Anda di halaman 1dari 7

Mencari Tuhan, Mencari Jalan Pulang

By: Gita Pertiwi


gita.a44070022@gmail.com | 085716208866 | twitter @jajanbalabala

Pernahkan kamu merasa tenang, semacam ketenangan akibat ketidaktahuan?
Ketenangan maya yang membuat kamu merasa baik-baik saja,
Padahal sebenarnya kamu dalam marabahaya besar.

Semacam ketenangan yang membinasakan,
Membuat penglihatan, pendengaran, dan hatimu terus menerus dan terbiasa 'beristirahat'
Atau penglihatan, pendengaran, dan hatimu disibukkan
Tapi disibukkan oleh distraksi, bukan esensi

*

Hai saya Gita, 21 tahun, standar anak muda se-indonesia. Saya lahir dari rahim muslim, tumbuh dan
besar dalam keluarga muslim. Namun identitas keislaman saya tidak memberi karakter yang
seharusnya menjadi identitas diri. Kilas balik kehidupan lalu, seinget saya ketika SMP saya adalah anak
baik-baik, penurut dan rajin yang selalu masuk peringkat 3 besar. Keadaan keluarga yang kurang
harmonis membuat saya lebih menyibukkan diri di luar rumah. Saya larut dengan budaya pop dan
pengikut taqlid Mtv. Hihi. Generasi brain washed detected. Memasuki SMA, kondisi keluarga saya
semakin kacau. Peran ayah dan ibu tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Saya semakin ga punya role
model atau figure. Pengalaman broken home membuat saya menjadi anak yang ga peduli terhadap apa
pun. Saya benci diatur. Prestasi terbrutal saya pas masih jadi anak SMA adalah nekat kabur dari rumah
di Bogor, ke Riau tempat nenek. And that's my very first flight, alone.

Oia, pada waktu itu internet mulai menjamur. Saya mulai kecanduan band-band indie lokal-
internasional yang absurd dan nyeleneh. Mulai dari musik punk, metal, hardcore, grunge, post rock,
alternative, sampe yang uncategorized. Bagi saya waktu itu, musik bukan lah sekedar bunyi-bunyian,
melainkan idealisme. Asimilasi idealisme-idealisme itu turut berkontribusi membentuk karakter saya
yang anti-mainstream, rebel, skeptis, sekuler, cuek, pecinta kebebasan. Sebutlah saya anak muda
korban westernisasi, betapa pffft-nya hidup saya saat itu. Bisa dibilang ini adalah era tergelap dalam
hidup saya.. Saya merasa tenggelam dalam ketidakpedulian terhadap diri sendiri: merokok,
mengisolasi diri dari orang lain, agenda merusak diri, ga peduli keluarga, nongkrong ga kenal waktu,
buang-buang duit buat hal-hal useless, padahal betapa saya butuh rumah saat itu..
Jaman kuliah, sebutlah saya salah satu anak muda yang punya rasa ingin tahu yang sangat tinggi,
traveling, naik gunung, backpacking, pacaran.. Sebutlah saya anak muda yang males ngomongin agama
karna saya cukup bahagia dengan kebebasan ini. Agama saat itu ga berkontribusi memberikan
kebahagiaan secuil pun. Saya bangga menjunjung tinggi paham liberalisme, feminisme, sekulerisme,
dan berbagai paham yang terdengar 'modern' yang sudah menancap terlalu dalam.

**

I think I have spent my 21 years my life, trying to be something. Sudah kah saya menjadi seseorang?

Sampai titik dimana saya menyadari selama 21 tahun masa berlaku hidup ini, saya hampa nilai. Hidup
ini terasa sangat gelap. Buta arah. I have no purpose and direction. Selama ini saya sangat egois. Segala
sesuatu hanya 'me, my self and I'. Dan saya menyadari kelak saya ga akan pernah bisa menjadi
manusia seutuhnya atau manusia yang merasa lengkap.. saya hanya sibuk mendekor kehidupan saya,
tanpa peduli apapun selain 'saya'. Saya mulai lelah. Saya mulai berfikir, buat apa sih hidup? Apa sih
yang saya cari di dunia ini? Bagi saya saat itu, sesuatu yang dapat dikatakan sebagai keberhasilan hidup
adalah pencapaian akan cita-cita. Adapun ketentraman rohani adalah.. looking for fun. Sesuatu yang
bisa bikin saya bertahan waras. Pain killer.

Selama 21 tahun, saya berusaha ingin menjadi berhasil dalam semua hal di hidup ini.. berhasil di
sekolah, di bangku kuliah, di karir. Beraktualisasi dengan hobi-hobi saya.. mau illustrator, story teller, a
good writer, public speaker, traveller, proffesional fotografer. Dan saya mulai mendefinisikan ideal life..
ideal jobs, ideal career, ideal salary, ideal look, ideal lovelife, ideal date with ideal person in ideal place,
dan segala hal 'serupa' lainnya. BESIDES, those shitty idealistic thing, what do I know about 'the true
ideal life'? Saya mulai melihat segala sesuatu dengan perspektif yang berbeda. Di meja makan, saya
melihat orang-orang di sekitar saya..mereka tertawa, bercanda, bersenang-senang. Ada yang terhimpit
dengan kesenangan duniawi, ada juga yang terhimpit dengan kesibukan duniawi..sampai-sampai
mereka tidak ingat "hal-hal lain". Sisanya? berapa banyak orang sih yang memikirkan apa yang saya
pertanyakan? Jangan-jangan mereka sudah mengalami fase ini dan menemukan jawabannya,
sedangkan saya telat mikir di umur yang nanggung ini? Ataukah mereka tidak peduli?

And every day, the world will drag you by the hand, yelling "This is important! And this is important!
And this is important! You need to worry about this! And this! And this!"
And each day, it's up to you, to yank your hand back, put it on your heart and say "No. This is what's
important."
(I wrote this for you)
***

Benarkah hidup ini didesain seperti: kamu dilahirkan - kamu muda untuk sekolah, bekerja, dan
bersenang senang - kemudian berkeluarga dan membuat keturunan - lalu kamu tua - kamu pesakitan -
kemudian kamu mati tak berdaya? Kalau memang begitu, apakah hidup hanyalah sebuah transformasi
dari sperma menjadi fossil?

Saya kumpulkan rentetan pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk di batok kepala ini, semuanya
merujuk ke satu hal: "Tujuan Hidup". Dan sampai disini, ada ketukan 'aha' yang datang: Ah, ternyata
saya sedang melakukan proses pencarian jati diri.
Seharusnya.. seharusnya kemajuan peradaban di seluruh dunia itu dikarenakan meningkatnya taraf
berfikir manusia, kan? Dan taraf berfikir itu membentuk cara pandang seseorang terhadap kehidupan,
kan? Cara pandang seseorang terhadap kehidupan = the way of life. Inti way of life itu terletak pada
tujuan hidup yang telah kamu rumuskan, kan? Kalau tujuannya sudah salah, maka hal itu sudah cukup
membuat seluruh kehidupanmu berada dalam kesalahan, kan?
Ada tiga pertanyaan ini cukup membuat saya terdampar jauh untuk merenung dan berfikir: (1) Dari
mana asal manusia?; (2) Untuk apa manusia hidup?; (3) Akan dikemanakan manusia setelah mati?
Pernahkah kamu memikirkan ini, the three basic question untuk mencari kebenaran? Pernahkah kamu
mencari jawabannya sendiri, tanpa dicekoki oleh orang-orang yang ingin menentukan jalan hidupmu?

Pertanyaan usil itu menyusui rasa penasaran saya, semakin hari semakin besar. Dan sesudah itu, saya
mengalami hari-hari yang berat. Tiada hari saya lewatkan tanpa merenung berfikir. Apa itu agama?
Apakah agama merupakan kebutuhan manusia? Kenapa kita butuh agama? Kenapa banyak sekali
agama di dunia ini? Siapa yang bikin? Mana agama yang benar? Mana Tuhan yang benar? Apa itu
kebenaran? Apa implikasi dari beragama? Akibat apa yang dihasilkan dari sebuah agama terhadap
kehidupan saya? Apa yang Tuhan inginkan dari saya?

Sampai menangis saya rindu dengan apa yang disebut dengan kebenaran hakiki. Kebenaran akan
menentukan tujuan hidup. Saya harap saat ini saya menemukan secercah kebenaran. Saya harap
secercah penerangan bisa membawa saya menemukan bongkahan-bongkahan kebenaran lainnya. But,
where do i start?

Di lain sisi, saya semakin menyelami rasa ingin tahu saya. Saya mulai membandingkan kepercayaan-
kepercayaan besar yang memiliki pengikut mayoritas. Mungkin historis bisa membantu saya
menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Sejarah ada karena umur peradaban terus berlanjut sedangkan
umur biologis kita sesebentar kedipan mata. Apa yang saya dapatkan? Saya mencoba mencari segala
jawaban, saya tukar waktu tidur malam dengan baca buku, literatur kemudian baru tidur jam 6
paginya. Dan itu berlangsung berminggu-minggu. Ada kalanya saya seperti mendapat pencerahan 'oh,
Eureka!" lalu kemudian cahaya itu dipadamkan dengan referensi yang kontra..begitu seterusnya
sampai berbulan-bulan. Sial. Mana yang kamu pikir lebih berbahaya? 100% hoax atau 99% truth+ 1%
lies? Ketika 99% persen kebenaran membungkus 1% kebohongan, itu lebih berbahaya. Kamu
melakukan pencarian yang saaangat panjang, tapi karena kamu merasa telah membuktikan bahwa 80%
adalah fakta, kamu terbuai dan tidak mengkoreksi lagi akan sisanya. Lalu darimana saya tahu sejarah
yang mereka tulis benar? Apakah jangan-jangan kebenaran adalah suatu konsesnsus yang telah
mengalami pemelintiran sana sini, pembelokan, dan didandani agar enak terdengar? Tapi semakin
lama mencari yang saya dapatkan malah semakin blurring. Setelah saya lelah dengan segala
propaganda ini, saya hanya ingin pulang membawa sesuatu..sesuatu yang murni, tak terjilat oleh
konspirasi dan bebas dari konsensus. God is the truth, the only truth. But where are You? Show me the
way to find You..
Ternyata saya belum pernah berfikir sekeras dan semaksimal ini. Hari-hari berikutnya saya merasakan
dendrit-dendrit otak berotot saking kebanyakan mikir. Saya menghilang dari peredaran. Sudah lima
bulan lebih saya melakukan pencarian. Saya ga percaya lagi sama media massa mainstream, situs-situs
ga bertanggung jawab semacam islib.com atau faithfreedom.com yang menyebarkan kebencian di
antara agama-agama, atau literatur/sejarah yang belakangan saya tau ternyata mereka adalah
kelompok orientalis yang mempunyai agenda tertentu. Semakin saya terombang-ambing dengan
kebingungan ini, semakin saya berusaha keras mencari jalan keluar. Ketidaktahuan ini membuat saya
merasa amat bodoh, lemah dan fragile. Then, if God really exist... apa yang Tuhan sisakan untuk saya?
Jahat sekali jika Ia ada, tetapi tidak meninggalkan barang sedikitapun petunjuk sehingga makhluk-
makhluk seperti saya ini jungkir balik mencari tanpa hasil. Dimana saya bisa menemukan bukti-bukti
otentik tentang kebenaranNya? Apa yang tersisa untuk saya jadikan pegangan?

Sebelum saya menemukan kebenaran, saya menggantungkan diri sebagai orang agnostic. Sudah
benarkah saya Jika saya mengkultuskan diri sebagai agnostic? Pernahkah kau merasa pasrah pada
entah apa itu-mungkin pada suatu kuasa yang tak dapat kau definisikan? Seperti pasrah ketika melihat
seorang yang kau sayang terkulai sekarat dengan nafas yang tersenggal-senggal; Seperti pasrah ketika
orang tua yang kau sanyangi pergi; Seperti pasrah ditimpa penyakit yang sulit disembuhkan;
Kepasrahan datang, dan kau mulai berharap. Kau tidak bisa mengingkariNya ketika secara tak sadar
bibirmu mengucap ,"semoga..."

Something let this happen. I believe, Something let me drawn into this war in my head. Pernah suatu
ketika saking bingungnya saya meluncur ke toko buku besar, berharap disana saya akan menemukan
jawaban. Namun ketika saya menemui lemari buku besar-besar yang berlabelkan Agama Islam,
mendadak lutut saya terasa lemas. Lemas karena kebingungan. Disini banyak sekali buku dengan
macam-macam judul dan banyak sekali penulis. Mana saya tau mana yang lurus dan mana yang sesat?
Saya hanya berjongkok lemas sambil memandangi lemari-lemari buku itu, kemudian -menangis sedih-
sendirian-di toko buku. Betapa bodohnya, betapa bingungnya.. Akhirnya saya pulang dengan tangan
kosong.

Di titik ini saya merasa sendirian, sangat sendirian. Tidak punya teman untuk bertanya. Sampai di suatu
malam, pada titik kulminasi pukul 3 malam, saya begitu putus asa. Saya capek dengan pertanyaan-
pertanyaan yang menghimpit ini. Saya merasa tersesat. Kebingungan. Saya merasa ga punya daya lagi,
dan akhirnya... saya menangis sejadi-jadinya. Di dalam tangis, saya berdoa, "Ya Tuhan, jika Kau
menyukai orang-rang yang berfikir, kemudian jika saya termasuk ke dalam golongan orang-orang yang
berfikir, maka tolong lah saya. Beri lah saya secercah jawabanMu Tuhan.. Lalu himpun lah saya dengan
orang-orang yang mencari kebenaran, sama halnya seperti saya. Saya merasa sangat sendirian dan
sedih. Kokohkan lah pendirian saya untuk terus mencari jalanMu." Saat itu saya merasakan mata saya
panas. Sedih, bingung dan canggung, lupa kapan terakhir kali berdoa.

Entah saya nangis berapa lama. Kepala saya sampai pusing. Dan saya merasakan itu lagi, semacam
perasaan dimana secara sadar saya mengakui keterbatasan dan kelemahan manusia.. dan saya
mempasrahkan diri kepada "kekuatan yang lebih besar". Kekuatan yang Maha Besar. Lalu kepada
siapakah saya menitipkan ratusan atau ribuan "semoga" itu?

Kamar berantakan. Buku berserakan dimana-mana. Laptop menyala terkoneksi internet entah sudah
berapa hari. Tidak mengerti, kenapa saya bisa sehaus dan sepenasaran ini. Dengan mata yang sayu,
saya bersandar di sisi yang berhadapan langsung dengan lemari buku. Setelah termenung agak lama,
tiba-tiba saya sadar, dari tadi pandangan kosong saya tertumbuk pada sebuah buku di rak buku itu;
Alquran. Kitab suci dari Tuhan.. Betapa lucunya, justru pilihan terakhir saya adalah wahyu-Nya sebagai
literatur yang wajib untuk diselidiki. Lalu saya buka kitab suci itu, saya membaca surat-surat yang saya
buka acak. Saya membaca dengan penuh keskeptisan dan penuh kecurigaan. Begini bunyinya:

Mereka berusaha memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi
Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu tidak
menyukai. (QS. At-Taubah: 32)

Deg! Apakah sebuah kebetulan jika sang Tuhan mempertemukan saya dengan ayat ini, seolah Ia
melemparkan argumenNya secara langsung untuk mengcounter pendapat-pendapat kaum orientalis
dan liberalis yang mencoba mengaburkan dan membenci Islam? Oke, saya mulai kesulitan
mengendalikan air mata yang terjun bebas.

Tapi saya masih belum percaya total. Pencarian tidak selesai sampai di sini. Justru dari sinilah segalanya
dimulai, saya akan menggali agama ini dengan sungguh-sungguh. Semenjak saat itu, setiap hari, lima
kali sehari setelah shalat fardhu, saya selalu membaca al-Quran dan selalu menangis setiap kali
membacanya. Ada perasaan haru sekaligus damai disana. Semakin hari saya menemukan keajaiban.
Ajaib adalah bukan saya yang baca Al-Quran tapi sepertinya Al-Quran yang membaca pikiran saya.
Format Al-Quran yang menyerupai dialog, seolah-olah membuat saya sedang berdialog langsung
dengan Tuhan. Semua pertanyaan-pertanyaan yang bergumul di kepala saya ini ada jawabannya
disana:

"Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja),
dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?" (QS. Al Mukminun: 115)

"Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?" (QS.
Al-Qiyamah: 36)

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat
itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui." (QS. Al-Ankabut: 64)

*****

There are two great days in people lives. First, the day you were born. And second, the day you discover
why. Pencerahan itu minimal dilakukan dengan pencarian, bukan? Ga semua orang tahu, saat ini
mereka ada dimana. Dan akan menuju kemana. Selagi mempelajari Islam lebih mendalam, saya seperti
menemukan kompas. Ajaib. Semua idealisme yang menghujam di sistem limbik yang telah
terkonsolidasi bertahun tahun sebagai reaksi dari pengalaman dan perjalanan hidup saya tiba-
tiba..menyublim begitu saja. Hilang. Tergantikan dengan konsep baru, Islam. Mindset, fiqrah atau point
of view saya dalam menilai berbagai hal, lifestyle, habits, selera berpakaian, sampai apa yang saya cinta
dan benci kini berubah. Islam merubah the way of life saya, total. That's called shibghah. Saya
merasakan efek coloring itu. Ibarat jiwa-raga saya dicelupkan ke satu warna. Warna yang Allah suka.
Warna ini adalah pendaran jati diri saya, identitas saya yang baru. Shibgatullah.

Kebahagiaan senantiasa dicari orang. Sayangnya, banyak yang tersesat karena tidak tahu mesti
mencarinya kemana, atau bahkan tidak tahu bahagia itu apa. Mereka yang menilai kebahagiaan
dengan materi hanyalah orang-orang yang tertipu, karena segala sesuatu yang ada di dunia ini hanya
memiliki harga sesuai kemampuan manusia untuk menakarnya. Hati manusia telah disetting untuk
mencari kebenaran, yaitu mengetahui siapa penciptanya. Sebelum hati menemukan jawabannya, ia
belum benar-benar bahagia. Selama ini saya selalu terbutakan oleh hal-hal yang bersifat materi. Saya
terbuai oleh kenikmatan yang bersifat tangible. Saya lupa bahwa esensi dari manusia hanyalah sebuah
jiwa dalam tubuh. Artinya, jasad itu hanyalah alat, sedangkan ruh yang bersarang di dalam jasad adalah
inti kehidupan. Saya terlalu sibuk memberi makan jasad saya tanpa memikirkan kebutuhan ruh.

Dulu, saya hidup sebagai orang yang anti-sosial, suka menyendiri, tidak mau peduli dengan urusan
orang lain bahkan keluarga sendiri. Setelah saya bersentuhan dengan islam, saya mencoba berkenalan
dengan Tuhan saya, memperbaiki hablumminallah. Setelah itu saya mencoba memperbaiki diri sendiri.
Mencoba menjadi hamba yang Allah suka. Hijrah dari kehidupan, lingkungan dan lifestyle yang liberal
menjadi muslim yang kaffah. Ini sama sekali tidak mudah. Tapi saya percaya, hidayah itu selalu datang
sepaket dengan cobaan. Saya mendapatkan ternyata menjadi muslim yang taat jauh lebih
membahagiakan daripada menjadi manusia liberal yang menolak aturan. Orang-orang liberal
itu..sekilas hidupnya bebas tanpa batas. Seperti main-main. Bahagia bukan? Tidak. Mereka terpenjara
tapi ga sadar. Budak hawa nafsu. Hidup mereka rancu, karena tidak punya standarisasi, tidak bersolusi.
Orang-orang taat itu..sekilas hidupnya terpenjara. Padahal agama bukan borgol. Tapi petunjuk hidup,
agar selamat sampai tujuan. Tidak kena tipu-tipu. Adapun orang-orang yang gemar merelatifkan segala
hal, maka relativitas nilai hanya akan membuat manusia bingung, terus terengah-engah mencari
kebenaran.
Setelah memperbaiki diri, saya mencoba memperbaiki habluminannas, kembali lagi ke rumah,
mencoba memperbaiki hubungan dengan orang tua. Saking terlalu jauh jurang yang memisahkan
antara saya dan orang tua, saya bahkan menulis surat untuk mereka. Mengutarakan rasa terimakasih
dan permintaan maaf saya bahwa selama ini saya sebagai anak belum bisa menjadi qurrata ayun bagi
mereka, penghibur dan penolong mereka disaat dibutuhkan. Yang awalnya saya sibuk mendekor
kehidupan sendiri, kini saya mulai mencoba memikirkan orang lain, memikirkan umat ini, memikirkan
hal-hal besar. Belajar menjadi orang bermanfaat.

To me personally, I was an ignorant person with a very hopeless and dark perspective on life and the
world... and Islam is the only thing in my entire life that has inspired me to grow, love all others, and be
a better person. Islam is the only thing that has given me hope and makes this crazy world we live in
make some sort of sense. I now see a reason and purpose. I feel I am a totally different person now, for
the better. If it wasn't for Islam, I would be emotionally and spiritually dead. Alhamdulillah

"And Allah found you lost, and guided you" (Qur'an 93:7)