas Pilgub & Wagub Jatim Tk
Kab Pamekasan th 2008 di Stasiun Radio Ralita FM
33 02/06/2008 600.000,00
122
Pembayaran pembelian mamin utk kegiatan seleksi Anggota Panwas
Kec se Kota Blitar Th 2008
34 02/06/2008 999.500,00
123
Pembayaran publikasi dalam rangka pengumuman penerimaan calon
Anggota Panwas Pilgub & Wagub Jatim Tk Kab di RANGKAPD magetan
tgl 3 s/d 8 April 2008
50 03/06/2008 750.000,00
124
Pembayaran biaya foto copy utk seleksi & pelaksanaantikan Anggota
Panwas Kab/Kota & Kec se Jatim th 2008
138 04/06/2008 400.000,00
125
Pembayaran pembuatan spanduk papan pelaksanaantikan &
pengumuman sumpah Anggota Panwas Pilgub & Wagub Jati Tk Kota &
kec se Kota Blitar
79 03/06/2008 300.000,00
126
Pembayaran pengadaanaan ATK dalam rangka seleksi &
pelaksanaantikan Anggota Panwas Kab/Kota se Jatim th 2008
139 04/06/2008 548.950,00
127
Pembayaran pesanan konsumsi utk acara seleksi Anggota Panwas
Pilgub & Wagub Tk Kota madiun & Kec th 2008 UD Cokro
140 04/06/2008 4.823.500,00
128
Pembayaran foto copy / penggandaan materi kegiatan seleksi Panwas
kec/Kab/Pasuruan
107 04/06/2008 2.497.000,00
129
Pembayaran siaran / pengumuman penerimaan calon Anggota Panwas
Kota & hasil tes Anggota Panwas Kota pasuruan tgl 4 s/d 11 April 2008
82 03/06/2008 1.000.000,00
130
Pembayaran Siaran / pengumuman penerimaan calon Anggota
Panwascam & hasil seleksi panwascam tgl 12 s/d 18 Apr 2008
83 03/06/2008 1.000.000,00
131
Pembayaran hidangan makanan minum snack & nasi kotak Panwas
Pilgub th 2008 CV. Nur Hidanganayah
104 04/06/2008 4.070.000,00
132
Pembayaran pembelian 2 Spanduk utk kegiatan pengumuman
pendaftaran Panwas Pilgub & wagub Jatim tk Kec Bangkalan
37 02/06/2008 400.000,00
133
Pembayaran biaya soanduk pengumuman persyaratan Anggota Panwas
Pilgub Jatim Tk Kab/Kec se Kab Pasuruan utk 60 X 6.00 Mtr An. Putra
Anugrah
20 02/06/2008 1.993.200,00
134
Pembayaran biaya jasa catering ( mamin & Snack ) utk kegiatan
pelaksanaantikan Panwas Tk kec Pilgub & Wagub Jatim Th 2008 di Kota
Pasuruan se Kab Pasuruan tgl 15 April 18 An. CV Putra Anugrah
17 02/06/2008 2.970.000,00
135
Pembayaran pembelian mamin utk kegiatan seleksi Anggota Panwas
Kota Blitar Th 2008
36 02/06/2008 803.500,00
136
Pembayaran foto copy 4.100 Lbr utk kegiatan pelaksanaantikan & Adm
Akhir Panwas Tk Kab & Kec dalam Pilgub & Wagub Jatim (Bangkalan)
38 02/06/2008 410.000,00
137
Pembayaran pembelian ATK utk kegiatan pendaftaran Panwas Pilkada &
Wakil Prop Jatim Tk Kab Bangkalan
39 02/06/2008 945.000,00
138 Pembayaran iklan Panwas 40 02/06/2008 100.000,00
139 Pembayaran pengumuman hasil pendaftaran Panwascam 43 02/06/2008 100.000,00
140
Pembayaran hidangan mamin snack & nasi kotak Panwas Pilgub &
Wagub th 2008 CV. Nur Hidanganayah
101 04/06/2008 2.612.500,00
141
Pembayaran pembelian mamin utk kegiatan seleksi Anggota Panwas
Kota Blitar Th 2008
35 02/06/2008 675.000,00
142
Pembayaran 45 Dos Kue @ Rp 7.500,- utk Fit and Propertest calon
Anggota Panwas Pilgub Tk Kab
9 02/06/2008 337.500,00
143
Pembayaran 12 Dos Kue @ Rp 7.500,- utk pembentukan pembantu Pan
Seleksi Calon Panwas Pilgub 2008 Tk Kab/Kota Surabaya
3 02/06/2008 90.000,00
144
Pembayaran pemblian ATK utk kegiatan Recruitmen Panwas Pilgub /
Wagub Prop Jatim An. CV. Fadilah
4 02/06/2008 2.128.720,00
145 Pembayaran Js Foto copy Dok seleksi Panwas Pilgub Jatim Th 2008 47 03/06/2008 400.000,00
146
Pembayaran 45 Nasi Gudeg @ Rp 16.000,- utk Fit and Propertest calon
Anggota Panwas Pilgub Tk Kab
10 02/06/2008 720.000,00
No Urian No BKU TGL Nilai (Rp)
147
Pembayaran makan utk tes tulis bg peserta Panwas cam 30 Dos campur
@ Rp 16.000,-
11 02/06/2008 480.000,00
148
Pembayaran 100 Dos Kue @ Rp. 7.500,- utk tes tulis bg peserta
Panwascam
12 02/06/2008 750.000,00
149
Pembayaran 100 Dos Kue @ Rp. 7.200,- utk pengambilan sumpah
panwas Pilgub & Wagub Jatim tk Kota & Kec se Kota Surabaya
13 02/06/2008 720.000,00
150
Pembayaran biaya jasa catering ( mamin & Snack ) utk kegiatan
pelaksanaantikan Panwas Tk kec Pilgub & Wagub Jatim Th 2008 di Kota
Pasuruan se Kab Pasuruan tgl 21 April 2008 An. Putra Anugrah
14 02/06/2008 4.455.000,00
151 Pembayaran Promo pengumuman Panwas Tk Kec 44 02/06/2008 100.000,00
152
Pembayaran foto copy dalam rangka penerimaan Anggota Panwas Kota
& Panwascam Kota Pasuruan
84 03/06/2008 400.000,00
153
Pembayaran iklan penguman penerimaan Calon Panwas Pilgub Tk
Kab/Kota ( Batu )
48 03/06/2008 1.000.000,00
154
Pembayaran iklan pengumuman penerimaan Calon Panwas Pilgub Tk
Kec ( Kota Batu )
49 03/06/2008 1.000.000,00
155
Pembayaran biaya foto copy berangkaas-2 kelengkapan seleksi
penerimaan Anggota Panwas Pilgub & Wagub Prop Jatim utk Tk Kab &
Kec di kab magetan
59 03/06/2008 567.500,00
156
Pembayaran ATK utk acara penerimaan Anggota Panwas Kota &
Panwascam kota Pasuruan
85 03/06/2008 550.000,00
157
Pembayaran pengadaanaan mamin acara pelaksanaantikan Panwas
Pilgub th 2008 Tk Kab & Kec se Kab Sampang
146 04/06/2008 4.989.600,00
158
Pembayaran foto copy 6.750 Lbr utk semua kelengkapan pendaftaran
panwas Tk Kab dalam rangka Pilgub & wagub Jatim ( bangkalan )
65 03/06/2008 675.000,00
159
Pembayaran foto copy 8.150 Lbr utk semua kelengkapan pendaftaran
Panwas Tk Kec dalam rangka Pilkada & Wagub Jatim
66 03/06/2008 815.000,00
160
Pembayaran 10 Spanduk & pemasangannya dalam rangka Rekruitmen
Panwas Pilgub & Wagub Jatim Kab Ngawi
69 03/06/2008 1.000.000,00
161
Pembayaran 10 Spanduk & pemasangannya dalam rangka Rekruitmen
Panwas Pilgub & Wagub Jatim Kab Ngawi
70 03/06/2008 1.000.000,00
162
Pembayaran pengadaanaan hidangan kegiatan pengambilan sumpah
calon Anggota Panwas Pilgub & Wagub utk Tk Kab/Kota & Kec di Kota
Mojokerto tgl 21 April 2008 CV. Lysa
161 05/06/2008 4.620.000,00
163
Pembayaran biaya siaran berita & wawancara tentang penerimaan
Panwas Pilgub Jatim Tk Kec Sampang
150 04/06/2008 970.000,00
164
Pembayaran biaya foto copy berangkaas penjaringan Panwas Pilgub
Jatim th 2008 Tk Kab & Kec se Kab Sampang
152 04/06/2008 997.500,00
165
Pembayaran pembelian mamin pelaksanaaksanaan seleksi Panwas
Pilgub Jatim
157 05/06/2008 700.000,00
166
Pembayaran biaya iklan pengumuman Panwas Pilgub Jatim Kab
Sampang Tk Kec di Media Radar Madura
151 04/06/2008 990.000,00
167
Pembayaran biaya konsumsi berupa nasi kotak / Dos & snack utk
kegiatan seleksi tes tulis Panwas Kab Sampang
149 04/06/2008 989.000,00
168
Pembayaran nasi kotak acara pelaksanaantikan Panwas Kab / Cam
Pilgub/Wagub Jatim CV. Rizqi Catering
165 05/06/2008 4.125.000,00
169
Pembayaran peng hidangan / konsumsi kegiatan seleksi calon Panwas
Kab Pacitan & Panwascam se Kab Pacitan Pilgub & Wagub Prop Jatim
2008
887 25/06/2008 1.672.000,00
170
Pembayaran pembuatan spanduk utk seleksi Panwas Pilgub & Wagub
Th 2008 Tk Kab, Kec ( jember )
830 24/06/2008 1.000.000,00
171
Rekap biaya publikasi penerimaan Anggota Panwaskab & panwascam
Pilgub & Wagub Jatim Th 2008 Kab. Tuban
757 23/06/2008 1.280.000,00
172
rekap biaya publikasi penerimaan Anggota Panwas Kab & Panwascam
Pilgub & wagub Jatim Th 2008 Kab. tuban
749 20/06/2008 720.000,00
173
rekap biaya bant honor plksn pemilihan Panwas Tk Kab/Kota sampai Tk
Kec pertanggung jawaban & pelaksanaaporan adm utk 44 PNS Set
DPRD Jatim tgl 1 s/d 4 Mei 2008
789 23/06/2008 54.600.000,00
174
Rekap biaya bant honor pelaksanaaksanaan pemilihan Panwas Tk
Kab/Kota sampai Tk Kec, pertanggung jawaban & pelaksanaaporan Adm
utk 16 Non PNS Set DPRD Jatim tgl 1 s/d 4 Mei 2008
798 23/06/2008 12.800.000,00
175
Pembayaran biaya penyiaran pendaftaran Panwas Pilgub & hasil
Copertes th 2008 Tk Kab/Kota Se Kab Pacitan
1003 30/06/2008 335.000,00
176
Pembayaran publikasi penerimaan calon Anggota Panwas Pil Gub &
Wagub Th 2008 Tk Kota mojokerto
1008 30/06/2008 900.000,00
177
Pembayaran pembuatan spanduk utk pelaksanaantikan Anggota Panwas
Kota & Kec Th 2008 di Kota Mojokerto
1010 30/06/2008 300.000,00
178
Pembayaran publikasi penerimaan calon Anggota Panwas Pil Gub &
Wagub Th 2008 Tk Kota mojokerto Tk. Kec. Kota Mojokerto
1009 30/06/2008 800.000,00
179
Pembayaran foto copy dalam rangka kegiatan seleksi &
pelaksanaantikan Anggota Panwas kab/Kota & Kec Se Jatim Th 2008
1015 30/06/2008 300.000,00
No Urian No BKU TGL Nilai (Rp)
Kota Mojokerto
180
Pembayaran biaya publikasi penerimaan Anggota Panwaskab
Panwascam Pilgub & Wagub Jatim Th 2008 Kab. Trenggalek
995 30/06/2008 604.000,00
181
Pembayaran pengadaanaan ATK dalam rangka seleksi &
pelaksanaantikan Anggota Panwas Kab/Kota & Kec se Jatim Th 2008 di
Kota mojokerto
1021 30/06/2008 450.000,00
182
Pembiayaran biaya penyiaran pendaftaran hasil seleksi Panwas Pilgub
Tk Kab / Kota Tk Cam th 2008
1002 30/06/2008 595.000,00
183
Pembayaran iklan pengumuman penerimaan Calon Anggota Panwaskab
Tk Kab Malang tgl 4 - 14 April 2008
992 30/06/2008 1.000.000,00
184
Pembayaran iklan pengumuman pendaftaran Calon Anggota Panwasgub
Tk Kec. Kab. Malang tgl 13 - 19 April 2008
993 30/06/2008 1.000.000,00
185
Rekap biaya publikasi penerimaan Anggota Panwaskab & Panwascam
Pilgub 7 Wagub Jatim Th 2008 Kab. Tulungagung
922 26/06/2008 2.000.000,00
186
Pembayaran biaya penyiaran pendaftaran Panwas Pilgub & hasil
Copertes th 2008 Tk Kab/Kota Se Kab Pacitan
1004 30/06/2008 530.000,00
187
Pembayaran pengumuman pendaftaran seleksi Panwas Pilgub & Wagub
Jatim Th 2008 Tk Kab & Kec Jember
895 25/06/2008 150.000,00
188 Pembayaran biaya penyiaran pendaftaran Panwas pilgub 1001 30/06/2008 540.000,00
189
Pembayaran konsumsi kegiatan pelaksanaaksanaan test tulis
Panwaskab dalam rangkaaian kegiatan Pilgub & Wagub Jatim (
Bangkalan)
646 19/06/2008 250.000,00
190
Pembayaran biaya pembuatan spanduk dalam rangka pengumuman
pendaftaran Panwas Pilgub & wagub Jatim Th 2008 Tk Kab / Kota (
Trenggalek )
650 19/06/2008 725.000,00
191
Pembayaran biaya pembuatan spanduk dalam rangka pengumuman
pendaftaran Panwas Pilgub & Wagub Jatim Th 2008 Tk Kec ( Trenggalek
)
651 19/06/2008 650.000,00
192
Pembayaran biaya publikasi dalam rangka seleksi Panwas Pilgub &
Wagub Jatim Th 2008 Tk Kab/Kota & Kec
652 19/06/2008 604.000,00
193
Pembayaran peng ATK dalam rangka seleksi pelaksanaantikan Anggota
Panwas Kab / Kota & Kec se Jatim Th 2008 ( trenggalek )
653 19/06/2008 998.000,00
194
Pembayaran konsumsi kegiatan pendaftaran Panwaskab selama 3 hari
tgl 6 s/d 8 April 2008 dalam rangkaian kegiatan Pilgub & Wagub Jatim
504 16/06/2008 600.000,00
195
Pembayaran spanduk pengumuman Panwas Kab/Kec Lamongan Pilgub
& Wagub Tahun 2008 CV. Kharisma Abadi
478 16/06/2008 1.980.000,00
196
Pembayaran kurir dalam rangka penyampaian pengumuman pendaftaran
calon Panwascam Pilgub & Wagub Prop Jatim Tk Kec se Kab Tuban
743 20/06/2008 205.000,00
197
Pembayaran ATK kegiatan seleksi calon Panwas Lamongan CV.
Kharisma Abadi
696 19/06/2008 2.948.550,00
198
Pembayaran pengadaanaan ATK utk mendukung kegiatan seleksi
penerimaan Anggota Panwas Pilkada & Wakil Pilkada Prop Jatim utk Tk
Kab & Kec di Kab Magetan
707 19/06/2008 2.030.270,00
199
Pembayaran peng mamin utk kegiatan Gladi bersih tgl 20 April 2008 &
snack dalam rangka kegiatan pengambilan sumpah Janji Anggota
Panwas Pilgub Tk Kab & Kec tgl 21 April 2008 CV. Eka catering
710 19/06/2008 3.920.125,00
200
Pembayaran konsumsi kegiatan pendaftaran Panwascam selama 2 hari
tgl 14 s/d 16 April 2008 dalam rangka kegiatan pilgub & Wagub Jatim (
Bangkalan )
634 19/06/2008 600.000,00
201
Pembayaran ATK dalam rangka seleksi & pelaksanaantikan Anggota
Panwaskab / Kota & Kec se Jatim Th 2008
638 19/06/2008 652.000,00
202
Pembayaran biaya kurir dalam rangka penyampaian pengumuman hasil
test peserta calon Panwaskab Pilgub & Wagub Jatim Tk Kab. Tuban
694 19/06/2008 205.000,00
203
Pembayaran biaya kurir dalam rangka penyampaian pengumuman hasil
test peserta calon Panwaskab Pilgub & Wagub Jatim Tk Kab. Tuban
695 19/06/2008 205.000,00
204
Pembayaran biaya makan siang peserta Rapat Prpurna Istimewa dalam
rangka pelaksanaantikan Panwas Pilgub & Wagub Jatim Th 2008 Tk
Kab/Kota & Kec CV. hardoko
713 20/06/2008 3.300.000,00
205
Pembayaran hidangan kue - kue dalam rangka pelaksanaaksanaan
seleksi Adm & tulis serta pelaksanaaksanaan pelaksanaantikan Panwas
Pilgub & Wagub Th 2008 Tk Kab / Kota & Kec An. Parlin Siahaan/Toko
Indah
716 20/06/2008 2.831.400,00
206
Pembayaran biaya kurir dalam rangka penyamaian pengumuman
pendaftaran calon Panwascam Pilgub 7 wagub Jatim Tk Kec se Kab
Tuban
664 19/06/2008 205.000,00
207 Pembayaran pengumuman pendaftaran Panwascam 42 02/06/2008 100.000,00
208
Pembayaran pembelian spanduk utk kegiatan pengumuman pendaftaran
Panwas Pilkada & Wkil Prop Jatim Tk Kab
45 03/06/2008 200.000,00
209
Pembayaran ATK kegiatan seleksi calon Panwas Kab Pacitan pilgub &
Wagub Jatim 2008
5 02/07/2008 1.268.850,00
No Urian No BKU TGL Nilai (Rp)
210
Pembayaran publikasi Media Elektronik acara Seleksi Panwas Pilgub &
Wagub Jatim Tk. Kab. & Kec. Wil Kab. Sumenep Th. 2008
282 14/08/2008 750.000,00
211
Pembayaran publikasi Media Elektronik acara Seleksi Panwas Pilgub &
Wagub Jatim Tk. Kab. & Kec. Wil Kab. Sumenep Th. 2008
283 14/08/2008 750.000,00
212
Pembayaran ATK Utk Kegiatan seleksi Panwas Kec/Kab Mojokerto CV.
Creisida
261 14/08/2008 2.032.700,00
213
Pembayaran spanduk pengumuman penerimaan Calon Anggota Panwas
Pilgub & Wagub 2008 Tk kec dr kab. Blitar CV. Ega jaya
257 13/08/2008 1.980.000,00
214
Pembayaran peng hidangan kegiatan seleksi Calon Anggota Panwas
pilgub & wagub Jatim Kab. Mojokerto tgl 6 s/d 10 April 2008 An. CV.
Alvindo
232 13/08/2008 3.960.000,00
215
Pembayaran pengadaanaan ATK dalam rangka pelaksanaantikan
Anggota Panwas Kab, Kec. se Jatim th 2008 Situbondo
320 15/08/2008 1.950.000,00
216
Pembayaran mamin dalam rangka kegiatan pemilihan / pelaksanaantikan
Panwas Kab, Kec se Jatim Th 2008 Situbondo An. CV. Karya Tehnika
317 15/08/2008 2.800.000,00
217
Pembayaran peng hidangan acara pelaksanaantikan Panwas Pilgub &
Wagub TK. Kab. & Kec. dalam wil Kab Sumenep Th 2008 CV. Investama
289 14/08/2008 4.372.500,00
218
Pembayaran ATK Set DPRD Jatim dalam rangka Panwas Kab
Pamekasan Tgl 5 April 2008
310 15/08/2008 900.000,00
219
Pembayaran biaya peng hidangan makan & minum acara Seleksi
Panwas Pilgub & Wagub Jatim Tk Kab. & Kec. dalam wil Kab. Sumenep
Th 2008 CV. Sakinah
286 14/08/2008 3.465.000,00
220
Pembayaran peng hidangan calon Anggota Panwas Pilkada Prop Jatim
Kab. Blitar tgl 21 April 2008 CV. Alvindo
247 13/08/2008 4.812.500,00
221
Pembayaran ATK utk penerimaan Anggota Panwas Pilgub & Wagub
Jatim 2008 Tk Kab & Kec. Kab. Blitar
244 13/08/2008 1.563.650,00
222
Pembayaran pengadaanaan hidangan calon Anggota Panwas Pilgub &
Wagub Jatim Kab. Blitar tgl 10, 13, 18, 20 April 2008 CV. Alvindo
222 12/08/2008 2.117.500,00
223
Pembayaran peng hidangan kegiatan pengambilan sumpah calon
Anggota Panwas Pilgub & Wagub Jatim di kab. Mojokerto tgl 21 April
2008 CV. Alvindo
219 12/08/2008 2.772.000,00
224
Pembayaran biaya pengadaanaanaan ATK acara seleksi Panwas Pilgub
& Wagub Jatim Tk. Kab, Kec. dalam wil Kab. Sumenep Th 2008 An. CV.
Prasmanan
216 12/08/2008 1.752.850,00
225
Pembayaran iklan pengumuman Panwascam Pilgub Jatim Kab.
probolinggo An. Jawa Pos Radar Bromo
657 28/08/2008 1.000.000,00
226
Pembayaran iklan pengumuman Panwaskab Pilgub Jatim Probolinggo
An. Jawa Pos Radar Bromo
659 28/08/2008 1.000.000,00
227
Pembayaran biaya siar ( publikasi ) dalam rangka seleksi Panwas Pilgub
Jatim th 2008 Tk Kab & Kec Situbondo
619 27/08/2008 750.000,00
228
Pembayaran foto copy dalam rangka pelaksanaaksanaan seleksi
Panwas Pilgub & Wagub Th 2008
276 11/09/2008 475.000,00
229
Pembayaran foto copy formulir pendaftaran Panwaskab/Panwascam
dalam rangka seleksi Anggota Panwaskab/Panwascam se Jatim Th 2008
256 11/09/2008 3.399.090,00
230
Pembayaran biaya foto copy Pil calon Panwas Pilgub & Wagub utk Tk
kab/Kota & Kec di Kab probolinggo
319 12/09/2008 2.499.750,00
231
Pembayaran biaya foto copy ktr kegiatan seleksi calon Panwas Kab &
Panwas Cam Pilgub & Wagub Jatim
316 12/09/2008 2.200.000,00
232
Pembayaran biaya foto copy Adm seleksi Panwas Pilgub & Wagub Jatim
Tk Kab. & Kec. wil Kab Sumenep Th 2008
313 12/09/2008 1.815.000,00
233
Pembayaran peng hidangan dalam rangka pengambilan sumpah calon
Anggota Panwas Pilgub Kab & Kec Kab. Sidoarjo tgl 21 April 2008
195 09/09/2008 4.053.500,00
234
Pembayaran peng hidangan dalam rangka penerimaan calon Anggota
Panwas Pilgub Kab & Kec Kab. Sidoarjo
192 09/09/2008 2.696.100,00
235
Pembayaran pembelian Mamin dalam rangka pelaksanaantikan Anggota
Panwas Pilgub & Wagub Tk. Kota & kec se Kota Blitar tgl 21 April 2008
163 08/09/2008 2.397.000,00
236
Rekap 4 Kwtns biaya foto copy utk kegiatan seleksi Anggota Panwas Kab
& Panwascam Pilgub & Wagub Jatim Th 2008 Kab. Tulungagung
247 11/09/2008 2.000.000,00
237 Pembayaran foto copy kegiatan Calon Panwas Kab/Kec Lamongan 261 11/09/2008 2.799.940,00
238
Pembayaran foto copy berangkaas calon Anggota Panwas Tk Kota /Kec
Kab. Blitar
272 11/09/2008 1.993.750,00
239
Pembayaran biaya foto copy dalam rangka seleksi & pelaksanaantikan
Anggota Panwaskab Tuban & Penwas Kec se kab. Tuban
269 11/09/2008 2.099.900,00
240
Pembayaran hidangan mamin dalam rangka seleksi calon
Panwaskab/Panwascam Pilgub / Wagub Jatim Th 2008 Tuban
135 08/09/2008 4.988.500,00
241
Pembayaran snack ( mamin ) dalam rangka seleksi Calon
Panwaskab/Panwascam Pilgub & Wagub Jatim th 2008 ( Tuban )
132 08/09/2008 2.002.000,00
242
Pembayaran pemuatan iklan pengumuman hasil sekesi Calon Panwas
Pilgub & Wagub Jatim tanggal 19 April 2008 Kab. Nganjuk
3 02/09/2008 1.000.000,00
243
Pembayaran iklan pengumuman Panwas Pilgub di Radar Kediri muat
tanggal 13 April 2008
2 02/09/2008 1.000.000,00
No Urian No BKU TGL Nilai (Rp)
244
Pembayaran 225 nasi kotak @ Rp. 18.000,- utk pengambilan Sumpah
Panitia Panwas Pilgub & Wagub Jatim Tk Kota & Tk Kec. se Kota
Surabaya
181 09/09/2008 4.455.000,00
245
Pembayaran biaya peng hidangan acara seleksi Pengawas Kab &
panwascam Pilgub & Wagub Jatim th 2008 wil Kab Ponorogo
178 09/09/2008 2.934.800,00
246
Pembayaran peng hidangan acara pelaksanaantikan Panwas kab &
Panwascam Pilgub & wagub Jatim wil Kab. ponorogo
172 08/09/2008 4.125.000,00
247
Pembayaran peng hidangan / konsumsi kegiatan seleksi calon Panwas
kab. pacitan & Panwascam di Kab. Pacitan
169 08/09/2008 4.180.000,00
248
Pembayaran peng hidangan pengambilan Sumpah calon Anggota
Panwas Pilgub & Wagub Jatim utk TK Kab/Kota & Kec di Kab.
Probolinggo tgl 21 April 2008
155 08/09/2008 4.812.500,00
249
Pembayaran biaya penggantian foto copy Panwas di kab. Pamekasan tgl
11 April 2008
245 10/09/2008 650.000,00
250
Pembayaran biaya penggantian foto copy Panwas di kab. Pamekasan tgl
5 April 2008
244 10/09/2008 750.000,00
251 Pembayaran foto copy utk kegiatan seleksi Panwas Kec/Kab. Mojokerto 241 10/09/2008 1.897.000,00
252
Pembayaran foto copy dalam rangka pelaksana kegiatan seleksi
Panwas Pilgub & Wagub Jatim Th 2008
240 10/09/2008 273.000,00
253
Pembayaran foto copy utk kegiatan Panwas Pilgub & wagub Jatim Tk
Kota / Kec se Kota Surabaya
239 10/09/2008 987.000,00
254
Pembayaran biaya jasa catering ( prasmanan ) utk Kegiatan seleksi calon
Panwas Pilgub & Wagub Jatim Tk. Kab. & Kec di Kab. Pamekasan th
2008
205 09/09/2008 3.795.000,00
255
Pembayaran pembelian ATK utk seleksi Balon Anggota Panwas Pilgub &
Wagub Jatim Tk Kab & Kec di Kab. Tulungagung
210 09/09/2008 2.128.500,00
256
Pembayaran peng ATK pemilihan calon Anggota Panwas Pilkada &
Wakil Kepala daerah Jatim utk Tk. Kab/Kota & Kec di Kab. Probolinggo
UD. Semangat
60 04/09/2008 2.645.500,00
257
Pembayaran peng hidangan pemilihan calon Anggota Panwas Pilkada &
Wakil Kepala daerah Prop Jatim utk Tk Kab/Kota & Kec di Kab.
Probolinggo tgl 6 s/d 19 April 2008
147 08/09/2008 2.618.000,00
258
Pembayaran biaya ATK Ktr Kegiatan Seleksi Calon Panwas Kab &
Panwascam Pilgub & Wagub Jatim
141 08/09/2008 2.333.518,00
259
Pembayaran pembelian hidangan dalam rangka seleksi pemilihan Tim
Panwas Gub & Wagub Tk Kota & Kec Kota probolinggo tgl 6 - 21 april
2008
286 15/10/2008 4.950.000,00
260
Pembayaran mamin utk acara penerimaan Anggota Panwas Kota &
Panwascam Kota Pasuruan
283 15/10/2008 4.691.500,00
261
Pembayaran peng hidangan calon Anggota Panwas Pilkada Prop Jatim
Kab. jember 21 April 2008
280 15/10/2008 3.856.875,00
262
Pembayaran pembelian Mamin utk kegiatan penjaringan calon Panwaslu
Gub Tk Kab di kab. Nganjuk
243 14/10/2008 2.722.500,00
263
Pembayaran peng hidangan calon Anggota Panwas Pilkada Kab. Jember
21 April 2008
246 14/10/2008 4.511.100,00
264
Pembayaran pembelian mamin utk kegiatan penjaringan calon Panwaslu
Gub Jatim Tk Kec di Kab Nganjuk
345 17/10/2008 4.290.000,00
265
Pembayaran peng ATK dalam rangka seleksi & pelaksanaantikan
Anggota Panwas Kab/Kota & Kec se Jatim Th 2008
383 17/10/2008 3.549.150,00
266
Pembayaran pembelian ATK utk Kegiatan penjaringan calon Panwaslu
Gub Jatim Tk Kab & Tk Kec se kab Nganjuk
380 17/10/2008 2.249.500,00
267
Pembayaran penggandaan materi utk kegiatan penjaringan calon
Panwaslu Gub Jatim Tk Kab & Tk kec di Kab Nganjuk
369 17/10/2008 2.100.000,00
268
Pembayaran peng hidangan kegiatan seleksi calon Anggota Panwas
Pilkada Jatim di Kab. Madiun tgl 6, 7, 8, 9, 10, 14, 15, 16, 17, 18 April
2008 CV. Alvindo
696 27/11/2008 3.902.250,00
269
Pembayaran peng hidangan pengambilan sumpah calon Anggota
Panwas Pilkada Jatim Kab. Madiun tgl 21 April 2008 CV. Alvindo
693 27/11/2008 2.392.500,00
270
Pembayaran spanduk pengumuman calon Anggota Panwas Tk Kab/Kec
di madiun
1743 30/12/2008 2.541.000,00
271
Pembayaran foto copy/penggandaan berangkaas penerimaan calon
Anggota Panwas Kab/Kec di madiun
1740 30/12/2008 2.575.100,00
272
Pembayaran peng ATK dalam rangka seleksi & pelaksanaantikan
Anggota Panwas kab/Kec di Madiun
1746 30/12/2008 2.533.850,00
273
Pembayaran pemasangan iklan penerimaan calon Anggota Panwas
Pilgub & Wagub dimuat tgl 22 maret 2008
556 11/12/2008 9.900.000,00
274
Pembayaran biaya pembuatan spanduk dalam rangka pelaksanaantikan
Panwas Pilgub Jatim Th 2008
318 05/12/2008 280.000,00
275
Pembayaran pengumuman seleksi penerimaan Calon Panwas Kec.
Sidoarjo
316 05/12/2008 1.000.000,00
No Urian No BKU TGL Nilai (Rp)
276 Pembayaran pengumuman seleksi penerimaan Panwas Kec. Sidoarjo 317 05/12/2008 1.000.000,00
277
Pembayaran pemasangan iklan penerimaan calon Anggota Panwas
Pilgub & Wagub dimuat tgl 22 Maret 2008
598 12/12/2008 7.920.000,00
278
Pembayaran ATK dalam rangka seleksi & pelaksanaantikan Anggota
Panwas Kab/Kota & Kec. di Sidoarjo
1313 23/12/2008 1.953.160,00
279 Pembayaran hidangan Panwas Pilgub Jatim tgl 8 April 2008 3954 31/12/2008 288.000,00
280 Pembayaran hidangan Panwas Pilgub Jatim tgl 16 April 2008 3953 31/12/2008 288.000,00
281 Pembayaran hidangan Panwas Pilgub Jatim tgl 8 April 2008 3955 31/12/2008 120.000,00
282 Pembayaran hidangan Panwas Pilgub Jatim tgl 7 April 2008 3956 31/12/2008 120.000,00
283 Pembayaran hidangan Panwas Pilgub Jatim tgl 14 April 2008 3957 31/12/2008 480.000,00
284 Pembayaran hidangan Panwas Pilgub Jatim tgl 10 April 2008 3950 31/12/2008 240.000,00
285
Pembayaran ATK kegiatan calon Panwas Kab & Kec Pilgub Jatim di Kab.
Kediri
3941 31/12/2008 2.723.050,00
286 Pembayaran hidangan Panwas Pilgub Jatim tgl 16 April 2008 3945 31/12/2008 120.000,00
287 Pembayaran hidangan Panwas Pilgub Jatim tgl 15 April 2008 3946 31/12/2008 120.000,00
288 Pembayaran hidangan Panwas Pilgub Jatim tgl 6 April 2008 3947 31/12/2008 120.000,00
289 Pembayaran hidangan Panwas Pilgub Jatim tgl 20 April 2008 3949 31/12/2008 900.000,00
290 Pembayaran hidangan Panwas Pilgub Jatim tgl 10 April 2008 3951 31/12/2008 200.000,00
291 Pembayaran hidangan Panwas Pilgub Jatim tgl 18 April 2008 3952 31/12/2008 990.000,00
292 Pembayaran hidangan Panwas Pilgub Jatim tgl 18 April 2008 3948 31/12/2008 168.000,00
293
Pembayaran biaya spanduk kegiatan Calon Panwas Kab/Kec Pilgub
Jatim di Kab. Kediri
3859 31/12/2008 1.980.000,00
294
Pembayaran peng hidangan acara Rapat Prpurna Istimewa
pelaksanaantikan calon Anggota Panwas Pilgub tgl 21 April 2008
3862 31/12/2008 2.365.000,00
295
Pembayaran biaya foto copy kegiatan Calon Panwas Kab/Kec Pilgub
Jatim Kab. Kediri.
3856 31/12/2008 2.557.500,00
296
Rekap biaya perjalanan dinas 19 Org Pimp/Anggota Komisi A DPRD
Jatim ke Komisi A DPRD Jabar di Bandung dalam rangka mencari
masukan terangkaait pembentukan Panwaslu di Prop Jatim tgl 12 s/d 14
Peb 2008
278 15/02/2008 82.800.000,00
297
Pembayaran biaya perjalanan dinas Pimp/Anggota Komisi A DPRD Jatim
ke Komisi A DPRD Jabar di Bandung dalam rangka mencari masukan
terkait pembentukan Panwaslu di Prop Jatim tgl 12 s/d 14 Peb 2008 An.
YA Widodo
284 15/02/2008 5.400.000,00
298
Rekap biaya perjalanan dinas 18 Org Pimp/Anggota Komisi A DPRD
Jatim ke Komisi A DPRD DKI Jakarta dalam rangka mencari masukan
terangkaait pembentukan Panwaslu di Prop Jatim tgl 21 s/d 23 Peb 2008
424 25/02/2008 78.400.000,00
Jumlah 1.571.948.247,00