Anda di halaman 1dari 18

1

EFUSI PLEURA

BAB 1
PENDAHULUAN

Efusi pleura (adanya carian di ruang pleura) yang muncul lebih sedikit pada anak-
anak dibandingkan orang dewasa dapat disebabkan oleh beragam infeksi penyakit bukan
infeksi. Kebanyakan informasi yang ada tentang efusi pleura berasal dari penelitian orang
dewasa. Penyebab efusi pleura pada anak-anak berbeda secara nyata di bandingkan orang
dewasa tersebut. Pada orang dewasa, kebanyakan penyebab efusi pleura adalah gagal jantung
kongestif (transudat), dan bakteri pneumonia serta keganasan adalah penyebab utama dan
sering untuk eksudat .
1,2

Efusi pleura timbul sebagai akibat dari suatu penyakit, sebab itu hendaknya dicari
penyebabnya. Dengan sarana yang ada, sangat sulit untuk menegakan diagnosis efusi pleura
tuberkolosis sehingga sering timbul anggapan bahwa penderita tuberkolosis paru yang
disertai dengan efusi pleura, efusi pleuranya dianggap efusi pleura tuberkolosis, sebaiknya
penderita bukan tuberkolosis paru yang menderita efusi pleura, efusi pleuranya dianggap
bukan disebabkan tuberkolosis. Hal ini tidak selalu benar, karena tuberkolosis paru dapat
disertai efusi pleura karena tuberkolosis dan sebaliknya non tuberkolosis paru dapat disertai
efusi pleura karena tuberkolosis. Gambaran klinik dan radiologik antara transudat dan
eksudat bukan antara efusi pleura tuberkolosis dan non tuberkolosis hampir tidak dapat di
bedakan, sebab itu pemeriksaan laboratorium menjadi sangat penting.
1,2



2
EFUSI PLEURA

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Anatomi dan Fisiologi Pleura
Pleura terletak dibagian terluar dari paru-paru dan mengelilingi paru. Pleura
disusun oleh jaringan ikat fibrosa yang didalamnya terdapat banyak kapiler limfa dan
kapiler darah serta serat saraf kecil. Pleura disusun juga oleh sel-sel (terutama
fibroblast dan makrofag). Pleura paru ini juga dilapisi oleh selapis mesotel. Pleura
merupakan membrane tipis, halus , dan licin yang membungkus dinding anterior
toraks dan permukaan superior diafragma. Lapisan tipis ini mengandung kolagen dan
jaringan elastic
2,3,4

Ada 2 macam pleura yaitu pleura parietalis dan pleura viselaris. Pleura
parietalis melapisi toraks atau rongga dada sedangkan pleura viseralis melapisi paru-
paru. Kedua pleura ini bersatu pada hilus paru. Dalam beberapa hal terdapat
perbedaan anatar kedua pleura ini yaitu pleura viselaris bagian permukaan luarnya
terdiri dari selapis sel mesotelial yang tipis (tebalnya tidak elbih dari 30 m). Diantara
celah-celah sel ini terdapat beberapa sel limfosit. Di bawah sel-sel mesotalia ini
terdapat endopleura yang berisi fibrosit dan histiosit. Seterusnya dibawah ini
(dinamakan lapisan tengah)terdapat jaringan kolagen dan serat-serat elastik. Pada
lapisan terbawah terdapat jaringan intertitial subpleura yang sangat banyak
mengandung pembuluh darahkapiler dari A. Pulmonalis dan A. Brankialis serta
pembuluh getah bening. Keseluruhan jaringan pleura viselaris ini menempel dengan
kuat ada jaringan parenkim paru. Pleura parietalis mempunyai lapisan jaringan lebih
tebal dari sel-selmeostelial juga dan jaringan ikat(jaringan kolagen dan serat-serat
elastic). Dalam jaringan ikat, terdapat pembuluh kapiler dari . interkostalis dan A.
Mammaria interna, pembuluh getah beningdan banyak dan banyak reseptor saraf-
saraf sensorik yang peka terhadpa rasa sakit dan perbedaan temperature. System
pernafasa ini berasal dari nervus intercostalis dinding dada. Keseluruhan jaringan
pleura parietalis ini menempel dengan mudah, tapi juga mudah dilepaskan dari
dinding dada diatasnya. Diantara pleura terdapat ruangan yang disebut spasium
pleura, yang mengandung sejumlah kecil cairan yang Melicinkan permukan dan
kemungkinan keduanya bergeser secara bebas pada saat vertilasi. Cairan tersebut
dinamakan cairan pleura. Cairan ini terletak antara paru dan thoraks. Tidak ada
ruangan yang sesungguhnya memisahkan pleura parietalis dengan pleura viselaris
3
EFUSI PLEURA

suatu ruangan potensial. Tekanan dalam rongga pleura lebih rendah daripada tekanan
atsmosfer seheingga mencegah kolaps paru. Jumlah normal cairan peluara 10-20 cc.
3,4

Cairan pleura berfungsi untuk memudahkan kedua permukaan pleura parietalis
dan pleura viselaris beregerak selama pernapasan dan untuk mecegah pemisahan
toraks dan paru yang dapat dianalogikan seperti dua buah kaca objek tersebut dapat
bergeseran satu dengan yang lain tetapi keduanya sulit dipisahkan . cairan pleura
dalam keadaan normalakan bergerak dari kapiler di dalam pleura parietalis ke ruang
pleura kemudian diserap kembali melalui pleura viseralis. Hal ini disebabkan karena
perbedaan tekanan udara hidrostatik darah yang cenderung mendorong cairan keluar
dan tekanan onkotik dari proteinplasme yang cenderung menahan cairan agar tetap di
dalam. Selisish perbedaan absorpsi cairan pleura melalui peluran viseralis lebih besar
daripada selsish perbedaan pembentukan cairan oleh pleura parietalis dan permukaan
pleura viselaris lebih besar dari pada pleura parietalis sehingga dalam keadaan normal
hanya ada beberapa militer cairan dala rongga pleura.
3


Gambar 1. gambaran anatomi Pleura


2.2. Defenisi
Efusi pleura suatu keadaan dimana terdapat penumpukan cairan dari kavum
pleura diantara pleura parietalis dan pleura viselaris dapat berupa cairan transudat atau
4
EFUSI PLEURA

cairan eksudat. Pada keadaan normal rongga pleura hanya mengandung cairan
sebanyak 10-20 ml, cairan pleura komposisinya sama dengan cairan plasma, kecuali
pada cairan pleura mempunyai kadar protein lebih rendah yaitu <1,5 gr/dl.
4,5,6

2.3. Etiologi
Efusi pleura merupakan penyakit yang jarang terjadi, tetapi biasanya
merupakan penyakit sekunder terhadap penyakit lain.Menurut Brunner & Suddart
2001, terjadinya efusi pleura disebabkna oleh 2 faktor :
1,2,4

1. Infeksi
Penyakit-penyakit infeksi yang menyebabkan efusi pleura antara lain:
tuberculosis, pneumonitis, abses paru, abses subfrenik.
Macam-macam infeksi lain yang dapat menyebabkan pleura antara lain:
a. Pleuritis karena virus dan mikoplasma
Efusi pleura karena virus atau mikroplasma agak jarang. Bila terjadi
jumlahnya pun tidak banyakdan kejadiannya hanya selintas saja. Jenis-jenis
virusnya adalah : Echo virus, Coxsackie virus, Chlamidia, Rickettsia, dan
mikoplasma.cairan efusi biasanya eksudat dan berisi leukosit antara 100-
6000 per cc
b. Pleuritis karena bakteri Piogenik
Permukaan pleura dapat di tempeli oleh bakteri yang berasal dari
jaringan parenkim paru dan menjaalr secara hematogen, dan jarang yang
melalui penetrasi diafragma, dinding dada atau esophagus.
Aerob : Streptococcus pneumonia, Streptococcus milleri, Saphylococcus
aerus, Hemofilus spp, Klebisella, Pseudomonas spp.
Anaerob: Bacteroides spp, peptostreptococcus, Fusobacterium.
c. Pleuritis Tuberkulosa
Permulaan penyakit ini terlihat sebagi efusi yang bersifat eksudat.
Penyakit kebanyakan terjadi sebagai komplikasi tuberkolosisparu melalui
focus subpleura yang robek atau melalui aliran getah bening.
Cairan efusi yang biasannya serous, kadang-kadang juga bisa
hemoragis. Jumlah leukosit antar 5000-2000 per cc. mula-mula yang
dominan adalah sel polimorfonuklear, tapi kemudian sel limfosit. Cairan
efusi sangat sedikit mengandung kuman tubercolosis
d. Pleura karena fungi
5
EFUSI PLEURA

Pleuritis fungi amat jarang. Biasannya terjadi karena penjalran infeksi
fungi dari jaringan paru. Jenis fungi karena pleuritis adalah aktinomikosis,
kosidioidomikisis, aspergillus, kriptokokus, histoplasmosis, blastomikosis,
dll. Pathogenesis timbulnya efusi pleura adalah karena reaksi
hipersensitivitas lambat terhadap organisme fungi.
e. Pleuritis karena parasit
Parasit yang dapat menginfeksi ke dalam rongga pleura hanyalah
amoeba. Bentuk tropozoit datang dari parenkim hati menembusdiafragma
terus ke parenkim paru dan rongga pleura. Efusi pleura karena parasit ini
terjadi karena perdagagan yang ditimbulkannya. Disamping ini dapat terjadi
empeima karena ameba cairannya berwarna khas merah coklat. Disini
parasit masuk ke rongga pleura secara migrasi dari parenkim hati. Dapat
juga karena adanya robekan dinidng abses amuba pada hati ke arah rongga
pleura.
2. Non Infeksi
Sedang penyakit non infeksi yang dapat menyebabkan efusi pleura antara
lain: Ca paru, Ca pleura (primer dan sekunder), Ca mediastinum, tumor
ovarium, bendungan jantung (gagal jantung), perikarditis konstruktifa, gagal
hati, gagal ginjal.
Adapun penyakit non infeksi lain yang dapat menyebabkan efusi pleura natara
lain :
a. Efusi pleura karena gangguan sirkulasi
1. Gangguan kardiovaskuler
Payah jantung (decompensatio cordis) adalah penyebab terbanyak
timbulnya difusi pleura. Penyebab lainnya adalah perikarditis
konstriktiva dan sindrom vena kava superior. Patogenesisnya adalah
akibat terjadinyapeningkatan vena sistemik dan tekana kapiler pulmonal
akan menurunkan kapasitas reabsorbsi pembuluh darah subpleura dan
aliran getah bening juga akan menurun (terhalang) sehingga filtrasi
cairan ke rongga pleura dan paru-paru meningkat, sehingga cairan efusi
mudah terbentuk.
2. Emboli Pulmonal
Efusi pleura dapat terjadi pada sisi paru yang terkena emboli
pulmonal. Keadaan ini dapat disertai infark paru ataupun tanpa infark.
6
EFUSI PLEURA

Emboli menyebabkan turunya aliran darah arteri plmonalis, sehingga
terjadi iskemiamaupun kerusakan parenkim paru dan memberikan
peradangan dengan efusi yang bedarah (berwarna merah). Disamping itu
permebilitas antara satu atau kedua bagianpleura akan meningkat,
sehingga cairan efusi mudah terbentuk.
Cairan efusi biasanya bersifat eksudat, junlahnya tidak banyak, dan
biasannya sembuh secara spontan, asal tidak terjadi pulmonal lainnya.
Pada efusi pleura dengan infark paru jumlah cairan efusinya lebih
banyak dan waktu penyembuhan juga lebih lama.
3. Hipoablbumineamia
Efusi pleura juga terdapat pada keadaan hipoalbumenia seperti
sindrom nefrotik, malabsorbsi, atau keadaan lain dengan asites serta
anasarka. Efusi terjadi karena rendahnya tekanan osmotic protein cairan
pleuraa dibandingkan dengan tekaan osmotic darah. Efusi yang terjadi
kebanyakan bilateral dan cairan bersifat transudat.
b. Efusi pleura karena neoplasma
Neoplasma primer atau sekunder (metastasis) dapat meyerang pleura
dan umumnya menyebabkanefusi pleura. Ke;uhan yang paling banyak di
temukan adalah sesak nafas dan nyeri dada. Gejala lain adalah cairan yang
selalu berakumulasi dengan cepat walaupun dilakukan torakosentesis
berkali-kali.
Terdapat beberapa teori tentang timbulnya efusi pleura pada neoplasma
yakni:
- Menumpuknya sel-sel tumor akan meningkatnya perneabilitas pleura
terhadap air dan protein
- Adanya masa tumor mengakibatkan tersumbatnyaaliran pembuluh darah
vena dan getah bening, sehingga rongga pleura gagal memindahkan
cairan dan protein.
- Adanya tumor membuat infeksi lebih mudah terjadi dan selanjutnya
timbul hipoproteinemia.
c. Efusi pleura karena sebab lain
1,4

1. Efusi pleura dapat terjadi karena trauma yaitu trauma tumpul, laserasi,
luka tusuk pada dada, rupture esophagus, karena muntah hebat atau
karena pemakaian alat waktu tindakan esofagoskopi.
7
EFUSI PLEURA

2. Uremia
Salah satu penyakit uremia lanjut adalah poliserosistisyang terdiri
dari efusi pleura, efusi perikard, ddan efusi peritoneal (asites).
Mekanisme penumpukan cairan ini belum di ketahui betul, tetapi
deketahui dengan timbulnya eksudat terdapat peningkatan permeabilitas
jaringan pleura, perikard atau peritoneum. Sebagian besar efusi pleura
karenauremia tidak memberikan gejala yang sesak seperti sesak nafas,
sakit dada, atau batuk.
3. Miksedema
Efusi pleura dan efusi perikard dapat terjadi sebagai bagian
miksedema. Efusi dapat terjadi tersendiri maupun secara bersama-sama.
Cairan bersifat eksudatdan mengandung protein dengan konentrasi tinggi
4. Limfedema
Limfedema secara kronik dapat terjadi pada tungkai, mungka,
tangandan efusi pleura yang berulang pada satu atau kedua paru. Pada
beberapa pasien terdapat juga kuku jari yang berwarna kekuning-
kuningan
5. Reaksi hipersensitif terhadap obat
Pengobatan dengan nitrofurantoin, metisergid, praktolol kadang-
kadang memberikan reaksi atau perubahan terhadap paru-paru dan
pleura berupa radang dan kemudian juga akan menimbulkan efusi
pleura.
6. Efusi pleura idiopatik
Pada beberapa efusi pleura, walaupun telah dilakukan prosedur
diagnostic secara berulang-ulang (pemeriksaan radilogis, analisis cairan,
biopsy pleura), kadang-kadang masih belum bisa didapatkan diagnostic
yang pasti. Keadaan ini dapat digolongkandalam efusi pleura idopatik.
d. Efusi pleura karena Intra-abdominal
Efusi pleura dapat terjadi secara steril karena reaksi infeksi dan
peradangan yang terdapat di bawah diafragma, seperti pankreatitis
pseudokista pancreas atau eksaserbasi akut pankreatiis kronik. Abses ginjal,
hati, abses limpa, dll. Biasanya efusi terjadipada pleura kiri tapi dapat juga
bilateral. Mekanismenya adalah karena berpindah cairan yang kaya dengan
enzim pancreas ke rongga pleura melaui saluran getah bening. Efusi disini
8
EFUSI PLEURA

bersifat eksudat serosa, tetapi kadang-kadang juga dapat hemoragik . efusi
pleura sering terjadi setelah 48-72 jam pasca operasi abdomen seperti
spelektomi, operasi terhadap obstruksi intestinal atau pasca operasi
atelektasis.
1,4

1. Sirosis hati
Efusi pleura dapat terjadi pada pasien sirosis hati. Kebanyakan
efusi pleura timbul bersamaan dengan ascites. Secara khas terdapat
kesamaan antara cairan asites dengan cairan pleura, karena terdapat
hubungan fungsional antara rongga pleura dan rongga badomen
melalui saluran getah bening atau celah jaringan otot diafgrama.
2. Sindrom meig
Tahun 1937 Meig dan Cass menemukan penyakit tumor pada
ovarium (jinak atau ganas)disertai asites dan efusi pleura. Patogenesis
terjadinya efusi pleura masih belum diketahui betul. Bila tumor
ovarium tersebut dioperasi, efusi pleura dan asitesnya pun segera
hilang. Adanya massa dirongga pelvis disertai asites dan eksudat cairan
pleura sering dikira sebagai neoplasma dan metastasisnya.
3. Dialysis Peritoneal
Efusi pleura dapat terjadi selama dan sesudah dilakukannya
dialysis peritoneal. Efusi terjadi pada salah satu paru maupun bilateral.
Perpindahan cairan dialisat dari rongga peritoneal ke rongga pleura
terjadi melalui celah diafgrama. Hal ini terbukti dengan samanya
komposisi antara cairan pleura dengan cairan dialisat.
2.4. Patofisiologi
Dalam kedaan normal hanya terdapat 10 20 ml cairan dalam rongga pleura
berfungsi untuk melicinkankedua pleura viselais dan pleura parietalis yang saling
bergerdak akrena pernapasan.dalam keadaan normal juga selalu terjadi fitrasi cairan
ke dalam rongga pleura melalui kapiler pleura parietalis dan di asorbsi oleh kaliler
dan saluran viselaris dengan kecepatan pembentukannya. Gangguan yang
menyangkut proses penyerapan dan bertambahnya kecepatan proses pembentukan
cairan pleura akan menimbulkan penimbunan cairan secara patologik di dalam rongga
pleura. Mekanisme yang berhubugan dengan terjadinya efusi pleura yaitu :
1,4,6

1. Kenaikan tekanan hidrostatik dan penurunan tekan onkotik pada sirkulasi
kapiler
9
EFUSI PLEURA

2. Penurunan tekanan kavum pleura
3. Kenaikan pemeabilitas kapiler dan penurunan aliran limfe dari rongga pleura.

Gambar 2. Patofisiologi Efusi pleura

Gambar 3. Patofisiologi Efusi Pleura
Proses penumpukan cairan dalam rongga pleura dapat disebabkan oleh
peradangan. Bila proses radang oleh kuman piogenik akan terbentuk pus/nanah,
sehingga epiema/piotraks. Bila proses ini mengenai pembuluh darah sekitar pleura
dapat menyebabkan hemothoraks. Proses terjadi pneumothoraks karena pecahnya
aleveoli dekat parietalis sehingga udara akan masuk dalam rongga pleura. Proses ini
sering disebabkan oleh trauma dada aveoli pada darah tersebut yang kurang elastic lagi
seperti pada pasien emfisema.
1,2

Efusi cairan dapat berbentuk transudat, terjadinya penyakit lain bukan primer
baru seperti gagal jantung kongesif, sirosis hati, sindrom nefotik, dialysis, peritoneum.
Hipoalbuminemia oelh berbagai keadaan. Perikarditis konstriktiva, keganasan,
atelektasis, paru dan pneumothorak.
1,2,4

10
EFUSI PLEURA

Efusi eksudat terjadi bila proses peradangan yang menyebabkan permeabilitas
kapiler pembuluh darah pleura meningkat sehingga sel sel mesotelial berubah menjadi
bulat atau kuboidal dan terjadi pengeluarancairan ke dalam rongga pleura. Penyebab
pleurirtis eksudativa tuberkulosa. Penting untuk menggolongkan efusi pleura sebagai
transudatif atau eksudatif.
2

2.5. Manifestasi Klinis
Gejala-gejala timbul jika cairan bersifat inflamatoris atau jika mekanika paru
terganggu. Gejala yang paling sering timbul adalah sesak , berupa rasa penuh dalam
dada atau dispneu. Nyeri bisa timbul akibat efusi yang banyak, berupa nyeri dada
pleuritik atau nyeriu tumpul, berupa nyeri dada pleuritik atau nyeri tumpul. Adanya
gejala-gejala penyakit penyebab seperti demam, mengigi dan nyeri dada pleuritis
(pneumonia), panas tinggi ((kokus), subfebril (tuberkolosis), banyak keringat, batuk,
banyak riak.
Deviasi trachea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika terjadi
penumpukan pleural yang signifika, yang sakit dapat terjadi jika penumpukan cairan
pleural yang signifikan. Bila terdapat efusi pleura kecilsampai sedang, dispnea
mungkin saja tidak ditemukan.
1,2,4

2.6. Diagnosis
Diagnosis kadang-kadang dapat ditegakan secara anamnesis dan pemeriksaan
fisik saja. Tapi kadang-kadang sulit juga, sehingga perlu pemeriksaan tambahan foto
toraks. Untuk diagnosis yang pasti perlu dilakukan tindakan torakosentesis dan pada
beberapa kasus dilakukan juga biopsi pleura.
Anamnesa
Dari anamnesa didapatkan :
4,5,6

- Sesak nafas bila lokasi efusi luas. Sesak nafas terjadi pada saat permulaan
pleuritis disevbabkan karena nyeri dadanya dan apabila jumlah cairan efusi
meningkat, terutama kalau cairannya penuh.
- Rasa berat pada dada
- Batuk pada umumnya non produktif dan ringan, terutama apabila disertai
dengan proses tuberculosis di parunya, batuk berdarah pada karsinoma
bronchus atau metastasis
- Demam subfebris pada TBC, demam mengigil dan gerakan tertinggal.
Pemeriksaan fisik
11
EFUSI PLEURA

Pada pemeriksaan fisik pasien dengan efusi pleura akan ditemukan :
1,2,4

1. Inspeksi : pencembungan hemithorax yang sakit, ICS melebar, pergerakan
pernapasan menurun pada sisi sakit, medastinum terdorong ke arah kontralateral.
2. Palpasi : sesuai dengan inspeksi, fremitus raba menurun.
3. Perkusi : perkusi yang pekak, garis Elolis damoisseaux batasnya merupakan garis
lengkung dari medial bawah ke lateral atas di sebut garis Ellis-Damoiseau.
4. Auslultasi : suara nafas yang menurun bhakan menghilang.
(5)\

Pemeriksaan Penunjang
A. Foto toraks PA
Kelainan pada rontgen PA baru akan terlihat jika akumulasi cairan pleura telah
mencapai 300 ml. pada mulanya, cairan berkumpul pada dasar hemitoraks di
antara permukaan inferior paru dan diafragma terutama disebelah posterior, yaitu
sinus pleura yang dalam. Jika cairan pleura terus bertambah banyak, cairan akan
menuju sinus konstofrenikus posterior dan ke lateral, dan akhirnya ke anterior.
Jika cairan masih terus bertambah, cairan akan menuju ke atas, yaitu ke arah paru
cekung, dan menguncup ke atas. Diafragma dan sinus konstrofenikus akan tidak
terlihat juka cairan mencapai 1000ml. jika pada foto PA efusi pleuras tidak jelas,
dapat dilakukanfoto lateral dekubitus.
2

B. Ultrasound
Pemeriksaan dengan ultrasonografi pada pleura dapat menetukan adanya
cairan dalam rongga pleura. Keuntungan ultrasound dapat membedakan tebalnya
pleura parietal dan pleura nodul serta bentuk vocal dari pleura. Pemeriksaan ini
sangat membantu sebagai penetuan waktu melakukansaspirasi cairan tersebut,
terutama pada efusi yang terlokalisasi. Demikian juga dengan pemeriksaan CT
scan dada. Adanya perbedaan densitas cairan dengan jaringan sekitarnya, sangat
memudahkan dalam menetukan adanya efusi pleura. Hanya saja pemeriksaanini
tidak banyak dilakukan karena biayanya masih mahal.
4

12
EFUSI PLEURA


Gambar 4. Gambaran radiologis Efusi Pleura
C. Torakosentesis
Aspirasi cairan pleura (torakosintesis) berguna sebagai sarana untuk
diagnostik maupun terapiutik. Pelaksanaanya sebaiknya dilakukan pada penderita
dengan posisi duduk. Aspirasi dilakukan pada bagian bawah paru di sela iga IX
garis aksilaris posterior dengan memakai jarum Abbocath nomor 14 atau 16.
Pengeluaran cairan pleura sebaiknya tidak melibihi 1000-1500 cc pada setiap kali
aspirasi. Untuk diagnostic cairan pleura dilakukan pemeriksaan :
2,4,6

1. Warna cairan
Biasannya cairan pleura berwarna agak kekuning-kuningan (serous-xantho-
chrome) . bila agak kemerah-merahan ini dapat terjadi pada trauma, infark
paru, kegansan, adanya kebocoran aneuirsma aorta. Bila kuning kehijauan dan
agak perulen, ini menunjukan adanya empiema. Bila merah tengguli, ini
menunjukan abses karena amoeba.
2. Biokimia
Secara biokimia efusi pleura terbagi atas transudat dan eksudat yang
perbedaanya dapat dilihat pada table berikut ini :
13
EFUSI PLEURA


Tabel 1. Perbedaan transudat dan eksudat
Di samping pemeriksaan tersebut di atas, secara biokimia di periksakan juga
pada cairan pleura:
A. Kadar pH dan glukosa. biasannya merendah pada penyakit-penyakit
infeksi, arthritis rheumatoid dan neoplasma
B. Kadar amylase. Biasnya meningkat pada pancreatitis dan metastasis
adenokarsinoma
D. Sitologi
pemeriksaan sitologi terhadap cairan pleura amat penting untuk diagnostic
penyakit pleura, terutama bila di temukan patologis atau dominasi sel-sel
tertentu.
2,4,5

a. Sel neutrofil: menunjukan adanya infeksi akut
b. Sel limfosit: menunjukan adanya infeksi kronik seperti pleutritis
tuberkolosa atau limfoma malignum.
c. Sel mesoterl: bila jumlahnya meningkat adanya infark paru. Biasanya juga
di temukan banyak sel eritrosit.
d. Sel mesotel maligna: pada mesotelioma
e. Sel-sel besar dengan banyak inti : pada arthritis rheumatoid.
f. Sel L.E: pada lupus eritamatosus sistemik.
E. Bakteriologi
14
EFUSI PLEURA

Biasanya cairan pleura steril, tapi kadang-kadang dapat mengandung
mikroorganisme, apalagi bila cairanya purulen. Efusi yang purulan dapat
mengandung kuma-kuman yang aerob ataupun anaerob. Jenis kuman yang
sering di temukan dalam cairan pleura adalah pneumokokus, e coli, klebsiella,
Pseudomonas, Enterobacter.
1,2,5

F. Biopsi pleura
Pemeriksaan histology satu atau beberapa contoh jaringan pleura dapat
menunjukan50-57 % diagnosis kasus-kasus pleuritis tuberkolosa dan tumor
pleura. Komplikasi adalah pneumotoraks, hemotoraks, penyebab infeksi atay
tumor pada dinding dada.
2.7. Penatalaksanaan
Efusi yang terinfeksi perlu segera di keluarkan dengan memakai pipa intubasi
melalui sela iga. Bila cairan pus kental hingga sulit keluar atau bila empiemanya
multilokular., perlu tindakan operatif atau sebelumnya dapat dibantu dengan irigasi
cairan garam fisiologis atau larutan antiseptic (betadine). Pengobatan sistemik
hendaknyasegera di berikan dengan diiringi pengeluaran cairan yang adekuat.
Untuk mencegah terjadinya lagi efusi pleura setelah di aspirasi (pada efusi
pleura maligna), dapat dilakukan pleurodesis, yaitu melengketnya pleura viselaris
dan pleura parietalis.zat-zat yang di pakai adalah tetrasiklin (terbanyak di pakai),
bleomisin, korinebakterium parvum, Tio-tepa, dan 5 Fluorourasil.
Pengobatan pada penyakit tuberkolosis (pleuritis tuberkolosis) dengan
menggunakan OAT dapat menyebabkan cairan efusi diserap kembali, tapi untuk
menghilangkan eksudat ini dengan cepat dapat dilakukan torakosintesis. Umumnya
cairan diresolusi dengan sempurna, tapi kadang-kadang dapat diberikan kostikosteroid
secara sistemik (Prednison 1mg /kg BB selama 2 minggu kemudian dosis di turunkan
secara perlahan).
1,2,4,5

1. Pengobatan kausal
- Pleuritis TB diberi pengobatan anti TB. Dengan pengobatan ini cairan efusi
dapat diserap kembali untuk menghilangkan dengan cepat dilakukan
thoraxosentesis.
- Pleuritis karena bakteri biogenic diberi kemoterapi sebelum kultur dan
sensitivitas bakteri didapat, ampisil 4x1 gram dan metronidazol 3x500 mg.
terapi lain yang lebih penting adalah mengeluarkan cairan efusi yang
terinfeksi keluar dari rongga pleura dengan efektif.
15
EFUSI PLEURA

2. Thorakosentesis, indikasinya :
- Menghilangkan sesak yang di timbulkan cairan
- Bila terapi spesifik pada penyakit primer tidak efektif atau gagal
- Bila terjadi reakumulasi cairan
- Kerugianya : hilangnya protein, infeksi, pneumothorax

Gambar 5. Torakosintesis
3. Water Sealed Drainage
Drainase ( Water Seal Drainase) jika efusi menimbulkan gejala subyektif seperti
nyeri, dispneu, dll. Cairan efusi sebanyak 1 1,2 liter perlu dikeluarkan segera
untuk mencegah meningkatnya edem paru, jika jumlah cairan efusi lebih banyak
maka pengeluarkan cairan berikutnya baru dapat dilakukan 1 jam kemudian.
16
EFUSI PLEURA


Gambar 6. WSD
4. Pleurodesis
Tindakan melengketkan pleura viscelaris dengan pleura parietalis dengan
menggunakan zat kimia (tetrasiklin, bleomisin, thiotepa, corynebacterium,
parfum, talk) atau tindakan pembedahan. Tindakan dilakukan bila cairan amat
banyak dan selalu terakumulasi kembali.
2.8. Komplikasi
2,4,5

1. Fibrotoraks
Efusi pleura yang berupa eksudat yang tidak ditangani dengan drainase yang
baik akan terjadi perlekatan fibrosa natara pleura parietalis dan pleuara viselaris.
Keadaan ini disebut dengan fibrotoraks. Jika fibrotoraks meluas dapat
menimbulkan hambatan mekanis yang berat pada jaringan-jaringan yang berada
dibawahnya. Pembedahan pengupasan (dekortikasi) perlu dilakukan untuk
memisahkan membrane membrane pleura tersebut.
2. Atelektasis
Atelektasis adalah pengembangan paru yang tidak sempurna yang disebabkan
oleh penekanan akibat efusi pleura.
3. Fibrosis paru
Fibrosis paru merupakan keadaan patologis dimana terdapat jaringan ikat paru
dalam jumlah yang berlebihan. Fibrosis yang timbul akibat cara perbaikan
17
EFUSI PLEURA

jaringan sebagai kelanjutan suatu proses penyakit paru yang menimbulkan
peradangan. Pada efusi pleura, atalektasi yang berkepanjangan dapat
menyebabkan penggantian jaringan paru yang terserang dengan jaringan fibrosis.
4. Kolaps paru
Pada efusi pleura, atalektasis tekana yang diakibatkan oleh tekanan ektrinsik
pada sebagian/semua bagian paru kaan mendorong udara keluar dan
mengakibatkan kolaps paru.

18
EFUSI PLEURA

DAFTAR RUJUKAN

1. Dahlan Zul. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiadi S, editors.
2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Jakarta : Buku kedokteran EGC
2. Alsagaff, Hood dan Mukty, Abdul. 2011. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Paru. Jakarta :
EGC
3. Pratomo, IP. 2013. Anatomi dan Fisiologi Pleura. Available at : http://kalbemed.com//
4. Rubbins, Jeffrey MD, PhD; Chief Editor: George T Griffing, MD http://
http://emedicine.medscape.com/article/299959-overview
5. Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1. Jakarta : Media Aesculapius
FKUI.
6. American Thoracic Society. 2011. Pleural Disease.