Anda di halaman 1dari 12

STUDI POPULASI DAN AKTIVITAS HARIAN MONYET EKOR

PANJANG (Macaca fascicularis) DAN LUTUNG JAWA


(Trachypithecus auratus) DI KEBUN RAYA CIBODAS

Agung Gumelar
1
, Ayu Lestari
1
, Dara Herdiyati Novianjani
1
, Dian Tri Sari Lubis
1
,
Gina Rifaatul Mahmudah
1
, Gustomi, Noer Afwan Indriani Said
1
, Riska
Nurhidayah
1
, Sri Wahyu Fajarwati
1
, Trylestari Agustina
1
, Agus Pambudi Darma
2


ABSTRAK
Kawasan hutan hujan taman wisata kebun raya cibodas dihuni oleh dua jenis
primata yaitu monyet ekor panjang dan lutung jawa dengan keadaan sifat-sifat
populuasi yang berbeda. Pengamatan ini dilakukan untuk mengetahui kepadatan
populasi dan aktivitas harian dari monyet ekor panjang Macaca fascicularis dan
lutung jawa Trachypitheaus auratus di Kebun Raya Cibodas.Pengamatan ini
dilakukan dengan mengunakan metode scan animal sampling di kawasan Kebun
Raya Cibodas. Kepadatan populasi monyet ekor panjang di Kebun Raya
Cibodas adalah 36 ekor sedangkan lutung jawa sebanyak 12 ekor. Sedangkan
frekuensi aktivitas harian monyet ekor panjang yang paling banyak dilakukan
oleh monyet dewasa adalah bergerak (35.71%), pada monyet remaja adalah
bergerak (38.29%), pada monyet anak-anak adalah sosial (66.67%), sedangkan
pada anak-anak adalah istirahat dan gerak sebesar 50%. Sedangkan pada
lutung jawa, frekuensi aktivitas harian yang paling banyak dilakukan oleh monyet
dewasa adalah istirahat (31,38%), lutung jawa usia remaja adalah istirahat
(6,67%) dan bayi istirahat (50%).
Kata kunci :
Macaca fascicularis, Trachypitheaus auatus, populasi, aktivias harian.

PENDAHULUAN
Kawasan hutan taman wisata dihuni oleh dua jenis Primata yaitu monyet
ekor panjang dan lutung jawa dengan keadaan sifat-sifat populasi yang berbeda.
Perbedaan relung ekologi ataupun mikro habitat dari kedua jenis primata
tersebut menurut persebarannya. Baik ke arah vertikal maupun horizontal sangat
sulit akan tetapi perbedaan itu akan lebih jelas ditinjau dari aktivitas hariannya
ataupun jenis makanannya (Sub BKSDA pangandaran, 1989).
Monyet ekor panjang merupakan salah satu spesies yang merupakan
salah satu spesies dari primata hidup secara berkelompok. Pembentukan
kelompok dapat dipengaruhi berbagai macam faktor, di antaranya tersedianya
sumber pakan di suatu tempat, banyaknya anggota dalam suatu kelompok dan
lain-lain.
Monyet ekor panjang merupakan satwa opportunistic omnivore, yaitu
yaitu satwa yang dapat memperoleh makannya dari apa saja yang tersedia di
lingkungan habitatnya. Disamping memperolaeh makanan dari buah-buahan,

1
Mahasiswa Pendidikan Biologi FKIP UHAMKA
2
Fasilitator KKL
satwa ini ini juga makan daging dan tumbuh-tumbuhan (Poirier and Smith, 1974
dalam Mampiore, 2006).
Lutung memiliki warna rambut hitam diselingi warna keperakan. Di
kepalanya terdapat helaian rambut yang menjuantai kedepan membentuk
jambul. Panjang tubuh Lutung (dari kepala hingga tungging) sekitar 50 cm,
panjang ekor sekitar 70 cm atau dapat mencapai dua kali panjang tubuh. Berat
Lutung rata-rata 6 kg. Anak lutung yang baru lahir berwarna kuning jingga dan
tidak berjambul. Setelah meningkat dewasa warnanya berubah menjadi hitam
kelabu. Hidup berkelompok sangatlah bermanfaat bagi lutung yang lambat
menjadi dewasa. Kelompok itu menjadi tempat penyimpanan pengalamannya
yang kemudian diteruskan kepada generasi baru. Maka bayi yang baru lahir dari
suatu kelompok sangatlah beruntung. Selama masa mudanya yang panjang
monyet tadi tidak hanya mendapatkan perlindungan dari anggota kelompok yang
lain tetapi memperoleh waktu untuk belajar dari anggota lain, dan apa yang telah
dipelajarinya dilatih lagi dengan permainan.
Pengamatan ini bertujuan untuk mengetahui populasi dari monyet ekor
panjang (Macaca fascicularis) dan lutung jawa (Trachypithecus auratus) selain itu
juga untuk mengetahui aktivitas harian dari monyet ekor panjang (Macaca
fascicularis) dan lutung jawa (Trachypithecus auratus) di Kawasan Kebun Raya
Cibodas.

METODOLOGI
Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Pengamatan ini dilakukan pada hari Jumat, 23 Mei 2014 pukul 07.30 14.10
WIB di Kawasan Kebun Raya Cibodas, Jawa Barat.
Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam pengamatan ini adalah kamera digital,
ATK, papan jalan, tabulasi data (table dalam modul), handcounter, binokular, jam
tangan, kompas bidik, inklinometer, dan kalkulator.
Cara Kerja
Pengambilan Data Populasi dan Aktivitas Harian

1. Menentukan lokasi pengambilan data. Kelompok sebaiknya dibagi
menjadi kelompok kecil (2-3 orang).
2. Kelompok dibagi untuk pencatatan data: 1 kelompok menghitung
jumlah kelompok dan menentukan komposisi kelompok (jantan dan
betina), 1 kelompok mencatat aktivitas harian monyet ekor panjang
dan lutung jawa, dan 1 kelompok lainnya mengambil
gambarkelompok monyet ekor panjang dan lutung jawa.
3. Selain itu, ada 1 orang yang diberi tanggung jawab untuk menghitung
langkah dengan menggunakann handcounter. Langkah dihitung saat
pintu masuk kawasan taman wisata alam pangandaran.
4. Saat dilakukan perjumpaan dengan monyet ekor panjang dan lutung
jawa yang perlu dicatat data untuk populasi. Datanya antara lain :
waktu perjumpaan, nama jenis, komposisi dari kelompok tersebut,
jumlah langkah pada handcounter, jarak antara kelompok monyet
ekor panjang dan lutung jawa dengan pengamat, dan jenis pohon
yang dihinggapi oleh monyet ekor panjang dan lutung jawa.
5. Setelah data populasi selesai dicatat, dilanjutkan pada pencatatan
aktivitas harian. Data yang perlu dicatat antara lain: waktu
pengamatan (dilakukan per 10 menit), aktivitas yang dilakukan (ditulis
secara spesifik), dan informasi tambahan di kolom keterangan (jika
diperlukan).
6. Aktivitas yang dicatat merupakan aktiditas kelompok yang diamati
dengan teknik scan sampling. Jadi, dilihat aktivitas secara mayoritas
dari kelompok monyet ekor panjang dan lutung jawa.
7. Pencatatan data populasi dilakukan secara periodic (bisa bergantian
orang untuk pencatatan tiap periode).
8. Periode 1 : dari jam 07.00 sampai jam 10.00
9. Periode 2 : dari jam 10.00 sampai jam 13.00
10. Istirahat 1 jam
11. Periode 3 : dari jam 14.00 sampai jam 17.00
12. Setiap aktivitas dari monyet ekor panjang dan lutung jawa perlu
diambil gambarnya dan video dengan kamera sebagai dokumentasi
penelitian.

Pengolahan Data

a. Data populasi
Dari hasil data yang diperoleh akan diketahui kepadatan populasi
monyet ekor panjang dan lutung jawa ditaman wisata pangandaran,
yaitu dengan menggunakan rumus menurut eisnberg, dkk (1981):



Dimana :
N : estimasi kepadatan populasi monyet ekor panjang atau lutung
jawa
nA : jumlah individu yang tersensus
l : panjang jalur yang disusuri (jumlah langkah yang tertera pada
handcounter dikalikan 50 cm), dan
w : jarak objek/monyet ekor panjang/lutung jawa dengan pengamat.









HASIL PENGAMATAN
Hasil pengamatan mengenai studi populasi dan aktivitas monyet ekor
panjang dan lutung jawa disajikan dalam bentuk kepadatan populasi, frekuensi
dan durasi waktu dari masing-masing tingkah laku.

Kepadatan Populasi Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)

Tabel 1 Data Kepadatan Populasi Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)

Keterangan :



Untuk data aktivitas harian akan dihitung persentase tiap aktivitas
(makan, istirahat, bergerak, atau social) dalam satu hari. Untuk megetahuinya
digunakan rumus:






No.
Kel
Tanggal Waktu
Jumlah (Ekor)
Total % Keterangan
D R A B
1.
23 Mei
2014
10.05 10.35 6* - 2 - 8 22,22%
*4 ekor lutung jantan
dewasa dan 2 ekor lutung
betina dewasa
2. 10.00 10.30 - - - - - - -
3. 06.00 08.05 - - - - - - -
4. 09.40 10.15 1* - 1 - 2 5,56% *Betina dewasa
5. 13. 40 14.10 - - - - - - -
6. 12.00 12. 20 4 - - - 4 11,11%
Tidak dapat diketahui jenis
kelaminnya karena objek
terlalu jauh pengamat
7. 10.30 11.00 4* 6** 1 1 12 33,33%
*2 ekor jantan dewasa dan
2 ekor betina dewasa
**4 jantan remaja dan 2
betina remaja
8. 10.30 11.00 2* 1** - - 3 8,33%
*1 ekor jantan dewasa dan
1 ekor betina dewasa
**1 ekor jantan remaja
9. 09.30 10.00 - - - - - - -
10. 07.30 08.00 4* - 2 1 7 19,44%
*2 ekor jantan dewasa dan
2 ekor betina dewasa
Total 21 7 6 2 36

% 58,33% 19,44% 16,67% 5,56% 100%
Populasi
D = Dewasa A = Anak
R = Remaja B = Bayi
Aktivitas Harian Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)
Tabel 2 Frekuensi Tingkah Laku Macaca fascicularis
No. Individu Makan % Istirahat % Gerak % Sosial % Total
1 Dewasa 5 17,86% 5 17,86% 10 35,71% 8 28,57% 28
2 Remaja 9 26,47% 6 17,65% 13 38,24 6 17,65% 34
3 Anak-anak - 0% 1 16,67% 1 16,67% 4 66,67% 6
4 Bayi - 0% 1 50% 1 50% - 0% 2
Total 14 20% 13 19,71% 25 35,71% 18 25,71% 70

Durasi Tingkah Laku Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)
Tabel 3 Durasi Waktu Tingkah Laku Macaca fascicularis (dalam menit)
No. Individu Makan % Istirahat % Gerak % Sosial % Total
1 Dewasa 6,73 23,59% 12,2 42,76% 12,46 43,67% 7,13 24,99% 28,53
2 Remaja 1,03 15,08% 1,52 22,25% 3,3 48,32% 0,98 14,35% 6,38
3 Anak-anak 0 0% 2,18 40% 0,27 4,95% 3 55,05% 5,4
4 Bayi 0 0% 0,43 84,31% 0,083 16,27% - 0% 0,51

Kepadatan Populasi Lutung Jawa (Trachypithecus auratus)

Tabel 4 Data untuk Pengamatan Kepadatan Populasi Trachypithecus auratus
No.
Kel
Tanggal Waktu
Jumlah (Ekor)
Total % Keterangan
D R A B
1.
23 Mei
2014
10.05 10.35 1* - - - 1 8,33 % Jantan dewasa
2. 10.00 10.30 - - - - - - -
3. 06.00 08.05 - - - - - - -
4. 09.40 10.15 1* - - 1 2 16,67 % Betina dewasa
5. 13.40 14.10 - - - - - - -
6. 12.00 12. 20 4 2 - - 6 50 %
Tidak dapat diketahui jenis
kelaminnya karena objek
memunggungi pengamat
7. 10.30 11.00 - - - - - - -
8. 10.30 11.00 - - - - - - -
9. 09.30 10.00 - - - - - - -
10. 07.30 08.00 2* 1 - - 3 25 %
*1 ekor jantan dewasa dan 1
ekor betina dewasa
**1 ekor jantan remaja
Total 8 3 - 1 12

% 66,67% 25 % 0 % 8,33% 100 %

Keterangan :






Populasi
D = Dewasa A = Anak
R = Remaja B = Bayi
Aktivitas Harian Lutung Jawa (Trachypithecus auratus)
Tabel 5 Frekuensi Tingkah Laku Trachypithecus auratus
No. Individu Makan % Istirahat % Gerak % Sosial % Total
1 Dewasa 4 21,05% 6 31,58% 6 31,58% 3 15,79% 19
2 Remaja - 0% 2 66,67% 1 33,33% - 0% 3
3 Anak-anak - 0% - 0% - 0% - 0% 0
4 Bayi - 0% 1 50% 1 50% - 0% 2
Total 4 16,67% 9 37,5% 8 33,33% 3 12,5% 24

Durasi Tingkah Laku Lutung Jawa (Trachypithecus auratus)
Tabel 6 durasi waktu tingkah laku Trachypithecus auratus (dalam menit)
No. Individu Makan % Istirahat % Gerak % Sosial % Total
1 Dewasa 0,6 3,81% 10,28 65,25% 4,63 29,37% 0,25 1,59% 15,76
2 Remaja - 0% 5,2 55,03% 4,25 44,97% - 0% 9,45
3 Anak-anak - 0% - 0% - 0% - 0% 0
4 Bayi - 0% 0,5 55,55% 0,4 44,44% - 0% 0,9

PEMBAHASAN
Kepadatan Populasi Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)
Perhitungan populasi monyet ekor panjang dilakukan saat kelompok monyet
ekor panjang tersebut berpindah melewati daerah yang mudah diamati, misal
ketika monyet tersebut berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain. Hal ini
dapat juga terlihat aktivitas monyet ekor panjang tersebut.
Berdasarkan penelitian ini diperoleh data kepadatan populasi monyet ekor
panjang pada diagram 1, terlihat bahwa jumlah populasi monyet ekor panjang
yang diamati di Kawasan Kebun Raya Cibodas adalah 36 ekor meliputi dewasa
21 ekor (58,33%), remaja 7 ekor (19,44%), anak 6 ekor (16,67%) dan bayi 2 ekor
(5,56%).
Diagram 1 Persentase Komposisi Macaca fascicularis


Aktivitas Harian Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)
Primata yang ditemukan dalam hutan tertutup dan hutan bakau ini memiliki
perilaku yang digunakan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan anggota
kelompok lain, hal ini karena primata adalah hewan sosial (Rowe, 1996). Perilaku
harian Macaca fascicularis di alam terdiri atas 35% untuk makan, 20%
penjelajahan, 34% istirahat, 12% untuk grooming, dan kurang dari 0,5% untuk
aktivitas lainnya. (Santosa, 1996). Aktivitas monyet ekor panjang dimulai pukul
06.00 sampai 14.10 WIB dengan aktivitas yang diamati adalah aktivitas makan,
bergerak, istirahat dan sosial.
Monyet merupakan satwa diurnal, yaitu satwa yang aktif pada pagi hingga
sore hari. Aktivitas monyet dimulai dengan bangun pagi hari kemudian
melakukan aktivitas lokomosi. Hal ini terjadi karena suhu udara yang sangat
dingin pada pagi hari, sehingga monyet perlu penyesuaian diri dengan
melakukan pergerakan untuk meningkatkan panas tubuhnya agar tidak
kedinginan. Aktivitas lain yang dilakukan setelah monyet bangun pagi adalah
aktivitas makan, istirahat, gerak, dan sosial.
Diagram 2 Persentase Frekuensi Tingkah Laku Macaca fascicularis


Data hasil pengamatan yang terdapat pada diagram 2 menunjukkan aktivitas
tertinggi pada monyet ekor panjang dewasa adalah aktivitas gerak, yaitu sebesar
35,71%. Aktivitas bergerak pada monyet ekor panjang dilakukan untuk mencari
sumber pakan, melindungi keluarga dan menjaga daerah teritorinya. Pada
monyet ekor panjang remaja, aktivitas gerak memiliki persentase sebesar
38,29% meliputi aktivitas untuk mencari sumber pakan. Pada monyet ekor
panjang anak-anak, aktivitas tertinggi adalah aktivitas sosial sebesar 66,67%.
Aktivitas sosial yang dilakukan adalah bermain, mencari kutu dan berinteraksi
dengan monyet ekor panjang lainnya. Aktivitas sosial biasanya dilakukan di
antara waktu aktivitas istirahat, yaitu pada saat monyet duduk atau
bergelantungan di batang pohon. Pada monyet ekor panjang bayi, aktivitas
tertinggi adalah aktivitas istirahat dan gerak sebesar 50%.

Aktivitas makan atau foraging merupakan aktivitas mencari makan dan
memegang makanan. Urutan pada aktivitas makan, dimulai dengan mencium
pakan terlebih dahulu, kemudian digigit dengan mulut atau mengambil pakan
yang telah digigit dengan satu atau kedua tangannya. (Asnawi, 1991). Menurut
Prakkasi (1999) penciuman merupakan detektor utama dalam mencari pakan
oleh seekor hewan. Sutardi (1980) menambahkan bahwa pada saat memilih
pakan, seekor hewan dengan nalurinya akan memilih bahan pakan yang tinggi
nilai gizinya, tidak membahayakan kesehatannya, juga memiliki bau dan cita rasa
yang sesuai dengan seleranya. Ekornya yang panjang hingga melebihi panjang
tubuhnya, dimanfaatkan Macaca fascicularis sebagai alat keseimbangan serta
mendukung aktivitas pada saat mencari makan di cabang pohon yang kecil
(Crockett & Wilson 1980). Monyet ini pemakan segala jenis makanan (omnivora),
namun komposisinya mengandung lebih banyak buah-buahan (60%), selebihnya
berupa bunga, daun muda, biji dan umbi.
Diagram 3 Persentase Durasi Waktu Tingkah Laku Macaca fascicularis

Berdasarkan hasil pengamatan yang terdapat pada diagram menunjukan
bahwa durasi waktu terlama pada usia dewasa Macaca fascicularis adalah gerak
dengan persentase 43,67%, hal itu disebabkan dewasa banyak aktivitas yang
dilakukan oleh Macaca fascicularis misalnya berlari dan bergelantungan di
pohon, aktivitas bergerak, terutama dilakukan pada pagi hari dan sore hari. Di
usia remaja adalah gerak dengan persentase 48,32%, hal itu disebabkan di usia
anak-anak adalah sosial dengan persentase 55,05%, dan bayi adalah istirahat
dengan persentase 84,31%.
Kepadatan Populasi Lutung Jawa (Trachypithecus auratus)
Populasi lutung jawa diamati melalui pengamatan langsung seperti halnya
pada monyet ekor panjang, hal ini dilakukan guna memudahkan perhitungan
jumlah individu dalam tiap kelompok. Perhitungan dilakukan saat kelompok
lutung jawa tersebut berpindah melewati daerah yang mudah diamati, misal
ketika monyet tersebut berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain.

Diagram 4 Persentase Komposisi Trachypithecus auratus


Berdasarkan penelitian ini diperoleh data kepadatan populasi lutung jawa
pada diagram 2, terlihat bahwa jumlah populasi lutung jawa yang diamati di
Kawasan Kebun Raya Cibodas adalah 12 ekor meliputi dewasa 8 ekor (66,67%),
remaja 3 ekor (25%), anak 0 ekor (0%) dan bayi 1 ekor (8,33%).
Aktivitas Harian Lutung Jawa (Trachypithecus auratus)
Lutung merupakan satwa diurnal, yaitu satwa yang aktif pada pagi hingga
sore hari, selain itu lutung juga hidup pada berbagai lapisan arboreal, mulai dari
hutan dataran rendah hingga dataran tinggi, baik di hutan primer maupun
sekunder. Pengamatan aktivitas lutung jawa dilakukan mulai dari pukul 07.30
sampai dengan pukul 14.10 WIB. Aktivitas lutung dimulai dengan bangun pagi
hari kemudian melakukan aktivitas lokomosi. Pada hasil pengamatan lutung oleh
Prayogo (2006) yang dilakukan di Taman Margasatwa Ragunan, yaitu bahwa
lutung memulai aktivitas dengan bangun pagi, kemudian melakukan pergerakan
untuk mencari pakan. Hal ini terjadi karena suhu udara yang sangat dingin pada
pagi hari, sehingga lutung perlu penyesuaian diri dengan melakukan pergerakan
untuk meningkatkan panas tubuhnya agar tidak kedinginan. Aktivitas lain yang
dilakukan setelah lutung bangun pagi adalah aktivitas istirahat, gerak dan sosial.










Gambar 5 Diagram Persentase Frekuensi Tingkah Laku Trachypithecus auratus

Berdasarkan hasil pengamatan yang terdapat pada diagram menunjukan
bahwa aktivitas tertinggi pada Trachypithecus auratus usia dewasa adalah
istirahat dengan frekuensi 31,38%. Salah satu kegiatan yang disukai adalah
bergelantungan sambil mengamati keadaan sekitar, sambil melompat-lompat di
batang pohon. Pada usia remaja adalah istirahat dengan frekuensi 66,67%.
Salah satu posisi istirahat yang paling umum dilakukan oleh lutung adalah duduk
serta bergelantungan di atas pohon yang ada di Kebun Raya Cibodas.
Salah satu penyebab tingginya aktivitas istirahat disebabkan oleh suhu
udara yang tinggi. Menurut Sukandar (2004) habitat alami lutung kisaran suhu
maksimum sebesar 30C. Hal ini sesuai dengan penelitian Wirdateti (2009) yang
menunjukan bahwa aktivitas istirahat merupakan persentase terbesar yaitu
sebesar 31,9%. Lutung melakukan aktivitas istirahat karena hal ini penting
dilakukan oleh lutung dan primata lainnya untuk mencerna dedaunan yang
dikonsumsinya (Alikodra, 1990). Biasanya, aktivitas istirahat pada lutung ini
dilakukan ketika selesai makan, suhu udara tinggi dan sore hari.
Selain itu, aktivitas tertinggi pada lutung adalah bergerak dengan persentase
sebesar 31,58% pada lutung dewasa sedangkan 50% pada bayi. Hal ini lebih
ditujukan untuk mencari sumber pakan, melindungi kelurga dan menjaga
teritorinya. Sedangkan pada bayi lutung, melakukan pergerakan merupakan
salah satu proses belajar dari lutung tersebut.





Diagram 6 Persentase Durasi Waktu Tingkah Laku Trachypithecus auratus

Berdasarkan hasil pengamatan yang terdapat pada diagram menunjukan
bahwa durasi waktu terlama pada Trachypithecus auratus usia dewasa adalah
istirahat dengan presentase 65,25%. Hal itu dikarenakan Trachypithecus auratus
usia dewasa lebih banyak menghabiskan waktu untuk beristirahat. Durasi waktu
terlama pada usia remaja adalah istirahat dengan frekuensi 55,03% dan durasi
waktu terlama pada bayi adalah istirahat dengan frekuensi 55,55%. Salah satu
posisi istirahat yang paling umum dilakukan oleh lutung adalah duduk serta
bergelantungan di atas pohon yang ada di Kebun Raya Cibodas.

KESIMPULAN
Kepadatan populasi monyet ekor panjang di Kebun Raya Cibodas adalah 36
ekor sedangkan lutung jawa sebanyak 12 ekor. Sedangkan frekuensi aktivitas
harian monyet ekor panjang yang paling banyak dilakukan oleh monyet dewasa
adalah bergerak (35.71%), pada monyet remaja adalah bergerak (38.29%), pada
monyet anak-anak adalah sosial (66.67%), sedangkan pada anak-anak adalah
istirahat dan gerak sebesar 50%. Sedangkan pada lutung jawa, frekuensi
aktivitas harian yang paling banyak dilakukan oleh monyet dewasa adalah
istirahat (31,38%), lutung jawa usia remaja adalah istirahat (6,67%) dan bayi
istirahat (50%).






DAFTAR PUSTAKA

Riendrisari, S. D. 2009. Tingkah laku owa jawa (Hylobates moloch) di fasilitas
penangkaran pusat studi satwa primata. Institut Pertanian Bogor.
Jurnal Primatologi Indonesia vol. 6. No. 1 Juni 2009. Penerbit
Pusat Studi Satwa Primata LPPM-IPB.
Crockett & Wilson. 1980 dalam Farida, Hilda. 2008. Aktivitas Makan Monyet Ekor
Panjang (Macaca fascicularis) di Bumi Perkemahan Pramuka
Cibubur. Jakarta: Bogor. Skripsi Sarjana Biologi Institut Pertanian
Bogor

Asnawi, E. 1991. Studi Sifat-Sifat Biologis Kukang (Nycticebus coucang). Skripsi.
Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor
Rowe, N. 1996. The Pictorial Guide to The Living Primatas. Pogonias Press :
New York.
Santosa, Y. 1996. Beberapa Parameter Bioekologi Penting dalam Pengusahaan
Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis), Media Konservasi, 5
(1). Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.
Sutardi, T. 1980. Landasan Ilmu Nutrisi. Jilid 1. Depatemen Ilmu Makanan
Ternak Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Wirdateti. 2009. Perilaku Harian Lutung di Penangkaran Pusat Penyelamatan
Satwa Gadog, Ciawi-Bogor. Jurnal Fauna Tropika Vol. 18 No.1
Fuadi, Z. 2008. Perbandingan Aktivitas Harian Lutung Jawa di Pusat
Penyelamatan Satwa (PPS) Petungsewu dan Suaka Margasatwa
Dataran Tinggi Hyang. Skripsi Sarjana Biologi UIN Malang
Goltenboth, F. 2012. Ekologi Asia Tenggara Kepulauan Indonesia. Jakarta:
Salemba Kartika