Anda di halaman 1dari 23

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Upaya peningkatan kesehatan masyarakat meningkat secara signifikan
selama beberapa dekade terakhir, namun masih terdapat kendala dalam
pemerataan kesehatan. Terdapat tantangan yang cukup besar untuk membuat
kemajuan dibidang kesehatan. Dibutuhkan pengetahuan tentang bagaimana
membuat suatu program atau intervensi, informasi tentang banyaknya biaya
yang dibutuhkan, dan pengelolaan sumber daya secara efektif.
Pengambil keputusan seringkali dihadapkan pada tantangan dalam
mengelola sumber daya yang ada. Sumber daya adalah barang yang terbatas,
oleh karena itu mereka harus dapat mengalokasikan sumber daya dengan
bijaksana. Alokasi sumber daya khususnya di bidang kesehatan harus
memenuhi dua kriteria etika utama. Etika pertama yaitu dengan biaya yang
terbatas dapat memaksimalkan manfaat kesehatan bagi masyarakat. Etika
kedua adalah alokasi dan distribusi sumber daya harus adil pada setiap
individu atau kelompok.
Salah satu sumber daya yang cukup penting untuk meningkatkan
kesehatan masyarakat adalah biaya. Efektivitas biaya tidak sekedar menjadi
perhatian bidang keekonomian, karena meningkatkan kesehatan masyarakat
dan kesejahteraan merupakan masalah moral. Alokasi sumber daya yang
tidak efektif menghasilkan manfaat yang lebih sedikit daripada yang mungkin
terjadi dengan alokasi yang berbeda
2

CEA adalah salah satu metode untuk mengidentifikasi strategi yang
dapat memberikan keefektifan biaya paling tinggi dari serangkaian pilihan
pilihan dengan tujuan yang sama. Dalam analisis keefektifan biaya dilakukan
dengan membandingkan input dan output. Input adalah biaya yang diukur
dalam satuan moneter, sedangkan output adalah manfaat diukur dalam
peningkatan kesehatan. Dengan membagi biaya dengan manfaat, seseorang
dapat memperoleh rasio keefefektifan biaya untuk setiap intervensi.
Intervensi yang efektif dapat memberikan lebih banyak manfaat pada lebih
banyak orang sehingga menjadi pertimbangan penting dalam mengevaluasi
tindakan dan kebijakan sosial.
1.2 Rumusan Masalah
1) Apakah pengertian CEA (Cost Effectiveness Analysis)?
2) Apa saja perbedaan CBA (Cost Benefit Analysis) dan CEA (Cost
Effectiveness Analysis)?
3) Bagaimana prinsip dasar CEA (Cost Effectiveness Analysis)?
4) Apa saja kelebihan dan kekurangan CEA (Cost Effectiveness Analysis)?
5) Bagaimana tahapan pada tujuan CEA (Cost Effectiveness Analysis) dan
bagaimana contoh penerapannya?
1.3 Tujuan
a. Mengetahui pengertian CEA (Cost Effectiveness Analysis).
b. Mengetahui perbedaan CBA (Cost Benefit Analysis) dan CEA (Cost
Effectiveness Analysis).
c. Mengetahui prinsip dasar CEA (Cost Effectiveness Analysis).
d. Mengetahui kelebihan dan kekurangan CEA (Cost Effectiveness Analysis).
3

e. Mempelajari tahapan pada tujuan CEA (Cost Effectiveness Analysis) dan
contoh penerapannya.
1.4 Manfaat
1) Mahasiswa dapat mengetahui pengertian CEA (Cost Effectiveness
Analysis).
2) Mahasiswa dapat mengetahui perbedaan CBA (Cost Benefit Analysis) dan
CEA (Cost Effectiveness Analysis).
3) Mahasiswa dapat mengetahui prinsip dasar CEA (Cost Effectiveness
Analysis).
4) Mahasiswa dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan CEA (Cost
Effectiveness Analysis).
5) Mahasiswa dapat mempelajari tahapan pada tujuan CEA (Cost
Effectiveness Analysis) dan contoh penerapannya.











4

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Cost Effectiveness Analysis (CEA)
Menurut Henry M. Levin, analisis efektifitas biaya adalah evaluasi
yang mempertimbangkan aspek biaya dan konsekuensi dari sebuah alternatif
pemecahan masalah. Ini adalah sebuah alat bantu pembuat keputusan yang
dirancang agar pembuat keputusan mengetahui dengan pasti alternatif
pemecahan mana yang paling efisien.
Menurut Diana B. Petitti, analisis efektifitas biaya adalah model yang
digunakan untuk menilai alternatif keputusan yang paling tepat dengan cara
membandingkan alternatif tersebut dalam hubungannya dengan keuangan
yang harus dikorbankan.
Menurut Shepard (1979) dalam First Principles Of Cost-Effectiveness
Analysis in Health, CEA adalah suatu metode untuk menentukan program
mana yang dapat menyelesaikan tujuan tertentu dengan biaya minimum.
Cost effectiveness analysis atau CEA merupakan suatu metoda yang
didesain untuk membandingkan antara outcome kesehatan dan biaya yang
digunakan untuk melaksanakan program tersebut atau intervensi dengan
alternatif lain yang menghasilkan outcome yang sama (Vogenberg, 2001).
Outcome kesehatan diekspresikan dalam terminologi yang obyektif dan
terukur seperti jumlah kasus yang diobati, penurunan tekanan darah yang
dinyatakan dalam mmHg, dan lain-lain dan bukan dalam terminologi
moneter (Vogenbeg, 2001).
5

Analisis cost-effectiveness merupakan salah satu cara untuk memilih
dan menilai program yang terbaik bila terdapat beberapa program yang
berbeda dengan tujuan yang sama tersedia untuk dipilih. Kriteria penilaian
pogram mana yang akan dipilih adalah berdasarkan discounted unit cost dari
masing-masing alternatif program sehingga program yang mempunyai
discounted unit cost terendahlah yang akan dipilih oleh para
analisis/pengambil keputusan (Tjiptoherianto dan Soesetyo, 1994).
Menurut kelompok kami, Cost Effectiveness Analysis adalah salah
satu bentuk evaluasi ekonomi pada program kesehatan untuk menentukan
program mana yang lebih efisien, baik ditinjau dari ketercapaian tujuannya
maupun dari segi biayanya.
2.1.1 Pengertian Analisis Biaya
Menurut Mulyadi (1990), Analisis biaya merupakan suatu upaya
mencapai penggunaan sumberdaya ekonomi yang optimal sebagai
dasar dalam pengambilan keputusan, khususnya yang menyangkut
berbagai macam alternatif untuk masa mendatang. Sedangkan
menurut Berman (1996), Analisis biaya adalah proses menata kembali
data atau informasi yang ada dalam laporan keuangan untuk
memperoleh usulan biaya pelayanan rumah sakit. Dengan kata lain,
analisis biaya merupakan pendistribusian biaya dari unit
pemeliharaan, unit operasional, dan unit pelayanan umum lainnya ke
bagian perawatan, gawat darurat, atau pendapatan rumah sakit dari
layanan yang diberikan kepada pasien.
6

Menurut Meg Sewell dan Mary Marczak (2011), cost analysis
is currently a somewhat controversial set of methods in economic
evaluation, cost allocation, and efficiency assessment. One reason for
the controversy is that these terms cover a wide range of methods.
Analisis biaya adalah sebuah metode yang kontroversial (mencakup
beberapa metode) dalam evaluasi ekonomi, pengalokasian biaya, dan
penilaian efisiensi.
Menurut kelompok kami, analisis biaya adalah suatu proses
mengumpulkan, mengelompokkan, dan mengidentifikasi data
keuangan untuk menghitung biaya output suatu produk/jasa dalam
rangka peningkatan efisiensi dan profitabilitas perusahaan.
2.1.2 Pengertian Efektivitas
Efektivitas berasal dari kata efektif yang mengandung
pengertian dicapainya keberhasilan dalam mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Efektivitas selalu terkait dengan hubungan antara hasil
yang diharapkan dengan hasil yang telah dicapai. Seperti yang
diungkapkan oleh Etzioni, dkk (1985) dalam Rukmini (2009),
efektivitas adalah Sebagai tingkat keberhasilan organisasi dalam
usaha untuk mencapai tujuan dan sasaran. Berdasarkan pendapat
tersebut, bahwa efektivitas merupakan suatu konsep yang sangat
penting karena mampu memberikan gambaran mengenai keberhasilan
suatu organisasi dalam mencapai sasaran atau tujuan yang diharapkan.
Sedangkan berdasarkan pendapat Mahmudi (2005) dalam
Rukmini (2009), Efektivitas merupakan hubungan antara output
7

dengan tujuan, semakin besar kontribusi (sumbangan) output terhadap
pencapaian tujuan, maka semakin efektif organisasi, program atau
kegiatan.
Efektivitas berfokus pada outcome (hasil). Program atau
kegiatan yang dinilai efektif apabila output yang dihasilkan dapat
memenuhi tujuan yang diharapkan. Secara umum telah dikemukakan
bahwa konsep efektivitas itu sendiri paling baik jika dilihat dari sudut
sejauh mana organisasi berhasil mendapatkan sumber daya dalam
usahanya mengejar tujuan strategi dan operasional (Steers (1985)
dalam Ridha (2008).
Menurut Handayaningrat (1983) dalam Ridha (2008)
memberikan definisinya mengenai efektivitas yaitu pengukuran dalam
arti tercapainya sasaran atau tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.
Sedangkan menurut segi kesehatan, Muennig (2008) memberikan
penjelasan mengenai definisi efektivitas sebagai berikut:
Effectiveness is the performance of health interventions in the
real world Efektivitas adalah kinerja dari intervensi kesehatan di
dunia nyata Lebih lanjut Muennig menjelaskan bahwa efektivitas
menunjukkan bagaimana bagusnya kinerja dari tes, pengobatan atau
program kesehatan di dunia nyata. Menurut kelompok kami,
efektivitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan seberapa jauh
tercapainya suatu tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.


8

2.2 Persamaaan Dan Perbedaan CBA Dan CEA
Tabel 2.1 : Persamaan dan Perbedaan CBA dan CEA
Cost Benefit Analysis Cost Effectiveness
Analysis
Kegunaan Mencari alternatif yang paling
menguntungkan
Mencari alternatif
yang murah
Tujuan
a. Memilih diantara beberapa
alternatif yang tujuannya
berbeda.
b. Memutuskan apakah suatu
rencana dilaksanakan atau
tidak

Memilih diantara
beberapa alternatif
yang tujuannya sama.
Perhitungan
effectiveness
Tidak ada
a. Dalam satuan
output.
b. Membandingkan
biaya satuan.

Perhitungan
benefit

a. Dalam nilai uang.
b. Membandingkan B/C ratio.

Tidak ada
Perhitungan cost Dalam nilai uang Dalam nilai uang

2.3 Prinsip Dasar Cost Effectiveness Analysis
Terdapat beberapa metode analisis biaya yakni Cost Benefit Analysis
(CBA) dan Cost Effectiveness Analysisi (CEA). Keduanya mengevaluasi
unsur ekonomi dengan melihat input dan output. Unsur masukan dalam
CEA dan CBA dinyatakan dalam bentuk besarnya biaya yang dibutuhkan
untuk menyelenggarakan program, misalnya Rp 1.000.000,-, Rp 2.000.000,-
dan seterusnya. Unsur keluaran berupa manfaat CBA yang dihasilkan
dinyatakan dalam nilai uang, Sedangkan pada CEA unsur keluarannya
berupa ketepatan (effectiveness) dalam menyelesaikan masalah,
9

dinyatakan dalam ukuran tertentu yang untuk bidang kesehatan adalah
berupa parameter kesehatan (Jacobs, 1987).
Cost Effectiveness Analysis (CEA) digunakan apabila benefit sulit
ditransformasikan dalam bentuk uang sehingga CEA sangat baik untuk
mengukur efisiensi di bidang sosial, khususnya bidang kesehatan yang
bersifat program atau intervensi pada tingkat daerah. Sesungguhnya untuk
bidang kesehatan memberikan nilai rupiah bagi setiap hasil yang diperoleh
tidaklah mudah. Sekalipun misalnya dua program sama-sama berhasil
memperpendek atau mempersingkat lama perawatan, misalnya dari lima
menjadi dua hari, namun nilai tiga hari yang berhasil ditekan tersebut
tidak sama antara satu program dengan program yang lain. Untuk
orang yang kebetulan tidak mempunyai pekerjaan, tentu nilai
rupiahnya akan jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan seseorang
yang kebetulan menjabat menjadi seorang manajer. Karena kesulitan
mengubah hasil program kesehatan ke dalam bentuk nilai uang, maka
tidak mengherankan kalau bidang kesehatan banyak menggunakan
teknik analisis efektifitas biaya atau CEA.
Beberapa ciri pokok CEA menurut Azwar, A (1989) adalah sebagai
berikut :
a. Bermanfaat untuk mengambil keputusan.
CEA berguna untuk membantu pengambilan keputusan
dalam menetapkan program terbaik yang akan dilaksanakan.
Dengan ciri ini jelaslah bahwa CEA terutama diterapkan sebelum
suatu program dilaksanakan, jadi masuk dalam tahap perencanaan.
10

b. Berlaku jika tersedia dua atau lebih program.
CEA tidak dapat dipergunakan jika berhadapan dengan satu
program saja. Perlu ada program lain sebagai perbandingan,
misalnya program butuh biaya Rp 1.000.000,- yang apabila
dilaksanakan akan berhasil menyembuhkan 300 pasien. Program
B butuh biaya Rp 1.000.000,- yang apabila dilaksanakan akan
berhail menyembuhkan 500 pasien. Dengan adanya program B
sebagai pembanding akan tampak bahwa program B lebih tepat dari
program A karena dengan biaya yang sama berhasil menyembuhkan
pasien lebih banyak.
c. Mengutamakan unsur input (masukan) dan unsur output (keluaran).
Pada CEA yang diutamakan hanya unsur masukan yang
dibutuhkan oleh program serta unsur keluaran yang dihasilkan
oleh program. Unsur lainnya, seperti proses, umpan balik dan
lingkungan agak diabaikan.
d. CEA terdiri dari tiga proses, yaitu :
1) Analisis biaya dari setiap alternatif atau program.
2) Analisis efektifitas dari tiap alternatif atau program.
Analisis hubungan atau ratio antara biaya dan efektifitas
alternatif atau program.
Prinsip dasar dari Cost-effectiveness analysis (CEA) menurut Shepard
adalah cara untuk merangkum health benefits dan sumber daya yang
digunakan dalam program-program kesehatan sehingga para pembuat
kebijakan dapat memilih diantara itu. CEA merangkum semua biaya
11

program ke dalam satu nomor, semua manfaat program (efektivitas) menjadi
nomor kedua, dan menetapkan aturan untuk membuat keputusan
berdasarkan hubungan diantara keduanya. Metode ini sangat berguna dalam
analisis program kesehatan preventif, karena metode ini menyediakan
mekanisme untuk membandingkan upaya yang ditujukan kepada populasi
dan penyakit yang berbeda. CEA membutuhkan langkah yang sedikit
merepotkan dibandingkan cost-benefit analysis, karena CEA tidak berusaha
untuk menetapkan nilai moneter untuk health outcomes dan benefits.
Sebaliknya, CEA mengungkapkan manfaat kesehatan yang lebih sederhana,
lebih deskriptif, seperti years of life yang diperoleh.
Untuk melaksanakan CEA, harus ada satu atau beberapa kondisi di
bawah ini:
a. Ada satu tujuan intervensi yang tidak ambigu, sehingga ada ukuran
yang jelas dimana efektifitas dapat diukur.
Contohnya adalah dua jenis terapi bisa dibandingkan dalam hal
biayanya per year of life yang diperoleh, atau, katakanlah, dua
prosedur screening dapat dibandingkan dari segi biaya per kasus yang
ditemukan. Atau;
b. Ada banyak tujuan, tetapi intervensi alternatif diperkirakan
memberikan hasil yang sama.
Contohnya adalah dua intervensi bedah memberikan hasil yang
sama dalam hal komplikasi dan kekambuhan.
Dalam evaluasi ekonomi, pengertian efektivitas berbeda dengan
penghematan biaya, dimana penghematan biaya mengacu pada persaingan
12

alternatif program yang memberikan biaya yang lebih murah, sedangkan
efektivitas biaya tidak semata-mata mempertimbangkan aspek biaya yang
lebih rendah (Grosse, 2000).
CEA membantu memberikan alternatif yang optimal yang tidak selalu
berarti biayanya lebih murah. CEA membantu mengidentifikasi dan
mempromosikan terapi pengobatan yang paling efisien (Grosse, 2000). CEA
sangat berguna bila membandingkan alternatif program atau alternatif
intervensi dimana aspek yang berbeda tidak hanya program atau
intervensinya, tetapi juga outcome klinisnya ataupun terapinya. Dengan
melakukan perhitungan terhadap ukuran-ukuran efisiensi (cost effectiveness
ratio), alternatif dengan perbedaan biaya, rate efikasi dan rate keamanan
yang berbeda, maka perbandingan akan dilakukan secara berimbang
(Grosse, 2000).
Cost Effectiveness Analysis digunakan apabila benefit sulit
ditransformasikan dalam bentuk uang sehingga CEA sangat baik untuk
mengukur efisiensi di bidang sosial, khususnya bidang kesehatan yang
bersifat program/intervensi pada tingkat kabupaten/kota.
Ada 2 macam analisis efektivitas biaya, yaitu :
a. Analisis jangka pendek
Merupakan analisis yang dilakukan untuk jangka waktu kurang
dari 1 tahun. Analisis jangka pendek ini merupakan analisis yang
paling banyak dan sering dilakukan. Dalam analisis jangka pendek ini
biaya satuan (unit cost) dihitung dari biaya depresiasi.
b. Analisis jangka panjang
13

Merupakan analisis yang dilakukan untuk jangka waktu lebih
dari 1 tahun. Dalam analisis jangka panjang ini biaya satuan (unit
cost) yang digunakan adalah berupa nilai discounted unit cost, dimana
dalam perhitungannya tanpa mempertimbangkan biaya depresiasi.

2.4 Kelebihan Dan Kelemahan Cost Effectiveness Analysis
2.4.1 Alasan Menggunakan Cost Effectiveness Analysis
a. Benefit bidang kesehatan
1. Sulit mengukur benefit tingkat kesembuhan, hilangnya
produktivitas akibat sakit atau cacat dan lain-lainnya.
2. Program kesehatan yang bersifat lintas sektoral sulit
menentukan dampak suatu program tertentu.
3. Program terpadu sulit menentukan keluaran program yang
murni
b. Cost bidang kesehatan
1. Program terpadu dan lintas sektoral akan menyulitkan
menilai sarana peralatan maupun personil yang benar-
benar digunakan untuk program tersebut.
2. Pendayagunaan peran serta masyarakat akan menyulitkan
menentukan biaya operasional.
3. Bantuan lokal, regional, nasional, dan internasional.
Contoh : bantuan lokal yang berupa transportasi. Sering
biaya transportasi digabungkan dengan dinas dan lain-lain.
Dari beberapa alasan tersebut, masih ditunjang dengan
14

adanya sistem pencatatan dan pelaporan yang masih
lemah, sehingga CEA masih cukup peka untuk mengukur
efisiensi.
2.4.2 Kegunaan Cost Effectiveness Analysis
Analisis efektivitas biaya merupakan alat utama untuk
membandingkan biaya intervensi kesehatan dengan keuntungan
kesehatan yang diharapkan. Intervensi dapat dipahami sebagai
aktivitas apapun, dengan menggunakan berbagai input, yang bertujuan
untuk meningkatkan kesehatan. CEA sering digunakan untuk
mengukur efisiensi dari macam-macam program dengan tujuan yang
sama.





Gambar 2.4.1 Different programs in the same objective
Kadang-kadang CEA juga digunakan untuk mengukur efisiensi
dari sumber daya (masukan) satu atau lebih dari satu program dengan
derajat tujuan (hierachy of objectives).
Keuntungan CEA dibandingkan CUA dan CBA adalah
perhitungan unsur biaya lebih sederhana, dan cukup peka sebagai
salah satu alat pengambil keputusan. Kerugiannya adalah hasil
keluaran yang berupa efek program tidak diperhitungkan.

15


2.4.3 Kelebihan dan Kelemahan Cost Effectiveness Analysis
a. Kelebihan
1. Mengatasi kekurangan dalam Cost Benefit Analysis saat
benefit sulit ditransformasikan dalam bentuk uang sebab
dalam CEA dilakukan perhitungan perbandingan outcome
kesehatan dan biaya yang digunakan jadi tetap dapat
memilih program yang lebih efektif untuk dilaksanakan
meskipun benefitnya sulit untuk diukur.
2. Hemat waktu dan sumber daya intensif
CEA memiliki tahap perhitungan yang lebih sederhana
sehingga lebih dapat menghemat waktu dan tidak
memerlukan banyak sumber daya untuk melakukan
analisis.
3. Lebih mudah untuk memahami perhitungan unsur biaya
dalam CEA lebih sederhana sehingga lebih mudah untuk
dipahami. Meskipun demikian CEA masih cukup peka
sebagai salah satu alat pengambil keputusan.
4. Cocok untuk pengambilan keputusan dalam pemilihan
program. CEA merupakan cara memilih program yang
terbaik bila beberapa program yang berbeda dengan
tujuan yang sama tersedia untuk dipilih. Sebab, CEA
memberikan penilaian alternatif program mana yang
paling tepat dan murah dalam menghasilkan output
16

tertentu. Dalam hal ini CEA membantu penentuan
prioritas dari sumber daya yang terbatas.
5. Membantu penentuan prioritas dari sumber daya
b. Kelemahan
1. Alternatif tidak dapat dibandingkan dengan tepat
Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa sulitnya ditemui
CEA yang ideal, dimana tiap-tiap alternatif identik pada
semua kriteria, sehingga analisis dalam mendesain suatu
CEA, harus sedapat mungkin membandingkan alternatif-
alternatif tersebut.
2. CEA terkadang terlalu disederhanakan.
Pada umumnya CEA berdasarkan dari analisis suatu biaya
dan suatu pengaruh misalnya rupiah/anak yang
diimunisasi. Padahal banyak program-program yang
mempunyai efek berganda. Apabila CEA hanya
berdasarkan pada satu ukuran keefektifan (satu biaya dan
satu pengaruh) mungkin menghasilkan satu kesimpulan
yang tidak lengkap dan menyesatkan.
3. Belum adanya pembobotan terhadap tujuan dari setiap
program.
Akibat belum adanya pembobotan pada tujuan dari setiap
program sehingga muncul pertanyaan biaya dan pengaruh
mana yang harus diukur?. Pertanyaan ini timbul
mengingat belum adanya kesepakatan diantara para analis
17

atau ahli. Disatu pihak menghendaki semua biaya dan
pengaruh diukur, sedangkan yang lainnya sepakat hanya
mengukur biaya dan pengaruh-pengaruh tertentu saja.
4. Cost Effectiveness Analysis terkadang terlalu
disederhanakan
5. Seharusnya ada pembobotan terhadap tujuan dari setiap
proyek karena beberapa tujuan harus diprioritaskan.

2.5 Tahap Penghitungan Cost Effectiveness Analysis
Tahapan dalam menghitung Cost Effectiveness Analysis (CEA) yaitu
sebagai berikut:
a. Mengidentifikasi unsur biaya dari alternatif program yang ada.
b. Menghitung total cost atau present value cost dengan rumus:
c.

atau


d. Dimana

merupakan nilai discount factor


e. Menghiitung objective atau output yang berhasil.
f. Menghitung cost effectiveness ratio (CER):
g.


h. Membandingkan CER dari masing-masing alternatif program.
i. Memilih CER yang terkecil dari program untuk direkomendasi.


18

BAB 3
STUDI KASUS

3.1 Contoh Implementasi Cost Effectiveness Analysis
Puskesmas A dan B melaksanakan imunisasi campak pada anak balita,
melalui tenaga juru imunisasi dengan metode yang berbeda. Puskesmas A
memberikan imunisasi campak dengan cara mendatangi penduduk (satu
desa dikunjungi sekali sebulan). Hasil pencapaian imunisasi selama setahun,
Puskesmas A adalah 900 bayi dengan menghabiskan 300 flacon vaksin,
sedangkan Puskesmas B pencapaian imunisasi adalah 600 bayi dengan
menghabiskan 100 flacon vaksin. Apabila diketahui target imunisasi 4%
dari jumlah penduduk, di mana penduduk masing-masing puskesmas adalah
30.000 jiwa, maka
Efektifitas Puskesmas A = 900 : (4% x 30.000) x 100%
= 75%
Efektifitas Puskesmas B = 600 : (4% x 30.000) x100%
= 50%
Sehingga dapat disimpulkan bahwa Puskesmas A lebih efektif
daripada Puskesmas B. Demikian pula bila hanya dilihat waktu yang
dipergunakannya untuk pencapaian yang sama, maka Puskesmas A lebih
efisien (efisiensi teknis).
Sedangkan untuk Cost Effectiveness Analysis-nya, diasumsikan
bahwa tenaga juru imunisasi pada kedua Puskemas sama-sama satu orang.
Puskesmas A menggunakan biaya untuk pembelian flacon dan tenaga juru
19

imunisasi. Sedangkan puskesmas B menggunakan biaya untuk tenaga juru
imunisasi, pembelian flacon, serta biaya termos dan es untuk digunakan
selama satu setengah tahun. Diasumsikan tenaga juru imunisasi
menghabiskan biaya yang sama untuk puskemas A dan B, sehingga tidak
dimasukkan dalam perhitungan.
a. Puskesmas A menghabiskan biaya sebesar 300 fl x Rp 3.000,00 = Rp
900.000,00 (1 fl harganya Rp 3.000,00)
b. Puskesmas B menghabiskan biaya sebesar 100 fl x Rp 3.000,00 = Rp
300.000,00 ditambah Rp 18.000,00 yaitu biaya termos dan es selama
satu setengah tahun sehingga total adalah Rp 318.000,00
Sedangkan untuk perbandingan output yang berhasil :
Puskesmas A = 75% x 900 = 675
Puskesmas B = 50% x 600 = 300
Perbandingan Cost Effectiveness Ratio (CER) :
CER Puskesmas A = total cost : output yang yang berhasil
= 900.000 : 675 = Rp 1.333,33
CER Puskesmas B = total cost : output yang yang berhasil
= 318.000 : 300 = Rp 1.060
Kesimpulan:
a. CER puskesmas B lebih kecil daripada CER puskesmas A, itu berarti
biaya yang dikeluarkan puskesmas B untuk menghasilkan output yang
berhasil lebih rendah dibandingkan puskesmas A.
20

b. Oleh karena CER puskesmas B lebih kecil, dapat direkomendasikan
bahwa untuk imunisasi dengan efektifitas yang lebih tinggi dapat
menggunakan program seperti yang dilakukan oleh puskesmas B.


21

BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Cost effectiveness analysis atau CEA merupakan suatu metoda yang
didesain untuk membandingkan antara outcome kesehatan dan biaya yang
digunakan untuk melaksanakan program tersebut atau intervensi dengan
alternatif lain yang menghasilkan outcome yang sama.
Cost Effectiveness Analysis digunakan apabila benefit sulit
ditransformasikan dalam bentuk uang sehingga CEA sangat baik untuk
mengukur efisiensi di bidang sosial, khususnya bidang kesehatan yang
bersifat program/intervensi pada tingkat kabupaten/kota.
CEA sering digunakan untuk mengukur efisiensi dari macam-macam
program dengan tujuan yang sama. Kadang-kadang CEA juga digunakan
untuk mengukur efisiensi dari sumber daya (masukan) satu atau lebih dari
satu program dengan beberapa derajat tujuan (hierachy of objectives).








22

Daftar Pustaka

Grosse D.S.,Teutsch M.S. Developing, Implementing and Population
Intervention. Genetics and Prevention Effectiveness. Genetics and Public
Health in 21st Century: Oxford University Press 2000.
Hasyim. Perencanaan dan Pengembangan SDM. Modul.
https://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:jukrgLBjRfAJ:kk.mercubuan
a.ac.id/files/31083-14-
596663522618.doc+&hl=id&gl=id&pid=bl&srcid=ADGEESiw-
jXF1WgBXVlJus_bIi24P6ibg160Z-
j5l2OsIlxyFHdE7qQTwQ4jaTSMBw0NRRhEEhQgOIbbTMeMv3tR9QIPli
_Txnk0FuUUjJ1qWk3A3Xcx2vgyu5kC6jh3zcPal9Ww8nvY&sig=AHIEtb
QxOptx7Q9qjOKKxLjr9tw9Cobxsw . Sitasi pada 30 Oktober 2012.
Muennig, Peter. 2008. Cost Effectiveness Analysis in Health: A Practical
Approach. San Fransisco: Jossey-Bass.
Ridha, Muhamad. 2008. Efektivitas Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit Umum
Kabupaten Polman Sulawesi Barat. Skripsi.
http://www.docstoc.com/docs/21610818/EFEKTIVITAS-PELAYANAN-
KESEHATAN-DI-RUMAH-SAKIT-UMUM-KABUPATEN . Sitasi pada
30 Oktober 2012.
Rukmini. 2009. Efektivitas Pelayanan Publik Mengenai Sertifikat Tanah melalui
Sistem Informasi dan Manajemen Pertanahan Nasional (SIMTANAS)
pada Kantor Pertanahan Kota Tangerang Tahun 2007. Skripsi.
23

jbptunikompp-gdl-iiphimawan-22764-7-babii.pdf. Sitasi pada 30 Oktober
2012.
Sewell, Meg and Mary Marczack. 2011. Using Cost Analysis in Evaluation.
ag.arizona.edu/sfcs/cyfernet/cyfar/costben2.htm. Sitasi pada 30 Oktober
2012.
Shepard, Donald S. and Mark S.Thompson. First Principles Of Cost-Effectiveness
Analysis in Health. English Publication in Public Health Reports 93:535
543, 1979.
Tjiptoherijanto, Prijono dan Soesetyo, Budhi. 1994. Ekonomi Kesehatan. Jakarta:
PT. Rineka Cipta.
Vogenberg R.F. Introduction to Applied Pharmacoeconomics. New York:
McGraw-Hill. Medical Publishing Division 2001.