Anda di halaman 1dari 33

1

BAB I
PENDAHULUAN


Dalam keadaan kesehatan mental, seseorang memiliki perasaan diri (sense
of self) yang utuh sebagai manusia dengan kepribadian dasar yang tunggal.
Disfungsi utama pada gangguan disosiatif adalah kehilangan keutuhan keadaan
kesadaran tersebut. Disosiasi timbul sebagai suatu pertahanan terhadap trauma.
Pertahanan diososiatif memiliki fungsi ganda untuk menolong korban melepaskan
dirinya sendiri dari trauma pada saat hal tersebut terjadi sampil juga menunda
meyelesaikannya yang menempatkan trauma dalam pandangan dengan sikap
kehidupan mereka (1).
Disosiasi adalah terpecahnya aktifitas mental spesifik dari sisa kesadaran
normal, seperti terpecahnya pikiran atau perasaan dari perilaku tanpa menyadari
bahwa kita telah melakukan hal itu. Secara umum gangguan disosiatif
(dissociative disorders) bisa didefinisikan sebagai adanya kehilangan (sebagian
atau seluruh) dari integrasi normal (di bawah kendali sadar) yang meliputi ingatan
masa lalu, kesadaran identitas dan peng-inderaan segera (awareness of identity
and immediate sensations), serta kontrol terhadap gerak tubuh. Dissociative
disorder ini adalah sebuah tipe gangguan psikologis yang menganggu fungsi
identitas diri, memori, atau kesadaran, yang kemudian membentuk sebuah
kepribadian yang utuh. Orang yang mengalami gangguan disosiatif tidak
mengenal dirinya secara eksistensial atau filosofis, ia hanya tahu, siapa namanya,
dimana ia tinggal apa yang ia lakukan sehari-hari, ia juga ingat peristiwa-peristiwa
penting dalam hidupnya, tapi ia tidak mampu menceritakan secara detail (1,2).
2
Gangguan ini semula diklasifikasikan dalam berbagai jenis hysteria
konversi, akan tetapi kini tampaknya sebaiknya untuk sedapat mungkin
menghidari istilah histeria, berhubung banyak dan bervariasinya pengertian yang
berkaitan dengannya. Gangguan disosiatif yang dikemukakan disini diduga
merupakan hal yang bersifat psikogenik yang berkaitan dengan peristiwa
traumatik, problem yang tidak terselesaikan, dan tidak dapat ditolerir, atau
gangguan dalam pergaulan (1).
Gangguan disosiatif merupakan hasil penggunaan mekanisme pertahanan
disosiatif dimana alam pikiran atau alam perbuatan individu mengalami spliting.
Gambaran utamanya adanya perubahan yang mendadak dan sementara dari
integratif normal kesadaran, identitas, atau perilaku motorik. Ia mempertahankan
diri dari konflik intra psikisnya yang dengan jelas mengorbankan egonya.
Gangguan disosiatif terdiri dari amnesia disosiatif, fuga disosiatif, gangguan
identitas disosiatif, gangguan depersonalisasi, dan gangguan disosiatif tidak khas
(2).
Salah satu bentuk dari dissociative disorder adalah fugue dissociative
disorder atau gangguan fuga disosiatif. Fuga disosiatif adalah suatu gangguan
yang membuat si penderita melakukan perjalanan di lokasi baru, bukan dimana ia
tinggal sebelumnya. Melakukan perjalanan di lokasi baru dengan menggunakan
identitas baru, nama baru, dapat melakukan bisnis baru , berinteraksi dengan
orang-orang bahkan tidak jarang seseorang yang menderita fuga ini menjadi orang
yang sukses di lingkungan baru, dengan melupakan atau tidak dapat mengingat
kembali informasi yang sudah ia alami sebelumnya. Seseorang pada tahap fuga
3
ini dapat bertahan di lingkungan yang baru dalam beberapa hari, beberapa minggu
dan bulan (2,3).
Gangguan ini relatif jarang terjadi dan diyakini hanya mempengaruhi 2 dari
1000 orang dalam populasi umum. Meskipun begitu gangguan ini cukup
berbahaya jika tidak ditangani dengan baik (1,3).
Bermula dari Abad ke 20 di Los Angeles, seorang Hillside Strangler
( Tukang Cekik dari daerah Hillside ) yang telah meneror kota, membunuh, dan
membuang sejumlah wanita pekerja seks komersial di pegunungan yang mengitari
kota Hillside, bernama Kenneth Bianchi. Saat itu Kenneth Bianchi yang telah
menjadi tersangka sedang diperiksa oleh psikiater polisi dengan menggunakan
pengaruh hipnosis. Saat seorang polisi itu memberikan pertanyaan kepada
Kenneth, dirinya menegaskan bahwa sebuah kepribadian yang tersembunyi dalam
dirinya yang bernama Steve, yang telah melakukan serangkaian pembunuhan
tersebut. Kenneth juga menegaskan, Ken tidak mengetahui apapun mengenai
pembunuhan yang dilakukan oleh Steve tersebut. Hal yang dialami Kenneth
inilah yang disebut dengan menderita gangguan kepribadian ganda (Dissociative
Disorder) (3).







4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Gangguan Fuga Disosiatif
Fuga berasal dari bahasa Latin fugure, yang berarti melarikan diri.
Kata fugitive (pelarian atau buronan) memiliki asal kata yang sama. Gangguan
fuga disosiatif merupakan salah satu jenis gangguan disosiatif dengan fitur
pergi jauh dari rumah secara tiba-tiba dan tak terduga, yang disertai dengan
ketidakmampuan mengingat masa lalunya, kadang-kadang dengan identitas
baru. Fuga pada dasarnya adalah juga amnesia, namun memori yang hilang
jauh lebih luas daripada amnesia disosiatif (4).
Dalam fuga disosiatif, yang sebelumnya disebut fuga psikogenik,
penderita melupakan bukan hanya sebagian, melainkan seluruh ingatan dan
situasi (misalnya nama, keluarga, pekerjaannya, identitas, dsb), serta
memperoleh perlengkapan lain untuk menghindari situasi yang tidak
menyenangkan itu, yaitu mengembara. Keberhasilan dan keinginannya itu
terjamin apabila ia melarikan diri dan meninggalkan rumahnya, kampung
halamannya, kota, atau tanah airnya. Dalam hal ini terjadi disosiasi dengan
lingkungannya. Ia cenderung lari dari lingkunyannya baik secara fisik maupun
secara psikologis (4,5).

5

Selain perilaku yang aneh di atas orang dengan gangguan fuga dapat
terkesan normal dan tidak menunjukkan tanda-tanda lain dari gangguan
mental. Orang tersebut mungkin tidak memikirkan tentang masa lalu atau
mungkin melaporkan masa lalu yang penuh dengan memori yang salah tanpa
menyadari bahwa memori itu salah. Pola yang jarang terjadi adalah apabila
tahap fuga berlangsung beberapa bulan atau tahun serta mencakup perjalanan
ke tempat lain yang jauh dan asumsi akan identitas yang baru. Individu-
individu ini dapat mengasumsikan sebuah identitas yang lebih spontan dan
lebih mudah bersosialisasi dari pada dirinya yang dulu, yang biasanya
pendiam dan biasa-biasa saja. Mereka dapat membangun keluarga baru dan
bisnis yang sukses. Meskipun keadaan ini terdengar agak aneh, tahap fuga
tidak dianggap sebagai psikotik karena orang yang memiliki ganguan ini dapat
berpikir dan berperilaku cukup normal di kehidupan barunya. Hingga di suatu
hari, secara tiba-tiba, kesadaran akan identitas masa lalunya muncul kembali,
dan mereka dibanjiri dengan memori lama. Pada saat itu biasanya mereka
6
tidak mengingat kejadan yang muncul selama tahap fuga. Identitas barunya,
kehidupan barunya, termasuk semua keterlibatan dari tanggung jawab hilang
dari ingatan (4).

B. Sejarah Gangguan Fuga Disosiatif
Konsep gangguan konversi dan disosiasi masih dalam proses evaluasi
ulang, belum kokoh dan dulu termasuk ke dalam sejarah dari histeria. Seperti
fenomena-fenomena sebelumnya yang dikenal sebagai histeria. Histeria yang
merupakan gangguan neurosis yang dikarakteristikkan dengan ketidakstabilan
emosi, represi, disosiasi dan beberapa gejala fisik. Ada dua tipe histeria yaitu
histeria konversi yang sekarang dikenal sebagai gangguan konversi dan
histeria disosiatif atau dikenal sebagai gangguan disosiatif (4, 5, 6).
Saat ini, gangguan konversi dan disosiasi muncul dalam kelompok
kejadian yang dapat dikarakteristikkan sebagai kondisi dengan dua komponen
yaitu tidak ada bukti mengenai adanya gangguan organik dan gejala-gejala
yang terhimpun dari pemikiran pasien terhadap bagian tubuh dan disfungsi
pikiran (4, 5).
Pada awal abad ke-18, diagnosis histeria telah jelas berupa sejumlah ciri-
ciri depresi dan kecemasan yang dapat dibedakan dari diagnosis gangguan
konversi dan disosiatif. Pada abad ke-19, dikenal istilah gangguan magnetis
diantaranya somnambulisme nokturnal dan pada fase jaga, yaitu automatisme
ambulatoris atau fuga. Pada kondisi ini, seseorang melakukan aktivitas yang
kompleks dan terkoordinasi tetapi terputus dari kontinuitas kesadaran.
7
Charcot membagi kasus ini berdasarkan etiologis yaitu epileptik, traumatik
dan histerikal (5).
Di Amerika Serikat, James menyebutkan adanya kasus fuga yang disertai
perubahan identitas pada seorang pastur keliling, Ansel Bourne. Bourne
menghilang dari rumahnya di Providence, Rhode Island, setelah mengambil
uang dari rekening banknya untuk membayar hutang. Dua bulan berikutnya,
dia terbangun menemukan dirinya di daerah Norristown, Pennsylvania
dimana dia hidup dengan nama A.J Brown dan bekerja sebagai penjaga toko.
Bourne, tidak memiliki memori ketika dia menghilang dari rumah dan ketika
kembali ke identitas awalnya (5).
Janet, mempelajari Fuga sebagai studinya dalam studi klasik dari disosiasi
dan histeria. Janet berhipotesis bahwa fuga berdasarkan disosiasi dari
kompleks fungsi mental yang terjadi pada amnesia dan umumnya terorganisir
diseputar emosi yang sangat kuat atau keadaan yang menghubungkan banyak
asosiasi disertai keinginan untuk lari (5).
Fuga disosiatif juga ditemukan oleh para psikiater pada masa perang dunia
I & II. Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam studi kasus oleh David
Rappaport, Charles Fischer, Elisabeth Geleerd, Merton Gill, dan Margaret
Brenman yaitu fuga disosiatif pada warga sipil dan militer (5).

C. Epidemiologi Gangguan Fuga Disosiatif
Gangguan Disosiatif bukanlah penyakit yang umum ditemukan dalam
masyarakat. Tetapi juga Gangguan Disosiatif ini tidak jarang ada dalam kasus-
kasus psikiatri. Prevelensinya hanya 1 berbanding 10.000 kasus dalam
8
populasi.Dalam beberapa referensi bisa terlihat bahwa ada peningkatan yang
tajam dalam kasus-kasus gangguan disosiatif yang dilaporkan, dan menambah
kesadaran para ahli dalam menegakkan diagnosis, menyediakan kriteria yang
spesifik, dan menghindari kesalahan diagnosis antara DID, schizophrenia atau
gangguan personal (6, 7).
Orang-orang yang umumnya mengalami gangguan disosiatif ini sangat
mudah dihipnotis dan sangat sensitive terhadap sugesti dan lingkungan
budayanya,namun tak cukup banyak referensi yang membetulkan pernyataan
tersebut (6).
Dalam beberapa studi, mayoritas dari kasus gangguan disosiatif ini
mengenai wanita 90% atau lebih, Gangguan Disosiasi bisa terkena oleh orang
di belahan dunia manapun, walaupun struktur dari gejalanya bervariasi (6, 7).
Fuga, seperti amnesia, relatif jarang dan diyakini mempengaruhi sekitar 2
orang di antara 1.000 populasi umum. Fuga disosiatif biasanya disebabkan
oleh peristiwa traumatik atau penuh tekanan sehingga insidennya mungkin
meningkat atau paling sering terjadi selama perang, setelah bencana alam, dan
krisis pribadi dengan konflik internal yang berat (6, 7).
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada pasien rawat inap psikiatri
di Dayton, Ohio Wright Patterson Air Force Medical Center pada tahun 1973,
fuga disosiatif ditemukan di hanya 0,3% dari prajurit dan keluarga perempuan
yang ditinggalkan. Pada sebuah penelitian lebih baru yang dilakukan di
Winnipeg, Kanada, tidak ditemukan kasus fuga disosiatif pada 502 anggota
dari populasi umum.

Fuga disosiatif banyak dialami oleh dewasa terutama
9
pada tahun kedua dekade ke empat dan distribusinya hampir sama antara laki-
laki dan perempuan (6, 7).

D. Etiologi Gangguan Fuga Disosiatif
Penyebab gangguan didasarkan secara psikologis seperti keinginan untuk
menarik diri dari pengalaman yang menyakitkan secara emosional. Pasien
dengan gangguan mood dan gangguan kepribadian tertentu seperti gangguan
kepribadian ambang, histrionik dan skizoid adalah prediposisi dengan
perkembangan fuga disosiatif (8).
Selain itu, ada juga faktor psikososial seperti (8):
1. Stresor perkawinan
2. Finansial
3. Pekerjaan
4. Peperangan

Ciri prediposisi lainnya adalah depresi, usaha bunuh diri, gangguan
organik (khususnya epilepsi) dan riwayat penyalahgunaan zat. Walaupun
penyalahgunaan alkohol berat dapat menjadi factor perdisposisi timbulnya
10
fuga disosiatif, penyebab gangguan diperkirakan atas dasar penyebab
psikologis. Factor pemotivasi inti tampaknya adalah keinginan untuk menarik
diri dari pengalaman yang menyakitkan secara emosional (8).
Secara umum ada 4 faktor yang menimbulkan gangguan fuga ini antara
lain (8):
1. Peristiwa kehidupan traumatik, seperti penyiksaan fisik dan seksual pada
masa anak, yang tersering adalah incest.

2. Kecenderungan bagi gangguan untuk berkembang didasarkan secara
biologis atau psikologis. Kemampuan dihipnosis merupakan contoh faktor
risiko perkembangan gangguan identitas diri.
3. Faktor lingkungan formulatif, kemungkinan melibatkan faktor-faktor
tertentu seperti model peran dan adanya mekanisme lain yang digunakan
untuk menghadapi stres.
11
4. Tidak adanya dukungan eksternal, misalnya tidak memiliki tempat untuk
mencurahkan hati.

E. Patofisiologi Gangguan Fuga Disosiatif
a. Teori Neurokognitif
Memori episodik adalah bentuk memori eksplisit yang melibatkan
penyimpanan peristiwa yang telah terakses pada alam sadar. Memori
episodik biasanya diceritakan dalam kata-kata, sebagai narasi. Jika cukup
signifikan, memori episodik menjadi bagian dari sejarah diri. Lobus
medial temporal, khususnya hippocampus, penting untuk pengkodean,
penyimpanan, dan pengambilan kembali memori episodik. Disosiasi dapat
mengganggu pengkodean, penyimpanan, atau pengambilan dalam bentuk
cerita kenangan episodik traumatis (8).
Lokus coeruleus merupakan sumber penting dari serat nonandregenik
yang menuju ke korteks serebral, hipotalamus, hippocampus, dan
amygdala. Amygdala dan korteks orbitofrontal memilih stimuli tertentu
yang telah sangat dikuatkan sebelumnya. Amygdala melanjutkan ke
hippocampus (via korteks entorhinal), lalu ke korteks asosiasi sensori,
serta ke hipotalamus dan stem otak, mengkoordinasi perlengkapan alarm
pusat yang meninjau input sensori untuk rangsangan bahwa hewan telah
belajar untuk takut, dan menjadi waspada ketika beberapa stimuli
ditemukan (8).
Bukti menunjukkan bahwa serotonin bekerja post-sinaptikal di
amygdala untuk merangsang sintesis dari enkephalin, yang memodulasi
12
atau mengurangi efek yang berkaitan dengan pengalaman menakutkan dan
mungkin mengganggu dengan memadatkan atau menggabungkan ingatan
traumatis. Jika sistem alarm amygdaloid terbebani secara berat dan rusak,
hewan akan menjadi tidak mampu mengolah ketakutan yang masih
mentah. Dengan demikian, kapanpun ingatan pada trauma dirasa
dilingkungan, atau kapanpun pecahan dari ingatan traumatis episodik
mengancam untuk memunculkan kewaspadaan, alarm akan berbunyi dan
menunjukkan keadaan gagal aman, jalan terakhir untuk bertahan adalah
dengan disosiatif (8).
Ingatan traumatis di simpan dalam dua sistem yaitu sistem ingatan
hippocampal episodik ekspisit dan sistem peringatan amygdaloid implisit.
Sistem amygdaloid dapat mengganggu penyimpanan dan pengambilan
ulang informasi melalui sistem hippocampal (8).
Penelitian pada binatang telah menunjukkan bahwa level tinggi
sirkulasi kortikosteroid pada stres juvenile berhubungan dengan penurunan
populasi reseptor glukokortikoid di hippocampus. Selanjutnya, penelitian
neuroimaging dari para veteran dengan gangguan stres pasca
trauma yang kronik telah menunjukkan penyusutan nyata pada volume
hippocampal (8).
b. Pandangan Psikodinamika Fuga Disosiatif
Fuga disosisatif timbul sebagai bentuk mekanisme pertahanan terhadap
trauma psikologik. Mekanisme defensi merupakan cara penanggulangan
masalah yang digunakan ego untuk menyingkirkan kecemasan yang
13
terjadi. Secara umum, hal yang akan dilakukan individu bila menghadapi
masalah antara lain mengadakan perubahan terhadap situasi yang dihadapi,
menghindar dan menjauhkan diri dari situasi yang dihadapi, dan berusaha
belajar untuk hidup dengan ketidaknyamanan dan ketidakpuasan (8).
Gangguan disosiatif melibatkan penggunaan mekanisme pertahanan
represi yang tergolong patologik. Represi secara besar-besaran yang
menghasilkan terpisahnya impuls yang tidak dapat diterima dan ingatan
yang menyakitkan dari ingatan seseorang.

Pertahanan ini juga berfungsi
menunda penyelesaian masalah dan menempatkan trauma pada pandangan
di sisa hidup mereka (8, 9).
Dalam amnesia dan fuga disosiatif, ego melindungi dirinya sendiri
dari kecemasan dengan mengeluarkan ingatan yang menggangu atau
dengan mendisosiasi impuls menakutkan yang bersifat agresif. Sebagian
besar pada keadaan disosiatif, gambaran kontradiksi mengenai diri yang
bertentangan satu sama lain, tersimpan di dalam kompartemen jiwa yang
terpisah (9).

Berbagai stressor dan faktor pribadi menjadi predisposisi seseorang
untuk mengalami fuga disosiatif. Fuga disosiatif memiliki faktor motivasi
yang penting berupa keinginan menarik diri dari pengalaman yang
menyakitkan secara emosi. Pasien dengan gangguan mood dan
kepribadian tertentu (gangguan kepribadian ambang, histrionik, dan
skizoid) juga memiliki predisposisi mengalami fuga disosiatif (7, 9).
14
Faktor-faktor lain yang juga merupakan predisposisi seseorang
menderita fuga disosiatif antara lain faktor psikososial meliputi stresor
perkawinan, keuangan, pekerjaan dan stresor akibat perang.
Penyalahgunaan alkohol berat juga dapat menjadi predisposisi seseorang
untuk menderita fuga disosiatif, penyebab gangguan ini pada dasarnya
adalah masalah psikologis. Adapun ciri predisposisi terkait fuga disosiatif
lainnya, seperti depresi, upaya bunuh diri, gangguan organik (terutama
epilepsi), riwayat trauma kepala, dan riwayat penyalahgunaan zat (9).
Fuga biasanya singkat, beberapa jam sampai beberapa hari. Umumnya
pemulihan cepat dan jarang rekurens. Jarang fuga yang berlangsung selama
berbulan-bulan dan melibatkan berpergian yang sangat jauh beribu-ribul mil.
Biasanya, pemulihan adalah spontan dan cepat (8, 9).

F. Gejala Klinis
Fuga disosiatif memiliki ciri-ciri (9):
1. Amnesia
Selama periode tersebut meraka memiliki amnesia yang lengkap terhadap
kehidupan dan hubungan masa lalunya. Jika mereka tiba-tiba kembali ke
diri sebelumnya mereka dapat mengingat onset fuga sebelumnya, tetapi
mereka tetap amnestik selam periode fuga tersebut
2. Melakukan perjalanan tertentu melampaui hal yang umum dilakukannya
sehari-hari. Pasien berkelana secara bertujuan, biasanya jauh dari rumah
dan seringkali beberapa hari setiap kalinya.
15
3. Kemampuan mengurus diri yang dasar tetap ada, termasuk melakukan
interaksi sosial sederhana dengan orang yang belum dikenal
4. Tidak tampak berkelakuan aneh bagi orang lain, mereka juga tidak
memberikan bukti-bukti yang menyatakan adanya ingatan spesifik tentang
peristiwa traumatik.
Ada contoh kasus tentang seseorang dengan gangguan fuga disosiatif.
Pasien seorang laki-laki, berusia 42 tahun yang dibawa ke IGD oleh polisi. Ia
terlibat dalam perdebatan dan perkelahian di restoran di mana ia bekerja. Saat
polisi tiba dan mulai menanyai pasien, ia memberikan namanya sebagai Burt
Tate tetapi tidak memiliki pengenal. Ia telah pindah ke kota tersebut beberapa
minggu sebelumnya dan mulai bekerja sebagai juru masak di restoran tersebut.
Ia tidak dapat mengingat di mana ia bekerja atau tinggal sebelum ia datang ke
kota tersebut. Tidak terdpat tuntutan terhadap dirinya, tetapi polisi
memaksanya datang ke IGD untuk diperiksa (10).
Saat ditanya di ruangan IGD, pasien mengetahui dimana kota ia berada
dan tanggal saat itu. Ia menyatakan bahwa agak aneh karena ia tidak dapat
mengingat perincian kehidupan masa lalunya, tetapi ia tidak tampak ke
takutan akan al tersebut. Ia tidak menunjukan adanya bukti-bukti
penyalahgunaan alkohol atau zat lain, dan pada pemeriksaan fisik tidak
ditemukan trauma kepala atau adanya kelainan fisik lainnya. Ia diamati
sepanjang malam (10).
Saat polisi mencari penjelasan tentang dirinya, mereka menemukan bahwa
ia memenuhi gamnaran tentang seseorang yang hiang, Gene Saunders, yang
16
menghilang satu bulan sebelumnya dari sebuah kota yang berjarak 200 mil.
Kunjungan Mrs. Saunders menegakan identitas pasien sebagai Gene Saunders.
Mrs. Sauders menjelaskan bahwa, selama 18 bulan sebelum menghilang,
suaminya merupakan manager tingkat menengah di suatu perusahaan besar,
telah dianggapn tidak mampu di dalam pekerjaanya. Ia telah gagal untuk
beberapa kenaikan pangkat, dan pengawasnya telah mengkritik pekerjaannya.
Beberapa stf telah meninggalkan perusahaan untuk mencari pekerjaan lain,
dan pasien merasa tidak mungkin untuk memenuhi tujuan produksi
perusahaanya. Stres pekerjaan menyababkan sulit untuk tinggal di rumah.
Sebelumnya ia adalah orang yang senang berpergian dan suka berkumpul,
sekarang ia menjadi menarik diri dan senang mencela istri dan anak-anaknya.
Segara sebelum kehilangannya, ia telah mengalami perdebatan sengit dengan
anaknya yang berusia 18 tahun. Anak telah menyebutnya gagal dan
meninggalkan rumah untuk tinggal dengan seorang teman yaang memiliki
apartemen. Dua hari setelah perdebatan tersebut, pasien menghilang (10).
Walaupun gangguan pada daya ingat tersebut mengarah suatu gangguan
medis umum yang mempengaruhi fungsi otak, biasanya dalam suatu gangguan
seperti itu, gangguan daya ingat lebih nyata untuk peristiwa yang belum lama
dibandingkan perintiwa yang telah lama. Tidak adanya perubahan daya
pemusatan perhatian atau orientasi juga menekan pada adanya gangguan
medis umum yang mempengaruhi fungsi otak (10, 11).
Peranan penting faktor psikologis dalam amnesia pasien menjadi tampak
saat ia mempelajari bahwa, tepat sebelum perkembangan gejalanya, pada
17
puncak kesulitan, pekerjaan, ia telah mengalami perdebatan keras dengan
anaknya. Ciri tambahan adanya berpergian jauh dari rumah yang tiba-tiba dan
tidak dapat diperkirakan dan mengambil identitas baru membenarkan
diagnosis fuga disosiatif (1, 11).
Contoh kasus lain terjadi pada seorang penduduk di Afrika Selatan.
Seorang pria bernama Choto (bukan nama sebenarnya) sering bertengkar
dengan ibunya tentang ayahnya. Ada perselisihan keluarga, Choto ingin
ibunya untuk mengungkapkan nama Ayah kandungnya. Dia kemudia
membakar gubuk ibunya dan mengusir ibunya dari rumah. Dia akan memukul
dan menghajar ibunya. Keluarga dari pihak ibu Choto kemudian mengadu
kepada kepala desa dan orang-orang kampung bahwa Choto telah melanggar
tradisi karena telah menganiaya ibu kandungnya. Choto kemudian
meninggalkan desa dan pergi mengembara ke tempat lain. Meskipun begitu,
kadang-kadang ia tetap kembali ke kampung halamannya. Setiap ia kembali,
ia akan bertengkar dengan ibunya. Choto menganggap ibunya telah
mengutuknya sehingga ia tidak pernah mendapat pekerjaan. Ketegangan
antara Choto dan keluarga ibunya kembali memuncak, choto kemudian
dilarang untuk kembali ke kampung halamannya lagi. Beberapa tahun
kemudian Ibu Choto meninggal dan permasalahan antara keduanya tidak
pernah terselesaikan (11).
Choto kehilangan pekerjaannya, tetapi ia tidak kembali ke rumahnya.
Choto justru ditemukan tidur di tempat terbuka di kota lain yang jaraknya jauh
dari rumah tempatnya tinggal. Choto berpindah dari satu tempat ke tempat
18
lain. Ia tidak dapat mengenali identtas dirinya sendiri. Saudaranya baru
mengetahui hal tersebuut satu tahun setelah Choto berhenti bekerja.
Saudaranya kemuadian meminta bantuan untuk mencari Choto. Akhirnya
Choto ditemukan oleh keluarganya di sebuat tempat kumuh yang tidak
ditinggali lagi. Ketika saudaranya memanggil nama Choto, ia merespon tapi
tidak antusias, ia seolah-olah tidak mengenali mereka. Warga setempat
mengenali Choto sebagai gelandangan dan sering mendapat bantuan makanan
dari warga. Warga setempat memenaggil Choto hanya dengan nama
panggilan, Choto saat itu sangat sulit mengingat nama aslinya (11).
Dari pemeriksaan yang didapatkan dengan menggunakan Dissociative
Experiences Scale Choto dinyatakan mengidap gangguan fuga disosiatif.
Meskipun begitu, keluarga Choto bersikeras menganggap Choto dirasuki oleh
roh, sehingga mereka lebih memilih melakukan pengobatan tradisional
dibandingkan dengan rehabilitasi di pusat kejiwaan (11).

G. Diagnosis Gangguan Fuga Disosiatif
Fuga disosiatif mengkombinasikan kegagalan integrasi aspek aspek
ingatan personal; dengan hilangnya indetitas asli dan automatisme kelakuan
motorik. Disosiatif fuga berkaitan dengan satu atau lebih episod dari berkelana
secara tiba tiba, tidak diperkirakan, perjalanan bertujuan yang jauh dari
rumah, diikuti dengan ketidakmampuan untuk mengingat masa lalu dan
kehilangan identitas serta pembentukkan identitas baru. Banyak kasus fuga
disosiatif sembuh secara spontan.

Fuga disosiatif dapat ditegakkan dengan
19
beberapa cara, antara lain ditentukan menurut kriteria diagnosis PPDGJ III dan
DSM IV (12, 13).
Kriteria diagnostik untuk fuga disosiatif bedasarkan PPDGJ III yaitu (12):
1. Ciri ciri amnesia disosiatif (F44.0)
- Ciri utama adalah hilangnya daya ingat, biasanya mengenai kejadian
penting yang baru terjadi (selektif) yang bukan disebabkan oleh
gangguan mental organik dan terlalu luas untuk dapat dijelaskan atas
dasar kelupaan yang umum terjadi atau atas dasar kelelahan.
- Diagnosis pasti amnesia disosiatif memerlukan:
Amnesia, baik total atau parsial, mengenai kejadian yang stressful
atau traumatik yang baru terjadi( hal ini mungkin hanya dapat
dinyatakan bila ada saksi yang memberi informasi).
Tidak ada gangguan mental organik, intoksikasi atau kelelahan
berlebihan (sindrom amnesik organik, F04, F1x.6)
- Yang paling sulit dibedakan adalah amnesia buatan yang disebabkan
oleh simulasi secara sadar (malingering). Untuk itu penilaian secara
rinci dan berulang mengenai kepribadian premorbid dan motivasi
diperlukan. Amnesia buatan (conscious simulation of amnesia) biasanya
berkaitan dengan problema yang jelas mengenai keuangan, bahaya
kematian dalam peperangan, atau kemungkinan hukuman penjara atau
hukuman mati.
2. Melakukan perjalanan tertentu melampaui hal yang umum dilakukannya
sehari-hari; dan
20
3. Kemampuan mengurus diri yang dasar tetap ada (makan, mandi, dsb) dan
melakukan interaksi sosial sederhana dengan orang orang yang belum
dikenalnya (misalnya membeli karcis atau bensin, menanyakan arah,
memesan makanan).
Harus dibedakan dari postical fuga yang terjadi setelah serangan
epilepsi lobus temporalis, biasanya dapat dibedakan dengan cukup
jelas atas dasar riwayat penyakitnya tidak adanya problem atau
kejadian yang stressful , dan kurang jelasnya tujuan (fragmented)
berpergian serta kegiatan dari penderita epilepsi tersebut.
Kriteria diagnostik untuk fuga disosiatif bedasarkan DSM IV antara lain
(13):
1. Gangguan yang predominan adalah terjadinya perjalanan mendadak yang
tidak diharapkan berupa meninggalkan rumah, tempat, pekerjaan dan ia
tidak mampu mengingat masa lalunya.
2. Kebingungan tentrang indetitas persoanal atau perkiraan dari indetitas baru
(sebagian atau utuh).
3. Gangguan tidak terjadi secara khusus selama perjalanan gangguan
indetitas dan tidak disebabkan efek fisiologis langsung dari penggunaan
zat (misalnya penyalahgunaan zat, pengobatan) atau kondisi medik umum
misalnya epilepsi lobus temporalis).
4. Gejala menyebabkan distress yang bermakna atau hendaya dalam bidang
sosial, pekerjaan atau fungsi area yang penting.

21
H. Diagnosis Banding Gangguan Fuga Disosiatif
Diagnosis banding untuk fuga disosiatif serupa dengan diagnosis banding
amnesia disosiatif, antara lain demensia, delirium, epilepsi parsial kompleks,
amnesia disosiatif, fuga organik, dan gangguan identitas disosiatif. Perbedaan
episode berpergian pada demensia dan delirium dengan fuga disosiatif adalah
berpergian pada demensia atau delirium tidak bertujuan dan tidak ada perilaku
kompleks dan adaptif secara social (13).
Epilepsi parsial komplek juga disertai dengan episode bepergian, namun
berbeda dengan fuga disosiatif yang biasanya mengambil identitas baru serta
dicetuskan oleh peristiwa traumatik, pada epilepsi parsial komplek pasien
tetap memakai indetitas sesungguhnya dan episode tidak dicetuskan oleh
stress psikologis, Selain itu pada pasien epilepsi parsial komplek terdapat
riwayat epilepsy (13).
Amnesia disosiatif tampak dengan kehilangan daya ingat sebagai stres
psikologis, tetapi tidak terdapt episode berperia yang bertujuan atau identitas
baru. Berpura-pura mungkin sukar dibedakan dari fuga disosiatif. Tiap bukti-
bukti adanya tujuan sekunder yang jelas harus meningkatkan kecurigaan
klinis. Hipnosis dan wawancara amobarbital mungkin berguna dalm
memperjelas diagnosis klinis (12, 14).
Keadaaan fuga organik disebabkan berbagai obat, termasuk obat
halusinogenik, steroid, barbiturat, phenotiazine, triazolam (Halcion), dan l-
asparaginase. Diagnosis hilang kesadaran karena akohol sering tertukar
dengan fuga disosiatif tetapi dapat dibedakan melalui anamnesis klinik yang
22
baik serta mengetahui konsentrasi akohol yang diminum, jika hal ini terjadi
saat intoksitasi akut. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa fuga
disosiatif dan hilangnya kesadaran akibat pengaruh alkohol dapat terjadi
bersamaan. Terdapat laporan bahwa triazolam dan alkohol bersamaan
meenimbulkan episode amnesia anterograd (14).
Diagnosis banding lain untuk fuga adalah gangguan indetitas disosiatif.
Fuga dan gangguan indetitas disosiatif memiliki kemiripan karena terdapat
periode amnesia dan adanya identitas lain. Identitas lain pada pasien fuga
biasanya tidak lengkap jika dibandingkan dengan kepribadian-kepribadian
sekunder yang terlihat pada gangguan identitas disosiatif. Selain itu, pada fuga
disosiatif identitas yang lama dan yang baru tidak berganti-ganti, seperti yang
terjadi pada gangguan identitas disosiatif. Kesadaran akan identitas asli pada
pasien gangguan identitas disosiatif juga ditemukan, berbeda dengan pasien
fuga yang benar- benar melupakan identitas aslinya selama onset terjadi (14).

I. Terapi Fuga Disosiatif
Penatalaksanaan dengan menggali kondisi fisik dan neurologiknya. Bila
tidak ditemukan kelainan fisik/neurologik, perlu dijelaskan pada pasien dan
dilakukan pendekatan psikologik terhadap penanganan gejala-gejala yang ada
(7, 15).
Pengobatan fuga disosiatif serupa dengan pengobatan amnesia disosiatif.
Wawancara psikiatrik saja atau wawancara psikiatrik yang diawali dengan
pemberian obat, dan hipnosis mungkin dapat membantu ahli terapi dan pasien
dalam mengungkapkan stresor psikologis yang mencetuskan timbulnya
23
episode fuga. Wawancara psikiatrik yang diawali dengan pemberian obat
barbiturat kerja singkat, seperti thiopental (pentothal) dan natrium amobarbital
yang diberikan secara intravena, serta benzodiazepine dapat membantu pasien
dalam memulihkan ingatan yang telah dilupakannya (15).
Pengobatan terpilih untuk fuga disosiatif adalah psikoterapi psikodinamika
suportif ekspresif. Psikoterapi diindikasikan untuk membantu pasien agar
dapat menerima stresor pencetus dan menyelesaikannya dengan cara yang
lebih sehat dan terintegrasi.Teknik yang telah digunakan secara luas adalah
mencampurkan abreaksi trauma masa lalu dan integrasi trauma secara terpadu
agar pasien tidak berfragmentasi dalam menghadapi trauma. Bentuk terapinya
berupa terapi bicara, konseling atau terapi psikososial, meliputi berbicara
tentang gangguan yang diderita oleh pasien jiwa. Terapinya akan membantu
anda mengerti penyebab dari kondisi yang dialami (15, 16).
Individu dengan disosiatif fuga dapat dibantu dengan pendekatan
psikoterapi yang sangat berguna dalam mengatasi stressor psikososial saat ini,
seperti konflik rumah tangga, dengan individu-individu yang terlibat.
Sehingga stres psikososial saat ini memicu fuga, resolusi stres yang dapat
membantu mengatasinya dan mengurangi kemungkinan kekambuhan (16).
Psikoterapi dengan menekankan pada kekuatan dari kumpulan terapi, telah
digunakan lebih sering daripada penggunaan obat-obatan untuk gangguan
disosiatif.

Dengan demikian, psikoterapi yang efektif adalah antisipatif yaitu
membantu individu untuk mengenali dan memodifikasi kecenderungan
mereka untuk menyisihkan perasaan mereka sendiri demi orang lain (16).

24
Psikoterapi individu dan tambahan terapi anti ansietas dan anti depresan
merupakan modalitas terapi yang paling mendukung di Belanda (15, 16, 17).
Psikoterapi untuk gangguan disosiasi sering mengikutsertakan teknik
seperti hipnotis yang membantu kita mengingat trauma yang menimbulkan
gejala disosiatif. Hipnoterapi secara spesifik digunakan sebagai intervensi
untuk gangguan disosiatif. Hipnosis dapat membantu dalam mengobati fuga
disosiatif dengan mengakses komponen lain yang tidak tersedia dari memori
dan identitas. Pendekatan yang digunakan adalah serupa dengan amnesia
disosiatif. Regresi usia hipnotis dapat digunakan sebagai kerangka untuk
mengakses informasi yang tersedia pada waktu sebelumnya.

Hipnosis
terutama digunakan sebagai salah satu cara untuk membuat pasien merasa
tenang sehingga dapat mengingat kembali hal yang telah mereka lupakan.
Pasien akan ditempatkan dalam keadaan somnolen atau mengantuk, inhibisi
mental dihilangkan dan bahan amnestik akan muncul ke dalam kesadaran
sehingga dapat diingat kembali. Ketika ingatan yang hilang telah diperoleh
kembali, psikoterapi umumnya disarankan untuk membantu pasien
menyatukan kembali kenangan mereka kedalam keadaan sadar mereka.

Setelah reorientasi didirikan, identitas jelas ditemukan, dan kehilangan
memori dari fuga telah diselesaikan, penting untuk mengobati melalui masalah
interpersonal atau intrapsikis yang mendasari pertahanan disosiatif (17).

25

Hipnosis menciptakan keadaan relaksasi yang dalam dan tenang dalam
pikiran. Saat terhipnotis, pasien dapat berkonsentrasi lebih intensif dan
spesifik. Karena pasien lebih terbuka terhadap sugesti saat pasien terhipnotis.
Ada beberapa konsentrasi yang menyatakan bahwa bisa saja ahli hipnotis akan
menanamkan memori yang salah dalam mensugesti (17, 18).
Selain itu, kita juga bisa melakukan pencegahan. Anak- anak yang secara
fisik, emosional dan seksual mengalami gangguan, sangat berisiko tinggi
mengalami gangguan mental yang dalam hal ini adalah gangguan disosiatif.
Jika terjadi hal yang demikian, maka bersegeralah mengobati secara sugesti,
agar penangan tidak berupa obat anti depresan ataupun obat anti stres, karena
diketahui bahwa jika menanamkan sugesti yang baik terhadap usia belia, maka
nantinya akan didapatkan hasil yang maksimal, dengan penangan yang
minimal (18).
26
Penanganan gangguan disosiatif yang lain meliputi (17, 18):
1. Terapi kesenian kreatif
Dalam beberapa referensi dikatakan bahwa tipe terapi ini
menggunakan proses kreatif untuk membantu pasien yang sulit
mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka. Seni kreatif dapat
membantu meningkatkan kesadaran diri. Terapi seni kreatif meliputi
kesenian, tari, drama dan puisi.
2. Terapi kognitif
Terapi kognitif ini bisa membantu untuk mengidentifikasikan kelakuan
yang negatif dan tidak sehat dan menggantikannya dengan yang positif
dan sehat, dan semua tergantung dari ide dalam pikiran untuk
mendeterminasikan apa yang menjadi perilaku pemeriksa.
3. Terapi obat
Terapi ini sangat baik untuk dijadikan penangan awal, walaupun tidak
ada obat yang spesifik dalam menangani gangguan disosiatif ini. Biasanya
pasien diberikan resep berupa anti-depresan dan obat anti-cemas untuk
membantu mengontrol gejala mental pada gangguan disosiatif ini.
Secara umum, farmakoterapi pada dosis rendah dan jangka pendek,
diresepkan selama dibutuhkan untuk mengurangi gejala distres akut.
Penyulit lainya terjadi apabila pasien-pasien ini tidak patuh dan sering
bereaksi berlebihan terhadap efek farmakologi obat. Ringkasnya, mereka
bukan orang-orang yang sesuai untuk menerima pengobatan
psikofarmakoterapi dan jarang mendapat manfaat simtomatik.
27


Di masa lalu, terapi farmako yang difasilitasi saat wawancara
digunakan untuk mengembalikan ingatan amnesia disosiatif atau fuga
disosiatif. Namun, teknik tersebut sangat tidak efektif dan tidak
memberikan keuntungan lebih daripada hipnosis. Tak jarang setelah
penyuntikkan obat, muncul fenomena hipnotis spontan namun sebelum
efek farmakologi dirasakan, sedasi, depresi pernafasan, dan efek samping
lainnya muncul terlebih dahulu dan dapat mengganggu. Terapi farmako
juga menyebabkan ketergantungan dalam terapi. Sebaliknya, ketika
hipnosis digunakan, individu dilatih dengan teknik self-hypnotic sehingga
meningkatkan tingkat kontrol individu sekaligus penguasaan diri.
Pasien mengungkapkan tingkat kebutuhan mereka melalui interaksi
dengan orang lain, ketidaksesuaian tingkah laku tanpa penyesalan, atau
dengan mengungkapkan secara verbal tentang gejala mereka ketika mereka
menyadari gangguan yang mereka derita. Secara umum, rawat inap
28
ditunjukkan ketika pengobatan medis atau bedah diperlukan, ketika diagnosis
tidak jelas, ketika tidak ada alternatif aman yang tersedia untuk tempat tinggal
pasien, dan sebagai sarana untuk menghentikan penyalahgunaan yang sedang
berlangsung. Selain itu, rawat inap juga diindikasikan ketika pasien
mengalami kebingungan yang parah tentang identitas dirinya atau amnesia
kronis mengenai jumlah episode fuga (19).
Rawat Inap juga merupakan alat untuk menilai dan mengadministrasi
pelayanan sosial, pengobatan, perkembangan tingkah laku, dan memastikan
bahwa pasien bahwa pasien akan merespon pengobatan dibawah pengawasan
yang aman dari tenaga kesehatan professional (17, 19).
Kebanyakan pasien dengan gejala fuga disosiatif yang memiliki
kecenderungan untuk dibawa ke rumah sakit selama episode fuganya
berlangsung, menerima perawatan akut di rumah sakit umum dan departemen
psikiatri (19, 20).

J. Pencegahan Gangguan Fuga Disosiatif
Anak-anak yang secara fisik, emosional dan seksual mengalami gangguan,
sangat beresiko tinggi mengalami gangguan mental yang dalam hal ini adalah
gangguan disosiatif, termasuk gangguan fuga disosiatif. Jika terjadi hal yang
demikian, maka bersegeralah mengobati secara sugesti, agar penangan tidak
berupa obat anti depresan ataupun obat anti stress, karena diketahui bahwa
jika menanamkan sugesti yang baik terhadap usia belia, maka nantinya akan
didapatkan hasil yang maksimal, dengan penangan yang minimal (20).

29
K. Prognosis
Fuga disosiatif biasanya berlangsung dalam waktu singkat dari beberapa
jam hingga beberapa hari dan jarang berlangsung selama berbulan-bulan.
Fuga disosiatif juga jarang menempuh perjalanan yang sangat jauh hingga
beribu-ribu mil. Biasanya, pemulihan fuga disosiatif terjadi secara cepat,
spontan, dan jarang terjadi kekambuhan (20).
Secara umum prognosis gangguan disosiatif baik bila gangguan disosiatif
bersifat akut sedangkan pada gejala-gejala yang terjadi cukup lama prognosis
cenderung buruk (20).















30
BAB III
KESIMPULAN

Gangguan disosiatif merupakan hasil penggunaan mekanisme pertahanan
disosiatif dimana alam pikiran atau alam perbuatan individu mengalami spliting.
Gambaran utamanya adanya perubahan yang mendadak dan sementara dari
integratif normal kesadaran, identitas, atau perilaku motorik. Salah satu bentuk
dari gangguan disosiatif adalah gangguan fuga disosiatif (1, 2, 3).
Fuga disosiatif merupakan gangguan disosiatif yang memiliki semua
gejala pada amnesia disosiatif disertai secara jelas bepergian jauh dari rumah atau
tempat kerja dan tidak dapat mengingat aspek penting identitas sebelumnya
(nama, keluarga, pekerjaan). pasien fuga disosiatif ditemukan amnesia dan selama
berkelana pasien akan mengalami amnesia secara menyeluruh terhadap kehidupan
masa lalunya (2).
Pada saat onset fuga terjadi, pasien tidak akan menyadari dirinya terkena
amnesia. Jika pasien kembali ke dirinya sebelumnya, pasien dapat mengingat hal-
hal sebelum onset fuga terjadi, namun pasien tetap lupa pada apa yang terjadi
selama periode fuganya (2, 3).
Kriteria Diagnostik Untuk Fuga Disosiatif Bedasarkan PPDGJ III harus
ada ciri-ciri amnesia disosiatif, melakukan perjalanan tertentu melampaui hal yang
umum dilakukannya seharihari, kemampuan mengurus diri yang dasar tetap ada
(makan, mandi, dsb) dan melakukan interaksi sosial sederhana (12).
Terapi yang diberikan pada pasien fuga yaitu dengan wawancara psikiatrik
saja atau wawancara psikiatrik yang diawali dengan pemberian obat, dan hipnosis.
31
Pengobatan utama untuk fuga disosiatif adalah psikoterapi berupa hipnosis.
Hipnosis menciptakan keadaan relaksasi yang dalam dan tenang dalam pikiran.
Saat terhipnotis, pasien dapat berkonsentrasi lebih intensif dan spesifik. Karena
pasien lebih terbuka terhadap sugesti saat pasien terhipnotis (18).
Secara umum prognosis gangguan disosiatif baik bila gangguan disosiatif
bersifat akut sedangkan pada gejala-gejala yang terjadi cukup lama prognosis
cenderung buruk (20).

32
DAFTAR PUSTAKA

1. Gillig PM, Nolan, BP. Pschiatry board review manual. Philadelphia: Turner
White Communication Inc, 2003.

2. Kihlstrom JF, Tataryn DJ, Hoyt IP. Comprehensive handbook of
psychopathology. New York: Plenum, 2001.

3. Kihlstrom JF. Dissociative disorders. Annual Review of Clinical Psychology
2005; 1:1-32.
4. Matete MA, Pretorius PJ, Rataemane ST. Dissociative fugue. SAMJ 2003;
93:39-41.

5. Chapter 7 dissociative disorders. California: California State University.
(available from http://www.csun.edu/, acsessed on July 2014)

6. Foote B, Smolin Y, Kaplan M, et al. Prevalence of dissociative disorders in
psychiatric outpatients. Am J Psychiatry 2006; 163:623629.

7. Star V. Epidemiology of dissociative disorders: an overview. Epidemiology
Research International 2011; volume:1-8.

8. Dell PF, ONeil JA. Dissociation and the dissociative disorders DSM-V and
beyond. New York: Taylor and Francis Group, 2009.

9. Seedat PS, Muller JE. Dissociative disorders. Handbook of psychiatry.
Stellenbosch: University of Stellenbosch, 2005.

10. Bhadu A, Mehta P, Patel K, et al. Dissociative fugue-a rare case. Indian
Journal of Basic and Applied Medical Research 2013; 3:293-295.

11. Gwandure C. Dissociative fugue: diagnosis, presentation and treatment among
the traditional Shona people. The Open Anthropology Journal 2008; 11-10.

12. Maslim R. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas dari
PPDGJ-III /FKU. Jakarta: Fakulltas Kedokteran UNIKA Atmajaya, 2001.

13. American Psychiatric Association. Diagnostic and statistical manal of mental
disorders. 4
th
edition. DSM-IV. Washington DC: American Psychiatric
Association, 2005.

14. Igwe MN. Dissociative fugue symptoms in a 28-year-old male Nigerian
medical student: a case report. Igwe Journal of Medical Case Reports 2013;
7:1-3.
33
15. Comer RJ. Abnormal Psychology. 8
th
edition. New York: Worth Publisher,
2013.

16. Sharlott AW. Overview of dissociative fugue. Columbia: University of
Missouri, 2003.

17. Kluft RP. Dissociative disorders. International Handbook of Clinical
Hypnosis. New York: John Wiley & Sons, 2001.

18. Kihlstrom JF. Dissociative disorders. Annu. Rev. Clin. Psychol. 2005; 1:227
253.

19. Sadock BJ. . Dissociative disorders in Kaplan and sadocks comprehensive
textbook-Psychiatry Lowenstein. Philadelphia: Lippincott Williams &
Wilkins, 2004.

20. Silberg J. Guidelines for the evaluation and treatment of dissociative
symptoms in children and adolescents. Journal of Trauma & Dissociation
2004; 5(3):119-150.
.