Anda di halaman 1dari 2

Ilmu Hubungan Internasional ditinjau dari Perspektif Al Quran

Oleh : Muhammad Nur Setia Budi



Hubungan internasional telah menjadi salah satu euphoria tersendiri dalam hidup
habluminannas atau hubungan antar manusia di zaman modern ini, dulunya keberadaan hubungan
internasional hanya terbatas dalam lingkup antara negara dengan negara atau pemerintah negara satu
dengan negara yang lain. Seiring deengan berkembangnya zaman maka subyek hubungan
internasional telah berkembang dan tentunya cakupannya menjadi luas yaitu salah satunya menjadi
hubungan individu satu dan individu yang lain di negara yang berbeda.
Islam pun mencintai adanya hubungan internasional ini,yang tidak terbatas hanya hubungan
antara makhluk satu daerah akan tetapi sudah meluas dalam hubungan rahmatan lil alamin. Al Quran
pun beribu tahun yang lalu telah menguraikan hubungan internasional ini dalam ayat ayat Ilahi.
Menjawab permasalahan tentang bagaimana konsep Al Quran mengenai hubungan
internasional, kita bisa menjumpai bahwa Al Quran benar-benar mempunyai konsep tentang
bagaimana hubungan antar negara itu seharusnya dilaksanakan.
Pada intinya hubungan internasional ini merupakan hubungan antar dua atau lebih lingkup
negara/non negara atau individu dengan berbagai alat,kepentingan dan kekuatan baik itu diarahkan
pada hal yang positif atau negatif. Kenyataannya beberapa dekade ini, hubungan internasional telah
menjadi lakon sebuah negara yang kuat menindas yang lemah,menipu negara yang lemah dalam
berbagai bantuan yang didasari kepentingan licik negara negara adidaya tersebut.
Sepanjang beberapa dekade kehidupan dalam hubungan internasional saat ini, sering sekali
terlihat tindakan hubungan internasional yang tidak sesuai dengan harapan bersama. Dengan adanya
prinsip yang semata-mata mengutamakan kedaulatan dan kepentingan nasional seperti
serangan Amerika Serikat ke Afghanistan, Irak, Libya dengan alasan kemanusiaan yang dibaliknya
sangat banyak kepentingan yang menyebabkan hubungan antar negara saat ini tidak harmonis dan
terasa tidak adil bagi negara lemah. Sebaliknya Al Quran atau dalam hal ini islam tidak mendasarkan
hubungan antar negara ini pada kekuasaan dan kepentingan nasional belaka. Dengan tegas Al Quran
berbicara dalam surat Al Hujurat ayat 13 mengenai hal dasar dalam menjalin hubungan internasional :
Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan
dan menjadikan kamu berbangsa bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa
diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.
Serta didukung oleh ayat 22 surat Ar Ruum :
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan
bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda
bagi orang-orang yang mengetahui.
Menurut ayat ayat tersebut, ada tiga hal mendasar yang perlu dipegang, bahwasanya ummat
manusia itu diciptakan berbangsa bangsa dan dengan demikian berbeda-beda baik bahasa maupun
kulitnya yang kemudian bangsa-bangsa ini wajib saling kenal mengenal dan moral,bukan wujud fisik
atau kekayaan materi, harus dijadikan sebagai standar kehidupan.
Selanjutnya Ayat ayat diatas telah menegaskan bahwa pertama, manusia dan negara
seharusnya menganut prinsip universal rahmatan lil alamin, bukan nasionalisme sempit dengan
kepentingan nasional negara yang sering menyeret negara kepada hubungan internasional yang paling
keji yaitu peperangan yang tidak boleh digunakan sebagai tujuan akhir dalam habluminawathan.
Terlalu mengangung-agungkan nasionalisme akan membawa suatu bangsa ke sikap etnosentris dan
melupakan kemaslahatan umat dalam skala yang lebih besar.
Kedua perbedaan yang ada pada tiap-tiap bangsa harusnya menjadi sesuatu yang bisa
dipahami dan disadari. Tidak sebaliknya untuk ditonjol-tonjolkan dan digunakan untuk menciptakan
lapisan-lapisan bangsa dalam masryakat internasional. Perbedaan tersebut seharusnya mending
bangsa-bangsa untuk saling mengenal, bukan untuk melakukan kegiatan penyeragaman budaya dan
peradaban sebagaimana yang pernah dilakukan oleh bangsa barat untuk menjadikan bangsa kulit
berwarna beradab. Dengan adanya keharusan mengenal dan memahami antar negara inilah lahir
prinsip-prinsip yang seharusnya dilaksanakan seperti penciptaan hubungan melalui
diplomasi,pertukaran misi kebudayaan,exchange programs, foreign aid dan lain sebagainya.
Yang ketiga, dengan adanya ketentuan bahwa bangsa yang terbaik adalah bangsa yang juga
terbaik amal perbuatannya, maka klaim suatu bangsa sebagai bangsa terbaik sebagaimana yang sering
diucapkan bangsa barat perlu dikaji ulang.
Walaupun ada beberapa yang serng mengganjal dalam hati, bahwasanya bagaimana Al Quran
berbicara tentang hubungan internasional antar negara muslim dan non muslim, berkaintan dengan
kenyataan perbedaan yang ada tersebut, Al Quran telah mengatur dengan tegas bagaimana hubungan
kedua negara tersebut. Agama tidak pernah sedikit saja menjadi penghalang bagi terciptanya suatu
kaum untuk menjalankan hubungan baik dengan kaum lain. Karena itu tidak ada alasan bagi kita
untuk tidak berhubungan hanya karena berbeda agama,etnis atau perbedaan mendasar lainnya. Allah
telah berseru terhadap hal ini dalam surat Al Mumtahanah ayat 8 :
Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang
tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil.
Sungguh indah Al Quran berbicara dan mengajarkan bahwasanya hubungan manusia dalam
hal hubungan internasional itu sangat penting dan wajib dilakukan sebagai bentuk habluminannas
yang terakomodir dalam habluminawathan tanpa melihat bahasa suku asal agama maupun perbedaan
mendasar lainnya. Ketika ajaran Al Quran dalam hal hubungan internasional ini dianut dengan serius
oleh negara negara di dunia, hal ini mampu mewujudkan kedamaian dan madani dunia. Peperangan
yang akhir akhir ini selalu menjadi jalan terakhir dalam hubungan internasional diyakini tidak akan
terjadi lagi, ketika kepentingan dikesampingkan dan menghargai identitas negara masing masing
ditegakkan.