Anda di halaman 1dari 8

Ikatan Dokter Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Belum Diperiksa


Logo IDI
Ikatan Dokter Indonesia disingkat IDI adalah organisasi profesi kedokteran di Indonesia.
Sejarah organisasi kedokteran Indonesia
Organisasi kedokteran awalnya bermula dari perhimpunan yang bernama Vereniging van
lndische Artsen tahun 1911, dengan tokohnya adalah dr. J.A.Kayadu yang menjabat sebagai
ketua dari perkumpulan ini.
Selain itu, tercatat nama-nama tokoh seperti dr. Wahidin, dr, Soetomo dan dr Tjipto
Mangunkusumo, yang bergerak dalam lapangan sosial dan politik.
Pada tahun 1926 perkumpulan ini berubah nama menjadi Vereniging van lndonesische
Geneeskundige atau disingkat VIG.

Di masa dahulu dikenal 3 macam dokter Indonesia, ada dokter Jawa keluaran sekolah dokter
Jawa, ada Indische Arts keluaran Stovia dan NIAS serta ada pula dokter lulusan Faculteit
Medica Batvienis pada tahun 1927.
Dalam masa pendudukan Jepang (1943), VIG dibubarkan dan diganti menjadi Jawa Izi
Hooko Kai. Hampir bersamaan berkembang pula Persatuan Thabib Indonesia (Perthabin)
cabang Yogya yang dianggap sebagai kelanjutan VIG masa tersebut. Tidaklah mungkin
bahwa Perthabin dan PDI sekaligus merupakan wadah dokter di Indonesia, maka dicapai
mufakat antara Perthabin dan Dewan Pimpinan PDI untuk mendirikan suatu perhimpunan
dokter baru. Dr. Soeharto berpendapat bahwa perkumpulan dokter yang ada sejak 1911 telah
rusak pada zaman kependudukan Jepang.
Pada tahun 1945, dokter-dokter Indonesia belum mempunyai kesempatan untuk mendirikan
suatu wadah dokter di Indonesia yang berskala nasional.
Selanjutnya pada tahun 1948 didirikan Perkumpulan Dokter Indonesia (PDI), yang dimotori
kalangan dokter-dokter muda di bawah pimpinan dr. Darma Setiawan Notohadmojo


AIPKI Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia
Garis Besar Program Kerja AIPKI 2013-
2015

Pendahuluan
The best preparation for tomorow is todays work superbly well
Sir William Osler

Pendidikan kedokteran merupakan mata rantai esensial dari Sistem Kesehatan Indonesia
karena pendidikan kedokteran merupakan investasi bagi calon dokter sebagai ujung tombak
pelaku sistem kesehatan. WHO dalam building block thinking of health system serta Komisi
Lancet menyebutkan bahwa sistem kesehatan masa depan harus dibangun dengan pendekatan
partnership karena nature dari sistem kesehatan yang interdependen, dan pendidikan
kedokteran diharapkan menjadi inspirator dari upaya mewujudkan kolaborasi yang harmonis
ini. AIPKI sebagai organisasi nirlaba yang menghimpun semua Institusi pendidikan
kedokteran di Indonesia merasa terpanggil untuk ikut serta menjadi motor penggerak upaya
mewujudkan system thinking dalam penyelesaian dan perbaikan masalah sistem kesehatan di
Indonesia sesuai dengan ranah dan tanggung jawabnya. Perwujudan upaya tersebut perlu
dituangkan dalam suatu kerangka kerja yang jelas, visioner dan melibatkan semua elan vital
yang ada dalam institusi pendidikan kedokteran dengan mengutamakan prinsip partisipasi
segenap anggota AIPKI di 6 Wilayahnya. Oleh karena itulah maka Garis Besar Program
Kerja (GBPK) AIPKI 2013-2015 ini disusun dan dipersembahkan untuk menata gerak untuk
mewujudkan visi AIPKI melakukan transformasi pendidikan kedotkeran demi peningkatan
kualitas sistem Kesehatan Indonesia.







Kerangka Konseptual Pengembangan GBPK AIPKI 2013
-2015

Gambar 1. Skema Kerangka Konseptual Penyusunan GBPK AIPKI 2013 - 2015

Visi Kepengurusan
Sesuai dengan amanah Muktamar AIPKI di Manado, bahwa Visi Kepengurusan AIPKI 2013-
2015 adalah menjadikan pendidikan kedokteran Indonesia melakukan transformasi
pendidikan kedokteran untuk memperkuat dan meningkatkan kualitas sistem kesehatan di
Indonesia (Health System Approach through Medical education Empowerment/ Health-
SAME)

Prinsip Dasar
Program Kerja AIPKI 2013-2015 dilaksanakan berdasarkan Visi sentral Muktamar AIPKI
dengan prinsip dasar untuk melakukan penguatan peran serta seluruh anggotamelalui
pemberdayaan wilayah AIPKI

Outline Program Kerja 2013 -2015
Sesuai dengan prinsip dasar penyusunan program maka, program kerja disusun sebagai tema
yang akan menjadi nama sekaligus fokus kerja kelompok kerja dibawah koordinasi Ketua
AIPKI Wilayah sebagai berikut:

1. Program Kerja Dokter Layanan Primer + Internship Kelompok Kerja Wilayah I
Isu Sentral:
- Menyusun aspirasi anggota untuk perumusan pertauran perundangan turunan UU
no 20 tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran dan sinkronisasi dengan
peraturan perundangan yang telah ada
- Melakukan komunikasi dan advokasi kepada pemangku kepentingan terkait
dengan DLP dan implementasi UU BPJS & SJSN
- Evaluasi dan peningkatan kualitas penyelenggaraan serta manajemen Internship
1. Program Kerja Rumah Sakit Pendidikan Kelompok Kerja Wilayah II
Isu Sentral :
- Penetapan dan Akreditasi Rumah Sakit Pendidikan dan distribusi RSP untuk FK
secara berkeadilan
- PErbaikan berkesinambungan Standar Akreditasi RSP
- Pemenuhan Pool of assessor dan desiminasi standar serta peningkatan kualitas
penjaminan mutu di RSP
1. Program Kelompok Kerja Uji Kompetensi Kelompok Kerja Wilayah III
Isu Sentral :
- Penyusunan pedoman pelaksanaan Exit Exam
- Penyusunan pedoman penanganan retaker
- Menyusun Stretegi penyelesaian masa transisi UKDI Exit Exam
1. Program Kelompok Kerja KKNI Kelompok Kerja Wilayah IV
Isu Sentral :
- Perbaikan penyusunan konten dan levelling KKNI untuk rumpun/bidang
kedokteran
- Merancang konsep career development dalam rumpun/bidang kedokteran
1. Program Kelompok Kerja PPDS Kelompok Kerja Wilayah V
Isi Sentral :
- Follow Up dan advokasi Beasiswa PPDS DIkti untuk pemenuhan kebutuhan
pendidik klinis di FK
- Secara aktif berpartisipasi dalam penyusunan perancangan peraturan turunan UU
Dikdok
- Komunikasi lintas pemangku kepentingan terkait dengan akreditasi PPDS,
penyusunan turunan UU Dikdok, termasuk penyusunan Standar
Akreditasi/Penjaminan Mutu Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis
- Implementasi KBK dalam PPDS
1. Program Kelompok Kerja Akreditasi + PDPT Kelompok Kerja Wilayah VI
Isu Sentral :
- Membentuk Task Force Penyusunan Draft Standar Nasional Pendidikan Kedokteran
Indonesia sebagaimana diamanahkan UU No 20 Tahun 2013
- Menjalin Komunikasi lintas pemangku kepentingan terkait dengan penyusunan
Draft SNPK diantaranya dengan DIKTI, KKI, PB IDI, Kolegium Profesi dsb.
- Sosialisasi terus menerus tentang PDPT dan peningkatan kemanfaatan PDPT

Dalam melaksanakan perannya untuk melaksanakan program kerja, Pengurus AIPKI Wilayah
dapat membentuk sekretariat/manajer pelaksana program untuk mengkoordinasikan
pelaksanaan program AIPKI sebagai misi organisasi dan pelaksanaan program Wilayah.
Selain Program kerja tersebut diatas, terdapat pula beberapa program yang akan dijalankan
sebagai kontinuitas program kerja AIPKI periode sebelumnya langsung dibawah koordinasi
Pengurus Pusat sebagai berikut:
Penyusunan PP & Permen turunan UU 20/2013
-Termasuk di dalamnya perhitungan unit cost dan perhitungan SKS pendidikan
kedokteran, Pendidikan Kedokteran bagi WNA yang telah digulirkan pada
kepengurusan periode sebelumnya
Berkala Pendidikan Kedokteran dan web site: Membangun kapasitas pengelolaan Berkala di
institusi anggota dan meningkatkan visibilitas Web site AIPKI di tingkat nasional dan
Internasional.
ISLAND
Medical ethic education Academic & professional integrity
Tata kelola & kelembagaan : Penguatan kelengkapan Badan Hukum, Regulasi Pengelolaan
Dana AIPKI sebagai BAdan Hukum
Struktur Organisasi AIPKI 2013-2015
Untuk menjalankan program kerja, dibutuhkan struktur organisasi yang sesuai dengan
kebutuhan pelaksanaan program, sehingga struktur organisasi AIPKI 2013-2015 disusun
sesuai dengan gambar 2 sebagai berikut:

Gambar 2 Struktur Organisasi AIPKI 2013 2015
Ket : NS=Nara Sumber, PK=Pemangku Kepentingan

Susunan Pengurus AIPKI 2013-2015 telah ditetapkan berdasarkan SK Ketua Umum AIPKI
No:136/AIPKI/SK/X/2013, sebagai berikut:
Ketua : Prof. Dr. med. Tri Hanggono Achmad, dr.
Wakil Ketua : Dr. Masrul, dr. SpGK. MSc.
Sekjend : Riyani Wikaningrum, dr. MSc.
Wakil Sekjend : Rachmad Sarwo Bekti, dr., M.MedEd
Bendahara : Felicia Kurniawan, dr. Mkes.
Wakil Bend. : Dewi Masyithah Darlan, dr. DAPE,MPH
Ketua Wilayah I : Dr. M. Zulkarnain, dr. MMedSc, PKK.
Ketua Wilayah II : Prof. Dr. Bambang Sutrisna, dr. MHSc
Ketua Wilayah III : Muharso, dr. SKM
Ketua Wilayah IV : Endang Ambarwati, dr. SpKFR(K)
Ketua Wilayah V : Prof. Dr. Agung Pranoto, dr. SpPD-KEMD.FINASIM, FACE
Ketua Wilayah VI : Prof. Irawan Yusuf, dr. PhD













Visi Misi dan Strategi KKI (Konsil
Kedokteran Indonesia)
Deskipsi
VISI
Terwujudnya dokter dan dokter gigi profesional yang melindungi pasien

MISI
Meningkatkan kualitas hidup manusia melalui dokter dan dokter gigi yang profesional

TATA NILAI
Konsil Kedokteran Indonesia menjunjung tinggi nilai integritas,profesionalisme kemitraan dan respek
pada kemanusiaan

STRATEGI UTAMA 1
Menerapkan sistem registrasi & monitoring dokter dan dokter gigi secara online diseluruh Indonesia.
Sasaran :
- Setiap dokter dan dokter gigi yang melaksanakan praktik kedokteran telah teregistrasi dan terjamin
kompetensinya.
- Sistim monitoring dokter gigi berfungsi secara aktif dan online diseluruh indonesia.

STRATEGI UTAMA 2
Menegakkan profesionalisme dokter dan dokter gigi dalam praktik kedokteran.
Sasaran :
- Setiap dokter dan dokter gigi menerapkan profesionalisme dalam praktik kedokteran.
- Setiap pasien memperoleh jaminan praktik kedokteran yang aman.

STRATEGI UTAMA 3
Memastikan standar nasional pendidikan profesi dokter dan dokter gigi.
Sasaran :
- Setiap institusi pendidikan dokter dan dokter gigi telah menerapkan standar nasional pendidikan.
- Setiap dokter dan dokter gigi yang melaksanakan praktik kedokteran mengikuti Pendidikan dan
Pelatihan Berkelanjutan(Continuing Professional Development).
- Setiap perkembangan cabang ilmu kedokteran dan kedokteran gigi di Indonesia memenuhi rambu
dan aturan yang jelas.

STRATEGI UTAMA 4
Meningkatkan kemitraan dengan organisasi profesi, instansi pemerintah dan non pemerintah untuk
menerapkan praktik kedokteran yang melindungi masyarakat.
Sasaran :
- Seluruh masyarakat menyadari hak dan kewajibannya, memperoleh perlindungan hukum dalam
praktik kedokteran.
- Setiap dokter dan dokter gigi memperoleh kepastian hukum dalam menjalankan praktik
kedokteran. - Setiap organisasi profesi, instansi pemerintah dan non pemerintah menjalankan
perannya dalam melaksanakan UU Praktik Kedokteran.

Penulis : Admin | File :