Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kemajuan teknologi yang sedang berlangsung tidak selalu berdampak positif, bahkan ada
kalanya berdampak negatif. Salah satu dampak negatifnya adalah dengan kemajuan teknologi
juga ada peningkatan masalah kejahatan dengan menggunakan modus operandi yang semakin
canggih. Hal tersebut merupakan tantangan bagi aparat penegak hukum untuk menciptakan
penanganannya, khususnya dalam kasus narkotika dan obat-obatan terlarang.
Akhir-akhir ini kejahatan narkotika dan obat-obatan terlarang telah bersifat transnasional yang
dilakukan dengan modus operandi dan teknologi yang canggih. Aparat penegak hukum
diharapkan mampu mencegah dan menanggulangi kejahatan tersebut guna meningkatkan
moralitas dan kualitas sumber daya manusia di Indonesia khususnya bagi generasi penerus
bangsa.[1]
Masalah penyalahgunaan Narkotika atau istilah yang populer dikenal masyarakat sebagai
Narkoba yaitu Narkotika dan Bahan/Obat berbahanya merupakan masalah yang sangat
kompleks, yang memerlukan upaya penanggulangan secara komprehensif dengan melibatkan
kerja sama multidispliner, multisektor dan peran serta masyarakat secara aktif yang dilaksanakan
secara berkesinambungan, konsekuen dan konsisten. Meskipun dalam Kedokteran, sebagian
besar golongan Narkotika masih bermanfaat bagi pengobatan, namun bila disalahgunakan atau
digunakan tidak menurut indikasi medis atau standar pengobatan terlebih lagi bila disertai
peredaran dijalur ilegal, akan berakibat sangat merugikan bagi individu maupun masyarakat luas
khususnya generasi muda. Maraknya penyalahgunaan Narkotika tidak hanya dikota-kota besar
saja, tapi sudah sampai ke kota-kota kecil diseluruh wilayah Republik Indonesia yang salah
satunya di kota Binjai, mulai dari tingkat sosial ekonomi menengah bawah sampai tingkat sosial
ekonomi atas. Dari data yang ada, penyalahgunaan Narkotika paling banyak berumur antara 15-
24 tahun. Tampaknya generasi muda adalah sasaran strategis perdagangan gelap Narkotika. Oleh
karena itu semua perlu mewaspadai bahaya dan pengaruhnya terhadap ancaman kelangsungan
pembinaan generasi muda.[2]
Trend perkembangan kejahatan Narkoba di Indonesia akhir-akhir ini menunjukkan peningkatan
yang sangat tajam. Hasil analisis Polri atas tingginya angka kejahatan tersebut salah satunya
disebabkan oleh krisis ekonomi yang melanda hampir semua daerah di republik ini. Dengan
kejadian ini, pada Produsen, Distributor dan Konsumen memanfaatkan situasi ini untuk
memperbesar dan mencari keuntungan dalam peredaran dan penyalahgunaan Narkoba.[3]
Sektor kesehatan memegang peranan penting dalam upaya penanggulangan penyalahgunaan
Narkotika. Peran penting sektor kesehatan sering tidak disadari oleh petugas kesehatan itu
sendiri, bahkan para pengambil keputusan, kecuali yang berminat dibidang kesehatan jiwa,
khususnya penyalahgunaan Narkotika. Bidang ini perlu dikembangkan secara lebih profesional,
sehingga menjadi salah satu pilar yang kokoh dari upaya penanggulangan penyalahgunaan
Narkotika. Kondisi di atas mengharuskan pula Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan
kesehatan dapat berperan lebih proaktif dalam upaya penanggulangan penyalahgunaan Narkotika
di masyarakat. Dari hasil identifikasi masalah Narkotika dilapangan melalui diskusi kelompok
terarah yang dilakukan Direktorat Kesehatan Jiwa Masyarakat bekerja sama dengan Direktorat
Promosi Kesehatan Ditjen Kesehatan Masyarakat Depkes Kesos Republik Indonesia dengan
petugas-petugas puskesmas di beberapa propinsi yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa
Timur, Bali ternyata pengetahuan petugas puskesmas mengenai masalah Narkotika sangat minim
sekali serta masih kurangnya buku yang dapat dijadikan pedoman.[4]
Penyalahguna Narkotika harus dipelajari kasus demi kasus. Faktor individu, faktor lingkungan
keluarga dan teman sebaya/pergaulan tidak selalu sama besar perannya dalam menyebabkan
seseorang menyalahgunakan Narkotika. Karena faktor pergaulan, bisa saja seorang anak yang
berasal dari keluarga yang harmonis dan cukup kominikatif menjadi penyalahguna Narkotika.
Perkembangan kejahatan penyalahgunaan Narkotika saat ini yang secara kualitas dan kuantitas
cenderung meningkat, maka dapat diperkirakan bahwa kejahatan penyalahgunaan Narkotika
pada masa mendatang akan semakin menigkat seiring dengan perkembangan masyarakat. Hal ini
ditandai dengan munculnya modus operandi kejahatan dengan memanfaatkan teknologi di
bidang transportasi, komunikasi dan informasi sebagai sarana dalam melakukan kejahatannya.
Salah satu unsur penegak hukum yang ada di Indonesia adalah Kepolisian Republik Indonesia,
Kepolisian Republik Indonesia (selanjutnya di singkat Polri) selaku alat Negara penegak hukum
dituntut untuk mampu melaksanakan tugas penegakan hukum secara profesional dengan
memutus jaringan sindikat dari luar negeri melalui kerjasama dengan instansi terkait dalam
memberantas kejahatan penyalahgunaan Narkotika, dimana pengungkapan kasus Narkotika
bersifat khusus yang memerlukan proaktif Polri dalam mencari dan menemukan pelakunya serta
senantiasa berorientasi kepada tertangkapnya pelaku tindak pidana penerapan peraturan
perundang-undangan di bidang Narkotika.
Salah satu bagian aparat penegak hukum yang juga mempunyai peranan penting terhadap adanya
kasus penyalahgunaan Narkotika ialah Penyidik, dalam hal ini penyidik Polri, dimana penyidik
diharapkan mampu membantu proses penyelesaian terhadap kasus pelanggaran penyalahgunaan
Narkotika. Dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika
yang mengatur sanksi hukumnya, serta hal-hal yang diperbolehkan, dengan dikeluarkannya
Undang-Undang tersebut, maka penyidik diharapkan mampu membantu proses penyelesaian
perkara terhadap seseorang atau lebih yang telah melakukan penyalahgunaan Narkotika dewasa
ini.
Efektifitas berlakunya Undang-Undang ini sangatlah tergantung pada seluruh jajaran penegak
umum, dalam hal ini seluruh instansi yang terkait langsung yakni penyidik Polri serta para
penegak hukum lainnya. Bahwa dalam proses penegakan hukum dalam hal ini penegakan hukum
dalam pemberantasan penyalahgunaan Narkotika untuk membuat terang tindak pidana yang
diduga terjadi proses penyelidikan merupakan hal yang sangat substansi serta memiliki
kepentingan yang sangat mendasar. Hal ini merupakan bagian dari kepolisian khususnya
penyidik polisi karena fungsi penyidiklah yang dapat mengungkapkan penegakan hukum dalam
pemberantasan penyalahgunaan Narkotika. Peran penting penyidik dikepolisian akan
memberikan sarana baik dalam mengungkap hingga menelusuri jalur peredaran Narkotika.
Disamping itu hal yang sangat penting adalah perlu adanya kesadaran hukum dari seluruh
lapisan masyarakat guna menegakkan kewibawaan hukum dan khususnya terhadap Undang-
Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, maka peran penyidik bersama masyarakat
sangatlah penting dalam membantu proses penyelesaian terhadap kasus penyalahgunaan
Narkotika yang semakin marak dewasa ini.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk mengangkat masalah ini dalam bentuk
skripsi yang berjudul : Peranan Penyidik Polri Dalam Penanganan Tindak Pidana
Narkotika Berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika (Studi
Di Polresta Binjai).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan dari uraian latar belakang tersebut di atas, maka penulis ingin mengupas beberapa
permasalahan yang dijadikan objek dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut :
1. Apa faktor penyebab terjadinya tindak pidana narkotika?
2. Bagaimana pengaturan sanksi tindak pidana narkotika?
3. Bagaimana upaya dan hambatan yang ditemui penyidik Polri dalam penanganan tindak
pidana narkotika di Polresta Binjai?

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian yang ingin dicapai dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui dan memahami faktor penyebab terjadinya tindak pidana narkotika.
2. Untuk mengetahui dan memahami pengaturan sanksi tindak pidana narkotika.
3. Untuk mengetahui dan memahami upaya dan hambatan yang ditemui penyidik Polri
dalam penanganan tindak pidana narkotika di Polresta Binjai.

D. Manfaat Penelitian
Diharapkan kegunaan yang dapat diperoleh dari penelitian ini, baik bersifat teoritis maupun
praktis sebagai berikut :
1. Manfaat Teoritis
Diharapkan akan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan keilmuan, khususnya ilmu
hukum acara pidana dan hukum yang terkait dalam penyidikan dalam penanganan tindak pidana
narkotika.
1. Manfaat Praktis
Manfaat praktis penelitian ini ditujukan kepada kalangan praktisi seperti Advokat dan penegak
hukum khususnya petugas penyidik yang ada dikepolisian dan juga masyarakat dalam hal ini
para keluarga korban narkotika, agar dapat lebih mengetahui dan memahami tentang penyidikan
yang dilakukan oleh aparat kepolisian dalam membantu penanganan tindak pidana narkotika.

E. Tinjauan Pustaka
1.
1. 1. Pengertian Penyidik
Menurut Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana
(selanjutnya disingkat dengan KUHAP), penyidik adalah pejabat polisi Negara Republik
Indonesia atau pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-
undang untuk melakukan penyidikan.
Menurut Pasal 1 angka 10 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara
menyatakan bahwa penyidik adalah pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia yang diberi
wewenang oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan.
Menurut Pasal 1 angka 11 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara
menyatakan bahwa penyidik pegawai negeri sipil adalah pejabat pegawai negeri sipil tertentu
yang berdasarkan peraturan perundang-undangan ditunjuk selaku penyidik dan mempunyai
wewenang untuk melakukan penyidikan tindak pidana dalam lingkup undang-undang yang
menjadi dasar hukumnya masing-masing.
Menurut Pasal 1 angka 12 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara
menyatakan bahwa penyidik pembantu adalah pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia
yang diangkat oleh Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia berdasarkan syarat
kepangkatan dan diberi wewenang tertentu dalam melakukan tugas penyidikan yang diatur
dalam undang-undang.
1. 2. Pengertian Polri
Kata polisi itu berasal dari kata Yunani Politea, Kata ini pada mulanya dipergunakan untuk
menyebut orang yang menjadi warga negara dari kota Athene, kemudian pengertian itu
berkembang menjadi kota dan dipakai untuk menyebut semua usaha kota. Oleh karena pada
zaman itu kota-kota merupakan negara-negara yang berdiri sendiri, yang disebut juga Polis,
maka politea atau polis, diartikan sebagai semua usaha dan kegiatan negara, juga termasuk
kegiatan keagamaan.[5]
Menurut Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara
menyatakan bahwa kepolisian adalah segala hal ihwal yang berkaitan dengan fungsi dan lembaga
polisi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Polisi adalah instansi yang berperan dalam penegakan hukum dan norma yang hidup dalam
masyarakat (police as an enforment officer). Pada pelaksanaan demikian, polisi adalah instansi
yang dapat memaksakan berlakunya hukum. Manakala hukum dilanggar, terutama oleh perilaku
menyimpan yang namanya kejahatan, diperlukan peran polisi untuk memulihkan keadaan
(restitutio in intreguman) pemaksa agar sipelanggar hukum menanggung akibat dari
perbuatannya. Untuk mengetahui bagaimana hukum ditegakkan tidaklah harus dilihat dari
institusi hukum seperti kejaksaan atau pengadilan, tetapi dilihat pada perilaku polisi yang
merupakan garda terdepan dari proses penegakkan hukum.Sebagai penegak hukum, polisi adalah
pribadi atau anggota yang menguasai pengetahuan hukum, bersifat jujur, bersih, berani bertindak
dengan penuh tanggungjawab, sehingga hukum dapat ditegakkan.[6]
Menurut Pasal 2 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara menyatakan
bahwa fungsi kepolisian adalah salah satu fungsi pemerintahan negara di bidang pemeliharaan
keamanan dan ketertiban masyarakat, penegak hukum, perlindungan, pengayoman dan
pelayanan kepada masyarakat.
1. 3. Pengertian Tindak Pidana
Tindak pidana adalah perbuatan yang oleh aturan hukum dilarang dan diancam dengan pidana
barang siapa yang melanggar larangan tersebut, selanjutnya menurut wujudnya atau sifatnya
tindak pidana itu adalah perbuatan-perbuatan yang melawan hukum dan juga merugikan
masyarakat dalam arti bertentangan dengan atau menghambat dari terlaksananya tata dalam
pergaulan masyarakat yang dianggap baik dapat disimpulkan bahwa suatu perbuatan akan
menjadi tindak pidana, apabila perbuatan itu melawan hukum, merugikan masyarakat, dilarang
oleh aturan pidana dan pelakunya diancam dengan pidana.[7]
Tindak Pidana menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (selanjutnya disingkat KUHP)
dalam teks asli berbahasa Belanda menggunakan istilah strafbaar feit dan delict. Kedua istilah
tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, sebagaimana dikenal dalam kajian hukum
pidana dan peraturan perundang-undangan dengan istilah yang beragam, seperti perbuatan
pidana, tindak pidana, peristiwa pidana, perbuatan-perbuatan yang dapat dihukum, hal yang
diancam dengan hukuman dan perbuatan-perbuatan yang dapat dikenakan hukuman. Tindak
Pidana yaitu setiap perbuatan yang diancam hukuman sebagai kejahatan atau pelanggaran baik
yang disebut dalam KUHP maupun perundang-undangan lainnya.[8]
Beberapa pendapat para sarjana terhadap pengertian tindak pidana ialah : Menurut Pompe tindak
pidana atau disebut dengan peristiwa pidana sebagaimana terjemahan dari kata strafbaar feit
adalah tindakan yang menurut sesuatu rumusan undang-undang telah dinyatakan sebagai
tindakan yang dapat dihukum.[9]
Menurut Van Hamel tindak pidana adalah kelakuan manusia yang dirumuskan dalam undang-
undang, melawan hukum yang patut dipidana dan dilakukan dengan kesalahan.[10]
Menurut Simons tindak pidana adalah kelakuan yang diancam dengan pidana, yang bersifat
melawan hukum yang berhubungan dengan kesalahan dan dilakukan oleh orang yang mampu
bertanggung jawab.[11]
1. 4. Pengertian Narkotika
Menurut Pasal 1 Angka 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika
menyatakan bahwa : Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan
tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan
kesadara, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan
ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan-golongan sebagaimana terlampir dalam
undang-undang.
Narkotika adalah suatu obat atau zat alami, sintetis maupun sintetis yang dapat menyebabkan
turunnya kesadaran, menghilangkan atau mengurangi hilang rasa atau nyeri dan perubahan
kesadaran yang menimbulkan ketergantungna akan zat tersebut secara terus menerus. Contoh
narkotika yang terkenal adalah seperti ganja, eroin, kokain, morfin, amfetamin, dan lain-lain.
Narkotika adalah suatu obat atau zat alami, sintetis maupun sintetis yang dapat menyebabkan
turunnya kesadaran, menghilangkan atau mengurangi hilang rasa atau nyeri dan perubahan
kesadaran yang menimbulkan ketergantungna akan zat tersebut secara terus menerus. Contoh
narkotika yang terkenal adalah seperti ganja, eroin, kokain, morfin, amfetamin dan lain-lain.[12]
Narkotika ialah suatu obat yang merusak pikiran menghilangkan rasa sakit, menolong untuk
dapat tidur dan dapat menimbulkan kecanduan dalam berbagai tingkat. Narkotika dan
Psikotropika merupakan salah satu obat yang dibutuhkan kesehatan untuk pengobatan suatu
penyakit, tetapi kadang menyebabkan efek samping misalnya kecanduan, kerusakan organ tubuh,
bahkan kematian.[13] Menurut Farmakologi, narkoba termasuk zat atau obat yang bekerja
disusunan saraf.

F. Metode Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif analisis dengan menggunakan metode studi kepustakaan
(Library Research) yaitu mengacu kepada literatur-literatur yang berkaikan data yang
dipergunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang terdiri dari :
1. Bahan hukum primer yaitu bahan hukum yang berasal dari UUD 1945, KUHP, KUHAP,
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia
dan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.
2. Bahan hukum sekunder yaitu bahan hukum yang berasal dari internet.
Serta metode studi lapangan atau (Field Research) yaitu dengan mengumpulkan data-data yan
diperoleh dalam penelitian ini Polresta Binjai dengan cara wawancara dengan Bapak AKP
Achiruddin Hasibuan.

G. Sistematika Penulisan
Untuk lebih mempertegas penguraian isi dari skripsi ini, serta untuk lebih mengarahkan
pembaca, maka berikut ini penulis membuat sistematika penulisan/gambaran isi skripsi ini
sebagai berikut :
Bab I Pendahuluan, menguraikan tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian,
manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian dan sistematika penulisan.
Bab II Faktor Penyebab Terjadinya Tindak Pidana Narkotika, menguraikan tentang jenis
Narkotika yang sering disalahgunakan, faktor penyebab terjadinya tindak pidana narkotika dan
dampak langsung dan tidak langsung penyalahgunaan Narkotika pada kehidupan serta kesehatan
manusia
Bab III Pengaturan Sanksi Tindak Pidana Narkotika, menguraikan tentang fungsi, tugas dan
wewenang Polri, sejarah dan letak geografis kepolisian Resor Binjai dan pengaturan sanksi
tindak pidana narkotika.
Bab IV Upaya dan Hambatan yang ditemui Penyidik Polri Dalam Penanganan Tindak Pidana
Narkotika di Polresta Binjai, menguraikan tentang penanganan perkara terhadap pelaku tindak
pidana Narkotika yang dihadapi penyidik di Polresta Binjai, upaya penyidik polri dalam
penanganan tindak pidana narkotika di Polresta Binjai dan hambatan yang dihadapi penyidik
polri dalam penanganan tindak pidana narkotika di Polresta Binjai.
Bab V Penutup, berisikan kesimpulan dan saran-saran yang dianggap dapat memberikan
kesimpulan dari isi skripsi dan masukan-masukan.



[1] A. Hamzah, dkk, Kejahatan Narkotika dan Psikotropika, Sinar Grafika, Jakarta 1994,
halaman 6.
[2] Sadar, Mahalnya Biaya Rehabilitasi Korban Narkoba, http://www.bnn./detail/deputi-
rehabilitasi/artikel/3017/mahalnya-biaya-rehabilitasi-korban-narkoba, diakses tanggal 23 Maret
2011.
[3] O.C. Kaligis, dkk, Narkoba dan Peradilannya Di Indonesia, Cetakan ke-2, PT. Alumni
Bandung, 2007, halaman 7.
[4] Ibid., halaman 10.
[5] Kambey, Pengertian Polisi, http://policeline-kambey.blogspot.com/2008/07/pengertian-
polisi. html, diakses tanggal 23 Maret 2011.
[6] Mardalli, Profesionalisme Polisi Republik Indonesia, http://mardalli.wordpress.com/2009/
05/23/profesionalisme-polisi-republik-indonesia-di-mata-masyrakat-sebagai-profesi-hukum/,
diakses tanggal 23 Maret 2011.
[7] Mulyanto, dkk, Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Pustaka, Bandung, 2004, halaman
84.
[8] Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana 1, PT. Rajagrafindo Persada, Jakarta, 2008,
halaman 67.
[9] Ibid., halaman 75.
[10] Herman, Tindak Pidana dan Kejahatan www.hukumonline.com/tindakpidana, diakses
tanggal 23 Maret 2011.
[11] C.S.T Kansil, Latihan Ujian Hukum Pidana, Sinar Grafika, Jakarta, 2007, halaman 106.
[12] Organisasi, Arti Definisi Pengertian Narkotika, http://organisasi.org/arti-definisi-
pengertian-narkotika, diakses tanggal 23 Maret 2011.
[13] Anak Ciremai, Pengertian Narkotika, http://www.anakciremai.com/2008/04/created-nina-
eliyana-school-lp2k-satya.html, diakses tanggal 23 Maret 2011.