Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN HOME VISITE

Nama Pemeriksa : Hafidh Hanifuddin (106103003726)


Institut : Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Selatan
Jabatan : Praktikan/KO-ASS di bagian JIWA RS MARZOEKI MAHDI
Waktu Pelaksanaan : Jumat, 2 Maret 2010

IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. M. Ramlan
Jenis kelamin : Laki-laki
Usia : 29 tahun
Agama : Islam
Suku : Sunda
Pendidikan terakhir : STM kelas 2
Pekerjaan : Tukang parker dan calo angkot
Status pernikahan : Belum menikah
Alamat : Jl. A. Yani, gang Masjid, RT 001/04. Kel . Tanah Sareal, Kec. Tanah
Sareal, Kab. Bogor


A. Keluhan utama
Pasien datang diantar oleh keluarga karena marah-marah dan mengganggu lingkungan
sejak 1 bulan sebelum masuk Rumah Sakit.

B. Gejala tambahan
Pasien memiliki riwayat kejang berulang dalam sepuluh tahun terakhir dan riwayat
trauma kepala.

C. Diagnosis
Gangguan mental organik dan Skizofrenia Paranoid


D. Riwayat Kehidupan
Pasien tinggal di perumahan, yang batas dengan rumah tetangga hanya
dipisahkan oleh tembok. Ketika kunjungan, rumah pasien dalam keadaan kurang bersih
tapi mesih layak huni. Sebelum dirawat di RSMM, pasien tinggal bersama dengan ibu
dan ayahnya.









Pasien
Di rumah dan lingkungannya pasien dikenal sebagai orang yang baik, bahkan
tergolong orang yang tidak banyak tingkah. Di rumah, pasien tidak pernah berbuat
masalah dengan ibu dan kakaknya, pasien juga sangat memperhatikan dan mencintai
keponakan-keponakannya. Namun, beberapa bulan terakhir sebelum timbul gejala, pasien
bermasalah dengan kakaknya. Menurut pasien, kakaknyaselalu menyalahkan dia jika ada
kehilangan barang atau uang, namun menurut keluarga, pasien terlalu cepat tersinggung
jika membicarakan masalah uang atau barang yang bukab miliknya. Sebelum sakit,
pasien sehari-harinya bekerja sebagai tukang parker dan calo angkot di depan sebuah
Mall yang tidak jauh dari rumahnya.
Pasien sering menderita kejang dalam sepuluh tahun terakhir ini, dan keluarga
pasien selalu menemaninya berobat tiap bulan. Namun beberapa bulan terkahir sebelum
timbul gejala, pasien tidak rutin lagi minum obat.
Sebulan sebelum dibawa ke rumah sakit, pasien mulai meresahkan warga karean
ia pernah mencekik seorang ibu haji yang sedang sholat shubuh, dan tak lam kemudian ia
juga mencekik ibunya sendiri. Mulai saat itu, lingkunagn mulai menjauhi pasien dan
mengatakan pasien gila dan perlu dibawa ke rumah sakit jiwa.
Puncaknya ketika ia dipukuli oleh warga di sekitar rumah kakaknya,dan menurut
kakaknya pasien hampir kehilangan nyawanya jika kakaknya tidak memisahkan
keributan tersebut.














E. Edukasi Terhadap Keluarga
a. Memberikan informasi dan edukasi tentang penyakit pasien, faktor risiko gejala,
dampak, faktor penyebab, cara pengobatan, prognosis, dan risiko kekambuhan.
b. Menjelaskan bahwa pengobatan akan berlangsung lama, adanya efek samping
obat, dan pengaturan dosis obat hanya boleh diatur oleh dokter. Oleh karena itu,
pasien harus melakukan kontrol dan tidak boleh putus obat. Dalam hal ini, kakak
sulung pasien sudah berjanji akan membawa pasien untuk kontrol dan mengawasi
pasien untuk minum obat. Selain itu, setiap ada keluhan selama pemakaian obat
(badan menjadi kaku, ada gerakan-gerakan yang tidak disadari, mengantuk hingga
tidak bisa beraktivitas di pagi hari), sebaiknya keluarga membawa pasien dan
mengatakan keluhan tersebut ke dokter ahli jiwa, sehingga dosisnya dapat diatur
kembali untuk mengurangi keluhan/efek samping tersebut.
c. Mengajak anggota keluarga untuk ikut berpartisipasi dalam penatalaksanaan
pasien. Memberitahukan bahwa motivasi keluarga sangat penting dalam
penatalaksanaan pasien, terutama motivasi untuk terus meminum obat sesuai
anjuran dokter.
d. Meminta keluarga untuk memberi pengertian kepada lingkungan mengenai
penyakit pasien, sehingga lingkungan bisa mendukung kesembuhan pasien dan
memaklumi kejadian yang pernah terjadi.