Anda di halaman 1dari 46

MODEL PRAKTEK KEPERAWATAN PROFESIONAL (MPKP)

MODEL PRAKTEK KEPERAWATAN PROFESIONAL (MPKP)


A. PENGERTIAN
Model praktik keperawatan adalah diskripsi atau gambaran dari praktik keperawatan yang nyata
dan akurat berdasarkan kepada filosofi, konsep dan teori keperawatan.Era globalisasi dan
perkembangan ilmu dan teknologi kesehatan menuntut perawat, sebagai suatu profesi, memberi
pelayanan kesehatan yang optimal. Indonesia juga berupaya mengembangkan model praktik
keperawatan profesional (MPKP).
TUJUAN MODEL KEPERAWATAN
1.Menjaga konsistensi asuhan keperawatan
2.Mengurangi konflik, tumpang tindih dan kekosongan pelaksanaan asuhan keperawatan oleh
tim keperawata.
3.Menciptakan kemandirian dalam memberikan asuhan keperawatan.
4.Memberikan pedoman dalam menentukan kebijaksanaan dan keputusan.
5.Menjelaskan dengan tegas ruang lingkup dan tujuan asuhan keperawatan bagi setiap anggota
tim keperawatan.
Ada lima komponen MPKP :
1. Nilai professional
2. Pendekatan manajemen
3. Metode pemberian asuhan keperawatan
4. Hubungan professional
5. System penghargaan dan kompensasi
B. MACAM METODE PENUGASAN DALAM KEPERAWATAN
Dalam pelaksanaan praktek keperawatan, akan selalu menggunakan salah satu metode
pendekatan di bawah ini :
1. Metode fungsional.
Yaitu pengorganisasian tugas pelayanan keperawatan yang didasarkan kepada pembagian tugas
menurut jenis pekerjaan yang dilakukan. Metode ini dibagi menjadi beberapa bagian dan tenaga
ditugaskan pada bagian tersebut secara umum, sebagai berikut :
a. Kepala Ruangan, tugasnya :
Merencanakan pekeriaan, menentukan kebutuhan perawatan pasein, membuat penugasan,
melakulan supervisi, menerima instruksi dokter.
b. Perawat staf, tugasnya :
- Melakukan askep langsung pada pasien
- Membantu supervisi askep yang diberikan oleh pembantu tenaga keperawatan
c. Perawat Pelaksana, tugasnya :
Melaksanakan askep langsung pada pasien dengan askep sedang, pasein dalam masa pemulihan
kesehatan dan pasein dengan penyakit kronik dan membantu tindakan sederhana (ADL).
d. Pembantu Perawat, tugasnya :
Membantu pasien dengan melaksanakan perawatan mandiri untuk mandi, menbenahi tempat
tidur, dan membagikan alat tenun bersih.
e. Tenaga Admionistrasi ruangan, tugasnya :
Menjawab telpon, menyampaikan pesan, memberi informasi, mengerjakan pekerjaan
administrasi ruangan, mencatat pasien masuk dan pulang, membuat duplikat rostertena ruangan,
membuat permintaan lab untuk obat-obatan/persediaan yang diperlukan atas instruksi kepala
ruangan.
Kerugian metode fungsional:
- Pasien mendapat banyak perawat.
- Kebutuhan pasien secara individu sering terabaikan
- Pelayanan pasien secara individu sering terabaikan.
- Pelayanan terputus-putus
- Kepuasan kerja keseluruhan sulit dicapai
Kelebihan dari metode fungsional :
- Sederhana
- Efisien.
Perawat terampil untuk tugas atau pekerjaan tertentu.
Mudah memperoleh kepuasan kerja bagi perawat setelah selesai tugas.
Kekurangan tenaga ahli dapat diganti dengan tenaga yang kurang berpengalaman untuk satu
tugas yang sederhana.
Memudahkan kepala ruangan untuk mengawasi staff atau peserta didik yang praktek untuk
ketrampilan tertentu.
Contoh metode fungsional
-Perawat A tugas menyutik, perawat B tugasnya mengukur suhu badan klien.
Seorang perawat dapat melakukan dua jenis tugas atau lebih untuk semua klien yang ada di unit
tersebut. Kepala ruangan bertanggung jawab dalam pembagian tugas tersebut dan menerima
laporan tentang semua klien serta menjawab semua pertanyaan tentang klien
2. Metode penugasan pasien/metode kasus
Yaitu pengorganisasian pelayanan atau asuhan keperawatan untuk satu atau beberapa klien oleh
satu orang perawat pada saat bertugas atau jaga selama periode waktu tertentu sampai klien
pulang. Kepala ruangan bertanggung jawab dalam pembagian tugas dan menerima semua
laporan tentang pelayanan keperawatan klien. Dalam metode ini staf perawat ditugaskan oleh
kepala ruangan untuk memberi asuhan langsung kepada pasien yang ditugaskan contohnya di
ruang isolasi dan ICU.
Kekurangan metode kasus :
- Kemampuan tenga perawat pelaksana dan siswa perawat yang terbatas sehingga tidak mampu
memberikan asuhan secara menyeluruh
- Membutuhkan banyak tenaga.
- Beban kerja tinggi terutama jika jumlah klien banyak sehingga tugas rutin yang sederhana
terlewatkan.
- Pendelegasian perawatan klien hanya sebagian selama perawat penaggung jawab klien
bertugas.
Kelebihan metode kasus:
- Kebutuhan pasien terpenuhi.
- Pasien merasa puas.
- Masalah pasien dapat dipahami oleh perawat.
- Kepuasan tugas secara keseluruhan dapat dicapai.
3. Metode penugasan tim
Yaitu pengorganisasian pelayanan keperawatan oleh sekelompok perawat. Kelompok ini
dipimpin oleh perawat yang berijazah dan berpengalaman serta memiliki pengetahuan dalam
bidangnya.
Pembagian tugas di dalam kelompok dilakukan oleh pemimpin kelompok, selain itu pemimpin
kelompok bertanggung jawab dalam mengarahkan anggota tim.sebelum tugas dan menerima
laporan kemajuan pelayanan keperawatan klien serta membantu anggota tim dalam
menyelesaikan tugas apabila mengalami kesulitan. Selanjutnya pemimpin tim yang melaporkan
kepada kepala ruangan tentang kemajuan pelayanan atau asuhan keperawatan klien.
Metode ini menggunkan tim yang terdiri dari anggota yang berbeda-beda dalam memberikan
askep terhadap sekelompok pasien.
Ketenagaan dari tim ini terdiri dari :
- Ketua tim
- Pelakaana perawatan
- Pembantu perawatan
Adapun tujuan dari perawatan tim adalah : memberikan asuhan yang lebih baik dengan
menggunakan tenaga yang tersedia.
Kelebihan metode tim:
- Saling memberi pengalaman antar sesama tim.
- Pasien dilayani secara komfrehesif
- Terciptanya kaderisasi kepemimpinan
- Tercipta kerja sama yang baik .
- Memberi kepuasan anggota tim dalam hubungan interpersonal
- Memungkinkan menyatukan anggota tim yang berbeda-beda dengan aman dan efektif.
Kekurangan metode tim:
-Tim yang satu tidak mengetahui mengenai pasien yang bukan menjadi tanggung jawabnya.
- Rapat tim memerlukan waktu sehingga pada situasi sibuk rapat tim ditiadakan atau trburu-buru
sehingga dapat mengakibatkan kimunikasi dan koordinasi antar anggota tim terganggu sehingga
kelanncaran tugas terhambat.
-Perawat yang belum terampil dan belum berpengalaman selalu tergantung atau berlindung
kepada anggota tim yang mampu atau ketua tim.
- Akontabilitas dalam tim kabur.
4. Metode Perawatan Primer
Yaitu pemberian askep yang ditandai dengan keterikatan kuat dan terus menerus antara pasien
dan perawat yang ditugaskan untuk merencanakan, melakukan dan mengkoordinasikan askep
selama pasien dirawat.
Tugas perawat primer adalah :
- Menerima pasien
- Mengkaji kebutuhan
- Membuat tujuan, rencana, pelaksanaan dan evaluasi.
- Mengkoordinasi pelayanan
- Menerima dan menyesuaikan rencana
- menyiapkan penyuluhan pulang
Konsep dasar :
1. Ada tanggung jawab dan tanggung gugat
2. Ada otonomi
3. Ada keterlibatan pasien dan keluarganya
Ketenagaan :
1. Setiap perawat primer adalah perawat bed. side.
2. Beban kasus pasien maksimal 6 pasien untuk 1 perawat
3. Penugasan ditentukan oleh kepala bangsal.
4. Perawat profesional sebagai primer d.an perawat non profesional sebagai asisten.
Kepala bangsal :
1. Sebagai konsultan dan pengendali mtu perawat primer
2. Orientasi dan merencanaka karyawan baru.
3. Menyusun jadwal dinas
4. Memberi penugasan pada perawat asisten.
Kelebihan dari metode perawat primer:
- Mendorong kemandirian perawat.
- Ada keterikatan pasien dan perawat selama dirawat
- Berkomunikasi langsung dengan Dokter
- Perawatan adalah perawatan komfrehensif
- Model praktek keperawatan profesional dapat dilakukan atau diterapkan.
- Memberikan kepuasan kerja bagi perawat
- Memberikan kepuasan bagi klien dan keluarga menerima asuhan keperawatan.
Kelemahan dari metode perawat primer:
- Perlu kualitas dan
- kuantitas tenaga perawat,
- Hanya dapat dilakukan oleh perawat profesional.
- Biaya relatif lebih tinggi dibandingkan metode lain.
5. Metode Modul (Distrik)
Yaitu metode gabungan antara Metode penugasan tim dengan Metode perawatan primer. Metode
ini menugaskan sekelompok perawat merawat pasien dari datang sampai pulang.
Keuntungan dan Kerugian
Sama dengan gabungan antara metode tim dan metode perawat primer.
Semua metode diatas dapat digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi ruangan. Jumlah staf
yang ada harus berimbang sesuai dengan yang telah dibahas pembicaraan yang sebelumnya.


C. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN DARI MODEL PRAKTIK KEPERAWATAN
PROFESIONAL
Kelebihan model praktek keperawatan professional :
a. Memungkinkan pelayanan keperawatan yang menyeluruh.
b. Mendukung pelaksanaan proses keperawatan.
c. Memungkinkan komunikasi antar tim sehingga konflik mudah diatasi dan
memberikankepuasan pada anggota tim
d. bila diimplementasikan di RS dapat meningkatkan mutu asuhan keperawatan
e. ruang MPKP merupakan lahan praktek yang baik untuk proses belajar
f. ruang rawat MPKP sangat menunjang program pendidikan Nursing
Kekurangan model praktek keperawatan professional :
a. Komunikasi antar anggota tim terutama dalam bentuk konferensi tim, membutuhkan waktu
dimana sulit melaksanakannya pada waktu-waktu sibuk.
b. Akuntabilitas pada tim.Konsep
c. beban kerja tinggi
d. pendelegasian tugas terbatas
e. kelanjutan keperawatan klien hanya sebagian selama perawat penanggung jawab klien tugas

D. KARATERISTIK MPKP
1. Penetapan jumlah tenaga keperawatan
2. Penetapan jenis tenaga keperawatan
3. Penetapan standar rencana asuhan keperawatan
4. Penggunaan metode modifikasi keperawatan primer


E. LANGKAH-LANGKAH IMPLEMENTASI MPKP
Tahap persiapan :
1. Pembentukan team
Terdiri dari coordinator departemen, kepala ruang rawat, perawat ruangan, ketua MPKP
2. Rancangan penilaian mutu
Kelompok kerja yang membuat rencana asuhan keperawatan yang meliputi kepuasan klien.
3. Presentasi MPKP
Untuk mendapatkan nilai dukungan dari semua yang terlibat pada saat presentasi.
4. Penetapan tempat implementasi
Dalam menentukan tempat implementasi perlu memperhatikan : mayoritas tenaga perawat
apakah ada staf baru.
5. Identifikasi jumlah klien
Kelompok klien terdiri dari 3 kriteria, yaitu : minimal, parsial, dan total)
6. Penetapan tenaga keperawatan
7. Penetapan jenis tenaga
a. kepala ruang rawat
b. clinical care manager
c. perawat primer
d. perawat asociate
8. Pengembangan standar asuhan keperawatan
Bertujuan untuk mengurangi waktu perawat untuk menulis, sehingga waktunya habis untuk
melakukan tindakan keperawatan
9. Penetapan format dokumentasi keperawatan
10. Identifikasi fasilitas
a. Badge atau kartu nama tim
b. Papan nama
c. Papan MPKP
Tahap pelaksanaan :
1. Pelatihan MPKP
2. Memberikan bimbingan kepada PP dalam melakukan konferensi
3. Memberi bimbingan kepada PP dalam melakukan ronde PA
4. Memberi bimbingan kepada PP dalam memanfaatkan standar Renpra
5. Member bimbingan kepada PP dalam membuat kontrak dengan klien
6. Member bimbingan dalam melakukan presentasi dalam tim
7. Memberikan bimbingan kepada CCM dalam bimbingan PP dan PA
8. Memberi bimbingan tentang dokumentasi keperawatan

Tahap evaluasi :
1. Memberikan instrument evaluasi kepuasan klien / keluarga untuk setiap klien pulang
2. Mengevaluasi kepatuhan perawat terhadap standar penilaian
3. Penilaian infeksi nasokominal di ruang rawat
4. Penilaian rata-rata lama hari rawat


Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP)

1. Pengertian / DefinisiHoffart dan Woods (1996), mendefinisikan Model Praktik
KeperawatanProfesional sebagai sebuah sistem yang meliputi struktur, proses, dan nilai professional
yang memungkinkan perawat professional mengatur pemberian asuhan keperawatan dan mengatur
lingkungan untukmenunjang asuhan keperawatan. Sebagai suatu model berarti sebuahruang rawat
dapat menjadi contoh dalam praktik keperawatanprofessional di Rumah Sakit. .
2. Tujuan Pengembangan Model Praktik Keperawatan Profesional
a. Meningkatkan mutu askep melalui penataan sistem pemberianasuhan keperawatan
b. Memberikan kesempatan kepada perawat untuk belajar melaksanakan praktik keperawatan
profesional.
c. Menyediakan kesempatan kepada perawat untuk mengembangkanpenelitian keperawatan
3. Dasar Pertimbangan Pemilihan Model Praktik Keperawatan Profesional Terdapat enam unsur utama
dalam penentuan pemilihan metode pemberian asuhan keperawatan, yaitu sesuai dengan visi-misi
Rumah Sakit, dapat diterapkannya proses keperawatan, efisien dan efektif dalam penggunaan biaya,
terpenuhinya kepuasan klien, keluarga danmasyarakat, kepuasan kerja perawat dan terlaksananya
komunikasiyang adekuat.
4. Komponen Model Praktik Keperawatan Profesionala Nilai Profesional Pengembangan Model Praktik
Keperawatan Profesional didasarkan pada nilai professional.
a. Nilai professional merupakaninti dari Model Praktik Keperawatan Profesional , yang meliputi :nilai
intelektual, komitmen moral, otonomi, kendali dan tanggung gugat
b. Pendekatan manajemenPendekatan manajemen digunakan untuk mengelola sumber dayayang ada
meliputi : ketenagaan, alat, fasilitas serta menetapkanStandar Asuhan Keperawatan (SAK) . Pada Model
PraktikKeperawatan Profesional ini kemampuan manajemen keperawatanyang dikembangkan terutama
dalam hal mengelola perubahan danpengambilan keputusan.
c. Sistem pemberian asuhan keperawatanSistem pemberian asuhan keperawatan (care delivery system)
merupakan metode penugasan bagi tenaga perawat yangdigunakan dalam memberikan pelayanan
keperawatan kepadaklien. Sistem atau metode tersebut merefleksikan falsafahorganisasi, struktur, pola
ketenagaan dan populasi klien. Saat inidikenal lima jenis metode pemberian asuhan keperawatan,
yangterdiri dari : metode kasus, fungsional, tim, primer dan manajemenkasus.
d. Hubungan professionalPengembangan Model Praktik Keperawatan Profesional
(MPKP)memungkinkan terjadinya hubungan professional di antar perawatdan praktisi kesehatan
lainnya. Hubungan ini dapat terjadi melaluisistem pendokumentasian keperawatan, operan tugas
jaga,konferensi awal dan akhir, dan pembahasan kasus.
e. Kompensasi dan penghargaanPada suatu layanan professional, seseorang mempunyai hak
ataskompensasi dan penghargaan. Kompensasi merupakan salahfaktor yang dapat meningkatkan
motivasi, pada Model Praktik
Keperawatan Profesional karena masing-masing perawatmempunyai peran dan tugas yang jelas
sehingga dapat dibuatklasifikasi yang obyektif sebagai dasar pemberian kompensasi dan penghargaan.
5. Aspek Pengembangan Model Praktik Keperawatan Profesional Menurut Sitorus (1996) yang diperkuat
oleh Nursalam (2002),berdasarkan tingkat perkembangan keperawatan di Indonesia untuk dapat
menerapkan Model Praktik Keperawatan Profesional ada tiga aspek yang perlu dikembangkan yang
meliputi :
a) Ketenagaan
Dalam pengembangan Model Praktik Keperawatan Profesional, aspek ketenagaan merupakan
komponen pertama yang harus dipertimbangkan, sehingga tujuan pelayanan dapat dicapai. Menurut
Werdati (2005) dalam penerapan sistem pemberian asuhan keperawatan terdapat 3 strategi
manajemen yang pentingdalam mengelola sumber daya keperawatan yaitu
1) Sistem klasifikasi pasien
Sistem ini dikembangkan untuk mewujudkan asuhankeperawatan yang bermutu dan efisisien, karena
pelayanandiberikan sesuai dengan tingkat kebutuhan pasien, merupakanmetode untuk memperkirakan
dan mengkaji jumlah kebutuhanpasien terhadap pelayanan keperawatan, sehingga dapatdiketahui jam
efektif perawat untuk melakukan pelayanankeperawatan. Depkes (2001) menetapkan indikator jumlah
jamkontak perawat dengan pasien rata-rata selama 4,5 jam / hr
2) Stafing
Staffing merupakan salah satu fungsi khusus manajemenkeperawatan yang terdiri dari kegiatan-
kegiatan :mengidentifikasi jenis dan jumlah dan kategori tenaga yangdibutuhkan pasien,
mengalokasikan anggaran tenaga,merekrut, seleksi dan penempatan perawat, orientasi
danmengkombinasikan tenaga pada konfigurasi yang baik.
3) Penjawdulan
Penetapan jumlah tenaga dan penjadualan adalah merupakanproses pengorganisasian sumber daya
yang berharga untukmenentukan berapa banyak dan kriteria tenaga seperti apayang dibutuhkan untuk
setiap shift . Sedangkan menurut KomisiAkreditasi Rumah Sakit (KARS) menyebutkan bahwa agar
pelayanan keperawatan dapat mencapai tujuan yangditetapkan seorang Kepala Ruang harus menyusun
jadualdinas yang dapat mencerminkan jumlah dan kategori tenagayang berkemampuan baik pada setiap
shift dan adapenunjukan perawat sebagai penanggung jawab shift dengandisertai pembagian tugas yang
jelas
b) Penerapan sistem pemberian asuhan keperawatan
Merupakan metode penugasan yang dipilih dalam memberikanpelayanan asuhan keperawatan sesuai
dengan kondisi yang ada diRumah Sakit. Sistem pemberian asuhan keperawatan harusmerefleksikan
falsafah organisasi, struktur, pola ketenagaan dankarakteristik populasi pasien yang dilayani. Untuk
memperoleh gambaran penerapan sistem ini dapat dilihat dari tanggung jawab pelaksanaan uraian
tugas dan pelaksanaan wewenang perawatpelaksana.
1) Tanggung Jawab perawat pelaksana :
a. Kebenaran asuhan keperawatan meliputi pengkajian,diagnosis dan rencana asuhan keperawatan.
b. Kebenaran dan ketepatan pelayanan asuhan meliputitindakan dan evaluasi keperawatan.
c. Kelengkapan bahan dan peralatan kesehatan
d. Kebersihan dan kerapihan pasien serta alat kesehatan
e. Kebenaran isi rekam asuhan keperawatan
f. Kebenaran informasi/bimbingan/penyuluhan kesehatan
g. Ketepatan penggunaan sumber daya secara efisien danefektif.
2) Uraian tugas perawat pelaksana:
a. Melaksanakan timbang terima tugas setiap awal dan akhir tugas dari dan kepada petugas
penggantinya.
b. Melakukan observasi tentang kondisi pasien.
c. Mengikuti pre dan post konferens yang dilakukan.
d. Melaksanakan asuhan keperawatan kepada pasien yangmenjadi tanggung jawabnya dan
didokumentasikan dalam rekam asuhan keperawatan.
e. Melakukan monitoring respon pasien terhadap tindakanyang telah dilakukan.
f. Melakukan konsultasi tentang masalah pasien.
g. Membimbing dan melakukan penyuluhan kesehatankepada pasien dan keluarga.
h. Menerima keluhan pasien dan berusaha untukmenyelesaikannya.
i. Melakukan evaluasi askep setiap akhir tugas.
j. Memperkenalkan diri dan rekan yang berada pada satutimnya untuk melakukan askep lanjutan pada
pasien .
k. Melaksanakan tugas pendelegasian pada saat jagasiang/malam atau hari libur.
l. Mengikuti diskusi kasus / konferens dengan tim kesehatan.
m. Mengikuti pertemuan berkala (rutin) ruangan atau tingkatrumah sakit.
3) Wewenang
a. Memeriksa kelengkapan peralatan ruang perawatan
b. Meminta bahan dan perangkat kerja sesuai denagnkebutuhan pelaksanaan tugas
c. Melakukan pengkajian, menetapkan diagnosa danperencanaan keperawatan bagi pasien baru pada
bertugas
d. Melakukan asuhan keperawatan kepada pasien
e. Melaporkan asuhan keperawatan pasien kepadapenanggung jawab.
c) Dokumentasi keperawatan
Dokumentasi keperawatan merupakan unsur penting dalam sistempelayanan kesehatan, karena dengan
adanya dokumentasi yangbaik, informasi mengenai keadaan pasien dapat diketahui
secaraberkesinambungan. Dokumenasi juga merupakan aspek legaltentang pemberian asuhan
keperawatan, secara lebih spesifikdokumentasi keperawatan dapat berfungsi sebagai saranakomunikasi
antar profesi kesehatan, sumber data untuk pengelolaan pasien dan penelitian dan sebagai barang
buktipertanggungjawaban dan pertangunggugatan asuhan keperawatanserta sebagai sarana
pemantauan asuhan keperawatan.Dokumentasi keperawatan dibuat berdasarkan pemecahanmasalah
pasien, yang terdiri dari format pengkajian, rencanakeperawatan, catatan tindakan dan catatan
perkembangan pasien

6. MANFAAT MPKP
Dapat meningkatkan mutu askep
Untuk menata tenaga keperawatan dlm upaya menuju layanan yg profesional
Untuk proses belajar bagi mahasiswa keperawatan
Untuk menunjang program pendidikan ners spesialis keperawatan.
Untuk tempat penelitian keperawatan
PENDAHULUAN
Pembangunan Kesehatan diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan dan
kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk sehingga derajat Kesehatan
dapat dicapai secara optimal.
Rumah sakit sebagai suatu sistem pelayanan Kesehatan yang mengemban tugas
melaksanakan upaya Kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna dengan
mengutamakan upaya penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakan secara
serasi dan terpadu dengan upaya peningkatan dan pencegahan serta
melaksanakan upaya rujukan. Berdasarkan tugas rumah sakit di atas, maka salah
satu fungsi rumah sakit adalah menyelenggarakan pelayanan dan asuhan
keperawatan.
Yang dimaksud dengan pelayanan keperawatan di rumah sakit adalah salah satu
jenis pelayanan professional yang diselenggarakan oleh rumah sakit untuk
melayani kebutuhan masyarakat khususnya dalam bidang keperawatan yang
diorganisir melalui pelayanan rawat inap. Seluruh kegiatan pelayanan
keperawatan di rumah sakit diselenggarakan selama 24 jam sehari secara
berkesinambungan. Kegiatan tersebut diatur dan diorganisir oleh manajer
keperawatan.
Pelayanan keperawatan sebgai bagian integral dari pelayanan Kesehatan di
rumah sakit, menentukan mutu pelayanan Kesehatan di rumah sakit, oleh karena
keberadaan perawat yang memberikan asuhan keperawatan selama 24 jam
secara berkesinambungan. Keluhan masyarakat terhadap pelayanan keperawatan
pada umumnya ditujukan pada sikap perawat yang kurang baik, kurang terampil
dalam berkomunikasi.
Dalam aspek pelayanan keperawatan dimana pelayanan keperawatan sebagai
bentuk kegiatan utama dari pelayanan Kesehatan yang diberikan kepada
masyarakat belum dapat diwujudkan sebagai pelayanan Kesehatan yang
berkualitas. Keadaan actual pelayanan keperawatan menunjukkan bahwa banyak
tenaga keperawatan lebih berkonsentrasi dan terlibat dengan tindakan
pengobatan dan penggunaan tehnologi yang berorientasi medik untuk mengatasi
kompleksitas penyakit. Mereka berupaya untuk saling mendukung dengan profesi
Kesehatan lain, namun sebagai praktisi mereka masih dinilai lebih rendah untuk
komitmen dan tanggung jawab penting yang diembannya.
Sebaliknya, sedikit sekali perawat yang melakukan pelayanan keperawatan
berorientasi keperawatan yang dilandaskan pada teori dan konsep keperawatan
untuk memenuhi kebutuhan individu yang sedang merngalami respon terhadap
penyakit dan pengobatan. Sehingga karakteristik dari peran dan fungsi
keperawatan dalam sistem pelayanan kesehatan di rumah sakit kurang terlihat
secara jelas. Hal ini dapat memfasilitasi situasi yang kurang kondusif bagi tenaga
keperawatan dalam mengembangkan kemampuan profesionalnya.
Menyikapi kesenjangan yang terjadi dalam konteks pelayanan keperawatan,
dirasakan perlunya upaya mengembangkan manajemen asuhan keperawatan
sehingga dapat meningkatkan kualitas asuhan keperawatan pasien.
Manajemen Asuhan Keperawatan.
Manajemen asuhan keperawatan adalah bagian dari manajemen pelayanan
keperawatan yang merupakan pelaksanaan proses keperawatan dengan
menggunakan konsep-konsep-konsep manajemen seperti perencanaan,
pengorganisasian, penggerakkan dan pengendalian atau evaluasi (Gillies, 1994).
Kepala Ruangan sebagai manajer unit (ruang rawat) adalah seorang tenaga
keperawatan yang diberi tanggung jawab dan kewenangan dalam mengelola
kegiatan pelayanan keperawatan di satu ruang rawat di rumah sakit. Oleh karena
itu tanggung jawab manajemen asuhan keperawatan telah didesentralisasikan
kepada Kepala Ruangan, sehingga merupakan kewenangan penuh Kepala
Ruangan untuk mengatur seluruh aktifitas asuhan keperawatan yaitu
kewenangan untuk pengambilan keputusan, meningkatkan mutu asuhan
keperawatan secara terus menerus dalam 24 jam, meningkatkan komunikasi intra
dan antar unit/bagian, menciptakan hubungan interpersonal yang baik sehingga
anggota akan lebih kreatif bagaimana meningkatkan asuhan keperawatan.
Pengelolaan asuhan keperawatan di ruang rawat merupakan ujung tombak
praktik keperawatan profesional (PKP) dimana perawat berhubungan langsung
dengan klien dan keluarganya atau orang yang terdekat dalam membantu
memenuhi kebutuhan dasarnya agar pada akhirnya ia dapat mandiri dan hidup
secara produktif.
Pengelolaan/manajemen asuhan keperawatan yang dirancang secara profesional
guna memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas tinggi pada klien dan
keluarganya melalui suatu pengembangan model praktik keperawatan profesional
dimana model ini telah dicobakan di RSUPN Cipto Mangunkusumo sejak tahun
1996 dengan bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Keperawatan UI. Pada tahun
2000 telah dilakukan evaluasi terhadap efektifitas pelaksanaan mnodel ini dan
dilaporkan bahwa ternyata dengan penggunaan model ini mampu meningkatkan
mutu asuhan keperawatan.
MODEL PRAKTEK KEPERAWATAN PROFESIONAL
Pengembangan model ini bertujuan meningkatkan mutu asuhan keperawatan
melalui penataan sistem pemberian asuhan keperawatan . melalui model ini
dapat ditetapkan rencana kebutuhan tenaga keperawatan secara profesional,
metoda pemberian asuhan keperawatan yang digunakan dan cara
pendokumentasian asuhan keperawatan.
Model Praktek Keperawatan Profesional merupakan suatu model yang memberi
kesempatan kepada para perawat profesional untuk menerapkan otonominya
dalam mendesain, melaksanakan, dan mengevaluasi pelayanan/asuhan
keperawatan yang diberikan kepada pasien. Model ini selalu mengupayakan
bentuk pelayanan dan asuhan keperawatan yang dapat memenuhi kebutuhan
pasien melalui berbagai pendekatan. Pemberian asuhan keperawatan di ruang
model ini berlandaskan nilai-nilai professional yang menunjukkan adanya
otonomi, akontabilitas perawat, dan pengembangan profesi yang memfokuskan
setiap upaya keperawatan pada kulaitas pelayanan keperawatan yang tinggi.
Kerja tim, kolaborasi, dan konsultasi dijalankan secara konsisten untuk
meningkatkan hubungan professional..
Dalam suatu ruang model keperawatan professional, bentuk pelayanan asuhan
keperawatan yang diberikan membutuhkan suatu pengambilan keputusan yang
didesentralisasikan, memperluas lingkup dan jenis tugas serta tanggung jawab
perawat manajer ruangan..
PENGELOLAAN DI RUANG MODEL PRAKTEK KEPERAWATAN PROFESIONAL
Model praktek keperawatan professional terdiri dari 4 komponen utama, yaitu :
1. Ketenagaan Keperawatan
2. Metoda pemberian asuhan keperawatan
3. Proses Keperawatan
4. Dokumentasi Keperawatan
Ketenagaan Keperawatan
Pada suatu pelayanan profesional, jumlah tenaga yang diperlukan tergantung
pada :
Jumlah pasien dan derajat ketergantungan pasien (Douglas, 1984). Menurut
Loveridge & Cummings (1996) klasifikasi derajat ketergantungan pasien dibagi 3
kategori, yaitu :
a. Perawatan minimal : memerlukan waktu 1 2 jam/24 jam.:
Kebersihan diri, mandi, ganti pakaian dilakukan sendiri.
Makan dan minum dilakukan sendiri
Ambulasi dengan pengawasan
Observasi tanda-tanda vital dilakukan setiap shift.
Pengobatan minimal, status psikologis stabil.
Persiapan prosedur memerlukan pengobatan.
b. Perawatan intermediet : memerlukan waktu 3 4 jam/24 jam.:
Kebersihan diri dibantu, makan minum dibantu
Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam
Ambulasi dibantu, pengobatan lebih dari sekali
Voley kateter/intake output dicatat
Klien dengan pemasangan infus, persiapan pengobatan, memerlukan
prosedur
c. Perawatan maksimal/total : memerlukan waktu 5 6 jam/24 jam :
Segala diberikan/dibantu
Posisi yag diatur, observasi ytanda-tanda vital setiap 2 jam
Makan memerlukan NGT, menggunakan terapi intravena
Pemakaian suction
Gelisah/disorientasi
Menurut Douglas (1984) ada beberapa kriteria jumlah perawat yang dibutuhkan
perpasien untuk dinas pagi, sore dan malam.
Waktu
Klasifikasi
Pagi Sore Malam
Minimal
Partial
Total
0,17
0,27
0,36
0,14
0,15
0,30
0,10
0,07
0,20
Sebagai contoh :
Ruang perawatan bedah terdapat 30 pasien, yang terdiri dari 10 pasien
minimal, 15 pasien partial, dan 5 pasien total. Maka jumlah perawat yang
diperlukan untuk jaga pagi adalah :
10 x 0,17 = 1,7
15 x 0,27 = 4,05
5 x 0,36 = 1,8
--------------------
7,55 8 orang perawat yang dibutuhkan untuk dinas pagi.
Untuk mengetahui kebutuhan aktual tenaga keperawatan diruang perawatan
sebaiknya dilakukan setiap hari selama minimal 22 hari, dan dalam waktu yang
sama.
Misalnya rata-rata perawat yang diperlukan di Ruang Bedah menurut
perhitungan Douglas adalah 10 orang perawat, maka jumlah yang diperlukan
pada ruang tersebut adalah
Perawat shift : 10 orang
Libur cuti : 5 orang
Ketua tim : 3 orang
Kepala Ruangan : 1 orang
------------------------------------
19 orang.
Terdapat pula cara lain dalam perhitungan jumlah kebutuhan tenaga
keperawatan yang diperlukan yaitu dengan menggunakan rumus yang
dikembangkan Arndt dan huckabay, 1975 (Gillies, 1994) yang selanjutnya secara
populer disebut Formula Gillies, yaitu dengan komponen yang dipertimbangkan
dalam perhitungan :
A. Penentuan Rata-rata jam perawatan yang diperlukan pasien setiap hari
B. Rata-rata sensus harian pasien.
C. jumlah hari/tahun = 365 hari,
D. Rata-rata hari libur perawat setiap tahun = 140 hari.
E. Jumlah jam kerja perawat setiap hari.
F. Jam perawatan yang dibutuhkan pertahun
G. Jam perawatan yang diberikan oleh masing-masing perawat pertahun
H. Jumlah perawat yang dibutuhkan di ruang rawat.
Rumus :
A X B X C F
------------- = ----- = H.
(C-D) E G
Contoh :
A = 4
B = 20
E = 8
4 x 20 x 365 29.200
--------------- = ---------- = 16.20 16 Perawat shift (pagi, sore, malam)
(365 140) 8 1800
Catatan : penentuan jumlah rata-rata jam perawatan pasien dengan
mempertimbangkan :
1. Minimal care : 1-2 jam/24 jam
2. Moderate care/partial care : 3 - 4 jam/24 jam
3. Total care : 5 6 jam/24 jam.
Contoh : Berdasarkan soal pada klasifikasi tingkat ketergantungan pasien pada
Ruang Rawat yaitu terdapat 30 orang pasien, yang terdiri dari 10 minimal care,
15 partial care dan 5 total care. Maka jumlah rata-rata jam perawatan adalah :
Perawatan minimal : 10 x 2 = 20 jam/10 pasien.
Perawatan partial : 15 x 4 = 60 jam/15 pasien
Perawatan total : 5 x 6 = 30 jam/5 pasien.
= 110 : 30 3,66 4 jam
Menentukan komposisi tenaga :
Abdellah dan Levine pada tahun 1965 (Gillies, 1994) menyarankan kombinasi
tenaga keperawatan yaitu 55 % tenaga profesional dan 45 % tenaga non
profesional. Bila disesuaikan dengan katagori tenaga keperawatan di Indonesia,
maka 55 % minimal lulusan D III Keperawatan dan 45 % tenaga keperawatan
lulusan SPK. Intermountain Health Care menyarankan bahwa kombinasi tenaga
keperawatan adalah : 58 % RN, 26 % LPN, dan 16 % Aides (perawat pembantu).
Apabila dikonversi kategori diatas pada situasi ketenagaan keperawatan di
Indonesia maka 58 % Sarjana Keperawatan/D IV Keperawatan, 26 % D III
Keperawatan dan 16 % Perawat Kesehatan (SPK).
Perbandingan dinas pagi-sore-malam : 47 % Pagi, 36 % Sore, dan 17% Malam.
Metoda pemberian asuhan keperawatan :
Sistem pemberian asuhan keperawatan adalah suatu pendekatan pemberian
asuhan keperawatan secara efektif dan efisien kepada sejumlah pasien. Setiap
metoda memiliki keuntungan dan kerugian masing-masing.
Terdapat 3 pola yang sering digunakan dalam pemberian asuhan keperawatan,
yaitu penugasan fungsional, penugasan tim , penugasan primer.
a. Penugasan Keperawatan Fungsional :
Sistem penugasan ini berorinetasi pada tugas dinama fungsi keperawatan
tertentu ditugaskan pada setiap perawat pelaksana, misalnya seorang perawat
ditugaskan khusus untuk tindakan pemberian obat, perawat yang lain untuk
mengganti verband, penyuntikan, observasi tanda-tanda vital, dan sebagainya.
Tindakan ini didistribusikan berdasarkan tingkat kemampuan masing-masing
perawat pelaksana. Oleh karena itu kepala Ruangan terlebih dahulu
mengidentifikasi tingkat kesulitan tindakan tersebut, selanjutnya ditetapkan
perawat yang akan bertanggung jawab mengerjakan tindakan yang
dimaksudkan. Setiap perawat pelaksana bertanggung jawab langsung kepada
kepala Ruangan. Tidak ada perawat pelaksana yang bertanggung jawab penuh
untuk asuhan keperawatan pada seorang pasien.
Keuntungan :
Menyelesaikan banyak pekerjaaan dalam waktu singkat.
Tepat metoda ini bila ruang rawat memiliki keterbatasan/kurang tenaga
keperawatan professional.
Perawat lebih terampil, karena orientasi pada tindakan langsung dan
selalu berulang-ulang dikerjakan.
Kerugian :
Memilah-milah asuhan keperawatan oleh masing-masing perawat.
Menurunkan tanggung gugat dan tanggung jawab.
Hubungan perawat-pasien sulit terbentuk.
Pelayanan tidak professional.
Pekerjaan monoton, kurang tantangan.
b. Penugasan Keperawatan Tim :
Adalah suatu bentuk sistem/metoda penugasan pemberian asuhan keperawatan,
dimana Kepala Ruangan membagi perawat pelaksana dalam beberapa kelompok
atau tim, yang diketuai oleh seorang perawat professional/berpengalaman. Metoda
ini digunaklan bila perawat pelaksana terdiri dari berbagai latar belakang
pendidikan dan kemampuannya.
Ketua tim mempunyai tanggung jawab untuk mengkoordinasikan seluruh kegiatan
asuhan keperawatan dalam tanggung jawab kegiatan anggota tim. Tujuan metoda
penugasan keperawatan tim untuk memberikan keperawatan yang berpusat kepada
pasien. Ketua Tim melakukan pengkajian dan menyusun rencana keperawatan
pada setiap pasien, dan anggota tim bertanggung jawab melaksanakan asuhan
keperawatan berdasarkan rencana asuhan keperawatan yang telah dibuat. Oleh
karena kegiatan dilakukan bersama-sama dalam kelompok, maka ketua tim
seringkali melakukan pertemuan bersama dengan anggota timnya (konferensi tim)
guna membahas kejadian-kejadian yang dihadapi dalam pemberian asuhan
keperawatan.
Keuntungan :
Melibatkan semua anggota tim dalam asuhan keperawatan pasien.
Akan menghasilkan kualitas asuhan keperawatan yang dapaty dipertanggung
jawabkan.
Membutuhkan biaya lebih sedikit/murah, dibanding sistem penugasan lain.
Pelayanan yang diperoleh pasien adalah bentuk pelayanan professional.
Kerugian :
Dapat menimbulkan pragmentasi dalam keperawatan.
Sulit untuk menentukan kapan dapat diadakan pertemuan/konferensi,
karena anggotanya terbagi-bagi dalam shift.
Ketua tim lebih bertanggung jawab dan memiliki otoritas, dibandingkan
dengan anggota tim.
c. Penugasan Keperawatan Primer
Keperawat primer adalah suatu metoda pemberian asuhan keperawatan dimana
perawat perofesional bertanggung jawab dan bertanggung gugat terhadap asuhan
keperawatan pasien selama 24 jam/hari. Tanggung jawab meliputi pengkajian
pasien, perencanaan , implementasi, dan evaluasi asuhan keperawatan dari sejak
pasien masuk rumah sakit hingga pasien dinyatakan pulang, ini merupakan tugas
utama perawat primer yang dibantu oleh perawat asosiet.
Keperawat primer ini akan menciptakan kesepakatan untuk memberikan asuhan
keperawatan yang komprehensif, dimana asuhan keperawatan berorientasi kepada
pasien.
Pengkajian dan menyusun rencana asuhan keperawatan pasien di bawah
tanggung jawab perawat primer , dan perawat asosiet yang akan
mengimplementasikan rencana asuhan keperawatan dalam timdakan
keperawatan.
Keuntungan :
Otonomi perawat meningkat, karena motivasi, tanggung jawab dan tanggung
gugat meningkat.
Menjamin kontinuitas asuhan keperawatan.
Meningkatnya hubungan antara perawat dan pasien.
Terciptanya kolaborasi yang baik.
Membebaskan perawat dari tugas-tugas yang bersifat perbantuan.
Metoda ini mendukung pelayanan professional.
Penguasaan pasien oleh seorang perawat primer.
Kerugian :
Ruangan tidak memerlukan bahwa semua perawat pelaksana harus perawat
professional.
Biaya yang diperlukan banyak.
Proses Keperawatan
Proses keperawatan merupakan proses pengambilan keputusan yang dilakukan
perawat dalam menyusun kegiatan asuhan secara bertahap. Kebutuhan dan
masalah pasien merupakan titik sentral dalam pengambilan keputusan.
Pendekatan ilmiah yang fragmatis dalam pengambilan keputusan adalah : 1).
Identifikasi masalah, 2) menyusun alternatif penyelesaikan masalah, 3) pemilihan
cara penyelesdaian masalah yang tepat dan melaksanakannya, 4) evaluasi hasil
dari pelaksanaan alternatif penyelesaian masalah.
Seluruh langkah pengambilan keputusan ini tertuang pada langkah-langkah
proses keperawatan yaitu : 1) pengkajian fokus pada keluhan utama dan
eksplorasi lebih holistik, 2) diagnosis yaitu menetapkan hubungan sebab akibat
dari masalah masalah keperawatan, 3) rencana tindakan untuk menyelesaikan
masalah, 4) implementasi rencana dan 5) evaluasi hasil tindakan.
Dokumentasi Keperawatan
Dokumentasi keperawatan merupakan unsur penting dalam sistem pelayanan
keperawatan, karena melalui pendokumentasian yang baik, maka informasi
mengenai keadaan Kesehatan pasien dapat diketahui secara berkesinambungan.
Disamping itu, dokumentasi merupakan dokumen legal tentang pemberian asuhan
keperawatan. Secara lebih spesifik, dokumentasi berfungsi sebagai sarana
komunikasi antar profesi Kesehatan, sumber data untuk pemberian asuhan
keperawatan, sumber data untuk penelitian, sebagai bahan bukti pertanggung
jawaban dan pertanggung gugatan asuhan keperawatan.
Dokumen dibuat berdasarkan pemecahan masalah pasien. Dokumentasi
berdasarkan masalah terdiri dari format pengkajian, rencana keperawatan, catatan
tindakan keperawatan, dan catatan perkembangan pasien.
Model Penugasan TIM.
Metoda ini secara khusus dibahas berdasarkan pertimbangan kemungkinan
pilihan yang paling tepat untuk dilaksanakan di MPKP RS.Wahidin Sudirohusodo.
Sebagaimana diuraikan terdahulu bahwa model tim adalah merupakan suatu
model pemberian asuhan keperawatan dimana seseorang perawat profesional
memimpin sekelompok tenaga keperawatan dalam memberikan asuhan
keperawatan pada sekelompok pasien melalui upaya kooperatif dan kolaboratif
(Douglas, 1984). Model tim didasarkan pada keyakinan bahwa setiap angota
kelompok mempunyai konstribusi dalam merencanakan dan memberikan asuhan
keperawatan sehingga timbul motivasi dan rasa tanggung jawab perawat yang
tinggi sehingga diharapkan kualitas asuhan keperawatan meningkat. Menurut
Kron & Gray (1987), pelaksanaan model tim harus dilandaskan pada konsep
berikut ini :
1. Ketua tim sebagai perawat profesional harus mampu menggunakan berbagai
tehnik kepemimpinan. Ketua tim harus dapat membuat keputusan tentang
prioritas dalam kebutuhan klien merencanakan, melakukan supervisi dan
evaluasi asuhan keperawatan. pelaksanaan konsep tim sangat bergantung
pada filosofi ketua tim apakah berorietntasi pada tugas atau pada klien.
Tanggung jawab Ketua Tim adalah :
a. Mengkaji setiap klien dan menetapkan rencana keperawatan
b. Mengkoordinasikan rencana keperawatan dengan tindakan medik.
c. Membagi tugas yang harus dilaksanakan oleh setiap anggota
kelompok dan memberi bimbingan melalui konferens
d. Mengevaluasi asuhan keperawatan baik proses atau hasil yang
diharapkan serta mendokumentasikannya.
2. Komunikasi yang efektif penting agar kontinuitas rencana keperawatan
terjamin. Terdapat komunikasi yang terbuka melalui berbagai cara
terutama melalui rencana keperawatan yang tertulis yang merupakan
pedoman dalam melaksanakan asuhan, supervisi dan evaluasi.
3. Anggota tim harus menghargai kepemimpinan Ketua Tim. Ketua Tim
membantu anggota tim memahami dan melakukan tugas sesuai dengan
kemampuan mereka.
4. Peran Kepala Ruangan penting dalam model tim. Model tim akan berhasil
baik bila didukung oleh Kepala Ruangan. Dalam hal ini Kepala Ruangan
diharapkan telah :
a. Menetapkan standar kinerja yang diharapkan dari staf.
b. Membantu staf menetapkan sasaran dari unit/ruangan
c. Memberi kesempatan pada Ketua Tim untuk pengembangan
kepemimpinan.
d. Menjadi nara sumber bagi Ketua Tim.
e. Mendorong staf untuk meningkatkan kemampuan melalui riset
keperawatan
f. Menciptakan iklim komunikasi yang terbuka dengan semua staf.
Tugas dan tanggung jawab :
Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab didalam melaksanakan asuhan
keperawatan dibewdahan tugas dan tanggung jawab Ketua Tim dan tugas serta
tanggung jawab anggota tim.
1. Tugas dan tanggung jawab ketus tim ;
a. Bertanggung jawab terhadap pengelolaan asuhan keperawatan klien
sejak masuk sampai pulang.
b. Mengorientasikan klien yang baru dan keluarganya.
c. Mengkaji kondisi kesehatan klien dan keluarganya
d. Membuat diagnosa keperawatan dan rencana keperawatan
e. Mengkomunikasikan rencana keperawatan kepada anggota tim
f. Mengarahkan dan membimbing anggota tim dalam melakukan
tindakan keperawatan
g. Mengevaluasi tindakan dan rencana keperawatan.
h. Melaksanakan tindakan keperawatan tertentu
i. Mengembangkan perencanaan pulang
j. Memonitor pendokumentasian tindakan keperawatan yang dilakukan
oleh anggota tim
k. Melakukan/mengikuti pertemuan dengan anggota tim/tim kesehatan
lainnya untuk membahas perkembangan kondisi pasien.
2. Tugas dan tanggung jawab anggota tim :
a. Melaksanakan tindakan keperawatan yang telah direncana ketua Tim.
b. Mendokumentasikan tindakan keperawatan yang dilakukan
c. Membantu ketua tim melakukan pengkajian, menentukan diagnosa
keperawatan dan membuat rencana keperawatan.
d. Membantu ketua Tim mengevaluasi hasil tindakan keperawatan.
e. Membantu/bersama dengan ketua tim mengorientasikan pasien baru.
f. Menggnati tugas pembantu keperawatan bila diperlukan.
3. Tugas dan tanggung jawab pembantu keperawatan, adalah :
a. Membersihkan ruangan dan meja pasien
b. Menyedikan alat-alat yang diperlukan untuk tindakan keperawatan
c. Membantu perawat dalam melakukan asuhan keperawatan
d. Memberishkan alat-alat yang telah digunakan
e. Mengurus pemberangkatan dan pemulangan pasien konsul
f. Mengantar urinal dan pispot ke dan dari pasien.
Strategi kerja dari Tim :
Saat pasien baru masuk di ruang rawat, pasien dan keluarga akan diterima oleh
Ketua Tim dan diperkenalkan kepada anggota tim yang ada. Kemudia ketua tim
akan memberikan orinetasi tentang ruang, peraturan-peraturan ruangan, perawat
penanggung jawab(ketua tim) dan anggota tim.
Ketua Tim (dapat dibantu oleh anggota tim) melakukan pengkajian, kemudian
membuat rencana keperawatan berdasarkan standar rencana keperawatan yang
sudah ada setelah terlebih dahulu melakukan analisa dan modifikasi terhadap
rencana keperawatan tersebut sesuai dengan kondisi pasien.
Setelah menganalisan dan memodifikasi rencana keperawatan, ketua tim
menjelaskan rencana keperawatan tersebut kepada anggota tim, selanjutnya
anggota tim akan melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan renacana
keperawatan tersebut dan rencana tindakan medis yang dituliskan pada format
tersendiri. Tindakan yang telah dilakukan oleh anggota tim lalu didokumentasikan
pada format yang tersedia.
Bila anggota tim yang menerima pasien baru pada sore dan malam hari atau saat
hari libur, pengkajian awal dapat dilakukan oleh anggota tim terutama yang
terkait dengan masalah kesehaan utama pasien, anggota tim membuat masalah
keperawatan yang utama dan melakukan tindakan keperawatan dengan terlebih
dahulu mendiskusikannya dengan penanggung jawab sore/malam/hari libur. Saat
ketua tim ada, pengkajian dilengkapi oleh ketua tim, kemudian membuat rencana
yang lengkap dan selanjutnya akan menjadi panduan bagi anggota tim dalam
memberikan asuhan keperawatan pada pasien.
Pada dinas pagi, ketua tim bersama anggota tim melakukan operan dari dinas
malam (hanya pasien yang dirawat oleh tim yang bersangkutan), selanjutnya
dengan anggota tim pagi melakukan konferens tentang permasalahan pasien,
pembagian pengelolaan pasien untuk tiap anggota tim, dan mengkoordinasikan
tugas yang harus dilakukan oleh anggota tim.
Selain dengan anggota tim, ketua tim juga melakukan komunikasi langsung
dengan dokter, ahli gizi dan tim kesehatan lain untuk membahas perkembangan
pasien dan perencanaan baru yang perlu dibuat. Selain itu mengidentifikasi
pemeriksaan penunjang yang telah ada dan yang perlu dilakukan selanjutnya. Bila
terdapat rencan baru atau ada tindakan tertentu yang harus dilakukan, maka
ketua tim akan mengkomunikasikan kepada anggota tim untuk melaksanakannya.
Jika terdapat tindakan spesifik yang mungkin tidak dapat dilakukan oleh anggota
tim maka keua tim yang akan melakukan langsung tindakan tersebut. Terutama
dalam melakukan intervensi pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarga akan
dilakukan oleh ketua tim yang didasarkan atas hasil pengkajian pada kebutuhan
peningkatan pengetahuan. Pendidikan kesehatan dapat dilakukan mandiri oleh
ketua tim atau kolaborasi, midsalnya dengan ahli gizi untuk penjelasan mengenai
diet pasien yang benar.
Selama anggota tim melakukan asuhan keperawatan pada pasien, ketua tim akan
memonitor tindakan yang dilakukan dan memberi bimbingan pada anggota tim.
Anggota tim selama melakukan asuhan keperawatan harus mendokumetasikan
semua tindakan yang telah dilakukan pada format-format yang terdapat dipapan
dokumnetasi. Kemudian ketua tim akan memonitor dan mengevaluasi
kokumentasi yang dibuat oleh angota tim.
Setiap hari ketua tim mengevaluasi perkembangan pasien dengan
mendokumentasikan pada format catatan perkembangan dengan metoda SOAP
(data subjektif, data objektif, analisa, dan perencanaan). Catatan perkembangan
pasien ini bagi anggota tim juga menjadi penuntun dalam memberikan asuhan
keperawatan pada pasien.
Bila ada pasien yang akan pulang atau pindah ke unit perawatan lain, ketua tim
akan membuat resume keperawatan sebagai informasi tentang asuhan
keperawatan yang telah diberikan pada pasien selama dirawat, yang berisi
masalah-masalah pasien yang timbul dan masalah yang sudah teratasi, tindakan
keperawatan yang telah dilakukan dan pendidikan kesehatan yang telah
diberikan.
Pada penggantian dinas pagi-sore dilakukan oeran antara anggota tim pagi
dengan anggota tim sore yang didampingi oleh ketua tim. Komponen utama yang
diinformasikan dalam operan antara lain keadaan umum pasien,
tindakan/intervensi yang telah dilakukan dan atau tindakan yang belum
dilakukan, hal-hal penting yang harus diperhatikan oleh perawat dinas sore dan
malam yang berkaitan dengan perencanaan keperawatan pasien yang dibuat oleh
ketua tim. Selanjutnya bila perlu, ketua tim melengkapi informasi-informasi
penting yang belum disampaikan kepada dinas sore. Anggota tim juga menulis
laporan pagi/sore/malam pada format yang tersedia.
Pendistribusian Tim dalam kegiatan shift :
Dibawah ini sebagai contoh sistem pendistribusian tim :
Kegiatan shift Tim I/Kt.tim Tim II/Kt.Tim Tim III/Kt.Tim
Pagi
Sore
Malam
2 anggota tim
2 anggota tim
2 anggota tim
3 anggota tim
2 anggota tim
2 anggota tim
3 anggota tim
2 anggota tim
2 anggota tim
8 pasien 9 pasien 8 pasien
Sistem penjadwalan :
Penjadualan di unit keperawatan perlu dilakukan dengan cermat, sebab apa yang dapat terjadi di
ruangan sulit dipastikan. Kegiatan yang ada banyak tergantung kondisi pasien. Keadaan pasien dapat
berubah-ubah sesuai dengan perubahan kondisi sakit dan kebutuhannya. Oleh karena itu penjadualan
perawat diatur secara garis besar supaya dimodifikasi sesuai dengan perubahan situasi dan kondisi yang
terjadi di unit keperawatan.
Ada beberapa cara penjadualan :
1. Penjadualan desentralisasi : Kepala Ruangan merencanakan jadual dinas untuk stafnya. Cara ini
menimbulkan kesulitan bila membutuhkan banyak perawat karena absen atau sakit. Kepala
Ruangan harus menerencanakan kembali jadual sehingga sering menimbulkan ketidakpuasan
staf.
2. Penjadualan sentralisasi : Petugas ketenagaan akan merencanakan dan mengendalikan jadual,
dengan demikian pekerjaan Kepala Ruangan lebih ringan, tetapi petugas tersebut kurang
mengetahui tentang perubahan kebutuhan perawat karena beban asuhan keperawatan
meningkat di ruangan, maka perlu diberikan gambaran secara menyeluruh tentang tenaga
perawat yang shift.
Beberapa yang patut dipertimbangkan dalam penjadualan ;
1. Sesuai dengan kebijakan, standar dan praktek yang telah ditetapkan dan bagaimana
memanfaatkan tenaga keperawatan yang ada.
2. Perbandingan yasng seimbang antara perawat professional dan yang tidak.
3. Pelayanan yang terus menerus
4. Menghindari maldistribution dan over staffing.
5. Kepuasan anggota staf dalam pekerjaan.
6. Pertimbangan libur dan hari-hari libur lainnya.
7. Memungkinkan penyesuaian dalam kasus penyakit, emergensi, atau perubahan dalam
kebutuhan asuhan.
8. Anggota staf diinformasikan 2 minggu sebelum implementasi jadual.
9. Cegah pada hal yang berhubungan dengan hak-hak individu yang berhubungan dengan
diskriminasi akibat perbedaan seks, etnik dan kepercayaan.
Contoh sistem penjadualan 4 minggu :
Nama
Perawat
Minggu I Minggu II Minggu III Minggu IV


M S S R K J S M S S R K J S M S S R K J S M S S R K J S
Sri m m m m m - - - p p p p p p s s - s s s s m m m m m - -
Susi

Leli

Mina

Karim

Dudi

Amir

PP

PP

Pagi 3 3 3

Sore 2 2 2

Malam 2 2 2

Sumber : Swanburg,1993.hal.51.
Pedoman orientasi bagi pasien dan keluarga :
Selamat datang di ruang rawat Penyakit Dalam Lontara I. Ruang ini adalah ruang
percontohan keperawatan dan merupakan ruang perawatan penyakit dalam bagi
pasien pria dan wanita. Ruang ini memiliki kapasitas tempat tidur sebanyak 40
buah. Ruang ini merupakan pendidkan bagi dkoter dan perawat. Selam
Bapak/Ibu/Saudara di ruang ini ada beberapa hal yang perlu diketahui.
Perawat :
1. Selama dirawat di ruangan ini, Bapak/Ibu/Saudara akan dirawat oleh
beberapa orang perawat, namun ada seorang perawat yang bertanggung
jawab terhadap perawatan Bapak/Ibu/Saudara yang disebut Ketua Tim.
2. Bila Bapak/Ibu/Saudara ingin mendapatkan informasi tentang perawatan
Bapak/Ibu/Saudara dapat ditanya pada Ketua Tim atau pada anggota tim
yang bertugas.
Dokter :
Selama di ruang rawat ini program pengobatan Bapak/Ibu/Saudara akan di
bawah tanggung jawab seorang dokter.
Perlengkapan sehari-hari :
1. Pasien dianjurkan membawa pakaian sendiri untuk dipakai selama di rumah
sakit.
2. Paien/keluarga dianjurkan membawa sendok, gelas, dan termos air sendiri
(air minum disediakan oleh pihak rumah sakit).
3. Paien dianjurkan membawa alat-alat mandi sendiri : walap, sabun, handuk,
sikat gigi, odol, sampho.
4. pakaian pasien dan barang-barang keperluan pasien dapat disimpan di
lemari kecil disamping tempat tidur.
5. Keluarga dapat menyimpan barang-barang pribadi lainnya di lemari yang
disediakan dan saat pulang menyerahkan kuncinya kembali pada ketua tim.
Keluarga/pengunjung :
1. Pasien dapat ditunggu oleh seorang anggota keluarga bila atas persetujuan
ketua tim/kepala ruangan.
2. penunggu pasien/keluarga tidak diperkenankan menggunakan fasilitas bagi
pasien, misalnya kamar mandi, WC.
3. Penunggu pasien/keluarga dapat menggunakan fasilitas yang terdapat di
ruang tunggu yaitu pada
4. Penunggu pasien tidak diperkenankan merokok, makan/minum di dalam
ruang rawat.
Administrasi dan Keuangan :
1. Bagi pasien peserta ASKES biaya yang ditanggung adalah biaya perawatan,
sebagian biaya pemeriksaan laboratorium, sebagian biaya obat-obatan, dan
sebagian biaya tindakan medis (sesuai dengan aturan ASKES). Keterangan
tentang pengurusan ASKES dapat diperoleh dai perawat.
2. Bagi pasien umum (bukan peserta ASKES) harus membayar uang muka untuk
.hari perawat dibagian keuangan ruang rawat penyakit dalam.
3. Sebelum pulang, pasien/keluarga melunasi kekurangan biaya perawatan.
Waktu kunjungan keluarga/dll:
1. Hari biasa/hari kerja : Sore Pk. s/d
2. hari libur : Siang : Pk. . S/d..
Sore : Pk ..s/d
3. Anak-anak usia <>
DAFTAR PUSTAKA
Douglass (1992), The Effective Nurse ; leader and Manager, (4
th
), St.Louis : Mosby
Year Book.
FIK-UI & RSUPN-Cipto Mangunkusumo (2000), Semiloka : Model Praktek
keperawatan Profesional II, Jakarta 12 14 Juli 2000.
Gillies (1994), Nursing Management a System Approach, Philadelphia :
W.B.Saunders.
Kron & Gray (1987), The Management of Patient Care : putting Leadership Skills to
Work, (6
th
), Philadelphia : W.B.Saunders Company.
Ratna Sitorus (1998), Jurnal Keperawatan Indonesia : Pengembangan Model PKP
di RSU-Cipto Mangunkusumo, Jakarta : FIK-UI.
Swansburg 7 Swansburg (1993), Introductory Management and leadership for
Nurses, (2
nd
), Boston : Jones and Bartlett Publishers.
TANGGUNG JAWAB KEPALA RUANGAN


TANGGUNG JAWAB KEPALA RUANGAN
A. Perencanaan
1. Menunjuk perawat primer dan mendeskripsikan tugasnya masing-
masing.
2. Mengikuti serah terima pasien di-shift sebelumnya.
3. Mengidentifikasi tingkat ketergantungan klien yang dibantu
perawat primer.
4. Mengidentifikasi jumlah perawat yang dibutuhkan berdasarkan
aktivitas dan tingkat ketergantungan pasien dibantu oleh perawat
primer.
5. Merencanakan strategi pelaksanaan perawatan.
6. Mengikuti visite dokter untuk mengetahui kondisi, patofisiologi,
tindakan medis yang dilakukan, program pengobatan, dan
mendiskusikan dengan dokter tentang tindakan yang akan dilakukan
terhadap klien.
7. Mengatur dan mengendalikan asuhan keperawatan.
a. Membimbing pelaksanaan asuhan keperawatan.
b. Membimbing penerapan proses keperawatan.
c. Menilai asuhan keperawatan.
d. Mengadakan diskusi untuk pemecahan masalah.
e. Memberikan informasi kepada pasien atau keluarga yang baru masuk.
8. Membantu mengembangkan niat pendidikan dan latihan diri.
9. Membantu membimbing terhadap peserta didik keperawatan.
10. Menjaga terwujudnya visi dan misi keperawatan dan rumah sakit.

B. Pengorganisasian
1. Merumuskan metode penugasan yang dilakukan.
2. Merumuskan tujuan metode penugasan.
3. Membuat rincian tugas perawat primer dan perawat associate
secara jelas.
4. Membuat rencana kendali kepala ruangan yang membawahkan 2
perawat primer dan perawat primer yang membawahkan 2 perawat
associate.
5. Mengatur dan mengendalikan tenaga keperawatan, membuat proses
dinas, mengatur tenaga yang ada tiap hari, dan lain-lain.
6. Mengatur dan mengendalikan logistik ruangan.
7. Mengatur dan mengendalikan situasi lahan praktik.
8. Mendelegasikan tugas saat kepala ruangan tidak berada di tempat
kepada perawat primer.








9. Mengetahui kondisi klien dan menilai tingkat kebutuhan pasien.
10. Mengembangkan kemampuan anggota.
11. Menyelenggarakan konferensi.

C. Pengarahan
1. Memberi pengarahan tentang penugasan kepada perawat primer.
2. Memberikan pujian kepada perawat yang mengerjakan tugas
dengan baik.
3. Memberi motivasi dalam peningkatan pengetahuan,ketrampilan,
dan sikap.
4. Menginformasikan hal-hal yang dianggap penting dan berhubungan
dengan askep pasien.
5. Membimbing bawahan yang mengalami kesulitan dalam
melaksanakan tugasnya.
6. Meningkatkan kolaborasi.

D.Pengawasan
1. Melalui komunikasi
Mengawasi dan berkomunikasi langsung dengan perawat primer
mengenai asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien.
2. Melalui supervisi
a. Pengawasan langsung melalui inspeksi, mengamati sendiri atau
melalui laporan langsung secara lisan dan memperbaiki/
mengawasi kelemahan-kelemahan yang ada saat ini.
b. Pengawasan tidak langsung, yaitu mengecek daftar hadir,
membaca dan memeriksa rencana keperawatan, serta catatan
yang dibuat selama dan sesudah proses keperawatan
dilaksanakan (didokumentasikan), mendengar laporan dari
perawat primer.

3. Evaluasi
a. Mengevaluasi upaya pelaksanaan dan membandingkan dengan rencana
keperawatan yang telah disusun bersama.
b. Audit keperawatan.
Ada 4 fungsi utama dalam manajemen:
1. Perencanaan (Planning),
2. Pengorganisasian (Organizing),
3. Pengarahan (Actuating/Directing),
4. Pengawasan (Controlling)
Fungsi Perencanaan
Dalam manajemen, perencanaan adalah proses mendefinisikan tujuan organisasi, membuat
strategi untuk mencapai tujuan itu, dan mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi.
Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi manajemen karena tanpa
perencanaan fungsi-fungsi lainpengorganisasian, pengarahan, dan pengontrolantak akan
dapat berjalan.
Rencana dapat berupa rencana informal atau rencana formal. Rencana informal adalah rencana
yang tidak tertulis dan bukan merupakan tujuan bersama anggota suatu organisasi. Sedangkan
rencana formal adalah rencana tertulis yang harus dilaksanakan suatu organisasi dalam jangka
waktu tertentu. Rencana formal merupakan rencana bersama anggota korporasi, artinya, setiap
anggota harus mengetahui dan menjalankan rencana itu. Rencana formal dibuat untuk
mengurangi ambiguitas dan menciptakan kesepahaman tentang apa yang harus dilakukan.
Kegiatan dalam Fungsi Perencanaan :
- Menetapkan tujuan dan target bisnis
- Merumuskan strategi untuk mencapai tujuan dan target bisnis tersebut
- Menentukan sumber-sumber daya yang diperlukan
- Menetapkan standar/indikator keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan target bisnis.

Fungsi Pengorganisasian
Proses yang menyangkut bagaimana strategi dan taktik yang telah dirumuskan dalam
perencanaan didesain dalam sebuah struktur organisasi yang tepat dan tangguh, sistem dan
lingkungan organisasi yang kondusif, dan dapat memastikan bahwa semua pihak dalam
organisasi dapat bekerja secara efektif dan efisien guna pencapaian tujuan organisasi.
Kegiatan dalam Fungsi Pengorganisasian :
- Mengalokasikan sumber daya, merumuskan dan menetapkan tugas, dan menetapkan prosedur
yang diperlukan
- Menetapkan struktur organisasi yang menunjukkan adanya garis kewenangan dan
tanggungjawab
- Kegiatan perekrutan, penyeleksian, pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia/tenaga
kerja
- Kegiatan penempatan sumber daya manusia pada posisi yang paling tepat
Fungsi Pengarahan dan Implementasi
Proses implementasi program agar dapat dijalankan oleh seluruh pihak dalam organisasi serta
proses memotivasi agar semua pihak tersebut dapat menjalankan tanggungjawabnya dengan
penuh kesadaran dan produktifitas yang tinggi.
Kegiatan dalam Fungsi Pengarahan dan Implementasi :
- Mengimplementasikan proses kepemimpinan, pembimbingan, dan pemberian motivasi kepada
tenaga kerja agar dapat bekerja secara efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan
- Memberikan tugas dan penjelasan rutin mengenai pekerjaan
- Menjelaskan kebijakan yang ditetapkan

Fungsi Pengawasan dan Pengendalian
Proses yang dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan yang telah direncanakan,
diorganisasikan dan diimplementasikan dapat berjalan sesuai dengan target yang diharapkan
sekalipun berbagai perubahan terjadi dalam lingkungan dunia bisnis yang dihadapi.
Kegiatan dalam Fungsi Pengawasan dan Pengendalian :
- Mengevaluasi keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan target bisnis sesuai dengan indikator
yang telah ditetapkan
- Mengambil langkah klarifikasi dan koreksi atas penyimpangan yang mungkin ditemukan
- Melakukan berbagai alternatif solusi atas berbagai masalah yang terkait dengan pencapaian
tujuan dan target bisnis
sumber : catatankuliahdigital.blogspot.com & id.wikipedia.org

Perencanaan (Planning)
Kegiatan seorang manejer adalah menyusun rencana. Menyusun rencana, berarti memikirkan apa
yang akan dikerjakan dengan sumber yang dimiliki. Agar dapat membuat rencana secara teratur
dan logis, sebelumnya harus ada keputusan terlebih dahulu sebagai petunjuk langkah-langkah
selanjutnya
Berbagai batasan tentang planning dari yang sangat sederhana sampai dengan yang sangat rumit.
Misalnya yang sederhana, merumuskan bahwa perencanaan adalah penentuan serangkaian
tindakan untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan. Pembatasan yang terakhir merumuskan
perencanaan merupakan penetapan jawaban kepada enam pertanyaan berikut :
1) Tindakan apa yang harus dikerjakan ?
2) Mengapa tindakan itu harus dikerjakan ?
3) Di manakah tindakan itu harus dikerjakan ?
4) Kapankah tindakan itu harus dikerjakan ?
5) Siapakah yang akan mengerjakan tindakan itu ?
6) Bagaimana cara melaksanakan tindakan itu ?
Menurut Stoner, Planning adalah proses menetapkan sasaran/tujuan dan tindakan yang perlu
untuk mencapai sasaran tadi. Proses menyangkut upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi
kecenderungan di masa yang akan datang dan penentuan strategi dan taktik yang tepat untuk
mewujudkan target dan tujuan organisasi.
Organisasi (Organizing)
Organisasi (Organizing) adalah dua orang atau lebih yang bekerja sama dalam cara yang
terstruktur untuk mencapai sasaran spesifik atau sejumlah sasaran. Bila di tinjau dari proses,
maka proses itu adalah proses menyangkut bagaimana strategi dan taktik yang telah dirumuskan
dalam perencanaan diatur dalam sebuah struktur organisasi yang tepat dan dapat bekerja secara
efektif.
Pengorganisasian atau Organizing berarti menciptakan suatu struktur dengan bagian-bagian yang
terintegrasi sedemikian rupa sehingga hubungan antar bagian-bagian satu sama lain dipengaruhi
oleh hubungan mereka dengan keseluruhan struktur tersebut.
Pengorganisasian bertujuan membagi satu kegiatan besar menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih
kecil. Selain itu, mempermudah manajer dalam melakukan pengawasan dan menentukan orang
yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas-tugas yang telah dibagi-bagi tersebut.
Aktual (Actuating) Menggerakkan
Mengerakkan atau actuating adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota
kelompok berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan manajerial dan usaha-
usaha organisasi. Jadi actuating artinya adalah menggerakkan orang-orang agar mau bekerja
dengan sendiri atau penuh kesadaran secara brsama-sama untuk mencapai tujuan yang
dikehendaki secara efektif. Dalam hal in yang dibutuhkan adalah kepemimpinan (leadership)
Pimpinan (Leading)
Pekerjaan leading meliputi empat kegiatan yaitu: 1) Mengambil keputusan. 2) Mengadakan
komunikasi agar terjadi saling pengertian antara manajer dan bawahan. 3) Memberi semangat,
inspirasi, dan dorongan kepada bawahan supaya mereka bertindak. 4) Mengkoordinasi kegiatan
Pengarahan (Directing/Commanding)
Directing atau Commanding adalah fungsi manajemen yang berhubungan dengan usaha memberi
bimbingan, saran, perintah-perintah atau instruksi kepada bawahan dalam melaksanakan tugas
masing-masing, agar tugas dapat dilaksanakan dengan baik dan benar-benar tertuju pada tujuan
yang telah ditetapkan semula. Bila ditinjau dari proses, maka proses itu adalah proses
pelaksanaan program agar dapat dijalankan oleh seluruh pihak dalam organisasi serta proses
memotivasinya.
Motivasi (Motivating)
Motivating atau pemotivasian kegiatan merupakan satu dari beberapa fungsi manajemen berupa
pemberian inspirasi, inovasi, semangat dan dorongan kepada bawahan, agar bawahan melakukan
kegiatan secara suka rela sesuai apa yang diinginkan oleh atasan.
Inovasi (Inovation)
Inovasi adalah Proses atau hasil pengembangan atau pemanfaatan/mobi-lesasi pengetahuan,
keterampilan (termasuk keterampilan teknologis) dan pengalaman untuk menciptakan atau
memperbaiki produk (barang dan/atau jasa), proses, dan/atau sistem yang baru, yang
memberikan nilai yang berarti atau secara signifikan (terutama ekonomi dan sosial).
Koordinasi (Coordinating)
Koordinating atau pengkoordinasian merupakan satu dari beberapa fungsi manajemen untuk
melakukan berbagai kegiatan agar tidak terjadi kekacauan, percekcokan, kekosongan kegiatan
dengan jalan menghubungkan, menyatukan dan menyelaraskan pekerjaan bawahan sehingga
terdapat kerja sama yang terarah dalam upaya mencapai tujuan organisasi.
Koordinasi adalah mengimbangi dan menggerakkan tim dengan memberikan lokasi kegiatan
pekerjaan yang cocok dengan masing-masing dan menjaga agar kegiatan itu dilaksanakan
dengan keselarasan yang semestinya di antara para anggota itu sendiri.
Kendali (Controlling)
Kendali, sering juga disebut Pengawasan, Controlling atau, sering juga disebut pengendalian
adalah satu diantara beberapa fungsi manajemen berupa mengadakan penilaian, bila perlu
mengadakan koreksi sehingga apa yang dilakukan bawahan dapat diarahkan ke jalan yang benar
dengan tujuan yang telah digariskan semula. Bila ditinjau dari proses, maka proses itu adalah
proses yang dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan yang telah direncanakan
dan dilaksanakan bisa berjalan sesuai target yang diharapkan.
Pengawasan merupakan tindakan seorang manejer untuk menilai dan mengendalikan jalan suatu
kegiatan yang mengarah demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan
Laporan (Reporting)
Adalah suatu fungsi manajemen berupa penyampaian perkembangan atau hasil kegiatan atau
pemberian keterangan mengenai segala hal yang bertalian dengan tugas dan fungsi-fungsi
kepada pimpinan yang lebih tinggi, baik secara lisan maupun tertulis. Tentu yang terbaik adalah
tertulis
Staf (Staffing)
Staf merupakan suatu fungsi manajemen berupa penyusunan personalia pada suatu organisasi
sejak dari merekrut tenaga kerja, pengembangannya sampai dengan usaha agar setiap tenaga
memberi daya guna maksimal kepada organisasi.
Fungsi Operasional Manajemen
Pada pelaksanaannya, fungsi-fungsi manajemen yang dijalankan menurut tahapan tertentu akan
sangat berbeda jika didasarkan pada fungsi operasionalnya. Operasional adalah proses penentuan
pengamatan kegiatan yang dapat diamati, berarti apa yang dilakukan/diamati.
Secara opersional, fungsi perencanaan untuk sumber daya manusia akan sangat berbeda dengan
fungsi perencanaan untuk sumber daya alam. Demikian pula jika dilihat dari jenis organisasinya.
Dalam manajemen organisasi kegiatan/usaha (bisnis), dapat dibedakan secara garis besar
menjadi fungsi-fungsi sebagai berikut: 1) Manajemen Sumber Daya Manusia. 2) Manajemen
Produksi. 3) Manajemen Pemasaran dan 4) Manajemen Keuangan
Manajemen Sumber Daya Manusia pada pelaksanaan usaha adalah yang mengelola
pelaksana/pekerja (orang).
Manajemen Produksi pada pelaksanaan usaha adalah yang mengelola kegiatan memproduksi
produk
Manajemen Pemasaran pada pelaksanaan usaha adalah yang mengelola, mendata dan mencari
pembeli/pelanggan.
Manajemen Keuangan pada pelaksanaan usaha adalah yang mengelola uang usaha yang
diperoleh dari penjualan produk atau pinjaman dari badan lain dalam pelaksanaan kegiatan
usaha.
Lingkaran Spiral
Aktifitas fungsi-fungsi manajemen menurut Islam, merupakan sesuatu yang berulang-ulang,
menyerupai lingkaran (siklus) atau berbentuk seperti lingkaran ulir atau spiral maju kedepan
yang selalu mengarah kepada perbaikan. Kejadian ini dijelaskan pada surat Alam Nasyrah [94] 5
sampai 7.
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (5). Sesungguhnya sesudah kesulitan
itu ada kemudahan (6). Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah
dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain (7).
Berulang perkataan sesudah kesulitan itu ada kemudahan (ayat 5 dan 6). Ini berarti suatu siklus.
Satu siklus dikerjakan dengan sungguh-sungguh, kemudian dikerjakan pula siklus kedua dengan
sungguh-sungguh (ayat 7).
Pada surat ini jelas terlihat penting melakukan pekerjaan dengan berulang-ulang dan sungguh-
sungguh, sehingga diperoleh hasil yang lebih baik dari pengalaman pekerjaan pertama begitulah
seterusnya. Artinya untuk jenis produk yang sama tentu didapatkan kesulitan, kemudian
dilakukan perbaikan dan dikerjakan dengan sungguh-sungguh diproleh hasil yang lebih baik
begitulah seterusnya. Hasil perbaikan akan menghilangkan beban, memberikan kemudahan,
kelapangan dan meningkatkan mutu produk karena pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh
dari menyelesaikan kesulitan dari produk tersebut.
Perhatikan aktifitas fungsi-fungsi manajemen yang terkenal adalah POAK. Telihat merupakan
sesuatu yang berulang-ulang, menyerupai lingkaran (siklus) yaitu POAK-evaluasi (perbaikan)-
POAK-evaluasi (perbaikan)-POAK dan seterusnya maka terjadi berbentuk seperti lingkaran ulir
atau spiral maju kedepan yang selalu mengarah kepada perbaikan.
Kejadian ini bila diperhatikan mengikuti ayat-ayat Al Quran surat Alam Nasyrah [94] ayat 5
sampai 7 dilengkapi dengan langkah Dan hanya kepada Tuhan mulah hendaknya kamu berharap
(8). Langkah ini tidak terdapat pada POAK.
Mudah-mudahan paparan diatas dapat menjadi masukan dalam menjalankan
Usaha/Orgabisasi/bisnis.

Anda mungkin juga menyukai