Anda di halaman 1dari 10

Page 1 of 10

PERBUATAN MELAWAN HUKUM KORPORASI NON-NEGARA


DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI BUKAN SUAP YANG
DILAKUKAN BERSAMA-SAMA PENYELENGGARA NEGARA
1


Refki Saputra
2





alam diskusi Pengarusutamaan (mainstreaming) Pemberantasan Kejahatan Korporasi
Sektor Kehutanan yang diselenggarakan oleh Silvagama, ICW dan Walhi (23/6/14) di
Hotel Ibis Acardia, Jakarta Pusat, muncul diskursus tentang kemungkinan mendakwa
korporasi kehutanan non-negara (swasta) dengan menggunakan undang-undang tindak pidana
korupsi (UU Tipikor).
3
Adapun perbuatan yang dituduhkan adalah terkait dengan penerbitan
izin pengusahaan hutan yang diperoleh secara melawan hukum, dimana sudah ada kepala
daerah yang divonis bersalah atas tuduhan tersebut sebelumnya.

Beranjak dari fakta dilapangan bahwa, berbagai kasus tindak pidana korupsi di sektor
kehutanan banyak melibatkan kepala daerah. Pada umumnya, modus yang dilakukan berkisar
pada pemberian konsensi pengolahan hutan kepada korporasi kehutanan yang melanggar
berbagai aturan perizinan. Dampaknya, banyak kawasan hutan yang sesungguhnya tidak dapat
dijadikan sebagai areal industri kehutanan kemudian diberikan oleh kepala daerah untuk
kegiatan yang tidak sesuai dengan peruntukannya. Hal ini tentu sangat merugikan negara, baik
secara ekonomis dan juga secara ekologis.

Selama ini, pihak yang menjadi tersangka dalam aktivitas terlarang tersebut hanya pihak
penyelenggaranya saja. Jikapun kalau ada pihak swasta yang didakwa, perannya adalah pihak
yang memerikan suap atau gratifikasi kepada pejabat.
4
Adapun persoalannya, dakwaan korupsi
apa yang kemudian dapat dikenakan kepada pihak swasta (katakanlah sebuah korporasi
perkebunan), mengingat kepala daerah yang menerbitkan izin untuk korporasi yang dimaksud
sudah divonis bersalah atas perbuatan melawan hukum, bukan karena suap atau gratifitasi.
Sementara, korporasi yang dimaksud disini adalah bukan digolongkan sebagai pejabat negara
ataupun BUMN, yang dapat dimintai pertanggungjawaban berdasarkan ketentuan perbuatan
melawan hukum ataupun penyalahgunaan wewenang, sebagaimana yang termaktub dalam
Pasal 2 dan Pasal 3 UU Tipikor.
5


1
Catatan diskusi tentang Mainstreaming Pemberantasan Kejahatan Korporasi Sektor Kehutanan,
diselenggarakan oleh Yayasan Silvagama, ICW dan Walhi, Hotel Ibis Acardia, 23-24 Juni 2014.
2
Peneliti Indonesian Legal Rundtable.
3
UU No. 31/1999 jo UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
4
Misalnya kasus suap Bupati Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, Amran Batalipu yang melibatkan
pengusaha Hartati Murdaya Poo sebagai pihak yang duduk di kursi pesakitan karena dituduh sebagai
pihak yang memberikan uang suap sebesar Rp3 miliar kepada Bupati Buol, sebagai imbalan agar Amran
selaku pejabat daerah yang berwenang, menerbitkan Izin Usaha Perkebunan (IUP) dan Hak Guna Usaha
terhadap tanah seluas 4.500 hektare yang dimiliki PT CCM, salah satu anak perusahaan milik Hartati.
Lihat http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia /2013/02/130204_hartativonis.shtml.
5
Terkait dengan hal tersebut, Romli Atmasasmita, menjelaskan mengapa Pasal 2 dan Pasal 3
diperuntukkan kepada pejabat negara, yakni: Pertama, Secara historis, peraturan perundang-undangan
tindak pidana korupsi mulai dari UU Prp Nomor 24 tahun 1960 sampai dengan perubahan terakhir
dengan UU Nomor 20 tahun 2000, memiliki sarasaran utama pegawai negeri atau penyelenggaran
negara. Pemikirannya, yang bisa menyalahgunakan kewenangan hanyalah penyelenggaran negara yang
sedang menjalankan jabatan pemerintah; Kedua, klausul memperkaya pada pasal 2 menunjukkan

Page 2 of 10

Dakwaan Korupsi Korporasi Non-Negara
Sebagaimana natur dari tindak pidana korupsi, pada dasarnya merupakan penyimpangan yang
dilakukan oleh pejabat publik yang memiliki kewenangan untuk menggunakan sumber daya
(resoureces) negara. Tatkala kewenangan itu disalahgunakan untuk kepentingan pribadi atau
golongan, maka sumber daya negara yang seharusnya untuk kesejahteraan warga negara
menjadi tidak tepat sasaran. Maka dari itu, korupsi dalam arti luas diartikan sebagai perbuatan
yang tidak patut atau menguntungkan diri sendiri dari pegawai negeri yang memiliki
kedudukan istimewa.
6

Korporasi non-negara (atau katakanlah bukan korporasi, tapi subjek hukum pribadi bukan
negara) tidak dalam posisi yang memiliki otoritas (seperti halnya seorang pejabat publik) yang
diberikan oleh peraturan perundang-undangan, yang kalau itu tidak dijalankan atau dijalankan
tapi menyalahi aturan, dapat dikategorikan sebagai suatu tindakan melawan hukum
7
(Pasal 2)
atau menyalahgunakan wewenang (Pasal 3). Jika korporasi non-negara tersebut kemudian
merugikan keuangan negara/perekonomian negara, Prof. Oemar Seno Adji beranggapan hal
demikian dapat dikenakan berbagai peraturan perundang-undangan khusus yang
menempatkan non-pegawai negeri atau swasta sebagai subjek tindak pidana seperti undang-
undang Tindak Pidana Ekonomi (UU TPE).
8

Namun dalam konteks kasus yang diceritakan, korporasi yang menerima izin tersebut secara
faktual merupakan pihak yang menerima manfaat dari tindakan hukum pejabat negara yang
melawan hukum atau menyalahgunakan wewenang. Terlebih, kepala daerah tersebut sudah
divonis bersalah melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana yang diatur dalam Pasal 2 UU
tipikor. Bukankah, korporasi dimaksud memiliki peran terhadap terjadinya tindak pidana
korupsi yang dilakukan kepala daerah tersebut. Apalagi dalam Pasal 2 dan Pasal 3 UU Tipikor,
makna setiap orang sudah sudah diperluas sebagai subjek hukum badan atau korporasi (recht
person).

Adapun Konstruksi Pasal 2 Ayat (1) UU Tipikor menyebutkan:

Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri
sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan
negara atau perekonomian negara,..


kelaziman dari para pengusaha (swasta). Sedangkan pada pasal 3 disebut sebagai perbuatan yang
menguntungkan, karena tugas dari seorang pegawai negeri adalah mengabdi kepada negara dan yang
terjadi dalam praktik adalah menggunakan kewenangan atau kesempatan dengan tujuan untuk
menguntungkan atau undue avantage sebagaimana juga disebutkan dalam Konvensi PBB Anti
Korupsi 2003; Ketiga, ancaman hukuman minimal pada Pasal 2 yakni 4 tahun lebih tinggi daripada Pasa
3 yakni 1 tahun, karena posisi pegawai negeri merupakan posisi yang terpojok dengan iming-iming
untuk menyalahgunakan kewenangan. Lihat dalam Romli Atmasasmita, Perbedaan Pasal 2 dan Pasal 3
UU Nomor 31 tahun 1999 yang telah diubah dengan UU Nomor 20 tahun 2001, diunduh dari
http://infohukum.co.cc/perbedaan-pasal-2-dan-pasal-3-uu-nomor-31-tahun1999-yangtelah-diubah-
dengan-uunomor-20-tahun-2001/
6
Penjelasan Pasal 1 UU No. 3 Tahun 1971
7
Dalam hal ini melawan hukum formil (UU). Jika menggunakan konsep perbuatan melawan hukum
materil, kemungkinan bisa digunakan karena perbuatan korporasi dianggap bertentangan dengan nilai-
nilai yang ada dalam masyarakat.
8
Vidya Prahassacitta, 2009, Pertanggungjawaban Pidana Korporasi Pihak Terafiliasi Dalam Tindak Pidana
Korupsi : Studi Kasus Perkara Tindak Pidana Korupsi Sistem Administrasi Badan Hukum Departemen
Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Tesis, Fakultas Hukum Program Pasca Sarjana
Universitas Indonesia, hal. 86

Page 3 of 10

Selanjutnya, Pasal 3 UU Tipikor menyebutkan:

Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau
suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang
ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan
negara atau perekonomian negara,.

Sebagaimana perdebatan ikhwal peruntukkan Pasal 2 dan Pasal 3 diatas adalah untuk
penyelenggara negara, maka seolah-olah korporasi (swasta) bukan merupakan pihak yang
dapat dikenai pasal-pasal tersebut. Memang, Pasal 2 dan Pasal 3 menegaskan jika pihak yang
melakukan perbuatan yang secara nyata (feit materiel) melakukan perbuatan yang melawan
hukum atau menyalahgunakan wewenang adalah penyeleggara negara. Namun, korporasi
dapat juga digolongkan sebagai pihak yang ikut terlibat mewujudkan delik yang dilakukan oleh
penyelenggara negara tersebut. Dalam hal ini, korporasi adalah sebagai pihak yang ikut terlibat
dalam penerbitan izin yang tidak mengikuti aturan hukum yang berlaku. Namun bukan sebagai
pelaku yang secara nyata mengeluarkan izin yang melawan hukum, melainkan yang memiliki
andil dalam keluarnya izin tersebut.

Doktrin Penyertaan

Dalam konsep hukum pidana, pihak yang bersama-sama mewujudkan delik atau tindak pidana
dapat dihukum sebagai pihak yang melakukan tindak pidana itu sendiri. Hal ini yang kemudian
disebut sebagai teori penyertaan (deelneming theory), yang dipergunakan untuk menentukan
peran dari pelaku tindak pidana. Teori penyertaan ini menekankan kepada
pertanggungjawaban pidana apabila ada dua orang atau lebih yang melakukan tindak pidana
atau dua orang atau lebih yang mengambil bagian dalam mewujudkan suatu tindak pidana.
9


Pendapat lain menyebutkan, penyertaan berbicara tentang kondisi apabila selain pembuat
suatu perbuatan pidana lengkap, ada lagi yang ikut terlibat, dimana keterlibatan pihak lainnya
tersebut sedemikian intensifnya serta telah menduduki tempat yang sedemikian penting dalam
rangkaian sebab-akibat yang menuju perwujudan tindak pidana.
10
Penyertaan dalam KUHP
terdapat dalam Pasal 55 dan Pasal 56, yang terdiri dari mereka yang melakukan (plegen), yang
menyuruh melakukan (doen plegen), dan yang turut serta melakukan perbuatan
(medeplegen).
11
Selanjutnya ada yang membujuk (menganjurkan) melakukan (uitlokking),
12

dan pembantu melakukan (medeplichtige).
13


Dalam perkara korupsi dengan terpidana H. Tengku Azmun Jaafar, SH (Mantan Bupati
Pelalawan, Provinsi Riau) divonis bersalah oleh Mahkamah Agung (2009) karena melakukan
tindak pidana korupsi secara bersama-sama sebagai perbuatan beranjut saat menerbitkan Izin
Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu-Hutan Tanaman (IUPHHK-HT) tahun 2002-2003 untuk
15 korporasi. Dimana Izin, yang dikeluarkan Terdakwa tersebut bertentangan dengan
KEPMENHUT No. 10.1/Kpts-II/2000 tanggal 6 November 2000 tentang pedoman pemberian
izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu-hutan tanaman serta KEPMENHUT No. 21/Kpts-
II/2001 tanggal 3 Januari 2001 tentang kriteria dan standar izin usaha pemamfaatan hasil

9
E. Y. Kanter dan S. R. Sianturi, 2002, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya, Storia
Grafika, Jakarta, hal. 336
10
D. Schaffmesiter, N. Keijner dan E. PH. Sutorius, 2001, Hukum Pidana, Citra Aditya Bakti, Bandung, hal.
231.
11
Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHP
12
Pasal 55 Ayat (1) Ke-2 KUHP
13
Pasal 56 KUHP

Page 4 of 10

hutan hayu-hutan tanaman, sehingga menguntungkan korporasi dan menyebabkan kerugian
negara setidaknya Rp. 1,2 triliun.

Adapun tindakan yang dilakukan oleh korporasi dalam tindak pidana tersebut adalah sengaja
mengajukan usulan IUPHHK-HT dan RKT yang berada di hutan alam untuk ditebang lantas
ditanami akasia. Dimana penebangan kayu ini bertujuan untuk dijadikan bahan baku pulp and
paper dengan keuntungan yang amat besar.
14
Dapat dikatakan disini, baik korporasi maupun
pejabat publik sama-sama melakukan tindak pidana (aktif). Maka, konsep penyertaan berupa
yang melakukan, menyuruh melakukan dan membujuk atau menganjurkan tidak relevan dalam
pembahasan ini.

Plegen atau yang melakukan jelas hanya dilakukan oleh pelaku yang telah memenuhi unsur
delik seorang diri beserta pertanggungjawaban pidananya.
15
Sementara, yang menyuruh
melakukan dan membujuk, delik hanya dilakukan oleh yang disuruh atau dibujuk melakukan,
sementara yang menyuruh atau membujuk berada dibelakang layar (pasif). Perbedaannya,
dalam menyuruh lakukan, pihak penyuruh (manus domina, onmiddelijke dader, intellectual
dader) dipidana karena memperalat atau memperdaya orang yang disuruh (manus ministra,
middelijke dader, materiele dader) sebagai alat dalam melakukan tindak pidana. Terhadap orang
yang disuruh tidak dapat dipidana karena ketidaktahuan, kekeliruan (dwaling) atau paksaan,
sehingga padanya tidak terdapat unsur kesalahan atau setidak-tidaknya kesalahannya
ditiadakan.
16
Sementara, pada yang pembujukan, baik pihak yang membujuk dengan yang
dibujuk melakukan sama-sama dapat dipidana.
17


Korporasi dalam hal ini hanya mungkin dikenakan tuduhan turut serta (medepleger) atau
membantu melakukan (medeplichtige). Dalam kerangka yang pertama, A.Z Abidin dan Andi
Hamzah merumuskan pelaku-peserta atau turut serta adalah sebagai berikut:

dua orang atau lebih bekerja sama secara sadar dan bersama-sama melakukan
perbuatan-perbuatan yang secara keseluruhan mewujudkan delik ataupun sesuai
dengan kesepakatan pembagian peran, seorang melakukan perbuatan
pelaksanaan seluruhnya, sedangkan kawan berbuatnya melakukan yang sangat
penting bagi terwujudnya delik.
18


Hal yang paling jelas atas tindakan turut serta melakukan dapat dilihat dari pemenuhan unsur
delik. Pelaku (pleger) baru dapat dipidana apabila memenuhi semua unsur delik, sementara
yang turut serta melakukan hanya melakukan beberapa unsur delik saja. Hal ini bisa dilihat
dalam hal penerapan Pasal 284 KUHP tentang perzinaan. Dimana, dalam perzinaan disyaratkan
klausula bagi yang telah kawin, baik laki-laki, maupun perempuan (Pasal 284 Ayat (1) huruf a
dan b KUHP). Sementara bagi pasangan zina, tidak disaratkan sudah kawin (Pasal 284 Ayat (2)

14
Muslim Rasyid dan Made Ali, Membincang Money Laundering Korupsi Kehutanan Riau, Paper Diskusi
Mainstreaming Kejahatan Korporasi Sektor Kehutanan, Silvagama ICW dan Walhi, Jakarta 23-24 Juni
2014, hal. 3
15
A.Z. Abidin dan Andi Hamzah menerangkan jika judul BAB V Buku I KUHP yang diterjemahkan oleh
Moeljatno menjadi Tentang Penyertaan dalam Melakukan Perbuatan Pidana tidak tepat karena di
dalam Pasal 55 KUHP disebut juga pelaku (pleger). Oleh sebab itu penulis mencantumkan judul Bentuk
Delik Melakukan dan Bentuk-bentuk Penyertaan, sama dengan judul BAB I Paragraf V buku
Hazewinkel-Suringa, yang berjudul De Delictsvormen Plegen en Deelneming. Lihat A.Z Abidin dan Andi
Hamzah, 2010, Pengantar Dalam Hukum Pidana Indonesia, PT. Yasrif Watapone, Jakarta, hal. 425.
16
E. Y. Kanter dan S. R. Sianturi, Op., Cit., hal. 342.
17
Penulis tidak sepenuhnya sependapat dengan hal ini karena, rumusan perbuatan dari pembujukkan
(Pasal 55 Ayat 1 ke-2) dilakukan juga dengan kekerasan dan ancaman, yang menurut hemat penulis
sama hakikatnya dengan yang disuruh melakukan (manus ministra) yang tidak dapat dipidana.
18
A.Z. Abidin dan Andi Hamzah, Op., Cit., hal. 500

Page 5 of 10

huruf a dan b KUHP). Pelaku peserta disini merupakan tindakan pelaksanaan walaupun tidak
memenuhi semua unsur tindak pidana yang dicantumkan dalam undang-undang.
19
Artinya,
pelaku yang melakukan zina adalah bagi yang telah kawin, sedangkan bagi pasangan zina yang
belum kawin, hanyalah pihak yang turut serta.

Jika dibawakan kedalam konstruksi korupsi dalam pengelolaan kawasan hutan, perbuatan
korporasi yang mengajukan usulan IUPHHK-HT ditatas hutan alam yang jelas-jelas tidak bisa
diusahakan untuk kegiatan industri kehutanan termasuk dalam kategori ini. Dalam hal ini,
korporasi tidak dalam posisi yang melakukan perbuatan melawan hukum/menyalahgunakan
wewenang seperti yang dimaksud dalam Pasal 2 dan Pasal 3, yang merupakan kapasitas
seorang pejabat publik sebagai pelaku atau pleger. Korporasi bertindak sebagai pihak yang
turut serta (medepleger) melakukan perbuatan melawan hukum bersama penyelenggara
negara tersebut. Kedua belah pihak sama-sama memiliki peran dalam terwujudnya tindak
pidana.

Lalu, apakah korporasi juga dapat dikonstruksikan sebagai pihak yang membantu melakukan
(medeplichtige) dalam konteks kasus yang dibahas? Secara normatif, pembantuan dalam tindak
pidana ini dipisahkan dengan konsep penyertaan lainnya (Pasal 55 KUHP), yakni terdapat
dalam Pasal 56 KUHP, yang berbunyi:

Dipidana sebagai pembantu pada suatu kejahatan:
Ke-1 mereka yang dengan sengaja memberikan bantuan pada waktu kejahatan
dilakukan;
Ke-2 mereka yang dengan sengaja memberi kesempatan, sarana, atau
keterangan untuk melakukan kejahatan itu.

Jika dilihat dari rumusan Pasal 56 tersebut terdapat beberapa pemahaman terkait pembantuan.
Pertama, pembantuan yang berdasarkan waktu, dimana yang pertama adalah pembantuan
pada saat kejahatan berlangsung (Pasal 56 ke-1) dan sebelum kejahatan dilakukan (Pasal 56
ke-2). Kedua, pembantuan yang pertama bisa dalam bentuk pembantuan dalam arti luas, yakni
bisa dilakukan dalam bentuk aktivitas fisik, ataupun hanya berupa kesempatan, sarana, atau
keterangan. Sementara untuk pembantuan yang kedua, hanya dilakukan dalam bentuk
pemberian kesempatan, srana atau keterangan. Artinya, pembantuan dalam bentuk kedua ini
tidak berupa aktivitas fiisik.

Pembantuan menurut Schaffmeister, Keijzer dan Sutorius merupakan bentuk penyertaan yang
paling santun dibanding bentuk lainnya. Hal ini berkaitan dengan prakarsa untuk melakukan
tindak pidana. Jika bentuk penyertaan lainnya (kecuali yang melakukan pleger), yakni
penyuruh lakukan, pelaku peserta, dan pembujuk, prakarsa datang dari mereka. Sementara
pembantu, prakrasa harus sudah ada ada ketika pembantu berada pada tahap rencana-
renacana ataupun tahap pelaksanaan pidana. Artinya, dalam hal pembantuan, prakarsa
bukanlah datang dari si pembantu, melainkan dari pelaku utama dari tindak pidana tersebut.
20


Maka, dengan demikian jika dikontekskan dengan kasus korupsi antara kepala daerah dengan
korporasi dalam suatu perbuatan melawan hukum, korporasi tidak dapat digolongkan sebagai
pembantu melakukan tindak pidana, karena prakarsa melakukan tindak pidana bukan hanya
dari kepala daerah, melainkan dari kedua belah pihak. Baik kepala daerah maupun korporasi
terjadi suatu kerjasama yang erat, karena bagi kepala daerah tidak akan mungkin dapat
melakukan tindak pidana tanpa peran dari korporasi dan begitu pula sebaliknya.

19
E. Y. Kanter dan S. R. Sianturi, Op., Cit., hal. 345-346
20
D. Schaffmesiter, N. Keijner dan E. PH. Sutorius, Op., Cit, hal. 235

Page 6 of 10

Penerapan Pelaku Turut Serta Dalam Kasus Korupsi

Dalam praktik, pasal penyertaan, khususnya pelaku turut serta (medepleger) yang berasal dari
pihak swasta atau bukan penyelenggara negara sudah banyak digunakan dalam beberapa kasus
korupsi terkait perbuatan melawan hukum atau menyalahgunakan wewenang. Pelaku turut
serta tersebtu dalam hal ini dianggap ikut bertanggungjawab atas perbuatan yang dilakukan
penyelenggara negara, karena adanya kerjasama yang erat diantara keduanya dalam
mewujudkan delik. Hanya saja, hampir semua perkara yang menggunakan pasal turut serta
tersebut, pelaku perserta yang dimaksud belum pernah ada yang berasal dari subjek hukum
korporasi
21
, melainkan hanya sebatas orang pribadi. Namun, setidaknya dapat digambarkan
konstruksi hukum penggunaan pasal turut serta terhadap pihak swasta dalam padanannya
dengan perbuatan melawan hukum atau penyalahgunaan wewenang di UU Tipikor.

Dalam perkara korupsi yang disidangkan di Pengadilan Negeri Kendari, atas dakwaan terhadap
Syamsuddin selaku staf bagian pemasaran PT Pabelan Cabang Kendari. Terdakwa diajukan ke
pengadilan karena dianggap melakukan perbuatan bersama-sama Darson Bunggo, selaku
Kepala Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Kendari, melakukan perbuatan korupsi sebagaimana
yang diatur dalam Pasal 2 subsidair Pasal 3 UU Tipikor. Adapun perbuatan terdakwa adalah,
selaku bagian pemasaran PT. Pabelan bekerjasama dengan Kepala SMPN 4 Kendari dalam
pengadaan buku pelajaran yang dananya berasal dari BOS, ternyata dana sudah keluar namun
buku-buku yang berasal dari PT. Pabelan tidak ada pada perpustakaan sekolah, dana BOS
tersebut cair karena adanya faktur pembelian 544 eksemplar yang fiktif.

Dalam putusan kasasi, terdakwa terbukti melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-
sama dalam dakwaan subsidair, yakni mengungtungkan diri sendiri, atau orang lain atau
korporasi, menyalahgunakan wewenang yang dapat merugiakan keuangan negara atau
perekonomian negara. Dalam hal ini, majelis hakim menempatkan terdakwa sebagai pihak yang
turut serta (plegen) bersama kepala sekolah melakukan perbuatan korupsi, yakni melakukan
pengadaan buku-buku sekolah fiktif. Hal ini terlihat dari pertimbangan hakim yang
menyatakan:


21
Sebenarnya sudah ada korporasi yang divonis bersalah melakukan tindak pidana korupsi yang juga
melibatkan pejabat negara, yakni perkara korupsi penyalahgunaan Pasar Sentra Antasari Banjarmasin,
Kalimantan Selatan. Adalah PT Giri Jalandhi Wana yang ditetapkan sebagai tersangka tahun 2010 yang
penyidikannya ditangani oleh Kejaksaan Tinggi Kalimantan Selatan. PT Giri dianggap melakukan tindak
pidana korupsi perbuatan melawan hukum dengan mengerjakan kontrak pembangunan Sentar Pasar
Sentra Antasari dengan membangun 6.045 unit bangunan yang terdiri dari toko, kios, los, lapak dan
warung yang didalam kontrak hanya diperjanjika sebanyak 5.145 unit, sehingga terjadi penambahan
900 unit bangunan. Dimana hasil penjualan kelebih bangunan tersebut tidak disetorkan kepada kas
negara. Selain itu, selama pengelolaan Pasal, PT Giri juga tidak membayar kewajibannya kepada
pemerintah kota Banjarmasin dan juga persoalan kredit modal kerja. PT Giri dinyatakan bersalah
berdasarkan putusan Pengadilan Tinggi Tipikor Banjarmasin No.04/PID.SUS/2011/PT.BJM tanggal 10
Agustus 2011. Majelis banding menganggap PT Giri bersalah melakukan korupsi sebagaimana diatur
Pasal 2 ayat (1) jo Pasal18 jo Pasal 20 UU Tipikor jo Pasal 64 ayat (1) KUHP. Sebelumnya, Direktur
Utama PT. Giri Stephanus Widagdo telah terlebih dahulu divonis bersalah, melalui Putusan Kasasi
No.936.K/Pid.Sus/2009, bersama-sama dengan Wakil Wali Kota, Midfai Yabani yang kemudian menjadi
Wali Kota semenjak tahun 2003 menggantikan Wali Kota Banjarmasin sebelumnya yang tutup usia.
Dalam kasus ini, Wali Kota kemdudian divonis bersama-sama dengan Direktur Utama PT Giri turut serta
melakukan tindak pidana korupsi. Namun, PT Giri sendiri tidak dikonstruksikan sebagai pihak yang
turut serta, melainkan pihak yang seolah-olah menjadi subjek yang berdiri sendiri melakukan korupsi.
Dalam dakwaan PT Giri tidak dijuncto-kan dengan pasal 55 Ayat (1) ke 1 seperti yang didakwakan
kepada Stephen Widagdo selaku Dirut PT. Giri yang notabene sebagai directing mind dari korporasi PT
Giri yang melakukan tindak pidana korupsi bersama dengan Wali Kota Banjarmasin.

Page 7 of 10

Bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut Terdakwa telah turut serta melakukan
tindak pidana korupsi sesuai Pasal 3 Dakwaan Subsidair, sesuai pendapat Muljatno
bahwa seorang pelaku serta (medepleger) tidak harus mewujudkan seluruh elemen
delik termasuk dalam masalah jabatan/kedudukan oleh karena itu Terdakwa dapat
dipersalahkan / terbukti atas tindak pidana tersebut dalam Dakwaan Subsidair.
22


Berdasarkan pertimbangan hakim tersebut, terdakwa yang merupakan staf marketing dianggap
melanggar pasal penyalahgunaan wewenang (Pasal 3 UU Tipikor) sebagai pelaku turut serta.
Dimana ia hanya memenuhi sebagian unsur delik, yaitu memperkaya diri dengan membuat
faktur penjualan buku fiktif agar dapat menikmati dana BOS bersama kepala sekolah. Namun
tetap penyalahgunaan wewenangnya dilakukan oleh kepala sekolah yang memang secara
hukum diberi kewenangan oleh peraturan perundang-undangan. Kepala sekolah menggunakan
wewenangnya untuk menggunakan anggaran dana BOS yang kemudian diselewengkan.

Perkara lainnya adalah tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh Yohanes Waworuntu dalam
proyek Sistem Administrasi Badan Hukum (Sisminbakum) di Departemen Kehakiman dan HAM
RI (Sekarang Kementerian Hukum dan HAM RI) tahun 2000 hingga 2008. Ia selaku selaku
Direktur Utama PT. Sarana Rekatama Dinamika (PT SRD) diputus bersalah oleh Mahkamah
Agung RI dalam sidang Kasasi melakukan tindak pidana korupsi turut serta bersama-sama
dengan penyelenggara negara, yakni Romli Atamsasmita (Dirjen AHU) dan Yusril Izha
Mahendra (Menteri Kehakiman RI) secara melawan hukum memperkaya diri sendiri atau orang
lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan Negara atau perekonomian Negara
(Pasal 2 UU Tipikor).
23


Adapun perbuatan Yohanes Waworuntu yang dianggap melanggar ketentuan sebagaimana
dimaksud adalah terkait penunjukkan PT. SRD sebagai Pengelola dan Pelaksana Infrastruktur
Pengadaan dan Pengoperasian Serana Telekomunikasi berupa Networking SISMINBAKUM.
Dimana, penunjukkan PT. SRD sebagai pengelola dan pelaksana tidak dilakukan secara
transparan (penunjukkan langsung) dan penetapan tariff layanan juga tidak sesuai dengan
peraturan perundang-undangan (mark up). Adapun, pertimbangan majelis kasasi menyatakan:

Bahwa dari fakta-fakta hukum yang diperoleh ternyata Terdakwa bersama-sama
dengan Prof. Dr. Romli Atmasasmita, semula tanpa melibatkan pengurus KPPDK telah
sepakat membuat Perjanjian Kerja Sama untuk penyelengaraan SISMINBAKUM di
mana disepakati untuk mengenakan fee kepada Notaris yang memerlukan Jasa
Hukum untuk pengurusan nama perusahaan, pendirian dan perubahan Badan
Hukum, pemeriksaan profile perusahaan dan Konsultasi Hukum bertentangan dan
tidak sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.87 Tahun 2000, Undang-Undang No.20
Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak, Keppres. No.17 Tahun 2000
tentang Pelaksanaan APBN yang melarang Departemen mengadakan pungutan.
24


Tampak disini bahwa, keterlibatan Yohanes Waworuntu sebagai yang merupakan pihak swasta
(yang harusnya juga menyasar korporasinya) sebagai pihak yang turut serta melakukan tindak
pidana bersama penyelenggara negara.
25
Walaupun yang mengeluarkan keputusan adalah

22
Putusan No. 2389 K/Pid.Sus/2011, hal. 13
23
Sebelumnya Yohanes Waworuntu didakwa secara alternatif, yakni dengan Pasal 12 huruf e, Pasal 15,
Pasal 2 dan Pasal 3 UU Tipikor.
24
Putusan Mahkamah Agung Nomor 655K/Pid.Sus/2010, hal. 323
25
Perkara Yohanes Waworuntu yang dianggap bersama-sama dengan Prof. Romli Atmasasmita, Yusril Izha
Mahendra dan beberapa pejabat dilingkungan Departemen Hukum dan HAM RI melakukan tindak
pidana korupsi, dalam persidangan terakhir Prof. Romli diputus lepas oleh Mahkamah Agung,
Sementara Mantan Menteri Kehakiman waktu itu, Prof Yusril Izha Mahendra dihentikan penyidikannya
oleh Kejaksaan Agung.

Page 8 of 10

penyelenggara negara (Surat Keputusan penunjukkan PT SRD sebagai pengelola
SISMINBAKUM), namun perbuatan tersebut dianggap suatu kesatuan dengan perbuatan dari
terdakwa Yohanes Waworuntu. Pelaku turut serta hanya memenuhi beberapa unsur delik saja,
dimana ia tidak memenuhi unsur penyelengara negara, melainkan pihak yang turut serta
bersama penyelenggara negara melakukan tindak pidana korurpsi. Konstruksi demikian akan
relevan dengan pandangan ikhwal peruntukan Pasal 2 dan Pasal 3 hanya digunakan untuk
penyelenggara negara yang melakukan perbuatan melawan hukum atau menyalahgunakan
wewenang yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan.

Hal tersebut yang kemudian menjadi janggal dalam Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan
terhadap Prof. Romli Atmasasmita dan Yohanes Waworuntu. Dalam perkara yang dipisah
(splitsing), Prof Romli Atmasasmita diputus bersalah melanggar Pasal 3 UU Tipikor di
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, sementara Yohanes Waworuntu diputus bersalah melanggar
Pasal 2 UU Tipikor. Sebagaimana konsep turut serta, masing-masing pihak bekerja sama
mewujudkan delik yang sama. Tidak mungkin terhadap Prof. Romli melanggar Pasal 3
sementara pihak yang turut serta dengannya, Yohanes Waworuntu melanggar Pasal 2 UU
Tipikor.

Penyertaan Tidak Dapat Dikenakan Untuk Korporasi?

Walaupun bukan suatu yang baru, secara normatif doktrin pertanggungungjawaban korporasi
masih belum dianut dalam sistem KUHP yang masih berlaku di Indonesia saat ini. Menurut H.B.
Vos, subjek tindak pidana dalam KUHP adalah manusia, setidak-tidaknya karena 3 (tiga) alasan,
yaitu:
26

1) Rumusan dari KUHP sendiri, yang dimulai dengan kata barangsiapa yang dalam
Bahasa Belanda hij die, yang artinya tidak lain adalah manusia;
2) Jenis-jenis pidana pokok hanya dapat dijalani oleh manusia, misalnya pidana penjara;
3) Di dalam hukum pidana berlaku asas kesalahan (schuld) bagi seorang manusia pribadi.
Walaupun tidak disebutkan secara eksplisit, namun beberapa norma dalam KUHP,
menunjukkan jika korporasi belum dianut sebagai subjek hukum pidana, khususnya Pasal 59
KUHP dan Pasal 169. Adapun Pasal 59 KUHP menyebutkan bahwa:
Dalam hal-hal di mana karena pelanggaran ditentukan pidana terhadap pengurus,
anggota-anggota badan pengurus atau komisaris-komisaris, maka pengurus, anggota
badan pengurus atau komisaris yang ternyata tidak ikut campur melakukan
pelanggaran tidak dipidana.
Selanjutnya, Pasal 169 KUHP secara spesifik mengatur tentang penyertaan dalam korporasi,
yaitu, sebagai berikut:
(1) Turut serta dalam perkumpulan yang bertujuan melakukan kejahatan, atau turut
serta dalam perkumpulan lainnya yang dilarang oleh aturan-aturan umum, diancam
dengan pidana penjara paling lama enam tahun.
(2) Turut serta dalam perkumpulan yang bertujuan melakukan pelanggaran, diancam
dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling
banyak empat ribu lima ratus rupiah.
(3) Terhadap pendiri atau pengurus, pidana dapat ditambah sepertiga.

26
Bambang Poernomo, 1992, Asas-Asas Hukum Pidana, Ghalia Indonesia, Yogyakarta, hal. 93.


Page 9 of 10

Dengan memperhatikan muatan dalam Pasal 59 dan Pasal 169 KUHP tersebut, maka sekalipun
pengurus korporasi bertindak mewakili korporasi atau bertindak atas nama korporasi, ketika
suatu peristiwa yang dapat diklasifikasikan sebagai suatu tindak pidana itu terjadi karena
perbuatan pengurus korporasi tersebut, bukan korporasi yang harus memikul beban
pertanggungjawaban pidananya, tetapi pribadi-pribadi pengurus korporasi itu. Lantas, apakah
konsep penyertaan dalam KUHP masih bisa dipergunakan terhadap korporasi yang melakukan
tindak pidana?
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa korporasi adalah perluasan dari subjek
hukum orang pribadi (natural person). Perkembangan ini mengingat pesatnya perkembangan
kejahatan dalam masyarakat yang hanya bisa dilakukan oleh korporasi karena memiliki sumber
daya yang jauh lebih besar ketimbang orang pribadi. Terlebih, kejahatan yang dilakukan oleh
korporasi menimbulkan kerugian yang tidak sedikit jumlahnya. Sutan Remy Sjahdeini
menambahkan, akan ada ketidakadilan apabila hanya pengurus korporasi saja yang dihukum
sementara tindakannya dilakukan untuk dan atas nama korporasi dalam konteks memberikan
manfaat, yakni memberikan keuntungan finansial atau menghindari/mengunrai kerugian
finansial korporasi tersebut.
27


Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, menyebabkan begitu banyak
kompleksitas permasalahan yang dihadapi manusia, tak terkecuali dengan kejahatan.
Sehubungan dengan banyaknya peraturan-perundangan yang diundangkan yang
mencantunkan badan-badan hukum, koperasi-koperasi, yayasan-yayasan dapat menjadi subjek
tindak pidana, maka pandangan yang menganut bahwa hanya manusia atau orang saja yang
dapat merupakan subjek hukum pidana dewasan ini sudah ditinggalkan.
28


Maka dengan menggunakan beberapa telaah yuridis, pertanggungjawaban pidana korporasi
tetap dapat digunakan sekalipun menggunakan aturan yang ada dalam KUHP, dalam hal ini
terkait dengan penyertaan dalam tindak pidana. Hal mana dapat dilakukan dengan
menggunakan beberapa telaah yuridis berikut:

Pertama, penyertaan merupakan bagian dari asas hukum pidana umum yang dapat digunakan
terhadap tindak pidana yang diatur diluar KUHP, apabila tidak ditentukan lain oleh tindak
pidana yang bersangkutan. Hal ini terdapat dalam Pasal 103 KUHP, yang berbunyi:

Ketentuan-ketentuan dalam Bab I sampai Bab VIII buku ini juga berlaku bagi
perbuatan perbuatan yang oleh ketentuan perundang-undangan lainnya diancam
dengan pidana, kecuali jika oleh undang-undang ditentukan lain.

Maka, sepanjang undang-undang tindak pidana korupsi tidak mengatur sendiri tentang aturan
penyertaan, maka tetap mengacu kepada aturan pasal-pasal penyertaan dalam KUHP, yakni
Pasal 55 atau Pasal 56 KUHP. Hanya saja, dalam penyertaan, khususnya pihak yang turut serta
(medepleger) dalam KUHP masih menggunakan konsep pelaku fisik yang saling bekerjasama
secara erat melakukan tindak pidana secara bersama-sama. Sementara, korporasi tidak bisa
melakukan aktivitas fisik karena merupakan suatu konsep yang abstrak. Tindakan korporasi
harus diarahkan kepada tindakan fisik yang dilakukan oleh pengurus korporasi sesuai dengan
doktrin-doktrin pertanggungjawaban korporasi.


27
Sutan Remy Sjahdeini, 2006, Pertanggungjawaban Pidana Korporasi, PT Grafiti Pers, Jakarta, hal. 49.
28
E. Y. Kanter dan S. R. Sianturi, Op., Cit., hal. 383


Page 10 of 10

Kedua, tindak pidana korupsi diatur diluar KUHP yang menempatkan korporasi sebagai subjek
hukum. Perbuatan yang dikualifikasikan sebagai tindak pidana korupsi semuanya sudah diatur
dengan undang-undang tersendiri, yakni undang-undang tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi. Didalamnya juga diatur beberapa hal-hal khusus yang berbeda atau
menyimpangi aturan umum (lex specialis derogate lex generalis). Jika menggunakan konsep
Pasal 103 KUHP, maka konstruksi tindak pidana korupsi yang belum diatur secara khusus akan
tetap menggunakan aturan dalam Buku I KUHP, yakni tentang penyertaan. Namun, terhadap
subjek hukum karena sudah diatur secara khusus dalam UU Tipikor maka dapat mengacu ke
sana dengan mengabaikan konsepsi subjek hukum dalam KUHP.

Ketiga, RUU KUHP sudah menganut subjek hukum korporasi. Meskipun masih berupa aturan
hukum dimasa yang akan datang (ius constituendum), RUU KUHP sejatinya merupakan realita
kebutuhan masyarakat yang hendak dipenuhi. Didalamnya sudah secara ekplisit diatur tentang
korporasi sebagai subjek hukum pidana. Pengaturan subjek hukum korporasi dalam RUU KUHP
diatur dalam BUKU 1 BAB 2 Tentang Tindak Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana. Lebih
spesifik ikwal korporasi diatur dalam Bagian Kedua Paragraf enam, Pasal 47 sampai dengan
Pasal 53.

Dalam Ketentuan Pasal 48 RUU KUHP, menyebutkan bahwa:

Tindak pidana dilakukan oleh korporasi jika dilakukan oleh orang-orang yang
mempunyai kedudukan fungsional dalam struktur organisasi korporasi yang bertindak
untuk dan atas nama korporasi atau demi kepentingan korporasi, berdasarkan
hubungan kerja atau berdasarkan hubungan lain, dalam lingkup usaha korporasi
tersebut, baik sendiri-sendiri atau bersama-sama.
Jelas bahwa kebutuhan hukum masyarakat saat ini yang sudah menghendaki masuknya
korporasi sebagai pihak yang dapat dipertanggungjawabkan secara pidana. Hanya saja, hal
tersebut belum sepenuhnya dilakukan oleh negara, yang mana sampai saat ini belum mampu
mereformasi produk hukum pidana nasional. Namun demikian, penggunaan konsep
pertanggungjawaban pidana korporasi bukan berarti tidak bisa dilakukan, mengingat telah
banyak peraturan diluar KUHP yang mengakomodir kebutuhan tersebut semenjak tahun 1950-
an. Maka, penggunaan konsep pertanggungjawaban pidana korporasi saat ini sudah tidak lagi
terkendala, karena sudah merupakan arah politik hukum pidana yang mampu menjawab
kebutuhan hukum masyarakat.