Anda di halaman 1dari 10

Aplikasi Fluid Mixing di Industri

1. Aplikasi Fluid Mixing pada Water Treatment Plant


Pengadukan (mixing) merupakan suatu aktivitas operasi pencampuran dua
atau lebih zat agar diperoleh hasil campuran yang homogen. Pada media fase cair
pengadukan ditujukan untuk memperoleh keadaan yang turbulen (bergolak).
Aplikasi pada bidang teknologi lingkungan, pengadukan digunakan untuk proses
fisika seperti pelarutan bahan kimia dan proses pengentalan (thickening), proses
kimiawi seperti koagulasi, flokulasi, dan disenfeksi proses biologis untuk
mencampur bakteri dan air limbah.
Koagulasi merupakan proses destabilisasi koloid dan partikel dalam air
dengan menggunakan bahan kimia (koagulan yang menyebabkan pembentukan
inti gumpalan (prespitat). Proses koagulasi hanya dapat berlangsung apabila ada
pengadukan. Flokulasi merupakan proses penggambungan inti flok menjadi flok
dengan ukuran yang lebih besar. Suatu larutan koloidal yang mengandung
partikel-partikel kecil dan koloid dapat dianggap stabil bila :
1) Partikel-partikel kecil ini terlalu ringan untuk mengendap dalam waktu yang
pendek (beberapa jam)
2) Partikel-partikel tersebut tidak dapat menyatu, bergabung dan menjadi partikel
yang lebih besar dan berat, karena muatan elektris pada permukaan
elektrostatis antara partikel satu dengan lainnya.
Koagulan yang dapat digunakan antara lain:
1) Alumunium Sulfat (Al
2
(SO
4
)
3
), atau dikenal dengan nama tawas, merupakan
koagulan yang sering digunakan karena harganya murah dan mudah diperoleh.
pH optimum untuk proses koagulasi dengan tawas adalah sekitar 6,5-7,5. Bila
pH air yang akan dikoagulasi lebih kecil dari 6,5 atau lebih besar dari 7,5, perlu
dilakukan penaikkan atau penurunan pH terlebih dahulu, misalnya dengan
penambahan kapur.
2) Senyawa besi, seperti FeCl
3
dan FeSO
4
. FeCl
3
dapat digunakan untuk air yang
mengandung hidrogen sulfida. molekul Fe pada alum yang bermuatan positif,
akan menetralkan muatan koloid yang biasanya bermuatan negatif.
TUGAS KHUSUS
ANDRE TIOFAMI
03111003073
3) PAC (Poli Alumunium Chloride)
Dengan pembubuhan koagulan, maka stabilitas larutan koloidal yang
mengandung partikel-partikel kecil dan koloid akan terganggu karena molekul-
molekul koagulan dapat menempel pada permukaan koloid dan mengubah muatan
elektrisnya. Misalnya molekul Al pada alum yang bermuatan positif, akan
menetralkan muatan koloid yang biasanya bermuatan negatif. Faktor-faktor yang
mempengaruhi proses koagulasi :
1) Kualitas air
2) Jumlah dan karakteristik partikel koloid
3) pH
4) Pengadukan cepat, waktu pengadukan, dan kecepatan paddles
5) Temperatur
6) Alkalinitas
7) Karakteristik dari ion-ion di dalam air
Tujuan dari koagulasi dan flokulasi adalah untuk mengubah partikel-partikel
kecil seperti warna dan kekeruhan menjadi flok yang lebih besar, baik sebagai
presipitat ataupun partikel tersuspensi. Flok-flok ini kemudian dikondisikan
sehingga dapat disisihkan dalam proses berikutnya. Secara teknis, koagulasi
berlaku bagi penyisihan dari partikel koloid yaitu partikel yang biasanya
berukuran 0,001-1 m seperti asam humus, tanah liat, virus dan protein.
Pengadukan pada proses koagulasi dan flokulasi merupakan pemberian energi
agar teradi tumbukan antar partikel tersuspensi dan koloid agar terbentuk flok
sehingga dapat dipisahkan melalui proses pengendapan dan penyaringan.
Proses pembentukan flok adalah sebagai berikut:
1) Destabilisasi partikel koloid
2) Pembentukan mikroflok
3) Penggabungan mikroflok
4) Pembentukan makroflok
Faktor penting pada proses koagulasi-flokulasi adalah pengadukan.
Berdasarkan kecepatannya, pengadukan dibedakan menjadi dua,yaitu pengadukan
cepat danpengadukan lambat. Kecepatan pengadukan dinyatakan dengan gradien
kecepatan(G), yang merupakan fungsi dari tenaga yang disuplai (P):


Keterangan:
P = suplai tenaga ke air (N.m/detik)
V = volume air yang diaduk, m3
m = viskositas absolut air, N.detik/m2.
2. Proses mixing dalam pembuatan deterjen
2.1. Spray-drying
Spray-drying merupakan proses modern dalam pembuatan deterjen bubuk
sintetik dimana dalam spray-drying terjadi proses pengabutan dan dilanjutkan
proses pengeringan. Gambaran proses pembuatan slurry Alat pengangkut
(conveyor) mengumpulkan terus menerus padatan yang telah ditimbang sebelum
membawa padatan tersebut ke crutcher slurry. Crutcher slurry juga menerima
komponen komponen liquid yang mengalir secara tetap dari damper yang
mengumpulkan berbagai umpan. Ketika formula padat, meliputi senyawa sulfon
anionic dan sabun, asam lemak dan asam sulphonic dinetralisasikan dengan alkali
dalam mixer sebelum umpan dikirim/dimasukkan ke dalam crutcher slurry.
Dalam beberapa kasus, ketika tidak ada reaksi yang diharapkan dari komponen
lain, asam menjadi umpan dan dinetralisaikan secara langsung didalam crutcher
slurry yang dalam kasus ini bagian dalam dari crutcher slurry harus terbuat dari
bahan bahan stainless steel 304 agar bagian dalamnya tidak rusak akibat asam.
Crutcher slurry merupakan mixer dengan kecepatan putaran yang tinggi yang
didesain untu penguraian fine dan membuat campuran menjadi homogen.
Pengoperasian crutcher juga mencegah penumpukkan dan pembentukan
gumpalan gumpalan padat yang dapat menyumbat pipa aliran umpan. Dari
crutcher, slurry kemudian di transfer menuju vessel aging, dimana campuran
tersebut dihomogenasasi lebih lanjut dan diatur berdasarkan derajat hidrosin yang
dari garam anorgonik yang diperlukan seperti soda ash, natrium sulfat, dan
sodium tripolyphosphate yang ada dalam formula. Selanjutnya setelah slurry
terbentuk barulah masuk ke spray drying tower
Produk yang dikeringkan dalam bentuk hollow bead dikumpulkan pada
bagian atas menara spray drying dan didinginkan serta dikristalisasikan melalui
sistim pembawa airlift dengan aliran udara dingin. Setelah pengankutan udara
bubuk dasar disaring dan diberikan pengharum dan akhirnya dicampur dengan
komponen-komponen yang sensitif terhadap suhu atau zat adiktif yang kemudian
di simpan dalam silo dan akhirnya di bawa ke mesin pengepak poduk.
2.2. Aglomerasi
Aglomerasi identik dengan pengumpulan pada satu tempat yang sama. Secara
fisis aglomerasi adalah cara untuk memperbesar ukuran partikel yaitu dengan
menyatukan partikel-partikel kecil agar partikel lebih berat dan mudah
mengendap.Dalam arti luas aglomerasi adalah istilah yang mencakup semua
proses di mana partikel halus, terdispersi baik gas atau cairan, untuk membentuk
produk kasar.
Jadi Aglomerasi adalah suatu proses penggumpalan dari partikel-partikel
yang kecil atau halus menjadi partikel yang besar atau kasar. Koleksi partikel
yang dihasilkan disebut aglomerat (gumpalan) atau granul. Aglomerasi ini dapat
dilakukan pada ore/bijih, konsentrat, juga partikel-partikel yang telah mengalami
roasting. Untuk pekerjaan selanjutnya yang telah ditentukan. Produk / hasil dari
agglomerasi ini memperkuat sifat mekanis dari partikel yang mengalami
agglomerasi.
Proses aglomerasi merupakan proses pembuatan deterjan bubuk sintesis yang
memiliki densitas yang tinggi dengan cara pencampuran material-material kering
dengan bahan-bahan cairan yang dibantu dengan adanya bahan pengikat cairan
yang kemudian bercampur yang menyebabkan bahan-bahan tadi bergabung satu
sama lain yang membentuk partikel-partikel berukuran besar.
Proses aglomerasi dapat di gambar kan seprti proses penimbunan atau
penumpukan dari komponen dari bubuk menjadi cairan dan menjadi butir atau
granula. Tahap-tahap pemprosesan non tower balestra untuk untuk produksi
deterjen bubuk berdasarkan pada proses aglomerasi. Diantara berbagai tahap
proses tersebut, aglomerasi memperlihatkan operasi yang sangat penting dan
kritis, karena proses tersebut dihubung kan ke struktur fisik dan pada saat yang
sama,di hubungkan ke komposisi kimia dari produk.
Proses aglomerasi juga merupakan proses spray-drying dengan dry mixing
atau blending. Konsentasi air proses yang digunakan anatara 35-40% dalam
crutcher slurry. Dalam aglomerasi cairan disemprotkan keatas secara continue.
Komponen-komponen atau bahan yang digunakan dalam aglomerasi meliputi
slikat deterjen aktif dan air yang digunakan sebagai cairan dalam aglomerasi.
2.3. Dry Mixing
Material kering (dry material) yang digunakan untuk membuat deterjen
bubuk ditimbang dan selanjutnya dimasukkan kedalam mixer, pencampuran
dilanjutkan selama 1-2 menit dan ditambahkan slurry selama 3-4 menit.
Setelah semua slurry dimasukkan kedalam mixer, pencampuran dilanjutkan
selama 1-2 menit agar menjadi homogen. Sebagian besar dari bubuk yang
terbentuk dapat dikemas dengan segera setelah selesai atau setelah 30 menit
penyimpanan.
2.4. Hidrolisis dari lilin ester
Alkohol lemak pertama kali diperoleh dari hidrolisis lilin ester yang berasal
dari binatang, terutama spermaceti dari sperma ikan paus. Karena kutukan di
seluruh dunia atas ikan paus yang diburu, sehingga sumber ini tidak lagi tersedia.
Lilin spermaceti dipisahkan dengan cara pemanasan menggunakan NaOH pekat
diatas 300
0
C, lalu alkohol didistilasi dari sabun sodium. Hasil Sulingan (distilat)
mengandung alkohol tak jenuh C
16
-C
20
. Untuk mencegah terjadinya auto-oksidasi,
distilat ini dikeraskan dengan hidrogenasi katalitik.. Alkohol yang diperoleh jika
minyak sperma hanya mengandung 70 % wax ester, mencapai yield 35 %,
kemudian hasilnya dipisahkan dalam distilasi vakum dari sabun dan air yang
terbentuk. Produk utama terdiri dari : cetyl, oceyl, dan alkohol arachidyl
2.5. Proses reduksi sodium
Larutan sodium didispersikan dalam pelarut inert lalu ditambahkan ester
kering dan alkohol dengan hati-hati. Saat reaksinya komplit, oksidanya dipecah
dengan pengadukan dalam air, kemudian alkoholnya dicuci dan didistilasi.
Penambahan Alkohol R (sebaiknya alkohol sekunder), bertindak sebagai
donor hydrogen. Karena adanya reaksi samping , pemakaian sodium bias jadi di
atas 20 % dari kebutuhan stoikiometri. Reduksi berjalan selektif tanpa pembuatan
hidrokarbon dari isomerisasi atau hidrogenasi ikatan rangkap.
2.6. Proses Zieglar Menggunakan Etilen
Alkohol lemak dari proses ii mempunyai struktur yang sama dengan alkohol
lemak alami. Proses ini dibagi dalam dua proses yaitu proses alfol dan proses
Epal.
1. Proses Alfol.
Hidrokarbon digunakan sebagai pelarut. Proses ini melalui lima tahap yaitu :
a. Hidrogenasi
2Al(CH
2
CH
3
)
3
+ Al + 1,5 H
2
3 Hal(CH
2
CH
3
)
3
b. Etilasi
3HAl(CH
2
CH
3
)
3
+ 3 CH
2
=CH
2
3 Al(CH
2
CH
3
)
3
2/3 hasil proses di recycle ke proses hidrogenasi masuk ke reaksi
perkembangan

c. Reaksi perkembangan (growth Reaction)
d. Oksidasi
e. Hidrolisa
2. Proses Epal
Proses ini mempunyai langkah-langkah yang hampir sama dengan proses
alfol. Fleksibilitas Proses ini lebih besar dibandingkan dengan prose alfol.
Alkohol dan - olefin yang terbentuk bias dipasarkan. Namun modal dan biaya
yang dibutuhkan jjuga lebih besar , karena membutuhkan proses control yang
lebih kompleks dan penambahan olefin dan alkohol rantai bercabang.
2.7. Proses Oxo menggunakan Olefin
Proses oxo (hidroformilasi) terdiri dari reaksi antara olefin dengan campuran
gas H
2
-CO dan katalis yang cocok..
CH
3


2R CH=CH
2
+ 2CO + 2H
2
R-CH
2
CH
2
-CHO + R-CH-CHO
Yield - olefin diperkirakan sama dengan jumlah aldehid rantai lurus dan
bercabangnya. Proses oxo dapat dilakukan dengan tiga cara berikut :
1) Proses klasik dengan menggunakan katalis HCO(CO)
4

2) Proses Shell berdasarkan kompleks kobalt karbonil phosphine
3) Proses menggunakan Katalis Rhodium
Langkah- langkah pada proses klasik yaitu reaksi oxo, pemisahan katalis dan
regenerasi, hidrogenasi aldehid dan distilasi alkohol.
2.8. Hidrogenasi Katalistik dari asam lemak dan metil Ester
Proses ini biasanya digunakan untuk memproduksi alkohol lemat tak jenuh
pada skala besar. Katalis yang digunakan dalam kompleks dari Cu
2+
dan Cu
3+

.Adapun reaksinya adalah sebagai berikut :
RCOOCH
3
+2 H
2
RCH
2
OH + CH
3
OH dengan katalis CuCr
RCOOH + 2H
2
RCH
2
OH + H
2
O dengan katalis CuCr
2.9. Hidrogenasi Langsung dari minyak dan Lemak
Suatu proses yang terakhir, yang dikembangkan dan dipatenkan oleh Henkel
KGaA, yaitu direct hydrogenation dari minyak alami atau trigliserida. Proses ini
melalui dua tahap reaksi. Tahap reaksi ersebut diantaranya adalah:
1) Esterifikasi asam lemak dan alkohol lemak menghasilkan Ester dan Air
2) Hidrogenasi ester menghasilkan dua mol Alkohol lemak
Kedua reaksi ini berlansung simultan pada reaktor yang sama. Reaktor yang
digunakan adalah reaktor bertekanan tinggi yang berguna sebagai pemanas awal
bagi material umpan asam lemak. Resirkulasi alkohol lemak dan katalis Slurry ,
dan gas hydrogen yang diumpankan secara terus menerus . proses ini berlansung
pada kondisi P = 30.000 KPa dan T = 280
0
C
Hidrogenasi langsung asam lemak tidak digunakan dalam skala industri besar
karena kebutuhan temperature reaksi yang lebih tinggi menghasilkan yield yang
lebih rendah dan karena dapat merusak katalis. Secara konvensional, asam lemak
dikonversi terlebih dahulu menjadi ester sebelum dihidrogenasi.
Asam lemak dimasukkan ke dalam alkohol lemak bervolume besar yang
sedang berputar. Volume alkohol lemak adalah lebih dari 250 kali volume asam
lemak, sehingga esterifikasi berpengaruh cepat tanpa adanya efek merusak oleh
katalis.
2.9.1. Proses Hidrogenasi Tekanan Tinggi
Metil ester yang telah difraksionasi dapat diubah menjadi alkohol lemak
dengan proses hidrogenasi dengan tekanan tinggi dengan menggunakan katalis
CuCr.
CuCr juga membentuk carbon berikatan ganda yang tidak jenuh sehingga
hanya alkohol lemak jenuh yang terbentuk. Jika diinginkan hasil berupa alkohol
lemak tak jenuh, diperlukan katalis zinc.
Proses hidrogenasi terjadi pada tekanan 25.000-30.000 kPa dan temperature
antara 250
0
C-300
0
C di dalam sebuah kolom tubular. Berdasarkan perlakuan
terhadap katalis, proses hidrogenasi dibedakan atas suspension process dan fixed
bed process.
2.9.2. Suspension Process
Katalis dan sejumlah kecil metil ester diumpankan ke dalam reaktor
bersamaan dengan sisa ester. Metil ester dan gas hydrogen dipanaskan secara
terpisah. Katalis CuCr yang direaksikan dengan sejumlah kecil metil ester
dimasukkan bersamaan dengan metil ester dan gas hydrogen yang telah
dipanaskan, ke dalam reaktor tubular, konsentrasi katalis dalam system setidaknya
2 % umpan yang digunakan kira-kira 20 mol gas hydrogen per mol ester. Gas
hydrogen mengakibatkan gelembung yang membantu proses agitasi reaktan.
Reaksi dijaga pada tekanan 25.000-30.000 kPa dan suhu 250
0
-300
0C
. selama
proses eksotermik berlabgsung, suhu reaksi harus dijaga untuk mengurangi reaksi
samping berupa pembentukan hidrokarbon yang tidak diinginkan. Dari kolom,
campuran reaksi didinginkan, memisahkan gas hydrogen dari campuran alkohol-
metanol. Gas hydrogen di recycle, dan campuran alkoho-metanol dialirkanke unit
methanol stripping, pada tekanan yang lebih rendah, methanol dipisahkan, di
recycle untuk proses esterifikasi. Alkohol lemak mentah disaring untuk
memisahkan katalisnya sebagian besar katalis di recycle, sehingga terpakai rata-
rata 0,5-0,7% alkohol yang dihasilkan.
Alkohol yang disaring kemudian ditreatment dengan soda pekat untuk
membentuk sabun dengan ester yang tidak bereaksi. Alkohol didistilasi untuk
menghilangkan hidrokarbon yang terbentuk. Sabun tertinggal di dasar kolom
2.9.3. Fixed Bed Process
Reaki terjadi dalam fasa uap dimana umpan organic diuapkan dalam gas
hydrogen berlebih (20-25 mol) melalui pemanas sebelum melewati fixed catalyst
bed. Hidrogenasi berlangsung pada takanan 20.000-30.000 kPa dan suhu 200
0
-
250
0
C. campuran reaksi yang meninggalkan reaktor didinginkan dan dipisahkan
menjadi fasa gas dan cair. Fase gas, kebanyakan berupa kelebihan hydrogen,
direcycle, fasa cair diekspansi ke tangki untuk menghilangkan methanol dari
alkohol lemak.
Pengoperasian kondisi termasuk mudah, oleh karena itulah produksi
alkohol lemak tidak memerlukan proses selanjutnya. Hasil keseluruhannya adalah
99% dengan hidrokarbon dan ester yang tidak melebihi 1,0%. Penggunaan katalis
diusahakan dibawah 0,3%.
















Daftar Pustaka

Anonim. 2012. Tangki Berpengaduk. (online). (http://akademik.che.itb.ac.id
/labtek/wp-content/uploads/2012/05/tdk-tangki-berpengaduk.pdf. (Diakses
tanggal 13 maret 2014)
Budhiarto, Budi. 2002. Operating Manual and Process. Surabaya: PT. Lion.
Distantina, Sperisa. 2011. Fluid Mixing and Aglomeration Process. Solo:
Universitas Negeri Solo.
Firdaus, Muhammad (2011). Dasar-dasar perpindahan massa. Sumber
http://www.imuzcorner.com/ 2012/11/dasar-perpindahan-massa.html.
Diakses pada 10 Maret 2014.
Hanum, Farida. 2002. Proses Pengolahan Air Sungai untuk Air Minum.
(online).(http://repository.usu.ac.id. Diakses pada 15 Maret 2014)
RL, Huntington. 1960. Fluid Mixing and Application. New York: Mc Graw Hill
Company