Anda di halaman 1dari 21

[LAPORAN KASUS JIWA RSPAD 2014]

1
STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. D
Umur : 30 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Tanggal lahir : 24 Maret 1984
Alamat : Hutan Panjang III, RT 01/RW 07 No.4, Kemayoran, Jakarta
Suku : Jawa
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Status perkawinan : Menikah
Agama : Islam
Pendidikan : SMA tidak tamat
Tanggal masuk RS : 22 Juni 2014

II. RIWAYAT PSIKIATRI
Alloanamnesa : 24,25 Juni 2014 dengan petugas poliklinik yang biasa mengantar
pasien berobat.
Autoanamnesa : 21,22,24,25 juni 2014
a. Keluhan Utama
Mengamuk dan membanting barang-barang 12 jam SMRS
b. Keluhan Tambahan
Pasien sering joget-joget, tertawa, dan menyanyi dan berbicara sendiri.
c. Riwayat Gangguan Sekarang
Berdasarkan autoanamnesis didapatkan pasien masuk ke rumah sakit
dikarenakan berteriak sekencang-kencangnya dan marah-marah karena pasien
merasa tidak dapat bertemu dengan pria idamannya yaitu Agus Purwanto
seorang TNI yang tinggal di lingkungan rumahnya yang biasa disebut dengan
KEDIRI yaitu panggilan sayang pasien terhadapnya, menurut alloanamnesis, 2
hari terakhir SMRS pasien sudah mengamuk dan marah-marah serta memukul
barang-barang seperti lonceng dan pintu di lingkungan rumah, Lalu ibu pasien
yang selama ini tinggal bersama pasien memanggil petugas poliklinik untuk
[LAPORAN KASUS JIWA RSPAD 2014]


2
membawa kembali pasien ke bagian keswa RSPAD Gatot Soebroto. Pasien
sering joget-joget, menyanyi, dan berbicara sendiri selayaknya anak kecil.
Pasien mengakui bahwa melakukan tingkah seperti itu karena dia merasa
bahagia karena sedang jatuh cinta kepada Kediri tersebut, menurut aloanamnesis
Agus Purwanto memang benar tinggal di lingkungan rumah pasien, namun
hanya sekedar lewat dan memberikan minuman kepada anak pasien, semenjak
hari itu pasien menjadi jatuh cinta dan tergila-gila terhadap Agus Purwanto,
yang menyebabkan Agus Purwanto dan keluarga takut terhadap Pasien.
Suami Pasien yang mengalami gangguan kejiwaan juga bersikap acuh
tak acuh terhadap istrinya yang mulai jatuh cinta dan memuja pria lain selain
dirinya, menurut aloanamnesis kejadian ini sudah berlangsung semenjak 3 bulan
setelah sebelumnya pasien pulang dari bangsal amino untuk perawatan kejiwaan
terakhir kalinya.
Pasien mengaku hidupnya hampa dikarenakan Agus Purwanto tidak
dapat untuk selalu disampingnya dan menemani dalam segala aktivitasnya.
Pasien pernah melakukan beberapa kali percobaan bunuh diri seperti minum
minyak urut, cairan pemutih, juga detergen bubuk. Beberapa luka tampak
dibagian tubuh pasien karena dia cenderung melukai diri sendiri, seperti
menggaruk kaki dengan gunting.
Pasien tidak percaya terhadap kematian, ini yang menyebabkan pasien
tidak takut mati. Karena menurut pasien jiwa pasti menempel dalam raga,
sehingga apabila orang yang telah meninggal di kuburan ketika digali
makamnya akan kembali hidup.
Selama dalam masa perawatan pasien sering menunjukkan perilaku aneh
seperti menyanyi dan berbicara sendiri, tidur seharian, tidur di lantai depan
gerbang bangsal, jarang mandi, dan sering sekali makan. Pasien juga mengamuk
dan ingin memukul pasien lain karena pasien menuduh pasien lain tersebut
memakai pakaiannya.
Selama proses wawancara pasien sering sekali bertingkah seperti anak
kecil, dan tidak kooperatif dengan melakukan hal seperti menyanyi sendiri dan
mengacuhkan pemeriksa. Seringkali preokupasi kepada hal seperti mie ayam,
agus purwanto, maupun pulang.

Pasien mengaku melihat siluman, dan menganggap burung gereja yang
hinggap diatas atap bangsal adalah salah satu dari siluman tersebut. Pasien juga
[LAPORAN KASUS JIWA RSPAD 2014]


3
pernah melihat sosok kerang dengan bola dunia ditengahnya dan dikawal oleh
dua orang laki-laki pendek saat dia jalan ke pelabuhan ratu namun hal ini sulit
untuk ditelaah lebih lanjut, karena pasien mengatakan itu aib dari makhluk-
makhluk tersebut dan sebaiknya jangan dibicarakan walau kepada orang
terdekat sekalipun.
Pasien sering melamun dan melihat ke sudut ruangan tertentu, selama
beberapa menit tanpa menghiraukan panggilan dan pertanyaan dari pemeriksa.
Pasien mengatakan bahwa ia memiliki rasa cinta yang sangat mendalam
kepada pria pujaannya yaitu Agus Purwanto. Rasa cinta tersebut pasien akui
rasa yang sangat mendalam, kangen yang luar biasa. Di mata pasien Agus
Purwanto adalah seorang sosok laki-laki sempurna yang bahkan lebih dia cintai
dibanding suaminya sehingga dalam masa perawatannya di bangsal amino dia
habiskan untuk mengkhayal dan berfantasi tentang Agus Purwanto.

Riwayat Gangguan Sebelumnya
i. Riwayat Gangguan Psikiatri
Menurut Alloanamnesis pasien sudah bolak-balik dirawat di paviliun
amino RSPAD Gatot Subroto, dalam perawatannya pasien bisa 2-4 kali
bolak balik ke paviliun amino dalam rentan waktu satu tahun, Suami
pasien juga mengalami gangguan kejiwaan. Penyebab gangguan kejiwaan
ini diperkirakan karena pasien dan suaminya pergi ke daerah Bogor untuk
melakukan amalan demi menemukan harta karun peninggalan Belanda yang
diyakini suami pasien terdapat dalam tanah lingkungan rumahnya, Pasien
bisa mengamuk hebat bila dilakukan sesuatu paksaan terhadapnya pasien
juga pernah mencukur gundul sebagian kepalanya karena patah hati.
Menurut pengakuan pasien, pasien juga sering membuat tetangga-
tetangga pasien risih, pasien mengaku pernah kencing ditampung di ember
dan dibuang dari lantai 2 rumahnya ke jalan sehingga terkena tetangga-
tetangganya. Hal ini dilakukan hanya karena pasien malas pergi ke kamar
mandi, perilaku seperti ini lah yang sering membuat pasien bertengkar
dengan kedua orang tuanya.
Riwayat Medik Umum
[LAPORAN KASUS JIWA RSPAD 2014]


4
Pasien menyangkal adanya riwayat kejang saat kecil/epilepsi, kehilangan
kesadaran, trauma kepala, penyakit saraf, tumor otak, kebingungan yang bersifat
mendadak dan sementara maupun nyeri kepala berlebih.
ii. Penggunaan Zat Psikoaktif dan Alkohol
Pasien tidak pernah merokok dan mengkonsumsi alkohol atau narkotika.

e. Riwayat Kehidupan Pribadi
1. Riwayat Prenatal dan Perinatal
Menurut pasien, selama kehamilan pasien tidak bermasalah, pasien
dilahirkan secara normal pervaginam ditolong oleh bidan.
2. Riwayat Masa Kanak Awal (0-3 tahun)
Tidak didapatkan data yang cukup karena pasien lupa akan masa-masa ia
berusia 0-3 tahun.
3. Riwayat Masa Kanak Pertengahan (3-11 tahun)
Pasien tumbuh seperti anak lainnya, memiliki cukup banyak teman.
Pasien bersekolah di SD Yon Amor, Untuk hubungannya dengan teman-
teman bermain, pasien tidak akrab dan sering berkelahi, sehingga tidak
memiliki banyak teman.
4. Riwayat Masa Kanak Akhir dan Remaja (12-18 tahun)
Pasien tumbuh seperti anak seumurnya. Pasien bersekolah di SMP
Negeri 78 dan SMA 20. Pasien mengatakan bahwa ia memiliki beberapa
pacar pada saat SMA dan bercita-cita menjadi sorang pramugari maskapai
Boeing 717 saat dewasa nanti.
5. Masa dewasa
i. Riwayat Pendidikan
Pasien bersekolah dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas tidak
pernah tinggal kelas,namun tidak tamat SMA. Pasien tidak mau
menjelaskan kenapa ia bisa sampai tidak tamat, pasien jarang memiliki
teman dan lebih banyak memiliki musuh.
ii. Riwayat Pekerjaan
Pasien mengaku pernah bekerja sebelumnya di ITC Cempaka Mas
sebagai SPG event, namun berdasarkan alloanamnesis pasien hanya menjaga
[LAPORAN KASUS JIWA RSPAD 2014]


5
counter pakaian pada ITC cempaka mas pada tahun 2010 selama beberapa
bulan.

iii. Riwayat Pernikahan
Pasien sudah menikah satu kali selama 13 tahun dan memiliki 2 orang
anak yang masing-masing berumur 12 tahun (laki-laki) dan 8 tahun
(perempuan). Pasien tinggal bersama kedua orang tuanya.

iv. Riwayat Kehidupan Beragama
Pasien beragama Islam dan pasien tidak pernah sholat 5 waktu dan
membaca Al-Quran. Pasien tidak percaya kematian dan hari akhir.
v. Riwayat Pelanggaran Hukum
Pasien tidak pernah melakukan tindakan pelanggaran hukum maupun
berurusan dengan pihak berwajib.
vi. Riwayat Psikoseksual
Pasein akui selama bersekolah baik SMP, maupun SMA mempunyai
beberapa pacar. Pasien mengaku sering membayangkan Agus Purwanto
ketika melakukan hubungan seks dengan suaminya karena pasien sudah
tidak cinta lagi dengan suaminya.
vii. Aktivitas sosial
Di lingkungan rumah pasien, pasien mengakui tidak melakukan aktivitas
social, hanya beberapa kali ikut main voli di lapangan.

f. Riwayat Keluarga
Pasien merupakan anak kedua dari dua bersaudara, dengan Ayah
bernama Ponijan dan ibu bernama Ani, tidak didapat data lebih lanjut soal
keluarga pasien karena tidak adanya kontak keluarga pasien.
g. Situasi kehidupan sekarang
Saat ini pasien tinggal bersama Ibu dan Bapaknya di Jakarta. Suami
pasien pisah rumah dengan pasien dan tinggal di asrama. Suami pasien bekerja
sebagai tentara dan sekarang ini pasien tidak bekerja.
Setelah pasien masuk ke dalam perwatan di RSPAD, yang mengurus
kedua anaknya adalah Ibu pasien.

[LAPORAN KASUS JIWA RSPAD 2014]


6
h. Persepsi
i. Pasien tentang diri dan lingkungan
Pasien menganggap bahwa dirinya adalah seorang manusia yang
hidupnya hampa karena tidak dapat bersama-sama dengan kekasih
hatinya Agus Purwanto. Pasien merasa kesal dengan Tuhan karena tidak
dapat mempertemukan dia dengan Agus Purwanto. Pasien merasa tidak
berguna dan tidak menikmati hidup sehingga seringkali berpikir lebih
baik mati daripada hidup tanpa laki-laki pujaannya.
Pasien mengetahui kalau dirinya sedang sakit dan dirawat di
Paviliun Amino RSPAD Gatot Soebroto untuk mendapatkan pengobatan
sehingga pasien dapat sehat kembali dan pulang ke rumah dan bertemu
kekasihnya walau dia tau itu tidak mungkin. Ketika ditanyakan
penyakitnya, pasien mengatakan bahwa orang-orang di sekitarnya
menganggap pasien sakit jiwa karena tidak dapat bersatu dengan Agus
Purwanto kekasihnya.

ii. Persepsi keluarga tentang diri pasien
Keluarga pasien mengetahui bahwa pasien mengalami gangguan
jiwa dan membutuhkan pengobatan. Menurut Aloanamnesis, keluarga
pasien menganggap rumah tangga pasien hancur karena kedua pasangan
tersebut gangguan jiwa, dan tidak memiliki masa depan dalam rumah
tangganya. Seringkali terjadi selisih antara orang tua suami pasien
dengan suami pasien, karena suami pasien sejak mengalami gangguan
jiwa sering menghambur-hamburkan uang untuk anaknya ketimbang
ditabung untuk masa depan
iii. Mimpi, fantasi dan nilai-nilai
Harapan pasien adalah pasien dapat sembuh dan dapat segera
pulang ke rumah sehingga bisa bertemu Agus Purwanto, keluarga dan
anak pasien.




[LAPORAN KASUS JIWA RSPAD 2014]


7
IV. STATUS MENTAL
Pemeriksaan dilakukan pada tanggal 21 Juni 2014

a. Deskripsi Umum
1. Penampilan
Pasien berjenis kelamin perempuan berusia 30 tahun dengan penampilan
sesuai usia, tinggi 155 cm, kulit berwarna sawo matang, rambut pendek,
dengan kerapihan dan perawaran diri yang cukup. Pada saat diwawancara
pada tanggal 21 Juni 2014, pasien menggunakan baju berlengan pendek
berwarna ungu disertai dengan celana pendek selutut berwarna ungu. Pasien
dapat berjalan dengan keseimbangan baik , cara jalan yang seperti anak kecil.
2. Perilaku dan Aktivitas Psikomotorik
Secara umum perilaku pasien pasif. Pasien akan bercerita apabila
dipancing terlebih dahulu. Selama wawancara pasien duduk tenang di kursi
ruang makan. Kontak mata dengan pemeriksa tidak baik, Pasien cenderung
pendiam dan jarang berkomunikasi dengan para pasien lainnya. Pasien
senang menonton berita di TV yang disediakan di ruang makan. terutama
nonton inbox, sinetron, serta acara-acara music lainnya, pasien tampak
beberapa kali melamun saat sedang berbicara.
3. Sikap Terhadap Pemeriksa
Selama wawancara pasien duduk tenang di kursi ruang makan. Pasien
tidak cukup kooperatif saat diajukan pertanyaan dan pasien terkadang tidak
mau menjawab semua pertanyaan yang diberikan, dengan lambat dan
perlahan terkadang pertanyaan harus diulangi kembali. Bahkan pasien
mengelak dan bersikap defensive dengan menyanyi sendiri tanpa
menghiraukan kata-kata dan pertanyaan dari pemeriksa. Pasien senang
mengalihkan topic pembicaraan ke sesuatu yang tidak menyambung terhadap
topic yang sebelumnya.
4. Mood dan Afek
Mood : Kesan depresi /cenderung menurun
Afek : sempit
Keserasian : Tidak serasi
5. Pembicaraan
[LAPORAN KASUS JIWA RSPAD 2014]


8
Pasien dapat berbicara cukup lancar, volume suara pelan, irama teratur
dan artikulasi yang jelas. Isi pembicaraan dapat dimengerti dan pasien
menjawab pertanyaan tidak dengan baik dan sedikit lambat. Pasien sering
berhenti ketika sedang menjawab pertanyaan dan berkata lupa mau berbicara
apa, menjawab pertanyaan melenceng dari topic dan dapat memulai topic baru
yang tidak ada hubungannya dengan topic sebelumnya. Namun pasien suka
berhenti pada saat sedang berbicara, melamun dan bertanya balik ke pemeriksa
bila pemeriksa tidak mau menjawab pertanyaan pasien cenderung ngambek
dan kabur dari pemeriksa.

6. Gangguan Persepsi
Gangguan
Persepsi
21 Juni 2014 22 Juni 2014 24 Juni
2014
25 Juni
2014
Halusinasi
Visual
-
ada
- ada
Halusinasi
Auditorik
- - - -
Halusinasi
Olfaktorik
- - - -
Halusinasi
Gustatorik
- - - -
Halusinasi
Taktil
- - - -
Ilusi - - - ada
Depersonalisasi
dan Derealisasi
- - - -

7. Pikiran
Pikiran 21 juni 2014 22 Juni 2014 24 Juni 2014 25 juni 2014
Arus Pikir Blocking Blocking Blocking blocking
Isi Pikir Waham
Nihilistik
Waham Bizzare
Waham
Nihilistik
Waham Bizzare
Waham Nihilistik
Waham Bizzare
Waham
Nihilistik
Waham Bizzare
[LAPORAN KASUS JIWA RSPAD 2014]


9
Bentuk Pikir Non-Realistic Non-Realistic Non-Realistic Non-Realistic

waham nihilistik karena pasien yakin bahwa dirinya hampa dan tidak berguna,
dan berpikir untuk bunuh diri.
waham bizzaren karena pasien menyangkal adanya kematian dan orang mati bisa
hidup lagi.

8. Sensorium dan Kognitif
i. Taraf kesadaran dan kesiagaan
a. Kuantitas : Compos mentis
b. Kualitas : baik
c. Respon buka mata : spontan membuka mata
d. Respon motorik : mengikuti perintah
e. Respon verbal : berorientasi dengan baik
ii. Orientasi
Waktu: baik, pasien dapat membedakan waktu saat pagi, siang dan
malam, pasien juga dapat mengetahui tanggal dan hari.
Tempat: baik, pasien mengetahui bahwa dirinya berada di pavilliun
Amino, RSPAD Gatot Soebroto.
Orang: baik, pasien dapat mengetahui yang nama pemeriksa, perawat,
dan pasien-pasien di bangsal, serta keluarganya.
iii. Daya ingat
Jangka panjang: baik, pasien dapat mengingat tanggal lahir, dimana
pasien bersekolah, nama-nama anggota keluarganya
Jangka sedang : baik, pasien dapat mengingat aktivitasnya dalam
seminggu terakhir.
Jangka pendek : baik, pasien dapat mengingat menu makan pagi
sebelum wawancara.
Jangka segera : baik, pasien dapat mengulang kata-kata yang
disebutkan pemeriksa dengan baik dan berurutan.
iv. Konsentrasi dan perhatian
Kurang baik, karena pasien dapat melakukan pengurangan 100
dikurang 7 dengan memerlukan waktu yang lama untuk berpikir.
v. Kemampuan membaca dan menulis
[LAPORAN KASUS JIWA RSPAD 2014]


10
Pasien dapat membaca walaupun terbata-bata dan lama,
sedangkan untuk menulis, pasien tidak mau untu menulis.

vi. Kemampuan visuospasial
Baik, pasien dapat menggambarkan jam tetapi tidak
mempelihatkan arah jarum panjang dan jarum pendek dengan baik serta
dapat menggambarkan pentagon dengan baik setelah diberikan contoh
gambar terlebih dahulu.


vii. Pikiran Abstrak
Baik, pasien dapat menjelaskan perbedaan apel dengan jeruk.
viii. Intelegensia dan Daya Informasi
Pasien dapat menjawab siapa presiden RI pertama serta presiden
RI saat ini.
9. Kemampuan Mengendalikan Impuls
Pengendalian impuls pasien baik, pasien dapat mengendalikan diri
dengan berperilaku baik dan sopan.
10. Daya Nilai dan Tilikan
Daya dan Nilai Sosial
Baik, Pasien bersikap sopan terhadap pemeriksa, dokter, dan perawat di
Paviliun Amino, serta terhadap keluarganya.
Uji daya nilai
[LAPORAN KASUS JIWA RSPAD 2014]


11
Baik, jika menemukan dompet maka pasien pasien akan melapor pada
yang berwajib atau akan mendiamkan dompet tersebut.
Penilaian realita
RTA terganggu.
Tilikan
Pada awal datang, yaitu tanggal 12 Juni 2014, pasien memiliki tilikan
derajat 1, yaitu menyangkal akan dirinya sakit dan butuh pengobatan.
Namun pada saat diwawancara pada tanggal 25 April 2014 dan selama
follow up, pasien memiliki tilikan dengan derajat 3 dimana pasien
menyadari bahwa dirinya sakit dan butuh pengobatan, namun sakitnya ini
bukan karena dirinya melainkan karena dirinya tidak dipertemukan
dengan Agus Purwanto.
Taraf Dapat Dipercaya
Secara umum, keterangan yang didapat dari autoanamnesis tidak dapat
dipercaya karena tidak sejalan dengan alloanamnesis.

V. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan dilakukan tanggal 21 Juni 2014
A. Status Interna
1. Keadaan umum : Baik
2. Kesadaran : kompos mentis
3. Status gizi : kesan baik
BB : 65 kg
TB : 160 cm
BMI : 25,39
Intepretasi : overweight
4. Tanda-tanda vital
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Nadi : 70 x/menit
Pernapasan : 16 x/menit
Suhu : 36,5 C
5. Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, tidak
ditemukan kelainan
6. Hidung : sekret (-), konka edema -/-
[LAPORAN KASUS JIWA RSPAD 2014]


12
7. Telinga : membran timpani intak, serumen +/+
8. Mulut : gigi cukup rapi, lengkap, terlihat putih bersih, tidak
terdapat karang gigi.
9. Leher : tidak terdapat pembesaran KGB dan pembesaran tiroid.
10. Paru : vesikuler, ronki (-/-), wheezing (-/-)
11. Jantung : bunyi jantung I-II reguler, murmur (-/-), gallop (-/-)
12. Abdomen : datar, BU(+), supel, hepar/lien tidak teraba, nyeri tekan
(-)
13. Ekstremitas : dalam batas normal
14. Kulit : dalam batas normal

B. Status Neurologis
1. GCS : 15
2. Tanda rangsang meningeal : negatif
3. Tanda-tanda efek ekstrapiramidal
o Tremor : negatif
o Akatisia : negatif
o Bradikinesia: negatif
o Rigiditas : negatif
4. Cara berjalan : normal
5. Keseimbangan : normal
6. Rigiditas : negatif
7. Motorik : Baik
8. Sensorik : Baik

VI. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA
Pemeriksaan dilakukan pada Ny. D, usia 30 tahun, agama Islam, suku Sumatra,
pendidikan terakhir SMA. Masuk Paviliun Amino RSPAD Gatot Soebroto pada tanggal 12
Juni 2014 diantar oleh petugas poliklinik dengan keluhan selama 12 jam SMRS pasien
mengamuk dan memukul barang-barang. Pasien suka bicara, menyanyi, dan joget-joget
sendiri. Pasien menyangkal adanya bisikan atau suara-suara ditelinga pasien yang
berbicara menyuruh ataupun mengajak ngobrol pasien.
Pada pasien ini ditemukan juga bahwa pasien senang bertindak aneh, yaitu
tidur di lantai, tidur seharian, jarang sekali mandi, Pada pasien ini juga didapati adanya
[LAPORAN KASUS JIWA RSPAD 2014]


13
waham nihilistik, dan waham bizzare dimana pasien percaya dirinya tidak berguna dan
tidak percaya adanya kematian serta hari akhir, pasien juga mengalami ilusi serta
halusinasi visual dengan seringnya melihat sosok siluman serta Agus Purwanto di bangsal
Amino. Ketidakberdayaan pasien soal dirinya yang tidak dapat bersama Agus Purwanto
membuat dirinya tidak berguna dalam hidup ini, dan memunculkan ide-ide bunuh diri
dengan menyakiti diri sendiri baik melalui benda tajam maupun minum-minuman bahan
kimia.
Pada alloanamnesis diduga pasien menjadi seperti ini karena amalan yang
dilakukan pasien bersama suami untuk menemukan harta karun di lingkungan rumahnya
yang merupakan tanah peninggalan belanda, namun menurut pemeriksa nampaknya factor
sosio-ekonomi lah yang membuat pasien menjadi keadaan seperti ini.
Malasnya pasien membeli obat, ketika sudah pulang dari amino membuat
penyakit pasien kambuh kembali dan melakukan hal-hal yang merugikan diri sendiri
maupun orang disekitarnya.
Selama menjalani perawatan sekarang, pasien menyatakan berangsur-angsur
membaik, terkadang pasien masih merasa sedih dan berdiam diri, namun pasien tampak
lebih kooperatif dan mau menjawab beberapa pertanyaan serta lebih ramah kepada
pemeriksa dan orang lain.
Berdasarkan pemeriksaan status mental tanggal 21 Juni 2014, penampilan
umum pasien sesuai dengan umur, perawatan diri dan higiene pasien kurang. Kesadaran
pasien compos mentis. Selama wawancara pasien cukup tenang, berperilaku agak tidak
normal, sering bersikap defensif dengan menyanyi sendiri dan mengganti topik
pembicaraan. Selama pemeriksaan pasien tidak cukup kooperatif. Namun beberapa kali
saat diwawancara pasien dapat menceritakan pemikirannya.
Terdapat mood yang cenderung menurun mengarah ke depresi dan afek sempit.
Pembicaraan spontan, volume suara sedang dengan intonasi cukup, artikulasi jelas. Pasien
menjawab pertanyaan dari pemeriksa sesuai namun agak lambat dan kadang pertanyaan
harus diulang kembali. Saat menjawab pertanyaan, pasien terkadang terdiam lalu tidak
melanjutkan kalimatnya. Kontak mata pasien dengan pemeriksa baik selama wawancara.
Arus pikir pasien blocking, isi pikir miskin ide namun ditemukan adanya
waham nihilistik dan waham bizzare, bentuk pikir pasien adalah Non-realistik. Pada
pemeriksaan sensorium pasien mempunyai kesadaran, orientasi, daya ingat, serta
kemampuan visuospasial yang cukup baik. Konsentrasi pasien kurang baik, mudah
teralihkan dan pasien kadang terlihat melamun saat diberi pertanyaan sehingga pertanyaan
harus diulang.
[LAPORAN KASUS JIWA RSPAD 2014]


14
Selama wawancara pasien cukup dapat mengendalikan diri dengan berperilaku
baik dan sopan. Daya nilai pasien terhadap nilai-nilai kebenaran baik tetapi dapat dilihat
adanya gangguan dari tes realitas. Pasien menyadari bahwa dirinya sakit, namun
menyalahkan faktor lain sebagai penyebab sakitnya, karena itu tilikan pasien derajat 3.
Secara umum pasien tidak dapat dipercaya karena berdasarkan autoanamnesis yang tidak
sejalan dengan alloanamnesis.

VII. FORMULASI DIAGNOSTIK
Aksis I
Pada pasien ditemukan adanya pola perilaku atau psikologis yang secara klinis
bermakna dan secara khas berkaitan dengan suatu gejala yang menimbulkan distress
(penderitaan) dan disability (hendaya) dalam beberapa fungsi psikososial dan pekerjaan.
Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami suatu gangguan jiwa.
Gangguan ini merupakan gangguan mental non-organik karena tidak
ditemukan adanya gangguan kesadaran dan kognitif, pasien juga tidak berada dalam
pengaruh zat psikoaktif dan alkohol, sehingga diagnosa gangguan mental organik dan
gangguan mental akibat zat psikoaktif dapat disingkirkan.
Dari anamnesa , alloanamnesa dan pemeriksaan didapatkan bahwa pasien
dicurigai gangguan ke arah Skizofrenia herbefrenik .
Aksis II
Ciri kapribadian pasien adalah kepribadian cluster A Paranoid yaitu suka
berkelahi, bertengkar dengan temannya, cenderung curiga, dan perasaan yang ngotot
mengenai hak pribadi yang tidak memandang tempat maupun situasi.
Aksis III
Belum ada diagnosa untuk aksis III karena tidak ditemukan kelainan organik
yang berhubungan dengan gangguan pasien.
Aksis IV
Pada pasien untuk aksis IV ditemukan adanya masalah berkaitan pada
kepatuhan dalam meminum obat serta masalah ekonomi pasien yang suaminya hanya
bekerja sebagai TNI berpangkat Pratu.

Aksis V
Penilaian kemampuan penyesuaian menggunakan skala Global Assesment of
Functioning (GAF) menurut PPDGJ III didapatkan pada Aksis V GAF pada saat ini
adalah 20-11 karena cenderung bisa mencederai orang lain maupun diri sendiri.
[LAPORAN KASUS JIWA RSPAD 2014]


15

VIII. EVALUASI MULTIAKSIAL
o Aksis I : (Menurut PPDGJ III) F20.1
o Aksis II : ciri kepribadian paranoid
o Aksis III : Tidak ada
o Aksis IV : Masalah dengan kepatuhan minum obat dan masalah ekonomi
keluarga.
o Aksis V : GAF saat ini 20-11

IX. DIAGNOSIS
Diagnosis Kerja : Skizofrenia Herbefrenik
Diagnosis Banding
Skizoafektif tipe Campuran (F25.2)

X. DAFTAR MASALAH
Organobiologik : Tidak ada ditemukan permasalahan
Psikologik
o Mood : Kesan Depresi/ cenderung menurun
o Afek : Sempit
o Gangguan persepsi : Riwayat halusinasi Visual.
o Proses Pikir : Blocking
o Isi pikir : Waham Nihilistik dan Bizzare
o Tilikan : derajat 3

[LAPORAN KASUS JIWA RSPAD 2014]


16
XI. PROGNOSIS
Quo ad vitam : bonam
Quo ad fungtionam : bonam
Quo ad sanationam : malam

XII. RENCANA PENATALAKSANAAN
a. Farmakologis
- Risperidone 2mg 1x1
b. Nonfarmakologis
i. Terhadap pasien:
Psikoterapi suportif: untuk membina hubungan, menunjukan empati dan
reassurance, dimana terapis ikut terlibat dan berperilaku aktif, berempati dan
memberikan perhatian pada pasien, menerima pasien tanpa menghakimi,
mensuport usaha adaptif pasien, dan menghormati pasien sebagai manusia
seutuhnya.
ii. Terhadap keluarga:
Psikoedukasi mengenai :
a. Penyakit pasien
Memberikan penjelasan yang bersifat komunikatif, informatif dan edukatif
mengenai penyebab penyakit pasien, gejala-gejalanya, faktor-faktor yang
memberatkan, dan bagaimana cara pencegahan. Sehingga keluarga bisa
menerima dan mengerti keadaan pasien serta mendukung proses terapi dan
mencegah kekambuhan.
b. Terapi yang diberikan
Memberikan penjelasan mengenai terapi yang diberikan pada pasien dimana
diterangkan mengenai kegunaan obat terhadap gejala pasien serta efek
samping yang mungkin muncul pada pengobatan. Selain itu juga ditekankan
pentingnya pasien kontrol dan minum obat secara teratur sehingga diharapkan
keluarga turut serta dan bekerja sama dalam berjalannya program terapi.





[LAPORAN KASUS JIWA RSPAD 2014]


17
XIII. DISKUSI
Berdasarkan PEDOMAN DIAGNOSTIK MENURUT PPDGJ III (Maslim, 2003)
kriteria diagnosis untuk Skizofrenia (F20) adalah ,
1. Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua
gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas) :
a) - Thought echo = isi pikiran dirinyasendiri yang berulang atau bergema
dalam kepalanya (tidak keras) , dan isi pikiran ulangan, walaupun isi
sama, namun kualitasnya berbeda; atau
-Thought insertion or withdrawal = isi pikiran yang asing dari luar masuk
kedalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh
sesuatu dari luar dirinya (withdrawal); dan
-Thought broadcasting = isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain
atau umum mengetahuinya;
b) -Delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu
kekuatan tertentu dari luar; atau
-Delusion of influence = waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu
kekuatan tertentu dari luar; atau
-Delusion of passivity = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah
terhadap suatu kekuatan tertentu dari luar;
(tentang dirinya = secara jelas merujuk ke pergerakan tubuh atau
anggota gerak atau ke pikiran, tindakan, atau penginderaan khusus);
-Delusional perception = pengalaman inderawi yang tak wajar, yang
bermakna, sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau
mukjizat;
c) Halusinasi auditorik:
- Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku
pasien, atau
- Mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri (diantara berbagai
suara yang berbicara), atau
- jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh
d) Waham waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat
dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan
agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan diatas manusia
[LAPORAN KASUS JIWA RSPAD 2014]


18
biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan
makhluk asing dari dunia lain).
2. Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas :
a) Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja, apabila disertai baik oleh
waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan
afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide ide berlebihan (over loaded ideas)
yang menetap, atau yang apabila terjadi setiap hari selama berminggu
minggu atau berbulan bulan terus menerus;
b) Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan
(interpolation), yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak
relevan atau neologisme;
c) Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh gelisah (excitement), posisi tubuh
tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme dan stupor;
d) Gejala gejala negatif, seperti sangat apatis, bicara yang jarang, dan respons
emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan
penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial; tetapi harus
jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi
neuroleptika;
3. Adanya gejala gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun
waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodormal);
4. Harus ada suatu perbuatan yang konsisten dan bermakna dalam mutu
keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal
behaviour), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak
berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self absorbed attitude), dan penarikan
diri secara sosial.
Skizofrenia Herbefrenik merupakan salah satu sub tipe dari Skizofrenia. Kriteria
diagnosis untuk Skizofrenia paranoid menerut PPDGJ III :
1. memenuhi kriteria umum skizofrenia
2. sering terjadi pada dewasa muda (15-25 tahun)
3. kepribadian premorbid menunjukkan ciri khas pemalu dan senang menyendiri,
namun tidak harus demikian untuk menentukan diagnosis
a. perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tak dapat diramalkan, serta
mannerism, ada kecendrungan untuk selalu menyendiri, dan berperilaku hampa
tujuan dan hampa perasaan.
[LAPORAN KASUS JIWA RSPAD 2014]


19
b. Afek pasien yang dangkal serta inappropriate sering disertai dengan cekikikan
atau perasaan puas diri, senyum sendiri, atau sikap tinggi hati, tertawa
menyeringai, mannerism, mengibuli secara bersenda gurau, keluhan
hipokondriakal, serta ungkapan kata yang diulang-ulang
c. Proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak menentu serta
inkoheren
4. Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proses piker
umumnya menonjol, halusinasi dan waham mungkin ada namun biasanya tidak
menonjol. Dorongan kehendak yang bertujuan hilang serta sasaran yang
ditinggalkan, sehingga perilaku penderita memperlihatkan ciri khas, yaitu
perilaku tanpa tujuan dan tanpa maksud. Adanya suatu preokupasi yang dangkal
dan dibuat-buat terhadap agama, filsafat dan tema abstrak lainnya, makin
mempersukar orang memahami jalan pikiran pasien.

Berdasarkan anamnesa, ditemukan bahwa pasien tidak pernah mengalami riwayat
demam, sakit kepala hebat atau berkepanjangan, riwayat kejang, dan trauma kepala. Pada
pemeriksaan status mental, orientasi dan daya ingat pasien tidak terganggu, dimana
biasanya terdapat gangguan pada orientasi dan kognisi seseorang dengan gangguan mental
organik. Pasien juga tidak pernah merokok dan mengonsumsi alkohol atau narkotika. Oleh
karena itu, Gangguan Mental Organik (F00 F09) dapat disingkirkan.
Pada pasien ditemukan adanya gangguan isi pikir dan juga persepsi.
Waham adalah salah satu gangguan yang terjadi pada isi pikir yang berarti
keyakinan palsu yang didasarkan kesimpulan yang salah tentang kenyataan eksternal, dan
tidak dapat dikoreksi dengan suatu alasan.
Gangguan persepsi :
- Halusinasi adalah gangguan persepsi sensoris yang palsu yang tidak disertai
stimuli eksternal yang nyata.
- Ilusi: mispersepsi/misinterpretasi terhadap stimulus sensorik yang real. (ada
objek nyata)
Melihat kriteria Paranoid berdasarkan PPDGJ-III untuk kriteria Skizofrenia
Herbefrenik, adanya gejala khas pada pasien hampa perasaan dan dangkalnya afek, serta
ketidakserasian antara afek dan mood, pasien yang sering tertawa sendiri dan meledek
orang lain juga mendukung diagnosis skizofrenia herbefrenik ini.
[LAPORAN KASUS JIWA RSPAD 2014]


20
Berdasarkan diagnosis di atas, terapi psikofarmaka yang dipilih untuk penanganan
pada Ny.D adalah Risperidone 2 mg 1x1. Risperidone merupakan terapi anti psikotik
atipikal yang berkerja dengan cara antagonis neurotransmitter serotonin dan dopamine
dengan menduduki reseptor serotonergic 5-HT2 dan dopaminergic D2. Risperidome
merupakan antagonis kuat reseprot D2 sehingga dapat memperbaiki gejala positif
skizofrenia sedangkan dilajur mesolimbik yang memiliki banyak reseptor serotonergic,
risperidone juga berikatan dengan reseptor serotonergic sehingga diopamin yang
dilepaskan di jalur tersebut lebih banyak dan dapat mengurangi gejala negatif.
Antagonisme serotonin dan dopamin sentral yang seimbang dapat mengurangi
kecenderungan timbulnya efek samping ekstrapiramidal.
Selain diberikan psikofarmaka sebagai terapi utama, perlu ditambahkan juga
terapi yang lain yaitu psikoterapi suportif untuk mensupport pasien dalam masa
adaptasinya dan psikoedukasi perihal penyakit pasien serta menekankan betapa pentingnya
kepatuhan minum obat dan untuk kontrol kembali setidaknya setelah 2 4 minggu.

[LAPORAN KASUS JIWA RSPAD 2014]


21

DAFTAR PUSTAKA

1. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI. Pedaman Penggolongan
dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia (PPDGJ III), cetakan pertama, Jakarta; 1993.
2. CMP Medica. MIMS Neurology & Psychiatry. Treatment Guidelines at a Glance. 2nd
edition. Indonesia. 2010/2011.
3. Maslim, Rusdi. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. 2007. Bagian Ilmu
Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya: Jakarta. Edisi ketiga.
4. Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis Edisi 2. Jakarta.
EGC, 2013.