Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN HOME VISITE

1. Identitas Pasien/klien:
Nama : Hj.Besse
Umur : 65 tahun
TB/BB :
Jenis kelamin : Perempuan
Pendidikan terakhir : Tidak sekolah
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : RT 13 Simp.IV Sipin
Suku : bugis
2. Anamnesis
- Keluhan Utama:
Makula eritematosa di dagu dan dahi serta hiperpigmentasi di daerah lengan atas kiri
dan kanan serta di kaki yang berbatas tegas
Lesi timbul pertama kali di lengan atas kanan dengan ukuran yang kecil semakin lama
semakin membesar kemudian diikuti lesi selanjutnya didaerah dagu dan dahi, ketika
dilakukan pemeriksaan sensasi sentuhan lesi tersebut tidak terasa atau hipoanastesi.
Awalnya lesi didaerah dagu dan dahi bewarna merah terang, dan terlihat tebal.
Setlah pasien menjalani pengobatan di puskesmas selama 6 bulan, lesi di dagu dan di
dahi yang semula hipianastesi sekarang sudah mulai terasa, sedangkan lesi dikedua
lengan dan kedua kaki sensasi negatif.
- Riwayat penyakit sekarang:
3 tahun yang lalu pasien mengalami DM karena kebiasaan minum teh yang sangat
manis, setelah kebiasaan tersebut dikurangi, maka sekarang gula darah pasien
terkontrol. Pasien juga mengeluh nyeri di kaki dan sendi lutut terutama pada pagi hari
dan malam hari
- Riwayat Penyakit Dahulu:
Hipertensi disangkal
- Riwayat Penyakit Keluarga:
Dalam keluarga pasien riwayat DM disangkal serta riwayat kontak dengan penderita
kusta juga disangkal, namun pasien mengatakan bahwa ada keponakannya yang juga
mengalami keluhan seperti bercak merah tetapi setelah itu sembuh.
9 bulan yang lalu suami pasien meninggal akibat serangan jantung setelah suaminya
meninggal pasien ini menetap dirumah anaknya di Jambi.
Di sekitar wilayah tempat tinggal pasien dulu banyak penduduk yang menderita kusta.
- Riwayat Sosial Ekonomi:
Pasien memiliki 6 orang anak, dan sekarang tinggal dengan anaknya yang ke 4 dan ke
6. Anaknya yang ke 4 tidak bekerja sedangkan anak yang ke 6 bekerja sebagai guru.
Rumah yang ditempati adalah milik pribadi. Sebelumnya pasien tinggal di kuala
tungkal dan baru 9 bulan yang lalu menetap di jambi.



- Riwayat Kebiasaan:
Dulu sebelum mengalami pengobatan di puskesmas pasien memiliki kebiasaan minum
teh yang sangat manis dan susu, ketika pasien mengetahui bahwa dia menderita DM
maka kebiasaan tersebut dihilangkan.
Pasien menghindari makan ikan dan telur karena anaknya mengatakan bahwa penyakit
tersebut disebabkan oleh makan telur dan ikan.
Lesi tersebut selalu diolesi dengan minyak manis dan pasien mengaku bahwa setelah
diolesi dengan minyak manis lesi yang awalnya berwarna merah mengkilat sekarang
sudah mulai berkurang.

3. Pemeriksaan Fisik
- Keadaan umum : Tampak sehat
- Kesadaran: Composmentis
- Gizi :
- Tanda vital : T :130/80 mmhg, N: 88 x/m, R: --x/m, S: ---C
- Kepala : Konjungtiva : anemis (+), Sklera : Ikterik (-)
- Leher : Pembesaran KGB (-)
- Dada : Simetris Ki=ka
- Paru-paru : DBN
- Abdomen : DBN
- Anggota gerak : terdapat makula hiperpigmentasi berbatas tegas dan sensasi (-) pada
lengan atas kiri dan kanan serta kaki kiri
4. Diagnosis : kusta + gout
5. Terapi:
Non Farmakologis :
Habatusyaudat dan minyak makan yang diolesi ke daerah lesi
Farmakologis :
- MDT combinasi (Novartis)
6. Prognosis:
Dubia et bonam karena pasien minum obat dengan teratur
7. Pengamatan Rumah:
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan, rumah yang ditempati pasien saat ini sudah
memenuhi standar belum kriteria rumah sehat dan pasien tinggal di rumah permanen
milik pribadi:
1. Lantai
Lantai rumah pasien dari keramik
2. Atap
Atap rumah pasien dari seng, dinding terbuat dari bata dan langit-langit rumah terbuat
dari triplek
3. Ventilasi dan jendela
Ruang tamu : 6 jendela dan 6 ventilasi
Kamar : 2 jendela dan 2ventilasi
Dapur: terdapat jendela dan ventilasi
4. Cahaya
Cahaya rumah pasien cukup.
5. Luas Bangunan Rumah
Luas bangunan rumah pasien sekitar 9x6m, dan tinggi bangunan rumah <2,5m. Luas
lantai bangunan cukup sebanding dengan jumlah penghuni di dalam rumah, yang
memiliki: 1 ruang tamu dan ruang berkumpul, 2 kamar tidur, 1 dapur dan 1 kamar
mandi yang sekaligus menjadi tempat cuci baju dan cuci piring.
6. Fasilitas didalam rumah
Penyediaan air bersih yang cukup,
Sumber air di rumah pasien adalah air pam yang digunakan untuk mandi dan
mencuci, kamar mandi dan tempat mencuci piring serta baju dalam satu tempat.
Air minumnya berasal dari air pam tersebut yang dimasak.
Pembuangan tinja,
.
Pembuangan air limbah (air bekas),
Di sekitar rumah pasien terdapat selokan yang berfungsi sebagai tempat
pembuangan limbah/air bekas mencuci ataupun mandi
Pembuangan sampah,

Fasilitas dapur,
Kondisi dapur rumah pasien cukup luas dan besar serta dilengkapi dengan
jendela, ventilasi dan pencahayaan yang cukup baik.
Ruang berkumpul keluarga,
Ruang berkumpul keluarga cukup besar dan luas, ruangan ini sering digunakan
untuk tempat keluarga berkumpul sehari-hari
Perkarangan/serambi
Pekarangan rumah pasien cukup luas, bersih dan rapi serta ditanami dengan bunga
dan rumput yang telah ditata dengan rapi.

8. Pengamatan Lingkungan:
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan, lingkungan tempat tinggal sudah memenuhi
standar lingkungan yang sehat, dengan kondisi sebagai berikut:
Rumah sehat
Kondisi rumah di sekitar tempat tinggal pasien bersih, tidak terlihat tempat tumpukan
sampah kemudian dipekarangan rumah ditumbuhi oleh banyak tanaman. Kondisi
rumah cukup rimbun dan asri.
Jarak antara rumah yang satu dengan yang lain berdekatan sehingga interaksi dengan
lingkungan sekitar cukup baik, namun dari keterangan anaknya pasien jarang keluar
rumah.
Sarana sanitasi dasar
Penggunaan kamar mandi yang kecil dan sempit sebagai tempat mandi, BAB, BAK,
cuci piring dan cuci baju yang kotor serta terdapat 2 bak air yang tidak tertutup
tampak tidak sehat dan disekitar lingkungan tidak memiliki selokan. Lingkungan
didaerah tersebut cenderung lembab dan becek. Juga tidak terdapat tempat sampah
baik didalam rumah maupun diluar rumah sehingga sampah berserakan di samping
rumah.
Tempat umum dan tempat pengolahan makanan
Disekitar lingkungan tempat tinggal pasien tidak terdapat tempat umum ataupun
tempat pengolahan makanan.

9. Hasil wawancara /pengamatan Keluarga /hubungan keluarga:
Hubungan pasien anggota keluarga
Hubungan pasien terhadap anggota keluarganya sangat baik.
Hubungan pasien tetangga dan sekitarnya
Hubungan pasien terhadap tetangga kurang baik karena pasien lebih sering berada
didalam rumah

10. Hubungan pasien dengan tetangga dan lingkungan sekitar juga baik Hasil wawancara
/pengamatan perilaku kesehatan:
Perilaku kesehatan pasien sudah cukup baik, terbukti ketika ditanya beberapa perilaku
hidup bersih dan sehat pasien dapat menjawabnya, dan pasien juga sadar dan peduli
terhadap kesehatan dirinya, seperti ketika saat terdapat lesi awal pasien langsung
memeriksakan dirinya kepuskesmas dan obat juga diminum secara teratur. Pasien
memiliki kebiasaan minum teh yang sangat manis dan susu tetapi kebiasaan tersebut
sudah dihingkan sejak pasien tau dia menderita DM.

11. Analisis pasien secara holistik (item 1-10, minimal 5 halaman)
Hj. Besse (69 tahun) terdapat bercak merah di daerah dagu, dahi, lengan atas kiri dan
kanan serta pergelangan kaki. Lesi awal terdapat pada lengan kanan yang mula-mula
kecil namun lama-kelamaan membesar. Lesi ini mulai timbul saat suaminya belum
meninggal, yaitu sekitar 12 bulan yang lalu. Sebelum suaminya meninggal pasien tinggal
di perbatasan antara kuala tungkal dengan jambi, namun setelah suaminya meninggal
pasien menetap di jambi bersama 2 orang anaknya. Berdasarkan wawancara dengan
pasien riwayat kontak dengan penderita kusta disangkal tetapi berdasarkan catatan medis
daerah tempat tinggal pasien dulu merupakan daerah endemi kusta.
Menurut anaknya lesi di daerah dagu dan dahi berwarna merah mengkilap. Setelah
diolesi dengan minyak manis, warnanya berkurang,
Pasien sudah mengkonsumsi obat selama 6 bulan dan dimakan secara teratur. Pasien
menghindari makan ikan dan telur karena mengira makanan tersebut yang menyebabkan
keluhan. Ketika pemeriksaan kemarin terlihat konjungtiva anemis.
Awalnya pasien datang ke Rumah sakit umum dan dilakukan pemeriksaan Lab pada
tanggal 1 Agustus 2012 dengan hasil kerokan lesi dagu, dahi, lengan atas dan tungkai
BTA (-). Setelah itu pada tanggal 2 Agustus pasien dirujuk ke Puskesmas Simpang IV
Sipin. Seteklah dirujuk, pasien tidak pernah lagi datang ke puskesmas hanya anaknya saja
yang mengambil obat.

Pasien dan keluarga tidak pernah menderita penyakit sebelumnya seperti ini ataupun
penyakit lain yang berat namun, dilingkungannya sudah terjadi banyak kasus DBD dan
pasien sering bermain dengan anak yang juga pernah mengalami penyakit seperti ini,
sehingga An. Hamdani dapat tertular dan menderita penyakit DBD.
Pada pemeriksaan fisik, ditemukan; Keadaan umum tampak sehat; Kesadaran
composmentis; Tanda vital : nadi 92 x/m, respirasi rate 22 x/m, suhu 36C; BB/TB :
15kg/ 110 cm; Kepala : CA(-/-), SI (-/-); THT : Dbn; Leher : Pembesaran KGB (-);
Thoraks : Paru-paru bentuk dan gerakan pernafasan simetris ki/ka, pernafasan intercostal
(-) perubahan warna kulit (-), pembengkakan (-) , vocal fremitus normal, batas paru
normal, suara sonor pada kedua lapang paru, suara paru vesikuler, normal; Jantung Dbn;
Abdomen: bentuk perut datar, bengkak (-), peristaltik tidak terlihat, bengkak/tumor (-)
warna kulit sama dengan sekitarnya, spidernaevi dan striae (-), Peristaltik/bising usus
Normal, pekak hati dan limpa, undulasi (-), shifting dullnes (-), Palpasi: Nyeri tekan (-),
tahanan (-), tumor (-); Ekstermitas : Dbn. Dari pemeriksaan fisik tersebut, disimpulkan
bahwa An. Hamdani sekarang sudah tidak menderita penyakit DBD, namun tetap harus
menjaga kesehatan dan mencegah terkenanya penyakit DBD kembali atau penyakit yang
lainnya.
An. Hamdani oleh dokter telah diberikan terapi nonfarmakologis dan farmakologis.
Terapi non farmakologis yang diberikan adalah istirahat, jangan terlalu dan banyak main
serta banyak mengkonsumsi air. Sedangkan terapi farmakologis yaitu pasien diberikan
obat paracetamol dan puyer.
Saat ini pasien tinggal bersama ayah, ibu, dan 1 orang adiknya. Ayah pasien bekerja
sebagai tukang ojek dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Kedua orang tua Hamdani
mempunyai riwayat pendidikan terakhirnya hanya sampai tamat SMP. Dari hasil
wawancara mengenai pekerjaan dan pendidikan terakhir kedua orang tua Hamdani
tersebut, dapat disimpulkan bahwa kedua hal tersebut merupakan faktor resiko kasus
DBD pada An. Hamdani yaitu Faktor Sosial dan Ekonomi. Karena kemungkinan kedua
orangtua Hamdani tidak mengerti dan mengetahui perilaku hidup bersih dan sehat yang
seharusnya dilakukan, juga tidak mempunyai dana yang cukup untuk memenuhi
kebutuhan keluarga baik kebutuhan gizi maupun kebutuhan hidup lainnya sehari-hari,
sehingga An. Hamdani dan keluarganya rentan terkena penyakit tidak hanya DBD namun
juga dapat terkena penyakit yang lainnya.
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan, rumah yang ditempati pasien saat ini belum
memenuhi standar kriteria rumah sehat dan lingkungan tempat tinggal belum memenuhi
standar lingkungan yang sehat. Penggunaan kamar mandi yang kecil dan sempit sebagai
tempat mandi, BAB, BAK, cuci piring dan cuci baju yang kotor serta terdapat 2 bak air
yang tidak tertutup tampak tidak sehat serta tidak adanya tempat pembuangan sampah
didalam ataupun luar rumah, hal inilah yang merupakan tempat sumber penyakit yang
ada di dalam rumah pasien yang dapat menjadi salah satu faktor penyebab pasien terkena
penyakit, bukan hanya penyakit DBD saja tapi bisa penyakit yang lainnya. Di daerah
sekitarnya juga banyak warga yang mengalami penyakit DBD hal ini dapat disebabkan
oleh karena lingkungan didaerah tersebut cenderung lembab, tidak terdapat tempat
sampah baik didalam rumah maupun diluar rumah sehingga banyak sampah yang
berserakan dan juga terdapat genangan air baik di dalam ataupun diluar rumah.
Hubungan pasien dengan anggota keluarga dan tetangga lingkungan sekitar sangat baik.
Namun perilaku kesehatan pasien dan keluarga serta tetangga lingkungan sekitar masih
kurang baik terutama dalam menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan. Hal inilah
yang masih perlu mendapat perhatian khusus baik oleh petugas kesehatan Putri Ayu juga
oleh ketua pemerintahan setempat.

a. Hubungan anamnesis, diagnosis dengan keadaan rumah
b. Hubungan diagnosis dengan lingkungan sekitar
c. Hubungan diagnosis dengan keadaan kelauarga dan hubungan keluarga
d. Hubungan diagnosis dengan perilaku kesehatan dalam keluarga dan lingkungan
sekitar
e. Hubungan kausal antara beberapa masalah dengan diagnosis
f. Analisis kemungkinan berbagai faktor risiko atau etiologi penyakit
g. Analisis untuk mengurangi paparan dengan faktor risiko atau etiologi
12. Rencana Promosi dan pendidikan kesehatan kepada pasien dan kepada keluarga:
13. Rencana Edukasi penyakit kepada pasien dan kepada keluarga:
14. Anjuran-anjuran promosi kesehatan penting yang dapat memberi semangat/mempercepat
penyembuhan pada pasien:

(ctt: laporan diketik 1,5 spasi, times roman, 10-15 halaman dan dijilid biasa)