Anda di halaman 1dari 109

BAB III

BIOGRAFI DAN > < ) ESACK


A. SEJARAH HIDUP FARID ESACK
a. Sketsa Bi!"a#s Fa"i$ Esa%k
Farid Esack (selanjutnya: Esack) dilahirkan tepat pada tahun 1959 di sebuah
perkampungan kumuh lagi miskin di Cape Ton! "ynberg! #$rika %elatan& 'ima
saudara kandungnya berlatar belakang kehidupan miskin dan penuh dengan kegetiran
hidup( Figur ayahpun telah lama tak dijumpai Esack semenjak )a berumur tiga minggu(*
%emakin lengkap penderitaannya ketika sang )bu! sepanjang perjalanan hidupnya
ditakdirkan sebagai seorang pekerja rendahan di sebuah pabrik dengan gaji kecil! dan di
akhir haya*ya! meninggal dalam kondisi u+ur pada usia 5, tahun(
-omantisme masa kecil berselang.dengan kondisi keprihatinan dan
ketertindasan! beberapa tahun kemudian! tanah kelahirannya! "ynberg! dirampas oleh
re+im #partheid( /aka tak ada pilihan lain! akhirnya Esack beserta keluarganya terpaksa
hijrah ke 0onteheuel! sebuah kota untuk orang kulit berarna di Cape Flats! #$rika
%elatan (yang dalam sejarahnya! adalah koloni )nggris)( 1ukum apartheid yang
diberlakukan pada 195, memposisikan Esack dan keluarganya semakin terjerembab
dalam lumpur kemiskinan! penindasan dan keterkungkungan keberagamaan( Terlebih!
leat #kta "ilayah 2elompok (Groups Areas Act), seluruh arga kulit berarna (hitam)
diperlakukan secara diskriminati$ oleh re+im apartheid! aktor hegemoni penindasan saat
itu(
3i 0onteheuel! Esack menjumpai struktur masyarakat yang kondisinya tidak
jauh berbeda dengan keadaan masyarakat di "ynberg( 3i sana hadir beragam etnis!
kultur dan agama( Fenomena sosial yang menjadi karakteristik khas masyarakat adalah
pluralitas dan heterogenitas( 2endati kehidupannya tidak seromantis seaktu tinggal di
"ynberg! tapi Esack menemukan $akta ko4eksistensi5 sosial4keagamaan yang jauh lebih
damai dan harmonis di 0onteheuel! yang seakan4akan telah menjadi kultur masyarakat
yang sudah mendarah daging(
1
karya besarnya! Qur an Liberation and Pluralism, digambarkan
secara jelas! kondisi #$rika %elatan memang telah terbentuk da &am tradisi multiagama!
ia mencontohkan6 kelompok 2hoikhoin (yang kini nyaris punah)! 7guni! %an dan
kelompok asli lainnya diketahui memegang berbagai kepercayaan dan praktik agama!
para pemukim 2risten 0elanda! budak muslim dan pelarian politik dari )ndonesia
menambah keberagaman #$sel dalam naungan 8luralitas dan dinamika keberbedaan(9
3i sisi lain! realitas kemiskinan yang menghimpit masyarakat muslim!
membuat Esack dan keluarganya :mentolerir; kebiasaan untuk saling tolong menolong
dan solidaritas yang tinggi meski dari&untuk kalangan yang berbeda keyakinan( < =ustru
dari interaksi yang bermakna ini! Esack banyak mendapatkan pelajaran yang sangat
berharga tentang makna pluralitas dan solidaritas antara sesama! bahkan boleh dikata!
benih4benih pluralisme dalam otak Eack justru muncul karena seringnya berinteraksi
secara intens! yang sekaligus kerap menjumpai sisi4sisi kebajikan! kesalehan! kasih
1#( -a$i> ?ainul /un@im! Hermeneutika al-Quran Farid Esack, dalam =urnal %tudi 2elslam an
#2#3E*#! (terbitan 8rogram 8asca %arjana )#)7 %unan #mpel) %urabaya! edisi Aol( 1B! 7o( ,!
/aret ,CC5( lihat juga Farid Esack! op.cit
sayang serta rasa solidaritas sosial dari mereka tanpa memandang dan mempersoalkan
asal4muasal agama! idiom teologis! ras! etnis! kultur dan pembedaan di$erensiasi sosial
lainnya(
,
1al demikian jarang dia temukan dari teman4teman sesama agamanya! yang
dengan bangga sering mengatakan agamanya sebagai ra!matan li al- "alamin# namun
dalam praktiknya jauh lebih mementingkan simbol primordialisme agama dari pada rasa
kemanusiaan(*
)slam bagi Esack dan keluarganya menjadi Dsauh kultural@ dan berperan penting
dalam perjuangan kami dalam mempertahankan hidup di tengah padang pasir dan
pepohonan 8ort =ackson di 0onteheuel( 2arena mengaku sesama )slam ! maka Esack
dan keluarganya sering merapatkan interaksi mereka untuk saling berkomunikasi dengan
sesama tetangga* muslim( %ehingga meski keluarganya tidak tergolong religius! masjid
adalah menjadi tempat yang penting untuk mereka melakukan kontak interaksi sesama
tetangga muslim( ' 3i samping itu! Esack menjadikan masjid sebagai tempat yang
mempunyai nilai romantisme sendiri seaktu kecil hingga deasa6 disanalah ia bermain
sepulang sekolah dan akhir pekan! mendorong gerobak pasir ketika kecil dan menjadi
akil masyarakat yang mengelola masjid ketika deasa! serta menjadi guru madrasah
sejak saya masih anak sekolahan(
1E
0erangkat dari pengalaman Dpahit@ inilah! Esack termotiAasi mempertanyakan
kembali secara kritis terhadap teks4teks keagamaan (litur$is) yang kerap dita$sirkan
secara eksklusi$( Terlebih! yang sangat esensial mempertanyakan secara radikal makna
2Farid Esack %n &ein$ a 'uslim( Findin$ a )ele$ious Put! in t!e *orld +oda,, (FG$ord England:
Fneorlds! 1999)! tej( %n &ein$ A 'uslim, Fa-ar &aru .piritualitas /slam Liberal-Plural,
Hogyakarta: )-C)%F3! ,CCI! hlm 1J,( lihat juga #( -a$i> ?ainul /un@im! op.cit.
agama! klaim kebenaran dan doktrin keselamatan suatu agama( 2arena Esack menyadari
baha dalam konteks penindasan yang sudah sedemikian akut! menghadapi persoalan
hidup tidak cukup hanya diatasi dengan memegangi argumen4 argumen normati$ dan
teologis yang terus4menerus dita$sirkan secara eksklusi$! konserAati$ dan ideologis!
sementara kenyataan sosial berupa penindasan! kapitalisme! rasisme ! eksploitasi gender
(seksisme) dan lain sebagainya terus membayangi setiap saat( Fleh karenanya! dia
berkeyakinan kuat baha selain teguhnya keyakinan! sesuatu yang mendesak dan mutlak
dibutuhkan oleh umat )slam dan ra*at #$rika
%elatan pada khususnya adalah sebentuk ruh reAolusioner untuk mena$sirkan teks4teks
keagamaan demi membebaskan rakyat #$rika %elatan dari belenggu sejarah kolonialisme
dan imperialisme yang
<
1
(dilangge
ngkan
oleh
re+im
apartheid
b. Pe($i$ika( $a( Akti)itas I(te*ekt+a,
Fa"i$ Esa%k
3engan kepindahannya ke 0onteheuel akibat jeratan #kta "ilayah 2elompok
(Groups Areas Act), Esack tetap menempuh pendidikan secara berkelanjutan meski
dengan kondisi diri dan keluarganya yang Dmemprihatinkan@( Esack menyelesaikan
%ekolah dasar dan menengahnya di 0onteheuel! di sebuah sekolah yang menganut
kurikulum 8endidikan 7asional 2risten(
8ada usia tujuh tahun! Esack telah mulai menancapkan keinginan kua*ya untuk
menjadi sosok pemimpin agama (cleric). 3alam gambaran yang ia bubuhkan dalam
karya Quran Liberation and Pluralism, Esack telah mengenal dan bersentuhan dengan
tradisi kehidupan yang plural semenjak kecil! namun juga sangat relegius di ranah
keagamaan&< 2e*ka masih kecil! ia telah menjadi sekretaris masyarakat yang bertugas
mengatur masjid dan sebagai guru madrasah( )a adalah orang yang sangat memegang
teguh agama dengan perhat*an besar pada penderitaan yang dialami dan disaksikan di
sekitarnya( %ampai4sampai ia yakin baha karena Tuhan menjadi Tuhan! Tuhan harus
berbuat adil dan berada di sisi orang yang marginal(* )a percaya baha $irman #llah!
-ika en$kau menolon$ alla!, alla! akan menolon$mu dan men$oko!kan lan$ka!-
lan$ka!mu;
I
#rtinya! baha ia harus berpartisipasi dalam perjuangan untuk kebebasan
dan keadilan! jika saya ingin agar Tuhan menolong! maka saya harus menolong47ya(
:menolong47ya; dipahami sebagai :menolong agamanya;( 3an inilah yang
mendorongnya bergabung dua tahun kemudian dengan tablighi jama@ah! sebuah gerakan
reAiAalis muslim )nternasional! pada umur yang tergolong masing cukup belia! 9 tahun(
E
%ampai pada tahap ini! Esack yakin baha ia harus ikut andil dalam
memperjuangkan kemerdekaan dan keadilan! salah satu caranya dengan masuk =amaah
3(K%( EJ: J)
4?akiyuddin 0aidhay! op.cit, hlm( 195( lihat juga %imon 3agut dalam Pro0ile Farid Esack#,
(http:&&($aridesack(com)
Tabligh -. 3i sela4sela akti$itas pendidikannya! Esack masih sempat meluangkan
aktunya untuk akti$ di berbagai organisasi gerakan! seperti di #ksi 8emuda 7asional
(*#&national Houth #ction)! sebuah organisasi yang cukup Aokal menentang apartheid!
dan #sosiasi Cendekiaan 2ulit 1itam #$rika %elatan (%#0%#&%outh
#$rica 0lack %tudent)* 3an karena keakti$annya inilah Esack sempat merasakan Djeruji
bui@ oleh pasukan khusus! yang kemudian dikenal sebagai polisi keamanan (.pecial
&ranc!) 8asal yang di tuduhkan kepadanya adalah lantaran aktiAitas di kedua organisasi
tersebut Esack sangat :nyaring; dan Aokal meneriakkan tuntutan adanya perubahan
sosial politik bagi masyarakat #$rika %elatan secara radikal(*
%etelah dibebaskan dari jeratan kasus politik tersebut! pada tahun 9JE & Esack
mendapatkan beasisa untuk belajar teologi selama delapan tahun di 8akistan-/ )a
kemudian masuk di lembaga sc!olars!ip atau lembaga tinggi yang ia tempuh terpisah!
yakni: 1ami a! 2lum al-/slam i,a! dan 1ami a! Alimi,,a! al-/slam i,a!, 8akistani 3i
sana dia berhasil memperoleh gelar sarjana 1ukum dan sarjana Theology )slam ( 3an di
tempat ini pu 0a! Esack memperoleh gelar keilmuan :/aulana; yang semakin memantapkan nama
sekaligus keilmuannya(*
'ambat laun! Esack mu 0ai mencintai 8akistan! karena kedatangannya dari keluarga
/uslim dalam situasi minoritas membua*ya prihatin pada pelecehan sosial dan agama atas kaum
minoritas 1indu dan 2risten yang memang sering ia jumpai di 8akistan(
'ihatlah kisah yang )a tuturkan dalam Quran Liberation and Pluralism( 3errick
3ean, seoran$ akti4is muda 5risten, suatu malam men$un-un$i sa,a di ruan$ madrasa! ,an$
sa,a tempati bersama enam oran$ lainn,a. )eaksi Ha-i &!ai Padia, pemimpin 1amaa! +abli$!
A0ika .elatan men$e-utkan sa,a saat itu. &e$itu men$eta!ui ba!6a 3errick bukan seoran$ non
'uslim, dia memintan,a untuk men$ucapkan kalimat s,a!adat. .a,a men$!ormati 3errick
seperti apa adan,a, sa,a pun mencintai &!ai Padia, tapi diam-diam sa,a merasa malu. Apa ,an$
ter-adi di sini adala! lo$ika seder!ana ,an$ tadin,a be$itu sa,a pe$an$ ba!6a -ika kamu
menolon$ +u!an, nisca,a 3ia menolon$mu#, -adi melema!. 1uran$ antara teolo$i konser4ati0
,an$ melekat dalam diri sa,a dan praksis-pro$resi0 men-adi teran$.#
3ari kejadian4kejadian tersebut! Esack semakin meneguhkan diri dan segera menentukan
pilihan gerakan( =urang antara teologi konserAati$ yang masih melekat di dalam dirinya dengan
teologi praksis progresi$ semakin terang benderang( #khirnya! )a memilih untuk menanggalkan
konserAatisme( )a makin sering mangkir dari pertemuan4pertemuan rutin =amaah Tabligh dan
kerap mengikuti diskusi yang diadakan Lerakan 8elajar 2risten (yang kemudian dinamai
0reakthrough)M< 3ari diskusi yang ia ikuti! Esack menyaksikan bagaimana mereka berusaha
memaknai hidup sebagai seorang 2ristiani dalam lingkungan yang tak adil dan eksploitati$(*
=alinan kerjasama antariman ini semakin kuat! hingga Esack membangun kerjasama dengan
7orman "ray! seorang tokoh dalam kelompok 0reakthrugh dalam beberapa hal! semisal:
permintaan 7orman kepada Esack untuk mengajar %tudi )slam di sekolah yang dipimpinnya!
kemudian kerja4kerja sosial di 8enjara 8usat 2arachi! mengajar di perkampungan kumuh 1indu
dan 2risten! dan meraat anak4anak terlantar di sana( 8elajaran beharga inilah yang mencoba
Esack inspirasikan sebagai perkainan iman dan praksis di #$rika %elatan(
)nspirasi perkembangan intelektualnya juga tumbuh leat kesadaran Esack menyaksikan
banyaknya kesamaan antara penindasan terhadap anita di kalangan /uslim 8akistan dengan
penindasan terhadap orang kulit hitam di #$rika %elatan (apartheid)( Titik temu tak terelakkan
antara pandangan seksis dan rasialis ini yang kemudian semakin membentuk pola pemikiran
Esack menjadi matang(*
%etelah merasa cukup dengan bekal keilmuannya! pada tahun 19N,! Esack kembali di
#$rika %elatan dan mulai merintis gerakan pembebasan hingga mearnai aktiAitas politik! sosial4
keagamaan dan bidang kehidupan lain! yang selanjutnya menjadi salah satu pilar kekuatan
kelompok )slam progresi$ di #$rika %elatan(
8ada tahun 19NI! muncul beberapa konstitusi kontroAersial yang membuahkan banyak
penolakan dari rakyat #$rika %elatan secara massi$( 'agi4lagi! soal yang diangkat adalah isu rasial
yang cukup
menyengsarakan rakyat dan kembali membaa pertentangan banyak pihak( 3i satu sisi!
dengan bangga! presiden #$rika %elatan saat itu! 8("( 0otha! mencari pembenaran secara
teologis dalam kitab suci 0ible demi mengembalikan #$rika %elatan yang khas apartheid
ke dalam komunitas bangsa4bangsa(
8uncaknya pada tahun 19NE! Esack bersama tiga orang sahabat karibnya! D#dli
=acobs! Ebrahim -asool dan %hamiel /anie dari OniAersity o$ "estern Cape!
mendeklarasikan organisasi gerakan bernama +!e 7all o0 /slam ! dengan Esack sebagai
koordinator nasionalnya( Frganisasi ini menjadi motor penggerak bagi Esack bukan
hanya di bidang intelektual! tapi juga menjalankan aktiAitas sosial4politik( Esack
kemudian dipercaya sebagai orang yang memiliki komitmen kuat terhadap solidaritas
antar4agama (inter-reli$ious solidarit,) untuk meujudkan keadilan dan perdamaian
serta menentang kekejaman #partheid(*
8ada praktiknya! organisasi The Call F$ )slam bera$iliasi dengan Front
3emokrasi 0ersat* (2nited 3emocratic Front&O3F)!
5
sebuah Front 7asionalis #$rika
5O3F&Front 3emokrasi 0ersatu berdiri pada 19NI! dan merupakan organisasi pergerakan terbesar
untuk kemerdekaan( O3F adalah pergerakan muslim yang paling akti$ memobilisasi aktiAitas
%elatan yang dipimpin 7elson /andela( %ementara itu! pada saat yang bersamaan
munculnya gerakan oposisi )slam lain terhadap re+im #partheid era 19NC419JC 12344an
semakin mempengaruhi gerakan dan pemikiran keagamaan Esack dalam meniupkan ruh
pembebasan pada +!e 7all o0 /slam ( /elalui organisasi besarnya ini! Esack
berkeinginan kuat untuk menemukan $ormulasi )slam #$rika %elatan yang berdasarkan
pada pengalaman penindasan dan pembebasan yang dia sebut sebagai :a searc! 0or an
outside model o0lslam ;(
B
7amun! perjuangan Esack leat The Call o$ )slam bukan sepi dari hambatan( 2elompok4
kelompok )slam konserAati$ seperti al4Kibla! /*/ ('uslim 8out! 'o4ement), /%# ('uslim
.out! A0rica
5
6 melalui tabloid /ajlis mengumandangkan kebencian dan penentangan terhadap
mereka yang bekerja sama dengan kaum Hahudi dan 2risten atas nama pluralisme(* 'ebih iron is
lagi! mereka menstigma ka$ir orang yang bekerjasama dengan Hahudi dan 7asrani meskipun
untuk mencapai tujuan mu 0ia( 0ahkan mereka menampilkan justi$ikasi teologis dengan
menyerukan ayat4ayat al4Kur@an! yang sering mereka serukan adalah
: PQRSTUVVW
## 7893: ; <4 ;;=> ?
@A;B73C X Y
9 DE Z [
ZFGBH33I4
i*\TCF J34;K:
> L MN4 ] C T
73GEFOP @ 6;Q
' 9[9
RST7UG
LL
Q;VWX4YZ3I3OP
/EFI3O[3G T 6 T D;6Y
nasional menentang apartheid! diskriminasi gender! dan pencemaran lingkungan! serta
menggalang usaha antariman( 3alam O3F sendiri 7all %0 /slam hanyalah satu dari sekian banyak
organisasi berbasis agama yang terlibat dalam :perjuangan;( 'ihat Farid Esack! op.cit. hlm( ,9(
63i kutip dari Farid Esack! 7ontemporar, )eli$ious +ou$!t in .out! A0rica and t!e Emer$ence
o0 Quranic Hermeneutical :otion, dalam )(C(/(-! ,( (1991)! ,15! lihat dalam #( -a$i> ?ainul
/un@im! op.cit.
QTFN[4
EFC
\
EFC
\
/;;R
E]4 FG ^-
_#;#_=`
Q
a Y
^ o L
784 T b[cd;e
L ` ES
1 Rf2gC
JGh3N33i ** ] j:Z3: C
G
k
<EjP
%ran$-oran$ 8a!udi dan :asrani tidak akan senan$ kepada kamu !in$$a kamu
men$ikuti a$ama mereka. 5atakanla! .esun$$u!n,a petun-uk Alla! itula!
petun-uk ,an$ benar. # 3an sesun$$u!n,a -ika kamu men$ikuti kemauan mereka
setela! pen$eta!uan datan$ kepadamu, maka Alla! tidak la$i men-adi pelindun$
dan penolon$ kamu#
;<
(Q.s= al-&a>ara!= a,at ?@A)=

KON334;jOcGE/
R Ea
E
dBR
R2
L #> Y l &mFOn L o
Hai oran$-oran$ ,an$ beriman, -an$anla! kamu men$ambil oran$-oran$ 8a!udi
dan :asrani seba$aipemimpin di antara kamu# (al-'aida! (B)= B?).
/endapatkan Dkritik@ dan stigmatisasi ini Esack tak gentar! tekad mereka di barisan progresi$
sudah bulat untuk membuat barikade pembebasan seperti cita4cita Esack meujudkan :a searc!
0or an outside model o0 /slam ;( /aka! untuk meladeni kelompok konserAati$ ini! Esack kemudian
memperdalam kembali ilayah pemahaman tentang al4Kur@an dan )njil( )a sangat penasaran
mengapa kitab suci acapkali digunakan untuk melegitimasi penindasan dan ekslusiAisme dengan
adanya pena$siran4pena$siran sempit( 8ada tahun 19N9! ia meninggalkan negerinya lagi untuk
belajar hermeneutika al4Kur@an di )nggris dan hermeneutika )njil di =erman( Tepatnya di
OniAersitas +!eolo$isc!e Hoc!sc!ule, %ankt Leprgen! Frank$rut #m /ain =erman! Esack
menekuni studi 0ibel selama satu tahun( %ementara di 2ni4ersit, o0 &irmin$!am )nggris! Esack
memperoleh geral doktoralnya dalam kajian ta$sir(* 3an akhirnya! pada tahun 199J! dia berhasil
meraih gelar doktor dengan disertasi berjudul Quran, Liberation and pluralism= an /slam ic
perspecti4e o0 interreli$ius solidarit, a$ainst %ppression #
C
%etelah itu! Esack menggalang berbagai kekuatan lain dengan menyuguhkan
peranan di berbagai lembaga dan organisasi! seperti: +!e %r$aniDation o0People A$ainst
.eEism, +!e 7ape A$ainst )acism and t!e *orld 7on0erence on reli$ion and Peace. 3i
samping itu! )a rutin menjadi kolumnis politik di 7ape +ime (mingguan)! &eeld and
&ur$er (di mingguan)! koran harian .out! A0rican, dan kolumnis masalah sosial
keagamaan untuk al4Kalam! sebuah tabloid bulanan /uslim #$rika %elatan( 3ia juga
menulis di /slam ica! =urnal tiga bulanan umat )slam di
7'ihat #( -a$i> ?ainul /un@im! op.cit. 'ihat juga %imon 3agut dalam :8ro$ile Farid Esack;!
($aridesack(com
Yp3q ] r T
5 C *T_&G[
)nggris serta jurnal Assalamualaikum, sebuah =urnal /uslim #merika yang terbit tiga
bulan sekali(
8ergulatan (pemikiran) Esack semakin hidup dengan akti$itas
keintelektualannya( Esack menjadi semakin mobile leat akti$itas mengajar di OniAersity
o$ "estern Cape sebagai dosen senior pada 3epartment %0 )eli$ious .tudies serta
menuhs karya4karya ilmiah dan menghadiri seminar4seminar di dalam maupun luar
negeri( "aktunya banyak dihabiskan untuk mengajar mata kuhah yang berkaitan dengan
masalah )slam dan /uslim di #$rika %elatan! teologi )slam ! politik! enAironmentalisme
dan keadilan jender di sejumlah OniAersitas papan atas seperti FG$ord! 1arAard! Temple!
Cairo! /osco! 2arachi! Cambridge! 0irmingham! #msterdam! C%* (Cali$ornia %tate
OniAersity 7ortridge) dan juga =akarta ()ndonesia)-L Tak sekadar itu! Esack juga masih
akti$ di 7omission on Gender E>ualit, dan *orld 7on0erence 0or )eli$ion and Peace
("C-8)(
3i bebeberapa literature yang penuhs dapatkan! Esack juga menjadi seorang
jurnalis yang menggeluti kerja4kerja media( 0erikut rekamannya:* 8ada tahun 1999!
Esack menjadi columnist
F
untuk media &eeld, &ur$er ($ortnightly) dan 7ape +imes
(dengan ed5`i mingguan)(
%ebelumnya! Esack telah lebih dulu menjadi columnist untuk media Assalamu Alaikum! a 2.A
>uarterl,. 3an pada tahun yang hamper bersamaan! secara berurutan! pada tahun 1991! 199J!
1999 ia akti$ sebagai columnist untuk Al Qalam, sebuah 2oran&media muslim yang terbit setiap
82olumnis (columnist) adalah istilah bagi orang yang akti$ menulis di media dengan rubric yang
rutin( =enis tulisan adalah berupa artikel (kolom)( %ekadar contoh! di media Tempo! misalnya! kita
bias menjumpai tipe orang seperti ini pada diri Lunaan /uhammad! leat Catatan 8inggir4nya(
bulan di #$rika Otara( 2emudian! 199,4199J! columnist untuk /slamica. 3i samping itu Esack
juga sempat keliling melakukan talk sho di radio berskala internasional (00C) pada 199C! 1991
dan 199I( 8ada tahun 19N91991! ia menjadi columnist untuk 7ape +imes, sebuah 2oran harian di
kota kelahirannya! Cape Ton(
8erlu diketahui baha selama karirnya mencuat di media! Esack sering juga melakukan
kegiatan sho di Ta atau radio4radio di seluruh dunia dengan menyuarakan agenda4agenda
pembebasan dan pluralisme( 0ahkan pada bulan =uni ,CC,! Esack melengkapi karirnya dengan
menghabiskan seri sampai ,E untuk edisi tampil di program Ta! khusus bagi para pemuda )slam (
%emua itu! karena memang didukung dengan keahlian bahasa Esack yang mampu menguasai
banyak bahasa! diantaranya: bahasa #$rika (A0rikaans), #rab (Arabic), dan bahasa Ordu (dengan
keahlian menulis dan berbicara) kemudian juga bahasa =erman (German) dan 3utch (lengkap)(
2esibukannya tak berhenti di situ! Esack juga memimpin banyak '%/ dan
perkumpulan! diantaranya: 7ommunit, 3e4elopment )esource
Association, +!e (Aids) +reatment Action 7ampai$n, 1ublee @AAA dan Ad4isor, &oard o0
.AF'(
3ari kesibukan dan akti$itasnya! bias dikatakan baha dalam diri Esack muncul
sebuah gabungan apik antara intelektualisme dan aktiAisme( 2ita akan buktikan bersama
dalam akti$itas pemikirannya6 applicable atau
M
5
s
t
u
1
c. K($i
si Ssiv
P,itikv
Hist"ies
Aw"ika
Se,ata(
3alam diskursus dan kha+anah intelektual )slam ! #$rika %elatan boleh
dikatakan sebagai kaasan yang kurang.untuk mengatakan tidak sama sekali.
dipertimbangkan dalam peta pemikiran )slam ( %ebagaimana )slam di #sia Tenggara!
atau kaasan4kaasan di luar ja+irah #rab dan #$rika bagian utara! #$sel seringkali
ditempatkan sebagai peri$eri dalam studi4studi ke)slam an( "ilayah Timur Tengah adalah
core4nya yang pada tara$ tertentu mensimpli$ikasi keragaman ajah )slam .dan oleh
karenanya.pemikiran ke)slam an yang timbul di luar #rab selalu dianggap subordinat
dari koordinat keilmuan )slam (t!e centre o0 /slam )(
9
Ontuk itulah! Esack kemudian berambisi untuk meujudkan :)slam #$sel;
1C
leat 5 /x[GubGQ +!e 7all L& /slam 4yz{( %truktur penindasan yang nyaris sempurna
seperti digambarkan Esack ketika melukiskan penderitaan ibunya yang tertindih tiga
lapis penindasan (triple oppression)= apartheid! patriarkhi dan kapitalisme&< memang
menjadi krisis kemanusiaan yang khas #$sel! terutama hegemoni sistem apartheid yang
telah sekian lama berurat akar( 2onteks lokal inilah yang dijadikan Esack.dengan
9lihat 0urhanuddin! op.cit
108enulis sengaja memakai konteks lokal #$rika %elatan sebagai relasi penanda dan petanda
(sigini$iant dan signi$ier)( 0anyak pemikir )slam yang melakukan proses perkainan antara
ortodoksi dengan tradisi lokal di mana ia mengembangkan gagasannya( Thari> -amadhan! cucu
1asan al40anna! yang sedang menekuni $ilsa$at 7iets+ce di sebuah uniAersitas di =erman! juga
berambisi menegakkan pemikiran :)slam Eropa( :#bdurrahman "ahid juga terkenal dengan
pemikiran pribumisasi )slam yang meniscayakan akulturasi )slam yang dibaa dari Timur tengah
dengan konteks lokal )ndonesia yang sebelumnya telah dihuni budaya 1indhu 0udha( )nilah yang
oleh Cak 7ur disebut sebagai budaya hibrida( Cak 7ur bahkan mengatakan baha al4Kuran
sendiri banyak mengandung unsur non #rab dilihat dari kosakata yang ditampilkan( 'ihat Frasi
)lmiah 7urcholish /adjid dalam /slam ic 7ultural 7enter, dimuat di =aa 8os! :)slam #gama
1ibrida!; 1141, 3esember ,CC1(
meminjam perspekti$ #loysius 8ieris.sebagai :tempat berteologi; (locus t!eolo$icus)
dengan menerjemahkan teologi sebagai acana4praksis pembebasan kaum tertindas(
2eterlibatan Esack dan komunitas muslim secara intens dalam gerakan
pembebasan di #$sel menjadi anotasi penting dalam perjuangan meruntuhkan re+im
apartheid( #gar lebih jelas dan terinci! mari kita telurusuri genealogi gerakan sosial
politik kaum /uslim di #$sel! termasuk peran Esack dalam menorehkan gerakan
pembebasannya( %ejenak! mari kita selami satu persatu(
%ebagaimana diketahui! dalam situs4situs sejarah yang tersedia menyiratkan
baha historisitas masyarakat muslim di #$sel adalah kelompok urban( Esack
menuliskan! dari bukti4bukti yang tersedia! )slam memasuki #$rika %elatan dari dua arah!
dalam periode yang berbeda(* #rus pertama datang setelah kedatangan kaum kolonis
pertama di Cape pada 1B5,( /ereka (kebanyakan) berasal dari 7usantara! )ndonesia! dan
terdiri dari para buruh! pelarian politik! taanan politik dan budak(* 0ersama para
penduduk lokal yang masuk )slam ! mereka disebut sebagai :/elayu;! sekalipun
$aktanya tak sampai satu persen diantara mereka yang berasal dari /alaysia sampai
sekarang(; 3i Cape! komunitas ini berangsur4angsur membentuk sub4kelompok yang
disebut :komunitas berarna;(
%ementara kelompok kedua datang pada 1NBC( /ereka adalah para pekerja
upahan dari )ndia bersama beberapa orang 1indu( 2eturunan mereka sekarang terpusat di
ilayah utara 8roAinsi Lauteng! 7orthest! /pumalanga! 7orthern! dan 2a?ulu47atal
(ilayah selatan)(
3ari dua kelompok tersebut di atas! penulis memilih menekankan perhatian
pada arus gelombang kedatangan )slam pertama! karena dua alasan( Pertama, meski ada
pribadi4pribadi /uslim tertentu dari berbagai proAinsi di utara yang terlibat dalam
perjuangan menentang apartheid! kaum muslim di Cape mengorganisasi penentangannya
dengan basis )slam( 5edua, di tempat inilah hermeneutika al4Kur@an tentang pembebasan
mulai terbentuk(
Terlebih lagi! sebagai kelompok kecil! minoritas dan tertindas! kaum /uslim di
Cape ini telah teruji ketahanannya dalam menghadapi kesulitan4kesulitan hebat! baik
tekanan politik! agama! sosial! dan rasial tentunya(* 2etahanan! dan kesabaran mereka
kemudian menjadi $aktor penting dalam merenda komunitas agama dan budaya yang
unik yang dirajut dalam nuansa keberbedaan( 3engan perasaan ini! jalinan dan ikatan
mereka sebagai kelompok in$erior (baik secara agama! sosial! budaya maupun politik)
semakin kuat untuk menghadapi kelompok superior! penguasa dan negara(
3ari data yang penulis dapat! kekuatan psikologi masyarakat muslim di Cape
memang telah terbina oleh pengaruh tokoh4tokoh Dungsian politik@ dari )ndonesia (yang
terkenal dengan /elayu itu)( 2elompok pendatang ini membangun kekuatan basis di
#$sel( %eperti dituliskan! tokoh kunci aal kelompok muslim di Cape adalah %yaikh
Husu$ (Abidin +ad-a +-oesoep, ( 1B99)! seorang menantu %ultan #geng! -aja 0anten!
)ndonesia(; 2edatangan %yaikh Husu$ menjadi titik keberangkatan yang penting bagi
trans$ormasi gerakan masyarakat muslim di Cape! dari sekedar perasaan ada (sebagai
kelompok minoritas muslim) menjadi komunitas yang kukuh(5\ 2edatangan berikutnya
setelah %yaikh Husu$! adalah -aja Tambora! tahun 1B9J! yang sama4sama berposisi
sebagai tahanan politik 0elanda! dibuang dari kepulauan )ndonesia(
/ulai abad ke41N! )slam di ilayah Cape.dalam bahasa Esack. menjadi
:$enomena historis yang teramati;* #rtinya! dibaah kebijakan reli$ius-represi0 hingga
abad kesembilan belas! kelompok )slam tetap melakukan penekanan ke arah
pembentukan organisasi yang lebih menyatu dan nyata( 1al lain didukung oleh
kebebasan yang diberlakukan oleh kelompok penjajah! )nggris! pada 1JJ5! yang
menggeser konsep relasi antara penjajah dengan jajahan menjadi lebih Dlonggar@ dari
sebelumnya( 8ada 1NCE! sebuah peraturan yang memperbolehkan kebebasan beragama di
keluarkan( 3engan begitu kaum muslim dapat menjalankan keajiban agamanya tanpa
perlu lagi sembunyi4sembunyi dari penguasa( 3i samping itu! bertambahnya jumlah
kaum /uslim pada era ini mengharuskan adanya bentuk organisasi yang lebih nyata(
Terlebih!
peraturan negara pada perkembangan ini lebih longgar! hingga pada tahun 1NIE keluarlah
peraturan mengenai penghapusan perbudakan(
8erkembangan di leAel sosioreligius ini menjadi semakin nyata dan kentara sebagai
bentuk konsolidasi komunitas muslim tatkala datang seorang buangan politik lain pada 1JNC
bernama Tuan Luru ()mam D#bduhah Kadi@ #bd al4%alam! ( 1NCJ) yang berasal dari Tidore(
11
%etelah kekuatan )nggris b*ai terancam di ilayah Cape! umat muslim justru semakin
mengalami perpecahan dan perselisihan keagamaan yang keras! seperti klaim4klaim saling
bertentangan mengenai otoritas agama dan hak4hak legal atas kepemilikan masjid( 8erselisihan ini
11/bid
meningkat secara dramatis dengan semakin banyaknya masjid dan slamseskool (sekolah agama)
yang didirikan( 8ertentangan dan perselisihan ini menjadikan komunitas muslim terkuras energi
dan aktunya untuk hal4hal yang t*dak prinsipil! sementara kerja4ker5a pembebasan menjadi
terlupakan(
/aka dari itu! perkembangan kelompok muslim yang tidak menentu di Cape ini segera
diantisipasi oleh beberapa kelompok yang menginginkan ada keadilan di #$rika %elatan( 8ada
tahun 19C,! organisasi 8olitik (belakangan menjadi organisasi ra*at) #$rika (AP%GA0rican
Peoples %r$aniDation), dibentuk dengan tujuan membela dan mempromosikan hak4hak kaum
kuht berarna di #$rika %elatan(55 0erdirinya #8F ini menjadi adah aspirasi politik masyarakat
#$sel dari
pelbagai kalangan sekaligus menjadi embrio bagi kebangkitan muslim urban( 3r(
#bdulah #bdurrahman yang kebetu 0an cucu seorang budak!
1,
menjadi pemimpin dari
tahun 19C5 hingga ia a$at (19EC)(
%ementara di sela4sela itu! pada periode 1NNB419B9 popu 0asi kaum /uslim di
Cape meningkat sampai delapan kali lipat! dari 15(C99 menjadi 1,C(CCC orang( =ika pada
masa4masa aal kebanyakan muslim merupakan arga miskin yang bekerja sebagai
pelayan! penjahit! dan pengrajin! kini lapisan kelas menengah mulai muncuk 2aum
pro$esional! banyak diantaranya adalah guru! dokter dan pengacara! memainkan peran
yang cukup penting dalam kehidupan politik di Cape selama periode ini( Era ini pun
menyaksikan berkembangnya runtutan politik kaum /uslim yang mempelopori
kebangkitan kesadaran politik yang lebih luas diantara arga kuht hitam di Cape*
12:"aancara dengan Farid Esack(; dalam http:&&(tempo(co(id
8eran signi$ikan komunitas muslim semakin kentara bila dilihat dari jumlah
nominalnya yang tidak terlalu seberapa! namun mengambil posisi proakti$ dalam gerakan
pembebasan( 2aum /uslim menduduki posisi4posisi kelas menengah yang menguasai
sektor publik sehingga turut mearnai arah perkembangan sosial! politik! ekonomi dan
budaya( %aat ini! kaum /uslim yang hanya berjumlah ,c dari total populasi ra*at #$sel
menduduki 1,c kursi di kabinet (empat menteri beragama )slam dari , N menteri y ang
ada)* 2etua /ahkamah 7asional juga seorang muslim( 0egitu juga di parlemen terdapat
1,c anggotanya yang beragama )slam( /enurut Esack! konstalasi politik di atas
menguntungkan sekaligus merugikan( %ecara politis memang daya taar komunitas
muslim meningkat! tapi dilihat dari diskursus )slam progresi$ pasca4apartheid justru
terlihat menurun $rekuensinya karena semakin banyak pemikir )slam progresi$ yang
terlalu sibuk menjalankan pemerintahan(*
/enurut pengakuan Esack! peran kelompok muslim terutama dalam perjuangan
anti4apartheid bersama kelompok lain tidaklah memancing reaksi negati$ karena mereka
tidak memburu agenda muslim semata! tapi agenda pembebasan masyarakat #$sel-|
%ebagai masyarakat yang terbilang minoritas di negeri yang sebagian besar penduduknya
memeluk agama 2risten! kelompok muslim memang tidak bisa bertindak gegabah
meskipun perjuangan ant*4aparteid yang mereka kumandangkan ditujukan untuk agenda
kemanusiaan yang bersi$at uniAersal serta melampaui batas4batas dan sekat4sekat
teologis dan etnis( /ereka harus pandai merangkul komunitas lainnya! terutama dari
agama 2risten yang mayoritas! untuk bersama4sama menegakkan aras perjuangan yang
didasarkan pada kesadaran teologis baha agama apa pun mengecam penindasan atas
dasar rasialisme dan sejenisnya(
-ealitas menunjukkan baha hingga tahun 19JC4an! hampir semua gereja di
#$sel mendukung apartheid(
J
5 Lereja hanya melayani kepentingan orang kulit putih saja!
terlebih lagi bila gereja tersebut berada di ilayah orang kulit putih( /asyarakat berkulit
hitam dan berkulit berarna.dalam struktur apartheid yang mendekati kesempurnaan.
diharuskan membangun gereja sendiri dan terpisah( %ebuah ironi di mana agama dipaksa
berperan dalam memelihara sistem rasialis(
8aulo Freire pernah mengatakan baha kelompok yang menikmati status >uo
dan kepentingannya akan terganggu dengan perubahan! akan cenderung menolak
perubahan(*9 3emikian juga dengan kenyataan yang terjadi di sana sebelumnya di mana
banyak orang kulit putih yang didukung oleh agamaan4kolaborator justru menjadi
laan pertama dari gerakan anti4apartheid selain aparatus ideologi negara yang dijaga
militer dan polisi( 2emunculan 2ongres 7asional #$rika (#7C) membaa nuansa baru
dalam perjuangan anti4apartheid yang kemudian mengantarkan 7elson /andela menjadi
8residen #$sel pada tahun 199,(
=ika dicermati lebih mendalam! setidaknya ada dua perkembangan yang
mere*eksikan perubahan ajah masyarakat /uslim di aal periode ini: respon mereka
terhadap prakarsa kesehatan 7egara selama abah cacar pada 1N9, dan usaha mereka
untuk mendudukkan perakilan langsung di parlemen pada pemilu 1NN9-EY /ereka
(/uslim dan kelompok berarna&2risten) sudah mulai berani menolak apa yang mereka
pandang s eb agai campur tangan otoritas kol oni al terhadap kehi dup an mereka(
2alangan muslim dan kelompok berarna (2risten) sudah menghilangkan identitas
keagamaannya dalam melakukan protes dan aksi bersama! baik muslim maupun 2risten
tidakterlalu memperdu 0ikan perbedaan agama sehingga dalam salah satu 2oran Cape
Times! pada 19 januari 1NNB menyebutnya sebagai :massa /elayu dan 2ulit berarna
(maksudnya adalah muslim dan 2risten bersama bersatu)(d
8roses perjuangan terus berlanjut! di sisi ini giliran kelompok muslim yang
menginginkan keterakilan mereka di parlemen terujud secara nyata( /aka pada 1NN9!
secara resmi! leat pencalonan #chmat E$$endi! ingin membaa partisipasi kaum
/uslim dan kulit berarna (2risten) dalam politik parlemen(*
2onsolidasi terus juga berlanjut! pada agustus 1N9,! sebuah pertemuan besar
yang dihadiri terutama oleh kaum /uslim di baah kepemimpinan F+air #ly! menolak
akta hak suara 1N9,( akta ini menaikkan kuali$ikasi hak suara sehingga tidak mencakup
sebagian besar kuht hitam yang berdiam di Teritori Transkeian( 3an pada tahun yang
sama pula! berdiri 8ersatuan 2ulit 0erarna (C8#) yang mendeklarasikan diri sebagai
bentuk penolakan ini( Frganisasi ini menjadi organisasi politik nas i onal pertama bagi
kaum kulit berarna dengan pimpinan F+air #ly(
/enurut Esack dalam tulisannya! baha dengan pemberontakan4
pemberontakan yang dilancarkan oleh kedua kelompok! baik 2risten maupun )slam !
kemudian didukung dengan deklarasi berbagai organisasi! terutama C8#! menjadi tanda
baha telah bersatunya identitas politik /uslim dan kaum kulit berarna yang! dalam
hal ini di baah kepemimpinan /uslim(
3i babak selanjutnya! kelompok kulit hitam juga kemudian merapatkan diri
dengan bersatu mendirikan organisasi sosial politik bernama #8F (seperti telah di
tuliskan sebelumnya)( /enurut Esack yang mengutip kata4kata 'eis! baa pendirian
#8F ini menandai aal mula keberhasilan mobilisasi kulit hitam beskala nasional di
#$sel! dengan pimpinan (lagi4lagi juga kelompok dari muslim) 3r( #bdullah
#bdurrahman(
/emang ada sedikit perbedaan di leAel perjuangan politik nasional yang
dilakukan oleh #8F! kendati dalam rangka sama4sama mempunyai tujuan
memperjuangkan hak4hak golongan /uslim minoritas dan 2risten (kulit berarna)(
Frganisasi ini tampaknya lebih kompromistis! dalam arti arahan kerja #8F adalah pada
tujuan mengintegrasi elite kulit berarna (khususnya) dan kaum /uslim dengan
masyarakat kulit putih( 1al ini dilakukan demi resolusi program dalam melakukan
agenda gerak dan perjuangan di semua lini! termasuk di leAel kebijakan pemerintah yang
saat itu selalu kontroAersial dan terkesan menindas kelompok4kelompok minoritas!
termasuk muslim dan kaum berarna(
/aka kemudian! ada beberapa upaya untuk meninggalkan kolaborasi yang telah
berjalan seiring( 8ada akhir 19IC4an! terjadi ketidakpuasan pada kebijakan #8F dan
gelombang baru Ondang4undang diskriminati$ memicu munculnya bentuk organisasi4
organisasi alternati$( 2elompok pecahan itu bertekad untuk memobilisasi kaum kulit
berarna untuk mendukung strategi penyatuan kelas pekerja dan aksi langsung seperti
pemogokan! boikot dan demonstrasi( 8emuda kulit berarna yang radika terbagi dalam
dua kelompok organisasi! keduanya dipimpin oleh kalangan /uslim( 8ertama! $aksi
pragmatis yang menggabungkan retorika perjuangan kelas dengan aktiAitas
kesejahteraan4re$ormis! pimpinan ?ainunnisa Lool! anak perempuan #bdurrahman
(pemimpin #8F)( 2emudian $aksi yang cenderung ideologis (garis keras) dipimpin oleh
3r( Loolam Lool yang merupakan kakak ipar ?ainunnisa! dan istrinya 1aa #hmad(
2edua $aksi ini akhirnya bergabung pada 19I5 membentuk liga pembebasan nasional
(7'') dengan 3r( "arada #bdurrahman! anak perempuan #bdurrahman lainnya! yang
belakangan berperan dalam persiapan diAisi perempuan(
1I
<
8embentukan 7'' dalam perkembangannya ikut berperan menumbuhkan
militansi di tubuh #7C sendiri! mengaali $ase baru dalam politik kaum kulit hitam di
#$sel6 suatu $ase yang menolak pngaalan kulit putih atas kaum kulit hitam( 8eriode ini
menyaksikan penekanan besar dalam upaya mempersatukan kelas pekerja nonrasial dan
aksi massa langsung menentang diskriminasi rasial( Tinggalan berharga dari kelompok
ini adalah dengan berdirinya 8ergerakan 7on4Eropa 0ersatu (7EO/) pada 19EI( 1al ini
merupakan kebijakan non4kolaborati$(d
7amun ada satu catatan! baha meski 7'' dengan pimpinan 8utri
#bdurrahman dan Lool bersaudara itu adalah tokoh berpengaruh di )slam #$sel! namun
ada suara yang mengatakan baha organisasi tersebut (7''! 7EO/ dan #8F)
mempunyai aksen doktrin /arGis! yang menimbulkan tingkat resistensi bagi /uslim(
8ada tahun 19EI! pemerintah saat itu yang kebanyakan dihegemoni oleh
kelompok kulit putih! mengumumkan akan diadakannya pembentukan 3ean 8enasihat
13 Farid Esack! Quran Liberation, ibid., hlm( 5B( lihat juga Farid Esack! )e-oinder :kruma!,
ibid.
2ulit 0erarna (Coloured #dAisory Council)( 7'' yang dipimpin oleh 3r( "iradia
#bdurrahman (anak perempuan #bdurrahman) serta semua sekutunya menolak proposal
tersebut! karena dikhaatirkan! aspirasi kelompok kulit berarna akan di seleengkan(
Terlebih kekhaatiran yang lain adalah adanya pembentukan kementrian (departemen)
yang mengurusi :suara kulit berarna; (C#3&3epartemen Orusan 2u 0it 0erarna)M5
3alam sebuah terbitan 7ape .tandard, E /ei 19EI! terpampang gamb aran y
ang menandakan baha masyarakat betul4betul tidak sepakat dengan niat pemerintah
untuk membentuk C#3! hingga memboikot dan mejuluki kelompok atau orang yang pro
dengan rencana tersebut dengan julukan :=udas;! dan :si 8enurut; atau :si 8embebek;(
#da juga seruan yang tertulis di sana: :-an$an berurusan secara sosial maupun personal
den$an mereka...... ;(
1E
3oktrin ini kemudian bere$ek pada pembentukan psikologi protes dan
penentangan arga kulit hitam dan berarna untuk berjuang lebih di aras politik di
masa4masa selanjutnya! di samping #7C yang getol memperjuangan kelompok
berarna! membaa spirit ini sebagai modal perjuangan yang cukup signi$ikan untuk
selanjutnya(
1. }eia~a( Aa"tei$ as%a
8erjuangan melaan apartheid adalah pilar bagi penegakan 1#/ dan
perlindungan terhadap kelompok minoritas dan tertindas di #$rika %elatan( #dalah
Hendrik Frensc! Her6oerd seorang 8erdana /enteri #$rika %elatan ke4J yang
menjadi otak intelektual dibalik munculnya sistem apartheid( %ehingga selama masa
14Farid Esack! Quran Liberation, ibid, hlm( 5B
pemerintahannya! sistem ini menjadi :bumbu penyedap; para kaum kulit putih untuk
:menyedot; dan mengeksploitasi kelompok tertindas seperti kulit hitam dan
berarna di #$sel
15
/elihat realitas yang demikian parah! seruan4seruan proAokati$ dan
kampanye politik berbagai organisasi! seperti #8F dan :on- European 2nit,
'o4ement (7EO/) dan! yang terpenting! kejamnya Lroup #reas #ct (undang4
undang ilayah kelompok).dengan itu penggusuran secara paksa dilaksanakan.
yang disetujui pada 195, merupakan $aktor yang paling signi$ikan bagi mayoritas
/uslim! sehingga gagasan kolaborasi akhirnya ditinggalkan pada 195C4an(
%ekitar 195N kekejaman penggusuran dialami oleh kaum berarna(
#kibatnya! kaum muslim terpisahkan dari masjid sebagai pusat kehidupan
komunitas mereka( 2etidakpuasan dan ketidaknyamanan kelompok /uslim
berakibat pada pendeklarasian organisasi /uslim Houth /oAement (/H/) di
Claremont dan 3istrik Enam.kedua ilayah ini terkena undang4undang ilayah
kelompok( /ulai saat itu! kaum muda /uslim berpendidikan mencari respon )slam
terhadap pergumulan #$sel(d Tampak diantaranya! pembentukan Lerakan 8emuda
/uslim Cape (C/H/! didirikan pada 195J) dan #sosiasi 8emuda /uslim
15#$rika selatan! dimana angka kulit hitam adalah J berbanding satu dengan kulit putih! telah
menjadikan diskriminasi rasial sebagai undang4undang antara tahun 19EN41991( %istem apartheid
membuat putih! hitam! imigran india! kulit berarna tinggal dalam kelompok yang terpisah( 2artu
identitas negara memperlihatkan mereka milik kelompok yang mana 8emisahan dilakukan di
dalam bis! kereta api! gereja! restoran! artel! rumah sakit dan dan kuburan( 8erkainan campuran
dilarang( %eorang berkulit hitam tidak bisa bekerja di kaasan orang kulit putih maupun beke<ja
di bidang intelektual atau bidang sainti$ik( 2erja4kerja buruh diperuntukkan untuk kulit hitam(
%edikit yang memperhatikan bahaa setengah juta berada di penjarae =aksa berkulit putih
memimpin kasus4kasus yang melibatkan orang berkulit hitam( Ensiklopedia "ikipedia! Apart!eid,
lihat dalam http:&&ms(ikipedia(org&iki&#partheid
Claremont (C/H#! didirikan pada 195J)(
1B
/ereka kemudian akti$ menggelar pertemuan dan deklarasi politik yang
kemudian pada pertemua pertama! mempelopori berdirinya Call o$ )slam ( /eski tak
bertahan lama selama setahun! namun para anggotanya kemudian bergabung
membentuk Federasi )slam Cape&C)F (termasuk Esack berada dalam peran ini)(
%ebagai poros /uslim muda! C)F kemudian menantang 3ean 8engadilan /uslim
(/=C) untuk mengambil posisi teguh menentang apartheid( 8ara imam di 3ean
/=C malah menganggap baha upaya ini mencerminkan ketidaksabaran kaum
/uda(
#dalah #bdullah 1aroon yang menjadi sosok pelopor bagi gerakan
deklarasi menentang ketidakadilan apartheid! salah satu gerakanya adalah dengan
sistem da@ah )slam ! membagikan ribuan lembar deklarasi yang pro$okati$ untuk
mendukung penentangan apartheid(
8ada perode pasca4%harpAille!* #$rika %elatan dilanda musim penindasan
dan penyiksaan yang paling garang(* 3i periode inilah penindasan politik yang
paling memukul bagi komunitas muslim(
8uncaknya adalah tragedi :pembunuhan sang imam; yakni #bduhah 1aroon oleh
162edua organisasi pemuda ini kemudian mempelopori terbentuknya The Call o$ )slam (
8ada tanggal J /ei 19B1 mereka mengadakan pertemuan besar! di sana ribuan salinan deklarasi
menentang apartheid disebarkan( 3eklarasi ini juga dipublikasikan di /uslim 7es pada tanggal
/aret 19B1 yang antara lain isi deklarasi tersebut adalah: :lama sudah kita tertindas bersama4
sama! direndahkan! dihinakan karena dianggap makhluk in$erior! dicerabut dari hak4hak asasi kita
untuk mencari na*ah! belajar! dan bersembahyang( 3engan ini! kami mengajak saudara4saudara
sesame muslim dan semua saudara dalam penderitaan untuk bersatu di baah panji kebenaran!
keadilan! dan persamaan unt*k merebut negeri kita tercinta dari kejahatan dan tirani( Farid Esack!
Quran Liberation, ibid, hlm( JN(
polisi keamanan ada 19B9! setelah empat bulan dalam penahanan(
#tas kematian 1aroon!* kaum muslim serasa kehilangan semangat
progresi$itasnya( Terbukti! dari sepinya protes atas pengungkapan alasan kematian
1aroon( 2ebungkaman para ulama seputar kematian 1aroon memunculkan rasa
penghianatan dan kecea yang mendalam di kalangan pemuda muslim( 3ibalik
inersia (kelembaman&kejengkelan) umat )slam tersebut! baru di tangan pendeta
#nglikanlah (0ernard "rankmore)! kesadaran kaum /uslim dan semua arga
#$sel terbangkitkan( /eminjam bahasa sekarang! "rankmore kemudian melakukan
:aksi mogok makan; dengan melakukan puasa (EC hari) menuntut diusutnya
kematian 1aroon pada pemerintah(
#khirnya pada periode 19JC4an secara tepat digambarkan sebagai era
menggiring ke arah kematian apartheid( #al 19JC menjadi ajang konsolidasi
kelompok muda yang memegang doktrin kesadaran kulit hitam (&7Gblack
consciousness)
u
3i samping! $aktor eksternal yang menyulut semangat progresi$itas
kelompok muda ini untuk mengimbangi pecahnya reAolusi )ran pada tahun 19JC
dalam konteks #$rika %elatan( )mbasnya! di kalangan pemuda /uslim #$sel! karya
reAolusioner )ran D#ii %yari@ati (( 19JJ) banyak dipelajari dan didiskusikan di
!ala>a! (kelompok studi)( 3emikian juga karya para ideology yang terkait dengan
pergerkaan )slam ! seperti %ayyid Kuthb (( 19BB)! seorang cendekiaan /esir
yang dibunuh oleh re+im 7asser! dan pendiri =ama@at al4)slam i 8akistan! #bul4#@la
/aududi (( 19J9)( 3i ranah kelompok studi yang didirikan oleh kelompok muda
inilah! pemuda /uslim mulai memandang )slam sebagai ideology pilihan bagi masa
depan #$sel(95
Lerakan untuk )slam yang releAan secara sosial di personi$ikasikan oleh
gerakan kaum muda muslim (/uslim Houth /oAement! /H/! sekitar 19JC) dan
8erhimpunan /ahasisa /uslim (/uslim %tudent #ssociation! /%#! sekitar 19JE)
6 2edua organisasi ini secara teratur mengungkapkan perlaanan mereka terhadap
apartheid(
3ari pertengahan 19JC4an! 'uslim :e6s mengalami metamor$osis
sempurna eus memproyeksikan f xG 5 sebuah )slam yang militan dan dinamis!
sembari terus mempromosikan kesadaran 1itam (0C& teologi kaum hitam) dan sejak
19J9 dan seterusnya al4Kalam! media berkala /H/! secara konsisten menolak
berpartisipasi dalam struktur4struktur apartheid(
7amun! baru pada bagian akhir dari periode terakhir (19JC
1990) komunitas ini bersama4sama menentang apartheid dan bekerja untuk
menciptakan #$rika %elatan yang demokratik dan non4rasial( 0isa dikatakan baha
tiga elemen: 'uslim :e6s, /*/! dan /%# ini sangat berperan penting dalam
mendorong lahirnya Qibla (didirikan pada 19N1) dan +!e 7all o0 /slam (didirikan
pada 19NE)(
2eterlibatan mereka merupakan kombinasi yang apik antara pemuda!
serikat pekerja! dan komunitas lokal untuk membaa perkembangan konsolidasi
besar di a$sel dalam masa4masa in-uri time apartheid( 3engna begitu! periode ini kita
bisa saksikan sejumlah perkembngan di $ront agma yang berdampak besar pada
perjuangan pembebasan( 3i antaranya: berdirinya 1e6s 0or 1usticeI dan )nstitute
Teologi 2ontekstual ()CT)( %emua $aktor ini menandakan baha periode 19NC4
menjadi decade kebebasan dari dominasi kulit putih(
3itambah lagi! #bdal 1akim /urad dalam tulisannya 3ancin$ *it!
Liberation; menggambarkan baha sosok Farid Esack sepanjang tahun 19NC4an
dikenal sebagai $igur yang cukup menarik perhatian bagi pejuang pembelaan
perbedaan ras di #$rika %elatan( %eruan4seruan proAokatinya telah membaa pada
situasi dan kondisi dimana pilar4pilar apartheid akhirnya tunduk oleh tekanan4
tekanan sosial! ekonomi! dan politik mayoritas ku 0it hitam yang.telah digambarkan
di atas.bersatu dan melakukan konsolidasi gerakanM<
2. Pee(t+ka( UDF Detikv$etik Kea(%+"a( Aa"tei$
Farid Esack menuliskan baha detik4detik kehancura apartheid akan segera
dimu 0ai( 0ersatunya seluruh elemen masyarakat #$sel! terutama golongan ku 0it
hitam seperti organisasi mahasisa! dan organisasi keagamaan! bersatu dalam adah
payung bernama Onited 3emocrtic Front (O3F)M9 3i samping itu! periode ini juga
merupakan titik balik kebangkitan kembali #7C! yang seperti dijelaskan di muka
baha kongres nasional a$rika ini jugalah yang sempat mengantarkan 7elson
/andela menjadi presiden #$sel di tahun 199,(
8emberlakuan trikameralisme (tri4cameral 8arlement: perakilan masy arakat kulit
berarna! kuht putih! dan )ndia) pada19NE! dan terjadinya reAolusi yang rangkaian gerakannya
telah digambarkan di atas tampaknya menjadi isyarat bagi seluruh /uslim untuk melepas
dukungan pada apartheid! dan menyatu bersama kaum tertindas( 8eran O3F dalam hal ini adalah
menyeru pada seluruh elemen (termasuk 3ean /=C) dan semua orang untuk bersatu menentang
sistem trikameralisme yang hendak melanggengkan kembali apartheid( %eruan ini berhasil
menarik para pemimpin muslim seperti )mam 1assan %olomon! %yaikh #bdul Lamiet Labier!
Ebrahim -asool! dan Farid Esack sendiri untuk bergandeng tangan menyerukan bersama
penentangan dan penghancuran apartheid leat O3F(
O3F ini seolah membaa kondisi masyarakat untuk membutuhkan organisasi ini dalam
memasuki medan perjuangan( -asool sampai menggambarkan baha perjuangan O3F ini
membaa satu bentuk relasi yang apik antara organisasi politik (sebagai gerbong perjuangan di
lapangan menentang apartheid) dan kesadaran beragama( /enurut -asool! :2ita memang
membutuhkan berbagai organisasi politik sampai pada ilayah akar rumput sebagi pemosisian
kelompok muslim dalam ilayah perjuangan( %ementara kita tidak akan mungkin cukup dengan
hanya sekadar mengutip ayat4ayat dalam teks al4Kur@an sebagai pendorong semangan
reAolusioner kaum
/uslim( %emua keterlibatan itu adalah produk asli pergumulan kondisi sosial! re*eksi
teologis! dan perjuangan organisasi;*
0agi Esack pernyataan -asool ini sebagai basis epistemologis yang cukup signi$ikan
bagi munculnya teologi )slam #$rika %elatan dan 1ermeneutika 8embebasan Kur@ani( )nilah
yang dikatakannya baha semangat al4Kur@an membutuhkan momen dalam sejarah agar
selalu memiliki makan sosial! atau sesuai dengan ungkapan s!ali! li kulli Daman 6a makan.
%alah satu momen itu kini tengah muncul di hadapan kita (muslim) yang ditempa dalam
konteks penindasan dan perjuangan pembebasan! meski bergandeng dengan kelompok lain
(non muslim) atau t!e ot!ers(
/aka pembentukan O3F pada 19NI ini kemudian menggugah semangat seluruh
elemen untuk bersama4sama menentang apartheid! serta membaa partisipasi kaum /uslim
yang semakin nyata berasama orang beragama lain (non4/uslim)( /eski upaya kerja sama
ini kemudian memunculkan kontroAersi di tingkat organisasi /uslim dan aktiAisnya( )nilah
yang kemudian membaa Esack untuk menekankan pemikirannya pada pembahasan soal
iman! )slam ! ku$r! dan ukhuah yang menjadi dasar perdebatan dan kontroAersi dalam setiap
upaya kerja sama dengan non muslim dan :yang lain; termasuk kelompok a!l al-dDimma!.
3i sinilah peran t!e 7all o0 /slam sebagai media penyalur aspirasi pluralisme
didikan Esack dalam mempengaruhi psikologi muslim untuk menerima realitas politik!
sekaligus legitimasi teologis bagi solidaritas perjuangan meski antar iman sekalipun(
0abak baru penerimaan kaum 2risten dan Hahudi mulai di gali leat serua Call( 3alam
brosur pertama the Call yang dilansir pada 19NE menyatakan: :non /uslim telah
menumpahkan darah mereka menentang kebrutalan apartheid dan berjuang demi #$rika
%elatan yang adil( Fleh karena itu! kami bertekad untuk berjuang bersama pihak lain
(non muslim) untuk menghancurkan masyarakat apartheid (call o$ )slam ! 19NE! hal E)(
1J
2omitmen untuk bekerja sama dengan orang lain itu melampaui sekadar
hubungan $ungsional dan utilitarian (saling menguntungkan)! hingga penerimaan
legitimasi teologis pada iman4 iman lain (menerima secara teologis :yang lain;( %eperti
17Farid Esack! Quran Liberation, ibid, hlm( BJ
yang diungkapkan oleh )mam 1assan %olomon (rekan Esack) yang mengepalai the Call
o$ )slam :
1N
:%emua nabi #llah membentuk persaudaraan yang satu( "ahyu ahyu yang
mereka terima pun pada dasarnya satu!demikian pula agama yang
mereka baa ((( marilah beranjak ke masa depan
saudara dalam
perjuangan semoga #llah ((( meneguhkan semua umat yang beriman kepada4
7ya ((( sampai kemerdekaan dan keadilan terlihat nyata bagi seluruh kaum
tertindas negeri kita( (%olomon 19N5! hal 5)(
d. A(tasi Ka"_avka"_a Fa"i$ Esa%k
Ontuk melengkapi pemahaman kita tentang pemikiran Esack! tak salah jika kita mengetahui
perkembangan karya4karya yang telah
dituhsnya( /eminjam bahasa #ntonio Lramsci! sebagai seorang intelektual4organik dan
seorang aktiAis cemerlang! Esack lebih dari cukup dalam produkti$itas penu 0isan6 buku
dan artikel4artikel ilmiah(
Fleh karena itu! berikut sedikit ulasan serta paparan terhadap beberapa ka*a
yang telah diterbitkan! yakni:
1. B+t }+sa e(t t Fi"a+(*
0uku ini! secara lengkap! ber5udu 0 &ut 'usa *ent to Fir aun= A
7ompilation o0 Questions and Ans6ers about +!e )ole o0 'uslims in t!e .out!
A0rican .tru$$le 0or Liberation
?<
0uku yang berukuran kecil ini diterbitkan oleh
18Farid Esack! Quran Liberation, ibid, hlm( BJ
190uku ini menurut Esack diperuntukkan untuk akti$is seruan( %elanjutnya di bab 8emikiran
1ermeneutika 8embebasan Esack (di belakang) nanti akan dijelaskan bagaimana melalui seruan
dari buku ini menjadi kontribusi bagi munculnya tiang $ondasi bagi kerja4ke<ja hermeneutika
pembebasan( 'ihat dalam Farid Esack! +!e EEodus Paradi$m in t!e Quran /n t!e Li$!t o0)e-
/nterpretati4e /slam ic +!ou$!t in .out! A0rica, op.cit, hlm(1IB
Clyson 8rinters! /aitland tahun 19N9( =umlah halaman buku ini hanya NE halaman(
0uku ini berisi tanya jaab(
0uku ini tidak dilengkapi da$tar isi! tapi secara umum terdiri dari B bab
dilengkapi pengantar! pendahuluan! catatan penjelas dan glosari( &ab pertama berisi
identitas muslim! kepentingan dan urgensi keterlibatan kaum muslim dengan realitas
sosial di sekitarnya( &ab kedua berisi partisipasi! negosiasi dan kon$rontasi( 3alam
bab ini! Esack banyak mengutip kisah perlaanan 7abi /usa terhadap penguasa
tiran saat itu! Fir@aun( #dapun bab ketiga berisi tentang )slam ! )man dan 8olitik(
Esack menekankan pentingnya politik sebagai medium untuk menyampaikan
aspirasi serta mengubah struktur ekspl oitati$ melalui prosedur4prosedur demokratis(
8ada bab empat, Esack menulis penting$lya kerjasama kaum muslim
secara lintas agama (inter-0ait!) untuk melaan tirani atas nama apapun(
%edangkan bab lima! masa depan serta t*juan yang hendak dicapai diulasnya
secara detail( %etelah menulis masa depan serta tujuan yang hendak dituju! Esack
menandaskan tugas penting serta keajiban yang harus dilakukan dalam bab
enam. Esack sebenarnya menulis buku ini untuk keperluan organisasi +!e 7all o0
/slam yang aktu itu sedang gencar4gencarnya mengkampanyekan ide4ide
perlaanan terhadap re+im apartheid dengan mengutip kisah4 kisah nabi masa
lalu yang telah dihidangkan al4Kuran dan disirahkan 7abi %a(
%ebagaimana dinyatakan dalam kata pengantar! buku ini dimaksudkan
untuk mencari ruh pembebasan untuk melepaskan diri dari penjajahan para tiran(
Fatima /eer! aktiAis perempuan yang memberi pengantar buku ini!
mengidolakan reAolusi damai di )ran yang dipelopori oleh para ulama(* Fatima
sangat percaya baha )slam sebagai esensinya adalah teologi yang sarat dengan
nilai4nilai pembebasan( 3alihnya adalah )slam di dalam dirinya adalah
seperangkat gugusan norma yang anti4penindasan atas nama apapun(
2. +"a( ie"ati( a($ P,+"a,is
0uku yang diterbitkan oleh Fneorld 8ublication England pada tahun 199J bet65udul asli Qur
an, Liberation and Pluralism= A
n/slam ic Perspecti4e o0 /nterreli$ious .olidarit, a$ainst %ppression ini telah diterjemahkan
dalam pelbagai bahasa( 3alam edisi bahasa )ndonesia! berjudul #l4Kuran! 'iberalisme!
8luralisme: /embebaskan yang Tertindas (/i+an! ,CCC)(
3alam edisi bahasa )ndonesia! buku tersebut dilengkapi surat 7elson /andela dari
penjara tentang kunjungannya ke makam %yaikh /adura(
9
9 3iterjemahkan oleh "atung
0udiman(
3alam edisi bahasa )nggris! buku tersebut berisi pendahuluan! tujuh bab! dan kesimpulan
serta dilengkapi apendiks! glosari! bibliogra$i dan indeks( 0uku ini tidak sekadar merumuskan
perspekti$ baru dalam hubungan antaragama! tapi juga meletakkan dasar bagi sikap yang obyekti$
dan kritis terhadap peganut agama yang sama( :8emahaman agama yang lebih signi$ikan selalu
datang dari pengalaman baru! :ungkap =onh 1ick seolah ingin menga$irmasi titik balik
pengalaman eksistensial Esack dari seorang minoritas yang tertindas menjadi seorang pemikir
liberati$4progresi$(
0uku tersebut sampai saat ini diyakini sebagai ma$num opus Esack( 3engan taaran
kunci4kunci hermeneutika bagi hadirnya al4 Kuran yang inklusi$! toleran dan pluralis .yang
menjadi pokok4pokok :ajaran; )slam 'iberal yang ditaarkan Charles 2ur+man. Esack
berupaya mendobrak klaim kebenaran ekslusi$ suatu agama( :Teologi pembebasan )slam yang
ditaarkan Esack! :kata 8aul 2nitter! :sama
mempesona dan menantangnya dengan teologi pembebasan 2risten dari Lutierre+(;
3. O( Bei(! A }+s,i
0uku yang ditulis Esack ini juga diterbitkan oleh Fneorld 8ublication FG$ord
tahun 1999 dengan judul asli %n &ein$ A 'uslim= Findin$ a )eli$ious Pat! in t!e 6orld
+oda,. 8enerbit yang berpusat di )nggris ini terkenal dengan terbitan buku4buku yang ditulis
oleh sarjana kelas dunia( %elain menerbitkan karya4karya Esack! Fneorld juga
mempublikasikan buku4buku tentang studi )slam yang ditulis /ontgomerry "att! /ark -(
"oodard! -ichard /artin! -eynold 7icholson! /ajid Fakhry dan lain4lain(
0uku ini terdiri dari pendahuluan! tujuh bab! kesimpu 0an dan dilengkapi catatan!
bibliogra$i terpilih dan indeks( 2etika ia meluncurkan buku tersebut! sempat muncul tudingan
dari sebagian akademisi yang menganggapnya terlalu hiperbolikal dan melodramatis dalam
mengangkat kisah4kisah hidupnya( /emang benar baha Esack banyak mengisahkan
pengalaman hidupnya dalam buku yang berjumlah ,1, halaman(
0agi Esack! setiap karya adalah cerminan dari otobiogra$i sang penu 0is( 3an buku yang ditulis
setelah )a menerbitkan Kuran 'iberation and 8luralism ini memotret rangkaian perjalanan dan
pengalaman hidupnya sebagai seorang muslim berhadapan dengan realitas sosial( 3i sinilah titik
balik pengalaman eksistensial Esac
kyang hidup di tengah struktur eksploitati$ dan dominasi serta hegemoni re+im penindasan
dieksplorasi secara mendetail dan lugas(
3alam sebuah situs di internet juga penulis dapatkan banyak diantara karya Esack
yang bertebaran dalam bentuk artikel ilmiah atau tulisan dalam jurnal yang semakin
memeriahkan blantika intelektual pemikiran )slam ! antara lain:
1. /n .earc! o0 a Pro$ressi4e /slam ic )esponse to <G??# in %a$i! Fmid! (ed() Pro$ressi4e
/slam (FG$ord: Fneorld! ,CCI)
2. /slam J Gender 1ustice 4 &e,ond Apolo$ia; in -aines! = _ /aguire 3 (eds()! :The
1ustice 'en %6e +o *omen= Positi4e )esources 0rom *orld )eli$ions(; (7e Hork:
%uny 8ress! ,CCC)! pp( 1NJ4,1C(
3. 'uslims En$a$in$ t!e %t!er and t!e Humanum; in "ige! =ohn =r( _ /artin! -ichard
C( (eds() .!arin$ t!e &ook= )eli$ious Perspecti4e on t!e )i$!ts and *ron$s o0
Prosel,tism( Frbis( 1999( pp( 11N41EI
4. :7ontemporar, )eli$ious +!ou$!t in .out! A0rica and t!e Emer$ence o0 QurKanic
Hermeneutical :otions!; in 1ournal 0or t!e .tud, o0 /slam J 7!ristian-'uslim
)elations, (aol( ,! 7o( ,:
1991) ! pp( ,CB4,,5(
5 :+!e QurKan and Histor,= An /ntroduction to Problems o0 +eEt and
7onteEt, in 1. 5oni$ J .. 'aimela (eds()! /nitiation into +!eolo$,= +!e )ic! Hariet, o0
+!eolo$, and Hermeneutics. 8retoria: =' Aan %chaik( 199N! pp( EJ14E9I
5. &e,ond "+!e Position o0 *omen in /slam @;! A0rica Le$al Aid Quarterl,, =anuary4
/arch! 199N! pp( IC4IE(
6. 'uslims En$a$in$ Apart!eid= +!e Emer$ence o0 an /slam ic +!eolo$, o0 Liberation!;
in j( /utambira (ed()! +!e )ole o0 )eli$ion and )eli$ious /nstitutions in t!e
3ismantlin$ o0 Apart!eid, (LeneAa: "CC and O7E%CF! 199I)! pp( II45B(
7. QurKanic Hermeneutics= Problems and Prospects!; in 'uslim *orld, (#utumn! 199I)(
aol( NI:, ! pp( 11N41E1(
8. h *ie be0reit ist die c!ristlic!e &e0reiun$st!eolo$ie in %ueda*ikaM!h in j( 'ahnemann
(ed()! 3as *iederer6ac!en der )eli$ionen als paeda$o$isc!e Heraus0orderun$,
(7uremberg: E0 4 aerlag -issen! 199,)! pp( 1EC41E9! (7uremberg: E0 4 aerlag -issen!
1992) ! pp( 1EC41E9(
9. Liberation, Human )i$!ts, Gender and 'uslim Personal La6= +!e .out! A0rican Case!; in
T( 'indholm _ 2( aogt! /slam ic La6 )e0orm and Human )i$!ts= 7!allen$es and
)e-oinders, (Fslo: 7ational )nstitute o$ 1uman -ights! 199,)! pp(1BI419B(
10. :The EEodus Paradi$m in t!e QurKan in t!e Li$!t o0 )e- /nterpretati4e /slam ic +!ou$!t in
.out! A0rica; in /slam o7!ristiana, (aol(1J: 1991)! pp( NI49J(
11. /slam , "+!e People and Political .o4erei$nt,!; in 2laus 7eurenberger (ed()! A
3emocratic Hision 0or .out! A0rica 4 Political )ealism J 7!ristian )esponsibilit,,
(8ietermarit+burg: Encounter! 1991)! pp( ,1E4,,I(
12. 7lamps on t!e 2ni4ersities= 7urbin$ K2nrestK or .ilencin$ 3issentM!; #nnual -ichard
Feet*am /emorial 'ecture (=ohannesburg: #cademic Freedom Committee! OniAersity o$
"itatersrand! 19NN)(
13. :The Freedom 7!arter t!rou$! t!e E,es o0 an /slam ist,# in =ames # 8olley (ed()! +!e
Freedom 7!arter and t!e Future, (Cape Ton: #3 3onker! 19NN)! pp( 1C5411C(
15 +!ree /slam ic .trands in t!e .out! A0rican .tru$$le 0or 1ustice!; in +!ird *orld Quarterl,,
(aol( 1C! 7o ,: 19NN)! pp( EJI4E9N(
16 'uslims in .out! A0rica= +!e Quest 0or 1ustice, (0irmingham: Centre $or the %tudy o$ )slam
_ /uslim4Christian -elations! #pril 19NJ)(
17 Heraus0orderun$ der Frei!eit - Aus der Perspekti4e eines 'uslim, Al Fadsc!er, (Frank$urt:
/aer+4=uni! 199N)! pp(I4IE(
18 Post-'odernist /slam ic +!eolo$ical )e0lections in a PostApart!eid .out! A0rica!; in
)e4ie6 o0 )eli$ion and +!eolo$,! (%ummer 1995)! pp( ,E4,N(
19 :+!e Gods, t!e At!eists J t!e 7onstitution;! in :3ie .uid A0rikaan#, #ug(! 1995 pp( ,N4I5(
20 LGibt den Frauen i!re *uerde 6ieder#, in Hisionen, (0erlin: =an4 Feb( 199E)! pp( 1E41N(
21 hTo *!om .!all *e Gi4e Access to %ur 3rinkin$ HolesM )e0lections on t!e .ocial, Political,
and )eli$ious 3imensions o0 Pre-udice,L in European 1udaism, (%pring 199I)( #lso
published as *em sollen 6ir Nu$an$ Du unseren *asserstellen $estattenM, in O(
Toruschka! O( _ -( 2irste (eds()! /nterreli$ioeser .c!6erpunkt= +radition, 'oderne und
Post-'oderne, (7achrodt: )ntra! 199E)! pp( ,EI4,55(
:Gender and t!e En4ironment= +!e 2n0inis!ed &usiness o0 Liberation +!eolo$,!; in L(=(#(
'ubbe! A 3ecade o0 3ialo$ue, (=ohannesburg: "C-8! 199E)( #lso published as :The %econd
3esmond Tutu 8eace 'ecture!; (=ohannesburg: "C-8! 19NB) and as :3ialogue in Con$rontation!;
in A0rica! (7airobi: =an(! 19NN)! pp( ,,4I1
( i jk T<
!
llm
7 Y7 (7 Y7
1. )Gender, t!e En4ironment J )eli$ious Pluralism= +!e 2n0inis!ed &usiness o0 Liberation
+!eolo$, ;! %econd #nnual 3esmond Tutu 8eace 'ecture! =ohannesburg! %ept( 19N5(
2. 2eynote #ddress at 7ulture in Anot!er .out! A0rica Con$erence! #msterdam! 3ec( 19NJ(
3. 2eynote #ddress at =oint Frganisation o$ #$rica Onity 4 #7C Con$erence on :/nternational
.olidarit, 6it! t!e People o0 .out! A0rica;! #rusha! Tan+ania Fct( 19NJ(
4. :#cademic Freedom )s 7ot an )sland Onto )tsel$;: Tenty First -ichard Feetham /emorial
'ecture on #cademic Freedom (OniAersity o$ "itatersrand)! =ohannesburg! =une 19NJ(
5. Human )i$!ts - Problems and Prospects 0or 2ni4ersal En0orcement;! #nnual Onited
7ations #ssociation #ddress! aancouAer 7oA( 19NN(
6. :The /ndi4isibilit, o0 Freedom;! %iGth #nnual 2oos 2oster /emorial 'ecture! (OniAersity o$
2aampen) 7etherlands! /arch 19NN
7. Toards a 7ational 1ealth Care %ystem in %outh #$rica 4 8reparing the 8ath;! Fpening
#ddress at /edical OniAersity o$ %#! #nnual Con$erence on 1ealth Care in %# Larankua!
#ug(! 19N9(
8. :The Land Question 4 2nt,in$ t!e 5not *it!out 3estro,in$ t!e Land; 2eynote #ddress at
)dasa :'and -edistribution Con$erence;! %omerset "est! Feb( 199C(
9. :The %truggle $or #$rica: Challenges to /ission and 3aK6a!=# #nnual Consultation o$
:ederlandse 'issieraad, 3en 0osch! 7etherlands! Feb( 1991(
10. :To "hom %hall "e LiAe #ccess to Fur 3rinking 1olesM -e$lections on the %ocial! 8olitical!
and -eligious 3imensions o$ 8rejudice! %tanding Con$erence on =es! /uslims and
Christians! 0endor$$! Lermany! #pril 199E(
11. :Together $or "hat and "ith "homM; Fpening 8lenary #ddress! O7E%CF Con$erence on
:'earning to 'iAe Together;! 8aris! %ept( 199J (ith 0outros 0outros Lhali _ %imon 8eres)(
12. :Tradition and Change;! 2eynote #ddress! %tanding Con$erence on =es! /uslims and
Christians! 0endor$$! Lermany! /arch 199N(
13. :Truth _ -econciliation: Finders 2eepers! 'osers "eepersM; )nternational Felloship o$
-econciliation! 2eynote #ddress! Fort "ayne! )7(! =uly 15419! 199N
14. :3iAersity $or "hat and "homM; Cultural 3iAersity and )slam Con$erence! 2eynote %peaker!
(ith %eyyed 1oosein 7asr) Centre o$ Llobal 8eace! #merican OniAersity! "ashington 3(C(!
7oA(
199N(
15. :Lender E>uality! Feminism and Family aalues: 1o -eal the LapM; 2eynote address to
#nnual Leneral /eeting o$ Family and /arriage %ociety o$ %outh #$rica! #ug( 1999(
16. :/uslim /inorities6 7egotiating EGistence in the 0elly o$ the 0east;( #nnual /ultatuli
'ecture! /ultatuli %tichting! 0reda! 7etherlands! /ay ,CCC(
17. :Freedom $rom 8oAerty as an En$orceable 1uman -ight;! 8oAerty and the Constitution
Con$erence! 2eynote #ddress! 'egal -esource Centre )nternational Con$erence o$ 1uman
-ights =urists! =ohannesburg! #ug( ,CCC(
18. :The -eligious -oots o$ 8rejudice!;The #nnual =ack and 'eis -udin 'ecture! Onion
Theological %eminary! Fct( ,CC1! 7e Hork! 7H(
19. :%ecularism! 3eseculari+ation and -eligious Consciousness;! Fpening 8lenary! #nnual
Con$erence o$ #ssociation o$ /uslim %ocial %cientists! ,B Fct( ,CC1 OniAersity o$ /ichigan(
3earborn(
20 :The 'imitation and 8ossibilities $or an )slam ic #pproach to EnAironmentalism;! :The
EnAironment is a -eligious -esponsibility; Con$erence! N 7oA( ,CC1! #uburn Theological
%eminary! 7e Hork(
21. D DThe Clash o$ Tin Fundamentalisms 4 # 8rogressiAe /uslim #nalysis o$ %ept( 11
th
! )CCF
Con$erence on DThe -ise o$ -eligious Fundamentalism and the Challenge to 3eAelopment! ,
3ec( ,CC,! ?eist! The 7etherlands(
22. :%acred %tories $rom the Edge: Con$lict! =ustice and 8eace;( 2eynote #ddress! 'ent EAent!
%aint /arks Church! , Feb( ,CC,! 8asadena! C#(
23. :# /uslim -esponse to EAangelism in the ,1
st
Centu*;! #nnual Frederic ) 3reGler 'ecture!
#merican 0aptist %eminary o$ the "est! ,, Feb( ,CC,! 0erkeley! C#(
24. -eligion and aiolence: # /uslim -esponse 0eyond the 3rama;! Eckels /emorial 'ecture!
OniAersalist Onitarian Church! 1arrisburg! 8#! ,C #pril ,CC,(
25 :The Terrible Tins; #$rican -e$lections on Fundamentalist )nspired aiolence;! #nnual
0rueggeman 'ecture! naAier OniAersity! 1E Fct( ,CC,(
26. :0eteen 8laying 3ead and #sserting the Faith: 8rogressiAe )slam and the Clash o$
CiAili+ations;! #nnual /ajorie Thulin 'ecture! OniAersity o$ Orbana4Champaign! , #pril
,CCI(
27. :1)a&#)3% and Ethical Challenges $or )slam ic Theology;! O7)CEF Con$erence on
-eligion! Children and 1)a&#)3%! 2athmandu! 5 3ecember! ,CCI(
8resentasi4presentasi di depan publik:
I. :The )ntroduction o$ /uslim 8ersonal 'a as an EGtension o$ #partheid )deology;! =oint
Call o$ )slam 4/uslim Houth /oAement Con$erence on /uslim 8ersonal 'a! =ohannesburg!
Fct( 19NN(
, :The +abli$!i 1amaKa!= The 8olitics o$ #political %pirituality;! OniAersity o$ 0irmingham!
/arch 199C(
3. :+o6ards a 3e0inition o0 Fundamentalism in /slam ;! /ulti4Faith Centre! 0irmingham! =uly
199C(
4. :+!e .tru$$le bet6een +eEt and 7onteEt;! -eligious %tudies 3epartment! OniAersity o$ 7atal!
8ietermarit+burg( %ept( 1991(
5. :+!e 3ebate on t!e 2ncreatedness o0 t!e QurKan and its
/mplications 0or t!e Possibilit, o0 a QurKanic )eception
Hermeneutic;! Chicago 8arliament o$ -eligions! %ept( 199I(
6. :/slam in t!e .udan J :i$eria= )eli$ion as Protest;( ,1st Century Trust Con$erence on
:-eligious -eAiAalism in Contemporary 8olitics: )s it Compatible ith a 'iberal "orld
Frder;! #lton! O2! =an( 199,(
7. :0eteen /andela and 'an 3alla! 5a0irs and 2a$$irs: -ethinking Theological Categories
ith 8articular -e$erence to 2u*;! )slam and CiAil %ociety Con$erence! OniAersity o$ %outh
#$rica! 8retoria! #ug( 199E(
N )e-+!inkin$ t!e Quranic &asis 0or Hiolence A$ainst *omen#,
/uslim4Christian Con$erence! aienna! /ay 199J(
9. :ProblematiDin$ Prosel,tism as a Problem;! -eligious aarieties in #$rica Con$erence! Emo*
OniAersity! =une! 199J
10 :Economic, Political and 7ultural /mpact o0 t!e 7olonial Period on 'uslim-7!ristian
)elations;! )nternational Con$erence on /uslim4Christian -elations: 8ast! 8resent! and
Future! =akarta! (%tate )nstitute o$ )slam ic %tudies! =akarta _ Temple OniAersity! #ug( 199J)(
II. :/slam , 'uslims and 2ni4ersalit, o0 Human )i$!ts;! )nternational Con$erence on /uslim4
Christian -elations: 8ast! 8resent! and Future! =akarta! (The %tate )nstitute o$ )slam ic
%tudies! =akarta! Temple OniAersity _ 1art$ord Theological %eminary) #ug( 199J(
12 )slam ! /uslims and %eGual /orality 4 7egotiating /oral 8luralism in a 3emocracy(
%tichting =oesu$ Kuarterly %eminar! Otrecht! 7etherlands( Feb( 1999(
13 :Aut!orit, and /nterpretation= *!o Gets to .a, 6!at t!e Quran 'eansM; :From the )slam ic
1interland: Critical 3ebates among Canadian /uslims; Con$erence! Toronto! /ay 1999(
14 :3oin$ 'uslim +!eolo$, in a Post-'odernist Era;! Centre $or /iddle Eastern %tudies!
1arAard! Con$erence! /ay 1999(
15 :/slam ic /dentit, and Aut!enticit, in t!e Face o0 +raditionalism and 'odernit,;!
Connecticut College! 7e 'ondon! %ept( 1999(
16 :7!allen$es Facin$ 'uslims in t!e :e6 'illennium;! /ajor 8resentation! 8arliament o$
"orld -eligions! Cape Ton! 3ec(
1999(
17 3ialo$ue and t!e Future o0 7i4iliDation!; )nternational %cholars #nnual Trialogue! Feb(
,CCC! =akarta(
18 :/slam as a Factor o0 /mportance in /nternational )elations 0rom a Global Perspecti4e;(
-oyal 3utch /ilitary #cademy! 0reda! /ay ,CCC
19 3a 6a! in a "orld here the only /ajority -eligion is the /arket;! :%haring Fur Faith
ith Fthers; Con$erence! Centre $or -esearch and Training in 3aoah /ethodology!
%ingapore! #ug(
,CCC(
20 :/slam and t!e 7!allen$es o0 GlobaliDation;! The Future o$ 1umankind 4 -esponsibilities
and Commitments o$ Families o$ -eligion; Con$erence! Ecumenical )nstitute o$ 0ossey! #ug(
,CC1(
21 'onot!eism and Hiolence;! "orld Council o$ Churches Consultation on -eligion and
aiolence! Tampa! Fl(! N411
t
Feb( ,CC,
22. :The +!eolo$ical )oots o0 )eli$ious /nspired Hiolence;! I
rd
#nnual )slam in #merica %tudent
-un Con$erence! 1arAard OniAersity! 9 /arch ,CC,! Cambridge! /#
23. /s +!ere an Essential 'uslim 7ommunit,M Anal,sin$ 'uslim )esponses to .ept. ??
t!
( #t
:)slam ! /uslims and %ept( 11
th
Con$erence on O%# Foreign 8olicy;( College o$ "illiam and
/ary and #merican Council $or %tudy o$ )slam ic %ocieties! E /arch ,CC,! "ashington 3(C(
24. *!ere do *e Go 0rom HereM )et!inkin$ t!e )ole o0 /slam in t!e
21
st
7entur,; 8resenting and -e48resenting )slam Con$erence! Centre $or /iddle Eastern
%tudies! #ustin TeGas OniAersity! ,14,, /arch! ,CC,
25. 'uslim /ntellectuals and t!e 7!allen$e o0 'inorit,-ness, #nnual )bn %ina Foundation
'ecture! CleAeland! F1! E /ay! ,CC,
30 :%eG and %eGuality 4 3ealing ith an #kard Li$t $rom Lod during the 1)a&#)3%
8andemic;! ,
nd
/uslim -eligious 'eaders Consultation on 1)a&#)3%! 2uala 'umpur! ,1
s
/ay ,CCI(
31 )slam and /uslims in the ,1
st
Century! E 'ectures $or Faculty %eminars! naAier OniAersity!
Cincinnati! Fct47oA ,CCI
32 :/uslim )ntellectuals beteen #pologetics and the Empire;! )slam ic -esearch #cademy!
)nternational )slam ic OniAersity! )slam abad! 1 =anua* ,CCE
33 )n$ormation! Formation and Trans$ormation 4 The Task o$ Educating $or Critical Citi+enship!
Faculty o$ Education! #ga 2han OniAersity! 2arachi! 5 =anuary ,CCE(
34. :)slam ism and Llobali+ation; at :The Future o$ 1umankind: -esponsibilities and
Commitments o$ Families o$ -eligion; Con$erence! Ecumenical )nstitute o$ 0ossey! LeneAa!
,C4,5 #ugust! ,CC1(
35. -eligious Education and 1uman -ights 3ilemmas; at /uslim4 Christian Consultation on
:-eligious 8rinciples and Educational /ethods $or /uslims and Christians to 8rotect and
8romote Freedom o$ -eligion and 0elie$;! =ohn 2noG )nternational Centre! LeneAa! N411
=une ,CC,
2emudian juga tema yang terkait dengan tekanan karya tulis
ini adalah beberapa tulisan yang bertemakan 8luralisme #gama&-elasi
#ntar #gama:
1 )nternational %ummer %chool on )slam _ Christianity! %elly Fak Colleges! 0irmingham! =uly
19NI and =uly 19N5 (Co4$acilitator conducted seAeral lectures)(
2. :)nter4-eligious %olidarity as a -esponse to )nter$aith 3ialogue;! Fi$th "orld #ssembly!
"orld Con$erence on -eligion _ 8eace! /elbourne! =an( 19N9
3. 3aK6a!, /ission _ 3ialogue;! /ulti4Faith Centre! 0irmingham =uly 1 99C
4. :)nterreligious Co4operation and 8eace4making in the ConteGt o$ Communal aiolence;!
"orld Council o$ Churches! 3ec( 199I
5. :)nter4$aith #ctiAity as a %ubAersiAe 8ursuit;! %arAa43harma4 %ammelana! 0angalore! #ug(
199I
6. :)s there 'i$e a$ter TeaM 0eyond 8oliteness toards #uthenticity in )nter4$aith 3ialogue;!
/ajor 8resentation! Chicago 8arliament o$ -eligions! Chicago! %ept( 199E(
7. :8luralism and the -eligious 3imension;! )nternational Con$erence to mark the ,5th
#nniAersary o$ the )rish %chool o$ Ecumenics in 3ublin! 7oA( 1995
:0uilding Community! 'iAing Together! "orking Together;! )nternational )nter$aith Centre!
"estminster College! FG$ord! /arch 199
8. N:That o$ Lod in the /arginali+ed 4 Entry 8oints $or 8luralism ith )ntegrity!
#nnual Call to #ction Con$erence! CB4CN #ug(! 1999 /ilaukee(
9. :/aking a "orld o$ 3i$$erence: /uslim4Christian 3ialogue;6 2eynote %peaker!
=uly ,CCC! 0ritish _ )rish #ssociation o$ 8ractical Theologians #nnual
Con$erence! 0irmingham(
11 :Enjoying the "alk! then Talking the Talk 4 Theological -e$lections based on
)nter$aith %olidarity $or =ustice;! 7oA( ,CCC 1art$ord %emina*( (To
8resentations)! 1art$ord! CT(
12. :3oing Theology in an )nter4Faith ConteGt;! 7oA( ,CCC! )nstitute $or ConteGtual
Theology! =ohannesburg(
13. :Truth and 3ialogue: 1o 0earable the TensionsM; =u 0y ,CC1! OniAersity o$
1amburg & 1amburg Ecumenical Council! 1amburg(
15 :%erAing Lod $rom "ithin but beyond the Con$ines o$ our 8risons! 8ittsburgh
%ummit #gainst -acism! =an( 1I ,CC,! East 'iberty 8resbyterian Church!
8ittsburgh( 8#(
16. :#longsidedness in a "orld here the Cake Cannot be Onbaked 4 /uslim4
Christian -elations #$*er %ept( 1,N ^6 =an( ,CC,! /ississippi %tate OniAersity!
%tarkAille! /%(
17. :3iplomacy and %tatecra$t: The )nterreligious 3imension!; 8artnership o$ Faith
-etreat $or -eligious 'eaders! 5 /arch ,CC,! 7e Hork(
18. :Education $or 1uman -ights: #n )slam ic 8erspectiAe;! )nternational
#ssociation $or -eligious Freedom! LeneAa! N =une ,CC,(
19. EGclusion _ Embrace: The Challenge o$ -eligious 8luralism! Llobali+ation
%ymposium! )sabella Canon Centre $or )nternational %tudies! Elon OniAersity!
1J %ept( Elon(
20. 3!immis and -eligious 8luralism 4 The 'imitations o$ /uslim 'egal
3iscourse;! OniAersity o$ 3enAer! ,B Fctober ,CC,
21. :aulnerability as airtue: Challenges $or /uslims in Europe!; #Aicenna
#ssociation! 1J 3ecember ,CC,! The 1ague(
22 :Community in the /ake and the 3ynamics o$ eGcommunication (8anellist)!
=eish and )slam ic 1ermeneutics as Cultural Criti>ue! orkshop! 0erlin! 1E
3ecember ,CCI(
B. PE}IKIRAN FARID ESACK ENANG HER}ENEUIKA PE}BEBASAN
%eperti penjelasan yang telah terurai di muka (0ab )))! sekadar untuk mengingatkan
kembali! baha =ose$ 0leicher membagi dan mengkategorikan teori hermeneutika menjadi
tiga: hermeneutika sebagai teori&metode (!ermeneutical t!eor,), hermeneutika sebagai
$ilsa$at (!ermeneutical p!ilosop!,) dan hermeneutika kritis (critical !ermeneutics)
@A
2etiga aliran dan paradigma dari hermeneutika tersebut kemudian saling
melengkapi! bahkan saling mengkritik( Terbukti dengan perebutan acana masing4masing!
Fa+lur -ahman! kemudian menglompokkan dua aliran pertama sebagai airan ob,ekti0itas
(yang diakili Emilio 0etti) dan sub,ekti0itas (yang diakili oleh 1ans Leorg Ladamer)(
#dapun aliran ketiga sebagai aliran kritis pun menjadi penyeimbang acana yang men$-
counter acana dari paradigma hermeneutika ke dua( %ehingga perdebatan yang muncul
adalah pertarungan Ladamer sebagai representasi aliran subjekti$is dan 1abermas sebagai
akil dari aliran hermeneutika kritis-R #kan tetapi dengan munculnya post4modernisme
yang dibaa oleh =ac>ues 3errida dan /ichael Foucault! telah menunjukkan nuansa
dekonstrukti$ dalam acana hermeneutika! yang kemudian dapat memposisikan diri sebagai
alternatiAe keempat dalam aliran hermeneutika(
3iakui atau tidak! berkembangnya metode hermeneutika ini kemudian berkontribusi
besar dalam membaa para pemikir dan intelektual muslim melakukan kajian terhadap teks
(al4Kur@an) yang berbasis pada aspek metodis epistemologis!* ketimbangpraktis ekse$etis
(ta$sir dan ta@il)(
/aka! dalam hal ini posisi Farid Esack adalah menempatkan hermeneutika s ecara umum pada
dua arus utama yang telah disebutkan d
imuka! yakni !ermeneutical t!eor, dan !ermeneutical p!ilosop!,, meskipun secara jujur!
terkadang dalam beberapa akt*! Esack sering berposisi di ilayah kritis ma+hab 1abermasian(
3engan dua pendekatan yang ia pakai! seperti kutipannya terhadap Carl 0raaten! Esack ingin
merangkum pendekatannya dalam memposisikan dirinya secara metodologis dalam gugusan
20#( -a$i> ?ainul /un@im! op.cit, hlm( ,,(
konsep hermeneutikanya! yakni bagaimana agar sebuah kata atau satu kejadian dalam aktu dan
budaya lampau dapat dimengerti dan menjadi bermakna secara eksistensial dalam situasi
sekarang(( 0raaten 199B! h( 1I1)(
,1
8endekatan ini ternyata memang signi$ikan dengan konteks sosio4 historis4politis #$rika
%elatan sebagai lokus bagi :proyek besar; pemikiran Esack yang cenderung terkonstruk oleh
hegomoni kekuasaan! penindasan! pelecehan hak asasi dan kemunculan re+im despotic apartheid(
Terbukti! menurut pengamatan Esack! pengalaman #$rika %elatan memang mempunyai
kecenderungan dalam memahami al4Kur@an sebagai bentuk peran dan cara memahaminya(
%ehingga yang diperbincangkan oleh ra*at #$sel adalah bagaimana bicara kegunaan dan cara
($ungsional4pragmatisnya)! bukan soal hakikat al4Kur@an(
3engan keberangkatan posisi di atas! maka penggunaan hermeneutika sebagai perangkat
pembacaan atas realitas teks dan konteks #$rika %elatan menjadi satu hal penting (ur$en) yang tak
bisa di taar4taar lagi( /aka! muncullah empat hal yang ingin dituju Esack: pertama,
menunjukkan bah
asangat mungkin hidup dalam keimanan terhadap al4Kur@an di satu sisi dan dalam satu konteks
yang hadir (kontemporer) bersama umat lain! bekerjasama dengan mereka guna membangun
masyarakat yang lebih manusiai( 5edua, mengedepankan ide tentang hermeneutika al4Kur@an
sebagai kontribusi terhadap bangunan teologi pluralisme dalam )slam ( 5eti$a, mengkaji 3n
cara al4Kur@an mengkaji Ddiri sendiriD dan Dorang lain@! baik yang beriman atau tidak beriman!
untuk memberi ruang kebenaran bagi orang lain dalam teologi pluralisme demi pembebasan(
5eempat, mencari hubungan antara eksklusiAisme keagamaan dengan satu bentuk konserAatisme
politik (pendukung apartheid) di satu sisi! serta inklusiAisme keagamaan dengan satu bentuk
politik progresi$ (pendukung pembebasan) di sisi lain! serta untuk memberikan alasan4alasan bagi
21Farid Esack! ibid! hlm( NI
yang terakhir(*
Ontuk itu! Esack mencoba membuat sebuah rumusan hermeneutika yang di dalam
bukunya disebut dengan istilah :hermeneutika pembebasan; 5 L 5 2eunikan hermeneutika ini
adalah menempatkan posisi sentral pena$siran pada teks parti*ar (prior teGts)( 1al penting yang
ingin di capai Esack dari gagasan besarnya ini adalah ingin menemukan kembali :makna baru;
hermeneutika dalam konteks parti*ar sosial politiknya sesuai dengan kebutuhan konteks #$rika
%elatan(
=ika dicermati lebih dekat! memang Esack tidak begitu rigid dan detail dalam
merumuskan secara teoritis konsep hermeneutikanya! namun bila dirunut s ecara epi stemol ogis!
dapat diketahui dari karyanya (al-Quran,
Liberation dan Pluralism) baha gagasan besarnya ini ternyata bermuara pada hermeneutika
tanggapan&penerimaan (reception !ermeneutics) yang populer dalam tradisi injil (bible)( 2iblat
tokohnya seperti yang dia jelaskan dalam bukunya adalah rujukan hermeneutika Francis
%hcussler4Fioren+a(
3alam kajian hermeneutika kontemporer! hermeneutika penerimaan (reception
!ermeneutics) biasanya selalu diidentikkan pada aliran $ungsionalisme teks( /engapa disebut
demikianM 2arena bagi hermeneutika ini! sebuah teks bisa dikatakan sebagai kitab suci! jika ia
telah lulus :uji $ungsional dan pragmatik tertentu;( 3engan kata lain! aliran ini berpandangan
baha eksistensi sebuah teks kitab suci terletak pada dimensi $ungsional dan pragmatisnya!
sehingga letak kebenaran tertinggi sebuah teks kitab suci dilihat dari seberapa jauh mampu
mengatasi problem kemanusiaan yang hadir( 8andangan ini sangat bertentangan dengan
repertoare (paham) kaum reAelationis! yang selalu memenuhi ruang pembicaraan teks kitab suci
dengan acana tentang :Tuhan; dan bagaimana ia hadir (mani$est) dalam kehidupan riil I
1ermeneutika penerimaan ber$okus pada proses interpretasi dan bagaimana indiAidu atau
kelompok yang berbeda menggunakannya( /enurut Esack yang mengutip dari Francis %hcussler4
Fioren+a! interpretasi seperti ini: :8erlu memperhatikan bukan hanya teks atau audiens aal teks
itu! melainkan juga trans$ormasi jangkauan pemahaman masa lalu dan sekarang;* 1ermeneutika
penerimaan dengan demikian mengubah analisis soal
bagaimana suatu teks telah atau sedang diterima :menjadi studi tentang pemaknaan teks
tersebut;( 8roses ta$sir ini tentu berlaanan dengan positi4isme !istories yang cenderung
memperhatikan makna4makna yang tetap dan pasti (tekstual)! hermeneutika penerimaan
menuntut agar beragam penerimaan atas teks itu! :termasuk pemahaman yang popular saat
itu sebagai konkretisasi pemaknaannya! dilibatkan dalam masalah pena$siran teks tersebut(
3engan demikian! menurut Fioren+a! hermeneutika penerimaan :akan memasukkan ke dalam
usaha interpretasi masalah pergeseran jangkauan pemahaman beragam audiensnya dan
tans$ormasi antara harapan masa lalu dan sekarang terhadapnya;(
3alam rumusan hermeneutikanya! Farid Esack menempatkan tiga elemen intrinsik dalam sebuah
pemahaman dengan mengambil bentuk lingkaran hermeneutika (!ermeneutika circle)( Tiga
elemen penting tersebut adalah: teks beserta pengarangnya! pena$sir (interpreter) dan akti$itas
pena$siran
(
%ementara itu! =uan 'uis %egondo mende$inisikan !ermeneutika circle ini sebagai
perubahan terus menerus dalam melakukan interpretasi terhadap kitab suci yang dipandu oleh
perubahan4perubahan berkesinambungan dalam realitas masa kini! baik indiAidu maupun
masyarakat( )a mengemukakan dua syarat untuk menciptakan !ermeneutika circle: persoalan4
persoalan yang mendalam dan kaya serta keraguan terhadap situasi yang nyata6 dan
interpretasi baru terhadap kitab suci yang juga mendalam dan kaya(
- S+a(!a( Fa,+" Raa( $a( A"k+(
Ontuk mempertajam analisisnya! terutama terkait dengan penggalian makna!
dan guna mendukung ide besar peahyuan progresi$nya! Esack kemudian meminjam
analisis dua tokoh besar yang menjadi re$erensi pemikirannya: Fa+lur -ahman\\
I
dan
/ohammed #rkoun (
Ontuk mengaali kupasan pemikirannya! penuhs tampilkan terlebih re$erensi
pemikiran Esack terhadap tokoh asal 8akistan! Fa+lur -ahman(
0erikut penulis tempilkan skema hermeneutika Fa+lur -ahman:
%ituasi 1istoric 1 -espon al4Kur@an
/engeneralisasi =aaban %pesi$ik
/enentukan tujuan moral social al4Kur@an
p
% ituasi 2ontemporer
h
I
Fa+lur -ahman lahir pada 1919 di 8akistan( %eb*****************gkungan ma+hab
1ana$i! maka corak pemikirannya adalah senada dengan genealogi yang melahirkannya! lebih
condong rasionalis! karena lebih menggunakan ra@y daripada riayat hadits( 'ihat! #li /asrur!
#hli 2itab dalam al4Kur@an6 /odel 8ena$siran Fa+lur -ahman! lihat dalam #bdul /usta>im4
%ahiron %yamsudin! .tudi Al-Quran 5ontemporer( *acana &aru &erba$ai 'etodolo$i +a0sir,
op.cit., hlm( EI4EE(
h
E
/ohammed #rkoun! begitu ia diberi nama! lahir pada 1 Februari 19,N di Tourirt4 /imoun!
2abilia! suatn daerah pegunungan be*enduduk 0erber di sebelah timur #ljir( Tokoh inilah yang
terkenal dengan pemikiran 2ritik 7alar )slam (27))! lihat dalam /ohammed #rkoun!
("ashington 3C: Center $or contemporary arab studies! 19NJ)! terj( -uslani! /slam 5ontemporer
'enu-u 3ialo$Antar A$ama, Hogyakarta: 8ustaka 8elajar! ,CC1! hlm( A
!
7ilai4nilai al4Kur@an
C##}as_a"akat Is,a##
%kema I( 'etodolo$i Hermeneutika FaDlur )a!man
@@
=ika dilihat dari skema di atas! menurut ?akiyuddin 0aidhay! ada perbedaan
$undamental antara lingkaran %egundo dan Fa+lur -ahman! yakni keputusan secara sadar
untuk memasuki !ermeneutika circle dari sudut praksis pembebasan yang ditentukan
secara politik( %egundo menyatakan! !ermeneutika circle didasarkan atas $akta baha
pilihan politik untuk perubahan pembebasan adalah unsur intrinsik dari i ma n \ *
%ementara! -ahman menyatakan baha metode hermeneutika yang memadai
berkaitan khusus dengan aspek4aspek kogniti$ dari ahyu(*< 2unci hermeneutika untuk
upaya4upaya kogniti$ ini adalah iman dan kemauan untuk dibimbing( Ta$sir kontemporer
mem$okuskan pada lingkaran historis ahyu sebagai alat paling berharga dalam
memahami(* )a mengusulkan proses interpretasi yang melibatkan gerakan ganda (double
mo4ement)( dari masa kini ke periode al4Kur@an dan kembali ke masa kini (lihat skema
I)( /aksudnya! membaca gerakan pertama, berusaha memahami secara keseluruhan
kandungan al4Kuroan leat
perintah4perintah dan larangan yang diturunkan secara khusus4spesi$ik sebagai respon terhadap
situasi tertentu( Lerakan ini melalui dua tahap( Gerak pertama (dari situasi kini ke masa al4
Kur@an) terdiri dari dua langkah: 1)(melakukan tahap pemahaman tekstual al4Kur@an dan konteks
sosio historis ayat4ayatnya (taks o0 understandin$). 'angkah ini mensyaratkan adanya
pemahaman secara makro mengenai situasi kehidupan #rabia baik dari sisi kehadiran )slam di
22lihat skema ini dalam ?akiyuddin 0aidhay! ibid.
116 ?akiyuddin 0aidhay! ibid
117Fa+lur -ahman! /slam and 'odernit,= +rans0ormation o0 an /ntellectual +radition,
Chicago: OniAersity o$ Chicago 8ress! 19N,! terj( #hsin /uhammad! /slam dan 'odernitas,
0andung: 8ustaka! 19N5! hlm( hlm( E
Fa+lur -ahman! ibid
/akkah! adat istiadat ataupun masyarakatnya( ,)( /elakukan generalisasi( 8ada tahap ini perlu
dilakukan upaya generalisasi atas jaaban4jaaban spesi$ik tersebut dan menyatakan sebagai
pernyataan4pernyataan yang memiliki tujuan moral social umum yang dapat disaring dari ayat4
ayat spesi$ik dalam sinaran latar belakang sosio historis dan ratio lo$is yang sering dinyatakan(
Hang perlu diperhatikan di sini adalah baha selama proses ini! perhatian harus diberikan ke arah
ajaran al4Kur@an! sebagai suatu keseluruhan sehingga setiap arti tertentu yang dipahami! setiap
hukum yang dinyatakan! dan setiap tujuan yang dirumuskan akan koheren dengan yang lainnya(
%edangkan gerak kedua (dari masa al4Kur@an diturunkan ke masa kini)( 3alam bahasa
mudahnya adalah bagaimana membumikan sebuah tujuan ayat al4Kur@an yang pada masa
diturunkan berlaku secara spesi$ik ke dalam konteks kekinian( Tentunya hal ini dengan berupaya
memahami pesan xGxG yang tertuang dalam ayat al4Kur@an tersebut( %ehingga terjadi
119 Farid Esack! 'uslims En$a$in$ t!e %t!er and +!e Humanum, op.cit
120 #( -a$i> ?ainul /un@im! op.cit, hlm( ,B4,J penumbuhan sebuah tujuan ayat pada
konteks sosio4historis masa sekarang(
3i samping -ahman! /ohammed #rkoun juga menaarkan pendekatan hermeneutika
kontemporer( /engapa Esack memilih pendekatan arkounM 2arena! dengan gagasan dekonstruksi
ahyu #rkoun! kemudian digunakan oleh Esack untuk mendeteksi secara kritis proses
peahyuan dan cara teks tertuhs sehingga menjadi musha$ (canon) yang disakralkan! dimitoskan
dan otoritati$(
Osaha keras #rkoun yang melibatkan pendekatan historis4 sosiologis4antropologis ini!
menggiring Esack untuk menghadirkan gagasan tentang adanya relasi antara indiAidu dengan
$irman Tuhan yang menyerupai hubungan sosio4politis dengan komunitas sosial: :$ungsi
psikologis peahyuan merupakan ujud pesan jia yang tak bisa dipisahkan dari kemampuan
sosialnya untuk mengatasi semua perbedaan dan persaingan! serta memberikan nilai legitimati$
bagi suatu tatanan politik(
/eski secara tegas Esack menampik aliran objekt*Aisme dalam pena$siran (karena jika
digolongkan ia masuk dalam kategori hermeneutika berperspekti$ kritis ala 1abermasian)! tetapi
secara metodis! hermeneutikanya tidak bisa menghindar dari pengaruh kuat gagasan sang maestro
Dhemeneut@ )slam berkebangsaai Dalja+air@ ini( 0ahkan dalam salah satu tu 0isannya! Esack
menyebutkan secara jelas bentuk metode yang digunakannya dengan istilah prosedur yang
dijuluki #rkoun sebagai re$resi0-pro$resi0
,I
2arena! dengan proses re$resi0-pro$resi0 ini berarti
sebuah pembalikan terus4menerus ke masa lalu! bukan untuk memproyeksikan tuntutan dan
kebutuhan sekarang atas dasar teks4teks $undamental itu! tetapi untuk menemukan mekanisme
dan $actor4$aktor histories yang melahirkan teks4teks tersebut dan memberikan kepadanya $ungsi4
$ungsi tersebut (qprosedur regresi$)\
,E
/etode hermeneutika ini terdiri dari dua prosedur teknis! pertama prosedur re$resi0 dan
kedua prosedur pro$resi0 8rosedur pertama (regresi$) ! melihat kembali ke masa lalu secara
kontinu bukan hanya untuk memperhitungkan kebutuhan4kebutuhan dan keinginan4keinginan
masa kini atas teks! tetapi (juga) untuk mengungkap mekanisme histories dan $aktor4$aktor yang
memproduksi teks4teks ini dan memberikan $ungsi tertentu terhadapnya( #spek yang perlu
dipertimbangkan dalam prosedur ini menurut Esack adalah apa yang telah berkembang dalam
tradisi Oshul Ta$sir! yakni $enre nask!, asbab an-nuDul dan "ilm al-makki 6a al- madani.
%edangkan prosedur kedua (progresi$r bekerja dalam rangka menghidupkan makna baru
(kontemporer)! sebagaimana tuntutan konteks pada masa sekarang( 8asalnya! keberadaan teks4
23#( -a$i> ?ainul /un@im! ibid
teks tersebut merupakan bagian yang tak terpisahkan dari identitas kaum /uslim #$rika %elatan!
dan akti$ dal am si stem ideologi mereka( Fleh karena itu! yang mutlak harus dilakukan dalam
prosedur ini adalah memeriksa secara cermat proses trans$ormasi muatan4muatan dan $ungsi4
$ungsi aal ke dalam muatan dan $ungsi baru(
,E
8rosedur re$resi0-pro$resi0 tersebut yang Esack sebut sebagai cara pemikiran yang
!euristic. Hakni penekanan terhadap pendekatan histories4 sosiologis4antropologis! tapi juga tidak
menolak pendekatan $ilsa$at dan teologi( 0ahkan di sisi lain! #rkoun menampilkan berbagai jalur
pemikiran heuristik $undamental untuk merekapitulasi pengetahuan )slam dan menghadapkannya
dengan pemikiran kontemporer demi memperluasnya6
s /anusia muncul di tengah masyarakat melalui berbagai perubahan :penggunaan; (aktiAitas!
pengalaman! sensasi! pengamatan! dan sebagainya)( %etiap guna dalam masyarkat! kata
#rkoun! :dikonAersi ke dalam tanda dari kegunaan itu (dan) realitas diekspresikan melalui
bahasa sebagai system tanda;( 8erkembangan ini terjadi sebelum adanya interpretasi atas
ahyu apapun( 'ebih jauh lagi! kitab suci :juga dikomunikasikan leat bahasa natural (yang)
digunakan sebagai sistem tanda;( 3an setiap tanda merupakan :lokus bagi operasi konAergen
(yaitu persepsi! ekspresi! interpretasi! translasi! komunikasi) yang mengikat semua relasi
antara bahasa dan pemikiran;( #da dua dampak serius bagi pemikiran tradisional tentang
peahyuan dan bahasa ini! yaitu baha pengakuan tentang ke`uc5an bahasa #rab tak
lagi bisa dipertahankan dan! lebih dari itu! :inti pemikiran )slam ditampilkan sebagai
isu linguistik dan semantik;(
24#( -a$i> ?ainul /un@im! ibid, hlm( ,B
s %emua symbol dan tanda yang dihasilkan manusia (yaitu produk semiotic) dalam
proses kemunculan social dan budayanya! terkait erat dengan kesejarahan( %ebagai
artikulasi semiotic pemaknaan ba$i pen$$unaan social dan cultural (penekanan dari
Esack)! al4Kur@an adalah subjek kesejarahan-R #rkoun mengangkat maslah
hermeneutic mendasar ini sebagai berikut: :bagaimana kita bisa berurusan dengan
yang sakral! spiritual! transsendental! ontologis! jika kita diharuskan untuk
memandang semua kosakata yang dikatakan merujuk pada nilai4 nilai yang stabil
dan nonmaterial ini tunduk pada sejarah(
s 2eberadan iman tak lepas dari manusia! bukan muncul dari suatu kehendak
ketuhanan atau doa6 tetapi :dibentuk! diekspresikan! dan diaktualisasikan dalam dan
melalui acana(
s %ystem legitimasi tradisional yang ditampilkan teologi klasik dan $i>ih )slam ! serta kosakata
yang dipakainya tak punya releAansi epistemologis apapun( 3engan kata lain! tak berguna
bagi elaborasi pengetahuan masa kini( 3isiplin4disiplin ini dan kosakatanya! ujar arkoun!
terlalu kompromistis dengan bias4bias ideologi yangdidesakkan kepadanya oleh :kelas
penguasa dan budak4budak intelektualnya (dan) bersi$at otoritati$ hanya lantaran mereka
menolak untuk dikaitkan dengan lingkungan ilmiah yang berubah;
#khirnya! aplikasi gagasan4gagasan #rkoun di atas dapat dilihat pada analisis tentang
proses ahyu dan cara teks ditulis menjadi kitab yang otoritati$ dan suci( /erujuk pada 8aul
-icour! )a membedakan tiga leAel $irman #llah: 1)( Firman #llah sebagai transenden! tak terbatas
dan tidak dikenal oleh manusia sebagai suatu keseluruhan yang diahyukan melalui 7abi( 1al ini
diungkapkan dalam bahasa al4Kur@an sebagai al- la6! al-ma!0ud atau umm al-kitab( ,)(
/ani$estasi histories $irman #llah melalui nabi4nabi )srael (dalam bahasa ibrani)! Hesus (bahasa
#rami)! dan /uhammad (bahasa #rab)( )a diha$al dan ditransmisikan secara oral selama periode
sebelum ditulis-R 3an I)( FbjektiAikasi teks dari $irman #llah telah terjadi (al4Kur@an menjadi
mus!a0) dan kitab ini tersedia bagi orang beriman hanya melalui Aersi tertulis yang terpelihara
dalam kanon resmi tertutup(
#rkoun menjelaskan proses gerak penurunan ahyu dan gerak mendaki dari komunitas
yang mena$sirkan menuju keselamatan sesuai dengan perspekti$ Aer*kal tentang semua kreasi
sebagaimana adanya ditekankan oleh acana Kur@ani( 2omunitas yang mena$sirkan adalah
sub-ek-actant dari keseluruhan sejarah dunia yang diakili! diinterpretasi dan digunakan sebagai
tahapan sulit untuk mempersiapkan penyelamatan
sesuai dengan %ejarah 8enyelamatan yang dikisahkan Tuhan sebagai bagian dari ahyu yang
mendidik(d 1ubungan indiAidu dengan kitab sebagai $irman #llah sama dengan hubungan
sosial4politik dengan komunitas yang mena$sirkan(
'ihat skema berikut: skema E( Hermeneutika Arkoun F)-/#7 TO1#7
^ %E=#-#1 *7HE'#/#T#7
8E-)%T)"# )7#LO-#%) 2F/O7)T#% 2#O/ 0E-)/#7
(8E/0O2# 2F/O7)T#% /O%')/) A
8E7H#/8#)#7 (T-#7%/)%))4444444444444444444444444
2F-8O% -E%/) TE-TOTO8
2F-8O% H#7L 3)T#F%)-2#7 y
T-#3)%).1#F#'#7 2F'E2T)F! %E'E2%)! 8E7LO/8O'#7! E')/)7#%)!
2-)%T#T()%#%)! /)TF'FL)%#%)! %#*-#')%#%)
/#%H#-#2#T
1v1 t
/#%H#-#2#T #7L#74#7L#7 %F%)#' (/'AG/:A/)E .%7/AL) /O7CO'7H# 2-)T)2
-#%)F7#')T#%
2. }e(+t+ kekuran$an Raa( $a( A"k+(
a. Raa( se+a K"itik
Esack melihat ada kekurangan pada dua pendekatan di atas! -ahman dan
#rkoun( #tas dasar itu! Esack ingin Dmenambal@ bolong4 bolong yang ada pada
keduanya guna menyempurnakan Dimperium
besar@ pemikiran dengan menghadirkan metode pembacaan yang baru! hermeneutika pembebasan(
Ontuk pertama! pendekatan -ahman! menurutnya! kurang mengapresiasi atas
kompleksitas tugas hermeneutika dan pluralisme intelektual yang intrinsik di dalamnya(
2etiadaan ilayah Dabu4abu@ ini yang bagi Esack merupakan kekurangan paling serius dalam
pendekatannya( )man! tegas -ahman! membaa pada pemahaman! (ini yang kurang) tanpa
melihat baha hal tersebut bisa secara intrinsik terkait satu sama lain( 3emikian pula! -ahman
justru menyesalkan ketundukan )slam pada politik! bukan malah nilai4nilai )slam sejati yang
kemudian mengendalikan politik! tanpa mengakui dilektika antara keduanya( -ahman juga terlalu
menekankan kriterianya tentang pengetahuan didasarkan atas keunggu 0an kognisi semata!
sementara )a mengabaikan hubungan antara kognisi dan praksis( Terakhir! seperti yang dikatakan
/oosa! :dia tak berusaha menangkap estetika keseluruhannya! tetapi terlampau asyik dengan
kognisi historis yang menitikberatkan pada nilai4nilai moral(;\
I
\
/elihat karya4karya -ahman! bagi Esack! juga memperlihatkan perhatian yang terlalu
besar pada :u5lan moral dasar; al4Kur@an. kesadaran akan Tuhan dan keadilan social( 3engan
begini! -ahman lupa akan sebab4sebab struktural dan ketidakadilan itu! dari mana datang dan
asalnya (
1I,
2emudian lebih dalam lagi! kita akan semakin jelas melihat aroma keyakinan kaum
obyekti$is dalam kerangka pemikiran -ahman yang hendak meraih dan mengungkap :kebenaran
yang sesungguhnya;( )de4idenya sendiri tak sepenuhnya bebas dari ambiguitas( 3i satu
kesempatan! dia menempatka :kesementaraan: sebagia suatu nilai yang intrinsic dalam pemikiran
modern( 2etika mengemukakan tugas intelektual /uslim! dia mengatakan baha :pemikiran
modern! pada prinsipnya! harus menolak autoritarianisme apapun((keterbukaan pada perbaikan!
dan! dalam pengertian ini! sejumput keraguan! atau tepatnya kesementaraan adalah atak dasar
pemikiran modern yang merupakan proses tanpa akhir dan senantiasa bersi$at eksperimental( 3i
tempat lain! dia menyadari baha kendati :makna sebuah proposisi bisa benar secara uniAersal6
ini tak menjaab baha pemahaman terhadap makna tersebut juga uniAersal;
%indiran Esack6 -ahman dalam hal ini! patut disayangkan! tak mengaitkan
:kesementaraan; ini! yang sebenarnya bisa mendukung ke arah pluralisme! ke dalam seluruh
pendektan metode logisnya( 3ia pun tak melihat bagaimana objektiAisme yang melandasi seluruh
pendekatannya pada al4Kur@an itu bisa secara e$ekti$ bertentangan dengan setiap ide heurisme dan
pluralisme(
b. A"k+( se+a K"itik
=ika kita cermati! kritik Esack pada #rkoun lebih ditujukan pada pendapatnya yang
menyatakan baha pengetahuan sebagai lapisan otoritas diterima dan dihargai! pengetahuan
terlepas dari lapisan ideologi! mampu menjelaskan $ormasi dan menguasai pengaruhnya(
/enurut Esack! pengetahuan sebagaimana alat sosial lainnya! di samping dapat dikritik! juga
tidak pernah dapat netral( :%etiap hermeneutika membutuhkanpartisans!ip secara sadar
ataupun tidak; R 8ernyataan ini juga diutarakan oleh %egundo pula! baha :setiap
hermeneutik menuntut keikutsertaan secara sadar maupun tidak( %ekalipun seeorang memiliki
sudut pandang yang netral dan mencoba untuk bertindak demikian! tetap dia adalah partisan;(
Lagasan #rkoun mengimplikasikan baha bisa jadi ada kelas :pembaca4super; ahli
sejarah atau linguis yang sanggup mencapai makna yang sebenarnya dari sebuah teks(
Lagasan ini ditolak juga oleh Fioren+a! baha pendekatan ini secara keliru menganggap
baha jangkauan pemahaman baru (pembaca) termuat di dalam jangkauan pemahaman aal
(pengarang);( 3i samping mengabaikan jarak temporal antara teks dan pena$sir! pendekatan
itu juga :meminimalkan $akta baha tak ada teks yang ditulis sedemikian rupa sehingga para
o
II
Farid Esack! ibid, hlm( 1CB41CJ o
IE
Farid Esack! ibid, hlm( 1CB41C
J$ilolog mampu membaca dan mena$sirkannya secara $ilologis! atau para sejaraan
mampu membacanya secara histories-R
%ampai di sini! tampaknya! Esack ingin menutupi kekurangan4 kekurangan
-ahman dan #rkoun! dengan menaarkan !ermeneutika pembebasan-n,a. )a yakin
baha tugas /uslim memahami al4Kur@an dalam konteks penindasan ada dua hal:
untuk memaparkan cara interpretasi tradisional dan kepercayaan4kepercayaan
tentang $ungsi teks sebagai ideology dengan tujuan untuk melegitimasi tatanan yang
tidak adil6 untuk mengakui kesatuan umat manusia! menggali dimensi4 dimensi
keagamaan dalam situasi ketidakadilan dari teks dan mempergunakannya untuk
melakukan pembebasan (misalnya hubungan Tuhan dengan orang lapar dan
eksploitasi! termasuk bagaimana status hukum orang beda agama :yang lain; atau
a!l al- dDimma!). 3imensi teologis ini secara simultan membentuk dan dibentuk
oleh aktiAitas )slam isis dalam perjuangan demi keadilan dan kebebasan(
3. Ba!aia(a Esa%k }eaai teks
2ita telah semakin jauh menyelami pemikiran Esack! sekarang kita saatnya
memahami bagaimana pemahaman Esack sendiri terhadap teks (al4Kur@an)( Esack
melihat ada I (tiga) unsur intrinsik dalam proses memahami teks :
1I J
a. }eas+ki Piki"a( Pe(!a"a(! "sespsikolo$isasi)
3alam kasus al4Kur@an! Tuhan dipandang sebagai DpengarangD( /uslim perlu masuk
dalam pikiran Tuhan (di sinilah proses psikologisasi terhadap pengarang&Tuhan terbangun)!
sehingga hal ini bukan hal yang luar biasa bagi sebagian orang untuk mengklaim baha
Tuhan mengendalikan pikiran mereka(
=alur alternati$ untuk memahami ini telah dilakukan pada era tradisi mistik )slam
ketika mereka melakukan pendekatan terhadap kitab suci( 3alam metodologi ini! kesalehan
digabungkan (dikombinasikan) dengan keilmuan untuk menciptakan dan melahirkan makna(
2esalehan ini juga dianggap sebagai pembatas antara opini pribadi dan kebenaran( %eperti
pernyataan /uhyi al43in ibn D#rabi ((1,EC) yang dikutip Esack: baha Tuhan memainkan
peran langsung dalam pemahamannya atas teks(
0agi yang lain! /uhammad dijadikan sebagai Dikon kunci@ dalam upaya melahirkan
makna( /enurut -ahman dan kaum tradisionalis! makna terletak di dalam teks dan dapat
digali oleh :pikiran murni; )nilah yang disebut sebagai pendekatan personal( 0agi Esack!
problem sebenarnya adalah bagaimana menerapkan pendekatan ini secara sadar pada arena
sosio4politik atau domain moralitas publik dengan cara tertentu(
b. Pe(awsi" Peik+, Ba(_ak Bea(
Esack telah menegaskan baha partisipasi akti$ pena$sir yang tak terelakkan dalam
memproduksi makna sebenarnya berarti baha menerima suatu teks dan menyarikan
(mengeluarkan) makna dari teks tersebut tidak hadir dengan sendirinya (apalagi tiba4tiba)(
8enerimaan teks! proses mengeluarkan makna dan makna itu sendiri selalu parsial( #rtinya!
setiap pena$sir selalu masuk dengan membaa serta menyertakan konsepsinya sendiri (pra4
paham&pra4asumsi) sebagai asumsi aal dalam pena$sirannya( /akna! bagi Esack!
dimanapun ia ditempatkan! selalu ada dalam struktur pemahaman itu sendiri(
2ebutuhan mendesak bagi pemikir kontemporer adalah mengeluarkan pra4
pemahaman dari ta0sir bil-ra,i (pena$siran dengan penalaran).sebuah metode ta$sir yang
dalam acana konserAati$! telah diartikan sebagai campuran politik dan teologi tak berdasar
dan menyimpang yang diterapkan pada al4Kur@an( %etelah tugas ini dituntaskan! seseorang
bisa melanjutkan dengan mempelajari dan membahas! keabsahan! man$aat! dan
keseimbangan prapemahaman tertentu di atas( (prapemahaman) )nilah yang akan syarat untuk
hidup dalam sejarah( %ehingga kita perlu membedakan antara diri dengan kondisi di mana diri
itu berada! agar titik acuan absolut yang menjadi kalayakan umum /uslim al4Kur@an da bagi
/uslim sunni! %unnah 7abi6 keduanya tetap menjadi kriteria untuk menetapkan )slam
normati$(
c. I(te""etasi tak eas $a"i Baasa^ Se a"a^ $a( "a$isi
/asa lalu adalah yang lalu! kini adalah sekarang( %etiap pengguna bahasa
membaa prapemahamannya sendiri! yang sebagian sadar! namun lebih sering tidak
sadar tentang sejarah dan tradisi bahasa itu( 2ita tak bisa lepas dari semua itu( /akna
kata4kata selalu dalam proses( /enurut Cantell %mith! :menggunakan suatu kata berarti
berpartisipasi dalam proses sejarah maknanya yang terus4 menerus (berubah);
/akna har$iah suatu ucapan bersi$at problematik dan tak pernah bebas nilai!
khususnya ucapan yang dianggap sakral dan simbolik( 8roblem bahasa tak terbatas pada
pena$sir tapi juga meluas pada tradisi atau teks yang dita$sirkan( Tindakan mena$sirkan
apapun adalah patisipasi dalam proses linguistik historis( 8embentukan tradisi dan
partisipasi ini terjadi dalam ruang dan aktu tertentu( 8erlakuan kita terhadap al4Kur@an
juga terjadi dalam batasan4batasan ini6 kita tidak dapat keluar dari dan menempatkan diri
di atas bahasa! budaya dan tradisi(
4. K+(%ivk+(%i He"e(e+tika Peeasa(
0icara soal Dpembebasan@ di masa4masa apartheid di #$rika %elatan membuat makna
pembebasan menjadi begitu nyata: bebas dari segala bentuk rasisme dan eksploitasi ekonomi(
2esadaran yang lebih dalam tentang atak ketidakadilan! peran struktur sosiopolitik! dan
pentingnya partisipasi dalam proses pembebasan! telah memperjelas de$inisi teologi pembebasan
ini(
Teologi pembebasan! bagi Esack! adalah sesuatu yang bekerja ke arah pembebasan
agama dari struktur serta ide sosial! politik! dan religius yang didasarkan pada ketundukan yang
tidak kritis dan pembebasan seluruh masyarakat dari semua bentuk ke*dakadilandan eksploitasi
ras! gender! kelas! dan agama(
Teologi pembebasan semacam ini berusaha di$ormulasikan oleh! dan dalam solidaritas
dengan! orang4orang yang kebebasan sosio4politik dan pribadinya menjadi nyata melalui
partisipasi dalam proses itu( 3i samping! teologi pebebasan ini mendapatkan ilhamnya dari al4
Kur@an dan perjuangan para nabi( )ni diujudkan dengan melibatkan al4Kur@an dan teladan nabi
dalam proses re*eksi teologis bersama dan berkelanjutan demi praksis libera*$ yang semakin
meningkat(
%ecara teknis dan praktisnya! Esack menggambarkan penjelasan
mengenai teologi pembebasan tersebut melalui turunan pemikirannya yang
disarikan dalam sebuah paradigma dan Aisi yang mencerminkan hidupnya
pemikiran Esack! berikut penjelasannya:
Pa"a$i!a Eks$+s^ A,ikasi e,!i Peeasa(
3an kami !endak memberi karunia kepada mereka ,an$ tertindas di bumi, dan akan 5ami
-adikan mereka pemimpin-pemimpin, dan 5ami -adikan mereka para a!li 6aris, !endak 5ami
kuku!kan mereka di bumi( 3an !endak 5ami perli!atkan kepada Fir aun dan Haman, serta
pasukann,a, (pensti6a mana) ,an$ mereka k!a6atirkan#
@B
3alam sebuah tulisan Esack yang berjudul +!e EEodus Paradi$m in t!e
Quran /n t!e Li$!t o0 )e-/nterpretati4e /slam ic +!ou$!t in .out! A0ricaR dijelaskan
25'ihat K%( #l4Kashas v,Nb: 5 _ B(
bagaimana ia mengaali pemikirannya dengan memberi sentuhan pemahaman tentang
8aradigma Eksodus sebagai paradigma penting bagi para )slamis yang mencari landasan
dan legitimasi dari al4Kur@an untuk melaan #partheid( 3i sini Esack menurunkan
paradigma Eksodusnya* menjadi I Aisi penting.sekaligus paradigma ini menjadi
turunan.bagi aplikasi teologi pembebasan di #$rika selatan:
a. %ebuah Aisi masa depan yang didasarkan atas pemenuhan janji #llah kepada
kaum'ustada0un (kaum yang termarjinalisasi dan tertindas)(
b. 'egitimasi bagi prinsip4prinsip dan strategi politik di dalam perjuangan untuk
pembebasan(
c. 8ersinggahan di daerah liar serta tantangan bagi masyarakat pasca apartheid(
2edua tema pertama diterima dan mendapatkan tingkat popularitas tinggi dalam
Aisi penentangan apartheid( %ementara tema ketiga! dalam pembahasan tersendiri! meski
keterhubungannya saling terkait(
3i muka! penulis sisipkan landasan normati$ (K%( #l4Kashas v,Nb: 5 _ B)
teologi pei*beba`an yang kemudian menjadi :bibit unggul; bagi cikal4bakal gerakan
pembebasan #$sel! termasuk munculnya Dparadigma Eksodus@ tersebut( %etidaknya ada
tiga elemen pokok yang menghasilkan konsep pembebasan baru dari hermeneutika al4
Kur@an! melekat dalam ayat tersebut:
a( #llah dengan sengaja berpihak kepada kaum tertindas dan termarginalisasi(
b 8embebasan selalu didasarkan atas penghapusan penindasan dan
terkadang atas penghancuran penindas(
c. aisi pembebasan diberikan kepada mereka yang tertindas dan tidak
harus kepada mereka yang beriman atau hidup dalam kebajikan(
8embuktian dari masing4masing konsep di atas terasa nyata ketika
perjuangan melaan apartheid b*ai memanas di tahun NC4an( 0erikut
aplikasi masing4masing konsepnya:
a. 2eberpihakan #llah terhadap kaum yang tertindas(
Esack menuliskan! dalam sebuah buku petunjuk untuk akti$is
seruan berjudul :the stru$$le; menjelaskan keberpihakan allah
terhadap kaum yang tertindas sebagai berikut:
)ealitas di mana kita !idup dicirikan ole! penindasan, kemiskinan, eksploitasi
bumi dan manusia, per-uan$an di antara kelas, dan ole! ketiadaan komitmen
-enis apapun kepada Alla! seba$ai .an$ Pemeli!ara. Lebi! dari dua perti$a
umat manusia sen$sara karena mereka berada di dasar sistem, tempat kaum tak
berda,a. 5ita mesti menemukan sebua! pema!aman tentan$ /slam ,an$
ber!ubun$an den$an realitas ini
3i sini kita mengamati tiang $ondasi 1ermeneutika 8embebasan sedang
diperkenalkan( 8erbedaan pemahaman tentang )slam diakui dan sebuah pilihan yang
sadar dibuat untuk menerima pemahaman tertentu dan menolak pemahaman yang
lain( 2ita! menurut Esack! di tuntut memilih: memilih sistem nilai yang berlaku
dengan mengabaikan #llah! kaum miskin serta tertindas! atau memilih mereka
(kaum tertindas! pen) dan mencari jalan serta alat untuk menerobos dan pergi
melampaui sistem yang berlaku((( #llah sendiri! menurut Esack! memilih yang
terakhir( Teks seruan ini kemudian mengutip K%( #l4Kashas v,Nb: 5 _ B yang
disebutkan di atas(
Teks tersebut kemudian mengutip kembali: terdapat
beberapa... ,an$ men$atakan ba!6a penindasan berada dalam ta>dir (takdir) kita(((
apabila penindasan berada dalam takdir kita maka pembebasan -u$a merupakan
takdir kita. Apabila Firaun berada dalam takdir 'usa, maka 'usa -u$a berada
dalam takdir Firaun...#
b. #yat4ayat ini mendasarkan pembebasan pada penghancuran kaum penindas dan
menyokong tujuan ganda perjuangan a$rika selatan6 mengakhiri apartheid dan
penciptaan sebuah masyarakat bebas( 2epada banyak orang yang menginginkan
kebebasan tetapi tanpa banyak pengorbanan! ayat4ayat ini berperan sebagai
pengingat baha penghancuran penindasan adalah prasyarat dari restrukturisasi
masyarakat(
c aisi kebebasan diberikan kepada mereka yang tertindas dan tidak harus kepada mereka
yang beriman atau Dhidup dalam kebajikan@( %urat al4Kashas! kata %eruan!
menjelaskan hubungan dengan kaum tertindas yang bukan )slam atau tidak hidup
dalam kebajikan( 3alam terbitan %eruan yang lain! Esack menguraikan keharusan
akan kebebasan ini! terlepas dari apa keyakinannya:
8enindasan adalah kejahatan dalam dirinya dan pembebasan adalah kebajikan dalam
dirinya.terlepas dari bagaimana kaum tertindas memperlakukan pembebasan( 7abi
/usa #% membaskan rakyatnya dari penindasan Fir@aun((( terlepas dari kenyataan
baha mereka jelas tidak siap untuk kebebasan mereka(
8embebasan! tulis Esack! bukan merupakan balasan untuk perilaku baik! atau @Es
2rim@ yang diberikan orang tua pada anak nakalnya apabila dan ketika orang tuanya
yakin baha anak itu tidak akan mengotori dirinya dengan es krim tersebut(
)denti$ikasi #llah dengan kaum tertindas ini.yang tidak harus /uslim.berisikan
bibit untuk sebuah teologi agama4agama! yang menerima keabsahan dari keyakinan
(non4)slam ) kaum tertindas( Teologi yang seperti itu akan muncul dari sebuah
teologi pembebasan( 0arangkali inilah yang
,B
3ari paparan di atas! kunci hermeneutika pembebasan dimunculkan dari
perjuangan #$rika %elatan demi kebebasan dan dari al4 Kur@an( 3alam mere*eksikan
kunci4kunci hermeneutika yang muncul dari pergulatan realitas (#$rika %elatan) dengan
pembebasan dan al4Kur@an! Esack ingin memperlihatkan bagaimana hermeneutika
pembebasan al4 Kur@an ini bekerja! dengan pergeseran yang senantiasa berlangsung
260arangkali inilah logika yang sering di gemborkan oleh /arG baha perubahan terjadi
ketika ada reAolusi proletariat menggusur kaum borjuis( %ama halnya dengan 1assan %olomon!
yang pada saat itu merupakan tokoh terkemuka di %eruan! menyinggung hal ini( Dpersatnan kaum
tertindas@! katanya! Dadalah hal yang paling pokok( %emua utusan #llah berada dalam satu
persaudaraan( 8esan mereka adalah satu dan ajaran mereka adalah satu( 'ihat kutipan ini dalam
Farid Esack! +!e EEodus Paradi$m in t!e Quran /n t!e Li$!t o0 )e-/nterpretati4e /slam ic
+!ou$!t in .out! A0rica, ibid! hlm( 1IN
antara teks dan konteks! dan re*eksi tentang dampaknya satu sama lain( 3alam hal ini
Esack mencoba mengelaborasi kata4kata kunci: ta>6a, tau!id, al- nas, al-mustada0un,
"adl dan >ist, serta -i!ad-R
a. a~a }e,i($+(!i Sa(! Pe(awsi" $a"i Di"i(_a Se($i"i
3alam pengertian al4Kur@an! kata ta>a5* bisa dide$inisikan sebagai :memperhatikan suara nurani
sendiri dalam kesadaran baha dia bergantung pada Tuhan;( /aka! diantara seluruh istilah etika
yang digunakan al4Kur@an! terma yang paling banyak dipakai karena paling inklusi$ diantara
semuanya adalah kata ta>a&
E9
/aknanya! yang ama
t
komprehensi$ dan aplikati$ meliputi tanggung jaab kepada Tuhan dan
manusia terasa dari ayat berikut:
RZGb4 a
Z[6;F[c3CED
@cC T 6 T : F T 73G T
G T*Tw / T /;6 N33d * Y L 9 ** F;/
Z 3N3C>M4 J3d F3PE< Y =` &
@cC T 6 T : F T 73G T
G w D * 74 T /;6 33d c
#rtinya: .esun$$u!n,a usa!a
kamu meman$ berbeda-beda.
Adapun oran$ ,an$
memberikanGmenderma pada
,an$ lain dan bertak6a, 3an
membenarkan adan,a pa!ala ,an$ terbaik (kebaikan tertin$$i), maka
kelak 5ami akan men,iapkan ba$in,a -alan ,an$ muda!( 3an adapun
oran$-oran$ ,an$ bak!il dan merasa dirin,a cukup
@C
, serta
mendustakan kebaikan tertin$$i, maka kelak 5ami akan men,iapkan
ba$in,a (-alan),an$ sukar. (K%( #l4'ail v9,b: E41C)
R<6 @4;7g3cC
T <34 C F:; Z LL * * L # L
7 1 T* 6Z4 1 6##
e;F[A x C * Y Ty
27dengna interaksi social dan perhatian pada sesama yang lainnya! seperti saling
berbagi (K%( #l4 'ail v9,b: 56 al4#@ra$ vJb: 15,415I)! menepati janji (K%( #li D)mran
vIb: JB6 al4#@ra$ vJb: 5,) dan khususnya amal baik (K%( #li D)mran vIb: 1J,6 al47isa@
vEb: 1,B6 al4/aidah v5b:9I6 al47ahl v1Bb: 1,J)
15
w Hang dimaksud dengan merasa dirinya cukup ialah tidak memerlukan lagi
pertolongan #llah dan tidak bertaka kepada47ya
EEB;Fc4
/ * E;F9G
>MIgcG
zS C TT]*
#rtinya5 Hai manusiaO .esun$$u!n,a kami menciptakan kamu dari seoran$
laki- laki dan seoran$ perempuan dan men-adikan kamu berban$sa - ban$sa
dan bersuku-suku supa,a kamu salin$ kenal-men$enal. .esun$$u!n,a oran$
,an$ palin$ mulia diantara kamu disisi Alla! iala! oran$ ,an$ palin$ ta>6a
diantara kamu. .esun$$u!n,a Alla! 'a!a men$eta!ui la$i 'a!a 'en$enal.
(K%( #l4 1ujarat vE9b: 1I)(3engan ta>a! indiAidu dan komunitas memikul
tugas kenabian dalam trans$ormasi dan pembebasan! perhatikan ayat berikut:
{&|R} CC ~ Z ( QRS Z 9 s
/B@P|0pC LL s 7W3G l E/E T j*TQ
|QSk T T 9 |QST
T zT Z s
Qu C |Q T C j 1
F4 6e C E T . 1 6# .;6 1 \ Fd;1 * ~ ] *& ****Z j\|R~
6@[N3cP[G 7U3G F3Y 0 / ^ HG;FO4 1BE@3G
[* E;E<4 C x C ST
SS \ TzRQ

C * j T C *zS * zYQ 1N T T
N3O34
F-
* zS T j T S 9 CC * |S*
6cGt3g4 #74EZ3I3G
RBFC 7ccC 9[T Y 6YS##/
9 L TX FC;FOA
FG ] FC;FU4
Z3OcOcGKOO[N4Y
Z[T[C Fd * C 64S
ZcN4t34 bcXcG;6ZUUccc3G T G 6Y>Vc3PYZs LLLs
b[GE7G#EFN4 6BFGh3OcA
zS| 9QQ**U*
rTFN[38iY * L * 6VC e;Mc3OGQE T K4;7C L
jRQQQ T vQ j5S
|} T |}] [* } US*|W
D;FN33N4Y L Y#> b[GE33IG;FN4 FN333G 0 E<33cP >
FG ; Q#<3c[N3cU4 E1 <4;6S 1;C
6T;D T JcN3cG @N3OP ]P;F3I[3 T jc33C;FC
6BH3Oc3A
A"ti(_a 1C,( Hai oran$-oran$ ,an$ beriman, bertak6ala! kepada
Alla! sebenar-benar tak6a kepada-:,a( dan -an$anla! sekali-kali kamu
mati melainkan dalam keadaan bera$ama /slam .
103. 3an berpe$an$la! kamu semuan,a kepada tali (a$ama) Alla!,
dan -an$anla! kamu bercerai berai, dan in$atla! akan nikmat Alla!
kepadamu ketika kamu da!ulu (masa 1a!ili,a!) bermusu!-musu!an,
'aka Alla! mempersatukan !atimu, lalu men-adila! kamu 5arena
nikmat Alla!, oran$- oran$ ,an$ bersaudara( dan kamu +ela! berada di
tepi -uran$ neraka, lalu Alla! men,elamatkan kamu dari padan,a.
3emikianla! Alla! meneran$kan a,at-a,at-:,a kepadamu, a$ar kamu
mendapatpetun-uk.
104. 3an !endakla! ada di antara kamu se$olon$an umat ,an$
men,eru kepada keba-ikan, men,uru! kepada ,an$ maKru0 dan
mence$a! dari ,an$ munkar
@F
( merekala! oran$-oran$ ,an$ beruntun$.
105. 3an -an$anla! kamu men,erupai oran$-oran$ ,an$ bercerai-
berai dan berselisi! sesuda! datan$ keteran$an ,an$ -elas kepada
mereka. mereka /tula! oran$-oran$ ,an$ mendapat siksa ,an$ berat,
1,5( 8a (cukup), -ika kamu bersabar dan bersiap-sia$a, dan mereka
datan$ men,eran$ kamu den$an seketika itu -u$a, nisca,a Alla!
menolon$ kamu den$an lima ribu malaikat ,an$ memakai tanda. (K%(
#li D)mran vIb: 1C,41C5! 1,5)
2emudian juga ayat berikut:
\ FOCBF4 L g Fg[3Cu3q
<3gcN4t3X4;MG E;jGEFcO3G [T[Z C E;jG. 1 V[3G-
C 7:
A"ti(_a ,9( Hai oran$-oran$ beriman, -ika kamu berta>6a kepada Alla!, kami akan
memberikan kepadamu Fur>aan
@<
. 3an kami akan -au!kan dirimu dari kesala!an-
kesala!anmu, dan men$ampuni (dosa-dosa)mu. dan Alla! mempun,ai karunia ,an$ besar.
(K%( #l4#n$al vNb: ,9
28%ecara sederhana /aoru$: segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada #llah6
sedangkan munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada47ya(
29#rtinya: petunjuk yang dapat membedakan antara yang 1a> dan yang batil! dapat
juga diartikan disini sebagai pertolongan(
)/enerima taka sebagai kunci hermeneutika (terutama dalam konteks
perjuangan #$rika %elatan) memiliki implikasi dan dampak signi$ikan bagi pena$sir
R
1 8ena$siran harus terbebas dari prasangka (d+ann) dan na$su (haa)( 1ermeneutika
pembebasan al4Kur@an! dengan taka sebagai kunci! memastikan interpretasi
bebas dari obscurantisme teologi dan reaksi politik serta spekulasi subjekti$6
2 Taka mem$asilitasi keseimbangan estetik dan spiritual dalam kehidupan pena$sir6
hermeneutika pembebasan ditempa di tengah4 tengah perjuangan sosio4politik
sebuah pergulatan yang kerap mesti membatasi perspekti$nya pada kepentingan
politik yang mendesak( 3engan hal ini! menuntut si pena$sir untuk terus
berintrospeksi(
3 Taka mendorong komitmen pena$sir pada proses dialektika personal dan
trans$ormasi sosio4politik( 2eterlibatan al4Kur@an dalam proses perjuangan
reAolusi juga berarti keterlibatan diri pena$sir dalam reAolusi tersebut(
4 Taka membaa pena$sir masuk ke dalam proses dialektika personal dan
trans$ormasi sosiopolitik( 0imbingan atau arahan yang ditaarkan al4Kur@an
adalah sebuah bimbingan akti$ bagi mereka yang bukan hanya bergelut sebagai
pemikir atau pengamat :objek*$; melainkan yang telah melangkah jauh untuk
terjun total dalam praksis pembebasan! yakni menyerahkan sepenuh jia dan
raganya dalam pergulatan reAolusioner( 8ada gilirannya! ini menuntut
keseimbangan antara partisipasi akti$ dalam masyarakat dengan trans$ormasi4diri(
%eperti yang dituliskankan dalam dokumen +!e 7all %0 /slam : :perubahan
menurut al4Kur@an adalah sebuah prose dialektik serempak antara perubahan jia
dan struktur (sosioekonomi)(
3alam konteks #$rika %elatan! taka menjadi nilai penting untuk tetap
membaa diri (personal) maupun kelompok tetap berada dalam lingkar karunia
Tuhan! yakni tetap mempunyai spirit perjuangan dengan petunjuk dari Tuhan(
8asalnya! dalam perjuangan menentang apartheid! beberapa indiAidu (aktiAis) yang
dianggap sebagai $igur terbaik acapkali dihinggapi motiAasi kebenciannya pada
penderitaan akibat #partheid( 8ada kelanjutannya! mereka berubah menjadi entitas
politik /achiaAellian yang dingin dan penuh perhitungan! melanggar demokrasi dan
kesusilaan&
E
5
3isinilah urgensi taka yang dibaa Esack! agar tetap menjadi panglima bagi seorang
pena$sir dalam menentukan arah jianya sehingga terbebas dari manipulasi dan
kepentingan politik pribadi maupun ideology sempit dalam proses mena$sirkan! yang
pada proses selanjutnya! pena$sir akan mendapatkan apa yang disebut sebagai petunjuk
Tuhan (pengetahuan)! seperti yang disuarakan dalam K%( #l
-D#nkabut v,9b: B9) yang artinya: dan ba$i siapa pun ,an$ bertak6a di
-alan-:,a, maka3ia akan menun-ukkan -alan#.
b. a+i$ Kesat+a( +a( +(t+k Kesat+a( }a(+sia
Tauhid berarti :sendiri;! :satu;! :yang menyatu; R Onsur ini
sebagai $ondasi! pusat dan tujuan dari keseluruhan tradisi )slam ( )a
adalah jantuh pandangan dunia sosio4polit*k! dan tumbuh secara
meyakinkan dalam reAolusi iran 19J9( #dalah #li %yari@ati! cendekiaan
muslim yang menyatakan: :3alam )slam Tauhid adalah pandangan dunia
yang hidup dan penuh makna! menentang keserakahan dan bertujuan
memberantas penyakit yang muncul dari penumpukkan uang dan
penyembahan harta( )a bertujuan menghapus stigma eksploitasi!
konsumerisme! dan aristokrasi((( ketika jia tauhid bangkit kembali dan
peran historisnya disadari oleh seseorang! jia itu akan memulai kembali
misinya (yang belum berakhir) demi kesadaran keadilan! kemerdekaan
manusia! pembangunan dan pertumbuhan; (dikutip dalam ir0ani! hh( IB4
IJ)&-
/emandang tauhid sebagai prinsip hermeneutika berarti baha berbagai pendekatan
al4Kur@an.baik $iloso$is! spiritual! hukum maupun politik.mesti dilihat sebagai
komponen dari satu jalinan( %emuanya diperlukan untuk mengungkapkan keutuhan
peasn4 pesannya! karena tak ada satu pendekatan pun yang secara tunggal bis
ameujudkan hakikat tauhid sepenuhnya( 3alam konteks inilah tauhid adalah sumber
ideology dan kerangka rujukan suci( 0erikut ini atak dan Aisi masyarakat tau!idi
serta implikasinya dalam konteks (perjuangan) #$rika %elatan (di samping sebagai
dogma teologis)R
1. 8ada leAel eksistensial! ia berarti penolakan atas dualisme konsep tentang
eksistensi manusia di mana perbedaan dibuat antara sekuler dan spiritual! suci dan
pro$an(
2. 8ada leAel sosio4politik! ia menentang masyarakat yang menjadikan ras sebgai
objek alternati$ bagi pemujaan dan membedakan penduduk atas dasar etnisitas(
8embedaan semacam ini adalah s,irk! antitesis Tauhid(
3ari dua penerapan Aisi di atas! menjelaskan gambaran apartheid dalam
perjuangan #$rika %elatan sebagai Dsosok@ yang dalam praktik sosialnya menolak
kesatuan (tauhid) umat manusia yang merupakan re*eksi tauhid! memilah4milah orang
secara etnis(
"atak pemecahbelah inilah yang kita namakan sebagai s,irk, yang sangat
berlaanan dengan taaran Esack yang memandang tauhid sebagai Dholisme
keilahian@ dengan segala implikasi sosioekonominya( #palagi dalam ayat al4Kur@an
0itra! Alla! ,an$ tela! menciptakan manusia menurut 0itra! itu# (K%( #l4-um vICb:
IC) yang diartikan sebagai perintah untuk meujudkan masyarakat nonrasialis dan
unitarian! melaan pemisahan rasial apartheid(
c. A*vNas a(+sia)
/anusia sebagai khali$ah Tuhan di bumi bagi masyarakat #$rika %elatan
mempunyai dua implikasi hermeneutika:
1. /enjadi penting baha al4Kur@an diinterpretasi dengan cara yang
memberikan dukungan khusus bagi kepentingan ra*at secara keseluruhan atau
yang menyokong mayoritas (tertindas) diantara mereka! bukannya minoritas
(penindas)(
2. 8ena$siran mesti dibentuk oleh pengalaman dan aspirasi manusia sebagai
bentuk yang kontras dengan aspirasi minoritas yang diistimeakan itu (para
penguasa&penindas)(
8ernyataan baha manusia sebagai kunci hermeneutika di atas! juga
mempunyai dua implikasi problem teologisR
1. Terkait dengan nilai manusia sebagai ukuran kebenaran( =ika pemahaman dan
peran manusia seperti ini! maka artinya baha kepentingan Tuhan akan
identik dengan kepentingan manusia( )ni adalah cara untuk mengangkat
!umanum, yakni suaru kebenaran yang identik dnegna kebenaran Tuhan! 4oE
populi 4oE dei( 3engan begitu! orang bisa mengatakan baha apabila
!umanum menjadi kriteria kebenaran! yang dimaksud bukanlah !umanum
otonom sebagai kriteria absolut! melainkan !umanum yang berasal dari
tauhid(
2 /asalah autentisitas! yakni masalah legitimasi yang dihadapi oleh orang4
orang yang percaya pada kesucian teks( 3i sinilah setiap orang mempunyai
hak yang sama untuk memasuki teks suci( )de hermeneutika menentang
konsep tradisional tentang kesucian teks yang hanya dapat disentuh oleh
indiAidu tertentu( 2etika siapapun boleh Dbersetubuh@ dengan teks untuk
melakukan kerja4kerja hermeneutik! maka ada satu akibat yang didera
sekelompok orang yang telah mempunyai legitimasi terlebih dahulu secara
tradisional( 'antas siapa yang menjamin baha teks yang suci tak akan
dita$sirkan secara sebebasnya! ketika semua teks ditelanjangi sepenuhnya dari
legitimasi keagamaannyaM Esack telah menunjukkan signi$ikansi manusia
beserta kepentingan dan pegalaman mereka sebagai $actor yang membentuk
hermeneutika al4Kur@an( 8ilihan al4Kur@an jatuh pada kaum tertindas! yang
kemudian memberikan mereka pilihan bebas dan sadar untuk menentang
netralitas dan objekti$itas di satu sisi! penguasa dan penindas di sisi lain(
d. }+sta$aw
2ata mustad!a0 menunjuk pada orang yang tertindas! yang dianggap
lemah dan tidak berarti! serta yang diperlakukan secara arogan&
9
5 /ustadh@a$un
berarti mereka yang berada dalam status sosial :in$erior;! yang rentan! tersisih
atau tertindas secara
sosioekonomis( 8erbedaan utamanya dengan 'ustad!a0un ialah baha ada suatu
pihak yang bertanggung jaab terhadap kondisi mereka( %eseorang hanya menjadi
mustad!a0 apabila itu diakibatkan oleh perilaku atau kebijakan pihak yang berkuasa
dan arogan(
8erlunya pena$sir menempatkan diri di antara yang tertindas maupun di
dalam perjuangan mereka! serta mena$sirkan teks dari baah permukaan sejarah!
dilandasi gagasan tentang keutamaan posisi kaum tertindas ini dalam pandangan ilahi
dan kenabian( 8ena$sir yang terlibat mendekati teks leat keputusan sadar untuk
menemukan makna! yang memberikan tanggapan secara kreati$ pada penderitaan
'ustad!a0un dan berpegang teguh pada pembebasan dan keadilan(
1BC
2omitmen pada kemanusiaan dan solidaritas akti$ dengan mustad!a0un muncul ketika
membaca ulang realitas sosial maupun teks leat perspekti$ mereka( 8embacaan ulang
ini dan keterlibatan dalam analisis sosioekonomi dari titik berangkat itulah yang
membentuk pencarian hermeneutika pluralisme al4Kur@an bagi pembebasan( Tujuan
usaha ini adalah kontribusi e$ekti$ al4Kur@an bagi perjuangan demi keadilan penduduk
negeri! suatu perjuangan yang sebagian besar partisipannya adalah penganut agama
lain! karena mereka adalah mayoritas mustad! a0un. #rtinya! dengan Dkacamata@
mustad!a0un, ta$sir menuju pembebasan akan terbentuk
e. -ist $a( A$, kea$i,a()
l
30al4Kur@an menggunakan dua istilah untuk menunjuk keadilan: >ist! dan "adl. Kisth
2onsep al4Kur@an tentang keadilan bisa dikatakan mencakup
seluruh dimensi sosioekonomi! namun! sebagaimana yang jelas terlihat
dari teks al4Kur@an yang dikutip! istilah >ist! yang dipakainya memiliki
ruang lingkup yang lebih luas( #kibatnya! istilah4istilah seperti Dadl dan
>ist! serta antonimnya D!ulm dan "ud!6an (kejahatan&penindasan dan
pelanggaran)! digunakan terutama untuk merujuk kepada keadilan atua
ketidakadilan politik dalam konteks dominasi rasial(
3alam situasi ketidakadilan! al4Kur@an terdorong untuk menjadi
alat ideologis bagi pemberontakan yang komprehensi$ menentang
penindasan dalam segala ujudnya(* )ni memunculkan implikasi:
pertama, orang tak bisa mengambil pendekatan objekti$ terhadap al4
Kur@an ketika dirinya dilingkupi oleh penindasan! yang dilembagakan
atau tidak! tanpa mencari cara agar al4Kur@an bisa dipakai untuk
menentangnya( 7etralitas atau objektiAitas dalam konteks semacam itu!
sebenarnya! adalha dosa yang akan mengeluarkan seseorang dari
kelompok orang4orang yang bertaka( 5edua, pendekatan terhadap al4
Kur@an sebagai alat bagi
pemberontakan mensyaratkan adanya komitmen teologis dan ideologis
berarti :kesamaan;! :keadilan;! :memberi pada seseorang yang menjadi bagiannya;!
dan bentuk kata benda /u>sith menjadi salah satu nama Tuhan( %ementara Dadl berarti
:berlaku sama! adil! atau tepat;( Omat )slam dituntut untuk menegakkan keadilan
sebagai basis kehidupan soiopolitik( #l4Kur@an sering menyatakan secara spesi$ik
ilayah social yang mungkin diseleungkan! seperti soal harta anak4anak yatim dan
anak yang diadopsi( #l4Kur@an mempostulatkan ide baha keadilan adalah basis
penciptaan alam( 2eteraturan semesta! menurut al4Kur@an! dilandasi keadilan! dan
penyimpangan terhadapnya disebut kekacauan (0itna!)( 'ihat Farid Esack! ibid., hlm(
sekaligus a$initas atas nilai4nilai yang dikandung dalam kunci4kunci
hermeneutika di atas( w- Jia$
=ihad secara har$iah berarti :berjuang;! :mendesak seseorang;
atatu :mengeluarkan energi atau harta; R Esack menerjemahkan jihd
sebagai :perjuangan dan praksis; 8raksis bisa dide$inisikan sebagai
:tindakan dasar yang diambil suatu komunitas manusia yang
bertanggung jaab atas tekad politiknya sendiri berdasar kesadaran
baha manusialah yang membentuk sejarah;( /engingat
kekomprehensi$an penggunaan istilah ini dalam al4Kur@an dan baha
jihad ditujukan untuk mengubah diri maupun masyarakat! bisa dikatakan
baha jihad merupakan perjuangan sekaligus praksis( 7amun perlu
diingat! baha dalam konteks perjuangan menggusur ketidakadilan di
#$rika %elatan! jihad mempunyai tujuan untuk menghancurkan
ketidakadilan yang satu dengan yang lainnya! atau mengganti kelompok
dominan yang satu dengan lainnya( =ihad dengan begitu adalah
perjuangan keadilan yang tanpa henti! e$ekti$! super sadar! dan senantiasa
berlanjut;
8raksis sebagai sumber pengetahuan telah diakui oleh para pemikir )slam secara luas!
dan al4Kur@an sendiri begitu 5 /Q2iuQ dala
mpandangannya baha teori didasarkan praksis( #llah ber$irman dalam
K% #l4D#nkabut v,9b:B9:
FG ) /P mFOn F3: T C * C
@N34 T F3CBZcNG JN33d
y
#rtinya: 3an oran$-oran$ ,an$ ber-i!ad di -alan 5ami, benar-
benar akan 5ami tun-ukkan kepada mereka -alan kami# (Q..
Al-"Ankabut P@<Q=R<)
#l4Kur@an memberi penekanan besar pada ortopraksis dan
menegaskan baha jihad dan kebaikan adalah juga jalan menuju
pemahaman dan pengetahuan( #l4Kur@an memberi penekanan besar pada
ortopraksis dan menegaskan baha jihad dan kebaikan adalah juga jalan
menuju pemahaman dan pengetahuan( #l4Kur@an menetapkan jihad
sebagai jalan untuk menegakkan keadilan! dan praksis sebagai jalan
untuk menegakkan keadilan! dan praksis sebagai jalan untuk memperoleh
dan memahami kebenaran( =ihad! sebagai kunci hermeneutika!
mengasumsikan baha hidup manusia pada dasarnya bersi$at praksis6
teologi akan mengikuti( Tentang kehadiran Tuhan dalam proses
trans$ormasi! ayat yang mengungkapkan baha :Tuhan tidak akan
mengubah keadaan manusia! sampai ia sendiri mengubahnya;! sering
dikutip untuk menegaskan baha sejarah dan masyarakat adalah ilayah
tempat berlangsungnya trans$ormasi bagi manusia(
BE
5
3ari penjelasan di atas! tampak ada kaitan antara jalan Tuhan mengidentikan
diri dengan kemanusiaan (al4nas)6 hubungan antara jalan Tuhan dan jalan
kemanusiaan: pilihan47ya atas manusia tertindas dan marginal dan pentingnya
menegakkan keadilan ("adl dan >ist!) atas dasar Tauhid dan Ta>a melalui =ihad(
/engupayakan hermeneutika al4Kur@an di dalam situasi ketidakadilan berarti
menjalani teologi dan mengalami iman sebagai solidaritas dengan kaum tertindas dan
tersisih dalam perjuangan pembebasan(
1al di atas menunjukkan hermeneutika al4Kur@an yang berbeda dengan
teologi tradisional dan modern dalam tiga aspek:*
1. 8erbedaan terpent*ng ada pada tempat pena$sir6 pena$sir menentang pendekatan
yang lebih :relijius; atau :akademik; terhadap teologi( #rtinya )slam hanya dapat
menjadi sejati jika dialami sebagai praksis solidaritas untuk pembebasan6
bertentangan dengan teologi tradisional yang mereduksi )slam menjadi ritus
$ormal6 dan teologi modern yang berada dalam dunia se*er( Teologi pembebasan
berada dalam dan dialamatkan pada dunia marginal6
2. Teologi pembebasan hidup dalam dunia :kekerasan dan harapan! re$leksi dan
tindakan! spiritualitas dan politik;6 yang berarti baha teologi adalah meminjam
istilah Luiterre+! senantiasa :tindakan vsadarb kedua;
3 2ebenaran bagi pena$sir yang terlibat! tidak pernah dapat menjadi
mutlak( Lerak hermeneutika secara terus menerus mencari kebenaran
yang pada akhirnya membaa pada praksis pembebasan yang lebih
besar(
C- KONSEP HER}ENEUIKA PE}BEBASAN FARID ESACK
DAA} PE}BACAAN KE}BAI ()E/:+E)P)E+A./) KONSEP 3N/''/.
/enurut 3r( #li %hihab dalam bukunya! /slam /nklusi0 menu-u sikap
+erbuka dalam &era$ama#, menyindir para pakar ta$sir dan intelektual muslim
baik klasik sampai kontemporer baha pembahasan para pakar ta$sir mengenai
nasib umat non4muslim! termasuk ahli kitab dan a!l al-dDimma! (d+immi)!
tidaklah (belum) tuntas( %elanjutnya dikatakan! alaupun sebagian pakar ta$sir
modern seperti memberikan peluang dan harapan akan adanya kemungkinan
jaminan #llah kepada kelompok minoritas ini yang memenuhi syarat4syarat
tertentu! namun perlu dicatat baha pendapat ta$sir klasik dalam persoalan itu
masih menggema dan mempengaruhi sebagian pena$sir modern
/aka dari itu! dengan asumsi dasar baha persoalan ini belum dikaji
secara tuntas oleh pada pakar ta$sir! maka tulisan ini mencoba mengungkap
sumbangan Esack terhadap upaya pena$siran kembali (reinter6Mretasi) tentang ahli
kitab! termasuk sub bahasan yang menjadi $okus kajian karya tulis ini adalah
tentang status a!l al-dDimma! (d+immi) dan pada akhirnya nanti
bagaimana sumbangan pemikiran Esack tentang hermeneutika pembebasan dalam
membaca konsep d+immi dan implikasi terhadap pembaruan 1ukum )slam (
/engaali kupasan Esack membahas dDimmi, ia mengaali dengan start
untuk melihat bagaimana konsep :diri sendiri dan orang lain: iman, /slam dan ku0r.
a. }e($ew(isika( Di"i Se($i"i $a( O"a(! ai( /man, /slam
$a( 5u0r
/asalah de$inisi Dkaan dan laan@ tampaknya ada di dalam setiap
agama! dan biasanya ditentukan secara etis dalam kitab suci( 3alam al4Kur@an!
istilah Dkaan dan laan@ yang sering di sebut4sebut adalah iman dan ku0r (yang
diterjemahkan sebagai Dpercaya@ dan Dtidak percaya@)
3alam dimensi teologi )slam ! konsep iman, /slam dan ku0r telah
mengalami pembakuan istilah( 3engan kata lain! istilah4istilah tersebut tak lagi
dipandang sebagai kualitas yang dapat dimiliki indiAidu6 kualitas yang dinamis
dan beragam intensitasnya sesuai dengan tahap4tahap dalam hidup indiAidu itu(
)stilah tersebut dalam literatur ta$sir menunjukkan baha hubungan antara
pemaknaan aal dengan penggunaannya saat ini telah agak melenceng atau
berselisih! sehingga dalam bahasa Fa+lur -ahman (tokoh yang menjadi re$erensi
Esack)! jauh dari idea moralnya(
Ontuk itu! keberangkatan Esack mende$inisikan kembali istilah4 istilah di atas adalah
keyakinan baha al4Kur@an memperhatikan! da
nmenampilkan Tuhan sebagai :yang memperhatikan apa yang dilakukan manusia dan
manusia yang melakukan hal itu! bukan suatu entitas abstrak semata (yang dinamakan
iman); (Cantell4%mith 1991! h( 111)(
I1
3engan begitu! muslim sebagai kategori
teologis ini tidak semata4mata merujuk pada kebeOan biologis dan genealogi untuk
dilahirkan sebagai keluarga muslim! atau juga sebaliknya! ka0ir, tak lantas merujuk
pada kebetulan dilahirkan bukan dari keluarga muslim(
Esack akan memperbarui acana tersebut agar terbangun kategori4 kategori
yang lebih inklusi$( Esack dalam hal ini sering merujuk pada karya beberapa pena$sir
terpilih yang meakili arus besar ta$sir dan teologi )slam ( 3idalamnya tercakup
pemikir tradisional ()bn =arir al4 Thabari! ( 9,I)6 pemikir skolastik /u@ta+ilah
maupun #sy@ariyah (/ahmud ibn DOmar al4?amakhsyari! ( 11EE! dan Fakhr al43in
31Farid Esack! op.cit., hlm( 15J(
al4-a+i! 1,C9)6 akil dari trdisi esoteris (muhyi al43in ibn al4D#rabi! ( 1,EC)6 serta
beberap apen$sir kontemporer! baik dari sunni (-asyid -idha! ( 19I5) maupun %yi@ah
(/uhammad 1ussain al4Thabathaba@i! ( 19N1)R 7amun sebelumnya! persoalan
mende$inisikan Dyang lain@! Esack pernah menu 0is sebuah esai yang mengkhususkan
diri pada kepercayaan agama didasarkan pada bentuk Dperkainan@&ikatan
(engagement) antara muslim dan non4/uslim Esack mengurai DThe Fther@ sebagai:d
1)( The Fther as Enem,( ,)( The Fther as Potential .el0 (potensi diri)6 I)( The Fther as
OnaA oi dabl e 7eighbor (tetangga&kaan tak terlekkan)6 E)( The
Fther as %el$ _ )ntellectual & Theological %parring 8artner6 5)( The Fther as
%el$ _ %piritual 8artner6 dan! B)( The Fther as %el$ _ Comrade
1. }e(i(w,?? Kea,i K(se /man
;@
3alam ayat berikut bisa meakili bagaimana al4Kur@an
menggunakan kata iman dan bentuk kata bendanya! muminun=
334;6
<
T N39P
6;j
VP - 733G.#FG M4;F3G @Ac3c3G @A;FA
iT]j jT|
9
[
4
N
3
323alam tulisannya Esack menyindir umat )slam yang hanya memahami Diman@
dengan tidak memahami sebenar4benarnya iman! mereka hanya mengatakan atau
mengklaim (secara lisan) percaya6 :"heneAer the Kuroan uses the ord iman ith
re$erence to the hypocrites! it does so ith the ord >44l or Aariants thereo$! meaning
that they only say or claim that they belieAe (,:N!1E!NB6 I:1196 5:E1!B1)! lihat dalam
Farid Esack! +!e QurKan J t!e %t!er, dalam (homapage$aridesack(com
V
4
3
N
V
C
G
V
Y
[
QS T |QQ X Z zSST
T EbGY;6EZGbg4 9 6cPEEEFn
Q2cXcG;FcUcc
Sk T j~\ C 9 C F*
9CT 6 * C FCE; F3C T C
G
3
c
3
H
E
r
T
4
7
y
@n;FG 1 H3:;6
#rtinya: .esun$$u!n,a oran$-oran$ ,an$ beriman
;;
iala! mereka ,an$
bila disebut nama Alla! $emetarla! !ati mereka, dan apabila
dibacakan a,at-a,at-:,a bertamba!la! (semakin kuat) iman mereka
(karenan,a), dan Han,a kepada +u!anla! mereka berta6akkal
(men,era!kan diri).
(,aitu) oran$-oran$ ,an$ mendirikan s!alat dan ,an$ mena0ka!kan
seba$ian dari reDki ,an$ kami berikan kepada mereka.
/tula! oran$-oran$ ,an$ beriman den$an sebenar-benarn,a. mereka
akan memperole! beberapa dera-at ketin$$ian di sisi +u!ann,a dan
ampunan serta reDki (nikmat) ,an$ mulia. (K(%( al4#n$al vNb: ,4E)-
5
Y
/erujuk pada penggunaannya dalam al4Kur@an dan dimensi
teologi )slam ! kata /man adalah bentuk kata benda Aerbal keempat dari
akar kata a-m-n. #kar kata ini merujuk pada pengertian :aman;!
33/aksudnya: orang yang %empunra imannya
5
Y #yat ini adalah yang paling eksplisit dalm mende$inisikan kata mu min. /eski mu
min di sini secara luas dimaknai sebagai :mu min yang utuh;! ide tentang keutuhan
atau ketidakutuhan iman itu sendiri menunjuukkan dinamisme konsep! dinamisme
yang lebih jauh menggarisbaahi
:mempercayakan;! :berpaling kepada;! yang dari situ diperoleh makna
:keyakinan yang baik;! :ketulusan;! ketaatan; atau :kesetiaan;( 0entuk
keempat (amanah) punya makna ganda! yaitu ;percaya; dan
:menyerahkan keyakinan;( /akna primernya adalah :menjadi setia pada
apa yang telah dititipkan Tuhan kepada dirinya dengan keyakinan teguh
dalam hati6 bukan hanya di lidah; (dikutip dari 'ane 19NC! 1! h( J)(
3alam bentuk keempatnya (amanah)! kata kerja ini biasanya
diikuti oleh partikel bi yang berarti :memiliki kepercayaan pada;!
:mengakui;! :mempercayai; 8emahaman selanjutnya adalah penerapan
pada pemahaman rukun iman yang sering kita kenal( 7ah! Fbjek dari
:mempercayai; dan :mengakui; ini bisa jadi:*
adanya iman yang diperkuat atau dipertinggi( Teks (K%( #l4#n$al: ,4E) ini juga
mere$leksikan hubungan antara iman dengan amal saleh( Terakhir! teks ini secara
ringkas menyebutkan berbagai tuntutan iman yang diuraikan secara lebih te*erinci di
tempat4tempat lain di dalam al4Kur@an( /erujuk #sbabun 7u+ulnya! menurut Esack!
Teks ini muncul di aal surat /adaniyah dengan nama :8erampasan 8erang; (K%( #l4
#n$al)! yang sebagian berkisah tentang kejadian perang badar (B,I) dan pe<janjin suci(
2arena muncul di aal surat! teks ini sering dipandang sebagai peringatan kepada
beberapa sahabat nabi /uhammad yang bersikap berlebihan terhadap hasil rampasan
perang( 1lm ini menumbulkan persoalan pembagian harta( %etelah diberi tahu baha
harta itu adalah milik umat secara bersama! dan keinginan mereka atas harta itu
semestinya merusak ikatan sosial mereka! pra sahabat kemudian diingatkan pada
atak imanSiman yang bisa ternodai oleh keserakahan mereka (bisa dibuktikan dari
konteks ayat ini baha iman dikontraskan dengan keserakahan pada harta)( 'ihat Farid
Esack! op.cit., hlm( 159 dan 1NN41N9
174 Farid Esack! ibid., hlm( 159
Farid Esack! ibid., hlm( 15
1. 92epada Tuhan (K%( al40a>arah v,b: 1JJ) dan (K%( al47isa@ vEb: IN)
2. 2epada 2itab atau ahyu #llah (K%( al40a>arah v,b: E! 1JJ) dan (K% an47isa@
vEb: 1IB)
3 2epada 7abi /uhammad atau para nabi secara umum (K%( al4 0a>arah v,b:
1JJ)
4. 3an secara khusus iman pada hari akhir (kiamat) (K%( al4 0a>arah v,b: E) dan
(K%( an47isa@ vEb: IN) kemudian (K%( al4 #n@am vBb: 9I)
5. Terkadang kata kerja ini juga dalam bentuk keempatnya tanpa objek atau
preposisi (K%( ali D)mran vIb: 11C) dan (K%( al4#n@am vBb: 9I)
3engan melihat konteks ayat di atas! dapat diasumsikan baha objeknya (keimanan
kepada Tuhan! 7abi! 2itab&ahyu! hari akhir dst) dipahami( 8enggunaannya dalam
bentuk itu menghubungkan makna Dkeamanan dan kepercayaan@ dengan ide implisit
baha siapapun yang beriman akan memperoleh kedamaian dan perasaan aman(
/enurut Fa+lur -ahman! dapat dikatakan baha! menurut al4Kur@an! iman adalah
tindakan hati! keputusan untuk menyerahkan diri kepada Tuhan dan $irma47ya!
memperoleh kedamaian! rasa aman! dan benteng terhadap cobaan; (-ahman 19NI! h(
1J1)(
d7ah! jika kita cermati lebih lanjut! terdapat tiga tema yang saling
terkait dari K%( #l4#n$al vNb: ,4E yang telah tertulis di muka yakni: atak dinamis
iman, kesalingterkaitan iman dan amal shaleh! serta iman sebagai respon personal
kepada Tuhan(
%ejatinya! masih banyak lagi pemahaman tentang iman dalam teologi
)slam ( 3alam ayat di atas (K%( #l4#n$al ,4E)! misalnya! kebanyakan pena$sir
berpendapat baha dalam kalimat :semakin kuatlah iman mereka;! yang semakin
menguat adalah aspek penegasan dan kepuasan hati! bukan iman itu sendiri(
#l4Thabari dalam kutipan Esack mengatakan: :ditambahkanlah
pengakuan lebih banyak lagi pada pengakuan mereka saat itu; (195E! 9! h( 1J9)!
sementara al4?amakhsyari mengatakan baha yang bertambah adalah :keyakinan
dan kepuasan hati; R 2emudian berbeda lagi dengan al4-a+i (199C! 15! h( 1,E)
yang lebih terperinci lagi persoalan ta$sir atas ayat ini! yakni ada tiga penjelasan
untuk mena$sirkan baha yang bertambah itu adalah kepastian! ketegasan! dan
kesadaran (bukan iman itu sendiri): 1)( 0ukti yang lebih kuat dan lebih banyak
akan membaa pada hilangnya keraguan! dan dalam aktu yang sama!
bertambahnya kepastian6 ,)( %emakin banyak yang diketahui! semakin besarlah
penegasan itu! dan6 I)( 0ertambahnya iman berarti bertambahnya kesadaran akan
:keagungan Tuhan Hang /ahabijaksana dan /ahakuasa; d
)bn D#rabi! al4Thabathaba@i! dan -idha dengan cara yang berbeda4beda
menerima ide baha iman itu sendirilah yang bertambah( )bn al4D#rabi
menyebutnya sebagai :kemajuan dari tingkat pengetahuan menuju tingkat
keyakinan; -idha mena$sirkan bertambahnya iman sebagai :keyakinan (yang
makin besar) untuk patuh! kuatnya kepuasan hati! dan kekayaan dalam
pengenalan;! sembari dengan tegas mengategorikan kualitas4kualitas tersebut
sebagai iman= :sebenarnya iman dalam hati itu sendirilah yang bertambah atau
berkurang; d
%etelah mende$inisikan iman dalam pengertian 1)( %piritual&personal secara esensial
(ber$etarla! !ati mereka ketika disebut nama #llah;)6 ,)( -eligius (mereka tak
!enti-!entin,a beribada!#)( dan I)( %osio ekonomi (mena0ka!ka! seba$ian reDeki
,an$ 5ami berikan pada mereka#), K%( #l4#n$al (N): ,4E kemudian menggambarkan
pemilik si$at4si$at ini sebagai oran$ ,an$ benar- benar beriman; atau oran$ ,an$
benar-benar perca,a#. #pabila karakter ini adalah :beriman yang sesungguhnya; itu!
maka pertanyaan yang &pC2q adalah apakah ada kategori :beriman yang sekadarnya;M
#pakah karakter ini bagian dari apa yang disebut ima
nitu! atau di luarnyaM =ika itu di luar! bagaimana hubungan karakter ini dengan imanM
/enurut al4Thabari! terdapat kaitan antara iman dengan perbuatan baik(
%ementara al4?amakhsyari menuliskan baha karakter tersebut adalah syarat bagi
iman yang sempurna;! bahkan dikaitkan dengan dengan bertambahnya iman it*
dengan perilaku yang mengarah pada kebenaran yang semakin tinggi( #l4-a+i lebih
eksplisit lagi! ketika mengemukakan hubungan antara iman dengan si$at4si$at yang
disebutkan dalam ayat di atas( /erujuk pada ayat sebelumnya (patu!ila! +u!an dan
)asul-:,a bila kamu seoran$ muminL), dia mengatakan baha :iman harus berakibat
pada kepatuhan (199C)! 15! h( 1,1) dan baha ayat yang dibahas itu merupakan
penjelasan bagi ayat yang mendahuluinya(d %emua statement itu muncul dalam
diskusi perdebatan skolastik (abad pertengahan&kalam) yang hangat(
0agi ibn D#rabi! dia tidak akan terjebak pada acana perdebatan skolastik! karena
baginya! iman secara instrinsik terkait dengan pencarian keyakinan yang lebih
mendalam( 2ita telah melihat bagaimana dia mena$sirkan bertambahnya iman sebagai
langkah maju dari sekadar pengakuan rasional akan kehadiran Tuhan ke tingkat
keyakinan( 'ebih jauh! perhatian pada kualitas dan kehadiran hati yan
gharus mearnai ibadah seseorang sebagai perluasan iman juga jelas terlihat
dalam pena$sirannya atas ayat ini(
1N1
3ari penjelasan di atas! yang kita rasakan! ternyata mengarah pada
pemahaman baha ada hubungan intrinsik antara iman dengan amal shaleh(
:/emisahkan iman dari tindakan!; kata -ahman! :adalah absurd dan tak dapat
diterima menurut pandangan al4Kur@an; (-ahman! 19NI! h( 1J1)( 7amun di
samping -ahman ada pandangan yang dapat kita pertimbangangkan! yakni
pandangan Totshiko )+utsu6 :kaitan terkuat dari hubungan semantiknya mengikat
shalih (kesalehan) dan bentuk bendanya! di mana ada iman di situ ada shalihah
(amal saleh)((( sedemikian sehinga kita dapat diberankan jika mende$inisikan yang
pertama dalam terma yang kedua! atau mengekspresikan yang kedua dalam terma
yang pertama; (199B! h( ,CE)
8enting untuk dicatat! baha yang menjadi ganjalan Esack! baha
apapun perbedaan dalam hubungan antara iman dan amal shaleh! pemikiran
tradisional biasanya mena$sirkannya secara sempit! yaitu sebagai bagian dari
ritual )slam baku( /eski iman sering dikaitkan dengan ibadah seperti di dalam
K%( #l4#n$al vNb: ,4E! kasusnya tidak senantiasa demikian( 'ebih jauh! al4Kur@an
cukup tegas
baha amal shaleh sekecil apapun akan memperoleh balasannya! tanpa
menuntut iman sebagai syarat(
/enurut Esack! diskusi iman dan amal shaleh ini akan
membaa pada beberapa isu penting: 1)( %tatus orang4orang yang
beriman dalam arti pengakuan! namun tidak :beramal shaleh;! sekalipun
yang terakhir itu diartikan sebagai ibadah4ibadah )slam baku6 ,)( 7ilai
amal shaleh yang tidak disertai iman dalam arti pengakuan atau
persaksian seperti dibahas dalam teologi )slam ! dan I)( 2emungkinan
bagi iman yang tak disertai pengakuan seperti dibahas dalam teologi
)slam ( 8ertanyaan tersebut sangat releAan dengan konteks #$rika %elatan
selama tahun 19NC4an( 3i kalangan muslim yang terlihat bekerja untuk
apartheid dan enggan untuk menyebut dirinya sebagai :kaum beriman;!
ia hanya menyebutkan baha ia sedang dalam arus politik! maka untuk
sementara :mungkar secara politis; atau :muslim; dalam tanda kutip(
Esack ingin menekankan pada pertanyaan ke4, dan ke4I( 3alam
al4Kur@an! literatur ta$sir! dan acana /uslim umumnya kata iman
digunakan dalam beberapa cara berbeda*
E
1)( Tindakan mengakui adanya
Tuhan! pertanggungjaaban akhir di hadapan47ya! dan kenabian
/uhammad6 ,)( /asuk ke dalam komunitas )slam ! tanpa
memperhatikan komitmen imannya secara nyata atau bahkan ketiadaan
komitmen itu6 I)( %ebagai perjuangan tanpa henti untuk
mengkonkretkan keimanan kepada Tuhan dalam perilaku pribadi maupun sosial(
3alam pandangan masyarakat /uslim! dilahirkan di dalam keluarga muslim
cukup untuk memasukkan seseorang sebagai anggota kalangan mu@minun! selama
orang itu tak pernah secara Aerbal mengingkari asal4usulnya( )ni berar* baha $aktor
:pengakuan leat mulut; pun dalam praktiknya tak diperlukan! karena tidak ada
mekanisme $ormal untuk menguji keimanan seseorang ketika dia telah menginjak usia
deasa( =elas baha mumin juga berarti seseorang dengan komitmen keimanan
sosioreligius! bukannya hanya personal (yang diekspresikan dalam peribadatan )slam
atau sikap hidup)(
=elas dan secara umum diterima baha da muminun dalam arti non
sosiologis! yaitu yang di luar komunitas nabi /uhammad( Fleh kaum )slam
konserAati$! penerimaan ini hanya dibatasi kepada nabi4 nabi sebelum /uhammad dan
para pengikut mereka( #l4Kur@an sendiri hanya menyebut mereka dengan #hli 2itab(
#khirnya! meski iman juga merupakan respon pribadi kepada Tuhan! ia tak dapat
dibatasi pada komunitas sosioreligius tertentu( Osaha seperti ini akan mengarah pada
penolakan uniAersalitas Tuhan itu sendiri( )nilah alasan mengapa al4Kur@an begitu
eksplisit soal iman orang4orang yang berada di luar komunitas sosioreligius mukminun
(termasuk A!li 5itab dan a!l al-dDimma!). #pabila iman bisa mencakup tindakan
memungut kulit pisang dari jalanan! mengap
aiman tidak bisa mencakup pula tindakan seorang indiAidu yang
sepanjang hidupnya merespon suara Tuhan sebagaimana dipersepsinya
dan meujudkannya dalam bentuk pelayanan kepada orang4orang yang
dengannya Tuhan sendiri telah mengidenti$ikasi diri! yaitu kaum
marginal dan tertindasM
2. /ende$inisikan Olang /slam : dari 2ata 0enda ke 2ata 2e*a
Teks berikut adalah klaim kaum muslim selama ini baha satu4
satunya ekspresi keagamaan yang dapat diterima Tuhan sejak kenabian
/uhammad adalah )slam ! apakah benar demikianM /ari kita urai
bersama:
>#Y Z

R9Gc33d;FN3Y 1 E6#FG 1 ^ 6;E


FO33IN4Y T j4au;6 D y FN3C
X @P;<4 @A;1bC
#rtinya(s .esun$$u!n,a a$ama (din) di di sisi Alla! (,an$ dirid!ai) !an,ala! /slam .
+iada berselisi! oran$-oran$ ,an$ +ela! diberi Al 5itab
?FB
kecuali sesuda! datan$
pen$eta!uan kepada mereka, 5arena keden$kian (,an$ ada) di antara mereka.
&aran$siapa ,an$ ka0ir ter!adap a,at-a,at Alla! 'aka .esun$$u!n,a Alla! san$at
cepat !isab-:,a. (K%( #li D)mran vIb: 19)a

E#yat di atas adalah satu di antara beberapa ayat al4Kur@an yang merujuk
pada /slam sebagai satu4satunya din di sisi Tuhan( 8ada ayat4 ayat lain! /slam
digambarkan sebagai pilihan dan nikmat Tuhan bagi para pengikut /uhammad (K%(
#l4/aidah v5b: I)( /ereka ,an$ tela! dibukakan !atin,a kepada )slam ;
didiskripsikan sebagai :yang mengikuti cahaya dari Tuhan47ya; (K%( #l4?umar vI9b:
,,)( 8artikel penegas :inna; dalam teks yang dibahas ini biasanya dianggap sebagai
penegasan ketunggalan )slam sebagai din yang diterima di sisi Tuhan( 8andangan ini
tampaknya kemudian dipertegas lagi dalam ayat selanjutnya di surat yang sama! K%(
#li )mran vIb: NI4N5(
8emahaman para pena$sir! antara lain:
#l4Thabari: :3in di sisi allah adalah al-/slam ! yang merupakan jalan untuk
memandang sekaligus merespon terhadap Drealitas@( 2ini! /slam yang diterima
di sisi allah itu adalah yang dimaksud al4Kur@an itu; (dikutip dari al4Thabari!
195E! I h( ,1,)(
)bn al4D#rabi: :sesungguhnya din yang benar di sisi #llah adalah tauhid! yang
3ia telah tetapkannya bagi diri47ya( /aka 3in allah adlah ketundukan
keseluruhan ujud seseorang( ((( vmenjadi seorang muslim berarti sayab
membebaskan dari ego dan mencapai peniadaan diri di dalam 3iri47ya( #l4
?amakhsyari: :pernyataan (terdahulu) Dtak ada tuhan selain #llah@ adalah
tauhid! sedangkan Dmenegakkan keadilan@ adalah kesetaraan bila diikuti
dengan Dsesungguhnya din di sisi #llah adalah /slam @! maka ini menyiratkan
baha makna )slam adlah kesetaraan dan tauhid( )nilah agama menurut #llah6
selain itu bukanlah din.
#l4-a+i: :3ari asal bahasa din sebagai Dbalasan@! din berarti ketundukan
mengakibatkan balasan itu(; ((( :)slam memiliki tiga makna: masuk ke dalam
)slam ! yaitu kedalam penyerahan diri dan ketundukan! masuk ke dalam
kedamaian! dan menyucikan segala tindakan hanya bagi #llah semata;
-idha: :/enurut Tuhan! al-din, penintah Tuhan dan respon yang diajibkan
hamba atas diri mereka sendiri!merupakan penyerahan diri pribadi kepada
Tuhan dan ruh uniAersal yang ada dalam semua komunitas beragama (((
ketundukan ini tidak ada hubungannya degan )slam konAensional yang
terjebak dalam imitasi dan dalam komunitas4komunitas etno4sosiologis;
#l4Thabathaba@i: /slam adalah ketundukan mutlak pada kebenaran iman dan
tindakan ((( ayat ini merujuk pada din dalam makna syari@at terdahulu kecuali
dalam kapasitas alamiah berbagai komunitas penerima;
8emikir muslim menggali makna din dalam konteks mena$sirkan /slam
sebagai din( #kibatnya! kendati kebanyakan secara implisit menerima din sebagai
bentuk yang harus diekspresikan di dalam kehidupan beragama yang sistematis dan
dilembagakan! penjelasan itu sebenarnya menitikberatkan pada proses! pada din
sebagai penyerahan diri kepada Tuhan(
%ecara etimologi! makna kata :)slam ; dalam bentuk in$initi$ adalah
:tunduk;! :menyerah;! :memenuhi; dan :melakukan;( 3alam konteks kalimat! :ia
masuk ke dalam al-silm#, )slam diartikan sebagai nama suatu agama( )stilah ini juga
bermakna :rekonsiliasi;! :damai;! atau :keseluruhan; 1
3ari kajian dan pembacaan Esack tengan /slam di dalam al4 Kur@an! ada satu
upaya dan semangat besar untuk membebaskan diri dari kungkungan abad
pertengahan yang sering berlindung di baah naungan teks dalam memaknai )slam !
seperti dalam K%( #li D)mran vIb: N5: baran$ siapa mencari din selain /slam , maka
sekali-kali tidakla! akan diterimapili!ann,a itu#.
3ari teks tersebut! kalimat apaka! mereka mencari din selain din Alla!#
akan dimaknai secara inklusiA bila konteksnya (dalam hal ini yang dimaksud Esack
adalah konteks lokal #$sel) juga dipertimbangkan(
2ontribusi dari pemakanaan /slam ini! bagi realitas penindasan #$rika
%elatan cukup menjadi acuan penting( 2enyataannya tidak sedikit juga ati$itas
penindasan dilakukan oleh orang4orang yang berlabel /uslim( 3i lain pihak ada
orang4orang dengan label agama lain terlibat dalam lingkaran pembebasan
maupun upaya penindasan (re+im apartheid) serta yang kelompok menolak untuk
menggunakan label agama di sisi lain menjadi satu $aktor penting bagi proses
pemaknaan kembali /slam agar tidak mengangkat isu primordial dan
mengutamakan satu golongan saja dalam perjuangan melaan penindasan
apartheid di #$rika %elatan
3. /eni*au Olang 5u0r
Esack memilih ayat berikut sebagai re*eksi pemknaan istilah
ku$r:
TFIcOO4
Y
i
8
M
y
:
[
F
T
E
;
D
9
[
4
[
8
F
;
n
3
c
I
F
@XC;6xN3ccG
6BFcIN3C
00 74EFi# 7G ^ / RE/PY;Q x*T 73OP T] G
FO4;FN Fc4;ZnEb3O[3G
FO4#FG
/ T\ @P;1
RWy
#rtinya: @?. .esun$$u!n,a oran$-oran$ ,an$ ka0ir (menolak) kepada a,at-a,at Alla!
dan membunu! para nabi ,an$ meman$ tak dibenarkan dan membunu
!oran$-oran$ ,an$ men,uru! manusia berbuat adil, 'aka
$embirakanla! mereka ba!6a mereka akan menerima siksa ,$ pedi!.
@@. 'ereka itu adala! oran$-oran$ ,an$ len,ap (pa!ala) amal-
amaln,a di dunia dan ak!irat, dan mereka sekali-kali tidak
memperole! penolon$.
(K% #li4D)mran vIb: ,14,,)d
/elalui kalimat oran$-oran$ ,an$ menolak a,at-a,at Alla!;
di atas! adalah salah satu cara al4Kur@an menggambarkan :kaum lain;! di
samping acana muslim yang telah menstigmakan baha 5u0r menjadi
istilah yang paling penuh dengan celaan sebagai kaum lain yang tertolak
(non muslim)( Farid Esack mengutip 'eonard Thompson! seorang
sejaraan #$rika %elatan yang mengisahkan ketertindasan :kaum lain;
ini ketika disebut4sebut sebagai 7a0res karena dianggap tidak memiliki
keyakinan dan kepercayaan di antara mereka(
)stilah 5u0r menurut 'eksikogra$ )bn /an+ur dan 'ane
(sebagaimana kutipan Esack)! dalam pengertian aal diartikan sebagai
:menutup;( 2emudian! ditambah dengan unsur penghancuran( 3an
ketika )slam diposisikan sebagai tatanan dari Tuhan! maka pengertian
ku0r adalah sebagai antonimnya( 3an Toshihiko )+utsu melengkapi
dengan pemahaman mengingkari nikmat atau tak bersyukur! meski ia
menerima kebaikan Tuhan(
3alam penggunaannya yang lebih luas sebagai :penolak keyakinan;! ka0ir pertama
kali dipakai untuk menunjuk beberapa arga /akkah y ang menghina 7abi
/uhammad! dan! kemudian! d
i/adinah! juga kepada berbagai unsur di kalangan #hli 2itab( %etelah a$atnya 7abi
/uhammad (( B5,)! penggunaannya secara bebas diperluas oleh berbagai kelompok
untuk mengeluarkan Dkelompok lain@ yang berbeda agama dengannya( 3ari perspekti$
kunci4kunci hermeneutika yang telah dibahas di muka barangkali kita setuju baha
5a0ir adalah orang yang menyangkal (atau menolak) kebenaran dalam artinya yang
paling luas dan spiritual( 3i sini! al4Kur@an menggambarkan ku0r sebagai perilaku tak
bersyukur yang bersi$at akti$ dan dinamis! yang menagarah pada penolakan atas
kebenaran dan karunia Tuhan secara sengaja! dan! yang secara intrinsic terkait dengan
itu! suatu pola tingkah laku yang arogan dan menindas(
3ari akar linguistik kata ku$r ini! tampak baha ku0r benar4 benar menunjuk
perilaku penyangkalan atau penolakan yang disengaja atau suatu pemberian( 3alam
K%( #i4-ahman (55)! yang berulang4 3n menyinggung penyangkalan adalah unsur
paling operati$ dalam
ku0r.
=adi al4Kur@an menggambarkan ku0r sebagai $aktor yang membentuk perasaan dan
identitas kebencian kepada Dkaum lain@ yang tergolong lemah secara ekonomi( %eperti
yang dijelaskan )+utsu! menurut al4Kur@an ku0r sebagai penyangkalan terhadap Tuhan
dan keesaan47ya ;meujud dalam bentuk sikap angkuh! sombong da
narogan; dan pandangan baha kekayaan! kemakmuran dan tingkat
ekonomi yang mapan bisa membaa pada sikap ku0r(
IE
34 Toshihiko )+utsu! God and 'an in +!e 5oran= .emantic o0 t!e 5oranic
3alam hal ini Esack memang di satu sisi! masih meyakini baha
ku0r juga terkait dengan penolakan terhadap dogma dan ketentuan agama!
seperti keesaan Tuhan! kitab suci! tanda4tanda Tuhan! hari kebangkitan
dan para nabi( %ecara lebih spesi$ik! al4Kur@an menyebut ku0r, pernyatan
tentang ketuhanan )sa(
/aka kemudian! agar tidak terjadi salah paham soal istilah ku0r
dan menghindari sikap tidak adil terhadap mereka yang berlabel :di luar
/uslim; ini dalam al4Kur@an! ada beberapa hal yang perlu diperhatikan(*
Pertama, ketika al4Kur@an mengaitkan ku0r dengan doktrin
(termasuk pencelaan terhadapnya)! itu sebenarnya terkait dengan konteks
sosiohistoris (kondisi aal sejarah 7abi) yang real dan yakin baha
kepercayaan tu*s pada keesaan Tuhan dan pertanggungjaaban akhir
kepada47ya akan membaa pada terujudnya masyarakat yang adil(
5edua, al4Kur@an menggambarkan ku0r sebagai sosok yang
mengetahui keesaan Tuhan dan 7abi /uhammad sebagai -asul namun
memilih untuk menolak mengakuinya(
5eti$a, yang dicela al4Kur@an sebagai ku0r adalah perilaku
bermus uhan terhadap /slam dan 'uslim.
5eempat, al4Kur@an juga spesi$ik soal moti$ keputusan ku00ar untuk
*eltanscauun$, op(cit! hlm 115(

Farid Esack! op.cit., hlm( 1N,


menolak memegang keyakinan tertentu( /ereka memilih jalan ku*! kata al4
Kur@an! karena pertimbangan material (K%( #l4#nbiya v,1b: 5I6 al4%yu@ara@
v,Bb: JE6 'u>man vI1b: ,1)! ikatan kesukuan (K%( #l4?ukhru$ vEIb: ,,)! dan
karena )slam akan menggoyahkan tatanan sosial yang tidak adil (karena
perintah untuk men+akatkan hartanya pada kaum miskin dan lemah) (K%( #li
D)mran vIb: ,1)(
3ari pena$siran ulang terhadap istilah ku$r Esack tersebut di atas!
yang ingin ditampilkan adalah ada kaitan kuat antara pencelaan al4Kur@an
terhadap ku0r dengan perilaku personal dan sosial musuh4 musuh 7abi
/uhammad sebagai indiAidu atau kelompok di /akkah dan /adinah(
%emangat yang ditampilkan Esack ini sekaligus mengaali kerja4kerja
hermeneutika (pena$siran) terhadap ayat4ayat yang bersentuhan dengan
pengakuan )slam terhadap :kaum lain;( %ehingga! kita mencoba menemukan
di mana kita melihat perilaku semacam ini terhadap )slam dan pola perilaku
sosiopolitik seperti itu agar dapat membangun aplikasi kontemporer bagi
istilah ku0r dan bukan semata mentrans$er label ku0r yang telah terjadi 1E
abad yang lalu untuk diterapkan pada masa kini dengan perilaku dan
pemahaman yang sama terhadap Dmereka@
b. Rei(te""etasi K(se 3Dimmi +(t+k Peeasa(
3ari proses peninjauan ulang de$inisi iman! /slam dan ku* tersebut! setidaknya ada
gambaran umum arahan pemikiran Esac
kterhadap pemahaman :kaum lain; (non4/uslim)! termasuk (yang menjadi bahasa
karya tulis ini) a!l al-dDimma!, yang lebih terbuka dan inklusi$! yakni baha
mengakui dinamika iman, /slam dan ku0r beserta nuansa4 nuansanya berarti mengakui
etos dasar (semangat) keadilan yang ada dalam al4Kur@an( /enurut al4Kur@an! tegas
Esack! bukanlah Dlabel4label itu@ yang diperhatikan oleh Tuhan! melainkan perbuatan4
perbuatannya (K%( #l40a>arah v,b:1JJ6 al4?al+alah v99b J4N)( 2ita tak bisa
melemparkan etos ku0r yang menjadi ciri nenek moyang suatu kelompok kepada
orang4orang yang kebetulan lahir sebagai bagian dari kelompok itu6 tidak juga pada
indiAidu yang ada dalam kelompok itu yang bukan partisipan dalam ku0r. %ejajar
dengan itu! kita tak bisa pula mengatributkan komitmen (label) iman dan keimananan
generasi /uslim terdahulu kepada kaum /uslim saat ini-R
Tujuan yang ingin dicapai al4Kur@an lebih signi$ikan daripada premis aal yang
menjadi titik keberangkatannya( %ecara eksplisit dan berulangkali ditegaskan al4
Kur@an! $akta identitas kelompok tak bisa menggantikan prinsip pertanggungjaaban
pribadi( 0ila setiap indiAidu dianggap bertanggung jaab atas perbuatannya! maka kita
tak punya pilihan lain selain mengakui si$at dinamis /slam , iman, dan ku0r. )ndiAidu
adalah entitas yang senantiasa berubah( %etiap pertemuan baru dengan diri sendiri dan
orang lain! setiap perbuatan yang kita lakukan atau yang kit
atolak! adalah satu langkah dalam trans$ormasi diri kita yang terus4 menerus(
0erikut ini penulis tampilkan penjelasan Esack tentang pende$inisian
kembali konsep a!li kitab, termasuk di dalamnya adalah konsep a!l al-
dDimma! (d+immi) sebagai konstruksi baru hubungan muslim dan non4
muslim! terutama di era sekarang(
3alam Ensiklopedi 1ukum )slam! terminology #hli 2itab berarti
sebutan bagi komunitas yang mempercayai dan berpegang kepada agama
yang memiliki kitab suci yang berasal dari Tuhan selain al4Kur@an-R 7amun
dalam pembahasannya! masih ada beberapa masalah terkait dengan posisi al4
Kur@an terhadap #hli 2itab dan bahkan pengert*an tentang siapa yang disebut
#hli 2itab itu(
8ermasalahan ini semakin panjang ketika melihat bagaimana
komentar para ahli Fi>! ($u>aha) yang membaa pemahaman A!li 5itab
sebagai sinonim dari kaum musyrik! yakni merujuk pada pemahaman aal
arga /akkah yang menyembah objek4objek $isik! seperti patung atau benda4
benda keramat sebagai entitas yang sakral(*
2omunitas Hahudi dan 7asrani adalah dua kelompok yang
direpresentasikan sebagai kelompok lain (t!e oters) bagi )slam ( 2etika 1ijrah
7abi bersama kaum :muhajirin; (atau Esack menyebutnya sebagai
:pengungsi;) ke /adinah! sebagian besar penduduk yang ada di sana terdiri
atas #rab dan Hahudi-YY
3i /adinah! tempat 7abi /uhammad menjadi pemimpin agama
sekaligus pemimpin 7egara! kaum Hahudi berperan besar dalam bidang
ekonomi! politik! dan intelektual(* %ementara kaum 7asrani juga mempunyai
relasi cukup baik dengan )slam ( 7abi ketika datang ke /adinah! sebelumnya
singgah di 7egara komunitas 7asrani menikmati keramahan mereka (dikutip
dari ibn %a@ad 19BJ! 1! hh( ,I541EC)(
I5
7amun beberapa lama kemudian! turunlah perintah untuk
memerangi orang4orang di luar )slam (yahudi dan nasrani)( 2eduanya
35Farid Esack! ibid., hlm( 195
akhirnya menjadi objek perintah al4Kur@an:
:Peran$ila! oran$-oran$ ,an$ tidak beriman kepada Alla! dan
tidak (pula) kepada !ari kemudian dan mereka tidak men$!aramkan apa
,an$ tela! di!aramkan ole! Alla! dan rasul-:,a dan tidak bera$ama
den$an a$ama ,an$ benar (a$ama Alla!), (,aitu oran$-oran$) ,an$
diberikan a!li kitab kepada mereka, sampai mereka memba,ar -iD,a! den$an
patu! sedan$ mereka dalam keadaan tunduk; (K%( #l4Taubah v9b: ,9)
Terjadilah kemudian ketegangan religio4ideologis antara muslim dan
#hli 2itab (non4/uslim)( 0elum lagi stigma yang menggantung pada diri
a!li kitab yang masih saja membunyikan dirinya sebagai s,irk.
;R
/aka dari itu perlu ada rekonstruksi ta$sir terhadap status non4/uslim ini(
Ontuk mengaali! sebelumnya kita menggali pandangan dan sikap al4 Kur@an
terhadap pengakuan penganut agama lain (non4/uslim)( 3alam proses ini!
kita tengah meggali nilai4nilai etik al4Kur@an (dalam bahasa -ahman) tentang
pendangannya terhadap pengakuan agama lain(
Pertama, al4Kur@an menghubungkan dogma dengan eksploitasi
ekonomi( #l4Kur@an menjelaskan baha penyangkalan dan ketidakpedulian
pada tauhidlah yang mengakibatkan penindasan sosial dan ekonomi
masyarakat /akkah( %urat4surat /akiyyah yang pendek4pendek menegaskan
dengan tajam soal ini( K%( #l40alad (9C): 54B menegaskan baha
penyangkalan atas kekuasaan Tuhan menyebabkan orang akan menghambur4
36
,
w
,
3alam perkembangan dogmatis )slam ! konsep s,irk telah mengalami pelebaran
yang cukup luas((( (karena) penganut berbagai sekte dalam )slam tak segan4segan
menunjuk laan muslimnya sebagai s,irk! ketika mereka melihat monoteisme yang
agak sedikit berbeda! meski hanya pada hlm4hlm tertentu yang mereka anggap
penting ((( .,irk dengan demikian tak semata menjadi istilah bagi ketidakberimanan di
luar )slam ! melainkan celaan yang juga saling dilontarkan kaum muslim di dalam
)slam sendiri( 3ikutip dari pengamatan .!orter Enc,clopaedia %0/slam , lihat dalam!
Farid Esack! ibid., hlm( ,CC(
hamburkan hartanya: :Apaka! manusia itu men,an$kal ba!6a sekali-kali
tiada seoran$ pun ,an$ berkuasa atasn,a. 3ia men$atakan= #aku tela!
men$!abiskan !arta ,an$ ban,ak# (K%( #l40alad v9Cb: 54B)(
5edua, al4Kur@an secara eksplisit dan tegas mencela eksklusiAisme
agama yang sempit sebagaimana ditunjukkan oleh kaum Hahudi dan 7asrani
yang dijumpai 7abi /uhammad di 1ija+( #l4Kur@an bersikap keras dalam
mencela arogansi tokoh keagamaan Hahudi serta eksklusiAisme tribalisme
yang membuat mereka memperlakukan orang4 orang di luar kaum mereka
sendiri! terutama yang lemah! dengan sikap
menghina( 8enghinaan pihak lain ini! menurut al4Kur@an! berakar dari kesombongan
karena merasa sebagai umat pilihan Tuhan(
5eti$a, al4Kur@an bersi$at eksplisit dalam penerimaan atas pluralisme agama
(K%( #l40a>arah v,b: 1IB! ,N56 ali D)mran vIb: NE)( 3alam hal ini al4Kur@an mengakui
keabsahan de -ure semua agama ahyu dalam dua hal: ia menerima keberadaan
kehidupan religius komunitas lain yang semasa dengan kaum muslim aal!
menghormati hukum4hukum! norma4norma sosial! dan praktik4prakt*k keagamaan
mereka6 dan ia menerima pandangan baha pemeluk4pemeluk setia agama4agama ini
juga akan mendapatkan keselamatan dan baha :tidak ada kekhaat*ran terhadap
mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati(
0erpijak dari penjelasan di atas! maka pemikiran tentang Esack mengenai
status A!l Al-3Dimma! (d+immi) sebagai bagian dari kelompok atau kaum lain (non4
/uslim) menjadi tidak releAan lagi dalam dunia kita sekarang ini( %tatus non muslim
yang mendapat perlindungan dibaah 7egara )slam! kemudian pembayaran -iD,a!
sebagai bentuk upeti untuk mengganti perlindungan atasnya menjadi tidak releAan
lagi! karena berdasar pada asas pandangan al4Kur@an di atas terhadap penganut agama
lain(
Terlebih! seperti yang telah dijelaskan di muka! baha paradigma yang di
baa Esack (eksodus para$di$m) mendasarkan diri pada komitmen untuk membaa
kelompok tertindas sebagai satu nilai tertinggi al4Kur@an dalam upaya membaa
keberpihakan Tuhan pada kelompok
minoritas dan tertindas ini( Termasuk satu komitmen penting untuk membaa konsep
non4/uslim sebagai kelompok yang sama pentingnya dalam upaya melakukan kerja
pembebasan dan perjuangan (melihat konteks Esack: melaan #partheid di #$sel)
;C1
?akiyuddin 0aidhay! Hermeneutika Pembebasan al-Quran= Perspekti0
Farid Esack da &am #bdul /usta>im4%ahiron %yamsudin! .tudi Al-Quran
5ontemporer( *acana &aru &erba$ai'etodolo$i +a0sir, Hogyakarta: Tiara "acana
Hogya! ,CC,! hlm( 195(
,
Farid Esack! Quran, liberation J Pluralism= An /slam ic Perspecti4e o0
/nterreli$ious solidarit, a$aints %ppression, lihat terj( Al-Quran, Liberalisme,
Pluralisme= 'embebaskan ,an$ +ertindas, 0andung: /i+an! ,CCC! him( ,E
I
'ihat %imon 3agut dalam :8ro$ile Farid Esack;!
(homepage$aridesack(com
E
3alam bahasa #$rikaans! apartheid berarti penyisihan dan pemisahan( 3i
#$rika %elatan! apartheid merujuk pada pemisahan kelompok kulit putih dan
kelompok non kulit putih (berarna! hitam dll)( 8emerintah saat itu sebagai motor
bagi terciptanya ide pembedaan secara rasial ini! leat seorang perdana menterinya
(perdana /enteri 2e4J #$sel)! 1endrik Frensch aeroerd! benar4benar membaa
pemerintahan #$rika %elatan leat penindasan cukup mendalam( )de dari hukum
apartheid adalah pemberian pelayanan Dberbeda@ terhadap kelompok kulit berarna
(terutama kulit hitam) baik secara politik! hukum! ekonomis! sosial! pendidikan!
keamanan! dan lainnya( Hang lebih parah lagi! proses penindasan rasial itu dilindungi
dan berdasar undang4undang( Tulisan ini bisa diakses dalam situs
http:&&ms(ikipedia(org&iki&#partheid! lihat juga t!e Histor, o0 Apart!eid in .out!
A0rica makalah diambil dari (homepage$aridesack(com(
5
/bid.
B
2eadaan hidup yang berdampingan secara damai antara dua negara (bangsa)
37 3alam aisi turunan yang dibaa dari K% al4Kashas! Esack menampilkan aisi
pembebasan yang diberikan kepada mereka yang tertindas dan tidak harus kepada
mereka yang beriman atau hidup dalam kebajikan( 'ihat dalam Farid Esack! +!e
EEodus Paradi$m in t!e Quran /n t!e Li$!t o0)e-/nterpretati4e /slam ic +!ou$!t in
.out! A0rica, op.cit, hlm( 1I5
atau lebih yang berbeda atau bertentangan pandangan politiknya( 'ihat dalam 2amus
0esar 0ahasa )ndonesia! edisi ketiga! =akarta: 0alai 8ustaka! ,CC,! hlm( 5JN(
N
Farid Esack! Quran, liberation J Pluralis, ibid, hlm( ,5
9
3alam potongan kisah yang ditulisnya! Esack menuturkan: 5epada para
tetan$$a 5risten itula! kami ber$antun$ demi seman$kuk $ula #, men,ambun$
na0as !in$$a 1umat berikutn,a #, dan tempat untuk berba$i deritaSkepada tuan
Frank-la! kami memo!on perpan-an$an 6aktu pemba,aran pin-aman ,an$ seola!
tanpa ak!ir. 5en,ataan ba!6a penderitaan kami men-adi terpikulkan berkat
solidaritas, kemanusiaan, dan sen,um para tetan$$a 5risten membuat sa,a curi$a
pada semua ide kea$amaan ,an$ men$klaim keselamatan !an,a ada ba$i
kelompokn,a sendiri, dan men$il!ami sa,a den$an kesadaran akan kebaikan
intrinsik a$ama lain. &a$aimana mun$kin sa,a menatap kerama!an ,an$ memancar
dari ibu &atista dan &ibi 5atie sembari men,akini ba!6a mereka ditakdirkan untuk
masuk nerakaM Penerimaan ter!adap oran$ lain, ,aitu inti dari pluralisme a$ama,
tidak datan$ be$itu sa-a kepada penduduk kota kami. .ekalipun sama-sama
menderita, mereka masi! meme$an$ ke,akinan sur$a eksklusi0 untuk 5ristiani atu
'uslim( meski salin$ berba$i makanan ,an$ bersa!a-a, mereka memisa!kan dan
menandai pirin$ dan man$kuk ba$i pen$anut a$ama ,an$ lain itu( 'ihat Farid Esack!
ibid( hlm( ,5
11
#( -a$i> ?ainul /un@im! ibid.
1,
Hang disebut :tetangga; dalam konteks masyarakat 0onteheuel adalah
mereka4 mereka yang tinggal tiga atau empat puluh rumah jauhnya dari sebuah rumah(
'ihat dalam Farid Esack! Quran, liberation J Pluralism, op.cit. hlm( ,B(
I
5 3alam tulisannya terkait dengan /asjid di 0onteheuel! Esack
menceritakan bagaimana konteks /asjid di 0onteheuel cukup mempunyai peran
penting sebagai tonggak perjuangan dan kontrol terhadap sistem apartheid yang
menindas( 3ari /asjid! maka re*eksi kritis dan progresi$ terbangun bersama rekan4
rekannya( 'ihat dalam Farid Esack! 'os>ue +!e &attle 0or 7ontrol 4 .ome )e0lections,
dalam (homepage$aridesack(com
E
5 Farid Esack! Kur@an! liberation J Pluralis, ibid.
15
/enurut =amil %almi! rasisme menjadi bagian dari kekerasan alienati$
dalam ekonomi kapitalisme( -asisme bukan hanyak berupa kebencian untuk
mengisolasikan beberapa orang pinggiran yang mempunyai ide4ide yang
menyimpang( -asisme esensinya merupakan sebuah $enomena sosial dan perannya
sama dengan ideologi dalam masyarakat kapitalis( 3an proses kekerasan rasisme ini
meniscayakan akan selalu beriringan dengan sistem ekonomi kapitalis( 'ihat 8ro$( 3r(
=amil %alimi! Hiolence and 3emocratic .ociet,( Hooli$anisme dan 'as,arakat
3emokrasi, Hogyakarta: 8ilar /edia! ,CC5! hlm( ,,E(
B
5 %eksisme juga dapat dianggap sebagai sebuah bent*k rasisme( 3engan
dalih adanya perbedaan prikologis dan biologis yang $undamental antara laki4laki dan
perempuan (peran reprodukti$nya! ukuran dan kekuatan $isik)! hirarki sosial yang
disangkakan sebagai takdir Tuhan telah berkembang jauh sehingga menguntungkan
laki4laki( /eski %eksisme menjadi penyebab dan akibat dari persoalan ekonomi! status
subordinati$ perempuan tidak hanya terbatas di bidang ekonomi! namun berkembang
ke semua aspek kehidupan( 3i /edia! dunia periklanan! mode pakaian! 0as!ion dan
kesusastraan( 8erempuan diajari baha dirinya in$erior dan seharusnya menempatkan
laki4laki di atasnyua( 8erempuan tidak mempunyai akses yang sama terhadap
kekuasaan( 8erempuan dicegah oleh pola4pola sosial dan tradisi untuk tidak terlibat di
dalam seluruh kekgiatan yang secara biologis baginya tidak tepat( /bid, him( ,,J(
1J
Farid Esack! Quran, liberation J Pluralism, op.cit. lihat juga #( -a$i>
?ainul /un@im! ibid.
1N
3i sekolah 7asional 2risten ini ditanamkan ideologi pendidikan yang
bertujuan membentuk pola dan struktur be*ikir arga apartheid yang patuh dan takut
pada Tuhan serta taat pada pemerintahan apartheid( 3isamping terdiri dari penghuni
(yang sebagian besar) 2risten! terlihat di sana ada juga penganut Hahudi dan Tahirah!
yakni Tuan Frank! dan gadis 0aha@i di sekolah dasar yang orang tuanya melarang anak
itu untuk membicarakan agamanya kepada siapapun( 'ihat dalam Farid Esack!
Quran, liberation J Pluralism, ibid. lihat juga #( -a$i> ?ainul /un@im! ibid.
19
?akiyuddin 0aidhay! op.cit, hlm( 195! lihat juga Farid Esack! Qur an,
liberation J Pluralism, op.cit, hlm( ,B
,C
?akiyuddin 0aidhay! ibid(

%ebuah organisasi keagamaan yang memiliki =aringan )nternasional dan


be*usat di 8akistan( 3i dalam organisasi yang menekankan imitasi ke masa aal
)slam (sala$) inilah! Esack memahami makna persaudaraan (brotherhood)( )a
mengakui baha $igur sang ayah yang tak ketahuan rimbanya tergantikan dengan
rekatnya hubungan persaudaraan antar4anggota =amaah Tabligh('ihat Farid Esack!
Qur an, liberation J Pluralism= An /slam ic Perspecti4e o0 /nterreli$ious solidarit,
a$aints %ppression, lihat te<j( al-Quran, Liberalisme, Pluralisme=
'embebaskan,an$ +ertindas, 0andung: /i+an! ,CCC! op.cit, 'ihat juga 0urhanudin!
op.cit
,E
Farid Esack! ibid! hlm ,B! lihat juga #( -a$i> ?ainul /un@im! op.cit
,5
2edua organisasi yang bermarkas di Ledung Christian )nstitute ini
membaa Esack menikmati keramahan dan solidaritas dari pemimpinnya! 8endeta
Theo 2ot+e dan para sta$nya( 8endeta Theo menaarkan $asilitas beribadah bagi para
muslim dan datang mengunjungi keluarga esack setelah dilepas dari tahanan( 8endeta
Theo =uga meyakinkan kami baha :berurusan; dengan polisi sebenarnya merupakan
suatu kehormatan( #khirnya di tahun 19JI organisasi ini dilarang( Farid Esack! ibid
,B
'ihat paparan pengalaman pendidikan Esack selama di 8akistan dalam
tulisannya! Farid Esack! 'uslims En$a$in$ t!e %t!er and +!e Humanum! dalam
(homepage$aridesack(com( 'ihat juga 0urhanudin! +itik &alik Pen$alaman
Eksistensial Farid Esack= )aison 3etre Hermeneutika Pembebasan Al-Quran,
makalah tidak diterbitkan! lihat dalam situs ()slamlib(com(
,J
.eba$ian besar /nstitut (per$uruan tin$$i) di Pakistan adala! men$anut
aliran konser4ati0 ,an$ memandan$ -elek se$ala sesuatu ,an$ berbau dunia6i#.
3alam penuturan kisa!n,a Esack menceritakan= suatu malam seoran$ anak berusia
dua belas ta!un, Abdul 5!lmi> Ali, !arus se$era diba6a ke ruma! sakit dan
men-alani operasi darurat ,an$ berlan$sun$ beberapa -am. Adil 1o!aar
menun$$uin,a pada pa$i !ari, sementara Esack masuk setela! semalaman ber-a$a di
ruma! sakit. 3i kelas pa$i itu, &aks! menan,akan Adil. 5etika diberita!u ba!6a adil
men-a$a Abdul 5!lmi> di ruma! sakit, dia berkata, 5alian datan$ ke sini untuk
bela-ar atau menun$$ui oran$ sakitM#. 'ihat Farid Esack! op.cit. lihat juga
?akiyuddin 0aidhay! op(cit! hlm 19B( lihat juga #( -a$i> ?ainul /un@im! op.cit
,N
lihat 0urhanuddin! op.cit
,9
'ihat Farid Esack! op.cit
IC
'ihat Farid Esack! ibid. hlm( ,J4,N
I
5 Farid Esack! ibid. hlm( ,N
I,
Farid Esack! ibid. hlm( ,N
II
Farid Esack! op.cit. hlm( ,N
IE
#( -a$i> ?ainul /un@im! op.cit. lihat juga 0urhanudin op.cit.
IJ
Lerakan4gerakan )slam ini sebenarnya memiliki semangat yang sama
untuk melaan re+im apartheid( 1anya saja! mereka relati$ ekslusi$ dan enggan
bekerjasama dengan elemen di luar agama )slam ( 8adahlm! kita tahu! komunitas
/uslim menjadi minoritas di #$sel sehingga sulit menggalang perlaanan yang masi$
jika melupakan komunitas lainnya di luar )slam (
IN
/H/4/%# dan Kibla mencela komitmen Call untuk bekerjasama dalam
ranah antar4 iman! karena mereka ber*endirian baha bekerjasama dengan kelompok
di luar )slam dalam perjuangan ideologis! akan berakibat pada pengaburan iman )slam
seseorang( 3alam sebuah makalah yang disebarkan dan diterima secara luas di /H/4
/%#! yakni berjudul :Onited 3emocratic Front: #n )slam ic Criti>ue;! 0radlo
menguraikan beberapa keberatan untuk bersekutu dengan penganut agama lain dan
khususnya dengan O3F( #da beberapa alasan! Pertama, aliansi politik memiliki
:strategi implisit untuk membela kaum ka$ir; dan akan mencegah :tampilnya )slam ;
dalam kekuatan pembebasan terhadap kelompok tertindas di #$rika %elatan( 5edua,
dalam a$iliasinya dengan O*F sebagai organisasi keagamaan! kelompok4 kelompok
/uslim telah mereduksi )slam dengan menjadikan agama innduk pada ideologi
sekuler( 2etiga! konsep demokrasi bukan hanya :asing bagi kerangka acuan
pemerintahan yang )slam i! namun mengakuinya pyun dapat membaa kepada
tindakan syirk! menyekutukan #llah dengan selain47ya( 'ihat dalam Farid Esack!
op.cit. hlm( JC

6 al4Kuran dan Terjemahnya! 2hadim al41aramaian -aja Fadh(


3iterjemahkan oleh Hayasan 8enyeleng4gara 8enterjema&8enta$sir al4Kuran yang
ditunjuk /enag dengan %2 7( ,B tahun 19BJ( Hayasan ini diketuai 8ro$( 3r( -1#
%oena<jo! %1( #nggota4anggotanya adalah 8ro$( 1asbi #sshiddi>i! 8ro$( 0ustami
Lhani! /uhtar Hahya! Toha =ahya Fmar! 8ro$( /ukti #li! 21 /usaddad! 21 #li
/aksum dan lain4lain(
EC
lihat 0urhanuddin! op.cit
E,
lihat dalam (homepage$aridesack(com(
EI
#( -a$i> ?ainul /un@im! op.cit. 'ihat juga 0urhanuddin! op.cit lihat juga
di Farid Esack! http:&&(homepage$aridesack(com(
EE
ibid.
EB
/bid
E9
Farid Esack! Qur an Liberation, op.cit, dalam acknolegement( 3alam
makalah yang disajikan pada seminar tentang 1#/ dan #plikasi 1ukum )slam di
3unia /odern yang diselenggarakan 7oregian )nstitute o$ 1uman -ights *1-)!
Fslo! 1E415&,&199,! Esack juga mengaali tulisannya dengan perkataan ini( %etelah
direAisi! kumpulan makalah dalam pertemuan tersebut dibukukan dengan judul /slam
ic La6 )e0orm and Human )i$!ts 7!lmen$es and )e-oinders; 'ihat Farid Esack!
.pektrum +eolo$i Pro$resi0 di A0rika .elatan!; dalam 3ekonstruksi %yariah ))! te<j(
Farid "ajidi! Hogyakarta: '2i%! 199B! hlm( 1N9(
5C
/bid
51
Farid Esack! .pektrum +eolo$i Pro$resi0di A0rika .elatan, ibid! hlm(19C
5,
3ata ini sesuai dengan riset yang dilakukan oleh F(-( 0radlo dan /(
Cairns tentang asal4usul populasi di #$rika %elatan( 3ari risetnya diketahui baha
asal4usul populasi budak aal menandakan baha secara etnis! :ini adalah kaum yang
heterogen;! terdiri atas negro asal #$rika 0arat! kaum yang berbahasa 0antu dari
#ngola dan /o+ambi>ue! orang4orang negro 8olinesia asal /adagaskar! orang )ndia!
berbagai kelompok orang 8olinesia dari kepulauan )ndonesia! dan beberapa tempat
lain di DTimur =auh@( 3an tampakan kecenderungan data 0radlo menyatakan baha
mayoritas muslim yang ada di #$sel merupakan keturunan kelompok terakhir!
kepulauan )ndonesia dan beberapa tempat lain di Timur =auh! lihat Farid Esack! ibid!
hlm( JE
5I
3alam konteks ini istilah :melayu;dipakai lebih pada pertimbangan bahasa
dibanding pada kebangsaannya( /elayu merupakan bahasa dagang yang umum
dipakai di 2epulauan )ndonesia! tempat asal kebanyakan /uslim aal di Cape( /bid
5E
Farid Esack! Quran Liberation! ibid
55
/bid, hlm( EJ
5B
0erbagai tekanan yang dihadapi kelompok muslim ini tertuang dalam
karya Esack Quran, Liberation and pluralism. Esack menuliskan bagaimana Cape
saat itu memberlakukan Ondang4Ondang 1india! yang melarang ekspresi umum dan
berkembangnya bentuk kepercayaan apapun selain tradisi re$ormasi belanda( %ebuah
plakat mengenai hlm tersebut dikeluarkan pada 1BE, oleh =an Aan 3iemen! Lubernur
=ederal #mbon! ilayah penjajahan 0elanda yang kini bagian dari )ndnesia( 8lakat ini!
yang digunakan kembali pada 1B5J oleh =ohan /aetsuyker dan diterapkan Cape!
menetapkan hukuman mati bagi pelanggar(
1ampir dua abad setelahnya! pada 1N,N! harian lokal masih meratapi keadaan
menyedihkan yang dialami kaum muslim yang perkainannya dianggap tak sah dan
dihinakan( 2earganegaraan mereka ditolak(((tak boleh memiliki tanah atau menetap
di ilayah 2oloni (jajahan! di Cape) alau dilahirkan di sana! tanpa i+in khusus(((
mereka melakukan kerja paksa tanpa bayaran.dihukum sekehendak tuannya dengan
cambuk dan dipenjara! tak bisa keluar dari kampung hlmannya tanpa i+in! rumah4
rumah mereka dimasuki dan dijamah oleh polisi dengan seenang4enang;( (3ikutip
dari the %econd #$rican Commercial #dAertiser! ,B =uli 1N5B! hlm( 1,)! lihat dalam
Farid Esack! Quran Liberation, op.cit, hlm( JE
5J
%yaikh Husu$ adalah satu dari sekian pemimpin yang dibuang selama masa
perjuangan kemerdekaan melaan 0elanda( )a dibuang ke Cape pada 1B9E bersama E9
pengikutnya( %etelah menetap dengan posisi taanan politik 0elanda di Cape! %yaikh
Husu$ menjadi pembimbing utama kaum /uslim dan budak4budak yang baru masuk
)slam ( 'ihat Farid Esack! ibid! hlm( EN(
5N
/bid
59
/bid
B1
/bid
BI
Farid Esack! op.cit, hlm( 51
BE
0urhanudin! +itik &alik Pen$alaman Eksistensial Farid Esack( )aison
detre Hermeneutika Pembebasan al-Quran, op.cit
B5
/bid(
RR
:"aancara dengan Farid Esack!; op.cit.
BJ
)nilah kritik utama 2arl /arG terhadap agama( #gama yang didukung agen
agama (pastur! romo! kiai dan lain4lain) seringkali dijadikan alat kaum bo<juasi untuk
melan$$en$kan
penindasan( #gama adalah candu karena merekomendasikan kesadaran palsu ($alse
consciousness)( 2ritik /arG terhadap agama ini sebenarnya berdasar pada pemikiran
'udig Feurbach tentang teori proyeksi iluti$(
BN
lihat 0urhanuddin! op.cit
B9
Farid Esack! Quran Liberation, op.cit, hlm( 5C451
JC
Farid Esack! Quran Liberation, ibid. lihat juga Farid Esack! )e-oinder
:kruma!, dalam (homepage$aridesack(com
J1
2aum muslim di Cape saat itu mencakup kaum kulit berarna yang
dikenal sebagai :melayu;! dan )ndia( 2etika dibutuhkan pembedaan lebih lanjut di
kalangan kulit berarna! Esack menyebutnya :/uslim; dan 2ulit berarna
(2risten);( 3alam periode ini! muslim )ndia! yang kebanyakan pedagang! tidak benar4
benar sama dengan /uslim :/elayu;( Hang terakhir ini terorganisasi dalam
Frganisasi -akyat #$rika (#8F)! sedangkan /uslim )ndia mendirikan kongres )ndia4
)nggris Cape (Cape 0ritish )ndian Congress) pada 1919 untuk menentang diskriminasi
terhadap orang4orang )ndia( Farid Esack! Qur an Liberation, ibid. lihat juga Farid
Esack! )e-oinder :kruma!, ibid.
J,
Farid Esack! Quran Liberation, ibid., hlm( 5E! lihat juga Farid Esack!
)e-oinder :kruma!, ibid.
JE
2ebijakan untuk meningglkan kolaborasi adalah upaya untnk berjuang
sendiri! dari tulisan Esack di dapat pengertian baha dari kelompok /uslim misalnya!
mereka mempunyai tekad untuk berjuang bersama kaum tertindas! namun juga ingin
berangkat dari perspekti$ )slam (
J5
Farid Esack! Qur an Liberation, ibid., lihat juga hlm( 5B Farid Esack!
)e-oinder :kruma!, op.cit.
JN
'ihat Farid Esack! .pektrum +eolo$i Pro$resi0 di A0rika .elatan!; dalam
3ekonstruksi %yariah ))! op.cit, hlm( 19B
NC
/engenai penjelasan tentang periode .!arp4ille, memang penulis tidak
mendapatkan data yang begitu lengkap! namun ada satu penjelasan dari sebuah sit*s
internet kemudian juga dipublikasikan di %uratkabar Tehran! Etellat 7o(1I1E9 baha
diterangkan pada masa itu! tanggal
12 /aret 19BC! terjadi demonstrasi di .!arp4ille, #$rika %elatan( 3emonstrasi tersebut
dilakukan untuk memprotes undang4undang yang mengharuskan semua orang berkulit
hitam untuk membaa kartu identitas dan menunjukkannya ketika diminta(
3emonstrasi ini juga terjadi di kota4kota lainnya di #$rika %elatan( 8olisi .!ar4ille
melakukan tembakan ke arah demonstrasi damai ketika meleati kantor pusat
kepolisian( 3alam peristia itu! polisi membunuh B9 orang serta mencederai 1NC
orang( 0ukankah kekerasan ini merupakan pemaksaan atas perbudakanM 'ihat dalam
http:&&ms(ikipedia(org&iki&#partheid! op(cit(
N
5 Farid Esack! .pektrum +eolo$i Pro$resi0di A0rika .elatan;! op.cit.
N,
3alam tnlisan Esack yang berjudul +!e EEodus Paradi$m in t!e Quran /n
t!e Li$!t o0 )e-/nterpretati4e /slam ic +!ou$!t in .out! A0rica dituturkan panjang
lebar6 misalnya dalam hal ini tentang syahidnya #bdullah 1arun! ia bertugas di
/arkas Kiblah! yaitu /asjid al4=amiah di Claremont! Cape( 3i tempat inilah menjadi
tempat berkembangnya kekuatan )slam yang militan dan reAolusioner pendukung
kesadaran kulit hitam (&7Gblack consciousness). 'ihat dalam Farid Esack! +!e EEodus
Paradi$m in t!e Quran /n t!e Li$!t o0 )e-/nterpretati4e /slam ic +!ou$!t in .out!
A0rica, yang diterbitkan di /slam o 7!ristiana, aol( 1J! 1991! hlm( NI! 9J! terj(
/uhammad ?akki! Paradi$ma Eksodus dalam al-Quran dili!at dari Pemikiran
/slam )e-/nterpretati0 di A0rika .elatan, dalam =urnal Tasirul #$kar! Edisi 7o( 1,
Tahun ,CC,! hlm( 1IC41EB(
NI
Farid Esack! Quran Liberation, op.cit., hlm( BC4B1
NE
Farid Esack! +!e EEodus Paradi$m in t!e Quran /n t!e Li$!t o0 )e-
/nterpretati4e /slam ic +!ou$!t in .out! A0rica, op.cit, hlm( 1II
N5
Farid Esack! .pektrum +eolo$i Pro$resi0 di A0rika .elatan;! op.cit, lihat
juga Farid Esack! Quran Liberation, ibid, hlm( BC4B1
NB
Esack menuliskan beberapa list organisasi yang cukup be*engaruh dan
be*eran besar dalam gerakan reAolusioner di #$rika selatan dalam Farid Esack!
)e-oinder :kruma!, op.cit
NJ
/bid.
NN
0erdirinya 1e6a o0 1ustice ini menandakan keterlibatan yang makin besar
3ean Lereja #$rika %elatan (%%#CC) dalam program4program peningkatan
kesadaran politik dan pembinaan korban4korban penindasan6 meningkatnya nada
militan dalam pernyataan kea$amaan serta dukungannya bagi sanksi4sanksi ekonomi6
naiknya pamor para pemimpin agama! seperti 8endeta #llan 0oesak! 8endeta Frank
Chikane! )mam 1assan %olomon! /anibhen %ita! dan %uster 0ernadette 7cube! yang
amat teguh pada gerakan pembebasan politik dan Front 3emokrat 0ersatu (O3F)(
'ihat dalam Farid Esack! Quran Liberation, ibid, hlm( B,4BI
N9
Farid Esack 6as t!rou$!out t!e ?<FAs one o0 t!e most conspicuous
'uslim campai$ners a$ainst apart!eid in !is nati4e .out! A0rica. His sermons and
broadsides di00used b, t!e 7all to /slam association o0 6!ic! !e 6as :ational 7o-
ordinator until ?<<A 6ere 6arml, recei4ed, particularl, b, anti-racist sections o0 t!e
7!ristian c!urc!es. Amon$ 'uslims, !o6e4er, !e remained a pro4ocati4e and s!arpl,
contro4ersial 0i$ure. 'ihat dalam #bdal 1akim /urad! 3ancin$ *it! Liberalism!
sebuah reAie atas tulisan Farid Esack (Quran Liberation)! diambil dari
http:&&people(cas(sc(edu&AishanoA&theology&reAelation(htm(
9C
2elompok ini terdiri atas empat mahasisa OniAersitas Cape Ton (D#dli
=acobs! Ebrahim -asool! %hamiel /anie! dan Farid Esack sendiri( Farid Esack! Qur
an Liberation, ibid, hlm( J9( lihat juga Farid Esack! )e-oinder :kruma!, op.cit
9,
Farid Esack! Quran Liberation, op.cit, hlm( BE
9I
Farid Esack! Quran Liberation, ibid, hlm( B5
9J
Fatima /err! Foreord! dalam Farid Esack! &ut 'usa *ent to Fir aun,
/aitland! The Call o$ )slam ! 19N9( lihat dalam Farid Esack! Quran Liberation,
ibid, hlm( BJ
99
'ihat semua urutan karya4karya Esack dalam (homepage$aridesack(com
,B ?amakhshari on "*ila,a!# at =eish and )slam ic 1ermeneutics as Cultural
Criti>ue "orkshop( Lerman Friental %ociety! )stanbul! 1I41B =une ,CC,(
27. +!e Quran and Human )i$!ts= A Precarious )elations!ip, at )eli$ion and
Human )i$!ts .,mposium, naAier OniAersity! ,I
r
%ept( ,CC,(
28. # /uslim 8erspectiAe on %cripture and 8luralist -eading! "orld Council o$
Churches Collo>uim on %cripture and 8luralism! 0ossey! LeneAa! I =uly ,CCI
29. :+!e Liberal Ensoulment o0 /slam ;! /elbourne )nstitute o$ #sian 'anguages and
%ocieties( OniAersity o$ /elbourne 1I
t
/ay ,CCI(
1C1
/bid, lihat juga 7a$isul #tho@ dan #ri$ Fahrudin! Hermenutika
+ransendental= dari 5on0i$urasi Filoso0is menu-u Praksis /slam ic .tudies,
Hogyakarta: )-C)%F3! ,CCI! cet( )! hlm( 1E(
1C,
Farid Esack! Quran, liberation J Pluralism, op.cit, hlm( NI
1CE
/bid, hlm J,4JI! lihat juga #( -a$i> ?ainul /un@im! op.cit, hlm( ,I
LL 5 /bid
1CJ
/bid, hlm( NE
1CN
/bid, lihat juga #( -a$i> ?ainul /un@im! op.cit, hlm( ,E
1C9
/bid. hlm( NE

6 /bid. hlm( NE
111
#( -a$i> ?ainul /un@im! op.cit, hlm( ,E
11,
3ikutip dari =uan 'uis %egundo! +!e Liberation o0 +!eolo$,, 7e Hork:
Frbis 0ooks! 1991! hlm( 9( lihat dalam ?akiyuddin 0aidhay! Hermeneutika
Pembebasan al-Quran= Perspekti0 Farid Esack, op. cit, hlm( 19J
1,1
#( -a$i> ?ainul /un@im! ibid
o
,,
#( -a$i> ?ainul /un@im! ibid
1,E
/ohammed #rkoun! )et!inkin$ /slam, op.cit, hlm( IN
1,5
#( -a$i> ?ainul /un@im! op.cit.
1,J
Farid Esack! Quran, liberation J Pluralism, op.cit, hlm( 1CI41CE
1,N
)mplikasinya adalah baha :tak ada -alan menu-u ,an$ mutlak penekanan
dari Esack) di luar dunia $enomenal dari keberadaan histories4terestrial kita;( #rkoun
juga menegaskan :sejarah sebagai salah satu dimensi kebenaran;6 kebenaran yang
dibentuk oleh :perangkat4 perangkat! konsep! de$inisi dan postulat yang senantiasa
berubah;( 3i sini! dia menantang semua :pemikiran abad pertengahan yang didasarkan
pada esensi dan substansi;! termasuk pernyataan tentang :kitab suci yang stabil;(
8enekannya baha tak ada jalan pada yang mutlak tampaknya menyangkal segala
kemungkinan adanya kebenaran yang stabil dan esensial( 'ihat dalam Farid Esack!
Quran, liberation J Pluralism, op.cit, hlm( 11B(
1I5
Farid Esack! ibid, hlm( 1CB41CJ
1IB
Farid Esack! ibid, hlm( 1CB41CJ
1IJ
8endapat esack ini dapat dilihat langsung dalam bukunya! Farid Esack!
ibid, hlm( 1CN1C9! lihat juga ?akiyuddin 0aidhay! op.cit., hlm( ,CI(
1IN
Farid Esack! ibid, hlm( 1,C(
1I9
Farid Esack! ibid, hlm( 1,C(
1E1
Farid Esack! +!e EEodus Paradi$m in t!e Qur an /n t!e Li$!t o0 )e-
/nterpretati4e /slam ic +!ou$!t in .out! A0rica, loc.cit. hlm( 1IC41EB(
1E,
8aradigma Eksodus ini berangkat dari landasan dalam al4Kur@an! yaitu
surat Kashas (arti har$iah: kisah4kisah)( Tema dalam surat itu sebaian besar adalah
bertema Eksodus( 8aradigma ini dianggap sebagai skema dasar pemikiran teologi
)slam reinte*retati$ di #$sel.meski Esack ragu! apakah ada paradigma yang bisa
dianggap demikianM.tetapi ia merupakan contoh penting dari teologisasi yang
membebaskan( 'ihat dalam Farid Esack! +!e EEodus Paradi$m in t!e Quran /n t!e
Li$!t o0)e-/nterpretati4e /slam ic +!ou$!t in .out! A0rica, ibid! hlm( 1I5
o
EI
Farid Esack! +!e EEodus Paradi$m in t!eQur an /nt!e Li$!t o0 )e-
/nterpretati4e
/slam ic +!ou$!t in .out! A0rica, ibid! hlm( 1IB41IJ
o
EE
Farid Esack! +!e EEodus Paradi$m in t!eQur an /nt!e Li$!t o0 )e-
/nterpretati4e
/slam ic +!ou$!t in .out! A0rica, ibid! hlm( 1IB(
1E5
Farid Esack! +!e EEodus Paradi$m in t!e Qur an /n t!e Li$!t o0 )e-
/nterpretati4e /slam ic +!ou$!t in .out! A0rica, ibid! hlm( 1IB
1EJ
Farid Esack! ibid, hlm( 1,E(
1EN
2ata Ta>a berasal dari akar kata 6->-, yang secara har$iah berarti
mencegah! menjaga diri! memperhatikan dan melindungi( Esack juga mengutip al4
?amakhsyari! seorang pena$sir yang kerap memberikan makna istilah pra4al4Kur@an!
baha kata 6a>in dipakai dalam kehidupan pra )slam bagi seekor kuda yang dipotong
kukunya agar terhindar dari terluka akibat jalan yang berbatu dan tidak rata( #kar kata
6->-, kemudian dipakai dalam makna melindungi sesuatu atau seseorang dari apa
yang bisa melukainya( =a$ri juga memperlihatkan bagaimana istilah ini dalam
kehidupan pra4)slam bebas dari konotasi agama! moral! etis dan bagaimana al4 Kur@an
mengubahnya menjadi :keagungan moral paling komprehensi$(((kualitas etis dalam
kehidupan manusia;! dikutip dari =a$ri! 19NC! hlm( 11J( lihat dalam Farid Esack! ibid,
hlm( 151(
1E9
#l4Kur@an mengaitkan taka dengan iman kepada Tuhan (K%( Hunus
v1Cb: BI6 al4 7aml v,Jb: 5I6 Fushilat vE1b: 1N) dan menunjuk pencapaiannya sebagai
salah satu tujuan ibadahnya kepada47ya (K%( #l40a>arah v,b: ,1)( Frang4orang yang
menghendaki keuntungan sesaat di dunia kerap dikontraskan dengan orang4orang
yang bertaka (K%( #l47isa@ vEb: JJ6 al4 #n@am vBb: I,6 Husu$ v1,b: 5J)( Hang
signi$ikan di sini adalah cara al4Kur@an mengaitkan taka
o
55
aery aerdiansyah! /slam Emansipatoris( 'ena0sir A$ama untuk Praksis
Pembebasan, =akarta: 8I/ ke<ja sama dengan Ford Foundation! ,CCE! hlm IB4 IJ(
lihat juga Farid Esack! ibid, hlm( 1,N
15B
?akiyuddin 0aidhay! op.cit., hlm( ,CB
1B,
aery aerdiansyah! op.cit., hlm( EC
1BI
3alam al4Kur@an! istilah ini kerap kali diikuti dengan kalimat ;melalui
jalan Tuhan; dan :dengan hart dan dirimu;( 3i samping arti populernya sebagai
perjuangna atau perang suci bersenjata! jihad memiliki makna lebih luas yang
mencakup perjuangan untuk mengubah keadaan seseorang atau suatu kaum
1BB
#li %hihab! /slam /nklusi0 menu-u .ikap +erbuka dalam &era$ama,
0andung: /i+an! 199J! hlm( NC(
1B9
Farid Esack! ibid., hlm( 15J(
1JC
'ihat dalam Farid Esack! 'uslims En$a$in$ t!e %t!er and +!e Humanum, op.cit
1JJ
Farid Esack! ibid., hlm( 1BC
1JN
Farid Esack! ibid., hlm( 1BC
1J9
Farid Esack! ibid., hlm( 1B1
o
N
o Farid Esack! ibid., hlm( 1BI
1N,
Farid Esack! ibid., hlm( 1BE

/isalnya! K%( #l40a>arah v,b: ,N16 ali )mran vIb: ,E6 al47isa@ vEb: EC!
N56 Husu$ v1,b: 5B6 al47ahl v1Bb: 1116 al4Kashash v,Nb: NE(
1NE
Farid Esack! op.cit., hlm( 1BB

maksudnya ialah kitab4kitab yang diturunkan sebelum #l Kuran(


a

E %eperti surat sebelumnya (al40a>arah)! surat ini juga termasuk dalam surat
/adaniyah! yang banyak berbicara soal ahli kitab( Teks ini didahului oleh sebuah ayat
yang
bercerita ketika Tuhan! pada malaikat! dan :orang4orang berilmu; bersaksi pada
keesaan Tuhan
dan tegaknya keadilan( 2endati teks yang memakai kata )slam yang berakar kata s4l4m!
bisa
dianggap mengarah pda konsepsi )slam baku! ayat yang sebelumnya menggunakannya
dalam cara
yang jelas4jelas personal( Teks itn diikuti oleh satu perintah kepada 7abi /uhammad
untuk
mengatakan kepada para penentangnya baha ajaran yang dibaanya adalah
penyerahan diri
kepada tnhan dan ajaran ini juga ditujukan kepada mereka( 'ihat Farid Esack! ibid.,
hlm( 1BN41B9(
19C
Teks ini muncul setelah diturunkan ayat sebelumnya (K%( #li D)mran vIb:
19) yang menetapkan baha :din; yang benar di sisi #llah adalah al4)slam dan 7abi
/uhammad diutus sebagai -asul ditengah4tengah umat )slam (
191
Toshihiko )+utsu! God and 'an in +!e 5oran= .emantic o0 t!e 5oranic
*eltanscauun$, terj( #gus Fahri 1usein! dkk(,)elasi +u!an dan 'anusia( Pendekatan
.emantik ter!adap al-Quran, Hogyakarta: Tiara "acana! ,CCI! 11,(
19B
Farid Esack! ibid., hlm( 1NN
5
#bdul #+is 3ahlan((et(al(! Ensiklopedi Hukum /slam ! =akarta: )chtiar 0aru
Aan 1oeAe! 199B! jilid 1! hlm( EB(

Farid Esack! op.cit., hlm( 19N4199


199
Farid Esack! ibid., hlm( 19E
,CC
Farid Esack! ibid., hlm( 195( lihat juga! 2aren #rmstrong! 'u!ammad( a
&io$rap!, o0 t!e Prop!et, terj( 'u!ammad san$ :abi, sebua! &io$ra0is 5ritis,
%urabaya: -isalah Lusti! 199B! hlm(! 1NE