Anda di halaman 1dari 8

i

SAPI PERAH BIBIT

























SNI
Standar Nasional Indonesia

SNI 01-2735-1992
Dewan Standardisasi Nasional - DSN
ii















Berdasarkan usulan dari Departemen Pertanian
standar ini disetujui oleh Dewan Standardisasi Nasional
menjadi Standar Nasional Indonesia dengan nomor :

SNI 01-2735-1992














Penerbitan standar ini dilakukan setelah memperhatikan semua data
dan masukan dari berbagai pihak. Kritik dan saran untuk penyempurnaan
standar ini, dapat disampaikan kepada :

DEWAN STANDARDISASI NASIONAL - DSN

Sekretariat : Pusat Standardisasi - LIPI, Sasana Widya Sarwono Lantai 5
J alan J enderal Gatot Subroto 10 - Telepon (021) 5206574, 5221687, 511542,
Pes. 296, 305, 450, Fax. 5206574, 5207226, Telex 62875 PD II IA, 62554 IA
iii
DAFTAR ISI


Halaman

Pendahuluan

DAFTAR ISI ........................................................... i

J UDUL ........................................................... 1

1 Ruang Lingkup ............................................................ 1

2 Diskripsi ............................................................. 1

3 Klasifikasi ............................................................. 1

4 Persyaratan ............................................................. 1

5 Cara menentukan umur, mengukur tinggi gumba,
berat badan dan produksi susu pada sapi perah bibit
lokal dan impor ........................................................................ 3.









SAPI PERAH BIBIT


Pendahuluan

Dalam rangka memperbaiki kwalitas sapi perah di Indonesia, masih diperlukan
impor sapi perah bibit yang bermutu tinggi dari luar negeri.

Persyaratan teknis untuk sapi perah bibit impor telah ditetapkan dalam SK.
Menteri Pertanian No. 752/Kpts/Um/10/1982 tentang syarat-syarat teknis bibit
sapi perah yang dimasukkan dari luar negeri, tetapi mengingat pesatnya
perkembangan sapi perah pada saat ini maka SK tersebut dianggap sudah tidak
sesuai lagi sehingga perlu disempurnakan kembali dan dilengkapi dengan
standar sapi perah bibit lokal

1 dari 4
SAPI PERAH BIBIT


1 Ruang Lingkup

Standar ini disusun berdasarkan dua kriteria yaitu :
a) sifat kualitatif (bangsa/asal, warna, bentuk luar/exterior, temperamen)
b) sifat kuantitatif (umur, tinggi gumba, berat badan, produksi susu)


2 Diskripsi

2.1 Sapi perah bibit adalah sapi perah yang memenuhi syarat tertentu dan
dibudidayakan untuk reproduksi dengan tujuan produksi susu.

2.2 Sapi perah bibit lokal adalah sapi perah bibit jenis FH (Friesian
Holstein) yang berasal dari wilayah sumber bibit sapi perah di Indonesia (J awa
Barat, J awa Tengah, J awa Timur) atau hasil persilangannya dengan pejantan
sapi perah bibit FH yang tidak diketahui kemurniannya.

2.3 Sapi perah bibit impor adalah sapi perah jenis FH (Friesian Holstein)
dari bangsa murni (Pure Breed) atau peranakan FH yaitu sapi peranakan yang
telah disilang-balikan (back crossing) dengan pejantan FH terus menerus
sampai generasi ke tiga dengan penurunan darah 87,5% FH yang berasal dari
luar negeri.


3 Klasifikasi

3.1 Sapi perah bibit lokal digolongkan dalam satu tingkatan berdasarkan
sifat kualitatif dan sifat kuantitatif.

3.2 sapi perah bibit impor digolongkan dalam satu tingkatan berdasarkan
sifat kualitatif dan sifat kuantitatif.


4 Persyaratan

4.1 Kriteria sapi perah bibit lokal yang bersifat kualitatif :

4.1.1 Bangsa/asal : Sapi perah bibit lokal jenis FH atau hasil
persilangannya dengan pejantan sapi perah bibit FH impor yang tidak diketahui
kemurniannya berasal dari darah sumber bibit sapi perah di Indonesia (J awa
Barat, J awa Tengah, J awa Timur).
2 dari 4
4.1.2 Warna : Belang hitam, ujung ekor putih

4.1.3 Bentuk luar/exterior :
a) Bentuk badan : kepala panjang, dahi seperti cawan, moncong luas
b) Ambing : Besar dan simetris

4.2 Kriteria sapi perah bibit lokal yang bersifat kuantitatif

Tabel 1
Kriteria sapi perah bibit lokal yang bersifat kuantitatif


Sifat Kuantitatif J enis Kelamin
J antan Betina
a Umur 24 - 36 bln 18 - 24 bln
b Tinggi minimal 125 Cm minimal 116 Cm
c Berat Badan minimal 300 Kg minimal 260 Kg
d Produksi Susu - berasal dari induk yang
mempunyai kapasitas
produksi susu kurang
lebih 3.000 kg perlaktasi
305 hari


4.3 Kriteria sapi perah impor yang bersifat kualitatif :

4.3.1 Bangsa/asal : sapi perah bibit impor jenis FH dari bangsa murni atau
peranakan FH/berasal dari luar negeri

4.3.2 warna :

4.3.2.1 Hitam putih dengan batas-batas warna hitam putih yang jelas.

4.3.2.2 Sapi tidak berwarna hitam seluruhnya atau putih seluruhnya dan tidak
mempunyai warna lain selain hitam putih.

4.3.2.3 Ujung ekor sapi harus berwarna putih.

4.3.2.4 Sapi ditolak bila mempunyai cacat-cacat warna antara lain :
a) salah satu kakinya dilingkari dengan suatu lingkaran penuh yang
berwarna hitam dimana lingkaran tersebut menyentuh kukunya.
b) ada bercak hitam pada salah satu kakinya, yang memanjang mulai dari
kukunya dan ke atas sampai batas atau melampaui persendian lututnya.
3 dari 4
4.3.2.5 Untuk keperluan tersebut, pemasukan sapi FH berwarna merah/putih
diperlukan izin khusus.

4.3.3 Bentuk luar/exterior :
a) Harus menunjukkan penampilan sebagai sapi perah dan mempunyai
ambing dengan 4 buah puting susu yang tumbuh serta berfungsi normal.
b) J umlah puting susu tidak boleh lebih maupun kurang dari 4 buah.

4.4 Kriteria bibit sapi perah imporyang bersifat kuantitatif :

4.4.1 Umur :

a) Serendah - rendahnya 20 bulan dan setinggi - tingginya 24 bulan dan
sudah dalam keadaan bunting dengan umur kebuntingan tidak lebih dari 3-5
bulan pada saat dikapalkan.
b) Kebuntingan sapi harus sebagai akibat hasil perkawinan dengan
pejantan murni FH atau sebagai akibat pembuahan buatan dengan mani
pejantan murni unggul.

4.4.2 Tinggi gumba : serendah-rendahnya 120 Cm.

4.4.3 Berat badan : serendah-rendahnya 300 Kg.

4.4.4 Produksi susu :

a) Untuk sapi FH murni harus berasal dari induk yang mempunyai
produksi 16 liter/hari atau produksi rata-rata 5.000 Kg atau lebih pada laktasi
305 hari.
b) Sapi perah FH harus berasal dari induk yang mempunyai produksi 10
liter/hari atau dari susu peternakan (herd) yang mempunyai produksi rata-rata
3.000 Kg atau lebih pada laktasi 305 hari.
c) Besarnya produksi tersebut diatas harus dikuatkan dengan surat
keterangan/sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga/organisasi setempat yang
berwenang dan resmi diakui oleh pemerintah negara yang bersangkutan.


5 Cara menentukan umur, mengukur tinggi gumba, berat badan dan
produksi susu pada sapi perah bibit lokal dan impor.

5.1 Cara menentukan umur :

5.1.1 Berdasarkan catatan kelahiran

4 dari 4
5.1.2 Berdasarkan taksiran yaitu berdasarkan pergantian gigi dan
pertumbuhan gigi serta permanennya sebagai berikut :
Tabel 2
Cara menentukan umur berdasarkan taksiran yaitu berdasarkan pergantian gigi
dan pertumbuhan gigi serta permanennya

Istilah Gigi seri Permanen Taksiran Umur
PO - el 1 Satu pasang 1,5 - 2 tahun
PO - el 2 Dua pasang 2 - 2,5 tahun
PO - el 3 Tiga pasang 3 - 3,5 tahun

Catatan : Sapi-sapi yang berumur kurang dari satu tahun belum
menunjukkan tanda-tanda pergantian gigi seri.

5.2 cara mengukur tinggi gumba :

5.2.1 Dengan mengukur jarak tegak lurus dari tanah sampai dengan puncak
gumba di belakang punuk dan dinyatakan dalam sentimeter (Cm).

5.3 Cara mengukur berat badan :

5.3.1 Dengan jalan menimbang dan dinyatakan dengan Kg.

5.3.2 Apabila tidak tersedia timbangan maka dilakukan pengukuran lingkaran
dada yang dinyatakan dalam Cm yang dengan menggunakan pita ukur yang
dilengkapi perkiraan berat badan yang dinyatakan dalam Kg.

Caranya adalah dengan melingkarkan pita ukur pada bagian dada di belakang
bahu.

Setelah diketahui ukuran lingkaran dadanya, maka langsung dapat diketahui
ukuran berat badan dengan melihat angka yang tercantum dibalik pita ukur
tersebut.

Keterangan :
Untuk semua jenis mutu bebas benda asing.