Anda di halaman 1dari 5

1

2

Air Asia pada awalnya adalah armada nasional Malaysia, didirikan oleh DRB-Hicom
Bhd pada akhir 1996. Armada itu lahir sejalan dengan rencana ekspansi besar-besaran, tetapi
rencana tersebut tertunda setelah pemilik awal DRB-Hicom, Tan Sri Yahya Ahmad,
meninggal pada kecelakaan helikopter pada bulan Maret 1997. Peristiwa tersebut
menyebabkan terjadi crisis decision di tubuh manajemen Air Asia. Dalam dunia manajemen,
crisis decision didefinisikan sebagai jenis keputusan yang tidak terprogram yang ekstrim
terjadi ketika masa kritis, yaitu sebuah masalah yang tidak diharapkan yang dapat
menimbulkan bencana jika tidak dapat diatasi secara cepat dan tepat. Dalam situasi tersebut,
Air Asia harus menemukan pemilik baru yang bisa memimpin dan mengatasi masalah secara
tepat. Pasalnya, di saat yang bersamaan sedang terjadi krisis ekonomi di kawasan Asia,
khususnya di Malaysia, yang menyebabkan Air Asia mengalami kerugian yang sangat besar.
Dalam waktu yang cepat, muncullah Tony Fernandes untuk membeli perusahaan itu.
Tony Fernandes adalah orang yang terkenal di industri rekaman musik di Malaysia. Saat itu,
dia menjabat sebagai Wakil Presiden Times Warner Music South-east Asia. Tanggal 8
Desember 2001, melalui perusahaan yang dia dan investornya dirikan, Tune Air, Toni
mengambil alih Air Asia dar DRB-Hicom sebesar 1 ringgit Malaysia (Rp. 2.500,-), bersama 2
pesawat Boeing 737-300, jaringan rute kecil dengan berbonuskan hutang mencapai Rp. 100
milyar. Keputusan ini mengundang pesimis banyak pihak, mereka mengatakan bahwa Tony
benar-benar gila. Salah satu alasannya karena saat itu potensi pasar sangat kecil dan saat itu
kariernya di musik sedang sangat menonjol. Namun Tony memandang bahwa keputusannya
adalah paling tepat karena peluang bisnisnya bertumbuh sangat besar.
Bagi Tony, keputusan membeli Air Asia saat itu begitu berisiko. Tony tidak pernah
membayangkan probabilitas apa yang akan terjadi pada tahun-tahun selanjutnya. Kondisi ini
adalah kondisi keputusan yang paling sulit. Keadaan ini memaksa Tony untuk sangat
bergantung pada kreatifitas dalam menyelesaikan masalah. Bagi Tony, yang penting pada
saat itu adalah bagaimana Air Asia bisa bertahan dan memiliki anggaran yang mencukupi.
1

Dalam dunia manajemen, kondisi yang dialami Tony tergolong pada uncertain environment,

1
http://http//www.businesstimes.com.sg/specials/raffles-conversation/high-flying-honcho-20120818 diakses
pada 28 Maret 2013 pukul 19.34 WIB
3

yakni kondisi yang muncul ketika informasi dan fakta yang tersedia tentang alternatif-
alternatif keputusan sangat sedikit dan manajer tidak mampu untuk memprediksi
kemungkinan seperti apa yang akan terjadi. Syukurlah, Tony tergolong orang yang kreatif
dan intuitif dalam mengambil keputusan. Tony mengaku sering mengambil keputusan dengan
mengandalkan intuisi. Dalam kondisi seperti ini (uncertain environment), intuisi sangat
membantu manajer dalam mengambil keputusan.
Walaupun Fernandes tidak memiliki pengalaman menjalankan perusahaan penerbangan,
tetapi ia memiliki tim pemasaran yang handal. Ia dan timnya melihat pasar dan berpendapat
bahwa bila harga tiket dipangkas 50%, maka akan ada potensi pasar yang sangat besar. Tahun
2002, AirAsia memulai bisnis ini dengan dua pesawat dan sekarang memiliki 86 pesawat
yang menerbangkan sekitar 30 juta orang ke seluruh dunia.
2

Di bawah kepemimpinan Tony Fernandes, Air Asia mengalami berbagai
perkembangan. Yang terpenting adalah dibangunnya paradigma baru tentang penerbangan,
mereka menganggap bahwa perjalanan merupakan industri besar, semakin lama orang sangat
membutuhkan jasa transportasi jarak jauh dengan cepat. Mereka kemudian melakukan
hedging atau perlindungan terhadap bahan bakar sehingga harga tiket bisa ditekan rendah.
Hedging merupakan salah satu cara Tony di antara strategi besarnya yang terkenal dengan
istilah minum jeruk dari jeruk. Istilah tersebut bermakna segala sesuatu mesti terlaksana
secara efektif dan efisien.
Implementasi dari paradigma tersebut salah satunya adalah dengan dijualnya kursi-
kursi kosong dengan harga murah. Tidak semua kursi akan diisi penuh.. Daripada kursi
tersebut kosong, Air Asia menjualnya dengan harga sedemikian rendahnya. Ada beberapa
tujuan mengapa Air Asia mengiklankan tempat duduk yang sangat murah:
a. Tempat duduk kosong jika tidak ditawarkan pun akan kosong
b. Mengundang rasa penasaran dari masyarakat yang bahkan tidak pernah berpikir untuk
terbang

2
http://pranataharri.blogspot.com/2012/01/sejarah-lahirnya-air-asia.html#ixzz2OheLRRYf,
diakses pada 27 Maret 2013 pukul 09:26 WIB.

4

c. Menggiring sebagian penumpang itu menjadi pelanggan yang membayar harga
regular di lain waktu jika tempat duduk murah terjual habis
d. Sekalipun ada penumpang yang meragukan profesionalitas Air Asia, Air Asia
berusaha membuat mereka merasakan sendiri pelayanannya
e. Memperkuat posisinya sebagai maskapai biaya rendah
f. Menciptakan pemasaran mulut ke mulut melalui iklan dan dari pengalaman pelanggan
g. Mudah dan cepat diingat masyarakat, sehingga perlahan-lahan menyisihkan para
pesaing dari benak prospek dan pelanggan
Itulah yang dilakukan Tony, dia mampu membuat segala sesuatu menjadi sangat
efektif dan efisien, sehingga cost yang dikeluarkan perusahaan menjadi sangat rendah. Hal
inilah yang pada akhirnya menjadi kunci sukses Air Asia untuk tetap bermain di Low Cost
Carrier (LCC) strategy. Segmen utama Air Asia adalah mereka yang sensitif terhadap harga,
bahkan lapisan masyarakat yang belum pernah menggunakan transportasi udara. Strategi
LCC membuat setiap orang bisa naik pesawat terbang.
Beberapa strategi Air Asia yang dinilai sebagai decision making yang berdampak luar
biasa dan menjadikan Air antara lain :
1. Sangat mengedepankan kekuatan merek
Cara lain yang efektif untuk menciptakan minat masyarakat umum terhadap Air Asia
adalah gagasan cerdas untuk mengikatkan diri dengan Manchester United yang sangat
terkenal, klub sepak bola Inggris papan atas dan salah satu klub terkemuka Eropa.
Keterikatan itu menjadikan maskapai murah dengan mudah masuk dalam cakupan
internasional. Selain MU, Air Asia juga mensponsori Queens Park Ranger FC dan
beberapa pembalap F1 dan MotoGP.
2. Memanfaatkan kekuatan media
Salah satu hal yang menarik dari diri Tony adalah bahwa ia sangat terbuka dengan pers.
Apapun yang terjadi, Tony selalu memperlihatkan diri kepada pers. Ia beranggapan
bahwa media akan memberikan promosi secara gratis dan ini sangat menguntungkan Air
5

Asia, sebab perusahaan ini tidak perlu mengeluarkan jutaan rupiah untuk melakukan
promosi.
3. Tak kenal lelah dalam melakukan lobby (baik pemerintah maupun ke swasta)
Salah satu contoh nyata ketidak kenalan lelahan Tony adalah melobby pemerintah agar
mau mendirikan terminal LCC (Low Cost Carrier). Selain itu bagaimana ia
mengusahakan untuk bisa masuk Singapura. Kisah yang tidak kenal putus asa walaupun
sangat sulit untuk masuk wilayah ini.
4. Melakukan Ekspansi
Dua diantaranya adalah dengan mengakuisisi Thai Asia (Thailand) dan AWWAIR
(Indonesia).
Kesuksesan Air Asia menjadi maskapai penerbangan terbesar di Asia sangat
dipengaruhi oleh tata kelola Air Asia yakni bagaimana dia mampu membuat segala sesuatu
menjadi sangat efektif dan efisien, sehingga cost yang dikeluarkan perusahaan menjadi sangat
rendah. Hal inilah yang pada akhirnya menjadi kunci sukses Air Asia untuk tetap bermain di
strategi Low Cost Carrier.

Sumber :
Schemerhorn, J.R. 2010. Introduction to Management. 10th edition. New
York: John Wiley & Sons. Inc.
Ze, Sen dan Ng, Jayne. 2007. The Air Asia Story: Kisah Maskapai Tersukses di Asia.
Jakarta Selatan : Ufuk Publishing House. (Dari http://dunia-
pustaka.blogspot.com/2012/07/airasia-story-kisah-maskapai-tersukses.html diakses pada
tanggal 28 Maret 2013 pukul 05:08 WIB.)
http://pranataharri.blogspot.com/2012/01/sejarah-lahirnya-air-asia.html#ixzz2OheLRRYf,
diakses pada 27 Maret 2013 pukul 09:26 WIB.
http://http//www.businesstimes.com.sg/specials/raffles-conversation/high-flying-honcho-20120818
diakses pada 28 Maret 2013 pukul 19.34 WIB

Gambar :
http://www.tonyfernandesblog.com/