Anda di halaman 1dari 38

BAB IV

PERHITUNGAN

4.1 Debit Banjir Rancangan


4.1.1 Perhitungan Debit Banjir Rancangan
4.1.1.1 Perhitungan Hujan Jam-Jaman dengan Mononobe
Langkah-langkah perhitungan :
Sebaran hujan jam-jaman dipakai model monobe, dengan rumus :

R
t
Rt 24
t T

2/3

Dimana :
Rt

= Intensitas hujan rata-rata dalam T jam

R24

= Curah hujan efektif dalam satu hari

= Waktu mulai hujan

= Waktu konsentrasi hujan

Untuk daerah di indonesia rata-rata t = 6 jam, maka :


T = 1 jam

R1 =

.( )

= 0,5503.R24

T = 2 jam

R2 =

.( )

= 0,3467.R24

T = 3 jam

R3 =

.( )

= 0,2646.R24

T = 4 jam

R4 =

.( )

= 0,2184.R24

T = 5 jam

R5 =

.( )

= 0,1882.R24

T = 6 jam

R6 =

.( )

= 0,1667.R24

Curah Hujan jam-jaman


Rumus Rt = t . Rt - (t - 1). R(t-1)
dengan Rt = prosentase intensitas
1 jam

R1 = 1 . 0,5503 R24 (1-1) . R0


= 0,5503 R24 0
= 0,5503 x 100% = 55,0321 %

2 jam

R2 = 2 . 0,3467 R24 (2-1) . 0,5503 R24


= 0,6934R24 0,5503 R24
= 0,1430 x 100% = 14,304 %

3 jam

R3 = 3 . 0,2646 R24 (3-1) . 0,3467 R24


= 0,7937R24 0, 6934 R24
= 0,1003x 100% = 10,0339 %

4 jam

R4 = 4 . 0,2184 R24 (4-1) . 0,2646 R24


= 0,8736R24 0,7937 R24
= 0,0799 x 100% = 7,988 %

5 jam

R5 = 5 . 0,1882 R24 (5-1) . 0,2184 R24


= 0,941R24 0,8736 R24
= 0,0675 x 100% = 6,7456 %

6 jam

R6 = 6 . 0,1667 R24 (6-1) . 0,1882 R24


= R24 0,941 R24
= 0,059 x 100% = 5,8964 %

Sebaran Efektif hujan jam-jaman


Untuk Tr 25 tahun
Dengan : C.H rancangan 25 tahun ( R25 ) = 170 mm/hari
Koefisien Pengaliran (C)
Maka :

= 0,8

- C.H efektif = C x R25


= 0,8 x 170
= 136 mm/hari
Jam

Nisbah %

C.H.efektif jam-jaman

55.0321

74.844

14.3040

19.453

10.0339

13.646

7.9880

10.864

6.7456

9.174

5.8964

8.019

Sumber :Perhitungan

Untuk Tr 50 tahun
Dengan : C.H rancangan 50 tahun ( R50 ) = 205 mm/hari
Koefisien Pengaliran (C)
Maka :

C.H efektif

= 0,8

= C x R50
= 0,8 x 205
= 164 mm/hari

Jam

Nisbah %

C.H.efektif jam-jaman

55.0321

90.253

14.3040

23.459

10.0339

16.456

7.9880

13.100

6.7456

11.063

5.8964

9.670

Sumber :Perhitungan
Untuk Tr 200 tahun
Dengan : C.H rancangan 200 tahun ( R200 )= 222 mm/hari
Koefisien Pengaliran (C)
Maka :

C.H efektif

= 0,8

= C x R200
= 0,8 x 222
= 177,6 mm/hari

Jam

Nisbah %

C.H.efektif jam-jaman

55.0321

97.737

14.3040

25.404

10.0339

17.820

7.9880

14.187

6.7456

11.980

5.8964

10.472

Sumber :Perhitungan

Untuk Tr 1000 tahun


Dengan : C.H rancangan 1000 tahun ( R1000 )= 252 mm/hari
Koefisien Pengaliran (C)
Maka :

= 0,8

C.H efektif

= C x R1000
= 0,8 x 252
= 201,6 mm/hari

Jam

Nisbah %

C.H.efektif jam-jaman

55.0321

110.945

14.3040

28.837

10.0339

20.228

7.9880

16.104

6.7456

13.599

5.8964

11.887

Sumber :Perhitungan
Untuk Tr PMP tahun
Dengan : C.H rancangan PMP tahun ( RPMP )= 597 mm/hari
Koefisien Pengaliran (C)

= 0,8

Maka : C.H efektif

= C x RPMP
= 0,8 x 597
= 477,6 mm/hari

Jam

Nisbah %

C.H.efektif jam-jaman

55.0321

262.833

14.3040

68.316

10.0339

47.922

7.9880

38.151

6.7456

32.217

5.8964

28.161

Sumber :Perhitungan
4.1.1.2 Perhitungan Hidrograf Banjir Rancangan dengan Nakayasu
Data :
Luas DAS (A)

= 212 km2

Panjang Sungai Utama (L)

= 36 km

Parameter Alfa ()

=2

Koefisien Pengaliran (C)

= 0,8

Hujan Satuan (Ro)

=1

Q baseflow

= diasumsi sebesar 2 m3/detik

Persamaan Untuk Menentukan HSS Nakayasu


Time Lag (Tg) adalah waktu antara hujan sampai debit puncak banjir (jam) dihitung
dengan ketentuan sebagai berikut:
- Sungai dengan panjang alur L > 15 km: tg = 0,4 + 0,058L
- Sungai dengan panjang alur L < 15 km: tg = 0,21 L 0,7
Tg = 0,4 + 0,058 . L
= 0,4 + (0,058 x 36)
= 2,488
T0,3 adalah waktu yang diperlukan oleh penurunan debit , dari puncak sampai 30%
dari debit puncak (jam)
T0,3 = x tg
= 2 x 2,488
= 4,976
Kala ulang (Tr)
tr

= 0,75 x tg
= 0,75 x 2,488
= 1,866

Waktu Puncak (Tp) adalah tenggang waktu dari permulaan hujan sampai puncak
banjir (jam)
Tp = tg + (0,8 x tr)
= 2,488+ (0,8 x 1,866)
= 3,981
Debit Puncak (Qp) adalah debit puncak banjir (m3/dt)
Qp = (A x Ro x 0,8)/[3,6(0,3 x Tp + T0,3)]
= (212x 1 x 0,8)/[3,6(0,3 x 3,981+ 4,976)]
= 7,635
Tabel 4.1 Tabel Waktu Lengkung Hidrograf Nakayasu
No

Karakteristik

1 Lengkung Naik
2 Lengkung Turun Tahap 1
3 Lengkung Turun Tahap 2
4 Lengkung Turun Tahap 3
Sumber :Perhitungan

Notasi
Qd0
Qd1
Qd2
Qd3

Awal (jam)
Notasi
Nilai

Akhir (jam)
Notasi
Nilai

0
0.000
Tp
3.981
Tp
3.981
Tp + T0,3
8.957
Tp + T0,3
8.957 Tp + 2,5 T0,3 16.421
Tp + 2,5 T0,3 16.421
24
24

Tabel 4.2 Tabel Persamaan Lengkung Hidrograf Nakayasu


No

Karakteristik

Notasi

1 Lengkung Naik
2 Lengkung Turun Tahap 1
3 Lengkung Turun Tahap 2
4 Lengkung Turun Tahap 3
Sumber : Data

Qd0
Qd1
Qd2
Qd3

Persamaan
Qp. (t/Tp)^2,4
Qp. 0,3^[(t-Tp)/T0,3]
Qp. 0,3^(t-Tp+0,5.T0,3)/(1,5.T0,3)
Qp. 0,3^(t-Tp+1.5T0.3)/(2.T0.3)

Tabel 4.3 Tabel Ordinat Hidrograf Satuan Sintetik dengan Metode Nakayasu

0
1
2
3

Q
(m3/dt)
0.0000
0.2773
1.4634
3.8724

4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

7.7239
5.9666
4.6843
3.6776
2.8872
2.2667
1.9358
1.6474
1.4020
1.1932

14
15

1.0154
0.8642

16
17

0.7354
0.6407

18
19
20
21
22

0.5677
0.5030
0.4457
0.3949
0.3499

23

0.3100

24
25

0.2747
0.2434

t (jam)

ket

Qa

Qd1

Qd2

Qd3

26

0.2157

27
28
29

0.1911
0.1693
0.1500

30

0.1329

31
32
33
34
35

0.1178
0.1044
0.0925
0.0819
0.0726

36
0.0643
Sumber: Perhitungan

HSS METODE NAKAYASU


9.00
8.00

R(mm/hari)

7.00
6.00
5.00
4.00
3.00
2.00
1.00
0.00

12

16

20

24

t (jam)

Gambar 4.1 Grafik Unit Hidrograf Nakayasu

28

32

36

HIDROGRAF NAKAYASU
3000.000

2500.000

Q BANJIR (m3/detik)

2000.000
Q 25 thn

1500.000

Q 50 thn
Q 200 thn
Q 1000 thn

1000.000

Q PMF

500.000

0.000
0

12

16

20

24

28

32

WAKTU HUJAN t (jam)

Gambar 4.2 Grafik Hidrograf Debit Banjir Rancangan Metode Nakayasu

36

Dari hasil perhitungan banjir rancangan dengan Hidrograf Nakayasu di atas bisa
dibuat rekapan hujan rancangan netto dan debit banjir rancangan maksimum dari
masing-masing probabilitas adalah sebagai berikut:

Tabel 4.10 Rekapan Hujan Rancangan Netto


No

JAM KE

HUJAN JAM-JAMAN
25th

50th

200th

1000th

PMF

74.8437
19.4534
13.6461
10.8637
9.1740
8.0191

90.2527
23.4586
16.4556
13.1003
11.0627
9.6701

97.7370
25.4039
17.8203
14.1867
11.9801
10.4720

110.9448
28.8369
20.2284
16.1038
13.5990
11.8871

262.8334
68.3159
47.9220
38.1507
32.2168
28.1612

Probabilitas Hujan
harian
Koefisien pengaliran

170.0000

205.0000

222.0000

252.0000

597.0000

0.7500

0.7500

0.7500

0.7500

0.7500

Hujan Efektif

127.5000

153.7500

166.5000

189.0000

447.7500

1
2
3
4
5
6

1.00
2.00
3.00
4.00
5.00
6.00

Tabel 4.11 Rekapan Debit Banjir Rancangan Maksimum


25
678.399

50
817.657

Qp ( m^3/detik
200
1000
885.297
1004.662

PMF
2377.354

Sumber : Perhitungan

4.2 Perencanaan Terowongan Pengelak, Penelusuran Banjir Lewat Terowongan


Pengelak
4.2.1 Perencanaan Terowongan Pengelak
Dengan pertimbangan keadaan kontur calon bendungan dan alur sungai, maka
terowongan pengelak direncakan seperti gambar berikut :

Pertimbangan pertimbangan lain yang perlu diperhatikan adalah :


a. Bentuk terowongan, terowongan yang lurus akan menguntungkan karena
1. Jarak lebih pendek
2. Pengerjaan lebih mudah
3. Tidak adanya kehilangan energi akibat belokan
b. Mulut terowongan diletakkan sejajar arah aliran
c. Dasar dari terowongan diletakkan tidak terlalu jauh dengan dasar sungai asli
agar tidak terjadi gerusan
d. Dihindarkan pukulan air di mulut terowongan
e. Direncanakan agar bendungan pengelak menyatu dengan bendungan utama
Data Teknis Terowongan Pengelak
Data-data yang digunakan pada perencanaan ini berdasarkan data yang telah ada dan
perhitungan hidrologi pada BAB IV. Data-data perencanaan terowongan pengelak
adalah sebagai berikut :
1. Bentuk terowongan

: lingkaran

2. Diameter (data)

:6m

3. Panjang direncanakan

: 242,5 m

4. Elevasi mulut bagian hulu

: + 58,5

5. Elevasi mulut bagian hilir

: + 53,5

6. Kemiringan dasar H/L

: 0,0206

7. Jumlah terowongan

:1

8. Debit rencana Q25

: 678.39 m3/dt

9. Angka kekasaran beton (n)

: 0,014

4.2.1.1Perencanaan Terowongan Pengelak


Kapasitas air yang melewati terowongan dibagi menjadi dua (2) kategori yaitu
a. Aliran bebas
Yaitu merupakan aliran saluran terbuka, hal ini terjadi bila terowongan tidak
terisi penuh, atau ujung udik terowongan tidak tenggelam (H/D1,2)
b. Aliran tekan
Yaitu berupa aliran pada saluran tertutup, hal ini terjadi bila terowongan terisi
penuh (H/D1,5) sedangkan transisi H/D = 1,2 1,5
4.2.1.2Hidrolika Terowongan Pengelak
Dengan memperhatikan ketinggian di bagian hulu, maka macam pengaliran dibagi
menjadi dua kategori, yaitu

a. Pengaliran Bebas
Pada keadaan aliran bebas, kapasitas pengaliran dapat dihitung dengan
menggunakan rumusan dari MANNING :
V = Vn . R2/3 . S1/2
Q = A.V
Dimana :
Q = Debit yang melalui terowongan (m3/dt)
V = kecepatan aliran (m/dt)
A = Luas penampang basah (m2)
R = jari-jari hidrolis = A/P (m)
P = Keliling basah (m)
S = kemiringan dasar
n = angka kekasaran MANNING
Menghitung ; A, P dan B
KONDISI I
A = luas coba-coba - hOAB
=

- 2( .R2.sin.cos )

- R2.sin.cos

= R2 [

P =

X2
cos-1 [

=
]

B = jarak ab = 2R sin

KONDISI II
A = luas coba-coba acb
- R2 [

=
P =2

cos-1 [

Contoh Perhitungan
Untuk h = 0,5 , maka :
cos-1 [
A =

] = arc cos [

] = arc cos (3 - 0.5)/3 = 33,557

- R2 sin cos

={ (33,557.3 2 ) / 180} 32 sin 33,5570 cos 33,5570


=1,123 m2
P =

= (33,557..3)/90 = 3,512

R = A/P = 1,123/3,512= 0,320


B = 2R sin = 2. 0,320. sin 33,557 0 = 0,353 m
V = 1/n. R2/3. S1/2
= 1/0,014. (0,320)2/3. (0,0206)1/2 = 4,795 m/dt
Q = A.V = 1,123 . 4,795 = 5,383 m3/dt
Qc = ((9,81 . 1,1233)/0,353)0.5 = 6,268 m3/dt
F = {v/(g.h)0,5}
= {4,795/(9,81 . 0,5) 0,5}
= 1,083> 1
Jadi : kondisi aliran adalah superkritis
Untuk perhitungan dengan kedalaman selanjutnya seperti pada tabel 4.12.

Tabel 4.12 Perhitungan untuk Pengaliran Bebas

El.
Tinggi

MA
MA
(m)
(m)
( o)
(1)
(2)
(3)
59
0.5
33.557
59.5
1
48.190
60
1.5
60.000
60.5
2
70.5
61
2.5
80.4
61.5
3
90.0
62
3.5
99.6
62.5
4
109.5
63
4.5
120.0
63.5
5
131.8
64
5.5
146.4
Sumber: Perhitungan

(m2)
(4)
1.123
3.094
5.523
8.245
11.145
14.130
17.115
20.015
22.737
25.166
27.137

(m)
(5)
3.512
5.046
6.283
7.386
8.420
9.425
10.429
11.464
12.566
13.803
15.335

(m)
(6)
0.320
0.613
0.879
1.116
1.324
1.499
1.641
1.746
1.809
1.823
1.770

Qc

(m) (m/detik) (m3/detik)


(7)
(8)
(9)
0.353
4.795
5.383
0.914
7.402
22.898
1.522
9.411
51.979
2.105 11.037
90.995
2.610 12.364
137.796
2.998 13.435
189.841
3.236 14.270
244.231
3.292 14.872
297.662
3.134 15.229
346.274
2.718 15.307
385.227
1.956 15.005
407.206

(m3/detik)
(10)
6.268
17.828
32.947
51.106
72.128
96.072
123.280
154.574
191.820
239.854
316.564

Keterangan:
(1)

elevasi muka air

(4)

luas penampang basah

(7) 2Rsin : lebar muka air

(2)

tinggi muka air

(5)

keliling basah

(8) Kecepatan

(3)

sudut yang dibentuk oleh alur pengelak

(6)

jari-jari hidrolis

(9) Debit

F
Nilai
(11)
1.083
1.671
2.125
2.492
2.791
3.033
3.222
3.357
3.438
3.456
3.388

Keterangan
(12)
superkritis
superkritis
superkritis
superkritis
superkritis
superkritis
superkritis
superkritis
superkritis
superkritis
superkritis

(10)

debit yang melewati pengelak dalam kondisi kritis

(11)

nilai Froude

(12)

Kondisi aliran
Dari tabel terlihat bahwa F > 1 untuk semua kedalaman, jadi kondisi

aliran yang terjadi adalah SUPERKRITIS. Dari perhitungan tersebut


selanjutnya dihitung kedalaman air kritis pada ujung terowongan sebagai
TITIK KONTROL, dengan persamaan sebagai berikut
H

=h+

Vc

El MAW

= El. Dasar inlet hulu + H


= + 60,00 + H

dimana :
Qc

= Debit aliran kritis pada terowongan (m3/dt)

Vc

= Kecepatan kritis aliran (m/dt)

= Luas penampang basah

El MAW = Elevasi muka air waduk (m)


h

= Kedalaman aliran pada terowongan

C1

= Koefisien kehilangan pada inlet ( 0,1)

b. Pengaliran Tertekan
Apabila tinggi muka air dibandingkan dengan diameter (H/D) > 1,5 maka aliran
yang terjadi adalah aliran tekan.

Analisa aliran tekan menggunakan persamaan Bernoulli :


Z1 + h1 +

= Z2 + h2 +

+ hL

Z1 + h1 +

= Z2 + h2 +

Z1 + h1

= Z2 + h2 +[1+

[1+

= (Z1 + h1 ) (Z2 + h2)

[1+

=h
V

=[

]1/2

= H g/2 + L sin , maka Q = A.V

Jika h
Q

=A[

Dimana :
L sin = selisih tinggi antara inlet dan outlet = 10m
= jumlah koefisien kehilangan energi
= Co + Cf + C b + Ci
Co

= koefisien kehilangan pada outlet = 1,0 (asumsi)

Cf

= koefisien kehilangan tinggi karena current = 0,0316

Cb

= kehilangan tinggi karena belokan = 0

Ci

= kehilangan pada inlet = 0,5

Jadi

= 1 + 0,07 + 0 + 0,5 = 1,57

Besarnya debit yang keluar melalui terowongan dapat dihitung dengan rumus :
Q = A.V
]1/2

Q=A[
Q = 1/4

(9)2[

]1/2

Dengan menggunakan persamaan diatas, maka dapat dibuat hubungan antara Q


dengan elevasi MAW. Elevasi muka air waduk dimulai pada h = 5

= 1,5 . 6

=9m

El MAW

= 58,5 + 9

= 67,5 m

Perhitungan selanjutnya pada tabel 4.13


Tabel 4.13 Perhitungan untuk Pengaliran Tekan
El. MA Tinggi MA
(m)

(m)

(1)
67.5
68.5

(2)
9
10

( )

(m )

R
(m)

(3)
(4)
(5)
17.854 28.274 18.850
19.801 28.274 18.850

Ci

Cf

Co

Tinggi
MA
(m)
(m)
(1)
(2)
58.500
0.000
59.000
0.500
59.500
1.000
60.000
1.500
60.500
2.000
61.000
2.500
61.500
3.000
62.000
3.500
62.500
4.000
63.000
4.500
63.500
5.000
64.000
5.500
64.500
6.000
65.000
6.500
65.500
7.000
66.000
7.500
66.500
8.000
67.000
8.500
67.500
9.000
67.500
9.000
68.000
9.500
68.500 10.000
Sumber: Perhitungan

Q
3

(rounded) (gesekan) (outlet) (m/detik) (m /detik)


(6)
0.5
0.5

(7)
0.074
0.074

(8)
1
1

Tabel 4.14 Perhitungan untuk Pengaliran Tekan


El. MA

jenis
pengaliran

(m3/detik)
(3)
(4)
0.000
5.383
22.898
51.979
90.995
137.796
BEBAS
189.841
275.415
513.140
531.794
550.448
569.102
587.755
606.409
625.063
TRANSISI
643.717
662.370
681.024
699.678
699.678
TERTEKAN
718.331
736.985

(9)
24.746
26.066

(10)
699.678
736.985

Gambar 4.3 Grafik Hubungan h dan Q

Gambar 4.4 Rating Curve Saluran Pengelak

4.2.2 Penelusuran Banjir pada Diversion Tunnel


Perhitungan penelusuran banjir pada terowongan didasarkan pada lengkung
kapasitas waduk. Persamaan lengkung kapasitas waduk adalah sebagai berikut
Y = axb
Dimana,
Y = volume tampungan (x 106 m3)
H = Elevasi muka air di coff (m)
Tabel hubungan El MAW dengan S,,Y, dapat dilihat pada Tabel 4.15.

Tabel 4.15 Flood Routing Saluran Pengelak dengan Q25


D = 6m

Penelusuran Banjir Lewat Pengelak


Didesain dengan menggunakan 1 terowongan pengelak
t = 1 jam = 3600 detik

Phi
= S/t +
Q/2
3
(m /detik)

Elevasi

(m)

(m)

(m3)

(m3)

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

58.5
59.0
59.5
60.0
60.5
61.0
61.5
62.0
62.5
63.0
63.5
64.0
64.5
65.0
65.5
66.0
66.5
67.0
67.5
68.0
68.5

0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
4
4.5
5
5.5
6
6.5
7
7.5
8
8.5
9
9.5
10

0
1150000
1437500
1725000
2012500
1437500
4887500
5750000
6612500
7475000
5750000
11500000
12937500
14375000
15812500
12937500
20987500
23000000
25012500
27025000
23000000

0
1150000
1437500
1725000
2012500
1437500
4887500
5750000
6612500
7475000
5750000
11500000
12937500
14375000
15812500
12937500
20987500
23000000
25012500
27025000
23000000

0.000
319.444
399.306
479.167
559.028
399.306
1357.639
1597.222
1836.806
2076.389
1597.222
3194.444
3593.750
3993.056
4392.361
3593.750
5829.861
6388.889
6947.917
7506.944
6388.889

0.000
5.383
22.898
51.979
90.995
137.796
189.841
275.415
513.140
531.794
550.448
569.102
587.755
606.409
625.063
643.717
662.370
681.024
699.678
699.678
718.331

0.000
2.692
11.449
25.989
45.498
68.898
94.921
137.708
256.570
265.897
275.224
284.551
293.878
303.205
312.531
321.858
331.185
340.512
349.839
349.839
359.166

0.000
316.753
387.857
453.177
513.530
330.407
1262.718
1459.515
1580.235
1810.492
1321.998
2909.894
3299.872
3689.851
4079.830
3271.892
5498.676
6048.377
6598.078
7157.106
6029.723

0.000
322.136
410.755
505.156
604.526
468.204
1452.560
1734.930
2093.376
2342.286
1872.446
3478.995
3887.628
4296.260
4704.892
3915.608
6161.046
6729.401
7297.756
7856.783
6748.055

Sumber: Perhitungan
1. Data
2. Data
3. Data

S/t

Psi
= S/t
- Q/2
(m3/detik)

Q/2

(m3/detik) (m3/detik) (m3/detik)

4. (3)n+1 - (3)n
5. (4)/ 3600
6. Data Outflow Pengelak

7. (6)/2
8. (5)-(7)
9. (5)+(7)

Tabel 4.16 Penelusuran Banjir


Inflow
Outflow
(I1+I2)/2
1
j2
(I)
(Q)
3
3
3
3
(jam) (m /det) (m /det) (m /det) (m /det) (m3/det)
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
0
2.000
0.000
0.000
0.000
2.000
1
22.751
12.376
0.034
12.410
0.207
2
116.920 69.836
0.004
69.839
1.167
3
324.079 220.499
0.020
220.519
3.685
4
678.399 501.239
0.063
501.301 50.791
5
670.101 674.250
0.863
675.113 159.706
6
631.778 650.939
2.714
653.654 147.602
7
580.961 606.370
2.509
608.878 130.879
8
520.287 550.624
2.224
552.848 90.863
9
445.568 482.927
1.544
484.471 45.607
10
361.151 403.359
0.775
404.134 21.590
11
296.559 328.855
0.367
329.222
6.784
12
246.001 271.280
0.115
271.395
4.535
13
206.035 226.018
0.077
226.095
3.778
14
174.175 190.105
0.064
190.169
3.178
15
148.581 161.378
0.054
161.432
2.698
16
126.745 137.663
0.046
137.709
2.301
17
109.269 118.007
0.039
118.047
1.973
18
95.257 102.263
0.034
102.297
1.710
19
83.491
89.374
0.029
89.403
1.494
20
73.523
78.507
0.025
78.532
1.312
21
65.030
69.277
0.022
69.299
1.158
22
57.760
61.395
0.020
61.415
1.026
23
51.407
54.583
0.017
54.601
0.912
24
45.777
48.592
0.016
48.607
0.812
25
40.789
43.283
0.014
43.297
0.724
26
36.369
38.579
0.012
38.591
0.645
27
32.453
34.411
0.011
34.422
0.575
28
28.983
30.718
0.010
30.727
0.513
29
25.908
27.445
0.009
27.454
0.459
30
23.184
24.546
0.008
24.554
0.410
31
20.770
21.977
0.007
21.984
0.367
32
18.631
19.701
0.006
19.707
0.329
33
16.736
17.684
0.006
17.689
0.296
34
15.057
15.897
0.005
15.902
0.266
35
13.569
14.313
0.005
14.318
0.239
36
12.251
12.910
0.004
12.914
0.216
max
159.706
Sumber : Perhitungan
1. Data
4. interpolasi (7)
2. Data
5. (3)+(4)
3. [(2)n+1 - (2)n]/2
6. interpolasi (5)
T

h
(hilir)
(m)
(7)
0.186
0.019
0.108
0.342
1.480
2.710
2.594
2.426
1.998
1.390
0.963
0.540
0.421
0.351
0.295
0.251
0.214
0.183
0.159
0.139
0.122
0.108
0.095
0.085
0.075
0.067
0.060
0.053
0.048
0.043
0.038
0.034
0.031
0.027
0.025
0.022
0.020
2.710

Elevasi
(Hilir)
(m)
(8)
53.686
53.519
53.608
53.842
54.980
56.210
56.094
55.926
55.498
54.890
54.463
54.040
53.921
53.851
53.795
53.751
53.714
53.683
53.659
53.639
53.622
53.608
53.595
53.585
53.575
53.567
53.560
53.553
53.548
53.543
53.538
53.534
53.531
53.527
53.525
53.522
53.520
56.210

h
(hulu)
(m)
(7)
0.186
0.996
2.277
3.602
8.430
8.207
7.180
5.818
4.192
3.858
3.680
3.544
3.328
3.095
2.849
2.604
2.382
2.195
2.046
1.904
1.776
1.667
1.574
1.490
1.393
1.308
1.232
1.164
1.105
1.052
1.005
0.939
0.878
0.824
0.776
0.734
0.696
8.430

7. interpolasi (6)
8. 35 + (7)

Elevasi
(Hulu)
(m)
(8)
58.686
59.496
60.777
62.102
66.930
66.707
65.680
64.318
62.692
62.358
62.180
62.044
61.828
61.595
61.349
61.104
60.882
60.695
60.546
60.404
60.276
60.167
60.074
59.990
59.893
59.808
59.732
59.664
59.605
59.552
59.505
59.439
59.378
59.324
59.276
59.234
59.196
66.930

Penelusuran Banjir Pada D = 6 m


800

700
600

Q (m3/detik)

500
400

inflow
outflow

300
200
100
0
0

12

18

24

T (jam)

Gambar 4.5 Grafik Penelusuran Banjir menggunakan Q25

30

36

Tabel 4.17 Perhitungan Lengkung Kapasitas Waduk

Elevasi

Selisih
dengan
Kontur
Terendah

(m)

(m)

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21

58.5
61
63.5
66
68.5
71
73.5
76
78.5
81
83.5
86
88.5
91
93.5
96
98.5
101
103.5
106
108.5

0
2.5
5
7.5
10
12.5
15
17.5
20
22.5
25
27.5
30
32.5
35
37.5
40
42.5
45
47.5
50

1.15
1.15
1.15
1.15
1.15
1.15
1.15
1.15
1.15
1.15
1.15
1.15
1.15
1.15
1.15
1.15
1.15
1.15
1.15
1.15
1.15

0
2875000
5750000
8625000
11500000
14375000
17250000
20125000
23000000
25875000
28750000
31625000
34500000
37375000
40250000
43125000
46000000
48875000
51750000
54625000
57500000

0
1437500
4312500
7187500
10062500
12937500
15812500
18687500
21562500
24437500
27312500
30187500
33062500
35937500
38812500
41687500
44562500
47437500
50312500
53187500
56062500

0
1437500
4312500
7187500
10062500
12937500
15812500
18687500
21562500
24437500
27312500
30187500
33062500
35937500
38812500
41687500
44562500
47437500
50312500
53187500
56062500

0
1437500
5750000
12937500
23000000
35937500
51750000
70437500
92000000
116437500
143750000
173937500
207000000
242937500
281750000
323437500
368000000
415437500
465750000
518937500
575000000

No.

Luas Kontur
(daerah
genangan)

Luas RataRata Antar


Kontur

Volume
Antar
Interval
Kontur

Volume
Tampungan
Waduk

(m2)

(m2)

(m3)

(m3)

Sumber : Perhitungan
1. Data

4. Data

2. Data

5. (3)*(4)*10^6

3. (2)n - 30

6. [(5)n+(5)n+1]/2

(6)*tinggi
kontur
8. (7)n-1 + (7)n
7.

Lengkung Kapasitas Waduk

Genangan (ha)
60

50

40

30

20

Millions
10

120

100

Elevasi (m)

80

60
Volume
tampungan
Luas genangan

40

20

0
0.00

100.00

200.00

300.00
400.00
Volume (juta m3)

500.00

Gambar 4.6 Grafik Lengkung Kapasitas Waduk

600.00

700.00
Millions

4.3 Perencanaan Tinggi Coffer Dam


Dari hasil penelusuran banjir pada terowongan didapatkan elevasi muka air
maksimum
4.3.1 Tinggi Cofferdam
Tinggi cofferdam di hulu adalah beda elevasi antara puncak cofferdam dengan
elevasi dasar sungai. Elevasi puncak cofferdam ditentukan dari tinggi muka air max
pada Q 25 th, ditambah tinggi jagaan.
H = El. Muka air di coff El. Dasar sungai hulu
= 66,930 58.500
= 8,43 m
Untuk H 50m diambil tinggi jagaan 2m (SUYONO, 1981 : 173), maka tinggi total
cofferdam hulu adalah :
H = 8,43 + 2
= 10,43 m
Tambahan ketinggian cofferdam untuk mengantisipasi bahaya konsolidasi sebesar1%
h

= 0,01 x 10,43
= 0,1043 m

Jadi tinggi cofferdam akhir = tinggi cofferdam + h


= 10,43 + 0,1043
= 10,534 m
= 11,0 m
Untuk Tinggi cofferdam di hilir ;
H = El. Muka air di coff El. Dasar sungai hilir
= 56,210 53.500
= 2,71 m
Untuk H 50m diambil tinggi jagaan 2m (SUYONO, 1981 : 173), maka tinggi total
cofferdam hilir adalah :
H = 2,71 + 2
= 4,71 m
Tambahan ketinggian cofferdam untuk mengantisipasi bahaya konsolidasi sebesar1%
h

= 0,01 x 4,71
= 0,0471 m

Jadi tinggi cofferdam akhir = tinggi cofferdam + h


= 4,71 + 0,0471
= 4,757 m
=5m
4.3.2 Lebar Atas Cofferdam
Lebar atas cofferdam ditentukan berdasarkan ketentuan agar dapat bertahan
terhadap hempasan ombak, serta dapat bertahan terhadap aliran filtrasi yang melalui
bagian puncak cofferdam untuk memperoleh lebar minimum mercu cofferdam bisa
dihitung dengan rumus :
b = 3,6 H1/3 3
dimana :
b = lebar mercu
H = tinggi cofferdam
Jadi lebar atas cofferdam hulu:
b = 3,6 . 111/3 3
=5m
Jadi lebar atas cofferdam hilir:
b = 3,6 . 51/3 3
= 3,155 m
=3m
4.3.3 Penentuan Kemiringan Lereng (Talud) Cofferdam
Rumus pendekatan yang dipergunakan untuk menentukan kemiringan talud
cofferdam adalah sebagai berikut :
Fs hulu =
Fs hilir =

tan
tan

Dimana :
Fs = faktor keamanan (1,1)
m,n= kemiringan lereng (hulu, hilir)
k = koefisien gempa (0,17)
= sudut geser dalam material
=

/(

Bahan material yang digunakan sesuai dengan data :


a. Sudut geser dalam ()

= 19,588

b. Spesivic Gravity (Gs)

= 2,45 t/m3

c. Void Ratio (e)

= 55 % 0,55

d. Kohesi (c)

= 0,306 g/cm2 = 30,6 KN/m2

e. Berat Jenis Batu

= 2,006 g/cm3 = 21 KN/m2

f. Sr

= 65% = 0,65

g. w

= 1 KN/m3

h. sat

= 19,35 KN/m3

i. dry

= 15,8 KN/m3

Perhitungan:
- 1 = 19,35 1 = 18,35 KN/m2

= 19,35 / 18,35= 1,05 KN/m2

Kemiringan talud bagian hulu :


1,1

tan

=2

Kemiringan talud bagian hilir :


1,1

tan

= 1,5

4.4 Perencanaan Konstruksi dan Perhitungan Stabilitas Coffer Dam


4.4.1 Perhitungan Rembesan pada Tubuh Coffer Dam
Kondisi muka air setinggi banjir rencana, berada pada elevasi +67,00. Dasar
waduk berada pada elevasi +55sehingga tinggi permukaan air (H) adalah 12 meter.
Pada perhitungan sebelumnya, diketahui:
b = 6m
H= 12 m
m =2
n = 1,5

= 0,3 0,4 (diambil 0,3)


t = 14 - 12
= 2 m (tinggi bendungan tinggi muka air)
Perhitungan dan penggambaran garis rembesan dituliskan pada perumusan sebagai
berikut:
L1 = 2,1 m
L2 = 7,0 m
d = 0,3 L1 + L2
= 0,3 . 2,1 + 7,0
= 7,672 m
Y0 =
=
=
= 6,57
persamaan garis rembesan dituliskan sebagai berikut:
Y0

=
=
=
Tabel 4.18 Koordinat Garis Rembesan
X

-3,285

6,57

7,50

8,33

9,09

9,78

10,43

11,04

11,62

Sumber: Perhitungan
Kontrol Keamanan Terhadap Piping Pondasi

Pada prinsipnya kontrol keamanan terhadap piping pondasi ini adalah


memeriksa gradient hidraulik rata-rata dan gradient hidraulik kritis, yangdirumuskan
sebagai berikut (Sutton) :

ic
5
im

FX
dengan :

ic = gradient hidraulik kritis


im = gradient hidraulik rata-rata

'
ic
w
dengan :

= sat w
sat =

Gs e
w
1 e
Gs 1
'
.w
1 e
ic

im

H
L

Gs 1
1 e

Sehingga persamaan menjadi :

Fs

Gs 1 L
.
1 e H

a. Spesivic Gravity (Gs)

= 2,45 t/m3

b. Void Ratio (e)

= 55 % 0,55

c. H

= 12 m

d. Lc (gambar)

= 41,6 m

Fs = ic/im
ic = sub / w =
im = H/Lc 0,288
Fs =

3,24

ic
im

Gs 1 0,9355
1 e

4.4.2 Perhitungan Stabilitas pada Lereng Coffer Dam


Runtuh ( jebol ) nya suatu bendungan urugan biasanya dimulai dengan terjadinya
gejala longsoran baik pada lereng bagian hulu maupun bagian hilir, yang disebabkan
kurang memadainya stabilitas kedua lereng tersebut.
Maka dalam pembangunan bendungan utama tipe urugan, stabilitas lereng
lerengnya merupakan kunci dari stabilitas tubuh bendungan secara menyeluruh.
Dengan demikian pada perencanaan bendungan urugan harus diadakan
perkiraan yang cermat terhadap factor factor yang mungkin berpengaruh terhadap
stabilitas lereng, serta kombinasi pembebanan yang paling tidak menguntungkan.
Dalam perencanaan ini akan digunakan metode IRISAN Bidang Luncur
bundar Fellinius untuk menganalisa stabilitas lereng.
Dengan persamaan angka keamanan sbb :
( GEMPA )
( TANPA GEMPA )
Dengan :
Fs

= angka factor keamanan

= angka kohesi material.

= berat beban

= W cos ( beban komponen vertical )

= W sin ( beban komponen horizontal )

= tekanan air pori

Ne

= N x faktor gempa ( N x e )

Te

= T x factor gempa ( T x e )

= sudut geser dalam material

Irisan
1
1
2
3
4
5
6

b
2
4.9
4.9
4.9
4.9
4.9
4.9

h
3
3.9323
6.6
8.4
7.5
5.4
2.1

4
15.8
18.4
18.4
18.4
18.4
18.4

Tabel 4.19 Perhitungan Stabilitas Kondisi Kosong Gempa


c
Wn
n sin n cos n
T
N
Ne
5
6
7
8
9
10
11
12
30.6 304.44 52 0.788
0.616
239.901 187.431
35.985
30.6 593.44 34 0.559
0.829
331.847 491.983
49.777
30.6 755.29 19 0.326
0.946
245.897 714.137
36.885
30.6 674.36 5
0.087
0.996
58.775
671.796
8.816
30.6 485.54 8
0.139
0.990
67.574
480.816
10.136
30.6 188.82 22 0.375
0.927
70.734
175.072
10.610
Jumlah
1014.727 2721.236 152.209

tan
13
0.5
0.5
0.8
0.8
0.8
0.8

(N - Ne)
Te
14
15
75.723
28.115
221.103 73.797
541.802 107.121
530.384 100.769
376.544 72.122
131.570 26.261
1877.126 408.185

b/cos
16
7.959
5.910
5.182
4.919
4.948
5.285
34.203

Sumber: Perhitungan
Keterangan:
1 Dari gambar
2 Dari gambar
3 Dari gambar
C

C1

Fs

= 0,0306 ton/m3

Dari
7 gambar
8 sin (7)
9 cos (7)

4 Data
5 Data
6 (2)*(3)*(4)

= 0,256

= 1,319

10 (6)*(8)
11 (6)*(9)
12 0.15*(10)

13 Data
16 (2)/(9)
14 ((11)-(12))*(13)
15 0.15*(11)

Tabel 4.20 Perhitungan Stabilitas Kondisi Penuh Gempa


Irisan

Wn

sin n

cos n

Ne

tan

(N - U - Ne)

Te

10

11

12

13

14

15

16

b/cos

17

1
2
3
4
5

4.9
4.9
4.9
4.9
4.9

3.932
6.6
8.4
7.5
5.4

15.8
18.4
18.4
18.4
18.4

30.6
30.6
30.6
30.6
30.6

304.44
593.44
755.29
674.36
485.54

52
34
19
5
8

0.788
0.559
0.326
0.087
0.139

0.616
0.829
0.946
0.996
0.990

239.901
331.847
245.897
58.775
67.574

187.431
491.983
714.137
671.796
480.816

35.985
49.777
36.885
8.816
10.136

31.297
0
0
0
0

0.5
0.5
0.8
0.8
0.8

60.075
221.103
541.802
530.384
376.544

28.115
73.797
107.121
100.769
72.122

7.959
5.910
5.182
4.919
4.948

4.9

2.1

18.4

30.6

188.82

22

0.375

0.927

70.734

175.072

10.610

0.8

131.570

26.261

5.285

1014.727 2721.236

152.209

31.297

1861.477

408.185

34.203

Jumlah
Sumber: Perhitungan
Keterangan:
1 Dari gambar
2 Dari gambar
3 Dari gambar

C1

Fs

4 Data
5 Data
6 (2)*(3)*(4)

= 0,0306 ton/m3

7 Dari gambar
8 sin (7)
9 cos (7)

= 0,128

= 1,308

10 (6)*(8)
11 (6)*(9)
12 0.15*(10)

13 1*(3)*(17)
14 Data
15 ((11)-(12)-(13))*(14)

16 0,15*(11)
17 (2)/(9)

Tabel 4.21 Perhitungan Stabilitas Kondisi Rapid Draw Down


sin
cos
n
n
n
T
N
Ne
U
tan (N - U - Ne)
Te
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
52 0.788 0.616 239.898
187.534
35.985 31.280 0.5
28.130
60.135
0
34 0.559 0.829 331.732
491.961
49.760
0.5
73.794
221.101
19 0.325 0.945 245.468
713.745
36.820
0
0.8
541.540
107.062
5 0.087 0.996
58.670
671.665
8.800
0
0.8
530.292
100.750
8 0.139 0.99
67.490
480.686
10.124
0
0.8
376.450
72.103
22 0.375 0.927
70.808
175.038
10.621
0
0.8
131.533
26.256
1014.066 2720.629 152.110 31.280
1861.050
408.094

b
h

c
Wn
2
3
4
5
6
4.9 3.932 15.8 30.6 304.44
4.9 6.6 18.4 30.6 593.44
4.9 8.4 18.4 30.6 755.29
4.9 7.5 18.4 30.6 674.36
4.9 5.4 18.4 30.6 485.54
4.9 2.1 18.4 30.6 188.82
Jumlah
Sumber: Perhitungan
Keterangan:
1 Dari gambar
4 Data
2 Dari gambar
5 Data
3 Dari gambar
6 (2)*(3)*(4)
Irisan
1
1
2
3
4
5
6

C1

Fs

= 0,0306 ton/m3

7 Dari gambar
8 sin (7)
9 cos (7)

= 0,256

= 1,309

10 (6)*(8)
11 (6)*(9)
12 0.15*(10)

13 1*(3)*(17)
14 Data
15 ((11)-(12)-(13))*(14)

b/cos
17
7.955
5.911
5.185
4.920
4.949
5.286
34.206

16 0,15*(11)
17 (2)/(9)

4.4.3 Stabilitas terhadap aliran filtrasi


Tubuh embung dan pondasi harus mampu menahan gaya yang ditimbulkan oleh
air yang lewat melalui celah-celah antar butiran tanah pembentuk tubuh embung
dan pondasi. Kapasitas aliran filtrasi diperkirakan menurut jaringan trayektori
aliran filtrasi dengan rumus (Suyono Sosrodarsono) :
Qf

Nf
.k .H .B
Np

dengan :
Qf

= kapasitas aliran filtrasi (m3/det)

Nf

= jumlah garis trayektori aliran filtrasi

Np

= jumlah garis ekuipotensial

= koefisien filtrasi (m/det)

= tinggi tekanan air total (m)

= panjang tubuh embung (m).

Gambar 4.7 Jaringan Trayektori Coffer Dam


skala 1 : 200

Nf = 3 dan Np =8
K = 3,29 . 10-9 m/det

3
Qf .3,29.10 9.12.204 3,02.10 6 m 3 / det
8

Gambar 4.8. Aliran Filtrasi pada Pondasi Coffer Dam


skala 1 : 200

Debit rembesan yang melalui pondasi di bawah tubuh embung dihitung


dengan rumus :
Qfpond

= k.H.(T/(B+T))

Dengan :
K = koefisien permeabilitas
T = Tebal lapisan pondasi
B = lebar dasar kedap air
H = beda tinggi tekanan air
Qfpond = 3,29 . 10-9.12.( 1,1/(41,6+1,1))
= 1,02. 10-9 m3/det