Anda di halaman 1dari 29

1

PEMERIKSAAN MOTORIK

Telah dikemukakan bahwa : sindrom motor neuron mempunyai gejala :
Pemeriksaan sistim motorik sebaiknya dilakukan dengan urutan urutan tertentu
untuk menjamin kelengkapan dan ketelitian pemeriksaan.
1. Inspeksi :
Pada inspeksi diperhatikan sikap, bentuk, ukuran dan adanya gerak abnormal
yang tidak dapat dikendalikan.
Sikap
Perhatikan sikap secara keseluruhan dan sikap tiap bagian tubuh. Bagaimana
sikap pasien waktu berdiri, duduk, berbaring, bergerak dan berjalan.
Jika pasien berdiri perhatikan sikap dan posisi badannya, baik secara
keseluruhan maupun sebagian.
- Pasien gangguan serebelum berdiri dengan muka membelok ke arah
kontralateral terhadap lesi, bahunya pada sisi lesi agak lebih rendah
dan badannya miring ke sisi lesi.
- Penderita penyakit parkinson berdiri dengan kepala dan leher
dibungkukkan ke depan, lengan dan tungkai berada dalam fleksi. Bila ia
jalan, tampaknya seolah-olah hendak jatuh ke depan; gerakan
asosiatifnya terganggu, lengan kurang dilenggangkan dan terlihat tremor
kasar, terutama ditangan.
- Anak dengan distrofia muskulorum progesiva terlihat lordosis yang
jelas, bila ia berjalan panggul seolah-olah berputar dengan maksud agar
berat badan berpindah ke tungkai yang sedang bertumpu.
- Penderita hemiparese oleh gangguan sistem piramidal lengan berada
dalam sikap fleksi sedangkan tungkai dalam ekstensi. Bila ia berjalan
tungkai membuat gerak sirkumdiksi.
- Pada pasien dengan paraparese jenis sentral cara berjalannya seperti
gunting yaitu seolah-olah menyilang
- Penderita gangguan di serebelum berjalan dengan kaki mengangkang
2

- Penderita tabes dorsalis berjalan dengan kaki mengangkang, selalu
melihat kebawah memperhatikan kaki dan jalannya, sebab bila tidak ia
akan jatuh.
- Pasien polineuritis berjalan seperti ayam yaitu tungkai difleksikan
tinggi-tinggi pada persendian lutut supaya dapat mengangkat kakinya
yang kurang mampu melakukan dorsofleksi.
Bentuk
Perhatikan adanya deformitas.
Ukuran :
Perhatikan apakah panjang bagian tubuh sebelah kiri sama dengan yang
kanan. Orang dewasa yang mengalami lumpuh sejak masa kanak-kanak,
ukuran ekstremitas yang lumpuh lebih pendek daripada yang sehat. Kemudian
perhatikan besar (isi) kontur (bentuk) otot atrofi atau hipertrofi. Pada atrofi
besar otot berkurang dan bentuknya berubah. Kelumpuhan jenis perifer
disertai oleh hipotrofi atau atrofi.
Perhatikan besarnya otot bandingkan dengan otot sisi lainnya. Bila dicurigai
adanya atrofi, ukurlah kelilingnya. Pengukuran dilakukan dengan
menyebutkan tempat dimana dilakukan pengukuran. Biasanya digunakan
tonjolan tulang sebagai patokan. Misalnya 3 cm diatas olekranon atau patella
atau tonjolan lainnya.
Perhatikan pula bentuk otot, hal ini dilakukan dalam keadaan otot
beristirahat dan sewaktu berkontraksi. Bila didapatkan atrofi, kontur biasanya
berubah atau berkurang. Pada keadaan pseudo-hipertrofi ,ukuran otot tampak
lebih besar, namun tenaganya berkurang, ini disebabkan karena jaringan otot
diganti oleh jaringan lemak atau jaringan ikat. Hal ini di dapatkan pada
distrofia muskulorum progresiva , dan terjadi diotot betis dan gluteus.

Gerakan abnormal yang tidak terkendali :
Gerakan abnormal merupakan kotraksi otot-otot volunter yang tidak
terkendali. Gerakan abnormal timbul karena terlibatnya berbagai bagian
sistem motorik, misalnya : korteks, serabut yang turun dari korteks, ganglia
basal, batang otak dan pusat-pusatnya, serebelum dan hubungan-
3

hubungannya, medula spinalis, serabut saraf perifer atau ototnya sendiri. Sifat
gerakan dipengaruhi oleh letak lesi dan keadaan patologiknya.
Pada pemeriksaan gerakan abnormal harus mengobservasi penampilan
klinisnya dan manifestasi visualnya, menganalisa pola gerakan dan
melukiskan komponen-komponennya.
- Tremor adalah serentetan gerakan involunter, agak ritmis merupakan
getaran yang timbul karena berkontraksinya otot-otot yang berlawanan
secara bergantian. Dapat melibatkan satu atau lebih bagian tubuh.
Tremor Fisiologis : didapatkan bila anggota gerak ditempatkan
pada posisi yang sulit,atau bila melakukan gerakan volunter dengan
sangat lambat. Tremor yang terlihat pada orang normal yang sedang
marah atau ketakutan.
Tremor Halus : disebut juga sebagai tremor toksik. Contoh yang
khas ialah tremor yang dijumpai pada hipertiroidi. Terutama terjadi
pada jari dan tangan. Untuk memperjelasnya tempatkan kertas diatas
jari-jari dan tampaklah kertas tersebut bergetar walaupun tremor
belum jelas terlihat. Tremor ini didapatkan juga pada keracunan
nikotin, kafein, obat-obatan seperti adrenalin, efedrin atau barbiturat.
Tremor Kasar : ini merupakan tremor yang lambat, kasar dan
majemuk. Pada penyakit parkinson, gerakan jari-jari mirip gerakan
menghitung duit atau membuat pil (pill rolling tremor). Tremor
Intensi adalah tremor yang timbul waktu melakukan gerakan
volunter dan menjadi lebih nyata ketika gerakan hampir mencapai
tujuannya, dapat dijumpai pada gangguan di serebelum, tremor
menjadi lebih nyata pada saat telunjuk hampir mencapai hidung.
- Khorea : gerakan berlangsung cepat, sekonyong-konyong, aritmik dan
kasar khas terlihat pada anggota gerak atas (lengan dan tangan) terutama
bagian distal. Bila pasien meluruskan lengan dan tangan didapatkan
hiperekstensi pada falang proksimal dan terminal dan pergelangan
tangan berada dalam fleksi dengan sedikit dipronasikan, jelas terlihat
ketika lengan diangkat keatas jari-jari tangan akan direnggangkan,ibu
jari abduksi dan terarah kebawah.
4

Bila pasien menggenggam pemeriksa, genggaman tidak konstan (tidak
tetap) berfluktuasi, terasa melemah kemudian menguat lagi dan
seterusnya. Bila melibatkan lidah maka didapat kerusakan bicara atau
mengunyah, bila mengeluarkan lidah mendadak dan ditarik kembali.
Khorea akan hilang bila penderitanya tidur. Gerakan khorea dijumpai
pada : penyakit khorea Sydenham, khorea Hutington, khorea
Gravidarum.
- Atetose : ditandai dengan gerakan yang lebih lamban seperti gerak ular
dan melibatkan otot bagian distal namun cenderung menyebar ke
proksimal. Dapat dijumpai pada penyakit yang melibatkan ganglia
basal.
- Distonia : bila terjadi kerusakan besar pada susunan ekstrapiramidal
yang melibatkan beberapa komponen ganglia basal,didapatkan gejala
yang kompleks. Distonia dimulai dengan gerak oot berbentuk atetose
pada lengan atau anggota gerak lain, kemudian gerak otot bentuk atetose
ini menjadi kompleks, menunjukan torsi yang keras dan berbelit. Gerak
otot abnormal ini dapat sebabkan skoliosis, pes ekuinovarus, pes
valgus dan kontraktur.
- Balismus : ialah gerak otot yang datang sekonyong-konyong, kasar dan
cepat dan terutama mengenai otot-otot skelet yang letaknya proksimal.
- Spasme : merupakan gerak abnormal yang terjadi karena kontraksi otot-
otot yang biasanya disarafi oleh satu saraf. Spasme klonik mulai
sekonyong-konyong, berlangsung sebentar dan dapat berulang-ulang.
Spasme tonik dapat berlangsung lama dan terus menerus. Spasme
dapat timbul karena iritasi saraf perifer atau otot , tetapi juga dapat
timbul karena iritasi mulai dari korteks sampai keserabut otot. Contoh :
trismus (spasme tonik otot pengunyah), rhisus sardonikus (spasme tonik
otot fasial) dan hiccup
- Tic : merupakan suatu gerakan yang terkoordinirberulang dan
melibatkan sekelompok otot dalam hubungan yang sinergistik.
- Fasikulasi : merupakan gerakan halus cepat dan berkedut dari satu
berkas (fasikulus) serabut otot atau satu unit motorik, satu unit motorik
5

adalah satu sel neuron motorik, aksonnya serta semua serabut otot yang
disarafinya. Fasikulasi dapat dibuat lebih nyata dengan jalan memberi
rangsang mekanis pada otot tersebut (misal : pukulan). Fasikulasi pada
orang normal tidak disertai dengan atrofi, miokimia adalah fenomena
serupa yang dapat menyebabkan kontraksi spasmodik m.orbikularis
okuli, m.levator palpebra superior atau otot wajah lainnya. Hal ini
keadaan benigna dan dicetuskan oleh kelelahan atau kecemasan.
- Miokloni : ialah gerakan yang timbul karena kontraksi otot secara cepat,
sekonyong-konyong, sebentar, aritmik,asinergik dan tidak terkendali.
Didapat pada otot-otot ekstremitas dan badan, sering difus dan meluas
melibatkan otot muka,rahang, lidah,faring dan laring, timbul secara
paroksismal pada waktu yang tidak tentu. Bila mengenai seluruh otot
atau sekelompok otot gerakannya dapat kuat sehingga mengakibatkan
gerakan klonik pada ekstremitas, sehingga satu anggota gerak seolah-
olah terlempar dengan tiba-tiba atau dapat sebabkan penderita tercampak
jatuh.
2. Palpasi otot
o Pengukuran besar otot
o Nyeri tekan
o Kontraktur
o Konsistensi
Konsistensi otot yang meningkat terdapat pada:
- Spasmus otot akibat iritasi radix saraf spinalis, misal: meningitis,
HNP
- Kelumpuhan jenis UMN (spastisitas)
- Gangguan UMN ekstrapiramidal (rigiditas)
- Kontraktur otot
Konsistensi otot yang menurun terdapat pada:
- Kelumpuhan jenis LMN akibat denervasi otot
- Kelumpuhan jenis LMN akibat lesi di motor end plate

3. Pemeriksaan gerakan pasif
6

Penderita mengistirahatkan ekstremitasnya. Bagian ekstremitas digerakkan
pada persendiannya, gerakan dibuat bervariasi, mula-mula cepat kemudian
lambat, cepat lebih lambat dan seterusnya, kita nilai tahanannya dan bandingkan
bagian-bagian yang simetris.
Normalnya : tidak menemukan tahanan yang berarti. Anak-anak tidak mampu
mengistirahatkan ekstremitasnya dengan baik.
Lesi traktus piramidal didapatkan tahanan pada satu jurusan saja, misal :
tungkai sulit difleksikan tetapi mudah diekstensikan.
Gangguan ekstrapiramidal : tahanan yang sama kuatnya (rigiditas) kadang
dijumpai tahanan hilang timbul (fenomena cogwheel).

4. Pemeriksaan gerakan aktif
Pada pemeriksaan ini dinilai kekuatan (kontraksi) otot, untuk memeriksa
adanya kelumpuhan menggunakan 2 cara berikut :
1. Pasien disuruh menggerakan bagian ekstremitas atau badannya dan
kita menahan gerakan ini.
2. Pemeriksa menggerakan bagian ekstremitas atau badan pasien dan
ia suruh menahan.
Untuk membedakan parese (lumpuh) ringan dengan tidak ada parese :
1. Keluhan pasien (mungkin ia mengemukakan tenaganya berkurang)
2. Otot dibagian yang simetris tidak sama tenaganya
3. Berkurangnya kelancaran gerak. Parese ringan kadang ditandai oleh
menurunnya kelancaran gerakan.
4. Didapatkan gejala lain, misal : arefleksi, atrofi, hiperefleksi dan refleks
patologis.
Cara menilai kekuatan otot:
0 : Tidak didapatkan sedikitpun kontraksi otot, lumpuh total
1 : Terdapat sedikit kontraksi otot, namun tidak didapatkan gerakan pada
persendiaan yang harus digerakkan oleh otot tersebut
2 : Didapatkan gerakan,tetapi gerakan ini tidak mampu melawan gaya berat
(gravitasi)
3 : Dapat mengadakan gerakan melawan gaya berat
7

4 : Disamping dapat melawan gaya berat ia dapat pula mengatasi sedikit
tahanan yang diberikan
5 : Tidak ada kelumpuhan (normal)

Kepala
- Sikap Kepala :
Paralisis agitans (Sindrom Parkinson) : kepala ditekukkan kedepan
Meningitis : penderita berbaring dengan kepala dikedikkan ke
belakang
Gangguan di serebelum : kepala terotasi sedikit kearah kontralateral
dari lesi.
- Tahanan jika kepala digerakan pasif
Radang selaput otak : kaku kuduk
Tortikolis dan spondilitis servikal : terdapat tahanan
- Gerakan aktif : pasien disuruh menekukkan kepala kedepan, ke
belakang, ke samping kiri dan kanan serta melakukan gerakan rotasi.
Pemeriksa nilai tenaga dan bandingkan gerkan kekiri dan kekanan.

Anggota gerak atas
- Apakah ada atrofi otot tenar, hipotenar dan otot intrinsik tangan
- Gerakan jari-jari : bagaimana tenaga fleksi, ekstensi, abduksi dan adduksi
- Tenaga menggenggam : pasien menggenggam jari pemeriksa dan
pemeriksa menarik lepas jari tersebut.
- Gerakan dipergelangan : tenaga gerakan pronasi dan supinasi
- Fleksi dan ekstensi persendian siku
- Gerakan persendian bahu : pasien menggerakan lengan yang diekstensi
pada bidang frontal dan sagital, melakukan rotasi pada persendian bahu.
Gerakan bahu keatas, kebawah, depan dan kebelakang.
- Periksa otot pektoralis mayor, latisimus dorsi, seratus magnus, deltoid,
biseps dan triseps.
Badan
- Erektor spina
8

Bila pasien sedang berdiri, suruh ia mengambil suatu barang dilantai.
Bila :
- M. erektor spina lemah sukar berdiri kembali, ini dilakukannya
dengan bantuan tangannya yaitu menempatkan tangannya pada
lutut, paha dan kemudian mendorongnya sampai ia dapat berdiri
lagi, kadang ada lordosis.
- Otot dinding perut
Pasien sedang berbaring mengangkat kepalanya, perhatikan peranjakan
dari pusar. Normalnya : pusar beranjak kearah otot yang sehat. Pasie
disuruh batuk maka otot yang lemah akan membonjol. Perhatikan
apakah pasien dapat duduk dari sikap berbaring tanpa bantuan tangannya
(otot yang terlibat ialah otot dinding perut dan iliopsoas).

Anggota gerak bawah
Periksa gerakan persendian jari-jari, pergelangan kaki,lutut, paha,periksa juga
otot kuadriseps femoris, iliopsoas, aduktor, abduktor dan fleksor tungkai
bawah.

5. Pemeriksaan koordinasi gerak

Gerakan volunteer
Yang diperiksa adalah gerakan pasien atas permintaan pemeriksa,
misalnya:
o Mengangkat kedua tangan pada sendi bahu
o Fleksi dan ekstensi artikulus kubiti
o Mengepal dan membuka jari-jari tangan
o Mengangkat kedua tungkai pada sendi panggul
o Fleksi dan ekstensi artikulus genu
o Plantar fleksi dan dorso fleksi kaki
o Gerakan jari- jari kaki

6. Perkusi otot
9

o Normal : Otot yang diperkusi akan berkontraksi yang bersifat
setempat dan berlangsung hanya 1 atau 2 detik saja
o Miodema : Penimbunan sejenak tempat yang telah diperkusi (biasanya
terdapat pada pasien mixedema, pasien dengan gizi buruk)
o Miotonik : Tempat yang diperkusi menjadi cekung untuk beberapa
detik oleh karena kontraksi otot yang bersangkutan lebih
lama dari pada biasa.
7. Tonus otot
Pasien diminta melemaskan ekstremitas yang hendak diperiksa kemudian
ekstremitas tersebut kita gerak-gerakkan fleksi dan ekstensi pada sendi siku dan
lutut.
o Normal : Terdapat tahanan yang wajar
o Flaksid : Tidak ada tahanan sama sekali (dijumpai pada kelumpuhan
LMN)
o Hipotoni : Tahanan berkurang
o Spastik : Tahanan meningkat dan terdapat pada awal gerakan, ini
dijumpai pada kelumpuhan UMN
o Rigid : Tahanan kuat terus menerus selama gerakan misalnya pada
Parkinson.
8. Kekuatan otot
Pemeriksaan ini menilai kekuatan otot, untuk memeriksa kekuatan otot ada
dua cara:
a. Pasien disuruh menggerakkan bagian ekstremitas atau badannya dan
pemeriksa menahan gerakan ini
b. Pemeriksa menggerakkan bagian ekstremitas atau badan pasien dan ia
disuruh menahan
Sindrom Lower Motor Neuron, gejala :
o Flaksid
o Atoni
o Atrofi disertai fasikulasi
o Klonus (-)
o Reflek patologis (-)
10

o Reflek fisiologis: hiporefleksia/arefleksi (tidak adanya reflex)
o Ada gangguan sensoris, tropik, autonom
Sindrom Upper Motor Neuron, gejala :
o Spastik
o Hipertonia
o Atrofi (-), fasikulasi (-)
o Klonus/kontraksi & relaksasi otot bergantian dengan cepat (+)
o Refleks patologis (+)
o Hiperreflexia
o Tak ada gangguan sensoris, tropik, autonom
Kelumpuhan bukanlah merupakan kelainan yang harus ada pada tiap
gangguan gerak. Pada gangguan gerak oleh kelainan di sistem ekstrapiramidal dan
serebelar, kita tidak mendapatkan kelumpuhan.
Gangguan yang ditimbulkan sistem ekstrapiramidal:
o Gangguan pada tonus otot
o Gerakan otot abnormal yang tdk dpt dikendalikan
o Gangguan pada kelancaran gerakan otot volunter
o Gangguan gerak-otot asosiatif
Gangguan yang ditimbulkan serebelum :
o Gangguan sikap dan tonus
o Ataksia/gangguan koordinasi gerakan
o Dismetria/gerakan yang tidak mampu dihentikan tepat pada
waktunya/tepat pada tempat yang dituju
o Tremor intensi. tremor yang timbul waktu melakukan gerakan
volunter dan menjadi lebih nyata ketika gerakan hampir mencapai
tujuannya
o Tiga fungsi penting dari serebelum adalah keseimbangan pengatur
tonus otot dan pengelola serta pengkoordinasi gerakan volunteer
9. Gait
o Hemiplegik gait (gaya jalan dengan kaki yang lumpuh digerakkan secara
sirkumduksi)
o Spastik/ Scissors gait (gaya jalan dengan sirkumduksi kedua tungkai)
11

o Tabetic gait (gaya jalan pada pasien tabes dorsalis)
o Steppage gait (gaya jalan seperti ayam jago, pada paraparese
flaccid/paralisis n. peroneus)
o Waddling gait (gaya berjalan dengan pantat & pinggang bergoyang
berlebihan khas untuk kelemahan otot tungkai proximal misal otot gluteus)
o Parkinsonian gait (gaya berjalan dengan sikap tubuh agak membungkuk,
kedua tungkai berfleksi sedikit pada sendi lutut & panggul. Langkah
dilakukan setengah diseret dengan jangkauan yang pendek-pendek)



12

PEMERIKSAAN SENSORIK

Pemeriksaan sensorik adalah pemeriksaan yang paling sulit di antara
pemeriksaan neurologik yang lain karena sangat subjektif. Sehubungan dengan
pemeriksan fungsi sensorik maka beberapa hal berikut ini harus dipahami dulu:
Kesadaran penderita harus penuh dan tajam. Penderita tidak boleh dalam
keadaan lelah, kelelahan akan mengakibatkan gangguan perhatian serta
memperlambat waktu reaksi
Prosedur pemeriksan harus benar-benar dimengerti oleh penderita, karena
pemeriksaan fungsi sensorik benar-benar memerlukan kerja sama yang
sebaik-baiknya antara pemeriksa dan penderita. Dengan demikian cara dan
tujuan pemeriksaan harus dijelaskan kepada penderita dengan istilah yang
mudah dimengerti olehnya
Kadang-kadang terlihat adanya manifestasi obyektif ketika dilakukan
pemeriksaan anggota gerak atau bagian tubuh yang dirangsang, misalnya
penderita menyeringai, mata berkedip-kedip serta perubahan sikap tubuh
Yang dinilai bukan hanya ada atau tidak adanya sensasi tetapi juga
meliputi perbedaan-perbedaan sensasi yang ringan, dengan demikian harus
dicatat gradasi atau tingkat perbedaannya
Ketajaman persepsi dan interpretasi rangsangan berbeda pada setiap
individu, pada tiap bagian tubuh, pada individu yang sama tetapi dalam
situasi yang berlainan. Dengan demikian dianjurkan untuk melakukan
pemeriksaan ulangan pada hari berikutnya.
Azas simetris: pemeriksaan bagian kiri harus selalu dibandingkan dengan
bagian kanan. Hal ini untuk menjamin kecermatan pemeriksaan.
Pemeriksaan ini harus dikerjakan dengan sabar (jangan tergesa-gesa),
menggunakan alat yang sesuai dengan kebutuhan/ tujuan, tanpa menyakiti
penderita, dan penderita tidak boleh dalam keadaan tegang.
1. Prinsip umum
Mencari defisit sensibilitas (daerah-daerah dengan sensibilitas yang
abnormal, bisa hipestesi, hiperestesi, hipalgesia atau hiperalgesia)
13

Mencari gejala-gejala lain di tempat gangguan sensibilitas tersebut,
misalnya atrofi, kelemahan otot, refleks menurun/negative, menurut
distribusi dermatom.
Keluhan-keluhan sensorik memiliki kualitas yang sama, baik mengenai
thalamus, spinal, radix spinalis atau saraf perifer. Jadi untuk
membedakannya harus dengan distribusi gejala/keluhan dan penemuan
lain
Lesi saraf perifer sering disertai berkurang atau hilangnya keringat,
kulit kering, perubahan pada kuku dan hilangnya sebagian jaringan di
bawah kulit
Penilaian fungsi sensorik dimulai dari anamnesis karena gejala disfungsi
sensorik kadang-kadang mendahului kelainan objektif pada pemeriksaan
klinis.Selain itu, gejala pasien dapat mengarahkan Anda ke bagian tubuh tertentu,
atau jenis fungsi sensorik yang memerlukan perhatian lebih.
Daerah dan modalitas yang akan diuji bergantung pada jenis gangguan
sensorik yang disimpulkan dari gejala dan riwayat pasien. Namun, harus
dipikirkan apakah pola penyakit sesuai dengan suatu distribusi dermatomal atau
neuropati perifer, Modalitas sensasi adalah sentuhan ringan, nyeri, suhu, jetaran,
dan propriosepsi.Pertama, periksa apakah pasien dapat merasakanrangsangan dan
memahami prosedur pemeriksaan dengan memeriksa bagian yang Anda ketahui
sensasinya normal. Kemudian, ikuti pola dermatomal, Bila distrtbusi gangguan
sensorik menyerupai sarung tangan atau kaus kaki, mulailah pemeriksaan dari
ujung jari tangan atau kaki, dan terus naik sampaididapatkan batas sensorik.
Sentuhan ringan: diperiksa dengan ujung kapas yang ditempelkan ke satu
titik dengan mata pasien tertutup. Jangan menggoreskan kapas ke kulit
karena sensasi ini dapat dihantarkan oleh serabut nyeri.
Nyeri: sebaiknya diuji dengan lidi yang patah atau neuro-tip yang
dirancang khusus (berujung tajam). Pemakaian jarum suntik sebaiknya
dihindari karena mudah menembus kutit dan dapat menimbulkan infeksi.
Sensasi getaran: biasanya berkurang atau hilang pada usia lanjut; namun,
uji Ini bemianfaat pada pasien yang dicurigai mengidap neuropati sensorik
14

perifer. Uji sensasi getaran terbaik adalah menggunakan garpu tala C128
Hz di ekstrcmitas atas, ekstremitas bawah, dan badan.
Propriosepsi: sensasi posisi sendi harus diperiksa dengan mata pasien
tertutup, Sistem pemeriksaan sensasi posisi sendi di jari tangan dan kaki
diperlihatkan di gambar 1.13 dan1.14. Jari harus dipisahkan dari jari di
sekitarnya dan sendi yang diperiksa digerakkan ke atas dan ke bawah,
Tanyakan arah gerakan jari kepada pasien.
Suhu: jarang diperiksa rutin. Bila diindikasikan, cara termudah adalah
mengisi botol sampel darah atau tabung logam dengan air es atau air
hangat. Ikuti skema pemeriksaan persarafan dermatomal dan neuropati
perifer.
Berat, bentuk, ukuran, dan tekstur: koin sangat penting untuk uji ini.
Sebuah koin diletakkan di telapak tangan pasien dengan mata tertutup, dan
pasien diminta untuk menjelaskannya. Berat berbagai koin dapat diban-
dingkan dengan meletakkan koin yang berbeda bersamaan di kedua
tangan.

15

PEMERIKSAAN FUNGSI LUHUR

Dengan fungsi luhur memungkinkan seseorang untuk memberikan respon
atau tanggapan atas segala rangsang/stimulus baik dari luar maupun clan dalam
tubuhnya sendiri sehingga dia mampu mengadakan hubungan intra maupun
interpersonal.
Termasuk di dalam fungsi luhur adalah:
1. Fungsi bahasa
2. Fungsi memori (ingatan)
3. Fungsi orientasi (pengenalan)

Pemeriksaan fungsi bahasa
Gangguan fungsi bahasa disebut afasia atau disfasia yaitu kelainan
berbahasa akibat kerusakan di otak, tetapi bukan kerusakan/gangguan persarafan
perifer otot-otot bicara, artikulasi maupun gangguan penurunan inteligensia.
Ada 2 jenis afasia:
1. Afasia motorik
Adalah gangguan bahasa dimana penderita tidak mampu mengeluarkan isi
pikirannya.
- Afasia motorik kortikalis : Penderita tidak dapat mengeluarkan isi
pikirannya baik secara verbal, tulisan, maupun isyarat. Letak lesi di cortex
cerebri dominan.
- Afasia motorik subkortikalis (afasia motorik murni) : Penderita tidak dapat
mengeluarkan isi pikirannya secara verbal namun masih dapat dengan
tulisan maupun isyarat. Letak lesi di subcortex hemispher dominan.
- Afasia motorik transkortikalis : Penderita tidak dapat mengeluarkan isi
pikirannya tetapi masih dapat membeo. Letak lesi ditranskortikalis kartek
Broca dan Wernicke.
Cara pemeriksaan:
Mengajak penderita berbicara mulai dari hal yang sederhana sampai hal-
hal yang sukar yang pernah diketahui penderita sebelumnya. Bila tidak bisa
disuruh menuliskan jawaban atau dengan isyarat.
16

Syarat pemeriksaan:
Penderita dalam keadaan sadar penuh dan bahasa yang dipakai saling
dimengerti.
2. Afasia sensorik
Adalah gangguan bahasa dimana penderita tidak dapat mengerti isi pikiran
orang lain walaupun alat bicara dan pendengarannya baik.
- Afasia sensorik kortikalis
Penderita tidak dapat mengerti isi pikiran orang lain yang disampaikan
balk secara verbal, tulisan, maupun isyarat. Letak lesi di area cortex
Wernicke (sensorik).
- Afasia sensorik subkortikalis
Penderita tidak dapat mengerti isi pikiran orang lain yang disampaikan
secara verbal, sedangkan tulisan dan isyarat dapat dimengerti. Letak lesi di
subcortex Wernicke.
- "Buta kata-kata" (word Blindness)
Penderita masih mengerti bahasa verbal namun tidak lagi bahasa visual.
Hal ini jarang terjadi.
Cara pemeriksaan:
Penderita diberi perintah untuk melakukan sesuatu tanpa contoh. Bila tidak
bisa baru diberikan secara tulisan atau isyarat. Syarat pemeriksaan sama dengan
afasia motorik.

Gangguan bahasa lainnya
1. Apraksia
Penderita tidak bisa melaksanakan fungsi psikomotor.
Cara: beri perintah untuk melakukan gerakan yang bertujuan misalnya
membuka kancing baju,dll.
2. Agrafia
Penderita tidak bisa menulis lagi (tadinya bisa).
Cara: beri perintah untuk menuliskan kata-kata yang didiktekan.
3. Alexia
Penderita tidak bisa lagi mengenali tulisan yang pernah dikenalnya.
17

Cara: beri perintah untuk membaca tulisan atau kata-kata yang pernah
dikenalnya.
4. Astereognosia
Penderita tidak bisa mengenali bentuk benda dengan cara meraba.
Cara: dengan mata tertutup penderita disuruh menyebutkan benda dengan
cara merabanya.
5. Abarognosia
Penderita tidak mampu menaksir berat benda yang berada di tangannya
(perabaan).
Cara: penderita disuruh menaksir berat benda yang berada di tangannya.
6. Agramesthesia
Penderita tidak bisa rnengenal tulisan yang dituliskan di badannya.
Cara: penderita disuruh menyebutkan kata-kata yang dituliskan di
badannya dengan mata tertutup.
7. Asomatognosia
Penderita tidak mampu menunjukkan bagian-bagian tubuhnya kiri atau
kanan.

Pemeriksaan fungsi memori
Secara klinis gangguan memori (daya mengingat) ada 3 yaitu:
1. Immediate memory (segera)
2. Short term memory/recent memory (jangka pendek)
3. Long term memory/remote memory (jangka panjang)
Cara pemeriksaan :
1. Immediate memory
Yaitu daya mengingat kembali suatu stimulus yang diterima beberapa
detik lalu seperti mengingat nomor telepon yang baru saja diberikan.
Cara: penderita disuruh mengulang deret nomor yang kita ucapkan.
Seperti di bawah ini: (disebut digit span)
- 3-7
- 2-4-9
- 8-5-2-7
18

- 2-8-6-9-3
- 5-7-1-9-4-6
- 8-1-5-9-3-6-7
dikatakan masih normal jika seseorang dapat mengulang sebanyak 7
digit.
2. Recent memory
Yaitu daya mengingat kembali stimulus yang diterima beberapa menit,
jam, hari yang lalu.
Cara: penderita disuruh menceritakan pekerjaan/peristiwa yang
dikerjakan/dialami beberapa menit/jam/hari yang lalu.
3. Remote memory
Yaitu daya mengingat kembali stimulus atau peristiwa yang telah lama
berlalu (bertahun-tahun).
Cara: penderita disuruh menceritakan pengalaman atau teman-teman
masa kecilnya. (Tentunya pemeriksa telah mendapat informasi
sebelumnya).
Ketiga pemeriksaan di atas adalah untuk audio memory (yang didengar)
sedangkan memori yang dilihat (visual memory) dapat diperiksa sebagai berikut.
- Cara: penderita disuruh mengingat nama-nama benda yang diperlihatkan
kepadanya kemudian benda - benda tersebut disimpan. Beberapa waktu
kemudian penderita disuruh mengulang nama-nama benda tersebut.

Pemeriksaan fungsi orientasi
Secara klinis pemeriksaan orientasi ada 3 yaitu: Personal, tempat, waktu
- Cara: penderita disuruh mengenali orang-orang yang berada di sekitarnya
yang memang dikenalnya (seperti istrinya, anak, teman, dll), Penderita
juga disuruh mengenali tempat dimana ia berada atau tempat-tempat
lainnya. Penderita juga disuruh menyebutkan waktu/saat penderita
diperiksa seperti siang/malam/sore.
- Catatan:
Kesemua pemeriksaan fungsi luhur ini baru dapat diperiksa pada penderita
yang mempunyai kesadaran penuh atau baik dan tidak mengalami gangguan
19

mental, kemunduran inteligen maupun kerusakan organ-organ atau persarafan
perifer yang terkait. Harus diingat bahwa pemeriksaan fungsi luhur adalah
pemeriksan fungsi-fungsi cortex cerebri yang terkait.

o Pemeriksaan status mental mini (MMSE)
MMSE merupakan bagian penting dari setiap pemeriksaan
neurologis. Pemeriksaan ini meliputi evaluasi kualitas dan kuantitas
kesadaran, perilaku, emosi, isi pikir, kemampuan intelektual dan sensorik.
Bagian paling sensitif dan penting adalah orientasi waktu, daya ingat, dan
urutan angka. MMSE diperkenalkan sebagai pemeriksaan standar fungsi
kognitif dalam segi klinis maupun penelitian. Penilaian MMSE sangat
mudah, nilai maksimum adalah 30. Nilai kurang dari 24 ditafsirkan
sebagai demensia.

Tabel Pemeriksaan status mini mental (MMSE)
No. Tes Nilai maks
ORIENTASI
1 Sekarang (tahun), (musim),(bulan), (tanggal), hari apa? 5
2 Kita berada dimana? (Negara, propinsi, kota, rumah sakit,
lantai/kamar)
5
REGISTRASI
3 Sebutkan 3 buah nama benda (apel, meja, atau koin), setiap
benda 1 detik, pasien disuruh mengulangi ketiga nama benda
tadi. Nilai 1 untuk setiap nama benda yang benar. Ulangi
sampai pasien dapat menyebutkan dengan benar dan catat
jumlah pengulangan
3
ATENSI DAN KALKULASI
4 Kurangi 100 dengan 7. Nilai 1 untuk tiap jawaban yang
benar. Hentikan setelah 5 jawaban. Atau disuruh mengeja
terbalik kata WAHYU (nilai diberi pada huruf yang benar
5
20

sebelum kesalahan; misalnya uyahw = 2 nilai)
MENGINGAT KEMBALI (RECALL)
5 Pasien disuruh menyebut kembali 3 nama benda di atas 3
BAHASA
6 Pasien disuruh menyebutkan nama benda yang ditunjukkan
(pensil, buku)
2
7 Pasien disuruh mengulang kata-kata namun, tanpa,
bila
1
8 Pasien disuruh melakukan perintah: ambil kertas ini dengan
tangan anda,lipatlah menjadi dua dan letakkan di lantai
3
9 Pasien disuruh membaca dan melakukan perintah
pejamkanlah mata anda
1
10 Pasien disuruh menulis dengan spontan 1
11 Pasien disuruh menggambar bentuk dibawah ini

1
TOTAL 30
Skor :
Nilai 24-30 = normal
Nilai 17-23 = gangguan kognitif probable
Nilai 0-16 = gangguan kognitif definit

21

Tabel skor median pada MMSE berdasarkan usia dan tingkat pendidikan


22

PEMERIKSAAN FUNGSI VEGETATIF

Yang terpenting adalah pemeriksaan miksi, yaitu dengan cara: anamnesis
dan pemeriksaan.
1. Anamnesis :
Apakah miksi spontan, disadari, bisa ditahan atau tidak, keluar terus-
menerus atau sekali keluar sekali berhenti atau tidak dapat keluar sama sekali.
2. Pemeriksaan:
- Tekan vesica urinaria untuk menentukan apakah penuh atau tidak
- Observasi ujung urethra eksterna, basah terus atau tidak
- Tekan vesica urinaria apakah terjadi pengosongan urine, lalu lakukan
catheterisasi untuk menentukan resistensi urine
Macam-macam kelainan miksi:
1. Inkontinensia urine
Suatu keadaan dimana urine keluar terus-menerus secara menetes,
2. Retensio urin
Suatu keadaan dimana urine tidak dapat keluar baik secara disadari
atau tidak, sedangkan vesica urinaria penuh.
3. Automatic bladder
Suatu keadaan diman urine dapat dikeluarkan dengan adanya gaya
berat atau rangsangan pada os pubis dan lipatan inguinal.
4. Atonic bladder
Suatu keadaan dimana urine dapat dikeluarkan dengan menekan supra
pubis. Residual urine pada keadaan ini lebih banyak dari automatic bladder.








23

PEMERIKSAAN REFLEKS

Refleks fisiologis
1. Biseps
Stimulus : Ketukan pada jari pemeriksa yang ditempatkan pada tendon m.
biseps brachii, posisi lengan setengah ditekuk pada sendi siku
Respons : Fleksi lengan pada sendi siku.
Afferent : n. musculucutaneus (C5-6)
Efferenst : n. musculucutaneus (C5-6)
2. Triseps
Stimulus : Ketukan pada tendon otot triseps brachii, posisi lengan fleksi
pada sendi siku dan sedikit pronasi.
Respons : Extensi lengan bawah disendi siku
Afferent : n. radialis (C 6-7-8)
Efferenst : n. radialis (C 6-7-8)
3. KPR
Stimulus : Ketukan pada tendon patella
Respons : Ekstensi tungkai bawah karena kontraksi m. quadriceps emoris.
Efferent : n. femoralis (L 2-3-4)
Afferent : n. femoralis (L 2-3-4)
4. APR
Stimulus : Ketukan pada tendon Achilles
Respons : Plantar fleksi kaki karena kontraksi m. gastrocnemius
Efferent : n. tibialis ( L. 5-S, 1-2 )
Afferent : n. tibialis ( L. 5-S, 1-2 )
5. Periosto-radialis
Stimulus : Ketukan pada periosteum ujung distal os radii, posisi lengan
setengah fleksi dan sedikit pronasi
Respons : Fleksi lengan bawah di sendi siku dan supinasi karena kontraksi
m. Brachioradialis
Afferent : n. radialis (C 5-6)
Efferenst : n. radialis (C 5-6)
24

6. Periosto-ulnaris
Stimulus : Ketukan pada periosteum proc. styloigeus ulnea, posisi lengan
setengah fleksi & antara pronasi supinasi.
Respons : Pronasi tangan akibat kontraksi m. pronator quadrates
Afferent : n. ulnaris (C8-T1)
Efferent : n. ulnaris (C8-T1)
Banyak macam rangsang yang dapat digunakan untuk membangkitkannya,
misalnya menggores telapak kaki bagian lateral, menusuk atau menggores dorsum
kaki atau sisi lateralnya, memberi rangsang panas atau rangsang listrik pada kaki,
menekan pada daerah interossei kaki, mencubit tendon Achilles, menekan tibia,
fibula, otot betis, menggerakkan patela ke arah distal, malah pada keadaan yang
hebat, refleks dapat dibangkitkan dengan jalan menggoyangkan kaki,
menggerakkan kepala dan juga bila menguap.
1. Refleks Babinski.
Untuk membangkitkan refleks Babinski, penderita disuruh berbaring
dan istirahat dengan tungkai diluruskan.Kita pegang pergelangan kaki supaya
kaki tetap pada tempatnya.Untuk merangsang dapat digunakan kayu geretan
atau benda yang agak runcing. Goresan harus dilakukan perlahan, jangan
sampai mengakibatkan rasa nyeri, sebab hal ini akan menimbulkan refleks
menarik kaki (flight reflex). Goresan dilakukan pada telapak kaki bagian
lateral, mulai dari tumit menuju pangkal jari. Jika reaksi positif, kita dapatkan
gerakan dorso fleksi ibu jari, yang dapat disertai gerak mekarnya jari-jari
lainnya .
Tadi telah dikemukakan bahwa cara membangkitkan refleks patologis ini
bermacam-macam, di antaranya dapat disebut:
Cara Chaddock : Rangsang diberikan dengan jalan
menggoreskan bagian lateral maleolus
Cara Gordon : Memencet (mencubit) otot betis
Cara Oppenheim : Mengurut dengan kuat tibia dan otot tibialis
anterior, Arah mengurut ke bawah (distal).
Cara Gonda : Memencet (menekan) satu jari kaki dan
kemudian melepaskannya sekonyong-konyong
25

Schaefer : memencet (mencubit) tendon Achilles

Klonus
Kita telah mempelajari bahwa salah satu gejala kerusakan pyramidal ialah
adanya hiperfleksi.Bila hiperfleksi ini hebat dapat terjadi klonus.Klonus ialah
kontraksi ritmik dari otot, yang timbul bils otot diregangkan secara pasif. Klonus
merupakan reflex regang otot yang meninggi dan dapat dijumpai pada lesi
supranuklir(UMN, pyramidal). Ada orang normal yang mempunyai hiperfleksi
fisiologis; pada mereka ini dapat terjadi klonus, tetapi klonusnya berlangsung
singkat dan disebut klonus abortif. Bila klonus berlangsung lama ,hal ini dianggap
patologis. Klonus dapat dianggap sebagai rentetan reflex regang otot, yang dapat
disebabkan oleh lesi pyramidal.
Pada lesi piramidal (UMN (uppermotorneuron) supranuklir) kita sering
mendapatkan klonus di pergelangan kaki, lutut dan pergelangan tangan.
Klonus kaki
Klonus ini dibangkitkan dengan jalan meregangkan otot gastroknemius.
Pemeriksa menempatkan tangannya di telapak kaki penderita, kemudian telapak
kaki ini didorong dengan cepat (dikejutkan) sehingga terjadi dorso fleksi sambil
seterusnya diberikan tahanan enteng.Hal mengakibatkan teregangnya otot
betis.Bila ada klonus, maka terlihat gerakan ritmik (bolak-balik) dari kaki, yaitu
berupa plantar fleksi dan dorso ieksi secara bergantian.
Klonus patela.
Klonus ini dibangkitkan dengan jaian meregangkan otot kuadriseps
femoris.Kita pegang patela penderita, kemudian didorong dengan kejutan (dengan
cepat) ke arah distal sambil diberikan tahanan enteng. Biia terdapat klonus, akan
terlihat kontraksi ritmik otot kuadriseps yang mengakibatkan gerakan bolak-balik
dari patela. Pada pemeriksaan ini tungkai harus diekstensikan serta dilemaskan.

Refleks dan gejala patoiogis lain yang perlu diketahui.
1. Refleks Hoffman Tromrner.
Kita telah mendiskusikan refleks fleksor jari-jari.Pada orang normal,
refleks ini biasanya tidak ada atau enteng saja; karena ambang refleks
26

tinggi.Akan tetapi, pada keadaan patologik, ambang refieks menjadi rendah
dan kita dapatkan refleks yang kuat. Refleks inilah yang merupakan dasar dari
refleks Hoffman-Trommer, dan refleks lainnya, misalnya refleks Bechterew.
Dalam beberapa buku, refleks Hoffman-Trommer ini masih dianggap
sebagai refleks patologis dan disenafaskan dengan refleks Babinski, padahal
mekanisme refleks fleksor jari-jari sama sekali lain dari reflex Babinski.
Refleks Hoffman-trommer merupakan refleks regang otot, jadi sama seperti
reflex kuadriseps dan reflex regang otot lainnya. Reflex Hoffman-trommer
positif dapat disebabkan oleh lesi pyramidal, tetapi dapat pula disebabkan oleh
peningkatan reflex yang melulu fungsional. Akan tetapi bila reflex pada sisi
kanan berbeda dari yang kiri, maka hal ini dapat dianggap sebagai keadaan
patologis.
Simetri penting dalam penyakit saraf. Kita mengetanui bahwa simetri
sempurna memang tidak ada pada tubuh manusia. Akan tetapi, banyak
pemeriksaan neurologi didasarkan atas anggapan, bahwa secara kasar kedua
bagian tubuh adalah sama atau simetris. Tiap refleks tendon dapat meninggi
secara bilateral, namun hal ini belum tentu berarti adanya lesi piramidal. Lain
halnya kalau peninggian refleks bersifat asimetris.
Cara membangkitkan refleks Hoffman-trommer: Tangan penderita
kita pegang pada pergelangan dan jari-jarinya disuruh fleksi-entengkan.
Kemudian jari tengah penderita kita jepit di antara telunjuk dan jari-tengah
kita.Dengan ibu-jari kita "gores-kuat" (snap) ujung jari tengah penderita.Hal ;
ini mengakibatkan fleksi jari telunjuk, serta fleksi dan aduksi ibu jari, bila
refleks positif. Kadang juga disertai fleksi jari lainnya,Reflex massa, reflex
automatisme spinal. Kita telah mengetahui bahwa bila reflex Babinski cukup
hebat, kita dapatkan dorso fleksi jari-jari, fleksi terdapat juga kontraksi
tungkai bawah dan atas, dan kadang-kadang terdapat juga kontraksi tungkai
yang satu lagi. Daerah pemberian rangsang pun bertambah luas.Hal dernikian
dapat kita jurnpai pada iesi transversal medula spinalis, dan disebut refleks
automatisme spinal Hal mi dapat ditimbulkan oleh berbagai macam rangsang,
misalnya goresan rangsang nyeri dan lain sebagainya.
27

Bila refleks lebih hebat lagi, didapatkan juga kontraksi otot dinding
perut, adanya miksi dan defekasi, keluarnya keringat, refleks eriterna dan
refleks pilomotor.Keadaan dernikian disebut juga sebagai refleks massa dan
Riddoch Hal dernikian didapatkan pada Iesi transversal yang komplit dan
medula spinalis, setelah fase syoknya lampau.
Refleks genggam {grasp reflex).Refleks genggam mempakan hal
normal pada bayi sampai usia kira-kira 4 bulan. Pada orang normal, bila
telapak tangan digores kita tidak mendapatkan gerakan fleksi jari-jari, tetapi
kadang-kadang terjadi fleksi enteng (ambang refleks ini tinggi).
Dalam keadaan patologis, misainya pada Iesi di lobus frontalis
didapatkan reaksi (fleksi jari) yang nyata.Penggoresan telapak tangan
mengakibatkan tangan digenggamkan, dan menggenggam alat yang d.gunakan
sebagai penggores. Hal ini dinamai refleks genggam Refleks genggam terdiri
dari fleksi ibu jari dan jari lainnya, sebagai jawaban terhadap rangsang taktil,
misalnya bila pemeriksa meraba telapak tangan pasien atau menyentuh atau
menggores tangan pasien di antara ibu jari dan telunjuknya.
Kadang-kadang refleks ini dernikian hebatnya, sehingga bila kita
menjauhkan tangan kita yang tadinya didekatkan, tangan pasien mengikutinya,
"seolah-olah kena tenaga maknit".Hal ini dinamakan refleks menjangkau
(groping reflex).
Untuk membangkitkan refleks genggam dapat dilakukan ha! berikut
Penderita dtsuruh mem-fleksi-entengkan jari-jari tangannya. Kemudian kita
sentuh kulit yang berada di antara telunjuk dan ibu jari dengan ujung ketok-
refieks. Bila refleks menggenggam positif ujung ketok-refleki ini akan
digenggamnya.
2. Gejala leri
Pemeriksaan dilakukan sebagai berikut :
Kita pegang lengan bawah pasien yang disupinasikan serta
difleksikan sedikit. Kemudian kita tekukan dengan kuat ( fleksi ) jari-jari
serta pergelangannya. Pada orang normal, gerakan ini akan diikuti oleh
fleksi lengan bawah dan lengan atas, dan kadang-kadang juga disertai
28

aduksi lengan atas. Reflex ini akan negative bila terdapat lesi pyramidal.
Tidak adanya reflex ini dinyatakan sebagai gejala leri positif.
3. Gejala mayer
Pasien disuruh mensupinasikan tangannya, telapak tangan ke atas ,
dan jari-jari difleksi kan serta ibu jari difleksikan dan diabduksikan.
Tangannya kita pegang, kemudian dengan tangan yang satu lagi kita
tekukkan jari 3 dan 4 pada falang proksimal dan menekannya pada telapak
tangan (fleksi). Pada orang normal, hal ini mengakibatkan aduksi dan
oposisi ibu jari disertai fleksi pada persendian metakarpofalangeai, dan
ekstensi di persendian interfalang ibu jari. Jawaban demikian tidak
didapatkan pada lesi piramidal, dan tidak adanya jawaban ini disebut
sebagai gejala Mayer positif
29

DAFTAR PUSTAKA

Baehr, M. dan M. Frotscher.2010.Diagnosis Topik dan Neurologi DUUS,
Anatomi Fisiologi Tanda Gejala. Jakarta: EGC
Bickley, Lynn; Szilagui, Peter.2007. Bates' Guide to Physical Examination and
History Taking nineth edition. Lippincott Williams & Wilkins.
Campbell, William W. 2005. DeJong's The Neurologic Examination, 6th Edition.
Lippincott Williams & Wilkins.
Lumbantobing, S.M. 2011. Neurologi Klinik, Pemeriksaan Fisik dan Mental.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Mulia, Nico Paundra. 2011. Pemeriksaan Neurologi. www.scribd.com [akses 06
agustus 2012].