Anda di halaman 1dari 9

An-Numan bin Basyir berkata, Nabi SAW.

Bersabda, Anda akan melihat kaum mukminin dalam


kasih sayang dan cinta-mencintai, pergaulan mereka bagaikan satu badan, jika satu anggotanya sakit,
maka menjalarlah kepada lain-lain anggota lainnya sehingga badannya terasa panas dan tidak dapat
tidur. (Dikeluarkan oleh Bukhari : (78) kitab Tatakrama, (27) bab: Kasih sayang kepada
Manusia dan Binatang).
[1]


Hadits di atas menggambarkan hakikat antara hubungan sesama kaum muslimin yang begitu eratnya
menurut Islam. Hubungan antara mereka dalam hal kasih saying, cinta, dan pergaulan diibaratkan
hubungan antara anggota badan, yang satu sama lain saling membutuhkan, merasakan, dan tidak dapat
dipisahkan. Jika salah satu anggota badan tersebut sakit, anggota badan lainnya ikut merasakan sakit.
Dalam hadits lain dinyatakan bahwa hubungan antara seorang mukmin dengan mukmin lainnya
bagaikan sebuah bangunan yang saling melengkapi. Bangunan tidak akan berdiri kalau salah satu
komponennya tidak ada ataupun rusak. Hal itu menggambarkan betapa kokohnya hubungan antara
sesame umat Islam.
Itulah salah satu kelebihan yang seharusnya dimiliki oleh kaum mukmin dalam berhubungan anatara
sesame kaum mukminin. Sifat egois atau mementingkan diri sendiri sangat ditentang dalam Islam.
Sebaliknya umat Islam memerintahkan umatnya untuk bersatu dan saling membantu karena
persaudaraan seiman lebih erat daripada persaudaraan sedarah. Itulah yang menjadi pangkal kekuatan
kaum muslimin, setiap muslim merasakan penderitaan saudaranya dan mengulirkan tangannya untuk
membantu sebelum diminta yang bukan didasrakan atas take and give tetapi berdasarkan Illahi.
Salah satu landasan utama yang mampu menjadikan umat bersatu atau bersaudara ialah persamaan
kepercayaan atau akidah. Ini telah dibuktikan oleh bangsa Arab yang sebelum Islam selalu berperang
dan bercerai-berai tetapi setelah mereka menganut agama Islam dan memiliki pandangan yang sama
baik lahir maupun batin, merka dapat bersatu.
Menurut M Quraisy Shihab, berdasarkan ayat-ayat yang ada dalam Al-Quran, ada empat macam
bentuk persaudaraan :
1. Ukhuwah ubudiyyah atau saudara kesemakhlukan dan ketundukan kepada Allah.
2. Ukhuwah Insaniyyah (basyariyyah) dalam arti seluruh umat manusia adalah bersaudara karena
berasal dari seorang ayah dan ibu. Rasulullah SAW juga menekankan hal ini melalui sebuah hadits :





3. Ukhuwah Wathaniyah wa an-nasab, yaitu persaudaraan dalam keturunan dan kebangsaan.
4. Ukhuwah fi ad-din al-Islam, persaudaraan muslim. Rasulullah SAW bersabda:



Artinya: Kalian adalah saudara-saudaraku, saudara-saudara kita adalah yang dating sesudah
(wafat)ku.

Persaudaraan dalam Islam mengandung arti cukup luas tetapi persaudaraan antar sesama muslim adalah
pertama dan sangat utama. Sebagiamana disebutkan dalam ayat :

Artinya : Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. (Q.S. Al-Hujurat : 10).
Dalam syariat Islam banyak ajaran yang mengandung muatan untuk lebih mempererat tali
persaudaraan dan solidaritas sesama umat Islam, seperti zakat, qurban, ibadah haji, shalat berjamaah,
dan lain-lain.

B. Memelihara Silaturahmi.





Silaturahmi secara bahasa berasal dari dua kata, yakni silah (hubungan) dan Rahim (Rahim perempuan)
yang mempunyai arti Hubungan nasab, kata al-Arham (rahim) diartikan sebagai Silaturahmi.
[2]
Namun
pada hakikatnya silaturahmi bukanlah sekedar hubungan nasab, namun lebih jauh dari itu hubungan
sesama muslim. merupakan bagian dari silaturrahmi, sehingga Allah SWT mengibarat kan umat Islam
bagaikan satu tubuh. Sebagaimana firman-Nya :




Sesungguhnya orang-orang mumin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua
saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu m endapat rahmat. (49:10).
Betapa penting silaturahmi dalam kehidupan umat islam terutama dalam pendidikan. Hal ini karena
menyambung silaturahmi berpengaruh terhadap pendidikan karena bekal hidup di dunia dan akhirat,
orang yang selalu menyambung silaturhami akan dipanjangkan usianya dalam arti akan dikenang
selalu.
Orang yang selalu bersilaturahmi tentunya akan memiliki banyak teman dan relasi, sedangkan relasi
merupakan salah satu factor yang akan menunjang kesuksesan seseorang dalam berusaha. Selain
dengan banyaknya teman akan memperbanyak saudara dan berarti pula ialah meningkatkan ketakwaan
kepada Allah. Hal ini karena telah melaksanakan perintah-Nya, yakni menghubungkan silaturahmi.



Bagi mereka yang bertakwa Allah akan memberikan kemudahan dalam setiap urusannya. Allah SWT
berfirman :
Artinya : Barang siapa yang bertakwa pada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.
Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.
(Q.S. Ath-Thalaq: 2-3).
Bagi mereka yang suka silaturahmi akan dipanjangkan usianya adalah sangat logis meskipun
memerlukan pemahaman dan persepsi yang berbeda. Memang benar umur manusia itu sudah dibatasi
dan tidak ada seorang pun yang mampu mengubah kehendak Allah. Akan tetapi dengan banyaknya
silaturahmi, akan banyak berbuat kebaikan dengan sesama manusia yang berarti pula akan semakin
banyak mendapatkan pahala. Banyak silaturahmi pun akan menumbuhkan rasa kasih sayang anatra
sesama dan menimbulkan ghairah hidup tersendiri karena ia banyak saudara yang akan bahu membahu
dalam memecahkan berbagai problematika hidup yang selalu mengikuti manusia.
1. Keutamaan Silaturrahim


.)


Dari Abi Hurairah ra. Ia berkata : bersabda rasulullah saw. : Barang siapa yang ingin di luaskan
rizqinya dan di panjangkan umurnya maka hendaknya ia menyambung silaturahmi. ( H.R Bukhari)
Hadits yang agung ini memberikan salah satu gambaran tentang keutamaan silaturahmi. Yaitu
dipanjangkan umur pelakunya dan dilapangkan rizkinya.
Adapun penundaan ajal atau perpanjangan umur, terdapat satu permasalahan; yaitu bagaimana
mungkin ajal diakhirkan? Bukankah ajal telah ditetapkan dan tidak dapat bertambah dan berkurang
sebagaimana firmanNya:
.


Artinya: Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang
sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (QS Al Araf: 34).
Jawaban para ulama tentang masalah ini sangatlah banyak. Di antaranya,
Pertama, Yang dimaksud dengan tambahan di sini, yaitu tambahan berkah dalam umur. Kemudahan
melakukan ketaatan dan menyibukkan diri dengan hal yang bermanfaat baginya di akhirat, serta terjaga
dari kesia-siaan.
Kedua, Berkaitan dengan ilmu yang ada pada malaikat yang terdapat di Lauh Mahfudz dan semisalnya.
Umpama usia si fulan tertulis dalam Lauh Mahfuzh berumur 60 tahun. Akan tetapi jika dia
menyambung silaturahim, maka akan mendapatkan tambahan 40 tahun, dan Allah telah mengetahui
apa yang akan terjadi padanya (apakah ia akan menyambung silaturahim ataukah tidak).
Demikian ini ditinjau dari ilmu Allah. Apa yang telah ditakdirkan, maka tidak akan ada tambahannya.
Bahkan tambahan tersebut adalah mustahil. Sedangkan ditinjau dari ilmu makhluk, maka akan
tergambar adanya perpanjangan (usia).
Ketiga, Yang dimaksud, bahwa namanya tetap diingat dan dipuji. Sehingga seolah-olah ia tidak pernah
mati. Demikianlah yang diceritakan oleh Al Qadli, dan riwayat ini dhaif (lemah) atau bathil. Wallahu
alam. [Shahih Muslim dengan Syarah Nawawi, bab Shilaturrahim Wa Tahrimu Qathiatiha (16/114)]:
Keutamaan silaturahmi yang lainnya, dijelaskan Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam dalam banyak
hadits. Diantaranya ialah :
Pertama, Silaturahmi merupakan salah satu tanda dan kewajiban iman. Sebagaimana dijelaskan
Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam dalam hadits Abu Hurairh, beliau bersabda, dipanjangkan
umur dan dilapangkan rizkinya oleh allah
Artinya: Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah bersilaturahmi.
(Mutafaqun alaihi).
Kedua, Mendapatkan rahmat dan kebaikan dari Allah Taala . Sebagaimana sabda beliau
Shallallahualaihi Wasallam ,
Artinya: Allah menciptakan makhlukNya, ketika selesai menyempurnakannya, bangkitlah rahim dan
berkata,Ini tempat orang yang berlindung kepada Engkau dari pemutus rahim. Allah menjawab,
Tidakkah engkau ridha, Aku sambung orang yang menyambungmu dan memutus orang yang
memutusmu? Dia menjawab,Ya, wahai Rabb. (Mutafaqun alaihi).
Ibnu Abi Jamrah berkata,Kata Allah menyambung, adalah ungkapan dari besarnya karunia kebaikan
dari Allah kepadanya.
Sedangkan Imam Nawawi menyampaikan perkataan ulama dalam uraian beliau,Para ulama berkata,
hakikat shilah adalah kasih-sayang dan rahmat. Sehingga, makna kata Allah menyambung adalah
ungkapan dari kasih-sayang dan rahmat Allah. [Lihat syarah beliau atas Shahih Muslim 16/328-329]
Ketiga, Silaturahmi adalah salah satu sebab penting masuk syurga dan dijauhkan dari api neraka.
Sebagaimana sabda beliau Shallallahualaihi Wasallam,
Artinya: Dari Abu Ayub Al Anshari, beliau berkata, seorang berkata,Wahai Rasulullah, beritahulah
saya satu amalan yang dapat memasukkan saya ke dalam syurga. Beliau Shallallahualaihi Wasallam
menjawab,Menyembah Allah dan tidak menyekutukanNya, menegakkan shalat, menunaikan zakat dan
bersilaturahmi. (Diriwayatkan oleh Jamaah).[2]


C. Larangan Memutuskan Silaturahmi.



Sudah menjadi sunnatullah bahwa hubungan sesame manusia tidaklah selamanya baik, ada problem
dan pertentangan. Hidup adalah perjuangan, tantangan, pengorbanan, dan sekaligus perlombaan anatar
sesama manusia. Tidak heran kalau terjadi gesekan antar sesama dan tidak mungkin dapat dihindarkan.
Namun demikian, gesekan atau permusuhan tersebut jangan sampai diperpanjang hingga melebihi tiga
hari yanag ditandai dengan tidak saling menegur sapa dan saling manjauhi. Hal ini tidak dibenarkan
dalam ajaran Islam.
Memang benar setiap manusia memiliki ego dan gengsi sehingga hal ini sering mengalahkan akal sehat
akan tetapi untuk apa mempertahankan gengsi bila hanya menyebabkan pelanggaran aturan agama
dalam berhubungan dengan sesama.
Di antara cara efektif untuk membuka kembali hubungan yang telah terputus adalah dengan
mengucapkan salam sebagai tanda dibukanya kembali hubungan kekerabata. Ini bukan bahwa orang
yang memulai salam berarti telah kalah tetapi ia telah melakukan perbuatan sangat mulia dan terpuji di
sisi Allah SWT.
2. Bahaya memutuskan silaturrahim

:
)


Dari Jubair bin Muthim ra. Ia berkata : bersabda Rasulullah saw. : Tidak akan masuk surga
orang yang memutuskan hubungan. (Mutafaqun alaih)

0rang yang memutuskan silaturahmi adalah orang yang dilaknat oleh Allah. Dosa yang dipercepat oleh
Allah untuk diberi siksa di dunia dan akhirat adalah memutuskan silaturahmi (selain berbuat zalim).
0rang yang memutuskan silaturahmi doanya tidak dikabulkan oleh Allah. 0rang yang memutuskan
silaturahmi tidak akan masuk surga. Bila dalam suatu kaum terdapat orang yang memutus silaturahmi,
maka kaum itu tidak akan mendapat rahmat dari Allah.[3]
Allah berfirman:
Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan dimuka bumi dan
memutuskan hubungan kekeluargaan Mereka itulah orang-orang yang dila'nati Allah dan ditulikan-
Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka" (QS. Muhammad :22-23)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
artinya :"Tidaklah seorang muslim memanjatkan doa pada Allah selama tidak mengandung dosa dan
memutuskan silaturahmi melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera
mengabulkan doanya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan
menghindarkan darinya kejelekan yang semisal." Para sahabat lantas mengatakan, "Kalau begitu
kami akan memperbanyak berdoa." Nabi shallallahu alaihi wa sallam lantas berkata," Allah nanti
yang memperbanyak mengabulkan do'a-do'a kalian"." (HR. Ahmad)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
artinya : "Tidak ada dosa yang Allah swt lebih percepat siksaan kepada pelakunya di dunia, serta yang
tersimpan untuknya di akhirat selain perbuatan zalim dan memutuskan tali silaturahmi" (HR Tirmidzi)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
Artinya : "Rahmat tidak akan turun kepada kaum yang padanya terdapat orang yang memutuskan tali
silaturahmi (HR Muslim).
3. Larangan memutuskan silaturrahim

: ,


Dari Abu Ayub ra. Sesungguhnya Rasulullah saw. Bersabda : tidak di halalkan bagi seorang
muslim memusuhi saudaranya lebih dari tiga hari, sehingga jika bertemu saling berpaling muka, dan
sebaik-baik keduanya adalah yang mendahului memberi salam. (Mutafaqqun alaih)
Islam menganjurkan untuk menyambung hubungan dan bersatu serta mengharamkan pemutusan
hubungan, saling menjauhi, dan semua perkara yang menyebabkan lahirnya perpecahan. Karenanya
Islam menganjurkan untuk menyambung silaturahim dan memperingatkan agar jangan sampai ada
seorang muslim yang memutuskannya. Dan Nabi shalllallahu alaihi wasallam mengabarkan bahwa
bukanlah dikatakan menyambung silaturahmi ketika seorang membalas kebaikan orang yang berbuat
kebaikan kepadanya, yakni menyambung hubungan dengan orang yang senang kepadanya. Akan tetapi
yang menjadi hakikat menyambung silaturahmi adalah ketika dia membalas kebaikan orang yang
berbuat jelek kepadanya atau menyambung hubungan dengan orang yang memutuskan hubungan
dengannya.
Nabi shallallahu alaihi wasallam mengabarkan bahwa balasan disesuaikan dengan jenis amalan.
Karenanya, barangsiapa yang menyambung hubungan silaturahminya maka Allah juga akan
menyambung hubungan dengannya, dan di antara bentuk Allah menyambungnya adalah Allah akan
menambah rezekinya, menambah umurnya, dan senantiasa memberikan pertolongan kepadanya.[4]
Sebaliknya, siapa saja yang memutuskan hubungan silaturahimnya maka Allah juga akan memutuskan
hubungan dengannya. Dan ketika Allah sudah memutuskan hubungan dengannya maka Allah tidak
akan perduli lagi dengannya, Allah akan menjadikannya buta dan tuli, dan menimpakan laknat
kepadanya. Dan siapa yang mendapatkan laknat maka sungguh dia telah dijauhkan dari kebaikan dan
rahmat Allah Taala yang Maha Luas.
Dampak yang ditimbulkan bila silaturahim diantara kita putus, sangatlah besar, baik di dunia maupun
di akhirat kelak. Di antaranya adalah sebagai berikut :
1. Segala amalnya tidak berguna dan tidak berpahala. Walaupun kita telah beribadah dengan penuh
keikhlasan, siang dan malam, tetapi bila kita masih memutus tali silaturahim dan menyakiti hati orang-
orang Islam yang lain, maka amalannya tidak ada artinya di sisi Allah SWT.
2. Amalan shalatnya tidak berpahala. Sabda Rasulullah SAW : "Terdapat 5 (lima) macam orang
yang shalatnya tidak berpahala, yaitu : isteri yang dimurkai suami karena menjengkelkannya, budak
yang melarikan diri, orang yang mendemdam saudaranya melebihi 3 hari, peminum khamar dan imam
shalat yang tidak disenangi makmumnya."
3. Rumahnya tidak dimasuki malaikat rahmat. Sabda Rasulullah SAW : "Sesungguhnya malaikat
tidak akan turun kepada kaum yang didalamnya ada orang yang memutuskan silaturahmi."
4. Orang yang memutuskan tali silaturahmi diharamkan masuk surga. Sabda Rasulullah SAW : "
Terdapat 3 (tiga) orang yang tidak akan masuk surga, yaitu : orang yang suka minum khamar, orang
yang memutuskan tali silaturahmi dan orang yang membenarkan perbuatan sihir." [5]
A. Hadits Tentang Persaudaraan Muslim
Hadits No. 1667 Lulu Wal Marjan
.


: : .
Artinya:
Abdullah bin Umar r.a. berkata : Rasulullah saw. Bersabda : Seorang muslim saudara terhadap sesama
muslim, tidak menganiyayanya dan tidak akan dibiarkan dianiaya orang lain. Dan siapa yang
menyampaikan hajat saudaranya, maka Allah akan menyampaikan hajatnya. Dan siapa yang
melapangkan kesusahan seorang muslim, maka Allah akan melapangkan kesukarannya di hari qiyamat,
dan siapa yang menutupi aurat seorang muslim maka Allah akan menutupinya di hari qiyamat.
(Bukhari, muslim).[1]
B. Mufradat:
Seorang muslim saudara terhadap sesama muslim =


tidak menganiyayanya =


dan tidak akan dibiarkan dianiaya orang lain =


hajatnya =


Dan siapa yang melapangkan kesusahan =


seorang muslim
maka Allah akan menutupinya di hari qiyamat =


C. Penjelasan dan Korelasinya dengan Hadist lain Serta Ayat Al-Quran
Intisari yang dapat diambil dari isi hadist tersebut adalah:
1. Tidak dibolehkan Penganiayaan : baik badan, hati, maupun perasaannya.
2. Larangan membuka aib dimuka umum.
3. Tidak dibolehkan Merendahkan, meremehkan, serta menyepelekan baik dengan tingkah laku,
perbuatan dan perkataan.
Hadits di atas sangat jelas berbicara mengenai seorang muslim yang dalam keadaan
bagaimana pun saudaranya itu, haruslah dibantu. Baik dia berada dalam keadaan yang tertindas, juga
ketika dia tengah menindas. Inilah keistimewaan ajaran Islam. Sangatlah biasa jika seseorang membela
orang yang dizalimi, karena seluruh dunia pun akan menyetujui dan berpikir sama tentang hal tersebut.
Akan tetapi bagaimana jika menolong orang yang jelas-jelas menzalimi. Tentulah ini menjadi sangat
spesial dan luar biasa, karena tidak semua berpikiran dan bertindak seperti ini.
Dalam hadits lain Rasulullah Saw bersabda :

.
Artinya:
Dari Anas bin Malik r.a berkata : Rasulullah Saw bersabda : Tolonglah saudaramu baik zhalim atau
dizhalimi, maka bagaimanakah kamu menolong orang yang zhalim? Beliau bersabda : Kamu ambil
(tahan) kedua tangannya.
Adapun cara kita sebagai seorang mukmin menolong orang yang menzalimi adalah
dengan mencegah dirinya dari berbuat zalim semampu dan sebisa kita. Hal ini serupa dengan perintah
Allah untuk memerangi orang yang

dikarenakan mereka telah melampaui batas dan menzalim


orang lain dan dirinya sendiri.
Dalam sebuah hadist diterangkan mengenai larangan mengabaikan antara satu sama
lain:

.
Artinya:
Abu Ajjub r.a. berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda: Tidak dihalalkan seorang muslim memboikot
saudara sesama Muslim lebih dari tiga hari, hingga bertemu masing-masing mengabaikan pada yang
lain. Dan sebaik-baik keduanya ialah yang dahulu memberi salam.
Intisarinya adalah haramnya perbuatan saling membenci, saling hasad, saling bertolak belakang
dan saling memutuskan hubungan. Larangan untuk menyakiti/mengganggu seorang Muslim dalam
bentuk apapun. Haramnya menjauhi saudaranya Muslim lebih dari tiga hari. Semua perbuatan tersebut
bukanlah dari akhlaq seorang Muslim. Anjuran untuk bersaudara dan bersatu hati diantara sesama
Muslim. Tidak diperbolehkan seorang muslim memboikot saudaranya selama tiga hari, karena manusia
tidak akan mencapai ketentraman tanpa pergaulan didalam suatu kelompok sebagai bentuk
persaudaraan
Pada hadits ini Rasulullah saw membimbing kita kepada perkara yang mengharuskan kita
menjadi bersaudara, saling mencintai, bersatu hati serta saling berinteraksi antara kita dengan interaksi
baik secara Islami, yang menunjukkan kita kepada akhlaq mulia dan menjauhkan kita dari
keburukannya. Menghilangkan dari hati kita perasaan hasad dan benci serta menjadikan hubungan kita
hubungan secara Islam yang mulia.
Hadits tersebut juga menunjukan kepada kita bahwa ikatan persaudaraan dalam Islam lebih kuat
daripada ikatan nasab dan darah karena landasannya adalah iman kepada Allah. Maka tidak boleh bagi
seorang muslim menjauhi saudaranya atau berpaling darinya lebih dari tiga hari selama hal itu tidak
terdapat sebab yang diperbolehkan oleh agama yang diharapkan orang yang yang dijahui tersebut
kembali dari penyimpangan dalam agama. Adapun hadis yang menjelaskan keutamaan dari
persaudaraan tersebut adalah :

(( :

))

.
: : .
Artinya:
Abu Musa r.a. berkata : Nabi Saw. bersabda : Seorang mumin terhadap sesama mumin bagaikan satu
bangunan yang setengahnya menguatkan setengahnya, lalu Nabi Saw. mengeramkan jari-jarinya.
(Bukhari, Muslim).
Artinya bahwa seorang muslim adalah bagian dari muslim yang lain. Bila ia sakit, maka muslim
yang lain ikut merasakan sakit. Jika seorang muslim mempunyai masalah, sesungguhnya itupun
merupakan masalah kaum muslimin seluruhnya. Jika seorang muslim tidak menolong saudaranya,
maka hal itu akan berakibat fatal bagi dirinya dan bagi saudaranya
Hadits di atas sangat jelas berbicara mengenai seorang muslim yang dalam keadaan bagaimana
pun saudaranya itu, haruslah dibantu. Baik dia berada dalam keadaan yang susah, juga ketika dia
tengah kesulitan
:

(( )
Abu Musa mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, Orang mukmin yang satu dengan lain bagai satu
bangunan yang bagian-bagiannya saling mengokohkan.
Pada hadits ini Rasulullah saw membimbing kita kepada perkara yang mengharuskan kita
menjadi bersaudara, saling mencintai, bersatu hati serta saling berinteraksi antara kita dengan interaksi
baik secara Islami, yang menunjukkan kita kepada akhlaq mulia dan menjauhkan kita dari
keburukannya.
Dalam hadits tersebut telah dijelaskan bahwa hendaknya orang islam harus saling tolong-
menolong dalam kebaikan dan membantu dalam kesulitan atau kesusahan yang menimpa saudara kita
di dunia ketika kita membantu untuk meringankan bebannya dan bahkan menghapus kesulitannya di
dunia, maka di akhirat kelak kitalah yang akan mendapatkan apa yang kita kerjakan di dunia dengan
membantu mengurangi kesulitan orang lain
Adapun ayat Al-Quran yang membahas mengenai persaudaraan, seperti Q.S. Al-Hujurat ayat 10
:


Artinya:
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan)
antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.