Anda di halaman 1dari 7

PELAYANGAN BUNYI

DISUSUN OLEH :
ASTRI DEWI PEBRIYANTY



Semenjak SD kita telah mempelajari tentang bunyi. Waktu SD materi bunyi
terkelompokkan ke dalam pelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan Alam). Ketika itu kita hanya
mempelajari materi tersebut secara umum dan garis besarnya saja. Ketika menginjak bangku
SMP kita bertemu kembali dengan materi bunyi atau lebih spesifiknya gelombang bunyi yang
terkelompokkan dalam pelajaran fisika. Di SMP materi gelombang bunyi dipelajari lebih
mendalam. Berbeda ketika kita duduk di bangku SD.
Di bangku SMP kita mempelajari gelombang bunyi yang mencakup pengertian,
macam-macam, peristiwa terjadinya, rumus-rumus hitungan, pengaplikasian dalam
kehidupan sehari-hari, dan sebagainya. Namun pada materi SMP materi yang diajarkan hanya
dasarnya saja. Nah di SMA bunyi, khususnya dalam gelombang bunyi lebih diperdalam itu
pun dengan catatan jika kita masuk program studi IPA karena materi ini tidak ada di kelas X.
Bunyi , apa sih bunyi ?
Bunyi adalah energi yang dirambatkan dalam bentuk gelombang yang dapat
menyebabkan gelombang bunyi yang dapat kita dengar yang merambat melalui medium zat
padat, cair dan gas.
Pernahkah kita membayangkan bagaimana rasanya jika dunia ini begitu sepi, hening,
tanpa bunyi / suara? Atau sebaliknya, pernahkah kita membayangkan jika dunia ini terlalu
berisik, bising, banyak terdengar suara pabrik, suara kendaraaan bermotor atau suara lainnya
yang memekakkan telinga ?
Apalagi kondisi ini berlangsung cukup lama, jangan deh, cukup dalam bayangan saja.
Dapatkah kalian bayangkan jika tidak ada bunyi sama sekali disekitar kita? Kalian tidak akan
mendengarkan suara-suara indah dari berbagai macam sumber bunyi.
Bunyi merupakan salah satu fenomena fisika yang selalu kita alami sehari-hari.
Contoh bunyi yang sering kita nikmati adalah musik. Musik bisa memberikan inspirasi saat
kita sedang belajar, bekerja atau beraktifitas. Gimana jadinya ya kalau dunia ini tanpa musik?
Tetapi kadangkala bunyi bisa menjadi tidak nyaman bagi kehidupan. Misalnya bunyi
yang kita dengar adalah musik keras yang berlebihan, suara pabrik, kendaraan bermotor
dengan suara knalpot yang bising, dan lain-lain. Semua itu akan menjadi sumber polusi.
Ada banyak sekali bunyi disekitar kita. Alhamdulillah yah Tuhan menganugerahkan
bunyi dalam kehidupan manusia. Dan itu patut kita syukuri.
Kita juga mesti bersyukur diberikan indera pendengaran, karena itu kita bisa
mendengar berbagai macam bunyi atau suara. Tetapi banyak orang di luaran sana yang
kurang beruntung. Mereka tidak bisa menikmati apa yang kita nikmati, mendengar alunan
musik yang indah, berisiknya kota yang dikarenakan oleh aktivitas manusia, aktivitas pabrik,
suara kendaraan bermotor, dan lain-lain. Bisa dibilang mereka menderita tuna rungu.
Oke, kita kembali lagi ke topik tentang gelombang bunyi khususnya pelayangan
bunyi.
Yang kita ketahui sumber bunyi berasal dari benda bergetar. Gelombang bunyi
termasuk gelombang mekanik dan longitudinal yang artinya gelombang yang memerlukan
medium dalam perambatannya dan arah rambatannya tegak lurus dengan arah getarannya.
Gelombang bunyi dapat merambat melalui medium seperti gas, cair, dan padat.
Gelombang bunyi tidak dapat merambat dalam ruang hampa. Oleh karena itu, para astronot
tidak dapat menggunakan bunyi untuk berkomunikasi di bulan, di bulan tidak ada udara,
sehingga tidak ada bunyi di sana.
Perambatan gelombang dijadikan binatang-binatang untuk sarana berkomunikasi.
Sebagai contoh perambatan gelombang melalui zat cair yaitu , lumba-lumba dan ikan paus
dapat berkomunikasi dengan sesamanya melalui perambatan di dalam air. Gelombang yang
digunakan oleh lumba-lumba adalah gelombang ultrasonik dengan frekuensi tinggi dan
sehingga manusia tidak dapat mendengar pada frekuensi tersebut karena manusia hanya bisa
mendengar pada frekuensi yang lebih kecil. Kemungkinan lumba-lumba dan paus memiliki
bahasa dalam berkomunikasi seperti manusia karena kedua hewan tersebut memiliki
frekuensi yang sama.
Tidak hanya pada lumba-lumba dan ikan paus saja, binatang-binatang lain pun bisa
melakukan komunikasi melalui perambatan gelombang dari berbagai medium (tergantung
habitatnya).
Setiap gelombang merambatkan energi. Makin besar energi bunyi yang diterima makin
nyaring suara yang kita dengar.
Seperti halnya pada cahaya, pada bunyi terjadi interferensi. Bunyi kuat terjadi ketika
superposisi kedua gelombang bunyi pada suatu titik adalah sefase atau memiliki beda lintasan
yang merupakan kelipatan bulat dari panjang gelombang bunyi.
Sebelumnya sudah dijelaskan mengenai interferensi gelombang bunyi. Kali ini kita
berkenalan dengan salah satu jenis interferensi gelombang bunyi, yakni layangan. Bukan
mainan layangan ya!
Sebenarnya untuk apa sih kita mempelajari pelayangan ? apakah ada manfaat nya kita
mempelajari pelayangan?
Tentunya saja setiap suatu hal pasti memiliki manfaat.
Banyak penerapan konsep layangan dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya dalam
bidang musik. Penyetel alat musik, misalnya gitar atau piano, biasanya memanfaatkan
layangan untuk mengetahui apakah senar sudah disetel dengan benar atau belum. Garputala
standar digetarkan, senar dipetik. Jika ada layangan yang dihasilkan oleh garputala standar
dan senar yang dipetik, maka senar tersebut belum disetel dengan benar (maksudnya
frekuensinya belum tepat frekuensi senar belum sama dengan frekuensi garputala standar).
Sebaliknya jika tidak ada layangan yang dihasilkan maka senar sudah disetel dengan benar
(frekuensi senar sudah tepat frekuensi senar sudah sama dengan frekuensi garputala
standar).
Mengapa juga kita harus memperbaiki atau mengoreksi apakah senar sudah disetel
dengan benar atau tidak? Itu berhubungan dengan bunyi. Dari petikan senar tersebut akan
menghasilkan bunyi atau suara. Bunyi yang dihasilkan ada 2 kemungkinan fals dan enak
didengar. Itulah yang bisa kita manfaatkan dari pelayangan bunyi.

Alangkah baiknya jika kita kenalan terlebih dahulu dengan layangan bunyi.
Bunyi mempunyai kekuatan atau bisa disebut sebagai intensitas bunyi yang artinya
besar energi tiap satuan waktu tiap satuan luas. Intensitas bunyi ini berhubungan dengan
amplitudo. Jika amplitudo nya semakin besar maka bunyi yang dihasilkan akan semakin kuat.
Tetapi dalam ukuran waktu tertentu akan terdengar kuat lemah kuat lemah bunyi sesuai
dengan pengertian satu layangan.
Layangan adalah interferensi dua getaran harmonis yang sama arah getarnya, tetapi
mempunyai perbedaan frekuensi sedikit sekali. Misalnya dua getaran A dan N berturut-turut
mempunyai frekuensi f
1
= 3 Hz dan f
2
= 5 Hz
Mula-mula kedua sumber getar bergetar dengan fase sama, jadi superposisi
gelombang saling memperkuat atau terjadi penguatan. Setelah beberapa saat getaran B
mendahului getaran dari pada A, sehingga fasenya berlawanan, jadi saat ini superposisi
saling menghapus. Beberapa saat kemudian B bergetar satu getaran lebih dahulu dari A,
maka saat ini fase A dan B sama lagi dan terjadi superposisi saling memperkuat lagi, artinya
terjadi penguatan lagi dan seterusnya. f
1
dan f
2
tersebut bisa dibilang frekuensi-frekuensi
menimbulkan layangan.
1 layangan merupakan gejala terjadinya dua pengerasan bunyi yang berurutan (keras-lemah-
keras).
Pelayangan sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, namun kita tidak pernah
meneliti secara detail tentang sebuah pelayangan bunyi. Pelayangan hampir mirip dengan
gelombang superposisi, karena terdapat 2 gelombang yang bergetar secara bersamaan namun
dalam gelombang superposisi posisi nya saja yang mengalami sedikit perubahan .
Pelayangan bunyi hanya terjadi apabila terdapat 2 frekuensi dengan selisih yang tidak
terlalu besar, berbunyi secara bersamaan,, maka selisih dari kedua frekuensi tersebut akan
menimbulkan pelayangan jadi dibutuhkan minimal 2 sumber bunyi untuk memungkinkan
terjadinya pelayangan. Apabila hanya terdapat 1 sumber bunyi dan 1 pendengar. Tidak akan
terjadi pelayangan. Hanya akan frekuensinya saja yang berubah.
Layangan Bunyi termasuk sebagai gelombang dan sebagai salah satu sifat gelombang
yaitu dapat berinterferensi, demikian juga pada bunyi juga mengalami interferensi. Peristiwa
interferensi dapat terjadi bila dua buah gelombang bunyi memiliki frekuensi yang sama atau
berbeda sedikit dan berada dalam satu ruang dengan arah yang berlawanan. Interferensi
semacam ini sering disebut interferensi ruang.

Interferensi dapat juga terjadi jika dua gelombang bunyi yang mempunyai frekuensi
sama atau berbeda sedikit yang merambat dalam arah yang sama, interferensi yang terjadi
disebut interferensi waktu.
Dalam peristiwa interferensi gelombang bunyi yang berasal dari dua sumber bunyi
yang memiliki frekuensi yang berbeda sedikit, misalnya frekuensinya f1 dan f2, maka akibat
dari interferensi gelombang bunyi tersebut akan kita dengar bunyi keras dan lemah yang
berulang secara periodik.

Layangan memiliki frekuensi. Yang dimaksud dengan frekuensi layangan yaitu selisih
frekuensi kedua gelombang bunyi yang berinterferensi.
Telinga manusia biasanya hanya bisa mendengar layangan yang frekuensinya
mencapai sekitar 15 hertz sampai 20 hertz. Jika frekuensi layangan lebih dari nilai ini maka
telinga kita tidak bisa mendengar layangan tunggal.
Sebagai contoh, kita andaikan terjadi interferensi dua gelombang bunyi yang
memiliki frekuensi 1700 hertz dan 1800 hertz (frekuensi layangan = 1800 hertz 1700 hertz
= 100 hertz). Telinga kita tidak mendengar layangan tunggal tetapi akan mendengar tiga
bunyi yang frekuensinya berbeda, yakni 1700 hertz, 1800 hertz dan 100 hertz (terdengar juga
sebuah bunyi berfrekuensi 100 hertz yang jauh lebih lemah).

Dalam contoh di atas tampak bahwa kedua gelombang bunyi yang berinterferensi
memiliki amplitudo yang sama. Bagaimana jika keduanya memiliki amplitudo yang berbeda
? apabila amplitudonya sedikit berbeda maka interferensi antara kedua gelombang bunyi
masih bisa menghasilkan layangan. Tetapi jika perbedaan amplitudonya cukup besar maka
interferensi antara kedua gelombang bunyi tidak lagi berupa layangan.

Terjadinya pengerasan bunyi dan pelemahan bunyi tersebut adalah efek dari
interferensi gelombang bunyi yang disebut dengan istilah layangan bunyi atau pelayangan
bunyi. Kuat dan lemahnya bunyi yang terdengar tergantung pada besar kecil amplitudo
gelombang bunyi.

Demikian juga kuat dan lemahnya pelayangan bunyi bergantung pada amplitudo
gelombang bunyi yang berinterferensi. Banyaknya pelemahan dan penguatan bunyi yang
terjadi dalam satu detik disebut frekuensi layangan bunyi yang besarnya sama dengan selisih
antara dua gelombang bunyi yang berinterferensi tersebut.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai bunyi yang kita dengar akan
terdengar berbeda apabila antara sumber bunyi dan pendengar terjadi gerakan relatif.
Misalnya pada saat kita menaiki sepeda motor di jalan raya berpapasan dengan mobil
ambulan atau mobil patroli yang membunyikan sirine.

Pelayangan bunyi termasuk ke dalam sifat gelombang bunyi yang mengalami
perpaduan (interferensi). Gelombang bunyi mengalami gejala perpaduan gelombang atau
interferensi, yang dibedakan menjadi dua yaitu interferensi konstruktif atau penguatan bunyi
dan interferensi
destruktif atau pelemahan bunyi.
Misalnya waktu kita berada diantara dua buah loud-speaker dengan frekuensi dan
amplitudo yang sama atau hampir sama maka kita akan mendengar bunyi yang keras dan
lemah secara bergantian.

Bunyi sirine yang terdengar akan makin keras saat kita bergerak saling mendekati dan
akan semakin lemah pada saat kita bergerak saling menjauhinya. Peristiwa ini disebut efek
Doppler yaitu peristiwa terjadinya perubahan frekuensi bunyi yang diterima oleh pendengar
akan berubah jika terjadi gerakan relatif antara sumber bunyi dan pendengar.

Keras dan lemahnya bunyi yang terdengar bergantung pada frekuensi yang diterima
pendengar. Besar kecil perubahan frekuensi yang terjadi bergantung pada cepat rambat
gelombang bunyi dan perubahan kecepatan relatif antara pendengar dan sumber bunyi.

Peristiwa ini pertama kali dikemukakan oleh Christian Johann Doppler pada tahun
1942 dan secara eksperimen dilakukan oleh Buys Ballot pada tahun 1945.

Jika ada seseorang yang bergerak menjauhi sumber bunyi, apakah dia akan
mendengar pelayangan bunyi?
Pelayangan bunyi tidak ada kaitannya dengan efek Doppler, karena pelayangan bunyi
merupakan selisihnya saja, sedangkan efek Doppler karena ada pergerakan sumber bunyi
yang sama yang bisa terdengar.
Disimpulkan, dalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah terlepas dari fenomena
fisika yaitu tentang bunyi atau suara. Bunyi memiliki beberapa sifat. Karena kita membahas
pelayangan bunyi, ini berhubungan dengan sifat bunyi. Yaitu, bunyi yang mengalami
perpaduan (interferensi). Pelayangan bunyi termasuk ke dalam sifat gelombang bunyi yang
mengalami perpaduan (interferensi). Seperti yang sudah kita ketahui, peristiwa pelayangan
bunyi didefinisikan sebagai peristiwa penguatan dan pelemahan bunyi akibat superposisi dua
gelombang yang memiliki frekuensi yang berbeda dengan beda relatif kecil.
Satu layangan didefenisikan sebagai gejala dua bunyi keras atau dua bunyi lemah
yang terjadi secara berurutan, sehingga : 1 layangan = keras lemah keras atau lemah
keras lemah.
Layangan memiliki frekuensi. Yang dimaksud dengan frekuensi layangan yaitu selisih
frekuensi kedua gelombang bunyi yang berinterferensi.
Penerapan konsep layangan dalam kehidupan sehari-hari yaitu pada bidang musik.
Contohnya Penyetel alat musik, misalnya gitar atau piano, biasanya memanfaatkan layangan
untuk mengetahui apakah senar sudah disetel dengan benar atau belum.

Sumber : http://adprr.blogspot.com/2013/12/karangan-essay-fisika.html