Anda di halaman 1dari 6

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI BATIK CAP

KHAS PALEMBANG DBNGAN PROSES'FILTRASI


DAN
.
ADSORPSI
Tufy Emilia Agustina
Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Unsri
Jl Raya Prabumulih Km 32 Inderalaya 30662
Herni Badewasta
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatera Selatan
Jl Kapten A. Rivai Palembang 30137
Abstrak
Industri tel<stil banyak menghasilkan limbah cair yang umumnya didominasi oleh pencemaran yang
diakibatkan oleh penggunaan bahan pewarna di dalam proses produksinya. Limbah ini dikategorikan
sebagai limbah 83 (bahan
berbahaya dan beracun) karena kandungan bahan yang berbahaya seperti
logam berat yang berasal dari zat warne sintetis yang dipakai. Sampel yang digunakan dalqm studi ini
diambil dari limbah cair indastri batik cap khas Palembang. Dari hasil analisa sampel didapatkan kadar
pH, COD (Chemical
Oxygen Demand), dan TSS (Total
Suspended Solid) yang melebihi standar baku
mutu limbah cair industri tel<stil, sehingga limbah cair ini harus diolah dengan,baik. Dalam penelitian
ini limbah cair diolah dengan cara proses
filtrasi
dan adsorpsi. Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan
bahwa dalam proses
filtrasi,
semakin tinggi lapisan pasir yang digunakan maka akan semakin banyak
TSS yang terserap. Proses ini juga
memberikan penurunan nilai COD yang signifikan. Adapun pengaruh
perbedaan tinggi lapisan pasir terhadap penurunan COD cukup kecil. Dalam proses adsorpsi, semakin
besar ketinggiqn zeolit dan semakin lama waktu kontak maka TSS dan COD yang diserap akan semakin
banyak Dari
qnalisa
hasil didapatkan bahwa sampel limbah cair yang dio.lah telah memenuhi standar
baku mutu lingkungan yang disyaratkan bagi limbah cair industri tekstil.
Kata Kunci : limbah cair industri tekstil, proses filtrasi, proses adsorpsi
Abstract
Textile industries generate a large volume of wastewater which is generally dominated by the using of
dyqstuff in the production processes. The wastewater is catagorized as 83 waste (Bahan Berbahaya dan
Berircun) because of the dangerous material content such
qs
a heavy metal come
from
the synthetic dye
used. The sample applied in this study was taken
from
the Palembang specific stamp batik industrial
wastewater. From the sample analyses, it was
found
that pH, COD (Chemical
Oxygen Demand), and TSS
(Total
Suspended Solid) value was exceed the quality standard of industrial wastewater, thus the
wastewater have to treat well. In this research, the wastewater is treqted by the
filtration
and adsorption
processes. As the results, it can be concluded that in the
filtration
procsss, the TSS adsorbed increase
with the increasing of sand bed. This process also gives a significant COD removal. But the
ffict
of the
dffirent height of sand bed on the COD removal is quite small. In the adsorption process, the TSS
adsorbed and the COD removal increase with the increasing of zeolit height and contact time. lt was
found
that the treated wastewater was met the enyironmental quality standard requirement need
for
the
in dus tri al w as tewater.
Keyword : textile industrial wastewater, filtration process, adsorption process
l. Pendahuluan
lndustri tekstil adalah industri yang
memproduksi atau mengolah bahan mentah,
bahan baku dan atau bahan seten$ah
jadi
menjadi
produk tekstil yang bemilai tinggi. Industri tekstil
di lndonesia menghasilkan berbagai macam
produk, baik untuk pasar dalam negeri maupun
ekspor. Proses pembuatannya dilakukan sgcara
konvensional maupun secara modern. Industri
tekstil konvensional banyak membutuhkan
tenaga kerja, sehingga berdampak positif, sebagai
upaya meminimalisasi angka pengangguran di
lndonesia, dengan adanya lapangan pekerjaan di
bidang tekstil. Di Indonesia, industri tekstil
merupakan salah satu penghasil devisa bagi
negara. Industri tekstil Indonesia, yang
memproduksi bahan tekstil dan industri pakaian
jadi,
merupakan penyumbang devisa nomor satu
di sektor non migas dan nomor tiga setelah
minyak bumi dan gas alam.
Kegiatan industri selain menghasilkan
produk yang berguna,
juga
menghasilkan limbah
sebagai produk sampingnya. Demikia pula
halnya dengan industri kecil batik cap khas
Palembang yang banyak menghasilkan limbah
cair yang berasal dari proses pencelupan dan
pencucian. Limbah ini didominasi oleh
pencemaran karena penggunaan zat warna
sintetis dalam proses produksinya. Limbah ini
dikategorikan sebagai limbah 83 (bahan
berbahaya dan beracun). Meningkatnya
kekeruhan air karena adanya polusi zat warna
akan menghalangi masuknya cahaya matahari ke
dasar perairan dan mengganggu keseimbangan
proses fotosintesis, ditambah lagi adanya efek
mutagenik dan karsinogen dari zat warna
tersebut, membuatnya menjadi masalah yang
serius. Selain itu air limbah pabrik tekstil di
Indonesia rata-rata mengandung 750 mgl
padatan tersuspensi dan 500 mg/l BOD.
Perbandingan COD : BOD adalah dalam kisaran
1,5 :,1 sampai 3 : I (http://one.indoskripsi.com).
Nilair,ini
jauh
melebihi standar baku mutu
lingkuhgan. Oleh karena itu limbah ini harus
diolah dengan baik.
Pengolahan limbah cair industri tekstil
dapat dilakukan secara kimia, fisika, biologi
ataupun gabungan dari ketiganya. Pengolahan
secara kimia dilakukan dengan koagulasi,
flokulasi, dan netralisasi. Peqgolahan limbah cair
secara fisika dapat dilakukan dengan cara
adsorpsi, filtrasi, dan sedimentasi. Pengolahan
limbah cair secara biotogi adalah pemanfaatan
aktivitas mikroorganisme menguraikann bahan-
bahan organik yang terkandung dalam limbah.
Dari ketiga cara pengolahan ini, masing-masing
mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Pengolahan limbah cair secara kimia akan
menghasilkan lumpur dalam
jumlah yang besar,
sehingga menimbulkan masalah baru untuk
penanganan lumpurnya. Penggunaan karbon aktif
dalam pengolahan limbah yang mengandung zat
warna menghasilkan persen penurunan zat wama
yang tinggi (Sari et a1.,2006; Soedarsono dan
Syahputra, 2007; Sari et. Al, 2007)
,
tetapi harga
karbon aktif relatif mahal dan
juga
akan
menambah ongkos peralatan untuk regenerasi
karbon aktif tersebut. Proses pengolahan limbah
cair secara biologi adalah salah satu alternatif
pengolahan yang sederhana dan ekonomis,
karena tidak diperlukan bahan kimia sehingga
biaya operasinya relatif lebih rendah. Namun
sampai sekarang ini pengolahan dengan lumpur
aktif tidak efisien untuk menghilangkan warna
dari industri tekstil (Meyer, 1981). Selain itu
proses biologi memakan waktu yang cukup lama.
Saat ini terdapat Unit Pengolahan
Limbah (UPL) yang menggunakan teknik
peresapan alami untuk mengatasi air limbah yang
berasal dari industri tekstil yang dibangun oleh
Pemerintah Kota Pekalongan dengan dana 1,7
miliar. Sistem ini menyediakan bak-bak
penampungan dimana pada dasar tanah
penampungan dipasang geo membra,? yang tidak
dapat ditembus' air dan dilapisi batu kerikil
hingga lebih dari satu meter. Kemudian di
atasnya ditanami tanaman pisang-pisangan yang
akan menghisap beberapa unsur kimia yang
terkandung dalam bak. Selanjutnya, air limbah
masuk ke bak-bak tersebut, kemudian baru
mengalir ke pembuangan. Air yang dibuang
melalui UPL relatif bening. (Suara Merdeka, 30
Juni 2004).). Tetapi UPL seperti ini biaya
konstruksi dan operasionalnya cukup mahal
sehingga sulit untuk diterapkan di sentra industri
kecil. Beberapa penelitian telah dilakukan dalam
mengolah limbah industri tekstil dengan cara
kimia, fisika, biologi atau kombinasi dari dua
atau ketiganya. Pengolahan limbah cair industri
batik dengan koagulan dan penyaringan telah
dilakukan oleh Astuti (2004). Koagulan yang
digunakan adalah aluminium sulfat sedangkan
untuk penyaringan dipakai pasir arang. Setelah
mengalami proses ini, kualitas limbah cair telah
memenuhi baku mutu limbah cair. Soedarsono
dan Syahputra (2007) telah melakukan studi
mengenai pengolahan air limbah batik dengan
proses kombinasi' elektrokimia, filtrasi, dan
adsorpsi. Pada proses filtrasi dan adsorpsi
digurtakan arang aktif dan pasir silika. Dari hasil
analisa sampel timbah yang telah diolah
didapatkan penurunan warna sebesar 99,25
o/o
dengan menggunakan karbon aktif setebal 20
cm. Kemampuan karbon aktif dalam mengolah
limbah zat warna
juga
telah teruji dalam
penelitian yang dilakukan oleh Masriati (2006),
Sari et al. (2007), dan Juniar (2008). Akan tetapi
penelitian terhadap limbah industri tekstil dengan
menggunakan zeolit masih sangat
jarang
dilakukan. Oleh karena itu, dalam penelitidn ini
akan dikaji pengolahan limbah industri pabrik
dengan menggunakan filtrasi dan adsorpsi
dimana akan dipakai paiir dan zeolit sebagai
filter dan adsorben.
Sebagaimana umumnya industri kecil
yang berskala rumah tangga, sentra industri kecil
batik cap khas Palembang tidak mempunyai unit
pengolahan limbah, sehingga mereka membuang
limbah cairnya langsung ke selokan di sekitar
rumah atau lokasi pembatikan.
Karena lokasi
industri kerajinan batik cap khas Palembang
berada pada lingkungan permukiman maka perlu
dilakukan usaha untuk melakukan pengolahan
limbah cair yang murah, effisien dan sederhana
agar tidak mencemari lingkungan.
Umumnya tujuan dari pengolahan
limbah cair industri tekstil adalah mengurangi
tingkat polutan organik, logam berat, padatan
tersuspensi, dan warna sebelum dibuang ke badan
air. Pada saat ini polutan di Indonesia tidak
memasukkan wama sebagai parameter yang
diatw. Walaupun demikian, limbah yang
mengandung warna seringkali menimbulkan
kesulitan dalam penggunaan selanjutnya dan
dalam masalah estetika. Penelitian ini bertujuan
untuk mengolah limbah cair industri batik dengan
cara filtrasi menggunakan media pasir, ijuk, dan
kerikil dilanjutkan adsorpsi dengan adsorben
zeolit.
Ruang lingkup penelitian ini adalah
pengolahan limbah cair batik cap yang
sampelnya diarnbil dari daerah sentra industri
kecil batik cap khas Palembang berlokasi di
kawasan seberang ulu yang merupakan sentra
batik cap khas Palembang. Pada penelitian ini
proses filtrasi dilakukan dengan memvariasikan
ketinggian pasir. Sedangkan pada proses
adsorpsi digunakan zeolit dengan
memvariasikan ketinggian zeolit dan waktu
kontak. Parameter yang diukur meliputi pH,
TSS, dan COD.
Dengan pengolahan limbah cair industri
kecil batik cap khas Palembang menggunakan
proses filtrasi dan adsorpsi, diharapkan akan
dihasilkan suatu metode yang efisien, murah, dan
sederhana sehingga metode ini dapat diterapkan
sesuai dengan kondisi di lapangan .
2. Teori Dasar
Pencemaran air dari idustri teksil dapat
berasal dari buangan air proses produksi,
buangan sisa-sisa pelumas dan minyak, buangan
bahan-bahan kimia sisa proses produksi, sampah
potongan kain, dan lainnya. Pewarnaan dan
pembilasan menghasilkan air limbah yang
berwarna dengan COD tinggi dan bahan-bahan
lain dari zatwamayang dipakai, seperti fenol dan
logam. Jenis limbah yang dihasilkan industri
tekstil adalah, logam berat terutama arsenik,
kadmium (Cd), krom (Cr), timbal
@b),
tembaga
(Cu), zinc atau seng (Zn), hidrokarbon
terhalogenasi (dari proses dress ing dan
finishing),
zat warna dan pelarut organik (Kementrian
Lingkungan Hidup, 2003).
Prinsip yang digunakan untuk mengolah
limbah cair secara kimia adalah menambahkan
bahan kimia (koagulan) yang dapat mengikat
bahan pencemar yang dikandung air limbah,
kemudian memisahkannya (mengendapkan
atau
mengapungkan). Pada umumnya bahan seperti
aluminium sulfat (tawas),
fero sulfat, poli
amonium khlorida atau poli elektrolit organik
dapat digunakan sebagai koagulan dan flokulan.
Terdapat tiga tahapan penting yang diperlukan
dalam proses koagulasi yaitu, tahap pembentukan
inti endapan, tahap flokulasi, dan tahap
pemisahan flok dengan cairan. Koagulasi adalah
proses penambahan koagulan ke dalam air limbah
dengan maksud mengurangi daya tolak menolak
antar partikel koloid, sehingga partikel-partikel
tersebut dapat bergabung menjadi flok-flok kecil.
Flokulasi adalah proses penggabungan flok-flok
kecil hasil proses koagulasi menjadi flok-flok
berukuran besar sehinjga mudah mengendap
(Mujiadi
dan Nieke, 2001
).
Pengolahan limbah cair secara fisika
dapat dilakukan dengan cara adsorpsi, filffasi,
dan sedimentasi. Adsorpsi dilakukan dengan
penambahan adsorben, karbon aktif atau
sejenisnya. Filtrasi merupakan proses pemisahan
padat-cair melalui suatu alat penyaring (filter).
Sedimentasi merupakan proses pemisahan padat-
cair dengan cara mengendapkan partikel
tersuspensi dengan adanya gaya gravitasi. Proses
filtrasi di dalam pengolahan air buangan,
biasanya dilakukan untuk mendahului proses
adsorbsi atau proses reverse osmosis-nya, akan
dilaksanakan untuk menyisihkan sebanyak
mungkin partikel tersuspensi dari dalam air agar
tidak mengganggu
.
proses adsorbsi atau
menyumbat membran yang dipergunakan dalam
proses osmosa. Proses adsgrbsi, biasanya dengan
karbon aktif, dilakukan untuk menyisihkan
senyawa aromatik (misalnya fenol) dan senyawa
organik terlarut lainnya, terutama
jika
diinginkan
untuk menggunakan kembali air buangan
tersebut.
3. Metodologi
Sampel air limbah yang dipergunu?un
dalam penelitian ini diambil dari sampel limbah
industri kecil batik cap khas Palembang.
Adapaun bahan yang dipergunakan meliputi
tawas, pasir silika, ijuk, kerikil, dan zeolit sebagai
adsorben.
Sampel awal limbah dianalisa terlebih
dahulu. Parameter
yang diuji meliputi pH, COD;
dan TSS. pH diukur dengan menggunakan pH
meter, COD diukur dengan alal HATCH,
sedangkan TSS diukur berdasarkan metode SNI
06-2413.1991.
Alat yang digunakan berupa empat buah
bak penampungan yang terdiri dari satu bgah bak
penampung limbah, satu bak penampung air
proses sebagai control
,
satu bak penyaringan
dan satu kolom adsorpsi. Masing-masing bak
berdiameter 20 cm dengan tinggi 50 cm. Bak
filtrasi berisi pasir, ijuk dan kerikil. Ketinggian
unggun ijuk dan kerikil dibuat tetap.
Percobaan pengolahan limbah cair
dilakukan dengan penyaringan dan adsorpsi.
Penyaringan dilakukan dengan filtrasi saringan
pasir dengan 3 (tiga) variasi ketinggian unggun
pasir yaitu : l0 cm, l5 cm dan 20 cm.
Sedangkan adsorpsi dilakukan dengan adsorben
zeolit dengan variasi ketinggian unggun l0 cm,
20 cm,30 cm, dan variasi waktu kontak 15, 30,
dan 60 menit.
j
4. Hasil dan Pembahasan
Penelitian ini bertujuan untuk mengolah
limbah cair industri batik dengan cara filtrasi dan
adsorpsi, sehingga dapat diketahui kemampuan
proses filtrasi dan adsorpsi dalam menyerap zat
pencemar yang terdapat pada limbah cair industri
batik cap khas Palembang. Penurunan pencemar
dari limbah cair ditunjukkan dengan penurunan
intensitas warna limbah cair yang dapat diamati
secara langsunB, pH, COD, dan TSS. Analisa
awal yang dilakukan terhadap sampel limbah cair
dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel t. Hasilanalisa awat air limbah pabrik
Adapun standar yang dipergunakan
berdasarkan Peraturan . Gubernur Sumatera
Selatan Nomor 18 tahun 2005 tentang Baku
Mutu Limbah cair untuk lndustri Tekstil.
Proses filtrasi dilakukan secara batch
dengan memvariasikan ketinggian lapisan pasir.
Dari hasil percobaan didapat bahwa filtrasi
dengan lapisan pasir 20 cm menghasilkan sampel
terbaik yang selanjutnya akan digunakan untuk
proses selanjutnya. Pengaruh proses filtrasi
terhadap penumnan nilai TSS terlihat pada
gambar l.
Gambar 1. Pengaruh proses filtrasi terhadap
penurunan nilai TSS
Dari gambar diatas dapat terlihat bahwa
semakin tinggi lapisan pasir yang digunakan
maka akan semakin banyak TSS yang terserap
sehingga TSS yang keluar dari proses filtrasi
dengan media pasir ini semakin menurun. Hal
ini disebabkan karena semakin tinggi lapisan
pasir yang dilalui maka akan semakin banyak
kotoran tersuspensi yang dapat tertahan pada
lapisan pasir tersebut. Dimana kadar TSS yang
terkandung didalam sampel awal yaitu 535 mg/l,
setelah dilewatkan pada saringan pasir dengan
ketebalan lapisan pasir 10, 15, dan 20 cm,
berturut-turut terjadi penumnan kadar TSS
menjadi 153, 105, dan 45 mg/I.
Intensitas wama dari sampel limbah
yang telah melewati proses filtrasi terlihat sudah
jauh
berkurang. Semakin tinggi unggun pasir
yang digunakan, maka terlihat semakin
jernih
pula sample air limbah yang dihasilkan. Hal ini
dikarenakan semakin banyaknya partikel yang
tertahan pada unggun pasir.
Hasil serupa
juga
dikemukakan oleh
Soedarsono dan Syahputra
(2007) dalam
penelitiannya mengenai pengolahan limbah batik
dengan proses kombinasi elektrokimia, filtrasi,
dan adsorpsi. Dimana dengan semakin tebalnya
media karbon aktif
yang digunakan, maka
semakin kecil kandungan warna dalam sampel
akhir. Ketebalan karbon aktif yang efisien dalam
penurunan warna yaitu 20 cm yang dapat
menurunkan konsentrasi warna dari 266 mglL
Pt-Co menjadi 2 m{L Pt-Co dengan ehsiensi
penurunan yang tinggi yaitu lebih dari99%.
600
500
3 +oo
ID

soo
E zoo
F
100
0
batik ca khas Pa lembans
(m
Parameter Standar Sampel Limbah Cair
Pencelupan Batik
cap
oH 6-9 6
COD 150 4.230,366
Amoniak total 8 5,47
Fenol total 0,s 0,008
TSS 50 535
Sulfida 0,3 0,040
Chrom total 0,1 3 85
Besi
(Fe) 2"0587 .
Tembaga
(Cu) 0,2696
Seng
(Zn) s4,7 t7 s
Cadmium
(Cd) 0.0063
Timbal(Pb) 0,2349
Pengaruh proses filtrasi terhadap
penurunan nilai COD dapat dilihat pada gambar-
2. Pada grafik dapat dilihat bahwa terjadi
penurunan nilai COD yang cukup
,signifikan,
yaitu sebesar 80-84%. Adapun pengaruh
perbedaan tinggi lapisan pasir terhadap
penurunan COD cukup kecil.
1000
5
'10
1r
lGtinggian pasir (cm)
Gambar 2. Pengaruh proses filtrasi terhadap
penurunan nilai COD
Dalarn gambar 3 terlihat pengaruh
waktu kontak dan ketinggian zeolit terhadap
penurunan nilai TSS. Dari hasil penelitian dapat
terlihat bahwa semakin besar ketinggian zeolit
dan semakin lama waktu kontak maka kadar TSS
yang diserap akan semakin banyak. Hal ini
dikarenakan dengan semakin lama waktu kontak
dan semakin tinggi lapisan zeolit maka
kesempatan untuk terjadinya proses adsorpsi
semakin besar. Juniar (2008) melaporkan trend
yang sama, dalam studi pengaruh ketinggian
unggun adsorben dan debit terhadap penurunan
kualitas limbah cair tenun songket tradisional
menggunakan karbon aktif dar tempurung
kelapa, dimana semakin besar waktu kontak dan
semakin tinggi unggun karbon aktif maka proses
adsorpsi semakin bai'k yang ditunjukkan dengan
semakin menurunnya kadar TSS dalam sampel
akhir limbah yang telah diolah.
Gambar 3. Pengaruh proses adsorpsi
terhadap pnurunan nilai TSS
Hasil terbaik yang dihasilkan melalui
proses adsorpsi ini didapatkan dengan
menggunakan ketinggian zeolit 30 cm dan waktu
kontak 60 menit, dimana kadar TSS akhir adalah
15 mg/l dengan nilai pH 6. Hasil ini telah
memenuhi baku mutu lingkungan yang
disyaratkan bagi limbah cair pencelupan tekstil.
Pengaruh proses adsorpsi terhadap
penurunan nitai COD dapat dilihat pada gambar
4. Sama halnya dengan pengaruh adsorpsi
terhadap kadar TSS, maka semakin besar
ketinggian zeolit dan semakin lama waktu kontak
maka penurunan kadar COD akan semakin besar.
Hasil terbaik yang dihasilkan melalui proses
adsorpsi ini didapatkan dengan menggunakan
ketinggian zeolit 30 cm dan waktu kontak 60
menit. Hasil yang didapat yaitu kadar COD
turun menjadi 77,5 mglliter dengan nilai pH 6.
Hasil ini telah memenuhi baku mutu lingkungan
yang disyaratkan bagi limbah cair pencelupan
tekstil.
800
J
600
o
5 aoo
o
o
o 200
0
15 30 45
Waktu kontak (menitl
Gambar 4. Pengaruh proses adsorpsi
terhadap penurunan nilai COD
5. Kesimpulan
Dari penelitian ini dapat disimpulkan
bahwa proses filtrasi dan adsorpsi dapat
digunakan untuk pengolahan limbah cair yang
berasal dari industri batik cap khas Palembang..
Pada proses filtrasi hasil terbaik didapatkan pada
penggunaan pasir dengan ketinggian 20 cm,
dimana terjadi penumnan nilai TSS sebesar
9l,6Yo dan pengurangan nilai COD sebesar
84,2%. Sedangkan pada proses adsorpsi hasil
terbaik didapatkan pada penggunaan zeolit
dengan ketinggian 30 cm dan waktu kontak 60
menit, dimana didapatkan penurunan nilai TSS
sebesar 66,7yo dan penurunan nilai COD sebesar
88,40 .
Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih
kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Provinsi Sumatera Selatan yang telah
memberikan bantuan finansial di dalam
penelitian ini dan menyediakan fasilitas
laboratorium sebagai tempat penelitian.
5000
4000
3000
2000
J
o
E
o
o
o
50
40
3
b30
E
6zo
al,
F
10
0
Daftar Pustaka
tll
Astuti, F.
(2004),
"Pengolahan Limtah
Cair Industri Batik dengan Koagulan dan
Penyaringan", Tesis Magister, Program
Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta.
t21
Juniar H., (2008),
*Studi
Pengaruh
Ketinggian Unggun Adsorben.dan
Debit
terhadap Penurunan Kualitas Limbah
Cair Tenun Songket Tradisional
Menggunakan Karbon Aktif Tempurung
Kelapa", Tesis Program Magister Teknik
Kimia Program Pasca Sarjana Universitas
Sriwijaya, Palembang.
t3l
http://one.indoskripsi.com,
diunduh pada
tanggal 13 Juni 2009
l4l
Kementerian Lingkungan Hidup Republik
Indonesia (2003),
"Pengolahan dan
Pemanfaatan
Limbah"
[http://www.menlh.go.id]
diunduh pada
tanggal ll Maret2005
Masriati, R., (2006),
"Pengolahan
Limbah Cair Industri Kerajinan Songket
Tradisional
dengan Adsorpsi
Menggunakan Karbon Aktif', Tesis
Program magister Teknik Kimia Program
Pasca Sarjana Universitas Sriwijaya,
Palembang
Mujiadi, S. Dan Nieke, K., (2001),
"Kemampuan Koagulan Poli Aluminium
Khloride untuk Menurunkan Warna
Effluent Pengolahan Limbah PT Sier,
Jurnal Purifikasi vol.2 hal 27 I -27 6.
Sari, T.I., Ali, F., dan Rafsanjani, B.
(2006),
"Pembuatan Karbon Aktif dari
Ampas Tebu dan Aplikasinya dalam
Pengolahan Limbah Cair", Jurnal Teknik
Kimia, no.4 Vol 10, hal l-1-6, Univrsitas
Sriwijaya, Palembang.
Sari, T.I.,'lmron, A., dan Ulfa, M.,
(2007),
"Pembuatan Karbon Aktif dari Tempurug
Kelapa dan Pemanfaatannya dalam
menurunkan Turbiditas Limbah Zat
Warna", Jurnal Teknik Kimia No. 3 Vol
I I hal 24-31, Universitas Sriwijaya,
Palembang
t9l
Suara Merdeka, (2004), Juni
tl0l
Soedarsono dan Syahputra, B., (2007),
"Pengolahan Air Limbah Batik dengan
Proses Kombinasi Elektrokimia, Filtrasi,
dan Adsorpsi", Laporan penelitian,
Fakultas Teknik, Jurusan Teknik
Lingkungan, Universitas Islam Sultan
Agung,, Semarang
t5l
t6l
t7l
t8t
l.r