Anda di halaman 1dari 8

TUGAS

SOSIOLOGI POLITIK




Oleh
Ida Ayu Anom Sanurianita 1.11.2.9270
Ni Kadek Putri Punihati 1.11.2.9278
Ni Luh Nyoman Ayu Maharani 1.11.2.9292
Ni Wayan Luh Sukertiasih 1.11.2.9302


UNDIKNAS UNIVERSITY
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
JURUSAN AKUNTASI
2012

PENGARUH POLITIK
TERHADAP AKTIVITAS BISNIS DAN EKONOMI

Dalam berbisnis sangatlah penting mempertimbangkan risiko politik dan pengaruhnya
terhadap organisasi. Hal ini patut dipertimbangkan karena perubahan dalam suatu tindakan
maupun kebijakan politik di suatu negara dapat menimbulkan dampak besar pada sektor
keuangan dan perekonomian negara tersebut. Risiko politik umumnya berkaitan erat dengan
pemerintahan serta situasi politik dan keamanan di suatu negara.
Setiap tindakan dalam organisasi bisnis adalah politik, kecuali organisasi charity atau
sosial. Faktor-faktor tersebut menentukan kelancaran berlangsungnya suatu bisnis. Oleh karena
itu, jika situasi politik mendukung, maka bisnis secara umum akan berjalan dengan lancar. Dari
segi pasar saham, situasi politik yang kondusif akan membuat harga saham naik. Sebaliknya, jika
situasi politik tidak menentu, maka akan menimbulkan unsur ketidakpastian dalam bisnis.
Dalam konteks ini, kinerja sistem ekonomi-politik sudah berinteraksi satu sama lain,
yang menyebabkan setiap peristiwa ekonomi-politik tidak lagi dibatasi oleh batas-batas tertentu
Sebagai contoh, IMF, atau Bank Dunia, atau bahkan para investor asing mempertimbangkan
peristiwa politik nasional dan lebih merefleksikan kompromi-kompromi antara kekuatan politik
nasional dan kekuatan-kekuatan internasional.
Tiap pembentukan pola bisnis juga senantiasa berkait erat dengan politik. Budaya politik
merupakan serangkaian keyakinan atau sikap yang memberikan pengaruh terhadap kebijakan
dan administrasi publik di suatu negara, termasuk di dalamnya pola yang berkaitan dengan
kebijakan ekonomi atau perilaku bisnis.
Terdapat politik yang dirancang untuk menjauhkan campur tangan pemerintah dalam
bidang perekonomian/bisnis. Sistemnya disebut sistem liberal dan politiknya demokratis. Ada
politik yang bersifat intervensionis secara penuh dengan dukungan pemerintahan yang bersih.
Ada pula politik yang cenderung mengarahkan agar pemerintah terlibat/ ikut campur tangan
dalam bidang ekonomi bisnis.
Indonesia lebih mengacu pada pola terakhir, yakni pemerintah terlibat atau turut campur
tangan dalam bisnis. Hal ini dapat dilihat dalam hukum maupun kebijakan-kebijakan yang
dikeluarkan pemerintah untuk menunjang perekonomian dan bisnis.

Pengaruh Politik terhadap Ekonomi dan Bisnis di Indoenesia Era Orde Baru
Pada awal pemerintahan Orde Baru, pemerintah mencanangkan pembangunan ekonomi
dan industri. Pada waktu itu posisi pengusaha dalam negeri masih dalam keadaan yang tidak kuat
untuk berdiri sendiri.. Akibatnya, pemerintah (negara) menjadi dominan dalam perekonomian.
Pengusaha menggantungkan diri kepada pemerintah. Hal ini menimbulakan konsekuensi yaitu
pemerintah menjadi mesin pertumbuhan ekonomi atau dengan kata lain pemerintah menjadi
sumber penggerak investasi dan pengalokasian kekayaan nasional. Dalam hal ini pemerintah
tidak hanya menyediakan proyek, kontrak, konsesi pengeboran minyak dan eksploitasi hutan,
serta lisensi agen tunggal, melainkan juga kredit besar dan subsidi. Pemerintah juga menunjang
dengan kebijakan proteksi serta pemberian hak monopoli impor dan pasar.
Pada masa tersebut, pemerintah cenderung menghasilkan dua lapisan ekonomi-politik
utama, yaitu birokrat-politik yang melibatkan lingkup keluarganya dalam bisnis, serta pengusaha
yang dapat berkembang berkat dukungan khusus dari pemerintah (mulai berkembangnya KKN).
Kedua lapisan ini mendominasi perekonomian dan politik. Dalam perkembangan sistem
ekonomi tersebut, pemerintah sebagai sumber penggerak investasi dan pengalokasian kekayaan
nasional hanyalah bersifat jangka pendek. Kemampuan pemerintah menyediakan segalanya
dibatasi oleh gerak sistem ekonomi. Indonesia menjadi rawan akan krisis. Pola bisnis tersebut
memerlukan sebuah rezim politik yang mampu mengendalikan reaksi kaum buruh dan gerakan
demokratisasi. Untuk keperluan ini rakyat berhasil dijauhkan dari partisipasi politik.
Pembangunan ekonomi dijaga dengan kekuatan militer yang kuat sehingga terlihat stabil.
Pertumbuhan partai politik dan pengekpresian politik dilarang dalam upaya menciptakan
kestabilan untuk pertumbuhan ekonomi. Rakyat seakan dibungkam untuk menuntut hak-haknya
atas nama pembangunan ekonomi. Pada masa Orde baru, bentuk partisipasi rakyat diatur agar
hanya terlibat pada pemilihan umum anggota DPR dan DPRD. Hal ini menunjukkan betapa
kuatnya kaitan politik dan birokratik dalam pola bisnis. Pemerintah sudah sejak awal jadi mesin
pertumbuhan ekonomi, yang menyebabkan para birokrat-politik terlibat bisnis yang bersifat
jangka pendek. Pola ini tidak mendorong tumbuhnya kepercayaan dunia usaha untuk jangka
panjang..
Sistem politik Indonesia pada masa itu mempunyai kelemahan, salah satu diantaranya
adalah sedikitnya sumber-sumber yang dapat menjadi penekan dan penyeimbang atas kekuatan
pemerintah, di tingkat nasional atau daerah. Padahal, kekuatan penekan sangat diperlukan untuk
melakukan kontrol, maupun sumbangan-sumbangan gagasan dan pemikiran untuk membentuk
bangunan sosial politik yang lebih aspiratif.
Pengaruh kalangan non-pemerintah, termasuk dari pengusaha dan profesional sangat
terbatas dan acap diabaikan. Kecuali para pengusaha tertentu yang mempunyai koneksi langsung
dengan penguasa. Ketergantungan ekonomi swasta pada pemerintah menimbulkan hubungan
yang sangat tidak sehat di antara keduanya, yang jika dipandang dari sudut politik, bisnis, dan
masyarakat luas sangatlah merugikan. Konsekuensi dari hubungan yang tidak sehat tampak nyata
ketika Indonesia diterpa krisis ekonomi, sosial dan politik sekaligus, yang mengalami kesulitan
untuk diperbaiki.
Kalangan bisnis dan profesi swasta yang merupakan unsur krusial dalam pembentukan
kelas menengah, selama zaman Orde Baru tidak memiliki kesempatan untuk membentuk asosiasi
maupun organisasi yang mampu berfungsi sebagai sumber kritik, pengaruh, dan sumbangan ide
pada perencanaan politik, ekonomi dan sosial. Unsur-unsur baru dari kalangan profesional
maupun kalangan bisnis cenderung menghindarkan diri dari politik dan berkonsentrasi pada
bidangnya sendiri yang sempit.
Semua hal tersebut membuat sistem ekonomi Indonesia menjadi cukup rawan krisis,
terutama krisis fiskal dan krisis keuangan. Terjadinya krisis rupiah dan berbagai dampaknya
membuat pemerintah terpaksa harus mengeluarkan sejumlah kebijakan deregulasi di bidang
ekonomi. Secara politik, kebijakan ini memacu pertumbuhan sektor swasta, termasuk
swastanisasi BUMN. Hal ini menuntut pemerintah untuk melakukan pembenahan besar-
besaran. Pemerintah terpaksa menerima tawaran IMF untuk menyetujui Nota Kesepakatan
menuju reformasi ekonomi. Krisis ekonomi memang menimbulkan dampak politik yang lebih
kuat. pemerintah semakin didesak untuk melepaskan keterlibatannya dari bisnis dan untuk lebih
menjalankan fungsi sebagai perlengkapan politik supaya dapat bertugas menyehatkan sistem
ekonomi.
Sistem peraturan hukum yang kuat sangat dibutuhkan untuk menopang kinerja reformasi
ekonomi. Kalangan dunia usaha semakin menuntut kepastian hukum. Krisis rupiah yang semakin
parah sampai menggerogoti sistem ekonomi, telah memperlemah posisi birokrat-politik. Banyak
dari mereka yang mulai terbuka terhadap reformasi politik. Banyak telah menyatakan perlunya
reformasi. Hasil kemajuan ekonomi secara internal telah menghasilkan sebagian lapisan yang
menghendaki reformasi politik. Kalangan bisnis menghendaki tumbuhnya kepercayaan dunia
usaha untuk jangka panjang. Semua ini hanya dapat dicapai dengan program reformasi ekonomi
dan diperkuat dengan reformasi politik.

Pengaruh Politik terhadap Ekonomi dan Bisnis di Indonesia pada Era
Reformasi
Struktur dan pandangan rezim Orde Baru telah menjadikan kalangan bisnis dan
profesional merasa lebih mudah dan aman untuk mengikuti keadaan daripada mencoba
mendorongnya ke arah lain yang lebih sehat. Kecenderungan ini dengan sendirinya
memperluaskan korupsi, kolusi, dan penyalahgunaan kekuasaan pada zaman Orde Baru. Pada era
reformasi, gejala-gejala itu sulit dihilangkan karena telah mengakar di setiap lembaga negara,
maupun di kalangan bisnis dan profesional. Masalahnya bukan hanya korupsi yang sulit diatasi,
tetapi juga hilangnya orientasi terhadap kepentingan masyarakat luas dan lemahnya kemauan
untuk merombak sistem politik, termasuk lembaga-lembaga negara yang amat perlu diperbaiki,
struktur ekonomi, dan hubungan antara warga negara dan negara.
Di dalam negeri, perubahan di bidang politik dan pemerintahan yang diwarnai dengan
adanya perubahan signifikan dalam sistem politik (terjadi proses demokratisasi) membuka suatu
peluang baru dan juga ancaman baru bagi dunia usaha di Indonesia. Keputusan-keputusan politik
atau hukum perlu juga selalu dicermati. Perubahan-perubahan kepemimpinan seringkali
berakibat terjadinya perubahan dalam keputusan politik dan yang akhirnya berdampak secara
langsung terhadap kondisi bisnis. Sebagai contoh. Pada saat Orde baru, perdagangan Bahan
Pangan Pokok selalu dikendalikan oleh Pemerintah melalui BULOG, sehingga ada kondisi yang
stabil dalam perdagangan Bahan Pangan Pokok tersebut. Tetapi, setelah reformasi peran
BULOG diredefinisi sehingga tidak menjadi pemain sentral dan akhirnya seringkali berdampak
terhadap terjadinya fluktuasi harga dan kelangkaan barang yang disebabkan permainan spekulan,
sehingga yang terkena dampak/pengaruhnya adalah rakyat miskin yang semakin menderita untuk
mendapakan kebutuhan pangan mereka.
Di tahun 2007 yang lalu kondisi perpolitikan nasional relatif stabil, walaupun banyak
unjuk rasa diberbagai daerah terutama menyangkut kekisruhan hasil Pilkada dan di tingkat
nasional menyangkut kebijakan pemerintah tentang UU PA, UU PMA, UU Pornografi dan UU
Politik yang banyak menimbulkan kontroversi dari masyarakat. Dari kondisi politik yang
demikian ternyata pengaruh terhadap sektor ekonomi tidak begitu signifikan. Tercatat kondisi
pertumbuhan ekonomi di tahun 2007 merupakan kondisi terbaik sejak krisis ekonomi 1998.
Berbagai sektor ekonomi mengalami peningkatan, di sektor properti, nilai kredit properti yang
dirilis Bank Indonesia (BI) per Juni 2007 sebesar Rp130,93 Trilyun naik 7-8% dibandingkan
tahun sebelumnya. (1)
Di tahun 2008 ini perilaku ekonomi menjadi sering kali sulit diprediksi. Bahkan oleh
Pemerintah sekalipun yang memiliki ekonom-ekonom yang sangat pakar di bidangnya. Sebagai
contoh yang nyata adalah dalam penyusunan APBN 2008 prediksi harga minyak 80 US $ per
barel, tapi pada awal tahun perekonomian nasional dikejutkan dengan kenaikan harga minyak
dunia yang menembus batas sampai 100 US $ per barel bahkan melewati 110 US $ per barel
sampai akhir kuartal pertama 2008. Kenaikan ini tentunya berpengaruh terhadap asumsi APBN
tahun 2008 sehingga pemerintah mau tidak mau dihadapkan pada pilihan sulit antara tetap
mempertahankan subsidi BBM dengan harga yang ada atau menaikkan harga BBM untuk
mengurangi defisit APBN yang terlalu berat. Selain itu dari sektor perbankan, pemerintah telah
mengeluarkan kebijakan menurunkan BI rate menjadi 8% per Januari 2008. (2) Dengan
dikeluarkan kebijakan ini memberikan peluang bagi sektor properti untuk bisa berkembang.
Namun dari bidang politik kemungkinan-kemungkinan negatif bisa terjadi mengingat kondisi
tahun 2008 masih rawan karena semua partai politik akan bekerja keras untuk meraih dukungan
massa, gesekan-gesekan politik kemungkinan akan mudah terjadi. Tentunya kondisi serupa
dihadapi oleh para pebisnis, sulit sekali untuk secara akurat memprediksi kondisi ekonomi. Hal
ini antara lain juga dampak globalisasi yang menyebabkan kondisi ekonomi di suatu negara
dapat berpengaruh besar terhadap kondisi ekonomi negara lainnya. Bahkan ketika ramalan
tentang kondisi ekonomi akurat, masih belum jelas dampak ekonomi terhadap industri tertentu.
Sebagai contoh nyata, seperti yang telah diketahui bersama saat ini beberapa sektor industri
sedang digoncang krisis akibat pengaruh krisis global yang tengah melanda dunia. Beberapa
perusahaan telah berencana merumahkan bahkan memPHK karyawan-karyawannya.
Dalam sektor perbankan, kalangan perbankan mengkhawatirkan gejolak ekonomi global
akan menggerus kinerja perbankan di tengah situasi politik yang mulai menghangat menjelang
pemilihan umum 2009. Di sisi lain, Bank Indonesia meyakini fundamental industri perbankan
dalam negeri cukup kuat, sehingga bank sentral meminta sejumlah kalangan agar tetap
optimistis. Direktur Bank NISP Rudy Hamdani menyatakan pihaknya mulai 'mencium' gelagat
dampak dari gejolak perekonomian dunia terhadap perekonomian dalam negeri, disusul
peningkatan suhu politik menjelang 2009. Akan tetapi di sisi lain, di tengah indikator ekonomi
akabibat kenaikan harga bahan bakar minyak, yang berpengaruh besar dan cenderung negatif
terhadap perilaku bisnis, kalangan perbankan merasa optimis dapat meningkatkan pertumbuhan
kredit. Suhu politik Pemilu 2009 yang sudah mulai terasa, diharapkan dapat mendorong gairah
perekonomian. Dana-dana politik dan perputaran uang untuk tujuan politik dan kampanye
semakin lancar sehingga diharapakan terjadi pertumbuhan dana ekonomi pihak ketiga dan
pertumbuhan bisnis yang berkaitan dengan politik, sebagai contoh bisnis percetakan dan bisnis
sablon bendera dan sebagainya.
Proyeksi semua sektor ekonomi pada tahun 2008 selalu dikaitkan dengan variabel politik.
Hal ini disebabkan suhu politik di tahun 2008 diprediksi akan meningkat karena persiapan
Pemilu 2009. Faktor politik pasti berdampak pada perekonomian, terutama pada investasi.
Situasi politik menjelang pemilu dan Sidang Umum MPR, melahirkan iklim ketidakpastian bagi
investor, terutama investor asing. Adapun pengaruh politik menjelang Pemilihan Presiden 2009
diyakini akan memengaruhi uang beredar. Di satu sisi, aktivitas ekonomi akan menurun seiring
dengan keterlibatan pelaku ekonomi dalam pemilu.
Hubungan sektor bisnis dengan politik lebih mengacu pada konteks ekonomi yang
dipengaruhi oleh kebijakan politik, apabila kondisi politik tidak menentu atau mengalami
kekacauan (chaos) akan berdampak kepada perekonomian terutama menyangkut sektor industri;
permintaan dan penawaran tidak seimbang dan distribusi barang akan terganggu. Apabila ini
berlanjut maka akan terjadi inflasi tinggi yang ditandai dengan kenaikan harga akibat permintaan
yang menurun drastis atau bajhkan tidak adanya permintaan. Di sisi lain,pengaruh gejolak politik
pada kegiatan ekonomi, tidak dapat diukur dengan eksak dan laporan angka-angka. Para
pengamat hanya dapat menganalisa kualitas dampaknya.

Peluang mengatasai dampak negatif pengaruh politik terhadap bisnis
Dalam suasana sekarang yang penuh ketidakpastian politik dan ekonomi, ada semacam
peluang untuk mengatasi hubungan antara pemerintah dan bisnis melalui pembagian kekuasaan,
strategi pembangunan menurut sektor-sektor yang sebaiknya diurus para pengusaha swasta atau
negara, dan seterusnya. Selain itu, diperlukan juga semacam ideologi dan program tentang
peranan bisnis, harapannya, dan tanggung jawabnya pada masyarakat, tentang hak dan kewajiban
yang bersangkutan dengan penegakkan etika bisnis, tanggung jawab sosial perusahaan dan
sejenisnya.
Hal ini tentu saja bukan pekerjaan yang mudah. Berbagai masalah yang sedang melilit
negeri ini seperti stabilitas politik, kesulitan ekonomi, peninggalan masa lalu terhadap buruknya
praktik bisnis, serta ketegangan dalam hubungan antara pemerintah dan perusahaan swasta
sangat mempengaruhi proses tersebut. Memperbaiki pandangan umum terhadap dunia usaha
sangat penting sekaligus sangat sukar, dan menghilangkan kecurigaan rakyat terhadap kalangan
bisnis membutuhkan waktu. Tetapi semua harus dilakukan secara terencana dan terorganisir.
Sebuah harapan terwujudnya trias etika: etika pemerintahan, etika profesi, dan etika bisnis. ICW
mengambil posisi untuk bersama-sama rakyat membangun gerakan sosial memberantas korupsi
dan berupaya mengimbangi persekongkolan kekuatan birokrasi pemerintah dan bisnis. Dengan
demikian reformasi di bidang hukum, politik, ekonomi dan sosial untuk menciptakan tata kelola
pemerintahan yang demokratis dan berkeadilan sosial serta berekonomi baik dapat diwujudkan.
Pada akhirnya kondisi perekonomian akan bisa tumbuh apabila pemerintah tetap berperan
sebagai partner yang menguntungkan bagi berkembangnya perilaku bisnis yang dipengaruhi oleh
kondisi politik dalam negeri. Instrumen-intrumen investasi perlu diinovasi, birokrasi perijinan
dan sektor perbankan diharapkan mampu mendukung sektor bisnis dalam menghadapai pengaruh
situasi dan kondisi politik.