Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Pengertian imunisasi adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu
penyakit dengan memasukkan sesuatu ke dalam tubuh agar tubuh tahan meningkat.
Imunisasi dasar adalah imunisasi wajib yang sesuai Program
Pengembangan Imunisasi (PPI) yang terdiri dari BCG untuk mencegah penyakit
tuberkulosis, P! untuk mencegah penyakit i"teri, Pertusis dan !etanus,
imunisasi campak untuk mencegah penyakit campak, imunisasi polio untuk
mencegah penyakit polio, dan #epatitis B untuk mencegah penyakit #epatitis B. i
Indonesia bayi yang baru lahir diwajibkan untuk memenhui rangkaian imunisasi
yang disebut dengan$%ima Imunisasi asar %engkap$.
Pada &' (anuari &))*, serentak di seluruh wilayah +I (akarta,
bertepatan dengan program Gebyar Posyandu +I, inas +esehatan +I
memberikan untuk pertama kalinya serti"ikat imunisasi asar %engkap bagi bayi
berusia di bawah , tahun. -erti"ikat imunisasi merupakan serti"ikat yang diberikan
kepada bayi yang telah selesai mendapatkan seri pemberian .aksin imunisasi dasar
bagi bayi. -erti"ikat imunisasi lengkap dapat diminta di puskesmas atau posyandu
terdekat.
i Puskesmas +ecamatan /ampang masih didapatkannya bayi yang telah
menyelesaikan imunisasi dasar wajib tetapi belum memiliki serti"ikat imunisasi.
/aka dari itu dilakukan penelitian untuk mengetahui status sosial pada ibu yang
mempengaruhi didapatnya serti"ikat imunisasi.

1.2 RUMUSAN MASALAH
,. 0pakah ada hubungan antara usia ibu dengan serti"ikasi kelengkapan
imunisasi 1
1
&. 0pakah ada hubungan antara jumlah anak yang dimiliki dengan serti"ikasi
kelengkapan imunisasi 1
2. 0pakah ada hubungan antara pendidikan ibu dengan serti"ikasi kelengkapan
imunisasi 1
3. 0pakah ada hubungan antara penghasilan ibu dengan serti"ikasi kelengkapan
imunisasi 1
1.3 TUJUAN PENELITIAN
1.3.1 Tujuan Umum
/eningkatkan jumlah bayi yang memiliki serti"ikasi kelengkapan imunisasi
1.3.2 Tujuan Khusus
,. /engetahui adanya hubungan antara usia ibu dengan serti"ikasi kelengkapan
imunisasi.
&. /engetahui adanya hubungan antara jumlah anak yang dimiliki dengan
serti"ikasi kelengkapan imunisasi.
2. /engetahui adanya hubungan antara pendidikan ibu dengan serti"ikasi
kelengkapan imunisasi.
3. /engetahui adanya hubungan penghasilan ibu dengan serti"ikasi
kelengkapan imunisasi.
1.4 HIPOTESIS
,. -emakin rendah usia ibu semakin rendah tingkat serti"ikasi imunisasi.
&. -emakin banyak jumlah anak yang dimiliki semakin rendah tingkat
serti"ikasi imunisasi.
2. -emakin rendah pendidikan ibu semakin rendah tingkat serti"ikasi imunisasi.
3. -emakin rendah penghasilan ibu semakin rendah tingkat serti"ikasi
imunisasi.
1. MAN!AAT PENELITIAN
Bagi Instalasi4pro"esi +esehatan
Bagi instansi terkait disini adalah Puskesmas untuk mengetahui gambaran
status sosial ibu dengan serti"ikasi imunisasi dasar sehingga dapat
meningkatkan jumlah anak yang mendapatkan imunisasi dasar.

Bagi Pengembangan Penelitian
5ntuk mengetahui gambaran status sosial ibu dengan serti"ikasi imunisasi
dasar dan mendapatkan pengalaman yang nyata dalam melakukan penelitian
2
dibidang kesehatan masyarakat dan kedokteran komunitas yang
berhubungan dengan imunisasi.
Bagi /asyarakat
alam jangka pendek diharapkan orang tua mendapatkan edukasi mengenai
pentingnya imunisasi dasar dan jangka panjang menurunkan morbiditas dan
mortlitas anak.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 IMUNISASI
2.1.1 D"#$n$s$ Imun$sas$
Imunisasi adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan
memasukkan sesuatu ke dalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang
sedang mewabah atau berbahaya bagi seseorang. Imunisasi berasal dari kata imun
yang berarti kebal atau resisten. Imunisasi terhadap suatu penyakit hanya akan
memberikan kekebalan atau resistensi pada penyakit itu saja, sehingga untuk
terhindar dari penyakit lain diperlukan imunisasi lainnya.
3
Imunisasi dasar adalah pemberian imunisasi awal untuk mencapai kadar
kekebalan di atas ambang perlindungan. -edangkan yang dimaksud dengan
imunisasi lanjutan ialah imunisasi ulangan (booster) untuk mempertahankan tingkat
kekebalan di atas ambang perlindungan atau untuk memperpanjang masa
perlindungan. (+/+)
2.1.2 S"ja%ah Imun$sas$
5paya imunisasi diselenggarakan di Indonesia sejak tahun ,*67. 5paya
ini merupakan upaya kesehatan masyarakat yang terbukti paling cost effective.
engan upaya imunisasi terbukti bahwa penyakit cacar telah terbasmi dan
Indonesia dinyatakan bebas dari penyakit cacar sejak tahun ,*'3. /ulai tahun
,*'', upaya imunisasi diperluas menjadi Program Pengembangan Imunisasi
dalam rangka pencegahan penularan terhadap Penyakit yang apat icegah
engan Imunisasi (P2I) yaitu tuberkulosis, di"teri, pertusis, tetanus, campak,
polio, serta hepatitis B. (+/+ &))3).
engan 5paya imunisasi pula, Indonesia sudah dapat menekan penyakit
polio dan sejak tahun ,**6 tidak ditemukan lagi .irus polio liar di Indonesia.
#al ini sejalan dengan upaya global untuk membasmi polio di dunia denga
Program 8radikasi Polio (890P:).
!ahun ,*'' ditetapkan sebagai "ase persiapan Pengembangan Program
Imunisasi (PPI), kemudian pada tahun ,*;) program imunisasi secara rutin terus
dikembangkan dengan memberikan beberapa antigen, yaitu BCG, P!, Polio
dan Campak. /ulai tahun ,**& diperkenalkan imunisasi #epatitis B di beberapa
kabupaten di beberapa pro.insi dan mulai tahun ,**' imunisasi #epatitis B
dilaksanakan secara nasional. -ampai saat ini program imunisasi di Indonesia
secara rutin memberikan antigen BCG, P!, Polio, Campak, dan hepatitis B.
Imunisasi dasar adalah imunisasi wajib yang sesuai Program
Pengembangan Imunisasi (PPI) yang terdiri dari BCG untuk mencegah penyakit
tuberkulosis, P! untuk mencegah penyakit i"teri, Pertusis dan !etanus,
imunisasi campak untuk mencegah penyakit campak, imunisasi polio untuk
mencegah penyakit polio, dan #epatitis B untuk mencegah penyakit #epatitis B.
Pada <o.ember ,**) Indonesia telah mendeklarasikan tercapainya
Universal Child Immunization (5CI) secara nasional. -ecara operasional 5CI
4
dijabarkan sebagai tercapainya cakupan imunisasi dasar lengkap = ;)> ( , dosis
BCG, 2 P!, 2 dosis polio, , dosis campak, dan 2 dosis hepatitis B) sebelum
anak berusia , tahun. (Pedoman operasional program imunisasi)
+egiatan imunisasi ini merupakan salah satu kegiatan prioritas
+ementrian +esehatan sebagai salah satu bentuk nyata komitmen pemerintah
untuk mencapai Milenium Development Goals (/Gs) khususnya untuk
menurunkan angka kematian pada anak. Indonesia telah menetapkan targe t pada
tahun &),) (,))>) seluruh desa atau kelurahan sudah mencapai 5CI, artinya
setiap desa atau kelurahan ;)> bayi telah mendapatkan imunisasi dasar lengkap.
Berdasarkan monitoring yang dilakukan pada tahun &))' didapatkan bahwa
kegiatan imunisasi rutin pada bayi berumur dibawah satu tahun beberapa tahun
terakhir kurang memuaskan, sehingga diprediksikan target 5CI pada tahun &),)
sulit untuk tercapai. /enyadari hal tersebut kabinet Indonesia Bersatu II
menetapkan kembali melalui 9P(/< dan 9enstra +emenkes &),)?&),3 bahwa
target 5CI desa4kelurahan ,))> akan dicapai pada tahun &),3.
alam upaya tersebut maka menetapkan kebijakan upaya percepatan yang
dikenal dengan G0I< 5CI (Gerakan 0kselerasi Imunisasi <asional untuk
mencapai 5CI) &),)?&),3. (P@ G0I< 5CI &),)?&),3)
2.1.3 Tujuan Imun$sas$
!ujuan dari diberikannya imunisasi adalah untuk mengurangi angka
kesakitan, kecacatan, dan kematian bayi akibat Penyakit yang apat icegah
engan Imunisasi (P2I). (+/+ &))3)
2.1.4 Man#aa& Imun$sas$
Bayi dan anak yang mendapat imunisasi dasar lengkap akan terlindung
dari beberapa penyakit berbahaya dan akan mencegah penularan ke anak?
anak disekitarnya. Imunisasi akan meningkatkan kekebalan tubuh bayi dan
anak sehingga mampu melawan penyakit yang dapat dicegah dengan .aksin
tersebut. 0nak yang telah diimunisasi bila terin"eksi oleh kuman tersebut
maka tidak akan menularkan ke anak?anak disekitarnya. (adi, imunisasi
selain berman"aat untuk diri sendiri juga berman"aat untuk mencegah
penyebaran anak?anak lain disekitarnya (r. -oedjatmiko, -p0(+), /-i,
&))*).
5
2.1. J"n$s 'a(s$n
Pada dasarnya .aksin dapat dibagi menjadi & jenis, yaitu
Live attenuated (kuman atau .irus hidup yang dilemahkan).
Inactivated (kuman, .irus atau komponennya yang dibuat tidak akti").
-i"at .aksin attenuated dan inactivated berbeda sehingga hal ini
menentukan bagaimana .aksin ini digunakan.
Aaksin hidup attenuated merupakan mikroorganisme yang masih memiliki
kemampuan untuk tumbuh menjadi banyak (replikasi) dan menimbulkan
kekebalan tetapi tidak menyebabkan penyakit. Airus4bakteri liar ini dilemahkan
di laboratorium, biasanya dengan pembiakan berulang ulang. 0gar dapat
menmbulkan respon imun, .aksin hidup attenuated harus berkembang biak
(replikasi) di dalam tubuh resipien. Balaupun .aksin ini dapat menimbulkan
penyakit, namun umumnya ringan dibandingkan dengan penyakit alamiah dan
itu dianggap sebagai kejadian ikutan (adverse event). 9espon imun terhadap
.aksin hidup attenuated umumnya sama dengan yang diakibatkan oleh in"eksi
alamiah. Aaksin hidup attenuated umumnya bersi"at labil dan dapat mengalami
kerusakan apabila terkena panas atau sinar, maka harus dilakukan penyimpanan
dan pengelolaan secara hati?hati.
Aaksin hidup attenuated yang tersediaC
? Berasal dari .irus hidupC .aksin campak, gondongan (parotitis), rubella,
polio, rota.irus, demam kuning (yellow fever).
? Berasal dari bakteriC .aksin BCG dan demam ti"oid oral.
Aaksin inactivated dapat terdiri atas seluruh tubuh .irus atau bakteri, atau
komponen ("raksi) dari kedua organisme tersebut. Aaksin komponen tersebut
berbasis polisakarida atau protein. Aaksin ini tidak tumbuh dan tidak hidup,
maka seluruh dosis antigen dimasukkan dalam suntikan. Aaksin ini tidak
menyebabkan penyakit walaupun pada orang dengan de"isiensi imun. !idak
seperti antigen hidup, antigen inactivated umumnya tidak dipengaruhi oleh
antibodi yang beredar. Aaksin inactivated selalu membutuhkan dosis multipel.
Pada umumnya, dosis pertama tidak menghasilkan imunitas protekti", tetapi
hanya memacu atau menyiapkan sistem imun.
Aaksin inactivated yang tersediaC
? Berasal dari .irusC .aksin in"luenDa, polio injeksi, rabies, hepatitis 0.
? Berasal dari bakteriC pertusis, ti"oid, kolera, lepra.
6
? Aaksin "raksional yang masuk subunitC hepatitis B, in"luenDa, pertusis a?
seluler, lyme disease
? !oksoidC di"teri, tetanus, botulinum.
2.1.) P%*+%am P"n+"m,an+an Imun$sas$ -PPI.
epartemen kesehatan 9I telah mencanangkan Program Pengembangan
Imunisasi (PPI) secara resmi pada tahun ,**' yang menganjurkan agar semua
anak diimunisasi BCG, P!, polio, campak. Pada tahun ,**,?,**& epartemen
+esehatan 9I mulai mengembangkan program imunisasi hepatitis B dengan
mengintegrasikan ke dalam program imunisasi rutin yang telah ada di empat
propinsi yang terus dikembangkan ke propinsi lainnya dan akhirnya pada tahun
,**'4,**; imunisasi hepatitis B telah dapat menjangkau seluruh bayi di
Indonesia.
PPI merupakan program pemerintah dalam bidang imunisasi guna mencapai
komitmen internasional yaitu Universal Child Immunization (5CI). Program
imunisasi melalui PPI , mempunyai tujuan akhir sesuai dengan komitmen
internasional, yaitu
? 8radikasi poloio (890P:),
? 8liminasi tetanus maternal dan neonatal (maternal and neonatal tetanus
elimination E /<!8),
? 9eduksi campak (98C0/),
? Peningkatan mutu pelayanan imunisasi,
? /enetapkan standar pemberian suntikan yang aman (safe injection
practices),
? +eamanan pengolahan limbah tajam (safe waste disproposal w)
!arget 5CI yang berarti cakupan imunisasi untuk BCG, P!, polio,
campak, dan hepatitis B harus mencapai ;)> baik di tingkat nasional, propinsi,
dan kabupaten bahkan setiap desa. -eluruh propinsi (*'> dari 2)& kabupaten) di
Indonesia telah mencapai target 5CI. Aaksin BCG, P!, Polio, Campak dan
#epatitis B dalam program imunisasi dasar tersedia di Posyandu, Puskesmas dan
sarana kesehatan lainnya. Aaksin?.aksin tersebut diberikan secara gratis.
2.1./ Imun$sas$ 0aj$, -PPI.
Imunisasi yang diwajibkan meliputi BCG, hepatitis B, P!, polio, dan campak.
a. B1G
7
Imunisasi BCG diberikan sebelum usia 2 bulan. <amun untuk mencapai
cakupan yang lebih luas epartemen +esehatan menganjurkan pemberian
imunisasi BCG antara umur )?,& bulan.
Imunisasi BCG diberikan dengan dosis ),)6 ml untuk bayi kurang dari ,
tahun dan ),, ml untuk anak yang berusia lebih dari , tahun. Aaksin BCG
diberikan secara intrakutan di daerah lengan kanan atas pada insersio M.
deltoideus sesuai dengan anjuran B#: sebagai tanda baku untuk keperluan
diagnosis apabila diperlukan.
Aaksin BCG tidak dapat mencegah in"eksi tuberkulosis, namun dapat
mencegah komplikasi yang berat dari penyakit tuberkulosis seperti
meningitis !B. Aaksin BCG merupakan .aksin hidup sehingga tidak
diberikan pada pasien imunokompromais seperti pasien leukemia, #IA, dan
sebagainya. 0pabila BCG diberikan pada usia lebih dari 2 bulan maka
sebaiknya dilakukan uji tuberculin terlebih dahulu, .aksin diberikan apabila
uji tuberkulin negati".
+ontraindikasi BCGC
? 9eaksi uji tuberkulin F 6 mm,
? /enderita in"eksi #IA atau dengan risiko tinggi in"eksi #IA, menderita
imunokompromais akibat penggunaan kortikosteroid, obat
imunosupresi",
? GiDi buruk,
? emam tinggi,
? In"eksi kulit luas,
? +ehamilan.
+ejadian ikutan pasca imunisasi BCGC
? %im"adenitis supurati" di aksila atau di leher kadang dijumpai, hal ini
tergantung usia anak, dosis, dan galur (strain) yang dipakai. %im"adenitis
akan sembuh sendiri tanpa pengobatan.
? BCG?itis diseminasi jarang terjadi dan biasanya berhubungan dengan
imunode"isiensi berat.
,. H"2a&$&$s B
8
Aaksin hepatitis B harus segera diberikan setelah lahir, mengingat .aksin
hepatitis B merupakan upaya pencegahan yag e"ekti" untuk memutuskan
rantai penularan melalui transmisi maternal dari ibu kepada bayinya.
(adwal imunisasi hepatitis B
? Imunisasi hepatitis B?, diberikan sedini mungkin (dalam waktu ,& jam)
setelah lahir
? Imunisasi hepatitis B?& diberikan setelah satu bulan (3 minggu) dari
imunisasi hepatitis B ?,. 5ntuk mendapat respon imun yang optimal, inter.al
imunisasi hepatitis B?& dengan hepatitis B?2 minimal & bulan, terbaik 6
bulan. /aka imunisasi hepatitis B?2 diberikan pada usia 2?7 bulan.
? (adwal dan dosis hepatitis B?, saat bayi lahir ditentukan berdasarkan
status #Bs0g ibu saat melahirkan, yaituC
,. Bayi yang lahir dari ibu dengan #Bs0g yang tidak diketahui, maka
hepatitis B?, diberikan dalam waktu ,& jam setelah lahir, dan
dilanjutkan pada umur , bulan dan 2?7 bulan. 0pabila semula status
#Bs0g ibu tidak diketahui dan ternyata dalam perjalanan dikethui
bahwa ibu #Bs0g posti" makaditambahkan hepatitis B immunoglobulin
(#BIg) ),6 ml sebelum bayi berusia ' hari.
&. Bayi yang lahir dari ibu dengan status #Bs0g posti", diberikan .aksin
hepatitis B?, dan #BIg ),6 ml secara bersamaan dalam waktu ,& jam
setelah lahir.
3. DTP
-aat ini telah ada .aksin !aP (!P dengan komponen acelluler
pertussis) di samping .aksin !wP (!P dengan komponen whole cell
pertussis) yang telah dipakai selama ini. +edua .aksin !P tersebut dapat
dipergunakan secara bersama dalam jadwal imunisasi
Imunisasi !P primer diberikan 2 kali sejak usia & bulan dengan inter.al
3?; minggu. Inter.al terbaik diberikan ; minggu, jadi !P?, diberikan pada
usia & bulan, !P?& pada usia 3 bulan, dan !P?2 diberikan pada usia 7
bulan. 5langan4 booster !P?2 diberikan satu tahun setelah !P?2 yaitu
pada usia ,;?&3 bulan dan !P?6 diberikan pada saat masuk sekolah usia 6
tahun. 5langan !?7 diberikan lagi pada usia ,& tahun, mengingat masih
dijumpai kasus di"teria pada usia lebih dari ,) tahun.
9
osis .aksinasi !wP atau !aP atau ! adalah ),6 ml intramuskular,
baik untuk imunisasi dasar ataupun ulangan.
+ontraindikasi imunisasi !PC
? 9iwayat ana"ilaksis pada pemberian sebelumnya
? 8nse"alopati sesudah pemberian .aksin pertusis sebelumnya
? +eadaan lain yang dapat dinyatakan sebagai perhatian khusus, misalnya
pada pemberian pertama terdapat riwayat hiperpireksia, anak menangis
terus selama 2 jam dan riwayat kejang dalam 2 hari setelah imunisasi
!P.
+ejadian ikutan pasca imunisasiC
? 9eaksi lokal kemerahan, bengkak, dan nyeri pada lokasi suntikan
? emam ringan sampai hiperpireksia
? 0nak gelisah dan menangis terus beberapa jam setelah imunisasi
? +ejang demam
? 8nse"alopati akut atau reaksi ana"ilaksis merupakan kejadian ikutan yang
paling serius yang pernah dilaporkan.
4. P*5$*
!erdapat & kemasan .aksin polio yang berisi .irus polio ,, &, dan 2. Gaitu
:PA (oral polio vaccine), merupkan .aksin hidup yang dilemahkan,
diberikan secara oral dan IPA (inactivated polio vaccine) yang merupakan
.aksin inakti" yang diberikan melalui suntikan. Aaksin IPA dapat diberikan
pada anak sehat maupun anak yang menderita imunokompromais.
(adwal imunisasi polioC
? Polio?) diberikan saat bayi lahir sesuai pedoman PPI untuk mendapatkan
cakupan imunisasi yang tinggi. /engingat :PA berisi .irus polio hidup,
maka diberikan saat bayi meninggalkan rumah sakit agar tidak mencemari
bayi lain karena .aksin dapat diekskresi melalui tinja. 5ntuk keperluan ini
IPA dapat dijadikan alternati".
? 5ntuk imunisasi dasar (polio? &, 2, 3) diberikan pada usia &, 3 ,dan 7
bulan, dengan inter.al antara dua imunisasi tidak kurang dari 3 minggu.
? Imunisasi ulangan polio diberikan , tahun sejak imunisasi polio ?3,
selanjutnya saat masuk sekolah usia 6?7 tahun.
osis :PA diberikan & tetes per?oral, sedangkan IPA ),6 ml
intramuskular.
alam rangka eradikasi polio (890P:) masih diperlukan PI< (Pekan
Imunisasi <asional) yang dianjurkan epartemen +esehatan. Pada PI<
10
semua balita harus mendapat imunisasi :PA tanpa memandang status
imunisasinya untuk memperkuat kekebalan di mukosa saluran cerna dan
memutuskan transmisi polio liar.
+ontraindikasi imunisasi polioC
? Penyakit akut atau demam suhu F 2;,6HC
? /untah, diare
? -edang dalam pengobatan kortikosteroid atau imunosupresi"
? +eganasan
? In"eksi #IA atau anggota keluarga sebagai kontak
+ejadian ikutan pasca imunisasi polioC
? iperkirakan terdapat , kasus poliomielitis paralitik berkaitan dengan
.aksin
? -etelah .aksinasi sebagian kecil resipien mengalami gejala pusing, diare
ringan, dan nyeri otot.
". 1am2a(
Pada tahun ,*72 telah dibuat dua jenis .aksin campak yaitu .aksin yang
berasal dari .irus hidup yang dilemahkan (tipe 8dmoston B) dan .aksin yang
berasal dari .irus campak yang dimatikan. Pada saat ini <egara yang sedang
berkembang memiliki angka kejadian campak yang masih tinggi dan sering
dijumpai penyulit, maka B#: menganjurkan pemberian imunisasi campak
pada bayi usia kurang dari * bulan. -elanjutnya imunisasi campak dosis
kedua diberikan pada program school based catch up campain! yaitu secara
rutin pada anak sekolah - kelas , dalam program BI0- (Bulan Imunisasi
0nak -ekolah).
epartemen +esehatan mengubah strategi reduksi dan eliminasi campak
sebagai berikut. isamping imunisasi usia * bulan, diberikan juga imunisasi
campak kesempatan kedua pada crash proram campak pada usia 7?6*
bulan dan - kelas ,?7.
5ntuk <egara maju imunisasi campak (//9) dianjurkan pada anak
berusia ,&?,6 bulan dan kemudian imunisasi kedua juga dengan //9
dilakukan secara rutinpada usia 3?7 tahun. 0pabila telah mendapatkan
imunisasi //9 pada usia ,6?,; bulan dan ulangan usia 7 tahun, maka
ulangan campak pada - kelas , tidak diperlukan. osis yang diberikan
pada imunisasi campak yaitu ),6 ml secara subkutan.
+ejadian ikutan pasca imunisasi campakC
11
? Gejala +IPI berupa demam yang lebih dari 2*HC, dimana demam mulai
dijumpai pada hari ke 6?7 setelah imunisasi, demam ini dapat memicu
terjadinya kejadian kejang demam.
? 9uam dapat dijumpai pada beberapa kasus, timbul pada hari ke '?,)
setelah imunisasi dan berlangsung selama &?3 hari
? 9eaksi yang berat jika ditemukan gangguan "ungsi sistem sara" pusat
seperti ense"alitis dan ense"alopati pasca imunisasi.
Gambar ,. (adwal Imunisasi di Indonesia
2.1.6 K"ja4$an I(u&an Pas3a Imun$sas$
5ntuk kepentingan operasional maka +omnas PP +IPI menentukan bahwa
kejadian ikutan pasca imunisasi (+IPI) adalah kejadian medic yang berhubungan
dengan imunisasi baik berupa e"ek .aksin ataupun e"ek samping, toksisitas, reaksi
sensiti.itas, e"ek "armakologis, atau kesalahan program, koinsidensi, reaksi
suntikan, atau hubungan kausal yang tidak dapat ditentukan.
Gejala klinis +IPI dapat timbul secara cepat maupun lambat dan dapat dibagi
menjadi gejala liokal, sistemik, reaksi susunan sara" pusat, serta reaksi lainnya. Pada
umumnya makin cepat terjadi +IPI makin berat gejalanya. /engingat tidak ada satu
12
pun jenis .aksin yang aman tanpa e"ek samping, maka apabila seseorang anak telah
mendapatkan imunisasi perlu dilakukan pengawasan atau obeser.asi beberapa saat,
sehingga dipastikan tidak terjadi +IPI. Berapa lamanya obser.asi sulit ditentukan,
tetapi pada umumnya setelah pemberian setiap jenis imunisasi harus dilakukan
pengawasan selama ,6 menit.
-emua kejadian yang berhubungan dengan imunisasi wajib dilaporkan, sepertiC
? 0bses pada tempat suntikan.
? -emua kasus lim"adenitis BCG.
? -emua kematian yang diduga oleh petugas kesehatan atau masyarakat
berhubungan dengan imunisasi.
? -emua kasus rawat inap, yang diduga oleh petugas kesehatan atau
masyarakat berhubungan dengan imunisasi.
? Insiden medik berat atau tidak laDim yang diduga oleh petugas kesehatan
atau masyarakat berhubungan dengan imunisasi.
2.2 SERTI!IKAT IMUNISASI
2.2.1 D"#$n$s$
aerah +husus Ibukota (+I) (akarta membuat sejarah baru dalam program
pemberian imunisasi rutin untuk bayi. Pada &' (anuari &))*, serentak di seluruh
wilayah +I (akarta, bertepatan dengan program Gebyar Posyandu +I, inas
+esehatan +I memberikan untuk pertama kalinya serti"ikat imunisasi asar
%engkap bagi bayi berusia di bawah , tahun.
-erti"ikat imunisasi merupakan serti"ikat yang diberikan kepada bayi yang
telah selesai mendapatkan seri pemberian .aksin imunisasi dasar bagi bayi.
Imunisasi dasar wajib bagi bayi tersebut mencakup BCG, hepatitis B, P!,
Polio, dan campak.
-erti"ikat Imunisasi ini telah diberikan kepada seluruh bayi di +I (akarta
yang lahir pada tahun &));.
2.2.2 Tujuan
13
!ujuan diberikannya serti"ikat imunisasi adalah agar dapat memantau jumlah
anak yang telah mendapatkan imunisasi dasar lengkap. engan adanya serti"ikat
imunisasi juga diharapkan dapat meningkatkan moti.asi orang tua untuk
memberikan imunisasi dasar yang lengkap kepada anaknya.
i seluruh dunia, kewaspadaan terhadap kejangkitan P2I menjadi salah satu
target penting, antara lain untuk mencegah jumlah kematian bayi dan oleh
karenanya sejumlah badan dunia kini bekerjasama dengan Pemerintah 9I untuk
menurunkan angka kematian bayi dan ibu melalui penguatan cakupan imunisasi
yang disepakati harus melewati target ;).6 >. engan diberikannya serti"ikat
imunisasi ini diharapkan juga dapat membantu pemerintah dalam program 5CI agar
seluruh wilayah hingga desa dapat mencapai ,))> pada tahun &),3.
-elain itu juga, untuk wilayah +I (akarta, pemberian serti"ikasi imunisasi juga
bertujuan sebagai salah satu persyaratan untuk dapat menda"tarkan anak untuk
masuk sekolah dasar (-).
2.3 KERANGKA TEORI
14
Gambar &C +erangka teori
BAB III
KERANGKA KONSEP7 'ARIABEL DAN DE!INISI OPERASIONAL
3.1 KERANGKA KONSEP
15
STATUS SOSIAL IBU
5sia
(umlah anak
Pendidikan
Pendapatan
+8%8<G+0P0< I/5<I-0-I
!AKTOR PENUNJANG
(umlah jenis imunisasi yang
didapatkan anak
ANAK
ANAK
SERTI!IKAT
IMUNISASI
SERTI!IKAT
IMUNISASI
IBU
IBU
-!0!5- -:-I0%
5sia
(umlah anak
Pendidikan
Pendapatan
-!0!5- -:-I0%
5sia
(umlah anak
Pendidikan
Pendapatan
KELENGKAPAN
IMUNISASI
KELENGKAPAN
IMUNISASI
Gambar 2. +erangka konsep .ariabel?.ariabel yang berhubungan dengan status sosial
ibu yang mempengaruhi kepemilikan serti"ikat imunisasi.
3.2 'ARIABEL PENELITIAN
a. 'a%$a,"5 T"%+an&un+
-erti"ikat imunisasi.
,. 'a%$a,"5 B",as
i. +arakteristik indi.idual C
5sia
(umlah anak
Pendidikan
Pendapatan
ii. @aktor penunjangC
(umlah jenis imunisasi yang didapatkan oleh anak.
16
-89!I@I+0! I/5<I-0-I
/8/I%I+I
-89!I@I+0!
I/I/5
!I0+ /8/I%I+I
-89!I@I+0! I/I/5
3.3 DE!INISI OPERASIONAL
'a%$a,"5 D"#$n$s$ A5a& U(u% 1a%a U(u% Has$5 U(u% S(a5a
P"n+u(u%
an
Aariabel bebasC
,. 5sia 5sia responden antara ,6?32 tahun. +tp untuk
mengetahui umur
dalam tahun.
Penilaian
kuesioner
,I J &6 tahun
&I &6? 26 tahun
2I = 26 tahun
9asio
&. (umlah anak (umlah anak yang dimiliki responden
saat ini
+artu keluarga
untuk mengetahui
jumlah anak
Penilaian
kuesioner
, I memiliki , anak
& I memiliki F , anak
<ominal
17
2. Pendidikan Pendidikan adalah jenjang pendidikan
terakhir yang pernah dilalui sesuai
dengan tingkat pendidikan "ormal di
Indonesia.
+uesioner Penilaian
kuesioner
,I!idak bersekolah
&I!amat -
2I!amat -/P
3I!amat -/0
6I!amat +uliah (24-,4lebih)
:rdinal
3. Pendapatan -esuatu yang didapatkan oleh
responden dalam bentuk uang yang
diukur menggunakan 5/9 (5pah
/inimum 9egional) +I (akarta pada
tahun &),,.
+uesioner Penilaian
kuesioner
,I J 9p ,&*))))
&I = 9p ,&*))))
9asio
Aariabel
tergantung C
-erti"ikat
imunisasi
-erti"ikat yang menunjukkan seorang
anak telah lengkap menyelesaikan
imunisasi wajib dasar.
+uesioner Penilaian
kuesioner
,I memiliki serti"ikat
&I tidak memiliki serti"ikat
:rdinal
18
BAB I'
METODE PENELITIAN
4.1 JENIS PENELITIAN
(enis penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik yaitu metode
penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk mencari hubungan antara
.ariabel yang satu dengan .ariabel yang lain7 dengan mengunakan pendekatan
rancangan potong silang (cross sectional).
4.2 LOKASI DAN 0AKTU PENELITIAN
4.2.1 L*(as$ P"n"5$&$an
Penelitian ini dilakukan di Puskesmas +ecamatan /ampang Prapatan,
(akarta -elatan.
4.2.2 0a(&u P"n"5$&$an
Penelitian ini dilakukan sejak bulan -eptember &),, E <o.ember &),,.
4.3 POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN
4.3.1 P*2u5as$ T"%jan+(au
Populasi terjangkau adalah seluruh ibu yang memiliki anak J 2 tahun yang
melakukan imunisasi dasar lengkap di Puskesmas +ecamatan /ampang
Prapatan sejak bulan -eptember &),, E <o.ember &),, sebanyak ,)2 anak
dengan subjek penelitian adalah seluruh ibu yang termasuk ke dalam populasi
terjangkau dan memenuhi kriteria penelitian sebanyak ;' anak
4.3.2 K%$&"%$a In(5us$ 4an E(s(5us$
1. K%$&"%$a In(5us$
a) Ibu yang memiliki anak yang memiliki dan tidak memiliki ser"ikat
imunisasi.
b) Ibu yang kooperati".
c) Ibu yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian.
2. K%$&"%$a E(s(5us$
a) Ibu yang tidak kooperati".
b) Ibu yang tidak ingin berpartisipasi dalam penelitian.
4.3.2 Sam2"5 P"n"5$&$an
B"sa% sam2"5
19
Perkiraan besar sampel yang digunakan pada penelitian ini menggunakan
rumus.
Rumus 2*2u5as$ $n#$n$&C
<o I KL
&
M P M N
d
&
KL I !ingkat kemaknaan yang dikehendaki *6> besarnya ,,*7
P I Pre.alensi kelompok ibu yang anaknya memiliki imunisasi dasar
lengkap. dengan No% yang rendah tahun &),)
O
I '),6*>
N I Pre.alensi4proporsi yang tidak mengalami peristiwa yang diteliti I ,
E ),')
I ),2)
d I 0kurasi dari ketepatan pengukuran untuk p F ,)> adalah ),)6
<o I (,,*7)
&
M ),' M ),2 I 2&&,7* P pembulatan 2&2
(),)6)
&
OPenelitian sebelumnya pada tahun &),) yang dilakukan di esa !untungpait
+utoarjo Purworejo.
Rumus 2*2u5as$ #$n$&8
n I n
)
(, Q n
)
4<)
n I Besar sampel yang dibutuhkan untuk populasi yang "init.
n) I Besar sampel dari populasi yang in"init
< I Besar sampel populasi "init
+arena jumlah ibu yang anaknya memiliki serti"ikat imunisasi selama tahun
&),, adalah ;' ibu, makaC
n I 2&2
(, Q 2&24;') I 7; anak
4.4 INSTRUMEN PENELITIAN
N*. INSTRUMEN !UNGSI INSTRUMEN
,. Bawancara 5ntuk mengetahui C
5sia
(umlah anak
Pendidikan
Pendapatan
20
&. +uesioner 5ntuk mengetahui status sosial ibu
4. ALUR PELAKSANAAN PENELITIAN
4.) JAD0AL KEGIATAN PENELITIAN
Taha2an K"+$a&an
Baktu alam /inggu
21
Gambar 3C 0lur pelaksanaan penelitian
Proposal disetujui
Peneliti turun ke lapangan
/engumpulkan sampel
Peneliti melakukan wawancara,
penyebaran kuesioner,
Peneliti mengumpulkan data
Peneliti mengolah dan
menganalisis data dalam bentuk
tabular, tekstular dan gra"ik
dengan menggunakan /icroso"t
8Mcel, Bord &))' dan -P-- ,',)
Penyajian data dalam bentuk
presentasi
Peneliti mendapatkan data yaitu
populasi da"tar ibu yang anaknya
telah memiliki serti"ikat imunisasi di
puskesmas mampang prapatan
2 Presentasi hasil laporan sementara
3 9e.isi
6
Presentasi #asil akhir
(puskesmas dan trisakti)
7 Penulisan laporan akhir
Ja49a5 ("+$a&an
4./ PERKIRAAN BIA:A PENELITIAN
Penggandaan +uesioner 9p. &6).))),?
!ransportasi 9p. &6).))),?
C 9p. ,6.))),?
+ertas 03 9p 26,))),?
!inta Printer 9p. &&).))),?
Cenderamata 9p ,)),))),?
Biaya tak terdugaC 9p. 26).))),?
9p. ,.&&).))),?
4.6 ORGANISASI PENELITIAN
,. Pembimbing dari +edokteran 5ni.ersitas !risakti
r. :kta.ianus Ch. -alim, /.+es
&. Pembimbing Puskesmas +ecamatan Pasar /inggu
dr. Citra 9asjmi Cara
2. Penyusun dan Pelaksana Penelitian
Bagus Bira Bibawa
Aashty 0manda
Ike Gurissa
22
DA!TAR PUSTAKA
,. Borld #ealth :rganiDation. 0cti.e 0geing 0 Policy @ramework. /adrid,
-painR0pril &))&. #al 3?,,. iunduh dari
httpC44www.who.int4ageing4publications4acti.e4en.html
&. -oejono C#, -etiati -, <asrun /B-, -ilaswati -. Pedoman Pengelolaan
+esehatan Pasien Geriatri 5ntuk okter dan Perawat. 8disi Pertama.
(akartaCPusat In"ormasi dan Penerbit Bagian Ilmu Penyakit alam @+5IR&))3.
2. Castilo !B, %eon?/unoD %/, Graciani 0, 9odrigueD 0@, Catilon PGR
%ongitudinal association o" physical acti.ity and sedentary beha.ior during
leisure time with health?related Suality o" li"e in community?dwelling older
adults. "ioMed Central Madrid &),,R.olume 2?,7.
3. <ugroho, B. +eperawatan Gerontik T Geriatrik. (akartaC 8GCR&));
6. epartemen -osial 9I. Penduduk lanjut usia di Indonesia dan masalah
kesejahteraannya. iposkan tanggal &2 :ktober &))' a.ailable at
httpC44www.depsos.go.id diakses pada ,6 (uli &),,.
7. Batson, 9oger. Perawatan %ansia. 8disi ke?2. (akartaC 8GCR&))2.
'. <etu.eli G, Blane . Nuality o" li"e in older ages. %ondonR ,6 @ebruari &));.
;. Boi.in (acky, !ake"man (anet, dan Bra.erman, 0ndrea. !he "ertility Suality o"
li"e (@ertiNo%) toolC de.elopment and general psychometric properties. :M"ord
5ni.ersity Press. 0pril &),,. #al &);6.
*. Borld #ealth :rganiDation. B#:N:% 5ser /anual. Gene.a C ,**;. #al ,6.
,). #su Patricia. e.elopment o" 0 <ew Kealand Aersion o" !he Borld
:rganiDation Nuality o" %i"e -ur.ey Instrument. 0uckland 5ni.ersity o"
!echnology. &))*. #al 7 E ,6.
,,. Gott /erryn dkk. Predictors o" the Suality o" li"e o" older people with heart
"ailure recruited "rom primary care. :M"ord 5ni.ersity Press. &))7. #al ,'& E
,''. 11
,&. epartment o" Chronic iseases and #ealth Promotion -ur.eillance and
Population?Based Pre.ention Borld #ealth :rganiDation. Global Physical
0cti.ity Nuestionnaire (GP0N). (online) &),, (diakses tanggal ,6 (uli &),,).
iunduh dari www.who.int4chp4steps
23
,2. (ohn 8B.. -@?27 #ealth -ur.ey 5pdate. 0.ailable at httpC44www.s"?
27.org4tools4s"27.shtml di akses pada ,7 (uli &),,.
,3. @ood recall &3 hours. 5ni.ersity o" Cambridge. 0.ailable at
httpC44www.srl.cam.ac.uk4epic4nutmethod4&3hr.shtml di akses pada ,7 (uli &),,.
,6. 9ana /, Bahlin 0, %undborg C-, +abir K<. Impact of health education on
health# related $uality of life amon elderly persons% results from a community#
based intervention study in rural "anladesh. &'ford University (ressR&))*.
,7. <aing //, -uthan <, Chockchai /. )uality of Lide of *he +lderly (eople in
+inme *ownship Irrawaddy Division! Myanmar. ,sia -ournal of (ublic .ealthC
&),).
,'. Gopalakrishnan <, a.id B. )uality of Life in &lder ,es. &'ford University
(ressC&));.
,;. Bhite /arney 0, :U<eil Patrick /, +olotkin 9onette %, Byrne !. +arl. Gender!
/ace! and &besity#/elated )uality of Life at +'treme Levels of &besity. &besity
/esearch Aol. ,& <o. 7 (une &))3.
24