Anda di halaman 1dari 5

Konsep Nyeri

Defenisi Nyeri
Oleh IASP (international Association for the Study of Pain), nyeri di definisikan
sebagai an unpleasant sensory and emotional experience associated with actual or
potential tissue damage or described in term of such damage.
Dari defenisi ini dapat di tarik dua kesimpulan. Yang pertama bahwa persepsi nyeri
merupakan sensasi yang tidak menyenangkan dan pengalaman emosional menyusul
adanya kerusakan jaringan yang nyata. Jadi nyeri terjadi karena adanya kerusakan
jaringan yang nyata (pain with nociception). Yang kedua, perasaan yang sama juga dapat
timbul tanpa adanya kerusakan jaringan yang nyata. Jadi nyeri dapat terjadi tanpa adanya
kerusakan jaringan yang nyata (pain without nociception). baca selengkapnya.Dengan
kata lain, nyeri pada umumnya terjadi akibat adanya kerusakan jaringan yang nyata,
keadaan mana disebut sebagai nyeri akut misalnya nyeri pasca bedah. Namun terdapat
juga suatu keadaan dimana timbul keluhan nyeri tanpa adanya kerusakan jaringan yang
nyata atau nyeri timbul setelah proses penyembuhan usai, keadaan mana disebut
sebagai nyeri kronik misalnya nyeri post-herpetic, nyeri phantom atau nyeri
trigeminal. Perjalanan Nyeri (Nociceptive Pathway).
Antara kerusakan jaringan (sebagai sumber stimuli nyeri) sampai dirasakan sebagai
persepsi nyeri terdapat suatu rangkaian proses elektrofisiologik yang secara kolektif
disebut sebagai nosisepsi (nociception). Ada empat proses yang jelas yang terjadi pada
suatu nosisepsi, yakni ;
1.

Proses Transduksi (Transduction), merupakan proses dimana suatu stimuli nyeri
(noxious stimuli) di rubah menjadi suatu aktifitas listrik yang akan diterima ujung-ujung
saraf (nerve ending). Stimuli ini dapat berupa stimuli fisik (tekanan), suhu (panas) atau
kimia (substansi nyeri).
2.

Proses Transmisi (Transmison), dimaksudkan sebagai penyaluran impuls melalui
saraf sensoris menyusul proses transduksi. Impuls ini akan disalurkan oleh serabut saraf
A delta dan serabut C sebagai neuron pertama, dari perifer ke medulla spinalis dimana
impuls tersebut mengalami modulasi sebelum diteruskan ke thalamus oleh traktus
sphinotalamikus sebagai neuron kedua. Dari thalamus selanjutnya impuls disalurkan ke
daerah somato sensoris di korteks serebri melalui neuron ketiga, dimana impuls tersebut
diterjemahkan dan dirasakan sebagai persepsi nyeri.
3.

Proses Modulasi (Modulation), adalah proses dimana terjadi interaksi antara sistem
analgesik endogen yang dihasilkan oleh tubuh kita dengan imput nyeri yang masuk ke
kornu posterior medulla spinalis. Jadi merupakan proses acendern yang di kontrol oleh
otak. Sistem analgesik endogen ini meliputi enkefalin, endorfin,
serotonin, dan noradrenalin memiliki efek yang dapat menekan impuls nyeri pada
kornu posterior medulla spinalis. Kornu posterior ini dapat diiabaratkan sebagai pintu
yang dapat tertetutup atau terbukanya pintu nyeri tersebut diperankan oleh sistem
analgesik endogen tersebut di atas. Proses modulasi inilah yang menyebabkan persepsi
nyeri menjadi sangat subyektif orang per orang.
4.

Persepsi (perception), adalah hasil akhir dari proses interaksi yang kompleks dan
unik yang dimulai dari proses transduksi, transmisi, dan modulasi yang pada gilirannya
menghasilkan suatu perasaan yang subyektif yang dikenal sebagai persepsi nyeri.
Respons Stress (Stress Responds)
Respons tubuh terhadap suatu pembedahan atau nyeri akan menghasilkan reaksi
endokrin dan immonologik, yang secara umum disebut sebagai respons stress.Respons
stress ini sangat merugikan penderita karena selain akan menurunkan cadangan dan
daya tahan tubuh, meningkatkan kebutuhan oksigen otot jantung, mengganggu fungsi
respirasi dengan segala konsekuensinya, juga akan mengundang resiko terjadinya
tromboemboli yang pada gilirannya
meningkatkan morbiditas danmortalitas. Meskipun berbagai tehnik pengelolaan nyeri
telah banyak dikembangkan, namun mengontrol nyeri pascabedah per-se, tidak selalu
menjadi jaminan untuk tidak terjadinya respons stress yang turut berperan dalam
prognosis penderita pasca bedah.
Hipersensitifitas dan plastisitas Susunan Saraf.
Penelitian laboratorium menunjukkan bahwa menyusul suatu trauma atau operasi maka
input nyeri dari perifer ke sentral akan mengubah ambang reseptor nyeri baik
di perifer maupun di sentral (kornu posterior medulla spinalis). Kedua reseptor nyeri
tersebut di atas akan menurunkan ambang nyerinya, sesaat setelah terjadi input nyeri.
Perubahan ini akan menghasilkan suatu keadaan yang disebut
sebagai hipersensitifitas baik perifer maupun sentral. Perubahan ini dalam klinik dapat
dilihat, dimana daerah perlukaan dan sekitarnya akan berubah
menjadi hiperalgesia. Daerah tepat pada perlukaan akan berubah menjadi allodini,
artinya dengan stimulasi lemah, yang normal tidak menimbulkan rasa nyeri, kini dapat
menimbulkan rasa nyeri, daerah ini disebut juga sebagai hiperalgesia primer. Di lain
pihak daerah di sekitar perlukaan yang masih nampak normal juga berubah menjadi
hiperalgesia, artinya dengan suatu stimuli yang kuat, untuk cukup menimbulkan rasa
nyeri, kini dirasakan sebagai nyeri yang lebih hebat dan berlangsung lebih lama, daerah
ini juga disebut sebagai hiperalgesia sekunder.
Kedua perubahan tersebut di atas, baik hiperalgesia primer maupunhiperalgesia
sekunder merupakan konsekuensi terjadinyahipersensitifitas perifer dan sentral menyusul
suatu input nyeri akibat suatu trauma atau operasi. Ini berarti bahwa susunan saraf kita, baik
susunan saraf perifer maupun susunan saraf sentral dapat berubah sifatnya menyusul suatu input
nyeri yang kontinyu. Dengan kata lain, susunan saraf kita dapat disamakan sebagai suatu kabel
yang kaku (rigid wire), tapi mampu berubah sesuai dengan fungsinya sebagai alat proteksi.
Kemampuan sususnan saraf kita yang dapat berubah mirip dengan plastik disebut sebagia
plastisitas susunan saraf (plasticity of the nervous system). Analgesia Preemptif
(Preemptive analgesia) Sekali susunan saraf mengalami plastisitas, berarti akan menjadi
hipersensitif terhadap suatu stimuli dan penderita akan mengeluh dengan nyeri yang lebih hebat
sehingga dibutuhkan dosis obat analgesik yang tinggi untuk mengontrolnya. Atas dasar itulah
maka untuk mengurangi keluhan nyeri pasca bedah, dilakukan upaya-upaya untuk mencegah
terjadinya plastisitas susunan saraf. Salah satu cara untuk mengurangi plastisitas tersebut pada
suatu pembedahan elektif adalah dengan menggunakan blok saraf (epidural/spinal), sebab
dengan demikian input nyeri dari perifer akan terblok untuk masuk ke kornu posterior medulla
spinal. Dilain pihak jika trauma terjadi sebelum operasi, maka pemberian opioid secara sistemik
dapat mengembalikan perubahan plastisitas susunan saraf kembali menjadi normal. Upaya-upaya
mencegah terjadinya plastisitas ini disebut sebagai analgesia preemptif (preemptive
analgesia), artinya mengobati nyeri sebelum terjadi (to treat pain before it occurs). Dengan
cara demikian keluhan nyeri pascabedah akan sangat menurun dibandingkan dengan keluhan
nyeri pascabedah penderita yang dioperasi dengan fasilitas anastesi umum. Hal ini telah banyak
dibuktikan melalui penelitian-penelitian klinik. Analgesia Balans (Balanced
Analgesia) Sebagaimana telah diterangkan sebelumnya bahwa konsep analgesia balans adalah
upaya mengintervensi nyeri pada proses perjalanannya yakni pada proses transduksi, transmisi
dan proses modulasi. Jadi merupakan intervensi nyeri yang bersifat terpadu dan berkelanjutan,
yang diilhami oleh konsep plastisitas dan analgesia preemptif seperti disebutkan di
atas.Pengalaman menunjukkan bahwa dengan menggunakan analgesia preemptif, pada awalnya
akan diperoleh hasil yang cukup baik, tapi cara ini mempunyai keterbatasan waktu. Tidak
mungkin analgesia preemptif dapat dipertahankan beberapa hari sampai proses penyembuhan
usai. Selain iti epidural kontinyu dengan menggunakan anastesi lokal, juga memiliki
keterbatasan seperti disebutkan sebelumnya.
Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa analgesia preemptif, walaupun hasilnya sangat baik
terutama dalam mencegah terjadinya plastisitas pada kornu posterior, namun memiliki
keterbatasan, yakni sulitnya dipertahankan selama proses penyembuhan pascabedah. Disinilah
keunggulan dari analgesia balans dimana intervensi nyeri dilakukan secara multimodal dan
berkelanjutan. Multimodal, dimaksudkan bahwa intervensi dilakukan pada ketiga proses
perjalanan nyeri yakni pada proses transduksi dengan menggunakanNSAID, pada
proses transmisi dengan anastetik lokal, dan pada prosesmodulasi dengan opioid.
Dengan cara ini terjadi penekanan pada proses transduksi dan peningkatan proses modulasi, guna
mencegah terjadinya proses hipersensitivitas baik di perifer maupun di central. Dengan kata lain,
analgesia balans dapat menghasilkan selain pain free juga stress responses free. Dengan regimen
analgesia balans ini akan menghasilkan suatu analgesia pascabedah yang secara rasional akan
menghasilkan analgesia yang optimal bukan saja waktu istirahat, tapi juga dalam keadaan
mobilisasi