Anda di halaman 1dari 11

HTKB-793 Perencanaan Jalan & Lalu Lintas Tambang

Aspek Keselamatan
TUGAS MATA KULIAH
PERENCANAAN JALAN DAN LALU LINTAS TAMBANG
HTKB-793







DIBUAT OLEH:
RAHMAT RIZALI
H1C111060





PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2014







HTKB-793 Perencanaan Jalan & Lalu Lintas Tambang
Aspek Keselamatan
BAB I
PENDAHULUAN
Keselamatan lalu lintas menjadi tema sentral yang makin penting di tengah masih banyaknya
kejadian kecelakaan lalu lintas di Indonesia. Kecelakaan mengakibatkan kerugian tidak saja bagi
korban, namun juga bagi keluarga korban, lebih lebih jika korban adalah satu satunya penanggung
ekonomi keluarga.
Menurut Peraturan Pemerintah No. 43 tahun 1993 tentang prasarana dan lalu lintas jalan
mengartikan kecelakaan lalu lintas adalah suatu peristiwa di jalan yang tidak disangka-sangka dan
tidak sengaja melibatkan kendaraan dengan atau tanpa pemakai jalan lainnya, mengakibatkan korban
manusia atau kerugian harta benda.
Dalam melakukan perencanaan lalu lintas tambang juga harus memperhatikan aspek
keselamatan, karena keselamatan harus menjadi prioritas di atas kerja. Percuma melakukan pekerjaan
jika tidak mementingkan keselamatan. Nyawa tidak ternilai harganya oleh sebab itu pentingnya aspek
keselamatan dalam perencanaan lalu lintas tambang.

















HTKB-793 Perencanaan Jalan & Lalu Lintas Tambang
Aspek Keselamatan
BAB II
DASAR TEORI
Aspek-aspek teknis yang telah diuraikan sebelumnya, di samping diarahkan untuk meraih umur
layanan jalan sesuai yang direncanakan, juga harus memenuhi persyaratan keselamatan, keamanan dan
kenyamanan pengemudi. Beberapa aspek keselamatan sepanjang jalan angkut yang akan diuraikan
meliputi (1) jarak pandang yang aman, (2) rambu-rambu pada jalan angkut, (3) lampu penerangan, dan
(4) jalur pengelak untuk menghindari kecelakaan.
2.1. Jarak Pandang yang Aman
Jarak pandang yang aman (safe sight distance) diperlukan oleh pengemudi (operator) untuk
melihat ke depan secara bebas pada suatu tikungan. Jika pengemudi melihat suatu penghalang
yang membahayakan, pengemudi dapat melakukan antisipasi untuk menghindari bahaya tersebut
dengan aman. Jarak pandang minimum sama dengan sama dengan jarak berhenti. Jarak pandang
terdiri dari (1) Jarak Pandang Henti (Jh) dan (2) Jarak Pandang Mendahului (Jd). Jarak Pandang
Henti adalah jarak minimum yang diperlukan oleh setiap pengemudi untuk menghentikan
kendaraannya dengan aman begitu melihat adanya halangan di depan. Ketinggian mata
pengemudi berkisar antara 4,00 4,90 m, sedangkan tinggi penghalang yang dapat menimbulkan
kecelakaan berkisar antara 0,15 0,20 m diukur dari permukaan jalan. Jarak Pandang Henti
berkaitan erat dengan kecepatan laju kendaraan, gesekan ban dengan jalan, waktu tanggap dan
gravitasi dan dapat diformulasikan sebagai berikut:


Keterangan:
VR = kecepatan rencana, km/jam
T = waktu tanggap, ditetapkan 2,50 detik
fp = koefisien gesek memanjang antara ban dengan perkerasan jalan, menurut AASHTO =
0,28 0,45; menurut Bina Marga = 0,35 0,55
L = kemiringan jalan, %



HTKB-793 Perencanaan Jalan & Lalu Lintas Tambang
Aspek Keselamatan
Tabel 1. Jarak Pandang Henti (Jh) Minimum

1. Jarak Pandang Lengkung Horizontal
Jarak pandang pengemudi pada lengkung horizontal (di tikungan) adalah pandangan bebas
pengemudi dari halangan benda-benda di sisi jalan (daerah bebas samping). Daerah bebas
samping adalah ruang untuk menjamin kebebasan pandang di tikungan sehingga Jh terpenuhi.
Dengan demikian, daerah bebas samping dimaksudkan untuk memberikan kemudahan
pandangan di tikungan dengan membebaskan objek-objek penghalang sejauh E meter diukur
dari garis tengah lajur dalam sampai objek penghalang pandangan (lihat Gambar 1 dan 2).
Daerah bebas samping dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Jika Jh < Lt :

Jika Jh > Lt :

Keterangan :
R = jari-jari tikungan, m
R = jari-jari sumbu lajur dalam, m
Jh = jarak pandang henti, m
Lt = panjang tikungan, m

Gambar 1. Daerah Bebas Samping Tikungan (untuk Jh < Lt)
HTKB-793 Perencanaan Jalan & Lalu Lintas Tambang
Aspek Keselamatan

Gambar 2. Daerah Samping Tikungan (untuk Jh > Lt)
2. Jarak Pandang Lengkung Vertikal
Lengkung vertikal direncanakan untuk mengubah secara bertahap perubahan daru dua
macam kemiringan arah memanjang jalanpada setiap lokasi yang diperlukan. Hal ini
dimaksudkan untuk menyediakan Jarak Pandang Henti yang cukup demi keamanan dan
kenyamanan. Lengkung vertikal terdiri dari dua jenis, yaitu (1) Lengkung Cembung dan (2)
Lengkung Cekung.
Lengkung Cembung
Sketsa lengkung vertikal cembung dapat diilihat pada Gambar 3. Sementara pada
Tabel 2., diperlihatkan ketentuan tinggi untuk lengkung cembung menurut Bina Marga
(1997).
Tabel 2. Ketentuan Tinggi Untuk Jarak Pandang


Gambar 3. Sketsa Lengkung Vertikal Cembung



HTKB-793 Perencanaan Jalan & Lalu Lintas Tambang
Aspek Keselamatan
(1) Jika Jh < L :

(2) Jika Jh > L :

Keterangan :
L = panjang lengkung parabola, m
A = perbedaan kemiringan dua titik pengamatan, m
Jh = jarak pandang henti, m
Lengkung Vertikal Cekung
Tidak ada dasar yang dapat digunakan untuk menentukan panjang lengkung cekung
vertikal ( L ), akan tetapi ada empat kriteria sebagai pertimbangan yang dapat digunakan,
yaitu:
(1) Jarak sinar lampu besar kendaraan (Gambar 4a dan 4b)
(2) Kenyamanan pengemudi
(3) Ketentuan drainase
(4) Penampilan secara umum

Gambar 4. Sketsa Lengkung Vertikal Cekung
Untuk memperhitungkan jarak berhenti dari kendaraan yang sedang bergerak dan
secara tiba-tiba dihentikan dapat digunakan grafik pada Gambar 5.
HTKB-793 Perencanaan Jalan & Lalu Lintas Tambang
Aspek Keselamatan

Gambar 5. Kecepatan VS Jarak Berhenti pada Variasi Kemiringan
2.2. Rambu-Rambu pada Jalan Angkut
Untuk lebih menjamin menjamin keamanan sehubungan dengan di-operasikannya suatu
jalan angkut, maka perlu kiranya dipasang rambu-rambu sepanjang jalan angkut tersebut terutama
pada tempat-tempat yang berbahaya. Rambu-rambu dipasang untuk keselamatan:
(1) Pengemudi dan kendaraan itu sendiri;
(2) Binatang yang ada di sekitar jalan angkut;
(3) Masyarakat setempat yang biasa menggunakan jalan tambang;
(4) Kendaraan lain yang mungkin lewat pada jalan tersebut;
(5) Tanda adanya perempatan, pertigaan, persilangan dengan jalan umum, misalnya rel keret api,
dsb.
2.3. Lampu Penerangan
Lampu penerangan perlu dipasang apabila jalan angkut akan digunakan pada malam hari.
Pemasangan bisa dilakukan berdasarkan jarak maupun tingkat bahayanya. Lampu-lampu tersebut
dipasang antara lain pada:
(1) Tikungan (belokan),
(2) Perempatan atau pertigaan jalan,
(3) Jembatan,
(4) Tanjakan maupun turunan yang cukup tajam.
2.4. Jalur Pengelak untuk Menghindari Kecelakaan
Untuk menghindari kecelakaan yang mungkin terjadi karena kendaraan slip, rem blong atau
sebab lain, maka pada jalur angkut perlu dibuat jalur pengelak (runaway precaution). Ditinjau dari
daerah datar sepanjang jalur memanjang yang tersedia, terdapat dua cara membuat jalur pengelak.
Untuk daerah yang sempit, misalnya jalan dibuat antara tebing dan jurang, maka dibuat lajur
HTKB-793 Perencanaan Jalan & Lalu Lintas Tambang
Aspek Keselamatan
khusus untuk mengelakkan kendaraan seperti terlihat pada Gambar 6. Sedangkan Gambar 7
adalah bentuk jalur pengelak untuk daerah yang luas.

Gambar 6. Jalur Pengelak Untuk Daerah yang Sempit

Gambar 7. Jalur Pengelak Untuk Daerah yang Sempit















HTKB-793 Perencanaan Jalan & Lalu Lintas Tambang
Aspek Keselamatan
BAB III
PEMBAHASAN
3.1. Jarak Pandang yang Aman
Jarak pandang mempengaruhi dalam aspek keselamatan karena jarak pandang merupakan
kemampuan panca indra mata untuk dapat melihat keadaan jalan yang memungkin untuk dilewati
Apakah aman atau tidak.
3.2. Rambu-Rambu pada Jalan Angkut
Rambu-rambu lalu lintas juga sangat penting dalam lalu lintas tambang, karena jika tidak
ada rambu maka arus lalu lintas tersebut tidak akan beraturan dan dapat mengakibat tabrakan
antara Alat Angkut, sehingga harus ada rambu yang mengatur lalu lintas.
3.3. Lampu Penerangan
Lampu penerangan merupan aspek yang penting dalam keselamatan terutama pada malam
hari, karena membantu penerangan pencahayaan dari alat angkut dan alat berat lainnya sehingga
dapat dilihat dari jarak jauh.
3.3. Jalur Pengelak untuk Menghindari Kecelakaan
Adanya jalan lain untuk menghindari kecelakan juga diperlukan karena bisa menghindari
kemacetan alat angkut serta ruang untuk menghindari jika terjadi kecelakaan di depan mata. Serta
jalan bantu untuk mengeavaluasi korban kecelakaan.














HTKB-793 Perencanaan Jalan & Lalu Lintas Tambang
Aspek Keselamatan
BAB IV
PENUTUP
perhitungan untuk merancang jalan tambang tetap memperhatikan aspek keselamatan kerja
pengangkutan, yaitu dengan memasang rambu-rambu dan jalur pengelak. Rambu-rambu lalulintas di
jalan umum sebagian dapat diterapkan di sepanjang jalan tambang, namun ada pula rambu-rambu yang
bersifat khas lokasi tambang, misalnya Dahulukan Alat-alat Berat , Keep Right (Jalan disebelah
kanan), Gunakan Retarder, atau rambu lain yang disesuaikan dengan situasi tambang setempat.

























HTKB-793 Perencanaan Jalan & Lalu Lintas Tambang
Aspek Keselamatan
DAFTAR PUSTAKA
Suwandi, Awang. 2004. Diklat Perencanaan Jalan. Unisba.