Anda di halaman 1dari 15

40

BAB IV PENGELOLAAN LINGKUNGAN





Pengelolaan lingkungan dilakukan dengan tujuan untuk menjaga kelestarian
fungsi lingkungan, mencegah pencemaran, dan meningkatkan kualitas lingkungan
biotik, abiotik dan sosial. Pengelolaan lingkungan dapat dilakukan dengan
penanggulangan dan pencegahan. Penanggulangan pencemaran merupakan suatu
usaha untuk mengelola limbah yang telah dihasilkan. Pencegahan adalah usaha
menahan atau meniadakan zat pencemar dalam kegiatan industri tapi karena tersedia
teknologi pengolahan produksi yang lebih baik maka bahan pencemar bisa dicegah
sehingga memungkinkan tidak memerlukan teknologi pengolahan limbah. Usaha
pencegahan dilakukan pada proses produksi sedangkan penanggulangan dilakukan
setelah proses produksi berlangsung. Upaya pengelolaan lingkungan yang dapat
dilakukan berupa penerapan konsep produksi bersih dan pengolahan limbah cair
dalam IPAL (MASITHOH, 2008).
Alternatif pengelolaan lingkungan yang dapat dilakukan oleh industri kecil
tahu Sumber Rezeki adalah dengan penerapan produksi bersih, Penerapan Sanitasi
dan pengolahan limbah padat serta pembuatan Instalansi Pengolahan Air Limbah
(IPAL) yang memadai untuk limbah cair namun dengan biaya yang murah, dan
pengolahan sanitasi industri.


4.1 Penerapan Produksi Bersih

Strategi pengelolaan lingkungan yang dapat dilakukan oleh industri tahu
Sumber Rezeki sebelum alternatif pengolahan limbah yaitu dengan penerapan
produksi bersih. Penerapan produksi bersih dapat meningkatkan efesiensi
penggunaan sumber daya alam, mencegah terjadinya pencemaran lingkungan dan
mengurangi terbentuknya limbah pada sumbernya, sehingga dapat meminimisasi
dampak buruk terhadap kesehatan dan keselamatan manusia serta kerusakan
lingkungan. Upaya penerapan produksi bersih yang dapat dilakukan di industri tahu
Sumber Rezeki adalah sebagai berikut:
41



a. Proses produksi
1. Perendaman
Deskripsi proses: Proses perendaman memerlukan waktu 3 jam.
Perbandingan air dengan bahan saat perendaman adalah 1 : 3. Proses akhir
yang terjadi adalah diperolehnya kedelai melar yang kemudian dibersihkan
dari kotoran yang masih tersisa dan juga kulit kedelai.
Identifikasi terbentuknya Limbah: Pada tahap perendaman, air sisa
perendaman dibuang. Air sisa pembuangan masih mengandung zat- zat
organik seperti protein, lemak, dan suspensi padatan.
Alternatif produksi bersih:
Menggunakan air perendaman untuk pencucian, sehingga mengurangi
penggunaan air. Alternatif ini dapat memanfaatkan air sisa
perendaman sebesar 40 %.
2. Pencucian kedelai
Deskripsi proses: pencucian dilakukan dengan cara mencuci kedelai dengan
air sampai bersih, sehingga kotoran- kotoran yang ada pada kedelai hilang
baik itu pasir, tanah dan lain- lain.
Identifikasi terbentuknya Limbah: pada tahap ini, sisa air cuci masih
mengandung sisa bahan kedelai, akan tetapi loss yang terjadi dianggap tidak
signifikan, kotoran yang terbawa dalam air berisi komponen zat organik yang
dapat menyebabkan air menjadi hitam dan berbau busuk jika dibiarkan.
Pemborosan penggunaan air untuk pencucian kedelai.
Alternatif produksi Bersih : Tahap pencucian kedelai tidak dilakukan
dengan air mengalir, pencucian dilakukan didalam wadah atau bak secara
bertahap. Air hasil pencucian pertama langsung dibuang. Sementara air
pencucian kedua dapat digunakan kembali. Alternatif ini dapat mengurangi
penggunaan air sebanyak 30 %.
3. Penggilingan
Deskripsi proses: Kedelai basah yang sudah ditiriskan kemudian digiling
dengan mesin penggiling. Selama penggilingan berlangsung di tambahkan air
42



sehingga memudahkan proses. Hasil gilingan berupa bubur kedelai yang
ditampung dalam wadah.
Identifikasi terbentuknya limbah: pada saat penggilingan ada kedelai yang
tercecer, karena corong mesin penggiling yang kelebihan beban kedelai.
Alternatif produksi bersih: Tidak memasukkan kedelai berlebih kedalam
corong mesin penggiling. Alternatif ini dapat mengurangi ceceran sebesar 5%.
4. Pemasakan
Deskripsi proses: Bubur kedelai dimasukkan kedalam tangki pemasakan dan
ditambahkan air dan diaduk terus- menerus. Pemaskan terus- menerus
bertujuan untuk memperoleh ekstrak protein yang optimum, mencegah
kegosongan dan meluapnya buih akibat naiknya suhu pemasakan.
Identifikasi terbentuknya limbah:
a. Pembakaran kayu dapat menyebabkan terjadinya jelaga pada langit
atau genteng rumah.
b. Air tercecer saat pengadukan.
Alternatif produksi bersih:
Menjaga kondisi api agar suhu pemasakn tidak terlalu tinggi, untuk
menhindari melubernya bubur kedelai yang dimasak. Menghindari air
yang tumpah saat pengadukan dengan pengadukan yang lebih hati-
hati serta bahan yang tidak melebihi kapasitas tangki pemasakan.
Alternatif ini dapat mengurangi air yang tumpah pada proses
pemasakan sebesar 40%.
5. Penyaringan
Deskripsi proses: Ekstraksi dilakukan dengan menyaring bubur kedelai
menggunakan kain blacu. Ampas tertinggal pada kain pres.
Identifikasi terbentuknya limbah: Terbentuknya ampas tahu dari proses
penyaringan. Apabila dibiarkan akan menimbulkan bau yang tidak enak, serta
menjadi limbah semi padat yang mencemari lingkungan.
Alternatif produksi bersih: Ampas tahu yang terbentuk bisa dijadikan pakan
ternak, kerupuk ampas tahu, dll.
43



6. Penggumpalan
Deskripsi proses: Protein dalam susu kedelai selanjutnya diendapkan dengan
penambahan koagulan ( bahan penggumpal).
Identifikasi terbentuk limbah: Terbentuknya Whey sari kedelai yang tidak
menggumpal yaitu cairan basi yang bisa menimbulkan pencemaran bau
apabila Whey dibiarkan atau dibuang kesungai.
Alternatif produksi bersih:
a. pekerja berhati-hati pada saat memasukkan bibit/ biang ke dalam sari
kedelai maupun pada saat melakukan pengadukan. Alternatif ini dapat
mengurangi tumpahan sebesar 20%.
b. Whey bisa dimanfaatkan menjadi nata de soya dengan perlakuan
penambahan starter bakteri Acetobacter xylinum. Alternatif ini dapat
mengurangi pembuangan whey sebesar 95 %.
7. Pencetakan dan Pengepresan.
Deskripsi Proses: Gumpalan yang terbentuk dimasukkan kedalam cetakan
yang telah dialasi kain blacu, kemudian di- press sampai terbentuk tahu cetak.
Identifikasi terbentuknya limbah: Limbah cair yang berasal dari proses
pencetakan dan pengepresan tahu.
Alternatif produksi bersih: Pembuatan selokan dekat dengan tempat
pengepresan agar limbah cair tidak berceceran dilantai. Perhitungan NPO
sebelum dan setelah diterapkan produksi bersih dapat dilihat pada Lampiran 4
b. Penggunaan Energi
Industri tahu sebaiknya menggunakan gas sebagai bahan bakar sehingga emisi
jelaga dan asap dapat diminimisasi. Tetapi jika masih menggunakan kayu bakar
maka dibuat gudang atau tempat penyimpanan yang memadai agar kayu tidak
terkena air hujan. Pekerja diharapkan menggunakan kayu bakar secara efisien.
Selain itu, dapat pula memanfaatkan batok dan sabut kelapa sebagai bahan bakar
tambahan agar menghemat penggunaan kayu.
Penghematan listrik dapat dilakukan dengan mematikan lampu pada siang
hari, jika ruang produksi cukup terang untuk mengurangi biaya listrik. Untuk
44



efisiensi penggunaan air, dilakukan perbaikan kran dan pipa air yang bocor, dan
tidak mengisi bak terlalu penuh. Menghemat penggunaan air pada proses
pencucian sebaiknya dengan tidak menggunakan air langsung dari kran tetapi
menggunakan sistem pencucian dengan bak. Kedelai dimasukkan ke dalam bak
yang telah berisi air dan dipindahkan ke dalam bak selanjutnya. Sisa air
pencucian kedua dapat dimanfaatkan untuk pencucian kedelai selanjutnya.
Pekerja sebaiknya segera mematikan kran air apabila bak penampung telah
penuh.
c. Lay Out Pabrik dan Peralatan
Bangunan dan peralatan diusahakan didesain mudah dipelihara, selalu bersih
dan siap dipakai sehingga lebih tahan lama dan tidak mudah aus. Efisiensi lay out
pabrik dilakukan dengan penerapan GHK. Hal ini dilaksanakan dengan
menyingkirkan barangbarang yang tidak di gunakan atau rusak,
pengelompokkan barang, serta merawat peralatan produksi. Selain itu dilakukan
pembersihan berkala pada lantai, langit-langit, dan dinding dari jelaga dan debu.
d. Proses Produksi dan Kebiasaan Pekerja
Prosedur kerja dibuat tertulis agar memudahkan para pekerja dalam
melakukan tugas-tugasnya, sehingga kegagalan produksi dapat dihindari jika
pekerja terpaksa diganti karena sakit. Hal ini tentunya dapat menghindari
hilangnya biaya pengeluaran tambahan. Meningkatkan kesadaran pekerja
mengenai efisiensi produksi dan pentingnya penerapan produksi bersih.
e. Perlindungan kesehatan dan keselamatan kerja
Peralatan yang tidak berhubungan dengan proses produksi sebaiknya
dipindahkan dari ruang produksi agar karyawan dapat bekerja dengan nyaman
dan memperluas ruang produksi. Ruang produksi sebaiknya diatur dengan
memperhatikan efisiensi waktu yang digunakan oleh pekerja. Industri sebaiknya
menyediakan obatobatan untuk pertolongan pertama pada kecelakaan.



45



4.2 Penerapan Sanitasi

Pengelolaan sanitasi dapat membantu untuk mencegah terjadinya kontaminasi
pada produk yang dihasilkan. Pengelolaan sanitasi dapat diterapkan pada beberapa
aspek sanitasi, antara lain:
4.2.1 Sanitasi Bahan
1. Bahan baku dan bahan penolong yang digunakan aman dikonsumsi
manusia.
2. Bahan baku dibeli dari toko atau supplier yang dapat dipercaya.
3. Menyiapkan tempat khusus untuk penyimpanan bahan baku dan bahan
penolong yang bersih, jauh dari jangkauan anak-anak, tidak lembab dan
kapasitas yang cukup.
4. Periksa kondisi bahan yang dibeli untuk memastikan bahan yang dibeli
memiliki mutu yang baik.
5. Bahan penolong seperti asam cuka hendaknya dibeli dalam kondisi masih
terkemas dalam kemasan asal. Perhatikan kondisi kemasan dan tanggal
kadaluwarsa. Kondisi kemasan harus bersih dan utuh (tidak terbuka).
6. Air yang digunakan harus bersih.

4.2.2 Sanitasi Peralatan
1. Peralatan yang tidak dibutuhkan dalam proses produksi tidak diletakkan di
ruang produksi karena mengganggu estetika dan kenyamanan karyawan.
2. Tidak menggunakan bak yang sudah mengelupas untuk pemansan. Bak
untuk pemanasan sebaiknya menggunakan bak yang dilapisi keramik dan
bak dibersihkan secara teratur. Menggunakan ember yang tahan panas
pada proses penyaringan jika memungkinkan.
3. Peralatan seperti ember, baskom, sendok, kain penyaringan dan mesin
penggilingan harus selalu diperhatikan kondisi dan kebersihannya.
Peralatan tersebut juga harus bebas karat, jamur, minyak, cat yang
terkelupas, dan kotoran-kotoran lainnya (sisa pengolahan sebelumnya, dan
lain lain).
46



4. Wadah atau baskom dan peralatan lain yang mempunyai mulut besar dan
terbuka harus dilindungi dari kontaminasi (terutama berupa jatuhan dari
atap atau langit-langit ruangan.

4.2.3 Sanitasi Pekerja

1. Pekerja yang menangani pangan (kontak langsung dengan pangan di
ruangan penanganan, penyimpanan, dan proses produksi) harus dalam
kondisi sehat. Pekerja yang sakit atau baru sembuh dari penyakit-
penyakit infeksi tidak boleh bekerja di ruang produksi
2. Setiap pekerja harus menjaga kebersihan badannya dan mandi sebelum
melakukan proses produksi
3. Pekerja sebaiknya menggunakan pakaian pada saat bekerja.
4. Kuku pekerja harus selalu dalam keadaan bersih, dipotong pendek dan
tidak memakai cat kuku. Keracunan pangan seringkali disebabkan oleh
tangan kotor yang kontak dengan pangan atau peralatan pengolahan
5. Pekerja diharuskan untuk mencuci tangan setiap kali akan memulai
pekerjaan, setelah menggunakan toilet, menangani bahan mentah atau
bahan kotor, dan pada kondisi lainnya yang dianggap perlu mencuci tangan
6. Mencuci tangan harus dilakukan secara benar dengan menggunakan sabun
dan air bersih yang mengalir (jika memungkinkan menggunakan air
hangat)
7. Pada saat sedang menangani pangan, pekerja tidak boleh melakukan
kegiatan yang berpotensi untuk menyebabkan kontaminasi pada pangan
seperti mengunyah, makan dan minum, merokok, bersin atau batuk ke arah
pangan. Jika pekerja tidak bisa menahan batuk atau bersin yang datang
secara tiba-tiba, maka mulut harus ditutup dengan tangan dan segera
mencuci tangan sesudahnya
8. Pekerja tidak mengenakan perhiasan (cincin, gelang, kalung), arloji, peniti
atau perlengkapan lain yang jika terlepas dan jatuh ke dalam pangan yang
diproduksi dapat menyebabkan pencemaran pada produk
47



4.2.4 Sanitasi Lingkungan Produksi

Beberapa aspek yang harus diperhatikan pada sanitasi lingkungan industri
dapat dilihat pada Lampiran 5. Dari daftar checklist dapat diketahui bahwa terdapat
beberapa aspek yang harus diperbaiki antara lain:
1. Lingkungan Luar/ Halaman
Perapihan dan penataan halaman luar industri dengan mengatur tumpukan
kayu bakar di tempat yang terlindung dari potensi air hujan sehingga
menghindari tumbuhnya jamur. Membersihkan halaman dari rumput liar dan
genangan air serta menyarankan pekerja untuk membersihkan halaman seminggu
sekali agar industri bebas dari serangga dan binatang pengerat yang dapat
membawa kuman penyakit sehingga dapat mencemari produk tahu yang
dihasilkan. Selain itu, menyediakan tempat sampah yang tertutup dan terpisah
antara sampah organik dan anorganik.
2. Ruang dan Bangunan
Bangunan merupakan satu kesatuan tempat yang terdiri dari dinding, lantai,
atap/langit-langit, dan memiiki ruang. Ruang yang dimaksud adalah ruangan
yang dilengkapi dengan ventilasi di dalamnya. Industri tahu Sumber Rezeki
memiliki bangunan permanen namun tidak dirawat dengan baik. Pada lantai
seharusnya dibuat saluran aliran limbah dan selokan agar air limbah mengalir
lancar dan menghindari kondisi becek dan lantai licin.
Atap pabrik dibersihkan dari jelaga, debu, dan sarang laba-laba. Kebocoran
atap pabrik segera diperbaiki karena jika terjadi hujan makan air hujan akan
masuk ke dalam pabrik dan menyebabkan genangan. Sebagian atap
menggunakan atap yang transparan agar membantu pencahayaan pada proses
produksi. Sebaiknya dipasang langit-langit untuk menghindari kontaminasi debu
dari atap. Perawatan terhadap bangunan dilakukan dengan menjaga kebersihan
pabrik dan melakukan piket kebersihan secara rutin.
3. Penyehatan Udara Ruang
Di lingkungan pabrik terdapat bau menyengat yang berasal dari limbah cair
dan ampas tahu yang didiamkan. Gas atau bau yang ditimbulkan tidak hanya
48



mencemari pabrik saja, tetapi mencemari rumah pemilik, tetangga dan sungai
yang berada sekitar industri. Setelah dilakukan wawancara terhadap pekerja,
mereka mengaku bahwa bau yang dihasilkan awalnya mengganggu namun
karena sudah terbiasa maka bau tersebut tidak menjadi masalah lagi. Hal ini
tentunya tetap berpengaruh terhadap kesehatan, sehingga sebaiknya pekerja
menggunakan masker untuk melindungi pekerja dari bau dan debu yang berasal
dari asap. Sebaiknya ampas tahu tidak disimpan lama didalam ruangan karena
ampas tahu yang basi menjadi sumber bau busuk.
4. Pengendalian Vektor Penyakit
Berdasarkan hasil observasi, terdapat hewan ternak ayam pemilik dan
tetangga yang berkeliaran di sekitar pabrik. Hewan ternak tersebut selalu diusir
jika memasuki tempat produksi, tetapi kotorannya terlihat di halaman dan
menimbulkan bau dan perasaan tidak nyaman. Tidak hanya hewan ternak, lalat
pun banyak ditemukan karena sampah berserakan dan bau dari limbah.
Industri seharusnya menyingkirkan hewan ternak di samping halaman yang
berpotensi sebagai vektor penyakit, merapikan penyimpanan peralatan dan bahan
baku agar tidak menjadi sarang tikus, membersihkan peralatan produksi dan
peralatan makan segera setelah digunakan untuk menghindari adanya lalat dan
kecoa, serta menghimbau pekerja untuk membuang ampas tahu dan sampah
dalam waktu tidak lebih dari 24 jam.
5. Instalasi
Kondisi instalasi listrik tidak memenuhi syarat estetika. Kabel-kabel listrik
tidak tertata dengan rapi. Sebaiknya kabel-kabel listrik yang sudah tidak layak
pakai diganti dengan yang baru untuk menghindari terjadinya hubungan arus
pendek.
6. Pemeliharaan Toilet
Kondisi yang terjadi di industri ini adalah toilet yang tersedia tidak memenuhi
persyaratan. Industri dengan pekerja berjumlah 3 orang tersebut memiliki satu
kamar mandi dan satu jamban yang bersatu dengan rumah pemilik, tidak ada
wastafel, serta tidak memiliki peturasan. Pemeliharaan toilet dilakukan dengan
49



penyediaan sikat dan desinfektan serta menyingkirkan baju yang tergantung di
toilet karena dapat menjadi sarang pertumbuhan bakteri. Kebersihan toilet dijaga
teratur agar tidak bau dan licin.


4.3 Pengolahan Limbah Padat

Limbah padat industri kecil tahu Sumber Rezeki mengandung bahan-bahan
organik seperti karbohidrat, protein, lemak, serat kasar dan air. Bahan-bahan ini
mudah terdegradasi secara biologis dan menyebabkan pencemaran lingkungan,
terutama menimbulkan bau busuk. Limbah padat tahu dapat diolah melalui beberapa
cara, antara lain:
1. Pembuatan Tepung Serat Ampas Tahu
Ampas tahu dapat dibuat tepung yang disebut dengan tepung serat ampas
tahu. Bentuk tepung seperti ini mempunyai sifat tahan lama, dan dapat menjadi
bahan baku pengganti tepung terigu atau tepung beras untuk berbagai makanan.
Penambahan bahan lain disesuaikan dengan kebutuhan yang sesuai dengan produk
apa yang akan dibuat.
Tepung serat ampas tahu dimanfaatkan untuk mengganti 2 (dua) hingga 3
(tiga) bagian dari tepung terigu yang diresepkan untuk membuat kue kering. Selain
kue kering, tepung ini dapat pula digunakan untuk membuat lauk pauk seperti
kerupuk ampas tahu, perkedel, resoles, kroket dan donat (KASWINARNI, 2007).
2. Pembuatan Tempe Gambus
Menurut SARWONO dan SARAGIH (2003), proses pembuatan tempe
gambus sama dengan pembuatan oncom hanya saja dalam peragiannya digunakan
ragi tempe. Bahan baku pembuatan tempe gembus adalah ampas tahu, tahap pertama
ampas tahu direndam dalam air selama 12 jam. Setelah itu ampas tahu dipres dengan
mesin pres sehingga airnya keluar. Tahap selanjutnya adalah fermentasi, ampas tahu
yang sudah bersih, kemudian ditaburi dengan ragi tempe dan diaduk-aduk sampai
rata. Setelah itu ampas tahu dimasukkan ke dalam plastik kemudian diletakkan di rak-
50



rak agar terhindar dari serangga dan cahaya matahari langsung selama 4-5 hari
hingga kapang yang terbentuk cukup tebal dan menutupi seluruh tempe gembus.
3. Pakan Ternak
Ampas tahu selain dibuat tempe gembus juga dapat dimanfaatkan untuk pakan
ternak. Produk sampingan produksi tahu ini apabila telah mengalami fermentasi dapat
meningkatkan kualitas pakan dan memacu pertumbuhan ayam pedaging. Namun
karena kandungan air dan serat kasarnya yang tinggi, maka penggunaannya menjadi
terbatas dan belum memberikan hasil yang baik. Guna mengatasi tingginya kadar air
dan serat kasar pada ampas tahu maka dilakukan pengeringan.
Limbah padat industri tahu tidak hanya berupa ampas tahu saja, tetapi juga
kulit ari kedelai sisa proses perendaman. Kulit ari kedelai ini dapat dimanfaatkan
untuk campuran pakan ternak. Pembuatannya cukup mudah, yaitu kulit ari yang
sudah dibersihkan dari berbagai kotoran dicampur dengan air dan bahan campuran
lain seperti bakatul dan tepung ikan. Kemudian diaduk rata dan siap diberikan ke
ternak.


4.4 Pengolahan Limbah Cair

Pengolahan limbah cair dilakukan untuk menurunkan kadar bahan pencemar
yang terkandung dalam air limbah agar dapat dibuang dengan aman ke lingkungan.
Pengolahan ini meruapakan langkah akhir dalam upaya pengelolaan lingkungan
setelah dilakukan upaya-upaya pencegahan dan minimisasi limbah melalui produksi
bersih. Pengolahan dilakukan dalam suatu instalasi pengolahan air limbah (IPAL)
yang dibangun dengan memperhatikan segi biaya, ketersediaan lahan, sumber daya
manusia serta ketersediaan sarana dan prasarana.
Perencanaan dalam pengelolaan limbah cair harus memperhatikan kualitas
dan kuantitas limbah yang akan diolah. Karakteristik limbah cair yang dihasilkan
industri tahu Sumber Rezeki yaitu TSS sebesar 30 g/kg bahan baku kedelai, KOB 65
g/kg bahan baku kedelai dan KOK 130 g/kg bahan baku kedelai, pH 3,5-5 dan suhu
operasi 30C - 35C (EMDI & BAPEDAL, 1994). Karakteristik limbah cair yang
51



dihasilkan dari proses pembuatan tahu di IKM Sumber Rezeki dapat dilihat pada
Tabel 4.
Tabel 4. Karakteristik Limbah Produk Hasil Olahan Kedelai
Beban pencemaran limbah cair
Kuantitas
Bahan baku
(kedelai)
Kuantitas limbah cair Parameter Kuantitas (jumlah)
Literatur Konversi Literatur Konversi
100 kg/hari 20 L/ 1 kg
kedelai
2000 L/hari
atau 2 m
3
/hari
TSS 30000
mg/kg
kedelai
1500 mg/L
KOB 65000
mg/kg
kedelai
3250 mg/L
COD 130000
mg/kg
kedele
6500 mg/L
pH 3,5-5,5 -
Sumber: ENVIRONMENTAL MANAGEMENT DEVELOPMENT
IN INDONESIA, 1994.

Karakteristik yang dihasilkan memiliki kadar bahan organik tinggi dengan
nilai indikator BOD dan COD yang tinggi. Kadar padatan (TSS) dalam air cukup
tinggi mennjukkan bahwa sebagian besar padatan tersebut merupakan bahan organik
yang dapat diuraikan secara biologis dengan memanfaatkan mikroorganisme.
Desain IPAL yang direncanakan meliputi tiga tahap pengolahan yaitu
pengolahan pendahuluan, pengolahan pertama dan pengolahan kedua. Pengolahan
pendahuluan bertujuan untuk menyisihkan kotoran dan benda padat yang ikut
bersama aliran limbah. Pengolahan pertama melakukan bertujuan untuk Kadar
padatan yang tinggi perlu diturunkan. Pengolahan tahap kedua berupa pengolahan
biologi untuk menurunkan kadar bahan organik yang terkandung dalam limbah.
Pengolahan biologi menggunakan sistem anaerob karena harga pengolahannya dapat
dijangkau oleh industri kecil tahu Sumber Rezeki. Dari karakteristik limbah yang
dihasilkan, maka IPAL industri tahu Sumber Rezeki direncanakan sebagai berikut:
1. Bak Ekualisasi sekaligus Bak Netralisasi
Ekualisasi bukan merupakan suatu proses pengolahan tetapi merupakan suatu
cara/teknik untuk meningkatkan efektivitas dari proses pengolahan selanjutnya.
52



Keluaran dari bak ekualisasi adalah parameter operasional bagi unit pengolahan
selanjutnya.
Air limbah yang berasal dari industri tahu sebelum masuk ke bak ekualisasi
(bak penampungan) harus melalui saringan (bar screen) terlebih dahulu untuk
memisahkan kotoran-kotoran yang terikut, sehingga tidak mengganggu proses
selanjutnya. Pada bak ekualisasi dapat pula dilengkapi dengan pembubuhan bahan
kimia untuk mengkondisikan sifat air limbah yang diinginkan.
Penggabungan bak ekualisasi dan netralisasi berdasarkan pertimbangan biaya
pada industri kecil pembuatan tahu, Sehingga pada bak ekualisasi ini juga dilakukan
penambahan kapur Ca(OH)
2
untuk menetralkan karena air limbah tahu bersifat asam.
Dosis kapur yang ditambahkan harus melalui pengujian jar test terlebih dahulu.
Perhitungan jumlah kapur yang dibutuhkan dapat dilihat pada Lampiran 6. Fungsi
lain dari bak ekualisasi adalah meratakan variabel dan fluktuasi dari beban organik
untuk menghindari shock loading pada sistem pengolahan biologi sehingga perlu
dilakukan pengadukan. Penurunan kadar COD mencapai 50% dan penurunan kadar
TSS mencapai 20-30%. Perhitungan untuk bak ekualisasi sekaligus netralisasi dapat
dilihat pada Lampiran 7. Ukuran bak ekualisasi dan netralisasi sapat dilihat pada
Gambar 19.






Gambar 19. Bak Ekualisasi dan Netralisasi
2. Bak anaerob
Penguaraian polutan dilakukan oleh mikroorganisme yang tidak memerlukan
oksigen bebas atau secara anaerob. Penguraian tersebut dapat berjalan walaupun
memerlukan waktu yang cukup lama. Supaya proses pengolahan dapat berjalan lebih
efektif, maka perlu dicari kondisi yang paling baik bagi pertumbuhan
0,3 m
1,5 m
2 m
2 m
53



mikroorganisme. Mikroorganisme dapat hidup dengan baik pada kondisi pH limbah
cair sekitar 7 atau pada keadaan normal. Limbah cair industri tahu bersifat asam
sehingga sebelum diolah perlu dinetralkan terlebih dahulu dengan kapur di bak
ekualisasi agar kerja mikroorganisme berlangsung dengan baik.
Bak ini dibuat dengan sistem kolam anaerob yaitu salah satu cara pengolahan
limbah cair yang berlangsung tanpa adanya oksigen. Limbah pangan dengan volume
kecil sampai sedang tetapi berkadar bahan organik tinggi dapat diolah dengan sistem
ini termasuk tahu. Pada bak ini juga terjadi pengendapan oleh padatan tersuspensi.
Sistem kolam ini harus didesain dan dioperasikan secara benar agar tidak mencemari
air dan tanah di sekitarnya.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mendesain dan mengoperasikan
kolam ini adalah dinding kolam harus kedap air, saluran air masuk harus lebih tinggi
dari saluran air keluar ( perbedaan tinggi minimum 3 cm), kolam harus tertutup dan
dilengkapi lubang untuk pembuangan gas yang terbentuk, dan kolam harus
dilengkapi lubang control. Pengolahan biologi yang dilakukan dengan kolam anaerob
ini mampu menurunkan kandungan KOB, KOK, dan TSS mencapai 70% - 90%
(JENIE dan RAHAYU, 1993). Perhitungan dan ukuran untuk bak anaerob dapat
dilihat pada Lampiran 7 Gambar 20.






Gambar 20. Bak Anaerob
3. Bak Stabilisasi
Bak stabilisasi untuk pengolahan limbah tahu ini dibuat tanpa aerasi dan dengan
kedalaman maksimal 2 m dan waktu tinggal 5 20 hari. Pembuatan kolam ini
didasarkan atas estimasi masih tingginya kandungan pencemar setelah pengolahan
dengan kolam anaerob. Penurunan kadar polutan baik BOD, COD dan TSS bisa
2m
0,3 m

d= 2 m
54



mencapai 90% (JENIE dan RAHAYU, 1993). Bak stabilisasi ini menggunakan eceng
gondok dengan kepadatan 50 % . Semakin padat eceng gondok, maka efisiensinya
semakin besar (SUARDANA, 2009). Perhitungan bak stabilisasi dapat dilihat pada
Lampiran 7 Gambar 21.







Gambar 21. Bak Stabilisasi
4. Bak Kontrol
Air limbah yang sudah dikelola terlebih dahulu di kontrol kualitas airnya
sebelum dibuang ke sungai. Kontrol ini berguna untuk mengetahui pengaruh air
limbah terhadap biota air. Pada bak kontrol terdapat ikan air tawar, apabila ikan yang
berada di dalam kolam kontrol dapat bertahan hidup, berarti air limbah cukup baik
dan dapat dibuang ke sungai. Namun apabila ikan mati, berarti proses yang
berlangsung di IPAL ada yang kurang sempurna.
Seluruh parameter pada limbah cair industri tahu yang telah diolah berada di
bawah baku mutu lingkungan berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup
No. 15 tahun 2008, tentang Baku Mutu Air Limbah bagi Usaha dan atau Kegiatan
pengolahan kedelai, sehingga limbah industri tahu sudah layak dibuang ke
lingkungan. Desain IPAL industri kecil tahu Sumber Rezeki yang direncanakan
dapat dilihat pada Lampiran 8.
4 m
0,3 m
2 m
3 m