Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

Nama percobaan : KH 2
Hari/Tanggal percobaan : Kamis/ 6 September 2012
Kelompok : A
Nama Mahasiswa / NRP : 1. Ni Made Ayu Lestari /2443010140
2. Regina Selviana Wjiaya /2443010201
3. Amelia /2443011029
4. Fanny Kusuma /2443011030
5. Stefanus Alfianto /2443011033
6. Katharina Irna Da Silva /2443011216

KH 2. Karakterisasi Ikatan Glikosidik Karbohidrat Secara Polarimetri
I. Tujuan Percobaan
- Mendeteksi molekul asimetrik karbohidrat dengan mengukur rotasi optik
- Mengidentifikasi karakterisasi kimia dan polarimetrik monosakarida dan
disakarida
II. Dasar Teori
Polarimeter adalah alat untuk mengukur besarnya putaran berkas cahaya
terpolarisasi oleh suatu zat optis aktif. Zat yang bersifat optis aktif adalah zat
yang memiliki struktur transparan dan tidak simetris sehingga mampu
memutar bidang polarisasi radiasi. Materi yang bersifat optis aktif contohnya
adalah kuarsa, gula, dan sebagainya. Pemutaran dapat berupa dextrorotatory
(+) bila arahnya sesuai dengan arah putar jarum jam ataupun levo-rotatory bila
arahnya berlawanan dengan jarum jam. Rotasi spesifik didefinisikan sebagai :




= sudut pada bidang cahaya terpolarisasi
c = konsentrasi larutan yang digunakan (gram zat terlarut per ml larutan)
l = panjang bejana yang digunakan (dm)

= rotasi spesifik
(Kolthoff, I.M. 1958. Hal 655)

Derajat rotasi perputaran bidang polarisasi bergantung pada :
1. Struktur molekul
2. Temperatur
3. Panjang gelombang
4. Konsentrasi
5. Panjang tabung polarimeter
6. Banyaknya molekul pada jalan cahaya
7. Pelarut
Skema kerja polarimeter adalah cahaya dinyalakan dan tabung sampel kosong,
prisma penganalisis diputar sehingga berkas cahaya yang terpolarisasi oleh
prisma pemolarisasi benar-benar terhalangi dan bidang pandang menjadi
gelap. Pada saat ini sumbu prisma dari prisma pemolarisasi dan
prisma penganalisis tegak lurus satu dengan lainnya. Sekarang sampel
diletakkan pada tabung sampel. Jika zat bersifat inaktif (tidak aktif) optis
(optically in active), tidak ada perubahan yang terjadi. Bidang pandang tetap
gelap. Akan tetapi, jika zat bersifat aktif optis (optical active) diletakkan pada
tabung, zat memutar bidang polarisasi, dan sebagian cahaya akan melewati
penganalisis ke arah pengamat. Dengan memutar prisma penganalisis searah
jarum jam atau berlawanan jarum jam, pengamat akan sekali lagi menghalangi
cahaya dan mengembalikan medan yang gelap.
(Hart Harold E. Craine leslie. 2003. Hal 170)

Polarisasi adalah peristiwa perubahan arah getar gelombang cahaya yang acak
menjadi satu arah getar, sedangkan polarisasi optik adalah salah satu sifat
cahaya yakni jika cahaya itu bergerak beroscillasi dengan arah tertentu.Terjadi
akibat peristiwa berikut :
1. Polarisasi dapat diakibatkan oleh pemantulan Brewster
2. Polarisator karena penyerapan selektif
3. Polarisasi karena pembiasan ganda, terjadi pada hablur kolkspat (CaCO
3
),
kuarsa, mike, kristal gula, topaz, dan es. Polarisasi cahaya adalah penguraian cahaya,
gambar arah cahayanya merambat lurus.
Cahaya monokromatik dihasilkan dengan menggunakan sodium lamp (lampu natrium)
dimana gas natrium pijar akan menghasilkan lampu warna kuning. Cahaya
monokromatik pada dasarnya mempunyai bidang getar yang banyak sekali.
Bila dihayalkan maka bidang getar tersebut akan tegak lurus pada bidang
datar. Bidang getar yang banyak sekali ini secara mekanik dapat dipisahkan
menjadi dua bidang getar yang saling tegak lurus.

Senyawa Pelarut Temperatur
o
C Rotasi spesifik
Champor Alkohol 25 + 43,8
o

Sukrosa Air 20 + 66,5
o

D-glukosa Air 20 + 52,5
o

L-fruktosa Air 20 - 93
o

Laktosa Air 15 + 56,0
o

Maltosa Air 20 + 136,9
o

Asam tartat Air 20 + 13.4
o

(Ewing, Galen W. 1960. Hal 151)

Karbohidat bersifat optis aktif sehingga dapat dianalisa secara polarimetri. Hal
ini disebabkan karena molekul penyusun karbohidrat mempunyai susunan
yang simetris sehingga mempunyai kemampuan untuk memutar bidang sinar
terpolarisasi.
Untuk memperoleh hasil yang teliti harus diperhatikan :
1. Larutan harus jernih dan tidak berwarna
2. Larutan tidak mengandung bahan asing yang bersifat optis aktif sehingga
perlu penjernihan sebelumnya.
3. Konsentrasi sampel pada daerah yang optimum untuk alat yang
bersangkutan, tidak terlalu pekat ataupun encer.
(Sudarmaji, Slamet. 1989. Hal 89)

III. Alat dan Bahan
Alat :
1. Polarimeter dan sel 1-dm/2-dm
2. Labu ukur 50 ml dan 100 ml
3. Penangas air suhu konstan pada 37
o
C
4. Pipet tetes
5. Beaker glass
6. Kertas lensa
7. Erlenmeyer 125 ml
Bahan :
1. Glukosa
2. Fruktosa
3. Sukrosa
4. HCl pekat atau HCl 6N
5. Air suling

IV. Cara Kerja
A. Persiapan polarimeter

















Sel polarimeter
Sel polarimeter dibilas
berkali-kali (kaca
lensa pada ujung sel
tidak boleh
tergores/pecah)
Diisi sampai meluber
(terjadi permukaan
cembung)
Tutup dengan menggeser kaca lensa pada sisi
cairan yang cembung. Tidak boleh ada udara
yang terperangkap dalam sel.

Jika terdapat
gelembung udara,
tambahkan air dengan
pipet.
Bersihkan lensa kaca di ujung sel dengan kertas
lensa. Masukan sel polarimeter ke dalam polarimeter.
Atur titik nol alat polarimeter dengan memutar
analyzer.























B. Penentuan sifat mutarotasi dan inversi karbohidrat
Siapkan 3 buah larutan :
1. Glukosa 10% 100 ml
2. Fruktosa 10% 100 ml
3. Sukrosa 20% 50 ml





Tuang air suling
Keringkan dengan
mengangin-anginkan
di udara
POLARIMETER MANUAL
- putar analyzer
-Cari dua daerah lingkaran

Unbalanced Balanced unbalanced
- Putar analyzer sampai daerah separuh lingkaran menjadi sama
intensitas warna/cahaya(daerah balanced)
- Baca sudut yang telah diatur oleh analyzer, atur titik nolnya, catat
- Putar analyzer beberapa derajat keluar dari titik nol, atur pada titik
nolnya, catat
- Putar analyzer beberapa derajat pada arah yang berlawanan dengan
sebelahnya, atur pada titik nolnya, catat.
- Hitung rata-rata dari ketiga pembacaan dan gunakan hasilnya sebagai
hasil pengaturan titik nol
Cara kerja :
A. Untuk larutan glukosa dan fruktosa
















B. Untuk larutan sukrosa
1.






2.



Masing-masing
larutan glukosa dan
fruktosa dibagi 2
menjadi 50 ml dan 50
ml.
Bagian I diisi pada tabun polarimeter.
Tentukan pembacaan rotasi optiknya
sebanyak 3 x pembacaan.
Aduk homogen

Diamkan dalam
penangas air suhu
60
o
C, selama 30 menit

Setelah 30 menit, isikan larutan
ke dalam tabun polarimeter.
Tentukan hasil pembacaan
rotasi optiknya dalam bentuk
nilai rata-rata dari 3x
pembacaan
Tambahkan air suling
20 ml ke dalam
larutan sukrosa 20 ml
Isikan ke dalam tabung
polarimeter.
Tentukan rata-rata 3 x hasil
pembacaan rotasi optisnya.
Tambahkan HCL 6N
20 ml ke dalam
larutan sukrosa 20 ml
dan aduk homogen
Panaskan pada suhu
60
o
C selama 30 menit










C. Analisa Hasil
1. Carilah nilai rotasi spesifik ketiga senyawa uji tersebut di atas dari literatur
2. Hitunglah rotasi spesifik [ ]
D
20
untuk sampel sesuai persamaan 2.1 Hitunglah
signifikansi statistik untuk data ( standar deviasi ). Bandingkan kedua nilai
yang diperoleh dengan nilai rotasi optik karbohidrat dari literatur.
Persamaan 2.1
[ ]
D
20
=
obs
I . C

obs
= rotasi optis hasil pengukuran (
0
)
I = panjang sel tabung polarimeter ( dm )
C = konsentrasi senyawa optis aktif/sampel dalam g/ml
Untuk senyawa yang berada dalam bentuk campuran maka
obs
merupakan
hasil penjumlahan dari rotasi optis masing masing senyawa penyusun
campuran tersebut. Jangan lupa untuk mengoreksi nilai
obs
sampel yang
diperoleh dengan rata rata pelarut yang digunakan.
3. Untuk masing masing hasil perhitungan, hitunglah pula signifikansi
statistiknya ( standar deviasi ).






Setelah 30 menit masukkan ke dalam
tabung polarimeter.
Baca rotasi optisnya sebanyak 3 x dan
yakinkan bahwa hasil 3 x pembacaan
tersebut telah konstan (tidak berubah lagi).
V. Data Hasil Pengamatan











Tabel Hasil Pengamatan
Larutan Rotasi Optik Rata-rata
Glukosa 10 % 4,6 4,7 4,4 4,5
Glukosa 10 %
+ HCl 6N
4,1 4,6 4,7 4,4
Sukrosa 20 % 5,683
Sukrosa 20 %
+ HCl 6N
- 2,5
Air suling 0,08 0,08 0,08 0,08

VI. Pengolahan data
1. Glukosa 10%
Pengamatan I : 4,6
II : 4,7
III : 4,4
Rata rata = 4,5




=



= 45

2. Glukosa 10% + HCl 6N
Pengamatan I : 4,1
II : 4,6
III : 4,7
Rata rata = 4,4




=



= 44

3. Sukrosa 20 %
Pengamatan I :
II :
III :
Rata rata = 5,683




=



= 56,83

4. Sukrosa 20 % + HCl 6N
Pengamatan I :
II :
III :
Rata rata = - 2,5




=



= -2,5

VII. Pembahasan
Kami melakukan percobaan terhadap glukosa.
Dari hasil yang kami peroleh, didapatkan hasil bahwa rotasi spesifik dari
glukosa adalah +44 (Glukosa 10% + HCl 6N) dan +45 (Glukosa 10%) berbeda
jauh dengan literatur yang mengatakan bahwa rotasinya +52,5. Menurut kami,
hal ini dikarenakan adanya kesalahan pada pembacaan rotasi spesifik air
suling pada polarimeter tidak mencapai titik redup yang sesuai dengan syarat
gambar nomor 2.
VIII. Kesimpulan
- Rotasi spesifik dapat diamati dengan alat polarimeter
- Glukosa merupakan senyawa yang optis aktif karena rotasi optik yang dapat
dideteksi dengan polarimeter
- Pembacaan pada rotasi spesifik pada air suling (blanko) dapat mempengaruhi
rotasi spesifik dari suatu senyawa yang di uji.
IX. Bahan diskusi
1. Buatlah bagan (skema) dari percobaan yang akan Saudara lakukan pada
praktikum secara singkat atau jelas dalam gambar-gambar!
( Jawaban sudah ada pada cara kerja )

2. Apa yang dimaksud dengan polarisasi cahaya dan sifat optis aktif?
- Polarisasi cahaya adalah salah satu sifat cahaya yakni jika cahaya itu bergerak
beroscillasi dengan arah tertentu. Cahaya termasuk gelombang
elektromagnetik, yang artinya cahaya mempunyai medan listrik dan juga
medan magnet; keduanya berposisi tegak lurus satu sama lain dan tegak lurus
terhadap arah rambatan. Cahaya juga dikategorikan sebagai gelombang
transversal; yang berarti bahwa cahaya merambat tegak lurus terhadap arah
rambatannya. Suatu cahaya dikatakan terpolarisasi apabila cahaya itu bergerak
merambat mengutamakan arah tertentu. Arah rambatan suatu gelombang
dicirikan arah vektor bidang listrik gelombang tersebut.
- Sifat optis aktif adalah senyawa yang dapat memutar bidang polarisasi.

3. Gambarkan struktur aldopentosa D-ribosa dalam rantai lurus(proyeksi Fischer)
dan bentuk siklisnya(struktur Haworth). Jelaskan apakah senyawa ini bersifat
optis aktif!

HC=O
H C OH
H C OH
H C OH
H C OH
CH
2
OH
( Proyeksi Fischer )
Kedua proyeksi diatas ini bersifat optis aktif karena merupakan senyawa
karbohidrat monosakarida sehingga dapat bersifat optis aktif.

X. Jelaskan apa yang dimaksud dengan rotasi spesifik,


- Rotasi spesifik adalah rotasi yg dihasilkan 1 gr senyawa dalam 1 ml larutan
dalam suatu sel sepanjang 1 dm pada suhu dan panjang gelombang yang
ditentukan (589,3 mu atau 5893 A ~ garis D natrium, 20)
-

adalah rotasi spesifik menggunakan chy D natrium pada suhu 20



XI. Carilah tabel rotasi optis spesifik untuk beberapa senyawa karbohidrat dalam air!
Senyawa Pelarut Temperatur
o
C Rotasi spesifik
Sukrosa Air 20 + 66,5
o

D-glukosa Air 20 + 52,5
o

L-fruktosa Air 20 - 93
o

Laktosa Air 15 + 56,0
o

Maltosa Air 20 + 136,9
o


XII. Mengapa sukrosa dalam bentuk dan tidak memiliki rotasi optis?
Karena sukrosa adalah suatu disakarida yang memiliki ikatan D-glikosida.
Sukrosa akan memiliki rotasi optis bila dihidrolisis dengan HCl.

XIII. Daftar pustaka
- Hart Harold, E. Craine leslie.2003. Kimia Organik Edisi Sebelas.
Jakarta:Erlangga
- Burgoyne, E. Edward. 1979. A Short Course In Organic Chemistry.
Singapore: Mc Graw Hill Book, Inc.
- Ewing, Galen W. 1960. Instrumental Methods of Chemical Analysis. New
York: Mc Graw Hill Book Company, Inc.
- Sudarmaji, Slamet. 1989. Analisa Bahan Makanan dan Pertanial. Yogyakarta:
Liberty.