Anda di halaman 1dari 38

1

BAB I
PENDAHULUAN



1.1. Latar Belakang
Praktik Kerja Lapangan atau PKL merupakan kegiatan untuk mengenalkan
dunia kerja industri yang sebenarnya pada mahasiswa/i. Kegiatan ini diharapkan
mampu mempersiapkan mahasiswa apabila memasuki dunia kerja setelah lulus
dari perguruan tinggi masing masing. PKL juga diharapkan agar mahasiswa bisa
mengintrospeksi diri akan kekurangan yang ada dalam diri mereka, baik itu dalam
bidang keilmuan maupun sosialisasi dengan lingkungan.
PT Semen Baturaja (persero), Tbk yang selanjutnya disebut PTSB,
merupakan BUMN produsen semen portland yang menguasai pangsa pasar
hampir seluruh Sumatera Selatan hingga Lampung. Kualitas dari Semen Baturaja
ini telah mendapatkan pengakuan internasional dari lembaga International
Standard Organization atau biasa disebut ISO, karena prosesnya yang
mengutamakan kualitas.
Prestasi dan kualitas dari PTSB inilah yang mendasari pengambilan
program kerja praktek industri dengan judul Perawatan dan Perbaikan pada
Mesin Limestone Crusher dan Clay Crusher di PT Semen Baturaja (persero),
Tbk.

1.2. Ruang Lingkup Praktik Kerja Lapangan
Selama kegiatan Praktik Kerja Lapangan, terdapat ruang lingkup kegiatan
yang bertujuan untuk memfokuskan pembahasan yang mencakup beberapa hal,
diantaranya:
a. Proses pembuatan semen, dari bahan mentah hingga packing, dalam
lingkup kegiatan pengenalan PT Semen Baturaja (persero), Tbk.
b. Secara khusus mempelajari proses penumbukandan penghalusan
batubara di PT Semen Baturaja
2

c. Mengikuti proses Shutdown Maintenance di PT Semen Baturaja
d. Mengenal dan mempelajari alat instrumentasi yang digunakan dalam
proses produksi serta perawatan dan perbaikan di area Coal Mill, PT
Semen Baturaja

1.3. Tujuan dan Manfaat Praktik Kerja Lapangan
a. Tujuan
Praktik Kerja Lapangan di PT Semen Baturaja ini bertujuan untuk
memahami secara singkat proses produksi semen portland dari bahan
mentah hingga packing. Secara spesifik, kegiatan ini bertujuan untuk
mempelajari cara perawatan dan perbaikan mesin Atox Mill di PT
Semen Baturaja (Persero), Tbk.

b. Manfaat
- Bagi Peserta Kerja Praktek
Manfaat yang dirasakan mahasiswa ialah mendapat
pengetahuan dan pengalaman baru terkait proses produksi semen
portland, khususnya di PT Semen Baturaja (persero), Tbk.

- Bagi Perusahaan
Perusahaan mengetahui kemampuan peserta sehingga dapat
dijadikan tolak ukur kesesuaian antara standard kelas yang
digunakan dengan keadaan sesungguhnya di lapangan. Selain itu,
terciptanya hubungan baik antara pihak perusahaan dengan
perguruan tinggi.






3

1.4. Sistematika Penulisan Laporan
Dalam penulisan laporan ini berisi tentang:
1. Bab I, Pendahuluan
Merupakan penjelasan dari latar belakang kegiatan kerja praktik,
tujuan dari pelaksanaan, serta sistematika penulisan laporan.
2. Bab II, Tinjauan Perusahaan
Merupakan deskripsi dari sejarah perusahaan, struktur
organisasi,lokasipabrik, proses produksi serta pemasaran PT Semen
Baturaja(Persero),Tbk.
3. Bab III, Landasan Teori
Merupakan penjelasan dari kegiatan perawatan dan perbaikan,
yaitu pengertian perawatan dan perbaikan, tujuan perawatan dan
perbaikan, teknik perawatan dan perbaikan, macam macam perawatan
dan perbaikan, pengertian coal mill, pengertian bearing, klasifikasi
bearing, macam macam bearing
4. Bab IV, Pelaksanaan Kegiatan
Merupakan bagian dari persiapan berupa alat dan bahan, proses
perawatan dan perbaikan, serta pengujian setelah perawatan.
5. Bab V, Kesimpulan dan Saran
Merupakan hasil dari kegiatan perawatan dan perbaikan yang
dilakukan, serta masukan yang membangun untuk perusahaan.









4

BAB II
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN



2.1. Sejarah Perusahaan
PT Semen Baturaja (Persero),Tbk didirikan pada tanggal 14 November
1974 oleh PT. Semen Gresik dengan saham 45% dan PT. Semen padang 55%.
Pada tanggal 9 November 1979 status Perusahaan berubah dari Penanaman
Modal Dalam Negeri (PMDN) menjadi Persero dengan komposisi saham
Pemerintah Republik Indonesia 88%, PT. Semen Padang 7% dan PT. Semen
Gresik 5%. Sejak tahun 1991 diambil alih secara keseluruhan oleh Pemerintah
Republik Indonesia.
Produksi yang di hasilkan oleh PT Semen Baturaja (Persero),Tbk adalah
Semen Portland Type I dan Semen Portland Komposit (SPK) dengan lokasi
pabrik di Baturaja, Palembang dan Panjang. Pusat Produksi terletak di
Baturaja yaitu Produksi Terak. Sedangkan proses penggilingan dan
pengantongan semen selain dilaksanakan di Pabrik Palembang dan panjang
yang selanjutnya siap untuk didistribusikan ke daerah-daerah pemasaran.
Untuk penyempurnaan peralatan yang sudah ada dalam rangka pencapaian
kapasitas tepasang yaitu sebesar 500.000 ton semen per tahun, sekaligus
persiapan untuk meningkatkan kapasitas terpasang PT Semen Baturaja
(Persero) melaksanakan Proyek Optimalisasi I (OPT l). proyek ini dimulai
tahun 1992 dan selesai tahun 1994 dengan kapasitas terpasang meningkat
menjadi 550.000 ton semen per tahun.
Sebagai tindak lanjut proyek OPT I, pada tahun 1996 Perseroan
melaksanakan Proyek Optimalisasi ll (OPT ll), untuk meningkatkan kapasitas
menjadi sebesar 1.250.000 ton semen per tahun. Proyek OPT ll selesi tahun
2001 dan telah berproduksi sampai dengan sekarang.
5

Bahan baku produksi berupa Batu Kapur dan Tanah Liat diperoleh dari
pertambangan Batu Kapur dan Tanah Liat milik Perseroan yang berlokasi
hanya 1,2 km dari pabrik di Baturaja.
Sedangkan bahan baku pendukung seperti Pasir Silika diperoleh dari
tambang rakyat disekitar Baturaja, Pasir Besi diperoleh dari tambang rakyat di
provinsi Lampung, gypsum dibeli dari Petro Kimia Gresik dan impor dari
Thailand, sedangkan kantong semen diperoleh dari produsen kantong jadi di
dalam negeri.
Pada tanggal 20 juni 2004 PT Semen Baturaja (Persero),Tbk. menerbitkan
Obligasi I sebesar Rp. 200 milyar. Emisi obligai ini merupakan program
lanjutan Restrukturisasi keuangan dalam rangka meningkatkan profitabilitas
sekaligus likuiditas Perusahaan.
Daerah pemasaran utama PT Semen Baturaja (Persero),Tbk. adalah
Sumatra Selatan dan Lampung merupakan wilayah di Indonesia yang
menikmati pertumbuhan ekonomi yang cukup baik dan stabil. Pada tahun
2012, pertumbuhan nasional mencapai 6,3 % sedangkan rata-rata
pertumbuhan Sumbagsel mencapai 6 %. Hal ini memberi peluang bagi Semen
Baturaja untuk meningkatkan penjualan dan mencapai kapasitas terpasang.
Setelah diselesaikannya penambahan kapasitas produksi pada tahun 2001,
peluang untuk meningkatkan pendapatan di masa datang terbuka lebar. Selain
itu secara historis kamampuan perusahaan dalam mengelola masalah
operasional dan menjaga profitabilitas operasi terbukti cukup baik.
Dalam menyalurkan produknya Perusahaan menggunakan distributor
dengan jaringan yang tersebar di seluruh wilayah Sumatra Selatan, Lampung,
Jambi, Bengkulu, Banten dan sekitarnya. Sebagian besar penjualan atau
transaksi Perusahaan dilakukan dalam bentuk tunai, sedangkan untuk
penebusan semen secara kredit para distributor di wajibkan untuk
menyediakan jaminan dalam bentuk bank garasi dan/atau bentuk jaminan
lainnya.
6

Keberadaan PT Semen Baturaja (Persero) banyak memberikanj manfaat
baik langsung maupun tidak langsung, berupa pajak dan retribusi kepada
Pemerintah Pusat dan Daerah,


2.2. Kegiatan Operasional
Kegiatan operasional di PT Semen Baturaja (Persero), Tbk ini memiliki 6
tahapan. Keenam tahapan itu adalah:
1. Penambangan
Metode penambangan yang dilakukan PT Semen Baturaja
(Persero), Tbk bersifat tambang terbuka. Pada penambangan ini
diperoleh bahan baku utama, yaitu batu kapur (limestone) dan tanah liat
(clay). Adapun metode ini dipakai karena deposit batu kapur terletak
pada daerah yang mendatar, sehingga tempat kerja (front) digali ke arah
bawah dan membuat cekungan (pit) atau kawah. Metode penambangan
seperti in disebut The Pit Quarry.











Gambar 2.1. Pit Type Quarry



7

1.1. Penambangan Batu Kapur (Limestone)
Penambangan batu kapur terletak di 1400 [m] ke arah barat
daya dari lokasi pabrik. Area penambangan dengan luas 51,5 [ha]
ini memiliki ketebalan tanah penutup (overburden) rata rata 4
[m]. Aktifitas penambangan batu kapur meliputi beberapa bagian,
antara lain:
Clearing (pembersihan)
Stripping of Burden (pengupasan tanah penutup)
Drilling (pengeboran)
Blasting (peledakan)
Loading and Hauling (pemuatan dan pengangkutan)

1.2. Penambangan Tanah Liat (clay)
Penambangan tanah liat berlokasi di dekat tambang batu kapur,
memiliki luas 27,4 [ha] dengan sistem penggalian dari atas.
sistem dan langkah langkah penambangan ini hampir sama
dengan penambangan batu kapur, hanya saja pada penambangan
tanah liat tidak dilakukan drilling dan blasting karena material
tanah liat tidak keras dan mampu diangkut secara langsung oleh
alat berat.
Selain batu kapur dan tanah liat, semen juga memerlukan pasir
silika yang dibeli dari penambangan rakyat dan pasir besi yang
didapat dari perusahaan metalurgi. Kedua bahan tersebut digunakan
sebagai bahan koreksi pada bahan mentah utama yang kekurangan
SiO2 dan Fe2O3.





8

2. Crusher
Setelah proses penambangan selesai, barulah bahan baku berupa
batu kapur dan tanah liat direduksi ukurannya menjadi lebih kecil. Batu
kapur dari tambang, dikumpulkan didalam limestone hopper lalu
diangkut oleh apron feeder menuju ruang crushing. Crusher yang
digunakan jenis Single Shaft Hammer Crusher. Setelah melalu proses
crushing batu kapur yang telah berukuran kecil tadi diangkut
menggunakan belt conveyor menuju tempat penyimpanan batu kapur.
Limestone Crusher tersebut memiliki kapasitas 650 [ton/jam]. Adapun
pada tanah liat, dihancurkan menggunakan mesin Roller Crusher sampai
berukuran 35 [mm] untuk selanjutnya diangkut menggunakan belt
conveyor dan disimpan di Clay Storage. Clay Crusher memiliki
kapasitas sebesar 450 [ton/jam].










Gambar 2.2. Double Roller Hammer Crusher

Tujuan dari proses penghancuran ini agar memudahkan masuknya
material pada proses selanjutnya. Dan tujuan dari penyimpanan tersebut
untuk mengatur kapasitas bahan yang masuk, dikarenakan pabrik semen
ini menggunakan sistem continue dimana proses penyimpanan
dimaksudkan untuk menghindari kurangnya pasokan bahan baku.

9

3. Rawmill
Pada proses Rawmill ini meliputi beberapa bagian antara lain
proses pengambilan bahan mentah berupa batu kapur dari ruang
penyimpanan (Limestone Storage), selanjutnya masuk kedalam Bin
Limestone yang kemudian ditimbang pada alat Dosimat Feeder untuk
selanjutnya dicampur dengan tanah liat dan bahan koreksi berupa pasir
besi dan silika.
Kemudian bahan baku tersebut diangkut menggunakan Belt
Feeding, dimasukkan kedalam Vertical Mill untuk digiling dan
dikeringkan. Produk dari vertical mill ini disebut Rawmeal, disimpan di
CF SILO.

















Gambar 2.3. Rawmill / Vertical Mill.



10

4. Pembakaran
Dari CF SILO, material masuk kedalam Cyclone Pre-heater.
Didalam Pre-heater ini material mendapatkan perlakuan panas awal
dengan suhu berkisar 300 [C] yang dihasilkan oleh mesin burner dan
pemanasan Kiln. Pre-heater ini mempunyai 4 tingkatan (Stage I, II, III,
IV). Pada saat Rawmeal masuk ke stage I, campuran Rawmeal dan gas
dipisahkan melalui stage raw material chute dan connecting duct.
Didalam cyclone stage II, rawmeal mendapat panas dengan suhu sekitar
350 [C]. Selanjutnya rawmeal diteruskan menuju cyclone III dan IV.
Didalam cyclone IV ini panas mencapai suhu 800 [C]. Proses yang
terjadi selama cyclone I IV ini memakan waktu 20 [s] dan selama
itu, kiln telah menghasilkan panas dengan temperatur hingga 1000
1500 [C]. Setelah rawmeal melewati tahapan pre-heater, maka
rawmeal mengalami proses pembakaran dengan suhu 1000 1500 [C].









Gambar 2.4. Rotary Kiln.
Selanjutnya hasil pembakaran yang disebut clinker keluar dari kiln,
didinginkan secara mendadak didalam Grate Cooler, karena mengalami
pendinginan mendadak, clinker menjadi gumpalan gumpalan yang
mudah hancur dan melalui proses quenching, clinker yang lolos melalui
grate basket menuju hopper dan dikeluarkan oleh drag chain. Tujuan
dari proses quenching adalah untuk mendapatkan clinker dengan mutu
yang baik. Clinker kemudian disimpan d Silo Clinker
11

Gas dan debu yang dihasilkan oleh kiln dan grate cooler ditarik
oleh exhaust fan melalui gas duct dan conditioning tower yang
kemudian keluar melalui cerobong pembuangan.

5. Cement Mill
Clinker yang telah disimpan di silo storage kemudian dikeluarkan
kembali melalui conveyor dan masuk kedalam clinkerbin, demikian juga
gypsum disimpan dalam bin.
Pada saat penggilingan, clinker dicampur dengan gypsum (4%
6%). Gypsum ini sebagai sumber SO3, yang bertujuan untuk
memperbaiki kualitas semen.
Dari banyaknya gypsum yang ditambahkan, menghasilkan 2 jenis
produk semen, yaitu OPC dan PCC. Semen OPC mengandung kadar
SO3 lebih banyak dibanding PCC. Kadar SO3 dalam OPC sekitar
2,22%, sedangkan pada PCC sebesar 2,18%.
Dari belt conveyor campuran ini kemudian dihancurkan dengan
Roller Press sehingga memiliki ukuran tertentu yang selanjutnya
digiling dengan menggunakan Tube Mill 2 kompartemen yang berisi
ball steel sebagai media penghancur. Dengan menggunakan sebuah fan,
material yang sudah halus dihisap dan dipindahkan dari udara pembawa
dengan menggunakan perangkat pemisah debu. Hasil penggilingan
semen disimpan dalam Silo Semen kedap udara.







Gambar 2.5. Cement Mill / Steel Ball Mill

12

6. Packer
Pengemasan semen dibagi menjadi 3 macam, yaitu semen curah,
semen big bag, dan sak semen. Semen curah adalah semen yang
dikemas menggunakan truk kapsul, semen ini kapasitasny tergantung
permintaan konsumen. Biasanya digunakan oleh kontraktor agar biaya
pembuatan bangunan lebih murah dibanding membeli semen big bag
atau sak semen.
Semen big bag adalah semen yang dikemas dalam kantong besar,
dengan kapasitas 1 [ton], distribusi semen big bag sama dengan semen
curah, hanya tergantung permintaan konsumen. Untuk semen sak
langsung didistribusikan ke berbagai daerah, khususnya Baturaja,
Palembang, Linggau, Bengkulu, dan sebagainya.
Semen dikeluarkan dari Silo Semen dan diangkut menggunakan
belt conveyor masuk kedalam steel silo. Dengan alat pengantongan
berupa Rotary Packer, semen dikantongi setiap saknya 50[kg],
kemudian siap diangkut menggunakan truk untuk dipasarkan.













Gambar 2.6. Rotating Packer

13

2.3. Struktur Organisasi
Struktur Organisasi Perseroan menerapkan struktur organisasi yang
dinamis, efisien dan efektif sesuai dengan perkembangan industri serta dalam
rangka mencapai pertumbuhan kinerja yang optimal.
Struktur Organisasi yang mampu mengakomodir tuntutan pengembangan
usaha disertai kemampuan untuk mengarahkan semua sistem yang terlibat di
dalamnya agar lebih efisien, efektif dan produktif.
Struktur organisasi diformulasikan berdasarkan spesialisasi dan fungsi
masing-masing anggota di dalam unit kerja Perusahaan. Struktur ini mampu
mengantisipasi kebutuhan organisasi yang lebih baik dan kinerja yang lebih
efisien dalam mencapai target dan tujuan Perusahaan.











Gambar 2.7 Struktur Organisasi


14

2.4. Deskripsi Tugas
Sebagai suatu badan usaha milik negara, PT Semen Baturaja (Persero), Tbk
memiliki struktur organisasi yang merupakan bagian sangat penting untuk suatu
perusahaan. Sehingga nantinya masing masing memiliki peran dan tanggung
jawab yang jelas. Secara umum, struktur organisasi di PT Semen Baturaja
(Persero), Tbk terbagi dalam 4 direktorat:
Direktorat Utama, memiliki tugas sebagai berikut:
a. Melaksanakan kebijaksanaan perusahaan.
b. Mempertanggungjawabkan kebijaksanaan yang telah dijalankan.
c. Memberikan laporan tentang halhal yang berhubungan dengan
kegiatan perusahaan kepada pimpinan perusahaan.
d. Mengambil inisiatif serta membuat perjanjianperjanjian dan
kontrak kerja sama dengan pihak diluar organisasi perusahaan.
e. Menyusun rencana strategis perusahaan, melakukan pengawasan
dan evaluasi.
Direktorat Produksi dan Teknik, memiliki tugas sebagai berikut:
a. Bertanggung jawab atas kegiatan perencanaan, penelitian,
pengembangan bidang engineering dan usaha sistem
manajemen dan logistik.
b. Bertanggung jawab atas kelancaran fungsional dan utilitas.
c. Mengendalikan seluruh operasional produksi semen di ketiga
site, yaitu Baturaja, Palembang, Panjang.
d. Merumuskan kebijaksanaan teknik operasi pabrik.
e. Mengawasi dan melaksanakan pemeliharaan peralatan produksi
dan sarana pendukung.
f. Membuat program inovasi peningkatan mutu hasil produksi.
Direktorat Produksi dan Teknik Membawahi antara lain:
1. Departemen Penelitian dan Pengembangan.
- Penelitian LBBPP dan jaminan mutu (QA).
- Sistem informasi manajemen dan PUM.
- Rancang bangun dan perekayasaan.
15

2. Departemen Operasi.
- Produksi PBR.
- PBM PBR.
- Pemeliharaan PBR.
- K3.
- Perencanaan Teknik Pabrik.
- Pabrik Palembang.
- Pabrik Panjang.
- Perencanaan dan penyediaan material.

Direktorat Keuangan, memiliki tugas sebagai berikut:
a. Bertanggung jawab atas perencanaan, pelaksanaan, dan
pengendalian bidang keuangan dan pemasaran.
b. Merencanakan anggaran belanja dan pendapatan perusahaan.
c. Mengatur dan mengawasi setiap pengeluaran bagi penyediaan
bahan baku dan pemasukan hasil penjualan produk.
d. Mengatur dan menyerahkan gaji karyawan perusahaan.
e. Mengatur dan merencanakan pembelian barang inventaris.
f. Menentukan tempat pemasaran hasil produksi.
g. Menetapkan suatu harga penjualan produksi.
h. Melakukan suatu perkenalan kepada masyarakat dengan
mempromosikan hasil produksi.
Direktorat Keuangan membawahi antara lain:
1. Departemen Keuangan.
2. Akuntansi.
3. Perbendaharaan, pajak, dan asuransi.
4. Anggaran dan analisa keuangan.
5. Departemen pemasaran.
6. Penjualan.
7. Pemasaran.
8. Distribusi dan transport.
16

Direktorat Umum dan SDM (Sumber Daya Manusia), memiliki
tugas sebagai berikut:
a. Bertanggung jawab atas kegiatan perencanaan pengembangan
sumber daya manusia dan umum.
b. Memberikan pelayanan kepada semua unsur di dalam organisasi
perusahaan pada bidang kesejahteraan, kesehatan, serta
keselamatan kerja bagi seluruh karyawan dan keluarganya.
c. Memberikan pelayanan administrasi kepada semua unsur dalam
organisasi perusahaan.
d. Mengatur dan meningkatkan hubungan kerja sama antar
karyawan perusahaan dan antar masyarakat sekitar.
e. Memberikan pendidikan dan pelatihan bagi karyawankaryawan
perusahaan .
Direktorat SDM (Sumber Daya Manusia) membawahi antara
lain:
1. Departemen SDM dan Umum
- Umum.
- SDM dan Afiliasi.
- Keamanan.

2. Departemen Logistik
- Pengadaan.
- Perencanaan pengadaan material.

Setiap tingkat dipimpin oleh kepala, dimana masing masing kepala
dalam setiap tingkat mempunyai wewenang masing masing. Untuk lebih
jelasnya telah dilampirkan tabel struktur organisasi perusahaan PT Semen
Baturaja (Persero), Tbk.



17

BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN


3.1 Bentuk Kegiatan Praktik Kerja Lapangan
1. Penggantian Segment table pada Coal Mill K1M01
Penggantian segment table coal mill ini dilaksanankan setiap 5
tahun sekali. Segment table yang sudah mengalami keausan dan rusak
diganti untuk memaksimalkan kinerja penggilingan batubara










Gambar 3.1 Segment table baru










Gambar 3.2 Segment table yang rusak
18

2. Penggantian Segment penumbuk pada Roll
Pada roll penumbuk juga diganti segment penumbuknya.
Penggantian ini juga dilakukan setiap 5 tahun sekali. Proses penggantian
mbuk ini dilakukan selama 6 hari.


Gambar 3.3 Segment penumbuk yang rusak

Gambar 3.4 Segment Penumbuk baru

19

3. Penggantian Bearing pada Roll Penumbuk K1M01
Bearing juga salah satu komponen vital pada roll penumbuk.
Bearing diganti setelah pemakaian 5 tahun sampai 10 tahun. Ada 2 buah
bearing dalam tiap roll penumbuk. Proses penggantian dilakukan dalam
waktu 6 hari








Gambar 3.5 Bearing pada Roll penumbuk

4. Penggantian 1 set Screw Conveyor
Screw Conveyor berfungsi untuk memberi pakan pada Coal Mill
K1M01. Pada shutdown pabrik kali ini maintenance dilakukan dengan
mengganti 1 set screw conveyor baru dengan desain baru. Desain baru
ini digunakan untuk mengurangi kerusakan-kerusakan pada bearing dan
casing screw serta memperpanjang usia screw conveyor.








Gambar 3.6 Screw Conveyor

20

3.2 Prosedur Kerja
Dalam melakukan pekerjaan penggantian bearing pada rol penumbuk ini
dibagi dalam dua langkah besar, langkah yang pertama adalah proses melepas rol
penumbuk dari badan Atox Mill. Langkah kedua adalah melakukan pekerjaan
terhadap rol penumbuk itu sendiri, pengerjaan penggantian bearing ini dilakukan
di ruang berbeda, oleh karena itu kami selanjutnya membawa ke area Power
Station yang sudah tidak terpakai untuk area yang lebih luas.
Spesifikasi Bearing 1 : SKF 24160CCK/W33 + AOH 24160


Gambar 3.7 Bearing SKF 24160 CCK/W33 + SKF AOH 24160
21

Spesifikasi Bearing 2 : SKF 23068 CCK/W33

Gambar 3.8 Bearing SKF 23068 CCK/W33
Langkah :
1. Membuka casing Atox Coal Mill dengan memakai kunci impact untuk
membuka mur baut berukuran 24. Pekerjaan ini kurang lebih dikerjakan
oleh satu tim berisikan 8 orang
2. Pada saat yang bersamaan juga dilakukan pembuatan rel untuk menarik
rol penumbuk keluar, sesuai dengan buku petunjuk inspeksi milik
FL.Smidth, banyak pekerjaan yang menggunakan lampu potong dan
peralatan las untuk membuat rel ini.
3. Setelah mur dan baut sudah terlepas semua, berikutnya adalah membuka
casing tersebut dengan bantuan crane dan chain block.








Gambar 3.9 Proses pembukaan casing Atox Mill
22









Gambar 3.10 Tampak setelah casing dibuka dan dipasangi rel


4. Langkah selanjutnya adalah melepas piston rol penumbuk terhadap rol
penumbuk, dengan bantuan pesawat sederhana pengungkit yang dibuat
dengan sederhana, lalu dikombinasikan dengan pompa jackup dan chain
block ukuran kecil untuk menahan.











Gambar 3.11 Proses pelepasan piston terhadap rol penumbuk




23

5. Setelah rol penumbuk telah bebas, maka dilakukan penarikan dengan
menggunakan chain block ukuran berkapasitas 5 ton serta beberapa
sling.










Gambar 3.12 Proses penarikan rol penumbuk

6. Berikutnya adalah melakukan pelepasan satu persatu rol penumbuk dari
pengikat tengah atau center bone, menggunakan kunci pukul berukuran
55, kedelapan mur baut dibuka satu persatu dari tiap rol.











Gambar 3.13 Proses pelepasan rol penumbuk dari center bone

24











Gambar 3.14 Center bone yang sudah terlepas dari rol penumbuk

7. Setelah rol penumbuk telah terpisah dengan center bone selanjutnya
dibawa menggunakan loader ke area Power Station. Pengerjaan
pertama adalah melepas segment rol penumbuk yang lama. Dengan
menggunakan kunci pukul 46 maka dilakukan pelepasan mur baut yang
mengikat segment serta penguncinya. Lalu buka cover penutup
bearingnya.











Gambar 3.15 Rol penumbuk yang sudah dilepaskan segmen penumbuknya

25











Gambar 3.16 Segmen penumbuk yang sudah dilepas

8. Setelah itu rol penumbuk diletakan di meja berongga yang sudah
disiapkan, dengan posisi terbalik lalu dibaringkan rol penumbuk itu.
Menggunakan bantuan crane berkapasitas 12 ton untuk menarik, namun
secara perlahan terlebih dahulu dilakukan jack-up menggunakan jack
dan pompa terintegrasi. Mengungkit sedikit demi sedikit dibantu dengan
plat-plat sebagai bantalan. Hal ini dilakukan sampai poros terbebas dari
level pertama tingkat poros terhadap bearing atas.











Gambar 3.17 Proses pengungkitan poros dengan menggunakan jack
26

9. Setelah terbebas dari tingkat pertama poros, maka tugas crane adalah
untuk menarik poros secara vertikal




















Gambar 3.18 Penarikan poros menggunakan Crane dibantu dengan sling
dan pengunci sederhana







27

10. Setelah poros terlepas, maka selanjutnya ada mengeluarkan bearing,
dalam hal ini sedikit diuntungkan karena 2 buah bearing tersebut
berbeda ukuran, dengan memanfaatkan gaya gravitasi bumi kami
mencoba menekan bearing berdiameter lebih kecil dari atas, sehingga
turun kebawah dan menekan bearing kedua yang berdiameter lebih
besar. Lalu 2 bearing tersebut akan jatuh kebawah lewat celah meja
berrongga. Dibantu dengan tracker yang kami buat khusus
menggunakan balok steel dan dua mur baut berdiameter besar. Lalu
menggunakan jack up pump yang besar untuk menekan bearing
kebawah.



















Gambar 3.19 Proses penekanan bearing menggunakan pompa jack dan tracker

28

11. Setelah bearing terjatuh dan lepas dari dalam rol penumbuk, maka
bearing diambil lalu dibersihkan, kesemua langkah kerja pelepasan
bearing ini dilakukan pada semua rol penumbuk secara satu persatu.















Gambar 3.20 Bearing yang sudah dilepaskan dari rol penumbuk

12. Poros yang sudah dilepaskan tadi akan diganti bushing nya, untuk
mengeluarkanya dilakukan pemanasan menggunakan lampu potong. Api
dibuat berpencar. Pemanasan dilakukan hingga suhu 150 derajat Celsius.
Pemantauan terus dilakukan menggunakan laser thermo scanner. Setelah
diangkat.
13. Poros kemudian dibersihkan dengan menggunakan majun dan solar,
setelah bersih lalu bushing yang baru disiapkan, dipanaskan dengan
menggunakan bearing heater keluaran SKF.
14. Setelah panasnya mencapai 150 derajat Celsius itu berarti sudah cukup
memuai, segera dimasukkan ke poros lalu dibantu menggunakan palu
kayu untuk memasukan bushing dan meratakanya.
29

15. Setelah semua bushing masuk ke dalam setiap poros, maka langkah
berikutnya adalah mempersiapkan bearing baru untuk di masukkan
kembali. Membersihkan bagian dalam dari rol penumbuk adalah hal
yang harus dilakukan pertama kali.
16. Dengan menggunakan trakcer buatan tadi dan tutup untuk alas jack,
maka bearing pertama dimasukkan, yaitu bearing yang berukuran
diameter lebih kecil dahulu, dengan jack dan pompa kembali digunakan
untuk menekan bearing sampai dengan posisi asal.















Gambar 3.21 Proses memasukkan bearing kedalam rol penumbuk

17. Setelah itu dengan bantuan crane berkapasitas 12 ton, rol penumbuk
diangkat dan dibaringkan sebaliknya. Setelah itu proses memasukkan
bearing kedua yang berdiameter lebih besar, dengan metode yang sama
maka bearing kedua dapat terpasang


30

18. Setelah bearing kedua masuk, lalu adapter bearing dimasukkan
menggunakan jack dan pompa lalu ditekan masuk kedalam rol
penumbuk

19. Setelah semua nya siap sesuai posisi, maka poros dengan bushing yang
baru tadi siap dimasukkan dengan bantuan crane dan sling lalu
dimasukkan perlahan-lahan secara vertical, seperti saat membuka awal

20. Semua proses dilakukan dengan mengulang langkah kerja saat
membuka bearing tadi. Setelah semua rol penumbuk telah selesai diganti
bearing, bushing, dan adapter yang baru maka cover penutup bearing
kembali ditutup, dan rol siap untuk dipindahkan untuk selanjutnya
dilaksanakan pemasangan segment penumbuk yang baru.

3.3 Kendala Kerja
Terjadi kendala saat melepas bearing dan adapter pada rol R3
Terjadinya hal ini dikarenakan saat shutdown yang lalu rol R3 mengalami
masalah dalam membuka bearing, sehingga tim memutuskan untuk
melakukan pemotongan daging rol penumbuk, lalu mengelasnya lagi saat
memasang. Hal ini sangat berpengaruh, karena pengelasan tersebut tidak
halus maka bearing sulit untuk dapat dikeluarkan dari dalam rol R3.
Solusi yang kami lakukan adalah menghaluskan kembali bagian dalam
dari rol R3 dengan bantuan amplas.








31

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN



4.1 Kesimpulan

Perawatan dan Perbaikan Bearing pada Rol penumbuk mesin Coal Mill
dilakukan secara rutin setiap 5 tahun sekali. Perawatan dan Perbaikannya adalah
mengganti kedua buah bearing di setiap rolnya. Pekerjaan ini dibutuhkan waktu
kurang lebih 7 hari. Pekerjaan ini harus dilakukan oleh tim minimal 5 orang
personil, dan dilaksanakan dengan bantuan berbagai alat-alat penting seperti
Crane, Chain Block, dan Sling Baja.


4.2 Saran

Dalam hal mengganti bearing pada rol penumbuk, sangat disarankan untuk
mengikuti prosedur manual book saat melakukan pelepasan maupun pemasangan.
Prosedur dan cara yang salah bisa menyebabkan luka atau kerusakan pada produk,
sehingga berakibat sulitnya komponen tersebut untuk dilakukan perawatan
selanjutnya.









32


DAFTAR PUSTAKA

NN, 1990. actiengesell schaft, Oreinsten & Koppel.
Zamhani, 1995. PT Semen: Proses Pembuatan Semen di Baturaja. PT Semen
Baturaja (Persero), Baturaja
www.skf.com
www.flsmidth.com





















33

DAFTAR ISIAN
PRAKTIK KERJA LAPANGAN


Nama Mahasiswa:

Iqbal Alberdo NIM: 1211010057


Program Studi : Teknik Mesin
Tempat Praktik Kerja Lapangan : Area Coal Mill
Nama Perusahaan/Industri : PT SEMEN BATURAJA (Persero), Tbk.
Alamat Perusahaan/Industri : JL. Raya Tiga Gajah, Baturaja,
Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan,
32117







Depok, 3 Maret 2014



Iqbal Alberdo
NIM . 1211010057


Lampiran 1
34

CATATAN KEGIATAN HARIAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
MAHASISWA JURUSAN TEKNIK MESIN
POLITEKNIK NEGERI JAKARTA

No Tanggal Kegiatan
1 Senin, 03 Maret 2014 - Kunjungan ke Unit Kerja SDM
- Kunjungan ke Unit Kerja Keamanan
- Kunjungan ke Unit Kerja K3 & LH
2 Selasa, 04 Maret 2014
Jumat, 07 Maret 2014
- Kunjungan ke Unit Kerja Produksi
6 Sabtu, 08 Maret 2014 LIBUR
7 Minggu, 09 Maret 2014 LIBUR
8 Senin, 10 Maret 2014 - Kunjungan ke Unit Kerja LBBPP dan QA
(Quality Ansurance)
9 Selasa, 11 Maret 2014 - Kunjungan ke Unit Kerja PTP
10 Rabu, 12 Maret 2014 - Kunjungan ke Unit Kerja PBM (Pertambangan)
11 Kamis, 13 Maret 2014 - Ditempatkan di Unit Pemeliharaan Coal Mill
- Orientasi ke seluruh area Coal Mill
12 Jumat, 14 Maret 2014 - Inspeksi harian untuk beberapa mesin di Coal
Mill
- Mengenal alat-alat yang digunakan di Coal Mill
- Praktek Las dengan berbagai macam jenis kawat
las
13 Sabtu, 15 Maret 2014 LIBUR
14 Minggu, 16 Maret 2014 LIBUR
15 Senin, 17 Maret 2014 - Mengambil equipment yang dibutuhkan untuk
persiapan shutdown maintenance
- Melakukan persiapan perakitan srec conveyor
16 Selasa, 18 Maret 2014 - Merakit unit screw conveyor
- Mengambil sparepart yang dibutuhkan dari
gudang sparepart
17 Rabu, 19 Maret 2014 - Merakit unit screw conveyor
- Shutdown hari pertama
- Membuka casing Atox Mill K1M01
18 Kamis, 20 Maret 2014 - Menarik keluar roll penumbuk Atox Mill K1M01
- Mengukur table segment baru dan lama
- Mengambil table segment dari gudang sparepart
19 Jumat, 21 Maret 2014 - Merakit Screw Conveyor dan mengecek desain
baru screw conveyor
- Roll penumbuk dibawa ke Power Station untuk
dibuka
20 Sabtu, 22 Maret 2014 LEMBUR finishing perakitan screw conveyor
21 Minggu, 23 Maret 2014 LIBUR
Lampiran 2
35

22 Senin, 24 Maret 2014 - Membuka segment pada roll penumbuk
- Membuka segment pada table penumbuk
23 Selasa, 25 Maret 2014 - Mengumpulkan alat jack up untuk pelepasan
bearing
- Pengelasan pada draglink penghantar batubara
24 Rabu, 26 Maret 2014 - Melepas bearing pada roll penumbuk
- Melakukan upaya-upaya penarikan bearing
25 Kamis, 27 Maret 2014 - Melepas bearing pada roll penumbuk
26 Jumat. 28 Maret 2014 - Dengan tracker besar buatan dan bantuan crane
maka bearing dapat dibuka pada roll pertama
27 Sabtu, 29 Maret 2014 LIBUR
28 Minggu, 30 Maret 2014 LIBUR
29 Senin, 31 Maret 2014 LIBUR
30 Selasa 01 April 2014 - Melakukan pemasangan bearing pada rol
penumbuk
- Melakukan pembersihan di area power station
31 Rabu, 02 April 2014 - Melakukan pemasangan segmen pada rol
penumbuk
- Melakukan pembersihan di area power station
32 Kamis, 03 April 2014 - Membawa Rol penumbuk ke area coal mill
- Memasang rol penumbuk
33 Jumat, 04 April 2014 - Mencoba running test untuk screw conveyor
- Menginstal grease pump untuk journal bearing
screw conveyor
34 Sabtu, 05 April 2014 LIBUR
35 Minggu, 06 April 2014 LIBUR
36 Senin, 07 April 2014 - Test Running Coal Mill
37 Selasa, 08 April 2014 - Dilakukan Feeding (beroperasi)
38 Rabu, 09 April 2014 LIBUR PEMILU
39 Kamis, 10 April 2014 - Emergency Coal Mill (terjadi kegagalan operasi
Atox Coal Mill)
- Inspeksi tentang Sirkulasi Pelumas
- Membersihkan Filter Pendingin Pelumas
- Mengganti Pelumas
40 Jumat, 11 April 2014 - Mengganti pipa-pipa konektor pelumasan
41 Sabtu, 12 April 2014 LIBUR
42 Minggu, 13 April 2014 LIBUR
43 Senin, 14 April 204 - Test Running
- Inspeksi tentang suhu, vibrasi
44 Selasa, 15 April 2014 - Membuang pelumas lama
- Mengganti pelumas baru
- Test Sirkulasi
- Test Running tanpa beban
45 Rabu, 16 April 2014 - Menarik Keluar Motor untuk area pengerjaan
Gearbox
Lampiran 2 (lanjutan)
36

46 Kamis, 17 April 2014 - Melepas Cover Gearbox
47 Jumat, 18 April 2014 LIBUR
48 Sabtu, 19 April 2014 LIBUR
49 Minggu, 20 April 2014 LIBUR
50 Senin, 21 April 2014 - Mengganti bearing gear
51 Selasa, 22 April 2014 - Mengganti bearing pinion gear
52 Rabu, 23 April 2014 - Memasukkan Gear ke dalam gearbox
53 Kamis, 24 April 2014 - Memasukkan pinion gear Atox Mill
- Menutup Cover gearbox Atox Mill
54 Jumat, 25 April 2014 - Test Running Gearbox tanpa beban
55 Sabtu, 26 April 2014 LIBUR
56 Minggu, 27 April 2014 LIBUR
57 Senin, 28 April 2014 - Bimbingan Laporan PKL Teknis
58 Selasa, 29 April 2014 - Bimbingan Laporan PKL Non Teknis
- Melakukan pengesahan Laporan PKL
59 Rabu, 30 April 2014 - Induksi keluar Pabrik


Pembimbing Industri Mahasiswa




Muhammad Saleh Iqbal Alberdo












Lampiran 2 (lanjutan)
37

KESAN INDUSTRI TERHADAP PARA PRAKTIKAN


Nama Industri : PT SEMEN BATURAJA (Persero), Tbk.
Alamat Industri : Jl. Raya Tiga Gaja, Baturaja,
Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, 32117
Nama Pembimbing : Muhammad Saleh
Jabatan :
Nama Mahasiswa : Iqbal Alberdo
Menurut pengamatan saya, mahasiswa tersebut diatas dalam melaksanakan
Praktik Kerja Lapangan dapat dinyatakan:
a. Sangat Berhasil
b. Cukup Berhasil
c. Kurang Berhasil
Oleh karena itu, saya memberikan saran saran sebagai berikut:

Tingkatkan pengetahuan dan skill pekerjaan khusus seperti las

Disamping itu, saya memberikan saran saran kepada Politeknik yang
berhubungan dengan proyek yang ditangani sebagai berikut:



Baturaja, 30 April 2014
Pembimbing Industri




Muhammad Saleh

Lampiran 3
38

LEMBAR PENILAIAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
MAHASISWA JURUSA TEKNIK MESIN
POLITEKNIK NEGERI JAKARTA

Nama Industri / Perusahaan : PT SEMEN BATURAJA (Persero), Tbk.
Alamat Industri / Perusuhaan : Jl. Raya Tiga Gajah, Baturaja,
Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, 32117
Nama Mahasiswa : Iqbal Alberdo
Nomor Induk Mahasiswa : 1211010057
Program Studi : Teknik Mesin
No Aspek Yang Dinilai Nilai Keterangan
1 Hasil pengamatan dari
lapangan

2 Kesimpulan dan Saran


3 Sistimatika Penulisan


4 Struktur Bahasa


Jumlah
Nilai Rata rata


Baturaja, 30 April 2014
Pembimbing Jurusan



Dewin Purnama, ST, MT
Lampiran 4

Anda mungkin juga menyukai