Anda di halaman 1dari 11

HIPERTERMIA

(Irene Ratridewi)

Demam adalah peningkatan suhu tubuh di atas normal. Demam merupakan
salah satu reaksi tubuh untuk melindungi dari infeksi. Beberapa studi menunjukkan
demam memperpendek masa sakit karena virus dan meningkatkan survival terhadap
infeksi bacterial.
1
Demam juga mengaktifkan G-CSF sehingga terjadi netrofilia perifer
dan marginasi netrofil ke daerah infeksi atau inflamasi.
2
Hipertermia adalah kondisi
kegagalan pengaturan suhu tubuh (termoregulasi) akibat ketidakmampuan tubuh
melepaskan/mengeluarkan panas (misal pada heat stroke) atau produksi panas yang
berlebihan oleh tubuh dengan pelepasan panas dalam laju yang normal.
3

Hipertermia dalam kaitannya dengan eliminasi infeksi salah satunya melalui
aktivasi sinyal apoptosis sel T yang tidak diinginkan atau dalam kondisi teraktivasi
berlebihan (misalnya pada reaksi alergi atau autoimun).
4,5

Penyebab hipertermia dapat dibagi menjadi 3:
3
Hipertermia karena peningkatan produksi panas:
Hipertermia maligna
Neuroleptic malignant syndrome
Serotonin syndrome
Drug-induced hyperthermia
Exercise-induced hyperthermia
Endocrine hyperthermia
Miscellaneous clinical disorders

Hipertermia karena penurunan pelepasan panas:
Hipertermia neonatal
Dehidrasi
Heat stroke
Renjatan hemorargik dan ensefalopati
Sudden infant death syndrome (SIDS)
Drug-induced hyperthermia
Penyebab tidak terklasifikasikan:
Factitious fever
Induced illness dan Induced illness by proxy
3

Suhu tubuh dipertahankan normal oleh keseimbangan antara pelepasan panas dengan
kemampuan tubuh melepaskan/mengeluarkan panas. Panas diproduksi tubuh melalui
proses metabolisme, aktivitas otot rangka, dan respons imun. Panas dikeluarkan oleh
tubuh melalui kulit dan paru.
Hipertermia yang disebabkan oleh peningkatan produksi panas
Hipertermia maligna
6
Hipertermia maligna biasanya dipicu oleh obat-obatan anesthesia. Hipertermia
ini merupakan miopati akibat mutasi gen yang diturunkan secara autosomal dominan.
Pada episode akut terjadi peningkatan kalsium intraselular dalam otot rangka sehingga
terjadi kekakuan otot dan hipertermia. Pusat pengatur suhu di hipotalamus normal
sehingga pemberian antipiretik tidak bemanfaat.
Gambaran klinis meliputi kekakuan otot terutama otot masseter sehingga
menyebabkan rhabdomyolisis, peningkatan CO2 tidal, takikardia, dan peningkatan suhu
tubuh yang cepat (0.5
0
1.0
0
C tiap 5 - 10 menit, suhu dapat mencapai 44
0
C)
Tatalaksana utama adalah menurunkan suhu tubuh dengan cepat dan agresif
dengan total body cooling (air es/dingin lewat NGT, rectal, dan IV), segera
menghentikan pemakaian obat anestesi, pemberian oksigen 100%, memperbaiki
asidosis, furosemid (1 mg/kgBB), manitol 20% (1 g/kgBB),insulin, dextrose,
hidrokortison, Dantrolone (antidote spesifik 2.5 mg/kgBB IV dan kemudian tiap 5-10
menit) dan mengatasi aritmia.
10

Neuroleptic Malignant Syndrome (NMS), serotonin syndrome, dan drug-induced
hyperthermia akan dibahas dalam bab tersendiri.


Exercise-Induced hyperthermia (Exertional heat stroke)
Hipertermia jenis ini dapat terjadi pada anak besar/remaja yang melakukan
aktivitas fisik intensif dan lama pada suhu cuaca yang panas. Pencegahan dilakukan
dengan pembatasan lama latihan fisik terutama bila dilakukan pada suhu 30
0
C atau
lebih dengan kelembaban lebih dari 90%, pemberian minuman lebih sering (150 ml air
dingin tiap 30 menit), dan pemakaian pakaian yang berwarna terang, satu lapis, dan
berbahan menyerap keringat.
7,8,9

Endocrine Hyperthermia (EH)
Kondisi metabolic/endokrin yang menyebabkan hipertermia lebih jarang dijumpai
pada anak dibandingkan dengan pada dewasa. Kelainan endokrin yang sering
dihubungkan dengan hipertermia antara lain hipertiroidisme, diabetes mellitus,
phaeochromocytoma, insufisiensi adrenal dan Ethiocolanolone suatu steroid yang
diketahui sering berhubungan dengan demam (merangsang pembentukan pirogen
leukosit).

Hipertermia yang disebabkan oleh penurunan pelepasan panas.
Hipertermia neonatal
Peningkatan suhu tubuh secara cepat pada hari kedua dan ketiga kehidupan
bisa disebabkan oleh:
Dehidrasi
Dehidrasi pada masa ini sering disebabkan oleh kehilangan cairan atau paparan
oleh suhu kamar yang tinggi. Hipertermia jenis ini merupakan penyebab kenaikan suhu
ketiga setelah infeksi dan trauma lahir. Sebaiknya dibedakan antara kenaikan suhu
karena hipertermia dengan infeksi. Pada demam karena infeksi biasanya didapatkan
tanda lain dari infeksi seperti leukositosis/leucopenia, CRP yang tinggi, tidak berespon
baik dengan pemberian cairan, dan riwayat persalinan prematur/resiko infeksi.
Overheating
Pemakaian alat-alat penghangat yang terlalu panas, atau bayi terpapar sinar
matahari langsung dalam waktu yang lama.
10


Trauma lahir
Hipertermia yang berhubungan dengan trauma lahir timbul pada 24%dari bayi
yang lahir dengan trauma. Suhu akan menurun pada1-3 hari tapi bisa juga menetap
dan menimbulkan komplikasi berupa kejang.
Tatalaksana dasar hipertermia pada neonatus termasuk menurunkan suhu bayi secara
cepat dengan melepas semua baju bayi dan memindahkan bayi ke tempat dengan
suhu ruangan. Jika suhu tubuh bayi lebih dari 39
0
C dilakukan tepid sponged 35
0
C
sampai dengan suhu tubuh mencapai 37
0
C.

Heat stroke
Tanda umum heat stroke adalah suhu tubuh > 40.5
0
C atau sedikit lebih rendah,
kulit teraba kering dan panas, kelainan susunan saraf pusat, takikardia, aritmia, kadang
terjadi perdarahan miokard, dan pada saluran cerna terjadi mual, muntah, dan kram.
Komplikasi yang bisa terjadi antara lain DIC, lisis eritrosit, trombositopenia,
hiperkalemia, gagal ginjal, dan perubahan gambaran EKG. Anak dengan serangan heat
stroke harus mendapatkan perawatan intensif di ICU, suhu tubuh segera diturunkan
(melepas baju dan sponging dengan air es sampai dengan suhu tubuh 38,5
0
C
kemudian anak segera dipindahkan ke atas tempat tidur lalu dibungkus dengan
selimut), membuka akses sirkulasi, dan memperbaiki gangguan metabolic yang ada.
10

Haemorrhargic Shock and Encephalopathy (HSE)
Gambaran klinis mirip dengan heat stroke tetapi tidak ada riwayat penyelimutan
berlebihan, kekurangan cairan, dan suhu udara luar yang tinggi. HSE diduga
berhubungan dengan cacat genetic dalam produksi atau pelepasan serum inhibitor
alpha-1-trypsin. Kejadian HSE pada anak adalah antara umur 17 hari sampai dengan
15 tahun (sebagian besar usia < 1 tahun dengan median usia 5 bulan). Pada umumnya
HSE didahului oleh penyakit virus atau bakterial dengan febris yang tidak tinggi dan
sudah sembuh (misalnya infeksi saluran nafas akut atau gastroenteritis dengan febris
ringan). Pada 2 5 hari kemudian timbul syok berat, ensefalopati sampai dengan
kejang/koma, hipertermia (suhu > 41
0
C), perdarahan yang mengarah pada DIC, diare,
dan dapat juga terjadi anemia berat yang membutuhkan transfusi.
Pada pemeriksaan fisik dapat timbul hepatomegali dan asidosis dengan
pernafasan dangkal diikuti gagal ginjal. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan
leukositosis, hipernatremia, peningkatan CPK, enzim hati dan tripsin, hipoglikemia,
hipokalsemia, trombositopenia, penurunan faktor II, V, hiperfibrinogenemia, dan alpha-
1-antitripsin.
Pada HSE tidak ada tatalaksana khusus, tetapi pengobatan suportif seperti
penanganan heat stroke dan hipertermia maligna dapat diterapkan. Mortalitas kasus ini
tinggi sekitar 80% dengan gejala sisa neurologis yang berat pada kasus yang selamat.
Hasil CT scan dan otopsi menunjukkan perdarahan fokal pada berbagai organ dan
edema serebri.

Sudden Infant Death Syndrome (SIDS)
Definisi SIDS adalah kematian bayi (usia 1-12 bulan) yang mendadak, tidak
diduga, dan tidak dapat dijelaskan. Kejadian yang mendahului sering berupa infeksi
saluran nafas akut dengan febris ringan yang tidak fatal. Hipertermia diduga kuat
berhubungan dengan SIDS.
11,12,13
Angka kejadian tertinggi adalah pada bayi usia 2- 4 bulan. Hipotesis yang
dikemukakan untuk menjelaskan kejadian ini adalah pada beberapa bayi terjadi mal-
development atau maturitas batang otak yang tertunda sehingga berpengaruh terhadap
pusat chemosensitivity, pengaturan pernafasan, suhu, dan respons tekanan darah.
Beberapa faktor resiko dikemukakan untuk menjelaskan kerentanan bayi terhadap
SIDS, tetapi yang terpenting adalah ibu hamil perokok dan posisi tidur bayi
tertelungkup.
14

Hipertermia diduga berhubungan dengan SIDS karena dapat menyebabkan
hilangnya sensitivitas pusat pernafasan sehingga berakhir dengan apnea. Stanton
mengemukakan bahwa 94% (32 dari 34 kasus) SIDS ditemukan meninggal dalam
keadaan terbungkus baju rapat dengan suhu ruangan yang hangat dan suhu tubuh bayi
panas serta berkeringat.
11
Penyelimutan/pembungkusan bayi yang berlebihan, suhu ruangan yang terlalu
tinggi, dan posisi tidur bayi tertelungkup dapat menyebabkan terbatasnya pengeluaran
panas. Posisi tidur telentang adalah yang paling aman untuk mencegah SIDS. Infeksi
ringan dengan febris yang digabung dengan pembungkusan bayi berlebihan dapat
menimbulkan heat stroke dan SIDS.
15,16

Factitious hyperthermia dan induced illness by Proxy tidak dibahas khusus dan
berhubungan dengan kondisi psikologis pasien.

Hipertermia sendiri saat ini dimanfaatkan untuk mengatasi berbagai kelainan
musculoskeletal, kanker, dan beberapa kasus penyakit infeksi.
17
Cippitelli (2005)
mengemukakan bahwa terapi hipertermia mengaktifkan ekspresi sitotoksisitas FasL,
fasL mRNA, dan aktivitas fasL pemicu pada sel T sehingga terjadi apoptosis sel tumor.
18,19

Daftar pustaka
1. Rice P, Martin E, Ju-Ren He, et.al Febrile-Range Hyperthermia Augments
Neutrophil Accumulation and Enhances Lung Injury in Experimental Gram-
Negative Bacterial Pneumonia. 2005. The Journal of Immunology, 174: 367685

2. Ellis GS, Carlson DE, Hester L. G-CSF, but not corticosterone, mediates
circulating neutrophilia induced by febrile-range hyperthermia. 2005. J Appl
Physiol 98: 17991804

3. El-Radhi AS, Caroll J, Klein N. Clinical Manual of Fever in Children. 2009.
Springer-Verlag. Berlin Heidelberg: 25-43

4. Meinander A, Thomas S. Soderstrom, Kaunisto A. et.al. 2007. Fever-Like
Hyperthermia Controls T Lymphocyte Persistence by Inducing Degradation of
Cellular FLIPshort
1
. The Journal of Immunology, 178: 394453

5. Duke AM, Hopkins PM, Halsall PJ, Steele DS. Mg2+ dependence of Ca2+
release from the sarcoplasmic reticulum induced by sevoflurane or halothane in
skeletal muscle from humans susceptible to malignant hyperthermia. 2006.
British Journal of Anaesthesia 97 (3): 3208

6. Nybo L. Hyperthermia and fatigue. 2008. J Appl Physiol 104: 871878

7. Gonzalez-Alonso J, Crandall CG, and Johnson JM. The cardiovascular
challenge of exercising in the heat. 2008. J Physiol 586.1:4553

8. Aaron L. Chu, Ollie Jay, and Matthew D. White. The effects of hyperthermia and
hypoxia on ventilation during low-intensity steady-state exercise. 2007. Am J
Physiol Regul Integr Comp Physiol 292: R195R203

9. Dalal S, Zhukovsky DS, Pathophysiology and Management of Fever. 2006. J
Support Oncol;4: 916

10. Curran AK, Xia L, Leiter CJ, Bartlett D Jr. Elevated body temperature enhances
the laryngeal chemoreflex in decerebrate piglets. 2005. J Appl Physiol 98: 780
786


11. Luxi Xia, Leiter JC, and Bartlett D, Jr., et.al. Laryngeal apnea in rat pups: effects
of age and body temperature. 2008. J Appl Physiol; 104 (6): 1828-34

12. Phadke A, Broadman LM, BW Brandom, et.al. Postoperative Hyperthermia,
Rhabdomyolysis, Critical Temperature, and Death in a Former Premature Infant
After His Ninth General Anesthetic. 2007. Anesth Analg;105: 97780

13. Blackwell CC, Moscovis SM, Gordon AE. Cytokine responses and sudden infant
death syndrome: genetic, developmental, and environmental risk factors. 2005.
J. Leukoc.Biol. 78: 12421254

14. Van Sleuwen BE, Engelberts AC, Boere-Boonekamp MM, et.al. Swaddling: A
Systematic Review. 2007. Pediatrics; 120;e1097-e1106

15. Mitchell EA, Thompson JMD, Becroft DMO. Head Covering and the Risk for
SIDS: Findings From the New Zealand and German SIDS Case-Control Studies.
2008. Pediatrics;121: e1478e1483

16. Giombini A, Giovannini V, Di Cesare A. Hyperthermia induced by microwave
diathermy in the management of muscle and tendon injuries. 2007. British
Medical Bulletin; 83: 379396

17. Cippitelli M, Fionda C, Di Bona D. Hyperthermia Enhances CD95-Ligand Gene
Expression in T Lymphocytes. 2005. Journal of Immunology,174: 22332

18. Siddiqui F, Chuan-Yuan Li, LaRue SM, et.al. A phase I trial of hyperthermia-
induced interleukin-12 gene therapy in spontaneously arising feline soft tissue
sarcomas. 2007. Mol Cancer Ther; 6(1)

















Malignant hyperthermia adalah suatu kondisi miopati langka yang terjadi pada pasien anak anak
(1:15.000) dan dewasa (1:40.000) ditandai dengan kondisi hipermetabolisme akut pada jaringan otot
yang terjadi setelah induksi anestesi umum.
Tidak seluruh tindakan operatif dengan anastesi halothane dan succinylcholine langsung
menimbulkanmalignant hyperthermia. Gejala ini timbul sebagai akibat interaksi obat dengan mutasi gen
yang telah ada di dalam sel pasien tertentu. Mutasi gen ini bersifat autosomal dominan dan terletak
pada ryonadine receptor type 1 (RYR-1) pada retikulum sarkoplasma sel otot rangka. RYR-1 ini bertugas
untuk mengatur pembukaan dan penutupan kanal kalsium yang ada di retikulum sarkoplasma. Hal ini
dibantu oleh A-site dan I-site sebagai kanalnya.
Pada fisiologi normalnya, ketika ada stimulus motorik, asetilkolin yang dibebaskan akson neuron motorik
akan menyebrangi celah sinaps dan berikatan dengan reseptor asetilkolin di motor end plate. Adanya
asetilkolin membentuk potensial aksi yang selanjutnya disalurkan ke seluruh membran otot dan turun ke
tubulus T. Pada potensial aksi ini akan terjadi influks Na+ dan efluks K+ sehingga terjadi aksi kontraksi-
relaksasi otot.
Potensial aksi yang turun ke tubulus T sel otot tadi akan memicu pelepasan Ca2+ dari retikulum
sarkoplasma ke intraseluler. Ion Ca2+ yang dibebaskan berikatan dengan troponin di filamen aktin
sehingga membuat tropomiosin secara fisik bergeser untuk membuka penutup tempat pengikatan
jembatan silang di aktin. Jembatan silang miosin berikatan dengan aktin dan menekuk, menarik filamen
aktin ke bagian tengah sarkomer. Hal ini dijalankan oleh energi yang dihasilkan dari ATP. Ca2+ akan
diserap kembali oleh retikulum sarkoplasma jika tidak ada lagi potensial aksi (Dijelaskan oleh gambar di
bawah ini)

Nah, akibat dari mutasi gen RYR-1 maka terjadi abnormalitas pada regulasi pembuka dan penutupan
kanal kalsium yang diinduksi oleh halothane. Pada saat succinylcholine menjadi kompetitor asetilkolin
dalam menduduki reseptor, kerja asetilkolin akan dilaksanakan succinylcholine. Pada dasarnya cara kerja
dua zat ini sama namun, succinylcholine memiliki durasi yang lebih panjang daripada asetilkolin sehingga
memungkinkan untuk meningkatkan pengeluaran ion kalsium dari retikulum sarkoplasma. Ditambah
dengan induksi halothane yang meningkatkan afinitas A-site untuk terus membuka kanal kalsium dan
menurunkan afinitas I-site sehingga tidak menutup kanal. Sebagai dampak dari kejadian ini, ion kalsium
akan terus keluar dan memakai ATP untuk melakukan kontraksi secara kontinu. ATP yang digunakan
pada saat aerob tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan kontraksi sehingga ATP dimetabolisme
melalui jalur anaerob. Terjadi hipermetabolisme yang kemudian menyebabkan penumpukan laktat akibat
pemakaian ATP di jalur anaerob. Hal ini menghasilkan asidosis metabolik yang dikompensasi dengan
gejala takipnue.

Ketika kerja succinylcholine mulai berakhir, maka kanal diblokade sehingga tidak ada lagi aksi potensial.
Tidak adanya aksi potensial seharusnya memicu otot untuk berelaksasi dan kalsium dikembalikan ke
dalam retikulum sarkoplasma. Namun, untuk relaksasi otot diperlukan ATP. ATP yang ada sudah banyak
dihabiskan dalam proses kontraksi ditambah blokade kanal membran sel otot sehingga tidak ada lagi
ATP yang tersisa. Hal ini akan mengakibatkan rhabdomyolisis atau kerusakan otot sehingga sel otot akan
pecah. Pecahnya sel otot akan mengeluarkan kalium, kreatinin dan myoglobin yang mengakibatkan
warna urin seperti cola. Pada pemeriksaan laboratorium akan tampak hiperkalemia akibat rhabdomyolisis
tadi dan adanya base deficit akibat asidosis metabolik.
Sumber:
Katzung, Betram G. 2010. Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi 10. Jakarta: EGC
Sherwood, Lauralee. 2011. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem Edisi 6. Jakarta: EGC