Anda di halaman 1dari 566
Hak Cipta © 2014 pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Dilindungi Undang-Undang MILIK NEGARA TIDAK DIPERDAGANGKAN
Hak Cipta © 2014 pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Dilindungi Undang-Undang MILIK NEGARA TIDAK DIPERDAGANGKAN
Hak Cipta © 2014 pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Dilindungi Undang-Undang MILIK NEGARA TIDAK DIPERDAGANGKAN

Hak Cipta © 2014 pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Dilindungi Undang-Undang

MILIK NEGARA

TIDAK DIPERDAGANGKAN

Disklaimer: Buku ini merupakan buku guru yang dipersiapkan Pemerintah dalam rangka implementasi Kurikulum 2013. Buku guru ini disusun dan ditelaah oleh berbagai pihak di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan dipergunakan dalam tahap awal penerapan Kurikulum 2013. Buku ini merupakan “dokumen hidup” yang senantiasa diperbaiki, diperbaharui, dan dimutakhirkan sesuai dengan dinamika kebutuhan dan perubahan zaman. Masukan dari berbagai kalangan diharapkan dapat meningkatkan kualitas buku ini.

Katalog Dalam Terbitan (KDT)

Indonesia. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Matematika : Buku Guru / Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.-- Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014. xx, 544 hlm. : ilus. ; 25 cm.

Untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI ISBN 978-602-282-026-0 (jilid lengkap) ISBN 978-602-282-028-4 (jilid 2)

1.

Matematika — Studi dan Pengajaran

I. Judul

II.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

510

Kontributor Naskah : Bornok Sinaga, Pardomuan N.J.M. Sinambela, Andri Kristianto Sitanggang, Tri Andri Hutapea, Lasker Pangarapan Sinaga, Sudianto Manullang, Mangara Simanjorang, dan Yuza Terzalgi Bayuzetra. Penelaah : Agung Lukito, Turmudi, dan Dadang Juandi.

Penyelia Penerbitan

: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.

Cetakan Ke-1, 2014 Disusun dengan huruf Times New Roman, 11 pt.

ii
ii
Balitbang, Kemdikbud. Cetakan Ke-1, 2014 Disusun dengan huruf Times New Roman, 11 pt. ii Buku Guru
Balitbang, Kemdikbud. Cetakan Ke-1, 2014 Disusun dengan huruf Times New Roman, 11 pt. ii Buku Guru

Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK

Balitbang, Kemdikbud. Cetakan Ke-1, 2014 Disusun dengan huruf Times New Roman, 11 pt. ii Buku Guru
Matematika adalah bahasa universal untuk menyajikan gagasan atau pengetahuan secara formal dan presisi sehingga tidak
Matematika adalah bahasa universal untuk menyajikan gagasan atau pengetahuan secara formal dan presisi sehingga tidak
Matematika adalah bahasa universal untuk menyajikan gagasan atau pengetahuan secara formal dan presisi sehingga tidak
Matematika adalah bahasa universal untuk menyajikan gagasan atau pengetahuan secara formal dan presisi sehingga tidak
Matematika adalah bahasa universal untuk menyajikan gagasan atau pengetahuan secara formal dan presisi sehingga tidak
Matematika adalah bahasa universal untuk menyajikan gagasan atau pengetahuan secara formal dan presisi sehingga tidak
Matematika adalah bahasa universal untuk menyajikan gagasan atau pengetahuan secara formal dan presisi sehingga tidak

Matematika adalah bahasa universal untuk menyajikan gagasan atau pengetahuan secara formal dan presisi sehingga tidak memungkinkan terjadinya multi tafsir. Penyampaiannya adalah dengan membawa gagasan dan pengetahuan konkret ke bentuk abstrak melalui pendefinisian variabel dan parameter sesuai dengan yang ingin disajikan. Penyajian dalam bentuk abstrak melalui matematika akan mempermudah analisis dan evaluasi selanjutnya.

Permasalahan terkait gagasan dan pengetahuan yang disampaikan secara matematis akan dapat diselesaikan dengan prosedur formal matematika yang langkahnya sangat presisi dan tidak terbantahkan. Karenanya matematika berperan sebagai alat komunikasi formal paling efisien. Perlu kemampuan berpikir kritis-kreatif untuk menggunakan matematika seperti uraian diatas: menentukan variabel dan parameter, mencari keterkaitan antar variabel dan dengan parameter, membuat dan membuktikan rumusan matematika suatu gagasan, membuktikan kesetaraan antar beberapa rumusan matematika, menyelesaikan model abstrak yang terbentuk, dan mengkonkretkan nilai abstrak yang diperoleh.

Buku Guru Matematika Kelas XI untuk Pendidikan Menengah ini disusun dengan tujuan memberi pengalaman konkret-abstrak kepada peserta didik seperti uraian diatas. Pembelajaran matematika melalui buku ini akan membentuk kemampuan peserta didik dalam menyajikan gagasan dan pengetahuan konkret secara abstrak, menyelesaikan permasalahan abstrak yang terkait, dan berlatih berfikir rasional, kritis dan kreatif.

Sebagai bagian dari Kurikulum 2013 yang menekankan pentingnya keseimbangan kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan, kemampuan matematika yang dituntut dibentuk melalui pembelajaran berkelanjutan: dimulai dengan meningkatkan pengetahuan tentang metode-metode matematika, dilanjutkan dengan keterampilan menyajikan suatu permasalahan secara matematis dan menyelesaikannya, dan bermuara pada pembentukan sikap jujur, kritis, kreatif, teliti, dan taat aturan.

Buku ini menjabarkan usaha minimal yang harus dilakukan peserta didik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Sesuai dengan pendekatan yang dipergunakan dalam Kurikulum 2013, peserta didik diberanikan untuk mencari dari sumber belajar lain yang tersedia dan terbentang luas di sekitarnya. Peran guru sangat penting untuk meningkatkan dan menyesuaikan daya serap peserta didik dengan ketersedian kegiatan pada buku ini. Guru dapat memperkayanya dengan kreasi dalam bentuk kegiatan-kegiatan lain yang sesuai dan relevan yang bersumber dari lingkungan sosial dan alam.

Implementasi terbatas pada tahun ajaran 2013/2014 telah mendapat tanggapan yang sangat positif dan masukan yang sangat berharga. Pengalaman tersebut dipergunakan semaksimal mungkin dalam menyiapkan buku untuk implementasi menyeluruh pada tahun ajaran 2014/2015 dan seterusnya. Walaupun demikian, sebagai edisi pertama, buku ini sangat terbuka dan terus dilakukan perbaikan untuk penyempurnaan. Oleh karena itu, kami mengundang para pembaca memberikan kritik, saran dan masukan untuk perbaikan dan penyempurnaan pada edisi berikutnya. Atas kontribusi tersebut, kami mengucapkan terima kasih. Mudah-mudahan kita dapat memberikan yang terbaik bagi kemajuan dunia pendidikan dalam rangka mempersiapkan generasi seratus tahun Indonesia Merdeka (2045).

Jakarta, Januari 2014

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

tahun Indonesia Merdeka (2045). Jakarta, Januari 2014 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh iii Matematika
Mohammad Nuh iii Matematika
Mohammad Nuh
iii
Matematika
Bapak, Ibu guru kami yang terhormat, banyak hal yang sudah kita lakukan sebagai usaha membelajarkan
Bapak, Ibu guru kami yang terhormat, banyak hal yang sudah kita lakukan sebagai usaha membelajarkan
Bapak, Ibu guru kami yang terhormat, banyak hal yang sudah kita lakukan sebagai usaha membelajarkan
Bapak, Ibu guru kami yang terhormat, banyak hal yang sudah kita lakukan sebagai usaha membelajarkan

Bapak, Ibu guru kami yang terhormat, banyak hal yang sudah kita lakukan sebagai usaha membelajarkan peserta didik dengan harapan, mereka berketuhanan, berperikemanusiaan, berpengetahuan, dan berketerampilan melalui pendidikan matematika. Harapan dan tugas mulia ini cukup berat, menuntut tanggung jawab yang tidak habis-habisnya dari generasi ke generasi. Banyak masalah pembelajaran matematika yang kita hadapi, bagaikan menelusuri sebuah lingkaran dengan titik-titik masalah yang tak berhingga banyaknya. Tokoh pendidikan matematika Soedjadi dan Yansen Marpaung menyatakan, kita harus berani memilih/menetapkan tindakan dan menghadapi resiko untuk meningkatkan kualitas pendidikan matematika di setiap sekolah tempat guru melaksanakan tugas profesionalitasnya. Artinya, guru sebagai orang yang pertama dan yang utama bertindak sebagai pengembang kurikulum yang mengenal karakteristik siswa dengan baik, dituntut bekerjasama memikirkan jalan keluar permasalahan yang terjadi. Pola pembelajaran yang bagaimana yang sesuai dengan karakteristik matematika dan karakteristik peserta didik di sekolah Bapak/Ibu ?. Salah satu alternatif, kita akan mengembangkan pembelajaran matematika berbasis paham konstruktivisme. Buah pikiran ini didasari prinsip bahwa: (1) setiap anak lahir di bumi, mereka telah memiliki potensi, (2) cara berpikir, bertindak, dan persepsi setiap orang dipengaruhi budaya, (3) matematika adalah produk budaya, yaitu hasil konstruksi sosial dan sebagai alat penyelesaian masalah kehidupan, dan (4) matematika adalah hasil abstraksi pikiran manusia. Untuk itu diperlukan perangkat pembelajaran, media pembelajaran, asesmen otentik dalam pelaksanaan proses pembelajaran di kelas. Model pembelajaran yang menganut paham konstruktivistik yang relevan dengan karakteristik matematika dan tujuan pembelajaran matematika cukup banyak, seperti (1) model pembelajaran berbasis masalah, (2) pembelajaran kontekstual, (3) pembelajaran kooperatif dan banyak model pembelajaran lainnya. Bapak/Ibu dapat mempelajarinya secara mendalam melalui aneka sumber pembelajaran. Pokok bahasan yang dikaji dalam buku petunjuk guru ini, antara lain: (1) program linier, (2) matriks, (3) fungsi komposisi dan fungsi invers, (4) persamaan garis lurus, (5) barisan dan deret tak hingga, (6) trigonometri, (7) statistika, (8) aturan pencacahan, (9) lingkaran, (10) transformasi, (11) turunan, dan (12) integral yang tertera dalam kurikulum 2013. Berbagai konsep, aturan dan sifat- sifat dalam matematika ditemukan melalui penyelesaian masalah nyata, media pembelajaran, yang terkait dengan materi yang diajarkan. Seluruh materi yang diajarkan berkiblat pada pencapaian kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum matematika 2013. Semua petunjuk yang diberikan dalam buku ini hanyalah pokok-pokoknya saja. Oleh karena itu, Bapak dan Ibu guru dapat mengembangkan dan menyesuaikan dengan keadaan dan suasana kelas saat pembelajaran berlangsung. Akhirnya, tidak ada gading yang tak retak. Rendahnya kualitas pendidikan matematika adalah masalah kita bersama. Kita telah diberi talenta yang beragam, seberapa besar buahnya yang dapat kita persembahkan padaNya. Taburlah rotimu di lautan tanpa batas, percayalah kamu akan mendapat roti sebanyak pasir di tepi pantai. Mari kita lakukan tugas mulia ini sebaik-baiknya, semoga buku petunjuk guru ini dapat digunakan dan bermanfaat dalam pelaksanaan proses pembelajaran matematika di sekolah.

iv
iv
pelaksanaan proses pembelajaran matematika di sekolah. iv Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK Jakarta, Pebruari 2013 Tim
pelaksanaan proses pembelajaran matematika di sekolah. iv Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK Jakarta, Pebruari 2013 Tim

Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK

Jakarta, Pebruari 2013

Tim Penulis

proses pembelajaran matematika di sekolah. iv Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK Jakarta, Pebruari 2013 Tim Penulis
Surat untuk Guru iv Daftar Isi v Deskripsi Singkat Model Pembelajaran Berbasis Konstruktivistik x
Surat untuk Guru iv Daftar Isi v Deskripsi Singkat Model Pembelajaran Berbasis Konstruktivistik x
Surat untuk Guru iv Daftar Isi v Deskripsi Singkat Model Pembelajaran Berbasis Konstruktivistik x
Surat untuk Guru iv Daftar Isi v Deskripsi Singkat Model Pembelajaran Berbasis Konstruktivistik x
Surat untuk Guru iv Daftar Isi v Deskripsi Singkat Model Pembelajaran Berbasis Konstruktivistik x

Surat untuk Guru

iv

Daftar Isi

v

Deskripsi Singkat Model Pembelajaran Berbasis Konstruktivistik

x

Pedoman Penyusunan Rencana Pembelajaran

xv

Fase Konstruksi Matematika

xviii

Contoh Analisis Topik

xix

Peta Konsep Matematika SMP Kelas XI

xxi

Bab 1

Program Linear

 

1

A. Kompetensi Dasar dan Pengalaman Belajar

1

B. Peta Konsep

 

2

C. Materi Pembelajaran

3

 

1.

Model Matematika

3

2.

Program Linear dengan Metode Grafik

13

Uji Kompetensi 1.1

17

 

3.

Daerah Bersih dan Garis Selidik

21

Uji Kompetensi 1.2

Bab 2

41

Penutup

45

Matriks

47

A. Kompetensi Dasar dan Pengalaman Belajar

47

B. Peta Konsep

 

48

C. Materi Pembelajaran

49

 

1. Operasi Pada Matriks Dan Sifat-Sifatnya

49

 

a. Operasi Penjumlahan Matriks dan Sifat-sifatnya

49

b. Sifat Komutatif Penjumlahan Matriks

59

c. Sifat Asosiatif Penjumlahan Matriks

65

 

2. Pengurangan Dua Matriks

68

3. Perkalian Suatu Bilangan Real dengan Matriks

70

4. Operasi Perkalian Dua Matriks dan Sifat-sifatnya

72

 

a.

Sifat Asosiatif dan Distributif Operasi Perkalian Matriks

79

Uji Kompetensi 2.1

83

 

5.

Determinan Dan Invers Matriks

86

 

a. Determinan

86

b. Sifat-Sifat Determinan

88

 

c. Invers

95

Matriks 86   a. Determinan 86 b. Sifat-Sifat Determinan 88   c. Invers 95 v Matematika
v Matematika
v
Matematika
  d. Metode 99 e. Sifat-Sifat Invers 102   Uji Kompetensi 2.2 104 Penutup 108
  d. Metode 99 e. Sifat-Sifat Invers 102   Uji Kompetensi 2.2 104 Penutup 108
  d. Metode 99 e. Sifat-Sifat Invers 102   Uji Kompetensi 2.2 104 Penutup 108
 

d. Metode

99

e. Sifat-Sifat Invers

102

 

Uji Kompetensi 2.2

104

Penutup

108

Bab 3

Sistem Persamaan dan Pertidaksamaan Linear

111

A. Kompetensi Dasar dan Pengalaman Belajar

111

B. Peta konsep

112

C. Materi Pembelajaran

113

1. Operasi Aljabar Pada Fungsi

113

2. Menemukan Konsep Fungsi Komposisi

118

3. Sifat-sifat Operasi Fungsi Komposisi

128

Uji Kompetensi 3.1

132

4. Fungsi Invers

134

5. Menentukan Rumus Fungsi Invers

140

Uji Kompetensi 3.2

151

Penutup

153

Bab 4

Persamaan Garis Lurus

157

A. Kompetensi Dasar dan Pengalaman Belajar

157

B. Peta Konsep

158

C. Materi Pembelajaran

159

1.

Garis dan Gradien

159

Uji Kompetensi 4.1

169

2.

Hubungan Antar Garis

173

 

a. Garis Garis Sejajar

173

b. Garis-Garis Tegak Lurus

182

 

Uji Kompetensi 4.2

186

Penutup

188

Bab 5

Barisan Dan Deret Tak Hingga

191

A. Kompetensi Dasar dan Pengalaman Belajar

191

B. Peta Konsep

192

C. Materi Pembelajaran

193

1. Menemukan Konsep Barisan dan Deret Tak

193

2. Barisan Konstan, Naik, dan Turun

209

Uji Kompetensi 5.1

214

Penutup

218

vi
vi
Konstan, Naik, dan Turun 209 Uji Kompetensi 5.1 214 Penutup 218 vi Buku Guru Kelas XI
Konstan, Naik, dan Turun 209 Uji Kompetensi 5.1 214 Penutup 218 vi Buku Guru Kelas XI

Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK

Konstan, Naik, dan Turun 209 Uji Kompetensi 5.1 214 Penutup 218 vi Buku Guru Kelas XI
Bab 6 Trigonometri 219 A. Kompetensi Dasar dan Pengalaman Belajar 219 B. Peta Konsep 220
Bab 6 Trigonometri 219 A. Kompetensi Dasar dan Pengalaman Belajar 219 B. Peta Konsep 220
Bab 6 Trigonometri 219 A. Kompetensi Dasar dan Pengalaman Belajar 219 B. Peta Konsep 220
Bab 6 Trigonometri 219 A. Kompetensi Dasar dan Pengalaman Belajar 219 B. Peta Konsep 220

Bab 6

Trigonometri

219

A. Kompetensi Dasar dan Pengalaman Belajar

219

B. Peta Konsep

220

C. Materi Pembelajaran

221

 

1. Aturan Sinus

221

2. Aturan Cosinus

227

3. Luas Segitiga

232

 

Uji Kompetensi 6.1

239

Penutup

242

Bab 7

Statistika

 

243

A. Kompetensi Dasar dan Pengalaman Belajar

243

B. Peta Konsep

244

C. Materi Pembelajaran

245

 

1. Ukuran Pemusatan

245

2. Ukuran Letak Data

256

3. Ukuran Penyebaran Data

265

 

Uji Kompetensi 7

271

D.

Penutup

275

Bab 8

Aturan Pencacahan

279

A. Kompetensi Dasar dan Pengalaman Belajar

279

B. Peta Konsep

281

C. Materi Pembelajaran

282

 

1.

Menemukan Konsep Pecahan (Perkalian, Permutasi, dan Kombinasi)

282

 

Uji Kompetensi 8.1

317

 

2.

Peluang

319

 

Uji Kompetensi 8.2

327

D.

Penutup

331

Bab 9

Lingkaran

333

A. Kompetensi Dasar dan Pengalaman Belajar

333

B. Peta konsep

334

C. Materi Pembelajaran

335

 

1. Menemukan Konsep Persamaan Lingkaran

335

2. Bentuk Umum Persamaan Lingkaran

341

 

Uji Kompetensi 9.1

347

Lingkaran 335 2. Bentuk Umum Persamaan Lingkaran 341   Uji Kompetensi 9.1 347 vii Matematika
vii Matematika
vii
Matematika
  3. Kedudukan Titik terhadap Lingkaran 349 4. Kedudukan Garis terhadap Lingkaran 354 5. Persamaan
  3. Kedudukan Titik terhadap Lingkaran 349 4. Kedudukan Garis terhadap Lingkaran 354 5. Persamaan
  3. Kedudukan Titik terhadap Lingkaran 349 4. Kedudukan Garis terhadap Lingkaran 354 5. Persamaan
 

3. Kedudukan Titik terhadap Lingkaran

349

4. Kedudukan Garis terhadap Lingkaran

354

5. Persamaan Garis Singgung Lingkaran

361

 

Uji Kompetensi 9.2

371

D.

Penutup

374

Bab 10

Transformasi

 

375

A. Kompetensi Dasar dan Pengalaman Belajar

375

B. Peta Konsep

376

C. Materi Pembelajaran

377

 

1.

Memahami dan Menemukan Konsep Translasi (Pergeseran)

377

2.

Memahami dan Menemukan Konsep Refleksi (Pencerminan)

385

 

Uji Kompetensi 10.1

400

 

3. Memahami dan Menemukan Konsep Rotasi (Perputaran)

402

4. Memahami dan Menemukan Konsep Dilatasi (Perkalian)

412

 

Uji Kompetensi 10.2

420

D.

Penutup

423

Bab 11

Turunan

 

425

A. Kompetensi Dasar dan Pengalaman Belajar

425

B. Peta Konsep

427

C. Materi Pembelajaran

428

 

1.

Menemukan Konsep Turunan Suatu Fungsi

428

 

1.1 Menemukan Konsep Garis Sekan dan Garis Tangen

428

1.2 Turunan sebagai Limit Fungsi

432

1.3 Turunan Fungsi Aljabar

436

 

Uji Kompetensi 11.1

442

 

2. Aplikasi Turunan

444

 

2.1 Fungsi Naik dan Turun

444

2.2 Aplikasi Turunan dalam Permasalahan Fungsi Naik dan

Fungsi Turun

445

2.3 Aplikasi Konsep Turunan dalam Permasalahan Maksimum dan Minimun

454

2.4 Aplikasi Konsep Turunan dalam Permasalahan Kecepatan dan Percepatan

467

 

3. Sketsa Kurva Suatu Fungsi dengan Konsep Turunan

470

 

Uji Kompetensi 11.2

476

D.

Penutup

479

viii
viii
Turunan 470   Uji Kompetensi 11.2 476 D. Penutup 479 viii Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK
Turunan 470   Uji Kompetensi 11.2 476 D. Penutup 479 viii Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK

Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK

Turunan 470   Uji Kompetensi 11.2 476 D. Penutup 479 viii Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK
Bab 12 Integral   483 A. Kompetensi Dasar dan Pengalaman Belajar 483 B. Peta Konsep
Bab 12 Integral   483 A. Kompetensi Dasar dan Pengalaman Belajar 483 B. Peta Konsep
Bab 12 Integral   483 A. Kompetensi Dasar dan Pengalaman Belajar 483 B. Peta Konsep
Bab 12 Integral   483 A. Kompetensi Dasar dan Pengalaman Belajar 483 B. Peta Konsep

Bab 12

Integral

 

483

A. Kompetensi Dasar dan Pengalaman Belajar

483

B. Peta Konsep

484

C. Materi Pembelajaran

485

 

1.

Menemukan Konsep Integral tak Tentu sebagai Kebalikan dari Turunan Fungsi

485

 

Uji Kompetensi 12.1

491

 

2.

Notasi Integral dan Rumus Dasar Integral Tak Tentu

493

 

Uji Kompetensi 12.2

512

D.

Penutup

516

Petunjuk Teknis Pelaksanaan Remedial dan Pengayaan

517

 

A. Petunjuk pelaksanaan penilaian

517

B. Petunjuk pelaksanaan remedial dan pengayaan

540

Daftar Pustaka

 

543

ix Matematika
ix
Matematika
A. PETUNJUK PENGGUNAAN BUKU GURU Dalam bagian ini diuraikan hal-hal penting yang perlu diikuti guru,
A. PETUNJUK PENGGUNAAN BUKU GURU Dalam bagian ini diuraikan hal-hal penting yang perlu diikuti guru,
A. PETUNJUK PENGGUNAAN BUKU GURU Dalam bagian ini diuraikan hal-hal penting yang perlu diikuti guru,

A. PETUNJUK PENGGUNAAN BUKU GURU

Dalam bagian ini diuraikan hal-hal penting yang perlu diikuti guru, saat guru menggunakan buku ini. Hal-hal esensial yang dijabarkan, antara lain: (1) pentingnya guru memahami model pembelajaran berbasis konstruktivis dengan pendekatan scientific learning terkait sintaksis model pembelajaran yang diterapkan, sistem sosial, prinsip reaksi pengelolaan (perilaku guru mengajar di kelas), sistem pendukung pemeblajaran yang harus dipersiapkan (berbagai fasilitas, misalnya buku siswa, lembar aktivitas siswa, media pembelajaran, instrumen penilaian, tugas-tugas yang akan diberikan), serta dampak intruksional dan dampak pengiring (sikap) yang harus dicapai melalui proses pembelajaran; (2) mengorganisir siswa belajar (di dalam dan luar kelas) dalam memberi kesempatan mengamati data, informasi, dan masalah, kerja kelompok dalam memecahkan masalah, memberi bantuan jalan keluar bagi siswa; (3) memilih model, strategi, dan metode pembelajaran untuk tujuan pembelajaran yang efektif; (4) memilih sumber belajar yang melibatkan partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran yang dipicu melalui pengajuan masalah, pemberian tugas produk, projek; (5) petunjuk penggunaan asesmen otentik untuk mengecek keberhasilan aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan; (6) petunjuk pelaksanaan remedial dan pemberian pengayaan. Isi buku guru ini, memuat petunjuk pembelajaran di setiap bab yang berdampingan dengan aktivitas yang ada di buku siswa. Pertanyaan-pertanyaan kritis dan latihan memiliki kunci jawaban dan arahan pembelajaran dari guru untuk pemecahannya. Di samping proses pembelajaran yang tertuang dalam penjelasan singkat model pembelajaran konstruktivis, tersedi petunjuk pelaksanaan pembelajaran remedial dan pengayaan serta pelaksanaan penilaian berbasis proses.

B. MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS KONSTRUKTIVISTIK DENGAN PENDEKATAN SCIENTIFIC LEARNING.

Model pembelejaran yang diterapkan dalam buku ini, dilandasi teori pembelajaran yang menganut paham konstruktivistik, seperti Project-Based Learning, Problem- Based Learning, dan Discovery Learning dengan pendekatan scientific learning melalui proses mengamati, menanya, menalar, mencoba, membangun jejaring dan mengomunikasikan berbagai informasi terkait pemecahan masalah real world, analisis data, dan menarik kesimpulan. Proses pembelajaran memberi perhatian pada aspek-aspek kognisi dan mengangkat berbagai masalah real world yang sangat

x
x
pada aspek-aspek kognisi dan mengangkat berbagai masalah real world yang sangat x Buku Guru Kelas XI
pada aspek-aspek kognisi dan mengangkat berbagai masalah real world yang sangat x Buku Guru Kelas XI

Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK

pada aspek-aspek kognisi dan mengangkat berbagai masalah real world yang sangat x Buku Guru Kelas XI
mempengaruhi aktifitas dan perkembangan mental siswa selama proses pembelajaran dengan prinsip bahwa, (1) setiap anak
mempengaruhi aktifitas dan perkembangan mental siswa selama proses pembelajaran dengan prinsip bahwa, (1) setiap anak
mempengaruhi aktifitas dan perkembangan mental siswa selama proses pembelajaran dengan prinsip bahwa, (1) setiap anak
mempengaruhi aktifitas dan perkembangan mental siswa selama proses pembelajaran dengan prinsip bahwa, (1) setiap anak

mempengaruhi aktifitas dan perkembangan mental siswa selama proses pembelajaran dengan prinsip bahwa, (1) setiap anak lahir, tumbuh dan berkembang dalam matriks sosial tertentu dan telah memiliki potensi, (2) cara berpikir, bertindak, dan persepsi setiap orang dipengaruhi nilai budayanya, (3) matematika adalah hasil konstruksi sosial dan sebagai alat penyelesaian masalah kehidupan, dan (4) matematika adalah hasil abstraksi pikiran manusia. Metode pembelajaran yang diterapkan, antara lain: metode penemuan, pemecahan masalah, tanya-jawab, diskusi dalam kelompok heterogen, pemberian tugas produk, unjuk kerja, dan projek. Pembelajaran matematika yang diharapkan dalam praktek pembelajaran di kelas adalah (1) pembelajaran berpusat pada aktivitas siswa, (2) siswa diberi kebebasan berpikir memahami masalah, membangun strategi penyelesaian masalah, mengajukan ide-ide secara bebas dan terbuka, (3) guru melatih dan membimbing siswa berpikir kritis dan kreatif dalam menyelesaikan masalah, (4) upaya guru mengorganisasikan bekerjasama dalam kelompok belajar, melatih siswa berkomunikasi menggunakan grafik, diagram, skema, dan variabel, (5) seluruh hasil kerja selalu dipresentasikan di depan kelas untuk menemukan berbagai konsep, hasil penyelesaian masalah, aturan matematika yang ditemukan melalui proses pembelajaran. Rancangan model pembelajaran yang diterapkan mengikuti 5 (lima) komponen utama model pembelajaran yang dijabarkan sebagai berikut.

1.

Sintaks Pengelolaan pembelajaran terdiri 5 tahapan pembelajaran, yaitu:

pembelajaran terdiri 5 tahapan pembelajaran, yaitu: a. Apersepsi Tahap apersepsi diawali dengan

a. Apersepsi Tahap apersepsi diawali dengan mengimformasikan kepada siswa kompetensi dasar dan indikator yang akan dicapai siswa melalui pembelajaran materi yang akan diajarkan. Kemudian guru menumbuhkan persepsi positif dan motivasi belajar pada diri siswa melalui pemaparan manfaat materi matematika yang dipelajari dalam penyelesaian masalah kehidupan serta meyakinkan siswa, jika siswa terlibat aktif dalam merekonstruksi konsep dan prinsip matematika melalui penyelesaian masalah yang bersumber dari fakta dan lingkungan kehidupan siswa dengan strategi penyelesaian yang menerapkan pola interaksi sosial yang pahami siswa dan guru. Dengan demikian, siswa akan lebih baik menguasai materi yang diajarkan, imformasi baru berupa pengetahuan lebih bertahan lama di dalam ingatan siswa, dan pembelajaran lebih bermakna sebab setiap informasi baru dikaitkan dengan apa yang diketahui siswa dan menunjukkan secara nyata kegunaan konsep dan prinsip matematika yang dipelajari dalam kehidupan.

xi Matematika
xi
Matematika
b. Interaksi Sosial di antara Siswa, Guru, dan Masalah Pada tahap orientasi masalah dan penyelesaian
b. Interaksi Sosial di antara Siswa, Guru, dan Masalah Pada tahap orientasi masalah dan penyelesaian
b. Interaksi Sosial di antara Siswa, Guru, dan Masalah Pada tahap orientasi masalah dan penyelesaian

b. Interaksi Sosial di antara Siswa, Guru, dan Masalah

Pada tahap orientasi masalah dan penyelesaian masalah, guru meminta siswa mencoba memahami masalah dan mendiskusikan hasil pemikiran melalui belajar kelompok. Pembentukan kelompok belajar menerapkan prinsip kooperatif, yakni keheterogenan anggota kelompok dari segi karakteristik (kemampuan dan jenis kelamin) siswa, berbeda budaya, berbeda agama dengan tujuan agar siswa terlatih bekerjasama, berkomunikasi, menumbuhkan rasa toleransi dalam perbedaan, saling memberi ide dalam penyelesaian masalah, saling membantu dan berbagi informasi. Guru memfasilitasi siswa dengan buku siswa, Lembar Aktivitas Siswa (LAS) dan Asesmen Otentik. Selanjutnya guru mengajukan permasalahan matematika yang bersumber dari lingkungan kehidupan siswa. Guru menanamkan nilai-nilai matematis (jujur, konsisten, tangguh menghadapi masalah) dan nilai-nilai budaya agar para siswa saling berinteraksi secara sosio kultural, memotivasi dan mengarahkan jalannya diskusi agar lebih efektif, serta mendorong siswa bekerjasama. Selanjutnya, guru memusatkan pembelajaran pada siswa dalam kelompok belajar untuk menyelesaikan masalah. Guru meminta siswa memahami masalah secara individu dan mendiskusikan hasil pemikirannya dalam kelompok, dan dilanjutkan berdialog secara interaktif (berdebat, bertanya, mengajukan ide-ide, berdiskusi) dengan kelompok lain dengan arahan guru. Antar anggota kelompok saling bertanya-jawab, berdebat, merenungkan hasil pemikiran teman, mencari ide dan jalan keluar penyelesaian masalah. Setiap kelompok memadu hasil pemikiran dan menuangkannya dalam sebuah LAS yang dirancang guru. Jika semua anggota kelompok mengalami kesulitan memahami dan menyelesaikan masalah, maka salah seorang dari anggota kelompok bertanya pada guru sebagai panutan. Selanjutnya guru memberi scaffolding, yaitu berupa pemberian petunjuk, memberi kemudahan pengerjaan siswa, contoh analogi, struktur, bantuan jalan keluar sampai saatnya siswa dapat mengambil alih tugas-tugas penyelesaian masalah.

c. Mempresentasikan dan Mengembangkan Hasil Kerja Pada tahapan ini, guru meminta salah satu kelompok mempresentasikan hasil kerjanya di depan kelas dan memberi kesempatan pada kelompok lain memberi tanggapan berupa kritikan disertai alasan-alasan, masukan bandingan pemikiran. Sesekali guru mengajukan pertanyaan menguji pemahaman/penguasaan penyaji dan dapat ditanggapi oleh kelompok lain. Kriteria untuk memilih hasil diskusi kelompok yang akan dipresentasikan antara lain: jawaban kelompok berbeda dengan jawaban dari kelompok lain, ada ide penting dalam hasil diskusi kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus. Dengan demikian kelompok penyaji bisa lebih dari satu. Selama presentasi hasil kerja, guru mendorong terjadinya diskusi kelas dan mendorong siswa mengajukan ide-ide secara terbuka dengan menanamkan nilai soft skill.

xii
xii
siswa mengajukan ide-ide secara terbuka dengan menanamkan nilai soft skill . xii Buku Guru Kelas XI
siswa mengajukan ide-ide secara terbuka dengan menanamkan nilai soft skill . xii Buku Guru Kelas XI

Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK

siswa mengajukan ide-ide secara terbuka dengan menanamkan nilai soft skill . xii Buku Guru Kelas XI
Tujuan tahapan ini adalah untuk mengetahui keefektifan hasil diskusi dan hasil kerja kelompok pada tahapan
Tujuan tahapan ini adalah untuk mengetahui keefektifan hasil diskusi dan hasil kerja kelompok pada tahapan
Tujuan tahapan ini adalah untuk mengetahui keefektifan hasil diskusi dan hasil kerja kelompok pada tahapan
Tujuan tahapan ini adalah untuk mengetahui keefektifan hasil diskusi dan hasil kerja kelompok pada tahapan

Tujuan tahapan ini adalah untuk mengetahui keefektifan hasil diskusi dan hasil kerja kelompok pada tahapan sebelumnya. Dalam penyajiannya, kelompok penyaji akan diuji oleh kelompok lain dan guru tentang penguasaan dan pemahaman mereka atas penyelesaian masalah yang dilakukan. Dengan cara tersebut dimungkinkan tiap- tiap kelompok mendapatkan pemikiran-pemikiran baru dari kelompok lain atau alternatif jawaban yang lain yang berbeda. Sehingga pertimbangan-pertimbangan secara objektif akan muncul di antara siswa. Tujuan lain tahapan ini adalah melatih siswa terampil menyajikan hasil kerjanya melalui penyampaian ide-ide di depan umum (teman satu kelas). Keterampilan mengomunikasikan ide-ide tersebut adalah salah satu kompetensi yang dituntut dalam pembelajaran berdasarkan masalah, untuk memampukan siswa berinteraksi/berkolaborasi dengan orang lain.

d. Temuan Objek Matematika dan Penguatan Skemata Baru

Objek-objek matematika berupa model (contoh konsep) yang diperoleh dari proses dan hasil penyelesaian masalah dijadikan bahan inspirasi dan abstraksi konsep melalui penemuan ciri-ciri konsep oleh siswa dan mengkonstruksi konsep secara ilmiah. Setelah konsep ditemukan, guru melakukan teorema pengontrasan melalui pengajuan contoh dan bukan contoh. Dengan mengajukan sebuah objek, guru meminta siswa memberi alasan, apakah objek itu termasuk contoh atau bukan contoh konsep. Guru memberi kesempatan bertanya atas hal-hal yang kurang dipahami. Sesekali guru menguji pemahaman siswa atas konsep dan prinsip yang ditemukan, serta melengkapi hasil pemikiran siswa dengan memberikan contoh dan bukan contoh konsep. Berdasar konsep yang ditemukan/direkonstruksi, diturunkan beberapa sifat dan aturan-aturan. Selanjutnya siswa diberi kesempatan mengerjakan soal-soal tantangan untuk menunjukkan kebergunaan konsep dan prinsip matematika yang dimiliki.

e. Menganalisis dan Mengevaluasi Proses dan Hasil Penyelesaian Masalah Pada tahapan ini, guru membantu siswa atau kelompok mengkaji ulang hasil penyelesaian masalah, menguji pemahaman siswa dalam proses penemuan konsep dan prinsip. Selanjutnya, guru melakukan evaluasi materi akademik dengan pemberian kuis atau meminta siswa membuat peta konsep atau memberi tugas dirumah atau membuat peta materi yang dipelajari.

2. Sistem Sosial

Pengorganisasian siswa selama proses pembelajaran menerapkan pola pembelajaran kooperatif. Dalam interaksi sosio kultural di antara siswa dan temannya, guru selalu menanamkan nilai-nilai soft skill dan nilai matematis. Siswa

di antara siswa dan temannya, guru selalu menanamkan nilai-nilai soft skill dan nilai matematis. Siswa xiii
xiii Matematika
xiii
Matematika
dalam kelompok saling bekerjasama dalam menyelesaikan masalah, saling bertanya/ berdiskusi antara siswa yang lemah dan
dalam kelompok saling bekerjasama dalam menyelesaikan masalah, saling bertanya/ berdiskusi antara siswa yang lemah dan
dalam kelompok saling bekerjasama dalam menyelesaikan masalah, saling bertanya/ berdiskusi antara siswa yang lemah dan

dalam kelompok saling bekerjasama dalam menyelesaikan masalah, saling bertanya/ berdiskusi antara siswa yang lemah dan yang pintar, kebebasan mengajukan pendapat, berdialog dan berdebat, guru tidak boleh terlalu mendominasi siswa, bersifat membantu dan gotong royong) untuk menghasilkan penyelesaian masalah yang disepakati bersama. Dalam interaksi sosio kultural, para siswa diizinkan berbahasa daerah dalam menyampaikan pertanyaan, kritikan, pendapat terhadap temannya maupun pada guru.

3. Prinsip Reaksi

Model pembelajaran yang diterapkan dalam buku ini dilkamusi teori konstruktivis dan nilai budaya dimana siswa belajar yang memberi penekanan pembelajaran berpusat pada siswa, sehingga fungsi guru sebagai fasilitator, motivator dan mediator dalam pembelajaran. Tingkah laku guru dalam menanggapi hasil pemikiran siswa berupa pertanyaan atau kesulitan yang dialami dalam menyelesaikan masalah harus bersifat mengarahkan, membimbing, memotivasi dan membangkitkan semangat belajar siswa. Untuk mewujudkan tingkah laku tersebut, guru harus memberikan kesempatan pada siswa untuk mengungkapkan hasil pemikirannya secara bebas dan terbuka, mencermati pemahaman siswa atas objek matematika yang diperoleh dari proses dan hasil penyelesaian masalah, menunjukkan kelemahan atas pemahaman siswa dan memancing mereka menemukan jalan keluar untuk mendapatkan penyelesaian masalah yang sesungguhnya. Jika ada siswa yang bertanya, sebelum guru memberikan penjelasan/bantuan, guru terlebih dahulu memberi kesempatan pada siswa lainnya memberikan tanggapan dan merangkum hasilnya. Jika keseluruhan siswa mengalami kesulitan, maka guru saatnya memberi penjelasan atau bantuan/memberi petunjuk sampai siswa dapat mengambil alih penyelesaian masalah pada langkah berikutnya. Ketika siswa bekerja menyelesaikan tugas-tugas, guru mengontrol jalannya diskusi dan memberikan motivasi agar siswa tetap berusaha menyelesaikan tugas-tugasnya.

4. Sistem Pendukung

Agar model pembelajaran ini dapat terlaksana secara praktis dan efektif, guru diwajibkan membuat suatu rancangan pembelajaran yang dilkamusi teori pembelajaran konstruktivis dan nilai soft skill matematis yang diwujudkan dalam setiap langkah-langkah pembelajaran yang ditetapkan dan menyediakan fasilitas belajar yang cukup. Dalam hal ini dikembangkan buku model yang berisikan teori- teori pendukung dalam melaksanakan pembelajaran, komponen-komponen model, petunjuk pelaksanaan dan seluruh perangkat pembelajaran yang digunakan seperti rencana pembelajaran, buku guru, buku siswa, lembar kerja siswa, objek-objek abstraksi dari lingkungan budaya, dan media pembelajaran yang diperlukan.

xiv
xiv
abstraksi dari lingkungan budaya, dan media pembelajaran yang diperlukan. xiv Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK
abstraksi dari lingkungan budaya, dan media pembelajaran yang diperlukan. xiv Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK

Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK

abstraksi dari lingkungan budaya, dan media pembelajaran yang diperlukan. xiv Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK
5. Dampak Instruksional dan Pengiring yang Diharapkan Dampak langsung penerapan pembelajaran ini adalah memampukan siswa
5. Dampak Instruksional dan Pengiring yang Diharapkan Dampak langsung penerapan pembelajaran ini adalah memampukan siswa
5. Dampak Instruksional dan Pengiring yang Diharapkan Dampak langsung penerapan pembelajaran ini adalah memampukan siswa
5. Dampak Instruksional dan Pengiring yang Diharapkan Dampak langsung penerapan pembelajaran ini adalah memampukan siswa

5. Dampak Instruksional dan Pengiring yang Diharapkan

Dampak langsung penerapan pembelajaran ini adalah memampukan siswa merekonstruksi konsep dan prinsip matematika melalui penyelesaian masalah dan terbiasa menyelesaikan masalah nyata di lingkungan siswa. Pemahaman siswa terhadap obek-objek matematika dibangun berdasarkan pengalaman budaya dan pengalaman belajar yang telah dimiliki sebelumnya. Kebermaknaan pembelajaran yang melahirkan pemahaman, dan pemahaman mendasari kemampuan siswa mentransfer pengetahuannya dalam menyelesaikan masalah, berpikir kritis dan kreatif. Kemampuan menyelesaikan masalah tidak rutin menyadarkan siswa akan kebergunaan matematika. Kebergunaan akan menimbulkan motivasi belajar secara internal dari dalam diri siswa dan rasa memiliki terhadap matematika akan muncul sebab matematika yang dipamami adalah hasil rekonstruksi pemikirannya sendiri. Motivasi belajar secara internal akan menimbulkan kecintaan terhadap dewi matematika. Bercinta dengan dewi matematika berarti penyatuan diri dengan keabstrakan yang tidak memiliki batas atas dan batas bawah tetapi bekerja dengan simbol-simbol. Selain dampak di atas, siswa terbiasa menganalisis secara logis dan kritis memberikan pendapat atas apa saja yang dipelajari menggunakan pengalaman belajar yang dimiliki sebelumnya. Penerimaan individu atas perbedaan-perbedaan yang terjadi (perbedaan pola pikir, pemahaman, daya lihat dan kemampuan), serta berkembangnya kemampuan berkolaborasi antara siswa. Retensi pengetahuan matematika yang dimiliki siswa dapat bertahan lebih lama sebab siswa terlibat aktif di dalam proses penemuannya. Dampak pengiring yang akan terjadi dengan penerapan model pembelajaran berbasis konstruktivistik adalah siswa mampu menemukan kembali berbagai konsep dan aturan matematika dan menyadari betapa tingginya manfaat matematika bagi kehidupan sehingga dia tidak merasa terasing dari lingkungannya. Matematika sebagai ilmu pengetahuan tidak lagi dipandang sebagai hasil pemikiran dunia luar tetapi berada pada lingkungan budaya siswa yang bermanfaat dalam menyelesaikan permasalahan di lingkungan budayanya. Dengan demikian terbentuk dengan sendirinya rasa memiliki, sikap, dan persepsi positif siswa terhadap matematika dan budayanya. Siswa memkamung bahwa matematika terkait dan inklusif di dalam budaya. Jika matematika bagian dari budaya siswa, maka suatu saat diharapkan siswa memiliki cara tersendiri memeliharanya dan menjadikannya Landasan Makna (Landasan makna dalam hal ini berpihak pada sikap, kepercayaan diri, cara berpikir, cara bertingkah laku, cara mengingat apa yang dipahami oleh siswa sebagai pelaku- pelaku budaya). Dampak pengiring yang lebih jauh adalah hakikat tentatif keilmuan, keterampilan proses keilmuan, otonomi dan kebebasan berpikir siswa, toleransi terhadap ketidakpastian dan masalah-masalah non rutin.

otonomi dan kebebasan berpikir siswa, toleransi terhadap ketidakpastian dan masalah-masalah non rutin. xv Matematika
xv Matematika
xv
Matematika
PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PEMBELAJARAN Penyusunan rencana pembelajaran berpedoman pada kurikulum matematika 2013 dan
PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PEMBELAJARAN Penyusunan rencana pembelajaran berpedoman pada kurikulum matematika 2013 dan
PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PEMBELAJARAN Penyusunan rencana pembelajaran berpedoman pada kurikulum matematika 2013 dan

PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PEMBELAJARAN

Penyusunan rencana pembelajaran berpedoman pada kurikulum matematika 2013 dan sintaksis Model Pembelajaran. Berdasarkan analisis kurikulum matematika ditetapkan hal-hal berikut

1. Kompetensi dasar (lihat Permendikbud Nomor 69 dan 70 Tahun 2013) dan indikator pencapaian kompetensi dasar untuk tiap-tiap pokok bahasan. Rumusan indikator dan kompetensi dasar harus disesuaikan dengan prinsip-prinsip pembelajaran matematika berdasarkan masalah, memberikan pengalaman belajar bagi siswa, seperti menyelesaikan masalah otentik (masalah bersumber dari fakta dan lingkungan budaya), berkolaborasi, berbagi pengetahuan, saling membantu, berdiskusi dalam menyelesaikan masalah.

2. Materi pokok yang akan diajarkan, termasuk analisis topik, dan peta konsep (contoh disajikan di bawah).

3. Materi prasyarat, yaitu materi yang harus dikuasai oleh siswa sebagai dasar untuk mempelajari materi pokok. Dalam hal ini perlu dilakukan tes kemampuan awal siswa.

4. Kelengkapan, yaitu fasilitas pembelajaran yang harus dipersiapkan oleh guru, misalnya: rencana pembelajaran, buku petunjuk guru, buku siswa, lembar aktivitas siswa (LAS), objek-objek budaya, kumpulan masalah-masalah yang bersumber dari fakta dan lingkungan budaya siswa, laboratorium, dan alat peraga jika dibutuhkan.

5. Alokasi waktu: banyak jam pertemuan untuk setiap pokok bahasan tidak harus sama tergantung kepadatan dan kesulitan materi untuk tiap-tiap pokok bahasan. Penentuan rata-rata banyak jam pelajaran untuk satu pokok bahasan adalah hasil bagi jumlah jam efektif untuk satu semester dibagi banyak pokok bahasan yang akan diajarkan untuk semester tersebut.

6. Hasil belajar yang akan dicapai melalui kegiatan pembelajaran antara alain:

Produk : Konsep dan prinsip-prinsip yang terkait dengan materi pokok Proses : Apersepsi budaya, interaksi sosial dalam penyelesaian masalah, memodelkan masalah secara matematika, merencanakan penyelesaian masalah, menyajikan hasil kerja dan menganalisis serta mengevaluasi kembali hasil penyelesaian masalah.

: Kemampuan matematisasi, kemampuan abstraksi, pola pikir deduktif, berpikir tingkat tinggi (berpikir kritis dan berpikir kreatif).

Kognitif

xvi
xvi
deduktif, berpikir tingkat tinggi (berpikir kritis dan berpikir kreatif). Kognitif xvi Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK
deduktif, berpikir tingkat tinggi (berpikir kritis dan berpikir kreatif). Kognitif xvi Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK

Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK

deduktif, berpikir tingkat tinggi (berpikir kritis dan berpikir kreatif). Kognitif xvi Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK
ketrampilan berkolaborasi, kemampuan berkomunikasi. Afektif : Menghargai budaya, penerimaan individu atas perbedaan yang
ketrampilan berkolaborasi, kemampuan berkomunikasi. Afektif : Menghargai budaya, penerimaan individu atas perbedaan yang
ketrampilan berkolaborasi, kemampuan berkomunikasi. Afektif : Menghargai budaya, penerimaan individu atas perbedaan yang
ketrampilan berkolaborasi, kemampuan berkomunikasi. Afektif : Menghargai budaya, penerimaan individu atas perbedaan yang

ketrampilan

berkolaborasi, kemampuan berkomunikasi. Afektif : Menghargai budaya, penerimaan individu atas perbedaan yang ada, bekerjasama, tangguh menghadapi masalah, jujur mengungkapkan pendapat, berlatih berpikir kritis, kreatif, dan senang belajar matematika.

Sintaksis pembelajaran adalah langkah-langkah pembelajaran yang dirancang dan dihasilkan dari kajian teori yang melandasi model pembelajaran berbasis konstruktivistik. Sementara, rencana pembelajaran adalah operasional dari sintaks. Sehingga skenario pembelajaran yang terdapat pada rencana pembelajaran disusun mengikuti setiap langkah-langkah pembelajaran (sintaks). Sintaks model pembelajaran terdiri dari 5 langkah pokok, yaitu: (1) apersepsi budaya, (2) orientasi dan penyelesaian masalah, (3) persentase dan mengembangkan hasil kerja, (4) temuan objek matematika dan penguatan skemata baru, (5) menganalisis dan mengevaluasi proses dan hasil penyelesaian masalah. Kegiatan yang dilakukan untuk setiap tahapan pembelajaran dijabarkan sebagai berikut:

Keterampilan : Keterampilan

menyelesaikan

masalah,

1. Kegiatan guru pada tahap apersepsi budaya antara lain:

a. Menginformasikan indikator pencapaian kompetensi dasar.

b. Menciptakan persepsi positif dalam diri siswa terhadap budayanya dan matematika sebagai hasil konstruksi sosial.

c. Menjelaskan pola interaksi sosial, menjelaskan peranan siswa dalam menyelesaikan masalah.

d. Memberikan motivasi belajar pada siswa melalui penanaman nilai matematis, soft skill dan kebergunaan matematika.

e. Memberi kesempatan pada siswa menanyakan hala-hal yang sulit dimengerti pada materi sebelumnya.

hala-hal yang sulit dimengerti pada materi sebelumnya. 2. Kegiatan guru pada tahap penyelesaian masalah dengan pola

2. Kegiatan guru pada tahap penyelesaian masalah dengan pola interaksi edukatif antara lain:

a. Membentukan kelompok

b. Mengajukan masalah yang bersumber dari fakta dan lingkungan budaya siswa

c. Meminta siswa memahami masalah secara individual dan kelompok

d. Mendorong siswa bekerjasama menyelesaikan tugas-tugas

e. Membantu siswa merumuskan hipotesis (dugaan).

f. Membimbing, mendorong/mengarahkan siswa menyelesaikan masalah dan mengerjakan LKS

g. Memberikan scaffolding pada kelompok atau individu yang mengalami kesulitan

xvii Matematika
xvii
Matematika
h. Mengkondisikan antar anggota kelompok berdiskusi, berdebat dengan pola kooperatif i. Mendorong siswa mengekspresikan
h. Mengkondisikan antar anggota kelompok berdiskusi, berdebat dengan pola kooperatif i. Mendorong siswa mengekspresikan
h. Mengkondisikan antar anggota kelompok berdiskusi, berdebat dengan pola kooperatif i. Mendorong siswa mengekspresikan

h. Mengkondisikan antar anggota kelompok berdiskusi, berdebat dengan pola kooperatif

i. Mendorong siswa mengekspresikan ide-ide secara terbuka

j. Membantu dan memberi kemudahan pengerjaan siswa dalam menyelesaikan masalah dalam pemberian solusi

3. Kegiatan guru pada tahap persentasi dan mengembangkan hasil kerja antara lain:

a. Memberi kesempatan pada kelompok mempresentasikan hasil penyelesaian masalah di depan kelas

b. Membimbing siswa menyajikan hasil kerja

c. Memberi kesempatan kelompok lain mengkritisi/menanggapi hasil kerja kelompok penyaji dan memberi masukan sebagai alternatif pemikiran Membantu siswa menemukan konsep berdasarkan masalah

d. Mengontrol jalannya diskusi agar pembelajaran berjalan dengan efektif

e. Mendorong keterbukaan, proses-proses demokrasi

f. Menguji pemahaman siswa

4. Kegiatan guru pada tahap temuan objek matematika dan penguatan skemata baru antara lain:

a. Mengarahkan siswa membangun konsep dan prinsip secara ilmiah

b. Menguji pemahaman siswa atas konsep yang ditemukan melalui pengajuan

contoh dan bukan contoh konsep c. Membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas-tugas belajar yang berkaitan dengan masalah

d. Memberi kesempatan melakukan konektivitas konsep dan prinsip dalam mengerjakan soal tantangan

e. Memberikan scaffolding

5. Kegiatan guru pada tahap menganalisis dan mengevaluasi proses dan hasil penyelesaian masalah antara lain:

a. Membantu siswa mengkaji ulang hasil penyelesaian masalah

b. Memotivasi siswa untuk terlibat dalam penyelesaian masalah yang selektif

c. Mengevaluasi materi akademik: memberi kuis atau membuat peta konsep atau peta materi.

xviii
xviii
materi akademik: memberi kuis atau membuat peta konsep atau peta materi. xviii Buku Guru Kelas XI
materi akademik: memberi kuis atau membuat peta konsep atau peta materi. xviii Buku Guru Kelas XI

Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK

materi akademik: memberi kuis atau membuat peta konsep atau peta materi. xviii Buku Guru Kelas XI
xix Matematika
xix Matematika
xix Matematika
xix Matematika
xix Matematika
xix
Matematika
xx Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK
xx Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK
xx Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK
xx Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK
xx
xx
xx Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK
xx Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK

Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK

xx Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK
xxi Matematika
xxi Matematika
xxi Matematika
xxi Matematika
xxi Matematika
xxi
Matematika
xxii Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK
xxii Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK
xxii Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK
xxii Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK
xxii
xxii
xxii Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK
xxii Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK

Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK

xxii Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK
Bab 1 PROGRAM LINEAR A. KOMPETENSI DASAR DAN PENGALAMAN BELAJAR Kompetensi Dasar Pengalaman Belajar 1.
Bab 1 PROGRAM LINEAR A. KOMPETENSI DASAR DAN PENGALAMAN BELAJAR Kompetensi Dasar Pengalaman Belajar 1.
Bab 1 PROGRAM LINEAR A. KOMPETENSI DASAR DAN PENGALAMAN BELAJAR Kompetensi Dasar Pengalaman Belajar 1.
Bab 1
Bab
1

PROGRAM LINEAR

A. KOMPETENSI DASAR DAN PENGALAMAN BELAJAR

Kompetensi Dasar Pengalaman Belajar 1. Memiliki motivasi internal, kemampuan bekerjasama, konsisten, sikap disiplin,
Kompetensi Dasar
Pengalaman Belajar
1. Memiliki motivasi internal, kemampuan
bekerjasama, konsisten, sikap disiplin, rasa
percaya diri, dan sikap toleransi dalam
perbedaan strategi berpikir dalam memilih dan
menerapkan strategi menyelesaikan masalah.
Melalui pembelajaran Program Linear, siswa mem-
peroleh pengalaman belajar:
• mengamati secara cermat aturan susunan
objek.
2. Menunjukkan sikap bertanggung jawab, rasa
ingin tahu, jujur dan perilaku peduli lingkungan.
• berpikir mandiri mengajukan ide secara bebas
dan terbuka.
3. Mendeskripsikan konsep sistem per-samaan
dan pertidaksamaan linear dua variabel dan
menerapkannya dalam pemecahan masalah
program linear.
• menemukan hubungan-hubungan di antara
objek-objek.
• melatih berpikir kritis dan kreatif.
• bekerjasama menyelesaikan masalah.
4. Menerapkan prosedur yang sesuai untuk
menyelesaikan masalah program linear terkait
masalah nyata dan menganalisis kebenaran
langkah langkahnya.
5. Menganalisis bagaimana menilai validitas
argumentasi logis yang digunakan dalam
matematika yang sudah dipelajari terkait
pemecahan masalah program linear.
6. Merancang dan mengajukan masalah nyata
berupa masalah program linear, dan menerapkan
berbagai konsep dan aturan penyelesaian system
pertidaksamaan linear dan menentukan nilai
optimum dengan menggunakan fungsi selidik
yang ditetapkan
Kendala/Keterbatasan
(Constraint)
Optimum (Maksimum atau
minimum)
Daerah Layak, Daerah
Jawab, Daerah Penyele -
saian
Garis Selidik
Titik Optimum
atau minimum) • Daerah Layak, Daerah Jawab, Daerah Penyele - saian • Garis Selidik • Titik
atau minimum) • Daerah Layak, Daerah Jawab, Daerah Penyele - saian • Garis Selidik • Titik
B. PETA KONSEP Masalah Otentik Sistem Persamaan dan Pertidaksamaan Linear MateriPrasyarat Program
B. PETA KONSEP Masalah Otentik Sistem Persamaan dan Pertidaksamaan Linear MateriPrasyarat Program
B. PETA KONSEP Masalah Otentik Sistem Persamaan dan Pertidaksamaan Linear MateriPrasyarat Program

B.

PETA KONSEP

Masalah Otentik

Masalah Otentik
Masalah Otentik
Masalah Otentik
Sistem Persamaan dan Pertidaksamaan Linear

Sistem Persamaan dan Pertidaksamaan Linear

MateriPrasyarat
MateriPrasyarat

MateriPrasyarat

MateriPrasyarat
Program Linear

Program Linear

Program Linear
Program Linear
Masalah Program Linear Daerah Penyelesaian Kendala Program Linear Fungsi Objektif Garis Selidik
Masalah Program
Linear
Daerah
Penyelesaian
Kendala Program
Linear
Fungsi
Objektif
Garis
Selidik
Solusi Masalah Program Linear
Solusi Masalah Program Linear
Solusi Masalah Program Linear
Solusi Masalah Program Linear

Solusi Masalah Program Linear

Solusi Masalah Program Linear
Solusi Masalah Program Linear
Solusi Masalah Program Linear
Solusi Masalah Program Linear
Solusi Masalah Program Linear
Solusi Masalah Program Linear
Solusi Masalah Program Linear

Nilai

Maksimum

Nilai

Minimum

2
2
Selidik Solusi Masalah Program Linear Nilai Maksimum Nilai Minimum 2 Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK
Selidik Solusi Masalah Program Linear Nilai Maksimum Nilai Minimum 2 Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK

Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK

Selidik Solusi Masalah Program Linear Nilai Maksimum Nilai Minimum 2 Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK
C. MATERI PEMBELAJARAN 1. Model Matematika Pada subbab ini, kita akan mengajarkan bagaimana masalah dalam
C. MATERI PEMBELAJARAN 1. Model Matematika Pada subbab ini, kita akan mengajarkan bagaimana masalah dalam
C. MATERI PEMBELAJARAN 1. Model Matematika Pada subbab ini, kita akan mengajarkan bagaimana masalah dalam
C. MATERI PEMBELAJARAN 1. Model Matematika Pada subbab ini, kita akan mengajarkan bagaimana masalah dalam

C.

MATERI PEMBELAJARAN

1. Model Matematika Pada subbab ini, kita akan mengajarkan

bagaimana

masalah dalam kehidupan sehari-hari dapat diselesaikan dengan menggunakan program linear.

masalah

program linear yang dapat dijumpai oleh siswa dalam lingkungan sekitarnya. Selanjutnya, guru membimbing siswa menyelesaikan/merumuskan masalah berikut ini.

Guru diperkenankan jika memulai suatu

masalah berikut ini. Guru diperkenankan jika memulai suatu Masalah-1.1 Sekelompok tani transmigran mendapatkan 10

Masalah-1.1

Sekelompok tani transmigran mendapatkan 10 hektar tanah yang dapat ditanami padi, jagung, dan palawija lain. Karena keterbatasan sumber daya petani harus menentukan berapa bagian yang harus ditanami padi dan berapa bagian yang harus ditanami jagung, sedangkan palawija lainnya ternyata tidak menguntungkan. Untuk suatu masa tanam, tenaga yang tersedia hanya 1550 jam-orang, pupuk juga terbatas, tak lebih dari 460 kilogram, sedangkan air dan sumber daya lainnya cukup tersedia. Diketahui pula bahwa untuk menghasilkan 1 kuintal padi diperlukan 10 jam-orang tenaga dan 5 kilogram pupuk, dan untuk 1 kuintal jagung diperlukan 8 jam- orang tenaga dan 3 kilogram pupuk. Kondisi tanah memungkinkan menghasilkan 50 kuintal padi per hektar atau 20 kuintal jagung per hektar. Pendapatan petani dari 1 kuintal padi adalah Rp 40.000 sedang dari 1 kuintal jagung Rp 30.000, dan dianggap bahwa semua hasil tanamnya selalu habis terjual. Masalah bagi petani ialah bagaimanakah rencana produksi yang memaksimumkan pendapatan total? Artinya berapa hektar tanah harus ditanami padi dan berapa hektar tanah harus ditanami jagung.

Memulai bab ini, guru diharapkan memperke- nalkan aplikasi program linear dalam kehidupan sehari-hari melalui con- toh-contoh yang mu- ngkin ditemui/dialami oleh siswa. Misalnya, bagaimana seorang calon perwira mengikuti program nutrisi untuk menjaga berat badan yang ideal. Ajak siswa untuk bernalar dalam masalah yang se- dang dikaji, terumata me- mikirkan batasan dalam masalah yang sedang di- kaji.

Beri motivasi kepada siswa tentang kebermak- naan matematika dalam kehidupan. Dengan me- mahami Masalah 1.1, ajak siswa memikirkan dan merumuskan batasan- batasan dan tujuan dari masalah tersebut.

mahami Masalah 1.1, ajak siswa memikirkan dan merumuskan batasan- batasan dan tujuan dari masalah tersebut. 3
3 Matematika
3
Matematika
Perumusan Masalah Mari kita mengkaji jika hasil padi dan jagung dinyatakan per kuintal. Berdasarkan masalah
Perumusan Masalah Mari kita mengkaji jika hasil padi dan jagung dinyatakan per kuintal. Berdasarkan masalah
Perumusan Masalah Mari kita mengkaji jika hasil padi dan jagung dinyatakan per kuintal. Berdasarkan masalah

Perumusan Masalah Mari kita mengkaji jika hasil padi dan jagung dinyatakan per kuintal. Berdasarkan masalah di atas, diketahui bahwa setiap

1 hektar menghasilkan 50 kuintal padi. Artinya, untuk 1

kuintal padi diperlukan 0,02 hektar. Demikian juga, untuk

1 kuintal jagung diperlukan 0,05 hektar. Cermati angka-angka yang tersaji pada tabel berikut

ini!

Tabel 1.1: Alokasi setiap sumber yang tersedia

Sumber

Padi

(per

Jagung

(per

Batas

sumber

Satuan

kuintal)

kuintal)

Tanah

0,02

0,05

10

hektar

Tenaga

10

8

1550

jam-orang

Pupuk

5

3

460

kilogram

Pendapa

40

30

 

Ribuan

-tan

Guru memberikan pen- jelasan tambahan jika ter- dapat siswa yang belum terbiasa dengan satuan jam-orang. Selain itu juga guru per- lu memberikan penjela- san akan adanya asumsi pada suatu masalah.

Catatan:

1. Satuan jam-orang (man-hour) adalah banyak orang kali banyak jam bekerja. Kita anggap (asumsi) bahwa setiap transmigran memiliki tenaga dan waktu yang relatif sama.

2. Air dianggap berlimpah sehingga tidak menjadi kendala/keterbatasan. Jika ada kendala air maka satuannya adalah banyak jam membuka saluran tersier untuk mengalirkan air ke sawah.

3. Batas ketersediaan dalam soal ini kebetulan semuanya berupa batas atas.

Alternatif Penyelesaian

dipengaruhi

banyak (kuintal) padi dan jagung yang diproduksi. Tentunya, besar pendapatan tersebut merupakan tujuan kelompok

Besarnya

pendapatan

kelompok

petani

4
4
pendapatan tersebut merupakan tujuan kelompok Besarnya pendapatan kelompok petani 4 Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK
pendapatan tersebut merupakan tujuan kelompok Besarnya pendapatan kelompok petani 4 Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK

Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK

pendapatan tersebut merupakan tujuan kelompok Besarnya pendapatan kelompok petani 4 Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK
tani, tetapi harus mempertimbangkan keterbatasan sumber (luas tanah, tenaga dan pupuk). Misalkan : x banyak
tani, tetapi harus mempertimbangkan keterbatasan sumber (luas tanah, tenaga dan pupuk). Misalkan : x banyak
tani, tetapi harus mempertimbangkan keterbatasan sumber (luas tanah, tenaga dan pupuk). Misalkan : x banyak
tani, tetapi harus mempertimbangkan keterbatasan sumber (luas tanah, tenaga dan pupuk). Misalkan : x banyak

tani, tetapi harus mempertimbangkan keterbatasan sumber (luas tanah, tenaga dan pupuk). Misalkan :

x

banyak kuintal padi yang diproduksi oleh kelompok tani

y

banyak

kuintal

jagung

yang

diproduksi

oleh

kelompok tani. Untuk memperoleh pendapatan terbesar, harus

dipikirkan keterbatasan-keterbatasan berikut:

a. Banyak hektar tanah yang diperlukan untuk x kuintal padi dan untuk y kuintal jagung tidak melebihi 10 hektar. Pernyataan ini dalam notasi matematika dinyatakan dengan:

0,02x + 0,05y ≤ 10 atau 2x + 5y ≤ 1000

b. Untuk ketersediaan waktu (jam-orang), tiap-tiap padi dan jagung hanya tersedia waktu tidak lebih dari 1550 jam-orang. Berdasarkan ketersedian waktu untuk setiap kuintal padi dan jagung, dirumuskan:

10x + 8y ≤ 1550

c. Jumlah pupuk yang tersedia untuk padi dan jagung tidak lebih dari 460 kilogram. Padahal untuk menghasilkan 1 kuintal padi dan jagung masing-masing membutuhkan 5 kilogram dan 3 kilogram. Pernyataan ini dinyatakan dalam model matematika:

5x + 3y ≤ 460

d. Dengan semua keterbatasan (kendala) (a), (b), dan (c), kelompok tani ingin mengharapkan pendapatan Rp 40.000 per kuintal padi dan Rp 30.000 per kuintal jagung. Oleh karena itu, besar pendapatan kelompok per kuintal adalah 40.000x + 30.000y. Rumusan ini disebut sebagai fungi tujuan/sasaran; sebut Z(x, y). Oleh karena itu, fungsi tujuan/sasaran masalah kelompok tani transmigran, dinyatakan sebagai berikut:

Z(x, y) = 40.000x + 30.000y atau Z(x, y) = 40x + 30y (dalam ribuan rupiah).

Beri kesempatan kepada siswa untuk memaparkan hasil pemikiran mereka, dan minta siswa lain un- tuk memberi masukan. Motivasi siswa untuk mengajukan ide-ide da- lam merumuskan model matematika seperti yang disajikan pada bagian a), b), c) dan d). Pastikan siswa paham akan penggunaan tanda “ pertidaksamaan” dalam setiap rumusan kendala, melalui mengajukan per- tanyaan berikut:

Mengapa harus menggu- nakan tanda ”” bukan tanda “<”.

mengajukan per- tanyaan berikut: Mengapa harus menggu- nakan tanda ” ≤ ” bukan tanda “<”. 5
5 Matematika
5
Matematika
Melihat uraian di atas, masalah kelompok tani transmigran dapat diubah bentuk menjadi suatu sistem pertidaksamaan
Melihat uraian di atas, masalah kelompok tani transmigran dapat diubah bentuk menjadi suatu sistem pertidaksamaan
Melihat uraian di atas, masalah kelompok tani transmigran dapat diubah bentuk menjadi suatu sistem pertidaksamaan

Melihat uraian di atas, masalah kelompok tani transmigran dapat diubah bentuk menjadi suatu sistem pertidaksamaan linear dua variabel. Pemecahan sistem tersebut dapat dikerjakan dengan metode grafik (dibahas pada subbab berikutnya). Hal ini merupakan pengembangan konsep pertidaksamaan linear satu variabel yang telah kamu pelajari pada Kelas X. Adapun sistem pertidaksamaan linear yang dimaksud adalah sebagai berikut:

Guru menjelaskan kepada siswa, bahwa untuk me- nentukan solusi masalah di atas akan dibahas pada subbab berikut.

0 , 02

x +

+

+

0 05

8

3

,

y

y

10

5

x

x

10

y

1550

460

2

x + y

+ ≤

+

x

3

8

5

atau 10

5



x

y

y

1000

1550

460

ken daal al ahan

kendala pupuk

kendal a w aktu

(1)

Karena luas tanah/lahan, banyak waktu, dan banyak pupuk tidak mungkin negatif, kendala ini sebagai kendala nonnegatif, yaitu:

0

x

y 0

kendala nonnegatif

(2)

Untuk pendapatan, tentu dimaksimumkan dan sebaliknya untuk biaya tentu diminimumkan. Untuk masalah kelompok tani ini, kita memiliki tujuan, disebut fungsi tujuan/sasaran, yaitu:

Maksimumkan:

Z(x, y) = 40x + 30y (dalam satuan ribuan rupiah).

(3)

Selain dua variabel, masalah program linear dalam kehidupan sehari-hari banyak juga yang memuat tiga variabel atau lebih. Seperti masalah yang ditemui seorang pengrajin perabot rumah tangga berikut ini.

6
6
Seperti masalah yang ditemui seorang pengrajin perabot rumah tangga berikut ini. 6 Buku Guru Kelas XI
Seperti masalah yang ditemui seorang pengrajin perabot rumah tangga berikut ini. 6 Buku Guru Kelas XI

Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK

Seperti masalah yang ditemui seorang pengrajin perabot rumah tangga berikut ini. 6 Buku Guru Kelas XI
Masalah-1.2 Pak Toni, seorang pengrajin perabot rumah tangga mendapat pesanan membuat rak buku yang kerangkanya
Masalah-1.2 Pak Toni, seorang pengrajin perabot rumah tangga mendapat pesanan membuat rak buku yang kerangkanya
Masalah-1.2 Pak Toni, seorang pengrajin perabot rumah tangga mendapat pesanan membuat rak buku yang kerangkanya
Masalah-1.2 Pak Toni, seorang pengrajin perabot rumah tangga mendapat pesanan membuat rak buku yang kerangkanya
Masalah-1.2 Pak Toni, seorang pengrajin perabot rumah tangga mendapat pesanan membuat rak buku yang kerangkanya

Masalah-1.2

Pak Toni, seorang pengrajin perabot rumah tangga mendapat pesanan membuat rak buku yang kerangkanya terbuat dari besi siku lubang yang dipotong-potong kemudian dirangkai dengan sekrup. Untuk membuat rak itu, diperlukan potongan besi sepanjang 250 cm sebanyak 8 potong, sepanjang 70 cm sebanyak 12 potong, dan sepanjang 37,5 cm sebanyak 20 potong. Ternyata batangan besi siku lubang yang dijual di toko mempunyai panjang standar 3 m, sehingga Pak Toni harus berpikir, cukup berapa potong besi batangan yang akan dibeli dan bagaimana caranya mengatur pemotongannya supaya panjang total sisa pemotongan menjadi minimal (dengan demikian kerugian Pak Toni minimal). Dapatkah kamu membantu Pak Toni untuk memotong besi batangan tersebut?

Alternatif Penyelesaian

Pola Pemotongan I

Panjang Besi Batangan : 3 meter 37,5 cm 12,5 cm = sisa 250 cm
Panjang Besi Batangan : 3 meter
37,5 cm
12,5 cm = sisa
250 cm

Pola Pemotongan II

Panjang Besi Batangan : 3 meter

70cm 70cm 70cm 70cm 20cm = sisa
70cm
70cm
70cm
70cm
20cm = sisa

Pola Pemotongan III

Panjang Besi Batangan : 3 meter

Setelah miminta siswa memahami Masalah 1.2, beri motivasi kepada siswa akan kebermak- naan matematika, bahkan dapat membantu untuk memaksimumkan peng- hasilan seseorang. Berikan apresiasi kepada siswa yang mengajukan ide-ide cemerlang untuk menyelesaikan Masalah

1.2.

Dengan dua pola pemo- tongan yang ada pada buku siswa, guru memo- tivasi siswa untuk men- coba membentuk pola pemotangan besi yang lain hingga mereka dapat menemukan seperti yang disajikan pada alernatif penyelesaian.

70cm 70cm 70cm 37,5cm 37,5cm 15 = sisa
70cm
70cm
70cm
37,5cm
37,5cm
15 = sisa

Pola Pemotongan IV

Panjang Besi Batangan : 3 meter

15 = sisa Pola Pemotongan IV Panjang Besi Batangan : 3 meter 70cm 70cm 37,5cm 37,5cm
15 = sisa Pola Pemotongan IV Panjang Besi Batangan : 3 meter 70cm 70cm 37,5cm 37,5cm
70cm 70cm 37,5cm 37,5cm 37,5cm 37,5cm 10 = sisa 7 Matematika
70cm
70cm
37,5cm
37,5cm
37,5cm
37,5cm
10 = sisa
7
Matematika
Pola Pemotongan V Panjang Besi Batangan : 3 meter 7 0 c m 37,5cm 37,5cm
Pola Pemotongan V Panjang Besi Batangan : 3 meter 7 0 c m 37,5cm 37,5cm
Pola Pemotongan V Panjang Besi Batangan : 3 meter 7 0 c m 37,5cm 37,5cm

Pola Pemotongan V

Panjang Besi Batangan : 3 meter

70cm

37,5cm

37,5cm

37,5cm

37,5cm

37,5cm

37,5cm

5cm = sisa

Pola Pemotongan VI

 

Panjang Besi Batangan : 3 meter

 
 

0cm = sisa

37,5cm 37,5cm 37,5cm 37,5cm 37,5cm 37,5cm 37,5cm 37,5cm

Bersama dengan siswa, guru menyimpulkan pola pemotongan besi bata- ngan dalam Tabel 1.2. Hal ini bertujuan menyepakati rumusan sistem kendala yang dibentuk. Pastikan siswa mampu memaknai setiap angka yang tertera pada Tabel 1.2 melalui mengajukan pertanyaan-pertanyaan, misalnya: berapa banyak potongan besi berukuran 37,5 cm yang diperoleh dari semua pola pemoto- ngan?

Secara lengkap, semua pola pemotongan besi batangan dengan panjang 3 m pada masalah di atas, dinyatakan dalam tabel berikut ini.

Tabel 1.2: Pola pemotongan besi batangan

   

Pola pemotongan ke-

 
 

300

1

2

3

4

5

6

dipesan

Panjang

250

1

0

0

0

0

0

8

               

Potongan

70

0

4

3

2

1

0

12

Kawat

37,5

1

0

2

4

6

8

20

 

sisa

12,5

20

15

10

5

0

 

Kolom 1, mengatakan besi sepanjang 300 cm dapat dipotong dengan ukuran 250 cm sebanyak 1 potong dan 1 potong untuk ukuran 37,5 cm serta menghasilkan sisa 12,5 cm. Setiap sisa harus kurang dari 37,5 cm. Kolom 2, mengatakan pola pemotongan yang kedua dengan menghasilkan sisa 20 cm, demikian seterusnya arti angka- angka yang tersaji dalam tabel di atas. Dengan demikian terdapat 6 peubah yang muncul, yaitu x 1 , x 2 , x 3 , x 4 , x 5 , dan x i dengan x 6 : banyak batang besi yang dipotong menurut kombinasi pola ke-i. Oleh karena itu, kita temukan rumusan berikut ini:

x

x

1

1

+

4

x

2

2

x

+

3

3

+

x

4

3

x

+

4

2

+

xx

6

4

x

+

x

5

+

5

8

x

6

8

12

20

(4)

untuk setiap x 1 , x 2 , x 3 , x 4 , x 5 ,dan x 6 0

8
8
untuk setiap x 1 , x 2 , x 3 , x 4 , x 5
untuk setiap x 1 , x 2 , x 3 , x 4 , x 5

Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK

untuk setiap x 1 , x 2 , x 3 , x 4 , x 5
dengan meminimumkan: 12, 5 x 1 + 20 x 2 + 15 x 3 +
dengan meminimumkan: 12, 5 x 1 + 20 x 2 + 15 x 3 +
dengan meminimumkan: 12, 5 x 1 + 20 x 2 + 15 x 3 +
dengan meminimumkan: 12, 5 x 1 + 20 x 2 + 15 x 3 +

dengan meminimumkan:

12, 5x 1 + 20x 2 + 15x 3 + 10x 4 + 5x 5 + 0x 6 (5)

Persamaan (5) dapat dinyatakan sebagai suatu fungsi

x 1 , x 2 , x 3 , x 4 , x 5 , dan x 6 ; sebut

yang tergantung pada nilai fungsi

Z(x 1 , x 2 ,

x 3 ,

x 4 , x 5 ,

x 6 )

=

12,

5x 1

+

20x 2 +

15x 3 + 10x 4

+

5x 5 + 0x 6

 

atau

Z(x 1 , x 2 , x 3 ,

x 4 , x 5 ,

x 6 )

=

12, 5x 1

+

20x 2

+

15x 3 + 10x 4

+ 5x 5 + 5x 5

merupakan fungsi sisa pemotongan dari semua pola pemotongan besi. Fungsi Z merupakan tujuan pola pemotongan besi batangan yang dibutuhkan Pak Toni. Sedangkan apa yang dinyatakan pada bagian (4) merupakan kendala atau keterbatasan untuk mencapai tujuan tersebut. Cermati tanda yang digunakan pada bagian (4) di atas, merupakan salah satu karakteristik yang digunakan pada kajian materi program linear.

yang digunakan pada kajian materi program linear. Masalah-1.3 Suatu perusahaan kertas memiliki dua pusat

Masalah-1.3

Suatu perusahaan kertas memiliki dua pusat penggilingan yang harus memasok persediaan tiga pusat percetakan kertas koran secara mingguan. Setiap minggu, Penggilingan I dan II, berturut-turut menghasilkan 350 ton dan 550 ton bubur kertas koran. Sebagai bahan baku, Percetakan I, II, dan III berturut- turut memerlukan 275 ton/minggu, 325 ton/minggu, 300 ton/minggu bubur kertas. Ongkos pengiriman (dalam ratus ribu rupiah/ton) adalah sebagai berikut:

Tabel 1.3: Rincian biaya pengiriman

Beri penjelasan kepada siswa bahwa pada sub bab ini, kompetensi yang diba- ngun adalah bagaimana merumuskan model suatu masalah-masalah prog- ram linear belum untuk menyelesaikan. Untuk menyelesaikan model matematika Masalah 1.2 menggu- nakan metode simpleks. Oleh karena itu, motivasi siswa bahwa batasan ma- salah kajian dalam bab ini hanya untuk 2 variabel saja.

Melalui memahami dan menalar masalah di sam- ping, motivasi siswa bah- wa kebermaknaan materi program linear ini sangat banyak dalam kehidupan sehari-hari, salah di an- taranya masalah trans- portasi yang dihadapi pe- rusahaan kertas.

masalah trans- portasi yang dihadapi pe- rusahaan kertas.   Percetakan Percetakan Percetakan I II
 

Percetakan

Percetakan

Percetakan

I

II

III

Penggilingan I

17

22

15

Penggilingan II

18

16

12

Masalah pada perusahaan tersebut adalah menentukan kapasitas bubur kertas koran setiap pengiriman (ton) ke setiap percetakan agar biaya pengiriman minimal.

9 Matematika
9
Matematika
Alternatif Penyelesaian Langkah awal kita untuk menyelesaikan masalah ini adalah dengan merumuskan model matematika
Alternatif Penyelesaian Langkah awal kita untuk menyelesaikan masalah ini adalah dengan merumuskan model matematika
Alternatif Penyelesaian Langkah awal kita untuk menyelesaikan masalah ini adalah dengan merumuskan model matematika

Alternatif Penyelesaian Langkah awal kita untuk menyelesaikan masalah ini adalah dengan merumuskan model matematika masalah pengiriman bubur kertas koran perusahaan tersebut. Coba perhatikan gambar berikut ini.

Pastikan siswa memaha-

mi rute pengiriman ba-

han perusahaan tersebut dengan mengajukan per- tanyaan-pertanyaan, mi- salnya. Sebutkan rute dengan biaya terkecil.

Penggilingan I

Rp170.000,00

Rp180.000,00

Rp220.000,00

Rp160.000,00

Rp150.000,00

Penggilingan II

Rp120.000,00

Percetakan I

Percetakan I Percetakan II Percetakan III

Percetakan II

Percetakan I Percetakan II Percetakan III

Percetakan III

Gambar 1.2: Diagram rute pengiriman serta biaya pengiriman

Ajukan pertanyaan kepa-

da siswa untuk memasti- kan pemahaman mereka tentang penggunaan tan-

da “ = “ dalam model

matematika masalah pe- rusahaan kertas.

a) Penggilingan I mampu menghasilkan 350 ton/minggu merupakan pasokan ke Percetakan I, II, dan III. Misalkan x ij : kapasitas pengiriman (ton) setiap minggu dari Penggilingan (i = 1,2) ke Percetakan (j = 1,2,3). Jadi dapat dituliskan: x 11 + x 12 + x 13 = 350

b) Penggilingan II mampu menghasilkan 550 ton/minggu, merupakan pasokan ke Percetakan I, II, dan III. Analog dengan bagian a), kondisi b) dapat kita tuliskan sebagai

berikut: x 11 + x 12 + x 13 = 550

c) Jumlah bahan bubur kertas koran yang diperlukan Percetakan I sebesar 275 ton/minggu harus dipasok oleh Penggilingan I dan II. Kondisi ini dituliskan:

x 11 + x 12 + x 13 = 250

d) Jumlah bahan bubur kertas koran yang diperlukan Percetakan II sebesar 325 ton/minggu harus dipasok oleh Penggilingan I dan II. Kondisi ini dituliskan:

x 11 + x 12 + x 13 = 325

10
10
I dan II. Kondisi ini dituliskan: x 1 1 + x 1 2 + x 1
I dan II. Kondisi ini dituliskan: x 1 1 + x 1 2 + x 1

Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK

I dan II. Kondisi ini dituliskan: x 1 1 + x 1 2 + x 1
e) Jumlah bahan bubur kertas koran yang diperlukan Percetakan III sebesar 300 ton/minggu harus dipasok
e) Jumlah bahan bubur kertas koran yang diperlukan Percetakan III sebesar 300 ton/minggu harus dipasok
e) Jumlah bahan bubur kertas koran yang diperlukan Percetakan III sebesar 300 ton/minggu harus dipasok
e) Jumlah bahan bubur kertas koran yang diperlukan Percetakan III sebesar 300 ton/minggu harus dipasok

e) Jumlah bahan bubur kertas koran yang diperlukan Percetakan III sebesar 300 ton/minggu harus dipasok oleh Penggilingan I dan II. Kondisi ini dituliskan:

x 11 + x 12 + x 13 = 300

Demikian selanjutnya, sehingga kita dapat menyimpulkan secara lengkap sebagai berikut:

Model matematika pasokan bubur kertas koran dari dua Penggilingan ke Percetakan I, II, dan III.

x

x

11

21

x

x

x

11

12

13

+

+

+

+

+

x

x

x

x

x

12

22

21

22

23

+

x

13

+

= 275

x

23

= 325

= 300

= 350

= 550

Model matematika pasokan bubur kertas

Model matematika permintaan bubur kertas

x

ij 0,

i

= 1, 2 dan

j

= 1, 2,3

(6)

(7)

Dengan model pengiriman bubur kertas dari dua pusat penggilingan ketiga pusat percetakan menimbulkan biaya pengiriman. Dengan memperhatikan Gambar 1.2, tentu kamu dapat memahami bahwa, setiap minggu, biaya pengiriman setiap ton bubur kertas dari Penggilingan I ke Percetakan II adalah Rp220.000,00, kondisi ini dituliskan:

220.000x 12 . Demikian hal yang sama 170.000 x 11 memiliki arti bahwa, setiap minggu, biaya pengiriman setiap ton bubur kertas dari Penggilingan I ke Percetakan II adalah Rp

170.000,00.

dari Penggilingan I ke Percetakan II adalah Rp 170.000,00. Secara kumulatif total biaya pengiriman perusahaan tersebut,

Secara kumulatif total biaya pengiriman perusahaan tersebut, dituliskan sebagai berikut:

Z(x 11 , x 12 , x 13 , x 21 , x 22 , x 23 ) 17x 11 + 22x 12 + 15x 13 + 18x 21 + 16x 22 + 12x 23

(dalam puluh ribu rupiah).

11 Matematika
11
Matematika
Fungsi Z merupakan fungsi biaya, tentu pihak perusahaan ingin biaya tersebut minimal. Oleh karena itu,
Fungsi Z merupakan fungsi biaya, tentu pihak perusahaan ingin biaya tersebut minimal. Oleh karena itu,
Fungsi Z merupakan fungsi biaya, tentu pihak perusahaan ingin biaya tersebut minimal. Oleh karena itu,

Fungsi Z merupakan fungsi biaya, tentu pihak perusahaan ingin biaya tersebut minimal. Oleh karena itu, untuk kajian program linear, fungsi Z merupakan fungsi tujuan/sasaran, dituliskan:

Dari kajian Masalah 1.1; 1.2; dan 1.3, ajak siswa mencermati bentuk-ben- tuk model matematika yang sudah dibentuk.

Meminimumkan:

Z(x 11 , x 12 , x 13 , x 21 , x 22 , x 23 ) 17x 11 + 22x 12 + 15x 13 + 18x 21 + 16x 22 + 12x 23 (dalam puluh ribu rupiah). Fungsi biaya total Z memiliki nilai paling minimal jika ditemukan nilai x ij yang memenuhi semua kondisi batasan pada model permintaan dan suplai bubur bahan kertas koran. Dari Masalah 1.1, 1.2, dan 1.3, kita belum menyelesaikan masalah secara lengkap. Khususnya untuk menentukan semua nilai variabel yang memenuhi setiap kondisi. Hal ini disebabkan, untuk sebagian masalah diperlukan pengetahuan lebih lanjut agar mampu menyelesaikannya; misalnya pada Masalah 1.1 dan 1.3. Sedangkan untuk Masalah 1.2 akan kita kaji pada subbab berikutnya. Selain itu, dari Masalah 1.1 dan 1.2, khususnya pada rumusan yang terbentuk pada persamaan (1), (2), (3), (4), (5), (6), dan (7), serta fungsi tujuan yang terbentuk dapat kita simpulkan beberapa ciri model matematika dalam program linear, yaitu:

1) Adanya fungsi tujuan/sasaran dari setiap masalah yang dikaji. Misalnya,

▪ Maksimumkan: Z (x, y) = 40x + 30y (dalam satuan ribuan rupiah).

▪ Minimumkan:

Z(x 11 , x 12 , x 13 , x 21 , x 22 , x 23 ) 12,5x 1 + 20x 2 + 15x 3 + 10x 4 + 5x 5

▪ Minimumkan:

Z(x 11 , x 12 , x 13 , x 21 , x 22 , x 23 ) 17x 11 + 22x 12 + 15x 13 + 18x 21 + 16x 22 + 22x 23 (dalam puluh ribu rupiah).

12
12
x 1 3 + 18 x 2 1 + 16 x 2 2 + 22 x
x 1 3 + 18 x 2 1 + 16 x 2 2 + 22 x

Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK

x 1 3 + 18 x 2 1 + 16 x 2 2 + 22 x
2) Kendala atau keterbatasan utama masalah dinyatakan sebagai suatu sistem pertidaksamaan linear atau sistem persamaan
2) Kendala atau keterbatasan utama masalah dinyatakan sebagai suatu sistem pertidaksamaan linear atau sistem persamaan
2) Kendala atau keterbatasan utama masalah dinyatakan sebagai suatu sistem pertidaksamaan linear atau sistem persamaan
2) Kendala atau keterbatasan utama masalah dinyatakan sebagai suatu sistem pertidaksamaan linear atau sistem persamaan

2) Kendala atau keterbatasan utama masalah dinyatakan sebagai suatu sistem pertidaksamaan linear atau sistem persamaan linear. 3) Terdapat juga kendala nonnegatif sebagai syarat dasar nilai setiap variabel yang akan ditentukan. Dari tiga ciri di atas, dapat kita simpulkan masalah Program Linear dirumuskan sebagai berikut:

Definisi 1.1 Masalah program linear adalah menentukan nilai x 1 , x 2 , ,
Definisi 1.1
Masalah program linear adalah menentukan nilai x 1 , x 2 ,
, x n yang memaksimumkan (atau meminimumkan)
fungsi sasaran/tujuan,
z x x
(
,
,
, x
) =
C x
+
C x
+
+
C x
1
2
n
1
1
2
2
n
n
dengan kendala/keterbatasan:
a
x
+ a x
+
+
a x
(
≤ =
,
,
) b
11
1
1 2
2
1
n
n
1
a
x
+ a x
+
+
a x ≤ , = ≥
(
,
) bb
21
1
2 2 2
2 n n
2
a x
+ a x
+
+
a x
( ≤ , =
,
≥ )
b
m
1
1
m
2
2
mn n
m
x
0
x
0
x
0
.

Namun, dalam kajian bab ini kita akan mengkaji masalah program linear hanya untuk dua variabel. Untuk tiga variabel atau lebih dibutuhkan pengetahuan lanjutan tentang teknik menyelesaikan sistem persamaan atau pertidaksamaan linear.

Pembahasan kita selanjutnya, mengkaji grafik setiap kendala yang terbentuk dari masalah program linear.

2. Program Linear dengan Metode Grafik Kajian masalah program linear dua variabel dapat diselesaikan melalui grafik sistem kendala dari masalah tersebut. Oleh karena itu, langkah awal dalam menyelesaikan masalah tersebut, yaitu dengan menggambarkan sistem pertidaksamaan yang terbentuk

Cermati setiap tanda per- tidaksamaan atau per- samaan yang digunakan dalam model matematika sehingga disimpulkan da- lam Definisi 1.1.

Guru diperbolehkan

menyajikan atau me- ngajak siswa untuk mene- mukan masalah-masalah lain, terutama masalah yang berbasis kedaera- han yang terkait dengan masalah program linear dan meminta siswa men- coba merumuskan model matematika untuk setiap masalah.

Beri penjelasan kepada siswa bahwa ada bebe- rapa cara untuk menyele- saikan sistem pertidaksa- man linear. Salah satu di- antaranya adalah dengan metode grafik.

untuk menyele- saikan sistem pertidaksa- man linear. Salah satu di- antaranya adalah dengan metode grafik. 13
13 Matematika
13
Matematika
Oleh karena itu, moti- vasi siswa untuk mampu menyelesaikan masalah program linear secara tuntas. pada
Oleh karena itu, moti- vasi siswa untuk mampu menyelesaikan masalah program linear secara tuntas. pada
Oleh karena itu, moti- vasi siswa untuk mampu menyelesaikan masalah program linear secara tuntas. pada

Oleh karena itu, moti- vasi siswa untuk mampu menyelesaikan masalah program linear secara tuntas.

pada kendala/keterbatasan masalah program linear. Berikut ini diberikan 1 pertidaksamaan dengan kombinasi syarat variabelnya.

a) x + y ≥ 5

b) x + y ≥ 5 dengan

x ≥ 0 dan y ≥ 0.

c) x + y ≥ 5 dengan

x ≥ 0 dan y ≤ 0.

d) x + y ≥ 5 dengan

x ≤ 0 dan y ≥ 0.

e) x + y ≥ 5 dengan

x ≤ 0 dan y ≤ 0.

Ø Dengan pengetahuan tentang cara menggambarkan daerah penyelesaian suatu pertidaksamaan linear pada Kelas X, coba diskusikan bersama temanmu, apa perbedaan kelima pertidaksamaan di atas.

Dengan mencermati grafik pada Gambar 1.3, beri jesempatan kepada siswa untuk mampu meng- gambar grafik dengan pertidaksamaan bagian c), d) dan e), seperti yang disajikan pada gambar di samping. Beri penjelasan kepada siswa, bagaimana meng- gambarkan setiap grafik secara manual dan meng- gunakan softwore. Banyak software yang dapat di- gunakan untuk meng- gambarkan grafik sistem pertidaksamaan atau persamaan linear, seperti Autograph dan Lindow.

10 y 5 x - 10 -5 5 10 -5 - 10 a). x +
10
y
5
x
- 10
-5
5
10
-5
-
10
a). x + y ≥ 5
10
y
5
x
- 10
-5
5
10
-5
-
10

b). x + y ≥ 5 dengan x ≥ 0 dan y ≥ 0

14
14
5 x - 10 -5 5 10 -5 - 10 b). x + y ≥ 5
5 x - 10 -5 5 10 -5 - 10 b). x + y ≥ 5

Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK

5 x - 10 -5 5 10 -5 - 10 b). x + y ≥ 5
10 y 5 x - 10 - 5 5 10 - 5 - 10 d).
10 y 5 x - 10 - 5 5 10 - 5 - 10 d).
10 y 5 x - 10 - 5 5 10 - 5 - 10 d).
10 y 5 x - 10 - 5 5 10 - 5 - 10 d).
10 y 5 x - 10 - 5 5 10 - 5 - 10 d).
10
y
5
x
-
10
-
5
5
10
- 5
- 10
d). x + y ≥ 5 ; ≤ 0, y ≥ 0
10
y
5
x
-
10
-
5
5
10
- 5
- 10

e). x + y ≥ 5; ≤ 0, y ≥ 0

Gambar 1.3: Grafik a). x + y ≥ 5 dan

b). x + y ≥ 5 dengan x + y ≥ 5

dengan x ≥ 0 dan y ≥ 0

Dalam buku ini, untuk semua grafik persamaan linear atau sistem pertidaksamaan linear, Daerah Bersih merupakan daerah penyelesaian pertidaksamaan atau sistem pertidaksamaan yang dikaji.

Guru dan siswa perlu menyepekati tentang arah arsiran dalam menentu- kan daerah penyelesaian sistem pertidaksamaan.

15 Matematika
15
Matematika
Pada gambar a), dapat kita pahami bahwa semua titik yang terletak pada daerah yang tidak
Pada gambar a), dapat kita pahami bahwa semua titik yang terletak pada daerah yang tidak
Pada gambar a), dapat kita pahami bahwa semua titik yang terletak pada daerah yang tidak

Pada gambar a), dapat kita pahami bahwa semua titik yang terletak pada daerah yang tidak diarsir (bersih) memenuhi pertidaksamaan x + y ≥ 5 Hal ini berbeda dengan syarat nilai x dan y pada Gambar 2.3 b). Hanya pada saat x ≥ 0 dan y ≥ 0 yang memenuhi daerah penyelesaian pertidaksamaan x + y ≥ 5.

memenuhi daerah penyelesaian pertidaksamaan x + y ≥ 5. Contoh 1.1 Gambarkan daerah penyelesaian sistem

Contoh 1.1

Gambarkan daerah penyelesaian sistem pertidaksamaan berikut ini.

a)

2

5

y

x

x

2

+

y x 0

y

6

5

4

b)

x

+

y

3

x

+

2

3

x

2

y

4

6

Guru mengkoordinasikan siswa dalam menyusun langkah-langkah meng- gambarkan grafik sistem pertidaksamaan linear. Ajak siswa berdiskusi da- lam merumuskan lang- kah-langkah tersebut. Selanjutnya, untuk setiap grafik suatu sistem perti- daksamaan linear pasti- kan siswa memahami dan membaca grafik terse- but dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Misalnya, tentukan titik potong kedua garis. Ajak siswa memahami hubungan daerah bersih pada grafik dengan sistem pertidaksamaan yang diketahui. Misalnya, bah- wa semua titik pada dae- rah bersih memenuhi

Alternatif Penyelesaian Ø Guru mengkoordinir siswa untuk mendiskusikan langkah-langkah menggambarkan grafik suatu sistem pertidaksamaan linear.

10 y 5 x - 10 -5 5 10 -5 -10
10
y
5
x
-
10
-5
5
10
-5
-10

Gambar 1.5: Daerah penyelesaian pertidaksamaan

16
16
10 y 5 x - 10 -5 5 10 -5 -10 Gambar 1.5: Daerah penyelesaian pertidaksamaan
10 y 5 x - 10 -5 5 10 -5 -10 Gambar 1.5: Daerah penyelesaian pertidaksamaan

Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK

10 y 5 x - 10 -5 5 10 -5 -10 Gambar 1.5: Daerah penyelesaian pertidaksamaan
10 y 5 x - 10 - 5 5 10 - 5 - 10 Gambar
10 y 5 x - 10 - 5 5 10 - 5 - 10 Gambar
10 y 5 x - 10 - 5 5 10 - 5 - 10 Gambar
10 y 5 x - 10 - 5 5 10 - 5 - 10 Gambar
10 y 5 x - 10 - 5 5 10 - 5 - 10
10
y
5
x
- 10
- 5
5 10
- 5
- 10

Gambar 1.6: Suatu sistem pertidaksamaan linear yang tidak daerah penyelesaian

sistem pertidaksamaan linear yang tidak daerah penyelesaian Uji Kompetensi 1.1 1. PT Lasin adalah suatu pengembang

Uji Kompetensi 1.1

1. PT Lasin adalah suatu pengembang perumahan di daerah pemukiman baru. PT tersebut memiliki tanah seluas 12.000 meter persegi berencana akan membangun dua tipe rumah, yaitu tipe mawar dengan luas 130 meter persegi dan tipe melati dengan luas 90 m 2 . Jumlah rumah yang akan dibangun tidak lebih 150 unit. Pengembang merancang laba tiap-tiap tipe rumah Rp2.000.000,00 dan Rp 1.500.000,00. Modelkan permasalahan di atas!

2. Klinik “Dewi” akan membuka cabang baru di daerah padat penduduk. Untuk itu, pemilik klinik merancang sebuah jadwal jaga perawat yang akan bertugas, seperti berikut ini.

untuk setiap pertidak- samaan linear yang ter-

dapat dalam sistem pertidaksamaan linear.

Sehingga mampu me-

nyimpulkan bahwa mungkin suatu sistem per-

tidaksamaan linear tidak memiliki daerah bersih.

Beri motivasi kepada siswa untuk mengasah pengetahuan dan ke- terampilannya melalui mengejakan soal dan ma- salah yang disajikan pada Uji Kompetensi 1.1. Guru harus memahami kondisi siswa dalam penu- gasan soal-soal tersebut, apakah tugas individu atau tugas kelompok.

 

24.00

04.00

08.00

12.00

16.00

20.00

-

-

-

-

-

-

04.00

08.00

12.00

16.00

20.00

24.00

Ketersedian

1

2

3

4

5

6

Banyak

           

Perawat

yang dibu-

6

8

11

9

18

11

tuhkan

          Perawat yang dibu- 6 8 11 9 18 11 tuhkan 17
17 Matematika
17
Matematika
Rumuskan masalah penjadwalan perawat tersebut dalam model matematika. 3. Tentukanlah pertidaksamaan yang memenuhi setiap
Rumuskan masalah penjadwalan perawat tersebut dalam model matematika. 3. Tentukanlah pertidaksamaan yang memenuhi setiap
Rumuskan masalah penjadwalan perawat tersebut dalam model matematika. 3. Tentukanlah pertidaksamaan yang memenuhi setiap

Rumuskan masalah penjadwalan perawat tersebut dalam model matematika.

3. Tentukanlah pertidaksamaan yang memenuhi setiap daerah penyelesaian di bawah ini.

10 y 5 x - 10 - 5 5 10 -5 - 10 (a) 10
10
y
5
x
- 10
- 5
5
10
-5
-
10
(a)
10
y
5
x
- 10
- 5
5
10
-5
-
10

(b)

4. Gambarkanlah daerah penyelesaian setiap sistem pertidaksamaan di bawah ini.

a )

2

x

y

x 5

+

2 4

18
18
di bawah ini. a ) 2 x y x ≥ 5 ≥ + 2 4 18
di bawah ini. a ) 2 x y x ≥ 5 ≥ + 2 4 18

Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK

y ≤ 5 − 6 x b ) 2 1 ≤ y ≤ 6
y
≤ 5 −
6
x
b
) 2
1
y ≤
6
5. Cermati pertidaksamaan ax + by ≥ c . Untuk menentukan daerah penyelesaian (bersih) pada
5. Cermati pertidaksamaan ax + by ≥ c . Untuk menentukan daerah penyelesaian (bersih) pada
5. Cermati pertidaksamaan ax + by ≥ c . Untuk menentukan daerah penyelesaian (bersih) pada
5. Cermati pertidaksamaan ax + by ≥ c . Untuk menentukan daerah penyelesaian (bersih) pada

5.

Cermati pertidaksamaan ax + by c. Untuk menentukan daerah penyelesaian (bersih) pada bidang koordinat, selain dengan menggunakan uji titik, selidiki hubungan tanda koefisien x dan y terhadap daerah penyelesaian (bersih) pertidaksamaan.

6.

Perhatikan grafik-grafik di bawah ini. Nyatakan pertidaksamaan-pertidaksamaan yang memenuhi setiap daerah yang memenuhi.

10 y 5 x - 10 - 5 5 10 - 5 - 10 (i)
10
y
5
x
-
10
-
5
5
10
- 5
- 10
(i)
10
y
5
x
-
10
-
5
5
10
- 5
- 10
(ii)
19
Matematika
7. Seorang atlet diwajibkan makan dua jenis tablet setiap hari. Tablet pertama mengandung 5 unit
7. Seorang atlet diwajibkan makan dua jenis tablet setiap hari. Tablet pertama mengandung 5 unit
7. Seorang atlet diwajibkan makan dua jenis tablet setiap hari. Tablet pertama mengandung 5 unit

7. Seorang atlet diwajibkan makan dua jenis tablet setiap hari. Tablet pertama mengandung 5 unit vitamin A dan

3 unit vitamin B, sedangkan tablet kedua mengandung

10 unit vitamin A dan 1 unit vitamin B. Dalam satu

hari, atlet itu memerlukan 20 unit vitamin A dan 5 unit vitamin B. Harga tiap-tiap 1 tablet, Rp1.500,00 dan

Rp2.000,00.

Modelkan masalah di atas.

8. Dengan persediaan kain polos 20 meter dan kain bergaris 10 meter, seorang penjahit akan membuat 2 model pakaian jadi. Model I memerlukan 1 meter kain

polos dan 1,5 meter kain bergaris. Model II memerlukan

2 meter kain polos dan 0.5 meter kain bergaris. Bila

pakaian tersebut dijual, setiap model I memperoleh untung Rp15.000,00 dan model II memperoleh untung Rp10.000,00. (UAN 2004 No. 22) Nyatakan masalah di atas dalam model matematika

9. Sebuah toko bunga menjual 2 macam rangkaian bunga. Rangkaian I memerlukan 10 tangkai bunga mawar dan

15

tangkai bunga anyelir, Rangkaian II memerlukan

20

tankai bunga mawar dan 5 tangkai bunga anyelir.

Persediaan bunga mawar dan bunga anyelir masing- masing 200 tangkai dan 100 tangkai. Rangkaian I dijual seharga Rp200.000,00, dan Rangkaian II dijual seharga Rp100.000,00 per rangkaian. (UN 2006 No. 21) Modelkan masalah di atas dalam bentuk model matematika.

10. Perhatikan masalah yang dihadapi seorang penjaja buah-buahan berikuti ini. Pak Benni, seorang penjaja buah-buahan yang menggunakan gerobak menjual apel dan pisang. Harga pembelian apel Rp 18.000, - tiap kilogram dan pisang Rp8.000,00,- tiap kilogram. Beliau hanya memiliki

20
20
- tiap kilogram dan pisang Rp8.000,00, - tiap kilogram. Beliau hanya memiliki 20 Buku Guru Kelas
- tiap kilogram dan pisang Rp8.000,00, - tiap kilogram. Beliau hanya memiliki 20 Buku Guru Kelas

Buku Guru Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK

- tiap kilogram dan pisang Rp8.000,00, - tiap kilogram. Beliau hanya memiliki 20 Buku Guru Kelas
modal Rp2.000.000,00, sedangkan muatan gerobak tidak lebih dari 450 kilogram. Padahal keuntungan tiap kilogram apel
modal Rp2.000.000,00, sedangkan muatan gerobak tidak lebih dari 450 kilogram. Padahal keuntungan tiap kilogram apel
modal Rp2.000.000,00, sedangkan muatan gerobak tidak lebih dari 450 kilogram. Padahal keuntungan tiap kilogram apel