Anda di halaman 1dari 15

Perubahan Fisiologi dan Psikologi Dalam

Persalinan Kala IV






Disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Asuhan Kebidanan
Persalinan dan Bayi Baru Lahir
Disusun Oleh :
1 Firda Isfiandari
2 Rizka Fadhila H
3 Tina Wahyuning
4 Widya Ayu P



JURUSAN KEBIDANAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAKARTA I
KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
TAHUN 2013

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Perubahan
Fisiologi dan Psikologi Dalam Persalinan Kala IV dapat diselesaikan untuk memenuhi tugas
mata kuliah Asuhan Kebidanan Persalinan dan Bayi Baru Lahir. Dalam menyusun makalah
ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih
kepada:
1. Ibu Erlin Puspita SST, M.Keb selaku dosen mata kuliah Asuhan Kebidanan
Persalinan dan Bayi Baru Lahir
2. Teman teman kelompok 4 kelas IIA
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Saran dan kritik yang
membangun dari pembaca sangat penulis harapkan. Harapan penulis semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca yang budiman.



Jakarta, 04 September 2013


Penulis







ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL. i
KATA PENGANTAR............ ii
DAFTAR ISI ... iii
BAB I PENDAHULUAN...... 1
1.1 Latar Belakang.............................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah......................................................................... 1
1.3 Tujuan.......................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN................. 2
1.1 Perubahan Fisiologi kala IV dalam persalinan............................. 2
1.2 Perubahan Psikologi kala IV dalam persalinan............................ 7

BAB III PENUTUP............... 11
3.1 Kesimpulan .............. 11
3.2 Saran .............. 11

DAFTAR PUSTAKA









iii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kala IV adalah terjadi sejak plasenta lahir 1-2 jam sesudahnya, dan yang
dimaksud dengan kala IV adalah 1-2 jam setelah pengeluaran uri atau plasenta atau
bisa juga disebut dengan fase 1-2 jam post partum untuk memantau keadaan ibu.
Dalam kala IV ini, ibu masih membutuhkan pengawasan yang intensif karena
dikhawatirkan akan terjadi pendarahan, pada keadaan ini atonia uteri masih
mengancam dan merupakan waktu yang krisis bagi ibu dan bayi. Keduanya baru
saja mengalami perubahan fisik yang luar biasa. (Pelayanan Kesehatan Maternal
dan Neonatal, 2010).
Hal-hal ini yang perlu diperhatikan adalah kontraksi uterus sampai uterus kembali
kebentuk normal. Hal itu dapat dilakukan dengan melakukan rangsangan taktil
(masase) untuk merangsang uterus berkontraksi baik dan kuat. Perlu juga
diperhatikan bahwa plasenta telah lahir lengkap dan tidak ada yang tersisa
sedikitpun dalam uterus serta benar-benar dijamin tidak terjadi perdarahan lanjut.
Pada saat proses persalinan terkadang harus dilakukan episiotomi misalnya
kepala bayi terlalu besar atau mencegah ruptur perineum totalis. Sehingga kala IV
penderita belum boleh dipindahkan ke kamarnya dan tidak boleh ditinggalkan bidan.
Selama masih dalam proses kala IV ibu berada dalam masa kritis maka harus selalu
dilakukan pemantauan kala IV oleh bidan. Pada materi kali ini akan dibahas
mengenai perubahan fisiologi dan psikologi kala IV dalam persalinan.

1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana perubahan fisiologi pada kala IV dalam persalinan?
2. Bagaimana perubahan psikologi pada kala IV dalam persalinan?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui perubahan fisiologi pada kala IV dalam persalinan
2. Untuk mengetahui perubahan psikologi pada kala IV dalam persalinan


1

BAB II
PEMBAHASAN

a. Perubahan Fisiologi kala IV dalam persalinan
Persalinan kala IV dimulai sejak plasenta lahir sampai dengan 2 jam
sesudahnya, adapun hal-hal yang perlu diperhatikan adalah kontraksi uterus sampai
uterus kembali dalam bentuk normal. Hal ini dapat dilakukan dengan rangsangan
taktil (masase) untuk merangsang uterus berkontraksi baik dan kuat. Perlu juga
dipastikan bahwa plasenta telah lahir lengkap dan tidak ada yang tersisa sedikitpun
dalam uterus serta benar-benar dijamin tidak terjadi perdarahan lanjut (Sumarah,
2008).
Dua jam pertama setelah persalinan merupakan saat yang paling kritis bagi
ibu dan bayinya. Tubuh ibu melakukan adaptasi yang luar biasa setelah kelahiran
bayinya agar kondisi tubuh kembali stabil. Perubahan fisiologi persalinan pada kala
IV, seperti perubahan pada uterus, pengeluaran ASI, tanda vital, serviks vagina dan
perineum, system saraf (gemetar), system renal, system gastrointestinal, system
kardiovaskuler. Dan perubahan pada psikologi ibu terjadi phase honeymoon, phase
polmase nifas, respon antara ibu dan bayinya sejak kontak awal hingga tahap
perkembangannya, ikatan kasih, bonding dan attachment. Sedangkan bayinya
melakukan adaptasi terhadap perubahan lingkungan hidupnya di luar uterus.
Kematian ibu terbanyak terjadi pada kala ini, oleh karena itu tidak boleh
meninggalkan ibu dan bayinya.
a) Uterus
Uterus berbentuk seperti buah avokad atau buah pir yang sedikit
gepeng ke arah depan belakang. Ukurannya sebesar telur ayam dan
mempunyai rongga. Dindingnya terdiri atas otot-otot polos. Letak uterus
dalam keadaan fisiologis adalah anteversiofleksio (serviks ke depan dan
membentuk sudut dengan vagina, sedangkan korpus uteri ke depan dan
membentuk sudut dengan serviks uteri).
Uterus rnempunyai tiga fungsi yaitu dalam siklus menstruasi sebagai
peremajaan endometrium, dalam kehamilan sebagai tempat tumbuh dan
2 2

berkembang janin, dan dalam persalinan berkontraksi sewaktu melahirkan
dan sesudah melahirkan.
Uterus terdiri atas (1)
fundus uteri; (2) korpus uteri; dan
(3) serviks uteri. Fundus uteri
adalah bagian uterus proksimal;
di situ kedua tuba Falloppii
masuk ke uterus. Korpus uteri
adalah bagian uterus yang
terbesar.Pada kehamilan bagian
ini mempunyai fungsi utama
sebagai tempat janin
berkembang, Rongga yang
terdapat di korpus uteri disebut
kavum uteri (rongga rahim). Serviks uteri terdiri atas (1) pars vaginalis servisis
uteri yang dinamakan porsio; (2) pars supravaginalis servisis uteri yaitu
bagian serviks yang berada di atas vagina.
Selama 10-45 menit berikutnya setelah kelahiran bayi, uterus
berkontraksi menjadi sangat kecil yang mengakibatkan pemisahan dinding
uterus dan plasenta, dimana nantinya akan memisahkan plasenta dari tempat
letaknya. Pelepasan plasenta membuka sinus-sinus plasenta dan
menyebabkan perdarahan. Pendarahan tersebut dibatasi sampai rata-rata
350 ml oleh mekanisme sebagai berikut: serabut otot polos uterus tersusun
terbentuk angka delapan mengelilingi pembuluh-pembuluh darah ketika
pembuluh darah tersebut melalui dinding uterus. Dengan demikian, kontraksi
uterus setelah persalinan bayi menyempitkan pembuluh darah yang
sebelumnya menyuplai darah ke plasenta.
b) Pengeluaran ASI
Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein,
laktosa dan garam-garam anorganik yang sekresi oleh kelenjar mamae ibu,
yang berguna sebagai makanan bagi bayinya.
Proses terjadinya pengeluaran air susu dimulai atau dirangsang oleh
isapan mulut bayi pada putting susu ibu. Gerakan tersebut merangsang
Gambar 1 : Uterus pasca plasenta lahir
3

kelenjar Pictuitary Anterior untuk memproduksi sejumlah prolaktin, hormon
utama yang mengandalkan pengeluaran Air Susu.


Proses pengeluaran air susu juga
tergantung pada Let Down Replex, Isapan
langsung pada puting susu ibu
menyebabkan refleks yang dapat
mengeluarkan oksitosin dari hipofisis
sehingga mioepitel yang terdapat di sekitar
alveoli dan duktus kelenjar ASI berkontraksi
dan mengeluarkan ASI ke dalam sinus yang
disebut let down refleks. Hisapan putting
dapat merangsang kelenjar Pictuitary
Posterior untuk menghasilkan hormon
oksitolesin, yang dapat merangsang serabut
otot halus di dalam dinding saluran susu
agar membiarkan susu dapat mengalir
secara lancar.
Susu diproduksi pada akhir ranting dan mengalir kedalam cabang-
cabang besar menuju saluran ke dalam puting. Secara visual payudara dapat
di gambarkan sebagai setangkai buah anggur, mewakili tenunan kelenjar
yang mengsekresi dimana setiap selnya mampu memproduksi susu, bila sel-
sel Myoepithelial di dalam dinding alveoli berkontraksi, anggur tersebut
terpencet dan mengeluarkan susu ke dalam ranting yang mengalir ke cabang-
cabang lebih besar, yang secara perlahan-lahan bertemu di dalam aerola dan
membentuk sinus lactiterous.
Pusat dari areola (bagan yang berpigmen) adalah putingnya, yang
tidak kaku letaknya dan dengan mudah dihisap (masuk kedalam) mulut bayi.
Menurunnya hormon estrogen memungkinkan naiknya kadar prolaktin.
Prolaktin dapat berfungsi membentuk ASI dan mengeluarkannya ke dalam
alveoli bahkan sampai duktus kelenjar ASI.


Gambar 2 : Proses pengeluaran ASI
4

Manfaat Pemberian ASI pada Kala IV :
Isapan langsung pada puting susu ibu menyebabkan refleks yang dapat
mengeluarkan oksitosin dari hipofisis, sehingga ini akan menambah kekuatan
kontraksi uterus.
c) Tanda vital
Dalam dua jam setelah persalinan, tekanan darah, nadi dan
pernapasan akan berangsur kembali normal. Suhu ibu pada kala IV biasanya
akan mengalami sedikit peningkatan, tapi masih dibawah 38
o
C,hal ini
disebabkan oleh kurangnya cairan dan kelelahan. Jika intake cairan baik,
maka suhu akan berangsur normal kembali setelah dua jam.
d) Serviks, vagina dan perineum
Perubahan perubahan pada serviks terjadi setelah bayi lahir, bentuk
serviks agak menganga seperti corong. Bentuk ini disebabkan oleh korpus
uterus yang dapat mengadakan kontraksi, sedangkan serviks tidak
berkontraksi sehingga seolah-olah pada perbatasan antara korpus dan
serviks berbentuk semacam cincin. Serviks berwarna merah kehitaman
karena penuh dengan pembuluh darah. Konsisten lunak, kadang-kadang
terdapat laserasi atau perlukaan kecil. Karena robekan kecil terjadi selama
berdilatasi, maka serviks tidak akan pernah kembali lagi ke keadaan sebelum
hamil. Muara serviks yang berdilatasi sampai 10 cm sewaktu persalinan akan
menutup secara perlahan dan bertahap. Setelah bayi lahir tangan bisa masuk
ke dalam rongga rahim, setelah dua jam hanya dapat dimasuki dua atau tiga
jari.
Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang
sangat besar selama proses melahirkan dan dalam beberapa hari pertama
sesudah proses tersebut kedua organ ini tetap dalam keadaan kendur.
Setelah 3 minggu vulva dan vagina kembali dalam keadaan tidak hamil dan
rugae dalam vagina secara berangsur-angsur akan muncul kembali,
sementara labia menjadi lebih menonjol.
Perineum kendur karena sebelumnya teregang oleh tekanan bayi
yang bergerak maju. Pada hari ke 5 pascapersalinan, perineum sudah
mendapatkan kembali sebagian tonusnya sekalipun tetap kendur dibanding
keadaan sebelum hamil

5

e) Sistem Saraf
Kadang dijumpai ibu pasca persalinan mengalami gemetar, hal ini
normal sepanjang suhu kurang dari 38
o
C dan tidak dijumpai tanda tanda
infeksi lain. Gemetar terjadi karena hilangnya ketegangan dan sejumlah
energi selama melahirkan dan merupakan respon fisiologi terhadap
penurunan volume intraabdominal serta pergeseran hematologi.
f) Sistem renal
Selama 2-4 jam pascapersalinan kandung kemih masih dalam keadaan
hipotonik, sehingga sering dijumpai kandung kemih dalam keadaan penuh
dan mengalami pembesaran. Hal ini disebabkan oleh tekanan pada kandung
kemih dan uretra selama persalinan. Kondisi ini dapat diringankan dengan
selalu mengusahakan kandung kemih kosong selama persalinan untuk
mencegah trauma. Setelah melahirkan, kandung kemih sebaiknya tetap
kosong guna mencegah uterus berubah posisi dan terjadi atoni. Uterus yang
berkontraksi dengan buruk meningkatkan pendarahan dan nyeri.
g) Sistem Gastrointestinal
Selama dua jam pascapersalinan kadang dijumpai ibu pada kala IV
merasa mual sampai muntah, atasi hal ini dengan posisi tubuh yang
memungkinkan dapat mencegah terjadinya aspirasi corpus aleanum ke
saluran pernapasan dengan setengah duduk atau duduk di tempat tidur,
perasaan haus pasti dirasakan oleh ibu pada kala IV, oleh karena itu hidrasi
sangat penting diberikan untuk mencegah dehidrasi.
h) Sistem Kardiovaskular
Selama kehamilan, volume darah normal digunakan untuk menampung
aliran darah yang meningkat yang diperlukan oleh plasenta dan pembuluh
darah uterus.
Penarikan kembali estrogen menyebabkan diuresis yang terjadi secara
cepat sehingga mengurangi volume plasma kembali pada proporsi normal.
Aliran ini terjadi 2-4 jam pertama setelah kelahiran bayi.
Selama masa ini ibu mengeluarkan banyak sekali urin. Hilangnya
pergeseran membantu mengurangi retensi cairan yang melekat, dengan
meningkatkan vaskular pada jaringan tersebut selama kehamilan bersama-
sama dengan trauma masa persalinan

6

b. Perubahan psikologi kala IV dalam Persalinan
Menjadi orang tua merupakan krisis dari melewati masa transisi. Masa
transisi pada postparum yang harus diperhatikan adalah :
1. Phase honeymoon
Phase honeymoon ialah phase anak lahir dimana terjadi intimasi dan
kontak yang lama antara ibu, ayah dan anak
2. Phase pada masa nifas
a) Taking in
Perhatian ibu terutama terhadap kebutuhan dirinya. Ibu tidak menginginkan
kontak dengan bayinya tetapi bukan berarti tidak memperhatikan.
b) Taking hold
Ibu berusaha mandiri dan berinisiatif. Perhatian terhadap kemampuan
mengatasi fungsi tubuhnya misalnya kelancaran buang air besar, hormon
dan peran transisi. Hal-hal yang berkontribusi dengan post partum blues
adalah rasa tidak nyaman, kelelahan,dan kehabisan tenaga. Dengan
menangis sering dapat menurunkan tekanan. Bila orang tua kurang
mengerti hal ini maka akan timbul rasa bersalah yang dapat mengakibatkan
depresi. Untuk itu perlu diadakan penyuluhan sebelumnya.
3. Respon antara ibu dan bayinya sejak kontak awal hingga tahap
perkembangannya.
a) Touch
Ibu memulai dengan ujung jarinya untuk memeriksa bagian kepala dan
ekstremitas bayinya. Gerakan dilanjutkan sebagai gerakan lembut untuk
menenangan bayi. Terjadilah ikatan antara keduanya.
b) Eye to eye contact
Kontak mata mempunyai efek yang erat terhadap perkembangan dimulainya
hubungan dan rasa percaya sebagai faktor yang penting sebagai hubungan
manusia pada umumnya.
c) Bau badan
Indra penciuman bayi sudah berkembang dengan baik dan masih
memainkan peranan dalam nalurinya untuk mempertahankan hidup. Indra
penciuman bayi akan sangat kuat jika ibu dapat memberikan bayinya ASI
pada waktu tertentu.
d) Body warm
7

Jika tidak ada komplikasi yang serius seorang ibu akan dapat langsung
meletakkan bayinya diatas perut ibu setelah tahap kedua proses melahirkan
atau sebelum tali pusat dipotong. Kontak yang segera ini memberikan
banyak manfaat baik bagi ibu maupun si bayi. Kontak kulit menyebabkan
bayi hangat.
e) Voice
Respon antara ibu dan bayi berupa suara. Masing-masing orang tua akan
menantikan tangisan pertama bayinya. Dari tangisan tersebut ibu merasa
tenang karena bayinya baik (hidup).
f) Entrainment (gaya bahasa)
BBL menemukan perubahan struktur pembicaraan dari orang dewasa
artinya perkembangan bayi dalam bahasa dipengaruhi jauh sebelum ia
menggunakan bahasa dalam komunikasi.
g) Biorhytmicit
Janin dalam rahim dapat dikatakan menyesuaikan dengan irama alamiah
ibunya. Orang tua dapat membantu proses ini dengan memberikan
perawatan penuh kasih yang secara konsisten dan dengan menggunakan
tanda bahaya untuk mengembangan respon bayi dan interaksi sosial serta
kesempatan untuk belajar.
4. Ikatan kasih(bonding dan attachment)
Terjadi pada kala IV, diadakan kontak antara ibu-ayah-anak, dan tetap
dalam ikatan kasih, penting bagi bidan untuk memikirkan bagaimana agar hal
tersebut dapat terlaksana partisipasi suami dalam proses persalinan merupakan
salah satu upaya untuk proses ikatan kasih tersebut.
Pada kala IV persalinan , setelah kelahiran bayi dan plasenta dengan
segera ibu akan meluapkan perasaan untuk melepaskan tekanan dan
ketegangan yang dirasakannya, ibu mendapat tanggung jawab baru untuk
mengasuh dan merawat bayi yang telah dilahirkannya.
5. Bounding attachment
Bounding adalah proses pembentukan sedangkan attachment
(membangun ikatan) jadi bounding attachment adalah sebuah peningkatan
hubungan kasih sayang dengan keterikatan batin antara orangtua dan bayi. Hal
ini merupakan proses dimana sebagai hasil dari suatu interaksi terus-menerus
8

antara bayi dan orang tua yang bersifat saling mencintai memberikan keduanya
pemenuhan emosional dan saling membutuhkan.
Prakondisi yang mempengaruhi ikatan, yaitu:
a) Kesehatan emosional orang tua.
b) Sistem dukungan social yang meliputi
pasangan hidup, teman dan keluarga
c) Suatu tingkat keterampilan alam
berkomunikasi dan dalam memberi
asuhan yang kompeten.
d) Kedekatan orang tua dengan bayi
e) Kecocokan orang tua-bayi (termasuk
keadaan, temperamen, dan jenis kelamin).

Tahap-tahap bounding attachment :
a) Acquaintance (perkenalan), dengan melakukan kontak mata,
menyentuh, berbicara, dan mengeksplorasi segera setelah mengenal
bayinya.
b) Bounding (keterikatan).
c) Attachment, perasaan kasih sayang yang mengikat individu dengan
indivudu lain.
Prinsip-prinsip dan upaya meningkatkan bounding attachment:
a) Menit pertama jam pertama
b) Sentuhan orang tua pertama kali
c) Adanya ikatan yang baik dan sistematis
d) Terlibat proses persalinan
e) Persiapan PNC sebelumnya
f) Adaptasi
g) Kontak sedini mungkin sehingga dapat membangun dalam memberi
kehangatan pada bayi, menurunkan rasa sakit ibu, serta memberi
rasa nyaman
h) Fasilitas untuk kontak lebih lama
i) Penekanan pada hal-hal positif
j) Perawat meternitas khusus (bidan)
Gambar 3 : Bounding attachment

9

k) Libatkan anggota keluarga lainnya
l) Informasi bertahap mengenai bounding attachment
Dampak positif bounding attachment :
o Bayi merasa dicintai, diperhatikan, mempercayai, menumbuhkan
sikap social
o Bayi merasa aman, berani mengadakan eksplorasi
Hambatan bounding attachment :
o Kurang support sistem
o Ibu dengan risiko
o Bayi dengan risiko
o Kehadiaran bayi yang tidak diinginkan






















10

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kala IV adalah dimulai sejak plasenta lahir 1-2 jam sesudahnya,hal-hal ini
yang perlu diperhatikan adalah kontraksi uterus sampai uterus kembali ke bentuk
normal. Dari pembahasan yang telah kita buat dapat disimpulkan bahwasannya
pada setiap persalinan normal akan terjadi perubahan yang cukup signifikan,
khususnya pada kala IV persalinan mulai dari uterus, pengeluaran ASI, tanda vital,
serviks,vagina,perineum, sistem saraf, sistem renal,sistem gastrointestinal, dan
sistem kardiovaskular. Selain perubahan fisiologi juga terjadi perubahan psikologi
diantaranya ibu akan meluapkan perasaan untuk melepaskan tekanan dan
ketegangan yang dirasakannya dan ibu mendapat tanggung jawab baru untuk
mengasuh bayi yang dilahirkannya. Dalam perubahan psikologi yang dialami ibu
perlu diperhatikan beberapa phase antara lain, phase honeymoon,phase ikatan
kasih,phase masa nifas, bounding attachment dan respon antara ibu dan bayinya.
Tentu saja antara ibu yang satu dengan yang lainnya tidak sama. Sebagai tenaga
kesehatan harus terampil dalam memberikan asuhan kebidanan.
3.2 Saran
Bagi suami maupun keluarga diharapkan agar lebih aktif , turut serta dalam
menjaga kesehatan ibu dan dapat memberikan secara psikis maupun moril terhadap
ibu yang mengalami masa post partum.
Bagi ibu diharapkan mampu mengetahui perubahan fisiologi yang ia alami
seperti perubahan pada uterus, pengeluaran ASI,tanda vital,
serviks,vagina,perineum,sistem saraf,sistem renal,sistem gastrointestinal, dan
sistem kardiovaskular. Sehingga ibu dengan mudah mendeteksi tanda-tanda bahaya
yang mungkin terjadi dan dengan segera datang ke fasilitas kesehatan.
Bagi tenaga kesehatan khususnya bidan diharapkan agar meningatkan mutu
dan kualitas pelayanan asuhan kebidanan serta lebih peka dalam memantau
perkembangan fisiologi pasien postpartum untuk mengindentifikasi tanda bahaya
dalam menghadapi ibu kala IV agar dapat segera di tangani.

11

DAFTAR PUSTAKA


1. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal/Editor,
Abdul Bari Saifudin, Ed 1 Cet. 12, Jakarta:PT Bina Pustaka Sarwoto
Prawirohardjo
2. Prawirohardjo, S. 2009. Ilmu Kebidanan. PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo
3. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2010
4. Sulistyawati, 2010, Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin, Jakarta: Salemba
Medika
5. Sumarah,2008, Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin, Yogyakarta :
Fitramaya
6. www.repository.usu.ac.id/chapterII.2/pdf
7. www.kebidanan.org/kala-iv