Anda di halaman 1dari 28

1

PENDAHULUAN

Dalam upaya menjalankan usaha, setiap perusahaan baik
perusahaan yang bergerak dalam sektor jasa maupun industri pasti
memiliki tujuan yang harus dicapai dan memberikan arah serta
menyatukan unsur-unsur yang terdapat dalam perusahaan agar
mampu bertahan. Untuk mencapai tujuan-tujuan diperlukan
serangkaian kegiatan yang dikenal sebagai proses manajemen, yang
terdiri dari tindakan-tindakan: perencanaan, pengorganisasian,
penggerakkan dan pengendalian melalui pemanfaatan sumber daya
manusia dan sumber daya lainnya. Sumber daya manusia memegang
peranan penting dalam suatu perusahaan, karena sumber daya
manusia selalu berperan aktif dan dominan dalam setiap kegiatan
perusahaan dimana manusia menjadi perencana, pelaksana, serta
penentu terwujudnya tujuan perusahaan.
Tindakan-tindakan manajemen tersebut satu sama lain saling
berkaitan dan merupakan tugas setiap pemimpin untuk mengatur
sumber daya yang ada di dalamnya untuk melaksanakan berbagai
pekerjaan dalam rangka pencapaian tujuan perusahaan. Seperti
yang dikatakan oleh Kartono (2006 : 108) Pemimpin harus mampu
memberikan motivasi yang baik kepada anak buahnya, salah satunya
agar dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerjanya. Pemimpin
yang baik bukan hanya mengarahkan, memberikan perintah-perintah
kepada bawahannya, namun juga harus mampu membuat bawahan
untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan. Pernyataan tersebut
menyatakan bahwa posisi pimpinan adalah penting dalam suatu
organisasi.
2

Oleh karena itu kepemimpinan merupakan masalah pokok
dalam kepengurusan perusahaan dan sangat menentukan berhasil
atau tidaknya suatu perusahaan dalam mencapai kinerja yang baik.
Suatu perusahaan dalam melakukan aktivitasnya diisyaratkan memiliki
pemimpin handal yang mampu mengantisipasi masa depan organisasi
dan mengambil peluang dari perubahan yang ada sehingga dapat
mengarahkan organisasi untuk sampai pada tujuannya.
Pola tindakan pemimpin secara keseluruhan diartikan sebagai
gaya kepemimpinan. Mintzberg (1989) mengemukakan bahwa peran
kepemimpinan dalam organisasi adalah sebagai pengatur visi,
motivator, penganalis, dan penguasaan pekerjaan. Organisasi
dibentuk sebagai wadah bagi sekelompok individu dalam mencapai
tujuan tujuan tertentu. Efektif tidaknya organisasi tergantung kepada
sinergi atau kerja sama individu dan kelompok dalam organisasi dalam
mencapai tujuan atau sasaran bersama..
Dalam melaksanakan fungsi kepemimpinannya, seorang
pemimpin perlu memperhatikan gaya kepemimpinannya karena gaya
kepemimpinan mempunyai peran yang penting dalam mempengaruhi
cara kerja pegawai, penampilan gaya kepemimpinan akan
memberikan dampak positif maupun negatif terhadap kinerja pegawai
yang dipimpinnya. Karena kepemimpinan merupakan kekuatan
aspirasional, kekuatan semangat, dan kekuatan moral yang kreatif,
yang mampu mempengaruhi para anggota untuk mengubah sikap,
sehingga mereka dapat bekerja sesuai dengan keinginan pemimpin.
Seperti yang dikemukakan oleh Mitfah Toha (1993:297) bahwa gaya
kepemimpinan adalah pola perilaku yang digunakan oleh seseorang
pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain.

3

PEMBAHASAN


1. DEFINISI KEPEMIMPINAN
Dubrin (2005:3) mengemukakan bahwa kepemimpinan itu
adalah upaya mempengaruhi banyak orang melalui komunikasi untuk
mencapai tujuan, cara mempengaruhi orang dengan petunjuk atau
perintah, tindakan yang menyebabkan orang lain bertindak atau
merespons dan menimbulkan perubahan positif, kekuatan dinamis
penting yang memotivasi dan mengkoordinasikan organisasi dalam
rangka mencapai tujuan, kemampuan untuk menciptakan rasa
percaya diri dan dukungan diantara bawahan agar tujuan
organisasional dapat tercapai.
Siagian (2002:62) mengemukakan bahwa kepemimpinan
adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain (para
bawahannya) sedemikian rupa sehingga orang lain itu mau melakukan
kehendak pemimpin meskipun secara pribadi hal itu mungkin tidak
disenanginya. Nimran (2004:64) mengemukakan bahwa
kepemimpinan atau leadership adalah merupakan suatu proses
mempengaruhi perilaku orang lain agar berperilaku seperti yang akan
dikehendaki. Robbins (1996:39) mengemukakan bahwa
kepemimpinan adalah sebagai kemampuan untuk mempengaruhi
suatu kelompok kearah tercapainya tujuan.
Siagian (2002:66) mengemukakan bahwa peranan pemimpin
atau kepemimpinan dalam organisasi atau perusahaan ada tiga
bentuk yaitu peranan yang bersifat interpersonal, peranan yang
bersifat informasional, dan peran pengambilan keputusan. Yang
dimaksud dengan peranan yang bersifat interpersonal dalam
4

organisasi adalah bahwa seorang pemimpin dalam perusahaan atau
organisasi merupakan simbol akan keberadaan organisasi, seorang
pemimpin bertanggung jawab untuk memotivasi dan memberikan
arahan kepada bawahan, dan seorang pemimpin mempunyai peran
sebagai penghubung. Peranan yang bersifat informasional
mengandung arti bahwa seorang pemimpin dalam organisasi
mempunyai peran sebagai pemberi, penerima dan penganalisa
informasi. Sedangkan peran pemimpin dalam pengambilan keputusan
mempunyai arti bahwa pemimpin mempunyai peran sebagai penentu
kebijakan yang akan diambil berupa strategi-strategi bisnis yang
mampu untuk mengembangkan inovasi, mengambil peluang atau
kesempatan dan bernegosiasi dan menjalankan usaha dengan
konsisten.
Mintzberg dalam Luthans (2002) dan Sutiadi (2003:4)
mengemukakan bahwa peran kepemimpinan dalam organisasi adalah
sebagai pengatur visi, motivator, penganalis, dan penguasaan
pekerjaan. Yasin (2001:6) mengemukakan bahwa keberhasilan
kegiatan usaha pengembangan organisasi, sebagian besar ditentukan
oleh kualitas kepemimpinan atau pengelolanya dan komitmen
pimpinan puncak organisasi untuk investasi energi yang diperlukan
maupun usaha-usaha pribadi pimpinan.
Anoraga et al. (1995) dalam Tika (2006:64) mengemukakan
bahwa ada sembilan peranan kepemimpinan seorang dalam
organisasi yaitu pemimpin sebagai perencana, pemimpin sebagai
pembuat kebijakan, pemimpin sebagai ahli, pemimpin sebagai
pelaksana, pemimpin sebagai pengendali, pemimpin sebagai pemberi
hadiah atau hukuman, pemimpin sebagai teladan dan lambang atau
simbol, pemimpin sebagai tempat menimpakan segala kesalahan, dan
pemimpin sebagai pengganti peran anggota lain.
5

Kepemimpinan menurut Gibson adalah suatu usaha
menggunakan suatu gaya mempengaruhi dan tidak memaksa untuk
memotivasi individu dalam mencapai tujuan. Sedangkan menurut
Winardi adalah hubungan dimana satu orang yakni pimpinan
mempengaruhi pihak lain untuk bekerja sama secara suka rela dalam
usaha mengerjakan tugas tugas yang berhubungan untuk mencapai
hal yang diinginkan. Kepemimpinan akan terjadi bila didalam situasi
tertentu seseorang mempengaruhi prilaku orang lainbaik secara
perorangan maupun secara berkelompok. Keberhasilan seorang
pemimpin dalam mempengaruhi perilaku banyak dipengaruhi oleh
gaya kepemimpinan. Ada dua hal yang biasanya dilakukan olehnya
teerhadap bawahan atau pengikutnya yakni perilaku mengarahkan
dan perilaku mendukung

2. TEORI KEPEMIMPINAN BERDASARKAN SIFAT
Teori kepemimpinan ini menitikberatkan pengidentifikasian ciri-
ciri pemimpin yang efektif. Pendekatan ini didasarkan pada asumsi
bahwa dapat ditemukan sejumlah ciri individu terbatas dari pemimpin
yang efektif. Ciri-ciri tersebut adalah ciri intelektual, emosional,fisik.
Adapun teori sifat menurut buku organisasi jilid 1 Gibson,
Ivancevich, dan Donnelly yaitu:
1. Kecerdasan (Intelligence)
2. Kepribadian (Personality)
3. Karekteristik fisik (Phisical characteristics)
4. Kemampuan Supervisi
untuk menjadi seorang pemimpin yang berhasil, sangat ditentukan
oleh kemampuan pribadi pemimpin. Dan kemampuan pribadi yang
dimaksud adalah kualitas seseorang dengan berbagai sifat, perangai
6

atau ciri-ciri di dalamnya. Ciri-ciri ideal yang perlu dimiliki pemimpin
menurut Sondang P Siagian (1994:75-76) adalah:
pengetahuan umum yang luas, daya ingat yang kuat, rasionalitas,
obyektivitas, pragmatisme, fleksibilitas, adaptabilitas, orientasi
masa depan;
sifat inkuisitif, rasa tepat waktu, rasa kohesi yang tinggi, naluri
relevansi, keteladanan, ketegasan, keberanian, sikap yang
antisipatif, kesediaan menjadi pendengar yang baik, kapasitas
integratif;
kemampuan untuk bertumbuh dan berkembang, analitik,
menentukan skala prioritas, membedakan yang urgen dan yang
penting, keterampilan mendidik, dan berkomunikasi secara efektif.

Sedangkan menurut Yukl (2005:233) beberapa ciri kepribadian
yang memperdikisikan efektivitas kepemimpinan :
1. Tingkat energi tinggi dan toleransi thd tekanan
2. Rasa percaya diri
3. Pusat kendali internal
4. Kestabilan dan kematangan emosional
5. Integritas pribadi
6. Motivasi kekuasaan
7. Orientasi kepada keberhasilan
8. Kebutuhan akan afiliasi





7

3. TEORI PERILAKU PRIBADI
Dasar pemikiran teori ini adalah kepemimpinan merupakan
perilaku seorang individu ketika melakukan kegiatan pengarahan
suatu kelompok ke arah pencapaian tujuan.
Adapun teori Perilaku Pribadi tersebut adalah:
1. Orientasi Pekerjaan dan Orientasi Karyawan
Pemimpin yang berorientasi pekerjaan mempraktekan penyeliaan
ketat sehingga bawahan melaksakan tugas mereka dengan
mengguanakan prosedur yang sudah ditentukan dengan jelas.
Sedangkan pemimpin yang berorientasi karyawan yakin tentang
perlunya pendelegasian pengambilan keputusan dan upaya
membantu karyawan dalam memenuhi kebutuhan mereka dengan
menciptakan suatu lingkungan kerja yang mendorong.
2. Pemrakarsaan Struktur dan Pertimbangan
Pemrakarsaan Struktur: para pemimpin yang memprakarsai
struktur cenderung menetapkan dengan tepat hal-hal yang harus
dilakukan bawahan ketika melaksanakan pekerjaan.
Pertimbangang: seorang pemimpin yang mempunyai skor tinggi
dalam pertimbangan pekerjaan keras untuk memmbina hubungan
pribadi yang akrab dengan para pengikutnya.

4. GAYA KEPEMIMPINAN
Gaya kepemimpinan mewakili keterampilan dan sikap dari
seorang pemimpin. Gaya kepemimpinan seorang pemimpin
merupakan hal yang ikut menentukan keberhasilan pencapaian tujuan
organisasi. Dan penerapan gaya memimpin antara satu organisasi
dengan organisasi yang lain berbeda-beda sesuai dengan kondisi
organisasi dan pola kerja anggota organisasi, sehingga dalam
8

penerapannya gaya kepemimpinan ini akan meningkatkan kinerja para
anggota organisasi.
Ada beberapa pengertian gaya kepemimpinan menurut para
ahli. Menurut Mitfah Toha (1993: 297), bahwa gaya kepemimpinan
adalah perilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang
tersebut mencoba mempengaruhi orang lain.
Gaya kepemimpinan menurut Kartini Kartono (2005: 46)
mendefinisikan gaya kepemimpinan adalah pola-pola perilaku yang
diterapkan seorang pemimpin dalam bekerja dengan melalui orang
lain seperti dipersesipkan orang-orang. Pola perilaku konsisten yang
dimaksud disini adalah pola-pola yang timbul pada diri orang-orang
pada waktu mereka mulai memberikan tanggapan dengan cara yang
sama dalam kondisi yang serupa dan pola itu membentuk kebiasaan
tindakan yang setidaknya dapat diperkirakan bagi mereka yang
bekerja dengan orang-orang.
Sedangkan gaya kepemimpinan menurut pendapat Ranu
Pandjojon dan Husnan (1986: 28) adalah sebagai berikut : gaya
kepemimpinan sebagai pola tingkah laku yang dirancang untuk
mengintegrasikan tujuan organisasi dengan tujuan individu untuk
mencapai tujuan tertentu, setiap pemimpin mempunyai gaya
kepemimpinan yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain
dan tidak semestinya suatu gaya lebih baik atau lebih jelek daripada
gaya kepemimpinan yang lainnya.
Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa gaya kepemimpinan adalah pola perilaku yang dilakukan oleh
seseorang pemimpin pada saat pemimpin tersebut mencoba
mempengaruhi perilaku orang lain agar bekerja mancapai tujuan dan
sasaran yang telah ditetapkan sesuai dengan kondisi dan situasi
dalam organisasi.
9

Jenis-Jenis Gaya Kepemimpinan
Setiap pemimpin memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda-beda.
Dasar yang digunakan dalam memilih gaya kepemimpinan merupakan
tugas yang harus dilakukan oleh pimpinan. Seorang pimpinan harus
mempunyai kapasitas untuk membaca situasi yang dihadapi dan
menyesuaikan gaya kepemimpinannya sesuai dengan situasi dan
kondisi suatu organisasi. Menurut Heidjrachman dan Suad Husnan
(2002:225) secara umum, gaya kepemimpinan dapat dibagi menjadi 3
kelompok besar, yaitu :
1) Gaya kepemimpinan otokratik (The Autocratic Leader) Menurut tipe
ini, pimpinan yang mengambil keputusan dan pimpinan pula yang
bertanggungjawab atas keberhasilan tujuan karena pemimpin yang
otokrasi menganggap bahwa bawahannya tidak mampu untuk
mengarahkan diri mereka sendiri.
2) Gaya kepemimpinan partisipasi (The Participative Leader) Seorang
pemimpin yang partisipasif menjalankan kepemimpinannya melalui
konsultasi. Bawahan dilibatkan dalam pengambilan keputusan
dengan cara menerima berbagai pendapat dan pemikiran dari
bawahan mengenai keputusan yang akan ia ambil. Ia akan
mendengarkan dan menerima ide atau pemikiran dari bawahannya
sejauh pemikiran tersebut dapat dipraktekkan.
3) Gaya kepemimpinan kendali bebas (The Free Rein Leader)
Menurut tipe ini, pemimpin mendelegasikan wewenang untuk
mengambil keputusan kepada bawahan. Pemimpin menyerahkan
tanggung jawab pelaksanaan pekerjaan kepada bawahan dalam
arti pemimpin ingin agar bawahan bisa mengendalikan diri
terhadap penyelesaian suatu pekerjaan.
10

Adapun jenis-jenis gaya kepemimpinan menurut Malayu S. P.
Hasibuan (2005:170) adalah sebagai berikut:
1) Kepemimpinan Otoriter
Kepemimpinan otoriter adalah jika kekuasaan atau wewenang,
sebagian besar mutlak tetap berada pada pimpinan. Pengambilan
keputusan dan kebijaksanaan hanya ditetapkan sendiri oleh
pemimpin, bawahan tidak diikutsertakan untuk memberikan saran,
ide dan pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan.
2) Kepemimpinan Partisipatif
Kepemimpinan Partisipatif adalah apabila dalam kepemimpinan
dilakukan dengan cara persuatif, menciptakan kerjasama yang
serasi, menumbuhkan loyalitas, dan partisipasi para bawahan.
Pemimpin memotivasi bawahan agar merasa ikut memiliki
perusahaan.
3) Kepemimpinan Delegatif
Kepemimpinan delegatif apabila seorang pemimpin
mendelegasikan wewenang dengan agak lengkap. Dengan
demikian, bawahan dapat mengambil keputusan dan
kebijaksanaan bebas atau leluasa dalam melaksanakan
pekerjaannya. Pemimpin tidak peduli cara bawahan mengambil
keputusan dan mengerjakan pekerjaannya, sepenuhnya
diserahkan kepada bawahan.
4) Kepemimpinan Situasional
Penekanan pendekatan situasional adalah pada perilaku pemimpin
dan anggota pengikut dalam kelompok dan situasi yang variatif.
Dalam kepemimpinan situsional, tidak ada satu pun cara yang
terbaik untuk mempengaruhi orang lain. Gaya kepemimpinan mana
11

yang harus digunakan terhadap individu atau kelompok tergantung
pada tingkat kesiapan orang yang akan dipengaruhi.
Menurut George R. Terry yang dialihbahasakan oleh G.A.
Ticoalu, (2001 : 200-203), terdapat enam (6) tipe gaya kepemimpinan,
yaitu:
1. Kepemimpinan Pribadi (Personal Leadership)
Kepemimpinan pribadi dilaksanakan melalui hubungan pribadi.
Petunjuk- petunjuk dan dorongan atau motivasi diberikan secara
pribadi oleh pihak pimpinan. Tipe ini sering dianut oleh
perusahaan-perusahaan kecil, karena kompleksitas tenaga kerja
maupun kegiatannya amatlah kecil, sehingga pelaksanaannya
mudah dan sangat efektif untuk dilaksanakan.
2. Kepemimpinan Non Pribadi (Non Personal Leadership)
Kepemimpinan jenis ini, segala peraturan dan kebijakan-kebijakan
yang berlaku pada perusahaan melalui bawahan-bawahannya atau
mempergunakan media non pribadi serta kepercayaan-
kepercayaan, baik rencana-rencana. Pada tipe ini sangatlah
berperan program pendelegasian wewenang.
3. Kepemimpinan Otoritas (Authoritarian Leadership)
Kepemimpinan jenis ini didasarkan atas anggapan bahwa
kepemimpinan merupakan suatu hak dan pemimpin bersifat agak
kaku. Tugas-tugas, fasilitas, dan petunjuk-petunjuk diberikan tanpa
mengadakan konsultasi dengan pekerja yang melaksanakan tugas.
4. Kepemimpinan Demokrasi (Democrative Leadership)
Kepemimpinan jenis ini ditandai oleh partisipasi kelompok dan
diproduktifkan opini-opininya. Pihak pimpinan mengajukan
tindakantindakan tertentu, akan tetapi menunggu persetujuan
kelompok dan berusaha memenuhinya.
12

5. Kepemimpinan Peternalistis (Paternalistic Leadership)
Kepemimpinan tipe ini dicirikan oleh suatu pengaruh yang paternal
atau kebapakan dalam hubungan antar pemimpin kelompok,
tujuannya untuk melindungi dan memberi arah.
6. Kepemimpinan Bakat (Indigenous Leadership) Kepemimpinan
yang timbul pada orang-orang dari kelompok organisasi sosial
informal. Kelompok ini membentuk saling mempengaruhi diri
seseorang dengan orang lain pada pekerjaan di rumah, di sekolah,
pada permainan, dan sering timbul secara spontan atau ditentukan
oleh keaslian sifat dan pembawaan.
Menurut Ishak Arep, Hendri Tanjung, (2003 : 93-94),
mengemukakan empat (4) gaya kepemimpinan yang lazim digunakan,
antara lain:
1. Democratic leadership
Yakni suatu gaya kepemimpinan yang menitikberatkan kepada
kemampuan untuk menciptakan moral dan kemampuan untuk
menciptakan kepercayaan.
2. Dictatorial atau Authocratic Leadership
Yakni suatu gaya kepemimpinan yang menitikberatkan kepada
kesanggupan untuk memaksakan keinginannya yang mampu
mengumpulkan pengikut- pengikutnya untuk kepentingan
pribadinya dan golongannya dengan kesedian untuk menerima
segala risiko apapun.
3. Paternalistik Leadership
Yakni bentuk gaya pertama (Democratic) dan kedua (Dictatorial) di
atas. Yang pada dasarnya kehendak pemimpin juga harus berlaku,
namun dengan jalan atau melalui unsur-unsur demokrasi. Sistem
ini dapat diibaratkan Diktator yang berselimutkan Demokratis.
13

4. Free Rein Leadership
Yakni salah satu gaya kepemimpinan yang 100% menyerahkan
sepenuhnya seluruh kebijaksanaan pengoperasian manajemen
sumber daya manusia kepada bawahannya dengan hanya
berpegang kepada ketentuan-ketentuan pokok yang ditentukan
oleh atasan mereka. Pimpinan disini hanya sekedar mengawasi
dari atas dan menerima laporan kebijaksanaan pengoperasian
yang dilaksanakan oleh bawahan.
Dari beberapa pendapat diatas penulis menyimpulkan bahwa jenis
gaya kepemimpinan dalam sebuah organisasi adalah
1. Gaya kepemimpinan otoriter
Gaya kepemimpinan otoriter adalah jika kekuasaan atau
wewenang, sebagian besar mutlak tetap berada pada pimpinan.
karena pemimpin yang otokrasi menganggap bahwa bawahannya
tidak mampu untuk mengarahkan diri mereka sendiri.
2. Gaya kepemimpinan Demokratis
Pemimpin memotivasi bawahan agar merasa ikut memiliki
perusahaan dengan cara bawahan dilibatkan dalam pengambilan
keputusan dengan menerima berbagai pendapat dan pemikiran
dari bawahan mengenai keputusan yang akan ia ambil. Ia akan
mendengarkan dan menerima ide atau pemikiran dari bawahannya
sejauh pemikiran tersebut dapat dipraktekkan.
3. Gaya kepemimpinan delegatif
Pemimpin menyerahkan tanggung jawab pelaksanaan pekerjaan
kepada bawahan dalam arti pemimpin ingin agar bawahan bisa
mengendalikan diri terhadap penyelesaian suatu pekerjaan
Dengan demikian, bawahan dapat mengambil keputusan dan
14

kebijaksanaan bebas atau leluasa dalam melaksanakan
pekerjaannya.


5. FUNGSI-FUNGSI DI DALAM LINGKUNGAN PERUSAHAAN
Sebuah perusahaan mencangkup aneka macam fungsi yang
terkoordinasi. Fungsi-fungsi tersebut berhubungan erat dengan
tindakan memberikan pimpinan. Jika tidak dilaksakan fungsi-fungsi
tersebut dengan baik pada hakikatnya berarti bahwa pemberian
pemimpin didalam perusahaan yang bersangkutan tidak dilaksakan
dengan baik.
Fungsi-fungsi intern perusahaan menurut K.J. Groeneveld
meliputi:
a. Pimpinan Umum (De Algemene Leiding)
b. Fungsi Finansial (De Financiele Functie)
c. Fungsi Teknis (De Technische Functie)
d. Fungsi Komersial (De Commerciele Functie) yang meliputi:
d
1
Fungsi Pembelian (De inkoopfunctie)
d
2
Fungsi Penjualan (De Verkoop-of Alzetfunctie)
e. Fungsi Personil (De Personeelsfunctie)
f. Fungsi Administratif (De Administratieve Functie)
Adapun penjelasan fungsi-fungsi diatas :
a. Pimpinan umum meliputi dua hal pokok:
Penetapan sasaran-sasaran fisik dan ekonomis daripada
perusahaan (penetapan garis-garis besar kebijaksanaan yang
akan ditempuh.
Usaha bahwa semua barang dan manusia (segala alat-alat
serta tindakan-tindakan) ditujukan kearah pencapaian tujuan
perusahaan yang telah digariskan.
15

b. Fungsi Finansial
Fungsi finansial mempunyai tugas primer yaitu memperoleh modal
dalam jumlah dan kualitas-kualitas yang cocok untuk perusahaan.
c. Fungsi teknis
Fungsi teknis merupakan fungsi perusahaan sebagai penghasil
fisik daripada barang-barang atau jasa-jasa.
d. Fungsi Komersial
d
1
Fungsi pembelian: fungsi pembelian bertugas untuk
menyediakan (bagi kepentingan) mesin-mesin, bahan-bahan,
dan jasa-jasa dari pihak ketiga dalam jumlah-waktu-kualitas
yang tepat serta dengan syarat-syarat tertentu khususnya
sehubungan dengan harga.
d
2
Fungsi Penjualan: fungsi penjualan pada badan usaha bertugas
unyuk menjamin hasil yang sebesar mungkin (dalam koordinasi
dengan kemampuan produksi dan biaya-biaya untuk
menghasilkan dan penjualan).
e. Fungsi Personil
Fungsi personil bertugas untuk merekrut pekerjaan yang
diperlukan oleh perusahaan dalam jumlah dan kualitas yang
memadai- begitu pula untuk jangka waktu yang tepat.
f. Fungsi Administratif
Fungsi administratif meliputi pemberian dalam arti kata seluas-
luasnya dan fungsi comtabel: pembukuan-statistik dan sebagainya.
Fungsi-fungsi terpenting fungsi comptabel adalah: control atas
pemeliharaan objek-objek kekayaan: pemberitaan secara periodik
tentang susunan komponen-komponen kekayaan (neraca):
perhitungan hasil secara periodikdan pada perkembangan
selanjutnya juga kalkulasi harga pokok.

16

6. MODEL-MODEL KEPEMIMPINAN
Dalam perkembangannya, model yang relatif baru dalam studi
kepemimpinan disebut sebagai model kepemimpinan transformasional.
Model ini dianggap sebagai model yang terbaik dalam menjelaskan
karakteristik pemimpin. Konsep kepemimpinan transformasional ini
mengintegrasikan ide-ide yang dikembangkan dalam pendekatan watak,
gaya dan kontingensi.
Berikut ini akan dibahas tentang perkembangan pemikiran ahli-
ahli manajemen mengenai model-model kepemimpinan yang ada dalam
literatur.
a. Model Watak Kepemimpinan (Traits Model of Leadership)
Pada umumnya studi-studi kepemimpinan pada tahap awal
mencoba meneliti tentang watak individu yang melekat pada diri para
pemimpin, seperti misalnya: kecerdasan, kejujuran, kematangan,
ketegasan, kecakapan berbicara, kesupelan dalam bergaul, status
sosial ekonomi mereka dan lain-lain (Bass 1960, Stogdill 1974).
Stogdill (1974) menyatakan bahwa terdapat enam kategori
faktor pribadi yang membedakan antara pemimpin dan pengikut,
yaitu kapasitas, prestasi, tanggung jawab, partisipasi, status dan
situasi. Namun demikian banyak studi yang menunjukkan bahwa
faktor-faktor yang membedakan antara pemimpin dan pengikut dalam
satu studi tidak konsisten dan tidak didukung dengan hasil-hasil studi
yang lain. Disamping itu, watak pribadi bukanlah faktor yang
dominant dalam menentukan keberhasilan kinerja manajerial para
pemimpin. Hingga tahun 1950-an, lebih dari 100 studi yang telah
dilakukan untuk mengidentifikasi watak atau sifat personal yang
dibutuhkan oleh pemimpin yang baik, dan dari studi-studi tersebut
dinyatakan bahwa hubungan antara karakteristik watak dengan
17

efektifitas kepemimpinan, walaupun positif, tetapi tingkat
signifikasinya sangat rendah(Stogdill 1970).
Bukti-bukti yang ada menyarankan bahwa "leadership is a
relation that exists between persons in a social situation, and that
persons who are leaders in one situation may not necessarily be
leaders in other situation" (Stogdill 1970). Apabila kepemimpinan
didasarkan pada faktor situasi, maka pengaruh watak yang dimiliki
oleh para pemimpin mempunyai pengaruh yang tidak signifikan.
Kegagalan studi-studi tentang kepimpinan pada periode awal ini,
yang tidak berhasil meyakinkan adanya hubungan yang jelas antara
watak pribadi pemimpin dan kepemimpinan, membuat para peneliti
untuk mencari faktor-faktor lain (selain faktor watak), seperti misalnya
faktor situasi, yang diharapkan dapat secara jelas menerangkan
perbedaan karakteristik antara pemimpin dan pengikut.
b. Model Kepemimpinan Situasional (Model of Situasional
Leadership)
Model kepemimpinan situasional merupakan pengembangan
model watak kepemimpinan dengan fokus utama faktor situasi
sebagai variabel penentu kemampuan kepemimpinan. Studi tentang
kepemimpinan situasional mencoba mengidentifikasi karakteristik
situasi atau keadaan sebagai faktor penentu utama yang membuat
seorang pemimpin berhasil melaksanakan tugas-tugas organisasi
secara efektif dan efisien. Dan juga model ini membahas aspek
kepemimpinan lebih berdasarkan fungsinya, bukan lagi hanya
berdasarkan watak kepribadian pemimpin.
Hencley (1973) menyatakan bahwa faktor situasi lebih
menentukan keberhasilan seorang pemimpin dibandingkan dengan
watak pribadinya. Menurut pendekatan kepemimpinan situasional ini,
seseorang bisa dianggap sebagai pemimpin atau pengikut tergantung
18

pada situasi atau keadaan yang dihadapi. Banyak studi yang
mencoba untuk mengidentifikasi karakteristik situasi khusus yang
bagaimana yang mempengaruhi kinerja para pemimpin.Hoy dan
Miskel (1987), misalnya, menyatakan bahwa terdapat empat faktor
yang mempengaruhi kinerja pemimpin, yaitu sifat struktural
organisasi (structural properties of the organisation), iklim atau
lingkungan organisasi (organisational climate), karakteristik tugas
atau peran (role characteristics) dan karakteristik bawahan
(subordinate characteristics). Kajian model kepemimpinan situasional
lebih menjelaskan fenomena kepemimpinan dibandingkan dengan
model terdahulu. Namun demikian model ini masih dianggap belum
memadai karena model ini tidak dapat memprediksikan kecakapan
kepemimpinan (leadership skills) yang mana yang lebih efektif dalam
situasi tertentu.
c. Model Pemimpin yang Efektif (Model of Effective Leaders)
Model kajian kepemimpinan ini memberikan informasi
tentang tipe-tipe tingkah laku (types of behaviours) para pemimpin
yang efektif. Tingkah laku para pemimpin dapat dikatagorikan
menjadi dua dimensi, yaitu struktur kelembagaan (initiating structure)
dan konsiderasi (consideration). Dimensi struktur kelembagaan
menggambarkan sampai sejauh mana para pemimpin mendefinisikan
dan menyusun interaksi kelompok dalam rangka pencapaian tujuan
organisasi serta sampai sejauh mana para pemimpin
mengorganisasikan kegiatan-kegiatan kelompok mereka. Dimensi ini
dikaitkan dengan usaha para pemimpin mencapai tujuan organisasi.
Dimensi konsiderasi menggambarkan sampai sejauh mana tingkat
hubungan kerja antara pemimpin dan bawahannya, dan sampai
sejauh mana pemimpin memperhatikan kebutuhan sosial dan emosi
bagi bawahan seperti misalnya kebutuhan akan pengakuan,
19

kepuasan kerja dan penghargaan yang mempengaruhi kinerja
mereka dalam organisasi. Dimensi konsiderasi ini juga dikaitkan
dengan adanya pendekatan kepemimpinan yang mengutamakan
komunikasi dua arah, partisipasi dan hubungan manusiawi (human
relations).
Halpin (1966), Blake and Mouton (1985) menyatakan bahwa
tingkah laku pemimpin yang efektif cenderung menunjukkan kinerja
yang tinggi terhadap dua aspek di atas. Mereka berpendapat bahwa
pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang menata kelembagaan
organisasinya secara sangat terstruktur, dan mempunyai hubungan
yang persahabatan yang sangat baik, saling percaya, saling
menghargai dan senantiasa hangat dengan bawahannya. Secara
ringkas, model kepemimpinan efektif ini mendukung anggapan
bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang dapat
menangani kedua aspek organisasi dan manusia sekaligus dalam
organisasinya.

d. Model Kepemimpinan Kontingensi (Contingency Model)
Studi kepemimpinan jenis ini memfokuskan perhatiannya
pada kecocokan antara karakteristik watak pribadi pemimpin, tingkah
lakunya dan variabel-variabel situasional. Kalau model kepemimpinan
situasional berasumsi bahwa situasi yang berbeda membutuhkan tipe
kepemimpinan yang berbeda, maka model kepemimpinan
kontingensi memfokuskan perhatian yang lebih luas, yakni pada
aspek-aspek keterkaitan antara kondisi atau variabel situasional
dengan watak atau tingkah laku dan kriteria kinerja pemimpin (Hoy
and Miskel 1987).
Model kepemimpinan Fiedler (1967) disebut sebagai model
kontingensi karena model tersebut beranggapan bahwa kontribusi
20

pemimpin terhadap efektifitas kinerja kelompok tergantung pada cara
atau gaya kepemimpinan (leadership style) dan kesesuaian situasi
(the favourableness of the situation) yang dihadapinya. Menurut
Fiedler, ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kesesuaian situasi
dan ketiga faktor ini selanjutnya mempengaruhi keefektifan
pemimpin. Ketiga faktor tersebut adalah hubungan antara pemimpin
dan bawahan (leader-member relations), struktur tugas (the task
structure) dan kekuatan posisi (position power).
Hubungan antara pemimpin dan bawahan menjelaskan
sampai sejauh mana pemimpin itu dipercaya dan disukai oleh
bawahan, dan kemauan bawahan untuk mengikuti petunjuk
pemimpin. Struktur tugas menjelaskan sampai sejauh mana tugas-
tugas dalam organisasi didefinisikan secara jelas dan sampai sejauh
mana definisi tugas-tugas tersebut dilengkapi dengan petunjuk yang
rinci dan prosedur yang baku. Kekuatan posisi menjelaskan sampai
sejauh mana kekuatan atau kekuasaan yang dimiliki oleh pemimpin
karena posisinya diterapkan dalam organisasi untuk menanamkan
rasa memiliki akan arti penting dan nilai dari tugas-tugas mereka
masing-masing. Kekuatan posisi juga menjelaskan sampai sejauh
mana pemimpin (misalnya) menggunakan otoritasnya dalam
memberikan hukuman dan penghargaan, promosi dan penurunan
pangkat (demotions).Model kontingensi yang lain, Path-Goal Theory,
berpendapat bahwa efektifitas pemimpin ditentukan oleh interaksi
antara tingkah laku pemimpin dengan karakteristik situasi (House
1971). Menurut House, tingkah laku pemimpin dapat dikelompokkan
dalam 4 kelompok: supportive leadership(menunjukkan perhatian
terhadap kesejahteraan bawahan dan menciptakan iklim kerja yang
bersahabat), directive leadership (mengarahkan bawahan untuk
bekerja sesuai dengan peraturan, prosedur dan petunjuk yang
21

ada), participative leadership (konsultasi dengan bawahan dalam
pengambilan keputusan) dan achievement-oriented leadership
(menentukan tujuan organisasi yang menantang dan menekankan
perlunya kinerja yang memuaskan).
Menurut Path-Goal Theory, dua variabel situasi yang sangat
menentukan efektifitas pemimpin adalah karakteristik pribadi para
bawahan/karyawan dan lingkungan internal organisasi seperti
misalnya peraturan dan prosedur yang ada. Walaupun model
kepemimpinan kontingensi dianggap lebih sempurna dibandingkan
modelmodel sebelumnya dalam memahami aspek kepemimpinan
dalam organisasi, namun demikian model ini belum dapat
menghasilkan klarifikasi yang jelas tentang kombinasi yang paling
efektif antara karakteristik pribadi, tingkah laku pemimpin dan variabel
situasional.
e. Model Kepemimpinan Transformasional (Model of
Transformational Leadership)
Model kepemimpinan transformasional merupakan model
yang relatif baru dalam studi-studi kepemimpinan. Burns (1978)
merupakan salah satu penggagas yang secara eksplisit
mendefinisikan kepemimpinan transformasional. Menurutnya, untuk
memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang model
kepemimpinan transformasional, model ini perlu dipertentangkan
dengan model kepemimpinan transaksional. Kepemimpinan
transaksional didasarkan pada otoritas birokrasi dan legitimasi di
dalam organisasi. Pemimpin transaksional pada hakekatnya
menekankan bahwa seorang pemimpin perlu menentukan apa yang
perlu dilakukan para bawahannya untuk mencapai tujuan organisasi.
Disamping itu, pemimpin transaksional cenderung memfokuskan diri
pada penyelesaian tugas-tugas organisasi. Untuk memotivasi agar
22

bawahan melakukan tanggungjawab mereka, para pemimpin
transaksional sangat mengandalkan pada sistem pemberian
penghargaan dan hukuman kepada bawahannya. Sebaliknya, Burns
menyatakan bahwa model kepemimpinan transformasional pada
hakekatnya menekankan seorang pemimpin perlu memotivasi para
bawahannya untuk melakukan tanggungjawab mereka lebih dari
yang mereka harapkan.
Pemimpin transformasional harus mampu mendefinisikan,
mengkomunikasikan dan mengartikulasikan visi organisasi, dan
bawahan harus menerima dan mengakui kredibilitas
pemimpinnya.Hater dan Bass (1988) menyatakan bahwa "the
dynamic of transformational leadership involve strong personal
identification with the leader, joining in a shared vision of the future, or
goingbeyond the self-interest exchange of rewards for compliance".
Dengan demikian, pemimpin transformasional merupakan pemimpin
yang karismatik dan mempunyai peran sentral dan strategis dalam
membawa organisasi mencapai tujuannya. Pemimpin
transformasional juga harusmempunyai kemampuan untuk
menyamakan visi masa depan dengan bawahannya, serta
mempertinggi kebutuhan bawahan pada tingkat yang lebih tinggi dari
pada apa yang mereka butuhkan. Menurut Yammarino dan Bass
(1990), pemimpin transformasional harus mampu membujuk para
bawahannya melakukan tugas-tugas mereka melebihi kepentingan
mereka sendiri demi kepentingan organisasi yang lebih besar.
Yammarino dan Bass (1990) juga menyatakan bahwa
pemimpin transformasional mengartikulasikan visi masa depan
organisasi yang realistik, menstimulasi bawahan dengan cara yang
intelektual, dan menaruh parhatian pada perbedaan-perbedaan yang
dimiliki oleh bawahannya. Dengan demikian, seperti yang
23

diungkapkan oleh Tichy and Devanna (1990), keberadaan para
pemimpin transformasional mempunyai efek transformasi baik pada
tingkat organisasi maupun pada tingkat individu.
Dalam buku mereka yang berjudul "Improving Organizational
Effectiveness through Transformational Leadership", Bass dan Avolio
(1994) mengemukakan bahwa kepemimpinan transformasional
mempunyai empat dimensi yang disebutnya sebagai "the Four I's".
Dimensi yang pertama disebutnya sebagai idealized influence
(pengaruh ideal).
Dimensi yang pertama ini digambarkan sebagai perilaku
pemimpin yang membuat para pengikutnya mengagumi,
menghormati dan sekaligus mempercayainya. Dimensi yang kedua
disebut sebagai inspirational motivation (motivasi inspirasi). Dalam
dimensi ini, pemimpin transformasional digambarkan sebagai
pemimpin yang mampu mengartikulasikan pengharapan yang jelas
terhadap prestasi bawahan, mendemonstrasikan komitmennya
terhadap seluruh tujuan organisasi, dan mampu menggugah spirit tim
dalam organisasi melalui penumbuhan entusiasme dan optimisme.
Dimensi yang ketiga disebut sebagai intellectual stimulation
(stimulasi intelektual). Pemimpin transformasional harus mampu
menumbuhkan ide-ide baru, memberikan solusi yang kreatif terhadap
permasalahan-permasalahan yang dihadapi bawahan, dan
memberikan motivasi kepada bawahan untuk mencari pendekatan-
pendekatan yang baru dalam melaksanakan tugas-tugas organisasi.
Dimensi yang terakhir disebut sebagai individualized consideration
(konsiderasi individu). Dalam dimensi ini, pemimpin transformasional
digambarkan sebagai seorang pemimpin yang mau mendengarkan
dengan penuh perhatian masukan-masukan bawahan dan secara
24

khusus mau memperhatikan kebutuhan-kebutuhan bawahan akan
pengembangan karir.
Walaupun penelitian mengenai model transformasional ini
termasuk relatif baru, beberapa hasil penelitian mendukung validitas
keempat dimensi yang dipaparkan oleh Bass dan Avilio di atas.
Banyak peneliti dan praktisi manajemen yang sepakat bahwa model
kepemimpinan transformasional merupakan konsep kepemimpinan
yang terbaik dalam menguraikan karakteristik pemimpin (Sarros dan
Butchatsky 1996). Konsep kepemimpinan transformasional ini
mengintegrasikan ide-ide yang dikembangkan dalam pendekatan-
pendekatan watak (trait), gaya (style) dan kontingensi, dan juga
konsep kepemimpinan transformasional menggabungkan dan
menyempurnakan konsep-konsep terdahulu yang dikembangkan oleh
ahli-ahli sosiologi (seperti misalnya Weber 1947) dan ahli-ahli politik
(seperti misalnya Burns 1978).
Beberapa ahli manajemen menjelaskan konsep-konsep
kepimimpinan yang mirip dengan kepemimpinan transformasional
sebagai kepemimpinan yang karismatik, inspirasional dan yang
mempunyai visi (visionary). Meskipun terminologi yang digunakan
berbeda, namun fenomenafenomana kepemimpinan yang
digambarkan dalam konsep-konsep tersebut lebih banyak
persamaannya daripada perbedaannya. Bryman (1992) menyebut
kepemimpinan transformasional sebagai kepemimpinan baru (the
new leadership), sedangkan Sarros dan Butchatsky (1996)
menyebutnya sebagai pemimpin penerobos (breakthrough
leadership).
Disebut sebagai penerobos karena pemimpim semacam ini
mempunyai kemampuan untuk membawa perubahan-perubahan
yang sangat besar terhadap individu-individu maupun organisasi
25

dengan jalan: memperbaiki kembali (reinvent) karakter diri individu-
individu dalam organisasi ataupun perbaikan organisasi, memulai
proses penciptaan inovasi, meninjau kembali struktur, proses dan
nilai-nilai organisasi agar lebih baik dan lebih relevan, dengan cara-
cara yang menarik dan menantang bagi semua pihak yang terlibat,
dan mencoba untuk merealisasikan tujuan-tujuan organisasi yang
selama ini dianggap tidak mungkin dilaksanakan. Pemimpin
penerobos memahami pentingnya perubahan-perubahan yang
mendasar dan besar dalam kehidupan dan pekerjaan mereka dalam
mencapai hasil-hasil yang diinginkannya. Pemimpin penerobos
mempunyai pemikiran yang metanoiac, dan dengan bekal pemikiran
ini sang pemimpin mampu menciptakan pergesaran paradigma untuk
mengembangkan Praktekorganisasi yang sekarang dengan yang
lebih baru dan lebih relevan. Metanoia berasaldari kata Yunani meta
yang berarti perubahan, dan nous/noos yang berarti pikiran.
Dengan perkembangan globalisasi ekonomi yang makin
nyata, kondisi di berbagai pasar dunia makin ditandai dengan
kompetisi yang sangat tinggi (hyper-competition). Tiap keunggulan
daya saing perusahaan yang terlibat dalam permainan global (global
game) menjadi bersifat sementara (transitory). Oleh karena itu,
perusahaan sebagai pemain dalam permainan global harus terus
menerus mentransformasi seluruh aspek manajemen internal
perusahaan agar selalu relevan dengan kondisi persaingan baru.
Pemimpin transformasional dianggap sebagai model
pemimpin yang tepat dan yang mampu untuk terus-menerus
meningkatkan efisiensi, produktifitas, dan inovasi usaha guna
meningkatkan daya saing dalam dunia yang lebih bersaing

26

KESIMPULAN

Kepemimpinan adalah suatu upaya penggunaan jenis pengaruh bukan
paksaan (concoersive) untuk memotivasi orang-orang mencapai tujuan
tertentu. Atau bisa dikatakan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan
seseorang untuk mempengaruhi orang lain (para bawahannya) sedemikian
rupa sehingga orang lain itu mau melakukan kehendak pemimpin.
Adapun gaya kepemimpinan diantaran Gaya kepemimpinan otoriter,
Gaya kepemimpinan Demokratis, dan Gaya kepemimpinan Delegatif.
Gaya Kepemimpinan pada penerapannya dapat memilih salah satu gaya
kepemimpinan atau menggabungkan beberapa gaya kepemimpinan yang
sesuai dengan keadaaan organisasi, sehingga ketepatan pemilihan gaya
kepemimpinan akan meningkatkan efektifitas pencapaian tujuan organisasi.
Disamping itu fungsi-fungsi di dalam lingkungan perusahaan dapat
mempengaruhi tindakan memberikan pimpinan. Fungsi-fungsi intern
perusahaan tersebut adalah Pimpinan Umum (De Algemene Leiding), Fungsi
Finansial (De Financiele Functie), Fungsi Teknis (De Technische Functie),
Fungsi Komersial (De Commerciele Functie) yang meliputi:

Fungsi Pembelian
(De inkoopfunctie) dan Fungsi Penjualan (De Verkoop-of Alzetfunctie),
Fungsi Personil (De Personeelsfunctie), Fungsi Administratif (De
Administratieve Functie)
Model kepemimpinan sendiri ada lima, yaitu model watak
kepemimpinan, model kepemimpinan situasional, model pemimpin yang
efektif, model kepemimpinan kontingensi dan model kepemimpinan
transaksional.

27

DAFTAR PUSTAKA

Arep,Ishak, dan Tanjung, Hendri.2004. Manajemen Motivasi. Jakarta : PT.
Gramedia Widiasarana Indonesia.
Bass, B.M. 1960. Leadership, Psychology and Organizational Behavior,
Harper and Brothers. New York.
Bass, B.M. and Avolio, B.J. 1994. Improving Organizational Effectiveness
through Transformational Leadership, Sage. Thousand Oaks.
Bryman, A. 1992. Charisma and Leadership in Organizations. Sage. London.
Burns, J.M. 1978. Leadership, Harper and Row. New York.
Deviton JA. The Interpersonal Communication Book, 7th Ed. Hunter College
of The City University of New York, 1995.
Fiedler, F.E. 1967. A Theory of Leadership Effectiveness. McGraw-Hill, New
York.
French, J. and Raven, B. 1967 .The basis of social power. in D. Cartwright
and A. Zander (eds.), Group.
Handoko, T. Hani. 2001. Manajemen personalia dan sumberdaya manusia.
Yogyakarta: BPFE.
Hasibuan. H. Malayu S.P. 2005. Organisasi dan motivasi Dasar peningkatan
produktivitas . Jakarta: Bumi Aksara.
Kartini kartono. 2005. Pemimpin dan Kepemimpinan Abnormal. Jakarta : PT.
Raja Grasindo Persada.
Terry, George R. 2001 . Dasar-Dasar Manajemen. Jakarta: Bumi Aksara.
28

Yukl, Gary A.2005. Kepemimpinan Dalam Organisasi, edisi kelima. Jakata:
PTINDEKS
Winardi, J. 2005. Manajemen Perilaku Organisasi, Edisi Revisi. Jakarta : PT.
Prenda Media
Gibson dkk. 2007. Organisasi, Edisi Kelima Jilid 1. Jakarta : PT. Erlangga
Hidayat, Rachmat. 2013. Pengaruh Kepemimpinan terhadap Komunikasi,
Kepuasan Kerja, dan Komitmen Organisasi pada Industri Perbankan.
Jurnal Makara Seri Sosial Humaniora, Vol. 17 No. 1. Diunduh pada 28
Mei 2014 pukul 19.20 WIB