Anda di halaman 1dari 3

PEMADAMAN LISTRIK : BAGAIMANA SEHARUSNYA

WIRAUSAHAWAN MENANGGAPINYA?
Urfa Qurrota Ainy
Fakultas Psikologi Unpad
190110110070

Pemadaman listrik bergilir yang dilakukan
oleh PT. PLN di sejumlah daerah di Sumatera
Utara belakangan ini menimbulkan sejumlah
kerugian di masyarakat, terutama para
pengusaha. Salah satu yang terkena imbas
langsung pemadaman ini adalah para
pengusaha warung internet (warnet). Sejumlah
pengusaha warnet mengaku mengalami
kerugian yang tidak sedikit. Pasalnya,
pemadaman listrik sering terjadi di saat warnet
menangani banyak pelanggan. Kerugian juga
bertambah akibat rusaknya alat-alat elektronik
disebabkan arus listrik yang tidak stabil.
Seperti yang terjadi pada pengusaha warnet di
Pangkalan Brandan, Medan. Dilansir dari situs
berita online MedanBisnis.com, setidaknya
terdapat lima warnet di daerah Pangkalan
Brandan yang terancam gulung tikar akibat
pemadaman listrik yang terjadi setiap hari
1
.
Sementara itu di Siantar, pengusaha warnet
mengaku bisa mengalami kerugian sampai Rp.
200.000,00 perharinya
2
. Senada dengan hal
tersebut, sejumlah pelaku usaha warnet di

1

http://medanbisnisdaily.com/news/read/2014/0
2/28/81748/usaha_warnet_di_pangkalan_bran
dan_terancam_gulung_tikar/ diakses 22 April
2014
2
http://www.metrosiantar.com/pemadaman-
listrik-rugikan-usaha-warnet/ diakses 22 April
2014

Kota Medan mengaku merugi hingga 20%
akibat pemadaman listrik tersebut
3
.
Para pelaku usaha warnet sangat
menyayangkan pemadaman listrik bergilir oleh
PLN tersebut berlangsung sangat lama. Ada
kalanya, warnet harus menunggu lebih dari
tiga jam untuk beroperasi kembali lantaran
listrik padam.
4
Mereka juga mengeluhkan
pemadaman yang seringkali tidak
disosialisasikan terlebih dahulu sebelumnya.
Adakalanya pemadaman dilakukan dua kali
dalam satu hari, tidak jarang pula pemadaman
dilakukan di malam hari yang notabene
merupakan prime time bagi para pengguna
internet. Hal ini membuat para pelaku usaha
berada dalam situasi yang penuh dengan
ketidakpastian.

Lantas bagaimanakah seharusnya seorang
pelaku usaha menghadapi situasi yang penuh
dengan ketidakpastian seperti itu?


3

http://medanbisnisdaily.com/news/read/2013/0
9/19/51664/pemadaman_listrik_rugikan_ukm_
dan_warnet/#.U1Y9Yah_uy4 diakses 22 April
2014
4

Dalam psikologi kewirausahaan, situasi yang
penuh dengan ketidakpastian, dimana individu
terombang-ambing dalam kondisi yang tidak
menentu akibat hal-hal yang terjadi di luar
kendali dirinya seperti kebijakan, kondisi
alam, politik, dan krisis, disebut dengan istilah
ambiguitas (ambiguity). Bagaimana
seharusnya seorang pelaku
usaha/wirausahawan menghadapi ambiguitas?
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa salah
satu ciri seorang wirausahawan yang
membedakan dirinya dengan pegawai biasa
atau dengan orang lain adalah tingginya
toleransi dirinya terhadap ambiguitas. Konsep
ini dikenal dengan istilah tolerance for
ambiguity. Budner (dalam Yusof, 1962)
mendefinisikan intolerance for ambiguity
sebagai kecenderungan untuk memaknai
situasi ambigu sebagai suatu ancaman. Dari
definisi tersebut, tolerance for ambiguity dapat
didefinisikan sebagai kecenderungan untuk
memaknai situasi ambigu dengan cara yang
lebih netral. Mereka yang memiliki tolerance
for ambiguity yang tinggi adalah mereka yang
menganggap situasi ambigu sebagai suatu
tantangan dan mereka yang berusaha
mengatasi situasi yang tidak menentu dan
tidak terduga tersebut agar dapat
mempertahankan dirinya dengan baik. Lebih
lanjut lagi, wirausahawan tidak hanya beraksi
pada situasi yang tidak pasti; menurut Mitton
(dalam Yosef, 1989), wirausahawan memiliki
keinginan yang besar untuk melakukan sesuatu
yang belum diketahuinya dengan pasti dan
berusaha mengelola ketidakpastian. Para ahli
juga setuju bahwa tolerance for ambiguity
menjadi salah satu karakteristik yang dimiliki
wirausahawan. Dalam penelitian Begley dan
Boyd (dalam Rauch, 1987) pengusaha dinilai
memiliki tingkat toleransi terhadap ambiguitas
yang lebih tinggi daripada pegawai biasa.

Karena kondisi bisnis kental dengan nuansa
persaingan dan pergerakan yang kerap berubah
sewaktu-waktu tanpa bisa diduga sebelumnya,
maka penting bagi seorang wirausahawa untuk
memiliki kemampuan toleransi yang tinggi
terhadap ambiguitas agar bisa bertahan dan
terhindar dari stres dan kecemasan
5
. Semakin
kuat toleransi yang mereka miliki, semakin
kecil kemungkinan mereka mengalami stres
dan cemas dan semakin mudah mereka
menangani situasi negatif (Avsar, dalam
Kalkan, 2007). Bersikap toleran terhadap
ketidakpastian berarti mampu menghadapi
masalah tanpa merasa tertekan secara
psikologis karena ketidaktahuan terhadap
situasi yang sedang dijalani. Wirausahawan
tidak hanya mampu bertahan dalam kondisi
ambigu tapi juga mampu menemukan
kemungkinan-kemungkinan baru yang dapat
mereka pelajari dan dengannya mereka dapat
mengatasi ketidakpastian tersebut.
Berdasarkan teori-teori tersebut, kondisi
pemadaman listrik di daerah Sumatera Utara
dapat digolongkan sebagai suatu ambiguity. Di
mana para pengusaha, dalam hal ini pengusaha
warnet, tidak memiliki pengetahuan yang
cukup mengenai kapan listrik padam. Hal ini
berpotensi menimbulkan kerugian bagi usaha

5
Kalkan, Melek & Kaygusuz, Canani

mereka, jika mereka tidak dapat
mengantisipasi terjadinya kondisi tersebut.
Untuk menghadapi kondisi tersebut,
kemampuan toleransi terhadap ambiguitas
penting dimiliki oleh para pengusaha warnet.
Hal tersebut senada dengan teori yang
mengatakan toleransi terhadap ketidakpastian
sangat menentukan bagaimana wirausahawan
akan berpikir dan bertindak : apakah akan
menganggap kondisi tersebut sebagai ancaman
atau justru kondisi tersebut membuatnya
mencari berbagai kemungkinan baru?
Toleransi ini akan berdampak pada kondisi
psikologis para wirausahawan : apakah stres
dan cemas atau tidak. Toleransi ini juga akan
membuat para pengusaha warnet tidak berpaku
pada ketidakpastian yang terjadi, namun
mencari solusi untuk mencegah kerugian yang
muncul akibat pemadaman listrik tersebut.
KESIMPULAN
Kondisi yang menimpa pengusaha warnet di
Sumatera Utara tergolong situasi ambigu.
Berdasarkan teori, seorang wirausahawan
harus memiliki toleransi terhadap ambiguitas
yang tinggi, sehingga kondisi ambigu seperti
itu tidak menimbulkan masalah yang
berkepanjangan seperti kerugian dan stres,
justru dapat memicu wirausahawan untuk
menemukan kemungkinan-kemungkinan baru
dan pelajaran baru yang dapat membuatnya
mengatasi kondisi serba tidak pasti tersebut
dengan solusi terbaik.

REFERENSI
Jurnal :
Rauch, Andreas & Frese, Michael. 2000.
Psychological approaches to entrepreneurial
success: A general model and an
overview of findings. Published on
International Review of Industrial and
Organizational Psychology (pp. 101-142).
Chichester: Wiley

Misra, Sasi & Kumar, Sendil. 2000.
Resourcefulness: A Proximal
Conceptualisation of Entrepreneurial
Behaviour. Published on SAGE Journal of
Entrepreneurship. _____

Kalkan, Melek & Kaygusuz, Canani.____. The
Psychology of Entrepreneurship. Ondokuz
Mays University Turk

Yusof, Mohar.,dkk. 2007. Relationship
Between Psychological
Characteristics And Entrepreneurial
Inclination: A Case Study Of Students
At University Tun Abdul Razak
(Unitar). Published on Journal of Asia
Entrepreneurship and Sustainability

Situs :

http://medanbisnisdaily.com/news/read/2014/02/
28/81748/usaha_warnet_di_pangkalan_brandan_t
erancam_gulung_tikar/ diakses 22 April 2014

http://www.metrosiantar.com/pemadaman-listrik-
rugikan-usaha-warnet/ diakses 22 April 2014

http://medanbisnisdaily.com/news/read/2013/09/
19/51664/pemadaman_listrik_rugikan_ukm_dan_
warnet/#.U1Y9Yah_uy4 diakses 22 April 2014